Anda di halaman 1dari 23

HAKEKAT SAINS, TEKNOLOGI,

DAN MASYARAKAT SERTA KETERKAITANNYA

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Sains, Teknologi, dan Masyarakat
yang dibimbing oleh Bapak Drs. Kadim Masjkur, M.Pd. dan Ibu Erni Yulianti,
S.Pd., M.Pd.

Oleh :
1. Alifya Rahayu (150351601054)
2. Fita Nur Chasanah (150351603379)
3. Lena Lusiana (150351604973)
4. Nur Elia Puspita (150351604973)
Kelompok 9 / OFF. A 2015

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI S1 PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
Januari 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya
sehingga makalah yang berjudul “Hakekat Sains, Teknologi, dan Masyarakat serta
Katerkaitannya” ini dapat tersusun hingga selesai. Makalah ini dibuat untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sains, Teknologi, dan Masyarakat

Kami berterima kasih pada Bapak Drs. Kadim Masjkur, M.Pd. dan Ibu Erni
Yulianti, S.Pd., M.PD. selaku Dosen mata kuliah Sains, Teknologi, dan Masyarakat
yang telah memberikan tugas ini kepada kami. Kami sangat berharap makalah ini
dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai
Hakekat Sains, Teknologi, dan Masyarakat, serta Keterkaitannya.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang


membacanya. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini banyak kekurangan,
baik menyangkut isi maupun penulisan. Karena itu kritik dan saran yang membangun
sangat diharapakan oleh penulis untuk menyempurnakan makalah ini.

Malang, Januari 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................... ii

BAB I: PENDAHULUAN
Latar Belakang ..................................................................................... 1
Rumusan Masalah ................................................................................ 1
Tujuan .................................................................................................. 2

BAB II: PEMBAHASAN


Definisi Sains ....................................................................................... 3
Obyek Sains ......................................................................................... 5
Karakteristik Sains ............................................................................... 6
Sains Sebagai Kumpulan Pengetahuan ................................................ 7
Sains Sebagai Cara Berpikir................................................................. 9
Sains Sebagai Cara Penyelidikan ......................................................... 10
Teknologi Sains .................................................................................... 11
Masyarakat ........................................................................................... 13
Keterkaitan, Sains, Teknologi, dan Masyarakat................................... 14

BAB III: PENUTUP


Kesimpulan ......................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………...19

ii
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dewasa ini, sains dan teknologi merupakan suatu masalah yang penting bagi
kehidupan masyarakat. Teknologi yang berkembang semakin pesat perlu diperhatikan
dengan persiapan yang matang untuk menghadapi tantangan di masa depan yang
semakin meningkat. Sains memiliki peran yang sangat penting untuk membantu
masyarakat dalam menghadapi tantangan dalam kehidupannya. Sains akan melatih
masyarakat untuk terampil dan lebih berpikir kreatif. Sains tidak hanya sebagai
kumpulan pengetahuan, tetapi juga menekankan cara berpikir dan cara
penyelidikannya untuk membuktikan dan mendapatkan suatu teori. Tantangan
pembelajaran sains harus disesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi untuk mengantisipasi masalah-masalah yang berkaitan dengan sains dan
teknologi. Untuk kepentingan tersebut, pembelajaran sains perlu dikaitkan dengan
aspek teknologi dan masyarakat.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dituliskan rumusan masalah
sebagai berikut.
1. Apa definisi sains ?
2. Apa saja objek sains ?
3. Bagaimana karakteristik sains ?
4. Bagaimana penjelasan sains sebagai kumpulan pengetahuan ?
5. Bagaimana penjelasan sains sebagai cara berpikir ?
6. Bagaimana penjelasan sains sebagai cara penyelidikan ?
7. Apa definisi teknologi ?

1
8. Apa definisi masyarakat ?
9. Bagaimana keterkaitan antara sains, teknologi, dan masyarakat ?

Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dituliskan tujuan dari
penyusunan makalah ini sebagai berikut.
1. Dapat menjelaskan definisi sains
2. Dapat menjelaskan objek sains
3. Dapat menjelaskan karakteristik sains
4. Dapat menjelaskan sains sebagai kumpulan pengetahuan
5. Dapat menjelaskan sains sebagai cara berpikir
6. Dapat menjelaskan sains sebagai cara penyelidikan
7. Dapat menjelaskan definisi teknologi
8. Dapat menjelaskan definisi masyarakat
9. Dapat menjelaskan keterkaitan antara sains, teknologi, dan masyarakat

2
BAB II
PEMBAHASAN

Definisi Sains

Menurut Surjani (2010) dari sudut bahasa, sains atau Science (Bahasa Inggris)
berasal dari bahasa latin, yaitu dari kata Scientia yang berarti pengetahuan tentang,
atau tahu tentang; pengetahuan, pengertian, faham yang benar dan mendalam.

