Anda di halaman 1dari 17

Nama : Ananda Putri Absari

NIM : 04011281520136
Kelompok 1

RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME


A. Diferensial Diagnosis
1. Transient Tachypnoea of the newborn (TTNB)
Peningkatan kadar epinefrin pada fetus pada saat partus umumnya mengurangi produksi cairan paru dan
mengaktivasi channel natrium yang menimbulkan terjadinya reabsorbsi. Gagalnya untuk membersihkan paru
dari cairan paru ini menyebabkan terjadinya TTN. Faktor risiko terjadi TTN termasuk kelahiran preterm,
kelahiran dengan sectio caesaria, dan bayi dengan jenis kelamin laki-laki. TTN juga dihubungkan dengan
maternal asma. Pada gejala awal, TTN sulit untuk dibedakan dengan penyakit membran hialin. Diagnosis TTN
hanya dapat ditegakkan dengan foto rontgen paru yaitu adanya opasitas paru yang berbentuk “streaky”,
ditemukannya cairan pada fisura transversalis, dan biasanya disertai dengan kardiomegali. TTN terjadi pada
5/1000 bayi cukup bulan. Gejala TTN ialah adanya takipnea yang parah (RR sampai dengan 100x/min) dan
terjadinya hiperinflasi, tetapi jarang disertai dengan grunting. TTN merupakan diagnosis eksklusi, dimana
diagnosis sindrom gawat nafas, sepsis dan gagal jantung sudah disingkirkan.

Transient tachypnoea of the newborn dengan gambaran cairan pada fisura transversalis dan hiperekspansi paru.

2. Meconium aspiration syndrome


Aspirasi mekoneum jarang terjadi pada bayi kurang bulan. Penegakkan diagnosis aspirasi mekoneum dapat
dilakukan dengan kombinasi foto rontgen dengan gambaran bercak – bercak konsolidasi dan aspirasi abnormal
yang didapatkan dengan intubasi trakea.3

3. Pneumotoraks
Kekurangan surfaktan yang relatif pada bayi yang lahir dengan usia gestasi 32 – 34 minggu menghasilkan
paru – paru yang kurang compliance, sehingga meningkatkan risiko terjadinya pneumotoraks dan
pneumomediastinum. Pneumotoraks yang kecil umumnya dapat sembuh secara spontan. Selama ini, oksigen
100% digunakan sebagai penanganan pneumotoraks yang kecil, akan tetapi efektivitasnya belum terbukti dan
dengan risiko terjadinya toksisitas oksigen, maka penanganan ini sudah tidak lagi dilakukan. Penanganan yang
sedang berkembang ialah penggunaan kateterisasi pigtail yang dimasukan dengan tehnik Seldinger.
Keuntungan tindakan ini ialah tindakannya yang cepat dan mudah, serta sedikitnya skar yang ditimbulkan
dibandingkan dengan traditional chest tubes.
Pneumotoraks pada paru sisi kanan dan penggunaan kateter pigtail

Penyebab sindrom gawat nafas pada bayi kurang bulan, antara lain :

Diagnosis banding paling umum dari Penyakit Membran Hialin14


B. Klasifikasi
Gangguan napas ditandai dengan takipneu, napas cuping hidung, retraksi intercostal, sianosis, dan apneu.
Tingka keparahan distres pernapasan dinilai oleh
Gambaran radiologis memberi gambaran penyakit membran hialin. Gambaran yang khas berupa pola
retikulogranular, yang disebut dengan ground glass appearance, disertai dengan gambaran bronkus di bagian
perifer paru (air bronchogram).
Terdapat 4 stadium:
o Stadium 1: pola retikulogranular(ground glass appearance)
o Stadium 2: stadium 1 + air bronchogram
o Stadium 3: stadium 2 + batas jantung-paru kabur
o Stadium 4: stadium 3 + white lung appearance

PMH dengan gambaran ground glass appearance (kiri) dan air bronchogram (kanan)

PMH dengan gambaran batas jantung-paru kabur (kiri) dan white lung appearance (kanan)
C. Prognosis
Secara umum prognosis bayi yang dikirim ke perawatan intensif bayi risiko tinggi tergantung dari tenaga yang
terampil, fasilitas rumah sakit yang tersedia dan dari bayinya sendiri ada tidaknya komplikasi seperti asfiksi yang
berat, perdarahan intraventrikular atau malformasi konginetal yang tidak dapat diperbaiki. Prognosis dari bayi
yang menderita PMH sangat tergantung pada berat badan lahir bayi seperti terlihat pada tabel.

