Anda di halaman 1dari 22

SOSIAL, BUDAYA, DAN ETIKA

Oleh :
Dr. Wayan Mudana, M.Si.

A. Manusia dan Kebudayaan


Perkembangan alam pikiran manusia telah memunculkan berbagai
pandangan tentang manusia. Kelompok materialisma memandang manusia
semuanya berasal dari materi/ benda yang tak berbeda dengan benda-benda lain di
dunia. Kelompok spiritualis memandang bahwa manusia tidak hanya benda /
materi tetapi juga jiwa. Freud memandang manusia sebagai makhluk dengan
naluri ekonomi. Nietzhe memandang manusia yang selalu berkehendak untuk
berkuasa. Cassier mengajukan pandangan bahwa manusia adalah mahkluk yang
mampu membuat dan menggunakan simbol, maka manusia disebut sebagai
animal symbolicum (Soeprapto,1998). Berbagai pandangan tersebut lebih lanjut
memposisikan keberadaan manusia sebagai makhluk multidimensional atau
sebagai makhluk monopluralistik.
Keberadaan manusia sebagai makhluk multidimensional juga terkait
dengan susunan kodrat manusia terdiri dari aspek kejasmanian, kejiwaan, rasa dan
karsa. Melalui hal itulah manusia melakukan proses transformasi diri dan
adaptasi. Dalam berspektif personalistik, dinyatakan bahwa dalam diri manusia
terdapat empat struktur dasar yang sangat menentukan corak keberadaan dan
perilakunya sebagai pribadi, yaitu: 1) manusia sebagai makhluk jasamani-
rohaniah; 2) manusia sebagai makhluk individual – sosial; 3) manusia sebagai
makhluk yang bebas; 4) manusia sebagai makhluk yang menyejarah (Sindunata,
2000). Sedangkan Notonagoro menyatakan bahwa manusia pada hakekatnya
adalah sebagai mahkluk monopluralis yang tersusun dari unsur-unsur susunan
kodrati, sifat kodrati, dan kedudukan kodrati manusia. Keberadaan manusia yang
multidimensional dalam konteks manusia Indonesia menurut Sunoto (1983)
paling tidak memiliki empat dimensi utama yaitu: dimensi Transendentalia,
Dimensi Idealita, Dimensi Sosialita, dan Dimensi Materialita . Keempat dimensi
manusia Indonesia tersebut secara integral memberi inspirasi dan aspirasi

1
kehidupan, terhadap manusia baik dalam kapasitas manusia sebagai kata benda
maupun dalam kapasitasnya sebagai kata kerja. Sebagai kata benda manusia salah
satu makhluk ciptaan Tuhan yang tunduk pada hukum alam.Sebagai kata kerja
manusia dipandang sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mempunyai
kelengkapan, terutama akal budi. Dengan akal budinya manusia aktif memilih
dan menghasilkan sistem perlengkapan hidup, sistem nilai, dan sistem sosial.
Dengan kata lain manusia menghasilkan kebudayaan dalam berbagai dimensinya,
manusia membudaya. Hal ini sekaligus mempresentasikan keberadaan manusia
sebagai makhluk biokultur.
Sebagai makhluk membudaya, manusia menyadari adanya potensi jiwa
dan raga. Potensi ini dikembangkannya ke arah yang lebih baik, dan bermanfaat.
Dalam tatanan kehidupannya bermasyarakat manusia mengenal adanya norma dan
nilai yang berasal dari prinsip-prinsip kehidupan yang diyakininya. Norma dan
nilai itu dikembangkannya, dilestarikan dan diwariskan kepada generasi
berikutnya, melalui berbagai proses pembudayaan. Keempat dimensi manusia itu
terwujudkan/ terintegrasikan dalam kebudayaan Indonesia. Melalui hal itu
kebudayaan yang terwujudkan oleh masyarakat Indonesia benar-benar akan dapat
berfungsi dalam meningkatkan mutu hidup manusia/ masyarakat Indonesia dan
menjadi landasan dalam menata hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia
dengan alam, dan manusia dengan manusia. Khusus mengenai hubungan antara
manusia dengan manusia, kebudayaan memberikan pengisian tentang keadilan,
cinta kasih, kejujuran, penghargaan sesama manusia, tenggang rasa, dan
kerukunan, sebagai semangat yang mendasari hubungan antarmanusia yang lebih
manusiawi. Dalam konteks inilah dinyatakan manusia sebagai makhluk
membudaya.
Keberadaan manusia sebagai makhluk budaya merupakan suatu fakta
historis. Dalam keberadaannya sebagai makhluk membudaya inilah manusia
diposisikan di satu sisi sebagai pembentuk kebudayaan di sisi yang lain dibentuk
oleh kebudayaan. Dalam dinamika siosialnya manusia dan kebudayaan saling
pengaruh mempengaruhi. Hal inilah yang dinyatakan sebagai suatu hubungan
yang bersifat dialektis. Artinya ada interaksi kreatif antara manusia dan
kebudayaan. Dialektika fundamental tersebut dalam konteks teori konstruksi

2
sosial dinyatakan terdiri dari tiga tahap, yaitu: eksternalisasi, adalah proses
pencurahan diri manusia secara terus menerus ke dalam dunia melalui aktivitas
fisik dan mentalnya dalam rangka penciptaan kebudayaan. Objektivasi, adalah
tahap di mana aktivitas manusia menghasilkan suatu realitas objektif yang berada
di luar diri manusia. jadi manusia sudah menghasilkan produk-produk tertentu,
baik dalam berbagai wujud budayanya. internalisasi ialah tahap di mana realitas
objektif hasil ciptaan manusia kembali diserap oleh manusia (Berger dan
Luckmann,1990). Dengan kata lain, struktur dunia objektif, hasil karya,
ditransformasikan kembali ke struktur kesadaran subjektifnya. Jadi realitas
eksternal kembali menjadi realitas internal ( Maran,2000). Untuk lebih jelasnya
hubungan dialektikan tersebut dapat disimak pada bagan berikut ini:

Bagan 1: Hubungan Dialektika Manusia dan Kebudayaan


KEBERADAAN KEBUDAYAAN TERKAIT DENGAN KEBERADAAN MANUSIA
SBG MEMBUDAYA

• KEBUDAYAAN DGN MNS/MASY  MEMILIKI HUB YG BERSIFAT DIALEKTIKA

eksternalisasi

3 WUJUD
objektivasi 7 UNSUR
MNS KEB

internalisasi Sosialisasi

(Diadaptasikan dari Berger dan Luckmann,1990)


