Anda di halaman 1dari 76

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Stroke adalah serangan di otak yang timbulnya mendadak akibat
tersumbat atau pecahnya pembuluh darah otak sehingga menyebabkan sel-
sel otak tertentu kekurangan darah, oksigen atau zat-zat makanan dan
akhirnya dapat terjadi kematian sel-sel tersebut dalam waktu yang sangat
singkat (Yayasan Stroke Indonesia, 2012).
Berdasarkan etiologinya stroke diklasifikasikan menjadi dua yaitu
stroke hemoragik dan stroke non hemoragik. Stroke hemoragik adalah
kondisi medis yang ditandai dengan pecahnya satu atau lebih pembuluh
darah di dalam otak. Darah keluar melalui pembuluh yang pecah di
sekeliling jaringan otak, akumulasi dan menekan jaringan otak di
sekitarnya. Gumpalan darah juga dapat terbentuk dan menghentikan suplai
darah ke jaringan otak lainnya. Terdapat dua tipe stroke hemoragik
tergantung dari lokasi dimana pembuluh darah tersebut pecah: Stroke
hemoragik intraserebral (perdarahan di dalam otak) dan stroke perdarahan
subaraknoid (perdarahan di daerah antara otak dan lapisan tipis yang
melapisi otak). Stroke mempunyai faktor resiko dan mengalami
peningkatan diantaranya hipertensi, penyakit jantung, diabetes, rokok,
hiperlipidemia, dan atrial fibrilasi. Faktor risiko tersebut termasuk ke
dalam faktor risiko utama yang dapat dimodifikasi, hipertensi adalah
faktor risiko stroke yang utama (Ikawati, 2011).
Pada stroke hemoragik ini, memungkinkan sekali adanya masalah
kesehatan diantaranya: gangguan perfusi jaringan serebral, kerusakan
mobilitas fisik, perubahan persepsi sensori, kurang perawatan diri dan
gangguan pemenuhan nutrisi.
Stroke hemoragik merupakan penyebab kematian ketiga di negara
maju, setelah penyakit jantung dan kanker. Insidensi tahunannya adalah
dua per 1.000 populasi (Ginsberg, 2012). Stroke hemoragik mendapatkan
angka kematian yang cukup tinggi yaitu 58% , sedangkan stroke non

1
hemoragik memiliki angka kematian 15%. Insidensi hemoragik
intraserebral adalah 10-13 per 100.000 orang tiap tahunnya dan merupakan
10-15% dari semua kasus stroke. Pasien kasus stroke hemoragik yang
selamat hanya 38% pada 1 tahun pertama. Kematian terjadi sebagian besar
(31%) pada fase akut yaitu 7 hari setelah onset. Sedangkan untuk case
fatality rate terjadi 21-30 hari setelah onset yaitu 30-48% (Jauch et al,
2010).
Menurut World Health Organization (WHO) (2012), perkiraan
kematian akibat penyakit serebrovaskular di Asia Tenggara adalah
1.073.569 jiwa. Stroke diperkirakan menyebabkan 5,7 juta kematian pada
tahun 2005, dan 87% dari kematian ini terdapat di negara-negara dengan
penghasilan rendah dan menengah (Sherin et al., 2011). Tanpa tindakan,
angka kematian global diperkirakan meningkat menjadi 6,5 juta pada
tahun 2015 dan 7,8 juta pada tahun 2030 (Strong et al., 2010).
Stroke merupakan salah satu penyakit penyebab kematian dan
kecacatan yang utama di Indonesia. Angka kecacatan akibat stroke
umumnya lebih tinggi dari angka kematian, perbandingan antara cacat dan
mati dari penderita stroke adalah empat berbanding satu (Lumban tobing,
2010). Prevalensi Stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis tenaga
kesehatan sebesar 7 per mil dan yang terdiagnosis tenaga kesehatan atau
gejala sebesar 12,1 per mil. Prevalensi stroke berdasarkan diagnosis
tertinggi di Sulawesi Utara (10,8%), diikuti DIY (10,3%). Bangka belitung
dan DKI Jakarta masing-masing 9,7 per mil. Prevalensi Stroke
berdasarkan terdiagnosis nakes dan gejala tertinggi terdapat di Sumatra
Selatan (17,9%). DIY (16,6%), diikuti Jawa Timur sebesar 16 per mil.
Prevalensi penyakit Stroke pada kelompok yang didiagnosis nakers
meningkat seiring bertambahnya umur, tertinggi ≥ 75 tahun laki-laki
(43,1%) dan perempuan (67,0%) (Riskesdes, 2013). Prevalensi tertinggi
adalah di Kota Surakarta sebesar 0,75%. Di Indonesia, setiap 1000 orang,
delapan orang diantaranya terkena stroke (Depkes, 2011).
Melihat kompleknya dan komplikasi dari stroke hemoragik, maka

2
kelompok mengangkat mengenai “Asuhan Keperawatan Pada Ny
“S” dengan Post Operasi craniotomy e.c intra cerebral heamatoma post
stroke hemoragik di Ruang ICU RSUD Palembang BARI”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, rumusan masalah dari
makalah ini adalah Ny “S” dengan Post Operasi craniotomy dengan Stroke
Hemoragik di Ruang ICU RSUD Palembang BARI”.

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Meningkatkan ketrampilan, kemampuan mengetahui, dan
menerapkan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Post Operasi craniotomy
dengan Stroke Hemoragik di Ruang ICU RSUD Palembang BARI”
2. Tujuan khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada Ny “S” dengan Post Operasi
craniotomy dengan Stroke Hemoragik di Ruang ICU RSUD
Palembang BARI”.
b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Ny “S” dengan
Post Operasi craniotomy dengan Stroke Hemoragik di Ruang ICU
RSUD Palembang BARI”.
c. Mampu menyusun rencana tindakan asuhan keperawatan pada Ny
“S” dengan Post Operasi craniotomy dengan Stroke Hemoragik di
Ruang ICU RSUD Palembang BARI”.
d. Mampu melakukan tindakan keperawatan sesuai rencana
keperawatan pada Ny “S” dengan Post Operasi craniotomy dengan
Stroke Hemoragik di Ruang ICU RSUD Palembang BARI”.
e. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan pada Ny “S” dengan
Post Operasi craniotomy dengan Stroke Hemoragik di Ruang ICU
RSUD Palembang BARI”.

3
D. Waktu Dan Tempat
1. Waktu
Asuhan keperawatan pada Ny “S” dengan Post Operasi craniotomy
dengan Stroke Hemoragik dilakukan pada tanggal 24 januari 2018.
2. Tempat
Asuhan keperawatan pada Ny “S” dengan Post Operasi craniotomy
dengan Stroke Hemoragik di Ruang ICU RSUD Palembang BARI”.

E. Manfaat
1. Bagi penulis
Penulis dapat menerapkan asuhan keperawatan pada pasien dengan
stroke hemoragik, serta mendapat pengalaman yang nyata dalam
melakukan tindakan keperawatan secara komprehensif menggunakan
metode proses asuhan keperawatan dengan menerapkan ilmu yang
didapatkan selama proses pembelajaran/pendidikan.
2. Instansi Kesehatan RSUD Palembang BARI
Memberikan gambaran tentang status kesehatan pasien dan
meningkatkan kualitas pelayanan asuhan keperawatan pada pasien
stroke hemoragik.
3. Instansi Pendidikan STIKes Muhammadiyah Palembang
Menambah pengetahuan dan pengalaman secara langsung dalam
memberikan asuhan keperawatan khususnya pada pasien dengan
stroke hemoragik di rumah sakit.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Profil RSUD Palembang BARI


1. Selayang pandang RSUD palembang BARI
Rumah sakit Umum Daerah Palembang BARI merupakan unsur
penunjang pemerintah daerah di bidang pelayanan kesehatan yang
merupakan satu-satunya rumah sakit umum milik pemerintah kota
Palembang. Rumah sakit Umum Daerah Palembang BARI terletak dijalan
panca No.1 kelurahan 5 Ulu kecamatan Seberang Ulu 1 dan berdiri di atas
tanah seluas 4,5 H.
Bangunan berada kurang lebih 800 meter dari jalan raya jurusan
kertapati.Sejak tahun 2001, dibuat jalann alternative dari jalan Jakabaring
menuju RSUD Palembang BARI dari jalan poros Jakabaring.

2. Visi, Misi, Tujuan, dan Motto RSUD Palembang BARI


a. Visi
“Menjadi Rumah Sakit Unggul, Amanah, dan Tepercaya di Indonesia”.
b. Misi
1) Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan prima dengan
berorientasi pada keselamatan dan ketepan sesuai standar mutu
berdasarkan pada etika dan profesionalisme yang menjangkau
seluruh lapisan masyarakat.
2) Meningkatkan mutu manajemen sumber daya kesehatan.
3) Menjadikan RSUD Palembang BARI sebagai rumah sakit
pendidikan dan pelatihan di Indonesia.

c. Motto
“Kesembuhan dan kepuasan pelanggan adalah kebahagiaan kami”.
d. Tujuan

5
1) Mengoptimalkan pelayanan yang efektif dan efisien sesuai
standard mutu.
2) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang menjangkau seluruh
lapisan masyarakat.
3) Menciptakan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan mampu
bersaing di era pasar bebas.
4) Meningkatkan kemampuan SDM yang berkompeten dibidangnya.
5) Menyelenggarakan manajemen pengelolaan RS yang kondusif dan
professional.
6) Meningkatkan sarana dan prasarana kesehatan yang berorientasi
pada perkembangan teknologi.
7) Meningkatkan kesejahteraan pegawai untuk memberikan manfaat
yang signifikan kepada rumah sakit.
8) Memperluas kerjasama di bidang pendidikan, pelatihan dan
penelitian.
9) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang handal dan
berkompeten di bidangnya.

3. Sejarah
a. Sejarah berdirinya RSUD palembang BARI
1) Pada tahun 1986 sampai tahun 1994 RSUD Palembang BARI
merupakan gedung Poliklinik/ Puskesmas Panca Usaha.
2) Seiring dengan perkembangan sarana dan prasarana, pada tanggal 19
juni 1995 diresmikan menjadi RSUD Palembang BARI dengan SK
Depkes Nomor 1326/Menkes/XI/1997, dan tanggal 10 November
1997 ditetapkan menjadi Rumah Sakit Umum Daerah kelas C.
3) Kepmenkes RI Nomor : HK.00.06.2.2.4646 tentang pemberian status
Akreditas Penuh Tingkat Dasar kepada RSUD Palembang BARI
tanggal 7 November 2003
4) Kepmenkes RI Nomor : YM.01.10/111/08/4646 tentang pemberiaan
status Akreditas penuh tingkat dasar RSUD Palembang BARItanggal
5 Nobember 2008

6
5) Telah ditetapkan sebagai BLUD-SKPD RSUD palembang BARI
berdasarkan keputusan walikota palembang Nomor 915 B tahun
2008 tentang penetapan RSUD palembang BARI SKPD palembang
yang menerapkan pola pengelolaan keuangan BLUD (PKK-BLUD)
secara penuh.
6) Kemudian dengan SK Depkes No. 241/MENKES/SK/IV/2009,
tanggal 2 April 2009 di tetapkan menjadi Rumah Sakit Umum
Daerah Palembang BARI Kelas B
7) KAKS – SERT / 363/5/2012 tentang status Akreditasi Lulus Tingkat
Lengka kepada RSUD Palembang BARI tanggal 25 Januari 2012

b. Sejarah Pemegang Jabatan Direktur


1) Tahun 1986 s/d 1994 : dr.Jane Lidia Jilahelu sebagai kepala
poliklinik/puskesmas panca usaha.
2) Tanggal 1 juli 1996 s/d juni 2000 : dr.h.Eddy Zakarty Monasir.
SpOG Sebagai direktur RSUD palembang BARI.
3) Bulan juli 2000 s/d November 2000 pelaksanaan petugas dr.H.
Dachlan Abbas S.PB
4) Bulan Desember 2000 s/d Febuari 2001 pelaksanaan petugas dr.
M.Faisal soleh. SpPD
5) Tanggal 14 november 2000 s/d Januari 2012 : dr.Hj.Indah Puspita
6) H.A.MARS sebagai Direktur RSUD palembang BARI.
7) Bulan Febuari 2012 s/d sekarang : dr. Hj. MAKIANI
M.Kes.,MM.,MARS sebagai direktur RSUD palembang BARI

4. Fasilitas dan Pelayanan


Dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat RSUD
palembang BARI mempunyai pelayanan sebagai berikut :
a. Fasilitas
1) Instalasi Gawat Darurat 24 Jam.
2) Farmasi/ Apotik 24 Jam
3) Rawat Jalan/ Poliklinik
4) Rawat Inap

