Anda di halaman 1dari 11

http://repository.usu.ac.

id/bitstream/handle/123456789/41206/Chapter
%20II.pdf;jsessionid=9ED95F72FD1CE5C3E14101CE763848C3?sequence=4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Potensi Sumberdaya Maritim Indonesia

Lebih dari dua per tiga permukaan bumi tertutup oleh samudera. Ekosistem

perairan ini merupakan seumber dari berbagai macam produk dan jasa yang

bermanfaat bagi manusia dan ekologi bumi. Dari laut, manusia dapat

menggunakannya untuk perikanan komersial, perikanan rekreasi (termasuk ikan

hias untuk akuarium), wisata bahari, jasa transportasi, pengendalian atmosfer

bumi dan iklim, serta sebagai sumber pertambangan dan juga sumber energy.

Permukaan laut yang luas menyimpan energi yang luas biasa besarnya dalam

system ekologi bumi. Sumberdaya kelautan menyediakan lahan kesempatan kerja

bagi banyak penduduk, terutama di negara-negara kepulauan yang mempunyai

wilayah perairan luas. Sifat laut yang memiliki akses terbuka membuat system

pengolahannya lebih rumit dan sering kali timbul konflik di antara pengguna.

Terkadang batas wilayah perairan suatu Negara tidak tampak, sehingga dimasuki

oleh penduduk Negara lain, baik sengaja maupun tidak sengaja.

Potensi perikanan telah memberikan manfaat yang sangat besar bagi manusia,

baik langsung dikonsumsi sebagai sumber nutrisi, sebagai bahan baku industry,

untuk memenuhi kepuasan manusia sebagai sarana rekreasi, maupun memberi

manfaaat sosial dalam penyediaan kesempatan kerja di sektor perikanan. Lebih

lanjut, di Indonesia sekitar 60% penduduknya bermukim di wilayah pesisir. Tidak

mengherankan bila banyak penduduk berkecimpung sebagai nelayan, petani

tambak, atau terlibat dalam wisata bahari. Lebih lanjut, potensi-potensi

Universitas Sumatera Utara


sumberdaya kelautan yang tidak dapat diperbaharui misalnya minyak dan gas,

mineral dan bahan tambang. Adapun potensi bahan tambang yang terdapat di

sekitar laut dan pesisir pantai adalah aluminium, mangan, tembaga, zirconium,

nikel, kobalt, biji besi dan lain sebagainya.

2.2 Karakteristik Nelayan

Nelayan adalah seseorang yang hidup dari mata pencaharian hasil laut. Di

Indonesia para nelayan biasanya bermukim di daerah pinggir pantai atau pesisir

laut. Komunitas nelayan adalah kelompok orang yang bermata pencaharian hasil

laut dan tinggal di desa-desa pantai atau pesisir (Sastrawidjaya 2002). Ciri

komunitas nelayan dapat dilihat dari berbagai segi, sebagai berikut :

a) Dari segi mata pencaharian, nelayan adalah mereka yang segala aktivitasnya

berkaitan dengan lingkungan laut dan pesisir, atau mereka yang menjadikan

perikanan sebagai mata pencaharian mereka.

b) Dari segi cara hidup, komunitas nelayan adalah komunitas gotong-royong.

Kebutuhan gotong-royong dan tolong-menolong terasa sangat penting pada

saat untuk mengatasi keadaan yang menuntut pengeluaran biaya besar dan

pengerahan tenaga yang banyak, seperti saat berlayar, membangun rumah

atau tanggul penahan gelombang di sekitar desa.

c) Dari segi keterampilan, meskipun pekerjaan nelayan adalah pekerjaan berat

namun pada umumnya mereka hanya memiliki keterampilan sederhana.

Kebanyakan mereka bekerja sebagai nelayan adalah profesi yang diturunkan

oleh orang tua, bukan yang dipelajari secara profesional.

