Anda di halaman 1dari 10

TUGAS FITOKIMIA

“Poliketida”

Oleh :
UMMI ISNAINI (F1F115007)

Dosen Pengampu :
DIAH TRI UTAMI, S.Si., M.Sc.

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI
2017
“POLIKETIDA”

1. Deskripsi Poliketida
Poliketida berasal dari kata “poli” yang berarti banyak dan “ketida” yang
menunjukkan adanya ketida (-CH2COCOOH). Hal ini dikarenakan suatu poliketida ditandai
dengan dimilikinya pola berulang suatu ketida –[CH2CO]n dalam rangkaian strukturnya.
Poliketida adalah senyawa fenolik yang berasal dari jalur asetat-malonat. Senyawa
poliketida mempunyai kerangka dasar aromatik yang disusun oleh beberapa unit dua
atom karbon dan membentuk suatu rantai karbon yang linier yakni asam poli β-
ketokarboksilat yang disebut rantai poliasetil (Harborne, 1987).
Poliketida atau yang sering disebut dengan peptida nonribosom dibentuk oleh
enzim besar yang multifungsional dengan kelompok situs katalitik yang
terkoordinasi, yaitu Polyketide Synthase (PKS) dan Non-Ribosomal Peptide Synthase
(NRPS) (Zhao et al. 2007).
Poliketida termasuk dalam kelas produk alami yang di isolasi dari mikroba,
tanaman dan invertebrata yang mencakup jumlah yang mengesankan klinis obat yang
efektif dengan kegiatan beragam. Beberapa contoh diantaranya: erythromycin
(antibiotik), rapamycin (imunosupresif), amfoterycin (antijamur), avermectin
(antiparasit), dan doxorubycin (antikanker). Seperti pada produk alam lainnya,
poliketida memainkan peran yang berbeda dalam memproduksi organisme, dari
pertahanan diri (menghambat pertumbuhan dan melawan organisme yang merugikan)
sampai mengsignal molekul (sebagai pembawa pesan antar organisme).

2. Struktur Dasar Poliketida


Secara umum senyawa poliketida memiliki struktur CH3[CH2CO]n COOH
yang disebut ketida atau poli-β-keto. Berdasarkan struktur poliketida tersebut, secara
trivial poliketida memilikinama poliketida atau alkan poli-on. Sedangkan secara
IUPAC diberi nama polialkanon.
3. Klasifikasi Poliketida
Secara umum, poliketida terbagi ke dalam dua golongan, yaitu poliketida
aromatik (yang terdiri dari satu sampai enam cincin aromatik) dan poliketida
kompleks yang terdiri dari makrolida dan ansamicin (yang memiliki cincin lakton
atau laktam), poliena dan polieter.
a. Poliketida Aromatik
Poliketida aromatik digolongkan menjadi beberapa golongan berdasarkan
pada pola-pola struktur tertentu yang berkaitan dengan jalur biogenesisnya. Secara
umum terdapat lima golongan utama senyawa poliketida aromatik yaitu ;

 Turunan Asil Floroglusinol

 Turunan Kromon

 Turunan Benzokuinon
 Turunan Antrakuinon

b. Poliketida kompleks

4. Biosintesis Poliketida
Menurut Saifudin (2014), poliketida aromatik merupakan suatu poliketida yang
memiliki karakteristik yaitu struktur polisiklik aromatik. Biosintesis poliketida
aromatik mirip dengan biosintesis asam lemak. Perbedaan pembentukan asam lemak
dan senyawa poliketida aromatik terletak pada peristiwa reduksi sebelum
penambahan asetil-CoA lebih lanjut.
Biosintesisis poliketida berasal dari suatu reaksi kondensasi asetil-CoA dengan
senyawa malonil-CoA. Pada dasarnya, asetil-CoA dibentuk dari asam asetat yang
mengalami pengaktivan pada gugus karboksilnya menjadi bentuk tio ester dengan
bantuan enzim Poliketida Sintase (PKS), sedangkan malonil-CoA berasal dari asetil-
CoA yang mengalami karboksilasi pada gugus metilennya.
Secara garis besar, pembentukan poliketida berlangsung melalui berbagai tahap
reaksi yaitu, :
1. Pembentukan rantai karbon poliasetil
Pembentukan rantai poliasetil (suatu produk menengah yang berupa rantai
karbon linear poli-β-keton) ini terjadi melalui suatu reaksi kondensasi Claisen antara
unit pemula (asetil-KoA) dan unit perluasan (malonil-KoA).Pembentukan rantai
poliasetil terjadi dengan bantuan enzim poliketida sintase.Setelah terbentuk rantai
diketida, terjadi reaksi perpanjangan rantai dengan adanya penambahan gugus asetil
yang berasal dari malonil-KoA.Reaksi perpanjangan ini sangat ditentukan oleh enzim
asil transferase. Enzim tersebut berfungsi untuk memundahkan gugus asil dari
malonil-KoA ke enzim poliketida sintase agar enzim tersebut hanya melakukan siklus
kondensasi. Mekanisme pembentukan rantai poliasetil terdapat pada gambar dibawah
ini:

Rantai poliasetil yang dihasilkan memiliki kereaktifan yang sangat tinggi


karena rantai poliasetil tersebut memiliki gugus metilen yang dapat bertindak sebagai
Nukleofil dan gugus karbonil yang bertindak sebagai Elektrofil.Karena
kereaktifannya tersebut, rantai poliasetil dapat mengalami berbagai macam reaksi
modifikasi seperti, regiospesifik, reduksi, siklisasi atau aromatisasi dengan bantuan
enzim yang sesuai (Raharjo, 2013).
2. Kondensasi dan Siklisasi (Aromatisasi Molekul)
Karena sifatnya yang sangat reaktif, poliasetil tersebut mampu melakukan
reaksi-reaksi tertentu, diantaranya ;
2.1 Kondensasi Intramolekuler
a. Kondensasi Aldol
Pada kondensasi aldol terjadi reaksi antara gugus metilen dengan gugus
karbonil dari poliasetil membentuk suatu turunan asam Orselinat dan turunan
Antrakuinon.
b. Kondensasi Claisen
Pada kondensasi Claisen terjadi reaksi antara gugus metilen dan gugus
karboksilat pada molekul poliasetil.Kondensasi ini menghasilkan poliketida
turunan Asil Floroglusinol. Berikut mekanisme reaksi kondensasi Aldol dan
Clasein ditunjukan pada gambar berikut :

(a )

R - CO - CH2 - CO - CH2 - CO - CH2 - COOH

( b )

(a ) ( b ) R

R CO

COOH O O

O O

R
R CO
COOH HO OH

HO OH

OH
Asam 2,4-dihidroksi-6-metil benzoat Asilfloroglusinol

(turunan resorsinol = asam-asam orselinat R = CH3 asetilfloroglusinol

Endokrosin Kurvularin
(polisiklik) (monosiklik)

2.2 Siklisasi
a. Laktonisasi
Pada reaksi laktonisasi terjadi reaksi antara gugus hidroksil dengan gugus
karboksil dari poliasetil membentuak suatu lakton (ester siklik). Gugus hidroksil
dari poliasetil dihasilkan ketika gugus karbonil pada poliasetil bertautomer
menjadi bentuk enolnya.Reaksi ini menghasilkan senyawa turunan α – piron.
b. Eterifikasi
Pada reakis eterifikasi terjadi reakis antara gugus hidroksil dengan gugus
karbonil dari poliasetil membentuk eter siklik.Reaksi ini menghasilkan senyawa
turunan kromon yaitu turunan γ – piron.
(a)

R - CO - CH2 - CO - CH2 - CO - CH2 - COOH

(b)

OH O
(a) (b)

R O O R O CH2 - COOH

piron piron

O O OOH O
R C
O
(a ) O (c ) O (b ) (b )
CHOOH
C O O R O O O R
O HOOH (d ) (d )

OH O

HO R

O
HO O R

OH O

ISOKUMARIN KHROMON

Gambar.Mekanisme reaksi laktonisasi dan eterifikasi

(a) Reaksi Laktonisasi

(b) Reaksi Eterifikasi

3. Modifikasi Sekunder Struktur poliketida

Selain mengalami reaksi kondensasi dan siklisasi, rantai poliketida juga


mengalami reaksi modifikasi sekunder yang dapat berlansung baik sebelum maupun
sesudah reaksi siklisasi. Reaksi modifikasi sekunder rantai poliketida dapat tejadi
melalui :

a. Reduksi

Reduksi biasanya terjadi pada gugus karbonil dengan menghasilkan gugus


hidroksil.Modifikasi reduksi dapat terjadi dengan adanya NADH.
Contohnya :

b. Oksidasi

Biasanya terjadi pada gugus metilen menghasilkan gugus hidroksil.

Contoh modifikasi sekunder oksidasi :

5. Sifat kimia Poliketida


- Bersifat Nukleofil
- Larut dalam pelarut organik
- Rantai panjangnya kadang mengalami siklisasi
- Semakin panjang rantai karbon maka semakin larut dalam pelarut non polar,
namun semakin banyak gugus hidroksil maka kelarutan makin tinggi pada
pelarut polar
6. Sifat fisika Poliketida
o
- Memiliki titik leleh 170-300 C
- Berupa padatan kuning pucat

7. Penyebaran Senyawa Poliketida


Poliketida banyak dihasilkan oleh bakteri, kapang dan lumut. Dalam bentuk
struktur molekulnya, poliketida memiliki pola oksigen yang berselang seling. Adapun
metabolit sekunder dari poliketida yang terdapat pada fungi dan bakteri diantaranya
yakni pigmen antarkuinon yang terdapat pada fungi Claviceps purpurea (Heldt,2005).

Poliketida banyak dimanfaatkan sebagai obat-obatan karena dapat diisolasi dari tumbuhan-
tumbuhan yang ada di sekitar kita. Poliketida dapat diisolasi dari mikroba, jamur Aspergillus
terreus, tomat, jagung, dan invertebrata yang jumlahnya cukup besar.

8. Manfaat dan Contoh Senyawa Poliketida


Kegunaan senyawa-senyawa poliketida yaitu:
1. Sebagai antibiotik
Contoh :
- Golongan makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin, roksitromisin)
- Golongan ketolida (telitromisin)
- Golongan tetrasiklin (doksisiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin).
2. Sebagai obat kolesterol (anti kolesterol)
Contoh : senyawa lovastatin.
3. Sebagai anti jamur
Contoh : senyawa amfoterisin.
4. Sebagai anti kanker
Contoh : senyawa epotilon.
Sedangkan potensi senyawa-senyawa poliketida yaitu :
a. Sebagai terapi berbagai penyakit di usia lanjut.
b. Sebagai pencegah penyakit jantung.
Daftar Pustaka

Harborne,J.B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis


Tumbuhan.Bandung : ITB.

Heldt,H.W. 2005. Plant Biochemistry. Philadelphia: Elsevier Academic Pers.

Raharjo T. J. 2013. Kimia Hasil Alam. Yogyakarta : Pustaka pelajar.

Saifudin A. 2014. Senyawa Alam Metabolit Sekunder. Yogyakarta: Deepublish.

Zhao, X., B. El-Zahab, R. Brosnahan, J. Perry and P. Wang. 2007. An Organic Soluble Lipase for
Water-Free Synthesis of Biodiesel. Appl Biochem Biotechnol 143 : 236 – 243.