Berbeda dengan pendapat Fisher dalam Nugraha (2008) mendefinisikan sains


sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode-
metode yang berdasarkan pada pengamatan dengan penuh ketelitian. Carin dan Sund
dalam Widowati (2008) mendefinisikan sains sebagai suatu sistem untuk memahami
alam semesta melalui observasi dan eksperimen yang terkontrol. Disamping itu, sains
juga merupakan ilmu yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang gejala alam
secara sistematis, sehingga sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan
yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga
merupakan suatu proses penemuan (BSNP, 2006).

Nagel dalam bab pertama dalam buku Philosophy of Science Today dalam
Widowati (2008) karangan Sidney Morgenbesser mengemukakan sains dapat dilihat
dalam tiga aspek, yaitu:
1. Aspek tujuan, sains adalah sebagai alat untuk menguasai alam, dan memberi
sumbangan kepada kesejahteraan manusia. Sebagai contoh: berbagai keuntungan
yang didapat dari sains dan teknologinya di bidang kesehatan dan industri.
2. Aspek pengetahuan yang sistematik, dan tangguh dalam arti merupakan suatu
hasil atau kesimpulan yang didapat dari berbagai peristiwa.
3. Aspek metode, metode sains merupakan suatu perangkat aturan-aturan untuk
memecahkan masalah, untuk mendapatkan hukum-hukum ataupun teori-teori
dari objek yang diamati.

Sains tidak hanya merupakan kumpulan pengetahuan saja. Cain & Evans
dalam Rustaman, dkk. (2003) menyatakan sains mengandung empat hal, yaitu:

3
konten atau produk, proses atau metode, sikap dan teknologi. Jika sains mengandung
empat hal tersebut, maka ketika belajar sains pun siswa perlu mengalami keempat hal
tersebut. Dalam pembelajaran sains, siswa tidak hanya belajar produk saja, tetapi juga
harus belajar aspek proses, sikap, dan teknologi agar siswa dapat benar-benar
memahami sains secara utuh.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sains berarti :
1. Ilmu teratur (sistematis) yang dapat diuji kebenarannya
2. Ilmu yang berdasarkan kebenaran atau kenyataan semata (fisika, kimia dan
biologi).
Campbell mendefinisikan sains sebagai pengetahuan yang bermanfaat dan
cara bagaimana atau metoda untuk memperolehnya (Poedjiadi, 1987). Selain itu Nash
(dalam Hendro Darmojo, 1992) dalam bukunya The Nature of Science, menyatakan
bahwa IPA itu adalah suatu cara atau metoda untuk mengamati alam.

Dalam bukunya yang berjudul “Teaching Children Science” Abruscato


(1982) juga mendefinisikan tentang sains sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat
serangkaian proses yang sistematik guna mengungkapkan segala sesuatu yang
berkaitan dengan alam semesta.
Menurutu Abruscato sains dipandang dari berbagai segi, yaitu:
1) Sains adalah proses kegiatan mengumpulkan informasi secara sistematik tentang
dunia sekitar.
2) Sains adalah pengetahuan yang diperoleh melalui proses kegiatan tertentu.
3) Sains dicirikan oleh nilai-nilai dan sikap para ilmuan menggunakan proses ilmiah
dalam memperoleh pengetahuan.

Pengertian lain yang juga sangat singkat tetapi bermakna adalah “science as a
way of knowing” (Trowbridge & Baybee, 1990). Frase ini mengandung ide bahwa
sains adalah proses yang sedang berlangsung dengan fokus pada pengembangan dan
pengorganisasian pengetahuan.
Powler dalam Winaputra (1992) mengemukakan bahwa IPA merupakan ilmu
yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang

4
tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dan hasil observasi dan
eksperimen. Sistematis (teratur) artinya pengetahuan itu tersusun dalam suatu sistem,
tidak berdiri sendiri, satu dengan yang lainnya saling berkaitan, saling menjelaskan
sehingga seluruhnya merupakan satu kesatuan yang tuth, seedangkan berlaku umum
artinya pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau oleh seseorang atau beberapa orang
dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau
konsisten.

Winaputra (1992) mengemukakaan bahwa sains tidak hanya merupakan


kumpulan pengetahuan tentang benda atau makhluk hidup, tetapi merupakan cara
kerja, cara berfikir, dan cara memecahkan masalah. Dengan kata lain, sains adalah
proses kegiatan yang dilakukan para saintis dalam memperoleh pengetahuan dan
sikap terhadap proses kegiataan tersebut. Sains didasarkan pula pada pendekatan
empirik dengan assumsi bahwa alam raya ini dapat dipelajari, dipahami, dan
dijelaskan yang semata-mata tidak bergantung pada metoda kausalitas tetapi melalui
proses tertentu. Misalnya, observasi, eksperimen, dan analisis rasional. Dengan
menggunakan proses dan sikap ilmiah seperti berlaku obyektif dan jujur dalam
mengumpulkan dan mengevaluasi data akan melahirkan penemuan-penemuan baru
yang menjadi produk sains.

