Anda di halaman 1dari 12

1.

Masalah gizi pada penyakit jantung


a. Hiperkolesterolemia
 Kolesterol total
Kadar kolesterol yang sebaiknya adalah 200 mg/dl bila > 200 mg/dl berarti
berisiko untuk terjadinya PJK meningkat
 LDL kolesterol
Normal Agak tinggi Tinggi
<130 mg/dl 130-159 mg/dl >160 mg/dl

 HDL kolesterol
Normal Agak tinggi Tinggi
<45 mg/dl 35 – 45 mg/dl >35 mg/dl

 Rasio kolesterol total : HDL kolesterol


Rasio kolesterol total : HDL kolesterol sebaiknya ( 4.5 pada laki-laki dan 4.0
pada perempuan). Makin tinggi rasio kolesterol total : HDL kolesterol makin
meningkatresiko PJK.

 Kadar trigliserida
Normal Agak tinggi Tinggi Sangat tinggi
<150 mg/dl 150-250 mg/dl 250-500 mg/dl >500 mg/dl

 Obesitas
Kg/m2 Klasifikasi IMT
30.0-34.9 Obesitas 1
35.0-39.9 obesitas 11
>40 Obesitas 111
 Diabetes mellitus
Penelitian menunjukkan laki-laki yang menderita DM resiko PJK 50% lebih
tingi dari pada orang normal sedangkan perempuan resiko nya menjadi 2
kali lipat

Baughman (2000) mengatakan bahwa yang menentukan timbulnya manifestasi strok atau yang
dikenal dengan factor risiko strok adalah

1. Hipertensi merupakan factor resiko strok yang potensial


2. Diabetes mellitus merupakan factor risiko terjadi strok yaitu dengan peningkatan
aterogenesis. Diabetes mellitus mampu ,menebalkan dinding pembuluh otak yang
berukuran besar. Menebalnya pembuluh darah pada otak akan menyempitkan diameter
pembuluh tadi dan penyempitan tersebut akan mengganggu kelancaran aliran ke otak,
yang padaakirnya menyebabkan infaek pada sel-sel.
3. Penyakit jantung/kardiovaskuler berpotensi mengakibatkan penyakit strok
4. Hiperkolesterolemia (kadar kolesterol ≥200mg/dl) mempunyai resiko terkena strok
sebesar 8,140 kali lebih besar di bandingkan dengan yang tidak hiperkolesterolemia.
Meningginya kolesterol dalam darah terutama LDL, merupakan factor resiko terjadinya
arteriosklerosismenebalnya dinding pembuluh darah yang kemudian diikuti dengan
menurunnya elastisistas pembuluh darah). Peningkatan LDL dan penurunan kadar HDL
merupakan factor resiko penyebab terjadinya strok. ( Muhammad jusman dan koto, 2011
dalam buku epidemiologi peyakit tidak menular)

2. A. Kondisi khusus infark miokardium


Manifestasi Klinis
a. Nyeri
1) Kualitas nyeri:
Seperti diremas-remas, ditekan, ditusuk, panas atau ditindih barang berat.
2) Lokasi dan penyebaran nyeri
Nyeri terletak di bagian bawah sternum dan perut atas. Nyeri akan terasa lebih berat sampai tidak
tertahankan, nyeri dapat menyebar ke bagian atas tubuh mana saja, tetapi sebagian besar
menyebar ke leher, rahang, bahu, dan ke lengan tangan kiri.
3) Serangan dan lamanya nyeri
Nyeri dada yang tiba-tiba dan berlangsung terus menerus.
4) Faktor yang mendahului:
Seringkali karena emosi yang parah, atau setelah gerakan namun bisa timbul waktu istirahat.
5) Faktor yang meringankan:
Istirahat, nitrogliserin dan perubahan posisi.
b. Mual dan muntah
Timbulnya mual dan muntah mungkin berkaitan dengan nyeri hebat.
c. Perasaan lemas dan pusing
Berkaitan dengan penurunan aliran darah ke otot-otot rangka dan ke otak.
d. Kulit dingin, pucat dan lembab
Akibat vasokonstriksi simpatis.
e. Perubahan tanda vital:
Nadi menjadi cepat sebagai respon terhadap nyeri atau karena cardiac output yang berkurang
yang bisa terjadi karena gangguan konduksi. Tekanan darah menurun bila ekstensitas kerusakan
kardiak bertambah.
f. Pengeluaran urine berkurang
Karena penurunan aliran darah ginjal serta peningkatan aldosteron dan ADH.
g. Perilaku: seringkali kebingungan, cemas
h. Bunyi nafas:
Tidak terdengar ada perubahan, kecuali bila timbul edema paru, dan akan terdengar rales.

