Anda di halaman 1dari 28

POTENSI BUAH MAKASAR (Brucea javanica (L.

) Merr)
SEBAGAI INHIBITOR ENZIM α-GLUKOSIDASE

NOVITA SARI

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
POTENSI BUAH MAKASAR (Brucea javanica (L.) Merr)
SEBAGAI INHIBITOR ENZIM α-GLUKOSIDASE

NOVITA SARI

Skripsi
sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Sains pada
Departemen Biokimia

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
Judul Skripsi : Potensi Buah Makasar (Brucea javanica (L.) Merr) sebagai
Inhibitor Enzim α-Glukosidase
Nama : Novita Sari
NIM : G84051899

Disetujui
Komisi Pembimbing

Dr. Anna P. Roswiem, M.S. Mega Safithri, M.Si


Ketua Anggota

Diketahui

Dr.Ir.I Made Artika, M.App.Sc


Ketua Departemen Biokimia

Tanggal Lulus:
PRAKATA

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
segala karuniaNya, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi
Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya sampai akhir zaman.
Penelitian yang dipilih berjudul Potensi Buah Makasar (Brucea javanica (L.)
Merr) sebagai Inhibitor Enzim α-Glukosidase. Karya ilmiah ini disusun
berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan di Laboratorium Biokimia,
Departemen Biokimia, Institut Pertanian Bogor pada bulan Maret sampai Agustus
2009.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. Anna P. Roswiem, MS
dan Mega Safithri, S.Si, M.Si selaku pembimbing yang telah memberikan saran,
kritik, dan dukungannya. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan untuk
mamah, papah, dan adik yang telah memberikan kasih sayang, semangat, dan
dukungan. Penulis juga tidak lupa ucapkan terima kasih kepada Fitri, Mira, Raiza,
ka Abi, Trias, Novan, ka Andre, dan ka Bugi atas motivasi dan bantuannya selama
ini. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan. Amin.

Bogor, Januari 2010

Novita Sari
ABSTRAK
NOVITA SARI. Potensi Buah Makasar (Brucea javanica (L.) Merr) sebagai
Inhibitor Enzim α-Glukosidase. Dibimbing oleh ANNA P. ROSWIEM dan
MEGA SAFITHRI.

Buah makasar merupakan salah satu tanaman obat Indonesia yang kaya
akan manfaat. Secara empiris buah makasar dapat menurunkan kadar gula darah
pada penderita diabetes melitus. Ekstrak buah makasar fraksi air dan heksana
diteliti untuk mengetahui potensinya sebagai antidiabetes pada konsentrasi 1%
dan dibandingkan dengan acarbose 1% sebagai kontrol positif. Uji antidiabetes
dengan ekstrak buah makasar fraksi air ini dilakukan dengan metode inhibisi
enzim α-glukosidase. Aktivitas antidiabetes diukur berdasarkan terbentuknya
produk berupa p-nitrofenol dari reaksi enzim α-glukosidase dan substratnya p-
nitrofenil-α-D-glukopiranosida (p-NPG) yang diukur dengan spektrofotometer
pada panjang gelombang 400 nm. Uji fitokimia menunjukkan bahwa fraksi air
mengandung senyawa alkaloid dan flavonoid, sedangkan fraksi heksana
mengandung senyawa alkaloid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi air
dan heksana ekstrak buah makasar pada konsentrasi 1% (b/v) dapat menghambat
aktivitas enzim α-glukosidase sebesar 14.32% dan 12.76%, lebih rendah dari
kontrol positif (Acarbose) dengan hambatan terhadap aktivitas enzim α-
glukosidase sebesar 81.15%.
ABSTRACT

NOVITA SARI. Potency of brucea fruit (Brucea javanica (L.) Merr) as inhibitor
of α-glucosidase enzyme. Under the direction of ANNA P. ROSWIEM and
MEGA SAFITHRI.

Brucea fruit is one Indonesian medicine plants which rich in advantages.


Empirically, brucea fruit can decrease blood glucose concentration for patient of
diabetes mellitus. Water fraction of brucea fruit extract have been observed to
determine its ability as antidiabetic would be compared with acarbose as positive
control in same concentration (1%). Antidiabetic test in water and hexane fraction
of brucea fruit extract use α-glucosidase inhibition method. Antidiabetic activity
has been measured by formation of p-nitrophenol from enzymatic reaction of
nitrophenil--D-glucopyranose (p-NPG) which is catalyze by α-glucosidase
enzyme. The formation of p-nitrophenol was measured by spectrophotometer at
λ=400 nm. Phytochemistry test showed that water fraction contains alkaloid and
flavonoid, whereas hexane fraction only contain alkaloid. The result of this
research is water fraction and hexane of brucea fruit (Brucea javanica (L.) Merr)
at concentration 1% (b/v) can inhibit α-glucosidase enzyme activity 14.32% and
12.76%, whereas Acarbose as positive control can inhibit α-glucosidase enzyme
activity 81.15%.
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 30 November 1987 sebagai anak


pertama dari dua bersaudara dari pasangan ayah Suparno dan ibu Yunarti. Tahun
2005 penulis lulus dari SMUN 2 Tangerang dan pada tahun yang sama lulus
seleksi masuk IPB melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB)
pada program mayor-minor dan memilih mayor Biokimia, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Penulis pernah melakukan Praktik Lapangan (PL) di Laboratorium Pangan,
Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN), Jakarta, selama periode
Juli sampai September 2008 dan menulis karya ilmiah yang berjudul Potensi buah
makasar (Brucea javanica (L.) Merr) sebagai inhibitor enzim α-glukosidase.
Selain itu, penulis juga pernah aktif dalam organisasi kemahasiswaan, yaitu
sebagai staf Departemen Kewirausahaan Community of Research and Education
in Biochemistry (CREB’s) pada periode 2006-2007. Tahun 2009 penulis pernah
mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) dalam bidang penelitian dengan
judul Teh herbal campuran dari teh hijau dan lempuyang gajah sebagai
antihiperkolesterolemia.
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... vi
PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................. 2
Buah Makasar (Brucea javanica (L.) Merr.)............................................... 2
Diabetes Melitus ........................................................................................ 2
Pengobatan Diabetes Mellitus .................................................................... 3
Pengukuran Konsentrasi Gula darah........................................................... 3
Uji Fitokimia.............................................................................................. 5
Ekstraksi .................................................................................................... 5
BAHAN DAN METODE ................................................................................ 5
Bahan dan Alat .......................................................................................... 5
Metode....................................................................................................... 6
HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................ 7
Ekstraksi .................................................................................................... 7
Uji Fitokimia.............................................................................................. 7
Daya Inhibisi Enzim α-Glukosidase ........................................................... 8
SIMPULAN DAN SARAN ............................................................................ 10
Simpulan................................................................................................... 10
Saran......................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 10
LAMPIRAN ................................................................................................... 13
DAFTAR GAMBAR

Halaman
1 Buah makasar ........ ..................................................................................... 1
2 Struktur Acarbose ....................................................................................... 4
3 Reaksi enzim dengan substrat.................................................................... 4
4 Aktivitas enzim α-glukosidase terhadap inhibisi ekstrak buah makasar .. 10

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1 Tahapan penelitian ....................................................................................... 14
2 Uji aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase ...................................... 15
3 Data daya inhibisi enzim α-glukosidase ekstrak buah makasar ................. 16
4 Perhitungan rendemen dan daya inhibisi ekstrak buah makasar .................. 17
5 Hasil pengukuran kurva standar 4-nitrofenol................................................ 18
6 Analisis statistik daya inhibisi ekstrak buah makasar terhadap enzin α-
glukosidase ................................................................................................... 19
1

