Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian besar penduduknya
adalah petani dan peternak sehingga pembangunan sub sektor peternakan yang
merupakan bagian dari sektor pertanian memiliki prospek yang sangat
menjanjikan. Hal ini disebabkan pesatnya petumbuhan penduduk dan
meningkatnya populasi peternakan sehingga sub sektor peternakan perlu
mendapatkan perhatian dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan dan
meningkatkan ketahanan pangan (Partowijoto, 2003).
Industri perunggasan nasional merupakan andalan subsektor peternakan
yang mempunyai peranan besar dalam perekonomian negara terutama sebagai
penghasil bahan makanan protein tinggi, menyediakan lapangan kerja yang luas
dan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian yang sangat signifikan. Subsektor
peternakan sebagai salah satu bagian dalam bidang pertanian diharapkan mampu
memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Indonesia, terutama dalam konsumsi
kebutuhan protein dalam rangka mendapatkan hidup yang berkualitas melalui
pemenuhan makanan yang seimbang.
Usaha peternakan bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan
keluarga atau hanya dijadikan sebagai hiburan semata, tetapi perkembangan usaha
peternakan saat ini sudah dijalankan sebagai sebuah wadah usaha untuk
meningkatkan kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat didesa maupun
diperkotaan yang sudah dijalankan secara intensif guna mendapatkan keuntungan
yang berkesinambungan.
Salah satu komoditas peternakan yang dimiliki oleh masyarakat pedesaan
adalah ayam lokal atau ayam kampung. Pada umumnya, setiap rumah tangga
petani memelihara ayam kampung walaupun dalam jumlah sedikit,
Pengembangan ayam kampung merupakan cara yang tepat untuk meningkatkan
pendapatan petani, karena memiliki kelebihan diantaranya mudah beradaptasi

1
dengan lingkungan sehingga lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan ayam
ras, selain itu dagingnya lebih gurih dibandingkan ayam ras (Wibowo, 1996).
Beberapa faktor yang memberi kemudahan pemeliharaan ayam kampung,
antara lain tidak membutuhkan lahan yang luas, penyediaan pakan mudah dan
murah serta siklus produksi lebih singkat sehingga lebih cepat dirasakan manfaat
ekonominya. Namun demikian, dalam usaha mengembangkan ayam kampung
masih menghadapi berbagai kendala, antara lain sistem pemeliharaan masih
tradisional, produktivitas rendah, baik produksi daging maupun produksi telur,
mutu genetik bervariasi, tingkat kematian tinggi, pemberian pakan belum sesuai
dengan kebutuhan baik kuantitas maupun kualitasnya (Siregar dan Sabrani, 1980),
suplai dan ketersediaan sumber bibit ayam kampung (Sastrodiharjo dan Iskandar,
1994).
Prospek ekonomi dari komoditas peternakan sangat menguntungkan saat ini.
Salah satu sektor peternakan yang mempunyai prospek yang cukup menjanjikan
untuk dikembangkan adalah sektor peternakan unggas. Hal ini didukung oleh
jumlah penduduk yang semakin meningkat sepanjang tahun sehingga kebutuhan/
konsumsi akan pangan meningkat tajam.
Populasi ayam kampung yang terdapat di Kecamatan Kalirejo Kabupaten
Lampung Tengah adalah ayam kampung seperti yang terlihat pada tabel 1

Tabel 1. Populasi Ayam Kampung per Kecamatan di Kabupaten Lampung Tengah


dari tahun 2012-2016 (ekor)
Tahun
No Kecamatan
2012 2013 2014 2015 2016
1 Padang Ratu 21.233 21.735 22.002 23.451 23.777
2 Selagai Lingga 22.122 25.821 26.214 26.545 27.134
3 Pubian 61.766 62.117 62.587 62.966 63.559
4 Anak Tuha 23.232 25.576 26.017 27.121 28.510
5 Anak Ratu Aji 35.045 35.771 36.223 36.754 37.126
6 Kalirejo 40.332 41.259 41.867 42.521 43.919
7 Sendang Agung 62.203 63.087 63.656 64.225 64.701
8 Bangun Rejo 54. 080 55.559 56.120 56.882 57.790
9 Gunung Sugih 8.112 8.454 8.880 9.002 9.766
10 Bekri 116.876 117.532 118.667 118.980 119.330

2
Sumber : Dinas Peternakan Kabupaten Lampung Tengah

Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa populasi ayam kampung di


Kabupaten Lampung Tengah mengalami kenaikan di setiap kecamatan.
Sedangkan populasi ayam kampung di Kecamatan Kalirejo mengalami
peningkatan dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2016. Kecamatan Kalirejo
menjadi salah satu penghasil ayam kampung di Kabupaten Lampung Tengah di
tahun 2016 dengan jumlah 43.919 ekor, akan tetapi jumlah tersebut masih di
berada di urutan kelima dari 10 kecamatan yang berada di Kabupaten Lampung
Tengah. Peningkatan populasi ayam kampung juga diiringi dengan peningkatan
jumlah penduduk dan peningkatan pendapatan masyarakat. Melihat hal tersebut
maka ayam kampung masih memiliki potensi untuk dikembangkan di Kecamatan
Kalirejo sehingga sangat penting diperlukan informasi mengenai saluran tataniaga
yang bermanfaat untuk mengetahui kemana dan bagaimana ayam kampung dari
produsen/peternak sampai ke konsumen.
Saluran tataniaga adalah saluran yang digunakan oleh peternak produsen
untuk menyalurkan hasil ternaknya sampai ke konsumen. Lembaga tataniaga
yang ikut aktif dalam saluran ini adalah produsen (peternak), pedagang
pengumpul, pedagang besar, pengecer dan konsumen. Setiap lembaga tataniaga
melakukan fungsi tataniaga seperti: membeli dari peternak (produsen) menjual
kepada pedagang berikutnya, mengangkat, mensortir, menyimpan dan lain-lain
(Rahardi, 1993).

