Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM

PEMASANGAN ELEKTROKARDIOGRAM (EKG)

Disusun Oleh:

NAMA : Intan Nur Islamiaty

NIM : 16.IK.473

SEMESTER/ KELAS : II/ Keperawatan

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SARI MULIA
BANJARMASIN
2017

1
A. Definisi
Elektrokardiografi adalah ilmu yang mempelajari aktivitas elektrik
jantung untuk mengukur denyut jantung dan mendiagnosis adanya
kelainan pada jantung. suatu gambaran grafik mengenai gambaran
puncak aktifitas elektris dari serabut otot jantung, berupa kurva
tegangan fungsi waktu yang terdiri dari berbagai puncak (Tyas
Istiqomah, W. R. 2014 Hal: 128)

A. Tujuan :
1. Mengetahui kelainan irama jantung (Distritmia).
2. Mengetahui kelainan miokardium (infark, hipertrophy)
3. Mengetahui pengaruh efek obat-obatan (digitalis, anti aritma, dan
lain-lain)
4. Mendeteksi efek ketidakseimbangan elektrolit pada fungsi jantung
5. Mengetahui adanya perikartidis.
6. Penilaian fungsi pacu jantung (kecepatan denyut, Irama, dan
hantaran listrik)
7. Pembesaran jantung
(Annamma Jacob, R. R. (2014) Hal 29)

B. Etiologi
menurut fakih ruhyanudin (2006), penyebab akut miokard infark:
1. Gangguan pada arteri koronaria berkaitan dengan
atherosclerosis, kekakuan, atau penyumbatan total pada arteri
oleh emboli atau thromus.
2. Penurunan aliran darah sistem koronaria menyebabkan ketidak
seimbangan antara miokardial O2 suplai dan kebutuhan
jaringan terhadap O2.

2
Penyebab suplai oksigen ke miocard berkurang yang
disebabkan oleh 3 fakor :
1. Faktor Pembuluh darah:
 Aterosklerosis
 Spasme
 Arteritis
2. Faktor sirkulasi:
 Hipotensi
 Stenosos aorta
 Insufisieensi
3. Faktor darah:
 Anemia
 Hipoksemia
 Polisitemia
Penyebab lain:
a. Curah jantung yang meningkat :
 Aktifitas berlebihan
 Emosi
 Mekan terlalu banyak
 Hypertiroidisme
b. Kebutuhan oksigen miocard meningkat pada:
 Kerusakan miocard
 Hypertropi miocard
 Hypertensi diastolic
c. Faktor predisposisi:
 Faktor resiko biologis yang tidak dapat diubah
o Usia lebih dari 40 tahun
o Jenis kelamin: insiden pada pria yang tinggi,
sedangkan pada wanita meningkat setelah
menopause
o Hereditas
o Ras: lebih tinggi insiden pada kulit hitam

3
 Faktor resiko yang dapat diubah:
a. Mayor:
o Hiperlipidemia
o Hipertensi
o Merokok
o Diabetes melitus
o Obesitas
o Diet tinggi lemak jeuh, kalori
b. Minor:
o In aktifitas fisik
o Pola kepribadian tipe A (emosional, agresif, ambisius,
kompetitif)
o Stress psikologis berlebihan ketidakadekuatan aliran
darah akibat dari menyempitan, summbatan, arteri
koronaria akibat terjadinya aterosklerosis, atau
penurunan aliran darah akibat syok atau pendarahan.
 Faktor resiko menurunan Framingham:
o Hiperkolesterolemia : >275 mg/dl
o Merokok sigaret : >20/ hari
o Kegemukkan : >120% dari BB ideal
o Hipertensi : > 1160/90 mmHg
o Gaya hidup monoton.
(Andra Saferi Wijaya, y. M. (2013) Hal : 37-38)

4
C. Anatomi fisiologi

Gambar 1.1 anatomi jantung


Jantung merupakan suatu organ yang terletak didalam rongga
mediastinum dari rongga dada (Thorax) dan diantara kedua paru.
Selaput yang mengitari jantung disebut perikardium, yang terdiri
dari dua selaput :
1. Pericardium parietalis, lapisan luar yang melekat pada tulang
dan selaput paru
2. Pericardium viseralis, yang merupakan lapisan permukaan dari
jantung itu sendiri yang juga disebut Epicardium

Diantara kedua lapisan terdapat sedikit cairan pelumas yang


berfungsi mengurangi gesekan yang timbul akibat gerakan jantung
saat memompa. Cairan ini disebut cairan perikardium.

Jantung merupakan organ utama dalam sistem kardiovasuler.


