Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

PEMBERIAN OKSIGENASI

DI SUSUN OLEH :

ANNIDA HASANAH

(16.IK.459)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SARI MULIA BANJARMASIN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN NERS

2017
LEMBAR PERSETUJUAN

JUDUL : PEMBERIAN OKSIGENASI

NAMA : ANNIDA HASANAH

NIM : 16.IK.459

Banjarmasin, Januari 2018

Mengetahui,

Rifa’atul Mahmudah, Ns., MSN

NIK. 19.44.2013.082
PEMBERIAN OKSIGENASI

A. Definisi
Oksigen merupakan salah satu komponen gas dan unsur vital
dalam proses metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan
hidup seluruh sel tubuh. Adanya kekurangan oksigen ditandai dengan
keadaan hipoksia, yang dalam proses lanjut dapat menyebabkan
kematian jaringan bahkan dapat menyebabkan kematian jaringan.
(Febriyanti, Lucky, dan Reginus, 2017)
Oksigenasi atau pemberian oksigen diberikan kepada pasien yang
diobservasi mengalami kekurangan oksigen, disebabkan karena
adanya trauma, gangguan pernapasan, atau hal lainnya. Dalam
keadaan darurat, pemberian oksigen dilakukan dengan menggunakan
selang O2, namun setelah dikaji lebih lanjut sesuai keadaan
kesadaran pasien, bisa digunakan alat pernapasan lain seperti
masker non-rebreathing atau jenis lainnya sesuai kebutuhan pasien.
(Susiati, 2008)

B. Etiologi
1. Saraf otonomik, rangsangan simpatis dan parasimpatis dapat
mempengaruhi kemampuan untuk dilatasi dan konstriksi, hal ini
dapat terlihat keduanya baik simpatis maupun parasimpatis ketika
terjadi rangsangan ujung saraf dapat mengeluarkan
neurotransmitter (untuk simpatis dapat mengeluarkan noradrenalin
yang berpengaruh pada bronchodilatasi dan untuk parasimpatis
mengeluarkan acetylcolin yang berpengaruh pada
bronchokonstriksi) karena pada saluran pernapasan terdapat
adrenergic reseptor dan cholinergic reseptor.
2. Hormonal dan obat-obatan, semua hormone yang termasuk
derivate catecholamine dapat melebarkan saluran pernapasan,
kemudian obat-obat yang tergolong parasimpatis dapat
melebarkan tractus respiratorius, seperti sulfas atropine, extr.
belladonna dan obat-obatan yang menghambat adrenergic tipe
beta (khususnya beta-2) dapat mempersempit tractus repiratorius.
3. Adanya alergi pada saluran napas
4. Faktor perkembangan dapat mempengaruhi kematangan organ
termasuk organ pernapasan sehingga berdampak pada
kemampuan pemenuhan oksigen.
5. Faktor lingkungan, seperti dataran tinggi, lingkungan dengan
polusi tinggi, dan lain-lain.
6. Faktor perilaku, seperti perilaku merokok dapat menyebabkan
proses penyempitan pada pembuluh darah dan lain-lain.
((Uliyah & Hidayat, 2011)

C. Tujuan
1. Untuk memasukkan oksigen/zat asam ke organ paru-paru melalui
tractus respiratorius dengan menggunakan alat bantu seperti
nasal kanula dan masker.
2. Untuk memenuhi kebutuhan keseimbangan oksigen pada pasien.
3. Untuk menuju pola pernapasan normal. (Susiati, 2008)