1.2. Rumusan Masalah


Ayam kampung saat ini masih digemari oleh masyarakat karena dagingnya
kenyal dan rasanya yang enak, namun permintaan daging ayam kampung kurang
diimbangi dengan produksi yang cukup, sehingga harga ayam kampung lebih
mahal dibandingkan ayam ras. Sistem pemeliharaan ayam kampung yang
dibudidayakan oleh masyarakat masih bersifat tradisional Selain itu ayam
kampung masih memiliki produktivitas genetik yang rendah, sehingga
menyebabkan minimnya bibit unggul dan produksinya kurang optimal.

3
Usaha peternakan ayam kampung masih merupakan usaha sampingan,
sehingga peternak hanya memiliki sedikit jumlah peliharaan. Hal ini
menyebabkan produksi ayam kampung tersebar karena mengandalkan peternakan
rumahan dan memerlukan pedagang pengumpul.
Rantai tataniaga panjang, yang terlibat banyak pihak, sehingga
menyebabkan harga di tingkat konsumen tinggi, posisi tawar peternak kecil
menyebabkan keuntungan yang petani sangat rendah.
Jalur tataniaga yang panjang dapat menyebabkan biaya tataniaga menjadi
cukup besar, posisi tawar peternak kecil dan harga yang diterima oleh konsumen
menjadi lebih mahal. Melihat hal tersebut diatas maka perlu dianalisis bagaimana
saluran tataniaga dan lembaga tataniaga ayam kampung di Kecamatan Kalirejo,
Kabupaten Lampung Tengah.
Melihat hal tersebut diatas maka perlu dianalisis bagaimana saluran
tataniaga dan lembaga tataniaga ayam kampung di Kecamatan Kalirejo,
Kabupaten Lampung Tengah.

1.3. Kerangka Pemikiran


Usaha peternakan yang banyak berkembang di Lampung pada umumnya
adalah usaha peternakan rakyat yang tersebar diberbagai Kabupaten/kota. Usaha
peternakan identik dengan daerah pedesaan, dimana para peternak rakyat
memegang peranan penting dalam pembangunan peternakan yang berkelanjutan.
Ada macam-macam komoditas peternakan yang dikembangkan oleh peternak
rakyat, salah satunya adalah komoditas ternak ayam.
Salah satu usaha peternakan ayam yang cukup berpeluang untuk
dikembangkan di Kecamatan Kalirejo Kabupaten Lampung Tengah adalah ayam
kampung. Sebagai daerah pertanian, Kecamatan Kalirejo memiliki prospek yang
cukup menjanjikan dalam pengembangan peternakan ayam kampung karena ayam
kampung memiliki banyak keunggulan diantaranya, daging dan telurnya lebih
mahal, lebih disukai oleh konsumen karena lebih gurih dan dapat dipelihara secara
sederhana dihalaman rumah. Berdasarkan data UPT Peternakan Kecamatan
Kalirejo populasi ayam kampung selama tiga tahun terakhir adalah sebagai

4
berikut: tahun 2012 : 40.332 ekor, tahun 2013 : 41.259 ekor, tahun 2014 : 41.867
ekor, tahun 2015 : 42.521 ekor dan tahun 2016 : 43.919ekor. Dari data tersebut,
populasi ayam kampung terus meningkat dari tahun ke tahun.
Mengingat usaha peternakan yang maju harus didukung oleh sistem
manajemen dan pemasaran yang baik, maka kegiatan pemasaran menjadi
penunjang keberhasilan dari suatu usaha peternakan. Proses pemasaran ayam
kampung tidak lepas dari peran para pelaku tata niaga dalam memasarkan
produknya. Hasil produk peternakan ayam kampung ini dipasarkan melalui
saluran pemasaran tataniaga/pemasaran sampai kekonsumen. Untuk mengetahui
saluran dan tataniaga ayam kampung dapat dianalisis dengan menggunakan
metode analisis kualitatif yang menggambarkan untuk mendeskripsikan rantai
tataniaga di Kecamatan Kalirejo Kabupaten Lampung Tengah.

1.4. Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui saluran tataniaga dan
lembaga tataniaga ayam kampung di Kecamatan Kalirejo, Kabupaten Lampung
Tengah.