Universitas Sumatera Utara


Dari bangunan struktur sosial, komunitas nelayan terdiri atas yang heterogen dan

homogen. Masyarakat yang heterogen adalah mereka yang bermukim di desa-desa

yang mudah dijangkau melalui transportasi darat, sedangkan komunitas yang

homogen terdapat di desa-desa nelayan terpencil biasanya menggunakan alat-alat

tangkap ikan yang sederhana, sehingga produktivitas kecil. Sementara itu

kesulitan transportasi angkutan hasil ke pasar juga akan menyebabkan rendahnya

harga hasil laut di daerah mereka. (Sastrawidjaya, 2002)

Dilihat dari teknologi peralatan tangkap yang digunakan dapat dibedakan dalam

dua katagori, yaitu usaha nelayan modern dan usaha nelayan tradisional. Usaha

nelayan modern mengunakan teknologi penangkapan yang lebih canggih

dibandingkan dengan usaha nelayan tradisional. Ukuran modernitas bukan

semata-mata karena pengunaan motor untuk menggerakkan perahu, melainkan

juga besar kecilnya motor yang digunakan serta tingkat eksploitasi dari alat

tangkap yang digunakan. Perbedaan modernitas teknologi alat tangkap juga akan

berpengaruh pada kemampuan jelajah operasional mereka, (Imron, 2003).

Pada umumnya dalam pengusahaan perikanan laut terdapat tiga jenis nelayan,

yaitu : nelayan pengusaha, nelayan campuran dan nelayan penuh. Nelayan

pengusaha yaitu pemilik modal yang memusatkan penanaman modalnya dalam

operasi penangkapan ikan. Nelayan campuran yaitu seseorang nelayan yang juga

melakukan pekerjaan yang lain di samping pekejaan pokoknya sebagai nelayan.

Sedangkan nelayan penuh adalah golongan nelayan yang hidup sebagai

penangkap ikan di laut dan dengan memakai peralatan lama atau tradisional.

Universitas Sumatera Utara


Namun demikian apabila sebagian besar pendapatan seseorang berasal dari

perikanan (darat dan laut) ia disebut sebagai nelayan. (Mubyarto, 2002).

Status usaha nelayan dapat dibedakan berdasarkan kepemilikan modal dan

keterampilan melaut. Usaha nelayan yang memiliki modal kuat ditempatkan pada

nelayan atas yang disebut punggawa. Lapisan berikutnya ditempati oleh nelayan

yang memiliki keterampilan tinggi dalam melaut disebut juragan. Sedangkan

lapisan paling bawah adalah nelayan yang mempunyai keterampilan rendah dan

hanya mengandalkan tenaga dalam penangkapan ikan disebut sawi, (Salman,

1995).

Sejalan dengan itu, dalam hal tingkat pendidikan khususnya bagi nelayan

tradisional, untuk bekal kerja mencari ikan dilaut, latar belakang seorang nelayan

memang tidak penting artinya karena pekerjaan sebagai merupakan pekerjaan

kasar yang lebih banyak mengandalkan otot dan pengalaman, maka setinggi

apapun tingkat pendidikan nelayan itu tidaklah memberikan pengaruh terhadap

kecakapan mereka dalam melaut. Persoalan dari arti penting tingkat pendidikan

ini biasanya baru mengedepankan jika seorang nelayan ingin berpindah ke

pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Dengan pendidikan yang rendah jelas

kondisi itu akan mempersulit nelayan tradisional memilih atau memperoleh

pekerjaan lain selain mejadi nelayan (Kusnadi, 2003).

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan

Rendahnya kualitas sumber daya manusia masyarakat nelayan yang terefleksi

dalam bentuk kemiskinan sangat erat kaitannya dengan faktor internal dan

eksternal masyarakat. Faktor internal misalnya pertumbuhan penduduk yang

Universitas Sumatera Utara


cepat, kurang berani mengambil resiko, cepat puas dan kebiasaan lainnya yang

tidak mengandung moderenisasi. Selain itu kelemahan modal usaha dari nelayan

sangat dipengaruhi oleh pola pikir nelayan itu sendiri. Faktor eksternal yang

mengakibatkan kemiskinan rumah tangga nelayan lapisan bawah antara lain

proses produksi didominasi oleh toke pemilik perahu atau modal dan sifat

pemasaran produksi hanya dikuasai kelompok tertentu dalam bentuk pasar

monopsoni (Kusnadi, 2003).

Ada beberapa karakterisitik sosial ekonomi yang mempengaruhi peningkatan

pendapatan usaha nelayan dan diuraikan sebagai berikut:

1) Umur

Seseorang yang telah berumur 15 tahun ke atas baru disebut sebagai nelayan,

dibawah umur tersebut walaupun ia melaut tidak disebut sebagai nelayan. Umur

juga mempunyai pengaruh terhadap pendapatan walaupun pengaruhnya tidak

terlalu besar.