D. Anatomi Fisiologi

1. Hidung
Hidung (nasal) merupakan organ tuuh yang berfungsi
sebagai alat pernapasan (respirasi) dan indra penciuman
(pembau).Dalam keadaan normal, udara masuk dalam system
pernapasan, melalui rongga hidung. Vestibulum rongga hidung
berisi serabut-serabut halus. Epitel vestibulum berisi rambut-
rambut halus yang mencegah masuknya benda-benda asing yang
menganggu proses pernapasan. (Syaifuddin, 2010)
2. Faring
Faring (tekak) merupakan pipa yang memiliki otot yang
panjangnya mulai dari dasar tengkorak sampai dengan esophagus
yang terletak di belakang nasofaring (dibelakang hidung),
dibelakang mulut (orofaring) dan dibelakang laring (laringofaring).
3. Laring
Laring (tenggorokan) merupakan saluran pernapasan
setelah faring yang terdiri dari bagian tulang rawan yang diikat
bersama ligamen dan membrane, yang terdiri dari dua lamina
yang bersambung di garis tengah.
4. Trakea
Trakea atau disebut sebagai batang tenggorok yang
memiliki panjang kurang lebih 9 cm, yang dimulai dari
laringsampai kira-kira ketinggian vertebra thorakalis kelima.
Trakea tersebut tersusun atas enam belas sampai dua puluh
lingkaran tak lengkap yang berupa cincin, trakea ini dilapisi oleh
selaput lender yang terdiri atas epitelium yang bersilia yang dapat
mengeluarkan debu atau benda asing.
5. Bronkus
Merupakan bentuk percabangan atau kelanjutan dari
trakea yang terdiri dua percabangan yakni kanan dan kiri, pada
bagian kanan lebih pendek dan lebar daripada bagian kiri yang
memiliki tiga lobus atas, tengah dan bawah, sedangkan bronkus
kiri lebih panjang dari bagian kanan yang berjalan dari lobus atas
dan bawah. Kemudian saluran setelah bronkus adalah bagian
percabangan yang disebut bronkiolus.
6. Paru (Pulmo)
Merupakan organ yang utama dalam system pernapasan
yang terdiri dari dua bagian aitu paru kanan dan kiri. Paru terdiri
dari lobus yang diselaputi oleh pleura, yaitu pleura parietalis dan
pleura viseralis, kemudian juga dilindungi oleh cairan pleura yang
berisi cairan surfaktan.
Dalam proses oksigenasi ada tiga tahapan proses yaitu
ventilasi, difusi dan transportasi. Pertama, ventilasi merupakan
proses keluar dan masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam
alveoli atau dari alveoli ke atmosfer. Kedua, difusi gas merupakan
pertukaran antar oksigen alveoli dengan kapiler paru dan CO2
kapiler dengan alveoli. Ketiga, transportasi gas merupakan
transportasi antara O2 kapiler ke jaringan tubuh dan CO2 jaringan
tubuh ke kapiler. (Uliyah & Hidayat, 2011)

E. Klasifikasi/Kategori
1. Sistem Aliran Rendah
Tehnik system aliran rendah diberikan untuk menambah
konsentrasi udara ruangan. Pemberian O2 sistem aliran rendah ini
ditujukan untuk klien yang memerlukan O2 tetapi masih mampu
bernapas dengan pola pernapasan normal, misalnya klien dengan
volume tidal 500 ml dengan kecepatan pernpasan 16-20
kali/menit.
a. Kateter Nasal

Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan


O2 secara kontinu dengan aliran 1 – 6 L/menit dengan
konsentrasi 24%-44%.
1) Keuntungan
Pemberian O2 stabil, klien bebas bergerak, makan dan
berbicara, murah dan nyaman.
2) Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 yang lebih dari
45%, tehnik memasuk kateter nasal lebih sulit daripada
kanula nasal, dapat terjadi distensi lambung, dapat terjadi
iritasi selaput lender nasofaring, aliran dengan lebih dari 6
L/menit dapat menyebabkan nyeri sinus dan
menegeringkan mukosa hidung, katetr mudah tersumbat.
b. Kanula Nasal

Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan


O2 kontinu dengan aliran 1 – 6 L/menit dengan konsentrasi O2
sama dengankateter nasal yaitu 24%-44%.
1) Keuntungan
Pemberian O2 stabil dengan volume tidal dan laju
pernapasan teratur, mudah memasukkan kanul
dibandingkateter, klien bebas makan, bergerak, berbicara,
lebih mudah ditolerir klien dan nyaman.
2) Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 lebih dari 44%,
suplai O2 berkurang bila klien bernapas lewat mulut, mudah
lepas karena kedalam kanul hanaya 1 cm, mengiritasi
selaput lender.

c. Sungkup Muka Sederhana (Simple Mask)

Merupakan alat pemberian O2 kontinu atau selang seling 5


– 8 L/menit dengan konsentrasi O2 40-60%.
1) Keuntungan
Konsentrasi O2 yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau
kanula nasal, system humidifikasi dapat ditingkatkan
melalui pemilihan sungkup berlobang besar, dapat
digunakan dalam pemberian terapi aerosol.
2) Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 kurang dari 40%,
dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah.

d. Sungkup Muka dengan Kantong Rebreathing (RM Mask)

Suatu tehnik pemberian O2 dengan konsentrasi tinggi yaitu


60-80% dengan aliran 8 – 12 L/menit.
1) Keuntungan
Konsentrasi O2 lebih tinggi dari sungkup muka sederhana,
tidak mengeringkan selaput lender.
2) Kerugian
Tidak dapat memberikan O2 konsentrasi rendah, jika aliran
lebih rendah dapat mnyebabkan enumpukn CO2 , kantong
O2 bisa terlipat.

e. Sungkup Muka dengan Kantong Non Rebreathing (NRM


Mask)
Merupakan tehnik pemberian O2 dengan konsentrasi O2
mencapai 99% dengan aliran 8-12 L/menit dimana udara
inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi.
1) Keuntungan
Konsentrasi O2 yang diperoleh dapat mencapai 100%, tidak
mengeringkan selaput lendr
2) Kerugian
Kantong O2 bisa terlipat

2. Sistem Aliran Tinggi


Memberikan aliran dengan frekuensi cukup tinggi untuk
memberikan 2 atau 3 kali volume insipirasi pasien. Alat ini cocok
untuk pasien dengan pola napas pendek dan pasien dengan
PPOK yang mengalami hipoksia karena ventilator. Suatu tehnik
pemberian oksigen dimana FiO2 lebih stabil dan tidak dipengaruhi
oleh tipe pernapasan, sehingga dengan tehnik ini dapat
menambahkan konsentrasi oksigen yang lebih tepat dan teratur.
a. Sungkup Muka dengan Ventuy

Prinsip pemberian O2 dengan alat ini yaitu gas yang


dialirkan dari tabung akan menuju ke sungkup yang kemudian
akan dihimpit untuk mengatur suplai O2 sehingga tercipta
tekanan negative, akibatnya udara luar dapat dihisap dan
aliran udara yang dihasilkan lebih banyak. Aliran udara pada
alat ini bervariasi sekitar 4–14 L/menit dengan konsentrasi 30-
55%.
1) Keuntungan
Konsentrasi O2 yang diberikan konstan sesuai dengan
petunjuk pada alat dan tidak dipengaruhi perubahan pola
napas terhadap, suhu dan kelembaban gas dapat dikontrol
serta tidak terjadi penumpukan CO2.
2) Kerugian
Kerugian system ini pada umumnya hamper sama dengan
sungkup muka yang lain pada aliran rendah.

b. Sungkup Muka Aerosol (Ambu Bag)

Oksigen yang dialirkan lebih 10 L/menit menghasilkan


konsentrasi O2 yang 100%. Gunanya untuk memperbaiki
fungsi ventilasi dengan cara memberikan pernapasan buatan
untuk kebutuhan oksigen dan pengeluaran gas CO2..
1) Keuntungan
Konsentrasi O2 yang diberikan mendekati 100%
2) Kerugian
Penumpukan air pada aspirasi bila muntah serta nekrosis
karena pemasangan sungkup yang ketat.