Proses dialektika kebudayaan tentu tidak dapat dilepaskan dengan potensi
diri dari manusia itu sendiri, hal mana lebih jauh akan mewarnai karakter
kepribadian dan karakter kebudayaan yang dikembangkannya. Hal ini sejalan
dengan definisi kebudayaan sebagai a design for living, suatu desain kehidupan,
dan sebagai a set of control mechanisms. Melalui hal itulah manusia
menghadaptasikan diri dengan lingkungannya. Di sini terlihat betapa pentingnya
peranan pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia. Kepribadian
manusia yang sangat mempengaruhi aktion manusia. Parsons menggolangkan
aksi manusia itu menjadi dua sistem:(1) sistem-sistem kepribadian, dan (2)
sistem-sistem sosial. Di samping itu dalam kehidupan masyarakat juga ada sistem
kebudayaan, yang terdiri dari kepercayaan, nilai-nilai, lambang-lambang. Sistem

3
kebudayaan ini merupakan inti dari sistem kepribadian dan sistem sosial (Tilaar,
2000).
Keberadaan manusia sebagai makhluk membudaya mengandung makna
bahwa kebudayaan merupakan dimensi dalam hidup dan tingkah laku manusia.
Dalam kebudayaan tercakup hal-hal terkait dengan bagaimana persepsi manusia
terhadap dunia lingkungan serta masyarakatnya, yang menjadi landasan pokok
untuk menentukan sikap terhadap dunia luarnya bahkan untuk memotivir setiap
langkah yang hendak dan harus dilakukannya. Keberadaan manusia sebagai
makhluk membudaya semakin jelas dalam dimensi historis. Dalam dimensi
historis kebudayaan menunjukkan fungsi sosialnya. Karena kebudayaan pada
dasarnya merupakan usaha manusia mencapai kesempurnaannya sebagai
manusia. Oleh karena itu usaha-usaha budaya di satu pihak bertujuan
membebaskan manusia dari keterbelakangan, kemelaratan, serta ketidakadilan,
dan di lain pihak mengisi arti kebebasan manusia untuk meningkatkan taraf dan
mutu kehidupan manusia. Sehubungan dengan hal itulah maka dikatakan bahwa
kebudayaan adalah proses pemanusiaan manusia.

B. Kebudayaan
Manusia adalah makhluk berbudaya. Artinya, dengan modal yang
dimiliknya, yakni tubuh dan panca indra - manusia selalu menginginkan
sesuatu, pikiran (manah), budi (buddhi), dan atman (roh, Brahman atau Tuhan
yang transendental, berimanensi dalam tubuh) mengakibatkan manusia dapat
menciptakan kebudayaan. Kebudayaan bisa dilihat dari pengertian kata dan
wujudnya atau substansinya.

(1) Pengertian kebudayaan


Koentjaraningrat (1983: 183-184) menunjukkan secara etimologis, kata
kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, buddhayah. Kata ini merupakan
bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Jadi, kebudayaan berarti
hal-hal bersangkutan dengan akal atau pikiran. Gagasan lain menyatakan bahwa
kata budaya merupakan perkembangan dari kata majemuk budi-daya yang berarti
daya dari budi. Berkenaan dengan itu mereka membedakan antara budaya dan

4
kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa.
Sebaliknya, kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa. Masinambow
(2004: 10) memberikan penjelasan tambahan, jikalau pun ingin dibedakan antara
istilah budaya dan kebudayaan maka perbedaannya “... menggunakan istilah
budaya untuk nilai-nilai dan adat kebiasaan, sedangkan istilah kebudayaan, suatu
kompleks gejala termasuk nilai-nilai dan adat kebiasaan yang memperlihatkan
kesatuan sistemiki”. Namun, pada umumnya di kalangan para antropolog tidak
membedakannya. Kata budaya hanya dipakai sebagai singkatan dari kebudayaan
dengan makna yang sama (Koentjaraningrat, 1983).
Kata kebudayaan disamakan pula dengan kata culture, yakni kata Latin
colere yang berarti mengolah, mengerjakan, terutama mengolah tanah atau
bertani. Dari arti ini berkembang arti culture sebagai segala daya upaya serta
tindakan manusia untuk mengolah tanah dan merubah lingkungan. Ada pulakata
peradaban (tamaddun dalam bahasa Arab) atau sivilization. Kata ini dipakai untuk
menyebut bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus, maju, dan
indah, misalnya kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan santu pergaulan,
kepandaian menulis, organisasi kenegaraan dll. Istilah peradaban sering pula
dipakai untuk menyebut kebudayaan berwujud sistem teknologi, ilmu
pengetahuan, seni bangunan, seni rupa, dan sistem kenegaraan dan masyarakat
kota yang maju dan kompleks (Koentjaraningrat, 1983: 184). Sobirin (2007: 54)
menunjukkan bahwa kata peradaban bisa pula berarti produk dari kehidupan
masyarakat dalam suatu wilayah negara. Karena itu, penyebutan suatu masyarakat
beradab atau tidak beradab bukan berarti yang bersangkutan tidak berbudaya,
tetapi berbudaya, namun yang membedakannya adalah kualitasnya.
Kata kebudayaan bisa pula dimaknai secara terminologis. Menurut
Kroeber dan Kluckhohn (dalam Sobirin, 2007: 52) ada 164 definisi kebudayaan.
Hal ini bisa dimaklumi, mengingat cakupan kebudayaan amat luas dan kompleks,
ditambah lagi dengan latar belakang dan paradigma yang dipakai untuk
melihatnya bisa berbeda antara pakar yang satu dan yang lainnya. Namun, untuk
lebih mudahnya dikutip definisi kebudayaan menurut Koentjaraningrat (1983:
182) yang menyatakan bahwa kebudayaan adalah “keseluruhan sistem gagasan,

5
tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang
dijadikan milik dari manusia dengan belajar”.
Shiraev dan Levy (2012: 4-5) memberikan definisi tentang kebudayaan
yang sangat menarik sebagi berikut.
Kultur sebagai seperangkap sikap, perilaku, dan simbol yang dianut oleh
satu kelompok orang dan biasanya dikomunikasikan dari satu generasi ke
generasi selanjutnya.

Ketiga komonen kultur tersebut secara teoretis memang bisa dipilahkan, namun
secara kontekstual menyatu sehingga setiap kultur selalu memiliki ciri ekplisit
sekaligus implisit. Artinya, kultur tidak saja menyangkut penampakan, tetapi juga
ide-ide yang ada di baliknya – sikap budaya.
Berdasarkan paparan di atas tampak bahwa kebudayaan adalah ciptaan
manusia, baik secara perorangan maupun dengan melibatkan beberapa orang –
secara kolektif dalam waktu yang bersamaan atau secara lintas generasi melalui
proses belajar. Setiap manusia adalah bagian dari masyarakat sehingga secara
substansial kebudayaan adalah milik masyarakat (Koentjaraningrat, 1983).
Masyarakat adalah “kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu
sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, yang terikat oleh suatu rasa
identitas bersama” (Koentjaraningrat, 1983).