Terdiri dari empat ruang yang berpungsi sebagai pompa, yaitu

atrium kanan berfungsi menampung darah yang rendah oksigen


dari seluruh tubuh yang mengalir dari vena kava superior dan
inferior serta sinus koronarius yang berasal dari jantung sendiri.

5
Kemudian darah dipompakan ke ventrikel kanan dan selanjutnya
keparu-paru.

atrium kiri berfungsi menerima darah yang kaya oksigen dari paru-
paru melalui empat buah vena pulmonalis. Kemudian darah
mengalir ke ventrikel kiri dan dipompakan ke seluruh tubuh melalui
aorta.

ventrikel kanan berfungsi memompakan darah dari atrium kanan ke


paru-paru melalui vena pulmonalis.

ventrikel kiri berfungsi memompakan darah yang kaya oksigen dari


atrium kiri ke seluruh tubuh melalui aorta.

Jantung adalah organ berupa otot, berbentuk kerucut,


berongga dan dengan basisnya diatas dan puncaknya di bawah.
Apex nya (puncak) miring kesebelah kiri jantung dibentuk oleh
organ-organ muscular, apex dan basis cordis, atrium kanan dan kiri
serta ventrikel kanan dan kiri. Ukuran jantung kira-kira panjang 12
cm, lebar 8-9 cm serta tebal kira-kira 6 cm. Berat jantung sekitar 7-
15 ons atau 200 sampai 425 gram dan sedikit lebih besar dari
kepalan tangan. Setiap harinya jantung berdetak 100.000 kali dan
dalam masa periode itu jantung memompa 2000 galon darah atau
setara dengan 7.571 liter darah.

Hubungan fungsional antara atrium dan ventrikel


diselenggarakan oleh jaringan susunan hantar khusus yang
menghantarkan impuls listrik dan atrium ventrikel. Sistem tersebut
terdiri dari nodus sinoatrial (SA), Nodus Atrioventrikuler (AV),
berkas His (His Bundle) dan serabut-serabut purkinye.

 Sinoatrial Node (SA Node)/ pacemaker: sekumpulan masa


kecil dari sel khusus yang terbentang pada dinding atrium
kanan drkat dengan permukaan vena cava superior. Disebut

6
pacemaker karena menginisias implus menyebabkan
kontraksi atrium.

 Atrioventrikular Node (AV Node): terdapat pada dinding


atrial septum dekat katup atrioventrikular dan muara sinus
kononarius dan merupakan elemen penting dalam sistem
konuksi listrik jantung. menkonduksi implus yang tiba
melalui atria dan yang berasal dari SA Node. Disini terdapat
delay, sinyal elektrik butuh 0,1sekon untuk melalui ventrikel,
menyebabkan atria selesai berkontraksi sebelum ventrikel
mulai berkontraksi. AV Node juga memiliki fungsi secondary
pacemaker,, mengambil ahli fungsi SA Node bila terjadi
masalah, Namun menjadi lebih lambat daripada SA Node..
 Atrioventrikular bundle (AV bundle atau bundle of His): fiber
yang khusus yang berasal dari AV Node. AV bundle
melintasi fibrousring yang memisahkan atrium dan ventrikel,
pada ujung atas dekat ventrikel , AV Bundle terbagi menjadi
cabang bundle kanan dan kiri. Bersamaan dengan
myocardium ventrikel., cabang-cabang membagi menjadi
fiber halus yang disebut serat purkinje. AV bundle, cabang
bundle, dan serat purkinje meenghantarkan implus elektrik
dari AV Node ke apex jantung dimana mulailah terjadi
kontraksi ventrikel.
(Philip I. Aaronson, J. (2007). Hal 13)
(Dewi, A. (2014). Hal 97-98)

7
D. Klasifikasi
1. Irama sinus
Aritmia yang terjadi pada keadaan bradikardia dan
Takikardia aatau sinus arrest.
a. Normal

Gambar 2.1 normal

Ciri-ciri EKG :
 Rate: 60-100 bpm
 Rhythm: regular
 P wave : before each QRS, identical
 Interval PR : 0,12-0,20 detik
 Interval QRS : < 12

b. Takikardia Sinus

Gambar 2.2 takikardi sinus


Ciri-ciri EKG :
 Gelombang P-QRS-T normal
 Rate : >100x/ Menit

8
c. Bradikardia Sinus

Gambar 2.3 Bradikardia Sinus


Ciri-ciri EKG :
 Gelombang P-QRS-T
 Rate : <60x/menit
d. Aritma Sinus

Gambar 2.4 Aritma sinus


Ciri-ciri EKG:
 Gelomban P-QRS-T normal
 Interval PP (atau interval RR) berubah-ubah

e. Sinus Arrest

Gambar 2.5 Sinus Arrest


Ciri-ciri EKG:

