Anda di halaman 1dari 10

1.

Maket Metode pencegahan longsor


Salah satu upaya untuk mencegah tanah longsor adalah dengan membuat suatu inovasi baru
berdasarkan ilmu geologi teknik. Inovasi tersebut adalah Penggunaan kawat bronjong dan
penggunaan vegetasi Rumpu Gajah.
1. Kawat Bronjong
Keberadaan air pada suatu lereng dengan kondisi tanah lempung plastisitas tinggi dan
disertai besarnya beban hidup (kendaraan) yang bekerja dapat mengakibatkan kelongsoran,
sehingga untuk keamanan dibutuhkan bronjong pada kaki lereng. Bronjong sering digunakan
karena dapat menahan gerakan baik vertikal maupun horizontal, sifat bronjong dapat meloloskan
air sehingga air dapat terus lewat sementara pergerakan tanah dapat ditahan oleh bronjong.
Disamping itu bronjong dapat menahan longsoran, dapat mencegah erosi tanah, apabila bronjong
runtuh dapat dimanfaatkan lagi serta dapat meningkatkan stabilitas lereng secara efektif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas lereng sebelum dan setelah pemasangan
bronjong, serta mengetahui pengaruh perubahan fluktuasi muka air tanah, konfigurasi
pemasangan bronjong dan adanya kombinasi beban (mati+hidup) terhadap angka keamanan
lereng. Ada empat variasi pemasangan bronjong yang dianalisis dalam perhitungan. Pemasangan
bronjong seperti terasering, yaitu dilakukan secara berundak. Variasi pertama yaitu dua bronjong
ditata sejajar ke atas dan satu bronjong di atasnya menahan lereng. Variasi kedua yaitu tiga
bronjong ditata sejajar ke atas. Variasi ketiga yaitu dua bronjong ditata sejajar ke samping dan
satu bronjong di atasnya menahan lereng. Variasi keempat yaitu satu bronjong dipasang di
bawah dan dua bronjong ditata sejajar ke atas menahan lereng. Analisis dilakukan dengan
perhitungan manual menggunakan metode Bishop disederhanakan untuk mengetahui stabilitas
lereng. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa adanya fluktuasi muka air tanah, besarnya
beban yang bekerja pada lereng dan dipasangnya bronjong pada kaki lereng sangat berpengaruh
terhadap stabilitas lereng. Semakin tinggi muka air tanah pada lereng maka semakin kecil nilai
SF (safety factor). Semakin besar beban hidup yang bekerja pada lereng maka semakin kecil
nilai SF. Lereng yang dipasang bronjong mempunyai nilai SF lebih besar daripada lereng tanpa
bronjong. SF kondisi sebelum longsor < SF setelah pemasangan bronjong oleh Dinas Pekerjaan
Umum (DPU) < SF kondisi variasi III. Perbandingan SF pada kondisi variasi III dengan nilai SF
kondisi setelah pemasangan bronjong oleh DPU akibat beban mati menghasilkan beda SF
sebesar ±20%, sementara akibat beban mati+beban hidup menghasilkan beda SF sebesar ±11%.
Jadi, bronjong kondisi variasi III relatif paling aman dan mampu meningkatkan stabilitas lereng
sehingga pemasangannya sangat tepat untuk mengatasi kelongsoran yang terjadi.
2. Penggunaan Vegetasi (Rumput Gajah)
Keberadaan akar tanaman dapat mengurangi tegangan air positif dan memperbesar
tegangan air pori negatif. Kemampuan ini meningkatkan kekuatan tanah khususnya tegangan
geser dalam menjaga kestabilan lereng. Akar tanaman mempunyai kemampuan menyimpan air
tanah yang baik dan menjaga kestabilan tanah terhadap perubahan kadar air akibat proses
pembasahan dan proses pengeringan. Rumput Gajah atau rumput Vetiver mempunyai akarnya
kuat, serabut akarnya jadi bisa mencengkeram tanah lebih mantap. Rumput Gajah juga bagus
menyerap air, karena rumputnya yang memiliki tubuh dan akar yang besar. Rumput ini tidak
memiliki beban terlalu besar dibanding tumbuhan atau pohon yang biasanya di tanam di lereng
bukit, hal ini mengurangi beban tanah.