7
5) Bedah Sentral
6) Rehabilitas Medik
7) Radiologi 24 Jam
8) Laboratorium 24 Jam
9) Patologi Anatomi
10) Bank Darah
11) Hemodialisa
12) Medika Check Up
13) ECG/EEG
14) USG 4 Dimensi
15) Endoskip
16) Kamar Jenazah
17) Ct-Scan 64 Slic
b. Pelayanan Rawat Jalan
1) Poliklinik Spesialis Penyakit Dalam
2) Poliklinik Spesialis Bedah
3) Poliklinik Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan
4) Poliklinik Spesialis Anak
5) Poliklinik Spesialis Mata
6) Poliklinik Spesialis THT
7) Poliklinik Syaraf
8) Poliklinik Kulit dan Kelamin
9) Poliklinik Spesialis Jiwa
10) Poliklinik Rehabilitasi Medik
11) Poliklinik Spesialis Jantung
12) Poliklinik Spesialis Gigi
13) Poliklinik Spesialis Akupuntur
14) Poliklinik Spesialis Psikologi
15) Poliklinik Spesialis Terpadu
16) Poliklinik PKBRS
17) Poliklinik Paru
c. Fasilitas Kendaraan Operasional

8
1. Ambulance 118
2. Ambulance Bangsal
3. Ambulance Siaga Bencana
4. Ambulance Trauma Center
5. Mobil Jenazah
d. Pelayanan rawat inap
1) Perawatan VVIP dan VIP
2) Perawatan kelas I,II,III
3) Perawatan penyakit dalam infeksi Perempuan
4) perawatan penyakit dalam infeksi Laki-laki
5) Perawatan anak
6) Perawatan bedah
7) Perawatan ICU
8) Perawatan kebidanan
9) Perawatan neonatus / NICU/ PICU
e. Pelayanan penunjang
1) Intalasi laboratorium klinik
2) Instalasi radiologi
3) Instalasi bedah sentral
4) Instalasi farmasi (Apotik)
5) Instalasi Gizi
6) Instalasi Laundry
7) Central Sterilized Suplay Departemen (CSSD)
8) Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPS RS)
9) Instalasi Pemeliharaan Kesehatan Lingkungan
10) Bank Darah
11) Kasir
12) Hemodialisa
13) Instalasi Rehabilitasi Medis

B. Tinjauan Teori
1. Pengertian Stroke Hemoragik
Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang
berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan

9
gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang
menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain
vaskular (Muttaqin, 2011).
Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi karena pembuluh
darah di otak pecah sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir.
Penyebab stroke hemoragi antara lain: hipertensi, pecahnya aneurisma,
malformasi arteri venosa. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas
atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien
umumnya menurun (Corwin, 2010).
Stroke hemoragik adalah pembuluh darah otak yang pecah
sehingga menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke
dalam suatu daerah di otak dan kemudian merusaknya (M. Adib, 2011).
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa stroke hemoragik adalah
salah satu jenis stroke yang disebabkan karena pecahnya pembuluh darah
di otak sehingga darah tidak dapat mengalir secara semestinya yang
menyebabkan otak mengalami hipoksia dan berakhir dengan kelumpuhan.
2. Etiologi Stroke Hemoragik
Stroke hemoragik, yang merupakan sekitar 15% sampai 20% dari
semua stroke, dapat terjadi apabila lesi vaskular intraserebrum mengalami
rupture sehingga terjadi perdarahan ke dalam ruang subarachnoid atau
langsung ke dalam jaringan otak. perdarahan intraserebral selalu
disebabkan oleh pecahnya arteri arterio sklerotik kecil yang menyebabkan
melemahnya pembuluh darah, terutama oleh hipertensi arteri alkronik.
Perdarahan lazimnya besar, tunggal, dan merupakan bencana. Penggunaan
kokain atau kadang-kadang obat simptomati klainnya dapat menyebabkan
hipertensi singkat yang parah yang menyebabkan perdarahan. Perdarahan
intraserebral akibat dari aneurismacongenital, arteriovenosa atau kelainan
vascular lainnya, trauma, aneurisma mycotic, infarkotak (infark
hemoragik),primer atau metastasistum orotak,anti koagulasi berlebihan,
dyscrasia darah, perdarahan atau gangguan vasculitic jarang terjadi.
(Muttaqin, 2011).
Stroke hemoragik subarachnoid sering disebabkan oleh kelainan
arteri yang berada di pangkal otak, yang dinamakan aneurisma serebral.
Perdarahan subarachnoid secara spontan sering berkaitan dengan pecahnya

10
aneurisma (85%), kerusakan dinding arteri pada otak. Dalam banyak kasus
PSA merupakan kaitandari pendarahan aneurisma. Penelitian
membuktikan aneurisma yang lebih besar kemungkinannya bisa pecah.
Selanjutnya 10% kasus dikaitkan dengan nonaneurisma perimesencephalic
hemoragik, dimana darah dibatasi pada daerah otak tengah. Aneurisma
tidak ditemukan secara umum. 5% berikutnya berkaitan dengan kerusakan
rongga arteri, gangguan lain yang mempengaruhi vessels, gangguan
pembuluh darah pada sumsum tulang belakang dan perdarahan berbagai
jenis tumor (Muttaqin, 2011).
Penyebab perdarahan otak yang paling lazim terjadi :

a. Aneurisma Berry, biasanya defek kongenital.


b. Aneurisma fusiformis dari atherosklerosis. Atherosklerosis adalah
mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya kelenturan atau
elastisitas dinding pembuluh darah. Dinding arteri menjadi lemah dan
terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi perdarahan.
c. Aneurisma myocotik dari vaskulitis nekrose dan emboli septis.
d. Malformasi arteriovenous, adalah pembuluh darah yang mempunyai
bentuk abnormal, terjadi hubungan persambungan pembuluh darah
arteri, sehingga darah arteri langsung masuk vena, menyebabkan
mudah pecah dan menimbulkan perdarahan otak.
e. Ruptur arteriol serebral, akibat hipertensi yang menimbulkan
penebalan dan degenerasi pembuluh darah.
Ada beberapa faktor resiko pada stroke yaitu :
a. Hipertensi
b. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung kongestif,
fibrilasi atrium, penyakit jantung kongestif)
c. Kolesterol tinggi, obesitas
d. Peningkatan hematokrit (resiko infark serebral)
e. Diabetes Melitus (berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi)
f. Kontrasepasi oral (khususnya dengan disertai hipertensi, merokok,
dan kadar estrogen tinggi)
g. Penyalahgunaan obat (kokain), rokok dan alkohol

3. Anatomi dan Fisiologi

11
a. Otak
Berat otak manusia sekitar 1400 gram dan tersusun oleh
kurang lebih 100 triliun neuron. Otak terdiri dari empat bagian besar
yaitu serebrum (otak besar), serebelum (otak kecil), brainstem (batang
otak), dan diensefalon (Sylvia A. Price, 2012).
Serebrum terdiri dari dua hemisfer serebri, korpus kolosum dan
korteks serebri. Masing-masing hemisfer serebri terdiri dari lobus
frontalis yang merupakan area motorik primer yang bertanggung
jawab untuk gerakan-gerakan voluntar, lobur parietalis yang
berperanan pada kegiatan memproses dan mengintegrasi informasi
sensorik yang lebih tinggi tingkatnya, lobus temporalis yang
merupakan area sensorik untuk impuls pendengaran dan lobus
oksipitalis yang mengandung korteks penglihatan primer, menerima
informasi penglihatan dan menyadari sensasi warna.
Serebelum terletak di dalam fosa kranii posterior dan ditutupi
oleh duramater yang menyerupai atap tenda yaitu tentorium, yang
memisahkannya dari bagian posterior serebrum. Fungsi utamanya
adalah sebagai pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus
gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk
mempertahankan keseimbangan sikap tubuh.
Bagian-bagian batang otak dari bawak ke atas adalah medula
oblongata, pons dan mesensefalon (otak tengah). Medula oblongata
merupakan pusat refleks yang penting untuk jantung, vasokonstriktor,
pernafasan, bersin, batuk, menelan, pengeluaran air liur dan muntah.
Pons merupakan mata rantai penghubung yang penting pada jaras
kortikosereberalis yang menyatukan hemisfer serebri dan serebelum.
Mesensefalon merupakan bagian pendek dari batang otak yang berisi
aquedikus sylvius, beberapa traktus serabut saraf asenden dan
desenden dan pusat stimulus saraf pendengaran dan penglihatan.
Diensefalon di bagi empat wilayah yaitu talamus, subtalamus,
epitalamus dan hipotalamus. Talamus merupakan stasiun penerima dan
pengintegrasi subkortikal yang penting. Subtalamus fungsinya belum

12
dapat dimengerti sepenuhnya, tetapi lesi pada subtalamus akan
menimbulkan hemibalismus yang ditandai dengan gerakan kaki atau
tangan yang terhempas kuat pada satu sisi tubuh. Epitalamus
berperanan pada beberapa dorongan emosi dasar seseorang.
Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem
susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah dan
emosi (Sylvia A. Price, 2012).

(Sumber : Sylvia A. Price, 2012)

b. Sirkulasi darah otak


Otak menerima 17 % curah jantung dan menggunakan 20 %
konsumsi oksigen total tubuh manusia untuk metabolisme aerobiknya.
Otak diperdarahi oleh dua pasang arteri yaitu arteri karotis interna dan
arteri vertebralis. Da dalam rongga kranium, keempat arteri ini saling
berhubungan dan membentuk sistem anastomosis, yaitu sirkulus
Willisi.
Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteria
karotis komunis kira-kira setinggi rawan tiroidea. Arteri karotis interna
masuk ke dalam tengkorak dan bercabang kira-kira setinggi kiasma

13
optikum, menjadi arteri serebri anterior dan media. Arteri serebri
anterior memberi suplai darah pada struktur-struktur seperti nukleus
kaudatus dan putamen basal ganglia, kapsula interna, korpus kolosum
dan bagian-bagian (terutama medial) lobus frontalis dan parietalis
serebri, termasuk korteks somestetik dan korteks motorik. Arteri
serebri media mensuplai darah untuk lobus temporalis, parietalis dan
frontalis korteks serebri.
Arteria vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria subklavia
sisi yang sama. Arteri vertebralis memasuki tengkorak melalui
foramen magnum, setinggi perbatasan pons dan medula oblongata.
Kedua arteri ini bersatu membentuk arteri basilaris, arteri basilaris
terus berjalan sampai setinggi otak tengah, dan di sini bercabang
menjadi dua membentuk sepasang arteri serebri posterior. Cabang-
cabang sistem vertebrobasilaris ini memperdarahi medula oblongata,
pons, serebelum, otak tengah dan sebagian diensefalon. Arteri serebri
posterior dan cabang-cabangnya memperdarahi sebagian diensefalon,
sebagian lobus oksipitalis dan temporalis, aparatus koklearis dan
organ-organ vestibular.
Darah vena dialirkan dari otak melalui dua sistem : kelompok
vena interna, yang mengumpulkan darah ke Vena galen dan sinus
rektus, dan kelompok vena eksterna yang terletak di permukaan
hemisfer otak, dan mencurahkan darah, ke sinus sagitalis superior dan
sinus-sinus basalis lateralis, dan seterusnya ke vena-vena jugularis,
dicurahkan menuju ke jantung (Sylvia A. Price, 2012).

4. Patofisiologi
Perdarahan intraserebral ke dalam jaringan otak (parenkim) paling
sering terjadi akibat cedera vascular yang dipicu oleh hipertensi dan
rupture salah satu dari banyak arteri kecil yang menembus jauh ke dalam
jaringan otak. Stroke yang disebabkan oleh perdarahan intraserebral paling
sering terjadi pada saat pasien terjaga dan aktif, sehingga kejadiannya
sering disaksikan oleh orang lain. Karena lokasinya berdekatan dengan
arteri-arteri dalam, basal ganglia dan kapsula interna sering menerima

14
beban terbesar tekanan dan iskemia yang disebabkan oleh stroketipe ini.
Dengan mengingat bahwa ganglia basal memodulasi fungsi motorik
volunter dan bahwa semua saraf aferen dan eferen di separuh korteks
mengalami pemadatan untuk masuk dan keluar dari kapsula interna, maka
dapat dilihat bahwastroke di salah satu bagian ini diperkirakan
menimbulkan defisit yang sangat merugikan. Biasanya perdarahan di
bagian dalam jaringan otak menyebab kandefisit neurologik fokal yang
cepat dan memburuk secara progresif dalam beberapa menit sampai
kurang dari 2 jam. Hemiparesis di sisi yang berlawanan dari letak
perdarahan merupakan tanda khas pertama pada keterlibatan
kapsulainterna. Infark serebrum setelah embolus di suatu arteri otak
mungkin terjadi sebagai akibat perdarahan bukan sumbatan oleh embolus
itu sendiri. Alasannya adalah bahwa, apabila embolus lenyap atau
dibersihkan dari arteri, dinding pembuluh setelah tempat oklusi mengalami
perlemahan selama beberapa haripertama setelah oklusi. Dengan
demikian, selama waktu ini dapat terjadi kebocoran atau perdarahan dari
dinding pembuluh yang melemah ini. Karena itu,hipertensi perlu
dikendalikan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada minggu-minggu
pertama setelah stroke embolik. Perdarahan yang terjadi di
ruangsupratentorium (di atas tentorium serebeli) memiliki prognosis baik
apabilavolume darah sedikit. Namun perdarahan ke dalam ruang
infratentorium di daerahpons atau serebelum memiliki prognosis yang jauh
lebih buruk karena cepatnyatimbul tekanan pada struktur-struktur vital di
batang otak (Hartwig, 2005).
Perdarahan subarachnoid (PSA) terjadi akibat pembuluh darah
disekitar permukaan otak pecah, sehingga terjadi ekstravasasi darah ke
ruang subarachnoid lapisan meningen dapat berlangsung cepat, maka
kematian sangat tinggi-sekitar50% pada bulan pertama setelah perdarahan.
Penyebab tingginya angka kematianini adalah bahwa empat penyulit
utama dapat menyebabkan iskemia otak serta morbiditas dan mortalitas
“tipe lambat” yang dapat terjadi lama setelah perdarahan terkendali.
Penyulit-penyulit tersebut adalah : 1). vasospasme reaktifdisertai infark,
2). ruptur ulang, 3). hiponatremia, dan 4). hidrosefalus. Bagi pasien yang

15
bertahan hidup setelah perdarahan awal, ruptur ulang atau perdarahan
ulang adalah penyulit paling berbahaya pada masa pasca perdarahan dini.
Perdarahan subarachnoid umumnya disebabkan oleh rupturnya aneurisma
sakular atau perdarahan dari arteriovenous malformation (AVM)
(Muttaqin, 2011).