9
 pada masa henti sinus, tidak terlihat gelombang
P-QRS-T

2. Irama Atrial
a. Atrial Flutter:

Gambar 2.6 Irama Atrial


Sebab:
 pelepasan implus dari fokus ektropik di atria
yang cepat ddan teratur (rate= 250-350
x/menit)
Ciri-ciri EKG :
 Gelombang P berbentuk seperti gigi gergaji
yang teratur dan disebut gelombang E
 Konduksi AV: selalu disertai blok
 Konduksi intraventrikular: bisa normal/ aberrant
b. Atrial Fibrilasi

Gambar 2.7 Atrial


Sebab :
 Disini pelepasan implus terjadi sangat cepat (>350
x/ menit) dan tidak teratur sehingga reaksi
ventrikel juga sangat tidak teratur

10
Ciri-ciri EKG:

 Gelombang P sukar dilihat, Hanya berupa getaran


pada garis dasar dan disebut gelombang F.
 Konduksi di AV node isertai blok.
 Konduksi intraventrikular bisa normal/ aberrant

c. Atrial Takikardi

Gambar 2.8 Atrial Takikardi


Sebab:
 Pelepasan implus yang ceepat oleh fokus ektopik
di ateria.

Ciri-ciri EKG:

 Terdapat sederetan denyut atrial yang timbul


cepat, berturut-turut dan teratur
 Gelombang P sering tidak terlihat
 Konduksi di AV node bisa normal/ blok
 Konduksi intraventrikular bisa normal/aberrant
(soetopo widjaja, 2009 Hal 52-72)

E. Indikasi
1. Untuk mengevaluasi keluhan : sesak nafas, Nyeri dada, dll
2. Untuk mengevaluasi adanya disritmia.
3. Untuk mengevauasi kapasitas kemampuan fungsional
4. Untuk mengevaluasi prognosa dari kelainan kardiovaskuler

F. Kontraindikasi :
1. infark miokard akut <5 hari
2. vertigo

11
3. sesak
4. hipertensi berat

G. Persiapan Alat dan Bahan :


1. Persiapan Diri:
 Menjaga privasi klien
 Memperlihatkan respons klien selama pemeriksaan
 Memperlihatkan sikap keramah-tamahan
 Menunjukkan sikap sopan
2. Persiapan Alat :
a. Mesin EKG yang dilengkapi 3 macam kabel yaitu :
 Satu kabel untuk listrik (power)
 Satu kabel untuk bumi (Ground)
 Satu kabel untuk pasien terdiri dari 10 cabang (Kabel
elektroda)
o 4 buah elektroda Extremitas
o 6 buah elektroda Dada
b. Plat elektode yaitu :
 Elektrode extermitas dieratkan dengan ban pengikat
khusus
 Elektrode dada dengan balon penghisap
3. Persiapan Bahan:
a. Sarung tangan bersih
b. Jelly elektrode
c. Kertas EKG (siap pada alat)
d. Kertas tissue
e. Kassa/kapas aalkkohol
f. Spidol untuk perekaman yang serial

12
g. Pulpen untuk mendokumentasikan
h. Bengkok
i. Tempat sampah

H. Prinsif tindakan
1. Persiapan alat EKG
2. Jaga privasi klien
3. Persiapan klien
 Dilakukan perekaman posisi klien berbaring (supine)
 Klien harus diinformasikan tentang rekaman.
 Perkiraan lama tindakan
 Pemasangan elektrodas sesuai prosedur
 Hal-hal yang perlu diperhatikan klien saat perekaman:
o Tenang dan rileks
o Tidak berbicara
o Tidak tegang dan seluruh otot ektremitas
direlaksasikan
o Bernafas seperti biasa
 Klien harus melapor apabila dalam proses perekaman
muncul keluhan yang dirasakan pada saat perekaman
 Setelah selesai perekaman, Tulis pada hasil rekaman
: nama, umur, jenis kelamin, jam, tanggal, bula, dan
tahun peembuatan, nama masing-masing lead serta
nama orang yang merekamnya.
 Lepaskan elektroda, kemudian bersihkan alat-alat
dan kembalikan pada tempatnya

