Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

ILMU KEPERAWATAN
“ BAHAYA LINGKUNGAN KERJA (BAHAYA KIMIA, DAN FISIK DI
LINGKUNGAN KERJA) DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN
SERTA PENATALAKSANAANNYA”
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keselamatan Pasien dan
Keselamatan Kesahatan Kerja dalam Keperawatan

Disusun Oleh Kelompok 5

Dwiti Hikmah Sari : 16. IK. 466


Rahmad Maulida : 16. IK. 490
Syiva Hermawinda : 16. IK. 499
Tri Suhertanto : 16. IK. 500

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SARI MULIA BANJARMASIN
2017
Kata Pengantar / Prakata

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
selesainya makalah yang berjudul "Sistem Manajemen Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja ". Atas dukungan moral dan materi yang diberikan dalam
penyusunan makalah ini, maka penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada :

1. Ibu Yunina Ellasari, S.Kep., Ns selaku Dosen mata kuliah


Keselamatan Pasien dan Keselamatan Kesahatan Kerja dalam Keperawatan yang
memberikan dorongan, masukan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan
makalah ini.

2. Ibu Dini Rahmayani, S.Kep., Ns., MPH selaku ketua Program Studi
Ners, yang banyak memberikan materi pendukung, masukan, bimbingan kepada
penulis.

Penulis menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna. Oleh karena itu,
saran dan kritik yang membangun dari rekan-rekan sangat dibutuhkan untuk
penyempurnaan makalah ini.

Banjarmasin, 14 Oktober 2017

Kelompok 5

i
Daftar Isi

Kata Pengantar / Prakata ........................................................................................................... i


Daftar Isi .................................................................................................................................... ii
BAB I .......................................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN ......................................................................................................................... 3
A. Latar Belakang............................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah ......................................................................................................... 4
C. Tujuan ........................................................................................................................... 4
D. Manfaat ......................................................................................................................... 4
BAB II ......................................................................................................................................... 5
PEMBAHASAN ........................................................................................................................... 5
A. Identifikasi Bahaya ........................................................................................................ 5
B. Penilaian Risiko ............................................................................................................. 6
C. Faktor/ Potensi Bahaya Di Tempat Kerja ...................................................................... 8
D. Upaya Pencegahan Pada Potensi Bahaya Dalam Kerja............................................... 23
BAB III ...................................................................................................................................... 26
PENUTUP ................................................................................................................................. 26
A. Kesimpulan .................................................................................................................. 26
B. Saran ........................................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 27

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap tempat kerja selalu mengandung berbagai potensi bahaya yang dapat
mempengaruhi kesehatan tenaga kerja atau dapat menyebabkan timbulnya
penyakit akibat kerja. Potensi bahaya adalah segala sesuatu yang berpotensi
menyebabkan terjadinya kerugian, kerusakan, cidera, sakit, kecelakaan atau
bahkan dapat mengakibatkan kematian yang berhubungan dengan proses dan
sistem kerja. Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pada
Pasal 1 menyatakan bahwa tempat kerja ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup
atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja, atau yang sering dimasuki
tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber-sumber
bahaya. Termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman dan
sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan
tempat kerja tersebut.
Potensi bahaya mempunyai potensi untuk mengakibatkan kerusakan dan
kerugian kepada : 1) manusia yang bersifat langsung maupun tidak langsung
terhadap pekerjaan, 2) properti termasuk peratan kerja dan mesin-mesin, 3)
lingkungan, baik lingkungan di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan, 4)
kualitas produk barang dan jasa, 5) nama baik perusahaan.
Sumber daya manusia sebagai tenaga kerja dalam perusahaan tidak terlepas
dari adanya masalah yang berkaitan dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3). Kejadian Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK)
di Indonesia tahun 2015 tercatat 96.314 kasus dengan korban meninggal 2.144
orang dan cacat 42 orang. Pada tahun 2016 kasus PAK dan KAK meningkat
menjadi 103.000 kasus.

3
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan rumusan
masalah sebagai berikut :
1. Apa identifikasi bahaya terhadap lingkungan kerja?
2. Sebutkan penyakit atau cedera akibat kecelakaan kerja?
3. Bagaimana upaya pencegahan dalam mengatasi penyakit kerja?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa saja identifikasi bahaya lingkungan kerja
2. Untuk mengetahui apa saja yang terdapat penyakit atau cidera yang timbul
akibat kecelakaan kerja
3. Untuk menegtahui upaya pencegahan dan penatalaksanaan dalam mengatasi
penyakit atau faktor bahaya dalam bekerja

D. Manfaat
1. Memahami identifikasi terhadap bahaya lingkungan kerja
2. Mengetahui penyakit-penyakit atau cidera yang terdapat pada akibat
kecelakaan kerja
3. Mengaplikasikan pencegahan dan penatalaksanaan dalam mengatasi penyakit
atau faktor bahaya dalam bekerja

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Identifikasi Bahaya
Langkah pertama manajemen risiko kesehatan di tempat kerja adalah
identifikasi atau pengenalan bahaya kesehatan. Pada tahap ini dilakukan
identifikasi faktor risiko kesehatan yang dapat tergolong fisik, kimia, biologi,
ergonomik, dan psikologi yang terpajan pada pekerja. Untuk dapat menemukan
faktor risiko ini diperlukan pengamatan terhadap proses dan simpul kegiatan
produksi, bahan baku yang digunakan, bahan atau barang yang dihasilkan
termasuk hasil samping proses produksi, serta limbah yang terbentuk proses
produksi. Pada kasus terkait dengan bahan kimia, maka diperlukan: pemilikan
material safety data sheets (MSDS) untuk setiap bahan kimia yang digunakan,
pengelompokan bahan kimia menurut jenis bahan aktif yang terkandung,
mengidentifikasi bahan pelarut yang digunakan, dan bahan inert yang menyertai,
termasuk efek toksiknya. Ketika ditemukan dua atau lebih faktor risiko secara
simultan, sangat mungkin berinteraksi dan menjadi lebih berbahaya atau mungkin
juga menjadi kurang berbahaya. Sebagai contoh, lingkungan kerja yang bising dan
secara bersamaan terdapat pajanan toluen, maka ketulian akibat bising akan lebih
mudah terjadi.
Proses penilaian pajanan merupakan bentuk evaluasi kualitatif dan
kuantitatif terhadap pola pajanan kelompok pekerja yang bekerja di tempat dan
pekerjaan tertentu dengan jenis pajanan risiko kesehatan yang sama. Kelompok itu
dikenal juga dengan similar exposure group (kelompok pekerja dengan pajanan
yang sama). Penilaian pajanan harus memenuhi tingkat akurasi yang adekuat
dengan tidak hanya mengukur konsentrasi atau intensitas pajanan, tetapi juga
faktor lain. Pengukuran dan pemantauan konsentrasi dan intensitas secara
kuantitatif saja tidak cukup, karena pengaruhnya terhadap kesehatan dipengaruhi
oleh faktor lain itu. Faktor tersebut perlu dipertimbangkan untuk menilai potensial
faktor risiko (bahaya/hazards) yang dapat menjadi nyata dalam situasi tertentu.