Berat Badan (g) Harapan hidup Risiko untuk BPD# Risiko utk ROP@
derajat III/IV
<501 10 % Semua Sangat tinggi
501 – 750 75 % Sebagian besar Sedang
751 – 1000 85 % Setengah Lebih rendah
1001 – 1500 96 % Sedikit Sedikit
# @
BPD: Bronchopulmonary Dysplasia; Retinopathy of Prematurity

Prognosis baik apabila tidak berkaitan dengan hipoksemia yang lamaPrognosis jangka panjang pada fungsi
paru normal pada kebanyakan bayi yang selamat dari penyakit PMH adalah baik (Behrman dkk, 1998 dan Leviton
dkk, 1999).

BBLSR
A. Epidemiologi
Data epidemiologi BBLSR menunjukkan perkiraan insidensi BBLSR sekitar 4-7% dari total kelahiran hidup
dengan angka kematian 240 per 1000 kelahiran (National Center for Health Statistic, 2010). Dalam dekade
terakhir angka kematian BBLSR cenderung turun dengan makin berkembangnya sistem dan alat kesehatan.
Beberapa faktor risiko BBLSR antara lain usia ibu yang terlalu muda untuk hamil, kehamilan ganda dimana hampir
50% kehamilan ganda melahirkan BBLSR, kesehatan maternal yang dipengaruhi oleh infeksi dan obat-obatan,
jenis kelamin laki-laki, kelahiran prematur dan primiparitas, sosial ekonomi rendah, antenatal care (ANC) yang
tidak teratur, ruptur membran, malnutrisi, serta distressfetalis.
Hasil penelitian proporsi kejadian BBLR di Kota palembang tahun 2010 sebesar l2.3%, proporsi kejadian
BBLSR di Kota Palembang tahun 2010 sebesar l,25%, angka kelahiran mati/lahir matil Still Birth = l,93%,
didapatkan 8 faktor risiko kejadian BBLSR terdiri dari usia ibu, usia gestasi, anemia, diabetes mellitus,
preeklampsi, eklampsi, status sosial ekonorni, dan kehamilan ganda.

B. Edukasi dan Pencegahan


BBLR dapat dipulangkan apabila : 

1. Tidak terdapat TANDA BAHAYA atau tanda infeksi berat. 

2. Berat badan bertambah hanya dengan ASI. 


3. Suhu tubuh bertahan pada kisaran normal (36-370C) dengan pakaian 
 terbuka. 

4. Ibu yakin dan mampu merawatnya. BBLR harus diberi semua vaksin yang dijadwalkan pada saat lahir dan
jika ada dosis kedua pada saat akan dipulangkan. 

Lakukan konseling pada orang tua sebelum bayi pulang mengenai :
1. pemberian ASI eksklusif 

2. menjaga bayi tetap hangat 

3. tanda bahaya untuk mencari pertolongan 

4. Timbang berat badan, nilai minum dan kesehatan secara umum setiap minggu hingga berat badan bayi
mencapai 2.5 kg. 


ANALISIS MASALAH
1. A female baby as born at type C Public Hospital from a 17 year old women. Her mother, Mrs. Feni was
hospitalized at the hospital due to hypertension, (blood pressure 180/100 mmHg).
a. Bagaimana hubungan usia ibu dengan kasus ?
Usia ibu < 20 tahun merupakan faktor risiko kejadian BBLR dan BBLSR. Hal ini sesuai dengan survei
demografi kesehaten Indonesja (SDKI) ying menyatakan usia ibu < 20 tahun merupakan faktor risiko.
Persalihan ibu usia < 20 tahun rnencapai 5Zo ' dari seluruh pergalinan dan 30yo Uayi dititrirt

2. It was Her second pregnancy. She forgot when Her first day of last period, but She thought that Her
pregnancy was about 7 months.
a. Selain metode HPHT , metode apalagi yang dapat digunakan untuk menghitung usia kehamilan pada
kasus?
1. Menghitung Usia Kehamilan Dengan Rumus Neagle
Rumus Neagle adalah salah satu cara yang dipakai oleh wanita untuk menghitung usia kehamilan dengan
penerapan aturan Haid Pertama Haid Terakhir (HPHT). Apakah yang dimaksud HPHT? HPHT adalah
tanggal terjadinya haid pertama kali dalam siklus haid terakhir kali sebelum terjadi kehamilan. Misalnya,
bulan November kemarin seorang wanita mengalami haid terakhir kali sebelum mendapati tanda-tanda awal
kehamilan. Kita ambil contoh haid tersebut tersebut terjadi mulai tanggal 1 sampai 28 November. Maka
HPHT wanita tersebut adalah 1-11-2011. HPHT ini bisa dipakai untuk mengetahui usia kehamilan seorang
wanita. Sesudah melakukan test pack dan seorang wanita dinyatakan hamil, maka cara menggunakan
Rumus Neagle tersebut adalah:

