Anda di halaman 1dari 159

Kajian tentang Kesenjangan

KAJIAN
Tentang
KESENJANGAN

antara United Nations Convention Against Transnational Organized Crime dengan Peraturan Perundang-undangan Indonesia
antara
UNITED NATIONS CONVENTION
AGAINST TRANSNATIONAL ORGANIZED CRIME
dengan
PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA

National Legal Reform Program


KAJIAN TENTANG KESENJANGAN
ANTARA
UNITED NATIONS CONVENTION
AGAINST TRANSNATIONAL
ORGANIZED CRIME
DENGAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
INDONESIA
(UNTOC GAP ANALYSIS)
KAJIAN TENTANG KESENJANGAN
ANTARA UNITED NATIONS CONVENTIONS AGAINST
TRANSNATIONAL ORGANIZED CRIME
DENGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA

Penyusun:
I Wayan Parthiana, S.H., M.H.
Dr. Ramelan, S.H., M.H.
Dr. Surastini Fitriasih, S.H., M.H.

Penerbit:
Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-Undangan
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 6-7
G A P A NA LYS I S

Jakarta Selatan, Indonesia


Telepon +62-21 526-7055
Faksimil +62-21 526-7055
U NTOC

Penerbitan ini didukung oleh


The Netherlands Indonesia National Legal Reform Program (NLRP)
ii
Cetakan Pertama, 2010

Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang

ISBN : 978-602-98660-0-1


DAFTAR ISI

Kata Pengantar.........................................................................................v

Sambutan Direktur Jenderal Peraturan Perundang-Undangan............. vii

Bab I Pendahuluan............................................................................1

1. Berlakunya UNTOC di dalam Sistem Hukum Nasional Indonesia. 3

2. Sistematika dan Substansi UNTOC.................................................. 4

3. Dampak UNTOC terhadap Peraturan Perundang-Undangan


Indonesia............................................................................................7

G A P A NA LYS I S
4. Relevansi Pengkajian atas Kesenjangan Peraturan Perundang-
Undangan Indonesia terhadap UNTOC........................................... 8

5. Metoda Pengkajian........................................................................... 9

U NTOC
Bab II Kesenjangan antara UNTOC dengan Peraturan Perundang-
Undangan Indonesia.............................................................. 11
iii
1. Pernyataan Tujuan (Pasal 1)............................................................12

2. Pemakaian Istilah (Pasal 2).............................................................14

3. Ruang Lingkup Pemberlakuan (Pasal 3).........................................14

4. Perlindungan Kedaulatan (Pasal 4).................................................15

5. Kriminalisasi atas Partisipasi dalam Kelompok Pelaku Tindak


Pidana Terorganisasi (Pasal 5)........................................................16

6. Kriminalisasi atas Pencucian Hasil Tindak Pidana (Pasal 6)......... 17

7. Upaya Memberantas Pencucian Uang (Pasal 7)............................. 17

8. Kriminalisasi Korupsi (Pasal 8).......................................................19

9. Tindakan Menentang Korupsi (Pasal 9)..........................................19

10. Tanggung Jawab Badan Hukum (Pasal 10)................................... 20

11. Penuntutan, Peradilan dan Saksi (Pasal 11)....................................21

12. Perampasan dan Penyitaan (Pasal 12)........................................... 23

13. Kerjasama Internasional Untuk Tujuan Perampasan (Pasal 13).. 26


14. Penyerahan Harta Hasil Tindak Pidana atau Kekayaan
yang Disita (Pasal 14)...................................................................... 26

15. Yurisdiksi (Pasal 15)........................................................................ 28

16. Ekstradisi (Pasal 16)....................................................................... 30

17. Pemindahan Narapidana (Pasal 17)............................................... 32

18. Bantuan Hukum Timbal Balik (Pasal 18)....................................... 33

19. Penyelidikan Bersama (Pasal 19)................................................... 35

20. Teknik Penyelidikan Khusus (Pasal 20)......................................... 36

21. Pemindahan Proses Pidana (Pasal 21)............................................37

22. Penyusunan Data Tindak Pidana (Pasal 22)...................................37

23. Kriminalisasi Gangguan Proses Peradilan (Pasal 23).................... 38


G A P A NA LYS I S

24. Perlindungan Saksi (Pasal 24)........................................................ 39

25. Bantuan Terhadap dan Perlindungan Korban (Pasal 25).............. 40


U NTOC

26. Tindakan untuk Meningkatkan Kerjasama dengan Aparat


Penegak Hukum (Pasal 26).............................................................41
iv 27. Kerjasama Penegakan Hukum (Pasal 27)...................................... 42

28. Pengumpulan, Pertukaran dan Analisis Informasi tentang Sifat


Tindak Pidana Terorganisasi (Pasal 28)........................................ 43

29. Pelatihan dan Bantuan Teknis (Pasal 29)...................................... 44

30. Tindakan Lain: Pelaksanaan Konvensi Melalui Pembangunan


Ekonomi dan Bantuan Teknis (Pasal 30)....................................... 44

31. Pencegahan (Pasal 31).................................................................... 44

Bab III Beberapa Temuan dan Rekomendasi..................................... 45

Bab IV Matriks Kesenjangan antara UNTOC dengan Peraturan


Perundang-Undangan Indonesia ...........................................55


KATA PENGANTAR

Kajian yang membahas kesenjangan antara suatu peraturan perundang-undangan


dengan sebuah konvensi internasional yang telah diratifikasi, baik dengan undang-
undang maupun keputusan presiden, merupakan hal yang baru dan cukup penting bagi
proses pembentukan peraturan perundang-undangan.

Untuk merintis hal tersebut, Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan


bekerjasama dengan National Legal Reform Program (NLRP), sebuah lembaga
yang didanai oleh Pemerintah Belanda dan diadministrasikan melalui Dana Moneter
Internasional (IMF) untuk memajukan lembaga-lembaga hukum dan masyarakat sipil,
telah melakukan serangkaian kegiatan pengkajian dengan topik UNTOC Gap Analysis,
yang membahas berbagai aspek kesenjangan antara peraturan perundang-undangan
Indonesia dengan United Nations Convention Against Transnational Organized
Crime. Kajian tersebut dilakukan dengan menggunakan analisis pendekatan dari aspek
hukum pidana, hukum acara pidana, dan hukum internasional publik, yang dilakukan

G A P A NA LYS I S
bersama-sama oleh Dr. Surastini Fitriasih, Dr. Ramelan, dan I Wayan Parthiana,
MH dengan dukungan teknis dari Ditjen Peraturan Perundang-undangan dan NLRP.
Kegiatan ilmiah tersebut berlangsung sejak 29 April 2010 sampai 20 Agustus 2010.

U NTOC
Hasil kajian telah direview ahli hukum internasional (Belanda). Kementerian Hukum
dan HAM – NLRP mempublikasikannya dengan maksud agar dapat menjadi bahan
kajian dan referensi bagi semua pihak yang membutuhkannya.
v
Sebagaimana dipahami, kebijakan hukum meratifikasi konvensi internasional
mengandung konsekuensi bahwa secara yuridis formal konvensi tersebut telah menjadi
bagian dari hukum nasional Indonesia. Oleh karena itu selain mempertimbangkan
berbagai tugas, tanggung jawab, hak dan kewajiban yang dibebankan kepada pemerintah
(misalnya pendanaan, pembentukan struktur organisasi berupa badan, dewan, dan
lain-lain) berdasarkan konvensi tersebut, hal yang tidak kalah penting untuk dipikirkan
adalah sejauhmana konvensi yang telah diratifikasi bersesuaian dengan peraturan
perundang-undangan yang telah ada.

Analisis kesenjangan antara UNTOC dan peraturan perundang-undangan nasional


Indonesia menghasilkan tidak kurang dari 17 (tujuhbelas) temuan (kesenjangan), yang
perlu diperhatikan oleh pembentuk undang-undang dan menindaklanjutinya. Sebagai
contoh hasil kajian menemukan bahwa UNTOC sudah menjadi bagian dari hukum
nasional Indonesia, namun KUHP ataupun undang-undang pidana nasional Indonesia
sama sekali tidak ada satupun yang dapat dipadankan dengan istilah “kejahatan
(transnasional) terorganisasi”, sehingga dapat dipandang sebagai jenis kejahatan baru
dalam hukum pidana nasional Indonesia, walaupun kejahatan dimaksud sudah banyak
terjadi bahkan sudah menimbulkan dampak yang cukup serius bagi Indonesia. Ini
berarti bahwa istilah “kejahatan transnasional terorganisasi” (transnational organized
crime) - ditambah dengan 10 istilah lain yang diintroduksi oleh UNTOC - merupakan
hal baru yang harus diperhatikan dengan seksama oleh para penegak hukum, khususnya
dan pemerhati hukum pidana Indonesia pada umumnya.

Kata Pengantar
Hasil analisis tersebut juga menemukan bahwa dengan berlakunya UNTOC menimbulkan
persoalan terhadap ruang lingkup berlakunya hukum pidana sebagaimana diatur dalam
Pasal 2 – 9 KUHP, yang secara limitatif menentukan jenis-jenis tindak pidananya.
Dengan demikian Tim mempertanyakan, apakah Pasal 4, Pasal 5, Pasal 7 dan Pasal 8
KUHP tersebut masih sesuai dengan UNTOC atau sudah ketinggalan zaman?

Dengan berlakunya UNTOC di dalam sistem hukum nasional Indonesia tidaklah berarti
penerapan berbagai pasal-pasal Konvensi tersebut dengan mudah dapat dijalankan,
setidak-tidaknya para penegak hukum memerlukan waktu untuk mempelajari dan
memahaminya sehingga benar-benar dapat dilaksanakan, dengan penerapan yang
tidak melanggar prinsip-prinsip hukum pidana dan hukum acara pidana yang jauh
sebelumnya sudah berlaku.

Model analisis kesenjangan (gap analysis) seperti yang dirintis oleh Ditjen PP bersama
NLRP mungkin patut dikembangkan dalam berbagai konvensi internasional lainnya.
Seharusnya kajian tersebut dilakukan oleh para ahli hukum secara komprehensif
sebelum (Delegasi Republik) Indonesia menyatakan persetujuannya, sehingga
dapat dicermati bagian-bagian mana dari substansi konvensi tersebut kemungkinan
G A P A NA LYS I S

mengandung benturan norma (conflicting norms) dengan peraturan perundang-


undangan yang berlaku.
U NTOC

Semoga hasil analisis UNTOC bermanfaat bagi Kementerian Hukum dan HAM sebagai
bahan referensi untuk menyempurnakan RUU tentang Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana, yang direncanakan akan disampaikan Presiden kepada pimpinan Dewan
Perwakilan Rakyat pada tahun ini (2011).
vi

Jakarta, 5 Januari 2011

Tim Kajian

Kata Pengantar
SAMBUTAN
DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

G A P A NA LYS I S
U NTOC
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena hanya dengan Rahmat dan Karunia-Nya Kajian
tentang Kesenjangan antara Peraturan Perundang-undangan Indonesia dengan United vii
Nations Convention Against Transnational Organized Crime (UNTOC Gap Analysis)
yang merupakan hasil kerjasama Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan
dengan National Legal Reform Program (NLRP) Belanda dapat diselesaikan.

Dalam pelaksanaannya kerjasama tersebut melibatkan tenaga ahli, yakni Dr. Ramelan,
S.H., M.H., Dr. Surastini Fitriasih, S.H., M.H., I Wayan Parthiana, S.H., M.H., dan Ms.
Marjorie Bonn (tenaga ahli dari Belanda) serta masukan dari Kementerian-kementerian
terkait.

Kajian ini merupakan kajian hukum normatif atau kajian hukum doktrinal yang
bertujuan untuk mengkaji apakah ketentuan atau aturan dan norma yang ada di dalam
UNTOC terdapat kesenjangan atau apakah sudah di implementasikan dalam peraturan
perundang-undangan Indonesia. Hasil pengkajian ini diharapkan dapat dijadikan
sebagai masukan dan arahan bagi pembentuk undang-undang dalam rangka menyusun
undang-undang baru dalam bidang yang berkaitan dengan substansi UNTOC.

Pada kesempatan ini kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih
kepada berbagai pihak yang telah membantu, juga kepada pihak National Legal Reform
Program (NLRP) yang telah memfasilitasi kegiatan dimaksud sehingga kajian tersebut
dapat selesai.

Dengan segala keterbatasan dan kekurangan, kami mengharapkan kritik dan saran yang
membangun untuk kesempurnaan hasil kerja dari Tim Kajian tentang Kesenjangan

Sambutan Direktur Jenderal Peraturan Perundang-Undangan


antara Peraturan Perundang-undangan Indonesia dengan United Nations Convention
Against Transnational Organized Crime (UNTOC Gap Analysis).

Semoga kajian ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Amin…

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jakarta, 22 Desember 2010

DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

DR. WAHIDUDDIN ADAMS, S.H.,M.A


G A P A NA LYS I S
U NTOC

viii

Sambutan Direktur Jenderal Peraturan Perundang-Undangan


BAB

I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN

1. BERLAKUNYA UNTOC DI DALAM SISTEM HUKUM NASIONAL


INDONESIA

Majelis Umum PBB telah memprakarsai penyelenggaraan Konperensi


Internasional tentang Kejahatan Transnasional Terorganisasi di Palermo,
Italia. Melalui perundingan yang cukup alot dan melelahkan, negara-negara
peserta Konperensi berhasil menyepakati United Nations Convention
Against Transnational Organized Crime (UNTOC). Sesuai dengan Pasal
36 ayat 1, UNTOC terbuka bagi semua negara untuk penandatanganan dari
tanggal 12 – 15 Desember 2000 di Palermo, Italia dan selanjutnya di Markas
Besar PBB di New York hingga tanggal 12 Desember 2002. Perlu diketahui,

G A P A NA LYS I S
bahwa penandatanganan ini barulah tahap penerimaan dan persetujuan
atas naskah perjanjian oleh wakil-wakil dari negara-negara yang menghadiri
konperensi, sebagai naskah yang final dan otentik. Namun, sampai tahap

U NTOC
penandatanganan ini, UNTOC belum berlaku atau belum mengikat sebagai
hukum internasional positif.

Untuk dapat berlaku atau mengikat sebagai hukum internasional positif,


berdasarkan Pasal 36 ayat 3, negara-negara diberi kesempatan untuk 3
menyatakan persetujuannya untuk terikat pada (consent to be bound by)
Konvensi dengan cara melakukan peratifikasian (ratification), penerimaan
(acceptance), persetujuan (approval) atau aksesi (accession). Selanjutnya,
sesuai dengan ketentuan Pasal 38 ayat 1, Konvensi ini akan mulai berlaku
(entry into force) pada hari kesembilan puluh setelah tanggal penyimpanan
instrumen ratifikasi (ratification), penerimaan (acceptance), persetujuan
(approval) atau aksesi (accession) yang keempat puluh. Dengan telah
dipenuhinya ketentuan Pasal 38 ayat 1 maka kini UNTOC sudah berlaku
sebagai hukum internasional positif. Akan tetapi, sesuai dengan salah satu
prinsip hukum perjanjian (internasional), yakni pacta tertiis nec nosent
nec prosunt, UNTOC hanya berlaku dan mengikat terhadap negara-negara
yang sudah menyatakan persetujuannya untuk terikat, baik hal itu dilakukan
dengan peratifikasian, penerimaan, persetujuan, ataupun pengaksesian.

Indonesia sebagai anggota masyarakat internasional yang sering menghadapi


kasus-kasus kejahatan transnasional terorganisasi yang terus berkembang
dengan segala akibatnya, juga telah meratifikasi Konvensi ini dan selanjutnya
memberlakukan (mengesahkan dan mengundangkan) ke dalam hukum
nasionalnya dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2009 tentang
Pengesahan “United Nations Convention Against Transnational Organized
Crime” (Konvensi PBB Menentang Kejahatan Transnasional Terorganisasi)
pada tanggal 12 Januari 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5 Tahun 2009, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4960). Dengan demikian, maka semenjak itu, UNTOC secara yuridis formal

Pendahuluan
telah menjadi bagian dari hukum nasional Indonesia. Sebagai konsekuensi
dari ratifikasi tersebut maka Konvensi dimaksud perlu ditransformasikan
ke dalam peraturan perundang-undangan nasional yaitu dengan membuat
ketentuan-ketentuan untuk menampung apa yang diatur di dalam Konvensi
yang telah diterima dan disahkan. Asas-asas hukum pidana internasional
yang baru, sebagaimana dimuat dalam Konvensi, akan membuka wawasan
baru dalam perkembangan penerapan hukum pidana nasional.


2. SISTEMATIKA DAN SUBSTANSI UNTOC

Berbeda dengan perjanjian internasional pada umumnya ataupun perjanjian


tentang kejahatan internasional pada khususnya yang memiliki sistematika
yang sudah baku, yakni, terdiri dari preambul (preamble) yang berisi dasar-
dasar pertimbangan dan maksud serta tujuan mengapa perjanjian itu dibuat,
kemudian berlanjut dengan batang tubuh yang memuat substansinya yang
terbagi menjadi bab-bab dan bab-bab ini terdiri dari satu atau lebih pasal,
sebaliknya UNTOC sama sekali tidak memuat preambul ataupun pembagian
G A P A NA LYS I S

atas batang tubuhnya menjadi bab-bab melainkan langsung dijabarkan dalam


bentuk pasal-pasal (dari pasal yang paling awal sampai yang paling akhir).
U NTOC

Oleh karena itu, untuk menelaah substansinya secara lebih mendalam,


tidak ada jalan lain selain dengan mengikuti urutan pasal-pasalnya. Namun
demikian, penguasaan dan pemahaman secara utuh dan terpadu atas UNTOC
4 itu sendiri merupakan suatu keharusan sebab antara pasal yang satu dengan
yang lain saling berhubungan dan di dalam keseluruhannya itulah terkandung
maksud dan tujuan dari Konvensi ini.

Secara keseluruhan, substansi UNTOC secara garis besar dapat dibedakan


menjadi dua, yakni:

a. Kaidah hukum materiil-substansial yakni tentang kejahatan itu


sendiri sebagaimana dapat dijumpai dalam Pasal 5, 6, 8, 9 dan 23,
tentang yurisdiksi (Pasal 15) maupun hal-hal yang terkait dengan itu,
antara lain tentang istilah-istilah yang digunakan (Pasal 2), ruang
lingkup berlakunya Konvensi (Pasal 3), prinsip perlindungan dan
penghormatan atas kedaulatan negara-negara peserta atau pihak pada
Konvensi (Pasal 4);

b. Kaidah hukum formal-prosedural, yakni, tentang masalah-masalah


prosedural penanganan perkara, yang meliputi kerjasama internasional
antara negara-negara peserta Konvensi, seperti ekstradisi (Pasal 16),
pemindahan narapidana (Pasal 17), dan kerjasama timbal balik dalam
masalah pidana yang disebut juga dengan bantuan hukum timbal
balik (Pasal 18) ataupun pasal-pasal lainnya yang berkenaan dengan
kerjasama internasional.

Perlu ditegaskan disini, bahwa pembedaan ini bukanlah sesuatu yang bersifat
hitam dan putih sebab di dalam kaidah hukum formal-prosedural itupun

Pendahuluan
terdapat hal-hal yang bersifat materiil-substansial, atau ada pasal-pasal yang
substansinya merupakan area abu-abu (grey area). Pembedaan ini sekadar
untuk memudahkan dalam penelaahannya saja.

Konvensi memuat asas-asas hukum pidana sejalan dengan perkembangan


asas-asas hukum internasional yang secara langsung atau tidak langsung
akan mempengaruhi perkembangan hukum nasional, yaitu:

a. Perlindungan kedaulatan negara sesuai dengan hak eksklusif suatu


negara yang ditentukan dalam Pasal 4 Konvensi yaitu Negara Pihak
wajib melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka berdasarkan prinsip-
prinsip kedaulatan yang sejajar dan integritas wilayah negara-negara
dan prinsip tidak melakukan intervensi terhadap masalah dalam negeri
negara lain. Konvensi juga tidak memberikan hak kepada suatu Negara
Pihak untuk mengambil tindakan dalam wilayah Negara Pihak lainnya
untuk menerapkan yurisdiksi dan melaksanakan fungsi-fungsi yang
hanya dimiliki oleh pejabat berwenang Negara Pihak lain berdasarkan
hukum nasionalnya.

G A P A NA LYS I S
b. Pertanggungjawaban badan hukum bukan hanya pidana saja tetapi
juga meliputi tanggungjawab menurut hukum perdata dan hukum

U NTOC
administrasi. Oleh karena itu, sanksi yang diterapkan bukan hanya
sanksi hukum pidana tetapi juga sanksi yang bersifat pelarangan
termasuk sanksi moneter (Pasal 10).

c. Tenggang waktu daluwarsa ditentukan lebih panjang dan ditentukan 5


lebih panjang lagi bila tersangka menghindari pelaksanaan proses
peradilan (Pasal 11).

d. Perluasan yurisdiksi kriminal dengan menerapkan asa extra-territorial


jurisdiction, perluasan asas teritorial yang ditentukan dalam Pasal 15:

1) Hukum pidana nasional memiliki yurisdiksi atas setiap tindak


pidana jika:

 tindak pidana dilakukan terhadap warga negara dari


Negara Pihak tersebut;
 tindak pidana dilakukan oleh warga negara dari Negara
Pihak yang bersangkutan atau oleh orang yang tidak
memiliki kewarganegaraan yang biasa bertempat tinggal
di dalam wilayah negara yang bersangkutan atau;
 tindak pidananya adalah satu dari tindak pidana yang
ditetapkan Pasal 5 Ayat (1) dan dilakukan di luar
wilayahnya dengan tujuan melakukan tindak pidana
serius dalam wilayahnya;
 tindak pidananya adalah satu dari tindak pidana yang
ditetapkan dalam Pasal 6 Ayat (1) (b) (ii) Konvensi yang
dilakukan di luar wilayah dengan tujuan untuk melakukan
tindak pidana dalam wilayahnya.

Pendahuluan
2) memberlakukan yurisdiksi hukum nasionalnya atas tindak
pidana yang diatur dalam Konvensi ketika tersangka berada di
wilayahnya dan tidak melakukan ekstradisi atas orang tersebut
dengan alasan semata-mata bahwa ia adalah warganegaranya.

3) memberlakukan yurisdiksi hukum nasionalnya ketika tersangka


berada dalam wilayahnya dan tidak melakukan ekstradisi atas
orang tersebut.

Dari sisi lain, Konvensi ini dapat pula dipandang sebagai pengintegrasian
dari empat substansi besar yang masing-masing sudah lazim diatur di
dalam perjanjian-perjanjian internasional tersendiri. Keempatnya itu
adalah, tentang kejahatan atau tindak pidana itu sendiri (Pasal 5, 6, 8, 9
dan 23), tentang ekstradisi (Pasal 16), pemindahan narapidana (Pasal 17),
kerjasama timbal balik dalam masalah pidana atau bantuan hukum timbal
balik (Pasal 18). Bahkan, aturan tentang ekstradisi (Pasal 16 ayat 1 - 17) dan
bantuan hukum timbal balik (Pasal 18 ayat 1 – 30) dapat dipandang sebagai
pemadatan atau pemampatan dari masing-masing pranata hukum tersebut.
G A P A NA LYS I S

Selain dari keempat bidang tersebut, di dalam beberapa pasal lainnya juga
terkandung tentang masalah-masalah yang lebih bersifat teknis-operasional
yang juga dapat diatur dan dirumuskan dalam suatu perjanjian kerjasama
U NTOC

dalam tingkatan yang self-executing, seperti kerjasama antara aparat-


aparat penegak hukum (Pasal 26), kerjasama penegakan hukum (Pasal 27),
pengumpulan, pertukaran dan analisis informasi tentang sifat tindak pidana
terorganisasi (Pasal 28). Bahkan ada pula ketentuannya yang secara langsung
6 dapat dilaksanakan pada tataran domestik negara-negara peserta/pihak
ataupun pada tataran internasional melalui kerjasama antara aparat penegak
hukum, seperti tentang pelatihan dan bantuan teknis (Pasal 29).

Tentu saja dalam Konvensi ini, sebagaimana konvensi pada umumnya,


terdapat ketentuan-ketentuan yang sudah baku dan lazim, walaupun tidak
persis sama antara yang satu dengan lainnya. Ketentuan-ketentuan itu
antara lain adalah, tentang konperensi para pihak pada Konvensi (Pasal
32), sekretariat (Pasal 33), pelaksanaan Konvensi (Pasal 34), penyelesaian
sengketa (Pasal 35), penandatanganan, peratifikasian, penerimaan,
persetujuan dan aksesi (Pasal 36), hubungan konvensi dengan protokol
(Pasal 37), pemberlakuan (Pasal 38), amendemen (Pasal 39), penarikan diri
(Pasal 40), penyimpanan dan bahasa (Pasal 41).

Dengan menetapkan tindak pidana serius (serious crime) sebagai tindakan


yang merupakan suatu tindak pidana yang dapat dihukum dengan maksimum
penghilangan kemerdekaan paling kurang empat tahun atau sanksi yang lebih
berat (Pasal 2 huruf b) maka setiap tindak pidana yang ancaman hukumannya
sama dengan atau lebih berat dari batas tersebut, sepanjang tergolong sebagai
tindak pidana transnasional terorganisasi maka akan terliput di dalamnya,
termasuk tindak pidana yang secara tegas diatur di dalam Pasal 5, 6, 8 dan
23 UNTOC. Dalam hukum pidana nasional Indonesia, tidak pernah ada
sebutan khusus Tindak Pidana Serius. Selama ini hanya secara implisit saja
tindak pidana yang diancam pidana penjara 5 tahun ke atas dikategorikan

Pendahuluan
sebagai tindak pidana serius. Namun karena merupakan poros dari tindak
pidana yang lain yang tentu saja sudah ada pengaturannya di dalam hukum
pidana nasional Indonesia, maka keberadaan dari tindak pidana serius ini
merupakan kaidah hukum pidana baru yang membungkus banyak macam
tindak pidana yang sudah ada sebelumnya.

Pada lain pihak, substansi Konvensi sebagaimana dapat dijumpai di dalam


beberapa pasalnya, ada yang membebani kewajiban untuk mengambil
tindakan kepada negara-negara pesertanya (Each State Party shall ………),
antara lain seperti dapat dijumpai dalam pasal-pasal yang berisi kaidah-
kaidah hukum materiil-substansial (Pasal 4 ayat 1, Pasal 5 ayat 1, Pasal 6
ayat 1, Pasal 7 ayat 1, Pasal 8 ayat 1, Pasal 10 ayat 1 dan Pasal 23 ayat 1).
Ketentuan yang bernada perintah (mewajibkan) yang sifatnya imperatif
ini, mau tidak mau haruslah dilaksanakan oleh negara-negara peserta atau
pihak pada UNTOC. Ada pula ketentuannya yang berisi kewajiban untuk
mempertimbangkan (States Parties /Each State Party shall consider ………)
antara lain terdapat dalam Pasal 16 ayat 2, Pasal 19, Pasal 21, Pasal 26 ayat
2, dan Pasal 28). Walaupun kewajiban ini juga bernada sebagai perintah,

G A P A NA LYS I S
namun putusan akhir dari kewajiban untuk pertimbangan itu sepenuhnya
terletak pada negara-negara peserta yang bersangkutan sebab kewajiban
yang dibebankan itu hanya terbatas untuk mempertimbangkan saja. Selain

U NTOC
itu, ada ketentuan yang sifatnya sepenuhnya fakultatif (Each State Party may
………). Oleh karena sifatnya yang fakultatif maka pelaksanaannya tentulah
sepenuhnya tergantung pada negara-negara yang bersangkutan. Hal ini
antara lain dapat dijumpai dalam Pasal 14 ayat 3, Pasal 17, Pasal 18 ayat 16,
dan Pasal 22. 7

3. DAMPAK UNTOC TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-
UNDANGAN INDONESIA

UNTOC yang kini sudah menjadi bagian dari dan berlaku sebagai hukum
(positif) nasional Indonesia, secara yuridis formal sejajar kedudukannya
dengan undang-undang nasional Indonesia yang lain pada umumnya, undang-
undang pidana pada khususnya. Sebagai hukum yang berasal dari luar yang
substansinya tidak dibuat oleh institusi pembuat undang-undang (Presiden
dan DPR) melainkan hanya disetujui saja, tidak akan dapat dielakkan lagi
dampaknya terhadap hukum atau peraturan perundang-undangan nasional
Indonesia yang lainnya yang sudah ada dan lebih dahulu berlaku sebagai
hukum positif. Apa dan bagaimana saja dampaknya itu?

UNTOC sebagai sebuah konvensi dalam ruang lingkup hukum pidana


internasional, sebenarnya dampaknya terhadap hukum pidana nasional
Indonesia, sama saja seperti dampak dari konvensi-konvensi lainnya
dalam bidang hukum pidana internasional, terhadap hukum atau undang-
undang pidana nasional Indonesia. Dampak tersebut akan cukup besar
terjadinya terutama yang berkenaan dengan ketentuan UNTOC yang
bersifat imperatif. Sedangkan ketentuan UNTOC yang bersifat fakultatif,
dampaknya itu relatif kecil. Namun, meskipun kecil, tetap harus diberikan

Pendahuluan
perhatian yang sungguh-sungguh karena bersentuhan dengan peraturan
perundang-undangan nasional yang ada hubungannya dengan ketentuan
UNTOC tersebut. Untuk menyelesaikan dampak ini, maka Indonesia
harus mentransformasikan substansinya ke dalam hukum atau peraturan
perundang-undangan nasionalnya. Secara sistematika, pentransformasian
itu dapat disistematikakan sebagai berikut:

Pertama; ada ketentuan UNTOC yang baru sama sekali dan tidak ada
padanan atau pengaturannya di dalam hukum nasional Indonesia. Dalam hal
ini, Indonesia harus membuat undang-undangnya yang baru. Hal ini terutama
berkenaan dengan substansi yang berupa kaidah hukum pidana materiil-
substansial, seperti tentang kejahatan atau tindak pidana yang ditegaskan di
dalam salah satu atau beberapa pasalnya.

Kedua; ada ketentuan UNTOC yang sudah ada padanan atau pengaturannya
di dalam hukum nasional Indonesia. Jika demikian halnya, maka ada
kemungkinan ketentuan UNTOC lebih lengkap atau lebih sempurna
pengaturannya. Dalam hal ini, Indonesia haruslah menyesuaikan atau
G A P A NA LYS I S

menyelaraskan ketentuan undang-undang nasionalnya dengan ketentuan


UNTOC. Jika ketidak-sesuaian atau ketidak-selarasan itu sedemikian
besarnya, Indonesia harus mengubah undang-undangnya tersebut bahkan
U NTOC

harus membuat undang-undang baru yang substansinya sesuai/selaras


dengan UNTOC untuk menggantikan undang-undang yang lama itu.

Ketiga; sebaliknya jika pengaturan substansinya di dalam hukum atau


8 undang-undang nasional justru sudah lebih lengkap sedangkan di dalam
UNTOC justru tidak ada pengaturannya, hal ini tentulah sangat positif
dan bisa dipertahankan terus. Bila perlu, diusulkan supaya ketentuan
tersebut dimasukkan menjadi ketentuan UNTOC dengan melakukan
pengamendemenannya.

4. RELEVANSI PENGKAJIAN ATAS KESENJANGAN PERATURAN


PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA TERHADAP UNTOC

Atas dasar apa yang telah dipaparkan di atas, kiranya sangat relevan untuk
dikaji secara lebih mendalam tentang sejauhmanakah terjadinya kesenjangan
antara hukum atau peraturan perundang-undangan nasional Indonesia
berkenaan dengan masuk dan berlakunya UNTOC ke dalam sistem hukum
nasional Indonesia serta dampak-dampaknya terhadap hukum atau
peraturan perundang-undangan nasional Indonesia. Dengan pengkajian ini,
diharapkan dapat diperoleh gambaran baik secara umum ataupun secara
lebih rinci tentang kekurangan ataupun kelebihan dari hukum atau peraturan
perundang-undangan nasional Indonesia terhadap UNTOC.

Sebagaimana sudah diketahui, bahwa setiap konvensi internasional pada


umumnya, konvensi tentang kejahatan internasional pada khususnya, secara
umum merupakan sesuatu hal yang baru ataupun kalau bukan merupakan

Pendahuluan
hal yang baru, namun banyak ataupun sedikit, mengandung unsur-unsur
baru yang kadang-kadang tidak atau belum diatur di dalam hukum nasional.
Ataupun jika sudah diatur, ternyata masih mengandung kekurangan setelah
diperbandingkan dengan ketentuan Konvensi. Inilah yang pada umumnya
merupakan kesenjangan yang sering dapat dijumpai antara hukum atau
peraturan perundang-undangan nasional negara-negara dengan konvensi
pada umumnya, tidak terkecuali dengan hukum nasional Indonesia dalam
hubungannya dengan UNTOC.

Hasil pengkajian atas kesenjangan ini, selanjutnya akan dapat dijadikan


sebagai masukan bagi pembentuk undang-undang dalam rangka membuat
undang-undang baru dalam bidang yang berkenaan dengan substansi UNTOC
ataupun demi penyempurnaan peraturan perundang-undang lain yang ada
kaitannya. Semua itu dalam rangka pentransformasian UNTOC ke dalam
hukum nasional Indonesia. Pada akhirnya, walaupun bukan yang terakhir,
akan terhindarkan atau terkurangi adanya ketentuan-ketentuan dalam
UNTOC yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
nasional yang terkait. Demikian pula akan terhindarkan kekosongan hukum

G A P A NA LYS I S
yang terjadi sebagai akibat dari masih adanya kesenjangan tersebut. Secara
ideal, diharapkan terwujud adanya keharmonisan antara keduanya.

U NTOC
5. METODA PENGKAJIAN

Kajian yang dilakukan ini merupakan kajian hukum normatif atau kajian 9
hukum doktrinal, karena sumber data yang dikaji adalah data sekunder
berupa bahan hukum, baik bahan hukum primer, sekunder maupun tersier.
Bahan utamanya adalah bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang
mempunyai kekuatan hukum mengikat, dalam hal ini United Nations
Convention Against Transnational Organized Crime dan peraturan
perundang-undangan Indonesia. Untuk peraturan perundang-undangan
Indonesia, lebih dikhususkan pada tingkatan UU dan Peraturan Pemerintah.
Ketentuan atau aturan dan norma yang ada di dalam UNTOC dijadikan acuan
untuk melihat apakah sudah diimplementasikan dalam ketentuan berbagai
peraturan perundang-undangan Indonesia. Apabila sudah ada ketentuan
serupa, lebih jauh dilihat pula apakah sudah sepenuhnya mengakomodasi
norma yang diamanatkan dalam ketentuan UNTOC. Jadi bila dilihat dari
perspektif tujuannya penelitian hukum normative ini merupakan penelitian
terhadap taraf sinkronisasi hukum secara horizontal. Hal yang diteliti
adalah sejauh mana peraturan perundang-undangan nasional Indonesia
sinkron dengan ketentuan dalam UNTOC. Penelitian sinkronisasi ini di
samping mendapatkan data yang lengkap dan menyeluruh mengenai
perundang-undangan yang relevan dengan ketentuan UNTOC, juga dapat
mengungkapkan kelemahan dan kelebihan yang ada pada perundang-
undangan Indonesia yang terkait materi yang diatur dalam UNTOC. Dengan
demikian, peneliti dapat memberikan rekomendasi terhadap perundang-
undangan tersebut. Oleh karena pengkajian dilakukan dengan menelaah
semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum

Pendahuluan
tertentu, maka pendekatannya adalah pendekatan undang-undang (statute
approach). Dalam hal ini isu hukum yang menjadi obyek kajian adalah
kejahatan transnasional yang terorganisasi.

Untuk memudahkan pengkajian, digunakan metode matriks yakni dengan


menempatkan secara sejajar ketentuan-ketentuan hukum atau peraturan
perundang-undangan yang dikaji di dalam masing-masing kolom yang
berbeda sehingga akan lebih jelas tampak tampilannya. Dalam pengkajian
ini, instrumen hukum yang dijadikan sebagai fokus atau titik sentral adalah
UNTOC itu sendiri. Oleh karena itu, UNTOC ditempatkan di dalam kolom
pertama, dengan rumusan yang lengkap sesuai dengan urutan pasal-pasalnya.
Pada kolom kedua, ditempatkan peraturan perundang-undangan nasional
Indonesia -khususnya pasal-pasalnya- yang ada hubungannya dengan pasal-
pasal UNTOC dalam kolom pertama. Dengan menyejajarkan penempatannya
dalam masing-masing kolom, akan lebih mudah untuk membandingkannya
dalam rangka menemukan kelebihan ataupun kekurangan yang satu dari
yang lain.
G A P A NA LYS I S

Sebagai hukum yang berasal dari luar dan merupakan hasil kesepakatan dari
negara-negara yang menjadi pihak/pesertanya, UNTOC mengandung kaidah-
kaidah atau nilai-nilai hukum baru yang dalam beberapa hal tidak terdapat di
U NTOC

dalam hukum atau peraturan perundang-undangan Indonesia. Ataupun jika


sudah ada pengaturannya, boleh jadi terdapat perbedaan antara keduanya.
Atau sebaliknya, suatu substansi ternyata sudah ada pengaturannya di dalam
peraturan perundang-undangan nasional tetapi ternyata tidak ada di dalam
10 UNTOC. Dalam hal ini, justru peraturan perundang-undangan nasional
menunjukkan langkah yang lebih maju ketimbang UNTOC, meskipun dalam
kenyataan, masalah seperti ini secara kuantitatif tidaklah banyak. Juga ada
kemungkinan, keduanya mengandung kekurangan, tegasnya, sama-sama
tidak mengatur tentang suatu hal yang seharusnya diatur. Pengkajian atau
penganalisisan ini ditempatkan dalam kolom ketiga, sehingga akan lebih
tampak permasalahannya.

Namun karena hukum merupakan suatu sistem yang di dalamnya terdapat


sub-sub sistem yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya dan
yang keseluruhannya merupakan suatu keterpaduan yang utuh, maka
ada kemungkinan terdapat aspek-aspek lain yang terkait yang perlu
dipertimbangkan. Aspek-aspek lain ini dapat dikatakan meliputi segala
macam, baik peraturan perundang-undangan ataupun masalah-masalah
lain yang lebih bersifat teknis-operasional. Aspek-aspek lain ini diberikan
tempat dalam kolom keempat, untuk menunjukkan keterkaitannya dengan
pengkajian atau penganalisisan dalam kolom ketiga.

Akhirnya pada kolom kelima, dapat dikemukakan rekomendasi berdasarkan


hasil pengkajian tersebut. Rekomendasi itu dapat berupa, langkah apa yang
seharusnya ditempuh atau dilakukan. Misalnya, apakah perlu dibuat undang-
undang baru tentang apa yang diatur dalam UNTOC, apakah ketentuan
tertentu dari UNTOC harus diadopsi untuk menggantikan ketentuan yang
sama yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan, apakah ketentuan
peraturan perundang-undangan harus diamendemen atau direvisi untuk
disesuaikan dengan ketentuan UNTOC dan sebagainya.
Pendahuluan
BAB

II
KESENJANGAN ANTARA UNTOC
DENGAN
PERATURAN PERUNDANG-
UNDANGAN INDONESIA
KESENJANGAN ANTARA UNTOC DENGAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
INDONESIA

1. PERNYATAAN TUJUAN (PASAL 1)

1.1. Pendekatan UNTOC

Pasal 1 Konvensi menegaskan tujuan yang hendak dicapai, yakni, memajukan


kerjasama dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana transnasional
terorganisasi secara lebih efektif. Penegasan dalam Pasal 1 Konvensi ini,
dapat dipandang sebagai tujuan dari konvensi-konvensi tentang kejahatan
atau tindak pidana internasional pada umumnya. Hal ini disebabkan
karena tindak pidana internasional atau transnasional bagaimanapun juga
melibatkan sekurang-kurangnya dua negara, yang pencegahan ataupun

G A P A NA LYS I S
pemberantasannya akan lebih efektif jika dilakukan melalui suatu kerjasama
(internasional) dibandingkan dengan bila masing-masing negara melakukan
pencegahan dan pemberantasannya secara sendiri-sendiri.

U NTOC

1.2. Masalah Pokok yang Dihadapi Indonesia
13
Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan (archipelagic state) yang secara
geografis sangat strategis karena terletak antara dua benua dan dua samudera
yang cukup ramai lalu lintas pelayaran maupun penerbangannya, juga sangat
strategis bagi para pelaku dari pelbagai macam kejahatan internasional/
transnasional, termasuk pelaku kejahatan transnasional terorganisasi.
Mereka bisa bekerjasama dengan sesama rekannya yang berada di negara
lain, apakah kejahatan itu dilakukan di dalam wilayah Indonesia atau di luar
wilayah Indonesia, apakah korbannya terjadi di wilayah Indonesia atau di
luar wilayah Indonsia, ataukah kombinasi antara semuanya. Bentuk dan jenis
kejahatannyapun semakin canggih, terutama karena ditunjang oleh sarana
teknologi yang mutakhir. Sebagai akibatnya, korbannyapun baik berupa
orang ataupun harta benda, cukup banyak berjatuhan. Oleh karena itu, tidak
ada jalan lain bagi Indonesia sebagai anggota masyarakat internasional, harus
berperan aktif dalam pencegahan dan pemberantasan kejahatan internasional
seperti kejahatan transnasional terorganisasi, baik secara tersendiri, ataupun
dengan melalui kerjasama internasional.


1. 3. Langkah Hukum yang Ditempuh Indonesia

Demi mewujudkan kerjasama tersebut, Indonesia dalam perundang-


undangan pidana nasionalnya, belakangan ini hampir selalu mencantumkan
di dalam salah satu butir konsideransnya tentang dimensi internasional dari
tindak pidana yang diatur di dalam undang-undang yang bersangkutan.

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


Demikian pula dalam Penjelasan, secara tegas ataupun tersimpul, dinyatakan
tentang perlunya kerjasama internasional dalam pencegahan ataupun
pemberantasannya. Ini menunjukkan, bahwa hukum nasional Indonesia
tidaklah seperti katak dalam tempurung, melainkan sudah membuka pintu
dan jendela untuk memandang ke luar, bahwa dibutuhkan kerjasama (antara
negara-negara) dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
internasional/transnasional.

Masih dalam rangka pencegahan dan pemberantasan, Indonesiapun telah


mengadakan perjanjian-perjanjian bilateral ataupun multilateral sebagai
sarana pencegahan dan pemberantasan tindak pidana internasional/
transnasional, seperti perjanjian tentang ekstradisi, perjanjian tentang
kerjasama timbal balik dalam masalah pidana. Demikian pula keterlibatan
Kepolisian Republik Indonesia dalam INTERPOL ataupun ASEANAPOL
ataupun kerjasama kepolisian di wilayah-wilayah perbatasan.

Hanya saja berkenaan dengan kejahatan atau tindak pidana transnasional


terorganisasi sebagaimana diatur dalam UNTOC, hingga kini Indonesia
G A P A NA LYS I S

belum memiliki undang-undang pidana positif (nasional) yang secara khusus


mengaturnya. Akibatnya, semua langkah kerjasama dalam rangka pencegahan
dan pemberantasan kejahatan atau tindak pidana internasional/transnasional
U NTOC

yang telah ditempuh oleh Indonesia tersebut tidak bisa diberlakukan terhadap
kejahatan atau tindak pidana transnasional terorganisasi.


14
2. PEMAKAIAN ISTILAH (PASAL 2)

Pasal 2 Konvensi mengenalkan 10 (sepuluh) macam istilah disertai dengan


pengertiannya masing-masing. Sebagian dari istilah tersebut ada yang sudah
dikenal di dalam hukum pidana nasional Indonesia, seperti, kekayaan,
pembekuan atau penyitaan, dan perampasan. Istilah-istilah dalam Pasal 2
UNTOC tersebut boleh jadi mengandung makna yang sama atau hampir sama
ataupun berbeda dengan yang terdapat di dalam hukum pidana nasional
Indonesia. Sebagian lagi merupakan istilah yang relatif baru atau asing yang
belum dikenal atau belum familiar di dalam hukum pidana nasional Indonesia,
seperti, kelompok pelaku tindak pidana terorganisasi, tindak pidana serius,
kelompok terstruktur, dan pengiriman terkendali.