1.5. Kegunaan Penelitian


a. Manfaat untuk peternak (Produsen)
1) Sebagai motivasi bagi peternak untuk meningkatkan kualitas
budidaya dan kualitas produk
2) Sebagai motivasi bagi peternak untuk lebih berperan dan masuk
dalam kegiatan tataniaga.
b. Manfaat untuk konsumen
Konsumen dapat mengetahui saluran tataniaga yang terpendek
c. Pemerintah
Sebagai bahan acuan dalam menentukan kebijakan untuk
memperpendek saluran tataniaga ayam kampung dan peningkatan
kualitas budidaya ayam kampung di Kecamatan Kalirejo khususnya dan
di Kabupaten Lampung Tengah umumnya.

5
d. Peneliti lain
Sebagai bahan referensi menjadi salah satu informasi tataniaga ayam
kampung.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karakteristik Ayam Kampung


Salah satu sumber kekayaan genetik ternak lokal Indonesia adalah ayam
kampung. Nawawi dan Nurrohmah (1996) mengungkapkan bahwa ayam
kampung memiliki kelebihan dibandingkan dengan ayam ras, antara lain dapat
diusahakan dengan modal yang sedikit maupun dengan modal yang banyak dan
perawatannya tidak sulit karena ayam kampung memiliki daya adaptasi yang baik.
Ayam kampung umumnya memiliki keunggulan dalam hal resistensi terhadap
penyakit, resitensi terhadap panas serta memiliki kualitas daging dan telur yang
lebih baik dibandingkan dengan ayam ras (Chen, Lee dan Huang, 1993).
Ayam kampung juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain adalah
sulitnya memperoleh bibit yang baik dan produktifitasnya yang rendah, ditambah
dengan adanya faktor penyakit musiman seperti ND (Newscastle disease),
sehingga dikhawatirkan populasi ayam kampung akan semakin menurun, bahkan
ayam kampung yang mempunyai sifat-sifat spesifik tersebut akan punah
(Sujionohadi dan Setiawan, 2000).
Populasi ayam kampung di Kabupaten Lampung Tengah pada tahun 2014
tercatat sebanyak 782.956 ekor serta dari Kecamatan Kalirejo tercatat sebanyak
23.115 ekor untuk masyarakat Kabupaten Lampung Tengah (Badan Pusat
Statistik. 2015).
Tahapan karakteristik ternak yang pertama kali dilakukan adalah dengan
menggunakan karakteristik genetic eksternal. Tahapan ini meliputi sifat kualitatif
dan kuantitatif ternak. Sifat kualitatif adalah sifat yang dapat dideskripsikan
dimana individu-individu dapat diklasifikasikan ke dalam satu, dua kelompok atau
lebih dan pengelompokan itu berbeda jelas satu sama lain. Sifat kuantitatif adalah
sifat yang dapat diukur, sifat kuantitatif dipengaruhi oleh banyak pasangan gen
dan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Karakterisasi sumber daya genetic
sangat penting dilakukan. Karakterisasi dapat dilakukan dengan mengamati sifat-
sifat fenotipe pada metabolism protein darah, karakterisasi molekuler dan

7
karyotipe (Kumnirdpetch, 2002). Identifikasi dari karakterisasi merupakan
persyaratan awal untuk melakukan karakterisasi dan pemanfaatan sumber daya
genetik (Weigend dan Romanoff, 2001).
Tahapan karakteristik genetik eksternal merupakan cara dasar untuk
menentuka jenis ternak yang diwariskan pada generasi berikutnya. Karakteristik
genetik eksternal yang diamati meliputi sifat kualitatif seperti warna bulu, bentuk
jengger dan warna kulit kaki/shank. Sedangkan sifat kuantitatif yang diukur
adalah panjang tarsometatarsus, panjang tibia, panjang femur, tinggi jengger jarak
tulang pubis, bobot badan dan lain-lain (Nishida, Nozawa, Hayasi, Hashiguchi,
dan Mansjoer 1982).
Mansjoer (1985) menyatakan bahwa ayam kampung merupakan ayam asli
Indonesia yang masih memiliki gen asli sebanyak lebih kurang 50%. Adanya
variasi genetik yang tinggi dari ayam kampung menunjukkan adanya potensi
untuk dilakukannya perbaikan mutu genetik. Oleh karena itu diperlukan data dasar
mengenai sifat-sifat kualitatif dan kuantitatif ayam kampung untuk
mempertahankan kemurnian serta pelestarian sumber daya genetik ayam
kampung.

2.2. Tataniaga
Khol dan Uhl (2002) mendefisinikan tataniaga sebagai suatu aktifitas bisnis
yang didalamnya terdapat aliran barang dan jasa dari titik produksi sampai ketitik
konsumen. Produksi adalah penciptaan kepuasan, proses membuat kegunaan
barang dan jasa. Kepuasan dibentuk dari proses produktif yang diklasifikasikan
menjadi kegunaan bentuk, tempat, waktu dan kepemilikan.
Tataniaga merupakan salah satu cabang aspek pemasaran yang menekankan
bagaimana suatu produksi dapat sampai ke tangan konsumen (distribusi).
Tataniaga dapat dikatakan efisien apabila mampu menyampaikan hasil produksi
kepada konsumen dengan biaya semurah-murahnya dan mampu mengadakan
pembagian keuntungan yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen
kepada semua pihak yang ikut seta dalam kegiatan produksi dan tataniaga
(Rahardi, 2000).

