Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

PILOT PLANT
EKSTRAKSI CAIR-CAIR

DI SUSUN OLEH
Nama/NIM : Andreas Jerico (14 644 022)
Amalia Annisa (14 644 027)
Tidar Kumala Hastin (14 644 031)
Nur Fauziah (14 644 051)
Kelompok : 4 (Empat)
Kelas : VII B-/S-1 Terapan
Dosen Pembimbing : Mardhiyah Nadhir, S.T.,M.T

LABORATORIUM PILOT PLANT


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
2017
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM PILOT PLANT
EKSTRAKSI CAIR-CAIR

DI SUSUN OLEH
Nama/NIM : Andreas Jerico (14 644 022)
Amalia Annisa (14 644 027)
Tidar Kumala Hastin (14 644 031)
Nur Fauziah (14 644 051)
Kelompok : 4 (Empat)
Kelas : VII B-/S-1 Terapan

Telah diperiksa dan disahkan pada tanggal…….................. 2017

Mengesahkan dan Menyetujui,


Dosen Pembimbing

Mardhiyah Nadhir, S.T.,M.T


NIP. 19740228 2001122 001
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


 Mengenal dan memahami prinsip operasi ekstraksi cair-cair pada kolom
berpacking
 Menghitung neraca proses ekstraksi pada beberapa laju alir
 Mengetahui kondisi operasi yang sesuai untuk ekstraksi cair-cair tertentu

1.2 Dasar Teori


1.2.1 Ekstraksi Cair-Cair
Ekstraksi cair-cair (liquid extraction, solvent extraction): solute dipisahkan
dari cairan pembawa (diluen) menggunakan solven cair. Campuran diluen dan solven
ini adalah heterogen (immiscible, tidak saling campur), jika dipisahkan terdapat 2
fase, yaitu fase diluen (rafinat) dan fase solven (ekstrak). Perbedaan konsentrasi
solute di dalam suatu fasa dengan konsentrasi pada keadaan setimbang merupakan
pendorong terjadinya pelarutan (pelepasan) solute dari larutan yang ada. Gaya
dorong (driving force) yang menyebabkan terjadinya proses ekstraksi dapat
ditentukan dengan mengukur jarak system dari kondisi setimbang.
Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran
dipisahkan dengan bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara teknis dalam skala
besar misalnya untuk memperoleh vitamin, antibiotika, bahan-bahan penyedap,
produk-produk minyak bumi dan garam-garam logam. Proses ini pun digunakan
untuk membersihkan air limbah dan larutan ekstrak hasil ekstraksi padatcair.
Ekstraksicair-cair terutama digunakan bila pemisahan campuran dengan cara
destilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan aseotrop atau
karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti halnya pada proses
ekstraksi padat-cair, ekstraksicair-cair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaitu
pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut, dan pemisahan kedua
fasa cair itu sesempurna mungkin.
Pada saat pencampuran terjadi perpindahan massa, yaitu ekstrak
meninggalkan pelarut yang pertarna (media pembawa) dan masuk ke dalam pelarut
kedua (media ekstraksi). Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan ekstraksi dan pelarut
tidak.saling melarut (atau hanya dalam daerah yang sempit). Agar terjadi
perpindahan masa yang baik yang berarti performansi ekstraksi yang besar haruslah
diusahakan agar terjadi bidang kontak yang seluas mungkin diantara kedua cairan
tersebut. Untuk itu salah satu cairan distribusikan menjadi tetes-tetes kecil (misalnya
dengan bantuan perkakas pengaduk).
Untuk mencapai proses ekstraksi cair-cair yang baik, pelarut yang digunakan
harus memenuhi criteria sebagai berikut (Martunus & Helwani, 2004;2005):
 Kemampuan tinggi melarutkan komponen zat terlarut di dalam campuran.
 Kemampuan tinggi untuk diambil kembali.
 Perbedaan berat jenis antara ekstrak dan rafinat lebih besar.
 Pelarut dan larutan yang akan diekstraksi harus tidak mudah campur.
 Tidak mudah bereaksi dengan zat yang akan diekstraksi.
 Tidak merusak alat secara korosi.
 Tidak mudah terbakar, tidak beracun dan harganya relative murah.
Pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan pelarut yang digunakan adalah:
 Selektivitas (β).
Efektivitas suatu solvent dalam memisahkan A dan C dalam suatu larutan adalah :
(𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐶 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 )/(𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐴 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘)
Β=
(𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐶 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘)/(𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐶 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘)