16
5. Pathway
Pembedahan “Craniotomy”

Prosedur operasi invasif Perdarahan otak Prosedur anestesi

Penekanan pada Susunan


saraf pusat (SSP)
Luka insisi buruk Kerusakan Aliran darah ke
(stimulasi nyeri) neuromuskuler otak 

Trauma
Penurunan Penekanan Penekanan pada
Mengaktivasi jaringan Ganguan
Penurunan tonus Suplay O2 ke pusat sistem cardiovaskuler
reseptor nyeri Kelemahan metabolism
otot sensori otak
pergerakan
Penurunan Asam Penurunan kerja
Melalui sistem Penurunan cardiac
kelembaban laktat  Hipoksia jaringan organ pernafasan
saraf ascenden out put (COP)
Ketidakmam Perubahan
puan persepsi sensori Hipersekresi
Infasi bakteri Oedem otak Suplai darah
Merangsang memenuhi Penurunan RR sekret
berkurang
thalamus & koteks kebutuhan
serebri Resiko infeksi dasar Penumpukan
Ganguan perfusi Penurunan
sekret
jaringan aliran darah
Muncul sensasi
nyeri Defisit Perawatan
Pola nafas Ketidakefektifan
Diri Gangguan perfusi
tidak efektif bersihan jalan jaringan
Gangguan rasa nafas
nyaman : nyeri

(Sumber : NANDA NIC NOC modifikasi dengan, Price, S & Wilson 2012. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta: EGC
17
6. Manifestasi Klinis
Kemungkinan kecacatan yang berkaitan dengan stroke :
a. Daerah a. serebri media
1) Hemiplegi kontralateral, sering disertai hemianestesi
2) Hemianopsi homonim kontralateral
3) Afasi bila mengenai hemisfer dominan
4) Apraksi bila mengenai hemisfer nondominan
b. Daerah a. Karotis interna
Serupa dengan bila mengenai a. Serebri media
c. Daerah a. Serebri anterior
1) Hemiplegi (dan hemianestesi) kontralateral terutama di tungkai
2) Incontinentia urinae
3) Afasi atau apraksi tergantung hemisfer mana yang terkena
d. Daerah a. Posterior
1) Hemianopsi homonim kontralateral mungkin tanpa
mengenaidaerah makula karena daerah ini juga diperdarahi oleh a.
Serebri media
2) Nyeri talamik spontan
3) Hemibalisme
4) Aleksi bila mengenai hemisfer dominan
e. Daerah vertebrobasiler
a. Sering fatal karena mengenai juga pusat-pusat vital di batang otak
b. Hemiplegi alternans atau tetraplegi
c. Kelumpuhan pseudobulbar (disartri, disfagia, emosi labil)

7. Penatalaksanaan Medis
a. Penatalaksanaan untuk stroke hemoragik, antara lain :
1) Menurunkan kerusakan iskemik cerebral
Infark cerebral terdapat kehilangan secara mantap inti central
jaringan otak, sekitar daerah itu mungkin ada jaringan yang masih
bisa diselematkan, tindakan awal difokuskan untuk menyelematkan
sebanyak mungkin area iskemik dengan memberikan O2, glukosa
dan aliran darah yang adekuat dengan mengontrol / memperbaiki
disritmia (irama dan frekuensi) serta tekanan darah.
2) Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK
Dengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi dan rotasi
kepala yang berlebihan, pemberian dexamethason.
3) Pengobatan
- Anti koagulan: Heparin untuk menurunkan kecederungan
perdarahan pada fase akut.

18
- Obat anti trombotik: Pemberian ini diharapkan mencegah
peristiwa trombolitik/emobolik.
- Diuretika : untuk menurunkan edema serebral
b. Penatalaksanaan Pembedahan
Endarterektomi karotis dilakukan untuk memeperbaiki peredaran
darahotak. Penderita yang menjalani tindakan ini seringkali juga
menderita beberapa penyulit seperti hipertensi, diabetes dan penyakit
kardiovaskular yang luas. Tindakan ini dilakukan dengan anestesi
umum sehingga saluran pernafasan dan kontrol ventilasi yang baik
dapat dipertahankan.

8. Pemeriksaan Penunjang
a. Angiografi cerebral
Membantu menentukan penyebab dari stroke secara spesifik
seperti perdarahan arteriovena atau adanya ruptur dan untuk mencari
sumber perdarahan seperti aneurism atau malformasi vaskular.
b. Lumbal pungsi
Tekanan yang meningkat dan disertai bercak darah pada cairan
lumbal menunjukkan adanya hemoragi pada subarakhnoid atau
perdarahan pada intrakranial.
c. CT-scan
Penindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema,
posisi hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan
posisinya secara pasti.
d. MRI (Magnetic Imaging Resonance)
Menggunakan gelombang megnetik untuk menentukan posisi
dan bsar terjadinya perdarahan otak. hasil yang didapatkan area yang
mengalami lesi dan infark akibat dari hemoragik.
e. EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul
dan dampak dari jaringan yang infrak sehingga menurunnya impuls
listrik dalam jaringan otak.
9. Konsep Asuhan Keperawatan (Teoritis)
a. Pengkajian
1) Pengkajian pada stroke meliputi identitas klien, keluhan utama,
riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
penyakit keluarga, dan pengkajian psikososial.
2) Identitas klien : meliputi nama, umur ( kebanyakan terjadi pada
usia tua ), jenis kelmain, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama,

19
suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register dan diagnosis
medis.
3) Keluhan utama : sering menjadi alasan klien untuk meminta
pertolongan kesehatan adalah kelemahan anggota gerak sebelah
badan, bicara pelo, tidak dapat berkominakasi dan penurunan
tingkat kesadaran.
4) Riwayar penyakit sekarang : serangan stroke hemoragik sering
kali berlangsung snagat mendadak, pada saat klien sedang
melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual , muntah
bahkan kejang sampai tidak sadar, selain gejala kelumpuhan
separuh badan atau gangguan fungsi otak yang lain. Adanya
penurunan atau perubahan pada tingkat kesdaran disebabkan
perubahan didalam intracranial.keluhan perubahan perilaku juga
umum terjadi. Sesuai perkembangan penyakit, dapat terjadi
letargi, tidak responsive dan koma.
5) Riwayat penyakit dahulu : adanya riwayat hipertensi, riwayat
stroke sebelumnya, diabetes melitus, penyakit jantung, anemia,
riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan
obat-obat yang sering digunakan klien, seperti pemakaian obat
anti hipertensi, antilipedia, penghambat beta, dan lainnya. Adanya
riwayat merokok, penggunaan alkohol dan penggunaan obat
kontrasepsi oral. Perngkajian riwayat ini dapat mendukung
pengkajian dari riwayat penyakit sekarang dan merupakan data
dasar untuk mengkaji lebih jauh untuk memberikan tindakan
selanjutnya.
6) Riwayat penyakit keluarga : biasanya ada riwayat keluaraga yang
menderita hipertensi, diabetes melitus, atau adanya riwayat stroke
dari generasi terdahulu.
7) Pengkajian psikososiospritual
Pengkajian psikologis klien stroke meliputi beberapa dimensi
yang memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang
jelas mengenai status emosi, kognitif dan perilaku klien.
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien juga penting
untuk menilai respon emosi klien terhadap penyakit yang

20
dideritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga dan
masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan
sehari-harinya, baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
Apakah ada dampak yang timbul pada klien yaitu timbul seperti
ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa ketidakmampuan
untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan
terhadap dirinya yang salah ( gangguan citra tubuh ). Adanya
perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesulitan
untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara. Pola persepsi dan
konsep diri menunjukan klien merasa tidak berdaya, tidak ada
harapan, mudah marah, dan tidak kooperatif. Dalam pola
penanganan stress, klien biasanya mengalami kesulitan untuk
memecahkan masalah karena gangguan proses berpikir dan
kesulitan berkomunikasi. Dalam pola tata nilai dan kepercayaan,
klien biasanya jarang melakukan ibadah spritual karena tingkah
laku yang tidak stabil dan kelemahan atau kelumpuhan pada salah
satu sisi tubuh. Oleh karena klien harus menjalani rawat inap,
maka apakah keadaan ini memberi dampak pada status ekonomi
klien karena biaya perawatan dan pengobatan memerlukan dana
yang tidak sedikit. Biaya untuk pemeriksaan, pengobatan, dan
perawatan dapat mempengaruhi keuangan keluarga sehingga
faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi serta pikiran
klien dan keluarga.
8) Pemeriksaan fisik : pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan secara
persistem dengan fokus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan
sistem neurologi yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan-
keluhan Dari klien.
a) Keadaan umum : umumnya mengalami penurunan kesadaran,
kadang mengalami gangguan bicara sulit dimengerti kadang
tidak bisa bicara dan pada tanda-tanda vital : tekanan darah
meningkat dan denyut nadi bervariasi.
b) Sistem pernapasan : pada infeksi didapatkan klien batuk,
peningkatan produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot

21
bantu napas, dan peningkatan frekuensi pernapasan, auskultasi
bunyi napas tambahan seperti ronkhi pada klien dengan
peningkatan produksi secret dan kemampuan batuk yang
menurun yang sering didapatkan pada klien stroke dengan
penurunan tingkat kesadaran koma. Pada klien dengan tingkat
kesadaran composmentis pengkajian inspeksi pernapasannya
tidak ada kelainan. Palpasi toraks didapatkan taktil premitus
seimbang kanan dan kiri. Auskultasi tidak didapatkan bunyi
napas tambahan.
c) Sistem kardiovaskuler : pengkajian pada sistem
kardiovaskuler didapatkan renjatan ( syok hipovolemik ) yang
sering terjadi pada klien stroke. Tekanan darah biasanya
terjadi peningkatan dan dapat terjadi hipertensi masif
( tekanan darah > 200mmHg).
d) Sistem neurologi : stroke menyebbakan bebrbagai defisit
neurologis bergantung pada lokasi lesi ( pembuluh darah
mana yang tersumba ), ukuran area yang perfusinya tidak
adekuat, dan aliran darah kolateral ( sekunder atau aksesori ).
Lesi otak yang rusak tidak dapat membaik sepenuhnya.
pengkajian sistem neurologi merupakan pemeriksaan fokus
dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada sistem
lainnya.
e) Sistem perkemihan : setelah stroke klien mungkin mengalami
inkontinensia urin sementara karena konfusi,
ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan
ketidakmmapuan untuk mengendalikan kandung kemih
karena kerusakan kontrol motorik dan postural. kadang
control springtern urin eksternal hilang atau berkurang.
selama periode ini, dilakukan katerisasi intermitten dengan
teknik steril. Inkontinensia urin yang berlanjut menunjukan
kerusakan neurologis luas.
f) Sistem pencernaan : didapatkan adanya keluhan kesulitan
menelan, nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut.
Mual sampai muntah disebabkan oleh peningkatan produksi

22
asam lambung sehingga menimbulkan masalah pemenuhan
nutrisi. pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat
penurunan peristaltik ususu. Adanya inkontinensia alvi yang
berlanjut menunjukan kerusakan neurologis luas.
g) Sistem musculoskeletal : stroke adalah penyakit UMN dan
mengakibatkan kehilangan control volunteer terhadap gerakan
motorik. oleh karena neuron motor atas menyilang, gangguan
control motor volunteer pada salah satu sisi tubuh dapat
menunjukan kerusakan pada neuron atas pada sisi yang
berlawanan dari otak. Disfungsi motorik paling umum adalah
hemiplegia ( paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada
sisi otak yang berlawanan. Hemiparesis atau kelemahan salah
satu sisi tubuh, adalah tanda yang lain. Pada kulit, jika klien
kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan
cairan maka turgor kulit akan buruk selain itu, perlu dikaji
tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol
karena klien stroke mengalami mobilitas fisik. Adanya
kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan
sensori atau paralise/hemiplegic, serta mudah lelah
menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan istirahat.