Dari contoh di atas kita dapatkan HPHT tanggal 1-11-2011. Maka kita bisa memperkirakan tanggal
persalinan akan berlangsung pada :
Rumus = (Hari ditambah 7), (Bulan dikurang 3), (Tahun ditambah 1) = (1+7), (11-3), (2011+1) = 8 – 8 –
2012
Kita mendapatkan tanggal prediksi kelahiran bayi pada tanggal 8 Agustus 2012. Tanggal ini akan
menjadi dasar penentuan usia kehamilan tergantung kapan kita menghitungnya.
Bagaimana jika bulan HPHT tidak dapat dikurangi angka tiga, yaitu bulan Januari, Februari dan Maret?
Maka aturan di atas dikoreksi menjadi bulan HPHT ditambah 9 tetapi tanggal dan tahunnya tetap. Contoh:
HPHT adalah 2 Januari 2011. Kelahiran bayi diprediksi terjadi pada tanggal 9-10-2011 atau 9 Oktober 2011.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menghitung usia kehamilan dengan Rumus Neagle adalah:
a) Rumus Neagle berlaku untuk wanita yang memiliki siklus haid teratur dan normal, yaitu selama 28
sampai 30 hari.
b) Jika siklus haid Anda pendek, antara 14 sampai 26 hari, maka penetapan prediksi tanggal persalinan
dimundurkan 2 hari. Jika memakai HPHT 1-11-2011, maka tanggal persalinan mundur menjadi 10
Agustus 2012.
c) Jika siklus haid Anda panjang, antara 31 sampai 40 hari, maka penetapan prediksi tanggal persalinan
dimundurkan 12 hari. Jika memakai HPHT 1-11-2011, maka tanggal persalinan mundur menjadi 20
Agustus 2012.
d) Rumus Neagle tidak bisa dipakai bila wanita hamil tersebut baru saja menghentikan pemakaian alat
kontrasepsi Pil KB.
2. Palpasi abdomen
Palpasi abdomen dapat menggunakan :
a) Rumus Bartholomew
Antara simpisis pubis dan pusat dibagi menjadi 4 bagian yang sama, maka tiap bagian menunjukkan
penambahan 1 bulan. Fundus uteri teraba tepat di simpisis umur kehamilan 2 bulan (8 minggu). Antara
pusat sampai prosesus xifoideus dibagi menjadai 4 bagian dan tiap bagian menunjukkan kenaikan 1
bulan. Tinggi fundus uteri pada umur kehamilan 40 minggu (bulan ke-10) kurang lebih sama dengan
umur kehamilan 32 minggu (bulan ke-8).
b) Rumus Mc Donald
Fundus uteri diukur dengan pita. Tinggi fundus dikalikan 2 dan dibagi 7 memberikan umur kehamilan
dalam bulan obstetrik dan bila dikalikan 8 dan dibagi 7 memberikan umur kehamilan dalam minggu.
c) Palpasi Leopold
Palpasi leopold merupakan teknik pemeriksaan pada perut ibu bayi untuk menentukan posisi dan
letak janin dengan melakukan palpasi abdomen. Palpasi leopold terdiri dari 4 langkah yaitu:
o Leopold I : Leopold I bertujuan untuk mengetahui letak fundus uteri dan bagian lain yang terdapat
pada bagian fundus uteri
o Leopold II : Leopold II bertujuan untuk menentukan punggung dan bagian kecil janin di sepanjang
sisi maternal
o Leopold III : Leopold III bertujuan untuk membedakan bagian persentasi dari janin dan sudah
masuk dalam pintu panggul
o Leopold IV : Leopold IV bertujuan untuk meyakinkan hasil yang ditemukan pada pemeriksaan
Leopold III dan untuk mengetahui sejauh

3. Perkiraan tinggi fundus uteri


Cara menentukan kehamilan dengan perkiraan tinggi fundus uteri:
o Mempergunakan tinggi fundus uteri
Perkiraan tinggi fundus uteri dilakukan dengan palpasi fundus dan membandingkan dengan patokan.
o Menggunakan alat ukur caliper
o Menggunakan pita ukur
o Menggunakan pita ukur dengan metode berbeda

