Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mikroorganisme


patogen yang dikenal dengan nama Leptosira Interrogans . Penyakit ini pertama kali
dikemukakan oleh Weil pada tahun 1886 sebagai penyakit yang berbeda dengan
penyakit lain yang juga ditandai oleh ikterus. Gejala penyakit ini sangat bervariasi
mulai dari gejala infeksi ringan sampai dengan gejala infeksi berat dan fatal. Dalam
bentuk ringan, leptospirosis dapat menampilkan gejala seperti influenza disertai nyeri
kepala dan mialgia. Dalam bentuk parah (disebut sebagai Weil’s syndrome),
leptospirosis secara khas menampilkan gejala ikterus, disfungsi renal, dan diatesis
hemoragika.

Diagnosis leptospirosis seringkali terlewatkan sebab gejala klinis penyakit ini


tidak spesifik dan sulit dilakukan konfirmasi diagnosis tanpa uji laboratorium. Dalam
dekade belakangan ini, kejadian luar biasa leptospirosis di beberapa negara, seperti
Asia, Amerika Selatan dan Tengah, serta Amerika Serikat menjadikan penyakit ini
termasuk dalam the emerging infectious diseases.

1
BAB II
PEMBAHASAN

Leptospirosis adalah uatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh


mikroorganisme Leptospira interorgans tanpa memandang bentuk spesifik
serotipenya. Penyakit ini pertama sekali dikemukakan oleh Weil pada tahun 1886
yang membedakan penyakit yang disertai dengan ikterus ini dengan penyakit lain
yang juga menyebabkan ikterus. Bentuk yang beratnya dikenal sebagai Weil’s
Disease. Penyakit ini dikenal dengan berbagai nama seperti mud fever, slime fever,
swamp fever, autumnal fever, infectious jaundice, field fever, cane cutter fever, dan
lain-lain.(1-3)

Etiologi Leptospirosis
Leptospirosis disebabkan oleh genus leptospira, family treponemataceae, suatu
mikororganisme spirochaeta. Ciri khas organism ini yakni berbelit,
tipis,fleksibel,panjangnya 5-15 um, dengan spiral yang sangat halus, letaknya 0,-0,2
um. Salah satu ujung organism sering membengkak, membentuk suatu kait. Terdapat
gerak rotasi aktif, tetapi tidak ditemukan adanya flagella. Sprichaeta ini demikian
halus sehingga dalam mikroskop lapangan gelap hanya dapat terlihat sebagai rantai
kokus kecil-kecil. Dengan pemeriksaan lapangan redup pada mikroskop biasa
morfologi leptospira secara umum dapat dilihat. Untuk mengamati lebih jelas gerakan
leptospira digunakan mikroskop lapangan gelap (darkfield microscope). Leptospira
membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk membuat kultur yang positif. Dengan
medium Fletcher’s dapat tumbuh dengan baik sebagai obligat aerob. Secara
sederhana , genus leptospira terdiri atas dua spsies : L.interrorgans yang pathogen dan
l.biflexa yang non pathogen/ saprofit. Tujuh spesies dari leptospira pathogen sekarang
ini telah diketahui dasar ikatan DNA-nya, namun lebih praktis dalam klinik dan
epidemiologi menggunakan klasifikasi yang didasarkan atas perbedaan serologis.
Spesies L.interrogans dibagi menjadi beberapa serogrup dan serogrup ini dibagi
menjadi banyak serovar menurut komposisi antigennya. Saat ini telah ditemukan

2
lebih dari 250 serovar yang tergabung dalam 23 serogrup.Menurut beberapa peneliti
yang sering menginfeksi manusia ialah L.icterohaemorrhagica dengan reservoir tikus,
L.canicola dengan reservoir anjing dan L.pamona dengan reservoir sapi dan babi. (1-3)