Objek Pengetahuan Sains

Objek pengetahuan sains (yaitu objek-objek yang diteliti sains) ialah semua
objek yang empiris. Menurut Jujun. S (1984) mengatakan bahwa objek kajian sains
hanyalah objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia. Yang
dimaksud pengalaman di sini ialah pengalaman indera. Bukti empiris ini di perlukan
untuk menguji bukti rasaional yang telah di rumuskan dalam hipotesis. Objek-objek
yang dapat diteliti sains seperti alam, tumbuhan, hewan, dan manusia serta kejadian
di sekitar alam, tumbuhan, hewan, dan manusia. Dari penelitian itulah muncul teori-
teori sains.

5
Karakteristik Sains
Harlen (1997) mengemukakan tiga karakteristik utama Sains yakni: Pertama,
memandang bahwa setiap orang mempunyai kewenangan untuk menguji validitas
(kesahihan) prinsip dan teori ilmiah. Meskipun kelihatan logis dan dapat dijelaskan
secara hipotesis, teori dan prinsip hanya berguna jika sesuai dengan kenyataan yang
ada. Kedua, memberi pengertian adanya hubungan antara fakta-fakta yang di
observasi yang memungkinkan penyusunan prediksi sebelum sampai pada
kesimpulan. Ketiga, memberi makna bahwa teori Sains bukanlah kebenaran yang
akhir tetapi akan berubah atas dasar perangkat pendukung teori tersebut. Hal ini
memberi penekanan pada kreativitas dan gagasan tentang perubahan yang telah lalu
dan kemungkinan perubahan di masa depan, serta pengertian tentang perubahan itu
sendiri.

Ralph Ross dan Ernest Van den Haag mengemukakan ciri-ciri sains, yaitu:
1) Bersifat rasional (hasil dari proses berpikir dengan menggunakan rasio atau akal),
2) Bersifat empiris (pengalaman oleh panca indra)
3) Bersifat umum (hasil sains bisa digunakan oleh semua orang tanpa terkecuali),
4) Bersifat akumulatif (hasil sains dapat dipergunakan untuk dijadikan objek
penelitian berikutnya)

Karakteristik belajar IPA dapat diuraikan sebagi berikut.


1. Proses belajar IPA melibatkan hampir semua alat indera, seluruh proses
berpikir, dan berbagai macam gerakan otot.
2. Belajar IPA dilakukan dengan menggunakan berbagai macam cara (teknik).
Misalnya, observasi, eksplorasi, dan eksperimentasi.
3. Belajar IPA memerlukan berbagai macam alat, terutama untuk membantu
pengamatan. Hal ini dilakukan karena kemampuan alat indera manusia itu
sangat terbatas. Selain itu, ada hal-hal tertentu bila data yang kita peroleh
hanya berdasarkan pengamatan dengan indera, akan memberikan hasil yang
kurang obyektif, sementara itu IPA mengutamakan obyektivitas.

6
4. Belajar IPA seringkali melibatkan kegiatan-kegiatan temu ilmiah (misal
seminar, konferensi atau simposium), studi kepustakaan, mengunjungi suatu
objek, penyusunan hipotesis, dan yang lainnya. Kegiatan tersebut kita lakukan
semata-mata dalam rangka untuk memperoleh pengakuan kebenaran temuan
yang benar-benar obyektif.
5. Belajar IPA merupakan proses aktif.

Sains sebagai Kumpulan Pengetahuan

Hukum dalam sains merupakan suatu pernyataan yang mengungkapkan


adanya hubungan antara gejala alam yang konsisten. Karena konsistensinya itulah
maka hukum dapat digunakan untuk meramalkan. Untuk dapat memahami tentang
hukum dalam sains ini sebaiknya ditinjau dari berbagai contoh atau kasus, kemudian
dari berbagai kasus dapat ditarik suatu kesimpulan atau gambaran yang tepat tentang
hukum itu. Contoh hukum jatuh bebas dari Galileo yang muncul pada awal
perkembangan IPA dan sempat menggegerkan opini masyarakat yang telah terbiasa
dengan ajaran Aristoteles. Dalam masalah ini ajaran Aristoteles mengatakan bahwa
waktu yang dibutuhkan oleh benda yang jatuh bebas itu merupakan fungsi dari berat
benda itu. Artinya benda yang lebih berat akan lebih cepat sampai ke tanah daripada
benda yang lebih ringan, dari ketinggian yang sama. Berbeda dengan Galileo yang
menyatakan bahwa waktu yang dibutuhkan oleh benda jatuh bebas itu tidak
tergantung dari berat bendanya. Ini berarti benda yang lebih berat akan jatuh
bersamaan waktunya dengan benda yang lebih ringan dari ketinggian yang sama.
Hukum ini sering tidak berlaku misalnya saja bila yang jatuh itu secara selembar
kertas di mana dapat melayang-layang di udara. Sehingga hukum ini hanya
mendekati kebenaran atau hanya akan menjadi benar pada kondisi yang khusus
misalnya dalam hampa udara (Darmodjo, 1986).
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) secara umum meliputi tiga bidang ilmu dasar,
yaitu fisika, biologi, dan kimia. IPA hakikatnya merupakan suatu produk, proses, dan
aplikasi. Sebagai produk IPA merupakan sekumpulan pengetahuan dan sekumpulan
konsep dan bagan konsep. Sebagai suatu proses, IPA merupakan proses yang