5
Tujuan langkah karakterisasi risiko adalah mengevaluasi besaran
(magnitude) risiko kesehatan pada pekerja. Dalam hal ini adalah perpaduan
keparahan gangguan kesehatan yang mungkin timbul termasuk daya toksisitas bila
ada efek toksik, dengan kemungkinan gangguan kesehatan atau efek toksik dapat
terjadi sebagai konsekuensi pajanan bahaya potensial. Karakterisasi risiko dimulai
dengan mengintegrasikan informasi tentang bahaya yang teridentifikasi (efek
gangguan/toksisitas spesifik) dengan perkiraan atau pengukuran
intensitas/konsentrasi pajanan bahaya dan status kesehatan pekerja.

B. Penilaian Risiko
Rincian langkah umum yang biasanya dilaksanakan dalam penilaian risiko
meliputi :
1. Menentukan personil penilai
Penilai risiko dapat berasal dari intern perusahaan atau dibantu oleh
petugas lain diluar perusahaan yang berkompeten baik dalam pengetahuan,
kewenangan maupun kemampuan lainnya yang berkaitan. Tergantung dari
kebutuhan, pada tempat kerja yang luas, personil penilai dapat merupakan
suatu tim yang terdiri dari beberapa orang.
2. Menentukan obyek/bagian yang akan dinilai
Obyek atau bagian yang akan dinilai dapat dibedakan menurut bagian /
departemen, jenis pekerjaan, proses produksi dan sebagainya. Penentuan
obyek ini sangat membantu dalam sistematika kerja penilai.
3. Kunjungan / Inspeksi tempat kerja
Kegiatan ini dapat dimulai melalui suatu “walk through survey /
Inspection” yang bersifat umum sampai kepada inspeksi yang lebih detail.
Dalam kegiatan ini prinsip utamanya adalah melihat, mendengar dan mencatat
semua keadaan di tempat kerja baik mengenai bagian kegiatan, proses, bahan,
jumlah pekerja, kondisi lingkungan, cara kerja, teknologi pengendalian, alat
pelindung diri dan hal lain yang terkait.

6
4. Identifikasi potensi bahaya
Berbagai cara dapat dilakukan guna mengidentifikasi potensi bahaya di
tempat kerja, misalnya melalui : inspeksi / survei tempat kerja rutin, informasi
mengenai data keelakaan kerja dan penyakit, absensi, laporan dari (panitia
pengawas Kesehatan dan Keselamatan Kerja) P2K3, supervisor atau keluhan
pekerja, lembar data keselamatan bahan (material safety data sheet) dan lain
sebagainya. Selanjutnya diperlukan analisis dan penilaian terhadap potensi
bahaya tersebut untuk memprediksi langkah atau tindakan selanjutnya
terutama pada kemungkinan potensi bahaya tersebut menjadi suatu risiko.
5. Mencari informasi / data potensi bahaya
Upaya ini dapat dilakukan misalnya melalui kepustakaan, mempelajari
MSDS, petunjuk teknis, standar, pengalaman atau informasi lain yang relevan.
6. Analisis Risiko
Dalam kegiatan ini, semua jenis resiko, akibat yang bisa terjadi, tingkat
keparahan, frekuensi kejadian, cara pencegahannya, atau rencana tindakan
untuk mengatasi risiko tersebut dibahas secara rinci dan dicatat selengkap
mungkin. Ketidaksempurnaan dapat juga terjadi, namun melalui upaya
sitematik, perbaikan senantiasa akan diperoleh.
7. Evaluasi risiko
Memprediksi tingkat risiko melalui evaluasi yang akurat merupakan
langkah yang sangat menentukan dalam rangkaian penilaian risiko.
Kualifikasi dan kuantifikasi risiko, dikembangkan dalam proses tersebut.
Konsultasi dan nasehat dari para ahli seringkali dibutuhkan pada tahap analisis
dan evaluasi risiko.
8. Menentukan langkah pengendalian
Apabila dari hasil evaluasi menunjukan adanya risiko membahayakan
bagi kelangsungan kerja maupun kesehatan dan keselamatan pekerja perlu
ditentukan langkah pengendalian yang dipilih dari berbagai cara seperti :
Apabila dari hasil evaluasi menunjukan adanya risiko membahayakan bagi

7
kelangsungan kerja maupun kesehatan dan keselamatan pekerja perlu
ditentukan langkah pengendalian yang dipilih dari berbagai cara seperti :
a. Memilih teknologi pengendalian seperti eliminasi, substitusi, isolasi,
engineering control, pengendalian administratif, pelindung
peralatan/mesin atau pelindung diri.
b. Menyusun program pelatihan guna meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman berkaitan dengan risiko,
c. Menentukan upaya monitoring terhadap lingkungan / tempat kerja.
d. Menentukan perlu atau tidaknya survailans kesehatan kerja melalui
pengujian kesehatan berkala, pemantauan biomedik, audiometri dan
lain-lain.
e. Menyelenggarakan prosedur tanggap darurat / emergensi dan
pertolongan pertama sesuai dengan kebutuhan.
9. Menyusun pencatatan / pelaporan
Seluruh kegiatan yang dilakukan dalam penilaian risiko harus dicatat
dan disusun sebagai bahan pelaporan secara tertulis. Format yang digunakan
dapatdisusun sesuai dengan kondisi yang ada.
10. Mengkaji ulang penelitian
Pengkajian ulang perlu senantiasa dilakukan dalam periode tertentu
atau bila terdapat perubahan dalam proses produksi, kemajuan teknologi,
pengembangan informasi terbaru dan sebagainya, guna perbaikan
berkelanjutan penilaian risiko tersebut.