Epidemiologi Leptospirosis
Lepstospirosis tersebar di seluruh dunia, disemua benua kecuali benua
Antartika, namun terbanyak didapati daerah tropis. Leptospira bisa terdapat pada
binatang piaraan seperti anjing,babi,lembu,kuda,kucing,marmot,atau binatang-
binatang pengerat lainnya seperti tupai,musang,kelelawar, dan lain sebagainya. Di
dalam tubuh binatang tersebut, leptospira hidup di dalam ginjal/air kemihnya. Tikus
merupakan vector yang utama dari L.Icterohaemorrhagica penyebab leptospirosis
pada manusia. Dalam tubuh tikus, leptospira akan menetap dan membentuk koloni
serta berkembang biak di dalam epitel tubulus ginjal tikus dan secara terus-menerus
dan ikut mengalir dalam filtrate urine. Penyakit ini bersifat musiman, di daerah
beriklim sedang masa puncak insidens dijumpai pada musim panas dan musim gugur
karena temperature adalah faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup leptospira,
sedangkan didaerah tropis insidens tertinggi terjadi selama musim hujan.
Lepstospirosis mengenai paling kurang 160 spesies mamalia. Ada berbagai jenis
penjamu dari leptospira, mulai dari mamalia landak, kelinci, tikus sawah, tikus
rumah, tupai, musang, sampai yang berukuran kecil di mana manusia dapat kontak
dengannya, misalnya dengan reptile (berbagai jenis katak dan ular),
babi,sapi,kucing,dan anjing. Binatang pengerat terutama tikus merupakan reservoir
paling banyak. Leptospira membentuk hubungan simbiosis dengan pejamunya dan
dapat menetap dalam tubulus renalis selama berbulan-bulan bahkan bertahun-
yahun.Beberapa reservoir berhubungan dengan binatang tertentu, seperti
L.icterohaemorragic/copenhageni dengan tikus, L.grippotyphosa dengan voles(sejenis
tikus), L.harjo dengan sapi, L.canicola dengan anjing dan L.pomona dengan babi. (1-3)

3
International Leptospirosis Society menyatakan Indonesia sebagai Negara
dengan insidens leptospirosis tinggi dan peringkat ketiga di dunia untuk mortalitas.
Di Indonesia Leptospirosis ditemukan di DKI Jakarta, jawa barat, Jawa tengah, DI
Yogyakarta, Lampung, Sumatra Selatan, Bengkulu, Riau, Sumatra Barat, Sumatra
Utara, Bali, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur , dan
Kalimantan Barat. Pada kejadian banjir besar di Jakarta tahun 2002, dilaporkan lebih
dari seratus kasus leptospirosis dengan 20 kematian. (1-3)
Salah satu kendala dalam menangani leptospirosis berupa kesulitan dalam
melakukan diagnostic awal. Sementara dengan pemeriksaan sederhana memakai
mikroskop biasa dapat dideteksi adanya gerakan leptospira dalam urine. Diagnostik
pasti ditegakkan dengan ditemukannya leptospira pada daerah atau urine atau
ditemukannya hasil serologi positif. Untuk dapat berkembang biaknya leptospira
memerlukan lingkungan optimal serta tergantung pada suhu yang lembaba, hangat,
PH air/tanah yang netral, dimana kondisi ini ditemukan sepanjang tahun di daerah
tropis. (1-3)

Penularan Leptospirosis
Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dengan air, atau tanah, lumpur yang
telah terkontaminasi oleh urine binatang yang telah terinfeksi leptospira. Infeksi
tersebut terjadi jika luka/erosi pada kulit ataupun selaput lender. Air tergenang atau
mengalir lambat yang terkontaminasi urine binatang infeksius memainkan peranan
dalam penularan penyakit ini, bahkan air yang deraspun dapat berperan. Kadang-
kadang penyakit ini terjadi akibat gigitan binatang yang sebelumnya terinfeksi
leptospira atau kontak dengan kultur leptospira di laboratorium. Ekspos yang lama
pada genangan air yang terkontaminasi terhadap kulit yang utuh juga dapat
menularkan leptospira. Orang-orang yang mempunyai resiko tinggi mendapat
penyakit ini adalah pekerja-pekerja di sawah, pertanian, perkebunan, perternakan,
pekerja tambang, pekerja di rumah potong hewan atau orang-orang yang mengadakan
perkemahan di hutan, dokter hewan. (1-3)