7
dipergunakan untuk mempelajari objek studi, menemukan, dan mengembangkan
produk-produk sains, dan sebagai aplikasi, teori IPA akan melahirkan teknologi yang
dapat memberi kemudahan bagi kehidupan (Laksmi Prihantono, dkk, dalam Trianto,
2010: 137). Abruscato (1996) dalam bukunya yang berjudul “Teaching Children
Science” mendefinisikan tentang IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) sebagai pengetahuan
yang diperoleh lewat serangkaian proses yang sistematik guna mengungkap segala
sesuatu yang berkaitan dengan alam semesta. “The Harper Encyclopedia of Science”
mendefinsikan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) sebagai suatu pengetahuan dan
pendapat yang tersusun dan didukung secara sistematis oleh bukti-bukti yang dapat
diamati. Sedangkan Tedjo Susanto (2011: 89), mengemukakan bahwa pengertian
sains mencakup tiga aspek, diantaranya:
a. Scientific attitudes adalah keyakinan, nilai-nilai, pendapat/gagasan,
objektif, dan sebagainya. Misalnya membuat keputusan setelah
memperoleh cukup data yang berkaitan dengan masalahnya secara selalu
berusaha objektif, jujur, dan lain-lain.
b. Scientific processes (metode ilmiah), adalah cara khusus dalam
penyelidikan untuk memecahkan suatu masalah. Misalnya membuat
hipotesis, merancang dan melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data,
menyusun data, mengevaluasi data, mengukur, dan sebagainya.
c. Scientific products (produk ilmiah), berupa fakta, konsep, prinsip, hukum,
teori, dan lain-lain. Collete & Chiapetta (1994: 30) menyatakan bahwa
sains merupakan suatu cara berpikir dalam upaya penyelidikan tentang
gejala alam, dan sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang didapatkan dari
proses penyelidikan. IPA sebagai cara berpikir (a way of thinking) ditandai
oleh adanya proses berpikir untuk memberikan gambaran tentang rasa
keingintahuannya tentang fenomena alam. IPA sebagai cara penyelidikian
(a way of investigating) ditandai dengan penggunaan metode ilmiah dalam
memahami gejala-gejala alam dan segala hal yang terlibat di dalamnya.
IPA sebagai kumpulan pengetahuan (a body of knowledge) ditandai dengan
keberadaan fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan model.

8
Berdasarkan dari beberapa definisi hakikat IPA, maka dapat disimpulkan
bahwa IPA adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai gejala-gejala alam
melalui serangkaian proses yang dikenal dengan proses ilmiah. Proses ilmiah ini
dibangun atas dasar sikap ilmiah dan hasilnya terwujud sebagai produk ilmiah yang
tersusun atas tiga komponen yaitu sebagai produk, proses, dan aplikasi. IPA sebagai
produk dan proses untuk menghasilkan sikap ilmiah hingga dapat
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pengetahuan yang dimiki
dan mampu melakukan kerja ilmiah yang diiringi sikap ilmiah maka dapat diperoleh
produk IPA yang berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan model.

Sains sebagai Cara Berpikir

Collete & Chiapetta (1994: 30) menyatakan bahwa sains merupakan suatu cara
berpikir dalam upaya penyelidikan tentang gejala alam, dan sebagai suatu kumpulan
pengetahuan yang didapatkan dari proses penyelidikan. IPA sebagai cara berpikir (a
way of thinking) ditandai oleh adanya proses berpikir untuk memberikan gambaran
tentang rasa keingintahuannya tentang fenomena alam. IPA sebagai cara
penyelidikian (a way of investigating) ditandai dengan penggunaan metode ilmiah
dalam memahami gejala-gejala alam dan segala hal yang terlibat di dalamnya. IPA
sebagai kumpulan pengetahuan (a body of knowledge) ditandai dengan keberadaan
fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan model.
IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) merupakan aktivitas manusia yang dicirikan
oleh adanya proses berpikir yang terjadi di dalam pikiran siapapun yang terlibat di
dalamnya. Pekerjaan para ilmuwan yang berkaitan dengan akal, menggambarkan
keingintahuan manusia, dan keinginan mereka untuk memahami gejala alam. Masing-
masing ilmuwan memiliki sikap, keyakinan, dan nilai-nilai yang memotivasi mereka
untuk memecahkan persoalan-persoalan yang mereka temui di alam. Ilmuwan
digerakkan oleh rasa keingintahuan yang sangat besar, imajinasi, dan pemikiran
dalam penyelidikan mereka untuk memahami dan menjelaskan fenomena-fenomena
alam.

9
Sains sebagai Cara Penyelidikan

Penyelidikan atau research dalam bahasa inggris ada dua istilah, yaitu re
bermaksud kembali dan search bermaksud menemukan. Berdasarkan ini juga
Wiersma (1991) menjelaskan bahwa secara umum asas penyelidikan meliputi ciri
berikut yaitu bersistematik, menghasilkan pengetahun yang sah, bersifat objektif dan
data yang impirikal.

