Anda di halaman 1dari 16

TUGAS MATA KULIAH

PENGENDALIAN PENYAKIT YANG DITUARKAN OLEH BINATANG

ADMINISTRASI GEOGRAFI

KELOMPOK 4

Desi Listianingsih 101411131027


Isnaini Rahmawati 101411131072
Intan Tri Armawati 101411131087
Renticabella Praharanie Edytya 101411131125
Mohammad Bastian 101411131146
Alifa Jaihan Meifira 101411133024

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
DAFTAR ISI ii
BAB I TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah 3
1.2 Keterpaduan dalam Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah 3
BAB II PEMBAHASAN 7
2.1 Pengertian Leptospirosis 7
2.2 Karakteristik Responden 10
2.3 Persebaran Penderita Leptospirosis 11
2.4 Data Faktor Lingkungan Kejadian Penyakit Leptospirosis di
11
Kabupaten Boyolali Tahun 2015
11
2.5 Data Persebaran Parit atau Selokan

2.6 Data Persebaran Tempat Pengumpulan Akhir Sampah 13

BAB III PENUTUP


15
3.1 Kesimpulan
16
DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah

Manajemen adalah proses operasional untuk mencapai tujuan sebuah

organisasi dengan terlebih dahulu melakukan analisis informasi, fakta dan

evidences. Manajemen penyakit berbasis wilayah adalah sebuah konsep yang

mempelajari kiat manajemen penyakit berdasar kejadian penyakit yang

berakar pada lingkungan dan kependudukan (Achmadi, 2011). Untuk

melakukan manajemen penyakit berbasis penyakit pada sebuah wilayah

administratif tertentu adalah sebagai berikut:

a. Menentukan wilayah administratif, apakah wilayah puskesmas atau

wilayah kabupaten.

b. Menentukan prioritas penyakit serta faktor risiko berkenaan dengan

penyakit yang akan dikendalikan.

c. Pengumpulan evidences, data atau fakta dengan tujuan penggambaran

proses terjadinya penyakit atau patogenenesis penyakit di dalam kejadian

penyakit menular.

1.2 Keterpaduan dalam Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah

Penyelenggaraan manajemen penyakit berbasis wilayah harus

dilakukan secara terpadu sejak dari perencanaan, pelaksanaan, pembiayaan,

maupun monitoring pelaksanaanya. Kegiatan ini mengintegrasikan antara

pengendalian faktor risiko baik risiko berupa variabel kependudukan

3
(perilaku) maupun faktor risiko pada lingkungan yang memiliki potensi

bahaya penyakit dengan manajemen kasus atau penderita atau sumber

penyakitnya.

Manajemen penyakit berbasis wilayah harus pula mengacu pada Teori

Simpul, yakni keterpaduan antara pengendalian sumber penyakit, media

transmisi, dan pengendalian faktor risiko kependudukan serta penyembuhan

penyakit pada wilayah komunitas tertentu.

a. Simpul 1: Sumber Penyakit

Pengendalian atau manajemen penyakit secara terpadu berbasis

wilayah dimulai dari pengendalian sumber penyakit. pengendalian

pada sumber penyakit merupakan upaya preventif dan promotive.

Sumber penyakit menular dan penyakit tidak menular pada dasarnya

dapat dibedakan.

Sumber penyakit yaitu penderita penyakit menular itu sendiri. sumber

penyakit tidak menular yaitu sumber agen penyakit

b. Simpul 2: Pengendalian Media penularan.

Apabila kita gagal melakukan manajemen pada sumber tersebut, ada

pula peluang untuk mengendalikan agents penyakit melalui transmisi

1. Pengendalian Vektor . Salah satu cara mengendalikan penyakit

yang ditularkan vektor penyakit seperti nyamuk malaria dan

demam berdarah.

2. Penyehatan makanan. Merupakan upaya pencegahan penularan

penyakit melalui makanan. Misalnya sanitasi makanan, pengolahan

4
yang memenuhi standar kesehatan, penggunaan bahan-bahan yang

tidak berpotensi bahaya penyakit.

3. Penyehatan Air. Identik dengan penyediaan air bersih bagi

penduduk.