8
2.3. Saluran dan Lembaga Tataniaga
Menurut Kotler (2002), saluran tata niaga adalah serangkaian lembaga yang
melakukan semua fungsi yang digunakan untuk menyalurkan produk dan status
kepemilikannya dari produsen ke konsumen. Produsen memiliki peranan utama
dalam menghasilkan barang-barang dan sering melakukan sebagian kegiatan
pemasaran, sementara itu pedagang menyalurkan komoditas dalam waktu,
tempat, bentuk yang diinginkan konsumen. Hal ini berarti bahwa saluran tata
niaga yang berbeda akan memberikan keuntungan yang berbeda pula kepada
masing-masing lembaga yang terlibat dalam kegiatan tataniaga tersebut.
Saluran tata niaga dalam suatu komoditas perlu diketahui untuk menentukan
jalur mana yang lebih efisien dari semua kemungkinan jalur-jalur yang dapat
ditempuh. Selain itu saluran pemasaran dapat mempermudah dalam mencari
besarnya marjin yang diterima tiap lembaga yang terlibat.
Menurut Kotler dan Amstrong (2001), saluran tata niaga terdiri dari
serangkaian lembaga tata niaga atau perantara yang akan memperlancar kegiatan
tata niaga dari tingkat produsen sampai tingkat konsumen. Tiap perantara yang
melakukan tugas membawa produk dan kepemilikannya lebih dekat ke pembeli
akhir yang merupakan satu tingkat saluran. Saluran nol-tingkat (saluran tataniaga
nol-langsung) terdiri dari produsen yang menjual langsung ke konsumen akhir.
Saluran satu tingkat terdiri dari satu perantara penjual, yaitu pengecer. Saluran dua
tingkat dari dua perantara, seperti pedagang besar dan pengecer. Saluran tiga
tingkat dalam saluran tata niaga barang konsumsi memiliki tiga perantara yaitu
pedagang besar, pemborong dan pengecer.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) (1997:979-58), kata
”lembaga” antara lain diartikan sebagai :
1) ’asal mula (yang akan menjadi sesuatu); bakal (binatang, manusia, tumbuhan)
(2) ’bentuk (rupa, wujud) yang asli
2) ’acuan; ikatan (tentang mata cincin dsb)
3) ’badan (organisasi) yang tujuannya melakukan penyelidikan keilmuan atau
melakukan suatu usaha

9
4) ’pola perilaku manusia yang mapan, terdiri atas interaksi sosial berstruktur di
suatu kerangka nilai yang relevan’ (Anonim, 2011).
Lembaga tataniaga adalah bagian-bagian yang menyelenggarakan kegiatan
atau fungsi tataniaga dengan nama barang-barang bergerak dari pihak produsen
sampai pihak konsumen (Hanafiah, 1986).
Menurut Rahardja (2003), lembaga-lembaga dalam proses distribusi
barang dari produsen ke konsumen dapat dikelompokkan menjadi empat golongan
antara lain:
1) Pedagang yaitu pedagang besar dan pedagang kecil
2) Perantara khusus yaitu agen, makelar, dan komisioner.
3) Eksportir dan importir
4) Lembaga-lembaga pembantu dalam proses distribusi yaitu bank, asuransi,
pengepakan (packing), perusahaan pengangkutan, perusahaan periklanan dan
konsultan (Anonim, 2011).

2.4. Fungsi-fungsi Pemasaran


Proses penyaluran barang atau jasa dari produsen ke tangan konsumen
memerlukan berbagai kegiatan fungsional pemasaran yang ditujukan untuk
memperlancar proses penyaluran barang atau jasa secara efektif dan efisien, untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Kegiatan fungsional tersebut
disebut sebagai fungsi-fungsi pemasaran. Fungsi-fungsi pemasaran dilakukan oleh
lembaga-lembaga pemasaran yang terkait atau terlibat dalam proses pemasaran
suatu komoditas, dan membentuk rantai pemasaran atau sering disebut sebagai
sistem pemasaran.
Aliran produk pertanian dari produsen sampai ke konsumen disertai dengan
peningkatan nilai guna komoditi pertanian tersebut. Peningkatan nilai guna ini
terwujud apabila terdapat lembaga-lembaga pemasaran yang melaksanakan
fungsi-fungsi pemasaran. Pada umumnya fungsi-fungsi pemasaran yang
dilaksanakan oleh lembaga-lembaga pemasaran adalah fungsi pertukaran, fungsi
fisik dan fungsi fasilitas. Komoditi agribisnis bersifat “Non Supporting Self”,
mudah rusak, voluminous, dan bersifat musiman. Sifat-sifat tersebut