4. Menghitung Usia Kehamilan Dengan Tes USG / Ultrasonografi


Cara mengukur usia kehamilan yang lebih akurat adalah dengan menggunakan tes ultrasonografi (USG)
di rumah sakit maupun klinik kesehatan. Melalui tes USG kita bisa mengetahui perkembangan janin dalam
tubuh wanita hamil. Pengukuran usia kehamilan melalui USG adalah didasarkan pada panjang janin, ukuran
tengkorak, ukuran ginjal, ukuran jantung dan organ tubuh lainnya. Tes USG disarankan dilakukan minimal
3 kali dalam satu masa kehamilan, yaitu pada trimester pertama, trimester kedua dan trimester ketiga.
Penentuan umur kehamilan dengan USG menggunakan 3 cara yaitu:
 Mengukur diameter kantong kehamilan (GS=gestational sac) pada kehamilan 6-12 minggu.
 Mengukur jarak kepala bokong (GRI=grown rump length) pada kehamilan 7-14 minggu
 Mengukur diameter biparietal (BPD) pada kehamilan lebih 12 minggu
Paling akurat di awal kehamilan, dengan variasi 5-7 hari. Crown Rump Length (CRL) paling akurat pada
trimester pertama. Diameter biparietal (Biparietal Diameter-BPD) paling akurat dari usia kehamilan 14
hingga 26 minggu, dengan variasi 7-10 hari. BPD dihitung dari tepi terluar tengkorak bagian distal, setinggi
thalamus dan kavum septum pelusidum. Lingkar kepala (Head circumference-HC) juga diukur. Jika bentuk
kepala datar—dolikosefali, atau bulat—brakisefali, HC lebih sahih dibangingka BPD. Panjang femur
(Femur length-FL) berkolerasi baik dengan BPD dan usia gestasi. Panjang femur dihitung dengan sorotan
tegak lurus terhadap sumbu panjang diafisis (shaft), tanpa melibatkan epifisis, dan memiiki variasi 7-11 hari
pada trimester kedua. Lingkar perut (Abdominal circumference-AC) memiliki variasi terbesar, hingga
mencapai 2-3 mingg, karena melibatkan jaringan lunak. Lingkar ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan
janin. AC diukur di garis kulit pada penampang transversal janin setinggi lambung janin setinggi lambung
janin dan vena umbilikalis.
Variabilitas perkiraan usia gestasi meningkat dengan semakin tuanya kehamilan. Penugkuran secara
individual kurang akurt pada trimester ketiga dan perkiraan semakin meningkat dengan merata-ratakan
keempt parameter. Jika satu parameter berbeda secara bermakna, dapat dieksklusi dari perhitungan. Hal ini
dapat diakibatkan oleh visibilitas yang buruk, tetapi juga dapat menunjukkan abnormalitas pada janin atau
gangguan perkembangan. Pemeriksaan sonografi yang dilakukan unutk mengevaluasi perkembangn janin
sebaiknya dilakukan setidaknya 2 hingga 4 minggu. (ACOG, 2009; American Institute of Ultrasound in
Medicine, 2007)
Prinsip:
o Ketepatan perkiraan usia kehamilan berbanding terbalik dengan usia janin. Laju pertumbuhan janin
selama kehamilan tidak konstan; sangat cepat di awal kehamilan, kemudian melambat sejalan dengan
makin tua usia kandungan.
o Pada kehamilan Trimester 3, ketepatan penentuan usia kehamilan akan lebih baik jika dilakukan secara
serial (beberapa kali pemeriksaan dengan interval waktu tertentu). Terutama bagi ibu hamil yang tidak
mengetahui secara pasti usia kandungannya atau baru memeriksakan kehamilannya pertama kali pada
trimestern 3. Pemeriksaan serial dilakukan dengan interval minimal 2 minggu, agar penambahan ukuran
biometri mudah dibedakan.

3. Four hours after admission, the doctor decided to end the pregnancy by C section. The baby did not cry
spontaneously after birth, but grunting and his whole body was cyanotic.
a. Apa penyebab dan meknisme bayi tidak menangis spontan ?nanda, yus (MINTAK FITRIA)
Bayi tidak menangis spontan diakibatkan oleh kurangnya oksigen akibat paru-paru tidak dapat berkembang
dengan baik. Tangisan bayi ketika lahir membantu membuka paru-parunya agar bisa bernapas. Pada kasus,
pematangan paru belum sempurna dan terjadi defisiensi surfaktan. Surfaktan berfungsi untuk menurunkan
tegangan permukaan alveoli, sehingga alveoli dapat tetap terbuka sepanjang siklus pernafasan. Surfaktan
biasanya akan dihasilkan saat usia kehamilan 32 minggu. Defisiensi ini menyebabkan alveoli tidak dapat
mengembang/kolaps sehingga bayi sulit bernafas (kekurangan oksigen).
Keadaan berikut juga dapat menyebabkan bayi tidka menangis spontan :
1) Ibu menderita DM
2) IUGR
3) Air ketuban bercampur mekonium
4) Preeklampsia

