Anda di halaman 1dari 2

LAPORAN KEGIATAN

UPAYA PROMOSI KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT


(PENYULUHAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT)

1. LATAR BELAKANG
PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) di Rumah Tangga adalah upaya untuk
memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan
perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di
masyarakat. PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) di Rumah Tangga dilakukan untuk
mencapai Rumah Tangga berperilaku hidup bersih dan sehat. Perilaku hidup bersih dan
sehat seseorang berhubungan dengan peningkatkan kesehatan individu, keluarga,
masyarakat dan lingkungannya. Program pembinaan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat) yang dicanangkan pemerintah sudah berjalan sekitar 15 tahun, tetapi
keberhasilannya masih jauh dari harapan. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2007
menunjukkan bahwa rumah tangga di Indonesia yang mempraktekkan PHBS (Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat) baru mencapai 38,7%. Padahal Rencana Strategis (Restra)
Kementerian Kesehatan tahun 2010-2014 mencantumkan target 70% rumah tangga sudah
mempraktekkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) pada tahun 2014. Kebiasaan
menjaga kebersihan pribadi sangat tepat ditanamkan sedini mungkin karena kebiasaan-
kebiasaan tersebut akan terbawa sampai dewasa nanti. Kebiasaan hidup bersih tersebut
banyak dipengaruhi oleh sikap yang dimiliki oleh siswa tentang kesehatan pribadi
termasuk perilaku cuci tangan . Berdasarkan penelitian Suharta (2006) diketahui bahwa
80 % penyakit menular bersumber dari tangan yang tercemar kuman maupun bakteri
penyebab penyakit. Namun demikian pada kenyataannya menurut Suharta (2006)
perilaku cuci tangan belumlah membudaya di kalangan masyarakat. Berdasarkan hasil
penelitian terbukti bahwa dari 100 orang hanya 12% yang mencuci tangannya dengan
sabun setelah buang air besar (BAB) dan hanya sekitar 9% yang mencuci tangan sebelum
makan. Kenyataannya hampir 2 juta anak yang meninggal setiap tahunnya disebabkan
karena penyakit yang disebarkan oleh tangan yang tidak dicuci. Kader posyandu sebagai
seorang individu, sebuah bagian dari keluarga dan juga bagian dari masyarakat
merupakan sasaran yang sangat baik untuk diberikan penyuluhan tentang pentingnya
mencuci tangan dengan benar. Melalui paa kader diharapkan mampu menjadi jembatan
penghubung antara petugas kesehatan dan masyarakat untuk membudayakan mencuci
tangan dengan benar .
2. PERMASALAHAN DI MASYARAKAT
- Kurangnya kesadaran masyarakat untuk tidak mencuci tangan.
- Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang mencuci tangan dengan benar.

3. PEMILIHAN INTERVENSI
Melihat berbagai permasalahan yang terjadi di atas, maka kami bermaksud
mengadakan penyuluhan kesehatan tentang cara mencuci tangan yang benar.

4. PELAKSANAAN
Penyuluhan tentang mencuci tangan enam langkah dilakukan di Puskesmas
Panaikang, Kelurahan Panaikang, Kecamatan Sinjai Timur pada hari senin tanggal 23
november 205. Materi penyuluhan mencuci tangan 6 langkah.

5. EVALUASI
Peserta yang hadir kurang lebih 25 orang yang datang ke Puskesmas Panaikang,
Kelurahan Panaikang, Kecamatan Sinjai Timur. Kegiatan ini berjalan sebagaimana yang
diharapkan. Namun tingkat pengetahuan peserta masih kurang mengenai materi
penyuluhan sebelum diadakannya penyuluhan. Hampir sebagian besar kader yang hadir
masih memiliki pengetahuan yang minim berkaitan dengan materi penyuluhan yang akan
disampaikan. Namun setelah penyuluhan, kader posyandu cukup antusias untuk
berdiskusi terkait materi penyuluhan.

Peserta, Pendamping,

( dr. A. Zuljumadi Adma ) ( dr. H. Syamsuddin Arifin, M.Kes )