10
membutuhkan penanganan yang cermat dalam usaha pendistribusian peternakan
hingga ke tangan konsumen. Berbagai kegiatan penanganan dapat dikelompokkan
ke dalam fungsi fisik, pertukaran, fasilitas (Sudiyono, 2002).
Fungsi Pertukaran yaitu semua kegiatan yang berhubungan dengan
perpindahan hak milik dari barang dan jasa yang dipasarkan. Fungsi pertukaran
ini terdiri dari dua fungsi yaitu fungsi pembelian dan fungsi penjualan. Fungsi
fisik merupakan semua tindakan yang berhubungan langsung dengan barang dan
jasa sehingga menimbulkan kegunaan tempat, waktu dan bentuk. Fungsi ini
meliputi fungsi penyimpanan, fungsi pengolahan, dan fungsi pengangkutan.
Fungsi fasilitas adalah semua tindakan yang berhubungan dengan kegiatan
pertukaran yang terjadi antra produsen dan konsumen. Fungsi fasilitas terdiri dari
fungsi standarisasi dan grading, fungsi penanggung resiko, fungsi pembayaran
dan fungsi informasi pasar. Dari kesembilan fungsi pemasaran tersebut terdapat
empat fungsi yang berhubungan dengan kegiatan perbaikan mutu produk
agribisnis. Keempat fungsi tersebut adalah fungsi penyimpanan, pengemasan,
pengangkutan, sortasi dan grading.
Fungsi penyimpanan diperlukan untuk menyimpan barang selama belum
dikonsumsi atau menunggu untuk diangkut ke daeah pemasaran. Selama
pelaksanaan penyimpanan dilakukan beberapa tindakan untuk menjaga mutu
terutama bagi hasil-hasil pertanian yang mempunyai sifat mudah busuk. Pada
proses penyimpanan semua biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan yang
dilaksanakan adalah biaya penyimpanan termasuk biaya pemeliharaan fisik
gudang, resiko kerusakan selama penyimpanan dan biaya-biaya lainnya yang
dikeluarkan selama barang tersebut masih disimpan.
Fungsi pengangkutan bertujuan untuk menyediakan barang didaerah
konsumen sesuai dengan kebutuhan konsumen baik menurut waktu, jumlah dan
mutunya. Adanya keterlambatan dalam pengangkutan dan jenis alat angkutan
yang tidak sesuai dengan sifat barang yang akan diangkut dapat menimbulkan
kerusakan dan penurunan mutu barang yang bersangkutan. Fungsi standarisasi
adalah merupakan suatu ukuran atau penentuan mutu suatu barang dengan
menggunakan berbagai ukuran seperti warna, susunan kimia, ukuran bentuk,

11
tingkat kematangan, ras dan kriteria lain. Sedangkan yang dimaksud dengan
grading adalah tindakan menggolong-golongkan hasil pertanian menurut suatu
standarisasi yang diinginkan sehingga kelompok-kelompok barang yang
terkumpul sudah merupakan ukuran standar. Fungsi standarisasi dan grading
memberikan manfaat dalam proses pemasaran yaitu mempermudah pembeli dan
penjual untuk memberikan nilai terhadap barang yang bersangkutan,
mempermudah pelaksanaan jual beli serta mengurangi biaya pemasaran terutama
biaya pengangkutan.
Sistem pemasaran digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis
masalah pemasaran suatu komoditi. Hasil yang dicapai adalah skema arus
komoditas (flow of goods). Dalam hal ini skema arus komoditas menggambarkan
macam saluran dan volume komoditi yang keluar dan masuk melalui saluran
pemasaran tertentu. Pembuatan skema arus komoditas akan menerangkan saluan
atau pola pemasaran yang memungkinkan kegiatan dapat lebih efisien. Analisis
saluran pemasaran juga dapat dipergunakan untuk membantu menganalisis margin
pemasaran dan integrasi pasar.

2.5. Struktur Pasar


Struktur pasar adalah dimensi yang menjelaskan sistem pengambilan
keputusan oleh perusahaan maupun industri, jumlah perusahaan dalam suatu
pasar, konsentrasi perusahaan, jenis-jenis dan diferensiasi produk serta syarat-
syarat masuk pasar (Limbong dan Sitorus, 1987). Struktur pemasaran paling
banyak digunakan dalam menganalisis sistem pemasaran, karena melalui analisis
struktur pasar dapat dijelaskan bagaimana perilaku lembaga yang terlibat dan
akhirnya akan menunjukkan keragaan yang terjadi akibat dari struktur dan
perilaku pasar yang ada dalam sistem pemasaran tersebut.
Berdasarkan sifat dan bentuknya, pasar dibedakan menjadi dua macam
struktur pasar yaitu: (1) pasar persaingan sempurna, (2) pasar tidak bersaing
sempurna. Suatu pasar dapat digolongkan kedalam struktur pasar bersaing
sempurna jika memenuh ciri-ciri antara lain: terdapat banyak penjual maupun
pembeli, pembeli dan penjual hanya menguasai sebagian kecil dari barang dan