(2) Wujud dan Unsur Kebudayaan


Koentjaraningrat (1983) membuat rincian tentang tiga wujud kebudayaan,
yakni: pertama, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan,
nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya. Wujud kebudayaan seperti
ini bisa disebut sistem budaya (culture system) atau adat-istiadat. Kedua, wujud
kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari interaksi
manusia dalam masyarakat. Wujud kebudayaan seperti ini disebut sistem sosial
(social system). Ketiga, kebudayaan berwujud kebudayaan fisik. Wujud fisik
mengacu kepada benda-benda ciptaan manusia atau secara umum disebut artefak.
Secara konsepsual ketiganya memang bisa dipisahkan, namun realitasnya yang
satu selalu berkaitan dengan yang lainnya. Kebudayaan secara universal juga
terdiri dari tujuh unsur, yaitu: perlengkapan hidup, mata pencaharian,
kemasyarakatan, bahasa, kesenial, penegtahuan, dan relegi

6
(3) Manusia dalam Konteks Sistem Sosiobudaya
Konsep lain yang tidak kalah pentingnya adalah sistem sosiokultural
(sosiobudaya). Sanderson (1983) membagi sistem sosiokultural menjadi tiga
komponen dasar, yakni superstruktur ideologi, struktur sosial, dan infrastruktur
material. Jika pembagian ini dibandingkan dengan gagasan Koentjaraningrat
(1983) tentang tiga wujud kebudayaan, maka sistem budaya dapat disetarakan
dengan superstruktur ideologi, sistem sosial dapat disetarakan dengan struktur
sosial, dan kebudayaan fisik dapat disetarakan dengan infrastruktur material.
Manusia sebagai makhluk berbudaya tidak bisa melepaskan diri dari ruang
(lingkungan alam) dan waktu. Begitu pula manusia sebagai makhluk beragama
atau homo religious tidak bisa melepaskan diri dari agama. Berkenaan dengan itu
maka berbicara tentang sistem sosiokultural tidak saja menyangkut aspek
superstrukrur ideologi (sistem budaya), sistem sosial (struktur sosial) dan artefak
(infrastruktur meterial), tetapi harus pula memperhatikan ruang dan waktu dan
agama sebagai pedoman hidup bagi manusia. Hubungan antara komponen-
komponen ini dapat dicermati pada Bagan 2.

(a) Sistem Budaya Atau Superstruktur Ideologi


Sistem budaya terdiri dari beberapa unsur antara lain ideologi. Magnis-Suseno
(1992: 230) menyatakan bahwa ideologi adalah keseluruhan sistem berpikir, nilai-
nilai, dan sikap-sikap dasar rohani sebuah gerakan, kelompok sosial atau
kebudayaan. Hunt (1987: 402) memberikan pemaknaan bahwa ideologi adalah
“suatu sistem pemikiran yang mendukung serangkaian norma”. Dengan demikian,
ideologi merupakan gagasan ideal fundamental yang diyakini kebenarannnya
sehingga dipakai sebagai pedoman bertindak dalam bentuk nilai dan norma guna
mewujudkan tataran dunia yang koheren sebagaimana adanya, tetapi juga dunia
sebagaimana seharusnya.

7
Bagan 2
Hubungan antara sistem budaya, sistem sosial, teknologi,
lingkungan alam, waktu dan agama

Agama Wahyu

 Teks Suci
 Tradisi
 Kebenaran Mutlak

Sistem budaya

 Ideologi
 Nilai dan norma
 Agama sebagai tafsir
terhadap teks suci
 Pengetahuan
- Pengetahuan
eksistensional
- Ilmu

Sistem sosial Lingkungan hidup (ekologi)

 Manusia sebagai makhluk  Penampakan


individu - Lingkungan fisikal
 Masyarakat - Lingkungan biologikal
 Komunitas  Bentuk hubungan
 Kelompok sosial - Diterminisme lingkungan
 Institusi sosial - Possibilisme lingkungan
- Institusi keluarga - Probabilisme lingkungan
- Institusi pendidikan - Behavioralisme kognitif
- Institusi agama (cognitice behavioralism)
- Institusi ekonomi - Free-will enveronmentalism
- Institusi politik
 Struktur sosial

Kebudayaan fisik (teknologi, artefak)

 Alat-alat produksi
 Senjata
 Wadah
 Makanan, minuman dan kesehatan
 Pakaian, perhiasan, dan hiburan
 Termpat berlindung dan perumahan
 Alat-alat transportasi, komunikasi, dan media

8
Dengan berpegang pada makna ideologi, begitu pula seperti terlihat pada
Bagan 2 komponen sistem budaya lainnya adalah nilai dan norma. Nilai adalah
patokan-patokan, anggapan-anggapan, keyakinan-keyakinan yang dianut oleh
banyak orang dalam suatu kebudayaan tertentu mengenai apa yang benar, pantas,
luhur, dan baik untuk dikerjakan, dilakukan atau diperhatikan (Polak, 1982: 31).
Norma, adalah cara perbuatan dan kelakuan yang dibenarkan untuk mewujudkan
suatu nilai (Polak, 1982: 31). Dengan demikian, jelas terlihat bahwa antara
ideologi, nilai dan norma memiliki kaitan. Norma diciptakan manusia guna
melindungi nilai agar tidak diabaikan oleh manusia. Kesemuanya ini tidak bisa
dilepaskan dari ideologi, mengingat bahwa ideologi tidak saja merupakan sumber
nilai dan norma, tetapi juga melegitimasinya sehingga keberadaan dan perjalanan
ke depan suatu masyarakat menjadi jelas arahnya.
Norma yang berlaku dalam masyarakat bisa dibedakan menjadi beberapa
bentuk, dilihat dari kekuatan mengikatnya, yakni cara (usage), kebiasaan
(folkways), tata kelakuan (mores), dan adat-istiadat (custom). Misalnya, cara
minum dan cara makan termasuk cara. Pelanggaran terhadap suatu cara sanksinya
amat lemah, misalnya celaan. Kondisi ini berbeda dengan folkways dan mores.
Adat-istiadat merupakan tata kelakuan paling kuat sanksinya jika dibandingkan
dengan folkways dan mores (Soekanto, 1996). Sebagaimana yang berlaku di Bali,
seseorang yang melanggar adat-istiadat bisa dikenai sanksi adat, misalnya denda,
pengucilan (kasepekang) bahkan bisa pula diusir dari desa pakraman.
Sistem budaya juga mencakup agama sebagai tafsir atas teks suci atau
kitab suci suatu agama. Hal ini bisa dimasukkan ke dalam sistem budaya, sebab
tafsir kitab suci adalah karya manusia yang memuat gagasan ideal tentang suatu
agama. Tafsir atas teks suci pada masyarakat Bali antara lain berwujud lontar dan
tradisi-tradisi lisan yang hidup dan berkemabang dalam suatu masyarakat. Unsur
lain dari sistem budaya adalah pengetahuan, yakni pengetahuan sehari-hari atau
pengetahuan eksistensial – pengetahuan yang berkembang di tengah-tengah
masyarakat dan pengetahuan ilmiah – antara lain dikembangkan di perguruan
tinggi yang ditularkan pula ke dalam masyarakat. Namun apa pun bentuk sistem
budaya, yakni ideologi, nilai, norma, tafsir atas teks suci suatu agama, dan
pengetahuan, secara substansial berbentuk sekumpulan ide yang terkait satu sama