b. Kondisi pembedahan jantung


1. Infeksi pada bekas luka operasi, biasanya terjadi pada pasien diabetes mellitus dan pasien
obes
2. Serangan jantung atau strok
3. Irama jantung tidak beraturan
4. Gagal paru atau gagal ginjal
5. Nyeri dada dan demam
6. Kehiangan memori atau kebingungan
7. Penggumpalan darah
8. Sulit bernafas

c. Kondisi by pass graft

Coronary Artery Bypass Graft merupakan salah satu penanganan intervensi dari PJK
dengan cara membuat saluran baru melewati arteri koroner yang mengalami penyempitan atau
penyumbatan (Feriyawati,2005).Coronary Artery Bypass Grafting adalah operasi pintas koroner
yang dilakukan untuk membuat saluran baru melewati bagian arteri koroner yang mengalami
penyempitan atau penyumbatan (Medical Surgical Nursing vol 1, 2000). Coronary Artery
Bypass Grafting atau Operasi CABG adalah teknik yang menggunakan pembuluh darah dari
bagian tubuh yang lain untuk memintas (melakukan bypass) arteri yang menghalangi pemasokan
darah ke jantung. Rekomendasi untuk melakukan CABG didasarkan atas beratnya keluhan
angina dalam aktifitas sehari-hari. Respon terhadap intervensi non bedah PCI atau stent dan obat-
obatan serta harapan hidup pasca operasi yang didasarkan atas fungsi jantung secara umum
sebelum operasi (Woods, et all. 2000)

Indikasi

Indikasi CABG menurut American Heart Association (AHA):

1. Stenosis Left Mean Coronary Artery yang signifikan

2. Angina yang tidak dapat di kontrol dengan terapi medis

3. Angina yang tidak stabil

4. Iskemik yang mengancam dan tidak respon terhadap terapi non bedah yang maksimal

5. Gagal pompa ventrikel yang progresif dengan stenosis koroner yang mengancam daerah
miokardium

6. Sumbatan yang tidak dapat ditangani dengan PTCA dan trombolitik

7. Sumbatan/stenosis LAD dan LCx pada bagian proksimal > 70 %

8. Satu atau dua vessel disease tanpa stenosis LAD proksimal yang signifikan
9. Klien dengan komplikasi kegagalan PTCA

10. Pasien dengan sumbatan 3 pembuluh darah arteri (three vessel disease) dengan angina stabil
atau tidak stabil dan pada klien dengan 2 sumbatan pembuluh darah dengan angina stabil atau
tidak stabil dan pada klien dengan 2 sumbatan pembuluh darah dengan angina stabil atau tidak
stabil dan lesi proksimal LAD yang berat

11. Pasien dengan stenosis (penyempitan lumen > 70% pada 3 arteri,arteri koronaria komunis
sinistra, bagian proksimal dari arteri desenden anterior sinistra