 Distilasi.
Setelah proses ekstraksi, solvent harus diambil lagi baik dari fasa ekstrak maupun fasa
rafinat. Karena pemurnian ini sering dilakukan dengan cara distilasi maka komponen –
komponen yang akan dipisahkan sebaiknya memiliki relative volatility lebih dari 1,05.
 Koefisien distribusi.
Solvent yang dipilih harus memiliki koefisien distribusi yang besar sehingga jumlah solvent
yang digunakan lebih sedikit.
 Densitas.
Perbedaan densitas solvent dan doiluent harus cukup besar karena selama proses
ekstraksi perbedaan densitas ini akan berubah mempengaruhi laju perpindahan massa
 Tegangan antar muka (interfacial tension).
Semakin besar tegangan antar muka suatu zat, semakin mudah zat tersebut memebentuk
coalesence tapi semakin sulit terdispersi ke suatu cairan lain.
 Chemical reactivity.
Solvent harus bersifat stabil dan tidak bereaksi dengan komponen dalam system (inert)
dan tidak bereaksi pula dengan material kontruksi.
 Viscosity, vapor pressure, dan freezing point.
Sebaiknya rendah untuk memudahkan penyimpanan dan penangannya.
Tidak beracun, tidak mudah terbakar, dan murah.

1.2.2 Koefisiendistribusi
Pada percobaan ini menentukan koefisien distribusi untuk system tri
kloroetilen-asamasetat-air, dan menunjukkan ketergantungannya terhadap
konsentrasi. Pada campuran ketiga zat ini dianggap bahwa fasa berada pada
kesetimbangan. Pada konsentrasi rendah, koefisien distribusi tergantung pada
konsentrasi, sehingga Y = K.X
Dimana,
Y = konsentrasi solute dalam fasa ekstrak
X = konsentrasi solute dalam fasa rafinat
K = koefisien distribusi

1.2.3 Neraca Massa dan Koefisien Perpindahan Massa


Pada percobaan ini mendemonstrasikan bagaimana kelakuan neraca massa
pada kolom. Ekstraksi dan mengukur koefisien perpindahan massa dan variasinya
terhadap laju alir dengan fasa air sebagai media kontinyu. Simbol dan rumus-rumus
yang digunakan dalam perhitungan ditunjukkan sebagai berikut. Untuk sistem tri
kloroetilen-air-asam asetat,
Vw = Laju alir air (L/s)
Vo = Laju alir TCE (L/s)
X = konsentrasi asam asetat dalam fasa organic (kg/L)
Y = konsentrasi asam asetat dalam fasa air (kg/L)

 Neraca Massa
Asam asetat yang terekstraksi dari fasa organic (rafinat).
= Vo(X1 – X2)
Asam asetat yang terekstraksi dari fase cair (ekstrak)
= Vw(Y1 – 0 )
Maka :Vo(X1 – X2) = Vw(Y1 – 0 )
Keterangan :
Vw = Laju alir (L/s)
Vo = Laju alir TCE (L/s)
X =Konsentrasi asam propionate dalam fasa organic (kg/L).
Y =Konsentrasi asam propionate dalam fasa cair (kg/L)
Indeks 1 = pada puncak kolom
2 = pada dasar kolom

 Effisiensi Ekstraksi
Koefisien perpindahan massa
𝐿𝑎𝑗𝑢 𝑝𝑒𝑟𝑝𝑖𝑛𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎
= 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑎𝑐𝑘𝑖𝑛𝑔
× 𝑔𝑎𝑦𝑎 𝑑𝑜𝑟𝑜𝑛𝑔 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎
∆𝒙𝟏 − ∆𝒙𝟐
Log rata – rata gaya dorong (LMXD) = ∆𝒙𝟏
𝐥𝐧 ( ⁄∆𝒙 )
𝟐