C. Faktor/ Potensi Bahaya Di Tempat Kerja


Untuk menghindari dan meminimalkan kemungkinan terjadinya potensi
bahaya di tempat kerja, Pengenalan potensi bahaya di tempat kerja merupakan
dasar untuk mengetahui pengaruhnya terhadap tenaga kerja, serta dapat
dipergunakan untuk mengadakan upaya-upaya pengendalian dalam rangka
pencegahan penyakit akibat kerja yagmungkin terjadi. Secara umum, potensi

8
bahaya lingkungan kerja dapat berasal atau bersumber dari berbagai faktor, antara
lain :
1. Faktor teknis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau terdapat pada peralatan
kerja yang digunakan atau dari pekerjaan itu sendiri;
2. Faktor lingkungan, yaitu potensi bahaya yang berasal dari atau berada di
dalam lingkungan, yang bisa bersumber dari proses produksi termasuk bahan
baku, baik produk antara maupun hasil akhir;
3. Faktor manusia, merupakan potensi bahaya yang cukup besar terutama apabila
manusia yang melakukan pekerjaan tersebut tidak berada dalam kondisi
kesehatan yang prima baik fisik maupun psikis.

Potensi bahaya di tempat kerja yang dapat menyebabkan gangguan


kesehatan dapat dikelompokkan antara lain sebagai berikut :
1. Potensi bahaya fisik, yaitu potensi bahaya yang dapat menyebabkan
gangguan-gangguan kesehatan terhadap tenaga kerja yang terpapar,
misalnya: terpapar kebisingan intensitas tinggi, suhu ekstrim (panas &
dingin), intensitas penerangan kurang memadai, getaran, radiasi.
a. Radiasi
Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang
dalam bentuk panas, partikel atau gelombang elektromagnetik/cahaya
(foton) dari sumber radiasi. Ada beberapa sumber radiasi yang kita kenal
di sekitar kehidupan kita, contohnya adalah televisi, lampu penerangan,
alat pemanas makanan (microwave oven), komputer, dan lain-lain.Selain
benda-benda tersebut ada sumber-sumber radiasi yang bersifat unsur
alamiah dan berada di udara, di dalam air atau berada di dalam lapisan
bumi. Beberapa di antaranya adalah Uranium dan Thorium di dalam
lapisan bumi; Karbon dan Radon di udara serta Tritium dan Deuterium
yang ada di dalam air.Secara garis besar radiasi digolongkan ke dalam
radiasi pengion dan radiasi non-pengion.

9
1) Radiasi Pengion
Radiasi pengion adalah jenis radiasi yang dapat menyebabkan
proses ionisasi (terbentuknya ion positif dan ion negatif) apabila
berinteraksi dengan materi. Yang termasuk dalam jenis radiasi pengion
adalah partikel alpha, partikel beta, sinar gamma, sinar-X dan neutron.
Setiap jenis radiasi memiliki karakteristik khusus. Yang termasuk
radiasi pengion adalah partikel alfa (α), partikel beta (β), sinar gamma
(γ), sinar-X, partikel neutron.
2) Radiasi Non Pengion
Radiasi non-pengion adalah jenis radiasi yang tidak akan
menyebabkan efek ionisasi apabila berinteraksi dengan materi. Radiasi
non-pengion tersebut berada di sekeliling kehidupan kita. Yang
termasuk dalam jenis radiasi non-pengion antara lain adalah
gelombang radio (yang membawa informasi dan hiburan melalui radio
dan televisi); gelombang mikro (yang digunakan dalam microwave
oven dan transmisi seluler handphone); sinar inframerah (yang
memberikan energi dalam bentuk panas); cahaya tampak (yang bisa
kita lihat); sinar ultraviolet (yang dipancarkan matahari).
Ada dua macam sifat radiasi yang dapat digunakan untuk
mengetahui keberadaan sumber radiasi pada suatu tempat atau bahan,
yaitu sebagai berikut :
1) Radiasi tidak dapat dideteksi oleh indra manusia, sehingga untuk
mengenalinya diperlukan suatu alat bantu pendeteksi yang disebut
dengan detektor radiasi. Ada beberapa jenis detektor yang secara
spesifik mempunyai kemampuan untuk melacak keberadaan jenis
radiasi tertentu yaitu detektor alpha, detektor gamma, detektor
neutron, dll.
2) Radiasi dapat berinteraksi dengan materi yang dilaluinya melalui
proses ionisasi, eksitasi dan lain-lain. Dengan menggunakan sifat-