4. Pembersihan udara dalam ruangan. Dengan cara penyediaan filter

di ruangan yang berasap rokok.

5. Pada manusia pembawa penyakit. Misalnya pengobatan dan

pemberian alat pelindung

c. Simpul 3: pengendalian proses pajanan

Ada sederet upaya untuk mencegah agar komunitas tertentu tidak

melakukan kontak dengan komponen yang memiliki potensi yang

membahayakan kesehatan. Upaya yang dikenal adalah :

1. Upaya perbaikan perilaku hidup sehat.

2. Penggunaan alat lindung diri, misalnya masker, kacamata

pelindung ultraviolet dll

3. Imunisasi, misalnya memberikan kekebalan terhadap penyakit

campak, tetanus, polio

4. Kekebalan alamiah ketika terjadi wabah demam berdarah dengue

Untuk memutus kontak harus hati-hati karena tiap wilayah

memiliki model transmisi atau penularan yang berbeda beda,

diperlukan upaya evidence untuk mengetahui dimana dan kapan terjadi

penularan antara satu dengan yang lainnya.

5
d. Simpul 4: pengobatan penderita sakit

Pengobatan terhadap penderita sakit tersebut dikenal sebagai

manajemen kasus atau penderita penyakit. Agents penyakit yang

masuk ke tubuh seseorang akan mengalami proses yang amat

kompleks di dalam tubuh manusia tersebut. Dan tubuh manusia

awalnya melakukan pertahanan diri. Sakit merupakan keadaan

patologis pada individu maupun sekelompok orang berupa kelainan

fungsi maupun morfologi untuk memastikan kondisi seseorang

dinyatakan sakit bisa melalui pemeriksaan secara sederhana hingga

pemeriksaan dengan alat teknologi tinggi. Kondisi gangguan penyakit

pada komunitas tertentu pada dasarnya merupakan kegagalan

pengendalian faktor 1, 2, 3 saat itulah memerlukan manajemen kasus

penderita dengan baik dan tuntas terutama kasus penyakit menular.

e. Simpul 5: manajemen kelompok variabel berperan lainnya

Simpul 5 adalah sekumpulan berbagai ‘intervening variabels’ yang

dapat mempengaruhi proses hubungan interaksi antara simpul 2

dengan simpul 3 (penduduk). Simpul 5 terdiri dari 2 kategori, kategori

pertama adalah variabel yang sulit dikendalikan seperti

topografi,iklim, suhu lingkungan dan kelembaban. Kategori kedua

adalah berbagai institusi yang dapat mempengaruhi hubungan

interaktif anatara simpul 2 dengan simpul 3, seperti pendidikan,

penyuluhan ataupun pemberian alat pelindung.

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Penyakit Leptospirosis

Penyakit leptospirosis merupakan masalah kesehatan masyarakat di

seluruh dunia khususnya di negara-negara yang beriklim tropis dan subtropis serta

memiliki curah hujan yang tinggi. Angka kejadian leptospirosis di seluruh dunia

belum diketahui secara pasti. Hal ini disebabkan karena belum lengkapnya sarana

laboratorium, khususnya di negara-negara berkembang. Menurut laporan-laporan

yang tersedia saat ini, insidens penyakit ini berkisar kira-kira 0,1-1 per 100.000

penduduk per tahun pada daerah beriklim hangat dan 10-100 per 100.000

penduduk per tahun di daerah beriklim lembab (WHO, 2003).

Leptospirosis tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, antara lain di

Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),

Provinsi Lampung, Provinsi Sumatera Selatan, Bengkulu, Riau, Sumatera Barat,

Sumatera Utara, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, Sulawesi

Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Angka kematian akibat

leptospirosis di Indonesia termasuk tinggi, mencapai 2,5-16,45%. Pada usia lebih

dari 50 tahun kematian mencapai 56%. (Zulkoni, 2011). Kejadian Luar Biasa

(KLB) leptospirosis pernah terjadi di Riau tahun 1986, Jakarta tahun 2002, Bekasi

tahun 2002, dan Semarang tahun 2003 (Kunoli, 2013). Pada tahun 2010 terjadi 54

kasus dengan 10 meninggal, dan kejadian paling tinggi terjadi pada tahun 2007

dengan 667 kasus (Nurhadi, 2012).