Dimana,
∆𝑋1 = gaya dorong pada puncak kolm = 𝑋2 − 0
∆𝑋2 = gaya dorong pada kolom = 𝑋1 − 𝑋2
𝑋1 . = konsentrasi asam di dalam fasa organic yang berkesetimbangan degan konsentrasi Y 1
didalam fasa air. Harga kesetimbangan ini didapatkan dari kurva koefisien distribusi
pada percobaan 1.
BAB II

METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan


2.1.1 Alat yang digunakan
 Seperangkat alat ekstraksi  Corong plastik
 Gelas kimia 500, 250, 100 ml  Botol semprot
 Erlenmeyer 250 ml  Buret 50 ml
 Labu ukur 500 ml  Ember
 Pipet ukur 25 ml  Bulp
 Pipet ukur 10 ml
2.1.2 Bahan yang digunakan
 NaOH 0,1 N
 Larutan TCE (Trichloroetena) 3L
 Air keran
 Aquadest
 Asam asetat
 Indikator pp
2.2 Prosedur Percobaan
2.2.1 Kalibrasi Pompa TCE
 Memasukkan 3 L TCE yang telah dicampur 300 ml asam asetat kedalam tangki
penampungan.
 Menyalakan pompa TCE pada stroke pompa 20%.
 Membuuka valve keluaran pompa dan menampung aliran TCE pada gelas ukur.
 Mencatat volume yang tertampung pada gelas ukur selama 3 menit.
 Melakukan hal yang sama untuk variasi stroke 30%, 40%, 50%, 60%, dan 70%.
 Membuat kurva kalibrasi % stroke pompa vs laju alir.
2.2.2 Ekstraksi Cair-Cair
 Menyalakan pompa pelarut (air) dan mengisi kolom ekstraksi sampai penuh.
 Setelah penuh mengatur laju alir pelarut 200 m/s.
 Mengatur stroke pompa TCE pada posisi 30%.
 Menyalakan pompa TCE dan stopwatch.
 Menampung ekstrak dan rafinat setiap 5 menit pada alat 1 dan 3 menit pada alat
2.
 Menitrasi ekstrak dan rafinat dengan NaOH 0,1 N.
 Melakukan hingga sampai TCE dalam tangki habis.
BAB III
PENGOLAHAN DATA

3.1 Data Percobaan


Volume TCE = 3 Liter
N TCE = 0,0016 N
Titik didih TCE = 113,6°C
Titik didih Asam Asetat = 118,1°C
Kelarutan Asam Asetat dalam air = mudah larut
Kelarutan Asam Asetat dalm TCE = mudah larut
3.1.1 Kalibrasi Stroke Pompa TCE
Tabel 3.1 Data Kalibrasi Pompa TCE
Stroke (%) V (ml) T (menit) Q (ml/detik)
20 30 1 0,5
30 33 1 0,55
40 70 1 1,167
50 108 1 1,8
60 142 1 2,367
70 149 1 2,483
3.1.2 Hasil Titrasi Ekstrak dan Rafinat
N NaOH = 0,1 N
Volume ekstrak = 25 ml
Volume rafinat = 25 ml
Tabel 3.2. Data Hasil Titrasi Ekstrak dan Rafinat
Volume NaOH untuk titrasi (ml)
Waktu (detik)
Ekstrak Rafinat
160 14 6,7
160 11,1 6,7
160 9,7 6,6
160 8,5 6,6
160 7,5 5,8
160 6,3 8,7