Adanya pelbagai macam istilah dengan makna yang sama, hampir sama
bahkan ada yang berbeda ataupun istilah yang sama sekali baru dan asing
di dalam hukum pidana nasional Indonesia, terutama yang dikenalkan oleh
konvensi-konvensi internasional seperti UNTOC, jika dibiarkan berlangsung
sebagaimana adanya, akan dapat menimbulkan multi interpretasi dan
ketidakpastian hukum. Oleh karena itu perlu dilakukan pembakuan istilah,
sehingga setiap istilah memiliki makna atau pengertian yang sama, atau jika
harus dibedakan sesuai dengan konteks pemakaiannya, semua itu haruslah
bisa dipahami dengan jelas oleh setiap orang.

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


3. RUANG LINGKUP PEMBERLAKUAN ( PASAL 3)

Mengenai ruang lingkup berlakunya UNTOC adalah seperti ditegaskan dalam


Pasal 3 ayat 1 huruf a dan b. Pasal 3 ayat 1 huruf a menegaskan empat jenis
tindak pidana yakni; berpartisipasi dalam kelompok pelaku tindak pidana
terorganisasi (Pasal 5), tindak pidana yang merupakan pencucian hasil tindak
pidana (Pasal 6), tindak pidana korupsi (Pasal 8), dan tindak pidana yang
merupakan gangguan terhadap proses peradilan (Pasal 23). Sedangkan
Pasal 3 ayat 1 huruf b menambahkan lagi ruang lingkup berlakunya, yakni,
mencakup tindak pidana serius (serious crime), sebagaimana ditegaskan
dalam Pasal 2 huruf b.

Jenis-jenis tindak pidana yang masuk dalam lingkup UNTOC, sebenarnya


sudah ada pengaturannya dalam hukum pidana nasional Indonesia. Hanya
saja pemaknaan dan luas lingkup pengaturannya tidak sepenuhnya sama
dengan yang dikehendaki oleh UNTOC. Menjadi pertanyaan, mengapa
UNTOC secara khusus menyerukan kepada negara-negara pihak, supaya
mengkriminalisasikan keempat jenis kejahatan tersebut? Tampaknya hal ini

G A P A NA LYS I S
disebabkan karena negara-negara peserta dalam Konperensi Palermo melihat
masih cukup banyak adanya negara-negara yang belum menetapkan salah
satu ataupun keempat jenis kejahatan itu sebagai tindak pidana di dalam

U NTOC
hukum nasionalnya. Ataupun jika sudah, barangkali substansinya masih
belum memadai. Di samping itu, keempat jenis kejahatan itulah belakangan
ini yang seringkali dilakukan secara terorganisasi dan lintas batas negara
atau transnasional. Sedangkan mengenai tindak pidana serius, seperti telah
disebutkan dalam bagian Pemakaian Istilah, tidak pernah secara khusus 15
digunakan namun beberapa undang-undang umumnya menyiratkan bahwa
tindak pidana yang diancam pidana penjara 5 tahun ke atas adalah tindak
pidana serius. Dengan demikian, baik istilah dan kriteria ini harus diperjelas
dan disesuaikan dengan Konvensi.


4. PERLINDUNGAN KEDAULATAN (PASAL 4)

Pasal 4 ayat 1 dan 2 tentang Perlindungan Kedaulatan bersifat deklaratif,


yakni, menyatakan sesuatu yang sebenarnya memang sudah demikian
adanya. Tanpa dinyatakan secara tegaspun, negara-negara dalam hubungan-
hubungan internasional memang harus bertindak demikian karena semua
negara di dunia berkedudukan sejajar atau sama derajat. Atas dasar itulah
maka negara-negara harus saling menghormati kedaulatan dan kemerdekaan
masing-masing, tidak boleh melakukan intervensi, tidak boleh melakukan
tindakan-tindakan yang berupa penerapan kedaulatan ataupun yurisdiksi
di dalam wilayah negara lain tanpa persetujuannya. Semuanya ini sudah
merupakan prinsip-prinsip umum dari hukum internasional modern.

Namun dalam prakteknya, tidak semua negara di dunia ini menaati prinsip-
prinsip umum dari hukum internasional ini. Ada negara-negara yang
dengan dalih mencegah dan memberantas kejahatan lintas batas negara
(transnasional), ternyata melakukan pencarian dan penangkapan langsung

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


atas seorang pelakunya yang berada di wilayah negara lain. Ataupun
melakukan tindakan-tindakan dan pemaksaan (secara fisik ataupun psikis)
terhadap negara lain yang pada umumnya lebih lemah dengan alasan negara
itu menjadi sarang terorisme ataupun sarang kelompok kriminal lainnya.
Tindakan seperti ini jelas merupakan intervensi dan pelanggaran atas
kedaulatan negara lain.

Adanya Pasal 4 ayat 1 dan 2 ini harus dipandang sebagai peringatan terhadap
negara-negara peserta UNTOC, supaya dalam pencegahan dan pemberantasan
kejahatan transnasional terorganisasi, tetap menghormati dan melindungi
kedaulatan sesama negara.


5. KRIMINALISASI ATAS PARTISIPASI DALAM KELOMPOK
PELAKU TINDAK PIDANA TERORGANISASI (PASAL 5)

Ketentuan dalam Pasal 5 UNTOC menghendaki negara peserta menetapkan


sebagai suatu tindak pidana perbuatan seseorang atau beberapa orang yang
G A P A NA LYS I S

melibatkan diri dalam kegiatan kelompok terorganisasi. Jadi yang harus


menjadi fokus perhatian dalam hal ini adalah bukan pada keterlibatan dalam
pembentukan kelompok terorganisasi untuk melakukan tindak pidana, tetapi
U NTOC

lebih pada bagaimana seseorang atau beberapa orang melibatkan diri dalam
kegiatan dari kelompok terorganisasi yang sudah ada dan diketahuinya
beraktifitas melakukan tindak pidana. Ketentuan tentang penyertaan
16 maupun permufakatan jahat yang ada dalam perundang-undangan Indonesia,
dapat dikatakan belum mengakomodasi amanat Konvensi tentang masalah
partisipasi dalam kelompok pelaku tindak pidana terorganisasi, karena:

1. Ketentuan tentang penyertaan dan permufakatan jahat dalam ketentuan


hukum pidana Indonesia tidak dengan sendirinya dapat digunakan
memidana orang yang terlibat, tetapi masih harus dikaitkan dengan
tindak pidana apa yang dilakukan atau akan dilakukan. Singkatnya
penyertaan dan permufakatan jahat bukan tindak pidana. Sedangkan
Konvensi menghendaki keterlibatan dalam kelompok terorganisasi
ditetapkan sebagai suatu tindak pidana.

2. Penyertaan dan permufakatan jahat selama ini digunakan dalam hal


keterlibatan orang-perorangan; bukan untuk masalah keterlibatan
seseorang dalam hubungannya dengan kelompok terorganisasi

3. Perbuatan yang diamanatkan oleh Konvensi lebih luas daripada


yang selama ini masuk dalam lingkup pengertian penyertaan dan
permufakatan jahat menurut ketentuan hukum pidana Indonesia.

Demikian pula halnya dengan ketentuan Pasal 169 KUHP yang melarang
keterlibatan seseorang dalam perkumpulan yang bertujuan melakukan
kejahatan. Meskipun ketentuan ini sesungguhnya telah sejalan dengan
semangat Pasal 5 Konvensi; namun ketentuan ini masih bersifat sangat umum
dan pada kenyataannya hampir tidak pernah digunakan lagi.

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


Meskipun UU Narkotika telah mengakomodasi sebagian ketentuan Pasal 5
Konvensi dalam memaknai permufakatan jahat, namun ketentuan ini hanya
akan berlaku bagi tindak pidana narkotika. Untuk bentuk keterlibatan yang
lain pun tidak diatur secara khusus.

Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka perlu untuk mengakomodasi


Ketentuan Pasal 5 Konvensi dengan merumuskannya sebagai perluasan
penyertaan dalam hukum pidana Indonesia. Dengan demikian akan dapat
diberlakukan untuk semua keterlibatan dalam tindak pidana yang masuk
cakupan tindak pidana transnasional terorganisasi.


6. KRIMINALISASI ATAS PENCUCIAN HASIL TINDAK PIDANA
(PASAL 6)

Indonesia sudah memiliki Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo Undang-


Undang Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.
Dengan demikian maka apa yang diamanatkan dalam Pasal 6 Konvensi ini

G A P A NA LYS I S
sudah terjawab.

Undang-Undang ini telah merumuskan perbuatan pemindahan kekayaan

U NTOC
dengan maksud menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta
kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana
sebagai tindak pidana pencucian uang. Selain telah merinci tindak pidana
asal yang masuk dalam lingkup ketentuan tindak pidana pencucian uang, 17
Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang juga telah memberikan
ruang jangkauan yang luas dengan memasukkan kriteria tindak pidana yang
diancam dengan pidana penjara 4 tahun atau lebih sebagai tindak pidana asal.

Sejalan dengan ketentuan Konvensi, UU Indonesia tentang Pencucian


uang secara tegas menyatakan menganut asas kriminalitas ganda (double
criminality) yaitu bahwa perbuatan yang dilakukan di luar wilayah negara
Republik Indonesia, sepanjang dipandang sebagai tindak pidana menurut
hukum di negara yang bersangkutan, dan menurut hukum Indonesia juga
merupakan tindak pidana maka termasuk dalam kategori tindak pidana asal
sebagaimana dirinci dalam UU Pencucian Uang.

7. UPAYA MEMBERANTAS PENCUCIAN UANG (PASAL 7)

Upaya memberantas pencucian uang di Indonesia dilakukan melalui upaya


penal maupun non penal, yang melibatkan berbagai komponen, sebagaimana
diatur dalam UU Nomor 15 Tahun 2002 jo UU Nomor 25 Tahun 2003, yaitu :

1. Penyedia jasa keuangan sebagai pihak pelapor transaksi mencurigakan


yang terdiri dari bank, perusahaan sekuritas, perusahaan asuransi,
perusahaan dana pensiun dan penyedia jasa keuangan lainnya seperti
pedagang valuta asing, usaha jasa pengiriman uang.

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


2. Pihak pengatur (regulator) yang terdiri dari Bank Indonesia, Badan
Pengawas Pasar Modal, Menteri Keuangan.

3. Lembaga Intelejen Keuangan yaitu Pusat Pelaporan dan Analisis


Transaksi Keuangan (PPATK).

4. Penegak hukum, seperti Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, KPK.

5. Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak


Pencucian Uang yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Politik,
Hukum dan Keamanan yang bertugas terutama mengkoordinasikan
upaya penanganan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
pencucian uang.

PPATK merupakan lembaga baru yang khusus dibentuk dalam rangka


penanggulangan tindak pidana pencucian uang. Sebagaimana diamanatkan
dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo UU Nomor 25 Tahun
2003, PPATK adalah pusat pengumpulan, analisis dan penyebaran informasi
G A P A NA LYS I S

mengenai kemungkinan pencucian uang. PPATK sudah menjadi anggota


Financial Action Task Force (FATF) dan Asia Pasific Group on Money
Laundering (APG) dan banyak membuat nota kesepahaman (MoU) dengan
U NTOC

lembaga sejenis dari berbagai negara. Dengan demikian ketentuan dalam


Konvensi sudah dilaksanakan langsung dalam praktek atau ditindaklanjuti
dengan mengadakan kerjasama global, regional atau sub-regional.
18 Dalam rangka mencegah dan mendeteksi segala bentuk pencucian uang, pihak
regulator penyedia jasa keuangan telah menetapkan peraturan agar pihak
penyedia jasa keuangan menerapkan prinsip mengenal nasabah. Sementara
itu upaya pencegahan melalui cara mendeteksi dan memonitor pergerakan
uang tunai dan instrumen berharga yang melintasi batas negara telah diatur
dalam UU Tindak Pidana Pencucian Uang melalui beberapa mekanisme.
Mekanisme yang pertama adalah dengan mewajibkan Penyedia Jasa Keuangan
untuk melapor kepada PPATK atas setiap transaksi yang mencurigakan atau
transaksi keuangan yang dilakukan secara tunai dalam jumlah kumulatif
sebesar Rp. 500.000.000,- atau lebih. Mekanisme kewajiban melaporkan
juga dibebankan pada setiap orang yang membawa uang tunai berupa rupiah
sejumlah Rp. 100.000.000,- atau lebih, atau mata uang asing yang nilainya
setara dengan itu ke dalam atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia.
Laporan itu disampaikan kepada Dirjen Bea dan Cukai. Mekanisme lainnya
adalah dengan mewajibkan kepada setiap orang yang melakukan hubungan
usaha dengan penyedia jasa keuangan untuk memberikan identitas secara
lengkap dan akurat.

Laporan adanya transaksi keuangan yang mencurigakan dari penyedia jasa


keuangan dan laporan pembawaan uang tunai merupakan cara-cara yang
efektif untuk mencegah pencucian uang dan agar kewajiban ini dilaksanakan
dengan baik maka undang-undang memperkuatnya dengan sanksi pidana.
Bahkan, terkait laporan transaksi keuangan yang mencurigakan, ada
ketentuan yang melarang direksi, pejabat atau pegawai Penyedia Jasa

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


Keuangan memberitahukan kepada pengguna jasa keuangan atau orang lain
baik secara langsung ataupun tidak langsung dengan cara apapun mengenai
Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan yang sedang disusun atau telah
disampaikan kepada PPATK. Larangan serupa juga berlaku bagi Pejabat atau
Pegawai PPATK, serta Penyelidik/Penyidik dan diperkuat dengan ancaman
sanksi pidana yang berat karena mencantumkan pidana minimal khusus dan
sistem ancaman pidananya kumulatif berupa penjara dan denda.

Sanksi pidana yang diancamkan kepada penyedia jasa keuangan, bila


yang bersangkutan tidak melakukan kewajibannya melaporkan transaksi
mencurigakan, menunjukkan kesungguhan pemerintah untuk memberantas
tindak pidana pencucian uang sejak awal. Namun harus dipertimbangkan
apakah untuk perbuatan tersebut sudah perlu diancamkan sanksi pidana
dan bukan sanksi lain yang mungkin akan lebih efektif? Penggunaan sanksi
pidana secara tidak tepat dan berlebihan justru akan kontra produktif. Jadi
dalam hal ini mungkin lebih tepat untuk mengancamkan sanksi administratif,
agar kepercayaan masyarakat kepada penyedia jasa keuangan tetap terjaga,
tetapi sekaligus dapat menjamin kepatuhan penyedia jasa keuangan pada

G A P A NA LYS I S
kewajiban-kewajibannya. Agar sanksi ini dapat efektif, maka kewenangan
untuk menjatuhkan sanksi tersebut selayaknya ada pada PPATK yang
mempunyai kewenangan untuk melakukan pengawasan tersebut.

U NTOC

8. KRIMINALISASI KORUPSI (PASAL 8)
19
Tindak pidana korupsi telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana
telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sejalan dengan telah diratifikasinya
United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) dan juga telah
disahkan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 maka direncanakan
untuk melakukan perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Hal ini disebabkan masih ada
beberapa ketentuan yang belum selaras dengan Konvensi tersebut, salah
satunya adalah belum dikriminalisasinya pejabat publik asing dan pegawai
sipil internasional.

Pembahasan mengenai hal ini dapat dilihat dalam hasil kajian yang dilakukan
oleh Komisi Pemberantasan Korupsi tentang Gap Analysis UNCAC dan
Perundang-undangan Indonesia pada tahun 2006.

9. TINDAKAN MENENTANG KORUPSI (PASAL 9)

Hukum nasional mengatur pencegahan korupsi melalui Undang-Undang


Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan
Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Undang-Undang ini substansinya
lebih bersifat preventif. Di samping itu, hukum nasional mengatur tindakan

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


menentang korupsi dengan undang-undang yang substansinya lebih bersifat
represif yaitu Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi. Undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi tersebut
telah mengamanatkan dibentuknya suatu lembaga khusus anti korupsi.
Untuk melaksanakan amanat ini dibentuk Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pembahasan mengenai hal ini dapat dilihat dalam hasil kajian yang dilakukan
oleh Komisi Pemberantasan Korupsi tentang Gap Analysis UNCAC dan
Perundang-undangan Indonesia pada tahun 2006.


10. TANGGUNGJAWAB BADAN HUKUM (PASAL 10)

Mengenai badan hukum dalam Pasal 10 UNTOC sama sekali tidak ada
G A P A NA LYS I S

penjelasan tentang maknanya. Hal ini dapat diartikan, bahwa pengertian


badan hukum, sepenuhnya diserahkan pada masing-masing negara sesuai
dengan hukum nasionalnya. Ketentuan ini mewajibkan kepada setiap negara
U NTOC

untuk membebankan tanggungjawab kepada badan hukum baik tanggung


jawab pidana, perdata ataupun administratif atas partisipasinya/peran
sertanya dalam tindak pidana serius yang melibatkan kelompok penjahat
20 transnasional terorganisasi.

Sesungguhnya, di dalam hukum atau undang-undang pidana nasional


Indonesia, pertanggungjawaban badan hukum terutama pertanggungjawaban
pidana sudah diatur sejak berlakunya Undang-Undang (DRT) Nomor 7
Tahun 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi (sebagaimana telah diubah
dan ditambah) walaupun dengan istilah yang berbeda. Dalam hukum atau
undang-undang pidana nasional Indonesia terdapat istilah korporasi yang
pengertiannya lebih luas daripada badan hukum karena tidak saja berkenaan
dengan korporasi yang berbentuk badan hukum tetapi juga yang tidak
berbentuk badan hukum. Tanggungjawabnyapun bisa berupa tanggungjawab
pidana, perdata maupun administratif. Bahkan selain daripada korporasi
atau badan hukum itu sendiri, pengurusnyapun tetap dapat dimintakan
pertanggungjawaban pidana sesuai dengan perannya dalam suatu tindak
pidana yang melibatkan badan hukumnya. Dengan demikian, apa yang
diamanatkan dalam Pasal 10 UNTOC sebenarnya sudah terjawab dalam
pelbagai peraturan perundang-undangan pidana Indonesia.

Meskipun telah ditetapkan sebagai subyek hukum pidana sejak tahun 1955,
dalam kenyataannya hingga saat ini belum pernah ada korporasi yang dijatuhi
pidana. Hal ini nampaknya disebabkan ajaran pertanggungjawaban pidana
korporasi kurang dikenal dalam praktek peradilan.

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


11. PENUNTUTAN, PERADILAN DAN SANKSI (PASAL 11)

Sistem sanksi pidana yang diatur dalam perundang-undangan khusus yang


masuk dalam lingkup Konvensi telah selaras dengan amanat dari Konvensi
yang secara tersirat menghendaki dijatuhkannya sanksi yang berat terhadap
(pelaku) tindak pidana. Bahkan dalam perundang-undangan khusus tersebut,
di samping diancamkan pidana maksimal khusus juga diancamkan pidana
minimal khusus dengan tujuan menghindarkan dijatuhkannya pidana yang
ringan. Ketentuan ini memang ditujukan untuk tindak pidana- tindak pidana
yang masuk kategori tindak pidana khusus, yang oleh banyak kalangan
disebut sebagai extraordinary crime. Hanya saja untuk tindak pidana lain
yang menurut Konvensi masuk kategori tindak pidana serius, tidak ada
ketentuan pidana minimal khusus. Hal ini yang dalam pelaksanaannya dapat
membuka celah terjadinya ketidaksesuaian dengan tujuan Konvensi yang
ingin menjatuhkan pidana yang relatif lebih berat pada pelaku kejahatan
transnasional terorganisasi. Oleh karena itu perlu dibuat ketentuan khusus
agar hakim memperhitungkan beratnya tindak pidana transnasional
terorganisasi ketika akan menjatuhkan pidana pada pelakunya. Ketentuan

G A P A NA LYS I S
khusus ini dapat berupa pemberatan pidana, bila tindak pidana dilakukan
secara transnasional terorganisasi.

U NTOC
Kriminalisasi dan penentuan sanksi yang berat bagi pelaku tindak pidana
belum cukup untuk menanggulangi tindak pidana transnasional terorganisasi.
Kebijakan tersebut harus dibarengi dengan kewenangan hukum yang
jelas pada para pelaksana hukum. Kejelasan di sini bukan hanya berupa
kewenangan menurut undang-undang, tetapi juga harus ada independensi 21
pelaksana hukum dalam mempertimbangkan tindakan yang tepat untuk
memaksimalkan penangkalan tindak pidana tersebut.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa penyidik kepolisian dan kejaksaan masih


rentan terhadap intervensi kekuasaan dan politik, mengingat kedudukan
lembaga tersebut yang masih menjadi bagian dari eksekutif. Kebijakan untuk
melakukan peninjauan kembali kedudukan penyidik dan penuntut umum
sebagai bagian lembaga yudikatif yang independen, merupakan suatu langkah
yang perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini.

Dalam menegakkan hukum, para pelaksana hukum berpedoman pada


hukum acara pidana umum (dalam KUHAP) maupun yang ada dalam
Perundang-Undangan Pidana Khusus. Perundang-undangan Pidana
Khusus mengatur ketentuan khusus untuk menjamin efektifitas penegakan
hukum yang diperkuat dengan pembentukan lembaga independen seperti
Komisi Pemberantasan Korupsi dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan. Sekalipun diatur ketentuan hukum acara pidana khusus namun
tetap memperhatikan prinsip-prinsip peradilan yang layak (fair trial)
sebagaimana diamanatkan oleh Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia
Tahun 1948 dan Kovenan Hak-Hak Sipil dan Politik Tahun 1966, yang antara
lain:

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


1. Pembatasan penahanan yang diatur dalam Pasal 24, 25, 26, 27 dan
28 KUHAP, Pasal 25 ayat (1) Perpu Nomor 1 tahun 2002 jo Undang-
Undang Nomor 15 tahun 2003

2. Penggunaan Laporan Intelejen sebagai bukti permulaan dalam perkara


tindak pidana terorisme harus melalui pemeriksaan pendahuluan di
sidang pengadilan (Pasal 26 Perpu Nomor 1 tahun 2002 jo UU Nomor
15 tahun 2003).

3. Persidangan in absensia (tanpa kehadiran terdakwa) hanya


dimungkinkan setelah terdakwa dipanggil secara sah dan patut, tidak
hadir tanpa alasan. Ketidakhadiran terdakwa tanpa alasan setelah
dipanggil secara sah dan patut, dipandang sebagai tindakan terdakwa
melepaskan haknya untuk membela diri.

Amanat Konvensi untuk menerapkan syarat-syarat yang lebih berat ketika


mempertimbangkan pembebasan awal atau pembebasan bersyarat bagi
pelaku tindak pidana, telah diakomodasi dalam hukum nasional Indonesia
G A P A NA LYS I S

meskipun belum sepenuhnya. Hal ini terlihat dalam Peraturan Pemerintah


No. 28 tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor
32 tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan
U NTOC

Pemasyarakatan, yang menentukan syarat lebih berat bagi terpidana kasus


korupsi, terorisme dan narkotika dibandingkan dengan terpidana lainnya
untuk mendapatkan remisi, cuti mengunjungi keluarga, cuti menjelang
bebas, dan pembebasan bersyarat. Jadi syarat yang lebih berat hanya terbatas
22 bagi terpidana tiga kasus tersebut; dan tidak berlaku bagi terpidana tindak
pidana yang masuk dalam kategori tindak pidana serius dan tindak pidana
terhadap proses peradilan. Untuk mengakomodasi amanat Konvensi secara
menyeluruh, maka harus dibuat aturan khusus yang memberikan syarat yang
lebih berat pada terpidana kasus kejahatan transnasional yang terorganisasi
ketika akan mendapatkan pembebasan awal atau pembebasan bersyarat;
misalnya dengan menetapkan syarat telah menjalankan pidana yang lebih
lama untuk dapat memperoleh remisi, cuti, bebas bersyarat.

Dalam kaitan dengan penuntutan dan penjalanan pidana, Undang-undang


Pidana Khusus, misalnya tentang tindak pidana korupsi, terorisme dan
pencucian uang tidak mengatur secara khusus jangka waktu kadaluwarsa
penuntutan dan penjalanan pidana, sehingga masih merujuk pada ketentuan
kadaluwarsa penuntutan dan penjalanan pidana yang diatur dalam KUHP.
Dengan mengingat kekhususan dari tindak pidana transnasional terorganisasi,
yaitu sangat kompleks dan tidak mudah pengungkapannya, maka harus
dibuat ketentuan khusus tentang penuntutan dan penjalanan pidana untuk
menjamin efektifitas penegakan hukum pada pelakunya.


12. PERAMPASAN DAN PENYITAAN ( PASAL 12 )

Ketentuan umum yang menjadi dasar hukum untuk perampasan barang


(KUHP dan KUHAP), mengatur bahwa pada umumnya yang dapat dirampas

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


adalah barang-barang kepunyaan terdakwa yang diperoleh dari kejahatan atau
digunakan untuk melakukan kejahatan atau barang-barang yang mempunyai
hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan. Hanya UU
Tindak Pidana Korupsi yang mengatur secara lebih luas masalah ini. Dalam
tindak pidana korupsi, yang dapat dirampas adalah barang yang digunakan
untuk atau diperoleh dari tindak pidana korupsi termasuk perusahaan milik
terpidana dimana tindak pidana korupsi dilakukan. Namun demikian, UU
secara tegas tetap memberikan batasan tindakan perampasan barang terkait
perlindungan bagi pihak ketiga yang beritikad baik, dengan melarang hakim
menjatuhkan perampasan barang yang bukan kepunyaan terdakwa apabila
hak-hak pihak ketiga yang beritikad baik dirugikan.

Konvensi mewajibkan negara-negara pihak untuk mengambil tindakan yang


dianggap perlu guna memungkinkan perampasan atas hasil tindak pidana yang
berasal dari tindak pidana yang tercakup dalam konvensi atau kekayaan yang
nilainya sama dengan hasil tindak pidana tersebut, dan kekayaan, peralatan
atau sarana lainnya yang digunakan atau ditujukan untuk digunakan dalam
tindak pidana.

G A P A NA LYS I S
Setiap negara juga diwajibkan mengambil upaya yang perlu guna
memungkinkan identifikasi, pelacakan, pembekuan atau penyitaan barang

U NTOC
apapun untuk tujuan akhir perampasan. Tindakan penyitaan ini tidak hanya
ditujukan pada barang atau harta benda hasil kejahatan, melainkan juga
dilakukan terhadap harta benda yang berasal dari konversi hasil kejahatan,
harta benda sah yang tercampur dengan hasil kejahatan dan keuntungan-
keuntungan yang diperoleh dari harta benda hasil kejahatan. 23

Untuk tujuan tersebut di atas, negara pihak harus memberikan kewenangan


kepada pengadilan atau otoritas kompeten lainnya untuk memerintahkan
agar catatan-catatan bank, keuangan atau perdagangan dapat dibuka atau
disita. Kerahasiaan bank tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak tindakan
pembukaan atau penyitaan dokumen dimaksud.

Dalam hubungan dengan tindakan penyitaan dan perampasan tersebut,


negara pihak dimungkinkan untuk menerapkan prinsip pembuktian terbalik
terbatas yaitu mensyaratkan seorang pelaku membuktikan asal-usul yang
sah dari harta benda yang diduga merupakan hasil kejahatan atau yang
telah disita, sesuai dengan prinsip dasar hukum nasional dan dengan proses
peradilan serta proses lainnya. Ketentuan tentang penyitaan dan perampasan
tersebut dilakukan dengan tetap menghormati hak-hak pihak ketiga yang
beritikad baik.

Hukum nasional mengatur tindakan penyitaan dan perampasan sebagai


ketentuan umum dalam hukum pidana materiil maupun dalam hukum
pidana formil. Pasal 39 sampai dengan Pasal 42 KUHAP dan Pasal 194
KUHAP merupakan hukum acara pidana yang mengatur tentang tata cara
penyitaan dan perampasan barang-barang yang diperoleh dari kejahatan atau
digunakan untuk melakukan kejahatan atau barang-barang yang mempunyai
hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan. Sementara itu

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


Pasal 39 KUHP mengatur pidana tambahan berupa perampasan barang yang
diperoleh dari kejahatan.

Penyitaan dan perampasan barang atau harta benda yang terkait dengan
tindak pidana diatur secara lebih luas dalam perundang-undangan pidana
khusus seperti Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 jo Undang-
Undang Nomor 20 tahun 2001 yang menyatakan bahwa selain pidana
tambahan sebagaimana dimaksud KUHP, juga diancam pidana tambahan
berupa perampasan barang bergerak yang berwujud atau tidak berwujud
atau barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau diperoleh dari tindak
pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana dimana tindak pidana
korupsi dilakukan serta nilai harga lawan barang-barang yang menggantikan
barang tersebut. Pidana tambahan juga dijatuhkan berupa pembayaran uang
pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda
yang diperoleh dari tindak pidana korupsi. Ketentuan pidana tambahan uang
pengganti tidak dijumpai dalam Konvensi.

Ketentuan tentang pembuktian terbalik terbatas yang mensyaratkan


G A P A NA LYS I S

terdakwa untuk memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya,


harta benda istri/suami, anak dan harta benda setiap orang atau korporasi
yang diduga mempunyai hubungan tindak pidana diatur dalam Undang-
U NTOC

Undang Nomor 31 tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001


tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Undang-Undang Nomor
15 tahun 2002 jo Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang
24
Ketentuan umum yang menjadi dasar hukum untuk perampasan barang
(KUHP dan KUHAP) mengatur bahwa pada umumnya yang dapat dirampas
adalah barang-barang kepunyaan terdakwa yang diperoleh dari kejahatan atau
digunakan untuk melakukan kejahatan atau barang-barang yang mempunyai
hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan. Hanya UU Tindak
Pidana Korupsi yang telah mengatur secara lebih luas masalah ini. Dalam
tindak pidana korupsi, yang dapat dirampas adalah barang yang digunakan
untuk atau diperoleh dari tindak pidana korupsi termasuk perusahaan milik
terpidana dimana tindak pidana korupsi dilakukan. Namun demikian, UU
secara tegas tetap memberikan batasan tindakan perampasan barang terkait
perlindungan bagi pihak ketiga yang beritikad baik, dengan melarang hakim
menjatuhkan perampasan barang yang bukan kepunyaan terdakwa apabila
hak-hak pihak ketiga yang beritikad baik dirugikan.

Dalam mencapai tujuan akhir berupa perampasan, Konvensi mewajibkan


setiap negara mengambil upaya yang dianggap perlu guna memungkinkan
identifikasi, pelacakan, pembekuan atau penyitaan barang apapun. Salah satu
mekanisme yang telah ada dalam perundang-undangan nasional Indonesia
adalah dengan mengecualikan ketentuan tentang kerahasiaan bank. Jadi
berdasarkan mekanisme ini, untuk kepentingan pemeriksaan, penyidik,
penuntut umum dan hakim berwenang untuk meminta keterangan tentang
keadaan keuangan tersangka/terdakwa atau orang lain. Persyaratan yang
ketat ditetapkan untuk menghindarkan penyalahgunaan kewenangan ini.

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


Tindakan perampasan barang dilakukan secara berhati-hati. Hal ini tercermin
dari diwajibkannya terdakwa untuk membuktikan bahwa harta kekayaannya
bukan berasal dari hasil tindak pidana di dalam persidangan kasus pencucian
uang. Bahkan, dalam konteks yang sama kewajiban terdakwa untuk
memberikan keterangan tentang asal-usul harta kekayaan dalam tindak
pidana korupsi adalah lebih luas lagi. Hal yang wajib dijelaskan terdakwa
tidak hanya menyangkut asal-usul harta kekayaannya saja tetapi juga harta
suami/istrinya, anaknya, dan harta benda setiap orang atau korporasi yang
diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang bersangkutan.

Dari penelaahan secara mendalam terhadap perundang-undangan Indonesia,


khususnya untuk perampasan dan penyitaan seperti yang diatur dalam Pasal
12 Konvensi dapat disimpulkan bahwa masih belum ada pengaturan yang
jelas dan komprehensif untuk tindakan penyitaan dan perampasan harta
benda yang berasal dari konversi hasil kejahatan, harta benda yang tercampur
dengan hasil kejahatan dan keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari
harta benda hasil kejahatan. Meskipun ketentuan yang ada secara implisit
telah mencakup jenis-jenis obyek tersebut namun ketiadaan ketentuan yang

G A P A NA LYS I S
khusus dan jelas akan menyulitkan dalam praktek.

Sehubungan dengan sifat transnasional dari tindak pidana yang menjadi

U NTOC
obyek kajian dan masalah kerja sama antar negara sebagai salah satu tujuan
dari Konvensi, penelaahan terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1979
tentang Ekstradisi menunjukkan adanya ketentuan tentang permintaan dari
negara lain terkait dengan barang yang dirampas. Akan tetapi, pengertian
barang dalam undang-undang atau perjanjian ekstradisi terbatas pada 25
barang-barang bergerak atau berwujud yang memang relatif mudah untuk
diserahterimakan. Sementara itu dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2006 tentang Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana pengaturan
tentang perampasan (barang) sudah memadai sebagai sarana kerjasama
internasional, khususnya tentang prosedur atau mekanisme melakukan
penyerahan barang yang dirampas. Prosedur perampasan barang memang
sangat terkait dengan hukum atau peraturan peundang-undangan nasional
terutama dari tempat barang itu berada. Oleh karenanya perlu ditinjau
kembali ketentuan tentang penyitaan dan perampasan barang hasil pidana
untuk disesuaikan dengan Konvensi.

13. KERJASAMA INTERNASIONAL UNTUK TUJUAN PERAMPASAN


(PASAL 13)

Konvensi mengatur kerjasama internasional dalam rangka perampasan hasil


tindak pidana, kekayaan, perlengkapan atau instrumen lain yang digunakan
dalam tindak pidana yang berada di luar wilayah negara. Pasal 13 Konvensi
menentukan prosedur permohonan penyitaan dan perampasan yang diajukan
oleh suatu negara kepada negara lain, jika harta benda yang dimintakan untuk
disita berada dalam wilayah negara lain tersebut.

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


Substansi dari Pasal 13 ini memang sudah ada beberapa padanannya di
dalam beberapa undang-undang pidana Indonesia meskipun tidak persis
sama. Namun apa yang diamanatkan dalam Pasal 13 ini, merupakan sesuatu
yang bisa langsung diterapkan dalam praktek meskipun para pihak belum
terikat dalam suatu perjanjian khusus tentang kerjasama internasional untuk
tujuan perampasan. Hal ini disebabkan substansinya itu sudah bersifat
teknis-operasional yang tidak membutuhkan peraturan khusus lagi untuk
melaksanakannya.

Hanya saja di dunia ini, ada kemungkinan negara-negara yang hanya bersedia
melakukan kerjasama internasional untuk tujuan perampasan, apabila antara
negara yang bersangkutan dengan negara mitranya sudah terlebih dahulu
terikat pada suatu perjanjian sebagai landasan hukumnya. Dalam hal ini,
perjanjian yang dimaksudkan itu haruslah dalam pengertian yang luas, jadi
tidak semata-mata perjanjian kerjasama untuk tujuan perampasan saja,
melainkan juga termasuk perjanjian lain yang dekat hubungannya, seperti
perjanjian kerjasama timbal balik dalam masalah-masalah pidana.
G A P A NA LYS I S

Indonesia dalam menghadapi kasus-kasus tindak pidana transnasional


terorganisasi ataupun kasus-kasus tindak pidana transnasional lain yang tidak
terorganisasi, sepanjang memiliki yurisdiksi kriminal atas kasus tersebut,
U NTOC

dapat saja secara langsung bekerjasama untuk tujuan perampasan ini dengan
negara-negara yang terkait. Sebagai negara berdaulat, setiap negara dapat
menempuh langkah-langkah yang dipandangnya lebih efisien dan efektif
dalam rangka mencegah dan memberantas tindak pidana transnasional,
26 termasuk kerjasama untuk tujuan perampasan seperti dalam Pasal 13 ini.

14. PENYERAHAN HARTA HASIL TINDAK PIDANA ATAU


KEKAYAAN YANG DISITA (PASAL 14)

Mengenai harta hasil tindak pidana atau kekayaan yang disita oleh negara
pihak, Konvensi mewajibkan negara pihak untuk menyerahkannya sesuai
dengan undang-undang nasionalnya dan prosedur administrasi. Negara
pihak diminta untuk memberikan prioritas terhadap pengembalian harta
hasil tindak pidana atau kekayaan yang disita kepada negara pihak peminta
yang akan menggunakannya untuk kompensasi kepada korban tindak pidana
atau kepada pemiliknya yang sah.

Negara pihak yang bertindak melakukan perampasan dan penyitaan


berdasarkan permintaan negara pihak lain dapat memberikan pertimbangan
khusus untuk membuat perjanjian atau pengaturan mengenai pemotongan
dari harta tindak pidana atau kekayaan atau dana yang berasal dari penjualan
harta tindak pidana kekayaan atau bagian darinya kepada rekening yang
ditunjuk oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) sebagai dana untuk
memberikan bantuan teknik kepada negara berkembang atau negara transisi
(sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) (c) Konvensi dan kepada
badan antar pemerintah yang mengkhususkan diri pada upaya melawan
tindak pidana terorganisasi ataupun sebagai pembagian dengan negara pihak

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


lain yang ditentukan secara tetap atau kasus per kasus sesuai dengan hukum
nasional atau prosedur administrasi.

Perundang-undangan tindak pidana di Indonesia tidak mengatur tentang


penyerahan harta tindak pidana atau kekayaan yang dirampas dan disita
oleh negara lain atas permintaan negara Indonesia ataupun yang dirampas
dan disita oleh negara Indonesia atas permintaan negara lain sebagaimana
ditentukan oleh Pasal 14 Konvensi ini.

Ketentuan yang dimaksud dalam Konvensi dirumuskan secara singkat dalam


Undang-Undang Nomor 1 tahun 2006 tentang Bantuan Timbal Balik Dalam
Masalah Pidana yang mengatur tentang permintaan bantuan kepada negara
yang diminta (Pasal 22), pemberian bantuan kepada negara peminta (Pasal
51 – Pasal 54), tindak lanjut putusan pengadilan berupa perampasan harta
kekayaan / benda yang disita, pidana denda atau pembayaran uang pengganti,
termasuk ketentuan tentang penggantian biaya dan bagi hasil harta kekayaan
yang dirampas (Pasal 57).

G A P A NA LYS I S
Hukum acara pidana umum (KUHAP) dan beberapa perundang-undangan
khusus yang terkait dengan tindak pidana transnasional terorganisasi
belum mengatur penyerahan harta hasil tindak pidana atau kekayaan yang

U NTOC
disita sebagaimana yang diamanatkan Pasal 14 Konvensi. Namun demikian
bukan berarti tidak ada sama sekali instrumen hukum Indonesia untuk
masalah ini. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 tentang Bantuan Timbal
Balik dalam Masalah Pidana mengatur tentang permintaan bantuan dan
pemberian bantuan dalam rangka menindaklanjuti putusan pengadilan 27
mengenai perampasan harta kekayaan/benda yang disita ini. Ketentuan ini
setidaknya dapat menjadi payung hukum bagi perundang-undangan pidana
lainnya berkenaan dengan penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di sidang
pengadilan, termasuk bantuan untuk menindaklanjuti putusan pengadilan
yang berisi perampasan benda sitaan/harta kekayaan berupa benda tidak
bergerak seperti tanah, terkait dengan sistem hukum setiap negara terhadap
kepemilikan benda tidak bergerak oleh negara lain.

Bantuan timbal balik, menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006


tentang Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana, dilakukan berdasarkan
perjanjian atau atas dasar hubungan baik atau prinsip resiprositas. Dengan
demikian, berarti penerapan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 masih
memerlukan tindak lanjut, berupa dibuatnya perjanjian terlebih dahulu
dengan negara-negara yang diminta secara bilateral atau multilateral. Untuk
lingkup ASEAN, telah dibuat Treaty on Mutual Legal Assistance on Criminal
Matters among ASEAN Countries (MLA) tahun 2008, yang sudah mengatur
kerjasama tentang penyerahan harta hasil tindak pidana atau kekayaan yang
disita.

Dalam hal tidak dibuat perjanjian, bantuan timbal balik tetap dapat
dilakukan berdasarkan hubungan bersahabat dengan berpedoman pada
kepentingan nasional dan berdasarkan prinsip persamaan kedudukan, saling
menguntungkan, dan memperhatikan baik hukum nasional maupun hukum

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


internasional, setelah dilakukan kajian kasus per kasus. Dalam masalah
hasil tindak pidana atau kekayaan yang disita dan diserahkan ini, selain
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 tentang Bantuan Timbal Balik dalam
Masalah Pidana, harus juga diperhatikan Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1979 tentang Ekstradisi karena di dalam salah satu pasal dari undang-undang
ini ada pengaturan tentang penyerahan barang hasil tindak pidana ataupun
kekayaan yang disita.

Untuk masalah penyerahan harta hasil tindak pidana atau kekayaan yang
disita, khususnya yang berkaitan dengan perampasan benda tidak bergerak
seperti tanah maupun perampasan uang atau harta benda bergerak
lainnya, perlu dilakukan kajian terhadap peraturan-peraturan terkait
untuk memperjelas dan memudahkan pelaksanaannya. Hal ini disebabkan
kemungkinan berbedanya sistem yang dianut oleh negara yang meminta
bantuan dan yang dimintai bantuan.

15. YURISDIKSI (PASAL 15)


G A P A NA LYS I S

UNTOC membebani kewajiban kepada negara-negara pihak untuk


memberlakukan yurisdiksinya terhadap kejahatan yang diatur dalam Pasal
U NTOC

5, 6, 8 dan 23. Tentang yurisdiksi ini, sebenarnya juga sudah diatur di dalam
hukum pidana Indonesia seperti di dalam KUHP yakni dalam Pasal 2 – 9 yang
pada hakekatnya merupakan perwujudan dari asas-asas yang sudah berlaku
28 umum, seperti asas teritorial, asas ekstra-teritorial, asas kewarganegaraan
aktif, asas kewarganegaraan pasif, asas perlindungan dan asas universal.
Demikian pula di dalam undang-undang pidana Indonesia di luar KUHP,
seperti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor
15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Tentang
yurisdiksi kriminal Indonesia terhadap tindak pidana terorisme diatur
di dalam Pasal 3, 4 dan 16 yang pada hakekatnya juga berdasarkan asas-
asas tersebut di atas tetapi terkandung perluasan atas yurisdiksi kriminal
berdasarkan asas teritorial obyektif. Tegasnya, yurisdiksi kriminal Indonesia
berlaku terhadap tindak pidana terorisme yang dilakukan di negara lain tetapi
dilaksanakan atau diselesaikan di wilayah negara itu atau menimbulkan
akibat yang sangat berbahaya terhadap ketertiban sosial dan ekonomi di
wilayah negara itu.

Persoalannya terletak pada luasnya ruang lingkup yurisdiksi kriminal


tersebut, tegasnya apakah ruang lingkup yurisdiksi kriminal dalam hukum
pidana Indonesia sudah sama luasnya dengan yurisdiksi kriminal yang
diberikan oleh hukum internasional? Atau dengan rumusan lain, apakah
yurisdiksi kriminal di dalam hukum pidana Indonesia, khususnya yurisdiksi
kriminal dalam KUHP yang notabene merupakan hukum pidana peninggalan
jaman Kolonial Belanda masih sesuai ataukah sudah ketinggalan dengan
perkembangan jaman globalisasi seperti sekarang ini?

Perlu diketahui, bahwa konvensi-konvensi tentang kejahatan internasional/


transnasional, menganut paham yurisdiksi kriminal yang amat luas. Hal

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


ini dapat dimengerti, sebab kejahatan internasional/transnasional pada
umumnya demikian kompleksnya baik peristiwanya sendiri maupun akibat-
akibatnya. Diharapkan supaya setiap jengkal dari kejahatan tersebut,
terjangkau oleh yurisdiksi kriminal negara-negara. Dengan kata lain, tidak
ada sedikitpun dari kejahatan itu atau bagian-bagian dari kejahatan itu yang
berada di luar yurisdiksi kriminal negara-negara. Dalam hubungan ini, tidak
terkecuali dengan UNTOC yang menganut paham yurisdiksi kriminal yang
luas.