10
sifat tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk membuat
detektor radiasi.
Pengaruh Radiasi Terhadap Manusia Sel dalam tubuh manusia
terdiri dari sel genetic dan sel somatic. Sel genetic adalah sel telur pada
perempuan dan sel sperma pada laki-laki, sedangkan sel somatic adalah
sel-sel lainnya yang ada dalam tubuh. Berdasarkan jenis sel, maka efek
radiasi dapat dibedakan atas efek genetik dan efek somatik. Efek genetik
atau efek pewarisan adalah efek yang dirasakan oleh keturunan dari
individu yang terkena paparan radiasi. Sebaliknya efek somatik adalah
efek radiasi yang dirasakan oleh individu yang terpapar radiasi.Waktu
yang dibutuhkan sampai terlihatnya gejala efek somatik sangat bervariasi
sehingga dapat dibedakan atas efek segera dan efek tertunda. Efek segera
adalah kerusakan yang secara klinik sudah dapat teramati pada individu
dalam waktu singkat setelah individu tersebut terpapar radiasi, seperti
epilasi (rontoknya rambut), eritema (memerahnya kulit), luka bakar dan
penurunan jumlah sel darah. Kerusakan tersebut terlihat dalam waktu hari
sampai mingguan pasca iradiasi. Sedangkan efek tertunda merupakan
efek radiasi yang baru timbul setelah waktu yang lama (bulanan/tahunan)
setelah terpapar radiasi, seperti katarak dan kanker. Bila ditinjau dari
dosis radiasi (untuk kepentingan proteksi radiasi), efek radiasi dibedakan
atas efek deterministik dan efek stokastik. Efek deterministik adalah efek
yang disebabkan karena kematian sel akibat paparan radiasi, sedangkan
efek stokastik adalah efek yang terjadi sebagai akibat paparan radiasi
dengan dosis yang menyebabkan terjadinya perubahan pada sel.Efek
Deterministi (efek non stokastik) Efek ini terjadi karena adanya proses
kematian sel akibat paparan radiasi yang mengubah fungsi jaringan yang
terkena radiasi. Efek ini dapat terjadi sebagai akibat dari paparan radiasi
pada seluruh tubuh maupun lokal. Efek deterministik timbul bila dosis
yang diterima di atas dosis ambang (threshold dose) dan umumnya timbul
beberapa saat setelah terpapar radiasi. Tingkat keparahan efek

11
deterministik akan meningkat bila dosis yang diterima lebih besar dari
dosis ambang yang bervariasi bergantung pada jenis efek. Pada dosis
lebih rendah dan mendekati dosis ambang, kemungkinan terjadinya efek
deterministik dengan demikian adalah nol. Sedangkan di atas dosis
ambang, peluang terjadinya efek ini menjadi 100%. Efek stokastik terjadi
tanpa ada dosis ambang dan baru akan muncul setelah masa laten yang
lama. Semakin besar dosis paparan, semakin besar peluang terjadinya
efek stokastik, sedangkan tingkat keparahannya tidak ditentukan oleh
jumlah dosis yang diterima. Bila sel yang mengalami perubahan adalah
sel genetik, maka sifat-sifat sel yang baru tersebut akan diwariskan
kepada turunannya sehingga timbul efek genetik atau pewarisan. Apabila
sel ini adalah sel somatik maka sel-sel tersebut dalam jangka waktu yang
relatif lama, ditambah dengan pengaruh dari bahan-bahan yang bersifat
toksik lainnya, akan tumbuh dan berkembang menjadi jaringan ganas atau
kanker. Paparan radiasi dosis rendah dapat menigkatkan resiko kanker
dan efek pewarisan yang secara statistik dapat dideteksi pada suatu
populasi, namun tidak secara serta merta terkait dengan paparan individu.
1) Radiasi infra merah dapat menyebabkan katarak.
2) Laser berkkuatan besar dapat merusak mata dan kulit.
3) Medan elektromagnetik tingkat rendah dapat menyebabkan kanker.
Contoh : Radiasi ultraviolet : pengelasan, Radiasi Inframerah:
furnacesn/ tungku pembakaran, Laser : komunikasi, pembedahan .
Prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam penggunaan radiasi untuk
berbagai keperluan. Dalam penggunaan radiasi untuk berbagai keperluan
ada ketentuan yang harus dipatuhi untuk mencegah penerimaan dosis
yang tidak seharusnya terhadap seseorang. Ada 3 prinsip yang telah
direkomendasikan oleh International Commission Radiological Protection
(ICRP) untuk dipatuhi, yaitu:
1) Justifikasi, Setiap pemakaian zat radioaktif atau sumber lainnya
harus didasarkan pada azaz manfaat. Suatu kegiatan yang mencakup

12
paparan atau potensi paparan hanya disetujui jika kegiatan itu akan
menghasilkan keuntungan yang lebih besar bagi individu atau
masyarakat dibandingkan dengan kerugian atau bahaya yang timbul
terhadap kesehatan.
2) Limitasi, Dosis ekivalen yang diterima pekerja radiasi atau
masyarakat tidak boleh melalmpaui Nilai Batas Dosis (NBD) yang
telah ditetapkan. Batas dosis bagi pekerja radiasi dimaksudkan
untuk mencegah munculnya efek deterministik (non stokastik) dan
mengurangi peluang terjadinya efek stokastik.
3) Optimasi, Semua penyinaran harus diusahakan serendah-rendahnya
(as low as reasonably achieveable - ALARA), dengan
mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial. Kegiatan
pemanfaatan tenaga nuklir harus direncanakan dan sumber radiasi
harus dirancang dan dioperasikan untuk menjamin agar paparan
radiasi yang terjadi dapat ditekan serendah-rendahnya.
b. Kebisingan
Bising adalah campuran dari berbagai suara yang tidak dikehendaki
ataupun yang merusak kesehatan, saat ini kebisingan merupakan salah
satu penyebab penyakit lingkungan (Slamet, 2006). Sedangkan
kebisingan sering digunakan sebagai istilah untuk menyatakan suara
yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh kegiatan manusia atau
aktifitas- aktifitas alam (Schilling, 1981). Kebisingan dapat diartikan
sebagai segala bunyi yang tidak dikehendaki yang dapat memberi
pengaruh negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan seseorang maupun
suatu populasi.
Aspek yang berkaitan dengan kebisingan antara lain : jumlah energi
bunyi, distribusi frekuensi, dan lama pajanan.
1) Kebisingan dapat menghasilkan efek akut seperti masalah
komunikasi, turunnya konsentrasi, yang pada akhirnya mengganggu
job performance tenaga kerja.