Sains sebagai proses atau metode penyelidikan (inquiry methods) meliputi cara
berpikir, sikap, dan langkah-langkah kegiatan saintis untuk memperoleh produk-
produk sains atau ilmu pengetahuan ilmiah, misalnya observasi, pengukuran,
merumuskan dan menguji hipotesis, mengumpulkan data, bereksperimen, dan
prediksi. Dalam konteks itu, sains bukan sekadar cara bekerja, melihat, dan cara
berpikir, melainkan ‘science as a way of knowing’. Artinya, sains sebagai proses juga
dapat meliputi kecenderungan sikap atau tindakan, keingintahuan, kebiasaan berpikir,
dan seperangkat prosedur. Sementara nilai-nilai IPA berhubungan dengan tanggung
jawab moral, nilai-nilai sosial, manfaat IPA untuk IPA dan kehidupan manusia, serta
sikap dan tindakan (misalnya, keingintahuan, kejujuran, ketelitian, ketekunan, hati-
hati, toleran, hemat, dan pengambilan keputusan).

Asas utama menghasilkan ilmu dan sains ialah melalui cara ilmiah dan bukan
ilmiah. Cara ilmiah yaitu dengan penyelidikan sedangkan bukan ilmiah, seperti
melalui sumber wahyu, intuisi, dan spekulasi. Menurut Nazir (1985) jenis
penyelidikan berdasarkan kepada tujuannya boleh dibagikan kepada dua kategori
utama, yaitu:
1. Penyelidikan dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu
pegetahuan. Jenis penyelidikan ini tidak berorientasi pada hasil yang dapat
dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan masalah yang mendesak.
2. Penyelidikan terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan masalah
mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan
praktis. Salah satu dari penyelidikan terapan adalah penyelidikan tindakan
(action research). Penyelidikan ini dilakukan oleh guru atau pengurus atau

10
pertadbir bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup
tempatan. Penyelidikan ini tidak banyak menuntut untuk pengkaji melakukan
generalisasi.

Cara penyelidikan IPA :


1. Observasi (observation); diperoleh fakta dan diolag menjadi hsil observasi.
2. Eksperimen (eksperimentation); harus diikuti observasi dengan teliti dan
cermat agar diperoleh data yang akurat.
3. Matematika (Mathematic); diperlukan untuk menyatakan hubungan antar
variabel dalam hukum dan teori, serta penting untuk membuat model.

Teknologi Sains

Teknologi berasal dari kata techne dan logia, kata Yunani Kuno techne berarti
seni kerajinan. Dari kata techne, kemudian lahirlah perkataan technikos yang berarti
orang yang memiliki keahlian tertentu. Diungkapkan Jacques Ellul dalam tulisannya
berjudul The Technological Society tidak mengatakan teknologi tetapi teknik, meski
arti dan maksudnya sama. Teknologi memperlihatkan fenomena dalam masyarakat
sebagai hal inpersonal dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan
manusia menjadi lingkup teknis. Pengertian teknologi sendiri sangat luas dan
beragam. eLlul (1976: xxv) medefinisikan teknologi sebagai “keseluruhan metode
yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang
kegiatan manusia.” Dengan demikian teknologi pendidikan harus pula memiliki cirri
efisiensi itu. (S Nasution, 1986)
Teknologi pendidikan adalah pengembangan, pemanfaatan dan penilaian
system, teknik, dan bantuan untuk memperbaiki proses belajar pada manusia.
(Council for Education Technologi for the United Kingdom, dikutip oleh Ellington,
1986). Teknologi pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan usaha
memudahkan proses belajar dengan ciri-ciri:

11
1) Memberikan perhatian khusus dan pelayanan pada kebutuhan yang unik dari
masing-masing sasaran didik,
2) Menggunakan aneka ragam dan sebanyak mungkin sumber belajar,
3) Menerapkan pendidikan system. (Lokakarya Nasional Teknologi Pendidikan,
Yogyakarta, 1980).

Peran sains dalam peri kehidupan masyarakat menimbulkan dampak sosial


yang sangat mendalam dengan timbulnya kapitalisme, sosialisme bahkan
imperialisme. Pada abad ke-20 ini justru kekuatan-kekuatan sosial itulah yang
nampaknya lebih besar pengaruhnya terhadap perkembangan sains.