PENDAHULUAN keton ke dalam darah. Keton dapat


menyebabkan darah bersifat asam sehingga
Sindrom metabolik saat ini telah dapat menimbulkan gejala-gejala seperti
menjadi masalah dunia, tidak hanya di Eropa mual, muntah, dan sakit pada perut (Matsui
dan Amerika, akan tetapi di kawasan Asia et al. 2004).
pun angka penderitanya mengalami Berbagai usaha telah dilakukan untuk
peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan mengobati penyakit diabetes tersebut, seperti
penelitian yang dilakukan oleh Himpunan menyuntikkan insulin maupun menggunakan
Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), obat antidiabetes yang dijual secara komersil
pravelensi sindrom metabolik yang atau lebih dikenal sebagai obat sintetik.
menyerang warga Indonesia sekitar 13.1% Peralihan penggunaan obat sintetik menjadi
pada tahun 2003. Angka ini didasarkan pada obat tradisional dikarenakan obat sintetik
banyaknya warga Indonesia yang tercatat banyak menimbulkan efek samping seperti
memiliki berat badan melebihi 25 kg/m2. kembung, diare, dan kejang perut sehingga
Beberapa faktor resiko sindrom metabolik penggunaannya dibatasi (Lee et al. 2007).
ditandai dengan meningkatnya penderita Kelebihan obat tradisional adalah
diabetes mellitus dan penyakit pembuluh manfaatnya terhadap kesehatan yang
darah (kardiovaskular). Akibat tingginya beragam, sehingga tidak hanya digunakan
kadar glukosa darah hingga mencapai fase untuk mengobati satu jenis penyakit saja.
diabetes dapat memicu resiko serangan Obat tradisional merupakan tumbuhan yang
jantung, stroke, gagal ginjal, penyakit digunakan sebagai obat. Pengobatan secara
pembuluh darah perifer, serta penyakit tradisional didasarkan pada faktor-faktor
komplikasi lainnya. Kondisi kasus yang empiris, kebiasaan, dan pengalaman.
telah akut, diabetes dapat menyebabkan Umumnya mekanisme penyembuhan yang
kebutaan bahkan kematian (Wijayakusuma terjadi dalam pengobatan jenis ini tidak
2004). dapat dijelaskan secara rinci seperti
Diabetes melitus (DM) merupakan pengobatan sintetik (Wijayakusuma 2004).
penyakit metabolik yang dicirikan oleh Banyak jenis obat tradisional yang telah
tingginya kadar glukosa dalam darah. digunakan sebagai obat oral antidiabetik.
Diabetes melitus dapat pula diartikan Menurut Widowati et al. (1997), disebutkan
sebagai kondisi medis yang kronis artinya bahwa terdapat 46 jenis tanaman yang
akan diderita seumur hidup. Badan digunakan sebagian obat antidiabetes, akan
Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan tetapi baru sekitar 16 jenis tanaman yang
bahwa pada tahun 2003 tercatat hampir 200 telah diteliti secara ilmiah diantaranya
juta orang di dunia menderita diabetes dan bawang putih (Allium cepa L), babakan pule
diperkirakan pada tahun 2025 jumlah (Alstonia scholaris), sambiloto
penderita dapat mencapai 330 juta jiwa. (Andrographis paniculata), belimbing
Sementara itu, di Indonesia berdasarkan data wuluh (Averrhoa bilimbi L), sembung
WHO tahun 2003 tercatat lebih dari 13 juta (Blumea balsamifera), tapak dara
warga menderita diabetes, dari jumlah (Catharathus roseus G. Don), ubi jalar
tersebut diperkirakan dapat meningkat (Ipomea batatas Poir), bungur putih
menjadi lebih dari 20 juta penderita pada (Lagerstroemia specioa (L) Pers), petai cina
tahun 2030 (Depkes 2005). (Leucaena leuchepala de Win), bidara upas
Diabetes melitus disebabkan oleh (Merremia mammosa Hall), mengkudu
berkurangnya produksi insulin terhadap (Morinda citrifolia), lampes (Ocimum
kebutuhan tubuh atau insulin yang sanctum L), petai (Parkia speciosa Hassk),
diproduksi tidak berfungsi optimal keji beling (Seriocalyx crispus L. Bremek),
(ketidakmampuan sel untuk menggunakan duwet (Syzgium cumini (L) Skeels), dan
insulin). Insulin merupakan hormon yang brotowali (Tinospora crispa (L) Miers).
dihasilkan oleh sel-sel β-pankreas yang Tanaman obat antidiabets lainnya menurut
membantu glukosa memasuki sel-sel tubuh Widowati et al (1997) belum diteliti secara
dan mengatur kadar glukosa dalam darah. ilmiah hanya berdasarkan pengalaman
Glukosa yang berlebihan dalam darah empiris, salah satu contohnya adalah pada
(hiperglikemia) akan dikeluarkan melalui tanaman buah makasar (Brucea javanica
urin, sehingga membuat urin menjadi manis. (L.) Merr).
Tidak adanya insulin juga dapat Penelitian bertujuan mengetahui potensi
menyebabkan terjadinya penguraian lemak ekstrak tanaman buah makasar (Brucea
dalam sel yang dapat melepaskan benda javanica (L.) Merr) sebagai antidiabetes.
2

Hipotesis penelitian ini adalah fraksi air Buah makasar mengandung berbagai
memiliki potensi sebagai antidiabetes senyawa kimia diantaranya alkaloid,
dengan mekanisme penghambatan terhadap glukosida, bruceosida A dan B, phenol
aktivitas enzim α-glukosidase secara in (brucenol dan asam bruceolat), brusatol,
vitro. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bruceine A, dan quassin. Senyawa brucein
memberikan informasi kepada masyarakat yang ditemukan dalam ekstrak buah makasar
mengenai manfaat tanaman buah makasar, bersifat antimalaria dan antikanker. Senyawa
sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif tersebut bukan hanya memberikan efek
pengobatan diabetes melitus. sitotoksik akan tetapi juga bersifat
menghambat pertumbuhan strain
Plasmodium fasciperum K1 secara in vitro.
TINJAUAN PUSTAKA Senyawa kimia lainnya yang terkandung
dalam buah makasar dilaporkan juga
mempunyai aktivitas melawan leukemia
Buah Makasar
limfotik dan kanker paru-paru
Tanaman buah makasar (Brucea (Wijayakusuma 2004).
javanica (L.) Merr.) tergolong famili
Simaroubaceae, divisi Magnoliophyta, ordo
Sapindales, kelas Magnoliopsida, bangsa Diabetes Melitus
Geraniales, serta marga Brucea (Kumala
2007). Penyebaran tanaman obat buah Diabetes melitus didefinisikan sebagai
makasar di Indonesia masih tergolong suatu penyakit kelainan metabolik kronis
jarang, tanaman ini banyak ditemukan di secara serius yang memiliki dampak
pulau Jawa dan Madura, sebagian orang pun signifikan tehadap kesehatan yang ditandai
masih banyak yang belum mengenal dengan tingginya kadar gula dalam darah.
tanaman ini padahal tanaman ini merupakan Salah satu penyebab diabetes melitus yaitu
salah satu jenis tanaman yang sering dipakai ditandai dengan menurunnya hormon insulin
untuk mengobati berbagai macam penyakit, yang diproduksi oleh sel beta pulau
seperti demam, hipertensi, kanker, malaria, langerhans dalam kelenjar pankreas. Insulin
stroke, dan diabetes. Selain di Indonesia, merupakan hormon yang berperan dalam
buah makasar juga banyak ditemukan di metabolisme glukosa khususnya sebagai
Srilanka, India, Cina, Taiwan, Thailand, perantara masuknya glukosa di dalam darah
Malaysia, dan Australia utara ke sel-sel jaringan tubuh lainnya seperti otot
(Wijayakusuma 2004). dan jaringan lemak (Garrett & Grisham
Tanaman tersebut (Gambar 2) terdiri 2002).
atas batang, daun, bunga, biji, dan akar. Hiperglikemia merupakan keadaan saat
Batang tanaman ini memiliki ciri berkayu, konsentrasi kadar gula dalam darah
bulat dan berbintik-bintik, sedangkan melewati batas normal. Keadaan ini dapat
daunnya berbentuk majemuk lonjong, tepi terjadi akibat adanya defisiensi insulin
bergerigi, ujung runcing dan lebar daun sehingga penyerapan glukosa ke dalam sel
sekitar 1.5-5 cm, dan buahnya yang umum menjadi terhambat (Ohta 2002). Kadar gula
digunakan sebagai bahan obat tradisional dalam darah normal kurang dari 100 mg/dL,
berbentuk bulat, berwarna hijau hingga sesaat setelah makan kadar gula dalam darah
kehitaman. Tanaman tersebut dapat tumbuh dapat meningkat hingga 120 mg/dL dan
pada ketinggian 0.5-550 meter di atas dapat kembali normal 2 jam setelah makan
permukaan laut, dapat ditemukan dalam (Soegondo 2004).
hutan jati, belukar, hutan sekunder, maupun Gejala umum yang timbul pada diabetes
pada tepi sungai (Kumala 2007). melitus diantaranya, sering haus, sering
buang air kecil, kesemutan, penglihatan
mulai terganggu, banyak makan akan tetapi
berat badan menurun, cepat merasa lelah dan
sering mengantuk (Purwakusumah 2003).
Penyakit diabetes melitus dapat disebabkan
oleh beberapa faktor diantaranya pola
makan, obesitas, faktor genetik, bahan kimia
dan obat-obatan serta infeksi pada pankreas
(Wijayakusuma 2004).
Gambar 1 Tanaman buah makasar.
3