4. Pediatric resident did the first step of resuscitation to the baby. APGAR score at the first minute was 3
and fifth minute as 7. The amnion liquor as clear.
a. Apa indikasi dimulainya resusitasi?iqoh, nanda
Untuk beberapa bayi kebutuhan akan resusitasi dapat diantisipasi dengan melihat faktor risiko, a.l.: bayi
yang dilahirkan dari ibu yang pernah mengalami kematian janin atau neonatal, ibu dengan penyakit kronik,
kehamilan multi- para, kelainan letak, pre-eklampsia, persalinan lama, prolaps tali pusat, kelahiran prematur,
ketuban pecah dini, cairan amnion tidak bening. Walaupun demikian, pada sebagian bayi baru lahir, kebutuhan
akan resusitasi neonatal tidak dapat diantisipasi sebelum dilahirkan, oleh karena itu penolong harus selalu siap
untuk melakukan resusitasi pada setiap kelahiran. Apabila memungkinkan lakukan penilaian APGAR.
1. Dilakukan pada bayi dan anak yang mengalami sumbatan jalan napas
2. Dilakukan pada bayi dan anak yang tidak bernapas/apnu.
3. Dilakukan pada bayi dan anak yang mengalami henti jantung.
Segera setelah lahir, dilakukan penilaian pada semua bayi dengan cara bertanya pada dirinya sendiri dan
harus menjawab segera dalam waktu singkat :
 Apakah bayi lahir cukup bulan?
 Apakah air ketuban jernih dan tidak bercampur meconium?
 Apakah bayi bernapas adekuat atau menangis?
 Apakah tonus otot baik?
Apabila semua jawaban di atas “Ya”, berarti bayi baik dan tidak memerlukan tindakan resusitasi dan
dilakukan Asuhan Bayi Normal.
 Bila salah satu atau lebih dari 4 penilaian awal dijawab “tidak”, bayi memerlukan resusistasi.
 Bayi yang lahir kurang bulan mempunyai kecenderungan untuk lebih memerlukan resusitasi karena
beberapa hal berikut. Bayi kurang bulan mudah mengalami hipotermia karena rasio permukaan dan masa
tubuh relatif besar, lemak subkutan sedikit, dan imaturitas pusat pengatir suhu.
 Bayi yang lahir dengan air ketuban bercampur mekonium dan tidak bugar (ditandai dengan depresi
pernapasan, frekuensi jantung kurang dari 100x/menit, dan tonus ototnya buruk), mungkin memerlukan
penghisapan trakea setelah seluruh tubuh lahir. Pengisapan intrapartum saat kepala lahir sebelum bahu
dilahirkan, tidak direkomendasikan sebagai tindakan rutin.

5. Physical examination:
a. Apa saja pemeriksaan yang biasanya dilakukan pada bayi pre term? Nanda , yus
Prinsip pemeriksaan bayi baru lahir
 Persiapan : lingkungan hangat, bayi hangat, cahaya cukup 

 Melibatkan ibu dan keluarga 

 Bidan harus waspada terhadap tanda abnormal 

 Menyeluruh dan sistematis 

 Dilakukan dengan lembut 

 Dengan arah Head to toe 

 Perhatikan kesimetrisan kanan dan kiri 

 Sebelum pakaian bayi dibuka periksa daerah kepala dan refleks 

 Periksa tanda2 vital di awal sebelum bayi menangis 

 Pemeriksaan panggul dilakukan akhir krn tdk nyaman

PEMERIKSAAN DI KAMAR BERSALIN
1. Menilai adaptasi 

a) Penilaian Awal
Begitu bayi lahir, langsung dikaji dengan cepat 3 hal dari Skor APGAR:
o Warna kulit : Apakah warna kulit bayi merah muda? Atau pucat/biru? 

o Tonus otot : Apakah bayi aktif atau lemas? 

o Usaha napas : Apakah bayi menangis kuat? Atau merintih, lemah?

Jika penilaian awal didapatkan hasil buruk (kulit biru, bayi lemas, tidak menangis) maka SEGERA
dilakukan tindakan resusitasi
b) Penilaian APGAR Score

Dilakukan pada 1 menit, 5 menit dan 10 menit setelah lahir.
 NB: APGAR Score TIDAK digunakan
untuk mendiagnosa asfiksia atau memulai resusitasi. Pengukuran pada menit pertama, kelima dan
kesepuluh hanya dicantumkan sebagai penilaian keberhasilan resusitasi dan ada peningkatan Skor
APGAR. Diagnosa Asfiksia dibuat dari penilaian 3 hal (di poin a)

2. Mencari kelainan kongenital


a) Anamnesa ibu mengenai riwayat kehamilan: konsumsi obat, infeksi virus, penyakit ibu, kelainan
bawaan
b) Memeriksa jumlah cairan ketuban