7
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa kejadian

leptospirosis di Indonesia tahun 2011 terdapat 857 kasus dan 82 orang meninggal

(CFR 9,57%), tahun 2012 terdapat 239 kasus dan 29 orang meninggal (CFR

12,13%), tahun 2013 terdapat 641 kasus dan 60 orang meninggal (CFR 9,36%)

(Kemenkes RI, 2014). Peningkatan kasus leptospirosis terjadi di Provinsi Jawa

Tengah dan DKI Jakarta, hingga November 2014 Kemenkes mencatat 435 kasus

dengan 62 kematian (CFR 14,25%) akibat penyakit leptospirosis (Kemenkes RI,

2015). Kasus dan kematian leptospirosis di Jawa Tengah yaitu pada tahun 2011

terdapat 184 kasus dan 33 orang meninggal (CFR 17,94%), tahun 2012 terdapat

129 kasus dan 20 orang meninggal (CFR 15,50%), tahun 2013 terdapat 156 kasus

dan 17 orang meninggal (CFR 10,90%) (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah,

2014).

Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali melaporkan bahwa penyakit

leptospirosis di Kabupaten Boyolali pertama kali ditemukan pada tahun 2012

yaitu sebanyak 2 kasus di Kecamatan Ngemplak (Dinas Kesehatan Kabupaten

Boyolali, 2013). Pada tahun 2013 terdapat 6 kasus yaitu di Kecamatan Ngemplak

1 kasus dan Kecamatan Nogosari 5 kasus (Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali,

2014). Tahun 2014 ada 20 kasus dan 7 meninggal (CFR 35%) yaitu di Kecamatan

Ngemplak 5 kasus (2 orang meninggal), Kecamatan Nogosari 8 kasus (3 orang

meninggal), Kecamatan Teras 1 kasus (meninggal), Kecamatan Simo 1 kasus,

Kecamatan Kemusu 1 kasus (meninggal), Kecamatan Sambi 3 kasus, Kecamatan

Banyudono 1 kasus (Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, 2015). Pada tahun


8
2015 sebanyak 19 kasus dan 3 meninggal (CFR 15,78%) yaitu di Kecamatan

Banyudono 2 kasus, Kecamatan Musuk 1 kasus (meninggal), Kecamatan

Ngemplak 1 kasus, Kecamatan Nogosari 2 kasus, Kecamatan Sambi 2 kasus,

Kecamatan Sawit 8 kasus dan 2 meninggal, Kecamatan Teras 1 kasus, dan

Kecamatan Simo 2 kasus (Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, 2016).

Penyakit leptospirosis di Kabupaten Boyolali merupakan Kejadian Luar

Biasa (KLB. Penyakit leptospirosis muncul pertama kali pada tahun 2012

ditemukan kasus baru dan menimbulkan kematian pada tahun 2014 dan tahun

2015 (Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, 2016).

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti, hingga saat ini analisis

data register Leptospirosis di Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali masih terbatas

dalam bentuk tabular dan grafik. Analisis sebaran kasus masih berupa agresi di

tingkat desa dan kecamatan belum dalam bentuk pemetaan. Pemetaan sebaran

memungkinkan untuk menampilkan data lebih akurat dengan penggunaan

aplikasi-aplikasi sistem informasi geografis yang dapat mengidentifikasi hal-hal

atau informasi yang hilang apabila ditampilkan dalam bentuk tabel. Sampai saat

ini belum diketahui pola sebaran yang terperinci mengenai distribusi kasus

Leptospirosis. Gambaran spasial kasus penyakit Leptospirosis diharapkan dapat

mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan terhadap sebaran penyakit

Leptospirosis di Kabupaten Boyolali. Dari uraian latar belakang tersebut, peneliti

tertarik meneliti persebaran kejadiaan Leptospirosis dan faktor lingkungan

kejadian Leptospirosis di Kabupaten Boyolali tahun 2015.