13
2) Pajanan kebisingan yang tinggi (biasanya >85 dBA) pada jangka
waktu tertentu dapat menyebabkan tuli yang bersifat sementara
maupun kronis.
3) Tuli permanen adalah penyakit akibat kerja yang paling banyak di
klaim Contoh : Pengolahan kayu, tekstil, metal, dll.
Kebisingan mempengaruhi kesehatan antara lain dapat
menyebabkan kerusakan pada indera pendengaran sampai kepada
ketulian. Dari hasil penelitian diperoleh bukti bahwa intensitas bunyi
yang dikategorikan bising dan yang mempengaruhi kesehatan
(pendengaran) adalah diatas 60 dB. Oleh sebab itu para karyawan yang
bekerja di pabrik dengan intensitas bunyi mesin diatas 60 dB maka harus
dilengkapi dengan alat pelindung (penyumbat) telinga guna mencegah
gangguan pendengaran. Disamping itu kebisingan juga dapat
mengganggu komunikasi. Dengan suasana yang bising memaksa pekerja
berteriak didalam berkomunikasi dengan pekerja lain. Kadang-kadang
teriakan atau pembicaraan yang keras ini dapat menimbulkan salah
komunikasi (miss communication) atau salah persepsi terhadap orang
lain.
Oleh karena sudah biasa berbicara keras di lingkungan kerja sebagai
akibat lingkungan kerja yang bising ini maka kadang-kadang di tengah-
tengah keluarga juga terbiasa berbicara keras. Bisa jadi timbul salah
persepsi di kalangan keluarga karena dipersepsikan sebagai sikap marah.
Lebih jauh kebisingan yang terus-menerus dapat mengakibatkan
gangguan konsentrasi pekerja yang akibatnya pekerja cenderung berbuat
kesalahan dan akhirnya menurunkan produktivitas kerja.Kebisingan
terutama yang berasal dari alat-alat bantu kerja atau mesin dapat
dikendalikan antara lain dengan menempatkan peredam pada sumber
getaran atau memodifikasi mesin untuk mengurangi bising. Penggunaan
proteksi dengan sumbatan telinga dapat mengurangi kebisingan sekitar
20-25 dB.Tetapi penggunaan penutup telinga ini pada umumnya tidak

14
disenangi oleh pekerja karena terasa risih adanya benda asing di
telinganya. Untuk itu penyuluhan terhadap mereka agar menyadari
pentingnya tutup telinga bagi kesehatannya dan akhirnya mau
memakainya.
c. Penerangan / Pencahayaan ( Illuminasi )
Penerangan yang kurang di lingkungan kerja bukan saja akan
menambah beban kerja karena mengganggu pelaksanaan pekerjaan tetapi
juga menimbulkan kesan kotor. Oleh karena itu penerangan dalam
lingkungan kerja harus cukup untuk menimbulkan kesan yang higienis.
Disamping itu cahaya yang cukup akan memungkinkan pekerja dapat
melihat objek yang dikerjakan dengan jelas dan menghindarkan dari
kesalahan kerja.
Akibat dari kurangnya penerangan di lingkungan kerja akan
menyebabkan kelelahan fisik dan mental bagi para karyawan atau
pekerjanya. Gejala kelelahan fisik dan mental ini antara lain sakit kepala
(pusing-pusing), menurunnya kemampuan intelektual, menurunnya
konsentrasi dan kecepatan berpikir. Disamping itu kurangnya penerangan
memaksa pekerja untuk mendekatkan matanya ke objek guna
mmeperbesar ukuran benda. Hal ini akomodasi mata lebih dipaksa dan
mungkin akan terjadi penglihatan rangkap atau kabur.
Untuk mengurangi kelelahan akibat dari penerangan yang tidak
cukup dikaitkan dengan objek dan umur pekerja ini dapat dilakukan hal-
hal sebagai berikut :
1) Perbaikan kontras dimana warna objek yang dikerjakan kontras
dengan latar belakang objek tersebut. Misalnya cat tembok di
sekeliling tempat kerja harus berwarna kontras dengan warna objek
yang dikerjakan.
2) Meningkatkan penerangan, sebaiknya 2 kali dari penerangan diluar
tempat kerja.Disamping itu di bagian-bagian tempat kerja perlu
ditambah dengan dengan lampu-lampu tersendiri.

15
3) Pengaturan tenaga kerja dalam shift sesuai dengan umur masing-
masing tenaga kerja. Misalnya tenaga kerja yang sudah berumur
diatas 50 tahun tidak diberikan tugas di malam hari.
4) Disamping akibat-akibat pencahayaan yang kurang seperti
diuraikan diatas, penerangan / pencahayaan baik kurang maupun
cukup kadang-kadang juga menimbulkan masalah apabila
pengaturannya kurang baik yakni silau. Silau juga menjadi beban
tambahan bagi pekerja maka harus dilakukan pengaturan atau
dicegah.Pencegahan silau dapat dilakukan antara lain Penerangan
yang silau buruk (kurang maupun silau) di lingkungan kerja akan
menyebabkan hal-hal sebagai berikut :
a) Kelelahan mata yang akan berakibat berkurangnya daya dan
efisiensi kerja.
b) Kelemahan mental
c) Kerusakan alat penglihatan (mata).
d) Keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala di sekitar mata
d. Getaran
Getaran mempunyai parameter yang hampir sama dengan bising
seperti:frekuensi, amplitudo, lama pajanan dan apakah sifat getaran terus
menerus atau intermitten.
Metode kerja dan ketrampilan memegang peranan penting dalam
memberikan efek yang berbahaya. Pekerjaan manual menggunakan
“powered tool” berasosiasi dengan gejala gangguan peredaran darah yang
dikenal sebagai ” Raynaud’s phenomenon ” atau ” vibration-induced
white fingers”(VWF).
Peralatan yang menimbulkan getaran juga dapat memberi efek
negatif pada sistem saraf dan sistem musculo-skeletal dengan mengurangi
kekuatan cengkram dan sakit tulang belakang.
Contoh : Loaders, forklift truck, pneumatic tools, chain saws.

16
Efek getaran terhadap tubuh tergantung besar kecilnya frekuensi
yang mengenai tubuh:
1) 3 . 9 Hz : Akan timbul resonansi pada dada dan perut.
2) 6 . 10 Hz : Dengan intensitas 0,6 gram, tekanan darah, denyut
jantung, pemakaian O2 dan volume perdenyut sedikit berubah.
Pada intensitas 1,2 gram terlihat banyak perubahan sistem
peredaran darah.
3) 10 Hz : Leher, kepala, pinggul, kesatuan otot dan tulang akan
beresonansi
4) 13 . 15 Hz : Tenggorokan akan mengalami resonansi.
5) < 20 Hz : Tonus otot akan meningkat, akibat kontraksi statis ini
otot menjadi lemah, rasa tidak enak dan kurang ada perhatian.