Diabetes melitus terbagi menjadi dua dilakukan karena mudah, murah, dan aman.
tipe yaitu diabetes tipe I (Insulin Dependent Pada umumnya pemberian obat antidiabetik
Diabetes Mellitus) dan diabetes tipe II oral hanya dilakukan untuk penderita DM
(Insulin Independent Diabetes Mellitus). tipe II, obat tersebut terbagi menjadi dua
DM tipe I dapat didefenisikan sebagai tipe jenis diantaranya obat sintetik dan obat
diabetes yang tergantung pada insulin. Pada tradisional (Mathur & Shiel 2003).
tipe ini sel pankreas yang menghasilkan Obat sintetik yang memiliki aktivitas
insulin mengalami kerusakan, akibatnya sel- antidiabetik dibagi menjadi 4 kelas menurut
sel β pada pankreas tidak dapat mensekresi mekanisme kerjanya. Pertama, golongan
insulin atau apabila dapat mensekresi insulin sulfonilurea yang memiliki mekanisme kerja
hanya dalam jumlah yang sedikit. Kerusakan utama pada peningkatan insulin. Obat dari
pada sel-sel β disebabkan oleh adanya golongan ini yang banyak digunakan dalam
peradangan pada pankreas. Akibat sel-sel β pengobatan diabetes adalah glimepiride.
tidak dapat membentuk insulin maka Kedua, golongan biguanida yang dapat
penderita DM tipe I selalu tergantung pada mengurangi produksi glukosa hati sehingga
insulin. DM tipe II merupakan tipe diabetes dapat meningkatkan sensitivitas periferal
yang tidak tergantung pada insulin. Hal dan mengurangi penyerapan glukosa
tersebut terjadi karena sel β-pankreas yang intestinal, contoh obat golongan ini adalah
tidak mengalami kerusakan, akan tetapi glucophage, diabex, glucotika, dan lain-lain.
insulin yang disekresikan jumlahnya Ketiga, golongan inhibitor α-glukosidase
menurun. Penurunan tersebut disertai salah satunya adalah Acarbose (Gambar 2).
defisiensi insulin hingga resistensi insulin Obat ini dapat menghambat enzim spesifik
(Murray 2003). DM tipe II ini umumnya yang menguraikan pati dalam usus halus
disebabkan oleh obesitas atau kelebihan sehingga menunda penyerapan glukosa hasil
berat badan. Pengobatan terhadap diabetes pemecahan karbohidrat di dalam usus.
tipe ini dilakukan dengan pengaturan pola Keempat, merupakan insulin eksogen yang
makan dan olahraga, namun dapat pula berperan dalam meningkatkan sensitivitas
diobati dengan obat-obat antidiabetes insulin secara tidak langsung dan menekan
tertentu (Matsumoto et al. 2002). produksi glukosa hati. Obat lainnya yang
Menurut Wijayakusuma (2004), selain sering digunakan dalam terapi diabetes
DM tipe I dan II terdapat satu tipe diabetes adalah pioglitazone, yang termasuk ke
melitus yang terjadi pada saat kehamilan. dalam golongan thiazolidinedione.
Penyakit tersebut umumnya dialami oleh Poiglitazone bekerja dengan cara
wanita hamil dan akan kembali normal meningkatkan sensitivitas insulin pada
setelah melahirkan. Seorang wanita hamil jaringan target, seperti menurunkan
membutuhkan lebih banyak insulin untuk glukoneogenesis di hati (Tuyet & Chuyen
mempertahankan metabolisme karbohidrat. 2007).
Jika tidak menghasilkan lebih banyak
insulin, wanita hamil dapat menderita
penyakit diabetes yang dapat menyebabkan Pengukuran Konsentrasi Gula Darah
terjadinya perubahan metabolisme glukosa
(karbohidrat) dan metabolisme yang terjadi Konsentrasi gula dalam darah dapat
dalam tubuh lainnya. ditentukan atau diukur dengan berbagai
macam cara seperti metode gugus amina,
metode enzimatik, metode reduksi, dan
Pengobatan Diabetes Melitus metode pemisahan glukosa. Pengukuran
dengan metode kondensasi gugus amina
Pengobatan diabetes melitus umumnya yaitu melalui mekanisme spektrofotometri
dilakukan dengan pengaturan diet, dengan spektrofotometer. Berdasarkan
pemberian obat antidiabetik oral, dan terapi intensitas warna yang terbentuk, prinsip
insulin. Akan tetapi pemberian obat-obat metode ini adalah kondensasi aldosa dengan
antidiabetik oral dapat menimbulkan efek orto toluidin dalam suasana asam dan
samping yang berbahaya. Efek tersebut menghasilkan larutan berwarna hijau setelah
dapat berupa gangguan mekanisme dalam dipanaskan.
tubuh hingga kematian (Tuyet & Chuyen
2007).
Pemberian obat secara oral merupakan
cara pemberian obat yang paling umum
4

ikatan α-glikosidik pada oligosakarida dan


α-D-glikosida (Gao et al. 2007).
Pengujian aktivitas daya hambat
terhadap enzim α-glukosidase dapat
dilakukan secara in vivo dan in vitro.
Metode spektrofotometri banyak digunakan
dalam pengujian secara in vitro dengan
menggunakan pseudo-substrat, seperti p-
nitrofenil-α-D-glukopiranosida (p-NPG) dan
Gambar 2 Struktur Acarbose. enzim α-glukosidase, sedangkan secara
pseudo in vivo menggunakan sel pankreas
Secara enzimatik kadar glukosa dapat penghasil enzim α-glukosidase. Pengujian in
ditentukan melalui penambahan enzim vivo dilakukan dengan memberikan inhibitor
glukosa oksidase (GOD), glukosa dioksidasi dengan dosis tertentu pada hewan percobaan
oleh enzim menjadi asam glukoronat disertai yang menderita diabetes dan kadar glukosa
dengan terbentuknya H2O2. Adanya enzim dalam hewan percobaan tersebut diamati
peroksidase (POD), H2O2 akan secara berkala. Perkembangan ilmu
membebaskan O2 yang mengoksidasi pengetahuan dan teknologi sekarang ini,
akseptor kromogen yang sesuai serta telah melahirkan suatu metode pengujian
menghasilkan intensitas warna yang dapat terhadap aktivitas antidiabetes terbaru yaitu
dideteksi dengan spektrofotometer dengan menggunakan biosensor (Matsumoto
(Widowati et al. 1997). et al. 2002).
Metode reduksi merupakan metode Daya hambat terhadap aktivitas α-
pengukuran glukosa yang menggunakan glukosidase sendiri dipelajari secara pseudo-
suatu oksidan ferisianida yang direduksi substrat dengan mengetahui kemampuan
menjadi ferosianida oleh glukosa dalam sampel untuk menghambat reaksi hidrolisis
suasana basa dengan pemanasan, kemudian glukosa pada substrat p-nitrofenil-α-D-
kelebihan garam feri dititrasi secara glukopiranosida (p-NPG). Setelah
iodometri. Metode lainnya adalah metode mengalami hidrolisis substrat akan
pemisahan glukosa, metode tersebut terhidrolisis menjadi α-D-glukosa dan p-
merupakan metode yang sangat jarang nitrofenol yang berwarna kuning (Gambar
dilakukan. Metode ini memperlihatkan 3). Warna kuning yang dihasilkan oleh p-
adanya pemisahan glukosa dalam keadaan nitrofenol menjadi indikator kemampuan
panas dengan antron atau timol dalam inhibitor untuk menghambat reaksi yang
suasana asam dengan menggunakan asam terjadi. Semakin besar kemampuan inhibitor
sulfat pekat. Glukosa tersebut kemudian untuk menghambat maka produk yang
dipisahkan dengan metode kromatografi dihasilkan semakin sedikit atau warna
(Widowati et al. 1997). larutan setelah inkubasi lebih cerah
Aktivitas antidiabetes dapat terjadi dibandingkan dengan larutan tanpa inhibitor
melalui beberapa mekanisme, yaitu dengan (Sugiwati 2005).
menghambat aktivitas enzim α-glukosidase
dan menstimulasi sel β-Langerhans untuk
menghasilkan insulin. Pengujian terhadap
aktivitas antidiabetes yang umum digunakan
adalah melalui mekanisme penghambatan
terhadap kerja enzim α-glukosidase
(Matsumoto et al. 2002).
Enzim α-glukosidase dengan nama H2 O
kimia α-D-glikosida glukohidrolase
merupakan enzim yang berperan dalam usus
halus manusia. Enzim tersebut merupakan kuning
enzim kunci pada proses akhir pemecahan
karbohidrat. α-Glukosidase mengkatalisis Gambar 3 Reaksi α-glukosidase dengan p-
hidrolisis terminal residu glukosa non nitrofenil α-D-glukopiranosida.
pereduksi yang berikatan α-1,4 pada
berbagai substrat dan dihasilkan α-D-
glukosa. α-Glukosidase menghidrolisis
5