9
Letak geografis Kabupaten Bayolali sangat strategis. Terletak di 110o22’–

110o50’ Bujur Timur dan 7o36’–7o71’ Lintang Selatan. Secara administratif

Boyolali berbatasan dengan; sebelah utara: Kabupaten Grobogan dan Kabupaten

Semarang. Sebelah timur Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen dan

Kabupaten Sukoharjo. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan

Daerah Istimewa Yogyakarta serta sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten

Magelang dan Kabupaten Semarang. Kabupaten Boyolali memiliki luas wilayah

101.510,20 Ha yang terdiri tanah sawah 22.830,83 Ha dan tanah kering 78.679,37

Ha. Secara topografi wilayah Kabupaten Boyolali merupakan wilayah dataran

rendah dengan perbukitan dan pegounungan, berada pada ketinggian rata-rata 700

meter di atas permukaan laut. Titik tertinggi berada pada 1.500 meter yaitu di

Kecamatan Selo dan terendah pada 75 meter di Kecamatan Banyudono.

2.2 Karakteristik Responden

Penelitian yang telah dilaksanakan di Kabupaten Boyolali dengan sampel

19 orang diperoleh karakteristik yang meliputi jenus kelamin, usia, jenis

pekerjaan, dan pendidikan.

Hasil penelitian bahwa karakteristik jenis kelamin didominasi laki-laki

yaitu sebesar 13 orang (68,42%). Pendidikan responden penderita leptospirosis di

Kabupaten Boyolali tahun 2-015 didominasi pendidikan SMA sebanyak 6 orang

(31,48%), usia didominasi rentang 31-35 tahun sebanyak 5 orang (26,42%), dan

pekerjaan didominasi sebagai petani sebanyak 6 orang (31,58%).

10
2.3 Persebaran Penderita Leptospirosis

Penderita Leptospirosis di Kabupaten Boyolali tahun 2015 tersebar di 8

Kecamatan yaitu Kecamatan Banyudono, Kecamatan Musuk, Kecamatan

Ngemplak, Kecamatan Nogosari, Kecamatan Sambi, Kecamatan Sawit,

Kecamatan Simo, dan Kecamatan Teras. Berikut disajikan pada gambar 1. Peta

persebaran penderita leptospirosis di Kabupaten Boyolali Tahun 2015.

Gambar.1 Peta persebaran penderita leptospirosis di Kabupaten Boyolali Tahun


2015

2.4 Data Faktor Lingkungan Kejadian Penyakit Leptospirosis di Kabupaten

Boyolali Tahun 2015

Data faktor lingkungan didapatkan dari sampel yang berjumlah 12

responden dari total populasi sebanyak 19 penderita leptospirosis di Kabupaten

11
Boyolali. Hal tersebut dikarenakan 3 orang meninggal dunia akibat leptospirosis,

3 orang meninggal dunia saat penelitian, dan 1 orang lagi tidak berdomisili di

Kabupaten Boyolali. Berdasarkan tabel distribusi faktor lingkungan leptospirosis

diketahui bahwa 11 dari 12 responden bertempat tinggal dekat dengan aliran

sungai yang berjarak < 500 m. Bahwa seperti yang diketahui air merupakan media

penularan leptospirosis karena bakteri leptospira dapat bertahan hidup di air

sampai sekitar satu bulan dan jarak rumah yang dekat dengan aliran sungai 1,58

kali lebih tinggi terkena leptospirosis.

2.5 Data Persebaran Parit atau Selokan

Parit atau selokan merupakan salah satu media penularan penyakit

leptospirosis. Dimana parit dan selokan adalah tempat yang sering dijadikan

tempat tinggal tikus ataupun jalur tikus masuk ke dalam rumah. Jarak selokan

kurang dari 2 meter memiliki risiko lebih besar terhadap kejadian leptospirosis

karena jarak selokan yang < 2 m dapat meluap saat terjadi banjir. Berikut adalah

peta buffer faktor lingkungan penyakit leptospirosis (sungai dan selokan) di

Kabupaten Boyolali Tahun 2015.