4
Patogenesis
Patogenesis leptospirosis tidak sepenuhnya dipahami. Leptospira masuk host
melalui lecet (abrasi) di kulit atau melalui membrane mukosa yang utuh, terutama
konjungtiva dan lapisan nasofaring oro-dan. Minum air yang terkontaminasi dapat
memperkenalkan leptospira melalui mulut, tenggorokan, atau kerongkongan. Setelah
masuknya organisme, leptospiremia berkembang, dengan penyebaran berikutnya
adalah ke seluruh organ. Perkembangan berlangsung dalam darah dan jaringan, dan
leptospira dapat terisolasi dari darah dan cairan cerebrospinal (CSF) selama 4-10 hari
pertama sakit. Pemeriksaan CSF selama periode ini menggambarkan pleositosis
dalam sebagian besar kasus, tetapi hanya sebagian kecil pasien memiliki gejala dan
tanda meningitis pada saat ini. Semua bentuk leptospira dapat merusak dinding
pembuluh darah kecil, kerusakan ini menyebabkan vaskulitis dengan kebocoran dan
ekstravasasi sel, termasuk perdarahan. Sifat patogenik yang paling penting dari
leptospira adalah adhesi pada permukaan sel dan toksisitas selular. (1-3)
Vaskulitis berperan atas manifestasi yang paling penting dari penyakit.
Meskipun leptospira terutama menginfeksi ginjal dan hati, setiap organ mungkin akan
terpengaruh. Di ginjal, leptospira bermigrasi ke interstitium, tubulus ginjal, dan
lumen tubular, menyebabkan nefritis interstitial dan nekrosis tubular. Hipovolemia
karena dehidrasi atau perubahan permeabilitas kapiler dapat berkontribusi untuk
perkembangan gagal ginjal. Dalam hati, nekrosis centrilobular dengan proliferasi sel
Kupffer dapat ditemukan. Namun, nekrosis hepatoseluler berat bukan merupakan
gambaran leptospirosis. Keterlibatan paru adalah akibat dari perdarahan, bukan dari
peradangan. Invasi otot rangka oleh leptospira menyebabkan pembengkakan,
vakuolasi dari miofibril, dan nekrosis focal. Pada leptospirosis berat, vaskulitis pada
akhirnya dapat merusak mikrosirkulasi dan meningkatkan permeabilitas kapiler,
sehingga kebocoran cairan dan hipovolemia. (1-3)
Ketika antibodi terbentuk, leptospira dikeluarkan dari semua tempat di host
kecuali mata, tubulus ginjal proksimal, dan mungkin otak, di mana mereka dapat
bertahan selama beberapa minggu atau bulan. Ketahanan leptospira di aqueous humor
kadang-kadang menyebabkan kronis atau uveitis berulang. Respon imun sistemik

5
efektif dalam menghilangkan organisme tetapi juga dapat menghasilkan gejala reaksi
inflamasi. Kenaikan titer antibodi bersamaan dengan perkembangan meningitis,
hubungan ini menunjukkan bahwa mekanisme imunologi bertanggung jawab. (1-3)
Setelah memulai pengobatan antimikroba terhadap leptospirosis, reaksi
Jarisch-Herxheimer sama dengan yang terlihat pada penyakit spirochetal lainnya
dapat berkembang. Meskipun sering digambarkan dalam publikasi yang lebih tua,
reaksi ini tampaknya menjadi peristiwa langka di leptospirosis dan tentu saja kurang
sering pada infeksi ini daripada di spirochetal penyakit lainnya.

Manifestasi Klinis
Leptospirosis biasanya asimtomatis. Periode inkubasi 2-20 hari tapi biasanya 1-
2 minggu. Biasanya, fase leptospiremia akut diikuti fase leptospiremia imun.
Perbedaan fase pertama dan fase kedua tidak jelas, kasus yang lebih ringan tidak
selalu masuk ke fase kedua. (1-3)
Anicteric Leptospirosis
Leptospirosis dapat terlihat sebagai acute influenza-like illness, dengan
demam, menggigil, sakit kepala yang parah, mual, muntah dan myalgia. Nyeri
otot, yang terutama mengenai betis, punggung dan abdomen adalah gambaran
penting dari infeksi leptospira. Gambaran yang kurang umum termasuk sakit
tenggorokan dan ruam. Pasien biasanya memiliki sakit kepala yang terus
menerus ( frontal atau retroorbital ) dan terkadang menjadi fotofobia. Mungkin
ada mental confusion. Keterlibatan dari system pulmonal bermanifestasi pada
kebanyakan kasus dengan tanda-tanda yaitu batuk dan nyeri dada dan bahkan
pada beberapa kasus terdapat hemoptosis dan hal ini jarang terjadi. Hal yang
banyak ditemukan pada pemeriksaan fisik adalah demam dengan conjunctival
suffusion. Yang jarang ditemukan adalah nyeri tekan otot, limfadenopati,
faringeal injeksi, ruam, hepatomegaly dan splenomegaly. Ruamnya dapat
makular, makulopopular, eritematous, urtikaria, atau hemoragik. Mungkin juga
terdapat jaundice yang ringan. (1-3)