2. RQD

RQD (Rock Quality Designation)

Prinsip dasar penggunaan metode ini dengan penandaan atau penilaian kualitas batuan
berdasarkan kerapatan kekar. Perhitungan RQD didapat dari perhitungan langsung dari
singkapan batuan yang mengalami retakan-retakan (baik lapisan batuan maupun kekar atau
sesar) berdasarkan rumus Hudson (1979, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996). Metode ini
didasarkan pada penghitungan persentase inti terambil yang mempunyai panjang 10 cm atau
lebih. Dalam hal ini, inti terambil yang lunak atau tidak keras tidak perlu dihitung walaupun
mempunyai panjang lebih dari 10cm. Diameter inti optimal yaitu 47.5mm. Nilai RQD ini dapat
pula dipakai untuk memperkirakan penyanggaan terowongan. Saat ini RQD sebagai parameter
standar dalam pemerian inti pemboran dan merupakan salah satu parameter dalam penentuan
klasifikasi massa batuan RMR dan Q-system, dan kondisi suatu diskontinuitas merupakan hal
yang penting pula dalam menentukan RQD. Apakah semua permukaannya licin atau kasar,
apakah terdapat kandungan material (lempung, kalsit, kuarsit) di selaselanya, apakah telah
terjadi pelapukan pada bagian permukaan, berapakah kelebarannya, dan sebagainya.
Lamda adalah rasio antara jumlah kekar dengan dengan panjang scanline (kekar/meter)

3. Rock Mass Rating

RMR atau sering disebut sebagai klasifikasi geomekanik merupakan klasifikasi yang
dikembangkan pada tahun 1927 – 1973 (Bieniawski, 1973 dalam Bieniawski, 1989).

Cara di lapangan yang digunakan untuk mengaplikasikan klasifikasi geomekanik adalah


dengan membagi massa batuan yang ada di lapangan dengan memperhatikan keseragaman
kondisi struktur batuan.
Parameter yang berpengaruh terhadap nilai RMR adalah

• Intact rock strength

• Rock Quality Designation (RQD)

• Jarak antar bidang diskontinuitas

• Kondisi bidang diskontinuitas

• Kondisi air tanah

• Orientasi dari bidang diskontinuitas

Beberapa kelebihan dari klasifikasi ini adalah (Bieniawski,1969) :

-Mudah untuk digunakan

-Parameter dari klasifikasi ini didapatkan dari data bor maupun pemetaan bawah tanah

-Klasifikasi ini dapat diaplikasikan dan diadaptasi untuk mengatasi permasalahan pada tambang
batubara, tambang yang terdiri atas batuan beku, kestabilan lereng, kestabilan pondasi, dan
terowongan

-Marinos dan Marinos (2005) menjelaskan bahwa metode RMR kurang cocok digunakan apabila
kualitas massa batuannya buruk.

Parameter Klasifikasi Geomekanik (Bieniawski, 1989) :


4. Konduktivitas Hidrolik

Konduktivitas hidrolik tidak selamanya tetap. Artinya dalam berbagai proses (kimia,
fisika dan biologi) konduktivitas hidrolik dapat berubah karena faktor masuk dan mengalirnya air
dalam tanah. Perubahan yang terjadi pada komposisi ion kompleks dapat dipertukarkan.
Misalnya ketika air memasuki tanah mempunyai komposisi atau konsentrasi zat terlarut yang
berbeda dengan larutan awal dan dapat merubah konduktivitas hidrolik. Secara umum
konduktivitas akan berkurang bila konsentrasi zat terlarut elektrolit berkurang. Hal ini
disebabkan oleh penomena pengembangan dan dispersi yang juga dipengaruhui oleh jeni-jenis
kation (pada pelepasan dan perpindahan partikel-partikel lempung). Selama aliran yang lama,
bisa menghasilkan penyumbatan pori. Interaksi zat terlarut dan matrik tanah dan pengaruhnya
terhadap konduktivitas hidroulik khususnya penting pada tanah-tanah masam dan berkadar
natrium tinggi. (Anonim, 2010)