9
lainnya membentuk suatu struktur sehingga tidak mengherankan jika sistem
budaya disebut pula struktur ideasional (Hara, 2011) atau struktur (Giddens,
2011). Ada pula yang menyebutnya dengan istilah “budaya sebagai suatu sistem
pemikiran” (Keesing, 1992: 68).

(b) Sistem sosial atau struktur sosial


Bagan 2 menunjukkan bahwa manusia sebagai makhluk individu dan juga
sebagai makhluk sosial, selalu terikat pada sistem sosial. Sistem sosial bisa
berwujud masyarakat dan komunitas. Menurut Soekanto (1983) istilah sistem
sosial acap kali disamakan dengan masyarakat. Sedangkan istilah masyarakat
lazim pula disamakan dengan istilah komunitas – masyarakat desa dan kota atau
komunitas desa dan kota. Sistem sosial lainnya adalah kelompok sosial, yakni
hubungan timbal baik antarindividu, mereka sadar bahwa dirinya berkedudukan
sebagai anggota, terbentuk karena kepentingan yang sama, berstruktur, dan
berkaidah sehingga menunjukkan adanya perilaku yang berpola, bersistem dan
berproses (Soekanto, 1996).
Manusia mengenal pula sistem sosial berbentuk institusi, yakni struktur
status dan peran yang dilengkapi dengan seperangkat norma yang dilembagakan
dalam suatu organisasi guna memenuhi kebutuhan dasar anggotanya. Bagan 2
menunjukkan beberapa contoh institusi, yakni: pertama, institusi keluarga
memiliki fungsi fungsi pengaturan seksual, reproduksi, sosialisasi, afeksi,
penentuan status, perlindungan, dan ekonomis Kedua, institusi pendidikan
berfungsi sebagai agen pembudayaan, sosialisasi, dan ideologisasi berwujud
penanaman sistem nilai, norma, pengetahuan dan ideologi dominan dalam
masyarakat. Ketiga, institusi agama berfungsi untuk menjadikan manusia sebagai
homo religious, tidak saja berbakti pada Tuhan tetapi juga menaati ajarannya.
Keempat, institusi ekonomi berfungsi untuk memenuhi aneka kebutuhan manusia
sebagai makhluk menubuh dan meroh lewat produksi, konsumsi dan distribusi
barang dan atau jasa antara lain melalui pasar. Kelima, institusi politik, tidak saja
berfungsi untuk memenuhi hasrat manusia akan kekuasaan seperti dikemukakan
Nietzsche (dalam Sunardi, 2006), tetapi berguna pula untuk mewujudkan

10
keteraturan sosial sebagai konsekuensi dari ketaatan manusia terhadap sistem
budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat (Sunarto, 2000; Hunt, 1984).
Dengan mengacu kepada Bagan 2, sistem sosial berbentuk masyarakat,
komunitas, kelompok sosial atau institusi, selalu terikat pada struktur sosial, yakni
hubungan antarindividu berwujud tindakan yang berpola. Hubungan mereka
terikat pada struktur, yakni interaksi sosial yang di dalamnya melibatkan orang-
orang yang memiliki status dan peran berbeda, namun berkomplementer dengan
mengikuti tata aturan. Individu dalam sistem sosial, baik pada masyarakat,
komunitas maupun institusi tidak bersifat egaliter, tetapi berdiferensiasi bahkan
berhierarki. Sistem sosial bisa pula berdimensi kekuasaan atau terikat pada sistem
kepolitikan. Artinya, dalam sistem sosial selalu ada pihak yang menguasai. Pada
umumnya pihak yang berada pada strata atas sekaligus merupakan pihak yang
berkuasa. Gagasan ini terkait dengan penguasaan aneka modal, seperti modal
ekonomi, sosial, intelektual, kultur, dan simbolik (Bourdieu, 2009, 2010).
Tata aturan yang menyetruktur merupakan hasil hubungan antarindividu
dalam sistem sosial, begitu pula sistem kepolitikan yang menyertainya harus
dilembagakan agar berkelanggengan. Dalam konteks inilah sistem pendidikan
amat penting, idak saja berfungsi sebagai agen sosialisasi, pembudayaan, dan
ideologisasi guna memelihara tindakan sosial agar struktur sosial terjaga secara
baik, tetapi bisa pula dipakai sebagai lembaga untuk mempertahankan kekuasaan
lewat hegemoni.

(c) Teknologi
Bagan 2 menunjukkan bahwa unsur kebudayaan lain adalah kebudayaan
fisik, yakni teknologi termasuk di dalamnya artefak. Teknologi dipakai untuk
mengolah dan beradaptasi dengan lingkungan guna memenuhi kebutuhan
ekonomi sehingga tekonologi disebut pula teknoekonomi (Kaplan dan Manners,
1999). Teknoekonomi tidak bisa dilepaskan dari demografi, terutama peningkatan
jumlah penduduk. Kependudukan merupakan faktor penting yang menentukan
kondisi ekonomi dan teknologi dalam konteks hubungan manusia dengan
lingkungannya. Penambahan jumlah penduduk selalu terkait dengan peningkatan
kebutuhan dan keinginan secara kuantitas dan kualitas sehingga mendorong

11
perkembangan teknologi yang sekaligus bisa berdampak terhadap lingkungan
sebagai ruang bagi aktivitas manusia. Lingkungan alam dieksploitasi secara lebih
intensif – tidak menutup kemungkinan adanya kerusakan lingkungan agar
kebutuhan manusia terpenuhi (Kaplan dan Manners, 1999).
Teknologi buatan manusia bisa dipilahkan menjadi beberapa jenis,
bergantung pada kebutuhan hidup manusia. Dengan mengacu kepada Soekanto
(1996) teknologi bisa dipilahkan menjadi beberapa jenis, yakni alat-alat produksi,
senjata, wadah, makanan, minuman dan kesehatan, pakaian, perhiasan, dan
hiburan, tempat berlindung dan perumahan, dan alat-alat transportasi, komunikasi,
dan media. Aneka bentuk teknologi ini amat penting bagi pemertahanan
kehidupan manusia, baik pada sistem sosial maupun dalam konteks aktivitas
pemertahanan diri pada lingkungan alam.