Umur seseorang menentukan prestasi kerja atau kinerja orang tersebut. Semakin

berat pekerjaan secara fisik maka semakin tua tenaga kerja akan semakin turun

pula prestasinya. Namun, dalam hal tanggung jawab semakin tua umur tenaga

kerja tidak akan berpengaruh karena justru semakin berpengalaman (Suratiyah,

2009).

2) Pengalaman.

Apabila seseorang dianggap nelayan yang telah berumur 15-30 tahun, diatas 30

tahun dianggap sebagai nelayan yang berpengalaman. Hal ini merupakan kategori

atau klasifikasi untuk menentukan banyak jumlah tangkapan ikan dilaut.

Universitas Sumatera Utara


Menurut Soekartawi (1999), pengalaman seseorang dalam berusaha berpengaruh

dalam menerima inovasi dari luar. Bagi yang mempunyai pengalaman yang sudah

cukup lama akan lebih mudah menerapkan inovasi daripada pemula.

3) Pendidikan

Tingkat pendidikan manusia pada umumnya menunjukkan daya kreativitas

manusia dalam berpikir dan bertindak. Pendidikan rendah mengakibatkan

kurangnya pengetahuan dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia

(Kartasapoetra, 1994).

Menurut Ahmadi (2003) menyatakan bahwa keberhasilan pembangunan sangat

ditentukan oleh berbagai faktor seperti : kualitas sumber daya manusia,

tersedianya sumber daya alam yang memadai, adanya birokrasi pemerintahan

yang kuat dan efisien dan sebagainya. Namun demikian, tidak dapat disangkal

bahwa kualitas sumber daya manusia merupakan faktor yang sangat menentukan

dalam proses pembangunan. Hal ini karena manusia bukan semata-mata menjadi

obyek pembangunan, tetapi sekaligus juga merupakan subyek pembangunan.

4) Peralatan

Peralatan yang digunakan oleh nelayan dalam penangkapan ikan (produksi) adalah

alat penerangan (lampu) dan jaring. Peralatan atau modal usaha nelayan adalah

nilai dari pada peralatan yang digunakan seperti : (1) harga perahu, apakah

mempergunakan mesin besar atau kecil yang dimiliki nelayan, dan (2) harga dari

peralatan penangkapan ikan, misalnya jarring, pancing, kelambu, lampu dan lain-

lain.

5) Jumlah Tanggungan

Universitas Sumatera Utara


Jumlah tanggungan merupakan beban yang harus dipikul atau ditanggung oleh

nelayan dalam keluarga. Menurut Lubis (2000), maksud dari jumlah tanggungan

disini adalah berapa banyak beban tanggungan nelayan dalam satuan jiwa.

Menurut Hasyim (2006), jumlah tanggungan keluarga adalah salah satu faktor

yang perlu diperhatikan dalam menentukan pendapatan dalam memenuhi

kebutuhannya. Banyaknya jumlah tanggungan keluarga akan mendorong nelayan

untuk melakukan banyak aktivitas terutama dalam mencari dan menambah

pendapatan keluarganya.

6) Biaya Produksi Nelayan

Biaya produksi nelayan adalah biaya yang dikorbankan oleh nelayan untuk melaut

mendapatkan hasil usaha tangkapan ikan. Adapun biaya produksi nelayan antara

lain adalah biaya bahan bakar kapal, biaya perbekalan selama di laut, biaya

peralatan, biaya umpan dan biaya upah tenaga kerja. Pendapatan dari hasil usaha

tangkapan ikan akan dikurangi oleh biaya-biaya produksi yang telah dikeluarkan

untuk mendapatkan pendapatan bersih.

Setidaknya ada dua fenomena ekstrem terhadap lautan akibat perubahan iklim

global yakni kenaikan suhu air laut dan permukaan air laut. Kenaikan suhu air laut

mempengaruhi ekosistem terumbu karang yang menjadi fishing ground dan

nursery ground ikan yang hidup di wilayah itu. Ikan – ikan yang hidup di daerah

karang akan mengalami penurunan populasi.

2.4 Landasan Teori

Menurut ahli ekonomi klasik, pendapatan ditentukan oleh kemampuan faktor–

faktor produksi dalam menghasilkan barang dan jasa. Semakin besar kemampuan

Universitas Sumatera Utara


faktor–faktor produksi menghasilkan barang dan jasa, semakin besar pula

pendapatan yang diciptakan.