12
jasa yang dipasarkan sehingga tidak dapat mempengaruhi harga pasar (penjual
dan pembeli berperan sebagai price taker), barang dan jasa yang dipasarkan
bersifat homogen, penjual dan pembeli bebas keluar masuk pasar.
Menurut Dahl dan Hammond (1977), pasar bersaing tidak sempurna dapat
dilihat dari dua sisi yaitu sisi pembeli dan sisi penjual. Sisi pembeli terdiri dari
pasar monopoli, oligopsoni, dan sebagainya. Dari sisi penjual terdiri dari pasar
persaingan monopolistik, pasar monopoli, oligopoli, duopoli dan sebagainya.
Pasar dapat diklasifikasikan menjadi empat struktur pesar berdasarkan sifat
dan bentuknya Limbong dan Sitorus, 1987 yaitu:
1. Struktur Pasar Bersaing Sempurna
Pada struktur pasar bersaing sempurna terdapat banyak penjual dan pembeli
yang bebas keluar masuk pasar. Barang dan jasa yang dipasarkan bersifat
homogen. Dengan struktur biaya tertentu, perusahaan tidak dapat menetapkan
harga sendiri untuk memaksimumkan keuntungan. Sehingga perusahaan hanya
sebagai penerima harga (price taker) dan hanya menghadapi satu tingkat harga.
2. Struktur Pasar Bersaing Monopolistik
Struktur pasar bersaing monopolistik terdiri dari bayak pembeli dan penjual
yang melakukan transaksi pada berbagai tingkat harga. Produk yang dijual
perusahaan tidak bersifat homogen tetapi memiliki perbedaan, seperti perbedaan
pengepakan, warna kemasan, harga dan pelayanannya. Untuk mencapai
keuntungan maksimum perusahaan dapat menekan biaya produksi atau dengan
cara perubahan teknologi.
3. Struktur Pasar Oligopoli
Perusahaan pada struktur pasar oligopoli tidak bebas untuk menentukan
harga produk yang dihasilkan untuk mencapai keuntungan maksimum, karena
perusahaan tergantung kepada struktur biaya dan permintaan produk yang
ditawarkan serta kepada tindakan perusahaan pesaing. Tindakan penurunan harga
produk oleh suatu perusahaan pada pasar oligopoli dengan tujuan untuk
mendapatkan keuntungan atau “market share” tertentu, tidak selalu dapat
dilakukan, dimana keputusan perusahaan harus didasarkan pada perusahaan

13
pemimpin (leader). Perusahaan leader ini dapat lebih bebas menentukan harga
dalam mencapai tujuan perusahaan.
4. Struktur Pasar Monopoli
Perusahaan monopoli dapat berbentuk monopili pemerintah, monopoli
swasta menurut undang-undang, dan monopoli swasta murni. Salah satu tindakan
perusahaan monopili untuk memperoleh keuntungan maksimum adalah melalui
diskriminasi harga (discrimatory pricing). Diskriminasi harga adalah menjual
produk yang sama pada tingkat harga yang berbeda dan pada pasar yang berbeda.

2.6. Penelitian Terdahulu


Adapun beberapa judul penelitian terdahulu yang berkaitan dengan analisis
tataniaga antara lain penelitian yang dilakukan oleh Isdiyanto (2002) mengenai
Analisis Saluran Pemasaran Ayam Kampung Ayam Kampung (Gallus
domesticus) di Jakarta Selatan. Isdiyanto (2002) dalam penelitiannya memperoleh
7 saluran pemasaran, diantaranya :
1) peternak → pengumpul desa → pedagang antar (PAW) → distributor utama
→ pedagang besar → konsumen,
2) peternak → pengumpul desa → PAW → distributor utama → konsumen,
3) peternak → pengumpul desa → PAW → distributor menengah → pedagang
besar → konsumen,
4) peternak → pengumpul desa → PAW → pedagang besar → konsumen,
5) peternak → pengumpul desa → PAW → pedagang besar → konsumen,
6) peternak → pengumpul desa → PAW → pedagan besar → konsumen, dan
7) peternak → pengumpul desa → PAW → pedagang eceran → konsumen.
Saluran 7 adalah saluran yang dinilai paling efesien diantara saluran-saluran
yang lain. Hal ini dilihat dari jarak yang dekat dan sedikitnya lembaga yang
terlibat dalam saluran ini sehingga biaya pemasaran menjadi rendah dan margin
pemasaran juga rendah, sementara rasio keuntungan terhadap biaya mempunyai
niali yang relatife tinggi. Farmer’s share saluran ini juga tinggi dikarenakan
sedikitnya lembaga pemasaran yang terlibat.

14
Setiap lembaga pemasaran yang terlibat pada saluran melakukan fungsi-
fungsi pemasaran yang berbeda-beda, antara lain fungsi pertukaran, fungsi fisik
dan fungsi fasilitas, namun tidak semua lembaga pemasaran melakukan semua
fungsi yang ada. Peternak umumnya hanya melakukan fungsi pertukaran yaitu
penjualan, sedangkan pengumpul desa melakukan fungsi pertukaran berupa
penjualan dan pembelian, fungsi fisik berupa pengangkutan dan fungsi fasilitas
berupa pembayaran dan standarisasi. Lembaga pemasaran lainnya yaitu distributor
utama dan distributor menengah melakukan semua fungsi pemasaran kecuali
untuk pedagang besar dan pedagang pengecer. Tidak semua pedagang besar dan
pedagang pengecer melakukan fungsi fisik berupa pengangkutan, serta fungsi
fasilitas berupa pemberian informasi dan standarisasi. Struktur pasar yang
dihadapi oleh peternak, pengumpul desa dan pedagang antar wilayah (PAW)
cenderung bersifat oligopsoni murni, sementara PAW, distributor/pedagang besar
dan kecil serta konsumen menghadapi struktur pasar yang cenderung oligopoli
murni.
Safitri (2009) dalam penelitiannya mengenai Analisis Tataniaga Telur Ayam
Kampung di Kabupaten Bogor Jawa Barat menyatakan bahwa skala usaha yang
berbeda dan lokasi peternakan yang tersebar di berbagai tempat mengakibatkan
pemasaran telur ayam kampung di Kabupaten Bogor menghadapi permasalahan
harga dan biaya pemasaran. Pada pemasaran telur ayam kampung harga yang
diterima peternak (produsen) masih jauh lebih rendah dari harga yang dibayarkan
oleh konsumen akhir. Pada umumnya peternak bertindak sebagai penerima harga
(price taker). Proses pemasaran telur ayam kampung ini terjadi melalui beberapa
lembaga pemasaran, dimulai dari peternak sampai sampai kepada pedagang
pengecer yang pada akhirnya berhubungan dengan konsumen. Panjag atau
pendeknya pola saluran pemasaran akan berpengaruh terhadap permintaan
(keuntungan) peternak pada setiap lembaga pemasarn yang telibat, sehingga perlu
dikaji sistem pemasaran telur ayam kampung dengan mengidentifikasi faktor-
faktor pembentukan mekanisme pasar antara lain lembaga pemasaran, pola
saluran pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar serta
keragaman pasar sehingga terjadi permasalahan tersebut.