Pasal 15 ayat 1 huruf (a) UNTOC menganut asas teritorial sedangkan huruf
(b) memperluasnya dengan mencakup tindak pidana tersebut yang dilakukan
di atas kapal yang mengibarkan bendera negara pihak atau pesawat terbang
yang terdaftar berdasarkan peraturan perundang-undangan negara yang
bersangkutan pada waktu tindak pidana tersebut dilakukan. Selanjutnya
Pasal 15 ayat 2 huruf (a) menganut asas nasionalitas pasif, karena tindak
pidana itu dilakukan terhadap warganegara dari negara pihak yang
bersangkutan. Sedangkan huruf (b) menganut asas nasionalitas aktif, karena
ditujukan terhadap si pelaku tindak pidana yang adalah warganegara dari

G A P A NA LYS I S
negara pihak yang bersangkutan ataupun terhadap orang yang tidak memiliki
kewarganegaraan yang biasa bertempat tinggal di wilayah negara yang
bersangkutan.

U NTOC
Sebenarnya ketentuan Pasal 15 ayat 1 dan 2 ini juga sudah ada di dalam Pasal
2 - 5 KUHP. Akan tetapi Pasal 15 ayat 3 dan 4 UNTOC mengandung perluasan.
Pasal 15 ayat 3 mewajibkan setiap negara pihak untuk mengambil tindakan
yang dipandang perlu untuk memberlakukan yurisdiksinya atas tindak pidana 29
yang diatur dalam UNTOC terhadap tersangka pelaku yang berada di dalam
wilayahnya dan pelaku tersebut tidak diekstradisikan dengan alasan bahwa si
pelaku adalah warganegaranya. Selanjutnya ayat 4 yang sebenarnya hampir
sama dengan ayat 3, hanya saja si tersangka pelaku bukan warganegara dari
negara yang bersangkutan namun berada di dalam wilayah negara itu tetapi
tidak diekstradisikan.

Dalam praktek, masalah seperti ini bisa saja terjadi. Suatu negara kedatangan
seorang pelaku kejahatan baik orang itu warganegaranya ataupun bukan
warganegaranya dan orang itu tidak diekstradisikan ke negara lain tetapi oleh
negara itu tidak diambil tindakan hukum apapun disebabkan karena negara
itu tidak memiliki yurisdiksi kriminal atas orang dan/atau perbuatannya
tersebut. Sebagai akibatnya, orang itu menikmati impunitas di negara itu.
Hal ini tentulah sangat bertentangan dengan kesadaran hukum dan rasa
keadilan dari para korban.

Mengingat akan semakin kompleksnya jenis kejahatan yang terjadi pada


masa kini maupun pada masa yang akan datang, termasuk kejahatan
transnasional terorganisasi, sudah pada waktunya Indonesia memperluas
ruang lingkup yurisdiksi kriminalnya baik yang berdasarkan asas teritorial,
asas ekstra-teritorial, asas kewarganegaraan aktif ataupun pasif ataupun
asas perlindungan. Dengan perluasan yuridiksinya itu, maka kejahatan
jenis apapun yang timbul pada masa yang akan datang yang diatur di dalam
konvensi-konvensi internasional dan ditransformasikan ke dalam hukum atau

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


perundang-undangan pidana Indonesia, akan terjangkau oleh hukum pidana
Indonesia. Sudah barang tentu, perluasan yurisdiksi itu harus didasarkan
pada adanya kepentingan (interest) dari Indonesia terhadap kejahatan
atau tindak pidana yang bersangkutan serta harus dilakukan dengan tetap
memperhatikan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah hukum internasional
umum.

Pada lain pihak, perluasan yurisdiksi itupun akan lebih banyak menimbulkan
pertautan atau konflik yurisdiksi kriminal antara dua negara atau lebih,
tegasnya, atas satu tindak pidana bisa tunduk pada yurisdiksi dari dua atau
lebih negara. Apalagi negara-negara lain juga menganut yurisdiksi yang sama
dengan atau bahkan lebih luas dari yurisdiksi kriminal Indonesia. Akan tetapi
penyelesaian konflik yurisdiksi dalam hukum pidana (internasional) relatif
lebih mudah ketimbang konflik yurisdiksi dalam hukum perdata. Hal ini
disebabkan karena dalam hukum pidana, jika salah satu dari negara yang
yurisdiksi kriminalnya saling berkonflik atau bertautan tersebut berhasil
menangkap si pelaku kejahatan atau tindak pidana, selanjutnya mengadili
dan menjatuhkan putusan dengan kekuatan mengikat yang tetap/pasti maka
G A P A NA LYS I S

negara-negara yang lainnya haruslah menghormati putusan pengadilan


dari negara yang bersangkutan. Sesuai dengan asas ne bis in idem, negara-
negara itu tidak boleh lagi mengadili untuk kedua kalinya atau lebih terhadap
U NTOC

kejahatan tersebut. Dengan demikian maka selesailah masalahnya.

30 16. EKSTRADISI (PASAL 16)

Pengaturan tentang pranata hukum ekstradisi di dalam UNTOC cukup


komprehensif yang pada hakekatnya merupakan pemadatan/pemampatan
dari asas-asas dan kaidah-kaidah hukum internasional tentang ekstradisi
yang sudah lazim dicantumkan di dalam perjanjian dan perundang-
undangan tentang ekstradisi. Beberapa asas ekstradisi tersebut, antara lain
dapat dijumpai dalam Pasal 16 ayat 1 tentang asas kejahatan ganda (double
criminality), Pasal 16 ayat 10 tentang tidak menyerahkan warganegara (non
extradition of nationals), Pasal 16 ayat 14 tentang tidak menyerahkan pelaku
kejahatan politik (non extradition of political criminal).

Pada beberapa negara, seperti di Belanda dan Uni Emirat Arab, Pasal 16 ayat
(1) Konvensi ini dapat langsung diberlakukan sehingga dapat dijadikan dasar
untuk melakukan ekstradisi. Jadi negara tersebut tidak harus mengatur lebih
lanjut ketentuan ini di dalam undang-undang ekstradisi. Bagi Indonesia,
pelaksanaan ekstradisi didasarkan kepada perjanjian bilateral sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1979 tentang Ekstradisi
atau dimungkinkan pula atas dasar asas resiprositas yang dianut hukum
internasional.

Meskipun demikian, ternyata ada beberapa substansinya yang justru


merupakan hal yang relatif baru yang tidak selalu ada di dalam perjanjian
dan perundang-undangan nasional tentang ekstradisi. Ketentuan tersebut
misalnya, Pasal 16 ayat 8 yang mewajibkan negara-negara pihak untuk

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


mempercepat prosedur ekstradisi dan menyederhanakan persyaratan
pembuktiannya dengan mempertimbangkan tindak pidananya tanpa
mengabaikan hukum nasional masing-masing. Adanya ketentuan ini
dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa selama ini prosedur ekstradisi
tersebut sangat panjang dan birokratis, membutuhkan biaya yang cukup
besar dan waktu yang cukup lama. Pasal 16 ayat 10 tentang kewajiban
negara pihak diminta -- yang menolak permintaan dari negara pihak
peminta untuk mengekstradisikan si pelaku dengan alasan bahwa dia
adalah warganegaranya sendiri -- untuk mengajukan si pelaku yang
adalah warganegaranya itu ke hadapan badan yang berwenang untuk
tujuan penuntutan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari orang yang
bersangkutan menikmati impunitas di wilayah negara pihak diminta.
Ketentuan ini memang sudah mulai dicantumkan di dalam beberapa
perjanjian ekstradisi yang dibuat belakangan. Akan tetapi ketentuan ini baru
bisa efektif dalam pelaksanaannya, apabila negara pihak diminta tersebut
memiliki yurisdiksi kriminal atas kejahatan atau tindak pidana yang
dilakukan orang yang bersangkutan. Jika negara pihak diminta itu tidak
memiliki yurisdiksi kriminal, maka tetap saja orang itu akan menikmati

G A P A NA LYS I S
impunitas di wilayah negara tersebut. Hal ini terkait dengan luas atau
sempitnya ruang lingkup substansi dari yurisdiksi kriminal masing-masing
negara, khususnya negara pihak diminta, seperti telah dikemukakan pada

U NTOC
butir 15 (pembahasan tentang jurisdiksi).

Ketentuan baru lainnya adalah Pasal 16 ayat 12 tentang kewajiban negara


pihak diminta berdasarkan atas permintaan dari negara pihak peminta,
mempertimbangkan untuk melaksanakan atau melanjutkan pelaksanaan 31
hukuman atau sisa hukuman dari orang yang diminta (terhukum) yang
sudah dijatuhkan oleh negara pihak peminta apabila negara pihak diminta
menolak permintaan ekstradisi dari negara-pihak peminta. Sudah tentu
pertimbangan negara pihak diminta itu haruslah dengan tetap berdasarkan
pada hukum nasionalnya sendiri, tegasnya, sepanjang hukum nasionalnya
memungkinkan hal ini. Ketentuan ini terkait dengan pemindahan narapidana
(butir 17). Ketentuan ini memang relatif baru dan sangat jarang dijumpai di
dalam perjanjian-perjanjian ekstradisi baik yang lama maupun yang dibuat
belakangan ini.

Bagaimana dengan pengaturan tentang ekstradisi di dalam hukum nasional


Indonesia? Di dalam hukum nasional Indonesia, tentang ekstradisi diatur
di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1979 tentang Ekstradisi. Jika
ditelaah secara lebih mendalam, ternyata substansi dari Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1979 ini tidak mengatur masalah-masalah seperti Pasal 16
ayat 8, 10, dan 12. Ini dapat dipandang sebagai kekurangan dari Undang-
Undang ini dibandingkan dengan UNTOC. Apalagi jika dibandingkan dengan
perkembangan pranata hukum tentang ekstradisi belakangan ini seperti
yang telah dituangkan di dalam United Nations Model Treaty on Extradition
(1990) yang sudah banyak diikuti oleh negara-negara dalam membuat
perjanjian-perjanjian maupun perundang-undangan ekstradisi pada masa
belakangan ini, substansi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1979 ini sudah
jauh ketinggalan. Oleh karena itu direkomendasikan supaya Undang-Undang

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


Nomor 1 Tahun 1979 tentang Ekstradisi ini dicabut dan diganti dengan
undang-undang ekstradisi yang baru yang lebih sesuai dengan perkembangan
jaman.

17. PEMINDAHAN NARAPIDANA (PASAL 17)

Tentang pemindahan narapidana, UNTOC hanya mengatur di dalam satu


pasal saja dan itupun hanya merupakan himbauan saja supaya negara-negara
pihak mempertimbangkan pembentukan perjanjian bilateral atau multilateral
ataupun pembentukan peraturan perundang-undangan tentang pemindahan
orang-orang yang dipidana penjara ataupun bentuk pencabutan hak
kebebasan lainnya dari wilayah negara yang memidananya ke wilayah negara
yang merupakan kewarganegaraan dari narapidana yang bersangkutan,
supaya mereka dapat menyelesaikan hukuman atau sisa hukumannya di
negaranya sendiri. Perjanjian semacam ini tampaknya masih belum banyak
dibuat oleh negara-negara di dunia ini dan karena itu dapat dipandang sebagai
sesuatu yang relatif baru. Sebuah perjanjian yang dapat dijadikan sebagai
G A P A NA LYS I S

rujukan untuk masalah pemindahan narapidana ini adalah Convention on the


Transfer of Sentenced Persons (1983) antara negara-negara anggota Dewan
Eropa (Council of Europe) dan Schengen Convention (Title III Chapter V)
U NTOC

(1990) yang merupakan pelengkap dari Konvensi 1983 tersebut.

Perjanjian internasional tentang pemindahan narapidana ini dibuat


32 berdasarkan pertimbangan kemanusiaan, yakni, memberikan kesempatan
kepada narapidana (asing) yang sedang menjalani pidananya di negara lain
yang bukan negara yang menjadi kewarganegaraannya untuk menjalani
pidana atau sisa pidananya itu di negaranya sendiri. Dengan menjalani pidana
atau sisa pidananya di negaranya sendiri, maka dia didekatkan dengan nilai-
nilai sosial budaya dari masyarakat di negaranya sendiri, didekatkan dengan
anggota keluarga dan sanak familinya, ataupun iklim dan cuaca di negaranya
yang lebih sesuai dengan kehidupan pribadinya ketimbang iklim dan cuaca
di negara lain. Semua ini, secara sosial-psikologis amat penting artinya bagi
perkembangan kejiwaan dari narapidana yang bersangkutan.

Namun demikian, narapidana asing yang bersangkutan harus tetap dihormati


haknya untuk menentukan sendiri, apakah dia akan memilih untuk menjalani
pidana di negaranya sendiri ataukah tetap akan menjalani pidananya di negara
(asing) yang bersangkutan. Dalam beberapa hal, memang ada kemungkinan
bahwa seorang narapidana asing, berdasarkan pertimbangan yang sifatnya
sangat pribadi/personal, lebih senang menjalani hukuman di negara (asing)
yang bersangkutan dibandingkan dengan di negaranya sendiri.

Peraturan perundang-undangan Indonesia yang berkaitan dengan masalah


pemidanaan seperti KUHAP, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan ataupun Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 tentang
Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana memang tidak ada satu pasal
atau ayatnya pun yang mengatur tentang kemungkinan untuk pemindahan

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


narapidana. Meskipun demikian, semua undang-undang itu juga tidak
melarang untuk melakukan perjanjian kerjasama pemindahan narapidana
seperti dihimbau oleh UNTOC.

Oleh karena itu dapat direkomendasikan supaya Indonesia berinisiatif untuk


mengadakan pendekatan kepada negara-negara sahabat untuk mengadakan
perjanjian kerjasama pemindahan narapidana atau jika ada pendekatan dari
negara-negara sahabat untuk mengadakan perjanjian kerjasama, sebaiknya
Indonesia menyambut dengan terbuka. Memang ada kekhawatiran, bahwa
perjanjian semacam ini akan mendorong warganegara Indonesia yang
dipidana di negara yang sudah terikat pada perjanjian ini dengan Indonesia
untuk beramai-ramai meminta pemindahan pelaksanaan pidana atau sisa
pidananya di Indonesia. Pada hal lembaga pemasyarakatan di Indonesia
sekarang ini banyak yang sudah penuh dengan narapidana bahkan ada
yang jauh melebihi kapasitasnya. Namun hal ini tidak bisa dijadikan alasan
untuk menolak menerima narapidana warganegara Indonesia yang sedang
menjalani pidana di negara lain untuk dipindahkan pemidanaannya ke
Indonesia. Alasan kemanusiaan seperti tersebut di atas haruslah ditempatkan

G A P A NA LYS I S
lebih tinggi atau di atas dari alasan lainnya.

U NTOC
18. BANTUAN HUKUM TIMBAL BALIK (PASAL 18)

Berkenaan dengan bantuan hukum timbal balik dalam masalah pidana


(mutual legal assistance in criminal matters), Indonesia telah memiliki 33
undang-undang tersendiri, yakni, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006.
Sedangkan dalam konteks ASEAN, delapan negara anggota ASEAN yakni,
Brunei Darrussalam, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Philipina,
Singapura, dan Vietnam, juga telah menandatangani Treaty on Mutual Legal
Assistance in Criminal Maters di Kuala Lumpur pada tanggal 20 Nopember
2004. Selanjutnya, Myanmar sudah resmi menjadi pihak ASEAN Treaty on
MLA pada bulan Desember 2009. Dengan demikian hanya 1 (satu) negara
yaitu Thailand yang belum menjadi pihak pada Treaty tersebut.

Jika ditelaah dengan seksama ketentuan tentang Bantuan Timbal Balik dalam
UNTOC, yakni, Pasal 18 yang terdiri dari 30 ayat (ayat 1 - 30) tampak bahwa
Pasal 18 ini merupakan pemadatan/pemampatan dari ketentuan-ketentuan
dalam perjanjian-perjanjian tentang bantuan timbal balik dalam masalah
pidana. Jika diperbandingkan antara Pasal 18 UNTOC dengan ketentuan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006, memang ada beberapa ketentuan
yang sama tetapi juga ada kekosongan di pihak yang satu ataupun di pihak
yang lain. Artinya, di dalam UNTOC ada pengaturannya sedangkan di dalam
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 tidak ada ataupun sebaliknya.

Beberapa materi dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 yang tidak ada
atau tidak diatur di dalam UNTOC, antara lain adalah:

1. tentang memperoleh kembali seluruh sanksi denda yang berupa uang;

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


2. tentang pengidentifikasian dan pencarian orang.

3. tentang “transit” yang diatur di dalam Pasal 40 ayat 1, 2, 3, 4, dan 5


Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2005 tetapi sama sekali tidak diatur
di dalam UNTOC.

Sedangkan beberapa ketentuan UNTOC yang tidak atau belum diatur di


dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006, yakni,

1. tentang kemungkinan untuk memberikan informasi, hal-hal mengenai


pembuktian dan penilaian para ahli (Pasal 18 ayat 4);

2. tentang kewajiban untuk memfasilitasi kehadiran sukarela seseorang


di negara pihak peminta.

3. tentang kewajiban untuk merahasiakan informasi dari negara pihak


diminta (Pasal 18 ayat 5);
G A P A NA LYS I S

4. tentang kewajiban negara pihak diminta untuk tidak boleh menolak


memberikan bantuan timbal balik dengan alasan kerahasiaan Bank
(Pasal 18 ayat 8 UNTOC)
U NTOC

5. tentang dapat dipindahkannya seseorang yang ditahan atau menjalani


pidana untuk tujuan identifikasi, pemberian kesaksian atau untuk
memperoleh bukti bagi penyidikan, penuntutan atau proses pengadilan
34 (Pasal 18 ayat 10);

6. tentang larangan menggunakan informasi atau bukti yang diberikan


oleh negara pihak diminta untuk melakukan penyelidikan, penuntutan
ataupun proses peradilan dalam kasus lain, selain yang dinyatakan
dalam permintaan, tanpa persetujuan sebelumnya dari negara pihak
diminta tersebut (Pasal 18 ayat 19);

7. tentang syarat yang dapat diberikan oleh negara pihak peminta


kepada negara pihak diminta agar merahasiakan fakta dan substansi
permintaan tersebut (Pasal 18 ayat 20);

8. tentang tidak diperbolehkannya negara pihak diminta untuk menolak


permintaan bantuan timbal balik dari negara pihak peminta hanya
dengan alasan kejahatan itu melibatkan masalah keuangan (Pasal 18
ayat 22);

9. tentang jaminan dari negara pihak peminta untuk tidak menuntut,


menahan, menghukum atau membatasi kebebasan pribadi seorang
saksi ahli atau orang lain yang memberikan bukti atau membantu
penyidikan, penuntutan atau proses peradilan di wilayah negara pihak
peminta (Pasal 18 ayat 27).

Namun baik UNTOC maupun Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006,

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


sama sekali tidak menegaskan tentang pihak mana atau siapa yang
harus bertanggungjawab dan sejauh manakah tanggungjawabnya itu atas
“pengamanan/ keamanan” dari orang yang dipindahkan dari wilayah negara
pihak diminta ke wilayah negara pihak peminta dalam rangka memberikan
keterangannya di hadapan penegak hukum negara tersebut termasuk
pengembaliannya ke negara pihak diminta. Demikian pula halnya dengan
“pengamanan/keamanan” dari benda-benda yang akan dijadikan sebagai alat
atau barang bukti yang dibawa dari wilayah negara pihak diminta ke wilayah
negara pihak peminta.

Ternyata dari paparan di atas tampak cukup banyak kekosongan atau


kesenjangan dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 jika dibandingkan
dengan Pasal 18 UNTOC. Masalah-masalah yang merupakan kesenjangan
tersebut secara substansial justru amat penting untuk diatur di dalam
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006. Oleh karena itu, perlu difikirkan
untuk melakukan pengamendemenan terhadap Undang-Undang tersebut.

G A P A NA LYS I S
19. PENYELIDIKAN BERSAMA (PASAL 19)

Pasal 19 ini membebankan kewajiban kepada negara-negara pihak pada

U NTOC
UNTOC untuk mempertimbangkan penandatanganan persetujuan bilateral
atau multilateral ataupun pengaturan-pengaturan mengenai masalah-
masalah yang merupakan subyek dari penyelidikan, penuntutan atau proses
peradilan di satu atau lebih negara. Oleh karena kewajiban yang dibebankan 35
ini adalah kewajiban untuk mempertimbangkan, maka tentu saja sepenuhnya
tergantung pada hasil pertimbangan dari negara-negara pihak itu baik secara
bilateral ataupun multilateral. Para pihak sepenuhnya dapat menentukan
pilihan, apakah akan membuat perjanjian semacam ini secara bilateral
ataupun multilateral ataukah memilih tidak membuat perjanjian. Jika pada
suatu waktu menghadapi kasusnya, para pihakpun masih dapat melakukan
kerjasama secara kasus demi kasus.

Satu hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan adalah, apakah hukum
nasional masing-masing negara pihak mengenai mekanisme atau prosedur
dalam melakukan penyelidikan, penuntutan ataupun peradilan sama ataukah
tidak. Sejauh manakah persamaan dan perbedaannya? Jika ada perbedaan-
perbedaan, kiranya para negara pihak dapat saling menghormati. Hal ini
sesuai dengan amanat dalam kalimat terakhir dari Pasal 19 ini, yakni, mereka
wajib menjamin penghormatan atas kedaulatan dari negara pihak yang
wilayahnya digunakan untuk melakukan penyelidikan tersebut, yang berarti
pula, menjamin penghormatan atas pelaksanaan hukum nasionalnya.

Hukum nasional Indonsia, seperti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002


tentang Kepolisian, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Kejaksaan ataupun Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang
Kekuasaan Kehakiman, tidak mengatur secara tegas tentang kemungkinan
untuk melakukan penyelidikan bersama seperti diamanatkan dalam Pasal 19
UNTOC ini. Akan tetapi ketiga undang-undang itupun tidak melarang atau

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


dengan kata lain, memberikan kemungkinan untuk melakukan kerjasama
tersebut. Bahkan dalam prakteknya, ada tuntutan kebutuhan praktis
untuk melakukan kerjasama itu secara kasus demi kasus. Ada baiknya juga
pemerintah Indonesia melakukan penjajagan untuk melakukan kerjasama
penyelidikan bersama dengan negara-negara sahabat yang secara potensial
sering menghadapi masalah yang proses penyelidikan, penuntutan dan
peradilannya, membutuhkan suatu kerjasama semacam ini.

20. TEKNIK PENYELIDIKAN KHUSUS (PASAL 20)

Mengenai teknik penyelidikan khusus, sebenarnya peraturan perundang-


undangan Indonesia, terutama dalam undang-undang pidana di luar KUHP,
sudah banyak yang mengaturnya, seperti, Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2002 jo. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Terorisme, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian
Uang, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20
G A P A NA LYS I S

Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang


Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, UU No. 35
tahun 2009 tentang Narkotika. Jadi, tentang teknik penyelidikan khusus ini,
U NTOC

bukanlah sesuatu yang baru sama sekali di dalam hukum nasional Indonesia.

Akan tetapi dalam penerapannya, harus dilakukan dengan tetap menghormati


36 dan melindungi hak asasi manusia dari pihak yang menjadi sasaran pada
khususnya, hak asasi manusia dari masyarakat luas pada umumnya. Sifat
penyelidikannya yang dilakukan dengan cara-cara yang khusus yang tentu
berbeda dengan cara-cara penyelidikan yang dilakukan pada umumnya,
mengandung kemungkinan yang sangat besar atas terjadinya pelanggaran
hak asasi manusia.


21. PEMINDAHAN PROSES PIDANA (PASAL 21)

Pemindahan proses pidana ini, tegasnya, merupakan pemindahan orang


yang diduga, dituduh ataupun didakwa melakukan tindak pidana yang diatur
dalam UNTOC ke negara pihak yang dipandang sebagai negara yang paling
tepat dan efektif dalam pelaksanaan penuntutan dan peradilannya. Tentu saja
pemindahan orang ini dapat pula disertai dengan pemindahan barang-barang
bukti yang terkait, khususnya yang berupa benda-benda bergerak. Dengan
demikian, proses penuntutan dan peradilannya dipusatkan pada negara pihak
yang bersangkutan.

Peraturan perundang-undangan Indonesia, seperti KUHAP ataupun


peraturan perundang-undangan lainnya, tidak mengatur tentang pemindahan
proses pidana ini. Namun, Pasal 3 dan 4 Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2002 jo. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Terorisme secara tersimpul memungkinkan untuk dilakukan
pemindahan proses pidana tersebut. Terlepas dari ada atau tidak adanya

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


pengaturan di dalam hukum atau perundang-undangan pidana Indonesia,
jika pada suatu waktu Indonesia menghadapi suatu kasus yang berkenaan
dengan kemungkinan perlunya dilakukan pemindahan proses pidana
ke negara lain, Indonesia bisa saja melakukannya dengan negara yang
bersangkutan, berdasarkan atas hubungan baik yang berlaku secara timbal
balik antara kedua pihak. Hal ini dapat pula dipandang sebagai perwujudan
dari pelaksanaan kedaulatan masing-masing pihak.

Akan tetapi dalam pelaksanaannya, haruslah dilakukan dengan tetap


menghormati dan melindungi hak asasi manusia dari individu yang
bersangkutan. Di samping itu juga terkait dengan sanksi pidana yang
(kemungkinan) berbeda antara kedua negara. Misalnya, negara tempat orang
itu tertangkap dan diproses secara pidana, ternyata sudah menghapuskan
hukuman mati dari hukum pindana nasionalnya. Sedangkan Indonesia
hingga kini masih menganut hukuman mati. Demikian juga dalam
prakteknya, badan pengadilannya masih menjatuhkan hukuman mati
serta telah banyak terhukum yang diesksekusi dengan hukuman mati. Jika
orang yang bersangkutan dipindahkan proses pidananya dari negara yang

G A P A NA LYS I S
bersangkutan ke Indonesia, sudah tentu dia akan sangat dirugikan sebab
besar kemungkinannya dia akan diancam bahkan dijatuhi hukuman mati
oleh badan peradilan Indonesia. Kecuali ada jaminan yang cukup kuat dan

U NTOC
meyakinkan dari negara Indonesia, bahwa terhadapnya tidak akan diancam
dan atau dijatuhi hukuman mati. Hal ini akan memberikan kepastian hukum
sekaligus perlindungan hak asasi manusia bagi terpidana.

37
22. PENYUSUNAN DATA TINDAK PIDANA (PASAL 22)

Penyusunan data tindak pidana merupakan bidang kegiatan dalam ruang


lingkup administrasi peradilan. Pasal 22 UNTOC menghimbau kepada negara-
negara pihak untuk melakukan penyusunan data tindak pidana, apakah
landasan hukumnya berupa undang-undang (tindakan legislatif) ataupun
peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang, sepenuhnya
tergantung kepada negara yang bersangkutan. Langkah ini lebih merupakan
langkah internal dari masing-masing negara pihak, namun mengandung
kerjasama internasional, terutama berkenaan dengan putusan-putusan badan
peradilan negara-negara pihak lainnya yang dapat disusun datanya di negara
pihak yang bersangkutan ataupun sebaliknya.

Dalam hubungan dengan Indonesia persoalannya adalah, apakah putusan-


putusan badan peradilan (pidana) negara-negara lain dapat dijadikan
sebagai alat bukti (surat) untuk diajukan ke hadapan pengadilan Indonesia?
Pertanyaan ini muncul, disebabkan karena Pasal 22 tersebut menegaskan
bahwa putusan itu dapat dijadikan sebagai informasi (alat bukti?) dalam
proses pidana yang berhubungan dengan tindak pidana yang tercakup dalam
Konvensi (UNTOC). Terhadap masalah ini dapat dikemukakan, bahwa
peraturan perundang-undangan Indonesia belum mengatur penggunanaan
putusan pengadilan negara asing sebagai alat atau barang bukti dalam proses

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan. Akan tetapi,
praktek peradilan di Indonesia mengakui putusan pengadilan dalam perkara
atas tersangka lain (pengadilan nasional, bukan pengadilan asing) dalam kasus
yang masih berhubungan dengan perkara yang sedang diperiksa sebagai alat
bukti surat apabila diajukan ke hadapan persidangan sesuai dengan proses
yang sah menurut hukum acara pidana. Kadang-kadang putusan pengadilan
tersebut turut dipertimbangkan oleh hakim untuk memperkuat keyakinannya
atas perkara yang bersangkutan.


23. KRIMINALISASI GANGGUAN PROSES PERADILAN (PASAL 23)

UNTOC membebankan kewajiban kepada negara pihak untuk mengambil


tindakan legislatif dan tindakan lainnya yang diperlukan untuk menetapkan
sebagai tindak pidana terhadap setiap perbuatan yang merupakan gangguan
proses peradilan. Ada 2 (dua) bentuk perbuatan yang dipandang sebagai
bentuk gangguan proses peradilan, yaitu :
G A P A NA LYS I S

a. Obyek gangguannya adalah saksi dan bukti

Setiap perbuatan yang dengan sengaja menggunakan kekuatan fisik,


U NTOC

ancaman atau intimidasi atau janji, menawarkan atau memberi


keuntungan yang tidak semestinya untuk membujuk, memberikan
kesaksian palsu, atau mencampuri dalam pemberian suatu kesaksian
38 atau perbuatan bukti dalam proses beracara.

b. Obyek gangguannya pejabat peradilan atau penegak hukum

Setiap perbuatan yang dengan sengaja menggunakan kekuatan fisik,


ancaman atau intimidasi untuk mencampuri pelaksanaan tugas resmi
pejabat peradilan atau penegak hukum. Ketentuan ini tidak mengurangi
hak negara (dalam perundang-undangannya) untuk melindungi
pejabat publik dalam kategori lain.

Ketentuan yang mengatur kriminalisasi gangguan proses peradilan yang


dimaksud dalam konvensi sudah diatur dalam perundang-undangan pidana
Indonesia antara lain dalam :

a. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2002


jo Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Terorisme.

b. Undang-Undang Nomor 31 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak


Pidana Korupsi.

Substansi yang diatur dalam perundang-undangan Indonesia pada umumnya


menyangkut gangguan yang bersifat fisik terhadap proses peradilan,
sedangkan gangguan-gangguan yang bersifat non fisik seperti intimidasi
mencampuri pelaksanaan tugas resmi pejabat peradilan atau aparat penegak

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


hukum belum dirumuskan secara jelas.

24. PERLINDUNGAN SAKSI (PASAL 24)

Konvensi mensyaratkan agar negara-negara pihak mengambil segala tindakan


untuk memberikan perlindungan yang efektif terhadap para saksi dalam
proses peradilan yang memberikan kesaksiannya mengenai tindak pidana
yang tercakup dalam Konvensi. Perlindungan diberikan juga kepada keluarga
mereka dan orang-orang lain yang dekat dengan mereka. Perlindungan
diberikan berhubung kemungkinan adanya pembatasan atau intimidasi
terhadap saksi dalam proses peradilan.

Tindakan-tindakan tersebut dilakukan tanpa mengurangi hak-hak terdakwa,


termasuk hak untuk diadili secara layak (due process). Tindakan – tindakan
perlindungan saksi dimaksud meliputi :

a. Menetapkan prosedur untuk perlindungan fisiknya seperti misalnya


menempatkan mereka dan mengizinkan untuk merahasiakan identitas

G A P A NA LYS I S
dan keberadaan orang tersebut.

b. Membuat aturan pembuktian guna memungkinkan kesaksian yang

U NTOC
diberikan dengan suatu cara untuk menjamin keselamatan saksi, seperti
memungkinkan pemberian kesaksian melalui teknologi komunikasi,
misalnya saluran video (video links) atau cara lain yang memadai.

Konvensi juga mewajibkan bahwa ketentuan perlindungan saksi ini berlaku 39


terhadap korban sepanjang mereka bertindak menjadi saksi. Perundang-
undangan tindak pidana khusus di Indonesia pada umumnya sudah
mengatur perlindungan saksi. Perlindungan saksi dalam Undang-Undang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 1 tahun 2002 jo Undang-Undang Nomor 15 tahun
2003), dan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (Undang-Undang
Nomor 15 tahun 202 jo Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003) diatur secara
umum yaitu tentang kewajiban negara memberikan perlindungan khusus dari
kemungkinan ancaman yang membahayakan diri, jiwa dan /atau hartanya,
termasuk keluarganya.

Undang-undang yang secara khusus mengatur perlindungan saksi adalah


Undang-Undang Nomor 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan
Korban. Undang-undang ini bukan saja mengatur perlindungan secara fisik,
tetapi juga perlindungan dalam bentuk pemberian keterangan kesaksian yang
memungkinkan tidak perlu hadir di persidangan.


25. BANTUAN TERHADAP DAN PERLINDUNGAN KORBAN (PASAL
25)

Berbeda dengan perlindungan terhadap saksi, perlakuan terhadap korban

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


kejahatan, Konvensi mewajibkan kepada negara-negara pihak bukan saja
memberikan perlindungan tetapi juga wajib memberikan bantuan terhadap
korban kejahatan.

Bantuan dan perlindungan terhadap korban kejahatan yang ditentukan dalam


Konvensi meliputi :

a. Tindakan-tindakan yang tepat dari kemungkinan ancaman pembalasan


dan intimidasi.

b. Prosedur-prosedur yang memadai untuk memberikan akses ganti rugi


dan pemulihan bagi korban-korban tindak pidana.

c. Dalam proses peradilan, pendapat-pendapat dan keprihatinan dari


korban harus dikemukakan dan dipertimbangkan dengan cara yang
tidak merugikan hak terdakwa untuk melakukan pembelaan.

Perundang-undangan Indonesia membedakan antara pelapor dan korban,


G A P A NA LYS I S

sehingga beberapa undang-undang tidak memuat ketentuan tentang


perlindungan korban, tetapi memuat ketentuan perlindungan pelapor.
U NTOC

Perundang-undangan yang memuat perlindungan terhadap pelapor


diantaranya adalah Pasal 39 - Pasal 41 dan Pasal 43 Undang-Undang Nomor
15 tahun 2002 jo Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang, Pasal 31 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999
40 jo Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi. Perlindungan yang diberikan terhadap pelapor pada dasarnya
menyangkut larangan saksi, penyidik, penuntut umum dan hakim menyebut
nama dan alamat pelapor dalam proses pemeriksaan.

Perlindungan terhadap korban secara tegas diatur dalam Pasal 36 – Pasal


42 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2002
jo Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Terorisme. Undang-undang ini mengatur tentang pemberian
kompensasi, restitusi dan rehabilitasi terhadap korban.

KUHAP memberikan bantuan terhadap korban melalui ketentuan Pasal 160


ayat (1) huruf b yang mengatur tentang korban yang diberi kesempatan untuk
pertama-tama didengar dalam pemeriksaan sidang pengadilan, dan ketentuan
Pasal 90 yang mengatur penggabungan gugatan ganti kerugian oleh korban.

Perundang-undangan yang mengatur secara khusus perlindungan korban


dirumuskan dalam Pasal 9 dan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 13 tahun
2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Perlindungan yang diberikan
berdasarkan ketentuan tersebut meliputi prosedur pemberian keterangan
kesaksian tanpa hadir langsung di pengadilan, kesaksian secara tertulis atau
melalui sarana elektronik dan perlindungan dalam bentuk immunitas, tidak
dapat dituntut secara hukum pidana maupun perdata atas laporan, kesaksian
yang akan, sedang atau telah diberikannya.

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


Korban dari pelanggaran hak asasi manusia yang berat selain memiliki hak-
hak yang ditentukan dalam undang-undang, juga diberikan perlindungan
dengan pemberian hak untuk mendapatkan bantuan medis dan bantuan
rehabilitasi psiko-sosial.


26. TINDAKAN UNTUK MENINGKATKAN KERJASAMA DENGAN
APARAT PENEGAK HUKUM (PASAL 26)

Konvensi mewajibkan negara pihak untuk mengambil tindakan-tindakan


yang tepat guna mendorong orang-orang yang berpatisipasi atau telah
berpartisipasi dalam kelompok-kelompok pelaku tindak pidana terorganisasi
agar bersedia :

a. Memberikan informasi yang bermanfaat (seperti identitas, sifat,


komposisi, struktur, lokasi atau kegiatan kelompok-kelompok
penjahat terorganisasi sendiri maupun keterkaitan kelompok penjahat
terorganisasi dengan jaringan internasional, serta tindak pidana yang

G A P A NA LYS I S
telah dan mungkin akan dilakukan oleh kelompok pelaku tindak
pidana terorganisasi) kepada badan yang berwenang untuk tujuan
penyelidikan dan pembuktian.

U NTOC
b. Memberikan bantuan faktual, konkrit kepada badan yang berwenang
dalam rangka menghalangi kelompok penjahat terorganisasi dari
sumber daya mereka atau dari hasil tindak pidana. 41
Konvensi juga mewajibkan negara pihak membuka kemungkinan pengurangan
pidana atas terdakwa maupun pemberian kekebalan dari penuntutan terhadap
seseorang yang bekerja sama dalam penyelidikan dan penuntutan.

Apabila seseorang yang bersedia memberikan informasi bermanfaat ataupun


bantuan konkrit dalam penyelidikan dan pembuktian sebagaimana tersebut
di atas berada di satu negara pihak dan orang tersebut bersedia melakukan
kerjasama dengan badan-badan yang berwenang dari negara pihak lainnya,
maka negara-negara pihak tersebut menurut Konvensi dapat membuat
persetujuan atau peraturan tentang kemungkinan negara pihak lainnya
memberikan perlakuan pengurangan pidana atau kekebalan penuntutan.

Perundang-undangan Indonesia belum mengatur hal-hal terkait dengan


bantuan dan kerjasama orang-orang yang pernah terlibat tindak pidana
terorganisasi dengan aparat penegak hukum dalam rangka memberantas
tindak pidana terorganisasi. Pengaturan tentang saksi mahkota yang
bekerjasama dan membantu dalam penyelidikan dan pembuktian masih belum
diterapkan dalam perundang-undangan Indonesia. Undang-Undang Nomor
31 tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 Pasal 42 mengatur
peran serta masyarakat dengan memberikan penghargaan kepada anggota
masyarakat yang berjasa dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Jika
orang yang berjasa tersebut orang yang pernah terlibat dalam tindak pidana
korupsi kemungkinan bekerja sama dalam penyelidikan dan pembuktian

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


tindak pidana yang sama, mereka tidak berhak mendapat penghargaan.

Pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 tahun 2006 tentang Perlindungan


Saksi dan Korban mengatur tentang saksi yang sekaligus menjadi tersangka
bersedia bekerja sama dengan aparat penegak hukum dalam pembuktian di
persidangan pengadilan, maka hakim dapat mempertimbangkan keterangan
kesaksiannya tersebut sebagai alasan meringankan pidana.


27. KERJASAMA PENEGAKAN HUKUM (PASAL 27)

Mengenai kerjasama penegakan hukum pada umumnya, beberapa pranata


hukum yang ditegaskan di dalam UNTOC seperti ekstradisi (Pasal 16),
pemindahan narapidana (Pasal 17), bantuan hukum timbal balik (Pasal
18), penyelidikan bersama (Pasal 19), kerjasama dalam melakukan teknik-
teknik penyelidikan khusus (Pasal 20), pemindahan proses pidana (Pasal
21), sebenarnya semua ini sudah termasuk di dalam ruang lingkup kerjasama
penegakan hukum. Akan tetapi Pasal 27 tentang kerjasama penegakan
G A P A NA LYS I S

hukum, secara lebih khusus menekankan kerjasama tersebut dalam pelbagai


aspeknya yang lebih bersifat teknis-operasional seperti tercantum dalam Pasal
27 ayat 1 huruf (a – f). Hal inipun sudah dilakukan oleh Indonesia, terutama
U NTOC

oleh Kepolisian R.I. baik secara langsung dengan Kepolisian negara-negara


sahabat ataupun dengan kerjasama melalui INTERPOL/ICPO (International
Criminal Police Organisation).
42
Persoalannya adalah, apakah kerjasama antara instansi-instansi penegak
hukum tersebut dilandasi oleh suatu perjanjian kerjasama ataukah tidak?
Pasal 27 ayat 2 UNTOC menekankan kepada negara-negara pihak untuk
membuat perjanjiannya jika memang belum dilandasi oleh suatu perjanjian
atau jika sudah dilandasi suatu perjanjian supaya perjanjian yang sudah ada
itu diubah. Apapun hasil pertimbangan tersebut, sepenuhnya tergantung
pada negara-negara yang bersangkutan. Namun perlu ditekankan disini,
bahwa tanpa ada perjanjian kerjasama terlebih dahulupun, ketentuan
Pasal 27 ini dapat langsung dilaksanakan baik pada tataran internasional
ataupun domestik masing-masing negara pihak. Sudah tentu dengan tetap
menghormati kedaulatan dan hukum nasional masing-masing negara pihak.
Bahkan Pasal 27 ayat 2 mempersilakan para pihak untuk menjadikan Konvensi
sebagai landasan hukum untuk bekerjasama apabila para pihak belum terikat
pada suatu perjanjian.

Dalam hubungannya dengan Indonesia, sebaiknya Indonesia menyikapi apa


yang diamanatkan Pasal 27 ayat 2 ini dengan menginventarisasi perjanjian
antara aparat penegak hukumnya dengan sesama aparat penegak hukum
negara-negara sahabat jika memang perjanjian itu sudah ada. Jika perjanjian
itu tidak atau belum ada perlu dipertimbangkan kemungkinan untuk
mengadakan perjanjian kerjasama atau cukup dengan mengamendemen
perjanjian yang sudah ada seperti tersebut di atas, terutama perjanjian
kerjasama bantuan hukum timbal balik, dengan menyisipkan substansi-

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


substansi yang terkandung dalam Pasal 27 UNTOC ini. Atau langkah yang lebih
komprehensif, yakni, setelah dilakukan inventarisasi atas semua perjanjian
tentang kerjasama yang termasuk dalam ruang lingkup penegakan hukum
yang sudah ada, dilanjutkan dengan pengkajian secara lebih mendalam tentang
substansi dari semua perjanjian itu sehingga dapat diketahui kelebihan dan
kekurangannya sehingga dapat dilanjutkan dengan pengamendemenannya,
ataupun jika dipandang perlu, membuat perjanjian baru.

Selain itu, juga perlu diinventarisasi undang-undang pidana Indonesia di


luar KUHP yang mengandung dimensi kerjasama internasional, khususnya
berkenaan dengan kerjasama penegakan hukum untuk diharmonisasikan
pengaturannya dengan perjanjian-perjanjian kerjasama penegakan hukum
yang sudah ada ataupun praktek-praktek kerjasama penegakan hukum antara
aparat penegak hukum yang sudah berlangsung selama ini. Sebagai contoh
adalah, Undang-Undang Nomor 1/PRP. Tahun 2002 jo. Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme,
memberi wewenang kepada pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan
kerjasama dengan negara-negara lain dalam bidang intelijen, kepolisian

G A P A NA LYS I S
dan kerjasama teknis lainnya. Juga Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006
tentang Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana mengandung substansi
mengenai kerjasama penegakan hukum dengan negara lain.

U NTOC
28. PENGUMPULAN, PERTUKARAN DAN ANALISIS INFORMASI
TENTANG SIFAT TINDAK PIDANA TERORGANISASI (PASAL 28) 43
Substansi Pasal 28 ini tergolong sebagai sesuatu yang bersifat teknis-
operasional dan karena itu secara langsung dapat diimplementasikan oleh
negara-negara pihak baik pada tataran domestik ataupun internasional.
Andaikata substansi ini dipandang perlu dituangkan dalam bentuk perjanjian,
tidak perlu dibuat satu perjanjian khusus, tetapi dapat disisipkan di dalam
perjanjian kerjasama penegakan hukum seperti telah dipaparkan di atas.
Atau ada kemungkinan bahwa substansi Pasal 28 ini sudah terliput di dalam
perjanjian tentang kerjasama penegakan hukum yang sudah ada tersebut.

Dalam kenyataan, ternyata institusi penegak hukum Indonesia seperti


kepolisian dan kejaksaan telah membentuk satuan tugas atau unit kerja
untuk menangani kasus-kasus tindak pidana internasional/transnasional,
seperti tindak pidana transnasional terorganisasi, tindak pidana terorisme
dan sebagainya antara lain dengan tujuan membentuk penyelidik, penyidik
dan penuntut umum yang ahli dan spesialis mengenai tindak pidana
transnasional. Demikian juga penunjukan atau pengangkatan staf ahli dalam
bidang-bidang yang terkait pada institusi kepolisian dan kejaksaan sudah
sejak lama dilakukan. Demikian juga kerjasama antara kepolisian atau
kejaksaan dengan perguruan tinggi di Indonesia.