Uji Fitokimia pemisahan, metode analisis, dan uji


farmakologi (Simpen 2008).
Fitokimia atau kimia tumbuhan telah Ekstraksi merupakan proses penarikan
berkembang menjadi disiplin ilmu tersendiri, komponen atau zat aktif dari suatu campuran
berada diantara kimia organik bahan alam padatan atau cairan dengan menggunakan
dan biokimia tumbuhan, serta berkaitan erat pelarut tertentu. Pelarut yang digunakan
dengan keduanya. Bidang perhatian dari tidak bercampur atau hanya bercampur
fitokimia adalah keanekaragaman senyawa sebagian dengan campuran padatan atau
organik yang dibentuk dan ditimbun oleh cairan. Dengan kontak yang intensif,
tumbuhan, yaitu mengenai struktur kimia, komponen aktif pada campuran akan
biosintesis, perubahan serta berpindah ke dalam pelarut (Gamse 2002).
metabolismenya, penyebaran secara ilmiah, Pemilihan pelarut merupakan salah satu
dan fungsi biologisnya (Harborne 1987). faktor yang dapat menentukan
Analisis fitokimia atau uji fitokimia kesempurnaan proses ekstraksi. Pelarut yang
merupakan uji pendahuluan untuk digunakan pada proses ekstraksi harus dapat
mengetahui keberadaan senyawa kimia menarik komponen aktif dari campuran
spesifik seperti alkaloid, senyawa fenol dalam sampel (Gamse 2002).
(termasuk flavonoid), steroid, saponin, dan Faktor-faktor yang harus diperhatikan
triterpenoid. Uji tersebut sangat bermanfaat dalam memilih pelarut diantaranya,
untuk memberikan informasi jenis senyawa selektivitas, sifat pelarut dan kemampuan
kimia yang terkandung dalam tumbuhan, pelarut untuk mengekstraksi, tidak bersifat
terutama tumbuhan obat yang digunakan. racun, mudah diuapkan, dan relatif murah
Senyawa-senyawa ini merupakan metabolit (Gamse 2002). Pelarut yang digunakan
sekunder yang mungkin dapat dimanfaatkan dalam proses ekstraksi dapat menembus
sebagai bahan obat. Senyawa metabolit pori-pori bahan padat sehingga bahan yang
sekunder sangat bervariasi jumlah dan ingin diekstrak dapat dengan mudah tertarik.
jenisnya dari setiap tumbuh-tumbuhan, Pelarut yang umum digunakan diantaranya,
beberapa dari senyawa tersebut telah etil asetat, heksana, eter, benzena, toluena,
diisolasi dan sebagain diantaranya etanol, isopropanol, aseton, dan air (Simpen
memberian efek fisiologis dan farmakologis 2008).
yang lebih dikenal sebagai senyawa kimia Metode ekstraksi dapat dikelompokkan
aktif (Copriyadi 2005) menjadi dua yaitu ekstraksi sederhana dan
Analisis ini merupakan tahapan awal ekstraksi khusus. Ekstraksi sederhana terdiri
dalam isolasi senyawa bahan alam sehinga atas maserasi, perkolasi, reperkolasi,
menjadi panduan bersama-sama dengan uji evakolasi, dan dialokasi. Ekstraksi khusus
aktivitas biologis senyawa tersebut. Salah terbagi atas sokletasi, arus balik, dan
satu tujuan pengelompokan senyawa- ultrasonik (Harborne 1987). Penelitian ini
senyawa aktif tersebut adalah untuk menggunakan metode maserasi.
mengetahui hubungan biosintesis dan famili
tumbuhan (Jenner 2005). Informasi ini
sangat berguna oleh ahli sintesis kimia BAHAN DAN METODE
organik untuk memprediksi subsituen
senyawa aktif tersebut sehingga dapat lebih Bahan dan Alat
berkhasiat. Tanaman yang diuji fitokimianya
dapat berupa tanaman segar, kering, serbuk,
ekstrak, maupun dalam bentuk sediaan Bahan-bahan yang digunakan pada
(Harborne 1987). penelitian ini adalah buah makasar, akuades,
alkohol 95%, heksana, metanol, kloroform,
enzim α-glukosidase, p-nitrofenil-α-D-
Ekstraksi glukopiranosida (p-NPG), larutan buffer
fosfat (pH 7), serum bovine albumin,
Keanekaragaman flora (biodiversity) acarbose (glucobay), dimetilsulfoksida
berarti pula keanekaragamn senyawa kimia (DMSO), HCl 2N, dan Na2CO3. Bahan-
(chemodiversity) yang terkandung di bahan yang dipakai untuk uji fitokimia
dalamnya. Hal tersebut memicu adalah H2SO4 2M, pereaksi (Dragendorf,
dilakukannya suatu analisis terhadap Mayer & Wagner), etanol 30%, asam asetat
metabolit sekunder yang terkandung dalam anhidrat, H2SO4 pekat, dan metanol 30%.
tumbuh-tumbuhan melalui teknik
6

Alat-alat yang dipakai adalah pereaksi Dragendorf, Meyer, dan Wagner.