(d) Lingkungan hidup


Lingkungan hidup atau ruang merupakan arena beraktivitas bagi manusia,
baik secara individu maupun secara dalam sistem sosial. Dengan demikian terlihat
bahwa lingkungan hidup bukan suatu ruang yang statis, melainkan bersifat
dinamis karena di dalamnya melibatkan perilaku manusia yang ikut membentuk
lingkungan alam sesuai dengan kepentingannya.
Bagan 2 menunjukkan bahwa lingkungan hidup secara penampakannya,
terdiri dari lingkungan fisikal (the physical environment) dan lingkungan biologik
(the biological environment). Dalam persepsi orang Timur, misalnya Jawa dan
Bali lingkungan biologik, tidak saja berbentuk tumbuhan dan hewan, tetapi
diyakini pula ada aneka makhluk superalamiah. Misalnya, masyarakat Bali
mengenal makhluk superalamiah, yakni bhuta kala, memedi, tonya, dll. Makhluk
supernatural bersifat niskala, namun kehadirannya tidak kalah pentingnya
daripada makhluk biologik yang bersifat sekala (Atmadja, 2010).
Manusia merupakan agen yang berkedudukan paling penting jika
dibandingkan dengan berbagai makhuluk hidup lain penghuni lingkungan hidup.
Secara ketubuhan manusia memang amat lemah, namun berkat kemampuannya
menciptakan kebudayaan, yakni teknologi manusia menjadi sangat perkasa.
Interaksi antara manusia dan lingkungan hidup seperti dijelaskan oleh Sprout dan

12
Sprout (dalam Hara, 2011: 81-82) dan Kaplan dan Manners (1999) ada beberapa
tipe, yakni: pertama, environmental determinisms (diterminisme lingkungan).
Lingkungan mutlak berpengaruh terhadap manusia – termasuk kebudayaan yang
mereka ciptakan. Kedua, environmental possibilism (posibilisme lingkungan)
yang menekankan bahwa “... ciri-ciri alami bukan sebagai penyandang peran
penentu melainkan peran pemberi kemungkinan atau pemberi batas. Ciri habitat
alami memberikan peluang terbuka untuk menempuh arah-arah tertentu sambil
‘melarang’ arah lain” (Kaplan dan Manners, 1999: 105). Keterbatasan teknologi,
misalnya, membuat sedikit pilihan, tetapi jika terjadi pengembangan teknologi
maka pilihan lebih banyak. Ketiga, environmental probabilism (probalisme
lingkungan) menekankan pada asumsi bahwa tindakan manusia dalam suatu ruang
berdasarkan pada hipotesa tentang kesesuaian antara kemungkinan adanya suatu
tindakan dengan norma yang berlaku. Misalnya, ketika lampu pengatur lalu lintas
berwarna hijau menyala, maka seseorang akan menyeberang, karena ada asumsi
normatif bahwa mobil akan berhenti – dimana pun berada karena aturan universal.
Keempat, behavioralisme kognitif. Manusia bereaksi terhadap lingkungan
sebagaimana yang bersangkutan mempersepsikan dan menginterpretasikannya.
Kelima, free-will enviromental. Lingkungan alam memiliki pengaruh kuat
terhadap manusia. Jika terjadi suatu masalah maka lingkungan menunjukkan suatu
tanda-tanda alam kepada manusia. Manusia memiliki kebebasan memaknai tanda-
tanda alam. Manusia yang bijaksana acap kali sangat peka dalam memaknai
tanda-tanda alam dan bisa bertindak secara tepat agar tidak menimbulkan
kerugian.
Manusia tidak saja hidup dalam suatu lingkungan hidup atau ruang (desa) ,
tetapi terikat pula waktu (kala). Waktu memberikan makna bagi kehidupan
manusia termasuk di dalamnya kebudayaan yang mereka ciptakan dan atau yang
mereka gunakan pada saat berinteraksi sosial. Misalnya, orang Bali membedakan
waktu menjadi dua, yakni waktu sakral – terkait dengan ritual agama di pura dan
waktu profan – tidak terkait dengan ritual agama di pura. Berkenaan dengan
dengan itu maka tindakan sosial dan artefak yang mereka gunakan bisa berbeda.
Waktu yang tergolong suci – tentu terkait pula dengan ruang mengharuskan
seseorang untuk bertindak secara sakral. Gejala ini dikuatkan dengan simbol-

13
simbol artefaktual yang mereka gunakan, misalnya pakaian – ruang dan waktu
sembahyang memakai baju dan udeng putih sebagai simbol kesucian.

(e) Agama sebagai Wahyu


Keempat komponen sistem sosiokultural seperti pada Bagan 2 terkait
dengan agama. Agama berfungsi sebagai teks ideal guna mempedomani tindakan
manusia dalam sistem sosiokultural. Agama yang dimaksud pada Bagan 2
terutama adalah agama wahyu. Agama wahyu secara historis tidak bisa
dimasukkan ke dalam sistem budaya, sebab dia merupakan teks suci dari Tuhan
yang disampaikan kepada manusia melalui Nabi. Agar agama sebagai teks suci
bisa berkontekstual dengan manusia yang hidup secara meruang dan mewaktu
yang terus berdinamika maka agama wahyu harus ditafsirkan secara terus-
menerus. Dengan demikian agama bisa dibedakan menjadi dua, yakni agama
sebagai teks suci berwujud wahyu dari Tuhan yang disampaikan kepada manusia
melalui Nabi, dan agama sebagai tafsir atas teks suci yang dibuat oleh manusia
yang mumpuni dalam bidangnya.
Agama sebagai Kebenaran diwariskan secara menggenerasi sehingga bisa
pula disebut Tradisi. Gejala yang sama berlaku untuk kebenaran tafsir atas teks
suci, yakni juga diwariskan secara lintas generasi sehingga terbentuk tradisi.
Untuk membedakannya, maka Kebenaran yang ditradisikan disebut Tradisi (T –
huruf besar), sedangkan gagasan yang muncul sebagai tafsir terhadap teks suci
wahyu Tuhan yang secara substansial juga ditradisikan secara lintas generasi,
disebut tradisi (t – huruf kecil). Pendek kata, dalam kehidupannya, baik sebagai
makhluk individu maupun makhluk sosial, manusia mengenal dua tataran agama,
yakni: pertama, Agama, Kebenaran, dan Tradisi – semuanya diawali dengan
huruf besar sebagai simbol bahwa yang dimaksud adalah ajaran dalam arti wahyu
sehingga bukan produk budaya – pada Bagan 2 diposisikan di luar sistem budaya.
Kedua, agama, kebenaran, dan tradisi – semuanya diawali dengan huruf kecil
sebagai simbol bahwa gagasan yang tercakup di dalamnya adalah produk budaya
– hasil daya cipta, rasa, dan karsa manusia – pada Bagan 2 digabungkan ke dalam
sistem budaya atau superstruktur ideologi.