Sedangkan permeabilitas digunakan sebagai persamaan untuk Ks (keterhantaran hidrolik


jenuh). Hukum Darcy menunjukkan bahwa kecepatan aliran (flux) adalah sama dengan Ks hanya
jika gradient hidrolik sama dengan 1. Sehingga menyebabkan nilai kecepatan aliran tidak sama.
(Anonim, 2007)
5. Uniaxial Compressive test

Unconfined Compression Strength test atau pengujian kuat tekan batuan utuh untuk
menentukan kuat kekuatan batuan intact dengan sampel berbentuk silinder hasil dari pengeboran
full coring. Pengujian ini menggunakan mesin tekan untuk menekan sampel batuan yang
berbentuk silinder dari satu arah (uniaksial). Sehingga Uniaxial compreesive test adalah
pengujian kuat tekan batuan utuh untuk menentukan kuat kekuatan batuan dengan menekan
sampel batuan yang berbentuk silinder dari satu arah (uniaksial). Perbandingan antara tinggi dan
diameter percontoh (l/D) mempengaruhi nilai kuat tekan batuan. Untuk pengujian kuat tekan
secara umum digunakan perbandingan L= 2D. L adalah Length atau panjang dari sampel
sedangkan D adalah diameter dari sampel batuan yang akan diuji.

ilustrasi gaya gaya regangan yang bekerja pada saat dilakukannya penjuian kuat tekan
batuan :
6. Basic Properties Batuan
7. Densitas Batuan dan persen mineral

Densitas atau massa jenis suatu batuan merupakan perbandingan antara massa dengan
volume total pada batuan. Secara matematis ditulis: ρ= m/V. Setiap batuan itu sendiri memiliki
nilai densitas yang berbeda-beda. Berikut kisaran densitas meterial bumi :

Densitas sangat sensitif terhadap mineral yang membentuk jenis batu tertentu. Nilai-nilai
densitas pada batuan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Sifat Mineral

Ada dua cara untuk dapat mengenal suatu mineral:

1. Sifat fisik

Yang termasuk dalam sifat fisik mineral adalah bentuk kristalnya, berat jenis, bidang belah,
warna, kekerasan, goresan, dan kilap.

2. Analisa kimiawi atau analisa difraksi sinar X

Cara ini umumnya lebih mahal dan memakan waktu yang lama.

8. Hitung FS

Secara umum faktor keamanan suatu lereng merupakan perbandingan nilai rata-rata
kuat geser tanah/batuan di sepanjang bidang keruntuhan kritisnya terhadap beban yang diterima
lereng di sepanjang bidang keruntuhannya. Nilai faktor keamanan yang sesuai dengan bidang
keruntuhannya juga perlu mempertimbangkan akibat yang ditimbulkannya, yaitu korban jiwa
atau kehilangan secara ekonomi.

1. Analisa faktor keamanan

Analisa stabilitas lereng adalah menentukan faktor keamanan. Secara umum, faktor
keamanan didefinisikan sebagai:

Fs = τf / τd

Keterangan:

Fs = Faktor keamanan

τf = Kuat geser tanah rata-rata

τd = Tegangan geser tanah rata-rata disepanjang permukaan keruntuhan potensial

Kuat geser tanah terdiri dari dua komponen, yakni kohesi dan sudut friksi atau sudut geser,
dan bisa ditulis sebagai

tanφ + σ = c

Keterangan

c = kohesi

φ = Sudut friksi (sudut geser)

σ = tegangan normal pada permukaan keruntuhan potensial