spketrofotometer UV, penangas air, neraca Adanya alkaloid ditandai dengan
analitik, rotavapor, corong pisah, pipet terbentuknya endapan putih pada pereaksi
mikro, pipet volumetrik, pipet tetes, labu Meyer, endapan merah pada pereaksi
Erlenmeyer, tabung reaksi, gelas piala, gelas Dragendorf, dan endapan coklat pada
ukur, bulb, batang pengaduk sudip, corong pereaksi Wagner.
gelas, kertas saring, kapas, dan sentrifus. Uji Flavonoid. Sebanyak 0.05 gram ekstrak
buah makasar ditambahkan dengan metanol
30% kemudian dipanaskan selama 5 menit.
Metode Filtrat ditambahkan dengan H2SO4, senyawa
flavonoid ditunjukkan dengan terbentuknya
Ekstraksi Buah Makasar (Usman 2000) warna merah karena adanya penambahan
Ekstrak buah makasar dibuat menjadi H2SO4.
dua fraksi yaitu fraksi air dan heksana. Uji Triterpenoid. Sebanyak 0.05 gram
Buah makasar yang telah kering dan ekstrak buah makasar ditambahkan dengan
menjadi serbuk kemudian direndam dalam 12.5 mL etanol 30% lalu dipanaskan selama
alkohol 95% selama 24 jam dan disaring. 5 menit dan disaring. Filtratnya kemudian
Residu yang didapat kemudian direndam diuapkan dan kemudian ditambahkan
kembali dengan alkohol 95% dan dilakukan dengan eter. Lapisan ditambahkan dengan
berulang kali hingga larutan hasil ekstraksi pereaksi Lieberman Burchard (3 tetes asetat
tidak berwarna lagi. Semua filtrat kemudian anhidrida dan 1 tetes H2SO4 pekat). Warna
dijadikan satu dan dipekatkan dengan merah atau ungu yang terbentuk
rotavapor 40oC sehingga bebas alkohol. menunjukkan adanya triterpenoid.
Ekstrak kasar yang telah diperoleh Pembuatan Kurva Standar
kemudian dipartisi dengan campuran Kurva standar dibuat melalui enam titik
heksan, metanol, dan air dengan deret standar, diantaranya pada konsentrasi
perbandingan 5:9:1 (v/v). Partisi dilakukan 15 μM, 30 μM, 45 μM, 60 μM, 75 μM, dan
dengan menggunakan corong pisah sehingga 90 μM. Larutan standar dibuat dengan
diperoleh fase heksan dan fase metanol air. melarutkan 4-nitrofenol dalam larutan buffer
Bahan dalam fase heksan yang telah fosfat (pH 7) dan dibuat menjadi enam
diperoleh kemudian dikeringkan dengan konsentrasi seperti di atas. Kemudian larutan
rotavapour 40oC, hingga diperoleh fraksi standar diukur pada panjang gelombang 400
heksana yang siap untuk diuji. Bahan dalam nm. Percobaan dilakukan sebanyak 3 kali
fase metanol air, setelah dikeringkan dengan ulangan.
rotavapor 40oC, kemudian dipartisi kembali
dengan campuran kloroform dan air dengan Uji Inhibisi α-Glukosidase (Sutedja 2003)
perbandingan 1:1 hingga diperoleh dua fase, Pengujian terhadap daya hambat
fase kloroform dan fase air. Masing-masing aktivitas enzim α-glukosidase menggunakan
fase kemudian dikeringkan dengan substrat p-nitrofenil-α-D-glukopiranosida (p-
rotavapour 40oC hingga diperoleh fraksi air NPG) dan enzim α-glukosidase, pada
untuk diujikan. pengujian tersebut α-glukosidase akan
menghidrolisis substrat p-NPG menjadi
Uji Fitokimia (Harborne 1987) glukosa dan p-nitrofenol yang berwarna
Analisis fitokimia yang dilakukan kuning. Sampel yang ditambahkan ke dalam
dalam penelitian ini hanya dilakukan secara campuran substrat diharapkan akan
kualitatif, analisis ini dilakukan untuk menghambat kerja enzim sehingga
mengetahui senyawa-senyawa aktif yang mengurangi terbentuknya glukosa dan
terkandung dalam fraksi heksana dan air intensitas warna kuning yang terbentuk.
ekstrak buah makasar. Senyawa yang Larutan enzim dibuat dengan
diidentifkasi adalah senyawa flavonoid, melarutkan 1.0 mg enzim α-glukosidase
alkaloid, dan triterpenoid. dalam larutan buffer fosfat (pH 7) yang
mengandung 200 mg serum bovin albumin,
Uji Alkaloid. Sebanyak 0.05 gram ekstrak sebelum digunakan enzim diencerkan 25
buah makasar ditambahkan 5 mL kloroform kali dengan buffer fosfat (pH 7). Campuran
dan amoniak. Fraksi kloroform dipisahkan pereaksi terdiri atas 250 μL p-nitrofenil α-D-
dan diasamkan dengan 1 tetes H2SO4 2M. glukopiranosida (p-NPG) 20 mM sebagai
Fraksi asam dibagi menjadi tiga tabung substrat, 490 μL larutan buffer fosfat (pH 7)
kemudian masing-masing ditambahkan 100 mM, dan 10 μL larutan contoh dalam
7

DMSO 1% (b/v). Kemudian campuran semua senyawa metabolit yang terkandung


tersebut diinkubasi pada suhu 37oC selama 5 di dalam ekstrak tersebut. Ekstrak yang
menit, setelah itu ditambahkan larutan enzim diperoleh kemudian dievaporasi untuk
sebanyak 250 μL dan diinkubasi kembali menguapkan sisa pelarut yang digunakan
selama 15 menit. Reaksi enzim dihentikan sehingga diperoleh ekstrak kental yang7
dengan menambahkan Na2CO3 200 mM pekat. Pemekatan dilakukan dengan
sebanyak 1000 μL. Kemudian larutan diukur menggunakan rotary evaporator pada suhu
pada panjang gelombang 400 nm. 40oC untuk mencegah kemungkinan
Tablet Acarbose (glukobay) dilarutkan terjadinya kerusakan komponen yang
dalam buffer dan HCl 2N (1:1) dengan terkandung di dalam ekstrak. Hasil
konsentrasi 1% (b/v) sebagai blanko, pemekatan kemudian difraksinasi untuk
kemudian disentrifuse dan supernatan mendapatkan 2 jenis fraksi yang berbeda
diambil sebanyak 10 μL dan dimasukkan ke yaitu fraksi air dan fraksi heksana.
dalam campuran reaksi seperti dalam Fraksinasi merupakan proses pemisahan
sampel. Hasil campuran tersebut diukur komponen dalam suatu ekstrak menjadi
dengan spektrofotometer UV pada panjang kelompok-kelompok senyawa yang
gelombang 400 nm. Percobaan dilakukan memiliki kemiripan karakteristik secara
sebanyak 3 kali ulangan. kimia (Hougton & Raman 1998). Fraksinasi
tersebut dilakukan dengan menggunakan
Analisis Data (Mattjik 2002) corong pisah, cara ini tergolong cara yang
Rancangan percobaan pada penelitian cukup sederhana dan cepat. Pemilihan fraksi
ini adalah rancanan acak lengkap (RAL) air berdasarkan pada pola konsumsi
satu faktor dengan tiga kelompok perlakuan masyarakat yang pada umumnya
dan tiga kali ulangan. Analisis data menggunakan air sebagai pelarutnya.
menggunakan ANOVA dengan model Pemilihan fraksi heksana dilakukan untuk
rancang sebagai berikut: mengidentifikasi adanya senyawa metabolit
sekunder yang larut dalam pelarut nonpolar.
Yij = μ + αi + εij Rendemen ekstrak buah makasar yang
Keterangan: didapat dari fraksi air sebesar 4.38%,
μ = Pengaruh rataan umum sedangkan rendemen dari fraksi heksana
αi = Pengaruh perlakuan ke-I, i = 1,2,3,4 sebesar 6.45%. Rendemen ekstrak buah
εij =Pengaruh galat perlakuan ke-i dan makasar fraksi air tersebut tergolong rendah
ulangan ke-j, j = 1,2,3 bila dibandingkan dengan rendemen buah
i = 1 adalah blanko lain yang juga digunakan sebagai obat
i = 2 adalah fraksi air buah makasar 1% tradisional yaitu buah mahkota dewa.
i = 3 adalah fraksi heksana buah makasar Rendemen ekstrak buah mahkota dewa
1% fraksi air diketahui sebesar 22.17%
i = 4 adalah pembanding atau kontrol positif (Septiawati 2008). Perbedaan hasil
Acarbose 1% rendemen tersebut dapat dikarenakan buah
makasar yang kurang halus serbuknya
sehingga dapat mengurangi efektifitas
HASIL DAN PEMBAHASAN ekstraksi. Semakin kecil atau halus ukuran
bahan yang digunakan maka semakin luas
Ekstraksi bidang kontak antara bahan dengan
Ekstraksi dilakukan untuk mengambil pelarutnya (Tuyet & Chuyen 2007).
zat-zat yang terkandung dalam suatu
campuran dengan bantuan pelarut tertentu.
Metode ekstraksi yang digunakan adalah Uji Fitokimia
maserasi dengan cara merendam sampel Analisis fitokimia dilakukan pada
yaitu serbuk buah makasar dalam pelarut ekstrak buah makasar fraksi air dan heksana.
tertentu. Maserasi merupakan metode yang Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak buah
cukup sederhana karena tidak memerlukan makasar fraksi air mengandung senyawa
pemanasan sehingga dapat mencegah alkaloid dan flavonoid, sedangkan fraksi
rusaknya kandungan senyawa metabolit heksana hanya mengandung senyawa
sekunder yang tidak tahan terhadap suhu alkaloid (Tabel 1). Hasil uji fitokimia ini
tinggi. Pelarut yang digunakan pada metode berbeda dengan hasil penelitian Kumala
maserasi adalah etanol 95%. Pemilihan (2007) yang menunjukkan bahwa ekstrak
pelarut tersebut didasarkan pada ketertarikan buah makasar mengandung senyawa
8