29. PELATIHAN DAN BANTUAN TEKNIS (PASAL 29)

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


Sama seperti substansi Pasal 28, substansi Pasal 29 inipun merupakan
sesuatu yang sangat teknis-operasional dan karena itu secara langsung dapat
diimplementasikan. Oleh karena yang menjadi fokus dari Pasal 29 adalah
tentang pelatihan (ayat 1), perencanaan dan pelaksanaan program penelitian
dan pelatihan (ayat 2), peningkatan pemberian bantuan pelatihan dan teknis
(ayat 3) dan kegiatan operasi dan pelatihan melalui organisasi internasional
regional ataupun global (ayat 4) maka lembaga-lembaga penelitian dan
pengembangan (litbang) ataupun lembaga-lembaga pendidikan dalam
lingkungan institusi seperti Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman perlu
ditingkatkan peranannya.


30. TINDAKAN LAIN: PELAKSANAAN KONVENSI MELALUI
PEMBANGUNAN EKONOMI DAN BANTUAN TEKNIS (PASAL 30)

Substansi Pasal 30 mewajibkan Negara-Negara Pihak mengambil tindakan-


tindakan yang kondusif guna mengoptimalkan pelaksanaan konvensi melalui
kerjasama internasional dengan alasan dan pertimbangan adanya pengaruh-
G A P A NA LYS I S

pengaruh negatif dari tindak pidana terorganisasi terutama pengaruh negatif


terhadap pembangunan berkelanjutan.
U NTOC


31. PENCEGAHAN (PASAL 31)

44 Substansi Pasal 31 inipun sama seperti substansi pasal 28 dan 29 yakni


berkenaan dengan masalah-masalah yang bersifat teknis-operasional
yang dapat diimplementasikan secara langsung oleh negara-negara pihak,
termasuk Indonesia. Semuanya tergantung pada ada atau tidaknya kehendak
politik (political will) masing-masing negara pihak tersebut.

Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


BAB

III
BEBERAPA TEMUAN
DAN REKOMENDASI
BEBERAPA TEMUAN
DAN REKOMENDASI

Berdasarkan analisis terhadap kesenjangan antara UNTOC dan peraturan perundang-


undangan nasional Indonesia yang bersinggungan dengan UNTOC seperti telah
dipaparkan dalam bagian sebelumnya, ternyata ada beberapa temuan yang dapat
diungkapkan yang patut mendapat perhatian sungguh-sungguh dari badan pembuat
undang-undang yakni, Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah. Akan lebih baik lagi,
jika kedua badan pembentuk undang-undang ini, menindaklanjutinya dengan langkah-
langkah nyata seperti membuat undang-undang baru ataupun mengamendemen
peraturan perundang-undangan yang ada hubungannya dengan dan atau yang
terpengaruhi oleh temuan-temuan ini.

Secara kronologis, dapatlah dikemukakan beberapa temuan tersebut dan disertai pula

G A P A NA LYS I S
rekomendasinya, seperti di bawah ini.

Pertama, dengan mulai berlakunya UNTOC ke dalam dan menjadi bagian dari hukum
nasional Indonesia, setelah dianalisis secara mendalam ternyata di dalam hukum

U NTOC
nasional Indonesia sama sekali tidak ada satupun pasal dari KUHP ataupun undang-
undang pidana nasional Indonesia di luar KUHP yang mengatur tentang kejahatan
(transnasional) terorganisasi. Demikian pula tindak pidana yang sudah diatur di dalam
hukum pidana nasional Indonesia ternyata tidak ada yang dapat dipadankan dengan 47
kejahatan (transnasional) terorganisasi. Dengan demikian, kejahatan (transnasional)
terorganisasi ini dapat dipandang sebagai jenis kejahatan baru di dalam hukum pidana
nasional Indonesia walaupun dalam kenyataan, kejahatan seperti ini sudah banyak
terjadi bahkan sudah menimbulkan dampak yang cukup serius bagi Indonesia.

Hal ini berbeda dengan United Nations Convention Against Corruption (UNCAC)
yang setelah diratifikasi dan diberlakukan ke dalam dan menjadi bagian dari hukum
nasional Indonesia, sudah langsung berhadapan dengan Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999 yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagai undang-undang anti korupsi yang
sudah ada dan berlaku sebelumnya. Dalam hal ini, Indonesia mentransformasikan
substansi UNCAC, khususnya kaidah-kaidah hukum pidana materiil-substansialnya
ke dalam hukum pidana nasionalnya, dengan cara merevisi atau mengamendemen
undang-undang tentang pemberantasan tindak pidana korupsinya (Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 1999 yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001).
Atau jika ketidaksesuaiannya atau ketertinggalannya demikian besarnya, dapat
pula dibuat undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi yang baru yang
substansinya selaras dengan UNCAC untuk menggantikan undang-undang yang lama
tersebut. Dalam hubungan ini, pemerintah Indonesia menempuh cara pertama.

Sedangkan kejahatan (transnasional) terorganisasi yang merupakan substansi pokok


dari UNTOC, oleh karena tidak ada padanannya di dalam hukum pidana nasional
Indonesia, maka mau tidak mau Indonesia haruslah mentransformasikan substansi
pokoknya tersebut ke dalam hukum pidana nasional Indonesia, dengan cara membuat

Beberapa Temuan dan Rekomendasi


undang-undang tentang tindak pidana (transnasional) terorganisasi. Substansi
dari undang-undang ini, sedapat mungkin supaya diselaraskan dengan substansi
dari UNTOC, khususnya dengan kaidah-kaidah hukum materiil-substansialnya.
Undang-undang inilah yang harus diterapkan terhadap kasus-kasus tindak pidana
(transnasional) terorganisasi sesuai dengan asas-asas dari berlakunya hukum pidana
Indonesia atau yurisdiksi kriminal menurut hukum pidana nasional Indonesia.

Kedua, mengenai istilah-istilah. Ternyata UNTOC dalam Pasal 2 mengintroduksi


cukup banyak (10 macam) istilah. Pada lain pihak, hukum pidana nasional Indonesiapun
juga sudah mengenal cukup banyak istilah. Seperti telah dikemukakan di atas (Bab II
Bagian 2. Pemakaian Istilah (Pasal 2)), diantara istilah-istilah tersebut ada yang baru
sama sekali karena belum/tidak ada di dalam hukum pidana nasional Indonesia tetapi
ada pula yang sudah lama tercantum di dalam hukum pidana nasional Indonesia, baik
dengan substansi yang sama ataupun dengan substansi yang berbeda. Istilah-istilah
yang baru tersebut, antara lain, kelompok pelaku tindak pidana terorganisasi, tindak
pidana serius, kelompok terstruktur dan pengiriman terkendali. Sedangkan istilah-
istilah dalam UNTOC yang sudah dikenal di dalam hukum pidana nasional Indonesia,
antara lain, kekayaan, hasil tindak pidana, pembekuan atau penyitaan, perampasan,
G A P A NA LYS I S

dan tindak pidana asal.

Walaupun istilah-istilah dalam UNTOC dimaksudkan khusus dalam hubungan dengan


U NTOC

kejahatan (transnasional) terorganisasi, namun dalam praktek, terutama dalam kasus-


kasus konkrit, ada kemungkinan keterkaitan antara kasus kejahatan (transnasional)
terorganisasi dengan dengan kasus-kasus kejahatan lain yang diatur dalam KUHP
ataupun di luar KUHP dan secara serentak tersangkut istilah-istilah, baik yang tercantum
48 dalam UNTOC ataupun istilah-istilah dalam KUHP atau undang-undang pidana lain di
luar KUHP. Hal ini menimbulkan persoalan, istilah manakah yang harus digunakan?
Dalam praktek hal ini dapat menimbulkan perbedaan pendapat, terutama di kalangan
para penegak hukum, baik di kalangan internal dari korps penegak hukum itu sendiri
maupun antara korps penegak hukum yang satu dengan yang lainnya. Kiranya perlu
dipertimbangkan adanya pembakuan istilah-istilah dalam hukum pidana, sudah tentu
sepanjang hal itu dimungkinkan.

Ketiga, adalah ruang lingkup berlakunya hukum pidana Indonesia sebagaimana


diatur di dalam Pasal 2 sampai dengan pasal 9 KUHP. Oleh para ahli, ketentuan ini
dipandang sebagai konkritisasi dari asas-asas berlakunya hukum pidana, yakni, asas
teritorial, asas kewarganegaraan aktif, asas kewarganegaraan pasif, dan asas universal.
Sedangkan dari sudut pandang hukum (pidana) internasional, masalah ini termasuk
dalam ruang lingkup yurisdiksi negara, khususnya yurisdiksi kriminal yang juga
berdasarkan atas keempat asas tersebut. Tegasnya, yurisdiksi kriminal berdasarkan asas
teritorial, asas kewarganegaraan aktif, asas kewarganegaran pasif, dan asas universal.

Persoalannya adalah, ketentuan Pasal 2 - 9 KUHP, khususnya tentang ruang lingkup dari
asas kewarganegaraan aktif dan pasif seperti dalam Pasal 4, Pasal 5, Pasal 7 dan Pasal 8
yang secara limitatif menentukan jenis-jenis tindak pidananya. Seperti sudah diketahui,
KUHP Indonesia yang hingga kini masih berlaku adalah merupakan peninggalan dari
KUHP Belanda yang diberlakukan di Hindia Belanda (sekarang: Indonesia) pada
tahun 1918 berdasarkan asas konkordansi. Di Negeri Belanda sendiri KUHPnya itu
sudah banyak mengalami perubahan (penambahan ataupun pengurangan). Timbul

Beberapa Temuan dan Rekomendasi


pertanyaan, untuk kurun waktu sekarang ini, apakah ketentuan dalam Pasal 4, 5, 7 dan
8 tersebut masih sesuai ataukah sudah ketinggalan jaman?

Pada sisi lain, jenis-jenis kejahatan internasional/transnasional yang baru dengan
karakter yang semakin canggih, semakin lama semakin banyak bermunculan yang
juga sudah cukup banyak diatur di dalam konvensi-konvensi tentang kejahatan
internasional. Konvensi-konvensi tentang kejahatan internasional/transnasional ini,
-termasuk UNTOC- jiwa dan semangat dari yurisdiksi (kriminal)nya atas kejahatan
atau tindak pidana yang diaturnya justru dalam ruang lingkup yang luas. Hal ini dapat
dilihat dan dibaca dalam salah satu pasalnya yang menyerukan kepada negara-negara
pihak/peserta untuk memberlakukan yurisdiksinya dengan jangkauan yang luas
terhadap kejahatan yang diatur di dalam konvensi tersebut.

Oleh karena itu, patut untuk dipikirkan secara lebih mendalam, mengenai perlu
diperluasnya ruang lingkup yurisdiksi (kriminal) dalam Pasal 4, 5, 7 dan 8 KUHP.
Perluasan ini tentu saja juga dalam rangka mengantisipasi atas semakin banyaknya
bermunculan kejahatan transnasional yang semakin canggih serta semakin
meningkatnya kepentingan nasional Indonesia baik pada tataran domestik ataupun

G A P A NA LYS I S
internasional, yang harus dilindungi dari kejahatan atau tindak pidana internasional/
transnasional, baik yang terorganisasi ataupun tidak terorganisasi.

U NTOC
Keempat, ketentuan tentang penyertaan maupun permufakatan jahat yang ada
dalam perundang-undangan Indonesia dapat dikatakan belum mengakomodasi
amanat Konvensi tentang masalah partisipasi dalam kelompok pelaku tindak pidana
terorganisasi karena lingkup perbuatan yang diamanatkan oleh Konvensi lebih luas
daripada yang selama ini masuk dalam lingkup pengertian penyertaan dan permufakatan
49
jahat menurut ketentuan hukum pidana di Indonesia. Oleh karena itu perlu untuk
diakomodasi ketentuan Pasal 5 Konvensi dengan merumuskannya sebagai perluasan
penyertaan dalam hukum pidana Indonesia agar dapat diberlakukan untuk semua
keterlibatan dalam tindak pidana yang masuk cakupan tindak pidana transnasional
terorganisasi.

Kelima, terkait dengan upaya pemberantasan tindak pidana pencucian uang,


perundang-undangan Indonesia sudah mengatur upaya penal secara sangat memadai.
Akan tetapi juga harus dipertimbangkan bahwa upaya penal harus selaras dengan
upaya-upaya non- penal yang dapat dilakukan, misalnya dengan memberikan sanksi
yang mungkin akan lebih efektif daripada sanksi pidana dalam suatu kondisi dan situasi
tertentu. Oleh karena itu seharusnya kewenangan pengawasan yang dimiliki oleh
PPATK disertai dengan kewenangan menjatuhkan sanksi administratif pada penyedia
jasa keuangan yang tidak melaksanakan kewajibannya dalam upaya mencegah tindakan
pencucian uang. Sanksi administratif yang dijatuhkan jangan sampai merusak
kepercayaan masyarakat pada penyedia jasa keuangan dan berdampak buruk pada
sistem transaksi keuangan.

Keenam, dalam undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi (Undang-


Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2001) belum diatur tentang tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh pejabat
publik asing ataupun oleh pegawai sipil internasional. Tampaknya, dalam rangka
pengamendemenan Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Beberapa Temuan dan Rekomendasi


yang sedang berlangsung sekarang ini dan juga dalam rangka pentransformasian
substansi UNCAC, kiranya masalah ini sudah ditampung untuk selanjutnya
dicantumkan di dalam undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi hasil
amendemen tersebut.

Ketujuh, tentang tanggungjawab badan hukum. Sesungguhnya sudah sejak


tahun 1955 hukum pidana nasional Indonesia mengakui bahwa badan hukum dapat
dimintakan pertanggungjawaban pidana atau dengan kata lain, badan hukum sudah
diakui sebagai subyek hukum pidana. Bahkan dalam beberapa Undang-Undang Pidana
Khusus, digunakan istilah korporasi yang ruang lingkupnya tidak hanya mencakup
badan hukum tetapi juga perkumpulan yang bukan badan hukum. Namun demikian
dalam prakteknya, hingga saat ini, belum pernah ada korporasi yang dijatuhi sanksi
pidana. Hal ini nampaknya disebabkan ajaran pertanggungjawaban pidana korporasi
kurang dikenal dalam praktek peradilan. Oleh karena itu perlu dilakukan sosialisasi
dan pemberian pelatihan tentang perkembangan asas-asas baru hukum pidana dan
hukum acara pidana bagi para penegak hukum. .

Kedelapan, sistem sanksi pidana yang diatur dalam perundang-undangan khusus


G A P A NA LYS I S

yang masuk dalam lingkup Konvensi telah selaras dengan amanat dari Konvensi yang
secara tersirat menghendaki dijatuhkankannya sanksi yang berat terhadap (pelaku)
tindak pidana. Bahkan dalam perundang-undangan khusus tersebut, di samping
U NTOC

diancamkan pidana maksimal khusus juga diancamkan pidana minimal khusus dengan
tujuan menghindarkan dijatuhkannya pidana yang ringan. Ketentuan ini memang
ditujukan untuk tindak pidana yang masuk kategori tindak pidana khusus, yang oleh
50 banyak kalangan disebut sebagai extra-ordinary crime. Hanya saja untuk tindak
pidana lain yang menurut Konvensi masuk kategori tindak pidana serius, tidak ada
ketentuan pidana minimal khusus. Hal ini yang dalam pelaksanaannya dapat membuka
celah terjadinya ketidaksesuaian dengan tujuan Konvensi yang ingin menjatuhkan
pidana yang relatif lebih berat kepada pelaku kejahatan transnasional terorganisasi.
Oleh karena itu perlu dibuat ketentuan khusus agar hakim memperhitungkan beratnya
tindak pidana transnasional terorganisasi ketika akan menjatuhkan pidana pada
pelakunya. Ketentuan khusus ini dapat berupa pemberatan pidana bila tindak pidana
dilakukan secara transnasional terorganisasi.

Kesembilan, kriminalisasi dan penentuan sanksi yang berat bagi pelaku tindak
pidana harus dibarengi dengan kewenangan hukum yang jelas pada para pelaksana
hukum. Kejelasan di sini bukan hanya berupa kewenangan menurut undang-undang,
tetapi juga harus ada independensi pelaksana hukum dalam mempertimbangkan
tindakan yang tepat untuk memaksimalkan penangkalan tindak pidana tersebut.
Mengingat kedudukan lembaga penegak hukum yang masih menjadi bagian dari
eksekutif maka kebijakan untuk melakukan peninjauan kembali kedudukan penyidik
dan penuntut umum sebagai bagian lembaga yudikatif yang independen merupakan
suatu langkah yang perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini.

Kesepuluh, berkenaan dengan jangka waktu daluwarsa, UNTOC menyerukan kepada


negara-negara pihak/peserta supaya menetapkan jangka waktu daluwarsa yang lebih
panjang atas tindak pidana yang diatur di dalamnya. Ini merupakan kecenderungan
umum dari konvensi-konvensi tentang kejahatan internasional/transnasional

Beberapa Temuan dan Rekomendasi


mengingat sifatnya yang secara umum lebih canggih ketimbang kejahatan biasa. Hal ini
dapat dipandang sebagai penyimpangan dari jangka waktu daluwarsa yang ditentukan
di dalam hukum pidana nasional (KUHP) Indonesia. Undang-undang Pidana Khusus,
misalnya tentang tindak pidana korupsi, terorisme dan pencucian uang tidak mengatur
secara khusus jangka waktu kadaluarsa penuntutan dan penjalanan pidana, sehingga
masih merujuk pada ketentuan kadaluarsa penuntutan dan penjalanan pidana yang
diatur dalam KUHP.

Dengan mengingat kekhususan dari tindak pidana transnasional terorganisasi, yaitu


sangat kompleks dan tidak mudah pengungkapannya, maka harus dibuat ketentuan
khusus tentang daluwarsa penuntutan dan penjalanan pidana yang lebih panjang
daripada jangka waktu daluwarsa dalam KUHP untuk menjamin efektifitas penegakan
hukum pada pelakunya. Ketentuan ini merupakan lex specialis dari ketentuan dalam
KUHP.

Kesebelas, penelaahan secara mendalam terhadap perundang-undangan Indonesia,


khususnya untuk perampasan dan penyitaan seperti yang diatur dalam Pasal 12
Konvensi sampai pada suatu kesimpulan bahwa masih belum ada pengaturan yang jelas

G A P A NA LYS I S
dan komprehensif untuk tindakan penyitaan dan perampasan harta benda yang berasal
dari konversi hasil kejahatan, harta benda yang tercampur dengan hasil kejahatan dan
keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari harta benda hasil kejahatan. Meskipun

U NTOC
ketentuan yang ada secara implisit telah mencakup jenis-jenis obyek tersebut, namun
ketiadaan ketentuan yang khusus dan jelas akan menyulitkan dalam praktek. Oleh
karenanya perlu ditinjau kembali ketentuan tentang penyitaan dan perampasan barang
hasil tindak pidana untuk disesuaikan dengan ketentuan dalam Konvensi.
51
Keduabelas, hukum acara pidana umum (KUHAP) dan beberapa perundang-
undangan khusus yang terkait dengan tindak pidana transnasional terorganisasi belum
mengatur penyerahan harta hasil tindak pidana atau kekayaan yang disita sebagaimana
yang diamanatkan Pasal 14 Konvensi. Namun demikian bukan berarti tidak ada sama
sekali instrumen hukum Indonesia untuk masalah ini. Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2006 tentang Bantuan Timbal Balik Dalam Masalah Pidana telah mengatur mengenai
permintaan bantuan dan pemberian bantuan dalam rangka menindaklanjuti putusan
pengadilan berupa perampasan harta kekayaan/benda yang disita ini. Ketentuan ini
setidaknya dapat menjadi payung hukum bagi perundang-undangan pidana lainnya
berkenaan dengan penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di sidang pengadilan,
termasuk bantuan untuk menindaklanjuti putusan pengadilan yang berisi perampasan
benda sitaan/harta kekayaan berupa benda tidak bergerak, seperti tanah misalnya,
terkait dengan sistem hukum setiap negara terhadap kepemilikan benda tidak bergerak
oleh negara lain. Namun untuk pelaksanaannya, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006
masih memerlukan tindak lanjut.

Ketigabelas, tentang pranata hukum ekstradisi. Pengaturan tentang ekstradisi


dalam UNTOC yang dapat dipandang sebagai merepresentasikan perkembangan
mutakhir dari pranata hukum tentang ekstradisi dalam hukum internasional serta
dengan mengacu pada United Nations Model Treaty on Extradition (1990), semakin
memperlihatkan ketertinggalan dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1979 tentang
Ekstradisi.

Beberapa Temuan dan Rekomendasi


Beberapa kekurangan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1979 tersebut, -di antara
demikian banyak kekurangannya antara lain, ekstradisi dibatasi atas kejahatan yang
dilakukan di luar wilayah negara diminta atau negara yang menyerahkan (Pasal 1 UU
Nomor 1 Tahun 1979). Padahal kejahatan yang dilakukan di dalam wilayah negara-
dimintapun, si pelakunya juga dapat diekstradisikan oleh negara diminta, sepanjang
berdasarkan pertimbangannya, orang yang diminta itu lebih tepat diadili oleh negara-
peminta. Apalagi jika berkenaan dengan kejahatan transnasional (termasuk kejahatan
transnasional terorganisasi) yang pelaku ataupun korbannya bisa berada di wilayah
beberapa negara. Dalam kasus seperti ini, negara-diminta dapat mempertimbangkan
untuk mengabulkan permintaan untuk pengekstradisian pelakunya kepada negara-
peminta, walaupun kejahatan atau sebagian dari kejahatan terjadi di wilayahnya. Dalam
hal ini, negara-diminta dapat mengesampingkan penerapan yurisdiksi kriminalnya
yang berdasarkan asas territorial.

Berkenaan dengan penolakan negara-diminta terhadap permintaan negara-peminta


untuk pengekstradisian atas orang yang diminta yang sudah berstatus sebagai terhukum,
atas permintaan negara-peminta supaya negara-diminta mempertimbangkan
pelaksanaan hukumannya tersebut di negara-diminta (Pasal 16 ayat 12 UNTOC) juga
G A P A NA LYS I S

tidak ada di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1979 tentang Ekstradisi.

Keempatbelas, mengenai pemindahan narapidana, hingga kini belum ada satu


U NTOC

pasalpun dari Undang-Undang tentang Lembaga Pemasyarakatan (UU Nomor 12


Tahun 1995) ataupun KUHAP yang menegaskan tentang kemungkinan pemindahan
narapidana ini. Tegasnya, pemindahan dalam rangka pelaksanaan hukuman atau
sisa hukuman bagi narapidana asing yang sedang menjalani hukuman di Indonesia
52 ataupun narapidana warganegara Indonesia yang sedang menjalani hukuman atau sisa
hukumannya di negara lain, untuk dapat melaksanakan hukuman atau sisa hukumannya
di negaranya sendiri.

Oleh karena itu, kedua undang-undang tersebut di atas perlu diamendemen dengan
menambahkan satu pasal atau ayat tentang pemindahan narapidana. Atau jika
dipandang supaya landasan hukumnya lebih kuat, sebaiknya dibuat undang-undang
khusus tentang pemindahan narapidana yang substansinya dapat diselaraskan dengan
substansi dari perjanjian-perjanjian internasional bilateral atau multilateral tentang
pemindahan narapidana. Ada baiknya pula Convention on the Transfer of Sentenced
Persons antara Negara-Negara Eropa yang ditandatangani di Strasbourg pada tanggal
21 Maret 1983 dijadikan sebagai rujukannya.

Kelimabelas, tentang bantuan hukum timbal balik. Ada satu kelebihan dari
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 tentang Bantuan Hukum Timbal Balik, yakni,
ada pengaturan tentang “transit” yang memang sudah lazim dapat dijumpai di dalam
konvensi-konvensi ataupun perjanjian bilateral ataupun multilateral tentang bantuan
hukum timbal balik tetapi UNTOC sama sekali tidak mengaturnya. Kelebihan lainnya
adalah, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 mengatur tentang kemungkinan untuk
memperoleh kembali sanksi denda yang berupa uang dan tentang pengidentifikasian
dan pencarian orang.

Akan tetapi pada sisi lain, justru Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 ini masih
mengandung kekurangan jika dibandingkan dengan UNTOC, seperti, tentang

Beberapa Temuan dan Rekomendasi


pemberian informasi, hal-hal yang berkenaan dengan pembuktian dan penilaian para
ahli, tentang kewajiban untuk merahasiakan informasi yang diterima dari negara-
diminta, negara-diminta tidak boleh menolak memberikan informasi kepada negara-
peminta dengan alasan kerahasiaan bank, dan masih banyak lagi kekurangannya yang
lain. Hal-hal seperti ini sama sekali tidak dapat dijumpai di dalam Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2006.

Oleh karena hal-hal tersebut tidak saja dihadapi dalam kasus-kasus kejahatan
transnasional terorganisasi seperti diatur dalam UNTOC tetapi juga akan dihadapi
dalam kasus-kasus tindak pidana lain yang membutuhkan kerjasama bantuan hukum
timbal balik, maka ada baiknya ketentuan-ketentuan dalam UNTOC yang tidak ada atau
tidak ditemukan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 tersebut diadopsi dan
dicantumkan di dalam undang-undang tersebut. Dengan demikian, substansi Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 2006 akan menjadi lebih lengkap dan akan semakin kuatlah
eksistensinya sebagai landasan hukum dalam melakukan kerjasama bantuan hukum
timbal balik.

Keenambelas, mengenai teknik penyelidikan khusus (Pasal 20), dan pemindahan

G A P A NA LYS I S
proses pidana (Pasal 21). Dilihat secara sepintas, substansi kedua pasal ini tampak
tidak menimbulkan persoalan apapun karena sifatnya yang tergolong teknis-
operasional yang dapat dilaksanakan secara langsung berdasarkan kesepakatan untuk

U NTOC
bekerjasama antara para pihak. Akan tetapi, justru dalam penerapannya itulah terdapat
kemungkinan pelanggaran atas hak asasi manusia dari orang atau kelompok orang
yang menjadi sasarannya yang dilakukan oleh pejabat yang berwenang seperti, aparat
penegak hukum.
53
Dalam melakukan teknik penyelidikan khusus oleh pejabat yang berwenang, misalnya,
dengan penggunaan pengiriman terkendali secara tepat, penggunaan peralatan
elektronik, bentuk-bentuk pengawasan lainnya ataupun dengan operasi-operasi
rahasia (Pasal 20 ayat 1), walaupun dibenarkan menurut hukum nasional negara yang
bersangkutan, dalam prakteknya sangat rentan menimbulkan pelanggaran hak asasi
manusia dari masyarakat pada umumnya, hak asasi manusia dari orang atau kelompok
orang yang menjadi sasaran dari teknik penyelidikan khusus tersebut pada khususnya.

Demikian pula halnya dengan pemindahan proses pidana (Pasal 21), hak asasi manusia
dari orang yang bersangkutan boleh jadi akan terlanggar, misalnya, negara dimana
dia akan dipindahkan, ternyata mengancam kejahatannya itu dengan sanksi pidana
yang lebih berat atau dengan hukuman mati sedangkan di negara semula, diancam
dengan sanksi pidana yang lebih ringan atau tidak diancam dengan hukuman mati.
Bahkan dengan pemindahan itu, mengakibatkan dirinya dipisahkan dan dijauhkan
dari keluarga dan nilai-nilai sosial budaya yang selama ini dianutnya. Jika benar-
benar proses pidananya dipindahkan dan sudah tentu dia sendiri juga dipindahkan
tanpa persetujuannya, bukankah semua ini merupakan pelanggaran atas hak asasi
manusianya?

Untuk itu, kepada pejabat yang berwenang atau aparat penegak hukum dari masing-
masing pihak perlu dimintakan perhatian, supaya berhati-hati dalam penerapan
kedua pasal ini. Penerapan teknik penyelidikan khusus tetap harus dilakukan
dengan menghormati hak asasi manusia, demikian pula pemindahan proses pidana

Beberapa Temuan dan Rekomendasi


hendaknyalah dilakukan dengan terlebh dahulu meminta persetujuan dari orang yang
bersangkutan.

Ketujuhbelas, tentang gangguan terhadap proses peradilan. Hingga kini belum ada
satu undang-undang yang secara terintegrasi mengatur tentang tindak pidana yang
berupa gangguan terhadap proses peradilan (pemeriksaan di depan badan peradilan
dari yang paling rendah hingga yang tertinggi), baik yang dilakukan di luar ataupun di
dalam proses persidangan. Kalapun ada, ternyata masih tercerai-berai di sana-sini dalam
beberapa peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan
pembentukan satu undang-undang yang secara komprehensif mengatur tentang
gangguan terhadap proses peradilan ini.
G A P A NA LYS I S
U NTOC

54

Beberapa Temuan dan Rekomendasi


BAB

IV
MATRIKS
KESENJANGAN ANTARA
UNTOC DENGAN PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN
INDONESIA
MATRIKS KESENJANGAN ANTARA UNTOC DENGAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA
Draft 5 (11 Agustus 2010) 1
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

1 Pernyataan Tujuan
Tujuan Konvensi ini adalah untuk memajukan Pentingnya kerjasama untuk mencegah dan memberantas Kebijakan legislatif hukum pidana Dalam penyusunan
kerja sama untuk mencegah dan memberantas tindak pidana transnasional terorganisasi telah dijadikan Indonesia pada dasarnya telah peraturan perundang-
tindak pidana transnasional terorganisasi secara bahan pertimbangan untuk meratifikasi UNTOC menjadi mengadopsi tujuan konvensi. undangan yang baru
lebih efektif. undang-undang (Sebagaimana dimuat dalam Penjelasan agar memperhatikan
Umum Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2009). Tujuan tujuan Konvensi sehing-
Konvensi tersebut telah selaras dengan konsiderans dari ga terjadi harmonisasi
beberapa undang-undang antara lain: perundang-undangan
1. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo. Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang, dalam pertimbangan huruf d : “bahwa
pencucian uang bukan saja merupakan kejahatan
nasional tetapi juga kejahatan transnasional, oleh
karena itu harus diberantas, antara lain dengan cara
melakukan kerjasama regional atau internasional
melalui forum bilateral atau multilateral.
2. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Terorisme dalam pertimbangan :
- Huruf c : “bahwa terorisme mempunyai jaringan
yang luas sehingga merupakan ancaman terhadap
perdamaian dan keamanan nasional maupun
internasional”
- Huruf d : “bahwa pemberantasan terorisme didasar-
kan pada komitmen nasional dan internasional
dengan membentuk peraturan perundang-undangan
nasional yang mengacu pada konvensi internasional
dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan terorisme.
3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang
Narkotika, dalam pertimbangan huruf e ; bahwa tindak
pidana narkotika telah bersifat transnasional yang

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
57
58
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 2


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

dilakukan dengan menggunakan modus operandi yang


tinggi, teknologi canggih, didukung oleh jaringan
organisasi yang luas dan sudah banyak menimbulkan
korban, terutama di kalangan generasi muda bangsa
yang sangat membahayakan kehidupan masyarakat,
bangsa dan negara sehingga Undang-Undang Nomor 22
Tahun 1997 Tentang Narkotika sudah tidak sesuai
dengan perkembangan situasi dan kondisi yang
berkembang untuk menanggulangi dan memberantas
tindak pidana tersebut.

2 Pemakaian Istilah
Untuk tujuan Konvensi ini:
a) “Kelompok pelaku tindak pidana terorganisasi” Belum ada padanan istilah tersebut dalam rumusan Peraturan Pemerintah Pengganti Istilah kelompok orang Perlu dilakukan inventa-
berarti suatu kelompok terstruktur yang perundang-undangan Indonesia namun ada beberapa Undang-Undang Nomor 15 Tahun berbeda dengan korpo- risasi dan pembakuan
terdiri dari tiga orang atau lebih, terbentuk ketentuan yang menyerupai rumusan tersebut antara lain : 2003 tentang Pemberantasan rasi. Kelompok orang istilah-istilah yang digu-
dalam satu periode waktu dan bertindak 1. KUHP, Pasal 169 antara lain: mengancam dengan Tindak Pidana Terorisme tidak tidak dibentuk dalam nakan dalam hukum
secara terpadu dengan tujuan untuk sanksi pidana penjara 6 tahun bila turut campur dalam memberikan penjelasan lebih suatu ikatan formal, pidana Indonesia dalam
melakukan satu tindak pidana serius atau perkumpulan yang bermaksud melakukan kejahatan lanjut tentang apa yang dimak- misalnya penganut tindak pidana trans-
pelanggaran atau lebih yang ditetapkan 2. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang sud dengan “kelompok orang” aliran atau ideologi nasional yang terorga-
menurut Konvensi ini, untuk mendapatkan, Narkotika mendefinisikan Kejahatan Terorganisasi dan tidak mengatur pertanggung- tertentu. Korporasi di- nisasi.
secara langsung atau tidak langsung, adalah kejahatan yang dilakukan oleh suatu kelompok jawaban pidana serta ancaman bentuk melalui suatu

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


keuntungan keuangan atau materi lainnya; yang terstruktur yang terdiri atas 3 (tiga) orang atau pidana terhadap subyek hukum ikatan formal.
lebih yang telah ada untuk suatu waktu tertentu dan “kelompok orang”. Selain itu
bertindak bersama dengan tujuan melakukan suatu Perpu ini juga tidak mengatur
tindak pidana Narkotika. tindak pidana tambahan seperti
3. Istilah “kelompok orang” berasal dari definisi/ kewenangan hakim untuk men-
pengertian “setiap orang” sebagai subyek hukum jatuhkan putusan berupa pem-
tindak pidana terorisme yang diatur dalam Pasal 1 bubaran dan pelarangan “kelom-
angka (2) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- pok orang” pelaku tindak pidana.
Undang Nomor 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Ketentuan dalam KUHP hanya
Pidana Terorisme yang berbunyi : “setiap orang adalah mengatur secara umum tanpa
Draft 5 (11 Agustus 2010) 3
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

orang perorangan, kelompok orang baik sipil, militer menetapkan kriteria yang jelas
maupun yang bertanggung jawab secara individual, apa yang dimaksud dengan
atau korporasi”. perkumpulan yang bermaksud
Secara teoritis, pengertian tindak pidana terorganisasi melakukan kejahatan. Akan te-
membedakan antara kejahatan terorganisasi (organized tapi secara tersirat dapat disim-
crime) dan kejahatan oleh organisasi. pulkan bahwa di sini yang
Kejahatan terorganisasi dimaksudkan sebagai kejahatan menjadi fokus perhatian adalah
yang diselenggarakan melalui organisasi kriminal yang adanya perkumpulan yang ber-
mengacu kepada suatu organisasi rahasia seperti mafia. tujuan melakukan kejahatan. Jadi
Sedangkan kejahatan oleh organisasi termasuk di dalamnya yang dipermasalahkan bukanlah
kejahatan korporasi yang merupakan bagian dari kejahatan penyertaan dalam tindak pidana.
kerah putih. Kejahatan oleh organisasi pada umumnya
diidentikkan dengan organisasi dagang atau bisnis.

b) “Tindak pidana serius” berarti tindakan yang Tidak ada undang-undang yang secara khusus Walaupun tidak ada terminologi
merupakan suatu tindak pidana yang dapat menyebutkan klasifikasi tindak pidana serius. khusus, tetapi dari beberapa
dihukum dengan maksimum penghilangan ketentuan hukum acara,
kemerdekaan paling kurang empat tahun misalnya ketentuan tentang
atau sanksi yang lebih berat; penahanan (Pasal 20 KUHAP)
dapat diketahui secara tersirat
bahwa tindak pidana serius
adalah tindak pidana yang
diancam pidana penjara 5 tahun
atau lebih. Demikian juga dalam
ketentuan tentang bantuan
hukum (Pasal 56 ayat (1)
KUHAP) dikatakan bahwa bila
tersangka atau terdakwa yang
diancam pidana penjara lima
tahun atau lebih yang tidak
mempunyai penasihat hukum
sendiri, maka pejabat yang
bersangkutan pada semua

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
59
60
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 4


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

tingkat pemeriksaan dalam


proses peradilan wajib menunjuk
penasehat hukum bagi mereka.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun


2003 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang Pasal 2 butir y
menyatakan bahwa Hasil Tindak
Pidana adalah Harta Kekayaan
yang diperoleh dari tindak pidana
lainnya yang diancam dengan
pidana penjara 4 (empat) tahun
atau lebih, yang dilakukan di
wilayah Negara Republik
Indonesia atau di luar wilayah
Negara Republik Indonesia dan
tindak pidana tersebut juga
merupakan tindak pidana
menurut hukum Indonesia.

c) “Kelompok terstruktur” berarti suatu kelompok Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Huruf (a) dan huruf (c)
yang tidak secara acak dibentuk untuk mendefinisikan Kejahatan Terorganisasi adalah kejahatan Ketentuan dalam KUHP hanya

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


melakukan tindak pidana dengan segera dan yang dilakukan oleh suatu kelompok yang terstruktur yang mengatur secara umum tanpa
tidak perlu memiliki peran yang ditetapkan terdiri atas 3 (tiga) orang atau lebih yang telah ada untuk menetapkan kriteria yang jelas
secara formal bagi para anggotanya, suatu waktu tertentu dan bertindak bersama dengan tujuan apa yang dimaksud dengan
kesinambungan dari keanggotaannya melakukan suatu tindak pidana Narkotika perkumpulan yang bermaksud
maupun suatu struktur yang jelas; melakukan kejahatan. Akan
tetapi secara tersirat dapat
disimpulkan bahwa di sini yang
menjadi fokus perhatian adalah
adanya perkumpulan yang
bertujuan melakukan kejahatan.
Jadi yang dipermasalahkan
Draft 5 (11 Agustus 2010) 5
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

bukanlah penyertaan dalam


tindak pidana.

Dalam Undang-Undang Nomor 35


Tahun 2009 tidak ada terminologi
Kelompok Pelaku tindak pidana
terorganisasi, tetapi yang ada
adalah kelompok terstruktur.
Tidak ada penjelasan lebih lanjut
apa yang dimaksud dengan
kelompok terstruktur. Padahal
dalam UNTOC ada ciri khusus
untuk kelompok terstruktur yang
melakukan tindak pidana
terorganisasi ini.

d) “Kekayaan” berarti aset berbentuk apapun, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak
baik berbentuk atau tidak berbentuk, Pidana Pencucian Uang Pasal 1 butir 4 mendefinisikan Harta
bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau Kekayaan adalah semua benda bergerak atau benda tidak
tidak berwujud, dan dokumen atau instrumen bergerak, baik yang berwujud maupun yang tidak
hukum yang membuktikan hak atas, atau berwujud.
kepentingan terhadap, asset tersebut;

e) “Hasil tindak pidana” berarti setiap kekayaan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak
berasal dari atau diperoleh, secara langsung Pidana Pencucian Uang Pasal 2:
atau tidak langsung, melalui pelaksanaan Ayat (1):
suatu tindak pidana; Hasil tindak pidana adalah Harta Kekayaan yang diperoleh
dari tindak pidana:
a. korupsi;
b. penyuapan;
c. penyelundupan barang;
d. penyelundupan tenaga kerja;
e. penyelundupan imigran;

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
61
62
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 6


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

f. di bidang perbankan;
g. di bidang pasar modal;
h. di bidang asuransi;
i. narkotika;
j. psikotropika;
k. perdagangan manusia;
l. perdagangan senjata gelap;
m. penculikan;
n. terorisme;
o. pencurian;
p. penggelapan;
q. penipuan;
r. pemalsuan uang;
s. perjudian;
t. prostitusi;
u. di bidang perpajakan;
v. di bidang kehutanan;
w. di bidang lingkungan hidup;
x. di bidang kelautan; atau
y. tindak pidana lainnya yang diancam dengan pidana
penjara 4 (empat) tahun atau lebih, yang dilakukan di
wilayah Negara Republik Indonesia atau di luar wilayah

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


Negara Republik Indonesia dan tindak pidana tersebut juga
merupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia.
Ayat (2):
Harta Kekayaan yang dipergunakan secara langsung atau
tidak langsung untuk kegiatan terorisme dipersamakan
sebagai hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf n.

f) “Pembekuan” atau “penyitaan” berarti Hukum Acara Pidana Indonesia, membedakan pengertian Istilah pembekuan (freezing)
pelarangan sementara pemindahan, konversi, penyitaan dan pemblokiran. Istilah/pengertian penyitaan dapat diartikan sebagai pem-
pelepasan atau perpindahan kekayaan, atau diatur dalam Pasal 1 angka 16 KUHAP, tetapi istilah blokiran yang memiliki penger-
Draft 5 (11 Agustus 2010) 7
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

menerima penjagaan atau pengawasan pemblokiran ada dalam perundang-undangan lainnya, tian, tata cara pelaksanaan dan
kekayaan secara sementara berdasarkan tanpa diberi penjelasan tentang pengertiannya, misal Pasal akibat hukum yang berbeda
suatu perintah yang dikeluarkan oleh 32 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo. Undang- dengan pengertian “penyitaan”
pengadilan atau badan berwenang lainnya; Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana (seizure). Pemblokiran memiliki
Pencucian Uang, Pasal 29 ayat (4) Undang-Undang Nomor pengertian bahwa barang yang
31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 diblokir “belum” berada dalam
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun penguasaan negara (penyidik/
1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. penuntut umum), tata cara
pemblokiran tanpa ijin/persetu-
Penyitaan menurut KUHAP Pasal 1 butir 16: Serangkaian juan hakim. Penyitaan berarti
tindakan penyidik untuk mengambil alih dan atau barang dilepaskan sementara dari
menyimpan di bawah penguasaannya benda bergerak atau penguasaan pemegang barang,
benda tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud untuk dan tata cara pelaksanaan harus
kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan dan melalui ijin/persetujuan hakim.
pengadilan.

Pemblokiran menurut Undang-Undang Nomor 15 Tahun


2002 Pasal 32 ayat (1) : Penyidik, penuntut umum, atau
hakim berwenang memerintahkan kepada Penyedia Jasa
Keuangan untuk melakukan pemblokiran terhadap Harta
Kekayaan setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK
kepada penyidik, tersangka, atau terdakwa yang diketahui
atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana.

g) “Perampasan” yang meliputi perampasan KUHP Pasal 10 b, butir 2: menyebutkan perampasan


bilamana dapat diberlakukan, berarti barang-barang tertentu sebagai salah satu bentuk pidana
pencabutan permanen atas kekayaan dengan tambahan
perintah pengadilan atau badan berwenang Pasal 39 ayat (1) : Barang-barang kepunyaan terpidana
lainnya; yang diperoleh dari kejahatan atau yang sengaja
dipergunakan untuk melakukan kejahatan, dapat dirampas.

h) “Tindak pidana asal” berarti setiap tindak Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 Pasal 2 ayat (1):

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
63
64
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 8


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

pidana yang mana hasil-hasil yang Hasil tindak pidana adalah Harta Kekayaan yang diperoleh
diperolehnya dapat menjadi subjek dari suatu dari tindak pidana:
tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam a. korupsi;
Pasal 6 Konvensi ini; b. penyuapan;
c. penyelundupan barang;
d. penyelundupan tenaga kerja;
e. penyelundupan imigran;
f. di bidang perbankan;
g. di bidang pasar modal;
h. di bidang asuransi;
i. narkotika;
j. psikotropika;
k. perdagangan manusia;
l. perdagangan senjata gelap;
m. penculikan;
n. terorisme;
o. pencurian;
p. penggelapan;
q. penipuan;
r. pemalsuan uang;
s. perjudian;
t. prostitusi;

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


u. di bidang perpajakan;
v. di bidang kehutanan;
w. di bidang lingkungan hidup;
x. di bidang kelautan; atau
y. tindak pidana lainnya yang diancam dengan pidana
penjara 4 (empat) tahun atau lebih, yang dilakukan di
wilayah Negara Republik Indonesia atau di luar wilayah
Negara Republik Indonesia dan tindak pidanatersebut juga
merupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia.

i) “Pengiriman terkendali” berarti cara untuk


Draft 5 (11 Agustus 2010) 9
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

memungkinkan kiriman yang tidak sah atau


mencurigakan ke luar dari, melalui atau ke
dalam wilayah satu atau lebih Negara,
dengan sepengetahuan dan di bawah
pengawasan badan berwenang mereka,
untuk keperluan penyidikan suatu tindak
pidana dan identifikasi orang-orang yang
terlibat dalam pelaksanaan tindak pidana;

j) “Organisasi regional integrasi ekonomi” berarti


suatu organisasi yang dibentuk oleh Negara-
negara berdaulat dalam suatu wilayah, yang
Negara-negara Pihaknya telah menyerahkan
kompetensinya dalam hal-hal yang diatur
dalam Konvensi ini dan yang telah diberikan
kuasa, menurut prosedur internalnya, untuk
menandatangani, mengesahkan, menerima,
menyetujui atau mengikat; referensi
“Negara-negara Pihak” dalam Konvensi ini
berlaku pada organisasi-organisasi tersebut
dalam batas-batas kewenangan mereka.