Pada abad ke-20 disebut juga sebagai revolusi bagi ilmu pengetahuan karena
begitu pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini. Hal ini mungkin
disebabkan oleh adanya perpaduan antara ilmu pengetahuan dan teknologi serta
ditunjang oleh kepentingan kelompok sosial yang berkuasa. Pada abad-abad
sebelumnya antara ilmu pengetahuan dan teknologi berjalan sendiri-sendiri, seperti
pada abad ke-16 teknologi lahir lebih dahulu sebelum sains lahir. Perkembangan
teknologi ini mencakup bidang pertanian, kedokteran, dan mechanical arts yang
sekarang disebut engineering. (Mawardi, 2000)

Dalam tahap berikutnya perkembangan sains mendahului teknologi.Misalnya,


penggambaran sifat mesin secara termodinamika oleh Slausius dan Kelvin, kurang
lebih 75 tahun setelah penemuan mesin uap oleh James Watt. Juga pemanfaatan
gelombang elektromagnetik dalam teknologi komunikasi.Hal ini disebabkan oleh
kemajuan teknologi menghasilkan permasalahan yang pemecahannya memerlukan
pendekatan ilmiah atau metode ilmiah yang meruapakan salah satu ciri dari sains.
Dengan kata lain, sains mendorong berkembangnya teknologi. Pada abad ke-20
kemajuan teknologi ditunjang oleh metode ilmiah yang metodis, empiris dan
sistematis bukan atas dasar keyakinan dan coba-coba. (Maawardi, 2000)

Selaian bermanfaat untuk mensejahterakan masyarakat, ternyata kemajuan


teknologi sains dapat menghancurkan kelompok-kelompok kecil seperti bom atom
yang hanya dalam jangka waktu beberapa saat saja dapat membunuh jutaan manusia.

12
Secara lengkap teknologi adalah pemanfaatan ilmu untuk memecahkan suatu masalah
dengan cara mengerahkan semua alat yang sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan
skala nilai yang ada. (Darmodjo, 1986)

Masyarakat

Menurut Istilah masyarakat berasal dari kata musyarak yang berasal dari
bahasa arab yang memiliki arti ikut serta atau berpartisipasi, sedangkan dalam bahasa
inggris disebut society. Sehingga bisa dikatakan bahwa masyarakat adalah
sekumpulan manusia yang berinteraksi dalam suatu hubungan sosial. Mereka
mempunyai kesamaan budaya, wilayah, dan identitas.

Dikutip dari Syafrudin (2009) Definisi masyarakat terdiri dari :


1). Menurut Linton (ahli antropologi)
Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup bekerja
sama sehingga dapat mengorganisasi dirinya dan berfikir tentang dirinya sebagai
satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.
2). Menurut MJ. Herskovits
Masyarakat adalah kelompok individu yang dikoordinasikan dan mengikuti satu
cara hidup tertentu.
3). Menurut JL. Jillin dan JP. Jillin
Masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar mempunyai kebiasaan tradisi
sikap dan perasaan persatuan yang sama.
4). Menurut Prof. DR. Koentjoroningrat
Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu
sistem adat istiadat tertentu yang berkesinambungan dan terikat oleh suatu rasa
identitas bersama.
5). Menurut R. Linton
Setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga
mereka ini dapat mengorganisasikan dalam kesatuan sosial dengan batas-batas
tertentu.

13
Ciri- ciri masyarakat antara lain adalah adanya Interaksi antar warga, adanya adat
istiadat, norma hukum dan aturan khas yang mengatur seluruh penduduk warga kota
atau desa, adanya satuan komunitas dalam wilayah, dan adanya satuan rasa identitas
kuat yang mengikat semua warga.

Keterkaitan antara sains, Teknologi, dan Masyarakat

Pada abad ke-20 disebut juga sebagai abad revolusi ilmu pengetahuan karena
begitu cepatnya proses perkembangan ilmu pengetahuan alam (sains) pada abad ini.
Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya perpaduan antara IPA dan teknologi serta
ditunjang oleh kepentingan kelompok sosial yang berkuasa. Bila kita menengok
sejarah perkembangan IPA maka memang demikianlah halnya, yaitu antara IPA dan
teknologi itu berjalan sendiri-sendiri, bahkan sebenarnya teknologi yang sebenarnya
mendahului. Pada abad ke 16 orang telah membuat kapal – kapal layar yang besar
untuk mengarungi samudra sedangkan IPA belum lahir. Pada abad ke 20 kemajuan
teknologi didukung oleh meode ilmiah yang metodis, empiris dan sistematis, dan
bukan atas dasar keyakinan coba-coba. Adapun kelompok-kelompok sosial
menggunakan IPA untuk memperkokoh posisinya (Darmodjo,1986)

Teknologi lahir karena adanya kebutuhan manusia pada zaman purba.


Meskipun secara sederhana mereka membuat alat-alat yang hasilnya dapat mereka
gunakan untuk memudahkan pekerjaan mereka atau meningkatkan hasil kerja
mereka. Hal ini berarti mereka telah melakukan kegiatan atau proses yang
menghasilkan produk yakni alat–alat dan dapat digunakan untuk meningkatkan
efisiensi serta memberikan kemudahan bagi pelaksanaan pekerjaan mereka. Di lain
pihak sains berawal dari sifat ingin tahu manusia. Observasi yang sistematis terhadap
peristiwa alam serta pemikiran atau perenungan tentang sebab- sebab terjadinya
peristiwa alam ini telah melahirkan “pendapat sementara” yang pada zamannya telah
dianut sebagian besar masyarakat (Podjiadi, 2010)