 Hidramnion(>2000ml) berkaitan dengan obstruksi (penyumbatan) usus; ibu DM, PE

 Oligohidramnion(<500ml) berkaitan dengan kelainan ginjal
c) Memeriksa tali pusat : segar atau tidak, ada simpul atau tidak, jumlah arteri dan vena 

d) Memeriksa plasenta: pengapuran, nekrosis/infark, bentuk dan ukuran 
 berkaitan dengan fungsi
plasenta, kecukupan gizi dan O2 bayi
e) Berat lahir dan kehamilan 
 Bayi kurang bulan dan IUGR memiliki kemungkinan lebih besar
mengalami kelainan 
 kongenital 

f) Memeriksa mulut: utuh atau ada labio-palatoschizis 

g) Memeriksa kesimetrisan wajah saat menangis. Hal ini menunjukkan ada atau tidaknya 
 paralisis
nervus fasialis (cacat saraf wajah) 

h) Melihat adakah defek tabung saraf (meningokel, omfalokel, meningokel, spina bifida) 

i) Melihat jenis kelamin 


PEMERIKSAAN DI RUANG RAWAT


1. Pemeriksaan Umum
a) Tonus otot 

b) Keaktifan

Dinilai dengan melihat posisi dan gerakan tungkai dan lengan. Pada BBL cukup bulan yang sehat,
ekstremitas dalam keadaan fleksi, dengan gerakan tungkai serta lengan aktif dan simetri
c) Tangisan bayi
 Tangisan melengking ditemukan pada kelainan neurologis, sedangkan tangisan
lemah dan merintih ditemukan pada kesulitan bernafas 

2. Tanda-tanda Vital

HR, RR, Suhu (normalnya 36,5-37,5°C). Beberapa metode pengukuran suhu:
 Aksiler : Tempat pengukuran paling tepat. Pada Hipotermi, hasil lebih tinggi daripada rektal karena
tertimbunnya brown fat di daerah ketiak 

 Rektal
 : Digunakan pada pemeriksaan fisik sekaligus memastikan anus ada atau jika temperatur

 aksiler tidak normal. Lebih traumatik dibanding aksiler. 

 Timpani (telinga) : Dipengaruhi suhu lingkungan sehingga kurang akurat. 

 Kulit : Perabaan kulit diperlukan untuk pengukuran cepat. Dilakukan di bagian dahi, punggung atau
leher 

 Pita Pengukur : Metode non-invasif, aman dan bisa dilakukan dengan mudah 

3. Ukuran Antropometri

Adalah ukuran fisik yang dapat diukur dengan alat pengukur seperti timbangan atau pita pengukur, terdiri
dari: 

Berat Badan

 Kain alas atau pelindung diletakkan

 Skala penimbangan diatur ke titik nol sebelum penimbangan.
 Hasil timbangan dikurangi berat alas dan pembungkus bayi
 BBL normal berat lahirnnya 2500-4000 gram
Panjang Badan

 Bayi diletakkan di tempat yang datar

 Panjang badan diukur dari kepala sampai tumit dengan kaki/badan bayi diluruskan
 Bayi aterm panjang kepala ke tumit rata-rata 45 – 53 cm 

Lingkar Kepala

 Lingkar kepala bayi aterm 34- 39 cm.

 Lingkar kepala diukur dari oksiput mngelilingi kepala, tepat di atas alis
 Pengukuran lingkar kepala dimaksudkan untuk menaksir pertumbuhan otak. 

Lingkar Dada

 Ukuran normal 31-35 cm, pengukurnnya dilakukan saat bernafas biasa pada tulang xipoideus, ukur
lingkar dada dari daerah dada ke punggung kembali ke dada melalui kedua puting susu

 Ukuran lingkar dada biasanya 2 cm kurang dr lingkar kepala/ kadang sama namun tidak melebihi
lingkar kepala. 

Lingkar Lengan Atas

 Ukuran lingkar lengan atas mencerminkan pertumbuhan jaringan lemak dan otot. Berguna untuk
menilai keadaan gizi.

 Ukuran normal LiLA saat lahir kira-kira 11 cm 

4. Kulit
a) Warna 

 Normalnya BBL berwarna merah muda
 BBL yg kulitnya berwarna merah sekali menunjukkan kerapuhan system vasomotor
 Akrosianosis (kebiruan pada ekstremitas) menunjukkan bayi kedinginan

 Sianosis (kebiruan) menunjukkan bayi kekurangan O2

 Kulit seperti marmer (cutis marmorata) menunjukkan penyakit berat

 Pewarnaan mekonium (mekonium staining) pada verniks caseosa, kulit, kuku, dan tali pusat
ditemukan pada bayi dengan riwayat fetal distress

 Ikterus (warna kuning) paling mudah dilihat di daerah dahi 

b) Rash, lesi, bintik2 ada atau tidak. Jika ada seperti apa warna, bentuknya, ada cairan atau tidak 

c) Vernix caseosa, lanugo ada atau tidak

Vernix Caseosa: subtansi putih yg berlemak yg disekresi oleh kelenjar sebasea dan sel epitel yang
melapisi tubuh BBL. Ini akan menghilang sendiri beberapa hari setelah lahir, berfungsi untuk menjaga
suhu bayi. Dapat dibersihkan dengan kapas dan minyak kelapa yg steril.