5. Asuhan gizi pada penyakit jantung


Penyakit jantung merupakan suatu penyakit kronis yang gejala baru muncul setelah
jantung secara berangsur-angsur mulai kehilangan kemampuannya untuk berfungsi secara
normal. Secara langsung dan tidak langsung munculnya penyakit jantung in mumcul sebagai
akibat dari terakumulasinya kadar kolerterol jahat yang tinggi dalam jangka waktu yang lama.
sehingga porses itu memunculkan plak di pembuluh darah sehingga mengurangi kelenturan dari
pembuluh darah dan mengakibatkan masalah penyakti jantung.
Pemberian diet jantung ini memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh
tanpa memperberat kerja jantung, dan juga dapat memberikan efek pengurangan berat badan,
serta mencegah munculnya resistensi air dan garam yang dapat memunculkan hipertensi.
Penyakit jantung terjadi akibat proses berkelanjutan, dimana jantung secara berangsur
kehilangan kemampuannya untuk melakukan fungsi secara normal. Pada awal penyakit, jantung
mampu mengkompensasi ketidakefisiensian fungsinya dan mempertahankan sirkulasi darah
normal melalui pembesaran dan peningkatan denyut nadi (Compensated Heart Disease).
Dalam keadaan tidak terkompensasi (Decompensitio Cordis), sirkulasi darah yang tidak
normal menyebabkan sesak napas (dyspnea), rasa lelah, dan rasa sakit di daerah jantung.
Berkurangnya aliran darah dapat menyebabkan kelainan pada fungsi ginjal, hati, otak, serta
tekanan darah, yang berakibat terjadinya resorpsi natrium. Hal ini akhirnya menimbulkan edema.
Penyakit jantung menjadi akut bila disertai infeksi (endocarditis atau carditis), gagal jantung,
setelah myocrd infarct, dan setelah operasi jantung.
Tujuan Diet
Tujuan diet jantung adalah:
1. Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung.
2. Menurunkan berat badan bila terlalu gemuk.
3. Mencegah atai menghilangkan penimbunan garam atau air.
Syarat diet
Syarat-syarat Diet Penyakit Jantung adalah sebagai berikut:
1. Energy cukup, untuk mencapai dan mempertahankan berat badan normal.
2. Protein cukup yaitu 0,8 g/kg BB.
3. Lemak sedang, yaitu 25-30% dari kebutuhan energy total, 10% berasal dari lemak jenuh, dan
10-15% lemak tidak jenuh.
4. Kolesterol rendah, terutama jika disertai dengan displidemia.
5. Vitamin dan mineral cukup. Hindari penggunaan suplemen kalium, kalsium, dan magnesium
jika tidak dibutuhkan.
6. Garam rendah, 2-3 g/hari, jika disertai hipertensi atau edema.
7. Makanan mudah cerna dan tidak menimbulkan gas.
8. Serat cukup untuk menghindari konstipasi.
9. Cairan cukup, kurang lebih 2 lite/hari sesuai dengan kebutuhan.
10. Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan penyakit, diberikan dalam porsi kecil.
11. Bila kebutuhan gizi tidak dapat dipenuhi melalui makanan dapat diberikan tambahan berupa
makanan enteral, parenteral, atau suplemen gizi.
b) Hal-hal yang harus di perhatikan pada penderita penyakit jantung
Berikut ini beberapa hal harus diperhatikan dalam perawatan diet penderita jantung koroner :
1) Pembatasan kandungan kalori dalam diet perlu dilakukan lebih-lebih jika penderita tergolong
obesitas atau berat badannya melebihi berat badan ideal. Penderita penyakit jantung koroner
sebaiknya mempunyai berat badan sedikit di bawah berat badan ideal.

2) Penggunaan lemak jenuh harus dihindarkan, sedangkan lemak tak jenuh berganda
(polyunsatrated fatty acid) yang dapat menurunkan kadar kolesterol darah, dapat diperbanyak
untuk menggantikan lemak jenuh.

3) Pemakaian gula dalam diet sehari-hari hendaknya tidak berlebihan, karena konsumsi gula
yang tinggi dapat mempermudah terjadinya aterosklerosis.
4) Untuk mengurangi beban kerja jantung, porsi makanan sebaiknya kecil. Agar tubuh
mendapatkan semua zat gizi yang diperlukan dalam jumlah yang cukup, frekuensi pemberian
makanan hendaknya lebih sering.

5) Pengurangan garam perlu dilakukan apabila penderita menunjukkan tanda-tanda kenaikan


tekanan darah atau terlihat adanya edema.

6) Bahan makanan yang dapat menimbulkan gas dalam lambung seperti kol, lobak, durian, dan
sebagainya sebaiknya tidak diberikan.

7) Bumbu-bumbu yang dapat menimbulkan rangsangan seperti lombok, merica, dan sebagainya
hendaknya dihindarkan.

8) Penderita tidak diberi minuman berupa kopi, teh kental, atau minuman yang mengandung soda
(soft drink) dan alkohol.

9) Makanan atau kue yang terlalu manis dan makanan berlemak atau dimasak dengan lemak
hendaknya tidak diberikan.

Disamping perawatan dietetik, juga perlu dilakukan upaya penyembuhan yang lain,
terutama mengurangi berbagai faktor risiko, seperti merokok, tekanan emosional, dan
sebagainya. Juga olah raga fisik perlu dilakukan untuk menjaga agar tidak terjadi kenaikan berat
badan.