3.2 Data Perhitungan


3.2.1 Konsentrasi Asetat pada Ekstrak dan Rafinat
Tabel 3.3 Data Perhitungan Konsentrasi Asetat pada Ekstrak dan Rafinat
Konsentrasi Asetat
Waktu (detik) X1 = Y1 + X2
Ekstrak (Y1) Rafinat (X2)
160
0,0560 0,0268 0,0828
160
0,0444 0,0268 0,0712
160
0,0388 0,0264 0,0652
160
0,0340 0,0264 0,0604
160
0,0300 0,0232 0,0532
160
0,0252 0,0348 0,0600
3.2.2 Koefisien Transfer Massa
Tabel 3.4 Data Perhitungan Koefisien Transfer Massa
Volume
Waktu Log K
X1 X2 X* ∆X1 ∆X2 DF Packing
(menit) DF (L/menit)
(L)
160 0,0828 0,0268 0,0373 0,0455 0,0268 0,0353 1,0847
160 0,0712 0,0268 0,0296 0,0416 0,0268 0,0336 1,0804
160 0,0652 0,0264 0,0259 0,0393 0,0264 0,0324 1,0774
3,1930 0,0111
160 0,0604 0,0264 0,0227 0,0377 0,0264 0,0317 1,0757
160 0,0532 0,0232 0,0200 0,0332 0,0232 0,0279 1,0663
160 0,0600 0,0348 0,0168 0,0432 0,0348 0,0388 1,0934
Rata-
0,0655 0,0274 1,0796
rata

Dimana :
K : Koefisien transfer massa (L/min)
Df : Gaya dorong (driving force)

3.3 Pembahasan
Ekstraksi cair – cair merupakan proses pemisahan fase cair yang
memanfaatkan perbedaan kelarutan zat yang akan dipisahkan antara larutan asal dan
pelarut pengekstrak (solvent). Dalam percobaan ini, melakukan ekstraksi cair – cair
untuk memisahkan asam asetat dari, larutan trichloroethane (TCE) dengan
menggunakan pelarut air.
Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengintensifkan perpindahan massaa
antara bahan ekstraksi dan pelarut (atau larutan ekstrak dengan konsentrasi yang
meningkat). Pada dasarnya dapat dibedakan antara kolom dengan perlengkapan
dalam yang tak bergerak dan kolom dengan perlengkapan dalam yang dapat
digerakkan. Dalam kolom dengan perlengkapan dalam yang tak bergerak misalnya
kolom benda pengisi (peaking) yaitu konstruksi kolom benda pengisi sama dengan
kolom-kolom untuk rektifikasi. Untuk menghasilkan perpindahan massa yang baik,
salah satu dari kedua fasa harus dapat membasahi benda pengisi dengan
baik.perpindahan massa berlangsung lebih cepat, karena sarana pembantu mekanik
yang ditempatkan didalam kolom selalu menciptakan bidang anar muka yang baru
lagi untuk perpindahan massa.
Biasanya perbandingan optimal antara intensitas pencampuran dan laju alir
atau juga performansi ekstraksi hanya dapat ditentukan melalui percobaan-
percobaan. Berlawanan misalnya dengan perangkat pencampuran-pemisah, pada
kolom ekstraksi seringkali terdapat bahaya pencampuran balik (back mixing), yaitu
ikut terbawanya partikel-partikel fasa berat ke atas atau partikel-partikel fasa ringan
ke bawah. Hal ini terutama terjadi jika proses pencampuran dilaksanakan secara
terlalu intensif.
Dalam hal-hal tertentu kolom ekstraksi juga dialiri dengan dua jenis pelarut,
yaitu unutk memisahkan dua komponen yang berbeda dari suatu bahan ekstraksi.
Secara kontinu pelarut yang satu dimasukkan di ujung atas koloni.
Pada alat ekstraksi cair – cair terdapat dua pompa yaitu pompa untuk pelarut
dan pompa umpan, pompa umpan yaitu pompa yang mengalirkan TCE pompa ini
tidak terdapat alat pengukur laju alir umpan sehingga diperlukan kalibrasi pada
pompa tersebut. Percobaan ini menggunakan laju alir pompa pada bukaan stroke 20
%, dengan debit 30 ml/detik. Grafik kalibrasi pompa TCE ditunjukan pada Gambar
3.1.
3