metabolit sekunder triterpenoid. Perbedaan Uji daya inhibisi terhadap kerja enzim
kandungan metabolit sekunder pada jenis α-glukosidase dilakukan dengan
tanaman yang sama sering kali dapat terjadi menggunakan ekstrak buah makasar fraksi
karena beberapa faktor diantaranya air dengan konsentrasi 1%, fraksi heksana
perbedaan jenis pelarut yang digunakan saat 1% dan larutan Acarbose sebagai
ekstraksi, variasi genetik, umur tanaman, pembanding pada konsentrasi yang sama
serta lingkungan atau kondisi geografis dengan ekstrak. Hasil pengukuran
tempat tanaman tersebut tumbuh (Kardono menunjukkan bahwa ekstrak buah makasar
2003). fraksi air dan heksana memiliki potensi
Penelitian mengenai kegunaan buah sebagai antidiabetes melalui mekanisme
makasar sebagai antidiabetes belum penghambatan kerja enzim α-glukosidase.
dilakukan, akan tetapi secara empiris buah Hal tersebut ditunjukkan dari nilai inhibisi
makasar dipercaya dapat menurunkan kadar ekstrak terhadap kerja enzim α-glukosidase
gula dalam darah. Alkaloid, flavonoid, dan sebesar 14.32%, sedangkan fraksi heksana
triterpenoid merupakan senyawa metabolit sebesar 12.76%. Hasil penelitian
sekunder yang memiliki potensi sebagai memperlihatkan bahwa daya inhibisi fraksi
antidiabetes dengan mekanisme air lebih besar bila dibandingkan dengan
penghambatan kerja enzim -glukosidase, fraksi heksana. Hal tersebut dapat
misalnya pada tanaman Origanum majorana dikarenakan oleh adanya senyawa metabolit
mengandung senyawa flavonoid yang dapat sekunder yang bersifat lebih mudah larut
menghambat kerja enzim tersebut dalam pelarut polar seperti air, akan tetapi
(Kawabata et al. 2003). Selain Origanum sukar larut dalam pelarut nonpolar. Senyawa
majorana tanaman lain yang dapat metabolit sekunder yang mudah larut dalam
menghambat kerja enzim -glukosidase pelarut polar diantaranya alkaloid dan
diantaranya mahkota dewa (Phaleria flavonoid. Seperti yang telah dijelaskan
macrocarpa), buah salak (Sallaca edulis sebelumnya, alkaloid dan flavonoid
Reinw) varietas bongkok (Pratama 2009), merupakan senyawa metabolit yang
Commeliana communis, Punica grantum, menyebabkan suatu tanaman berpotensi
dan Eugenia jambolana (Tuyet & Chuyen sebagai antidiabetes melalui penghambatan
2007). kerja enzim α-glukosidase. Senyawa
alkaloid yang teridentifikasi pada kedua
Tabel 1 Analisis fitokimia fraksi air dan fraksi menunjukkan bahwa senyawa yang
heksana buah makasar berperan dalam mekanisme penghambatan
Uji Fraksi Fraksi terhadap kerja enzim α-glukosidase adalah
air heksana alkaloid.
Alkaloid Larutan pembanding sebagai kontrol
Dragendorf + - positif (Acarbose) dengan konsentrasi yang
Wagner - + sama memiliki daya hambat sebesar 81.15%.
Mayer + - Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai
Flavonoid + - dari daya hambat Acarbose dengan kedua
Triterpenoid - - fraksi terlampau jauh, meskipun memiliki
konsentrasi yang sama (Tabel 2). Hal ini
Daya Inhibisi Enzim α-Glukosidase disebabkan di dalam tablet Acarbose telah
Enzim α-glukosidase merupakan enzim mengandung senyawa aktif yang secara
yang berperan dalam pembentukan glukosa efektif dapat menghambat kerja enzim α-
di usus halus manusia melalui pemecahan glukosidase, sedangkan di dalam ekstrak
karbohidrat. Kerja enzim tersebut yang dimiliki masih mengandung campuran
diindikasikan sebagai pemicu timbulnya antara senyawa aktif dengan senyawa
penyakit diabetes melitus tipe 2. penggangu lainnya. Senyawa pengganggu
penghambatan terhadap kerja enzim α- yang dimaksud dapat berupa aktivator atau
glukosidase dapat dilakukan untuk senyawa sakarida yang berbentuk disakarida
mencegah peningkatan secara drastis kadar dan oligosakarida (Sugiwati 2005).
glukosa di dalam tubuh penderita diabetes Senyawa-senyawa tersebut mungkin dapat
tipe 2 tersebut, melalui penundaan proses meningkatkan kerja enzim α-glukosidase
pemecahan karbohidrat sehingga dapat atau sebaliknya yaitu dapat menghambat
menunda penyerapan glukosa oleh usus ke kerja senyawa aktif tersebut, sehingga
dalam darah. menjadikan daya inhibisi menurun karena
pembentukan produk yang jauh lebih tinggi
9