14
C. Kebudayaan Lokal, Nasional dan Global
Manusia sebagai makhluk berbudayaan dalam konteks NKRI yang
bercorak multikultural, pluralistik atau bhineka tunggal ika mengenal dua
lingkungan kebudayaan atau sosiobudaya, yakni lingkungan kebudayaan lokal,
daerah atau etnik dan lingkungan kebudayaan nasional. Globalisasi sebagai suatu
keniscayaan menimbulkan implikasi bahwa kebudayaan etnik dan kebudayaan
nasional tidak bisa melepaskan diri dari kebudayaan global. Dengan demikian
berbicara tentang manusia sebagai makhluk berbudaya tidak lagi hanya
berdimensi lokal – manusia keberbudayaan Bali, tetapi juga berdimensi nasional –
manusia berkebudayaan Indonesia dan global – manusia berkebudayaan global.
a. Kebudayaan Lokal
Dalam kapasitas manusia sebagai makhluk membudaya setiap kelompok
masyarakat berkebudayaan lokal, misalnya etnik Bali tidak saja memiliki
lokalitas tersendiri, yakni Pulau Bali, tetapi memiliki pula ideologi lokal, yakni
Ideologi Tri Hita Karana (THK). Ideolog THK terdiri dari tiga sila, yakni
Palemahan, Pawongan dan Parhyangan (Tiga Pa). Ideologi THK menggariskan
bahwa tujuan hidup manusia adalah kesejahteraan (hita) secara lahiriah dan
batiniah. Pencapaian kesejahteraan dilakukan lewat pembentukan hubungan
harmonis antara manusia dan lingkungan alam (Palemahan); hubungan harmonis
antarmanusia (Pawongan); dan hubungan harmonis antara manusia dengan
Tuhan (Parhyangan). Ideologi THK merupakan sumber nilai-nilai luhur pada
masyarakat Bali. Nilai-nilai luhur ini dijabarkan dalam bentuk norma-norma
antara lain adat-istiadat guna menata kehidupan orang Bali pada suatu komunitas,
yakni desa pakraman. Unsur kebudayaan lokal lainnya adalah kearifan lokal,
yakni peta kognisi yang memberikan pedoman bertindak agar manusia bertindak
secara bijaksana dalam berhubungan dengan manusia lainnya – disebut kearifan
sosial dan atau dengan lingkungan alam – kearifan ekologis. Tindakan yang arif
atau bijaksana ditandai oleh terwujudnya hubungan harmonis sebagaimana
diamatkan dalam ideologi THK. Kebudayaan lokal Bali yang lainnya adalah
Bahasa Bali, kesenian, busana, dll.

15
b. Kebudayaan nasional
Setiap etnik tidak bisa melepaskas diri dari NKRI. NKRI memiliki
kebudayaan tersendiri, yakni kebudayaan nasional atau kebudayaan (Indonesia).
Kebudayaan nasional merupakan tata kelakuan, kelakuan dan budaya fisik yang
memberikan identitas bagi bangsa Imdonesia. Kebudayaan nasional terdiri dari
beberapa unsur, misalnya ideologi Pancasila, Undang-undang Dasar 1945 beserta
berbagai perundang-undangan dan tata aturan yang berlaku pada tataran nasional,
Bahasa Idonesia, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Bendera Merah Putih,
Lambang Negara Burung Garuda, dll. Aneka bentuk kebudayaan nasional ini
tidak saja merupakan milik kolektif bangsa Indonesia, tetapi juga sebagai
identitas, yakni tanda guna membedakannya dengan bangsa-bangsa lain pada
tataran global.
Kebudayaan nasional secara faktual lebih mudah terlihat pada tata
kehidupan yang bersifat formal dalam konteks kehidupan negara. Misalnya, setiap
kantor pemerintah lazim memasang simbol kebudayaan nasional, yakni Bendera
Merah Putih, Lambang Negara Burung Garuda, dll. Pertemuan-pertemuan formal,
misalnya seminar di perguruan tinggi diwajibkan memakai kebudayaan nasional,
yakni menyanyikan Lagu Indonesia Raya – mengawali acara dan menggunakan
bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Bahkan yang tidak kalah pentingnya
ada situasi-situasi tertentu yang secara sengaja digunakan sebagai arena untuk
memamerkan dan sekaligus memupuk kecintaan terhadap kebudayaan nasional –
meningkatkan nasionalisme, misalnya upacara bendera dalam rangka
memperingati hari-hari bersejarah – paling meriah adalah Hari Ulang Tahun
(HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada peristiwa-peristiwa seperti ini
tidak saja dilakukan pengibaran Bendera Merah Putih, tetapi disertai pula dengan
kegiatan lain, yakni menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945 yang keseluruhannya memakai bahasa Indonesia.