10. Diagnosa Keperawatan


a. Ketidakefektifan Perfusi jaringan serebral
b. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
c. Ketidakefektifan pola nafas
d. Defisit perawatan diri
e. Resiko infeksi

23
24
11. Rencana Keperawtan

N Diagnosa Keperawatan Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)


o

1. Ketidakefektifan Perfusi NOC : NIC :


jaringan serebral
 Circulation status Intrakranial Pressure (ICP) Monitoring (Monitor
 Tissue Prefusion : cerebral tekanan intrakranial)
Kriteria Hasil :  Berikan informasi kepada keluarga
 Set alarm
1. Mendemonstrasikan status
 Monitor tekanan perfusi serebral
sirkulasi yang ditandai
 Catat respon pasien terhadap stimuli
dengan :
 Monitor tekanan intrakranial pasien dan respon
 Tekanan
neurology terhadap aktivitas
systole dandiastole dalam
 Monitor jumlah drainage cairan serebrospinal
rentang yang diharapkan
 Monitor intake dan output cairan
 Tidak ada
 Restrain pasien jika perlu
ortostatikhipertensi
 Monitor suhu dan angka WBC
 Tidak ada
 Kolaborasi pemberian antibiotik
tanda tanda peningkatan
 Posisikan pasien pada posisi semifowler
tekanan intrakranial (tidak
 Minimalkan stimuli dari lingkungan
lebih dari 15 mmHg)
2. Mendemonstrasikan
Peripheral Sensation Management (Manajemen
kemampuan kognitif yang
sensasi perifer)
ditandai dengan:
 berkomunikasi  Monitor adanya daerah tertentu yang hanya

25
dengan jelas dan sesuai peka terhadap panas/dingin/tajam/tumpul
dengan kemampuan  Monitor adanya paretese
 menunjukkan  Instruksikan keluarga untuk mengobservasi
perhatian, konsentrasi dan kulit jika ada lsi atau laserasi
orientasi  Gunakan sarun tangan untuk proteksi
 memproses  Batasi gerakan pada kepala, leher dan
informasi punggung
 membuat  Monitor kemampuan BAB
keputusan dengan benar  Kolaborasi pemberian analgetik
3. Menunjuk  Monitor adanya tromboplebitis
kan fungsi sensori motori  Diskusikan menganai penyebab perubahan
cranial yang utuh : tingkat sensasi
kesadaran mambaik, tidak ada
gerakan gerakan involunter

2. Ketidakefektifan bersihan NOC : NIC :


jalan nafas
 Respiratory status : Ventilation Airway suction
Definisi : Ketidakmampuan  Respiratory status : Airway
untuk membersihkan sekresi patency  Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah
atau obstruksi dari saluran  Aspiration Control suctioning.
pernafasan untuk  Informasikan pada klien dan keluarga tentang
mempertahankan kebersihan suctioning
jalan nafas. Kriteria Hasil :  Minta klien nafas dalam sebelum suction
dilakukan.
 Mendemonstrasikan batuk  Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk
efektif dan suara nafas yang memfasilitasi suksion nasotrakeal

26
Batasan Karakteristik : bersih, tidak ada sianosis dan  Gunakan alat yang steril sitiap melakukan
dyspneu (mampu mengeluarkan tindakan
- Dispneu, Penurunan suara sputum, mampu bernafas dengan  Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas
nafas mudah, tidak ada pursed lips) dalam setelah kateter dikeluarkan dari
- Orthopneu  Menunjukkan jalan nafas yang nasotrakeal
- Cyanosis paten (klien tidak merasa  Monitor status oksigen pasien
- Kelainan suara nafas tercekik, irama nafas, frekuensi  Ajarkan keluarga bagaimana cara melakukan
(rales, wheezing) pernafasan dalam rentang suksion
- Kesulitan berbicara normal, tidak ada suara nafas  Hentikan suksion dan berikan oksigen apabila
- Batuk, tidak efekotif atau abnormal) pasien menunjukkan bradikardi, peningkatan
tidak ada  Mampu mengidentifikasikan dan saturasi O2, dll.
- Mata melebar mencegah factor yang dapat
- Produksi sputum menghambat jalan nafas Airway Management
- Gelisah
- Perubahan frekuensi dan  Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau
irama nafas jaw thrust bila perlu
 Posisikan pasien untuk memaksimalkan
ventilasi
Faktor-faktor yang
 Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat
berhubungan:
jalan nafas buatan
- Lingkungan : merokok,  Pasang mayo bila perlu
menghirup asap rokok,  Lakukan fisioterapi dada jika perlu
perokok pasif-POK,  Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
infeksi  Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
- Fisiologis : disfungsi tambahan
neuromuskular,  Lakukan suction pada mayo

27
hiperplasia dinding  Kolaborasikan pemberian bronkodilator bila
bronkus, alergi jalan perlu
nafas, asma.  Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl
- Obstruksi jalan nafas : Lembab
spasme jalan nafas,  Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
sekresi tertahan, keseimbangan.
banyaknya mukus,  Monitor respirasi dan status O2
adanya jalan nafas buatan,
sekresi bronkus, adanya
eksudat di alveolus,
adanya benda asing di
jalan nafas.
3. Ketidakefektifan pola nafas NOC : NIC :

 Respiratory status : Ventilation Airway Management


 Respiratory status : Airway
Definisi : Pertukaran udara patency  Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau
inspirasi dan/atau ekspirasi  Vital sign Status jaw thrust bila perlu
tidak adekuat Kriteria Hasil :  Posisikan pasien untuk memaksimalkan
ventilasi
 Mendemonstrasikan batuk efektif
Batasan karakteristik : dan suara nafas yang bersih,  Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat
tidak ada sianosis dan dyspneu jalan nafas buatan
- Penurunan tekanan (mampu mengeluarkan sputum,  Pasang mayo bila perlu
inspirasi/ekspirasi mampu bernafas dengan mudah,  Lakukan fisioterapi dada jika perlu
- Penurunan pertukaran udara tidak ada pursed lips)  Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
per menit  Menunjukkan jalan nafas yang  Auskultasi suara nafas, catat adanya suara

28
- Menggunakan otot paten (klien tidak merasa tambahan
pernafasan tambahan tercekik, irama nafas, frekuensi  Lakukan suction pada mayo
- Nasal flaring pernafasan dalam rentang  Berikan bronkodilator bila perlu
- Dyspnea normal, tidak ada suara nafas  Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl
- Orthopnea abnormal) Lembab
- Perubahan penyimpangan  Tanda Tanda vital dalam rentang  Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
dada normal (tekanan darah, nadi, keseimbangan.
- Nafas pendek pernafasan)  Monitor respirasi dan status O2
- Assumption of 3-point
position Terapi Oksigen
- Pernafasan pursed-lip
- Tahap ekspirasi  Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
berlangsung sangat lama  Pertahankan jalan nafas yang paten
- Peningkatan diameter  Atur peralatan oksigenasi
anterior-posterior  Monitor aliran oksigen
- Pernafasan rata-  Pertahankan posisi pasien
rata/minimal  Onservasi adanya tanda tanda hipoventilasi
 Bayi : <  Monitor adanya kecemasan pasien terhadap
25 atau > 60 oksigenasi
 Usia 1-4
: < 20 atau > 30 Vital sign Monitoring
 Usia 5-
 Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
14 : < 14 atau > 25
 Catat adanya fluktuasi tekanan darah
 Usia >
 Monitor VS saat pasien berbaring, duduk,
14 : < 11 atau > 24
atau berdiri
- Kedalaman pernafasan
 Auskultasi TD pada kedua lengan dan

29
 Dewasa bandingkan
volume tidalnya 500 ml  Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan
saat istirahat setelah aktivitas
 Bayi  Monitor kualitas dari nadi
volume tidalnya 6-8  Monitor frekuensi dan irama pernapasan
ml/Kg  Monitor suara paru
- Timing rasio  Monitor pola pernapasan abnormal
- Penurunan kapasitas vital  Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
 Monitor sianosis perifer
 Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi
Faktor yang berhubungan : yang melebar, bradikardi, peningkatan
- Hiperventilasi sistolik)
- Deformitas tulang  Identifikasi penyebab dari perubahan vital
- Kelainan bentuk sign
dinding dada
- Penurunan
energi/kelelahan
- Perusakan/pelemahan
muskulo-skeletal
- Obesitas
- Posisi tubuh
- Kelelahan otot
pernafasan
- Hipoventilasi sindrom
- Nyeri
- Kecemasan

30
- Disfungsi
Neuromuskuler
- Kerusakan
persepsi/kognitif
- Perlukaan pada
jaringan syaraf tulang
belakang
- Imaturitas Neurologis
4. Defisit perawatan diri NOC : NIC :

 Self care : Activity of Daily Self Care assistane : ADLs


Living (ADLs)
Definisi :  Monitor kemempuan klien untuk perawatan diri
Kriteria Hasil : yang mandiri.
Gangguan kemampuan untuk  Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu
melakukan ADL pada diri  Klien terbebas dari bau badan untuk kebersihan diri, berpakaian, berhias,
Batasan karakteristik :  Menyatakan kenyamanan toileting dan makan.
ketidakmampuan untuk mandi, terhadap kemampuan untuk  Sediakan bantuan sampai klien mampu secara
ketidakmampuan untuk melakukan ADLs utuh untuk melakukan self-care.
berpakaian, ketidakmampuan  Dapat melakukan ADLS  Dorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-
untuk makan, dengan bantuan hari yang normal sesuai kemampuan yang
ketidakmampuan untuk dimiliki.
toileting  Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi
beri bantuan ketika klien tidak mampu
melakukannya.
 Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong
Faktor yang berhubungan :
kemandirian, untuk memberikan bantuan hanya
kelemahan, kerusakan kognitif

31
atau perceptual, kerusakan jika pasien tidak mampu untuk melakukannya.
neuromuskular/ otot-otot saraf  Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai
kemampuan.
 Pertimbangkan usia klien jika mendorong
pelaksanaan aktivitas sehari-hari.
5. Resiko infeksi NOC : NIC :

 Immune Status Infection Control (Kontrol infeksi)


 Knowledge : Infection control
Definisi : Peningkatan resiko  Risk control  Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien
masuknya organisme patogen lain
 Pertahankan teknik isolasi
Kriteria Hasil :  Batasi pengunjung bila perlu
Faktor-faktor resiko :  Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci
 Klien bebas dari tanda dan tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung
- Prosedur Infasif gejala infeksi meninggalkan pasien
- Ketidakcukupan  Menunjukkan kemampuan  Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
pengetahuan untuk untuk mencegah timbulnya  Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah
menghindari paparan infeksi tindakan kperawtan
patogen  Jumlah leukosit dalam batas
 Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat
- Trauma normal
pelindung
- Kerusakan jaringan dan  Menunjukkan perilaku hidup
 Pertahankan lingkungan aseptik selama
peningkatan paparan sehat
pemasangan alat
lingkungan
- Ruptur membran amnion  Ganti letak IV perifer dan line central dan
- Agen farmasi dressing sesuai dengan petunjuk umum
(imunosupresan)  Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan
infeksi kandung kencing

32
- Malnutrisi  Tingktkan intake nutrisi
- Peningkatan paparan  Berikan terapi antibiotik bila perlu
lingkungan patogen
- Imonusupresi Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)
- Ketidakadekuatan imum
buatan  Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan
- Tidak adekuat pertahanan lokal
sekunder (penurunan Hb,  Monitor hitung granulosit, WBC
Leukopenia, penekanan  Monitor kerentanan terhadap infeksi
respon inflamasi)  Batasi pengunjung
- Tidak adekuat pertahanan  Saring pengunjung terhadap penyakit menular
tubuh primer (kulit tidak  Partahankan teknik aspesis pada pasien yang
utuh, trauma jaringan, beresiko
penurunan kerja silia,  Pertahankan teknik isolasi k/p
cairan tubuh statis,  Berikan perawatan kuliat pada area epidema
perubahan sekresi pH,  Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap
perubahan peristaltik) kemerahan, panas, drainase
- Penyakit kronik
 Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
 Dorong masukkan nutrisi yang cukup
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Instruksikan pasien untuk minum antibiotik
sesuai resep
 Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala
infeksi
 Ajarkan cara menghindari infeksi

33
 Laporkan kecurigaan infeksi

34
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian tanggal : 24 Januari 2018 Jam : 11.00


Tanggal MRS : 24 Januari 2018 No. RM : 5499XX
Ruang : ICU
Dx. Medis : Stroke Hemoragic

A. Identitas/Biodata
Nama : Ny “S”
Umur : 68 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Suku/Bangsa : Islam
Alamat : Perumnas Blok EG No.3 Sako
Status Perkawinan : Menikah
Penanggung jawab biaya : Asuransi

B. Anamnesis
Keluan Utama : Penurunan Kesadaran
Riwayat Penyakit Sekarang : Post Op Cariatomy Stroke Hemorragic
Riwayat Masuk Rumah Sakit : Klien datang ke IGD dengan keluhan
penurunan kesadaran, kemudian klien dipindahkan ke ICU, lalu klien
dilakukan tindakan Craniotomy untuk mengeluarkan perdarahan yang
terjadi di otak.
Riwayat Penyakit Dulu : keluarga klien mengatakan klien
mempunyai riwayat penyakit diabetes
melitus, hipertensi
Riwayat Penyakit Keluarga : keluarga klien mengatakan keluarga klien
mempunyai riwayat penyakit dibetes

35
melitus, hipertensi

C. Pemenuhan Kebutuhan Sehari-Hari

N Kebutuhan Saat Dikaji


o
1 Nutrisi Parenteral, tidak
mampu memenuhi
kebutuhan per oral
2 Cairan Parenteral, tidak
mampu memenuhi
kebutuhan per oral
3 Eliminasi BAB Dengan bantuan,
pemakaian popok
4 Eliminasi BAK Penggunaan folley
cateter
5 Kebutuhan aktivitas dan personal hygiene : Bed rest total
berjalan, makan, minum, mencuci, rambut, Bantuan total
mandi, oral hygiene.

D. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Lemah
Kesadaran : Penurunan kesadaran (dalam pengaruh obat sedasi)
:Nampak gelisah
GCS : Penurunan kesadaran (dalam pengaruh obat sedasi)
Tanda Vital : TD: 182/108 MmHg, RR, 14x/mt, T:35,7C, N:
107x/mt
1. Kepala
Inspeksi : Terdapat luka post op craniotomy, terpasang
Drainge (Cairan berwarna merah/darah, sebanyak
±100 cc).
2. Mata
Inspeksi : Isokor, ananemis, tidak ada racoon eyes
3. Telinga
Inspeksi : Bentuk simetris, perdarahan tidak ada, serumen
tidak ada, tidak ada luka/laserasi/kemerahan
4. Hidung
Inspeksi : Terpasang NGT dilubang hidung sebelah kanan,

36
tampak terlihat adanya cairan coklat kehitaman
pada selang.
5. Leher
Inspeksi : tidak ada jejas, pembesaran vena jugluaris tidak
ada, pergeseran tracea tidak ada, oedema tidak ada.
6. Dada/Paru
Inspeksi : simetris, ekspansi dinding paru menurun, irama
napas tidak teratur, tiadak ada luka,
RR: 14x/mt, tidak ada suara jantung tambahan,
suara jantung kuat.
Palpasi : Tidak ada pembengkakan jantung, CRT < 2 detik
Perkusi : Dultnes (normal)
Batas kiri jantung
Atas : ICS II kiri di linea parastrenalis kiri (pinggang jantung)
Bawah: ICS V kiri agak ke medial linea midklavikularis kiri
(tempat iktus).
Batas kanan jantung
Batas bawah kanan jantung adalah di sekitar ruang interkostal II-IV
kanan, di linea parasternalis kanan.
Sedangkan batas atasnya di ruang interkostal II kanan linea
parasternalis kanan.
Auskultasi : Tidak ada bunyi jantung tambahan, S1 (lup), S2 (dup
7. Abdomen
Inspeksi : simetris, tidak ada jejas, tidak ada luka, tidak
terjadi pembesaran abdomen.
Auskultasi : bising usus + 14x/mt
8. Genetalia
Inspeksi : terpasang folley cateter (warna kuning jernih,
Jumlah ±500), tidak ada perdarahan, tidak ada
luka.
9. Ekstremitas
Inspeksi : tidak ada kelainan bentuk tulang, tidak ada

37
deformitas, Tidak ada luka/fraktur, tidak ada
nyeri.
1 1
0 1

: Kelemahan ekstremitas ( paralisis)

10. Kulit
Inspeksi : turgor lambat kembali, pucat, akral dingin
Masalah Keperawatan :
 Ketidakefektifsn perfusi jaringan serebral
 Ketidakefektifan pola nafas

E. Pengkajian Psikososial, Budaya, Spiritual


Psikologis : tidak dapat terkaji (pasien dalam keadaan penurunan
kesadaran)
Sosial : tidak dapat terkaji
Budaya : tidak dapat terkaji
Spiritual : tidak dapat terkaji

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Tanggal 24 Januari 2018
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan
Darah Lengkap :
Lekosit 20,7 5-10 10 3/ul

Hematokrit 35 37-47 %
Hemoglobin 11.5 12-16 g/dl
Trombosit 267 150-400 10 3/ul
Kimia Darah :
Glukosa Darah Sewaktu
Glukosa Darah Sewaktu 420 70-140 mg/dl

449 70-140 mg/dl

38
Ureum
95 0.5-1.0 mg/dl
Creatinin
2.3 0.5-1.0 mg/dl
Elektrolit
Natrium
Kalium 140 132-145 mmol/L

4.5 3.1-5.1 mmol/L

2. Hasil Rontgen

3. CT Scan :Terdapat perdarahan hiperdens, Intracerebral Hematoma


(ICH) di ponds aspek dextra dan oedem periventrikuler

39
G. Penatalaksanaan Post Op
1. Ventilasi Mekanik
Terpasang ventilator
PC-BIPAP : MV : 2,44, VT : 0,266, IPL : 7, RR : 14, FI02 : 100%,
PEEP : 5

2. Terapi
N
Nama Obat Dosis Cara Pemberian Fungsi/indikasi
o
1 Farmabes 1x 30mg Dripp nacl Farmabes adalah obat yang
digunakan untuk mengobati
hipertensi, angina pektoris,
dan beberapa jenis aritmia.
Farmabes mengandung
diltiazem, obat yang termasuk
ke dalam golongan calcium
channel blockers.
2 Tutofusin 1000 ml Ivfd Memberikan elektrolit
lengkap untuk memenuhi
keadaan dehidrasi hipotonis
(kehilangan cairan
intraseluler). Sorbitol
berperan sebagai nitrogen-
sparing melindungi dari
pemecahan protein
3 Clinimix 100 ml Ivfd diindikasikan untuk
perawatan Penurunan
kapasitas mental pada orang
tua, Menghilangkan zat-zat
lemak, Stres oksidatif,
Peradangan, Penyakit kulit,
Anoreksia dan kondisi
lainnya.
4 Ranitidine 3x 1 mg Injeks. Ivfd Ranitidin digunakan untuk
mengurangi produksi asam
lambung sehingga dapat
mengurangi rasa nyeri uluhati
akibat ulkus atau tukak
lambung, dan masalah asam
lambung tinggi lainnya.
5 Ceftriaxone 2x1 gr Injeks. Ivfd Ceftriaxone adalah obat

40
antibiotik dengan fungsi
untuk mengobati berbagai
macam infeksi bakteri.
Ceftriaxone termasuk ke
dalam kelas antibiotik
bernama cephalosporin. Obat
ini bekerja dengan
menghentikan pertumbuhan
bakteri.
6 Asam 3x5 mg Ivfd Asam traneksamat
tranexsamat merupakan golongan obat
anti-fibrinolitik. Obat ini
dapat digunakan untuk
menghentikan pendarahan
pada sejumlah kondisi,
misalnya pendarahan
pascaoperasi, mimisan,
pendarahan akibat menstruasi
berlebihan, dan pendarahan
pada penderita angio-edema
turunan
7 sp 2ml/h Syringpump Mengurangi perdarahan
nimodipine
8 Sp profofol 2m/h Syringpump Propofol juga digunakan
sebagai obat penenang pada
pasien dewasa dalam kondisi
kritis yang membutuhkan alat
ventilasi buatan dalam ruang
perawatan intensif. Obat ini
diberikan dengan cara infus
9 Phenitoin 0,5/h Syringpump Phenytoin adalah obat dengan
fungsi untuk mencegah dan
mengontrol kejang (juga
disebut antikonvulsan atau
obat antiepilepsi)
10 Tramadol 2x1 gr Ivfd Tramadol adalah salah satu
obat pereda rasa sakit kuat
yang digunakan untuk
menangani nyeri sedang
hingga berat (misalnya nyeri
setelah operasi). Tramadol
bekerja dengan cara

41
memengaruhi reaksi kimia di
dalam otak dan sistem saraf
yang pada akhirnya
mengurangi sensasi rasa
sakit.

H. Analisa Data

DATA ETIOLOGI MASALAH


DS: - Pembedahan Ketidakefektifan
DO: “Craniotomy” pola nafas

 KU : lemah Perdarahan otak


 GCS : penurunan
kesadaran (dalam Aliran darah ke otak
pengaruh obat) menurun
 Nafas lambat
 Irama nafas ireguler Penurunan O2 ke otak
 RR : 27x/menit
 Terdapat pergerakan Hipoksia jaringan
otot nafas tambahan
Penurunan Respirasi Rate
 Terpasang ventilator
PC-BIPAP : MV : Ketidakefektifan pola
2,44, VT : 0,266, nafas
IPL : 7, RR : 14,
FI02 : 100%,
PEEP : 5
 Perkusi : resonan
pada kedua paru-
paru

DS : - Pembedahan Ketidakefektifan
DO: “Craniotomy” Perfusi Jaringan
serebral
 KU : lemah Perdarahan otak
 GCS : penurunan
kesadaran (dalam Aliran darah ke otak
pengaruh obat) menurun

42
 Kelemahan
ekstremitas Penurunan O2 ke otak

(paralisis) Gangguan metabolisme

0 1 Asam laktat meningkat


0 1
Odem otak
 Tampak kegelisahan
Gangguan perfusi
akibat penurunan
jaringan serebral
kesadaran
 Kendali tubuh tidak
terkontrol
 TD: 158/89 MmHg,
RR, 27x/mt, T:35,7C,
N: 96x/mt MAP =
112 mmHg (70-99
mmHg)
 Hasil CT-Scan =
Terdapat perdarahan
hiperdens,
Intracerebral
Hematoma (ICH) di
ponds aspek dextra
dan oedem
periventrikuler

I. Masalah Keperawatan
1. Ketidakefektifan Perfusi jaringan serebral
2. Ketidakefektifan pola nafas

J. Diagnosa keperawatan
1. Ketidakefektifan Perfusi jaringan serebral

43
2. Ketidakefektifan pola nafas

K. Prioritas
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penekanan saraf
saluran napas ditandai dengan :

DS: -
DO:
 KU : lemah
 GCS : penurunan kesadaran (dalam pengaruh obat)
 Nafas lambat
 Irama nafas ireguler
 RR : 27x/menit
 Terdapat pergerakan otot nafas tambahan
 Terpasang ventilator
 Terpasang ventilator
 PC-BIPAP : MV : 2,44, VT : 0,266, IPL : 7, RR : 14, FI02 : 100%,
PEEP : 5
 Perkusi : resonan pada kedua paru-paru

2. Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan


penurunan suplai oksigen dan darah ke otak ditandai dengan:
DS : -
DO:

 KU : lemah
 GCS : penurunan kesadaran ( dalam pengaruh obat)
 Kelemahan ekstremitas ( paralisis)

0 1

0 1
 Tampak kegelisahan akibat penurunan kesadaran
 Kendali tubuh tidak terkontrol

44
 TD: 158/89 MmHg, RR, 27x/mt, T:35,7C, N: 96x/mt MAP = 112
mmHg (70-99 mmHg)
 Hasil CT-Scan = Terdapat perdarahan hiperdens, Intracerebral
Hematoma (ICH) di ponds aspek dextra dan oedem periventrikuler

45
L. Rencana Keperawatan

46
No Diagnosa Keperawatan Rencana Keperawatan
. Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1. Ketidakefektifan pola napas NOC : NIC :
berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajamen jalan nafas
penekanan saraf saluran napas selama 3 x 24 jam, diharapkan pola nafas 1. Auskultasi suara nafas
ditandai dengan : dapat kembali efektif dengan kriteria hasil : 2. Monitor status pernafasan dan
DS: - Ventilator
No Kriteria Awal Tujuan 3. Monitor frekuensi dan irama
DO: . pernafasan
1. Frekuensi 2 3 4. Monitor tanda-tanda vital
 KU : lemah pernafasan
 GCS : penurunan 2. Irama 2 3
kesadaran (dalam pernafasan
3. Suara nafas 2 3
pengaruh obat) tambahan
 Nafas lambat
4. Gangguan saat 2 3
 Irama nafas ireguler
 RR : 27x/menit auskultasi
 Terdapat pergerakan otot
nafas tambahan
Indikator :
1. Berat
 Terpasang ventilator 2. Cukup berat
PC-BIPAP : MV : 2,44, 3. Sedang
VT : 0,266, IPL : 7, RR : 4. Ringan
14, FI02 : 100%, PEEP : 5 5. Tidak ada