dibandingkan dengan laju pengikatan glukosa oleh α-glukosidase. Intensitas warna


inhibitor-enzim. Hal tersebut ditandai kuning yang dihasilkan diukur dengan
dengan terbentuknya produk berupa p- spektrofotometer. Semakin besar aktivitas
nitrofenol yang lebih cepat. inhibisi dari suatu sampel terhadap kerja
Beberapa tanaman obat yang telah enzim α-glukosidase, maka jumlah p-
diteliti memiliki kemampuan untuk nitrofenol yang dihasilkan semakin sedikit,
menghambat kerja enzim α-glukosidase. sehingga intensitas warna kuning yang
Besarnya daya hambat terhadap kerja enzim terbentuk semakin berkurang. Hal tersebut
tersebut pada konsentrasi yang sama (1%) ditandai dengan nilai absorban yang kecil
dan penggunaan jenis pelarut yang sama ketika pengukuran.
yaitu pelarut polar diantaranya, buah Produk p-nitrofenol yang terbentuk
mahkota dewa memiliki daya inhibisi dapat mengindikasikan adanya
sebesar 40% (Historya 2004), buah salak penghambatan terhadap kerja enzim
(Sallaca edulis Reinw) varietas bongkok tersebut. Rata-rata produk p-nitrofenol yang
sebesar 13.18% (Pratama 2009), terbentuk pada penambahan ekstrak buah
Chaenomeles sinensis sebesar 20% makasar fraksi air dengan konsentrasi 1%,
(Sancheti 2009), dan Cleistocalyx fraksi heksana 1%, Acarbose, dan blanko
operculatus sebesar 47.5% (Tuyet & berturut-turut adalah 70.64 μM, 71.92 μM,
Chuyen 2007). Besarnya daya hambat 15.45 μM, dan 82.44 μM. Hasil tersebut
terhadap kerja enzim α-glukosidase yang menunjukkan bahwa produk berupa p-
ditunjukkan oleh beberapa tanaman obat nitrofenol yang terbentuk setelah
berbeda satu dengan yang lainnya. penambahan fraksi air lebih rendah bila
perbedaan tersebut terjadi dikarenakan dibandingkan dengan blanko. Seperti halnya
beberapa faktor antara lain, adanya fraksi air, produk p-nitrofenol yang
perbedaan senyawa metabolit sekunder yang terbentuk dari fraksi heksana juga lebih
terkandung dalam suatu tanaman obat, rendah dibandingkan dengan blanko,
adanya senyawa pengganggu, perbedaan meskipun produk yang terbentuk masih
metode ekstraksi, dan perbedaan jenis lebih banyak bila dibandingkan dengan
pelarut yang digunakan (Kardono 2003). fraksi air. Produk p-nitrofenol yang
Nilai inhibisi dari fraksi heksana terbentuk paling sedikit ditunjukkan oleh
sebesar 12.76% terlihat lebih rendah bila kontrol positif yaitu larutan Acarbose
dibandingkan dengan fraksi air. Hasil (Gambar 4). Besarnya nilai produk p-
tersebut dapat mengindikasikan bahwa nitrofenol ini diperoleh melalui formula
fraksi air lebih berpotensi sebagai kurva standar yang terbentuk (Lampiran 5).
antidiabetes melalui penghambatan kerja Analisis data statistik secara
enzim α-glukosidase. Beberapa tanaman keseluruhan dengan menggunakan ANOVA
obat yang diekstrak dengan menggunakan (α=0.05) menunjukkan bahwa ekstrak buah
pelarut nonpolar seperti heksana telah diteliti makasar fraksi air dan fraksi heksana
khasiatnya sebagai antidiabetes secara in memberikan pengaruh terhadap aktivitas
vivo. Tanaman obat tersebut diantaranya, enzim α-glukosidase. Hasil analisis statistik
Adhatoda zeylanica (Ilango et al. 2009), Duncan (α=0.05) menunjukkan bahwa
Cassia fistula (Nirmala 2008), dan Nigella ekstrak buah makasar fraksi air dan heksana
sativa Linn (Khanam & Zesmin 2008). memberikan hasil yang berbeda nyata
Secara in vitro fraksi heksana dari suatu terhadap kontrol positif dan blanko,
tanaman obat juga telah diuji khasiatnya meskipun besarnya daya hambat terhadap
sebagai antidiabetes melalui mekanisme kerja enzim α-glukosidase antara fraksi air
penghambatan terhadap kerja enzim α- dan fraksi heksana secara signifikan tidak
glukosidase. Fraksi heksana dari ekstrak berbeda nyata (Lampiran 6).
tanaman Chaenomeles sinensis dapat
menghambat kerja enzim α-glukosidase Tabel 2 Daya inhibisi ekstrak buah
sebesar 35% pada konsentrasi 2% (Sancheti makasar fraksi air dan fraksi
et al. 2009) heksana terhadap enzim α-
Daya inhibisi terhadap aktivitas enzim glukosidase
α-glukosidase diukur berdasarkan Sampel Daya inhibisi (%)
terbentuknya produk p-nitrofenol yang Fraksi air 1% 14.3212
dihasilkan dari hidrolisis substrat, yaitu p- Fraksi heksana 1% 12.7623
nitrofenil α-D-glukopiranosida (p-NPG) Acarbose* 81.1591
menjadi p-nitrofenol (berwarna kuning) dan Ket: * = kontrol positif
10

90
DAFTAR PUSTAKA

konsentrasi p-nitrofenol (uM)


80
70
60 Copriyadi J, Yasmi E, Hidayati. 2005.
50 Isolasi dan karakterisasi senyawa
40
kumarin dari kulit buah jeruk purut
(Citrus hystrix DC). J Biogenesis 2:13-
30
25.
20
10
[Depkes] Depatemen Kesehatan. 2005.
0
Jumlah penderita diabetes indonesia
blanko fraksi air 1% fraksi heksana 1% acarbose 1%
ranking-4 di dunia. [terhubung
sampel perlakuan berkala].http//www.depkes.go.id/index.
php. html[7 januari 2008].
Gambar 4 Aktivitas enzim α-glukosidase Gamse T. 2002. Liquid-Liquid Extraction
terhadap inhibisi ekstrak and Solid-Liquid Extraction. New York:
buah makasar. Graz Pr.

Gao H et al. 2008. Chebulagic acid is a


potent α-glucosidsae inhibitor. Bosci
SIMPULAN DAN SARAN Biotechnol Biochem 72:601-603.

Simpulan Garret RH, Grisham CM. 2002.


Ekstraksi buah makasar menggunakan Biochemistry and Molecular Biology
etanol 95% dan proses fraksinasi Education. New Orleans: Wiiley
menghasilkan rendemen fraksi air sebesar Intersci.
4.38% dan fraksi heksana sebesar 6.45%.
Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa Harborne JB. 1987. Metode Fitokimia.
ekstrak buah makasar fraksi air mengandung Iwang S, penerjemah. Bandung: ITB Pr.
alkaloid dan flavonoid, sedangkan fraksi Terjemahan dari: Phytochemical
heksana mengandung alkaloid. Penambahan Method.
ekstrak buah makasar pada sistem reaksi Historya D. 2004. Perbandingan daya
enzim α-glukosidase dan substratnya p- inhibisi terhadap kerja enzim α-
nitrofenil- α-D-glukopiranosida (p-NPG) glukosidase dan aktivitas antibakteri
dapat menghambat kerja enzim tersebut. antara ekstrak ramuan tunggal penyusun
Daya hambat yang ditunjukkan oleh fraksi formula obat antidiabetes alami
air dengan konsentrasi 1% sebesar [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika
14.3212% dan fraksi heksana 1% sebesar dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut
12.7623%. Hasil ini menunjukkan bahwa Pertanian Bogor.
ekstrak buah makasar fraksi air berpotensi
sebagai antidiabetes melalui mekanisme Hougton J, Raman. 1998. Laboratory
penghamabatan aktivitas enzim α- Handbook for Fractination of Natural
glukosidase. Extract. London: Chapman & Hall.

Saran Ilango K et al. 2009. Antidiabetic,


Pengujian lebih lanjut terhadap potensi antioxidant and antibacterial activities
buah makasar sebagai antidiabetes perlu of leaf extract of Adhatoda zeylanica. J
dilakukan dengan ragam konsentrasi untuk Pharm Sci & Res 1:67-73.
menentukan konsentrasi yang efektif
menghambat kerja enzim α-glukosidase, Jenner H, Townsend B, Osbourn A. 2005.
sehingga dapat memberikan hasil yang Unravelling triterpen glycoside
optimum. Selain itu, perlu dilakukan synthesis in plants: phytochemistry and
pengujian terhadap khasiat ekstrak buah functional genomics join forces. Planta
makasar fraksi air secara in vivo. 22: 503-506.
11

Kardono LBS. 2003. Kajian kandungan Ohta T et al. 2002. α-Glucosidase inhibitory
kimia mahkota dewa (Phaleria activity of a 70% methanol extract from
marcocarpa). Di dalam: Prosiding ezoishige (Palvetia Bibingtoniide Tonii)
Pameran Produk Obat Tradisional dan and its effect on the evaluation of blood
Seminar Sehari Mahkota Dewa. Jakarta: glucose level in rats. J Biosci
Pusat Penelitian dan Pengembangan Biotechnol Biochem 66:1552-1554.
Farmasi dan Obat Tradisional
Departemen Kesehatan, hlm 72-76. Purwakusumah ED. 2003. Tumbuhan
sebagai sumber biofarmaka. Di dalam
Kawabata J et al. 2003. 6- Pelatihan Tanaman Obat Tradisional,
Hydroxyflavonoids as a-glukosidase 3-4 Mei 2003. Bogor: Pusat Studi
inhibitors from marjoram (Origanum Biofarmaka Lembaga Penelitian IPB.
marjorana) Leaves. Biosci Biotechno
Biochem 67:445-447. Pratama NR. 2009. Aktivitas
antihiperglikemia ekstrak daging dan
Khanam M, Zenim F. 2008. Effect of the kulit buah salak (Salacca edulis Reinw)
crude and the n-hexane extract of varietas bongkok [skripsi]. Bogor:
Nigella sativa Linn (Kalajara) upon Fakultas Matematika dan Ilmu
diabetic rats. J Pharmacol 4:17-20. Pengetahuan Alam, Institut Pertanian
Bogor.
Kumala S. 2007. Cytotoxic secondary
metabolites from fermentation broth of Sancheti et al. 2009. Chaenomeles sinensis:
Brucea javanica endophytic fungus a potent α- and β-glucosidase inhibitor.
1.2.11. J Microbiol 2: 625-631. Am J Pharm & Toxicol 4:8-11.