15
Penelitian Safitri (2009) menunjukan terdapat 3 saluran pemasaran ayam
kampung di Kecamatan Kalirejo, antara lain :
1) peternak → pedagang pengumpul desa (tengkulak) → pedagang grosir →
pedagang pengecer → konsumen,
2) peternak → pedagang grosir → pedagang pengecer → konsumen, dan
3) peternak → pedagang pengecer → konsumen.
Adapun lembaga-lembaga yang terlibat yaitu peternak sebagai produsen,
pedagang pengumpul (tengkulak), pedagang grosir dan pedagang pengecer.
Struktur pasar yang dihadapi peternak mengarah kepada pasar oligopoli
dikarenakan peternak yang hanya berjumlah 5 orang dan pedagang berjumlah 25
orang tidak dapat mempengaruhi harga (peternak sebagai pricetaker). Begitupun
pedagang pengumpul dan pedagang grosir juga menghadapi pasar oligopoli,
sedangkan pedagang pengecer menghadapi struktur pasar persaingan sempurna,
karena jumlah pedagang pengecer cukup banyak dan produk yang dipasarkan
homogen. Safitri (2009) menyatakan bahwa saluran pemasaran 2 adalah saluran
pemasaran yang paling efesien karena memiliki nilai margin pemasaran terendah,
farmer’s share tertinggi, dan juga kegiatan pemasaran pada saluran 2
menguntungkan bagi setiap lembaga yang terlibat (peternak, pedagang grosir dan
pedagang pengecer) dengan farmer’s share sebesar 63,89%.
Ibniyah (2002) dalam penelitiannya yaitu Kajian Terhadap Efisiensi Saluran
Tataniaga Ayam Broiler pada PT. Nurasto Agheng (PT. NA) menyatakan bahwa
masalah utama yang sering dihadapi dalam tatniaga ayam broiler adalah harga
yang diterima peternak sebagai produsen berbeda sangat besar dengan harga yang
dibayarkan oleh konsumen akhir. Oleh karena itu perlu diketahui saluran dan
fungsi-fungsi tataniaga yang terbentuk untuk mengetahui saluran mana yang
paling efisien. Penelitian Ibniyah (2002) menunjukan terdapat 3 saluran tataniaga
dengan komoditi ayam broiler pada PT. NA, antara lain :
1) Peternak plasma → PT. NA/inti → pedagang pengumpul → pedagang
pengecer → konsumen akhir,
2) Peternak plasma → pedagang pengumpul → pedagang pengecer →
konsumen akhir

16
3) Peternak plasma → pedagang pengecer → konsumen akhir.
Adapun struktur pasar yang terbentuk pada PT. NA yaitu oligopsoni
dikarenakan inti dan pedagang pengumpul mempunyai kekuatan untuk
mengontrol fungsi dan kegiatan tataniaga ayam broiler di PT. NA. Sementara
saluran tataniaga yang paling efisien adalah saluran tataniaga 3 karena nilai
elastisitas transmisi harga peternak ke pengumpul. Selain itu keuntungan yang
diperoleh pada saluran 3 lebih besar jika dibandingkan saluran tataniaga lainnya.
Farmer’s share yang diperoleh pada saluran 3 juga cukup besar dibandingkan
saluran-saluran lainnya yaitu 81,9%.
Sulvadewi (2000) dalam penelitiannya dengan judul Analisis Ayam Broiler
pada Kelompok Peternak Plasma “Jaya Broiler” Kabupaten Kuningan Propinsi
Jawa Barat menyatakan Surat Keputusan Menteri No. 472 Tahun 1996
menjelaskan usaha budidaya ayam broiler boleh dilakukan oleh perusahaan
peternakan dengan syarat mereka wajib melakukan pola kemitraan. Perusahaan
peternakan yang bermitra dengan peternak kecil ayam broiler harus menjamin
mutu daging yang dihasilkan, harga dan pemasaran. Kemitraan menurut Suharno
(1999) dalam Sulvadewi adalah suatu kerjasama bisnis antara peternak sebagai
plasma dan pengusaha (perusahaan peternakan/perusahaan di bidang peternakan)
sebagai inti ntuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama tersebut harus dilakukan
secara adil sehingga antara masing-masing pihak yang terlibat mempunyai posisi
dan kepentingan yang sama.
Hasil penelitian Sulvadewi (2000) menunjukan bahwa bentuk hubungan
inti-plasma adalah sistem kredit yang pengembaliannya diperhitungkan setelah
panen dengan kebijakan subsidi silang. Perusahaan inti berperan sebagai
pengelola yang memberikan bimbingan, menyediakan sarana produksi peternakan
dan memasarkan hasil produksi. Dari penelitian Sulvadewi terdapat 3 saluran
tataniaga ayam broiler di Poultry Shop ”Jaya Broiler” yaitu:
(1) peternak → inti → pedagang pengumpul Kuningan → pemotong → pengecer,
(2) peternak → inti → RPA → pedagang pengecer,
(3) peternak → inti → pedagang pengumpul luar Kuningan.

