Anda di halaman 1dari 3

DISLOKASI

DEFINISI

Adalah keadaan terpisahnya kedua permukaan sendi secara keseluruhan. Apabila


permukan sendi hanya terpisah sebagian, maka kondisi tersebut disebut sebagai subluksasi.
Selain itu terdapat pula kondisi terpisahnya permukaan sendi yang hanya terjadi apabila sendi
tersebut mendapat tekanan . kondisi itu disebut sebagai occult joint instability.

PATOFISIOLOGI

Sendi synovial yang ada pada tubuh manusia memiliki mekanisme structural untuk
menjaga lingkup gerak sendi yang normal. Stabilitas sendi merupakan hasil dari kerja sama 3
aspek berikut;

1. Bentuk dan jenis sendi


2. Integritas kapsula fibrosa dan ligament, serta
3. Perlindungan dari otot yang mengerakan sendi tersebut.

Gangguan pada salah satu factor di atas dapat mengakibatkan ketidakstabilan suatu sendi.
Nmun, peran factor di atas akan berubah pada masing-masing sendi. Kontur sendi merupakan
factor yang terpenting pada sendi ball-ang-socket (misalnya sendi panggul). Sementara ligament
memegang peranan penting pada sendi engsel (misalnya siku). Pada sendi yang bergerak bebas
(misalnya sendi bahu). Integritas kapsula fibrosa dan otot-otot disekitarnya memegang peran
lebih penting dalam menjaga kestabilan sendi.

MANIFESTASI KLINIS

Pasien umumnya datang setelah kejadian cedera dengan keluhan nyeri pada sendi yang
cedera. Pasien biasanya berusaha untuk menggerakan sendi tersebut karena nyeri dan spasme
otot. Daerah persendian memiliki persyarafan proprioseptif sehingga pasien yang datang dalam
keadaan sadar umumnya dapat menunjukkan sendi mana yang mengalami gangguan.
Pada pemeriksaan fisis, dapat terlihat perubahan bentuk anatomi sendi. Selain itu,
terdapat pula perubahan posisi tulang yang merupakan komponen persendian tersebut. Secara
umum pemeriksaan fisis akan menunjukkan hasil berikut:

 Look; pembengkakan, kecuali bila terjadi pada sendi yang letaknya dalam, misalnya
sendi panggul. Selain itu juga terdapat deformitas, baik angulasi, rotasi, perubahan kontur
normal maupun pemendekan pada struktur yang terlibat
 Feet; nyeri tekan.
 Move; keterbatasan gerakan / penurunan lingkup gerak sendi maupun gerakan abnormal,
yaitu perubahan arah gerak karena ketidakstabilan sendi.

Pemeriksaan penunjang yang utama untuk menegakkan diagnosis dislokasi adalah


dengan Roentgen. Roentgen tidak hanya berperan dalam diagnosis diskolasi/subluksasi, tetapi
juga untuk menyingkirkan kemungkinan terdapatnya fraktur pada daerah yang terkena. Apabila
selain dislokasi juga terdapat fraktur di daerah persendian yang sama, maka keadaan ini disebut
sebagai fraktur-dislokasi. Pada kondisi occult joint instability, pemeriksaan dengan Roentgen
dilakukan sambil memberikan penekanan pada sendi (dengan anestesi) untuk mereproduksi
kelainan sendi yang terjadi.

Pendekatan klinis pada pasien yang mengalami dislokasi dapat dibedakan sesuai dengan
manifestasi klinis saat pasien datang :

 Pasien datang dengan kondisi sudah tereduksi; dapat dilakukan tes apprehension, yaitu
melakukan manipulasi yang serupa dengan gaya penyebab cedera ((dilakukan dengan
gentle). Apabila pasien merasa nyeri atau menghindari gaya tersebut, maka sendi tersebut
telah mengalami dislokasi akibat gaya yang diujikan.
 Dislokasi berulang. Pasien mengalami dislokasi berulang terutama pada sendi bahu dan
patelofemoral. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kerusakan pada ligmen dan batas-
batas sendi.
 Dislokasi habitual (volunteer). Dislokasi jenis ini diakibatkan oleh gerakan otot secara
sadar (volunteer) dan dapat merupakan kebiasaan pasien. Adanya kelemahan (laxity)
pada ligament mempermudah terjadinya dislokasi untuk habitual. Dislokasi jenis ini
penting untuk dikenali karena penatalaksanaan secara bedah belum tentu bermanfaat.

TATA LAKSANA

Secara umum, semua dislokasi harus direduksi sesegara mungkin. Pasiean sebaliknya
dalan anestesi umum dan pelemas otot bila diperlukan. Penundaan reduksi dapat mengakibatkan
terjadinya arthritis pasien traumatic. Sendi yang mengalami dislokasi harus diistirahatkan hingga
edema jaringan lunak berkurang dan memberikan kesempatan penyembuhan. Hal tersebut
biasanya tercapai dalam 3 minggu. Setelah itu pasien dapat mulai melatih lingkup gerak sendi
dengan functional brace, diikuti dengan fisioterapi untuk mencapai lingkup gerak sendi yang
sepenuhnya. Apabila tidak terdapat perbaikan dan terjadi instabilitas sendi, maka dapat
dipertimbangkan untuk tata laksana bedah.

Tata laksana farmakologis untuk dislokasi adalah dengan memberikan obat anti inflamasi
nonsteroid (OAINS) jangka pendek. Pemberian OAINS bertujuan untuk mengurangi inflamasi
dan nyeri pada sendi. Penggunaan kortikosteroid sistemik tidak diindikasikan. Injeksi
kortokosteroid pada sendi, ligament, dan tendon juga tidak dianjurkan.

KOMPLIKASI

segera (immediate): cedera pada kulit, pembuluh darah, nervus perifer, medulla spinalis, hingga
trauma multiple akibat cedera.

AKUT:

 Infkesi; biasanya berupa arthritis septic


 Avascular necrosis
 Kekakuan sendi

KRONIS:

 Kekakuan sendi persisten


 Instabiliotas sendi persisten
 Dislokasi berulang
 Arthritis pasca trauma
 Osteoporosis pasca trauma
 Distrifi simpatik reflex, serta
 Myiositis ossificans pasca traumatik