12
Gambar. 2 Peta Buffer Faktor Lingkungan Penyakit Leptospirosis (Sungai dan
Selokan) di Kabupaten Boyolali Tahun 2015

2.6 Data Persebaran Tempat Pengumpulan Akhir Sampah

Salah satu faktor lingkungan yang berisiko terhadap penyakit leptospirosis

adalah jarak tempat pengumpulan sampah yang < 500 m karena jarak rumah yang

dekat dengan tempat pengumpulan sampah mengakibatkan tikus dapat masuk ke

rumah dan kencing di sembarang tempat. Keberadaan sampah dilihat dari ada atau

tidaknya sampah di dalam atau di lingkungan rumah responden yaitu dengan

melihat dimana sampah dibuang, bagaimana tempat pembuangan sampah, dan

sering tidaknya sampah dibuang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12

responden menyatakan tidak ada ketersediaan pengumpulan sampah, artinya

mereka membuang dan mengumpulkan sampah di tempat atau lahan yang terbuka

dan jarak pengumpulan sampah seluruhnya < 500 m. Adanya tumpukan sampah

terutama sisa makanan yang diletakkan di tempat sampah yang tidak tertutup akan

mengundang kehadiran tikus karena tumpukan sampah akan menjadi tempat

13
bersarang atau mencari makan tikus. Berikut peta buffer faktor lingkungan

(tempat pembuangan akhir sampah)

Gambar. 2 Peta buffer Faktor Lingkungan Penyakit Leptospirosis (Tempat


Pembuangan Akhir Sampah) di Kabupaten Boyolali Tahun 2015

Gambar. 3 Peta buffer Faktor Lingkungan Penyakit Leptospirosis (Tempat


Pembuangan Akhir Sampah) di Kabupaten Boyolali Tahun 2015

14
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Manajemen penyakit berbasis wilayah adalah sebuah konsep yang

mempelajari kiat manajemen penyakit berdasarkan kejadian penyakit yang

berakar pada lingkungan dan kependudukan. Penyelenggaraan manajemen

penyakit berbasis wilayah harus dilakukan secara terpadu sejak dari

perencanaan, pelaksanaan, pembiayaan, maupun monitoring pelaksanaanya.

Manajemen penyakit berbasis wilayah mengacu pada Teori Simpul, yakni

keterpaduan antara pengendalian sumber penyakit, pengendalian media

penularan, pengendalian proses pajanan, pengobatan bagi penderita,

manajemen kelompok variabel berperan lainnya.

15
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi UF.2009.Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Jurnal Kesehatan


Masyarakat Nasional. 3(4):147-153
Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali. 2013. Laporan Leptospirosis Dinas
Kesehatan Kabupaten Boyolali 2013. Boyolali: Laporan Surveilan
Epidemiologi.
Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali. 2014. Laporan Leptospirosis Dinas
Kesehatan Kabupaten Boyolali 2014. Boyolali: Laporan Surveilan
Epidemiologi.
Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali. 2015. Laporan Leptospirosis Dinas
Kesehatan Kabupaten Boyolali 2015. Boyolali: Laporan Surveilan
Epidemiologi.
Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali. 2016. Laporan Leptospirosis Dinas
Kesehatan Kabupaten Boyolali 2016. Boyolali: Laporan Surveilan
Epidemiologi.
Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah. 2014. Buku Saku Kesehatan Tahun 2014.
Semarang: Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah.
Kemenkes RI. 2015. Kemenkes Waspadai Leptospirosis Pasca Banjir. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kemenkes RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Repubik Indonesia.
Kunoli F. 2013. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular Untuk Mahasiswa
Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Trans Info Media.
Nurhadi M. 2012. Kesehatan Masyarakat Veteriner (Hiegiene Bahan Pangan
Asal Hewan dan Zoonosis). Yogyakarta: Gosyen Publishing.
WHO. 2003. Human leptospirosis: Guidance for diagnosis, surveillance, and
control.
Yuniasy’ari Y M. 2015. Analisis Spasial Faktor Lingkungan Kejadian
Leptospirosis di Kabupaten Boyolali Tahun 2015. Skripsi. Fakultas Ilmu
Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Zulkoni A. 2011. Parasitologi Untuk Keperawatan, Kesehatan Masyarakat dan
Teknik Lingkungan. Yogyakarta: Nuha Medika.

16