Lanugo: rambut halus yang melapisi permukaan tubuh, sering pada kulit kepala, dahi dan muka. 

d) Kelembaban, turgor kulit baik atau tidak
 Kulit bayi prematur tipis, halus dan berwarna merah. Kulit
bayi lebih bulan tampak seperti kertas perkamen dan mengelupas 

e) Tanda lahir ada atau tidak. Jika ada di mana letaknya, bentuk, warna seperti apa. 

5. Kepala
a) Sutura ada molase atau tidak 

b) Fontanela anterior dan posterior (bentuk, ukuran, rata, cekung atau mencembung) 

c) Tulang2 tengkorak ada fraktur atau tidak 

d) Simetris atau tidak, adakah molding 

e) Kaput suksedaneum, cephal hematoma ada atau tidak
6. Wajah

Adakah kelainan khas misal: Sindrom Down atau bayi Mongol Apakah wajah simetris atau tidak
7. Mata

Sklera tampak tanda perdarahan atau tidak, ada sekret atau tidak, ukuran dan reaktivitas pupil baik atau
tidak, arah pandangan, jarak dan bentuk mata, gerak bola mata simetris atau tidak.
 Jarak antara kantus
medial mata tidak boleh lebih dari 2.5 cm
 BBL kadang menunjukkan gerak mata berputar dan tidak
teratur (strabismus)
8. Telinga
a) Posisi dan hubungan dengan mata dan kepala 
 Jika ditarik garis horisontal melewati mata,
seharusnya melewati sedikit bagian atas telinga. Daun telinga yang letaknya rendah (low set ears)
terdapat pada bayi yang mengalami sindrom tertentu (Pierre-robin). Kemiringan telinga terhadap
garis vertikal maksimal 10°. 

b) Adakah daun telinga, posisi lubang, bentuk lekukan bagaimana, tulang rawan terbentuk atau tidak.

 Bayi prematur biasanya tulang rawan belum terbentuk.
9. Hidung
Bentuk, posisi, lubang, ada lendir atau tidak, adakah milia (bintik keputihan yg khas terlihat di hidung,
dahi dan pipi yg menyumbat kelenjar sebasea yg belum berfungsi), adakah pernafasan cuping atau
tidak
 Adanya sekret yang mukopurulen yang terkadang berdarah, hal ini kemungkinan adanya sifilis
kongenital. Adanya pernapasan cuping hidung (gangguan pernapasan)
10. Mulut 

Bentuk bibir, lihat dan raba langit2 keras (palatum durum) dan lunak (palatum molle), tenggorokan, bentuk
dan ukuran lidah, lesi, sekret.
 Daerah bibir dan palatum diraba apakah utuh atau tidak. Ketidaksimetrisan
bibir menunjukkan adanya palsi wajah. Salivasi tidak tdp pd bayi normal, krn grandula saliva belum matur.
Bila tdp sekret yg berlebihan mungkin ada kelainan di esofagus.
11. Leher

Massa, pembesaran kelenjar ada atau tidak, pergerakan leher apakah ada hambatan, kesan nyeri saat bayi
menggerakkan kepala.
12. Dada
a) Kesimetrisan saat tarikan nafas, adakah rintihan, adakah retraksi Rintihan dan retraksi dada tidak
normal, menunjukkan gangguan nafas
b) Payudara tampak membesar atau tidak, adakah sekresi seperti susu BBL payudara kadang membesar
dan tampak sekresi susu akibat pengaruh hormon 
 estrogen maternal.
c) Tulang klavikula. 
 Ada fraktur atau tidak, dilihat dari gerakan ekstremitas 

13. Abdomen
Raba hepar, limpa, ginjal, adakah distensi, massa, hernia, perdarahan tali pusat, jumlah arteri dan vena
umbilikalis.
 Jika perut sangat cekung kemungkinan terdapat hernia diafragmatika. Abdomen yang
membuncit kemungkinan karena hepato-splenomegali atau tumor lainnya. Jika bayi menangis dan muncul
benjolan di perut, menunjukkan hernia di dinding abdomen.
14. Genitalia dan Rektum
a) Lubang anus ada atau tidak 

b) Meconium dan urin sudah keluar atau belum 

c) Testis sudah turun ke skrotum atau belum, jumlah skrotum 2, lubang kencing ada atau 
 tidak,
letaknya di mana, hidrokel ada atau tidak; 

d) Labia mayora menutupi labia minora, lubang vagina, adakah sekcret atau bercak darah 
 Pada bayi
wanita, terkadang tampak adanya sekret atau bercak darah dari vagina, hal ini disebabkan oleh
pengaruh hormon ibu. 