c. Ventilator Mekanik

Ventilasi mekanik merupakan terapi defenitif pada klien kritis


yang mengalami hipoksemia dan hiperkapnia. Ventilasi
mekanik adalah alat pernafasan bertekenan negative atau
positif yang dapat mempertahankan ventilasi dan pemberian
oksigen dalam waktu yang lama. Jumlah konsentrasi oksigen
yang diberikan kepada pasien mampu mencapai 100%.
1) Keuntungan
Dapat mengambil alih fungsi pernafasan manusia yang
mengalami gangguan dan ventilator bisa disetting sesuai
dengan kebutuhan pasien dan sesuai dengan status
oksigenasi pasien.
2) Kerugian
Dapat menyebabkan ketergantungan pada alat bagi
pasien yang menggunakan ventilator dan dapat
menyebabkan infeksi VAP (Ventilator Associated
Pneumonia) untuk jangka waktu yang lama.
(Harahap, 2010)

F. Indikasi
1. Klien dengan kadar O2 arteri rendah dari hasil analisa gas darah
2. Klien dengan peningkatan kerja napas, dimana tubuh berspon
terhadap keadaan hipoksemia melalui peningkatan laju dan
dalmnya pernapasan serta adanya kerja otot-otot tambahan
pernapasan
3. Klien dengan peningkatan kerja miokard, dimana jantung
berusaha untuk mengatasi gangguan O2 melalui peningkatan laju
pompa jantung yang adekuat. (Harahap, 2010)
4. Klien dengan kadar tekanan CO2 yang tinggi, klien COPD, pasien
dengan status pernafasan yang tidak stabil dan klien yang
memerlukan intubasi.
5. Klien dengan gagal nafas karena ketidakmampuan tekanan
parsial normal O2 dan CO2 di dalam darah.
6. Klien dengan trauma paru. Jika terjadi benturan atau cedera akan
mengalami gangguan untuk melakukan inspirasi dan ekspirasi.
7. Klien dalam keadaan gawat. Pada keadaan gawat, missal pada
klien koma tidak dapat mempertahankan sendiri jalan nafas yang
adekuat sehingga mengalami penurunan oksigenasi.
8. Klien post operasi. Setelah operasi, tubuh akan kehilangan
banyak darah dan pengaruh dari obat bius akan mempengaruhi
aliran darah ke seluruh tubuh, sehingga sel tidk mendapat asupan
oksigen yang cukup. (Aryani, 2009)

G. Kontraindikasi
1. Pada klien dengan PPOM (Penyakit Paru Obstruktif Menahun)
yang mulai bernapas spontan maka pemasangan masker partial
rebreathing dan non-rebreathing dapat menimbulkan tanda dan
gejala keracunan oksigen. Hal ini dikarenakan jenis masker
rebreathing dan non-rebreathing dapat mengalirkan oksigen
dengan konsentrasi yang tinggi yaitu sekitar 90-95%
2. Face mask tidak dianjurkan pada klien yang mengalami muntah-
muntah.
3. Jika klien terdapat obstruksi nasal maka hindari pemakaian kanula
nasal. (Aryani, 2009)

H. Persiapan Alat
1. Persiapan Diri
Tersenyum, mengucapkan salam, introduksi
(memperkenalkan diri) / personal approach (pendekatan),
memberikan penjelasan kepada pasien mengenai maksud dan
bagaimana proses memasang/memberikan oksigen akan
dilakukan.
2. Persiapan Alat
a. Tabung oksigen
b. Flow meter
c. Humidifier berisi aquadest sesuai ukuran
d. Alat terapi oksigen (Kateter nasal, kanula nasal, simple mask,
rebreathing mask, non-rebreathing mask, ventury mask, dan
ambu bag)
3. Persiapan Lingkungan
Perhatikan privasi pasien dengan menutup
pintu/jendela/gorden/tirai tempat tidur agar pasien merasa aman,
nyaman, dan tidak dilihat oleh orang lain yang tidak
berkepentingan. (Susiati, 2008)