I. Prosedur Tindakan

13
1. Identifikasi klien untuk memastikan pemasangan EKG yang
diberikan pasien yang benar
2. Jelaskan tujuan perekaman EKG dan prosedurnya pada klien.
Yakinkan klien bahwa prosedurnya tidak sakit dan aman.
3. Mencuci tangan
4. Menjaga privacy klien
5. Posisi klien diatur terlentang datar (supine) diatas bed posisi ini
digunakan untuk mempermudah pemasangan sandapan
maupun elektroda. Klien tidak memperbolehkan menyentuh besi
pada bed maupun benda logam lainnya karena akan
mempengaruhi hasil pemeeriksaan
6. Membuka dan melonggarkan pakaian bagian atas, bila klien
memakai jam tangan, kalung dan logam lainnya dilepas
7. Membersihkan bagian dada dengan menggunakan kapas
alkohol, pada kedua pergelangan dan kedua tungkai dilokasi
pemasangan manset elektroda
8. Menghidupkan monitor EKG untuk memastikan alat berfungsi
dengan Baik
9. Pastikan standarisasi mesin yang baik
a. Atur kecepataan kertas 25mm/menit
b. Atur sinyal standar mesin EKG 1 mV sehingga puncak
gelombang yang terbentuk mempunyai tinggi 10mm atau
dua kotak besar.
c. Pastikan mesin sudah dipasang arde (grounding) dengan
benar
10. Mengoleskan jelly EKG pada permukaan eleektroda

14
Gambar 3.1 pemasangan elektroda dada

11. Menyambung kabel EKG pada kedua tungkai pergelangan


tangan dan kedua
tungkai kaki pasien, untuk rekaman lead (led I, II, III, AVR, AVF)
dengan cara :
 Warna merah pada pergelangan tangan kanan
 warna hijau pada kaki kiri
 warna hitam pada kaki kanan
 warna kuning pada pergelangan tangan kiri
12. memasang elektroda dada untuk rekaman precardia lead
 V1 digaris prasternal kanan sejajar dengan ICS 4,
berwarna merah
 V2 digaris prasternal kiri sejajar dengan ICS 4, berwarna
kuning
 V3 diantara V2 dan V4, berwarna hijau
 V4 digaris mid klavikula kiri sejajar ICS 5, berwarna
coklat
 V5 digaris aksila anterior kiri sejajar ICS 5, berwarna
hitam
 V6 digaris mid aksila kiri sejajar dengan ICS 5, berwarna
ungu
13. Memuat rekaman secara terurut sesuai dengan lead yang
terdapat pada mesin EKG
14. Melakukan kalibrasi kembali setelah perekaman selesai

15
15. Memberi identitas klien pada hasil rekaman: nama, umur,
tanggal dan jam rekaman serta nomor lead dan nomor
perekaman medik.
16. Membersihkan tangan, kaki, dan dada pasien menggunakan
tissue/kassa pada tempat pemasangan elektroda
17. Baca dan laporkan hasil EKG dengan urutan
i. irama
ii. interval hantaran
iii. Aksis jantung
iv. Deskripsi kompleks QRS
v. Deskripsi segmen ST dan gelombang T

18. Tunjukkan hasil EKG pada dokter sesegera mungkin sehingga


dapat diberikan terapi lebih lanjut bila perlu.

19. Merapikan perlatan dan merapikan klien.


(Annamma Jacob, R. R. (2014) Hal 29-31)

J. Alternatif Tindakan
Posisi pada pergelangan dan tungkai kaki bukanlah mutlak, jika
diperlukan dapat dipasang ke bahu kiri dan bahu kanan, pangkal
paha kiri dan kanan
(Annamma Jacob, R. R. (2014) Hal 34)

K. Dampak dan kesalahan tindakan


Pemasangan elektroda yang tidak tepat dapat menghasilkan
gambaran EKG yang tidak terbaca atau tidak sesuai kondisi klien.
Hal ini dapat menimbulkan kesalahan interpretasi EKG sehingga
menghasilakan diagnosa yang keliru. Untuk mengatasinya,
pastikan tidak ada kesalahan sebelum perekaman jantung dengan
melakukan pencekan ulang pada elektroda-elektroda yang
terpasang

16
17
Daftar Pustaka
Tyas Istiqomah, W. R. (2014). Jurnal Fisika dan Terapannya.
Pengembangan Elektrokardiografi (EKG) portable sebagai wujud
teknologi tepat guna , 2, 125.

Dewi, A. (2014). Keperawatan Intensif Dasar. Bogor: IN MEDIA.

widjaja, s. (2009). EKG praktis. Tanggerang selatan: Binarupa


Aksara.

Philip I. Aaronson, J. (2007). The Cardiovascular System at a


Glance.Jakarta:ERLANGGA.

Annamma Jacob, R. R. (2014). Clinical Nursing Procedures.


Tanggerang Selatan: BINARUPA AKSARA.

Andra Saferi Wijaya, y. M. (2013). Keperawatan Medikal Bedah.


Yogyakarta: Nuha Medika.

18