c. Kebudayaan global

16
Setiap kelompok masyarakat di samping berkebudayaan local, dan
nasional juga berkebudayaan global. Kebudayaan global di eraglobalisasi
mengakibatkan NKRI dan berbagai etnik yang ada di dalamnya, mau tidak mau
atau suka maupun tidak suka menjadi bagian dari kampung global. Kondisi ini
mengakibatkan bangsa Indonesia dan berbagai etnik di Indonesia tidak lagi hanya
mengenal kebudayaan nasional dan kebudayaan lokal, tetapi mengenal pula
kebudayaan global. Secara kasatmata kebudayaan global yang bersemarak
digunakan oleh individu-individu dalam masyarakat adalah berwujud artefak atau
teknologi yang bermuatan ideologi. Berkenaan dengan itu maka tidak
mengherankan jika pengonsumsian suatu teknologi tidak saja berarti seseorang
menggunakan suatu barang guna memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi bisa pula
mengosumsi ideologi yang ada dibaliknya dan atau ideologi yang ditularkannya
kepada konsumen.
Aspek kebudayaan global lain yang tidak kalah menariknya adalah
pemakaian bahasa Inggris. Bahasa Inggris merupakan unsur kebudayaan global
yang “didewakan” oleh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Apalagi Bali
sebagai daerah tujuan wisata yang sangat terkenal pada lingkungan global maka
kegunaan bahasa Inggris sangat penting. Terlepas dari kemanfaatannya, maka
tidak bisa dipungkiri hal ini mencerminkan bahwa globalisasi kebudayaan
menjadi bagian intergral bagi kehidupan manusia Indonesia.
Bertolak dari paparan tersebut maka dapat dikemukakan bahwa hakikat
manusia sebagai makhluk berbudaya tidak saja berarti manusia menciptakan
kebudayaan dengan menggunakan daya cipta, rasa dan karsanya, tetapi bisa pula
berarti manusia memakai kebudayaan ciptaan orang lain guna memenuhi
kebutuhannya. Kebudayaan yang mereka ciptakan dan atau gunakan bisa bercorak
kebudayaan etnik, bisa pula bercorak kebudayaan tataran nasional. Hal ini tidak
dilepaskan dari realitas kultural yang berlaku, yakni etnik Bali misalnya, sekaligus
juga sebagai anak bangsa Indonesia. Bahkan yang tidak kalah pentingnya,
globalisasi mengakibatkan hakikat manusia sebagai makhluk berbudaya menjadi
lebih luas ruang lingkupnya, yakni mencakup pula kebudayaan global.
Globalisasi mengakibatkan batas batas negara sepertinya telah lenyap.
Dengan adanya kenyataan ini terjadi penyeragaman kebudayaan secara

17
menggelobal, sebagaimana terlihat pada pengosumsian minuman Coca-Cola,
McDonald’s, dll. Pendek kata, berbicara tentang hakikat manusia sebagai
makhluk berkebudayaan dalam konteks Indonesia dan Bali, mengharuskan bahwa
manusia berkebudayaan mejemuk. Dalam konteks ini mereka tidak saja
berkebudayaan Indonesia – implikasi sebagai orang Indonesia, tetapi juga
berkebudayaan lokal Bali – implikasi sebagai etnik Bali. Bahkan yang tidak kalah
pentingnya, mereka harus pula berkebudayaan global sebagai implikasi dari
adanya globalisasi.
Pengembangan sektor pariwisata merupakan arena sosial yang sangat
penting bagi pengembangan industri kreatif. Melalui pariwisata, pengembangan
industri kreatif tidak hanya memperkuat citra nasional pada tataran global, tetapi
juga memberikan ruang bagi berkembangnya kreativitas anak bangsa dalam
konteks meningkatkan kesejahteraan rakyat (Pangestu, 2011: 8). Ada 12
komponen budaya lokal yang bisa diposisikan sebagai modal kultural bagi
pemgembangan industri kreatif atau industri budaya guna menunjang industri
pariwisata, yakni kerajinan, bahasa, tradisi, gastronomi, seni musik (termasuk
konser, lukisan, dan patung), sejarah destinasi (termasuk visual), jenis pekerjaan
dan teknologi yang digunakan, arsitektur, agama, dan sistem pendidikan
(Hermantoro, 2011: 185-186). Modal kultural ini disertai dengan kreativitas
merupakan masukan yang amat penting bagi pengembangan industri budaya
dalam konteks menambah daya tarik suatu daerah tujuan wisata. Bersamaan
dengan globalisasi maka pertumbuhan perdagangan barang dan jasa budaya
tumbuh dengan pesat. Dengan demikian tidak mengherankan jika globalisasi pada
dasarnya menawarkan tantangan dan peluang baru bagi perkembangan industri
kreatif.
Bertolak dari gagasan di atas maka Bali sebagai daerah tujuan wisata yang
menggelobal tidak hanya menjadi objek, tetapi sebaiknya mampu menjadi subjek,
yakni agen yang bisa menarik manfaat dari pariwisata. Untuk itu, masyarakat
Bali dituntut kemampuan untuk mengembangkan industri budaya. Pengembangan
industri budaya sangat memungkinkan mengingat masyarakat Bali sangat kaya
akan modal kultural. Unsur-unsur budaya lokal sebagaimana dikemukakan
Hermantoro (2011) yang bisa dikembangkan sebagai barang budaya, sangat

18
banyak dijumpai pada masyarakat Bali. Bahkan yang tidak kalah pentingnya
masyarakat Bali, misalnya mereka yang berada desa-desa pakraman pada
kawasan wisata Ubud sangat terkenal memiliki kreativitas yang sangat tinggi
untuk menghasilkan barang budaya. Misalnya, mereka menghasilkan aneka
barang kerajinan tangan untuk cenderamata bagi wisatawan yang berkunjung ke
Bali. Jika hal ini bisa dikembangkan maka akan terbentuk apa yang disebut
pariwisata berbasis kreativitas. Hal ini ditandai oleh terbentuknya berbagai barang
budaya yang bisa dikonsumsi oleh wisatawan sehingga orang Bali tidak hanya
sebagai objek pariwisata, melainkan secara kreatif bisa berperan sebagai subjek.
Artinya, orang Bali bisa berperan sebagai agen yang mampu meraih keuntungan
secara sosial, kultural dan ekonomis bagi kelangsungan sistem sosiobudaya Bali.

D. Moral dan Etika


Dalam kehidupan sehari-hari pemakaian kata moral sangat lazim. Kata
moral berasal dari bahasa Latin, yakni mos (bentuk jamaknya mores), yang berarti
kurang lebih sama dengan kata ethos dalam bahasa Yunani, yakni adat kebiasaan.
Kata Latin mos (mores) menurunkan kata moral (Inggris) yang dalam bahasa
Indonesia disebut juga moral (Gea dan Wulandari, 2006). Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa, 1995: 665) moral berarti ajaran baik buruk yang diterima umum
mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dll. Moral bisa pula disamakan dengan
akhlak, budi pekerti atau susila. Ada pula yang mengatakan bahwa moral adalah
hal-hal yang mendorong manusia untuk melakukan tindakan yang baik sebagai
kewajiban atau norma. Moral juga dapat diartikan sebagai sarana untuk mengukur
benar tidaknya tindakan manusia – patokannya adalah nilai dan norma yang
berlaku dalam masyarakat (Kumorotomo, 2011: 9).
Kata lain yang lazim pula digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah
etika. Etika berasal dari bahasa Yunani Kuno, yakni ethos (bentuk jamaknya ta
etha) yang berarti adat kebiasaan, cara berpikir, akhlak, sikap, watak, cara
bertindak. Dari kata Yunani ini lehir kata ethics (Inggris) dan etika (Indonesia).
Dengan mengacu kepada gagasan Bertens (2000) etika bisa memiliki beberapa
makna, yakni: pertama, etika dapat dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma-