Lee et al. 2007. Inhibitory activity of Septiawati T. 2008. Daya hambat ekstrak
Euonymus alatus against α-glucosidase etanol buah mahkota dewa terhadap
in vitro and in vivo. J nutr Re Pract aktivitas α-glukosidase secara in vitro
1:184-188. [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut
Mathur R, Shiel WC. 2003. Diabetes Pertanian Bogor.
Mellitus.http://www.medicine.com/diab
et mellitus/article.htm [28 Juli 2005]. Simpen I. 2008. Isolasi cashew nut shell
liquid dari kulit jambu mete
Matsui T et al. 2002. caffeoylsophorose, a (Anacardium occidentale L) dan kajian
new natural α-glucosidase inhibitor, beberapa sifat fisiko-kimianya. J Kimia
from red vinegar by fermented purple- 2:71-76.
fleshed sweet Potato. J Biosci Soegondo S. 2004. Diagnosis dan
Biotechnol Biochem 68:2239-2246. Klasifikasi Diabetes Mellitus Terkini.
Di dalam: Penatalaksanaan Diabetes
Matsumoto K et al. 2002. A novel method Mellitus Terpadu. Sebagai panduan
for the assay of a-glucosidase inhibitory penatalaksanaan diabetes mellitus bagi
activity using a multi-channel oxygen dokter maupun educator. Jakarta: Pusat
sensor. J Anal Sci 18:1351-1319. Diabetes dan Lipid RSUP Nasional Dr.
Cipto Mangunkusumo, Fakultas
Mattjik AA. 2002. Rancangan Percobaan. Kedokteran UI.
Bogor: IPB Pr.
Sugiwati S. 2005. Aktivitas
Murray KR. 2003. Harper’s Illustrated antihiperglikemik dari ekstrak buah
Biochemistry. Ed ke-26. London: Longe mahkota dewa (Phaleria macrocarpa
Medical Pub. (Scheff) Boerl.) sebagai inhibitor α-
glukosidase in vitro dan in vivo pada
Nirmala et al. 2008. Effect of hexane extract tikus putih. [tesis]. Bogor: Program
of Cassia fistula barks on blood glucose Pascasarjana, Institut pertanian Bogor.
and lipid profile in streptozotocin
diabetic rats. Int J Pharmacol 4:292- Sutedja L. 2003. Bioprospekting Tumbuhan
296. Obat Indonesia Sebagai Sediaan
Fitofarmaka Antidiabetes. Laporan
12

Kemajuan Tahap II Riset Unggulan


Terpadu, Pusat Penelitian Kimia-LIPI.

Tuyet T, Chuyen NV. 2007.


Antihiperglycemic activity of an
aqueous extract from flower buds of
Cleistocalyx operculatus (Roxb.)Merr
and Perry. Biosci Biotechnol Biochem
71: 69-76.

Usman AP. 2000. Potensi


antihiperkolesterolemia kulit batang
kayu gabus (Alstonia scholaris, R. Br.)
[disertasi]. Bogor: Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Widowati L, Dzulkarnain, Sa’roni. 1997.


Tanaman obat untuk diabetes melitus.
Cermin Dunia Kedokteran 116:53-60.

Wijayakusuma H. 2004. Atasi Diabetes


Mellitus dengan Tanaman Obat.
Jakarta: Puspa Sehat.
13

LAMPIRAN
14

Lampiran 1 Tahapan penelitian

Buah makasar

Ekstraksi dengan etanol 95%

Saring
Rotavapour 40oC

Fraksinasi

fraksi heksana Fraksi air

Uji fitokimia

Uji in vitro ekstrak buah makasar


terhadap aktivitas enzim α-
glukosidase

Analisis statistika
15

Lampiran 2 Uji aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase

10 μL larutan
sampel 1% (b/v) Larutan Acarbose Akuades sebagai
dalam dimetil 1% sebanyak 10 blanko
sulfoksida μL
(DMSO)

250 μL 20 mM p- 490 μl buffer


nitofenil-D- fosfat (pH 7)
glukopiranosa

Inkubasi 37 oC selama 5 menit

1 mg α-
250 μL glukosidase
Hasil inkubasi dalam buffer
fosfat pH 7
yang
mengandung
Inkubasi 37 oC selama 15 menit 200 mg BSA

1000 μL larutan
Na2CO3 200 mM

p-nitrofenol

Spektrofotometer
λ = 400 nm
16

Lampiran 3 Perhitungan rendemen ekstrak buah makasar fraksi air dan heksana

Bobot sampel = 73.52 gram


Bobot fraksi air = 3.22 gram
bobot ekstrak
Rendemen = x 100%
bobot sampel

3.22
= x 100%
73.52
= 4.38%

Bobot sampel = 71.90 gram


Bobot fraksi heksana = 4.49 gram
bobot ekstrak
Rendemen = x 100%
bobot sampel
4.49
= x 100%
71.90
= 6.45%
17

Lampiran 4 Data daya inhibisi enzim α-glukosidase ekstrak buah makasar


Sampel A Konsentrasi produk Rata-rata Inhibisi
p-nitrofenol produk p- (%)
(μM) nitrofenol
(μM)
Kontrol blanko 1 0.670 82.4457
Kontrol blanko 2 0.680 83.6506 82.4457
Kontrol blanko 3 0.660 81.2409

Fraksi air 1% 1 0.567 70.0361


Fraksi air 1% 2 0.567 70.0361 70.6385 14.3212
Fraksi air 1% 3 0.582 71.8434

Fraksi heksana 1% 1 0.580 71.6024


Fraksi heksana 1% 2 0.560 69.1928 71.9237 12.7623
Fraksi heksana 1% 3 0.608 74.9759

Acarbose 1% 1 0.112 15.2169


Acarbose 1% 2 0.110 14.9759 15.4578 81.1591
Acarbose 1% 3 0.120 16.1807

Contoh perhitungan % inhibisi:

C-S
% Daya inhibisi ekstrak = x 100%
C
= [(C-(S1-S0)] x 100%
C

Keterangan: C = konsentrasi kontrol blanko


S = konsentrasi ekstrak sampel buah makasar
S0 = konsentrasi ekstrak tanpa penambahan enzim
S1 = konsentrasi ektrak dengan penambahan enzim
18

Lampiran 6 Analisis statistik daya inhibisi ekstrak buah makasar terhadap kerja
enzim α-glukosidase

Uji ANOVA sampel ekstrak buah makasar

Sumber Jumlah kuadrat Derajat Kuadrat


keragaman (JK) Bebas (DB) Tengah (KT) F hitung F tabel
Perlakuan 8229.343 3 2743.114 963.735 4.066
Galat 22.771 8 2.846
Total 8252.114 11

Uji lanjut Duncan

Ulangan Alpha (α) = 0.05


Kelompok perlakuan (N) 1 2 3
Kontrol positif 3 15.4578
Fraksi air 1% 3 70.6385
Fraksi heksana 1% 3 71.9237
Blanko 3 82.4457
Sig. 1.000 .378 1.000
19

Lampiran 5 Hasil pengukuran kurva standar 4-nitrofenol


[4-nitrofenol] Absorbansi Rata-rata
(μM) ulangan absorbansi
1 2 3
15 0.113 0.110 0.157 0.126
30 0.213 0.224 0.239 0.225
45 0.359 0.352 0.347 0.352
60 0.466 0.484 0.502 0.464
75 0.593 0.623 0.617 0.611
90 0.737 0.726 0.757 0.740

0.8
0.7 y = 0.0083x - 0.0143
R2 = 0.997
0.6
0.5
absorban

0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 20 40 60 80 100
[4-nitrofenol] (uM)