 Perkusi : resonan pada


kedua paru-paru
2. Ketidakefektifan perfusi NOC : NIC :
jaringan serebral berhubungan Setelah dilakukan tindakan Manajemen edema serebral
dengan penurunan suplai keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan 1. Monitor tingkat kesadaran klien
oksigen dan darah ke otak suplai oksigen dan darah ke otak lancar. 2. Monitor tanda-tanda vital
ditandai dengan: Dengan kriteria hasil : 3. Monitor status pernapasan
DS : - 4. Kolaborasi dengan tim medis
DO: No Kriteria Awal Tujuan dalam pemberian obat
47
.
 KU : lemah 1. Tekanan 1 3
 GCS : penurunan kesadaran
intrakranial
IMPLEMENTASI & EVALUASI KEPERAWATAN

Nama Pasien : Ny “S”


Umur : 68 tahun
Jenis Kelamin : perempuan

Shift : Pagi
Hari/Tanggal : 24/01//18

Hari, Hari,
N Diagnosa
Tgl & Implementasi Tgl & Evaluasi PRF
o Keperawatan
Jam Jam
1. Ketidakefektifan Rabu Rabu S: - Hasyanu
pola napas 24/01/1 1. Auskultasi suara napas 01/01/18 O: l &
berhubungan 8 : Suara napas: Snoring Jam:  KU : lemah Diah
dengan penekanan Jam : 13.30  GCS dalam pengaruh obat
saraf pernafasan 12.40  Nafas lambat
2. Memonitor status pernafasan  Irama nafas ireguler
Jam : dan ventilator  Terdapat pergerakan otot nafas tambahan
12.55 : RR: 17x/ menit, terpasang  Suara nafas tambahan : snoring
ventilator, PC-BIPAP : MV :  Terpasang ETT
4,04, VT : 0,396, IPL : 7, RR :  Terpasang ventilator, PC-BIPAP : MV :
11, FI02 : 100%, PEEP : 5 3,95, VT : 0,412, IPL : 7, RR : 6, FI02 :
100%, PEEP : 5
3. Memonitor frekuensi dan irama  TTV: 142/84 MmHg, RR, 17x/mt, T:36,4C,
pernafasan N: 94x/mt, SPO2 : 100%
Jam :
: RR: 16x/menit, Frekuensi dan
13.05 A : Ketidakefektifan pola nafas belum teratasi
irama pernafasan ireguler

48
4. Memonitor tanda-tanda vital No. Kriteria Awal Akhir Tujuan
Jam : : TD: 192/106 MmHg, RR, 14x/mt,
1. Frekuensi 2 2 4
13.15 T:36,2C, N: 98x/mt, SPO2 : 100%
pernafasan

2. Irama 2 2 4
pernafasan

3. Suara nafas 2 2 4
tambahan

4. Gangguan 2 2 4
saat
auskultasi

P: Intervensi dilanjutkan
I:
1. Auskultasi suara nafas
2. Monitor status pernafasan dan Ventilator
3. Monitor frekuensi dan irama pernafasan
4. Monitor tanda-tanda vital

2. Ketidakefektifan Rabu, 1. Memonitor tingkat kesadaran Rabu S:- Hasyanu


perfusi jaringan 24/01/1 klien 24/01/18 O: l & Diah
serebral 8 : GCS dalam pengaruh obat Jam - KU : lemah
berhubungan Jam : 13:30 - GCS dalam pengaruh obat
dengan penurunan 13.45 - Tampak gelisah
- TTV : TD : 142 mmHg N : 98x/menit,
suplai oksigen dan 2. Memonitor tanda-tanda vital
RR : 17x/menit, T : 36,5OC, SPO2 :

49
darah ke otak Jam : : TD: 138/74 MmHg, RR, 100%
13.55 16x/mt, T:36,4C, N: 96x/mt,
SPO2 : 100%
A : Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral
3. Memonitor Status pernapasan belum teratasi
Jam : : RR: 16x/menit, Bunyi suara
14.00 nafas: Snoring, terpasang No Kriteria Awal Akhir Tujuan
ventilator .

1. Tekanan 1 1 3
4. Kolaborasi dengan tim medis
intrakranial
Jam : dalam pemberian obat:
14.05 - farmabes 10ml/jam (300cc) 2. Tekanan 1 1 3
- Clinimax 100ml/24 jam darah sistolik
- Tutofusin 1000 cc/24 jam
- Nimodipine 2ml/ jam 3. Tekanan 1 1 3
- Profofol 2ml/jam darah
- Phenitoin 0,5ml/ jam diastolik
- Tramadol 2x1gr
- Ranitidine 3x1mg 4. Kognisi 1 1 3
- Ceftriaxone 2x1gr terganggu

5. Penurunan 1 1 3
tingkat
kesadaran

P : Intervensi dilanjutkan
I :

50
1. Monitor tingkat kesadaran
2. Monitor tanda-tanda vital
3. Monitr status pernapasan
4. Kolaborasi dengan tim medis dalam
pemberian obat

Shift : Sore 1

N Diagnosa Hari, Implementasi Hari, Evaluasi PRF

51
o Keperawatan Tgl & Tgl &
Jam Jam
1. Ketidakefektifan Rabu , 1. Auskultasi suara napas Rabu S: - Ali&
24/01/1 24/01/18 Eric
pola napas : Suara napas: Snoring O:
8 Jam
berhubungan Jam : 19.30  KU : lemah
13.45  GCS dalam pengaruh obat
dengan penekanan 2. Memonitor status pernafasan dan
 Nafas lambat
saraf pernafasan Jam : ventilator  Irama nafas ireguler
14.00 : RR: 19x/ menit, terpasang  Terdapat pergerakan otot nafas tambahan
ventilator, PC-BIPAP : MV : 4,04,  Suara nafas tambahan : snoring
 Terpasang ETT
VT : 0,396, IPL : 7, RR : 11,  Terpasang ventilator, PC-BIPAP : MV :
FI02 : 100%, PEEP : 5 3,95, VT : 0,412, IPL : 7, RR : 6, FI02 :
3. Memonitor frekuensi dan irama 100%, PEEP : 5
pernafasan  TTV : TD: 142/96 MmHg, RR, 12x/mt,
Jam : : RR: 20x/menit, Frekuensi dan T:36,2C, N: 98x/mt, SPO2 : 100%
14.15 irama pernafasan ireguler
A : Ketidakefektifan pola nafas belum teratasi
4. Memonitor tanda-tanda vital
: TD: 148/98 MmHg, RR, 12x/mt, No. Kriteria Awal Akhir Tujuan
T:36,2C, N: 98x/mt, SPO2 : 100% 1. Frekuensi 2 2 4
Jam : pernafasan
14.25
2. Irama 2 2 4
pernafasan

52
3. Suara nafas 2 2 4
tambahan

4. Gangguan 2 2 4
saat
auskultasi

P: Intervensi dilanjutkan
I:
1. Auskultasi suara nafas
2. Monitor status pernafasan dan Ventilator
3. Monitor frekuensi dan irama pernafasan
4. Monitor tanda-tanda vital

2. Ketidakefektifan Rabu 1. Memonitor tingkat kesadaran Rabu S:- Ali&Eric


24/01/1 24/01/18
perfusi jaringan klien O:
8 Jam:
serebral Jam : : GCS dalam pengaruh obat 19.30 - KU : lemah
14.55 - GCS dalam pengaruh obat
berhubungan
- Tampak gelisah
dengan penurunan Jam : 2. Memonitor tanda-tanda vital - TTV : TD : 147/ 99 mmHg N : 101x/menit,
15.00 : TD: 142/94 MmHg, RR,
suplai oksigen dan RR : 24x/menit, T : 36,5OC, SPO2 : 100%
23x/mt, T:35,7C, N: 98x/mt,
darah ke otak

53
SPO2 : 100% A : Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral
belum teratasi
3. Memonitor Status pernapasan
No Kriteria Awal Akhir Tujuan
: RR: 22x/menit, Bunyi suara
Jam : .
15.05 nafas: Snoring, terpasang
1. Tekanan 1 1 3
ventilator
intrakranial

2. Tekanan 1 1 3
4. Kolaborasi dengan tim medis
darah sistolik
Jam : dalam pemberian obat:
16.00 - farmabes 10ml/jam (300cc) 3. Tekanan 1 1 3
- Clinimax 100ml/24 jam darah
- Tutofusin 1000 cc/24 jam diastolik
- Asam tranexamat 3x 5mg
- Nimodipine 2ml/ jam 4. Kognisi 1 1 3
- Profofol 2ml/jam terganggu
- Phenitoin 0,5ml/ jam
- Tramadol 2x1gr 5. Penurunan 1 1 3
- Ranitidine 3x1mg tingkat
- Ceftriaxone 2x1gr kesadaran

P : Intervensi dilanjutkan
I:
1. Monitor tingkat kesadaran
2. Monitor tanda-tanda vital
3. Monitr status pernapasan
4. Kolaborasi dengan tim medis dalam

54
pemberian obat

Shift : Malam

N Diagnosa Hari, Implementasi Hari, Evaluasi PRF


o Keperawatan Tgl Tgl
&Jam &Jam
1. Ketidakefektifan Rabu , 1. Auskultasi suara napas Kamis S: - Rafi &
pola napas 24/01/1 : Suara napas: Snoring 24/01/18 O: Adon
berhubungan 8 Jam  KU : lemah

55
dengan penekanan Jam : 07.30  GCS dalam pengaruh obat
2. Memonitor status pernafasan
saraf pernafasan 19.50  Nafas lambat
dan ventilator  Irama nafas ireguler
: RR: 17x/ menit, terpasang
Jam :  Terdapat pergerakan otot nafas tambahan
ventilator, PC-BIPAP : MV :  Suara nafas tambahan : snoring
20.00
4,04, VT : 0,396, IPL : 7, RR :  Terpasang ETT
11, FI02 : 100%, PEEP : 5  Terpasang ventilator, PC-BIPAP : MV :
3. Memonitor frekuensi dan irama 3,25, VT : 0,402, IPL : 7, RR : 6, FI02 :
pernafasan 100%, PEEP : 5
Jam :
: RR: 16x/menit, Frekuensi dan  TTV : TD: 143/96 MmHg, RR, 12x/mt,
20.10
irama pernafasan ireguler T:36,2C, N: 98x/mt, SPO2 : 100%

4. Memonitor tanda-tanda vital A : Ketidakefektifan pola nafas belum teratasi


: TD: 137/92 MmHg, RR, No. Kriteria Awal Akhir Tujuan
Jam : 16x/mt, T:36,2C, N: 98x/mt,
20.30 SPO2 : 100% 1. Frekuensi 2 2 4
pernafasan

2. Irama 2 2 4
pernafasan

3. Suara nafas 2 2 4
tambahan

4. Gangguan 2 2 4
saat
auskultasi

56
P: Intervensi dilanjutkan
I:
1. Auskultasi suara nafas
2. Monitor status pernafasan dan Ventilator
3. Monitor frekuensi dan irama pernafasan
4. Monitor tanda-tanda vital

2. Ketidakefektifan Rabu 1. Memonitor tingkat kesadaran Kamis S:- Rafi &


perfusi jaringan 24/01/1 klien 01/01/18 O: Adon
serebral 8 : GCS dalam pengaruh obat Jam: - KU : lemah
berhubungan - GCS dalam pengaruh obat
Jam : 07.30
dengan penurunan - Tampak gelisah
suplai oksigen dan 20.55
- TTV : TD : 146/ 96 mmHg N :
darah ke otak 2. Memonitor tanda-tanda vital
: TD: 142/98 MmHg, RR, 96x/menit, RR : 15x/menit, T : 36,5OC,
Jam : SPO2 : 100%
13x/mt, T:35,7C, N: 107x/mt,
21.00
SPO2 : 100%
A : Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral
3. Memonitor Status pernapasan belum teratasi
Jam : : RR: 14x/menit, Bunyi suara No Kriteria Awal Akhir Tujuan
21.05 nafas: Snoring, terpasang .
ventilator
1. Tekanan 1 1 3

57
4. Kolaborasi dengan tim medis intrakranial
dalam pemberian obat:
- farmabes 10ml/jam (300cc) 2. Tekanan 1 1 3
Jam :
- Clinimax 100ml/24 jam darah sistolik
21.10
- Tutofusin 1000 cc/24 jam
3. Tekanan 1 1 3
- Asam tranexamat 3x 5mg
- Nimodipine 2ml/ jam darah
- Profofol 2ml/jam diastolik
- Phenitoin 0,5ml/ jam
- Tramadol 2x1gr 4. Kognisi 1 1 3
- Ranitidine 3x1mg terganggu
- Ceftriaxone 2x1gr
5. Penurunan 1 1 3
tingkat
kesadaran

P : Intervensi dilanjutkan
I:
1. Monitor tingkat kesadaran
2. Monitor tanda-tanda vital
3. Monitr status pernapasan
4. Kolaborasi dengan tim medis dalam
pemberian obat