17
Pedagang pengumpul dan RPA (mengambil ayam langsung ke peternak)
diberi D.O (delivery order) oleh inti untuk mengambil ayam ke peternak sebanyak
yang tertera pada D.O dan pembayaran dilakukan pada inti sesuai dengan
kesepakatan. Ayam yang berasal dari peternak (100%) melalui inti untuk di jual
ke pedagang pengumpul Kuningan (20%), RPA (5%) dan pedagang pengumpul
luar Kuningan (75%).
Secara umum fungsi-fungsi pemasaran belum dilaksanakan secara baik oleh
masing-masing lembaga pemasaran, terutama fungsi fisik dan fungsi fasilitas.
Penyimpanan yang dilakukan pedagang pengecer masih sederhana, tidak ada
standarisasi yang dilakukan masing-masing lembaga pemasaran dalam pembelian
dan penjualan, pengolahan ayam di lokasi pemotongan kurang memperhatikan
nilai-nilai higienis. Fungsi fasilitas yang belum berjalan adalah informasi pasar,
umumnya lembaga pemasaran memanfaatkan jalur informasi yang tidak formal
karena peranan PINSAR (Pusat Informasi Pasar) belum dirasakan oleh masing-
masing lembaga pemasaran.

18
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian


Lokasi penelitian dilakukan pada 17 desa di Kecamatan Kalirejo Kabupaten
Lampung Tengah. Pemilihan lokasi ini didasarkan petimbangan bahwa
Kecamatan tersebut merupakan sentra produksi ayam kampung di Kabupaten
Lampung Tengah.

3.2. Jenis Data


1. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung dari
responden terpilih yang terdiri dari peternak ayam kampung, pedagang
pengumpul, pedagang keliling, pedagang besar dan konsumen. Teknik
pengumpulan data primer ini terdiri dari beberapa cara, yakni
kuesioner, wawancara dan observasi.

2. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari ketua kelompok, kepala desa,
petugas kecamatan, kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lampung
Tengah dan Dinas Peternakan Provinsi Lampung.

3.3. Responden Penelitian


Metode pengumpulan data antara lain wawancara terhadap peternak ayam
kampung, Pedagang keliling, Pedagang pengumpul, Pedagang besar, Konsumen
rumah tangga, Konsumen restoran/ rumah makan, Ketua Kelompok tani/
peternak, Petugas UPTD Peternakan Kecamatan Kalirejo, Kepala Kampung, dan
Kepala Dinas yang membidangi Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten
Lampung Tengah.
Data yang diambil dalam penelitian ini antara lain karakteristik responden,
gambaran umum usaha kepemilikan ayam, kegiatan penjualan, sistem

19
pembayaran peternak dan pedagang ayam kampung, sistem pembelian, sistem
pembayaran pedagang/ kelompok dan bentuk usaha lembaga tataniaga.

3.4. Metode Pengambilan Sampel


Menurut Sugiyono (2001) Snowball sampling adalah teknik penentuan
responden yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian responden ini memilih
teman-temannya untuk dijadikan responden berikutnya. Begitu seterusnya,
sehingga jumlah responden semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding
semakin lama semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan
purposive dan snowball sampling. Teknik sampel ditunjukkan pada gambar di
bawah ini.

Teknik snowball sampling mengikuti alur saluran pemasaran ayam


kampung dari peternak ke pedagang pengecer. Beberapa peternak diambil sebagai
sampel.

20
3.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Menggunakan metode analisis kualitatif. Analisis kualitatif mengambil
secara deskriptif saluran tataniaga dan lembaga tataniaga. Analisis saluran
tataniaga melalui pengamatan terhadap lembaga-lembaga tataniaga yang ada
dimulai dari peternak sampai ke konsumen ayam kampung. Semakin panjang
rantai saluran tataniaga maka semakin tidak efisien karna margin tataniaga
semakin besar. Lembaga tataniaga digunakan untuk mengetahui fungsi-fungsi
tataniaga yang dilakukan oleh lembaga tataniaga yang terlibat sebagai perantara.

21
22
23
24
25
26
27
28
29
30