19
norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompoknya dalam
mengatur tingkah lakunya. Kedua, kata etika berarti juga kumpulan asas atau nilai
moral yang dirumuskan secara tertulis, singkat dan padat, yang biasa disebut kode
etik. Ketiga, kata etika bisa pula berarti ilmu tentang yang baik dan yang buruk.
Berdasarkan paparan di atas maka kata etika dan moral memiliki makna
yang tidak jauh berbeda. Artinya, baik etika maupun moral mengacu kepada
gagasan yang sama, yakni nilai-nilai dan norma-norma yang memberikan
pedoman atau resep bertindak bagi manusia agar berkhalak, berbudi pekerti atau
susila, tidak saja secara individual, tetapi juga secara sosiologis, yakni dalam
pergaulannya dengan manusia lainnya dalam kehidupan bermasyarakat maupun
bernegara. Gagasan seperti ini bisa pula dicermati pada pendapat The Liang Gie
(dalam Kumorotomo, 2011: 7) yang menyatakan bahwa itilah moral dan etika
tidak perlu dipertentangkan, mengingat bahwa keduanya mengacu kepada hal
yang sama, yakni gagasan tentang patokan manusia yang baik atau buruk.
Manusia yang bermoral atau bisa pula disebut manusia yang beretika pada
dalasnya adalah manusia yang baik, yakni baik dari segi hatinya, wataknya,
sikapnya, atau inti kepribadiannya. Kata moral selalu berkaitan dengan baik buruk
manusia sebagai manusia, bukan sebagai dosen, Satpam, pegawai, dll. Norma-
norma moral adalah tolok ukur untuk menentukan betul-salahnya sikap dan
tindakan manusia dilihat dari segi baik-buruknya sebagai manusia dan bukan
sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas (Magnis-Suseno, 1987). Walaupun
moral sangat penting, namun harus disadari bahwa dalam berperlaku yang baik
seseorang tidak selamanya mengikuti etika atau moral, melainkan bisa pula
mengikuti etiket (sopan santun bertamu, duduk, makan, minum, dll.). Etiket
memiliki tekanan moral yang rendah sehingga tidak bisa disebut norma moral.
Meskipun demikian etiket penting guna mewujudkan kedamaian bagi manusia.
Konsep lain yang tidak kalah pentingnya adalah moralitas. Moralitas
Moralitas sebagai adat istiadat dan norma yang mengatur tingkah laku, dengan
sendirinya tidak bisa dilepaskan dari sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Dan norma moral selalu berkaitan dengan petokan perilaku baik-buruk sebagai
manusia, bukan atas dasar profesinya, kedudukannya atau aspek-aspek lain yang
melekat pada dirinya. Moral dan moralitas tidak bisa dipisahkan. Moralitas adalah

20
salah satu instrumen kemasyarakatan berupa penuntun tindakan guna
mewujudkan pola tingkah laku yang bermoral atau susila. Sanksi yang dikenakan
oleh moralitas tidak seperti norma hukum yang melibatkan paksaan fisik ataupun
ancaman, tetapi lebih bersifat internal, misalnya rasa bersalah, rasa malu, dll.
(Kumorotomo, 2011).

DAFTAR PUSTAKA

Atmadja, I Nengah Bawa, dkk. 2012. Buku Ajar Ilmu Sosial Budaya Dasar.
Singaraja: Undiksha
Bakker SJ, J.W.M. 1984. Filsafat Kebudayaan Sebuah Pengantar. Yogyakarta :
Kanisius.
Berger Peter L dan Thomas Lukman. 1990Tafsir Sosial Atas Kenyataan Risalah
Tentang Sosiologi Pengetahuan. Jakarta: LP3ES
Giddens, Anthony. 2003. The Constitution Of Society, Teori Strukturasi untuk
Analisis Sosial. Pasuruan: Pedati.
Gie, The Liang, 1977. Suatu Konsepsi Kearah Penertiban tentang Filsafat,
Yogyakarta: Karya Kencana.
Hariwardoyo, Purwo, 1985. Hakekat Pembangunan Memadukan Kualitas-
Kualitas manusia, dalam Dialog Manusia, Filsafat, Budaya dan
Pembangunan.Surabaya: Usaha Nasional
Mudana, I Wayan. 2009. Buku Ajar Ilmu Budaya Dasar. Singaraja: Undiksha.
Nugroho, St. 2009. “Latar Belakang Kebersamaan Sebagai Bangsa Dalam
Tantangan Sosial Dewasa Ini”. Dalam Multikulturalisme, Belajar
Hidup Bersama dalam Perbedaan. Jakarta : Indeks.
Nugroho, St. 2009. “Multikulturalisme”. Dalam Multikulturalisme, Belajar Hidup
Bersama dalam Perbedaan. Jakarta : Indeks.
Sabri, Mohammad. 1999. Keberagamaan Yang Saling Menyapa, Perspektif
Filsafat Perennial. Yogyakarta: ITTAQA Press.
Sanderson,S.K.1993. Sosiologi Makro, Sebuah Pendekatan Terhadap realitas
Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa
Sunoto, dkk, 1993. Pemikiran Tentang Kefilsafatan Indonesia. Yogyakarta:
Yayasan Lembaga Studi Filsafat Pancasila.
Suprapto, Sri. 1998. Aspek Ontologis Hakekat Manusia. Makalah. Jakarta: Dirjen
Dikti.
Tilar, HAR. 2000. Pendidikan Kebudayaan dan Masyarakat Madani. Bandung:
Remaja rosda Karya.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1995. Kamus
Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Vickers, Adrian. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Insan Madani.
Wiana, I Ketut. 1996. “Aktualisasi Tri Hita Karana Dalam Kehidupan Sehari-
Hari”. Denpasar: Pustaka Hindu Raditya No. 5-Tahun I. Halaman
35-41.
Widyarsono, Antonius. 2011. “Peta Permasalahan Pancasila Dewasa Ini”. Dalam
Filsafat Pancasila. Jakarta: Driyarkara.

21
Yan, Andreas. 2011. “Pendidikan Bagi Kepribadian Bangsa Indonesia”. Jakarta:
Majalah Filsafat Pancasila, Driyarkara Tahun XXXII. No 3 Halaman
29-38.
Yewangoe, Andreas A. 2009. Tidak Ada Negara Agama Satu Nusa, Satu Bangsa.
Jakarta: Gunung Mulia.

22