2. Potensi bahaya kimia, yaitu potensi bahaya yang berasal dari bahan-
bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi. Potensi bahaya ini
dapat memasuki atau mempengaruhi tubuh tenga kerja melalui : inhalation
(melalui pernafasan),ingestion (melalui mulut ke saluran pencernaan), skin
contact (melalui kulit). Terjadinya pengaruh potensi kimia terhadap tubuh
tenaga kerja sangat tergantung dari jenis bahan kimia atau kontaminan,
bentuk potensi bahaya debu, gas, uap. asap; daya acun bahan (toksisitas);
cara masuk ke dalam tubuh. Jalan masuk bahan kimia ke dalam tubuh
dapat melalui:
a. Pernapasan ( inhalation ),
b. Kulit (skin absorption )
c. Tertelan ( ingestion )
d. Racun dapat menyebabkan efek yang bersifat akut,kronis atau kedua-
duanya.

17
Adapun potensi bahaya yang bisa ditimbulkan oleh bahan kimia adalah
a. Korosi
Bahan kimia yang bersifat korosif menyebabkan kerusakan pada
permukaan tempat dimana terjadi kontak. Kulit, mata dan sistem
pencernaan adalah bagain tubuh yang paling umum terkena.
Contoh : konsentrat asam dan basa , fosfor.
b. Iritasi
Iritasi menyebabkan peradangan pada permukaan di tempat kontak.
Iritasi kulit bisa menyebabkan reaksi seperti eksim atau dermatitis. Iritasi
pada alat-alat pernapasan yang hebat dapat menyebabkan sesak napas,
peradangan dan oedema ( bengkak )
Contoh :Kulit : asam, basa,pelarut, minyak ,Pernapasan : aldehydes,
alkaline dusts, amonia, nitrogen dioxide, phosgene, chlorine ,bromine,
ozone.
c. Reaksi Alergi
Bahan kimia alergen atau sensitizers dapat menyebabkan reaksi
alergi pada kulit atau organ pernapasan
Contoh :Kulit : colophony ( rosin), formaldehyde, logam seperti
chromium atau nickel, epoxy hardeners, turpentine,Pernapasan :
isocyanates, fibre-reactive dyes, formaldehyde, nickel.
d. Kanker
Karsinogen pada manusia adalah bahan kimia yang secara jelas
telah terbukti pada manusia. Kemungkinan karsinogen pada manusia
adalah bahan kimia yang secara jelas sudah terbukti menyebabkan kanker
pada hewan .
Contoh : Terbukti karsinogen pada manusia : benzene ( leukaemia);
vinylchloride ( liver angiosarcoma) ; 2-naphthylamine, benzidine (kanker
kandung kemih ); asbestos (kanker paru-paru , mesothelioma)

18
e. Racun Sistemik
Racun sistemik adalah agen-agen yang menyebabkan luka pada
organ atau sistem tubuh. Contoh :
1) Otak : pelarut, lead, mercury, manganese
2) Sistem syaraf peripheral : n-hexane, lead, arsenic, carbon disulphide
3) Sistem pembentukan darah : benzene, ethylene glycol ethers
4) Ginjal : cadmium, lead, mercury, chlorinated hydrocarbons
5) Paru-paru : silica, asbestos, debu batubara ( pneumoconiosis )

3. Potensi bahaya biologis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau


ditimbulkan oleh kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara yang
berasal dari atau bersumber pada tenaga kerja yang menderita penyakit-
penyakit tertentu, misalnya : TBC, Hepatitis A/B, Aids,dll maupun yang
berasal dari bahan-bahan yang digunakan dalam proses produksi. Dimana
pun Anda bekerja dan apa pun bidang pekerjaan Anda, faktor biologi
merupakan salah satu bahaya yang kemungkinan ditemukan ditempat kerja.
Maksudnya faktor biologi eksternal yang mengancam kesehatan diri kita
saat bekerja. Namun demikian seringkali luput dari perhatian, sehingga
bahaya dari faktor ini tidak dikenal, dikontrol, diantisipasi dan cenderung
diabaikan sampai suatu ketika menjadi keadaan yang sulit diperbaiki.
Faktor biologi ditempat kerja umumnya dalam bentuk mikro organisma
sebagai berikut :
a. Bakteri
Bakteri mempunyai tiga bentuk dasar yaitu bulat (kokus), lengkung
dan batang (basil). Banyak bakteri penyebab penyakit timbul akibat
kesehatan dan sanitasi yang buruk, makanan yang tidak dimasak dan
dipersiapkan dengan baik dan kontak dengan hewan atau orang yang
terinfeksi. Contoh penyakit yang diakibatkan oleh bakteri : anthrax, tbc,
lepra, tetanus, thypoid, cholera, dan sebagainya.

19
b. Virus
Virus mempunyai ukuran yang sangat kecil antara 16 - 300 nano
meter. Virus tidak mampu bereplikasi, untuk itu virus harus menginfeksi
sel inangnya yang khas. Contoh penyakit yang diakibatkan oleh virus :
influenza, varicella, hepatitis, HIV, dan sebagainya.
c. Jamur
Jamur dapat berupa sel tunggal atau koloni, tetapi berbentuk lebih
komplek karena berupa multi sel. Mengambil makanan dan nutrisi dari
jaringan yang mati dan hidup dari organisme atau hewan lain
d. Mikroorganisme penyebab penyakit di tempat kerja
Beberapa literatur telah menguraikan infeksi akibat organisme yang
mungkin ditemukan di tempat kerja, diantaranya :
1) Daerah pertanian
Lingkungan pertanian yang cenderung berupa tanah membuat
pekerja dapat terinfeksi oleh mikroorganisme seperti : Tetanus,
Leptospirosis, cacing, Asma bronkhiale atau keracunan Mycotoxins
yang merupakan hasil metabolisme jamur.
2) Di lingkungan berdebu (Pertambangan atau pabrik)
Di tempat kerja seperti ini, mikroorganisme yang mungkin
ditemukan adalah bakteri penyebab penyakit saluran napas, seperti :
Tbc, Bronchitis dan Infeksi saluran pernapasan lainnya seperti
Pneumonia.
3) Daerah peternakan terutama yang mengolah kulit hewan serta
produk-produk dari hewan .Penyakit-penyakit yang mungkin
ditemukan di peternakan seperti ini misalnya : Anthrax yang
penularannya melalui bakteri yang tertelan atau terhirup,
Brucellosis, Infeksi Salmonella.

