Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejarah berdirinya Dinasti Umayyah berasal dari nama Umayyah bin
‘Abdul Syams bin Abdul Manaf, yaitu salah seorang dari pemimpin kabilah
Quraisy pada zaman jahiliyah. Bani Umayyah baru masuk agama Islam pada
fathul Makkah. Memasuki tahun ke 40 H/660 M, Pertikaian politik terjadi
dikalangan umat Islam, puncaknya adalah ketika terbunuhnya Khalifah Ali bin
Abi Thalib. Setelah khalifah terbunuh, umat Islam diwilayah Iraq mengangkat al-
Hasan putra tertua Ali sebagai khalifah yang sah. Sementara itu Mu’awiyah bin
Abi Sufyan sebagi gubernur propinsi Suriah (Damaskus) juga menobatkan dirinya
sebagai Khalifah.
Namun karena Hasan ternyata lemah sementara Mu’awiyah bin Abi
Sufyan bertambah kuat, maka Hasan bin Ali menyerahkan pemerintahannya
kepada Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. Mu'awiyah merupakan pendiri dinasti Bani
Umayyah.
Berakhirnya kekuasaan khalifah Ali bin Abi Thalib mengakibatkan
lahirnya kekuasan yang berpola Dinasti atau kerajaan. Pola kepemimpinan
sebelumnya (khalifah Ali) yang masih menerapkan pola keteladanan Nabi
Muhammad, yaitu pemilihan khalifah dengan proses musyawarah akan terasa
berbeda ketika memasuki pola kepemimpinan dinasti-dinasti yang berkembang
sesudahnya.
Bentuk pemerintahan dinasti atau kerajaan yang cenderung bersifat
kekuasaan foedal dan turun temurun, hanya untuk mempertahankan kekuasaan,
adanya unsur otoriter, kekuasaan mutlak, kekerasan, diplomasi yang dibumbui
dengan tipu daya, dan hilangnya keteladanan Nabi untuk musyawarah dalam
menentukan pemimpin merupakan gambaran umum tentang kekuasaan dinasti
sesudah khulafaur rasyidin.

1
B. Rumusan Masalah
Ada pun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana pendirian dinasti Bani Umayyah?
2. Bagaimana pola pemerintahan dinasti bani Umayyah?
3. Bagaimana masa Pemerintahan Umar ibn Abdul Aziz?
4. Bagaimana peradaban Islam Pada Masa Dinasti Bani Umayyah?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendirian Dinasti Bani Umayyah


Muawiyah bin Abi Sufyan menjadi khalifah pertama dinasti Bani Umayah
setelah Hasan bin Ali bin Abu Thalib menyerahkan kekhalifahannya kepada
Muawiyah. Sebelumnya, Muawiyah menjabat sebagai gubernur syiria. Selama
berkuasa di Syiria, Muawiyah mengandalkan orang-orang Syiria dalam
mempeluas batas wilayah Islam.
1. Asal Mula Dinasti Bani Umayyah
Proses terbentuknya kekhalifahan Bani Umayyah dimulai sejak khalifah
Utsman bin Affan tewas terbunuh oleh tikaman pedang Humran bin Sudan pada
tahun 35 H/656 M. Pada saat itu khalifah Utsman bin Affan di anggap terlalu
nepotisme (mementingkan kaum kerabatnya sendiri) dalam menunjuk para
pembantu atau gubernur di wilayah kekuasaan Islam.
Masyarakat Madinah khususnya para shahabat besar seperti Thalhah bin
Ubaidillah dan Zubair bin Awwam mendatangi shahabat Ali bin Abi Thalib untuk
memintanya menjadi khalifah pengganti Utsman bin Affan. Permintaan itu di
pertimbangkan dengan masak dan pada akhirnya Ali bin Abi Thalib mau
menerima tawaran tersebut. Pernyataan bersedia tersebut membuat para tokoh
besar diatas merasa tenang, dan kemudian mereka dan para shahabat lainnya serta
pendukung Ali bin Abi Thalib melakukan sumpah setia (bai’at) kepada Ali pada
tanggal 17 Juni 656 M/18 Dzulhijah 35 H. Pembai’atan ini mengindikasikan
pengakuan umat terhadap kepemimpinannya. Dengan kata lain, Ali bin Abi
Thalib merupakan orang yang paling layak diangkat menjadi khalifah keempat
menggantikan khalifah Utsman bin Affan.
Pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat oleh
masyarakat madinah dan sekelompok masyarakat pendukung dari Kuffah,
ternyata ditentang oleh sekelompok orang yang merasa dirugikan. Misalnya