2.5

2
Q (ml/detik)

1.5
Series1
1

0.5

0
0 20 40 60 80
Stroke

Gambar 3.1 Grafik Kalibrasi Pompa TCE

Proses ekstraksi cair-cair ini dengan cara mengontakkan umpan dengan


pelarut secara croscurrent ekstraction yaitu secara berlawanan arah. Umpan dilairkan
dari atas serta pelarut dialirkan dari bawah sehingga terjadi kontak antara umpan dan
pelarut didalam media yaitu packing. Pada saat terjadi kontak antara pelarut dan
umpan ini, asam asetat akan terpisah dengan TCE dan bercampur dengan pelarutnya
yaitu air karena asam asetat dapat larut dengan air sedangkan TCE tidak dan asam
asetat cenderung memiliki sifat kelarutan yang sama dengan air.
Hasil dari ekstraksi ini yaitu rafinat dan ekstrak. Rafinat yaitu TCE dan asam
asetat yang masih sedikit tertinggal sedangkan ekstrak adalah asam asetat dan air.
Ekstrak dan rafinat yang tertampug dititrasi menggunakan NaOH 0,1 N yang
bertujuan untuk mengetahui konsentrasi asam asetat pada ekstrak dan rafinat.
Pada teori semakin lama proses ekstraksi maka konsentrasi ekstrak semakin
lama akan semakin kecil dan konsentrasi asam asetat lebih banyak terdapat dalam
ekstrak dibanding rafinat hal ini dilihat dari volume penitar NaOH yang lebih banyak
untuk mentitrasi ektrak dibanding rafinat.
Hasil perhitungan konsentrasi asam asetat pada Tabel 3.3 dapat dilihat bahwa
semakin lama proses ekstraksi semakin kecil konsentrasi asam asetat pada ekstrak,
seperti pada detik ke-160 pertama konsentrasi asam asetat pada ekstrak sebesar
0,0560 N sedangkan pada menit ke-160 yang kedua sebesar 0,0444 N. Hal ini tidak
sesuai dengan teori karena pada range pengambilan data setiap 160 detik,
kemungkinan waktu optimum dari ekstraksi telah terlewati atau tidak terambil
datanya karena diluar range dan laju alir pompa yang begitu besar. Penurunan
konsentrasi asam asetat pada ekstrak ditunjukan pada Gambar 3.2.

1200

1000

800
Waktu (detik)

600
Series1
400

200

0
0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06
Konsentrasi Asam Asetat (N)

Gambar 3.2 Grafik Waktu vs Konsentrasi Asetat pada Ekstrak

Konsentrasi asam asetat pada rafinat semakin lama proses ekstraksi semakin
kescil nilanya, hal ini sesuai dengan teori. Nilai konsentrasi asam asetat pada rafinat
dapat dilihat pada Tabel 3.3 yaitu pada menit ke-160 pertama konsentrasi sebesar
0,0268 N sedangkan pada menit ke-160 yang ketiga konsentrasi sebesar 0,0264 N.
penurunan konsentrasi asam asetat pada ekstrak ditunjukan pada Gambar 3.3.
0.04

0.035

Konsentrasi Asam Asetat (N) 0.03

0.025

0.02

0.015 Series1

0.01

0.005

0
0 200 400 600 800 1000 1200
Waktu (detik)