Widyatiningtyas, 2009 yang menyatakan bahwa “sains merupakan suatu


tubuh pengetahuan dan proses penemuan pengetahuan. Teknologi merupakan suatu

14
perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan
masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sedangkan masyarakat adalah
sekelompok manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma-norma sosial
tertentu”. Pada hakekatnya sains merupakan sebuah produk dan proses. Sains
melandasi perkembangan teknologi, sedangkan teknologi menunjang perkembangan
sains. Pada umumnya sains digunakan untuk aktivitas dalam upaya memperoleh
penjelasan tentang objek dan fenomena alam. Sedangkan teknologi merupakan
aplikasi sains yang dapat dijadikan upaya untuk mendapatkan suatu produk yang
dilakukan oleh manusia dengan memanfaatkan perangkat-perangkat atau peralatan,
proses dan sumberdayanya.

Konsep sains, teori serta hukum yang dikemukakan oleh para ilmuwan
membawa dampak pada penemuan teknologi. Penemuan teknologi ini berwujud pada
terciptanya alat – alat baru maupun penyempurnaan dari alat – alat lama. Penemuan
atau penyempurnaan alat – alat ini berdampak pula pada penemuan dan
perkembangan sains. Jadi meskipun sains itu berbeda dengan teknologi, namun antara
sains dan teknologi terdapat kaitan yang erat. Ada kalanya teknologi merupakan
pemicu perkembangan sains dan ada kalanya pula perkembangan sains berdampak
terciptanya kemajuan teknologi.

Kaitannya teknologi dan masyarakat yaitu teknologi lahir oleh adanya


kebutuhan masyarakat. Penggunaan produk teknologi memerlukan kesiapan
masyarakat pengguna produk tersebut. Apabila masyarakat pengguna kurang siap,
maka kegunaan atau manfaat suatu produk teknologi akan kurang optimal. Hal ini
berarti tujuan diciptakannya produk teknologi tersebut tidak tercapai. Kesiapan yang
harus dimiliki oleh pengguna suatu produk teknologi ialah kesiapan pengetahuan
tentang produk tersebut dan kesiapan mental untuk tidak menngunakan produk
teknologi untuk tujuan yang dampaknya merugikan orang lain. Penyalahgunaan suatu
produk teknologi dapat menimbulkan dampak yang negatif. Misalnya penggunaan
peswat terbang untuk menghancurkan gedung world Trade Center di kota New York.

15
Oleh karena itu, dampak positfi maupun negatif kemajuan teknologi perlu diantisipasi
oleh masyarakat yang menggunakan produknya.

Sains merupakan komponen yang dapat membantu kesiapan pengetahuan


masyarakat tentang produk teknologi. Disamping itu sains berperan dalam
meningkatkan pengetahuan masayarakat tentang penggunaan sumber daya alam atau
meningkatkan pemahaman masyarakat tentang gejala alam dalam kehidupan sehari –
hari mereka. Sains yang berkaiatan dengan ekosistem dalam kehidupan manusia
seelalu diperlukan agar manusia memiliki kesiapan pengetahuan dan akan memiliki
kepedulian terhadap lingkungannya. Selain itu bagi para pengambil keputusan
terhadap hal – hal yang berkaitan dengan ketersediaan dan kebermanfaatan sumber
daya alam bagi kesejahteraan masyarakat, sains merupakan referensi yang berguna.
Dapat disimpulkan bahwa sains yang dipahami dan dihayati peranannya dalam
kehidupan masyarakat akan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap
lingkungannya yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan kesejahteraan bersama.
(Podjiadi, 2010)

16
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan makalah diatas dapat disimpulkan bahwa :

1. Sains merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan para saintis dalam
memperoleh pengetahuan dan sikap terhadap proses kegiataan tersebut. Sains
didasarkan pula pada pendekatan empirik dengan assumsi bahwa alam raya ini
dapat dipelajari, dipahami, dan dijelaskan yang semata-mata tidak bergantung
pada metoda kausalitas tetapi melalui proses tertentu.
2. Objek pengetahuan sains meliputi semua objek yang empiris. Objek-objek
yang dapat diteliti sains seperti alam, tumbuhan, hewan, dan manusia serta
kejadian di sekitar alam, tumbuhan, hewan, dan manusia. Dari penelitian
itulah muncul teori-teori sains.
3. Tiga karakteristik sains antara lain, memandang bahwa setiap orang
mempunyai kewenangan untuk menguji validitas (kesahihan) prinsip dan teori
ilmiah, memberi pengertian adanya hubungan antara fakta-fakta yang di
observasi yang memungkinkan penyusunan prediksi sebelum sampai pada
kesimpulan, dan memberi makna bahwa teori Sains bukanlah kebenaran yang
akhir tetapi akan berubah atas dasar perangkat pendukung teori tersebut.
4. Sains sebagai kumpulan pengetahuan sama dengan sains sebagai produk.
Menurut Asy’ari (2006), sains sebagai produk merupakan kumpulan
pengetahuan yang tersusun dalam bentuk fakta, konsep, prinsip, hukum dan
teori. Iskandar (1997) menyatakan bahwa fakta adalah pernyataan-pernyataan
tentang benda-benda yang benar-benar ada, atau peristiwa-peristiwa yang
benar-benar terjadi dan sudah dikonfirmasi secara objektif.
5. IPA merupakan akivitas yang ditandai dengan proses berfikir yang
berlangsung didalam pikiran. Kegiatan berfikir mengambarkan tentang rasa
ingin tahu dan hasrat untuk memahami fenome alam