20
4) Di Laboratorium
Para pekerja di laboratorium mempunyai risiko yang besar
terinfeksi, terutama untuk laboratorium yang menangani organisme
atau bahan-bahan yang megandung organisme pathogen
5) Di Perkantoran : terutama yang menggunakan pendingin tanpa
ventilasi alami.Para pekerja di perkantoran seperti itu dapat berisiko
mengidap penyakit seperti : Humidifier fever yaitu suatu penyakit
pada saluran pernapasan dan alergi yang disebabkan organisme
yang hidup pada air yang terdapat pada system pendingin,
Legionnaire disease penyakit yang juga berhubungan dengan sistem
pendingin dan akan lebih berbahaya pada pekerja dengan usia
lanjut.

Cara penularan kedalam tubuh manusia Banyak dari mikroorganisme ini


dapat menyebabkan penyakit hanya setelah masuk kedalam tubuh manusia
dan cara masuknya kedalam tubuh, yaitu :
a. Melalui saluran pernapasan
b. Melalui mulut (makanan dan minuman)
c. Melalui kulit apabila terluka
Mengontrol bahaya dari faktor biologi Faktor biologi dan juga bahaya-
bahaya lainnya di tempat kerja dapat dihindari dengan pencegahan antara lain
dengan :

a. Penggunaan masker yang baik untuk pekerja yang berisiko tertular


lewat debu yang mengandung organism patogen
b. Mengkarantina hewan yang terinfeksi dan vaksinasi
c. Imunisasi bagi pekerja yang berisiko tertular penyakit di tempat kerja
d. Membersihkan semua debu yang ada di sistem pendingin paling tidak
datu kali setiap bulan
e. Membuat sistem pembersihan yang memungkinkan terbunuhnya
mikroorganisme yang patogen pada system pendingin.

21
Dengan mengenal bahaya dari faktor biologi dan bagaimana mengotrol
dan mencegah penularannya diharapkan efek yang merugikan dapat dihindari.

4. Potensi bahaya fisiologis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau yang
disebabkan oleh penerapan ergonomi yang tidak baik atau tidak sesuai
dengan norma-norma ergonomi yang berlaku, dalam melakukan pekerjaan
serta peralatan kerja, termasuk : sikap dan cara kerja yang tidak sesuai,
pengaturan kerja yang tidak tepat, beban kerja yang tidak sesuai dengan
kemampuan pekerja ataupun ketidakserasian antara manusia dan mesin.
Pembebanan Kerja Fisik
a. Beban kerja fisik bagi pekerja kasar perlu memperhatikan kondisi
iklim, sosial ekonomi dan derajat kesehatan.
b. Pembebanan tidak melebihi 30 – 40% dari kemampuan kerja
maksimum tenaga kerja dalam jangka waktu 8 jam sehari.
c. Berdasarkan hasil beberapa observasi, beban untuk tenaga Indonesia
adalah 40 kg. Bila mengangkat dan mengangkut dikerjakan lebih dari
sekali maka beban maksimum tersebut harus disesuaikan.
5. Potensi bahaya Psiko-sosial, yaitu potensi bahaya yang berasal atau
ditimbulkan oleh kondisi aspek-aspek psikologis keenagakerjaan yang
kurang baik atau kurang mendapatkan perhatian seperti : penempatan
tenaga kerja yang tidak sesuai dengan bakat, minat, kepribadian, motivasi,
temperamen atau pendidikannya, sistem seleksi dan klasifikasi tenaga kerja
yang tidak sesuai, kurangnya keterampilan tenaga kerja dalam melakukan
pekerjaannya sebagai akibat kurangnya latihan kerja yang diperoleh, serta
hubungan antara individu yang tidak harmoni dan tidak serasi dalam
organisasi kerja. Kesemuanya tersebut akan menyebabkan terjadinya stress
akibat kerja.
a. Stress adalah tanggapan tubuh (respon) yang sifatnya non-spesifik
terhadap setiap tuntutan atasnya. Manakala tuntutan terhadap tubuh itu
berlebihan, maka hal ini dinamakan stress.

22
b. Gangguan emosional yang di timbulkan : cemas, gelisah, gangguan
kepribadian, penyimpangan seksual, ketagihan alkohol dan
psikotropika.
c. Penyakit-penyakit psikosomatis antara lain : jantung koroner, tekanan
darah tinggi, gangguan pencernaan, luka usus besar, gangguan
pernapasan, asma bronkial, penyakit kulit seperti eksim,dll

6. Potensi bahaya dari proses produksi, yaitu potensi bahaya yang berasal
atau ditimbulkan oleh bebarapa kegiatan yang dilakukan dalam proses
produksi, yang sangat bergantung dari: bahan dan peralatan yang dipakai,
kegiatan serta jenis kegiatan yang dilakukan. Potensi bahaya keselamatan
terdapat pada alat/mesin, serta bahan yang digunakan dalam proses
produksi, seperti forklift (tertabrak), gancu (tertusuk), pallet (tertimpa), dan
bahan baku (tertimpa, terjatuh dari tumpukan bahan baku), feed additive
(kerusakan mata akibat terkena debu feed additive), cutter, mesin bubut/las
(kerusakan mata akibat terpercik geram, lecet akibat terkena part panas,
dan kerusakan paru-paru akibat terhirup debu las), luka bakar akibat
kebocoran gas, terjepit part, semburan panas dari blow down otomatis,
kebakaran, dan peledakan.