Gambar 3.3 Grafik Waktu vs Konsentrasi Asetat pada Rafinat

Setelah mengetahui konsentrasi masing-masing fase (rafinat dan ekstrak),


selanjutnya menentukan koefisien transfer massa (K). Penentuan koefisien transfer
massa merupakan salah satu parameter yang dijadikan kuran dalam pemilihan pelarut
yang digunakan dalam proses ekstraksi cair-cair. Koefisien transfer massa yang
diperoleh sebesar 0,0111 L/m. Jika nilai K besar maka jumlah solven yang
dibutuhkan lebih sedikit.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
 Prinsip ekstraksi cair-cair pada praktikum kali ini yaitu pemisahan suatu zat
berdasarkan perbedaan kelarutan dimana pelarut yang digunakan yaitu air yang
dapat larut dengan asam asetat. Antara pelarut dengan umpan dikontakkan secara
crosscurrent atau berlawanan arah.
 Koefisien transfer massa yang diperoleh sebesar 0,0111 L/m.
 Pada praktikum ini konsentrasi asam asetat pada ekstrak tidak sesuai dengan
teori, dimana semakin lama waktu ekstrasi semakin rendah konsentrasi asam
asetat pada ekstrak, hal ini dikarenakan pada range pengambilan data setiap 160
detik, kemungkinan waktu optimum dari ekstraksi telah terlewati atau tidak
terambil datanya karena diluar range dan laju alir pompa yang terlalu besar.

4.2 Saran
Sebaiknya range pengambilan data sampel ekstrak dan rafinat diperkecil
sehingga waktu optimum dari ekstraksi tidak terlewat.
DAFTAR PUSTAKA

Asnafi, Agus. 2013. Ekstraksi Cair-cair. Jakarta


Sukma, Indra Wibawa Dwi. 2012. Ekstraksi Cair-Cair. Universitas Lampung :
Lampung
Tim Laboratorium Pilot Plant. 2017. Penuntun Praktikum Pilot Plant Semester VII.
Politeknik Negeri Samarinda: Samarinda
Velayas, Agi Iqbal. 2013. Ekstraksi Cair-cair. Politeknik Negeri Bandung : Bandung
LAMPIRAN

 Perhitungan
a. Kalibrasi Stroke Pompa TCE pada Stroke 30%
Volume (ml) 160 ml
Q = Waktu (min) = 1 menit = 160 ml/min

b. Perhitungan Konsentrasi Asetat pada TCE umpan


Volume TCE = 25 ml
N NaOH = 0,1 N
Volume NaOH = 0,4 ml
0,1 N x 0,4 ml
Konsentrasi asetat pada TCE awal = = 0,0016 N
25 ml

c. Perhitungan Konsentrasi Asetat pada Ekstrak & Rafinat pada menit ke-3
Normalitas NaOH x Volume NaOH
Konsentrasi asetat = Volume Sampel
0,1 N x 10,5 ml
a. Konsentrasi asetat pada ekstrak = = 0,0420 N
25 ml
0,1 N x 0,3 ml
b. Konsentrasi asetat pada rafinat = = 0,0012 N
25 ml

d. Menghitung kesetimbangan massa pada menit ke-3


Asam asetat yang terekstraksi dari fasa organik (rafinat)
= Vo (X1 - X2)
Asam asetat yang terekstraksi dari fasa air (ekstrak)
= Vw (Y1 - 0)
Maka : Vo (X1 – X2) = Vw (Y1 – 0), dimana Vo = Vw
X1 – X2 = Y1
X1 = 0,0420 + 0,0012
= 0,0432
e. Perhitungan Koefisien Transfer Massa
- Volume Packing :
Tinggi packing (t) = 113 cm
Diameter (d) = 6 cm
Volume Packing = 1⁄4 𝜋 d2 t

= 1⁄4 (3,14) (6 cm)2 (113 cm)


= 3193 cm3
= 3,193 L
(∆X1− ∆X2)
- Log mean Driving Force = (∆𝑋1)
ln ∆𝑋2)

dimana : mean driving force = DF


X* = Y1/KR, dimana KR = 1,5
= 0,0420 / 1,5
= 0,0280
∆X1 = X1 – X*
= 0,0432 – 0,0280
= 0,0152
∆X2 = X2 – 0
= 0,0012 – 0
= 0,0012
(0,0152 − 0,0012)
Log Mean Driving Force = (0,0152)
ln(0,0012)

= 0,0055
Mean Driving Force = 1,0128
̅̅̅̅−X2
X1 ̅̅̅̅
- Koefisien Transfer Massa (K) =
Vpacking x ̅̅̅
Df
0,0322−0,0009
=
3,193 x 1,0096

= 0,0097 L/min