15. Ekstremitas atas
 Kesimetrisan, bentuk dan ukuran, jumlah jari, ada selaput atau tidak, tampak garis
telapak tangan atau tidak
16. Ekstremitas bawah
 Dislokasi kongenital, kesimetrisan, bentuk, ukuran, jumlah jari, ada selaput atau
tidak, tampak garis telapak kaki atau tidak
 Tes Ortolani dan Barlow positif atau negatif
17. Punggung

Bentuk, adakah tonjolan di kulit, adakah celah, adakah rambut abnormal
18. Pemeriksaan Sistem Syaraf (Refleks Primitif)

Refleks rooting.
 Reflek ini karena stimulasi taktil pd pipi dan daerah mulut, bayi akan memutar kepala seakan-akan
mencari puting susu.

 Pola perkembangan :menghilang di usia 3 - 7 bulan

 Bila tak ada respons: Bayi kurang bulan (prematur) atau kemungkinan adanya kelainan sensorik
Reflek sucking
 Reflek menghisap bila ada objek disentuhkan / dimasukkan ke mulut

 Pola perkembangan menghilang di usia 3 - 7 bln

 Bila tdk ada respon : kelainan saluran pernapasan dan kelainan pada mulut termasuk langit-langit
mulut
Refleks Moro/Startle.
 Reflek di mana bayi akan mengembangkan tangan & jari lebar-lebar, lalu mengembalikan dengan yg
cepat seakan – akan memeluk jika tiba-tiba dikejutkan oleh suara atau gerakan
 Pola perkembangan:hilang di usia 3 - 4 bulan

 Bila tak ada respons, menunjukkan : fraktur atau cedera pada bagian tubuh tertentu
Refleks menggenggam (Grasp)
 Reflek yg timbul bila ibu jari diletakkan pd telapak tangan bayi, maka bayi akan menutup telapak
tangannya.

 Menghilang di usia 3-4 bulan

 Bila tak ada respons:menunjukkan kelainan pada saraf otak.
Reflek Plantar
 Reflek yg timbul bila telapak kaki disentuh, maka bayi akan menutup telapak kakinya.
 Menghilang di usia 8 bulan
Reflek Babinski
 Reflek bila ada rangsangan pd telapak kaki ibu jari akan bergerak ke atas & jari-jari lain membuka.

 Pola perkembangan : menghilang di usia 1 - 2 tahun
 Bila tak ada respons: menunjukkan kelainan
pd saraf otak (bila menetap)
Reflek Galant
 Ketika bayi tengkurap goresan pd punggung menyebabkan pelvis membengkok ke arah goresan.

 Pola perkembangan : hilang pd usia 2-3 bln.
Reflek tonic neck
 Reflek jika bayi mengangkat leher & menoleh ke kanan / ke kiri jika diposisikan tengkurap.
 Pola perkembangan : reflek ini dpt diamati sampai bayi berusia 3- 4 bln.

 Reflek ini tdk dpt dilihat pd bayi yg berusia 1 hari.
Reflek Walking & Stepping
 Reflek timbul jika bayi dalam posisi berdiri akan ada gerakan spontan kaki melangkah ke depan.

 Pola perkembangan : menghilang di usia 3- 4 bulan

 Bila tak ada respons:menunjukkan kelainan pada motorik kasar

DAFTAR PUSTAKA

Celeste, Francis. 2012. Penyakit Membran Hialin. Diakses dari : https://www.scribd.com/doc/95769854/Hyaline-


Membrane-Disease-Penyakit-Membran-Hialin (6 Februari 2018).
IDAI. 2008. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta : Badan Penerbit IDAI.

Kurniawan, Gilang. 2012. Menghitung Usia Kehamilan. Diakses dari : http://www.drgilang-


aborsi.com/index.php?view=article&catid=42:informasi&id=54:menghitung-usia-
kehamilan&format=pdf&option=com_content&Itemid=67 (6 Februari 2018).
Mathai, et al. 2007. Management of Respiratory Distress in the Newborn. MJAFI. Vol. 63, No. 3, Januari
2007. Diakses dari : http://medind.nic.in/maa/t07/i3/maat07i3p269.pdf (6 Februari 2018).
Tjekyan, Suryadi. 2010. Faktor Risiko Dan Prognosis Berat Badan Lahir Rendah (Bblr) Dan Berat Badan
Latiir Sangat Rendah (BBLSR) Dan Kejadian Lahir Mati Di Kota Palembangun 2010. JKK. No. 3,
Juli 2010.Diakses dari :
http://eprints.unsri.ac.id/1491/1/JURNAL_KEDOKTERAN_DAN_KESEHATAN.pdf (6 Februari 2018).
FK Universitas Hasanuddin. 2015. Resusitasi Neonatus. Diakses dari : http://med.unhas.ac.id/kedokteran/wp-
WHO. 2005. Pelayan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta : WHO Indonesia.
content/uploads/2015/03/BUKU-PANDUAN-KETERAMPILAN-BLOK-REPRODUKSI.pdf(6 Februari 2018).