Pendapatan nelayan adalah selisih antara penerimaan (total revenue) dan semua

biaya produksi (total cost). Jadi π = TR – TC. Penerimaan nelayan (TR) adalah

perkalian antara produksi yang diperoleh (Q) dengan harga jual (P). Biaya nelayan

biasanya diklasifikasikan menjadi dua yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya

tidak tetap (variabel cost). Biaya tetap (FC) adalah biaya yang relatif tetap

jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau

sedikit. Biaya tidak tetap (VC) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh

produksi yang diperoleh, contohnya biaya untuk tenaga kerja. Total biaya (TC)

adalah jumlah dari biaya tetap (FC) dan biaya tidak tetap (VC), maka TC = TFC +

TVC.( Soekartawi, 2002)

Menurut Sukirno (2006), pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima

oleh penduduk atas prestasi kerjanya selama satu periode tertentu, baik harian,

mingguan, bulanan, ataupun tahunan. Beberapa klasifikasi pendapatan antara lain:

1) Pendapatan pribadi, yaitu semua jenis pendapatan yang diperoleh tanpa

memberikan suatu kegiatan apapun yang diterima penduduk suatu negara.

2) Pendapatan disposibel, yaitu pendapatan pribadi dikurangi pajak yang harus

dibayarkan oleh penerima pendapatan, sisa pendapatan yang siap

dibelanjakan inilah yang dinamakan pendapatan disposibel.

3) Pendapatan nasional, yaitu seluruh barang-barang jadi dan jasa-jasa yang

diproduksikan oleh suatu negara dalam satu tahun.

Universitas Sumatera Utara


Menurut Sobri (1999), pendapatan disposibel adalah suatu jenis penghasilan yang

diperoleh seseorang yang siap untuk dibelanjakan atau dikonsumsikan. Besarnya

pendapatan disposibel yaitu pendapatan yang diterima dikurangi dengan pajak

langsung (pajak perseorangan) seperti pajak penghasilan.

Menurut teori Milton Friedman bahwa pendapatan masyarakat dapat digolongkan

menjadi dua, yaitu pendapatan permanen (permanent income) dan pendapatan

sementara (transitory income). Pendapatan permanen dapat diartikan :

1) Pendapatan yang selalu diterima pada periode tertentu dan dapat

diperkirakan sebelumnya, sebagai contoh adalah pendapatan, upah, dan gaji.

2) Pendapatan yang diperoleh dan hasil semua faktor yang menentukan

kekayaan seseorang.

2.3 Kerangka Pemikiran

Pendapatan nelayan tradisional dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya adalah

faktor-faktor sosial ekonomi yang terdiri dari umur, lama melaut, pendidikan,

peralatan, jumlah tanggungan dan biaya produksi nelayan. Keenam faktor tersebut

akan dilihat pengaruhnya terhadap pendapatan nelayan tradisional, dan

selanjutnya diregresikan kedalam bentuk regresi linier berganda. Kemudian

tingkat pendapatan nelayan tradisional akan dikomparasikan dengan Upah

Minimum Regional (UMR) yang telah ditetapkan di daerah penelitian tersebut.

Universitas Sumatera Utara


Secara skematis, kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut:
Faktor‐faktor yang
mempengaruhi :

1. umur
2. pendidikan
Nelayan 3. jumlah
tanggungan
4. pengalaman
melaut
5. investasi
6 biaya

Ikan: Tongkol, gembung,


Penerimaan kakap, selar, dan salam

Nelayan
Non‐ikan: kepiting, kerang,
tiram, udang dan cumi‐cumi

Pendapatan Upah Minimum


Regional
Nelayan

Keterangan :

: menyatakan hubungan

: menyatakan pengaruh

: menyatakan proses komparasi

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Analisis Pendapatan Nelayan


Tradisional dan Komparasinya Terhadap UMR, Kab. Aceh Barat

Universitas Sumatera Utara


2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan landasan teori dan kerangka pemikiran, maka dirumuskan hipotesis

penelitian sebagai berikut :

1) Terdapat pengaruh yang nyata antara umur, pengalaman, pendidikan,

peralatan, dan jumlah tanggungan biaya produksi terhadap tingkat

pendapatan nelayan tradisional.

2) Perbandingan tingkat pendapatan nelayan tradisional lebih rendah daripada

Upah Minimum Regional (UMR) yang telah ditetapkan di daerah penelitian.

Universitas Sumatera Utara