I. Prinsip Tindakan
1. Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
Rasional : Mengurangi penyebaran bakteri dan penularan
penyakit.
2. Jelaskan prosedur tindakan
Rasional : memberi pemahaman dan mendapatkan kerjasama
klien
3. Perhatikan jumlah air steril dalam humidifier, jangan berlebih atau
kurang dari batas.
Rasional : Untuk mencegah kekeringan membrane mukosa dan
membantu untuk mengencerkan secret di saluran pernapasan
klien.
4. Pada beberapa kasus seperti bayi premature, klien dengan
penyaki akut, klien dengan keadaan yang tidak stabil atau kiln
post operasi, perawat harus mengobservasi lebih sering terhadap
respon klien selama pemberian terapi oksigen.
Rasional : menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkan
5. Pada klien dengan masalah febris dan diaphoresis, maka perawat
perlu melakukan perawatan kulit dan mulut secara extra.
Rasional : Pemasangan masker tersebut dapat menyebabkan
efek kekeringan di sekitar area tersebut.
6. Jika terapi oksigen tidak dipakai lagi, posisikan flow meter dalam
posisi OFF.
Rasional : agar oksigen tidak terbuang dengan sia-sia. (Aryani,
2009)
J. Prosedur Tindakan

Standar Operasional Prosedur Menggunakan Alat Terapi Oksigen


(Kateter Nasal, Kanula Nasal, dan Sungkup Muka)
No. Aspek Yang Dinilai Penilaian Ket
1 2 3
A. Tahap Pre Interaksi
1. Pastikan tindakan sesuai dengan advis
dalam catatan medis klien
2. Siapkan alat-alat:
a. Tabung oksigen
b. Flow meter
c. Humidifier
d. Alat terapi oksigen
e. Pelumas (vaselin/jeli)
3. Cuci tangan
B. Sikap & Perilaku
1. Berikan salam , panggil klien dengan
namanya dan memperkenalkan diri
2. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan
yang akan dilakukan kepada pasien dan
keluarga
3. Beri kesempatan pasien untuk bertanya
4. Atur posisi klien agar nyaman
5. Teruji tanggap terhadap reaksi pasien
6. Teruji sabar dan teliti
C. Tahap Kerja
1. Menjaga privacy klien
2. Mengatur pasien yang nyaman
3. Jika menggunakan kateter nasal, ukur
kateter nasal dimulai dari lubang telinga
sampai ke hidung dan berikan tanda. Lalu
berikan minyak pelumas (vaselin/jeli),
masukkan kateter nasal ke dalam hidung
sampai batas yang ditentukan.
4. Membuka flow meter dan mengalirkan
oksigen pada selang oksigen, lalu
menutup flow meter kembali
5. Memasang alat terapi oksigen secara tepat
pada hidung atau mulut
6. Mengatur volume aliran oksigen pada flow
meter sesuai instruksi
7. Mengevaluasi toleransi pasien terhadap
pemberian oksigen
D. Tahap Terminasi
1. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan
obyektif)
2. Beri reinforcement positif pada klien
3. Mengakhiri pertemuan dengan baik
4. Cuci tangan
E. Dokumentasi
1. Dokumentasikan tindakan yang sudah
dilakukan beserta respon klien
F. Teknik
1. Berkomunikasi dengan pendekatan yang
tepat sesuai dengan kondisi klien
2. Bekerja dengan pencegahan infeksi
3. Bekerja dengan hati-hati dan cermat
4. Menghargai privasi atau budaya klien
5. Bekerja secara sistematis
Standar Operasional Prosedur Menggunakan Ambu Bag