58
Nama Pasien : Ny “S”
Umur : 68 tahun
Jenis Kelamin : perempuan

Shift : Pagi
Hari/Tanggal : 25/01//18

N Diagnosa Hari, Implementasi Hari, Evaluasi PRF


o Keperawatan Tgl & Tgl &
Jam Jam
1. Ketidakefektifan Kamis , 1. Auskultasi suara napas Kamis S: - Hasyanu
pola napas 25/01/1 : Suara napas: Snoring 25/01/18 O: l & Diah
berhubungan 8 Jam  KU : lemah
dengan penekanan Jam : 13:30  GCS dalam pengaruh obat
saraf pernafasan 08.00  Nafas lambat
2. Memonitor status pernafasan  Irama nafas ireguler

59
Jam : dan ventilator  Terdapat pergerakan otot nafas tambahan
10.00 : RR: 22x/ menit, terpasang  Suara nafas tambahan : snoring
ventilator, PC-BIPAP : MV :  Terpasang ETT
4,04, VT : 0,396, IPL : 7, RR :  Terpasang ventilator, PC-BIPAP : MV :
11, FI02 : 100%, PEEP : 5 3,95, VT : 0,412, IPL : 7, RR : 6, FI02 :
100%, PEEP : 5
3. Memonitor frekuensi dan irama  TTV : TD: 149/101 MmHg, RR, 20x/mt,
Jam : pernafasan T:36,2C, N: 98x/mt, SPO2 : 100%
: RR: 21x/menit, Frekuensi dan
11.00
irama pernafasan ireguler A : Ketidakefektifan pola nafas belum teratasi
No. Kriteria Awal Akhir Tujuan
4. Memonitor tanda-tanda vital 1. Frekuensi 2 2 4
: TD: 143/95 MmHg, RR, pernafasan
Jam : 22x/mt, T:36,2C, N: 98x/mt,
11.15 SPO2 : 100% 2. Irama 2 2 4
pernafasan

3. Suara nafas 2 2 4
tambahan

4. Gangguan 2 2 4
saat
auskultasi

P: Intervensi dilanjutkan
I:
1. Auskultasi suara nafas

60
2. Monitor status pernafasan dan Ventilator
3. Monitor frekuensi dan irama pernafasan
4. Monitor tanda-tanda vital
2. Ketidakefektifan Kamis 1. Memonitor tingkat kesadaran Kamis S:- Hasyanu
perfusi jaringan 25/01/1 klien 25/01/18 O: l &
serebral 8 : GCS dalam pengaruh obat Jam: - KU : lemah Diah
berhubungan - GCS dalam pengaruh obat
Jam : 13.30
dengan penurunan - Tampak gelisah
suplai oksigen dan 11.20
2. Memonitor tanda-tanda vital - TTV : TD : 136/ 89 mmHg N :
darah ke otak
: TD: 146/99 MmHg, RR, 96x/menit, RR : 17x/menit, T : 36,5OC,
Jam :
18x/mt, T:35,7C, N: 98x/mt, SPO2 : 100%
12.00
SPO2 : 100%
A : Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral
3. Memonitor Status pernapasan belum teratasi
: RR: 18x/menit, Bunyi suara
Jam : nafas: Snoring, terpasang No Kriteria Awal Akhir Tujuan
12.20 ventilator .

1. Tekanan 2 2 3
intrakranial
4. Kolaborasi dengan tim medis
Jam : dalam pemberian obat: 2. Tekanan 2 2 3
13.00 - farmabes 10ml/jam (300cc) darah sistolik
- Clinimax 100ml/24 jam
- Tutofusin 1000 cc/24 jam 3. Tekanan 2 2 3
- Asam tranexamat 3x 5mg darah
- Nimodipine 2ml/ jam diastolik
- Profofol 2ml/jam
- Phenitoin 0,5ml/ jam 4. Kognisi 2 2 3

61
- Tramadol 2x1gr terganggu
- Ranitidine 3x1mg
- Ceftriaxone 2x1gr 5. Penurunan 2 2 3
tingkat
kesadaran

P : Intervensi dilanjutkan
I :
1. Monitor tingkat kesadaran
2. Monitor tanda-tanda vital
3. Monitr status pernapasan
4. Kolaborasi dengan tim medis dalam
pemberian obat

Shift : Sore

N Diagnosa Hari, Implementasi Hari, Evaluasi PRF


o Keperawatan Tgl & Tgl &
Jam Jam
1. Ketidakefektifan Kamis, 1. Auskultasi suara napas Kamis S: - Ali&
pola napas 24/01/1 : Suara napas: Snoring 24/01/18 O: Eric
berhubungan 8 Jam  KU : lemah
dengan penekanan Jam : 19.30  GCS dalam pengaruh obat
saraf pernafasan 13.45  Nafas lambat
 Irama nafas ireguler

62
2. Memonitor status pernafasan  Terdapat pergerakan otot nafas tambahan
Jam : dan ventilator  Suara nafas tambahan : snoring
14.00 : RR: 14x/ menit, terpasang  Terpasang ETT
ventilator, PC-BIPAP : MV : 4,04,  Terpasang ventilator, PC-BIPAP : MV :
VT : 0,396, IPL : 7, RR : 11, 3,95, VT : 0,412, IPL : 7, RR : 6, FI02 :
FI02 : 100%, PEEP : 5 100%, PEEP : 5
 TTV : TD: 135/90 MmHg, RR, 12x/mt,
3. Memonitor frekuensi dan irama T:36,2C, N: 98x/mt, SPO2 : 100%
Jam : pernafasan
14.15 : RR: 12x/menit, Frekuensi dan A : Ketidakefektifan pola nafas belum teratasi
irama pernafasan ireguler
4. Memonitor tanda-tanda vital No. Kriteria Awal Akhir Tujuan
: TD: 132/89 MmHg, RR,
Jam : 1. Frekuensi 2 2 4
12x/mt, T:36,2C, N: 98x/mt,
14.25 pernafasan
SPO2 : 100%
2. Irama 2 2 4
pernafasan

3. Suara nafas 2 2 4
tambahan

4. Gangguan 2 2 4
saat
auskultasi

P: Intervensi dilanjutkan
I:

63
1. Auskultasi suara nafas
2. Monitor status pernafasan dan Ventilator
3. Monitor frekuensi dan irama pernafasan
4. Monitor tanda-tanda vital

2 Ketidakefektifan kamis 1. Memonitor tingkat kesadaran Kamis S:- Ali


perfusi jaringan 25/01/1 klien 25/01/18 O: &Eric
serebral 8 : GCS dalam pengaruh obat Jam: - KU : lemah
berhubungan - GCS dalam pengaruh obat
Jam : 19.30
dengan penurunan - Tampak gelisah
suplai oksigen dan 14.55
- TTV : TD : 132/ 84 mmHg N :
darah ke otak 2. Memonitor tanda-tanda vital
: TD: 143/95 MmHg, RR, 96x/menit, RR : 13x/menit, T : 36,5OC,
Jam :
14x/mt, T:35,7C, N: 101x/mt, SPO2 : 100%
15.00
SPO2 : 100%
A : Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral
belum teratasi
Jam : 3. Memonitor Status pernapasan
15.05 : RR: 11x/menit, Bunyi suara No Kriteria Awal Akhir Tujuan
nafas: Snoring, terpasang .
ventilator 1. Tekanan 2 2 3
intrakranial
Jam : 4. Kolaborasi dengan tim medis
16.00 dalam pemberian obat: 2. Tekanan 2 2 3

64
- farmabes 10ml/jam (300cc) darah sistolik
- Clinimax 100ml/24 jam
- Tutofusin 1000 cc/24 jam 3. Tekanan 2 2 3
- Asam tranexamat 3x 5mg darah
- Nimodipine 2ml/ jam diastolik
- Profofol 2ml/jam
- Phenitoin 0,5ml/ jam 4. Kognisi 2 2 3
- Tramadol 2x1gr terganggu
- Ranitidine 3x1mg
- Ceftriaxone 2x1gr 5. Penurunan 2 2 3
tingkat
kesadaran

P : Intervensi dilanjutkan
I:
1. Monitor tingkat kesadaran
2. Monitor tanda-tanda vital
3. Monitr status pernapasan
4. Kolaborasi dengan tim medis dalam
pemberian obat

65
Shift : Malam

N Diagnosa Hari, Implementasi Hari, Evaluasi PRF


o Keperawatan Tgl Tgl
&Jam &Jam
1. Ketidakefektifan kamis, 1. Auskultasi suara napas kamis S: - Rafi &
pola napas 25/01/1 : Suara napas: Snoring 26/01/18 O: Adon
berhubungan 8 Jam - KU : tidak sadar
dengan penekanan Jam : 03.30 - TTV : TD : 0/ 0 mmHg N : 0x/menit, RR
saraf pernafasan 19.50 : 0x/menit, T : 34,5OC, SPO2 : 30%
2. Memonitor status pernafasan
Jam : A : Ketidakefektifan pola nafas belum teratasi
dan ventilator
20.00 : RR: 11x/ menit, terpasang
ventilator, PC-BIPAP : MV :
3,24, VT : 0,306, IPL : 7, RR : No. Kriteria Awal Akhir Tujuan
11, FI02 : 100%, PEEP : 5 1. Frekuensi 2 2 4
pernafasan
3. Memonitor frekuensi dan irama
2. Irama 2 2 4
Jam : pernafasan

66
20.10 : RR: 12x/menit, Frekuensi dan pernafasan
irama pernafasan ireguler
3. Suara nafas 2 2 4
4. Memonitor tanda-tanda vital tambahan
: TD: 122/83 MmHg, RR,
Jam : 4. Gangguan 2 2 4
11x/mt, T:36,2C, N: 82x/mt,
20.30 saat
SPO2 : 100%
auskultasi

P: Intervensi dihentikan pasien meninggal

2. Ketidakefektifan kamis 1. Memonitor tingkat kesadaran jumat S:- Rafi &


perfusi jaringan 25/01/1 klien 26/01/18 O: Adon
serebral 8 : GCS dalam pengaruh obat Jam: - KU : tidak sadar
berhubungan - TTV : TD : 0/ 0 mmHg N : 0x/menit, RR
Jam : 03.30
dengan penurunan
20.55 : 0x/menit, T : 34,5OC, SPO2 : 30%
suplai oksigen dan
darah ke otak Jam : 2. Memonitor tanda-tanda vital
: TD: 119/81 MmHg, RR,
21.00 A : Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral
10x/mt, T:35,7C, N: 80x/mt,
SPO2 : 100% belum teratasi
No Kriteria Awal Akhir Tujuan
3. Memonitor Status pernapasan .
Jam : : RR: 8x/menit, Bunyi suara nafas:
1. Tekanan 2 2 3
21.05 Snoring, terpasang ventilator
intrakranial
4. Kolaborasi dengan tim medis 2. Tekanan 2 2 3
Jam : dalam pemberian obat:

67
21.10 - farmabes 10ml/jam (300cc) darah sistolik
- Clinimax 100ml/24 jam
- Tutofusin 1000 cc/24 jam 3. Tekanan 2 2 3
- Asam tranexamat 3x 5mg darah
- Nimodipine 2ml/ jam diastolik
- Profofol 2ml/jam
- Phenitoin 0,5ml/ jam 4. Kognisi 2 2 3
- Tramadol 2x1gr terganggu
- Ranitidine 3x1mg
- Ceftriaxone 2x1gr 5. Penurunan 2 3
tingkat
kesadaran

P : Intervensi dihentikan, pasien meninggal

68
BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah diberikan Asuhan Keperawatan pada Ny “S” dengan Post Op


Craniotomy E.C Intra Cerebral Haemotoma Post Stroke Hemoragik di Ruang ICU
RSUD Palembang BARI” diperoleh data sebagai berikut :

1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan
verifikasi, komunikasi dan dari data tentang pasien. Pengkajian ini didapat dari
dua tipe yaitu data subjektif dan dari persepsi tentang masalah kesehatan yang
mereka rasakan dan data objektif yaitu pengamatan/pengukuran yang dibuat
oleh pengumpulan data (Potter, 2012).
Saat pengkajian yang dilakukan pada Ny “S” didapatkan data objektif
dari observasi keadaan, tindakan medis dan keperawatan. Dalam pengkajian
pada pasien dilakukan pengkajian head to toe.
Hasil pengkajian didapatkan bahwa Klien datang ke IGD dengan keluhan
penurunan kesadaran, kemudian klien dipindahkan ke ICU, lalu klien
dilakukan tindakan Craniotomy untuk mengeluarkan perdarahan yang terjadi di
otak. Post Operasi klien tetap tidak sadar, terpasang Monitor Vital Sign,
ventilator, NGT, Voley Cateter, Draine, IV line 2 jalur dengan cairan, NACL
300 cc + Farmabes 5mg 6 Amp, Tutofusin 500 cc.
Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi karena pembuluh darah di
otak pecah sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir. Penyebab stroke
hemoragi antara lain: hipertensi, pecahnya aneurisma, malformasi arteri
venosa. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun
bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun (Corwin,
2010).
Menurut Adib (2011) Stroke hemoragik adalah pembuluh darah otak
yang pecah sehingga menghambat aliran darah yang normal dan darah
merembes ke dalam suatu daerah di otak dan kemudian merusaknya.
Hasil pengkajian tersebut sejalan menurut teori Mutakin (2011) bahwa
beberapa gejala yang muncul seperti kemungkinan kecacatan yang berkaitan
dengan stroke : Hemiplegi kontralateral, sering disertai hemianestesi,