D. Upaya Pencegahan Pada Potensi Bahaya Dalam Kerja


Pengurus perusahaan harus selalu mewaspadai adanya ancaman akibat kerja
terhadap pekerjaannya.
Kewaspadaan tersebut bisa berupa :
1. Melakukan pencegahan terhadap timbulnya penyakit
2. Melakukan deteksi dini terhadap ganguan kesehatan
3. Melindungi tenaga kerja dengan mengikuti program jaminan sosial tenaga
kerja seperti yang di atur oleh UU RI No.3 Tahun 1992.

23
Mengetahui keadaan pekerjaan dan kondisinya dapat menjadi salah satu
pencegahan terhadap PAK. Beberapa tips dalam mencegah PAK, diantaranya:
1. Pakailah APD secara benar dan teratur
2. Kenali risiko pekerjaan dan cegah supaya tidak terjadi lebih lanjut.
3. Segera akses tempat kesehatan terdekat apabila terjadi luka yang
berkelanjutan.
Selain itu terdapat juga beberapa pencegahan lain yang dapat ditempuh agar
bekerja bukan menjadi lahan untuk menuai penyakit. Hal tersebut berdasarkan
Buku Pengantar Penyakit Akibat Kerja, diantaranya:
1. Pencegahan Primer (Health Promotion)
a. Perilaku Kesehatan
b. Faktor bahaya di tempat kerja
c. Perilaku kerja yang baik
d. Olahraga
e. Gizi seimbang
2. Pencegahan Sekunder (Specifict Protection)
a. Pengendalian melalui perundang-undangan
b. Pengendalian administrative/organisasi: rotasi/pembatasan jam kerja
c. Pengendalian teknis: subtitusi, isolasi, ventilasi, alat pelindung diri
(APD)
d. Pengendalian jalur kesehatan: imunisasi
3. Pencegahan Tersier (Early Diagnosis and Prompt Treatment)
a. Pemeriksaan kesehatan pra-kerja
b. Pemeriksaan kesehatan berkala
c. Surveilans
d. Pemeriksaan lingkungan secara berkala
e. Pengobatan segera bila ditemukan gangguan pada pekerja
f. Pengendalian segera di tempat kerja

24
Kondisi fisik sehat dan kuat sangat dibutuhkan dalam bekerja, namun
dengan bekerja benar teratur bukan berarti dapat mencegah kesehatan kita
terganggu. Kepedulian dan kesadaran akan jenis pekerjaan juga kondisi
pekerjaan dapat menghalau sumber penyakit menyerang. Dengan didukung
perusahaan yang sadar kesehatan, maka kantor pun akan benar-benar menjadi
lahan menuai hasil bukanlah penyakit.
4. Perawatan dan pengobatan
Dalam melakukan penanganan terhadap penyakit akibat kerja, dapat
dilakukan dua macam terapi, yaitu:
Terapi medika mentosa Yaitu terapi dengan obat obatan :
a. Terhadap kausal (bila mungkin) Pada umumnya penyakit kerja ini
bersifat irreversibel, sehingga terapi sering kali hanya secara
simptomatis saja. Misalnya pada penyakit silikosis (irreversibel), terapi
hanya mengatasi sesak nafas, nyeri dada2.
b. Terapi okupasia
Pindah ke bagian yang tidak terpapar,Lakukan cara kerja yang sesuai
dengan kemampuan fisik
5. Pemulihan kesehatan (rehabilitation). Misalnya: rehabilitasi dan
mempekerjakan kemali para pekerja yang menderita cacat. Sedapat
mungkin perusahaan mencoba menempatkan karyawan-karyawan cacat di
jabatan yang sesuai.
6. Upaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mencegah PAK adalah
sebagai berikut:
a. Menyingkirkan atau mengurangi risiko pada sumbernya, misalnya
menggantikan bahan kimia yang berbahaya dengan bahan yang tidak
berbahaya.
b. Mengurangi risiko dengan pengaturan mesin atau menggunakan APD.
c. Menetapkan prosedur kerja secara aman untuk mengurangi risiko lebih
lanjut dan menyediakan, memakai dan merawat APD.

25
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari pekerjaan, apapun jenis
pekerjaan selalu dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai
dari pekerjaan berisiko rendah hingga berisiko tinggi. Disamping itu pemahaman
dan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) masih kurang di perhatikan
oleh pekerja formal maupun informal. Pada hal faktor K3 sangat penting dan harus
diperhatikan oleh pekerja dan hal ini menjadi tanggung jawab bersama, perlu
adanya kerja sama antara pemerintah, perusahaan dan pekerja agar terhindar dari
Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) dan Penyakit Akibat Kerja (PAK).
Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan upaya perlindungan tenaga
kerja dari bahaya, penyakit dan kecelakaan akibat kerja maupun lingkungan kerja.
Penegakan diagnosis spesifik dan sistem pelaporan penyakit akibat kerja penting
dilakukan agar dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan
produktivitas kerja

B. Saran
Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan hal yang sangat penting
namun penerapannya masih belum diperhatikan baik di pekerjaan formal maupun
nonformal bahaya k3 ada selalu ada. Oleh karena itu kita dituntut untuk
memperhatikan resiko apa saja yang ada di lingkungan kerja sehingga kita dapat
terhindar dari bahaya dilingkungan kerja.

26
DAFTAR PUSTAKA

Efendi, F. dan Makhfudli. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik

dalam Keperawatan. Jakarta: Penerbit Salemba Medika; 2009.

Jeyaratnam J. 2009. Buku Ajar Praktik Kedokteran Kerja. Jakarta: Penerbit Buku

Kedokteran EGC;.

Organisasi Perburuhan Internasional. 2008. Hidup Saya, Pekerjaan Saya, Pekerjaan

Yang Aman. Jakarta

Rudiyanto. 2014. Publik Berhak Tahu Kecelakaan Kerja. Katiga. 54(8). 2014:14-17.

Suaeb A. 2013. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Universitas Gunadarma.

27