6
Kebanyakan pasien menjadi asimtomatik dalam waktu 1 minggu.
Setelah selang waktu 1-3 hari, penyakitnya kambuh dalam beberapa kasus.
Awal mula fase kedua (imun) ini bertepatan dengan pembentukan antibodi.
Gejalanya lebih bervariasi daripada fase pertama ( leptospiremic ). Biasanya
gejala berlangsung selama beberapa hari, tapi kadang-kadang tetap ada selama
beberapa minggu. Seringkali demam dan mialgia kurang menonjol daripada di
fase leptospiremic. Peristiwa penting selama fase imun adalah terjadinya
meningitis aseptik. Meskipun tidak lebih dari 15 % dari semua pasien
memiliki gejala dan tanda-tanda meningitis, banyak pasien memiliki CSF
pleositosis. Gejala meningeal biasanya hilang dalam beberapa hari tetapi
dapat bertahan selama berminggu-minggu. Demikian pula, pleositosis
umumnya menghilang dalam waktu 2 minggu tapi kadang-kadang
berlangsung selama berbulan-bulan. Aseptic meningitis lebih sering terjadi
pada anak-anak daripada orang dewasa. Iritis, iridosiklitis, dan komplikasi
chorioretinitis yang dapat bertahan selama bertahun-tahun bisa menjadi jelas
pada awal minggu ketiga tapi sering muncul beberapa bulan setelah awal mula
penyakit. Salah satu epidemi uveitis antara pasien dengan leptospirosis. (1-3)

Severe Leptosirosis (Sindrom Weil)


Sindrom Weil, bentuk yang paling parah leptospirosis , ditandai dengan
ikterus , disfungsi ginjal, dan diatesis hemoragik, dengan keterlibatan paru
dalam banyak kasus, dan dengan tingkat kematian 5-15 %. Onset penyakit tidak
berbeda dari yang leptospirosis anikterik , namun setelah 4-9 hari, jaundice
serta disfungsi ginjal dan pembuluh darah umumnya muncul . Meskipun
beberapa derajat penurunan suhu badan sampai yg normal dapat dicatat setelah
minggu pertama penyakit , pola penyakit bifasik seperti yang terlihat pada
leptospirosis anicteric kurang terlihat . Penyakit kuning sindrom Weil, yang
parah dan menyebabkan warna seperti orange jeruk pada kulit , biasanya tidak
berhubungan dengan nekrosis hati yang berat. Kematian jarang karena

7
kegagalan hati. Hepatomegali dan nyeri di kuadran kanan atas biasanya
terdeteksi. Splenomegali ditemukan pada 20% kasus. (1-3)
Gagal ginjal dapat terjadi, sering pada minggu kedua penyakit.
Hipovolemia dan penurunan perfusi ginjal berkontribusi pada pengembangan
nekrosis tubular akut dengan oliguria atau anuria . Dialisis kadang-kadang
diperlukan, meskipun cukup banyak kasus dapat ditangani tanpa dialisis. Fungsi
ginjal mungkin dapat benar-benar kembali.
Keterlibatan paru sering terjadi , dalam beberapa kelompok kasus
merupakan manifestasi utama , dengan gejala batuk , dyspnea , nyeri dada , dan
dahak dengan bercak darah dan kadang-kadang hemoptisis atau bahkan
kegagalan pernapasan . Manifestasi perdarahan yang sering terlihat pada
sindrom Weil adalah epistaksis , petechiae , purpura , ekimosis, sedangkan
perdarahan gastrointestinal yang parah dan perdarahan adrenal atau
subarachnoid jarang terjadi. (1-3)

Diagnosis
Pada biasanya diagnosis awal leptospirosis sulit, karena pasien biasanya datang
dengan meningitis, hepatitis, nefritis, pneumonia, influenza, syoktoksik, demam yang
tidak diketahui asalnya dan diabetes hemoragik, bahkan beberapa kasus dating
sebagai pankreatitis. Pada anamnesis, penting diketaui tentang riwayat pekerjaan
pasien, apakah termasuk kelompok risiko tinggi. Gejala / keluhan didapati demam
yang muncul mendadak, sakit kepala terutama di bagian frontal, nyeri otot,
matamerah / fotofobia, mual atau muntah. (1-3)
Pada pemeriksaan fisik dijumpai demam, bradikardia, nyeri tekan otot,
hepatomegali dan lain-lain. Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin dijumpai
lekositosis, normal atau sedikit menurun disertai gambaran neutrofilia dan laju endap
darah yang meninggi. Bila organ hati terlibat, bilirubin direk meningkat tanpa
peningkatan transaminase. BUN, Ureum dan kreatinin juga bisa meninggi bila terjadi
komplikasi pada ginjal. Trombositopenia terdapat pada 50% kasus. (1-3)