69
Hemianopsi homonim kontralateral, Afasi bila mengenai hemisfer dominan,
Apraksi bila mengenai hemisfer nondominan, Hemiplegi (dan hemianestesi)
kontralateral terutama di tungkai, Incontinentia urinae, Afasi atau apraksi
tergantung hemisfer mana yang terkena, Hemianopsi homonim kontralateral
mungkin tanpa mengenai daerah makula karena daerah ini juga diperdarahi
oleh a. Serebri media, Nyeri talamik spontan, Hemibalisme, Aleksi bila
mengenai hemisfer dominan, Daerah vertebrobasiler, Sering fatal karena
mengenai juga pusat-pusat vital di batang otak, Hemiplegi alternans atau
tetraplegi, Kelumpuhan pseudobulbar (disartri, disfagia, emosi labil).
Berdasarkan teori dan hasil pengkajian yang didapatkan pada klien, terdapat
kesamaan antara tanda gejala stroke hemoragic dengan data yang didapatkan pada
Ny”S” dengan stroke hemoragic di ruang ICU RSUD PALEMBANG BARI.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat, dan pasti
tentang masalah klien serta pengembangan yang dapat dipecahkan atau diubah
melalui tindakan keperawatan menggambarkan respon aktual dan potensial
klien terhadap masalah kesehatan. Respon aktual dan potensial klien
didapatkan dari data pengkajian dan catatan medis klien. Diagnosa
keperawatan memberikan dasar pemilihan intervensi untuk mencapai hasil
yang diharapkan (Potter dan Perry, 2012).
Penulis mengangkat diagnosa keperawatan utama stroke hemoragic juga
karena didasari pada teori Hierarki Abraham Maslow, pernafasan adalah utama
menurut Maslow yang tergolong pada kebutuhan fisiologis sedangkan
kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan dasar pada manusia yang harus
terpenuhi segera agar tidak menggangu kebutuhan lainya.
Diagnosa keperawatan yang pertama adalah Ketidakefektifan pola napas
berhubungan dengan penekanan saraf saluran napas yang ditandai dengan data
objektif KU : lemah, GCS : penurunan kesadaran (dalam pengaruh obat), Nafas
lambat, Irama nafas ireguler, RR : 27x/menit, Terdapat pergerakan otot nafas
tambahan, Terpasang ventilator PC-BIPAP : MV : 2,44, VT : 0,266, IPL : 7, RR
: 14, FI02 : 100%, PEEP : 5, Perkusi : resonan pada kedua paru-paru
Dari data diagnosa tersebut bahwa Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak
memberi ventilasi adekuat (NANDA, 2015-2017). Data fokus yang
menunjang diagnosa ketidakefektifan pola napas tersebut dipertegas

70
berdasarkan batasan karakteristik berupa dipsnea, pola napas abnormal seperti
irama, frekuensi, kedalamanya, takipnea, penggunaan otot bantu pernapasan
(NANDA, 2015-2017).
Diagnosa keperawatan kedua yaitu: Ketidakefektifan perfusi jaringan
serebral berhubungan dengan penurunan suplai oksigen dan darah ke otak,
ditandai dengan Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan
dengan penurunan suplai oksigen dan darah ke otak ditandai dengan: KU :
lemah, GCS : penurunan kesadaran ( dalam pengaruh obat), Kelemahan
ekstremitas (paralisis), Tampak kegelisahan akibat penurunan kesadaran,
Kendali tubuh tidak terkontrol (kejang), TD: 158/89 MmHg, RR, 27x/mt,
T:35,7C, N: 96x/mt MAP = 112 mmHg (70-99), Hasil CT-Scan = Terdapat
perdarahan hiperdens, Intracerebral Hematoma (ICH) di ponds aspek dextra
dan oedem periventrikuler.
Menurut NANDA (2015-2017) bahwa Ketidakefektifan perfusi jaringan
serebral adalah mengalami penurunan sirkulasi jaringan otak yang dapat
menggangu kesehatan.
Berdasarkan teori dan data yang di dapatkan pada saat pengkajian maka
dapat di tegakkan diagnosa keperawatan pada Ny “ S” post op craniotomy dengan
stroke hemoragic yaitu ketidakefektifan pola nafas dan ketidakefektifan perfusi
jaringan serebral.

3. Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan adalah semua rencana keperawatan untuk


membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini ke status yang diuraikan
dalam hasil yang diharapkan (Potter, 2012).
Pada diagnosa ketidakefektifan pola nafas dilakukan intervensi berupa
Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan, Auskultasi
suara nafas, Monitor status pernafasan dan oksigenasi, Monitor frekuensi dan
irama pernapasan, Monitor tanda-tanda vital.
Tujuan pemberian ventilator, Metode untuk perlindungan otak pasien
dengan tujuan membebaskan jalan napas dan memberi cukup
oksigenasi. Pemberian oksigenasi adalah tindakan yang tepat untuk klasifikasi

71
cedera kepala sedang untuk meluncurkan oksigen serebral perfusi dan untuk
meningkatkan tingkat kesadaran (Suandewi, 2016)
Noor khalilati (2014) melakukan penelitian terhadap oksigen yang tepat
di kepala pasien yang cedera adalah dengan pemakaian alat bantuan ventilator,
karena lebih efektif dalam meningkatkan saturasi oksigen. Menurut Summers
dkk (2009) untuk memaksimalkan oksigenasi membutuhkan lebih tinggi suplai
oksigen karena memudahkan peningkatan aliran darah serebral(CBF).
Sehingga kami menyimpulkan bahwa antara intervensi dengan penelitian
sebelumnya berbanding lurus, pemberian oksigenisasi dengan alat ventilator
pmampu meningkatkan kadar oksigen menuju otak dan meningkatkan tingkat
kesadaran pasien dengan penunurunan kesadaran.

Penulis menegakkan diagnosa Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral


berhubungan dengan penurunan suplai oksigen dan darah ke otak, ditandai
dengan data objektif KU : lemah, GCS : penurunan kesadaran ( dalam
pengaruh obat), Kelemahan ekstremitas (paralisis), Tampak kegelisahan akibat
penurunan kesadaran, Kendali tubuh tidak terkontrol (kejang), TD: 158/89
MmHg, RR, 27x/mt, T:35,7C, N: 96x/mt MAP = 112 mmHg (70-99), Hasil
CT-Scan = Terdapat perdarahan hiperdens, Intracerebral Hematoma (ICH) di
ponds aspek dextra dan oedem periventrikuler.
Intervensi yang direncanakan penulis berdasarkan Nursing Outcomes
Classification. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam, diharapkan
klien menunjukkan perfusi jaringan serebral membaik, pola nafas efektif dan
mampu melakukan perawatan diri dengan Intervensi yang dilakukan
berdasarkan Nursing Intervention Classificatio.
Pada diagnosa ketidakefektifan perfusi jaringan serebral dilakukan
intervensi berupa Monitor tingkat kesadaran klien, Monitor tanda-tanda vital,
Monitor status pernapasan, Monitor tekanan intrakranial pasien dan respon
neurology terhadap aktivitas, Monitor tekanan perfusi serebral, Kolaborasi
dalam pemberian oksigenasi.

72
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, metode yang digunakan penulis dalam
pembuatan makalah ini adalah dengan metode deskriftif tipe studi kasus.
Menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian,
analisa data, intervensi, implementasi evaluasi dan disajikan dalam bentuk
narasi yang dilaksanakan di RSUD Palembang BARI Ruang ICU dengan post
op craniotomy dengan Stroke Hemoragic. Dapat diambil beberapa
kesimpulan. kesimpulan tersebut dipaparkan sebagai berikut :
1. Data yang akurat diperolah dengan melakukan pengkajian secara
menyeluruh menggunakan teknik wawancara dan observasi.
2. Sesuai dengan data yang diperoleh saat pengkajian, penulis dapat
menentukan beberapa diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan
yang muncul pada pasien Post Operasi Craniotomy dengan Stroke
Hemoragic adalah:
a. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penekanan saraf
saluran napas
b. Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan
penurunan suplai oksigen dan darah ke otak
3. Berdasarkan diagnosa yang ditegakkan oleh penulis, maka penulis
membuat rencana tindakan keperawatan berdasarkan diagnosa yang telah
diangkat berdasarkan NIC-NOC, diantaranya yaitu Pemberian terapi
oksigen, memonitor tingkat kesadaran klien, memonitor status pernapasan
dan suara napas tambahan, membantu klien dalam proses personal hygine.
4. Setelah merencanakan tindakan keperawatan, penulis
mengimplementasikan rencana yang telah di buat serta mengevaluasi hasil
tindakan keperawatan yang diberikan.
5. Dari hasil evaluasi keperawatan didapatkan ketidakefektifan pola napas
berhubungan dengan penekanan saraf saluran napas tidak teratasi dan

73
ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penurunan
suplai oksigen dan darah ke otak tidak teratasi.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, kelompok mengajukan saran antara lain
sebagai berikut :
1. Bagi RSUD Palembang BARI
Hasil dari asuhan keperawatan dengan post operasi craniotomy e.c
intra cerebral hematoa dengan stroke hemoragic dapat dijadikan
referensi atau masukan terutama perawat yang ada di RSUD
Palembang BARI atau tenaga kesehatan lainnya.

2. Bagi Istitusi Pendidikan STIKes Muhammadiyah Palembang


Laporan ini dapat menjadi referensi tambahan yang bermanfaat
khususnya bagi mahasiswa keperawatan serta dapat dijadikan sumber
rujukan bagi penulis yang akan datang tentang asuhan keperawatan
terhadap pasien dengan Stroke Hemoragic

3. Bagi Mahasiswa
Untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa tentang
pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap klien dengan kasus Stroke
Hemoragic, serta menjadikan suatu kesempatan bagi mahasiswa untuk
dapat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama masa
kuliah.

74
DAFTAR PUSTAKA

A Potter, & Perry, A. G. 2007. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,.


Proses, Dan Praktik, edisi 4, Volume.2. Jakarta: EGC.

Adib, M. 2011. Pengetahuan Praktis Ragam Penyakit Mematikan yang Paling


Sering Menyerang Kita. Yogyakarta : Buku Biru.

Jauch et al, 2010. European Stroke Initiative Recommendation for Stroke


Management Update 2013. Cerebrovasculer Disease, 16: 311-37

Badali, 2010, Komplikasi Stroke Hemoragik, Diakses 28 Desember 2018, Dari


http://id.shvoong.com/medicine-and-health/neurology/1993243-stroke/

Carpenito, Lynda Juall, 2007, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, (Edisi 8),
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Corwin, EJ. 2010, Buku saku patofisiologi, 3 edn, EGC, Jakarta.

Doenges, Marilynn E, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, (Edisi 3), Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC

Gibson, John, 2003, Fisiologi dan Anatomi Modern untuk Perawat, Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC

Ginsberg, 2012, Manajemen Komprehensif Stroke, Yogyakarta: Pustaka Cendekia


Press Yogyakarta.

Ikawati, 2011. Pengantar Manajemen Stroke Komprehensif. Jogjakarta: Pustaka


Cendekia Press

Japardi, I. 2012. Panduan Praktis Pencegahan dan Pengobatan Stroke. Jakarta:


Buana ilmu popular

Muttaqin, Arif, 2008, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Persarafan, Jakarta: Salemba Medika

Muttaqin,2011. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan Keperawatan


Medikal bedah. Jakarta : Salemba medika.

Nanda International. (2015). Diagnosa Keperawatan : definisi dan klasifikasi


2015-2017 (10th ed.). Jakarta: EGC.

75
NANDA, 2015-2017, Nursing Diagnosis: Definitions and classification, USA:
Philadelphia

Pertiwi, Nurul, 2011, Stroke Hemoragik dengan Faktor Resiko Hipertensi,


Diakses 27 Desember 2018, Dari http://www.fkumyecase.net/wiki/index.
php?page=STRO KE+HEMORAGIK

Price, Sylvia Anderson. 2012. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses- Proses


Penyakit. Ed.6. Jakarta: EGC

Sherin et al., 2011, Pencegahan Primer Stroke Iskemik dengan Mengendalikan


Faktor Resiko, Diakses 01 Januari 2018, Dari http://pustaka.uns.ac.id/?
menu=news&option=detail&nid=225

Smeltzer, Suzanne C & Bare, Brenda G, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth, (Edisi 8), (Volume 3), Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Yayasan Stroke Indonesia, 2012. Tahun 2020 penderita stroke meningkat 2 kali.
Diakses dari http://www.yastroki.or.id/read.php?id=319

76