No. Aspek Yang Dinilai Penilaian Ket


1 2 3
A. Tahap Pre Interaksi
1. Pastikan tindakan sesuai dengan advis
dalam catatan medis klien
2. Siapkan alat-alat:
a. Ambu Bag
3. Cuci tangan
B. Sikap & Perilaku
1. Berikan salam , panggil klien dengan
namanya dan memperkenalkan diri
2. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan
yang akan dilakukan kepada pasien dan
keluarga
3. Beri kesempatan pasien untuk bertanya
4. Atur posisi klien agar nyaman
5. Teruji tanggap terhadap reaksi pasien
6. Teruji sabar dan teliti
C. Tahap Kerja
1. Menjaga privacy klien
2. Mengatur pasien yang nyaman
3. Perawat memeriksa pernapasan dengan
cara Look, Listen, dan Feel.
4. Perawat menilai pernapasan. Menilai
tanda tanda distress napas, jika tanda-
tanda muncul lakukan pemberian napas
buatan menggunakan ambu bag
5. Mengangkat rahang bawah pasien untuk
mempertahankan jalan napas terbuka
6. Menekan sungkup pada muka pasien
secaea kuat
7. Memompa udara dengan cara tangan satu
memegang bag sambil memompa udara
dan yang satunya memegang dan
memfiksasi masker, pada saat memegang
masker ibu jari dan jari telunju membentuk
huruf C, sedangkan jari-jari lainnya
memegang rahang bawah sekaligus
membuka jalan napas dengan membentuk
huruf E.
8. Lakukan sebanyak 0-12 kali/menit sampai
dada Nampak terangkat.
9. Mengevaluasi toleransi pasien terhadap
pemberian oksigen
D. Tahap Terminasi
1. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan
obyektif)
2. Beri reinforcement positif pada klien
3. Mengakhiri pertemuan dengan baik
4. Cuci tangan
E. Dokumentasi
1. Dokumentasikan tindakan yang sudah
dilakukan beserta respon klien
F. Teknik
1. Berkomunikasi dengan pendekatan yang
tepat sesuai dengan kondisi klien
2. Bekerja dengan pencegahan infeksi
3. Bekerja dengan hati-hati dan cermat
4. Menghargai privasi atau budaya klien
5. Bekerja secara sistematis
K. Dampak Kesalahan Tindakan
1. Kebakaran
O2 bukan zat pembakar tetapi O2 dapat memudahkan
terjadinya kebakaran, oleh karena itu klien dengan terapi
pemberian O2 harus menghindari : merokok, membukakan alat
listrik dalam area sumber O2, menghindari penggunaan listrik
tanpa “Ground”.
2. Depresi Ventilasi
Pemberian O2 yang tidak dimonitor dengan konsentrasi
dan aliran yang tepat pada klien dengan retensi CO2 dapat
menekan ventilasi.
3. Keracunan O2
Dapat terjadi bila terapi O2 yang diberikan dengan
konsentrasi tinggi dalam waktu relative lama. Keadaan ini dapat
merusak struktur jaringan paru seperti atelektasi dan kerusakan
surfaktan. Akibatnya proses difusi di paru akan terganggu.
(Harahap, 2010)
DAFTAR PUSTAKA

Aryani, R. (2009). Prosedur Klinik Keperawatan Kebutuhan Dasar


Manusia.Bandung: Trans Info Media
Febriyanti, W.T., Lucky, T.K., dan Reginus, T.M. (2017). Pengaruh
Terapi Oksigenasi Terhadap Perubahan Saturasi Oksigen Pasien
Cedera Kepala di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. DR. R. D.
Kandou Manado. Manado:e-Jurnal Keperawatan. Vol.5, NO.1
Harahap, I.A. (2010). Terapi Oksigen Dalam Asuhan Keperawatan.
Medan : USU Digital Library
Susiati, M. (2008). Keterampilan Keperawatan Dasar Paket 1. Jakarta:
Erlangga
Syaifuddin, H. (2010). Anatomi Fisiologi Untuk Keperawatan dan
Kebidanan. Jakarta: EGC
Uliyah, M. Hidayat, A. (2011). Keterampilan Dasar Praktik Klinik.
Jakarta: Health Books Publishing