8
Pada urin dijumpai proteinuria, leukosituria dan thorak (cast), serta ditemukan
leptospira pada pemeriksaan mikroskop lapangan gelap. Diagnosa pasti dengan
isolasi leptospira dari cairan tubuh dan serologi. (1-3)

a. Kultur :dengan mengambil specimen dari darah atau CCS segera pada awal
gejala. Dianjurkan untuk melakukan kultur ganda dan mengambil
spesimen pada fase leptospiremia serta belum diberi antibiotik.
Kultur urine diambil setelah 2-4 minggu onset penyakit. Pada
spesimen yang terkontaminasi, inokulasi hewan dapat digunakan.
b. Serologi .Jenis uji serologi dapat dilihat pada Tabel 3. Pemeriksaan untuk
mendeteksi adanya leptospira dengan cepat adalah dengan
pemeriksaan Polymerase Chain reaction (PCR), Silver Chain atau
fluroscent antibodiy stain, dan mikroskop lapangan gelap.

Tabel 3. Jenis Uji Serologi pada Leptospirosis


Microscopic Macroscopic Slide
Agglutination Test (MAT) Agglutination Test (MSAT)
Uji carik celup : Enzyme linked immune sorbant assay
- Lepto dipsttick (ELISA)
- LeptoTek Lateral Flow
Aglutinasi lateks kering Microcapsule agglutination test
(LeptoTek Dry-Dot)
Indirect fluorescent antibody test (IFAT) Patoc-slide agglutination test (PSAT)
Indirect haemagglutination test (IHA) Sensitized erythrocyte lysis test (SEL)
Uji aglutinasi lateks Counter immune electrophoresis (CIE)
Complement fixation test (CFT)

9
c. Diagnosa Banding
- Malaria
- Demam thypoid
- Demam berdarah dengue
- Hepatitis viral
d. Terapi
Leptospira perlu diobati sedini mungkin, untuk pengobatan leptospira dibedakan
derajat beratnya: leptospira ringan, sedang atau berat, dan profilaksis. (1-3)
1. Leptospirosis ringan :
- Doxycycline 100 mg p.o 2x1 atau
- Ampicillin 500-700 mg p.o 4x1 (tiap 6 jam) atau
- Amoxylin 500 mg p.o 4x1 (tiap 6 jam)
2. Leptospirosis sedang – berat :
- Penicillin G 1,5 juta unit IV 4x1 atau
- Ampicillin 1 g IV 4x1 atau
- Amoxilin 1 g IV 4x1 atau
- Erythromycine 500 mg IV 4x1
3. Chemoprophylaxis :
- Doxycycline 200 mg p.o 1x seminggu
Pengobatan dilanjutkan selama 6-7 hari.
Terapi simptomatis ditujukan untuk demam dan nyeri.
Dialisis perlu dipertimbangkan jika ditemukan salah 1 dari :
- Hiperkalemia intractable ( K > 6,5 mmol/L)
- Asidosis yang sulit dikoreksi
- Edema paru
- Ensefalopati uremik
- Oliguria ( urine < 200mL / 12 jam dan BUN > 100 mg/dL)

10
e. Prognosis
Umumnya baik, mortalitas meningkat pada usia tua (5-20%) dan jika timbul Weil
syndrome. (1-3)

f. Pencegahan
1. Penyebaran informasi tentang penularan leptospira pada pekerjaan atau tempat
rekreasi, desinfeksi lingkungan kerja. Contoh : petani yang bekerja di sawah
dianjurkan menggunakan sepatu boots, pemerah susu sapi dianjurkan
menggunakan sarung tangan.
2. Pengendalian tikus
3. Vaksinasi hewan peliharaan
4. Memberi larangan berenang di daerah tercemar (1-3)

11
Daftar Pustaka

1. Fauci et all. 2008. Leptospirosis. Harrison’s Principles of Internal Medicine.


17th edition. United States of America : McGraw-Hill’s.

2. Suharto, Soewandojo E, Hadi U, Nasronudin .2007. Leptospirosis. Buku Ajar


Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya : Airlangga University Press. Hal : 307-309.

3. Zein U. 2009. Leptosirosis. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jakarta :
Interna Publishing. Hal : 2087, 2808-2810.

12