3 1. Konvensi ini berlaku kecuali jika dinyatakan Mengenai kejahatan atau tindak Walaupun beberapa Jika substansi Konvensi
lain, terhadap pencegahan, penyelidikan, dan pidana yang termasuk dalam jenis kejahatan atau ini ditransformasikan ke
penuntutan atas: ruang lingkup dari Pasal 3 tindak pidana yang dalam hukum pidana
(a) Tindak pidana yang ditetapkan menurut Konvensi ini dapat dipandang tercakup dalam Pasal 3 nasional Indonesia, perlu
Pasal 5, 6, 8 dan 23 dari Konvensi sebagai substansi yang baru yang Konvensi ini sudah dipertimbangkan apakah
(b) Tindak pidana serius seperti yang sebenarnya mencakup jenis-jenis diatur di dalam hukum pengaturannya
ditetapkan dalam Pasal 2 huruf (b) tindak pidana yang sudah dikenal pidana Indonesia, na- diintegrasikan ke dalam
Konvensi ini, yakni: di dalam hukum pidana mun karena substansi KUHP ataukah diatur di
“serious crime” shall mean conduct Indonesia. Pasal 3 Konvensi ini dalam undang-undang
constituting an offence punishable by a Dikatakan baru karena berkenaan ada yang mengandung tersendiri di luar KUHP.
maximum deprivation of liberty of at least dengan tindak pidana (nasional kebaharuan dan ada Perlu dipikirkan dan di-

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
65
66
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 10


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

four years or a more serious penalty. dan transnasional) yang yang mencakup berba- kaji secara lebih men-
2. Tindak pidana serius tersebut merupakan terorganisasi. gai macam kejahatan dalam tentang pemben-
tindak pidana yang pada dasarnya bersifat Dikatakan lama, karena pada atau tindak pidana tukan Undang-Undang
transnasional dan melibatkan suatu umumnya mencakup hampir (kejahatan serius), tentang Tindak Pidana
kelompok penjahat terorganisasi. semua tindak pidana yang diatur maka perlu dipertim- Terorganisasi yang sub-
dalam KUHP ataupun di luar bangkan pembentukan stansinya mencakup
KUHP. undang-undang ten- nasional dan trans-
Pasal 3 ayat (1) Konvensi ini tang kejahatan trans- nasional serta selaras
mencakup kejahatan transna- nasional terorganisasi dengan ketentuan Kon-
sional terorganisasi untuk jenis yang substansinya vensi ini.
kejahatan pada Pasal 5, Pasal 6, mencakup baik yang
Pasal 8 dan Pasal 23 dan semata-mata domestik
kejahatan serius maupun transnasional.

4 Perlindungan Kedaulatan
1. Negara-negara Pihak wajib melaksanakan Ketentuan Pasal 2 sampai Pasal 9 KUHP yang memuat Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2)
kewajiban-kewajiban mereka berdasarkan asas-asas berlakunya hukum pidana Indonesia sudah Konvensi tentang perlindungan
prinsip-prinsip kedaulatan yang sejajar dan sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional moderen kedaulatan ini bersifat deklaratif,
integritas wilayah Negara-negara dan prinsip seperti ditegaskan dalam pasal 4 ayat (1) dan ayat (2) yakni menyatakan sesuatu yang
tidak melakukan intervensi terhadap masalah Konvensi. sebenarnya memang sudah de-
dalam negeri negara-negara lain. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Perubahan mikian adanya. Tanpa dinyatakan
2. Tidak ada dalam Konvensi ini yang Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang secara tegaspun negara-negara

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


memberikan hak kepada suatu Negara Pihak Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dalam Pasal 3 dan di dalam hubungan-hubungan
untuk mengambil tindakan dalam wilayah Pasal 4 mengatur menyimpangan dari pada asas ini internasional memang harus
Negara Pihak lainnya untuk menerapkan berdasarkan asas resiprositas. bertindak demikian karena semua
yurisdiksi dan melaksanakan fungsi-fungsi negara di dunia ini berkedudukan
yang hanya dimiliki oleh pejabat berwenang sama derajat dan harus saling
Negara Pihak lain berdasarkan hukum menghormati kedaulatan dan
nasionalnya. kemerdekaan masing-masing
atau tidak boleh melakukan
intervensi. Ini sudah merupakan
prinsip umum dari hukum
internasional moderen. Namun
Draft 5 (11 Agustus 2010) 11
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

dalam prakteknya tidak semua


negara menaati prinsip ini. Oleh
karena itu Pasal 4 ayat (1) dan
ayat (2) Konvensi ini harus
dipandang sebagai peringatan
terhadap negara-negara pihak
dalam UNTOC supaya dalam
pencegahan dan pemberantasan
kejahatan transnasional terorga-
nisasi harus tetap menghormati
dan melindungi kedaulatan se-
sama negara.

5 Kriminalisasi atas partisipasi dalam


Kelompok Pelaku Tindak Pidana
Terorganisasi
1. Setiap Negara Pihak wajib mengambil Ketentuan semacam ini diatur dalam Bab V (Pasal 55 Penafsiran terhadap ketentuan Ajaran penyertaan - Ketentuan Pasal 5
tindakan legislatif dan lainnya yang dianggap sampai dengan Pasal 62) KUHP tentang penyertaan penyertaan dalam KUHP atau (deelneming) dalam Konvensi perlu diru-
perlu untuk menetapkan sebagai tindak (deelneming) dan Pasal 88 KUHP tentang permufakatan perundang-undangan pidana KUHP sudah tidak muskan sebagi per-
pidana, apabila dilakukan secara sengaja : jahat serta dalam perundang-undangan pidana lainnya Indonesia tidak seluas yang sesuai dengan perkem- luasan penyertaan da-
(a) Salah satu atau kedua dari hal berikut seperti Pasal 13 sampai dengan Pasal 16 Peraturan dimaksud Pasal 5 Konvensi. bangan tindak pidana. lam hukum pidana
sebagai tindak pidana yang berbeda dari Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun Penafsiran dalam perundang- Bab V Buku I KUHP Indonesia.
mereka yang terlibat percobaan atau 2002 jo. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang undangan pidana Indonesia pada (Pasal 55 sampai - Perlu dirinci dalam
pemenuhan tindak pidana; Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. umumnya memandang dengan Pasal 60) dan perundang-undangan
(i) setuju dengan satu atau lebih orang Partisipasi dalam tindak pidana serius, menurut penyertaan dalam tindak pidana Pasal 88 KUHP, tentang materi dari
lain untuk melakukan tindak pidana perundang-undangan pidana Indonesia masih merujuk jika terlibat langsung dalam pengertian istilah tindak pidana serius
serius dengan tujuan yang pada ketentuan umum hukum pidana tentang penyertaan perbuatan material. permufakatan jahat yang terorganisasi.
berhubungan langsung atau tidak (deelneming), antara lain Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Ketentuan tentang penyertaan sudah tidak sesuai lagi Bentuk-bentuk
langsung dalam memperoleh tentang turut serta melakukan tindak pidana (medeplegen), dalam KUHP, antara lain turut untuk diterapkan da- penyertaan
keuntungan keuangan atau materi Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP tentang menganjurkan untuk serta (medeplegen), lam tindak pidana (deelneming) dan per-
lainnya dan, jika dipersyaratkan oleh melakukan tindak pidana (uitlokken), ataupun Pasal 88 menganjurkan (uitlokken) terorganisasi. mufakatan jahat dalam
undang-undang nasional, melibatkan KUHP tentang permufakatan jahat. maupun permufakatan jahat KUHP maupun penger-
suatu tindakan yang dilakukan oleh Hanya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang masih memiliki pengertian atau tian istilah dalam KUHP

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
67
68
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 12


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

salah satu dari para peserta dalam Nomor 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 15 Tahun penafsiran yang sempit yang perlu dirumuskan kem-
mendorong kesepakatan atau 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dihubungkan dengan tindakan bali.
melibatkan kelompok penjahat sedikit memperluas bentuk-bentuk penyertaan tersebut konkrit dalam pelaksanaan tindak Perlu ada undang-
terorganisasi; dengan menggunakan istilah pembantuan atau kemudahan pidana atau masih menentukan undang tersendiri ten-
(ii) dilakukan oleh seseorang yang, (Pasal 13), merencanakan dan/atau menggerakkan (Pasal syarat-syarat yang sangat ter- tang tindak pidana
dengan sepengetahuan atas tujuan 14). batas (dengan istilah memberi transnasional
dan kegiatan kriminal dari suatu Pasal 1 butir 18 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 atau menjanjikan sesuatu, terorganisasi mengingat
kelompok penjahat terorganisasi atau memberikan definisi permufakatan jahat yang lebih luas dengan menyalahgunakan kekua- ada aspek khusus bila
niat untuk melakukan tindak pidana dari pada ketentuan yang ada dalam KUHP Pasal 88. saan atau martabat, dengan diatur sendiri-sendiri
tersebut, mengambil peran aktif Permufakatan jahat adalah perbuatan dua orang atau lebih kekerasan, ancaman atau penye- akan menyebabkan keti-
dalam: yang bersekongkol atau bersepakat untuk melakukan, satan, atau dengan memberi dakpastian hukum.
a. kegiatan kriminal dari kelompok melaksanakan, membantu, turut serta melakukan, kesempatan, sarana atau
penjahat terorganisasi; menyuruh, menganjurkan, memfasilitasi, memberi keterangan sebagaimana diru-
b. kegiatan-kegiatan lain dari konsultasi, menjadi anggota suatu organisasi kejahatan muskan dalam Pasal 55 ayat (1)
kelompok penjahat terorganisasi narkotika, atau mengorganisasikan suatu tindak pidana ke-2 KUHP) untuk terwujudnya
dengan sepengetahuan bahwa narkotika. tindak pidana. Demikian pula
partisipasinya akan membantu istilah permufakatan yang
tercapainya tujuan tindak pidana diartikan sebagai dua orang atau
sebagaimana diuraikan di atas. lebih sepakat akan melakukan
(b) Mengorganisasikan, mengarahkan, kejahatan (Pasal 88 KUHP) masih
membantu, bersekongkol, memfasilitasi memiliki pengertian yang sempit
atau membimbing terjadinya tindak dibandingkan dengan pengertian

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


pidana serius dengan melibatkan partisipasi dalam Pasal 5
kelompok penjahat terorganisasi. Konvensi
2. Pengetahuan, niat, maksud, tujuan atau Pasal 5 Konvensi sudah diadopsi
persetujuan yang mengacu kepada ayat 1 dalam Undang-Undang Nomor 35
Pasal ini dapat didasarkan pada keadaan- Tahun 2009 tentang Narkotika.
keadaan faktual yang obyektif.
3. Negara-negara Pihak yang undang-undang
nasionalnya mensyaratkan keterlibatan suatu
kelompok penjahat terorganisasi untuk
tujuan-tujuan tindak pidana sebagaimana
ditetapkan menurut ayat (1) (a) (i) dari Pasal
Draft 5 (11 Agustus 2010) 13
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

ini wajib menjamin bahwa undang-undang


nasional mereka mencakup seluruh tindak
pidana serius yang melibatkan kelompok
penjahat terorganisasi. Negara-negara Pihak
tersebut, termasuk Negara-negara Pihak
yang undang-undang nasionalnya
mensyaratkan suatu tindakan dalam
membantu persetujuan untuk tujuan-tujuan
tindak pidana yang ditetapkan menurut ayat
(1) (a) (i) dari pasal ini, wajib memberitahu
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-
Bangsa pada saat mereka menandatangani
atau pada saat mereka menyerahkan
instrumen ratifikasi, penerimaan, persetujuan
ataupun aksesi terhadap Konvensi ini.

6 Kriminalisasi atas Pencucian Hasil Tindak Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo. Undang-Undang
Pidana Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian
1. Setiap Negara Pihak wajib membentuk, Uang dalam Pasal 3 sampai dengan Pasal 6 yang Undang-Undang No-
sesuai dengan prinsip-prinsip dasar undang- merumuskan perbuatan pemindahan kekayaan dengan mor 15 Tahun 2002 jo.
undang nasionalnya, peraturan dan upaya maksud menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Undang-Undang No-
lainnya yang mungkin diperlukan untuk harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga mor 25 Tahun 2003
menetapkan sebagai tindak pidana, apabila merupakan hasil tindak pidana sebagai tindak pidana tentang Tindak Pidana
dilakukan secara sengaja: pencucian uang. Pencucian Uang se-
(a) (i) Konversi atau pemindahan kekayaan, 1. a. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 Pasal 3 dang dalam rencana
dengan mengetahui bahwa kekayaan Ayat (1) Setiap orang yang dengan sengaja: diubah dengan Un-
tersebut merupakan hasil tindak a. menempatkan Harta Kekayaan yang diketahuinya atau dang-Undang baru
pidana, untuk tujuan menyembunyi- patut diduganya merupakan hasil tindak pidana ke dalam yang kini sedang di-
kan atau menyamarkan asal kekayaan Penyedia Jasa Keuangan, baik atas nama sendiri atau bahas RUU nya di DPR.
yang tidak sah atau membantu atas nama pihak lain; Indonesia sudah me-
seseorang yang terlibat dalam b. mentransfer Harta Kekayaan yang diketahuinya atau miliki Undang-Undang
pelaksanaan tindak pidana asal untuk patut diduganya merupakan hasil tindak pidana dari Nomor 15 Tahun 2002
menghindari akibat hukum dari suatu Penyedia Jasa Keuangan ke Penyedia Jasa tentang Tindak Pidana

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
69
70
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 14


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

tindakannya; Keuangan yang lain, baik atas nama sendiri maupun atas Pencucian Uang maka
(ii) Penyembunyian atau penyamaran nama pihak lain; dapat dikatakan apa
atas sifat dasar, sumber, lokasi, c. membayarkan atau membelanjakan Harta Kekayaan yang diamanatkan da-
pelepasan, pemindahan atau kepe- yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil lam Pasal 6 Konvensi
milikan dari atau hak atas kekayaan tindak pidana, baik perbuatan itu atas namanya sendiri ini sudah terjawab.
tersebut, dengan mengetahui bahwa maupun atas nama pihak lain; Mungkin unsur-unsur
kekayaan tersebut adalah hasil tindak d. menghibahkan atau menyumbangkan Harta Kekayaan yang ditentukan dalam
pidana; yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil Pasal 6 perlu diperban-
(b) Tunduk pada konsep dasar sistem tindak pidana, baik atas namanya sendiri maupun atas dingkan dengan unsur-
hukumnya: nama pihak lain; unsur yang ditentukan
i) Perolehan, penguasaan atau e. menitipkan Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut dalam undang-undang
penggunaan kekayaan, dengan diduganya merupakan hasil tindak pidana, baik atas ini.
mengetahui, pada saat penerimaan, namanya sendiri maupun atas nama pihak lain;
bahwa kekayaan tersebut merupakan f. membawa ke luar negeri Harta Kekayaan yang
hasil tindak pidana; diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil
ii) Partisipasi, bekerja sama atau tindak pidana; atau
konspirasi untuk melakukan, mencoba g. menukarkan atau perbuatan lainnya atas Harta Kekayaan
untuk melakukan dan membantu, yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil
bersekongkol, memfasilitasi dan tindak pidana dengan mata uang atau surat berharga
membimbing pelaksanaan setiap lainnya, dengan maksud menyembunyikan atau
tindak pidana yang ditetapkan menyamarkan asal usul Harta Kekayaan yang
menurut Pasal ini. diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


tindak pidana, dipidana karena tindak pidana pencucian
uang dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima)
tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda
paling sedikit Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
dan paling banyak Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas
milyar rupiah).
4. Ketentuan Pasal 6 ayat (1) diubah, sehingga berbunyi
sebagai berikut:
(1) Setiap orang yang menerima atau menguasai:
a. penempatan;
b. pentransferan;
Draft 5 (11 Agustus 2010) 15
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

c. pembayaran;
d. hibah;
e. sumbangan;
f. penitipan; atau
g. penukaran, Harta Kekayaan yang diketahuinya
atau patut diduganya merupakan hasil tindak
pidana, dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun dan denda paling sedikit Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp 15.000.000.000,00 (lima belas milyar
rupiah).
5. Ketentuan Pasal 9 diubah, sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Setiap orang yang tidak melaporkan uang tunai berupa
rupiah sejumlah Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
atau lebih atau mata uang asing yang nilainya setara
dengan itu yang dibawa ke dalam atau ke luar wilayah
Negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana
denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta
rupiah) dan paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus
juta rupiah).

2. Untuk tujuan melaksanakan atau menerapkan Ayat (2)


ayat 1 dari Pasal ini : Tindak pidana asal telah dirumuskan dalam Pasal 2 ayat (1)
a) Setiap Negara Pihak wajib berusaha sebanyak 25 tindak pidana :
menerapkan ayat (1) dari Pasal ini hingga a. korupsi;
jangkauan terluas dari tindak pidana asal. b. penyuapan;
b) Setiap Negara Pihak wajib memasukkan c. penyelundupan barang;
sebagai tindak pidana asal semua tindak d. penyelundupan tenaga kerja;
pidana serius sebagaimana diatur dalam e. penyelundupan imigran;
Pasal 2 Konvensi ini dan tindak pidana f. di bidang perbankan;
yang ditetapkan berdasarkan Pasal 5, g. di bidang pasar modal;

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
71
72
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 16


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

Pasal 8 dan Pasal 23 dari Konvensi ini. h. di bidang asuransi;


Dalam hal Negara-negara Pihak yang i. narkotika;
peraturannya menjabarkan daftar dari j. psikotropika;
tindak pidana asal tertentu, mereka k. perdagangan manusia;
wajib, paling sedikit, memasukkan dalam l. perdagangan senjata gelap;
daftar tersebut suatu aturan menyeluruh m. penculikan;
atas tindak pidana yang melibatkan n. terorisme;
kelompok penjahat yang terorganisasi. o. pencurian;
c) Untuk tujuan dari sub-ayat (b), tindak p. penggelapan;
pidana asal wajib memasukkan tindak q. penipuan;
pidana yang dilakukan baik di dalam r. pemalsuan uang;
maupun di luar jurisdiksi Negara Pihak s. perjudian;
yang bersangkutan. Namun, tindak t. prostitusi;
pidana yang dilakukan di luar jurisdiksi u. di bidang perpajakan;
suatu Negara Pihak wajib menjadi tindak v. di bidang kehutanan;
pidana asal hanya apabila dilakukan dan w. di bidang lingkungan hidup;
merupakan tindak pidana berdasarkan x. di bidang kelautan; atau
hukum nasional dari Negara Pihak yang y. tindak pidana lainnya yang diancam dengan pidana
melaksanakan atau menerapkan Pasal ini, penjara 4 (empat) tahun atau lebih, yang dilakukan di
apabila tindak pidana tersebut wilayah Negara Republik Indonesia atau di luar wilayah
dilaksanakan di sana. Negara Republik Indonesia dan tindak pidana tersebut
d) Setiap Negara Pihak wajib menyediakan juga merupakan tindak pidana menurut hukum

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


salinan dari undang-undangnya yang Indonesia.
menerapkan pasal ini dan setiap Ketentuan Pasal 6 ayat (2) huruf e Konvensi diadopsi dalam
perubahan dari undang-undang tersebut Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15
atau penjelasannya kepada Sekretaris Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003
Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa; yang menganut asas kriminalitas ganda (double criminality)
e) Apabila disyaratkan oleh prinsip-prinsip yaitu bahwa perbuatan yang dilakukan di luar wilayah
dasar hukum nasional dari suatu Negara negara Republik Indonesia dipandang sebagai tindak pidana
Pihak, dapat diatur bahwa tindak pidana menurut hukum di negara yang bersangkutan, dan menurut
yang ditetapkan dalam ayat 1 Pasal ini hukum Indonesia juga merupakan tindak pidana.
tidak berlaku pada orang-orang yang
melakukan tindak pidana asal;
Draft 5 (11 Agustus 2010) 17
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

f) Pengetahuan, niat atau tujuan yang


dipersyaratkan sebagai unsur suatu
tindak pidana yang ditetapkan dalam ayat
1 Pasal ini dapat didasarkan pada
keadaan faktual yang obyektif.

7 Upaya Memberantas Pencucian Uang


1. Setiap Negara Pihak : Ayat (1) huruf a dan huruf b Konvensi Ayat (1) huruf a dan huruf b Kewajiban penyedia Perlu dipikirkan adanya
(a) Wajib membentuk rejim pengatur dan Rezim anti pencucian uang Indonesia dibangun dengan Konvensi jasa keuangan untuk sanksi terhadap penye-
pengawas domestik yang menyeluruh melibatkan berbagai komponen, sebagaimana diatur dalam Pihak regulator penyedia jasa melaporkan transaksi dia jasa keuangan yang
atas bank-bank dan institusi keuangan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo. Undang-Undang keuangan telah menetapkan mencurigakan kepada tidak mentaati pelaporan
bukan bank dan, bilamana perlu, badan- Nomor 25 Tahun 2003, yaitu : peraturan agar pihak penyedia PPATK tidak diikuti transaksi mencurigakan,
badan lain yang rentan terhadap 1) Penyedia jasa keuangan sebagai pihak pelapor transaksi jasa keuangan menerapkan dengan sanksi yang dan penjatuhan sanksi-
pencucian uang, dalam kewenangannya, mencurigakan yang terdiri dari bank, perusahaan prinsip mengenal nasabah, dapat dijatuhkan oleh nya tanpa mengganggu
untuk menangkal dan mendeteksi segala sekuritas, perusahaan asuransi, perusahaan dana antara lain Peraturan Bank PPATK kepada penye- kepercayaan masyarakat
bentuk pencucian uang, di mana rejim pensiun dan penyedia jasa keuangan lainnya seperti Indonesia Nomor 3/10/PBI/2001 dia jasa keuangan. terhadap bank penyedia
tersebut wajib menekankan persyaratan pedagang valuta asing, usaha jasa pengiriman uang. tanggal 18 Juni 2001, Keputusan PPATK hanya melapor- jasa keuangan.
atas identifikasi nasabah, catatan 2) Pihak pengatur (regulator) yang terdiri dari Bank Menteri Keuangan Republik kan penyedia jasa Supaya diperhatikan ke-
pembukuan dan pelaporan transaksi Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal, Menteri Indonesia Nomor 45/KMK.06/ keuangan yang tidak tentuan Pasal 7 ayat (4)
mencurigakan. Keuangan. 2003 tanggal 30 Januari 2003 melaporkan transaksi Konvensi yang mewajib-
(b) Wajib, tanpa mengenyampingkan Pasal 3) Lembaga Intelejen Keuangan yaitu Pusat Pelaporan tentang Penerapan Prinsip keuangan kan negara-negara pe-
18 dan Pasal 27 dari Konvensi ini, Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Mengenal Nasabah bagi Lembaga mencurigakan kepada serta Konvensi untuk be-
menjamin bahwa aparat administrasi, 4) Penegak hukum, seperti Kepolisian, Kejaksaan, Keuangan Non Bank, Keputusan pihak pengatur (regu- kerjasama baik dalam
pengatur, penegak hukum, dan aparat Pengadilan, KPK. Ketua Badan Pengawas Pasar lator). Hal ini dapat skala global, regional
lain yang ditugaskan untuk memberantas 5) Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Modal Nomor : Kep-02/PM/2003 mempengaruhi efek- atau sub-regional.
pencucian uang (meliputi, apabila sesuai Pemberantasan Tindak Pencucian Uang yang dipimpin tanggal 15 Januari 2003 tentang tifitas wewenang
dengan undang-undang nasional, oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Prinsip Mengenal Nasabah, PPATK dalam melaku-
kekuasaan kehakiman) memiliki yang bertugas terutama mengkoordinasikan upaya Peraturan Bank Indonesia Nomor kan pengawasan.
kemampuan untuk bekerjasama dan penanganan pencegahan dan pemberantasan tindak 6/1/PBI/2004 tanggal 6 Januari
saling tukar informasi pada tingkat pidana pencucian uang. 2004 tentang Pedagang Valuta
nasional dan internasional, dalam kondisi Asing.
yang disyaratkan oleh undang-undang
nasionalnya, dan untuk tujuan tersebut,

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
73
74
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 18


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

wajib mempertimbangkan pembentukan


unit intelijen keuangan yang bertugas
sebagai pusat pengumpulan, analisis dan
penyebaran informasi mengenai
kemungkinan pencucian uang.
2. Negara-negara Pihak wajib mempertimbang- Ayat (2) Konvensi Ayat (2) Konvensi
kan pelaksanaan tindakan yang mungkin Pasal 13 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo. Ketentuan lebih rinci mengenai
untuk mendeteksi dan memonitor pergerakan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 mengatur kewajiban mengenal nasabah
uang tunai dan instrumen-instrumen kewajiban penyedia Jasa Keuangan untuk melapor kepada diatur oleh negara masing-
berharga yang melintasi batas negara PPATK : masing regulator antara lain
mereka, tunduk pada pengamanan guna a. Transaksi keuangan mencurigakan Peraturan Bank Indonesia untuk
menjamin penggunaan informasi secara b. Transaksi keuangan yang dilakukan secara tunai dalam perbankan dan pedagang valuta
layak dan tanpa menghalangi dalam bentuk jumlah kumulatif sebesar Rp. 500.000.000,- atau lebih. asing, Keputusan Menteri
apapun pergerakan modal yang sah. Upaya Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Keuangan untuk lembaga
tersebut dapat mencakup persyaratan bahwa Nomor 25 Tahun 2003 Pasal 16 ayat (1) menentukan keuangan non bank (asuransi,
perorangan dan pengusaha melaporkan bahwa setiap orang yang membawa uang tunai berupa dana pensiun) Keputusan Badan
transfer lintas negara uang dalam jumlah rupiah sejumlah Rp. 100.000.000,- atau lebih, atau mata Pengawas Pasar Modal untuk
besar dan instrumen berharga. uang asing yang nilainya setara dengan itu ke dalam atau perusahaan sekuritas.
keluar wilayah Negara Republik Indonesia harus melapor
kepada Dirjen Bea dan Cukai.
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo. Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 2003 Pasal 17 menentukan bahwa setiap

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


orang yang melakukan hubungan usaha dengan penyedia
jasa keuangan wajib memberikan identitas secara lengkap
dan akurat.
3. Dalam pembentukan rejim pengatur dan
pengawas domestik di bawah ketentuan
Pasal ini, dan tanpa mengenyampingkan
pasal lain dari Konvensi ini, Negara Pihak
diminta untuk menggunakan sebagai acuan
prakarsa regional, antar-regional dan
organisasi internasional melawan pencucian
uang.
Draft 5 (11 Agustus 2010) 19
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

4. Negara Pihak wajib berupaya untuk Ayat 4 Konvensi


mengembangkan dan meningkatkan kerja- PPATK sudah menjadi anggota
sama global, regional, sub-regional dan Financial Action Task Force
bilateral antara aparat peradilan, penegak (FATF) dan Asia Pasific Group on
hukum dan aparat pengatur keuangan guna Money Laundring (APG) dan
memberantas pencucian uang. banyak membuat MoU dengan
lembaga sejenis di berbagai
negara.
Indonesia sudah memiliki
lembaga yang bernama Pusat
Pengendalian dan Analisis
Transaksi Keuangan (PPATK).
Ketentuan ini sudah bisa
dilaksanakan langsung dalam
praktek atau ditindaklanjuti
dengan mengadakan kerjasama
global, regional atau sub-
regional.

8 Kriminalisasi Korupsi
1. Setiap Negara wajib mengambil tindakan Tindak pidana korupsi telah diatur dalam Undang-Undang Sejalan dengan telah diratifika- United Nations Con-
legislatif dan tindakan lainnya yang dianggap Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang- sinya United Nations Convention vention Against Cor-
perlu untuk menetapkan sebagai tindak Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Against Corruption (UNCAC) ruption (UNCAC) sudah
pidana, apabila dilakukan dengan sengaja: Tindak Pidana Korupsi. dengan Undang-Undang Nomor 7 dikaji tersendiri.
(a) janji, penawaran atau pemberian Tahun 2006 maka direncanakan
kepada pejabat public, secara langsung untuk melakukan perubahan
atau tidak langsung , keuntungan yang Undang-Undang Nomor 31 Tahun
tidak semestinya, untuk pejabat public 1999 jo. Undang-Undang Nomor
dalam tugas resminya atau orang atau 20 Tahun 2001.
badan lain agar pejabat itu bertindak
atau menahan diri dalam pelaksanaan
tugas resmi mereka;
(b) Permintaan atau penerimaan oleh

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
75
76
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 20


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

pejabat public, secara langsung atau


tidak langsung, manfaat yang tidak
semestinya, untuk pejabat public
tersebut dalam tugas resminya atau
orang atau badan lain agar pejabat itu
bertindak menahan diri dalam
pelaksanaan tugas resmi mereka
2. Setiap Negara pihak wajib
mempertimbangkan mengambil tindakan
legislative dan tindakan lainnya yang
dianggap perlu untuk menetapkan sebagai
tindak pidana tindakan yang merujuk pada
ayat (1) Pasal ini yang melibatkan pejabat
public asing atau pegawai sipil internasional.
Demikian juga, setiap Negara pihak wajib
mempertimbangkan menetapkan sebagai
tindak pidana atas korupsi dalam bentuk lain.
3. Setiap Negara pihak juga wajib mengambil
upaya yang dianggap perlu untuk
menetapkan sebagai tindak pidana
keikutsertaan sebagai kaki tangan dalam
tindak pidana yang ditetapkan dalam Pasal

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


ini.
4. Untuk tujuan dari Pasal ini dan Pasal 9 dari
Konvensi ini, pejabat publk berarti seorang
pejabat public atau seseorang yang
memberikan pelayanan public sebagaimana
yang ditetapkan dalam undang-undang
nasional dan sebagaimana yang diterapkan
dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana
dari Negara Pihak di mana orang tersebut
menjalankan fungsi dimaksud
Draft 5 (11 Agustus 2010) 21
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

9 Tindakan Menentang Korupsi


1. Disamping tindakan yang ditetapkan dalam Hukum nasional mengatur pencegahan korupsi melalui
Pasal 8 dari Konvensi ini, setiap Negara pihak Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang
wajib, sepanjang tepat dan sejalan dengan Penyelenggaraan Negara Yang Bersih Dan Bebas dari
system hukumnya, mengambil tindakan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Pelaksanaan undang-
legislatif, administratif ataupun upaya efektif undang ini diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor
lainnya untuk meningkatkan integritas dan 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak
mencegah, mendeteksi, dan menghukum Pidana Korupsi Pasal 13 dan Pasal 69.
korupsi pejabat publik;
2. Setiap Negara pihak wajib mengambil
langkah-langkah untuk menjamin efektifitas
tindakan oleh otoritasnya dalam mencegah,
mendeteksi dan menghukum korupsi pejabat
publik, termasuk memberikan kepada otoritas
tersebut kemandirian yang memadai untuk
menangkal penggunaan pengaruh yang tidak
layak terhadap tindakan mereka.

10 Tanggung Jawab Badan Hukum


1. Setiap Negara Pihak wajib mengambil 1. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1. Undang-undang yang meng- Meskipun telah dite- Pembebanan tanggung-
tindakan yang diperlukan, sejalan dengan 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 atur tanggung jawab badan tapkan sebagai subyek jawab terhadap badan
prinsip hukumnya, untuk menetapkan tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. hukum/korporasi sebagai hukum pidana sejak hukum disertai dengan
tanggung jawab badan hukum atas - Pasal 17 mengatur tata cara penuntutan korporasi subyek hukum pidana, dan tahun 1955, namun sanksinya, sebaiknya di-
keikutsertaan dalam tindak pidana serius yang dapat dilakukan terhadap korporasi dan/atau membebankan tanggung ja- dalam kenyataannya cantumkan sebagai sa-
yang melibatkan kelompok penjahat pengurusnya. wab pidana kepada orang belum pernah ada kor- lah satu pasal dari
terorganisasi dan untuk tindak pidana Pengertian tindak pidana terorisme dilakukan oleh perorangan yaitu pengurus porasi yang dijatuhi undang-undang tentang
sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 5, Pasal korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan sebagai individu yang mela- pidana. Hal ini nam- Tindak Pidana Terorgani-
6, Pasal 8 dan Pasal 23 Konvensi ini. oleh orang-orang, baik berdasarkan hubungan kerja kukan kejahatan dalam jaba- paknya disebabkan sasi (nasional dan/atau
2. Tunduk pada prinsip hukum Negara Pihak, maupun hubungan lain yang bertindak dalam tannya di korporasi, yang sistem pertanggung- transnasional)
tanggung jawab badan hukum dapat berupa lingkungan korporasi tersebut dilakukan sendiri disebut kejahatan individu jawaban yang ditentu-
pidana, perdata ataupun administratif. maupun bersama-sama. dalam jabatannya (occupa- kan dalam undang-
3. Tanggung jawab tersebut tanpa mengabaikan Tuntutan pidana terhadap korporasi diwakili oleh tional crime). undang, permasalahan
tanggung jawab pidana orang yang pengurus. Sedikit perbedaan terdapat dalam pembuktian dan

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
77
78
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 22


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

melakukan tindak pidana. - Pasal 18 mengatur tata cara pemanggilan korporasi dalam undang-undang tindak terbentur asas hukum.
4. Setiap Negara Pihak wajib, secara khusus, dan mengatur ancaman pidana pokok hanya dengan pidana pencucian uang
memastikan bahwa badan hukum yang pidana korporasi. dimana ada pembatasan
dikenai tanggung jawab sesuai dengan Pasal Korporasi yang terlibat tindak pidana terorisme tanggung jawab pengurus
ini tunduk pada sanksi pidana atau bukan dinyatakan sebagai korporasi yang terlarang. dan korporasi. Pengurus
pidana yang efektif, proporsional dan bersifat 2. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo. Undang- hanya bertanggung jawab
pelarangan, termasuk sanksi moneter. Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana apabila mempunyai kedu-
Pencucian Uang Pasal 4 mengatur tata cara penuntutan dukan fungsional dalam
tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi yaitu baik struktur korporasi. Demikian
terhadap pengurus dan/atau kuasa pengurus maupun pula korporasi hanya
korporasi. Pertanggungjawaban pidana bagi pengurus bertanggung jawab apabila
dibatasi sepanjang pengurus mempunyai kedudukan perbuatan tersebut dianggap
fungsional dalam struktur korporasi. melakukan kegiatan yang
Korporasi tidak dapat dipertanggungjawabkan jika termasuk dalam lingkup
perbuatan dilakukan melalui kegiatan yang tidak usaha korporasi.
termasuk dalam lingkup usahanya. 2. Undang-undang juga meng-
Tata cara pemanggilan oleh hakim dapat dilakukan atur sendiri administrasi yaitu
dengan memerintahkan pengurus menghadap sendiri pencabutan izin, pembubaran
dan dapat pula memerintahkan dibawa paksa. dan/atau pelarangan korpo-
Pasal 5 mengatur ancaman pidana adalah maksimum rasi. Akan tetapi tidak meng-
pidana denda ditambah sepertiga dan dapat dijatuhkan atur lebih lanjut pelaksanaan
pidana tambahan pencabutan izin usaha dan/atau larangan misalnya apakah

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


pembubaran korporasi yang diikuti dengan likuidasi. diumumkan oleh berita ne-
3. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang- gara, instansi mana yang
Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan menindaklanjuti putusan
Tindak Pidana Korupsi. hakim.
Pasal 20 mengatur : 3. Sanksi perdata sebagai
- Tuntutan dan penjatuhan pidana dapat dilakukan bentuk tanggung jawab
terhadap korporasi dan/atau pengurusnya. badan hukum yang mela-
- Pengertian tindak pidana dilakukan oleh korporasi kukan tindak pidana, undang-
apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang- undang masih belum meng-
orang berdasarkan hubungan kerja atau hubungan lain atur. Hanya saja dalam
yang bertindak dalam lingkungan korporasi baik undang-undang
Draft 5 (11 Agustus 2010) 23
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

sendiri maupun bersama-sama. pemberantasan tindak pidana


- Jika tuntutan dilakukan terhadap korporasi : korupsi (Undang-Undang No-
a. Diwakili oleh pengurus, yang dapat mewakilkan mor 31 Tahun 1999 jo.
kepada orang lain. Undang-Undang Nomor 20
b. Hakim dapat memerintahkan pengurus menghadap Tahun 2001) mengatur secara
sendiri dan memerintahkan dibawa ke sidang umum, baik untuk subyek
pengadilan. hukum orang perorangan
c. Panggilan disampaikan di tempat tinggal pengurus maupun badan hukum
atau kantor. tentang hak negara melalui
d. Pidana pokok yang dijatuhkan maksimum pidana Jaksa Pengacara Negara
denda untuk menggugat secara
4. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang perdata terhadap tersangka
Narkotika dalam Pasal 130 dinyatakan apabila tindak yang dalam tingkat penyi-
pidana dilakukan oleh korporasi, selain dijatuhkan dikan tidak terdapat bukti
pidana penjara dan denda pada pengurusnya, maka cukup sedangkan secara
dapat dijatuhkan pidana denda pada korporasi dengan nyata ada kerugian keuangan
pemberatan tiga kali dari pidana denda sebagaimana negara ataupun menggugat
diancamkan pada pasal-pasal tindak pidana narkotika terdakwa secara perdata yang
ditambah sepertiga. diputus bebas oleh pengadilan
Selain keempat peraturan perundang-undangan tersebut pidana.
diatas dalam beberapa perundang-undangan administrasi 4. Pengertian badan hukum
diatur tentang badan hukum antara lain : dalam perundang-undangan
- Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Indonesia bersifat luas dalam
Perseroan Terbatas. arti badan yang dibentuk ber-
- Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan dasarkan peraturan perun-
Usaha Milik Negara. dang-udangan maupun badan
- Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang hukum yang tidak dibentuk
Perbankan. berdasarkan peraturan
perundang-undangan.
Dalam undang-undang adminis-
trasi ini tidak ada satu pasal atau
ayat yang menegaskan tentang
sanksi terhadap badan hukum

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
79
80
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 24


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

baik sanksi pidana, perdata


ataupun administratif.

Hal ini adalah wajar sebab ketiga


uu tersebut hanya mengatur
tentang badan hukum (perseroan
terbatas, BUMN dan perbankan)
mulai dari tahap pendirian
sampai dengan pembubaran/
pengakhirannya.

11 Penuntutan, Penghakiman, dan Sanksi


1. Setiap Negara Pihak wajib membuat tindak Sistem sanksi pidana yang diatur dalam Peraturan Independensi penyidik kepolisian - Peninjuan kembali ke-
pidana yang ditetapkan menurut Pasal 5, Pemerintah Pengganti Undang-Undang 1 Tahun 2002 jo. dan kejaksaan masih rentan dudukan penyidik dan
Pasal 6, Pasal 8 dan Pasal 23 dari Konvensi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003, Undang-Undang intervensi kekuasaan dan politik, penuntut umum seba-
ini dijatuhi sanksi dengan memperhitungkan Nomor 15 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 25 Tahun berhubung kedudukan lembaga gai bagian lembaga
beratnya tindak pidana tersebut. 2003, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang- tersebut yang masih menjadi yudikatif yang inde-
2. Setiap Negara Pihak wajib berupaya untuk Undang Nomor 20 Tahun 2001 disamping menganut sistem bagian dari kekuasaan eksekutif. penden.
memastikan bahwa kewenangan hukum ancaman pidana maksimum umum dan khusus juga Undang-Undang Nomor 2 Tahun - Peninjauan kembali
berdasarkan undang-undang nasionalnya mengatur ancaman pidana minimum khusus. 2002 tentang Kepolisian Republik ketentuan daluarsa
yang berkaitan dengan penuntutan orang- Hukum acara pidana yang diatur dalam ketiga undang- Indonesia dalam Pasal 8 ayat (1): dalam KUHP atau
orang atas tindak pidana yang tercakup undang tersebut di samping berdasarkan ketentuan umum kepolisian Negara Republik menambahkan keten-

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


dalam Konvensi ini, dilaksanakan untuk yang diatur dalam KUHAP, juga mengatur ketentuan khusus Indonesia berada dibawah tuan daluarsa dalam
memaksimalkan efektifitas tindakan untuk menjamin efektifitas penegakan hukum yang Presiden. undang-undang yang
penegakan hukum atas tindak pidana diperkuat pembentukan lembaga independen seperti Komisi Undang-Undang Nomor 16 Tahun mengatur tindak
tersebut dan dengan pertimbangan Pemberantasan Korupsi (KPK), Pusat Pelaporan Analisis 2004 tentang Kejaksaan Republik pidana transnasional
semestinya terhadap kebutuhan untuk Transaksi Keuangan (PPATK). Indonesia dalam Pasal 2 ayat (1): terorganisasi.
menangkal tindak pidana tersebut. Sekalipun diatur ketentuan hukum acara pidana khusus Kejaksaan sebagai lembaga
3. Dalam hal tindak pidana yang ditetapkan namun tetap memperhatikan prinsip-prinsip peradilan yang pemerintahan yang
sesuai Pasal 5, Pasal 6, Pasal 8, dan Pasal 23 layak (fair trial) sebagaimana diamanatkan oleh Deklarasi melaksanakan kekuasaan negara
Konvensi ini, setiap Negara Pihak wajib Universal Hak-Hak Asasi Manusia dan Kovenan Hak-Hak di bidang penuntutan serta
mengambil tindakan yang tepat, sesuai Sipil dan Politik, antara lain : kewenangan lain berdasarkan
dengan hukum nasionalnya dan dengan a. Pembatasan penahanan yang diatur dalam Pasal 24, undang-undang.
Draft 5 (11 Agustus 2010) 25
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

mengindahkan hak pembelaan, berupaya Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27 dan Pasal 28 KUHAP, Pasal
memastikan bahwa syarat yang dibebankan 25 ayat (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
sehubungan dengan keputusan tentang Undang Nomor 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor
pembebasan sebelum persidangan atau 15 Tahun 2003;
banding, mempertimbangkan keperluan b. Penggunaan Laporan Intelejen sebagai bukti permulaan
untuk memastikan kehadiran terdakwa pada dalam perkara tindak pidana terorisme harus melalui
proses pidana selanjutnya. pemeriksaan pendahuluan di sidang pengadilan (Pasal
4. Setiap Negara Pihak wajib menjamin bahwa 26 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
pengadilannya atau badan berwenang Nomor 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 15
lainnya memperhatikan beratnya tindak Tahun 2003);
pidana yang tercakup dalam Konvensi ini c. Persidangan tanpa kehadiran terdakwa (in absensia)
pada saat mempertimbangkan pembebasan hanya dimungkinkan setelah terdakwa dipanggil secara
awal atau pembebasan bersyarat atas orang sah dan patut, tidak hadir tanpa alasan. Ketidakhadiran
yang dipidana karena tindak pidana tersebut. terdakwa tanpa alasan setelah dipanggil secara sah dan
5. Setiap Negara Pihak wajib, sebagaimana patut, dipandang sebagai tindakan terdakwa melepaskan
layaknya, menetapkan berdasarkan hukum haknya untuk membela diri;
nasionalnya, waktu daluwarsa penuntutan d. Syarat-syarat untuk mendapatkan remisi, cuti
yang panjang untuk memulai proses mengunjungi keluarga, cuti menjelang bebas, dan
peradilan bagi setiap tindak pidana yang pembebasan bersyarat bagi terpidana kasus korupsi,
dicakup dalam Konvensi ini dan waktu yang terorisme dan narkotika menurut Peraturan Pemerintah
lebih panjang apabila tersangka menghindari Nomor 28 Tahun 2006 tentang Perubahan atas
pelaksanaan peradilan. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang
6. Tidak satu pun ketentuan yang tercantum Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan
dalam Konvensi ini akan mempengaruhi Pemasyarakatan ditentukan lebih berat dibandingkan
prinsip bahwa uraian tentang tindak pidana dengan terpidana lainnya.
yang ditetapkan sesuai dengan Konvensi ini Undang-undang masih belum mengatur ketentuan khusus
dan tentang pembelaan hukum yang berlaku yang lebih panjang tentang jangka waktu kadaluarsa
atau prinsip hukum lainnya yang mengatur penuntutan. Oleh karena itu ketentuan kadaluarsa
keabsahan perilaku, tunduk pada hukum penuntutan masih berdasarkan ketentuan umum KUHP
nasional negara Pihak dan bahwa tindak Pasal 78 sampai dengan Pasal 83.
pidana tersebut wajib dituntut dan dihukum
sesuai dengan hukum tersebut.