c) Cara pengaturan makan pada penderita penyakit jantung


Penatalaksanaan Gizi
Tujuan dari penatalaksanaan gizi adalah menurunkan total air dan natrium tubuh
menurunkan beban kerja jantung. Anak-anak dengan gagal jantung kongestif sering disertai
gangguan pertumbuhan dan tidak ada kenaikan berat badan. Ini dapat disebabkan oleh beberapa
faktor. Untuk anak-anak ini maka tujuannya adalah memperbaiki pertumbuhan.
Intervensi dan pendidikan pasien
Tindakan di bawah ini dirancang untuk mengurangi efek gagal jantung kongesif.
Pengurangan natrium pada diet untuk mengurangi retensi cairan.
Jumlah natrium yang diijinkan berkisar 45-70 mg/kg/hari pada bayi, dan 2 g untuk orang
dewasa. Kotak pembatasan natrium memberikan petunjuk untuk mencapai pembatasan natrium.
Biasanya ini diperlukan untuk jangka panjang, sehingga pasien dan keluarganya perlu
mendapatkan instruksi tentang pembatasan natrium.
Pengurangan pemasukan cairan untuk membantu mengurangi volume peredaran darah
Jumlah cairan yang diijinkan berkisar 80-160 ml/kg/hari pada bayi dan 1,5-2 L/hari untuk
orang dewasa. Ini termasuk yang berasal dari makanan serta cairan yang diberikan bersama obat.
Beberapa makanan padat pada suhu ruangan dan cair pada suhu tubuh. Gelatin dapat dihitung
100% air, es krim 33% dan es buah 50%. Zat-zat gizi bila mungkin harus dipenuhi dalam volume
kecil.
Tingkatkan pemasukan kalium menjadi 4,5-7 g/hari, kecuali bila ada gangguan ginjal.
Diuretic meningkatkan kehilangan kalium dan terjadi hipokalemia sebagai predisposisi dari
toksi digitalis.
Bagi makanan yang akan dimakan sehari menjadi porsi kecil.
5-6 porsi kecil sehari adalah lebih baik dan dapat diterima dengan baik pada pasien dengan
sesak nafas, dari pada 3 porsi besar sehari.
Capai berat badan optimum pada orang dewasa dan pertumbuhan yang baik pada anak-anak.
Orang kegemukan dengan gagal jantung kongesif dapat menigkatkan beban pada otot
jantung. Penurunan berat badan sangat penting. Pasien malnutrisi, terutama anak-anak
memberikan gambaran perbaikan pertumbuhan tanpa memperburuk gagal jantung kongesif bila
diberikan makanan pipa yang terus menerus.
Jenis diet dan indikasi pemberian
Diet jantung I
Diet jantung I diberikan kepada pasien penyakit jantung akut seperti Myocard Infarct
Dekompensasio Kordisi Berat. Diet diberikan berupa 1-1,5 liter cairan/hari selama1-2 hari
pertama bila pasien menerimanya. Diet ini sangat rendah energi dan semua zat gizi, sehingga
sebaiknya hanya diberikan selama 1-3 hari.
Diet Jantung II
Diet Jantung II diberikan dalam bentuk makanan saring atau lunak. Diet diberikan sebagai
perpindahan dari Diet Jantung I, atau setelah fase akut dapat diatasi. Jika disertai hipertensi
dan/atau edema, diberikan sebagai Diet Jantung II Garam Rendah. Diet ini rendah energy,
protein, kalsium, dan tiamin.
Diet Jantung III
Diet Jantung III diberikan dalam bentuk Makanan Lunak atau Biasa. Diet diberikan
sebagai perpindahan dari Diet Jantung II atau kepada pasien jantung dengan kondisi yang tidak
terlalu berat. Jika disertai hipertensi dan/atau edema, diberikan sebagai Diet Jantung III Garam
Rendah. Diet ini rendah energy dan kalsium, tetapi cukup zat lain.
Diet Jantung IV
Diet Jantung IV diberikan dalam bentuk Makanan Biasa. Diet diberikan sebagai
perpindahan dari Diet Jantung III atau kepada pasien jantung dengan keadaan ringan. Jika
disertai hipertensi dan/atau edema, diberikan sebagai Diet Jantung IV Garam Rendah. Diet ini
cukup energy dan zat gizi lain, kecuali kalsium.
Bahan Makanan Sehari
1. Diet Jantung I
Pada diet jantung I pasien tidak diperbolehkan mengkonsumsi seperti nasi, daging ayam,
telur ayam, tempe, sayuran dan minyak. Diperbolehkan mengkonsumsi buah 400 g, margarine
tidak bergaram 1 sdm, gula pasir 8 sdm, susu skim bubuk 20 sdm.
2. Diet Jantung II
Pada diet jantung II pasien tidak diperbolehkan mengkonsumsi tempe dan margarine tidak
bergaram. Diperbolehkan mengkonsumsi beras 100 g, daging 100 g, telur ayam 50 g, sayuran
300 g, buah 400 g, minyak 1 ½ sdm, gula pasir 2 sdm dan susu skim bubuk 4 sdm.
3. Diet Jantung III
Pada Diet Jantung III pasien tidak di perbolehkan mengkonsumsi margarine tidak
bergaram dan susu skim bubuk. Diperbolehkan mengkonsumsi beras 200 g, daging 100 g, telur
ayam 50 g, tempe 75 g, sayuran 300 g, buah 400 g, minyak 1 ½ sdm dan gula pasir 3 sdm.
4. Diet Jantung IV
Pada Diet Jantung IV pasien tidak di perbolehkan mengkonsumsi margarine tidak
bergaram dan susu skim bubuk. Diperbolehkan mengkonsumsi beras 250 g, daging 100 g, telur
ayam 50 g, tempe 125 g, sayuran 300 g, buah 400 g, minyak 2 ½ sdm dan gula pasir 3 sdm.