17
6. Sains sebagai proses atau metode penyelidikan (inquiry methods) meliputi cara
berpikir, sikap, dan langkah-langkah kegiatan saintis untuk memperoleh
produk-produk sains atau ilmu pengetahuan ilmiah, misalnya observasi,
pengukuran, merumuskan dan menguji hipotesis, mengumpulkan data,
bereksperimen, dan prediksi.
7. Teknologi pendidikan yaitu pengembangan, pemanfaatan dan penilaian
system, teknik, dan bantuan untuk memperbaiki proses belajar pada manusia.
8. Masyarakat ialah sekumpulan manusia yang berinteraksi dalam suatu
hubungan sosial. Mereka mempunyai kesamaan budaya, wilayah, dan
identitas.
9. Sains merupakan komponen yang dapat membantu kesiapan pengetahuan
masyarakat tentang produk teknologi. Sains juga berperan dalam
meningkatkan pengetahuan masayarakat tentang penggunaan sumber daya
alam atau meningkatkan pemahaman masyarakat tentang gejala alam dalam
kehidupan sehari – hari mereka.

18
DAFTAR PUSTAKA
Abruscato, J. 1982. Teaching Modern Science. USA: Prentice Hall Inc.
Abruscato, Joseph and DeRosa Donald A. 2010. Teaching Children Science a
Discovery Approach (7th edition). Boston: Allyn & Bacon
Ahmad Tafsir. 2010. Filsafat Mengurai Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi
Pengetahuan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Ali Nugraha. 2008. Pengembangan Pembelajaran Sains pada Anak Usia Dini.
Bandung: JILSI Foundation.
Asy’ari, Maslichah. 2006. Penerapan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat
dalam Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar.Yogyakarta: Universita
Sanata Dharma
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). 2006. Standat Isi Pengetahuan Alam
SD/MI. Jakarta : Depdiknas.
Collette, A.T. & Chiappetta, E.L. 1994. Science Instruction in the Middle and
Secondary Schools (3rd ed). New York: Merrill
Darmodjo, Hendra. 1986. Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Karunika,
Universitas Terbuka
Darmojo, Hendro, and Jenny RE Kaligis. 1992. Pendidikan IPA II. Jakarta:
Depdikbud
Djohar, Tedjo Susanto dan Suhardi. 1980. Pendidikan Sains. Yogyakarta: IKIP
Yogyakarta
Iskandar, Srini M. 1997. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: DIKTI
Harlen, W. and Holroyd, C., 1997. Primary teachers’ understanding of concepts of
science: Impact on confidence and teaching. International journal of science
education, 19(1), pp.93-105.
Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II. 1994. Kurikulum Untuk Abad Ke-21.
Jakarta : Grasindo.
MA, S Nasution.1986. Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Alumni..
Mawardi, Nur H. 2000. Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya
Dasar. Bandung: Rosdakarya.

19
Nazir, Moh. 1985. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Newman, James R. (Editor). 1963. The Harper Encyclopedia of Science and
Technology. USA: Mc Graw-Hill Book Company Inc.
Prasetyo, Zuhdan K. 2004. Kapita Selekta Pembelajaran Fisika edisi Kedua.
Jakarta: Universitas Terbuka.
Podjiadi, Anna. 2010. Sains Teknologi Masyarakat. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Poedjiadi, A. 1987. Sejarah dan filsafat sains. Bandung : Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan, Fakultas Pasca Sarjana, IKIP Bandung.
Ross, R. and Van den Haag, E., 1962. Symbols & civilization: Science, morals,
religion, art. New York, NY: Harcourt, Brace & World.
Rustaman, Nuryani Y dkk. 2003. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Jakarta:
Universitas Pendidikan Indonesia.
Suriasumantri, Jujun S. Filsafat ilmu: Sebuah pengantar populer. Sinar Harapan,
1984.
Syafrudin. 2009. Sosial Budaya Dasar. Jakarta: TIM.
Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara
Trowbridge, L.W. & Bybee, R. W. 1990. Becoming A Secondary School Science
Teacher 5 the ed. Columbus : Merril Publishing Company.
Widowati, Asri. 2008. Diktat Pendidikan Sains. Yogyakarta: FMIPA UNY.
Widyatiningtyas, Reviandari. 2009. Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologi
dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA. EDUCARE: Jurnal
Pendidikan dan Budaya. http://educare.e-fkipunla.net. Diakses 28 Januari
2017.
Wiersma, W. 1991. Research methods in education. 5th ed. Boston: Allyn &
Bacon.
Wonorahardjo, Surjani. 2010. Dasar-Dasar SAINS. Jakarta : Indeks.

20