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
81
82
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 26


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

12 Perampasan dan Penyitaan


1. Negara-negara Pihak wajib mengambil, Pada umumnya ketentuan yang dijadikan untuk Perundang-undangan Indonesia Perlu ditinjau kembali
sepanjang dimungkinkan dalam sistem perampasan barang adalah Pasal 39 sampai dengan Pasal masih belum mengatur tentang ketentuan tentang
hukum nasionalnya, tindakan yang dianggap 42 KUHP dan Pasal 194 KUHAP yaitu barang-barang penyitaan dan perampasan yang penyitaan dan peram-
perlu guna memungkinkan perampasan atas: kepunyaan terdakwa yang diperoleh dari kejahatan atau meliputi harta benda yang pasan barang hasil
(a) Hasil tindak pidana yang berasal dari digunakan untuk melakukan kejahatan atau barang-barang berasal dari konversi hasil tindak pidana untuk
tindak pidana yang tercakup dalam yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana kejahatan, harta benda yang disesuaikan dengan
Konvensi ini atau kekayaan yang nilainya yang dilakukan. tercampur dengan hasil Konvensi.
sama dengan hasil tindak pidana Hanya Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. kejahatan dan keuntungan-
tersebut; Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 yang mengatur keuntungan yang diperoleh dari
(b) Kekayaan, peralatan, atau sarana lainnya pidana perampasan barang yang digunakan untuk atau harta benda hasil kejahatan.
yang digunakan atau ditujukan untuk diperoleh dari tindak pidana korupsi termasuk perusahaan Hanya undang-undang pembe-
digunakan dalam tindak pidana yang milik terpidana dimana tindak pidana korupsi dilakukan. rantasan tindak pidana korupsi
tercakup dalam Konvensi ini. Disamping itu juga diatur tentang pidana pembayaran uang yang memperluas dengan
2. Setiap Negara Pihak wajib mengambil upaya pengganti. mengatur pidana tambahan uang
yang dianggap perlu guna memungkinkan Pasal 19 mengatur bahwa hakim tidak boleh menjatuhkan pengganti yang jumlahnya paling
identifikasi, pelacakan, pembekuan atau perampasan barang yang bukan kepunyaan terdakwa banyak sama dengan harta
penyitaan barang apapun yang dimaksud apabila hak-hak pihak ketiga yang beritikad baik dirugikan. benda yang diperoleh dari tindak
dalam ayat (1) pasal ini untuk tujuan akhir pidana korupsi (Pasal 18 ayat (1)
perampasan. Pasal 35 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo. huruf b Undang-Undang Nomor
3. Jika hasil tindak pidana tersebut telah diubah Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 terdakwa 31 Tahun 1999 jo. Undang-
atau dikonversi, sebagian atau seluruhnya, membuktikan bahwa harta kekayaannya bukan hasil tindak Undang Nomor 20 Tahun 2001)

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


ke dalam kekayaan lain, kekayaan tersebut pidana dan Pasal 37 A Undang-Undang Nomor 31 Tahun Pada umumnya ketentuan Pasal
wajib dikenai tanggung jawab atas upaya 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 12 Konvensi merupakan masalah
yang dimaksud dalam pasal ini, sebagai ganti menentukan kewajiban terdakwa untuk memberikan yang sudah umum diatur di
dari hasil tindak pidana. keterangan tentang seluruh harta bendanya, harta benda dalam hukum (acara) pidana
4. Jika hasil tindak pidana tersebut telah istri dan suami, anak dan harta benda setiap orang atau nasional negara-negara, ter-
tercampur dengan kekayaan yang diperoleh korporasi yang diduga mempunyai hubungan dengan tindak masuk Indonesia.
dari sumber yang sah, kekayaan tersebut pidana korupsi. Akan tetapi pengaturan dalam
wajib, tanpa mengabaikan kewenangan Pasal 12 Konvensi [(ayat (3),
pembekuan atau penyitaan lainnya, dikenai ayat (4), ayat (5)] terkait
tanggung jawab terhadap perampasan dengan masalah pencucian uang
hingga sejumlah nilai yang terhitung dari dan pencucian hasil tindak
Draft 5 (11 Agustus 2010) 27
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

hasil yang tercampur tersebut. pidana, seperti diatur dalam


5. Pendapatan atau keuntungan lain yang Undang-Undang Nomor 15 Tahun
berasal dari hasil tindak pidana, kekayaan 2002 jo. Undang-Undang Nomor
hasil tindak pidana yang telah diubah atau 25 Tahun 2003.
dikonversi, atau kekayaan yang berasal dari Demikian pula dengan Undang-
hasil tindak pidana yang telah tercampur Undang Nomor 10 Tahun 1998
wajib juga dikenai tanggung jawab berupa tentang Perubahan atas Undang-
tindakan-tindakan yang dimaksud dalam Undang Nomor 7 Tahun 1992
Pasal ini, dengan cara yang sama dan tentang Perbankan, khususnya
sepanjang sama dengan hasil tindak pidana. berkenaan dengan rahasia
6. Untuk tujuan Pasal ini dan Pasal 13 Konvensi perbankan yang oleh ayat 6
ini, setiap Negara Pihak wajib member- rahasia tersebut dikesampingkan.
dayakan pengadilan atau badan-badan Berdasarkan Undang-Undang
berwenangnya untuk memerintahkan agar Nomor 1 Tahun 1979 tentang
catatan-catatan bank, keuangan, atau Ekstradisi Pasal 42 ayat (1) dan
perdagangan dapat dibuka atau disita. ayat (2) mengatur barang yang
Negara Pihak tidak boleh menolak untuk dirampas dan yang juga bisa
bertindak berdasarkan ketentuan Pasal ini dijadikan sebagai alat bukti,
dengan alasan kerahasian bank. maka sepanjang barang yang
7. Negara-negara Pihak dapat mempertim- dirampas adalah juga merupakan
bangkan kemungkinan untuk mensyaratkan alat bukti, maka barang yang
bahwa seorang pelaku memperlihatkan asal- dirampas itu dapat diserahkan
usul yang sah dari hasil tindak pidana yang kepada negara-peminta bersa-
diduga sebagai hasil tindak pidana atau maan dengan penyerahan orang
kekayaan lain yang dapat dirampas, yang diminta.
sepanjang persyaratan tersebut sesuai Akan tetapi, pengertian barang
dengan prinsip dasar hukum nasional mereka dalam undang-undang atau
dan dengan proses peradilan dan proses perjanjian Ekstradisi terbatas
lainnya. pada barang-barang bergerak
8. Ketentuan-ketentuan Pasal ini tidak boleh atau berwujud yang memang
ditafsirkan sebagai mengabaikan hak-hak relatif mudah untuk diserah-
pihak ketiga yang beritikad baik. terimakan. Oleh karena itu
9. Tidak satu pun ketentuan yang tercantum sebaiknya perampasan barang ini

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
83
84
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 28


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

dalam Pasal ini mempengaruhi prinsip bahwa didasarkan pada landasan hukum
tindakan yang dimaksud dalam Pasal lain yakni undang-undang ten-
tersebut diartikan dan dilaksanakan sesuai tang Bantuan Timbal Balik dalam
dan berdasarkan ketentuan hukum nasional Masalah Pidana (Undang-Undang
suatu Negara Pihak. Nomor 1 Tahun 2006). Peng-
aturan tentang perampasan
(barang) dalam Undang-Undang
ini sebenarnya sudah memadai
sebagai sarana untuk kerjasama
internasional, khususnya tentang
prosedur atau mekanisme mela-
kukan penyerahan barang yang
dirampas. Perampasan barang
sangat terkait dengan hukum
atau peraturan perundang-
undangan nasional, terutama dari
negara tempat barang itu berada.

13 Kerja sama Internasional untuk Tujuan


Perampasan
1. Suatu Negara Pihak yang telah menerima Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Ketentuan Pasal 13 Konvensi Oleh karena barang Perlu dipertimbangkan
permintaan dari Negara Pihak lain yang Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 sudah tertampung dalam yang dirampas dapat kemungkinan untuk

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


memiliki jurisdiksi atas tindak pidana yang Pasal 43 hanya mengatur tentang kerjasama internasional Undang-Undang Nomor 1 Tahun terdiri dari berbagai mengadakan perjanjian
ditetapkan dalam Konvensi untuk merampas dengan negara lain di bidang intelejen, kepolisian dan 2006 tentang Bantuan Timbal macam wujud atau kerjasama yang
hasil tindak pidana, kekayaan, perlengkapan, kerjasama teknis lainnya yang berkaitan dengan tindakan Balik Dalam Masalah Pidana, bentuknya, maka substansinya khusus
atau instrumen lain yang merujuk pada Pasal melawan terorisme sesuai dengan ketentuan perundang- sehingga untuk perundang- sangat penting untuk tentang perampasan,
12 ayat (1) Konvensi ini yang berada di undangan yang berlaku. Undang-undang tidak mengatur undangan pidana yang tidak memperhatikan hukum mengingat ada negara
wilayahnya wajib, sepanjang dimungkinkan lebih lanjut rincian pelaksanaan kerjasama yang dimaksud, mengatur bantuan timbal balik nasional dari negara yang mengharuskan
oleh sistem hukum nasionalnya: apakah meliputi tindakan penyidikan, penuntutan maupun seperti dalam Undang-Undang tempat barang itu adanya perjanjian lebih
(a) Menyerahkan permintaan tersebut pemeriksaan sidang pengadilan. Nomor 31 Tahun 1999 jo. berada, serta yang dahulu untuk dapat
kepada lembaga berwenang untuk tujuan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Undang-Undang Nomor 20 Tahun mengatur tentang melakukan perampasan
mendapatkan surat perintah perampasan Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak 2001, maka Undang-Undang status barang-barang transnasional.
dan, apabila surat perintah tersebut Pidana Korupsi sama sekali tidak mengatur kerjasama Nomor 1 Tahun 2006 ini berlaku. tersebut. Misalnya, jika Walaupun Pasal 13 ayat
Draft 5 (11 Agustus 2010) 29
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

diberikan, melaksanakan surat perintah internasional dalam rangka penyitaan dan perampasan hasil Walaupun Undang-Undang menyangkut barang (6) Konvensi mewajib-
tersebut; atau tindak pidana yang berada di luar negeri. Hanya dalam Nomor 1 Tahun 2006 mengatur tak bergerak/tetap, kan negara-negara pe-
(b) Menyerahkan kepada lembaga Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi bantuan untuk mengeluarkan barang yang masih sertanya untuk memper-
berwenang, dengan tujuan untuk Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 41 yang surat perintah pemblokiran, terkait perkara di timbangkan kemung-
melaksanakan sebagaimana yang mengatur kerjasama dengan penegak hukum negara lain penggeledahan, penyitaan dan negara setempat, kinan menjadikan pasal
diminta, surat perintah perampasan yang dalam penyelidikan, penyidikan dan penuntutan tindak tindakan lainnya yang diperlukan barang yang terlarang 13 ayat (1) sampai
dikeluarkan oleh suatu pengadilan di pidana korupsi sesuai dengan peraturan perundang- sesuai dengan ketentuan dibawa ke luar wilayah dengan (5) Konvensi ini
wilayah Negara Pihak yang meminta undangan yang berlaku atau berdasarkan perjanjian perundang-undangan yang negara itu, dan lain- sebagai landasan hu-
sesuai dengan Pasal 12 ayat (1) dari internasional yang telah diakui oleh pemerintah Republik terkait (Pasal 19), sesuai dengan lain. kumnya, hal ini belum
Konvensi ini sepanjang hal ini berkaitan Indonesia. Akan tetapi undang-undang ini juga tidak mekanisme bantuan timbal balik menjamin negara-nega-
dengan hasil tindak pidana, kekayaan, mengatur secara rinci teknis pelaksanaan kerjasama dalam masalah pidana yang ra bersedia menjadikan
perlengkapan atau instrumen lain yang dimaksud. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo. diatur dalam undang-undang sebagai landasan hu-
merujuk pada Pasal 12 ayat (1) yang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak yang bersangkutan. kumnya.
berada di wilayah Negara Pihak yang Pidana Pencucian Uang Pasal 44 dan Pasal 44 A yang Pasal 22 Undang-Undang Nomor Oleh karena itulah perlu
diminta. mengatur kerjasama internasional untuk tujuan 1 Tahun 2006 mengatur bantuan adanya perjanjian sema-
2. Menindaklanjuti permintaan yang diajukan perampasan, yaitu : untuk menindaklanjuti putusan cam ini dengan negara-
oleh Negara Pihak lain yang memiliki a. Kerjasama bantuan timbal balik dapat dilaksanakan pengadilan, apakah yang negara yang bersang-
jurisdiksi atas suatu tindak pidana yang dalam hal negara telah mengadakan perjanjian dimaksud di sini juga meliputi kutan.
ditetapkan dalam Konvensi ini, negara Pihak kerjasama bantuan timbal balik atau berdasarkan prinsip putusan pengadilan tentang
diminta wajib mengambil langkah untuk resiprositas. perampasan benda-benda tidak
mengindentifikasi, melacak dan membekukan b. Kerjasama bantuan timbal balik dengan negara lain bergerak seperti tanah. Hal ini
atau menyita hasil tindak pidana, kekayaan, tersebut meliputi : terkait dengan masalah sistem
perlengkapan atau instrumen lain merujuk 1) Pengambilan barang bukti dan pernyataan seseorang hukum yang berbeda diantara
Pasal 12 ayat (1) dari Konvensi ini untuk termasuk pelaksanaan surat rogatori ; negara-negara yang terlibat.
tujuan perampasan yang nantinya akan 2) Pemberian barang bukti berupa dokumen dan catatan Ketentuan Pasal 13 Konvensi
diperintahkan oleh Negara Pihak peminta lainnya; tergolong sebagai ketentuan
atau, berdasarkan permintaan sesuai dengan 3) Identifikasi dan lokasi keberadaan seseorang; yang dapat dijadikan landasan
ayat (1) dari Pasal ini, oleh Negara Pihak 4) Pelaksanaan permintaan untuk pencarian barang bukti hukum dan karena itu dapat
diminta. dan penyitaan; diterapkan secara langsung oleh
3. Ketentuan Pasal 18 Konvensi ini dapat 5) Upaya untuk melakukan pencarian, pembekuan, dan dua negara yang telah terikat
diterapkan dan diberlakukan sama pada penyitaan hasil kejahatan. pada Konvensi.
Pasal ini. Sebagai tambahan dari informasi 6) Mengusahakan persetujuan orang-orang yang Namun dalam kenyataan, ada
yang dirinci dalam Pasal 18, ayat (15), bersedia memberikan kesaksian atau membantu negara yang mensyaratkan

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
85
86
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 30


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

permintaan yang dibuat berdasarkan Pasal ini penyidikan di negara peminta. keharusan adanya perjanjian
wajib memuat: 7) Bantuan lain yang sesuai dengan tujuan pemberian khusus tentang kerjasama untuk
(a) Dalam hal permintaan menyangkut ayat kerjasama timbal balik yang tidak bertentangan tujuan perampasan sebagai
(1) (a) dari Pasal ini, uraian dari dengan peraturan perundang-undangan. landasan hukumnya untuk dite-
kekayaan yang diminta dirampas dan rapkan dalam suatu kasus yang
pernyataan dari fakta-fakta yang berkaitan dengan perampasan
dijadikan dasar oleh Negara Pihak ini.
Peminta yang cukup untuk memung-
kinkan Negara Pihak diminta mendapat-
kan surat perintah berdasarkan hukum
nasionalnya;
(b) Dalam hal permintaan menyangkut ayat
(1) (b) dari Pasal ini, salinan sah secara
hukum dari surat perintah perampasan
yang menjadi dasar permintaan yang
dikeluarkan oleh Negara Pihak peminta,
pernyataan dari fakta-fakta dan informasi
sepanjang diminta untuk melaksanakan
surat perintah tersebut.
(c) Dalam hal permintaan menyangkut ayat
(2) dari Pasal ini, pernyataan dari fakta-
fakta yang dijadikan dasar oleh Negara

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


Pihak Peminta dan uraian dari tindak
lanjut yang diminta.
4. Keputusan atau tindak lanjut yang diatur
dalam ayat (1) dan ayat (2) dari Pasal ini
akan diambil oleh Negara Pihak diminta
sesuai dan berdasarkan ketentuan hukum
nasionalnya dan aturan-aturan pelaksananya
atau perjanjian, persetujuan atau pengaturan
bilateral atau multilateral yang mungkin
mengikat Negara Pihak Peminta.
5. Setiap Negara Pihak wajib menyediakan
Draft 5 (11 Agustus 2010) 31
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

salinan dari peraturan hukum dan


perundang-undangannya yang memberlaku-
kan Pasal ini dan setiap perubahan dari
peraturan hukum dan perundang-
undangannya atau penjelasannya kepada
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-
bangsa.
6. Jika suatu Negara Pihak memilih untuk
membuat pengambilan upaya sesuai dengan
ayat (1) dan ayat (2) dari Pasal ini dengan
syarat adanya perjanjian, Negara Pihak
tersebut wajib mempertimbangkan Konvensi
ini sebagai dasar perjanjian yang perlu dan
cukup.
7. Kerja sama dalam Pasal ini dapat ditolak oleh
Negara Pihak apabila tindak pidana yang
dimintakan bantuan bukan merupakan tindak
pidana yang dicakup dalam Konvensi ini.
8. Ketentuan Pasal ini tidak dapat ditafsirkan
sebagai mengabaikan hak-hak Pihak ketiga
yang beritikad baik.
9. Negara-negara Pihak wajib mempertimbang-
kan untuk membuat perjanjian, persetujuan
atau pengaturan bilateral atau multilateral
untuk meningkatkan efektifitas kerja sama
internasional yang dilakukan berdasarkan
Pasal ini.

14 Penyerahan Harta Hasil Tindak Pidana atau


Kekayaan yang Disita
1. Harta hasil tindak pidana atau kekayaan yang Undang–undang tentang pemberantasan tindak pidana Undang-Undang Nomor 1 Tahun Berkenaan dengan pe- Perlu dilakukan kajian
disita oleh Negara Pihak menurut Pasal 12 terorisme (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang 2006 tentang Bantuan Timbal rampasan harta benda terhadap peraturan-
atau Pasal 13, alinea 1, Konvensi ini wajib Nomor 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 15 Tahun Balik dalam Masalah Pidana tidak bergerak berupa peraturan terkait untuk

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
87
88
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 32


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

diserahkan oleh Negara Pihak tersebut sesuai 2003), undang–undang tentang pemberantasan tindak menjadi payung hukum bagi tanah perlu dikaji memperjelas dan memu-
dengan undang-undang nasionalnya dan pidana korupsi (UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 perundang-undangan pidana Undang-Undang No- dahkan penyerahan
prosedur administrasi. Tahun 2001) dan undang-undang tindak pidana pencucian lainnya berkenaan dengan mor 5 Tahun 1960 harta hasil tindak pidana
2. Pada saat bertindak berdasarkan permintaan uang (Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo. Undang- penyidikan, penuntutan, peme- tentang Pokok-Pokok atau kekayaan yang
dari Negara Pihak lain menurut Pasal 13 Undang Nomor 25 Tahun 2003) tidak mengatur tentang riksaan di sidang pengadilan, Agraria dengan per- disita.
Konvensi ini, Negara Pihak wajib, sepanjang penyerahan harta hasil tindak pidana atau kekayaan yang termasuk bantuan untuk menin- aturan pelaksanaan-
diizinkan oleh hukum nasional dan jika disita sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 Konvensi. daklanjuti putusan pengadilan nya.
diminta, memberikan prioritas untuk Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 tentang Bantuan yang berisi perampasan benda Sedangkan tentang
mempertimbangkan mengembalikan harta Timbal Balik Dalam Masalah Pidana mengatur permintaan sitaan/harta kekayaan berupa perampasan uang atau
hasil tindak pidana atau kekayaan yang disita bantuan kepada negara yang diminta (Pasal 22) maupun benda tidak bergerak seperti harta benda bergerak
kepada Negara Pihak Peminta agar ia dapat pemberian bantuan kepada negara peminta (Pasal 51 tanah misalnya, terkait dengan perlu dikaji tentang
memberikan kompensasi kepada korban sampai dengan Pasal 54), untuk menindaklanjuti putusan sistem hukum setiap negara peraturan lalu lintas
tindak pidana atau mengembalikan harta pengadilan berupa perampasan harta kekayaan/benda yang terhadap kepemilikan benda tidak devisa, mengingat
hasil tindak pidana atau kekayaan yang disita disita, pidana denda atau pembayaran uang pengganti, bergerak oleh negara lain. Negara Republik Indo-
kepada pemiliknya yang sah. termasuk ketentuan tentang penggantian biaya dan bagi Sesuai dengan Penjelasan Umum nesia menganut lalu
3. Pada saat bertindak berdasarkan permintaan hasil harta kekayaan yang dirampas (Pasal 57). dan Ketentuan Pasal 5 Undang- lintas devisa bebas
dari Negara Pihak lain menurut Pasal 12 dan Undang Nomor 1 Tahun 2006 sedangkan negara-
Pasal 13 Konvensi ini, Negara Pihak dapat tentang Bantuan Timbal Balik negara tertentu meng-
memberikan pertimbangan khusus untuk dalam Masalah Pidana bahwa anut lalu lintas devisa
membentuk perjanjian atau pengaturan bantuan timbal balik ini dilakukan terbatas.
mengenai: berdasarkan : Treaty on Mutual Legal
a) Menyumbangkan jumlah dari harta tindak 1. Perjanjian, atau; assistance on criminal

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


pidana atau kekayaan atau dana yang 2. Dalam hal belum ada per- matters among ASEAN
berasal dari penjualan harta hasil tindak janjian, maka bantuan dapat Countries (MLA) tahun
pidana atau kekayaan atau bagian dilakukan atas dasar hu- 2008 sudah mengatur
darinya, kepada rekening yang ditentukan bungan baik atau prinsip kejasama tentang
sesuai dengan Pasal 30 ayat (2) (c) resiprositas. penyerahan harta hasil
Konvensi ini dan kepada badan antar Dengan demikian penerapan tindak pidana atau
pemerintah yang mengkhususkan diri Undang-Undang Nomor 1 Tahun kekayaan yang disita.
pada upaya melawan tindak pidana 2006 tentang Bantuan Timbal Apa yang telah dike-
terorganisasi. Balik dalam Masalah Pidana mukakan berkenaan
b) Pembagian dengan Negara Pihak lain, masih memerlukan tindak lanjut, dengan Pasal 13
secara tetap atau kasus per kasus, harta yaitu : Konvensi, juga berlaku
Draft 5 (11 Agustus 2010) 33
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

hasil tindak pidana atau kekayaan, atau 1. Mengadakan perjanjian terle- untuk Pasal 14
dana yang berasal dari penjualan harta bih dahulu dengan negara- Konvensi ini.
hasil tindak pidana atau kekayaan, sesuai negara yang diminta secara
dengan hukum nasional atau prosedur bilateral atau multilateral
adminstrasi. (melalui perhimpunan negara
ASEAN)
2. Kajian kasus per kasus
dengan kriteria hubungan
baik yaitu hubungan bersa-
habat dengan berpedoman
pada kepentingan nasional
dan berdasarkan prinsip
persamaan kedudukan, saling
menguntungkan, dan mem-
perhatikan baik hukum
nasional maupun hukum
internasional (Penjelasan
Pasal 5 ayat (2).
Hasil tindak pidana atau keka-
yaan yang disita dan diserahkan
ini ada hubungan dengan status-
nya sebagai alat bukti dan karena
itu berhubungan dengan Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 2006
tentang Bantuan Timbal Balik
dalam Masalah Pidana. Juga
dengan Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1979 tentang Ekstradisi
karena di dalam salah satu pasal
dari undang-undang ini ada
pengaturan tentang penyerahan
barang hasil tindak pidana
ataupun kekayaan yang disita.

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
89
90
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 34


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

15 Jurisdiksi
1. Setiap Negara Pihak wajib mengambil Ketentuan Pasal 15 Konvensi tentang Yurisdiksi kriminal Ketentuan Pasal 2 sampai dengan Perluasan yurisdiksi Perlu ditinjau kembali
tindakan yang mungkin diperlukan untuk sudah diatur dalam KUHP Pasal 2 sampai dengan Pasal 9, Pasal 9 KUHP, serta perundang- kriminal telah diterap- ketentuan tentang
memberlakukan jurisdiksinya atas tindak yaitu : undangan pidana khusus terkait kan dalam praktek yurisdiksi kriminal yang
pidana yang ditetapkan berdasarkan Pasal 5, - Pasal 2 tindak pidana transnasional dan peradilan tindak pidana diatur dalam KUHP
Pasal 6, Pasal 8 dan Pasal 23 dari Konvensi Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia terorganisasi yang kebanyakan transnasional, sejalan maupun perundang-
ini jika: diterapkan bagi setiap orang yang melakukan sesuatu tidak memuat ketentuan dengan perkembangan undangan pidana lainnya
a) Tindak pidana dilakukan di wilayah Negara tindak pidana di Indonesia; perluasan yurisdiksi criminal tidak teori locus delictie. dengan memasukkan
Pihak tersebut; atau - Pasal 3 sesuai dengan ketentuan Pasal Perlu ditinjau tentang asas perluasan yurisdiksi
b) Tindak pidana dilakukan di atas kapal Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia 15 Konvensi. pengertian dan ruang kriminal, terutama per-
yang mengibarkan bendera dari Negara berlaku bagi setiap orang yang diluar wilayah Indonesia Pertanyaan yang dapat diajukan, lingkup yurisdiksi ber- luasan asas teritorial.
Pihak tersebut atau pesawat terbang yang melakukan tindak pidana di dalam kendaraan air atau apakah ruang lingkup yurisdiksi dasarkan hukum inter-
terdaftar berdasarkan peraturan pesawat udara Indonesia; kriminal dalam KUHP ataupun nasional. Hukum Inter- Sebaiknya pengaturan
perundang-undangan Negara yang - Pasal 4 RUU KUHP sudah mencakup nasional memberikan tentang yurisdiksi dalam
bersangkutan pada saat tindak pidana Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia ketentuan Pasal 15 ayat (1) ruang lingkup yuris- KUHP tidak perlu limitatif
tersebut dilakukan. diterapkan bagi setiap orang yang melakukan di luar sampai dengan ayat (6) diksi yang sangat luas seperti dalam Pasal 4
2. Tunduk pada Pasal 4 Konvensi ini, suatu Indonesia : Konvensi. kepada negara-negara dan Pasal 5 tetapi cukup
Negara Pihak dapat juga memberlakukan 1. Salah satu kejahatan berdasarkan pasal-pasal 104, Dalam Pasal 4 dan Pasal 5 KUHP dengan syarat negara dengan satu pasal yang
yurisdiksinya atas setiap tindak pidana jika: 106, 107, 108, dan 131. secara limitatif ditentukan jenis- memiliki kepentingan bersifat umum dan luas
a) Tindak pidana tersebut dilakukan terhadap 2. Suatu kejahatan mengenai mata uang atau uang jenis tindak pidana yang tunduk terhadap kasus terse- yang mampu menjang-
warga negara dari Negara Pihak tersebut; kertas yang dikeluarkan oleh negara atau bank pada yurisdiksi kriminal. but. Dengan kata lain, kau semua jenis tindak
b) Tindak pidana tersebut dilakukan oleh ataupun mengenai meterai yang dikeluarkan dan Karena dalam hukum pidana sepanjang ada kepen- pidana baik yang sudah

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


warganegara dari Negara Pihak yang merek yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia. Indonesia dilarang menggunakan tingan negara yang ada sebelumnya maupun
bersangkutan atau oleh orang yang tidak 3. Pemalsuan surat hutang dan sertifikat hutang atas penafsiran analogi, maka ada bersangkutan terhadap yang akan ada atau
memiliki kewarganegaraan yang biasa tanggungan Indonesia, atas tanggungan suatu kemungkinan bahwa tindak kasus tersebut. mungkin akan ada pada
bertempat tinggal di dalam wilayah daerah atau bagian daerah Indonesia, termasuk pula pidana yang diatur di dalam Hanya saja negara- masa yang akan datang.
Negara yang bersangkutan; atau pemalsuan talon, tanda dividen atau tanda bunga Konvensi berada di luar yurisdiksi negara dalam menen- Dengan jangkauan
c) Tindak pidananya adalah: yang mengikuti surat atau sertifikat itu, dan tanda berdasarkan hukum pidana tukan luas atau sem- substansi yang sifatnya
i) Satu dari tindak pidana yang ditetapkan yang dikeluarkan sebagai pengganti surat tersebut, Indonesia sehingga tidak dapat pitnya yurisdiksi yang umum dan jangkauan
berdasarkan Pasal 5, ayat (1) atau menggunakan surat-surat tersebut diatas, yang diadili menurut hukum pidana diberikan oleh hukum yang luas, maka setiap
Konvensi ini dan dilakukan di luar palsu atau dipalsukan, seolah-olah asli dan tidak Indonesia. internasional tersebut, kejahatan atau tindak
wilayahnya dengan tujuan melakukan palsu; Ketentuan tentang jurisdiksi dijabarkan sendiri di pidana yang ada dan
tindak pidana serius dalam 4. Salah satu kejahatan yang tersebut dalam pasal- dalam perundang-undangan di dalam hukum nasional- akan ada di kemudian
Draft 5 (11 Agustus 2010) 35
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

wilayahnya. Pasal 438, 444 sampai dengan 446 tentang Indonesia belum mengakomodasi nya masing-masing, hari akan menjadi ter-
ii) satu dari tindak pidana yang pembajakan laut dan Pasal 447 tentang penyerahan perkembangan teori yurisdiksi jadi sepenuhnya ter- jangkau.
ditetapkan berdasarkan Pasal 6, ayat kendaraan air kepada kekuasaan bajak laut dan yang sudah diperluas gantung pada negara- Hanya saja, model ini
(1) (b) (ii) Konvensi ini dan dilakukan Pasal 479 huruf j tentang penguasaan pesawat sebagaimana telah dianut dalam negara itu sendiri. mengandung
di luar wilayahnya dengan tujuan udara secara melawan hukum, Pasal 479 huruf l, m, hukum pidana internasional. Perlu dicermati ke- kelemahan, yakni, ku-
untuk melakukan tindak pidana yang n, dan o tentang kejahatan yang mengancam mungkinan kesulitan rang memberikan jamin-
ditetapkan sesuai dengan Pasal 6, keselamatan penerbangan sipil. menentukan locus an kepastian hukum. Hal
ayat (1) (a) (i) atau (ii) atau (b) (i) - Pasal 5 delictie. inilah yang akan menjadi
Konvensi ini di dalam wilayahnya. Ayat (1) titik kecaman dari mere-
3. Untuk tujuan dari Pasal 16, ayat (10) Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia ka yang menentang ide
Konvensi ini, setiap Negara Pihak wajib diterapkan bagi warga negara yang di luar Indonesia tersebut di atas.
mengambil tindakan yang dianggap perlu yang melakukan :
untuk memberlakukan jurisdiksinya atas 1. Salah satu kejahatan tersebut dalam Bab I dan II
tindak pidana yang diatur dalam Konvensi ini Buku Kedua dan Pasal-pasal 160, 161, 240, 279,
ketika tersangka pelaku berada di wilayahnya 450, dan 451;
dan tidak melakukan ekstradisi atas orang 2. Salah satu perbuatan yang oleh suatu ketentuan
tersebut dengan alasan semata-mata bahwa pidana dalam perundang-undangan Indonesia
ia adalah salah satu warga negaranya. dipandang sebagai kejahatan, sedangkan menurut
4. Setiap Negara Pihak dapat juga mengambil perundang-undangan negara dimana perbuatan
tindakan yang dianggap perlu untuk dilakukan diancam dengan pidana.
memberlakukan jurisdiksinya atas tindak Ayat (2)
pidana yang tercakup dalam Konvensi ini Penuntutan perkara sebagaimana dimaksud dalam butir
ketika tersangka pelaku berada dalam 2 dapat dilakukan juga jika tertuduh menjadi warga
wilayahnya dan tidak melakukan ekstradisi negara sesudah melakukan perbuatan.
atas orang tersebut. - Pasal 6
5. Apabila suatu Negara Pihak yang Berlakunya Pasal 5 ayat (1) butir 2 dibatasi sedemikian
melaksanakan yurisdiksinya berdasarkan rupa sehingga tidak dijatuhkan pidana mati, jika menurut
ayat (1) atau ayat (2) Pasal ini telah perundang-undangan negara dimana perbuatan
diberitahu, atau sebaliknya telah memahami, dilakukan, terhadapnya tidak diancamkan pidana mati.
bahwa satu atau lebih Negara pihak yang lain - Pasal 7
sedang melakukan penyidikan, penuntutan Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia
atau proses pengadilan berkenaan dengan berlaku bagi setiap pejabat yang diluar Indonesia
perbuatan yang sama, badan berwenang dari melakukan salah satu tindak pidana sebagaimana

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
91
92
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 36


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

Negara Pihak itu wajib, sebagaimana dimaksud dalam Bab XXVIII Buku Kedua Pasal 8
layaknya, berkonsultasi satu sama lain ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia
dengan tujuan mengkoordinasikan tindakan berlaku bagi nakhoda dan penumpang perahu Indonesia,
mereka. yang diluar Indonesia sekalipun diluar perahu,
6. Tanpa mengabaikan norma-norma hukum melakukan salah satu tindak pidana sebagaimana
internasional pada umumnya, Konvensi ini dimaksud dalam Bab XXIX Buku Kedua dan Bab IX Buku
tidak boleh mengenyampingkan pelaksanaan Ketiga; begitu pula yang tersebut dalam peraturan
yurisdiksi pidana manapun yang ditetapkan mengenai surat laut dan pass kapal di Indonesia,
oleh suatu Negara Pihak sesuai dengan maupun dalam Ordonansi Perkapalan;
hukum nasionalnya. - Pasal 8
- Pasal 9
Diterapkannya pasal-pasal 2 – 5, 7, dan 8 dibatasi oleh
pengecualian-pengecualian yang diakui dalam hukum
internasional.
Yurisdiksi kriminal dalam Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Terorisme diatur dalam Pasal 3 dan Pasal 4 serta
Pasal 16 yang menganut prinsip perluasan yurisdiksi
teritorial obyektif yaitu perundang-undangan pidana suatu
negara dapat diterapkan terhadap tindak pidana terorisme
yang dilakukan di negara lain, akan tetapi :

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


1. dilaksanakan atau diselesaikan di wilayah mereka, atau
2. menimbulkan akibat yang sangat berbahaya terhadap
ketertiban sosial dan ekonomi di dalam wilayah mereka.
Pasal 4 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 jo.
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2002 butir e undang-undang pemberantasan
terorisme juga berlaku terhadap tindak pidana terorisme
yang dilakukan di atas kapal yang berbendera Negara
Republik Indonesia atau pesawat udara yang terdaftar
berdasarkan undang-undang Republik Indonesia pada saat
kejahatan itu dilakukan.
Draft 5 (11 Agustus 2010) 37
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

16 Ekstradisi
1. Pasal ini berlaku bagi tindak pidana yang Ekstradisi dalam hukum nasional Indonesia diatur dalam Pasal 2 ayat 1 dan 2 Undang- Undang-Undang No- Apabila hingga kini
tercakup dalam Konvensi ini atau pada kasus Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1979 tentang Ekstradisi. Undang Nomor 1 Tahun 1979 ini mor 24 Tahun 2000 belum ada lembaga
di mana tindak pidana yang diatur pada Pasal Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) undang-undang tersebut menegaskan sikap Indonesia tentang Perjanjian In- pemerintah yang ditun-
3, ayat 1 (a) atau (b), melibatkan suatu antara lain mengatur: dalam menghadapi kasus-kasus ternasional sama sekali juk atau diberi tugas dan
kelompok penjahat terorganisasi dan orang 1. Ekstradisi dilakukan berdasarkan suatu perjanjian (ayat ekstradisi dengan negara-negara tidak menegaskan di wewenang untuk itu,
yang menjadi subyek permintaan ekstradisi 1); lain, yakni, Indonesia bersedia dalam salah satu pasal sebaiknya Pemerintah
berada di wilayah Negara Pihak yang diminta, 2. Dalam hal belum ada perjanjian tersebut dalam ayat mengekstradisikan orang yang ataupun ayatnya, Indonesia secepatnya
dengan ketentuan bahwa tindak pidana (1) maka ekstradisi dapat dilakukan atas dasar diminta oleh suatu negara- mengenai lembaga menunjuk lembaga pe-
untuk mana ekstradisi diminta dapat hubungan baik dan jika kepentingan negara Republik peminta, apabila antara pemerintah yang diberi merintah yang diberi
dihukum berdasarkan hukum nasional dari Indonesia menghendakinya (ayat 2) Indonesia dengan negara- tugas dan wewenang tugas dan wewenang
kedua Negara Pihak yang meminta dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1979 tentang Ekstradisi peminta yang bersangkutan untuk menyampaikan untuk melakukan pem-
negara Pihak yang diminta. juga mengatur tentang kejahatan politik (Pasal 5 ayat 1, sudah terikat pada suatu kepada Sekretaris beritahuan kepada organ
2. Apabila permintaan ekstradisi terdiri dari ayat 2, ayat 3, ayat 4) yang berbunyi : perjanjian ekstradisi, ataupun Jendral PBB ataupun dari organisasi inter-
beberapa tindak pidana serius yang berbeda, Ayat 1: berdasarkan hubungan baik yang kepada salah satu nasional mengenai apa
beberapa di antaranya tidak tercakup dalam Ekstradisi tidak dilakukan terhadap kejahatan politik; belangsung secara timbal balik organ dari organisasi- yang diamanatkan oleh
Konvensi ini, Negara Pihak yang diminta Ayat 2: (belum terikat pada suatu organisasi internasio- ketentuan dari konvensi,
dapat menerapkan Pasal ini juga terhadap Kejahatan yang pada hakekatnya lebih merupakan perjanjian ekstradisi). Hanya saja nal lainnya sebagai- seperti pasal 16 ayat 5
tindak pidana yang disebutkan belakangan. kejahatan biasa daripada kejahatan politik, tidak dianggap jika pengekstradisian atas orang mana ditentukan di huruf a UNTOC ataupun
3. Setiap tindak pidana yang menggunakan sebagai kejahatan poiltik. yang diminta didasarkan atas dalam salah satu pasal pasal-pasal sejenis yang
Pasal ini wajib dipertimbangkan untuk Ayat 3: hubungan baik (ayat 2) disertai atau ayat dari konvensi juga terdapat dalam
dicantumkan sebagai tindak pidana yang bisa Terhadap beberapa jenis kejahatan politik tertentu dengan suatu syarat, yakni, jika yang bersangkutan. konvensi-konvensi yang
diekstradisi dalam suatu persetujuan pelakunya juga dapat diekstradisikan sepanjang kepentingan negara Republik lainnya.
Ketiadaan pengaturan-
ekstradisi yang ada di antara Negara-Negara diperjanjikan antara negara RI dengan negara yang Indonesia menghendakinya.
nya di dalam Undang- Oleh karena masalah
Pihak. Negara Pihak berupaya mencantum- bersangkutan. Dalam prakteknya, apakah
Undang Nomor 24 pemberitahuan ini meru-
kan tindak pidana tersebut sebagai tindak Ayat 4: kepentingan Republik Indonesia
Tahun 2000 ini me- pakan tindakan keluar
pidana yang dapat diekstradisi dalam setiap Pembunuhan atau percobaan pembunuhan terhadap kepala menghendakinya ataukah tidak,
mang dapat dipahami atau eksternal dan
perjanjian ekstradisi yang ditandatangani di negara atau anggota keluarganya tidak dianggap sebagai tentulah ditentukan secara
sebab tentang penun- termasuk dalam ruang
antara mereka. kejahatan politik. kasuistis sebab kepentingan
jukan lembaga peme- lingkup hubungan luar
4. Jika suatu Negara Pihak yang mempersyarat- Perundang-undangan Indonesia mengatur ekstradisi dalam negara Republik Indonesia
rintah yang diberi negeri maka Kemen-
kan ekstradisi melalui adanya suatu perjan- Pasal 5 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang terhadap masing-masing kasus
tugas dan wewenang terian Luar Negeri mela-
jian menerima permintaan ekstradisi dari Nomor 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 15 Tahun tersebut bisa berbeda-beda.
melakukan penyam- lui Direktorat Jendral
Negara Pihak lain dengan mana negara 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
93
94
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 38


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

tersebut tidak memiliki perjanjian ekstradisi, yang menegaskan tindak pidana terorisme dikecualikan dari Dari sikap dasar Indonesia paian atau pemberita- Hukum dan Perjanjian
negara tersebut dapat mempertimbangkan tindak pidana politik, tindak pidana yang berkaitan dengan seperti dalam Pasal 2 ayat 1 dan huan kepada organ Internasional adalah
Konvensi ini sebagai landasan hukum untuk tindak pidana politik, tindak pidana dengan motif politik, 2 Undang-Undang Nomor 1 dari organisasi inter- lembaga pemerintah
melakukan ekstradisi dengan mempertim- dan tindak pidana dengan tujuan politik, yang menghambat Tahun 1979 tentang Ekstradisi nasional ini merupa- yang paling tepat untuk
bangkan tindak pidana terhadap mana pasal proses ekstradisi. tersebut dalam hubungannya kan masalah pada ditunjuk dan diberi tugas
ini digunakan. dengan Pasal 16 ayat 5 huruf a tataran teknis operasi- dan wewenang untuk
5. Negara-Negara Pihak yang mempersyaratkan UNTOC yaitu tentang kewajiban onal yang sebaiknya itu.
ekstradisi melalui adanya suatu perjanjian, (Indonesia) untuk memberitahu- diatur di dalam per-
Amanat seperti dalam
wajib : kan kepada Sekretaris Jendral aturan perundang-
Pasal 16 (Ekstradisi)
(a) Pada saat penyerahan instrumen PBB tentang sikap Indonesia undangan yang lebih
ayat 5 juga dijumpai di
ratifikasi, penerimaan, persetujuan dari apakah akan menjadikan Pasal rendah seperti peratur-
dalam Pasal 18 (Bantuan
atau aksesi terhadap Konvensi ini, agar 16 (Ekstradisi) tersebut sebagai an pemerintah atau
Hukum Timbal Balik)
memberitahukan Sekretaris Jenderal landasan hukum untuk peng- peraturan presiden
ayat 13 UNTOC. Oleh
Perserikatan Bangsa-Bangsa apakah ekstradisian, seharusnyalah (perpres) sebagai
karena itu, lembaga
mereka menggunakan Konvensi ini Indonesia menjadikan UNTOC peraturan pelaksanaan
pemerintah yang ditun-
sebagai landasan hukum bagi kerja sama (khususnya Pasal 16) sebagai dari Undang-Undang
juk atau diberi tugas dan
ekstradisi dengan Negara-negara Pihak landasan hukum dalam ini.
wewenang untuk melak-
Konvensi ini; dan pengekstradisian. Persoalannya
Konvensi yang isi dan sanakan Pasal 16 ayat 5,
(b) Jika mereka tidak menggunakan adalah, tentang lembaga
jiwanya sama dengan juga termasuk untuk
Konvensi ini sebagai landasan hukum pemerintah yang diberi tugas dan
Pasal 16 ayat 5 huruf a melaksanakan amanat
bagi kerja sama ekstradisi, berupaya, wewenang untuk menyampaikan-
UNTOC dapat dijumpai dari Pasal 18 ayat 13
sebagaimana layaknya, membentuk nya kepada Sekretaris Jendral