Jadwal makan pasien Penyakit jantung


Waktu Bahan Diet Jantung I Diet Jantung Diet Jantung Diet Jantung
Makanan II III IV
06.00 Gula pasir 1 sdm - - -
Margarin ½ sdm - - -
Susu Skim 4 sdm - - -
Bubuk
08.00 Beras - 30 g 50 g 50 g
Telur Ayam - 50g 50 g 50 g
Tempe - - 25 g 25 g
Sayuran - 100 g 100 g 100 g
Minyak - ½ sdm ½ sdm ½ sdm
Margarin 1/5 sdm - - -
Gula Pasir 1 sdm 1 sdm 1 sdm 1 sdm
Susu skim 4 sdm 4 sdm - -
bubuk
10.00 Sari jeruk 1 gls - - -
Papaya - 1 ptg sdg 1 ptg sdg 1 ptg sdg
Gula pasir 1 ½ sdm 1 sdm 1 sdm 1 sdm
12.00/18.00 Beras - 35 g 75 g 100 g
Daging - 50 g 50 g 50 g
Tempe - - 25 g 50 g
Sayuran - 100 g 100 g 100 g
Papaya - 1 ptg sdg 1 ptg sdg 1 ptg sdg
Margarine 1/5 sdm - - -
Minyak - ½ sdm ½ sdm 1 sdm
Gula pasir 1 sdm - - -
Susu skim 4 sdm - - -
bubuk
16.00 Sari jeruk 1 gls - - -
Papaya - 1 ptg sdg 1 ptg sdg 1 ptg sdg
Gula pasir 1 ½ sdm - 1 sdm 1 sdm
20.00 Gula pasir 1 sdm - - -
Margarin 1/5 sdm - - -
Susu skim 4 sdm - - -

Bahan Makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan.


Bahan Makanan Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Sumber Karbohidrat Beras tim atau disaring: roti, Makanan yang tidak
mie, kentang, makroni, mengandung gas atau
biscuit, tepung alcohol, seperti: ubi,
beras/terigu/sagu aren/sagu singkong, tape singkong, dan
ambon, kentang, gula pasir, tape ketan.
gula merah, madu dan sirup
Sumber Protein Hewani Daging sapi, ayam dengan Daging sapid an ayam yang
lemak rendah: ikan, telur, berlemak: gajih, sosis, ham,
susu rendah lemak dalam hati, limpa, babat, otak,
jumlah yang telah ditentukan. kepiting dan kerang-
kerangan, keju dan susu
penuh.
Sumber Protein Nabati Kacang-kacangan kering, Kacang-kacangan kering
seperti: kacang kedelai dan yang mengandung lemak
olahnya, seperti tahu dan cukuo tinggi seperti kacang
tempe. tanah, kacang mete dan
kacang bogor.
Sayuran Sayuran yang tidak Semua sayuran yang
mengandung gas, seperti: mengandung gas seperti: kol,
bayam, kangkung, kacang kembang kol, lobak, sawi
buncis, kacang panjang, dan nangka muda.
wortel, tomat, labu siam, dan
tauge.
Buah-buahan Semua buah-buahan segar buah-buahan segar yang
seperti: pisang, papaya, jeruk, mengandung alcohol atau
apel, melon, semangka dan gas, seperti: durian dan
sawo. nangka matang.
Lemak Minyak jagung, minyak Minyak kelapa dan minyak
kedelai, margarine, mentega kelapa sawit: santan kental.
dalam jumlah terbatas dan
tidak untuk menggoreng
tetapi untuk menumis: kelapa
atau santan encer dalam
jumlah terbatas.
Minuman Teh encer, coklat, dan sirup. Teh/kopi kental, minuman
yang mengandung soda dan
alcohol, seperti bird an wiski.
Bumbu Semua bumbu selain bumbu Lombok, cabe rawit, dan
tajam dalam jumlah terbatas. bumbu lain yang tajam.