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


dalam Pasal 44 ayat 6 UNTOC.Undang-Undang
perjanjian kstradisi dengan Negara Pihak PBB.
huruf a UNCAC. Nomor 1 Tahun 1979
Konvensi lainnya guna melaksanakan
Dalam hukum nasional Indonesia, tentang Ekstradisi sudah
pasal ini.
penegasan atau penunjukan Oleh karena ekstradisi harus dicabut dan
6. Negara Pihak yang tidak mempersyaratkan
mengenai lembaga pemerintah juga diatur di dalam diganti dengan undang-
ekstradisi melalui adanya suatu perjanjian
yang diberikan tugas dan perjanjian bilateral dan undang tentang Ekstra-
wajib mengakui tindak pidana terhadap mana
wewenang khusus untuk Indonesia telah terikat disi yang baru.
pasal ini digunakan sebagai tindak pidana
menyampaikan sikap Indonesia pada perjanjian ekstra- Setiap undang-undang
yang bisa diekstradisikan diantara sesama
kepada Sekretaris Jendral disi bilateral dengan pidana di luar KUHP baik
mereka.
Perserikatan Bangsa-Bangsa, negara-negara saha- yang sudah ada sebe-
7. Ekstradisi tunduk kepada ketentuan yang
berkenaan dengan ketentuan bat, maka perjanjian- lumnya ataupun yang
ditetapkan oleh hukum nasional negara Pihak
Draft 5 (11 Agustus 2010) 39
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

Diminta atau melalui perjanjian ekstradisi Pasal 16 ayat 5 huruf a dari perjanjian ekstradisi akan diundangkan pada
yang berlaku, meliputi, antara lain, UNTOC yang secara tersimpul itu perlu diperhatikan masa yang akan datang
persyaratan hukuman minimum untuk juga berarti menyampaikan/ dalam menghadapi supaya di dalam salah
ekstradisi dan pertimbangan terhadap mana memberitahukan sikap Indonesia kasus ekstradisi yang satu pasalnya ada
Negara Pihak Diminta dapat menolak seperti dalam Pasal 2 ayat 1 dan berkenaan dengan penegasan tentang:
ekstradisi. 2 Undang-Undang Nomor 1 tindak pidana yang “tindak pidana yang
8. Negara-Negara Pihak wajib, tunduk terhadap Tahun 1979 tentang Ekstradisi, diatur dalam Konvensi. diatur dalam undang-
hukum nasionalnya, berupaya mempercepat ataupun ketentuan sejenis yang Juga perlu diperhatikan undang ini. tergolong
prosedur ekstradisi dan menyerderhanakan berkaitan dengan ekstradisi yang sebagai acuan dalam sebagai extraditable
persyaratan pembuktian yang terkait, dengan juga terdapat di dalam konvensi- membuat perjanjian crime”.
mempertimbangkan tindak pidana yang konvensi internasional yang ekstradisi dengan Indonesia dalam mem-
menggunakan Pasal ini. lainnya seperti UNCAC dalam negara-negara sahabat buat undang-undang
9. Tunduk kepada ketentuan hukum Pasal 44 (Ekstradisi) ayat 6 huruf maupun dalam mem- ekstradisi yang baru
nasionalnya dan perjanjian ekstradisinya. a, hingga kini masih belum jelas buat undang-undang sebagai pengganti dari
Negara Pihak diminta dapat, setelah yakin bahkan mungkin tidak ada sama ekstradisi yang baru Undang-Undang Nomor
bahwa kondisi tersebut sungguh diperlukan sekali. adalah United Nations 1 Tahun 1979 tentang
dan mendesak dan dengan permintaan Model Treaty on Ekstradisi, sebaiknya
Ketidakjelasan atau ketiadaan ini
Negara Pihak meminta, mengambil orang Extradition, 1990. juga mengacu pada
tentulah sangat disayangkan
yang ekstradisinya telah diminta dan yang United Nations Model
mengingat bahwa Indonesia
berada di dalam wilayahnya, ke dalam Treaty on Extradition,
merupakan negara besar yang
penahanan atau menggunakan upaya yang 1990. UN Model Treaty
banyak terlibat secara aktif
tepat lainnya untuk menjamin on Extradition ini sudah
dalam perundingan-perundingan
keberadaannya dalam proses ekstradisi. diikuti oleh negara-
atau konperensi-konperensi inter-
10. Suatu Negara Pihak yang di wilayahnya negara dalam membuat
nasional untuk merumuskan
ditemukan tersangka pelanggar, jika negara perjanjian dan undang-
naskah konvensi-konvensi inter-
tersebut tidak mengekstradisi orang terkait undang tentang ekstra-
nasional, khususnya konvensi-
dengan tindak pidana terhadap penggunaan disi.
konvensi tentang kejahatan
Pasal ini semata-mata dengan pertimbangan Dalam pembuatan un-
internasional yang hampir dalam
bahwa ia merupakan warga negaranya, atas dang-undang ekstradisi
setiap konvensi tersebut
permintaan Negara Pihak yang yang baru sebagai
mengandung pengaturan yang
mengupayakan ekstradisi, diwajibkan pengganti dari Undang-
jiwa dan semangatnya sama
menyerahkan kasus tersebut tanpa Undang Nomor 1 Tahun
seperti Pasal 16 ayat 5 huruf a
penundaan yang tidak semestinya kepada 1979 tentang Ekstradisi

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
95
96
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 40


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

badan yang berwenang untuk tujuan UNTOC ini. maupun dalam pem-
penuntutan. Badan tersebut wajib mengambil buatan perjanjian-per-
Penunjukan lembaga pemerintah
keputusan dan melakukan proses hukum janjian ekstradisi dengan
untuk tugas dan wewenang ini
dengan cara yang sama seperti kasus tindak negara-negara sahabat,
sangat perlu, antara lain untuk
pidana berat lain sesuai hukum nasional di dalamnya supaya
mengkoordinasikannya dengan
Negara Pihak tersebut. Negara-negara Pihak dicantumkan tentang
lembaga-lembaga pemerintah
yang bersangkutan wajib saling bekerja sama “simplified extradition
yang lain (di dalam negeri) yang
satu dengan yang lain, khususnya procedure” (prosedur
terkait dengan pokok masalah
menyangkut prosedur dan aspek ekstradisi yang
yang diatur dalam konvensi-
pembuktian, guna menjamin efisiensi proses sederhana/singkat).
konvensi dan untuk mengambil
penuntutan tersebut.
keputusan tentang bagaimana
11. Kapan saja suatu Negara Pihak diberikan izin
sikap yang sebaiknya diambil
berdasarkan hukum nasionalnya untuk
oleh pemerintah Indonesia
mengekstradisikan atau sebaliknya
terhadap apa yang diamanatkan
menyerahkan salah seorang warga
oleh konvensi yang bersangkutan
negaranya hanya berdasarkan ketentuan
dan selanjutnya atas dasar itulah
bahwa orang tersebut akan dikembalikan ke
dilakukan pemberitahuan kepada
Negara Pihak tersebut guna menjalani
organ dari organisasi inter-
hukuman yang dikenakan sebagai akibat dari
nasional yang dimaksudkan.
pemeriksaan pengadilan, atau proses dimana
Pasal 16 Konvensi ini merupakan
ekstradisi atau penyerahan orang telah
pemadatan/pemampatan dari
diupayakan, dan bahwa Negara Pihak

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


pranata hukum ekstradisi yang
tersebut dan Negara Pihak yang
meliputi asas-asas dan kaidah-
mengupayakan ekstradisi orang dimaksud
kaidah hukumnya.
sepakat dengan opsi ini dan syarat lain yang
Pasal 16 ayat (3) Konvensi
mereka anggap tepat, persyaratan ekstradisi
mewajibkan negara-negara pihak
tersebut atau penyerahan sudah cukup untuk
untuk mempertimbangkan keja-
melepaskan dari kewajiban yang ditetapkan
hatan yang tercakup dalam
dalam ayat (10) Pasal ini.
Konvensi sebagai kejahatan yang
12. Jika ekstradisi, diupayakan untuk tujuan
dapat dijadikan alasan untuk
pelaksanaan hukuman, ditolak karena orang
pengekstradisian (extraditable
yang diminta adalah warga negara dari
crime) di dalam perjanjian-
Negara Pihak Diminta, maka Pihak Diminta,
Draft 5 (11 Agustus 2010) 41
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

jika hukum nasionalnya mengizinkan dan perjanjian ekstradisi antara


selaras dengan persyaratan hukum tersebut, mereka. Dengan pencantuman
berdasarkan atas permohonan dari Negara ini, diharapkan pelakunya tidak
Peminta, wajib mempertimbangkan pelak- dapat menghindarkan dari dari
sanaan hukuman yang telah dikenakan tanggungjawab atas perbuatan-
berdasarkan hukum nasional Negara Peminta nya.
atau sisa hukuman darinya. Substansi baru yang terdapat
13. Setiap orang dengan mempertimbangkan dalam Konvensi adalah tercan-
proses hukum yang sedang dijalankan tum dalam Pasal 16 ayat (12)
kepadanya terkait dengan tindak pidana dan ayat (15).
terhadap penggunaan Pasal ini digunakan, Pasal 16 ayat (12) berkenaan
wajib dijamin atas perlakuan yang adil pada dengan seorang terhukum yang
semua tingkat pemrosesan, termasuk ditolak untuk diekstradisikan oleh
penikmatan semua hak dan jaminan yang negara diminta karena dia adalah
diberikan oleh hukum nasional dari Negara warga negaranya. Negara di-
Pihak dalam wilayah tempat orang tersebut minta, atas permintaan negara-
berada. peminta, diwajibkan untuk mem-
14. Tidak satu pun dalam Konvensi ini ditafsirkan pertimbangkan kemungkinan
sebagai pembebanan kewajiban untuk untuk melanjutkan pelaksanaan
mengekstradisi, jika Negara Pihak Diminta hukumannya di lembaga pema-
memiliki alasan kuat untuk meyakini bahwa syarakatannya sendiri.
permintaan yang dibuat untuk tujuan Pasal 16 ayat (15) tidak
penuntutan atau penghukuman seseorang membolehkan negara-negara
atas dasar jenis kelamin, ras, agama, pihak menolak permintaan
kewarganegaraan, suku asal atau pendapat esktradisi dengan alasan bahwa
politik orang tersebut atau dipenuhinya tindak pidana itu melibatkan
permintaan tersebut akan menyebabkan masalah keuangan. Akan tetapi
kerugian terhadap posisi orang tersebut ketentuan ini dapat menimbulkan
untuk alasan-alasan dimaksud. perbedaan penafsiran tentang
15. Negara-Negara Pihak tidak boleh menolak apa yang dimaksud dengan
permintaan ekstradisi hanya atas “melibatkan masalah keuangan”.
pertimbangan bahwa tindak pidana tersebut Kedua ketentuan di atas sama
dianggap melibatkan masalah keuangan. sekali tidak terdapat di dalam

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
97
98
U NTOC
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 42


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

16. Sebelum menolak ekstradisi, Negara Pihak Undang-Undang Nomor 1 Tahun


yang diminta, jika perlu, wajib berkonsultasi 1979 tentang Ekstradisi.
dengan Negara Pihak Peminta guna Substansi tentang kejahatan
memberikan kesempatan yang luas untuk politik di dalam Undang-Undang
memberikan pandangannya dan memberikan Nomor 1 Tahun 1979 tentang
informasi yang berhubungan dengan dugaan Ekstradisi tampak terlalu umum.
tersebut. Pasal 16 ayat (14) Konvensi
17. Negara Pihak wajib berupaya membentuk mengelaborasi kejahatan yang
perjanjian bilateral dan multilateral atau dapat digolongkan sebagai keja-
pengaturan-pengaturan untuk melaksanakan hatan politik ataupun kejahatan
atau meningkatkan efektivitas ekstradisi. yang mengandung dimensi politik
sehingga pelakunya tidak boleh
diekstradisikan.
Patut diketahui, bahwa larangan
untuk mengekstradisikan pelaku
kejahatan politik ataupun keja-
hatan yang mengandung dimensi
politik adalah demi peng-
hormatan terhadap hak asasi
manusia di bidang politik.
Pasal 16 ayat (8) Konvensi
mewajibkan kepada negara-

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


negara pihak dalam Konvensi
untuk mempercepat prosedur
dan menyederhanakan persya-
ratan tentang pembuktian dalam
kasus ekstradisi. Ketentuan
seperti ini tidak terdapat dalam
Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1979 tentang Ekstradisi.
Jiwa dan semangat dari Pasal 16
ayat 8 ini sama dengan
“simplified extradition procedure”
Draft 5 (11 Agustus 2010) 43
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

(prosedur sederhana/singkat dari


ekstradisi) yang lazim dijumpai di
dalam undang-undang ekstradisi
nasional negara-negara ataupun
perjanjian-perjanjian bilateral
ataupun multilateral tentang
ekstradisi yang dibuat bela-
kangan ini. Sedangkan di dalam
undang-undang ekstradisi na-
sional negara-negara ataupun di
dalam perjanjian-perjanjian
ekstradisi pada masa lampau
(sekitar dasawarsa delapan
puluhan atau sebelumnya) sama
sekali tidak ada ketentuan seperti
ini.

Pada tahun 1990, Majelis Umum


PBB telah mengesahkan the
United Nations Model Treaty on
Extradition yang dalam Article 6
menegaskan tentang “Simplified
Extradition Procedure” dengan
rumusan: “The Requested State,
if not precluded by its law, may
grant extradition after receipt of
a request for provisional arrest,
provided that the person sought
explicitly consents before a
competent authority”.

UN Model Treaty ini, meskipun


tidak merupakan hukum inter-
nasional positif, tampaknya

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
99
U NTOC

100
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 44


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

dalam praktek diikuti dan


diadopsi oleh negara-negara
dalam pembuatan perjanjian-
perjanjian bilateral ataupun
multilateral tentang ekstradisi,
termasuk pencantuman tentang
“simplified extradition procedure”
ini sebagai salah satu pasalnya.

Di dalam perjanjian-perjanjian
ektradisi yang dibuat belakangan
ini, ketentuan pasal 16 ayat (8)
sudah mulai dicantumkan.
Pasal 16 ayat (12) ini juga
merupakan hal baru di dalam
ektradisi, yang mewajibkan
kepada negara diminta untuk
melaksanakan hukuman atas
orang yang diminta yang telah
dijatuhkan hukuman oleh negara
peminta dengan alasan orang
yang bersangkutan adalah warga

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


negaranya. Dalam hal ini orang
tersebut berstatus sebagai
terpidana.
Atas permintaan dari negara
peminta, negara yang diminta
tersebut wajib untuk
melaksanakan hukuman atau sisa
hukumannya di negara diminta
itu sendiri. Ketentuan ini juga
tidak terdapat dalam Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 1979.
Draft 5 (11 Agustus 2010) 45
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

17 Pemindahan Narapidana
Negara Pihak dapat mempertimbangkan Perundang-undangan pidana Indonesia belum mengatur Kebutuhan praktek dirasakan Undang-Undang No- Sebaiknya Indonesia
pembentukan perjanjian bilateral dan multilateral ketentuan tentang pemindahan narapidana ke negara lain. terkait dengan adanya beberapa mor 12 Tahun 1995 aktif mengadakan penj-
atau pengaturan-pengaturan tentang Pasal 4 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 tentang negara yang mengupayakan tentang ajakan dengan negara-
pemindahan orang-orang yang dipidana penjara Bantuan Timbal Balik Dalam Masalah Pidana tidak pemindahan narapidana yang Pemasyarakatan belum negara sahabat untuk
atau bentuk pencabutan hak kebebasan lainnya, memberikan wewenang untuk mengadakan pengalihan berkewarganegaraan dari negara mengakomodasi membuat perjanjian
ke wilayah mereka bagi tindak pidana yang narapidana. yang bersangkutan ke negara ketentuan Konvensi. tentang pemindahan
tercakup dalam Konvensi ini, agar mereka dapat yang dimaksud. Pada tahun 2008, pelaksanaan hukuman
menyelesaikan masa hukuman mereka di sana. Tampaknya ada kendala dalam Australia sudah pernah bagi nara pidana asing.
daya tampung Lembaga Pema- melakukan penjajagan Perlu dipertimbangkan
syarakatan di Indonesia yang kepada Indonesia supaya dalam KUHAP
pada umumnya sudah melebihi untuk membuat ataupun RUU KUHAP ada
kapasitas. Namun demikian, hal perjanjian semacam satu pasal yang
ini tidak bisa dijadikan alasan ini. menegaskan
untuk tidak menerima WNI yang kemungkinan bagi nara
sedang menjalani hukuman di pidana asing yang
negara lain untuk menjalani menjalani pidana di
hukuman/ sisa hukumannya di Indonsia untuk bisa
negaranya sendiri (Indonesia) menjalani pidana atau
ataupun sebaliknya. sisa pidananya di
Hingga kini belum ada peraturan negaranya sendiri dan
perundang-undangan Indonesia demikian pula bagi
tentang pemindahan pelaksanaan warganegara Indonesia
hukuman bagi nara pidana asing yang menjalani pidana di
maupun perjanjian antara negara asing untuk
Indonesia dengan negara sahabat menjalani pidana atau
mengenai masalah pemindahan sisa pidananya di
narapidana ini. Indonesia.
Pada lain pihak, adalah
merupakan suatu fakta bahwa
cukup banyak warganegara asing
yang dipidana dan menjalani
pidananya di Indonesia dan

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
101
U NTOC

102
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 46


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

sebaliknya juga cukup banyak


WNI yang dipidana dan menjalani
pidananya di negara-negara lain.
Banyak diantara mereka yang
menghadapi beban psikologis
seperti kerinduan atas tanah air,
keluarganya, maupun kehidupan
masyarakatnya.
Alasan dari adanya perjanjian
ataupun undang-undang tentang
pemindahan pelaksanaan hukum-
an bagi narapidana asing ini
adalah masalah kemanusiaan,
seperti, kedekatan dengan
keluarga, soal makanan sehari-
hari, nilai-nilai sosial budaya,
iklim, dan lain-lain yang bersifat
kemanusiaan

18 Bantuan Hukum Timbal Balik


1. Negara Pihak wajib saling memberikan satu Bantuan timbal balik dalam masalah pidana telah diatur a. Bentuk bantuan timbal balik Indonesia telah meng- Perlu penyempurnaan
sama lain, seluas-luasnya, tindakan bantuan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006. Menteri yang diatur dalam Pasal 3 adakan perjanjian-per- Undang-Undang Nomor

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


hukum timbal balik dalam hal penyelidikan, Hukum dan Hak Asasi Manusia ditunjuk sebagai pejabat Undang-Undang Nomor 1 janjian multilateral dan 1 Tahun 2006 guna
penuntutan, dan proses pengadilan dalam pemegang otoritas (central authority) yang berperan Tahun 2006 tetapi tidak atau bilateral antara disesuaikan dengan
hubungannya dengan tindak pidana yang sebagai koordinator pengajuan permintaan bantuan timbal disebut dalam Konvensi, Indonesia dengan Konvensi.
tercakup dalam Konvensi ini sebagaimana balik. antara lain : negara-negara sahabat Perlu dipertimbangkan
ditetapkan dalam Pasal 3 dan wajib Pasal 1 angka 10: Menteri adalah menteri yang 1. Memperoleh kembali tentang bantuan timbal satu ketentuan yang
memberikan secara timbal balik bantuan bertanggung jawab di bidang hukum dan hak asasi sanksi denda berupa uang balik dalam masalah menegaskan tentang
yang sama satu dengan lainnya, di mana manusia. seluruhnya dengan tindak pidana. dimensi internasinoal
Negara Pihak Peminta memiliki pertimbangan Pasal 9 (1): Menteri dapat mengajukan permintaan pidana. Perjanjian tentang dari hukum acara pidana
yang tepat untuk mencurigai bahwa tindak Bantuan kepada negara asing secara langsung atau melalui 2. Mengidentifikasi dan men- bantuan timbal balik Indonesia, seperti,
pidana yang mengacu pada Pasal 4, ayat (1) saluran cari orang. diantara negara– kerjasama internasional.
(a) atau (b), adalah pada dasarnya bersifat diplomatik. Sedangkan ketentuan negara ASEAN adalah: Hubungan antara
Draft 5 (11 Agustus 2010) 47
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

antar negara, termasuk para korban, para Pasal 28 (3): Menteri dapat meminta informasi tambahan Konvesi yang mengatur Treaty on Mutual Legal bantuan hukum timbal
saksi, hasil-hasil, sarana-sarana atau bukti jika informasi yang terdapat dalam suatu pengajuan bentuk bantuan timbal balik Assistance in Criminal balik yang terdapat da-
tindak pidana tersebut berada di dalam permintaan Bantuan dinilai tidak cukup untuk menyetujui tetapi tidak disebut dalam Matters yang ditanda- lam Konvensi, Undang-
Negara Pihak Diminta dan bahwa tindak pemberian Bantuan. Undang-Undang Nomor 1 tangani di Kuala Lum- Undang Nomor 1 Tahun
pidana dimaksud melibatkan kelompok Pasal 29 (1): Dalam hal permintaan Bantuan telah Tahun 2006, antara lain : pur tanggal 20 Nopem- 2006, dan dalam per-
pelaku tindak pidana terorganisasi. memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. Memberikan informasi, ber 2004. janjian-perjanjian multi
2. Bantuan hukum timbal balik wajib diberikan 28, Menteri meneruskan kepada Kapolri atau Jaksa Agung hal-hal mengenai pem- Perjanjian-perjanjian dan bilateral, sebaiknya
semaksimal mungkin berdasarkan undang- untuk ditindaklanjuti. buktian dan penilaian multilateral dan atau ditempatkan dalam po-
undang terkait, perjanjian, persetujuan dan Pasal 29 (2): Menteri melakukan koordinasi dengan instansi para ahli. bilateral antara Indo- sisi saling melengkapi
pengaturan dari Negara Pihak Diminta terkait sebelum permintaan tersebut dipenuhi. 2. Memfasilitasi kehadiran nesia dengan negara- (komplementer).
dengan mempertimbangkan proses penye- Pasal 30: Menteri melakukan koordinasi dengan instansi sukarela seseorang di negara sahabat ten- Perlu koordinasi Menteri
lidikan, penuntutan, dan pengadilan dalam terkait sebelum permintaan tersebut dipenuhi. negara pihak peminta. tang bantuan timbal Hukum dan Hak Asasi
hubungan dengan tindak pidana yang suatu b. Ketentuan Pasal 18 ayat (5) balik dalam masalah Manusia dengan Menteri
badan hukum dapat dikenai tanggung jawab Konvensi tentang kewajiban pidana baik yang Luar Negeri tentang
sesuai dengan Pasal 10 Konvensi ini di untuk merahasiakan infor- sudah ada ataupun pelaksanaan pemberita-
Negara Pihak Peminta. masi dari negara yang yang akan ada pada huan badan yang diberi
3. Bantuan hukum timbal balik yang akan diminta, belum diatur dalam masa yang akan wewenang untuk mela-
diberikan menurut Pasal ini dapat dimintakan Undang-Undang Nomor 1 datang. kukan bantuan timbal
untuk tujuan-tujuan berikut : Tahun 2006. balik dalam masalah
(a) mengambil bukti atau keterangan dari c. Ketentuan Pasal 18 ayat (8) pidana. Seyogyanya
seseorang; Konvensi yang menentukan Menteri Luar Negeri
(b) memberikan pelayanan dokumen peng- bahwa negara yang diminta yang memberitahukan
adilan; tidak boleh menolak membe- informasi tersebut ke-
(c) melakukan pencarian dan penyitaan, dan rikan bantuan timbal balik pada Sekretaris Jenderal
pembekuan; dengan alas an kerahasiaan PBB.
(d) memeriksa barang dan tempat; bank, belum diatur dalam
(e) memberikan informasi, hal-hal mengenai Undang-Undang Nomor 1
pembuktian dan penilaian para ahli; Tahun 2006.
(f) memberikan dokumen asli atau salinan d. Ketentuan Pasal 18 ayat (10)
resmi dari dokumen dan laporan yang Konvensi tentang dapat di-
relevan, termasuk laporan pemerintah, pindahkan seseorang yang
perbankan, keuangan, perusahaan atau ditahan atau menjalani pida-
catatan usaha; na untuk tujuan identifikasi,

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
103
U NTOC

104
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 48


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

(g) mengidentifikasi atau melacak hasil pemberian kesaksian atau


tindak pidana, kekayaan, sarana-sarana untuk memperoleh bukti bagi
atau benda-benda lain untuk tujuan penyidikan, penuntutan atau
pembuktian; proses pengadilan, belum
(h) memfasilitasi kehadiran sukarela diatur dalam Undang-Undang
seseorang di Negara Pihak Peminta; Nomor 1 Tahun 2006.
(i) jenis bantuan lainnya yang tidak e. Pasal 18 ayat (19) Konvensi
bertentangan dengan hukum nasional mengatur tentang larangan
Negara Pihak Diminta. menggunakan informasi atau
4. Tanpa mengesampingkan hukum nasional- bukti yang diberikan oleh
nya, badan yang berwenang dari suatu negara yang diminta untuk
Negara Pihak dapat, tanpa diminta sebe- melakukan penyelidikan, pe-
lumnya, menyampaikan informasi yang nuntutan atau proses peng-
berhubungan dengan masalah kriminal adilan kasus lain, selain yang
kepada badan yang berwenang di negara dinyatakan dalam permin-
Pihak lain, yang mereka yakin bahwa taan, tanpa persetu-juan
informasi tersebut dapat membantu pihak sebelumnya dari negara yang
berwenang tersebut dalam mengupayakan diminta. Ketentuan ini tidak
atau melakukan pemeriksaan dengan baik ada dalam Undang-Undang
dan proses pidana, atau dapat menghasilkan Nomor 1 Tahun 2006.
suatu permintaan yang disusun oleh Negara f. Pasal 18 ayat (20) mengatur
Pihak yang disebut belakangan berdasarkan tentang syarat yang dapat

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


Konvensi ini. diberikan oleh negara pihak
5. Pengiriman informasi menurut ayat (4) Pasal peminta kepada negara yang
ini wajib dilakukan tanpa mengindahkan diminta agar merahasiakan
proses pemeriksaan dan proses pidana di fakta dan substansi permin-
Negara yang badan berwenang memberikan taan tersebut. Ketentuan ini
informasi tersebut berada. Badan yang belum diatur dalam Undang-
berwenang yang menerima informasi wajib Undang Nomor 1 Tahun
menuruti permintaan bahwa informasi 2006.
dimaksud tetap bersifat rahasia, walaupun g. Ketentuan Pasal 18 ayat (22)
sementara, atau dengan pembatasan pada yang tidak membolehkan
penggunaannya. Namun, hal ini tidak akan negara yang diminta menolak
Draft 5 (11 Agustus 2010) 49
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

menghalangi Negara Pihak Diminta, dalam permintaan bantuan timbal


proses beracara, mengungkapkan informasi balik hanya dengan alasan
yang merupakan bukti yang dapat melibatkan masalah keu-
membebaskan orang yang tertuduh. Dalam angan, tidak diatur dalam
kasus seperti ini, Negara Pihak Penerima Undang-Undang Nomor 1
wajib memberitahukan kepada Negara Pihak Tahun 2006.
Pengirim sebelum pengungkapan tersebut h. Ketentuan Pasal 18 ayat (27)
dan, apabila diminta, mengkonsultasikan tentang jaminan dari negara
dengan negara Pihak Pengirim. Apabila, pihak peminta yang tidak
dalam perkara yang sifatnya luar biasa, boleh menuntut, menahan,
pemberitahuan di depan tidak mungkin, menghukum atau membatasi
Negara Pihak Penerima wajib memberitahu kebebasan pribadi seorang
Negara Pihak Pengirim mengenai saksi ahli atau orang lain
pengungkapan tersebut tanpa penundaan. yang memberikan bukti atau
6. Ketentuan-ketentuan Pasal ini tidak boleh membantu penyidikan,
mempengaruhi kewajiban terhadap penuntutan atau proses
perjanjian lain yang ada, bilateral atau peradilan di wilayah negara
multilateral, yang mengatur atau akan pihak peminta, belum diatur
mengatur, secara keseluruhan maupun dalam Undang-Undang
sebagian, bantuan hukum timbal balik. Nomor 1 Tahun 2006.
7. Ayat (9) sampai ayat (29) Pasal ini Jika diperbandingkan substansi
digunakan terhadap permintaan yang dibuat Konvensi dengan substansi
sesuai dengan Pasal ini jika Negara Pihak Undang-Undang Nomor 1 Tahun
tersebut tidak terikat dengan suatu 2006 ini, secara umum dapat
perjanjian bantuan hukum timbal balik. Jika dikatakan ada ketentuan yang
Negara Pihak tersebut terikat perjanjian sama atau jiwanya sama, ada
semacam itu, maka ketentuan-ketentuan yang kekosongan di pihak yang
yang berhubungan dengan perjanjian wajib satu tetapi ada di pihak yang lain
digunakan kecuali jika Negara-Negara Pihak atau sebaliknya atau ada hal-hal
sepakat untuk menggunakan ayat (9) sampai yang seharusnya diatur tetapi
ayat (29) Pasal ini sebagai pengganti tidak diatur di dalam keduanya.
darinya. Negara-Negara Pihak sangat Undang-Undang Nomor 1 Tahun
dianjurkan untuk menggunakan ayat-ayat 2006 mengatur tentang “transit”

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
105
U NTOC

106
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 50


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

tersebut tersebut jika mereka melakukan [Pasal 40 ayat (1), ayat (2), ayat
kerja sama. (3), ayat (4), dan ayat (5)] tetapi
8. Negara-Negara Pihak tidak boleh menolak hal ini tidak terdapat di dalam
untuk memberikan bantuan hukum timbal Konvensi. Sebaliknya, Pasal 18
balik sesuai dengan Pasal ini dengan Konvensi sama sekali tidak
pertimbangan kerahasiaan bank. mengaturnya, padahal sebagai
9. Negara-Negara Pihak dapat menolak untuk sebuah perjanjian multilateral
memberikan bantuan hukum timbal balik sudah seharusnya mengatur di
sesuai dengan Pasal ini dengan pertimbangan dalam salah satu pasalnya.
tidak adanya kriminalitas ganda. Namun, Undang-Undang Nomor 1 Tahun
Negara Pihak Diminta dapat, apabila 2006 sama sekali tidak mengatur
dianggap perlu, memberikan bantuan, sejauh tentang “pengamanan/keaman-
diputuskan sesuai kehendaknya, terlepas an” atas orang ataupun barang
apakah tindakan tersebut merupakan suatu bukti” mulai dari proses paling
tindak pidana berdasarkan hukum nasional awal hingga akhir. Sejauhmana
Negara Pihak Diminta. pembagian tanggungjawab anta-
10. Seorang yang sedang ditahan atau menjalani ra negara-peminta dan negara-
hukuman di wilayah sebuah negara Pihak diminta atas keamanan orang
yang keberadaannya di Negara Pihak lain atau alat bukti tersebut .
Diminta dengan tujuan untuk identifikasi, Pasal 18 Konvensipun juga sama
pemberian kesaksian atau sebaliknya sekali tidak mengatur masalah
memberikan bantuan untuk memperoleh “Pengamanan/keamanan” ini.

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


bukti bagi penyelidikan, penuntutan, atau Pemerintah Republik Indonesia
proses pengadilan dalam hubungannya belum memberitahukan kepada
dengan kajahatan yang tercakup dalam Sekretaris Jenderal PBB tentang
Konvensi ini, dapat dipindahkan jika kewenangan Menteri Hukum dan
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Hak Asasi Manusia tentang
(a) orang tersebut dengan bebas badan yang bertanggungjawab
memberikan persetujuan secara sadar; untuk menerima permintaan
(b) badan yang berwenang dari kedua bantuan timbal balik dalam
Negara Pihak sepakat, tunduk terhadap masalah pidana sebagaimana
ketentuan-ketentuan yang dianggap tepat dimaksud dalam Pasal 13
oleh Negara-Negara Pihak tersebut. Konvensi.
Draft 5 (11 Agustus 2010) 51
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

11. Untuk tujuan dari ayat (10) Pasal ini:


(a) Negara Pihak terhadap orang yang
dipindahkan wajib memiliki kewenangan
dan kewajiban untuk tetap menahan
orang yang dipindahkan tersebut, kecuali
jika sebaliknya diminta atau diberi kuasa
oleh negara Pihak dari mana orang
tersebut dipindahkan;
(b) Negara Pihak terhadap orang tersebut
dipindahkan wajib, tanpa menunda
pelaksanaan kewajibannya, memulangkan
orang tesebut di bawah penahanan
Negara Pihak dari mana orang
dipindahkan sebagaimana yang
disepakati sebelumnya, atau sebaliknya
disepakati oleh badan-badan yang
berwenang dari kedua Negara Pihak;
(c) Negara Pihak terhadap mana orang
dipindahkan tidak boleh
mempersyaratkan Negara Pihak dari
mana orang yang dipindahkan tersebut
untuk memulai proses ekstradisi bagi
pemulangan orang tersebut;
(d) Orang yang dipindahkan tersebut
diberikan pengurangan atas pelaksanaan
hukuman yang telah dijalani di Negara
dari mana ia dipindahkan selama waktu
yang dijalani di bawah penahanan dari
Negara Pihak dari mana ia dipindahkan.
12. Kecuali kalau Negara Pihak dari mana
seseorang dipindahkan sesuai dengan ayat
(10) dan ayat (11) Pasal ini sepakat, bahwa
seseorang, apapun kewarganegaraannya,

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
107
U NTOC

108
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 52


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

tidak boleh dituntut, ditahan, dihukum atau


tunduk kepada pembatasan-pembatasan lain
dari kebebasan pribadinya dalam wilayah
Negara dari mana orang tersebut
dipindahkan dengan mempertimbangkan
perbuatan-perbuatan, kelalaian-kelalaian,
atau penghukuman-penghukuman sebelum
keberangkatannya dari wilayah Negara dari
mana ia dipindahkan.
13 Setiap Negara Pihak wajib menunjuk sebuah
badan yang berwenang yang memiliki
tanggung jawab dan kekuasaan untuk
menerima permintaan bantuan hukum timbal
balik dan juga untuk melaksanakan atau
mengirimkannya kepada badan yang
berwenang untuk dilaksanakan. Jika suatu
Negara Pihak memiliki daerah khusus atau
wilayah dengan sistem bantuan hukum
timbal balik yang terpisah, maka ia bisa
menunjuk badan berwenang yang lain, yang
memiliki fungsi yang sama untuk daerah atau
wilayah tersebut. Badan yang berwenang

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


wajib memastikan percepatan dan eksekusi
yang layak atau pengiriman atas permintaan
yang diterima. Apabila badan yang
berwenang mengirimkan permintaan kepada
badan yang berwenang untuk eksekusi,
badan tersebut wajib mendorong percepatan
dan eksekusi yang layak atas permintaan
tersebut oleh badan yang berwenang.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-
Bangsa wajib diberitahu mengenai badan
yang berwenang yang ditunjuk untuk tujuan
Draft 5 (11 Agustus 2010) 53
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

ini pada saat setiap Negara Pihak menyimpan


instrumen ratifikasi, penerimaan atau
persetujuan dari atau aksesi terhadap
Konvensi ini. Permintaan bantuan hukum
timbal balik dan setiap komunikasi yang
terkait dengan hal tersebut wajib dikirim
kepada badan yang berwenang yang ditunjuk
oleh Negara-Negara Pihak. Persyaratan tidak
boleh meniadakan hak suatu Negara Pihak
untuk mempersyaratkan bahwa permintaan
tersebut dan komunikasi ditujukan
kepadanya melalui saluran diplomatik dan,
dalam keadaan mendesak, yang Negara-
Negara Pihak sepakat, melalui Organisasi
Kepolisian Internasional, jika dimungkinkan.
14. Permintaan wajib dibuat tertulis atau, apabila
dimungkinkan, dengan cara lain yang dapat
menghasilkan catatan tertulis, dalam bahasa
yang dapat diterima oleh negara Pihak
Diminta, dengan syarat-syarat yang
memungkinkan Negara Pihak tersebut untuk
membuktikan keasliannya. Sekretaris
Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa wajib
diberitahu mengenai bahasa atau bahasa-
bahasa yang dapat diterima oleh setiap
Negara Pihak pada saat negara dimaksud
menyimpan instrumen ratifikasinya,
penerimaan, atau persetujuan atau aksesi
terhadap Konvensi ini. Dalam keadaan
mendesak dan yang disepakati oleh Negara-
Negara Pihak, permintaan dapat dilakukan
secara lisan, namun wajib dengan segera
diperkuat secara tertulis.

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
109
U NTOC

110
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 54


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

15. Suatu permintaan bantuan hukum timbal


balik wajib memuat
(a) identitas badan berwenang yang
membuat permintaan tersebut;
(b) masalah pokok dan sifat dasar dari
investigasi, penuntutan, atau proses
pengadilan terhadap mana permintaan
tersebut terkait, dan nama serta fungsi
dari kewenangan yang melakukan
investigasi, penuntutan ataupun proses
peradilan.
(c) ringkasan dari fakta-fakta yang relevan,
kecuali yang berhubungan dengan
permintaan-permintaan dengan tujuan
penyajian dokumen-dokumen peradilan;
(d) uraian tentang bantuan yang diupayakan
dan rincian prosedur tertentu dimana
Negara Pihak Peminta ingin untuk
ditindaklanjuti;
(e) dimana mungkin, identitas, lokasi dan
kewarganegaraan dari orang yang
bersangkutan; dan

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


(f) tujuan untuk mana bukti, informasi atau
tindakan tersebut diupayakan.
16. Negara Pihak Diminta dapat meminta
informasi tambahan apabila hal tersebut
diperlukan bagi pelaksanaan permintaan
sesuai dengan hukum nasional atau apabila
hal itu dapat memudahkan pelaksanaannya.
17. Suatu permintaan wajib dilaksanakan sesuai
dengan hukum nasional Negara Pihak
Diminta, dan sejauh tidak bertentangan
dengan hukum nasional Negara Pihak
Draft 5 (11 Agustus 2010) 55
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

Diminta dan jika mungkin, sesuai dengan


prosedur yang ditetapkan dalam permintaan.
18. Jika dimungkinkan dan sesuai dengan
prinsip-prinsip dasar hukum nasional, pada
saat seseorang ada di wilayah suatu Negara
Pihak dan harus didengar sebagai saksi atau
ahli oleh otoritas peradilan dari Negara Pihak
lain, Negara Pihak pertama dapat, atas
permintaan dari Negara Pihak lainnya,
mengizinkan pemeriksaan dilaksanakan
melalui konferensi visual jarak jauh jika tidak
dimungkinkan atau diperlukan seseorang
tersebut hadir sendiri di wilayah Negara
Pihak Peminta. Negara-Negara Pihak dapat
menyepakati bahwa pemeriksaan tersebut
wajib dilakukan oleh seorang pejabat
peradilan dari Negara Pihak Peminta dan
dihadiri oleh seorang pejabat peradilan dari
Negara Pihak Diminta.
19. Negara Pihak Peminta tidak boleh
mengirimkan atau menggunakan informasi
atau bukti yang diberikan oleh Negara Pihak
Diminta untuk penyelidikan, penuntutan,
ataupun proses peradilan selain yang
dinyatakan dalam permintaan tanpa
persetujuan sebelumnya dari Negara Pihak
Diminta. Tidak ada dalam ayat ini yang
menghalangi Negara Pihak Peminta untuk
mengungkapkan dalam proses beracaranya,
informasi yang merupakan bukti yang dapat
membebaskan tertuduh. Dalam kasus
terakhir ini, Negara Pihak Peminta wajib
memberitahu Negara Pihak Diminta sebelum

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
111
U NTOC

112
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 56


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

pengungkapan tersebut, dan jika diminta,


mengkonsultasikan dengan Negara Pihak
Diminta. Apabila, dalam perkara yang luar
biasa, negara Pihak Peminta wajib
memberitahukan kepada Negara Pihak
Diminta mengenai pengungkapan tersebut
tanpa penundaan.
20. Negara Pihak Peminta dapat mensyaratkan
kepada Negara Pihak Diminta untuk
merahasiakan fakta dan substansi
permintaan dimaksud, kecuali sepanjang
diperlukan untuk melaksanakan permintaan
tersebut. Jika Negara Pihak Diminta tidak
dapat mematuhi persyaratan mengenai
kerahasiaan, ia wajib segera memberitahu
Negara Pihak Peminta.
21. Bantuan hukum bersama dapat ditolak :
(a) Jika permintaan tidak dibuat sesuai
dengan ketentuan-ketentuan dari Pasal
ini;
(b) Jika Negara Pihak Diminta memper-
timbangkan bahwa pelaksanaan permin-

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


taan tersebut cenderung akan merugikan
kedaulatannya, keamanannya, dan
ketertiban umum atau kepentingan
mendasar lainnya;
(c) Jika pihak-pihak berwenang dari Negara
Pihak Diminta dilarang oleh hukum
nasionalnya untuk melaksanakan tin-
dakan yang diminta terkait dengan tindak
pidana yang serupa, apabila tindak
pidana tersebut tunduk kepada
penyelidikan, penuntutan, atau proses
Draft 5 (11 Agustus 2010) 57
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

pengadilan di dalam yurisdiksi mereka.


22. Negara-Negara Pihak tidak boleh menolak
suatu permintaan bantuan hukum timbal
balik hanya dengan alasan bahwa tindak
pidana dimaksud juga dianggap melibatkan
masalah keuangan.
23. Alasan-alasan wajib diberikan bagi setiap
penolakan bantuan hukum timbal balik.
24. Negara Pihak Diminta wajib melaksanakan
permintaan bantuan hukum timbal balik
sesegera mungkin dan wajib memper-
timbangkan sejauh mungkin batas waktu
yang disarankan oleh Negara Pihak Peminta
dan untuk pertimbangan-pertimbangan yang
diberikan, lebih baik dicantumkan di dalam
permintaan. Negara Pihak Diminta wajib
menanggapi permintaan-permintaan yang
pantas oleh Negara Pihak Peminta, selama
proses penanganan permintaan dimaksud.
Negara Pihak Peminta wajib segera
memberitahu Negara Pihak Diminta apabila
bantuan yang diminta tersebut tidak
diperlukan lagi.
25. Bantuan hukum timbal balik dapat
ditangguhkan oleh Negara Pihak Diminta
dengan alasan bahwa hal tersebut men-
campuri penyelidikan, penuntutan atau
proses pengadilan yang sedang berlangsung.
26. Sebelum menolak sebuah permintaan sesuai
dengan ayat (21) Pasal ini atau menang-
guhkan pelaksanaannya sesuai dengan ayat
(25) Pasal ini, Negara Pihak Diminta wajib
berkonsultasi dengan Negara Pihak Peminta

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
113
U NTOC

114
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 58


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

guna mempertimbangkan apakah bantuan


dapat diberikan tunduk terhadap ketentuan-
ketentuan dan syarat-syarat yang dianggap
perlu. Jika Negara Pihak Peminta menerima
bantuan dengan syarat-syarat tersebut, ia
wajib tunduk pada syarat-syarat tersebut.
27. Tanpa mengindahkan penggunaan ayat (12)
Pasal ini, seorang saksi, ahli atau orang lain
yang atas permintaan dari Negara Pihak
Peminta, setuju untuk memberikan bukti
dalam suatu proses beracara atau untuk
membantu suatu penyelidikan, penuntutan,
atau proses peradilan di wilayah Negara
Pihak Peminta, tidak boleh dituntut, ditahan,
dihukum atau tunduk terhadap pembatasan-
pembatasan lain terhadap kebebasan
pribadinya di wilayah tersebut terkait dengan
perbuatan, kelalaian atau hukuman sebelum
keberangkatannya dari wilayah Negara Pihak
Diminta. Jaminan keamanan tersebut
berakhir apabila saksi, ahli atau orang lain
yang telah memiliki, untuk jangka waktu lima

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


belas hari berturut-turut atau suatu jangka
waktu yang disepakati oleh Negara-Negara
Pihak sejak tanggal pemberitahuan secara
resmi bahwa keberadaanya tidak lagi
diperlukan oleh otoritas peradilan, kesem-
patan untuk pergi, namun demikian tetap
tinggal secara sukarela di wilayah Negara
Pihak Peminta atau telah meninggalkan,
telah kembali atas kehendaknya sendiri.
28. Biaya-biaya umum dari pelaksanaan suatu
permintaan ditanggung oleh negara Pihak
Draft 5 (11 Agustus 2010) 59
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

Diminta, kecuali jika sebaliknya disepakati


oleh Negara-Negara Pihak yang bersang-
kutan. Apabila diperlukan biaya besar atau
bersifat luar biasa untuk memenuhi permin-
taan, maka Negara-Negara Pihak wajib ber-
konsultasi guna menentukan ketentuan-
ketentuan dan syarat-syarat pelaksanaan
permintaan tersebut akan didasarkan,
termasuk cara-cara yang biaya-biayanya
wajib ditanggung.
29. Negara Pihak Diminta :
(a) wajib memberikan kepada Negara Pihak
Peminta salinan-salinan tentang catatan-
catatan pemerintah, dokumen-dokumen
atau informasi yang dimilikinya yang
menurut ketentuan hukum nasional
tersedia untuk masyarakat umum.
(b) dapat, atas kebijakannya, memberikan
kepada Negara Pihak Peminta secara
keseluruhan, sebagian atau tunduk
terhadap ketentuan-ketentuan yang
dianggap tepat, salinan-salinan dari
catatan-catatan pemerintah, dokumen-
dokumen atau informasi yang dimilikinya
yang menurut ketentuan hukum nasional
tersedia untuk masyarakat umum.
30. Negara-Negara Pihak wajib mempertim-
bangkan, sejauh diperlukan, kemungkinan
penandatanganan persetujuan-persetujuan
bilateral atau multilateral atau pengaturan-
pengaturan yang dapat melaksanakan tujuan
untuk memberikan efek yang praktis atau
untuk memperluas ketentuan-ketentuan

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
115
U NTOC

116
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 60


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

Pasal ini.

19 Penyelidikan Bersama
Negara-Negara Pihak wajib mempertimbangkan Pasal 43 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Perundang-undangan Indonesia Persoalan yang perlu Perlu dipertimbangkan
penandatanganan persetujuan-persetujuan Nomor 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 15 tahun belum secara khusus mengatur mendapat perhatian untuk mengadopsi isi
bilateral atau multilateral atau pengaturan- 2003 mengatur wewenang untuk melakukan kerjasama mengenai pembentukan badan- adalah, apakah meto- Konvensi untuk dican-
pengaturan yang dalam hubungannya dengan internasional dengan negara lain di bidang intelijen, badan penyelidikan bersama de, mekanisme atau tumkan di dalam perun-
hal-hal yang merupakan subjek penyelidikan, kepolisian dan kerjasama teknis lainnya dalam rangka antara aparatur penegak hukum prosedur melakukan dang-undangan yang
penuntutan, atau proses pengadilan di satu pencegahan dan pemberantasan terorisme. Indonesia dengan aparatur penyelidikan dari terkait.
atau lebih Negara, badan-badan berwenang yang Pasal 15 ayat (2) huruf h Undang-Undang Nomor 2 tahun penegak hukum negara lain. masing-masing negara Perlu dipertimbangkan
bersangkutan dapat membentuk badan-badan 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia mengatur Ketentuan Pasal 19 ini itu sama ataukah untuk membuat perjan-
penyelidikan bersama. Dalam hal tidak adanya wewenang Kepolisian Republik Indonesia untuk melakukan membebani kewajiban kepada tidak. Sejauhmana jian tentang penyelidik-
persetujuan atau pengaturan, penyelidikan kerjasama dengan kepolisian negara lain. Kerjasama negara-negara untuk membuat persamaan dan an bersama yang kom-
bersama dapat dilaksanakan berdasarkan dimaksud pernah dilaksanakan dalam berbagai kasus perjanjian kerjasama dalam perbedaannya. prehensif antara kepoli-
persetujuan secara kasus demi kasus. Negara- terorisme seperti kasus bom Bali, bom Kedutaan Besar melakukan penyelidikan bersama Sebelum melangkah sian dan kejaksaan dari
Negara Pihak yang terlibat wajib menjamin Australia, bom JW Marriot, dan lain-lain. atas kasus-kasus yang melibat- kearah pembuatan negara Indonesia
bahwa kedaulatan Negara Pihak yang wilayahnya kan dua atau lebih negara. Oleh perjanjian, masalah ini dengan kepolisian dan
akan digunakan untuk kegiatan penyelidikan karena hal ini berkenaan dengan perlu dikaji lebih kejaksaan dari negara-
sepenuhnya dihormati. masalah penyelidikan, tentu saja dahulu secara lebih negara sahabat dengan
merupakan wewenang dari mendalam. tetap menghormati
kepolisian. kedaulatan dan hukum
Perjanjian bilateral atau nasional masing-masing

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


multilateral ataupun perjanjian pihak.
khusus secara kasuistis dengan
negara lain, terkendala karena
perbedaan sistem hukum serta
perbedaan kepentingan nasional.

20 Teknik Penyelidikan Khusus


1. Jika diizinkan oleh prinsip-prinsip dasar Perundang-undangan tindak pidana khusus sudah mengatur Teknik penyelidikan Perlu tindak lanjut dari
dalam sistem hukum nasional, setiap Negara beberapa teknik penyelidikan khusus : khusus ini, harus ratifikasi Convention
Pihak wajib, dalam batas-batas yang 1. Undang-undang tentang pemberantasan tindak pidana dilaksanakan dengan Against Torture (CAT)
dimungkinkan dan di bawah persyaratan- terorisme (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- tetap menghormati dengan pembentukan
Draft 5 (11 Agustus 2010) 61
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

persyaratan yang ditetapkan oleh hukum Undang Nomor 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang hak-hak asasi manusia Undang-undang tentang
nasionalnya, mengambil tindakan yang Nomor 15 Tahun 2003) : dari orang yang Anti Penyiksaan oleh
diperlukan guna memungkinkan penggunaan a. Penggunaan laporan intelijen sebagai bukti menjadi sasarannya, aparat penegak hukum.
pengiriman terkendali secara tepat dan, jika permulaan yang cukup (Pasal 26); seperti si pelaku Perlu penegakan standar
dianggap tepat, penggunaan teknik-teknik b. Pengaturan alat bukti elektronika sebagai alat bukti kejahatan ataupun perilaku aparat penegak
penyelidikan khusus lainnya, seperti menurut hukum acara pidana dalam pemeriksaan orang-orang lain yang hukum secara konsisten.
peralatan elektronik atau bentuk-bentuk tindak pidana terorisme (Pasal 27); terkait atau ada
pengawasan lainnya dan operasi-operasi c. Kewenangan untuk memerintahkan kepada bank hubungannya dengan
rahasia, oleh pejabat-pejabatnya yang dan lembaga jasa keuangan untuk melakukan kejahatan yang ber-
berwenang di wilayahnya untuk tujuan pemblokiran harta kekayaan (Pasal 29); sangkutan. Hak-hak
memberantas tindak pidana terorganisasi d. Kewenangan untuk meminta keterangan dari bank asasi manusia yang
secara efektif. dan lembaga jasa keuangan mengenai harta secara langsung terkait
2. Untuk tujuan penyelidikan tindak pidana kekayaan seseorang, tanpa izin Gubernur Bank dengan pelaksanaan
yang tercakup dalam Konvensi ini, Negara- Indonesia. Ketentuan undang-undang yang teknik penyidikan
Negara Pihak didorong untuk membentuk, mengatur rahasia bank tidak berlaku (Pasal 30); khusus ini, antara lain,
apabila diperlukan, persetujuan-persetujuan e. Kewenangan membuka, memeriksa dan menyita hak atas kebebasan
bilateral atau multilateral yang sesuai atau surat dan kiriman melalui jasa pos/pengiriman dan dan keamanan pribadi,
pengaturan-pengaturan untuk menggunakan kewenangan untuk menyadap pembicaraan lewat hak untuk tidak
teknik-teknik penyelidikan khusus tersebut telepon (Pasal 31). disiksa, tidak diper-
dalam konteks kerja sama pada tingkat 2. Undang-undang tentang tindak pidana pencucian uang lakukan secara kejam,
internasional. Perjanjian-perjanjian atau (Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo. Undang- tidak direndahkan
pengaturan-pengaturan tersebut dibentuk Undang Nomor 25 Tahun 2003) : martabat
dan dilaksanakan dengan mematuhi a. Kewajiban mengenal identitas nasabah penyedia kemanusiaannya, hak
sepenuhnya prinsip-prinsip persamaan jasa keuangan (Pasal 17); untuk diperlakukan
kedaulatan Negara-Negara dan wajib b. Untuk dapat dimulainya pemeriksaan tindak pidana sama atau tidak
dilaksanakan secara ketat sesuai dengan pencucian uang, tidak perlu dibuktikan terlebih diskriminatif, hak
ketentuan-ketentuan dari persetujuan- dahulu tindak pidana asalnya (Penjelasan Pasal 3 untuk tidak ditangkap,
persetujuan atau pengaturan-pengaturan ayat (1); tidak ditahan, ataupun
tersebut. c. Pengaturan alat bukti elektronika sebagai alat bukti dikucilkan secara
3. Dalam hal tidak adanya persetujuan atau menurut hukum acara pidana tindak pidana sewenang-wenang.
pengaturan sebagaimana ditetapkan dalam pencucian uang (Pasal 38);
ayat 2 pasal ini, keputusan-keputusan untuk d. Kewenangan untuk memerintahkan kepada
menggunakan teknik-teknik penyelidikan penyedia jasa keuangan untuk melakukan

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
117
U NTOC

118
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 62


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

khusus tersebut pada tingkat internasional pemblokiran (Pasal 32);


dilakukan secara kasus demi kasus dan e. Kewenangan untuk meminta keterangan dari
dapat, apabila diperlukan, mempertimbang- penyedia jasa keuangan mengenai harta kekayaan
kan pengaturan-pengaturan dan pema- setiap orang. Untuk maksud hal ini, ketentuan
haman-pemahaman dalam bidang keuangan undang-undang yang mengatur rahasia bank tidak
dengan memperhatikan pelaksanaan berlaku (Pasal 33);
yurisdiksi oleh Negara-Negara Pihak yang f. Kewajiban terdakwa membuktikan bahwa harta
bersangkutan. kekayaannya bukan hasil tindak pidana (Pasal 35).
4. Keputusan-keputusan untuk menggunakan 3. Undang-undang tentang pemberantasan tindak pidana
pengiriman terkendali pada tingkatan korupsi :
internasional dapat, dengan persetujuan a. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-
Negara-Negara Pihak yang bersangkutan, Undang Nomor 20 Tahun 2001.
meliputi metode-metode seperti menahan Pengaturan alat bukti elektronika sebagai alat bukti
dan membiarkan barang-barang tetap utuh, petunjuk (Pasal 26 A).
atau memindahkan atau menempatkan b. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang
kembali secara keseluruhan atau sebagian. Komisi Pemberantasan Korupsi.
1) Melakukan penyadapan dan merekam
pembicaraan;
2) Memerintahkan instansi terkait untuk melarang
seseorang bepergian ke luar negeri;
3) Meminta keterangan kepada bank/lembaga jasa
keuangan tentang keadaan keuangan

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


tersangka/terdakwa;
4) Memerintahkan kepada bank/lembaga jasa
keuangan untuk memblokir rekening tersangka,
terdakwa atau pihak lain yang terkait;
5) Meminta data kekayaan dan data perpajakan
tersangka/terdakwa kepada instansi terkait;
6) Menghentikan sementara transaksi keuangan,
perdagangan dan perjanjian lainnya, atau
pencabutan sementara perizinan. Lisensi serta
konsesi yang dilakukan tersangka/terdakwa;
7) Meminta bantuan Interpol. Indonesia atau
Draft 5 (11 Agustus 2010) 63
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

instansi penegak hukum negara lain untuk


melakukan pencarian, penangkapan dan
penyitaan barang bukti di luar negeri.

21 Pemindahan Proses Pidana


Negara-Negara Pihak wajib mempertimbangkan Perundang-undangan Indonesia belum mengatur proses Pasal 3 dan Pasal 4 Peraturan ASEAN Convention on
kemungkinan untuk memindahkan antara satu pemindahan penuntutan dengan negara lain. Pemerintah Pengganti Undang- Counter Terrorism yang
dengan yang lainnya, proses penuntutan suatu Pasal 3 dan Pasal 4 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Nomor 1 Tahun 2002 jo. ditanda tangani di Cebu,
tindak pidana yang tercakup dalam Konvensi ini, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Undang-Undang Nomor 15 Tahun Philipina tanggal 13
dalam hal dimana pemindahan tersebut dianggap Nomor 15 Tahun 2003 secara tersirat membuka 2003 sebatas mengatur yurisdiksi Januari 2007 dapat
merupakan kepentingan yang tepat dalam kemungkinan untuk dilakukan pemindahan penuntutan perundang-undangan dijadikan rujukan untuk
pelaksanaan peradilan, khususnya dalam hal proses pidana. pemberantasan tindak pidana mengatur pemindahan
terdapat beberapa yurisdiksi, dengan tujuan terorisme atas tindak pidana proses penuntutan
untuk memusatkan penuntutan. terorisme yang terjadi/dilakukan tindak pidana teorisme
di negara lain. di antara negara-negara
Undang-undang masih belum ASEAN.
merumuskan ketentuan lebih Perlu dipertimbangkan
lanjut tentang hukum acara jika ketentuan Konvensi
(hukum pidana formal) yang ini diadopsi dalam per-
menyangkut prosedur pemin- undang-udangan Indo-
dahan proses penuntutan. nesia tentang tambahan
Berkenaan dengan pemindahan syarat-syarat pemin-
proses pidana, di samping dahan proses pidana
berdasarkan pertimbangan efek- dengan memperhatikan
tifitas dan efisensi, juga harus perbedaan sanksi pidana
memperhatikan kepentingan di antara kedua negara.
orang yang bersangkutan.
Dalam hal ini, seyogyanya
berdasarkan atas prinsip, hukum
pidana negara mana yang lebih
menguntungkan baginya.

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
119
U NTOC

120
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 64


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

22 Penyusunan Data Tindak Pidana


Setiap Negara Pihak dapat mengambil tindakan Perundang-undangan Indonesia belum mengatur Praktek peradilan di Indonesia Perlu dipertimbangkan
legislatif atau tindakan lainnya sepanjang penggunaan putusan pengadilan negara lain sebagai alat memandang putusan pengadilan dalam penyusunan per-
diperlukan dengan pertimbangan, berdasarkan bukti atau barang bukti dalam proses penyidikan, atas nama tersangka/perkara undang-undangan Indo-
ketentuan-ketentuan dan dengan tujuan yang penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan. yang lain dalam kasus yang nesia tentang pengguna-
dianggap tepat, hukuman apapun yang masih berhubungan dengan an putusan pengadilan
dijatuhkan sebelumnya terhadap seorang perkara yang diperiksa, sebagai negara lain sebagai
pelanggar di negara lain dengan tujuan untuk alat bukti surat apabila diajukan salah satu alat bukti
menggunakan informasi tersebut dalam proses ke persidangan sesuai dengan yang memberi petunjuk
pidana yang berhubungan dengan tindak pidana proses yang sah menurut hukum untuk memperkuat ke-
yang tercakup dalam Konvensi ini. acara pidana. Kadang–kadang yakinan hakim.
putusan pengadilan tersebut
turut dipertimbangkan untuk
memperkuat keyakinan hakim
atas perkara yang sedang
diperiksa/diadili.

23 Kriminalisasi Gangguan Proses Peradilan


Setiap Negara Pihak wajib mengambil tindakan Dalam perundang-undangan Indonesia, kriminalisasi Kriminalisasi gangguan proses Perumusan kriminalisasi
legislatif dan tindakan lainnya sepanjang gangguan proses peradilan perkara tindak pidana khusus peradilan yang diatur dalam gangguan proses per-
diperlukan untuk menetapkan sebagai tindak dirumuskan dalam undang-undang dimaksud pada bab undang-undang tersebut pada adilan sebagaimana
pidana, apabila dilakukan secara sengaja: tersendiri, misalnya : umumnya berbentuk gangguan dimaksud dalam Kon-

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


a) penggunaan kekuatan fisik, ancaman atau 1. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang fisik yang bersifat langsung. vensi seyogyanya diatur
intimidasi atau janji, menawarkan atau Nomor 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor Gangguan yang tidak bersifat sebagai ketentuan
memberikan keuntungan yang tidak 15 Tahun 2003 mengatur dalam Bab IV, Pasal 20- langsung dalam bentuk non fisik, umum dalam KUHP yang
semestinya untuk membujuk memberikan 24 dengan judul “Tindak Pidana Lain yang tetapi sesungguhnya dapat mem- akan datang.
kesaksian palsu atau mencampuri dalam Berkaitan Dengan Tindak Pidana Terorisme”. berikan tekanan mental yang
pemberian suatu kesaksian atau pembuatan 2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. kuat untuk mempengaruhi inde-
bukti dalam proses beracara terkait dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 mengatur pendensi pejabat peradilan,
pelaksanaan tindak pidana yang tercakup dalam Bab III, Pasal 21 sampai dengan Pasal 24 misalnya bentuk mobilisasi
dalam Konvensi ini. dengan judul “Tindak Pidana Lain Yang Berkaitan pembentukan opini, baik melalui
b) Penggunaan kekuatan fisik, ancaman atau Dengan Tindak Pidana Korupsi”. media dan non media masih
intimidasi untuk mencampuri pelaksanaan belum dipikirkan untuk
Draft 5 (11 Agustus 2010) 65
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

tugas resmi pejabat peradilan atau penegak dikriminalisasi.


hukum dalam hubungannya dengan
pelaksanaan tindak pidana yang tercakup
dalam Konvensi ini. Tidak ada dalam ayat ini
yang mengurangi hak Negara Pihak untuk
memiliki peraturan perundang-undangan
yang melindungi pejabat publik dalam
kategori lain.

24 Perlindungan Saksi
1. Setiap Negara Pihak wajib mengambil Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Norma yang mengatur tata cara KUHAP masih meng- Dalam revisi KUHAP,
tindakan-tindakan yang tepat dalam batas Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 memberikan kesaksian tertulis anut asas pemeriksaan perlu ditambahkan tata
kemampuannya, untuk memberikan tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan atau melalui sarana elektronik, saksi secara langsung cara dan kekuatan alat
perlindungan efektif dari kemungkinan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo. Undang-Undang sehingga dapat diakui sebagai dan lisan di per- bukti keterangan saksi
pembalasan atau intimidasi terhadap saksi- Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian alat bukti yang sah, belum sidangan, dan kete- yang diberikan dengan
saksi dalam proses pidana yang memberikan Uang mengatur secara umum kewajiban negara memberi dirumuskan dalam hukum acara rangan yang diberikan tertulis atau melalui
kesaksian mengenai tindak pidana yang perlindungan khusus terhadap saksi dan keluarganya. pidana (KUHAP). harus di bawah sum- sarana elektronik.
tercakup dalam Konvensi ini dan, jika patut, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang pah agar memenuhi
bagi keluarga mereka dan orang-orang lain Perlindungan Saksi dan Korban mengatur perlindungan syarat kekuatan atau
yang dekat dengan mereka. saksi dalam Pasal 9 dan Pasal 10, yaitu : keabsahan alat bukti
2. Tindakan-tindakan yang digambarkan dalam 1. Saksi yang berada dalam ancaman sangat besar, atas keterangan saksi.
ayat (1) Pasal ini dapat meliputi, antara lain, persetujuan hakim dapat memberikan kesaksian tanpa
tanpa mengurangi hak-hak terdakwa, hadir langsung di pengadilan.
termasuk hak untuk diproses dengan 2. Saksi tersebut dapat memberikan kesaksian secara
semestinya: tertulis atau melalui sarana elektronik dengan
(a) Menetapkan prosedur-prosedur bagi didampingi oleh pejabat yang berwenang.
perlindungan fisik orang tersebut, seperti, 3. Saksi tidak dapat dituntut karena kesaksian yang
sejauh diperlukan dan dimungkinkan, diberikan.
menampung mereka dan mengizinkan, Indonesia telah cukup banyak memiliki Peraturan
jika perlu, tidak mengungkapkan atau Perundang-undangan yang memberikan perlindungan
pembatasan-pembatasan terhadap kepada Saksi, seperti Undang-Undang Nomor 13 Tahun
pengungkapan informasi yang 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, dan
menyangkut identitas dan keberadaan pengaturan khusus dalam beberapa undang-Undang seperti

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
121
U NTOC

122
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 66


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

orang tersebut; Undang-Undang Pencucian Uang, Undang-Undang tentang


(b) Menyediakan aturan-aturan pembuktian Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang-
guna memungkinkan kesaksian yang Undang Pemberantasan Terorisme.
diberikan oleh saksi dengan suatu cara Menurut undang-undang, perlindungan ini juga dapat
yang menjamin keamanan saksi tersebut, diberikan pada keluarga dalam garis keturunan tertentu
misalnya memungkinkan kesaksian dan keadaan tertentu.
diberikan melalui penggunaan teknologi
komunikasi seperti saluran video atau
cara lain yang memadai.
3. Negara-Negara Pihak wajib mempertimbang-
kan pembuatan persetujuan-persetujuan
atau pengaturan-pengaturan dengan Negara-
Negara lain bagi penampungan orang-orang
yang mengacu pada ayat (1) Pasal ini.
4. Ketentuan-ketentuan Pasal ini juga wajib
diterapkan bagi korban-korban sejauh
mereka adalah saksi-saksi.

25 Bantuan terhadap dan Perlindungan Korban


1. Setiap Negara Pihak wajib mengambil Perundang-undangan pidana khusus mengatur Pemulihan, dalam arti bantuan Perlu dipertimbangkan
tindakan-tindakan yang tepat dalam batas perlindungan korban dengan ketentuan bahwa saksi, medis dan bantuan rehabilitasi konsep pemberian kom-
kemampuannya untuk memberikan bantuan penyidik, penuntut umum dan hakim dalam pemeriksaan, psikososial hanya diberikan pensasi didasarkan pada

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


dan perlindungan kepada korban-korban dilarang menyebut nama dan alamat pelapor. Dalam kepada korban pelanggaran hak pendekatan korban keja-
tindak pidana yang tercakup oleh Konvensi rangka pemberian bantuan dan perlindungan korban, asasi manusia yang berat. hatan (victim oriented).
ini, terutama dalam kasus-kasus ancaman hukum nasional mengatur pula tentang pemberian Demikian pula halnya dengan
pembalasan dan intimidasi. kompensasi, restitusi dan rehabilitasi. kompensasi yang seharusnya
2. Setiap Negara Pihak wajib menetapkan KUHAP mengatur perlindungan korban dalam Pasal 160 diberikan oleh Negara. Ganti
prosedur-prosedur yang memadai untuk ayat (1) huruf b yang menyatakan bahwa yang pertama- kerugian yang dimungkinkan
memberikan akses ganti rugi dan pemulihan tama didengar keterangannya dalam sidang adalah korban diperoleh pada korban tindak
bagi korban-korban tindak pidana yang dan Pasal 90 yang mengatur penggabungan perkara pidana pada umumnya hanyalah
tercakup oleh Konvensi ini. gugatan ganti kerugian oleh korban. yang berupa restitusi, yaitu ganti
3. Setiap Negara Pihak wajib, tunduk kepada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 mengatur kerugian dari pelaku. Tentunya
ketentuan hukum nasionalnya, perlindungan korban dalam Pasal 9 sampai dengan Pasal ini dikaitkan dengan kesalahan
Draft 5 (11 Agustus 2010) 67
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

memungkinkan pandangan-pandangan dan 10, yaitu : pelaku. Jadi restitusi dapat


keprihatinan-keprihatinan korban untuk 1. Korban yang merasa dalam ancaman yang sangat diberikan bila terdakwa
disampaikan dan dipertimbangkan pada besar, atas persetujuan hakim dapat memberi dinyatakan bersalah.
tahapan-tahapan yang tepat dalam proses keterangan kesaksian tanpa hadir di sidang pengadilan. Secara khusus, ketentuan
pidana terhadap pelanggar dengan cara yang 2. Korban dapat memberi keterangan atau kesaksian tentang Kompensasi dalam
tidak merugikan terhadap hak-hak secara tertulis atau melalui sarana elektronik dengan peraturan perundang-undangan
pembelaan. didampingi oleh pejabat yang berwenang. di Indonesia dimaknai secara
3. Pelapor tidak dapat dituntut karena laporan atau keliru, yaitu ganti kerugian yang
kesaksian yang diberikan. diberikan oleh Negara kepada
korban dalam hal pelaku tidak
mampu. Padahal secara konsep,
kompensasi merupakan kewa-
jiban Negara tanpa perlu melihat
pelaku mampu atau tidak, atau
pelaku dinyatakan bersalah atau
tidak. Jadi kompensasi merupa-
kan kewajiban Negara karena
Negara dianggap telah gagal
memberikan perlindungan kepa-
da warga negaranya sehingga
yang bersangkutan menjadi
korban tindak pidana

26 Tindakan untuk Meningkatkan Kerja Sama


dengan Aparat Penegak Hukum
1. Setiap Negara Pihak wajib mengambil Peraturan perundang-undangan Indonesia belum mengatur Dokumentasi informasi sangat Perlu pemberdayaan
tindakan-tindakan yang tepat untuk men- tentang : relevan untuk menetapkan aparatur penegak hukum
dorong orang-orang yang berpartisipasi atau 1. Kewajiban dari negara atau lembaga penegak hukum strategi mencegah dan mem- dalam mengelola infor-
yang telah berpartisipasi dalam kelompok- untuk menghimpun dan mendokumentasikan informasi berantas tindak pidana masi dan dokumentasi.
kelompok pelaku tindak pidana terorganisasi: tentang orang-orang yang terlibat dalam kelompok transnasional terorganisasi. Bentuk hukum dari
(a) Menyediakan informasi yang bermanfaat kejahatan terorganisasi, serta memberikan bantuan Sifat rahasia dan tertutup dari kerjasama antara aparat
kepada badan-badan yang berwenang kepada badan yang berwenang dalam rangka kejahatan terorganisasi memer- penegak hukum, jika
untuk tujuan penyelidikan dan kerjasama antar negara guna memberantas kelompok lukan bantuan orang-orang yang dituangkan dalam ben-

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
123
U NTOC

124
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 68


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

pembuktian terhadap hal-hal seperti: kejahatan terorganisasi. terlibat di dalamnya, sehingga tuk perjanjian, seperti
(i) identitas, sifat, komposisi, struktur, 2. Saksi mahkota yang bekerjasama dan membantu penting memberikan pengharga- antara kepolisian, kejak-
lokasi atau kegiatan-kegiatan kelom- penyelidikan dan penuntutan tindak pidana an terhadap saksi mahkota. saan, sebaiknya berben-
pok-kelompok penjahat terorganisasi; transnasional terorganisasi diberi penghargaan berupa Pada tataran internasional, tuk Memorandum of
(ii) keterkaitan-keterkaitan, termasuk pengurangan hukuman atau pemberian kekebalan dari perjanjian kerjasama antara Understanding (MOU)
keterkaitan internasional dengan penuntutan serta memberi perlindungan. aparat penegak hukum antar yang sifatnya lebih
kelompok-kelompok penjahat Keringanan hukuman bagi saksi yang juga tersangka yang negara, tergolong sebagai informal dan longgar
terorganisasi lainnya. bekerjasama dengan aparat penegak hukum, diatur dalam perjanjian yang dapat langsung dari pada agreement.
(iii) tindak pidana yang telah dan pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 dilaksanakan (self executing
mungkin dilakukan oleh kelompok- tentang Perlindungan Saksi dan Korban. agreement), tanpa perlu dituang-
kelompok pelaku tindak pidana kan dalam bentuk Undang-
teroganisir; Undang ataupun Keputusan
(b) Memberikan bantuan faktual, konkrit Prersiden.
kepada badan yang berwenang yang
dapat membantu untuk menghalangi
kelompok-kelompok penjahat terorgani-
sasi dari sumber daya mereka atau dari
hasil tindak pidana.
2. Setiap Negara Pihak wajib mempertimbang-
kan untuk membuka kemungkinan, dalam
keadaan yang tepat, pengurangan hukuman
atas tertuduh yang memberikan kerjasama

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


yang berarti dalam penyelidikan atau
penuntutan atas tindak pidana yang tercakup
oleh Konvensi ini.
3. Setiap Negara Pihak wajib mempertimbang-
kan untuk membuka kemungkinan, sesuai
dengan prinsip-prinsip dasar hukum
nasionalnya, pemberian kekebalan atas
penuntutan terhadap seseorang yang
memberikan kerja sama yang berarti dalam
penyelidikan atau penuntutan atas tindak
pidana yang tercakup oleh Konvensi ini.
Draft 5 (11 Agustus 2010) 69
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

4. Perlindungan atas orang-orang tersebut wajib


sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam
Pasal 24 Konvensi ini.
5. Apabila seorang yang dimaksud pada ayat
(1) pasal ini berada di satu Negara Pihak
dapat memberikan kerja sama yang berarti
kepada badan-badan yang berwenang dari
Negara Pihak lainnya, Negara-Negara Pihak
yang bersangkutan dapat mempertimbang-
kan untuk membentuk persetujuan-perse-
tujuan atau pengaturan-pengaturan, sesuai
dengan hukum nasionalnya, menyangkut
kemungkinan pemberian perlakuan oleh
Negara Pihak lainnya sesuai dengan ayat (2)
dan ayat (3) Pasal ini.

27 Kerjasama Penegakan Hukum


1. Negara-Negara Pihak wajib bekerja sama Dalam rangka pencegahan pemberantasan tindak pidana Sekalipun masih terdapat Treaty on Mutual Legal Ketentuan Pasal 27
erat satu dengan lainnya, sesuai dengan terorisme Pasal 43 Peraturan Pemerintah Pengganti kekurangan terutama hukum Assistance in Criminal dapat langsung diterap-
sistem hukum dan pemerintahan nasional Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 jo. Undang-Undang acara pelaksanaan bantuan Matters dari negara- kan pada tataran inter-
masing-masing, untuk meningkatkan Nomor 15 Tahun 2003 memberi wewenang kepada timbal balik, Undang-Undang negara ASEAN yang nasional ataupun domes-
efektivitas tindakan penegakan hukum guna Pemerintah Republik Indonesia untuk melaksanakan Nomor 1 Tahun 2006 cukup ditandatangani di tik-nasional dengan
memberantas tindak pidana yang tercakup kerjasama internasional dengan negara lain di bidang memadai untuk melaksanakan Kuala Lumpur tanggal tetap memperhatikan
oleh Konvensi ini. Setiap Negara Pihak wajib, intelejen, kepolisian dan kerjasama teknis lainnya. kerjasama penegakan hukum, 29 November 2004, prinsip-prinsip dan kai-
khususnya, mengambil tindakan-tindakan Pasal 44 dan Pasal 44 A Undang-Undang Nomor 15 Tahun karena cakupannya lebih luas dan dan ASEAN Convention dah-kaidah hukum na-
efektif: 2002 jo. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 mengatur luwes serta lebih efektif on Counter Terrorism sional masing-masing
(a) Meningkatkan dan, jika perlu, men- bantuan timbal balik dalam masalah tindak pidana pelaksanaannya. yang ditandatangani di pihak.
ciptakan saluran-saluran komunikasi di pencucian uang. Cebu Philipina tanggal
antara badan-badan yang berwenang di Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 tentang Bantuan 13 Januari 2007
antara mereka, perwakilan-perwakilan Timbal Balik dalam Masalah Pidana memuat substansi yang menjadi pelengkap
dan jawatan-jawatan guna memudahkan intinya mengenai kerjasama penegakan hukum dengan payung hukum,
keamanan dan pertukaran informasi yang negara lain. pelaksanaan
cepat, terkait semua aspek tindak pidana kerjasama penegakan

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
125
U NTOC

126
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 70


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

yang tercakup oleh Konvensi ini, hukum.


termasuk, apabila Negara-Negara Pihak
yang bersangkutan menganggap perlu,
keterkaitan dengan tindak pidana lainnya.
(b) Bekerja sama dengan Negara-Negara
Pihak lain melakukan penyelidikan terkait
dengan tindak pidana yang tercakup oleh
Konvensi ini mengenai :
(i) identitas, keberadaan dan kegiatan
orang-orang yang dicurigai memiliki
keterlibatan dalam tindak pidana
atau lokasi orang-orang lain yang
terkait;
(ii) pemindahan hasil-hasil tindak
pidana atau kekayaan yang berasal
dari perbuatan tindak pidana
tersebut;
(iii) pemindahan kekayaan, perleng-
kapan atau sarana-sarana lainnya
yang digunakan atau dimaksudkan
untuk digunakan dalam perbuatan
tindak pidana tersebut;

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


(c) Memberikan, apabila tepat, hal-hal yang
diperlukan atau sejumlah bahan untuk
tujuan analisis atau penyelidikan.
(d) Memfasilitasi koordinasi efektif di antara
badan-badan yang berwenang,
perwakilan-perwakilan dan jawatan-
jawatan dan untuk meningkatkan
pertukaran personil dan ahli-ahli lainnya,
meliputi, tunduk kepada perjanjian-
perjanjian atau pengaturan-pengaturan
bilateral antara Negara-Negara Pihak
Draft 5 (11 Agustus 2010) 71
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

yang bersangkutan, penempatan pejabat-


pejabat penghubung.
(e) Pertukaran informasi dengan Negara-
Negara Pihak lainnya melalui cara- cara
khusus dan metode-metode yang
digunakan oleh kelompok penjahat
terorganisasi, meliputi, apabila dapat
digunakan, rute dan alat-alat
pengangkut, dan penggunaan identitas
palsu, dokumen-dokumen yang diubah
atau dipalsukan ataupun cara-cara untuk
menyembunyikan kegiatan-kegiatan
mereka.
(f) Pertukaran informasi dan berkoordinasi
secara administratif dan tindakan-
tindakan lain yang diambil secara tepat
untuk tujuan identifikasi dini terhadap
tindak pidana yang tercakup oleh
Konvensi ini.
2. Dengan tujuan untuk memberlakukan
Konvensi ini, Negara-Negara Pihak wajib
mempertimbangkan pembentukan perse-
tujuan-persetujuan bilateral atau multilateral
atau pengaturan-pengaturan mengenai kerja
sama langsung antara instansi-instansi
penegak hukum mereka dan, mengubahnya,
apabila persetujuan-persetujuan atau
pengaturan-pengaturan tersebut sudah ada.
Dalam hal tidak adanya persetujuan-
persetujuan atau pengaturan-pengaturan
dimaksud di antara Negara-Negara Pihak
yang bersangkutan, Pihak-Pihak tersebut
dapat mempertimbangkan Konvensi ini

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
127
U NTOC

128
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 72


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

sebagai landasan bagi kerja sama penegakan


hukum timbal balik terkait dengan tindak
pidana yang tercakup oleh Konvensi ini.
Apabila dianggap tepat, Negara-Negara Pihak
akan menggunakan sepenuhnya persetujuan-
persetujuan atau pengaturan-pengaturan
dimaksud, termasuk organisasi-organisasi
internasional atau regional, guna
meningkatkan kerjasama diantara instansi-
instansi penegak hukum mereka.
3. Negara-Negara Pihak wajib berusaha
bekerjasama, dalam batas kemampuannya,
guna menanggapi tindak pidana trans-
nasional terorganisasi yang dilakukan melalui
penggunaan teknologi modern.

28 Pengumpulan, pertukaran dan analisis


informasi tentang sifat tindak pidana
terorganisasi
1. Setiap Negara Pihak wajib mempertimbang- Lembaga penegak hukum, kepolisian dan kejaksaan telah Satuan tugas atau unit kerja Peraturan perundang- 1. Perlunya dibentuk
kan untuk menganalisa, berkonsultasi membentuk unit kerja atau satuan tugas untuk menangani yang dibentuk masih sebatas undangan yang meng- atau ditugaskan ke-
dengan kalangan ilmiah dan akademis, kasus/perkara tindak pidana transnasional terorganisasi meningkatkan kemampuan teknis atur badan hukum pada suatu lembaga

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


kecenderungan-kecenderungan dalam tindak dan tindak pidana terorisme dengan tujuan untuk anggota, belum mengarah ke- seperti Perseroan untuk menghimpun
pidana terorganisasi di wilayahnya, keadaan- membentuk penyidik dan penuntut umum yang spesialis pada kemampuan menganalisa. Terbatas, Yayasan, data, membuat catat-
keadaan dimana tindak pidana terorganisasi dan ahli tindak pidana transnasional terorganisasi. Keterlibatan kalangan ilmiah dan standar profesi, kode an umum dan
beroperasi, termasuk kelompok-kelompok Di Kepolisian dibentuk Detasemen Khusus 88, di Kejaksaan akademisi masih terbatas untuk etik profesi perlu mendokumentasikan
profesional dan teknologi-teknologi yang telah dibentuk Satgas Tindak Pidana Transnasional keperluan proses penegakan diperkuat untuk orang atau badan
dilibatkan. Terorganisasi dan Terorisme, di Kementerian Koordinator hukum, belum mengarah kepada menjamin integritas. hukum yang terlibat
2. Negara-Negara Pihak wajib mempertimbang- Bidang Politik, Hukum dan Keamanan dibentuk Desk Anti suatu konsep kebijakan. dalam pembentukan,
kan untuk mengembangkan dan berbagi Terorisme, dan untuk masalah narkotika pemerintah telah Pencegahan tindak pidana menajemen dan
keahlian analisis mengenai kegiatan-kegiatan membentuk badan khusus yaitu Badan Narkotika Nasional. transnasional terorganisasi masih pembiayaan serta
pelaku tindak pidana terorganisasi satu belum menyentuh pihak-pihak larangan bagi setiap
dengan lainnya dan melalui organisasi- terkait untuk menjamin integritas orang-orang yang
Draft 5 (11 Agustus 2010) 73
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

organisasi internasional dan regional. Untuk masyarakat serta badan-badan terlibat dalam tindak
tujuan tersebut, pengertian-pengertian hukum swasta dan profesi-profesi pidana transnasional
umum, standar-standar dan metodologi- tertentu khususnya pengacara, terorganisasi sebagai
metodologi wajib dikembangkan dan notaris, konsultan pajak, pengurus badan
digunakan secara tepat. akuntan. hukum menjadi ang-
3. Setiap Negara Pihak wajib mempertimbang- gota profesi.
kan pemantauan atas kebijakan- 2. Perlunya penguatan
kebijakannya dan tindakan-tindakan faktual kerjasama antar apa-
guna memberantas tindak pidana rat penegak hukum
terorganisasi dan melakukan penilaian- maupun antara apa-
penilaian terhadap efektivitas dan rat penegak hukum
efisiensinya. dengan lembaga lain-
nya.

29 Pelatihan dan Bantuan Teknis


1. Setiap Negara Pihak wajib, sejauh Lembaga pendidikan pada instansi yang terkait dalam Kurikulumnya masih banyak 1. Perlu bantuan teknis
diperlukan, memulai, mengembangkan atau pemberantasan tindak pidana terorganisasi hampir setiap mengandung muatan yang penyusunan kuri-
memperbaiki program-program pelatihan tahun menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan khusus bersifat yuridis dogmatis, kurang kulum.
khusus bagi aparat penegak hukumnya tindak pidana transnasional terorganisasi seperti pendidikan mengembangkan muatan 2. Penyelenggaraan
termasuk para jaksa, para hakim penyelidik pemberantasan tindak pidana korupsi, tindak pidana kriminologis dan sosiologis yaitu pendidikan gabung-
dan pejabat bea cukai, serta aparat lainnya terorisme, tindak pidana pencucian uang, tindak pidana sifat tindak pidana yang an antara aparat
yang bertanggung jawab terhadap kegiatan perikanan dan sebagainya. transnasional dan terorganisasi. penegak hukum
pencegahan, pendeteksian dan pengawasan Pendidikan kurang melibatkan dengan badan/lem-
atas tindak pidana yang tercakup oleh kalangan ilmiah dan akademis, baga terkait lainnya.
Konvensi ini. Program-program tersebut sehingga kurang penguasaan
dapat meliputi dukungan dan pertukaran analisis.
staf. Program-program tersebut wajib,
khususnya dan sejauh diperbolehkan oleh
hukum nasional, berhubungan dengan hal-
hal sebagai berikut:
(a) Metode-metode yang digunakan dalam
pencegahan, pendeteksian dan peng-
awasan terhadap tindak pidana yang

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
129
U NTOC

130
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 74


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

tercakup oleh Konvensi ini;


(b) Rute-rute dan teknik-teknik yang
digunakan oleh orang-orang yang
dicurigai keterlibatannya dalam tindak
pidana yang tercakup oleh Konvensi ini,
termasuk di Negara-Negara persing-
gahan, dan tindakan balasan yang tepat;
(c) Memantau pemindahan barang
selundupan;
(d) Mendeteksi dan memantau pemindahan
hasil-hasil tindak pidana, kekayaan,
perlengkapan atau sarana-sarana lainnya
dan metode-metode yang digunakan
untuk pengiriman, penyembunyian atau
penyamaran hasil tersebut, kekayaan,
perlengkapan atau sarana-sarana lainnya,
termasuk metode-metode yang diguna-
kan dalam memberantas pencucian uang
dan tindak pidana keuangan lainnya;
(e) Pengumpulan bukti-bukti;
(f) Tehnik-tehnik pengawasan pada zona
perdagangan bebas dan pelabuhan-

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


pelabuhan bebas;
(g) Perlengkapan dan teknik-teknik penegak-
an hukum yang modern, termasuk
pengawasan elektronik, pengiriman
terkendali dan operasi-operasi rahasia;
(h) Metode-metode yang digunakan dalam
memberantas tindak pidana transnasional
terorganisasi yang dilakukan melalui
penggunaan komputer-komputer, jaring-
an telekomunikasi atau teknologi modern
dalam bentuk lainnya; dan
Draft 5 (11 Agustus 2010) 75
HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

(i) Metode-metode yang digunakan dalam


perlindungan korban-korban dan saksi-
saksi.
2. Negara-Negara Pihak wajib membantu satu
sama lain dalam perencanaan dan pelak-
sanaan program penelitian dan pelatihan
yang dirancang untuk berbagi keahlian dalam
bidang-bidang yang mengacu pada ayat (1)
Pasal ini dan untuk tujuan itu juga, apabila
patut, menggunakan konferensi-konferensi
regional dan internasional dan seminar-
seminar untuk meningkatkan kerja sama dan
mendorong diskusi tentang masalah-masalah
yang menjadi perhatian bersama, termasuk
masalah-masalah khusus dan kebutuhan-
kebutuhan dari Negara-negara transit.
3. Negara-Negara Pihak wajib meningkatkan
bantuan pelatihan dan teknis yang akan
memudahkan ekstradisi dan bantuan hukum
timbal balik. Bantuan pelatihan dan teknis
tersebut dapat meliputi pelatihan bahasa,
dukungan-dukungan dan pertukaran-pertu-
karan di antara aparat dalam otoritas pusat
atau instansi-instansi dengan tanggung
jawab yang relevan.
4. Dalam hal adanya persetujuan-persetujuan
atau pengaturan-pengaturan bilateral dan
multilateral, Negara-Negara Pihak wajib
memperkuat, sejauh diperlukan, usaha-
usaha untuk memaksimalkan kegiatan-
kegiatan operasi dan pelatihan dalam
organisasi internasional dan regional dan
dalam persetujuan-persetujuan dan

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


U NTOC
G A P A NA LYS I S
131
U NTOC

132
G A P A NA LYS I S

Draft 5 (11 Agustus 2010) 76


HAL-HAL LAIN YANG
PSL ISI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ANALISIS REKOMENDASI
DIPERTIMBANGKAN

pengaturan-pengaturan bilateral dan


multilateral yang relevan lainnya.

30 Tindakan lain: pelaksanaan Konvensi Dalam rangka meng-


melalui pembangunan ekonomi dan bantuan efektifkan pelaksanaan
teknis Konvensi melalui pem-
1. Negara-Negara Pihak wajib mengambil bangunan ekonomi dan
tindakan-tindakan yang kondusif guna bantuan teknis perlu
optimalnya pelaksanaan Konvensi ini, sejauh dilakukan pertukaran
dimungkinkan, melalui kerja sama pengetahuan dan peng-
internasional, mempertimbangkan pengaruh- alaman melalui studi
pengaruh negatif tindak pidana terorganisasi banding antar negara
pada umumnya, khususnya bagi peserta Konvensi
pembangunan berkelanjutan.
2. Negara-Negara Pihak wajib menciptakan Untuk tahap pertama
usaha-usaha nyata sejauh dimungkinkan dan adalah pertukaran
dengan koordinasi satu dengan lainnya, pengetahuan di bidang
termasuk dengan organisasi-organisasi pembentukan peraturan
internasional dan regional: perundang-undangan.
(a) Meningkatkan kerja sama mereka pada
berbagai tingkatan dengan negara-negara
bekembang, dengan tujuan untuk

Matriks Kesenjangan antara Untoc dengan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia


memperkuat kemampuan negara-negara