3
Muwiyah bin Abi Sufyan gubernur Damaskus, Syiria, dan Marwan bin Hakam
yang ketika pada masa Utsman bin Affan, menjabat sebagai sekretaris khalifah.
Dalam suatu catatan yang di peroleh dari khalifah Ali adalah bahwa Marwan pergi
ke Syam untuk bertemu dengan Muawiyah dengan membawa barang bukti
berupa jubah khalifah Utsman yang berlumur darah.
Penolakan Muawiyah bin Abi Sufyan dan sekutunya terhadap Ali bin Abi
Thalib menimbulkan konflik yang berkepanjangan antara kedua belah pihak yang
berujung pada pertempuran di Shiffin dan dikenal dengan perang Sifin,
Pertempuran ini terjadi di antara dua kubu yaitu, Muawiyah bin Abu Sufyan
(sepupu dari Usman bin Affan) dan Ali bin Abi Talib di tebing Sungai Furat yang
kini terletak di Syria (Syam) pada 1 Shafar tahun 37 H/657 M. Muawiyah tidak
menginginkan adanya pengangkatan kepemimpinan umat Islam yang baru.
Beberapa saat setelah kematian khalifah Utsman bin Affan, masyarakat
muslim baik yang ada di Madinah , Kuffah, Bashrah dan Mesir telah mengangkat
Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Utsman. Kenyataan ini membuat
Muawiyah tidah punya pilihan lain, kecuali harus mengikuti khalifah Ali bin Abi
Thalib dan tunduk atas segala perintahnya. Muawiyah menolak kepemimpinan
tersebut juga karena ada berita bahwa Ali akan mengeluarkan kebijakan baru
untuk mengganti seluruh gubernur yang diangkat Utsman bin Affan.
Muawiyah mengecam agar tidak mengakui (bai’at) kekuasaan Ali bin Abi
Thalib sebelum Ali berhasil mengungkapkan tragedi terbunuhnya khalifah
Utsman bin Affan, dan menyerahkan orang yang dicurigai terlibat pembunuhan
tersebut untuk dihukum. Khalifah Ali bin Abi Thalib berjanji akan menyelesaikan
masalah pembunuhan itu setelah ia berhasil menyelesaikan situasi dan kondisi di
dalam negeri. Kasus itu tidak melibatkan sebagian kecil individu, juga melibatkan
pihak dari beberapa daerahnya seperti Kuffah, Bashra dan Mesir.
Permohonan atas penyelesaian kasus terbunuhnya khalifah Utsman bin
Affan ternyata juga datang dari istri Nabi Muhammad saw, yaitu Aisyah binti Abu
Bakar. Siti Aisyah mendapat penjelasan tentang situasi dan keadaan politik di
ibukota Madinah, dari shahabat Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair ketika bertemu
di Bashrah. Para shahabat menjadikan Siti Aisyah untuk bersikap sama, untuk

4
penyelesaian terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan, dengan alasan situasi dan
kondisi tidak memungkinkan di Madinah. Disamping itu, khalifah Ali bin Abi
Thalib tidak menginginkan konflik yang lebih luas dan lebar lagi.
Akibat dari penanganan kasus terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan,
munculah isu bahwa khalifah Ali bin Abi Thalib sengaja mengulur waktu karena
punya kepentingan politis untuk mengeruk keuntungan dari krisis tersebut.
Bahkan Muawiyah menuduh Ali bin Abi Thalib berada di balik kasus
pembunuhan tersebut.
Tuduhan ini tentu saja tuduhan yang tidak benar, karena justru pada saat
itu Sayidina Ali dan kedua putranya Hasan dan Husein serta para shahabat yang
lain berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjaga dan melindungi khalifah
Utsman bin Affan dari serbuan massa yang mendatangi kediaman khalifah.
Sejarah mencatat justru keadaan yang patut di curigai adalah peran dari
kalangan pembesar istana yang berasal dari keluarga Utsman dan Bani Umayyah.
Pada peristiwa ini tidak terjadi seorangpun di antara mereka berada di dekat
khalifah Utsman bin Affan dan mencoba memberikan bantuan menyelesaikan
masalah yang dihadapi khalifah.
Dalam menjalankan roda pemerintahannya, kalifah Utsman bin Affan
banyak menunjuk para gubernur di daerah yang berasal dari kaum kerabatnya
sendiri. Salah satu gubernur yang ia tunjuk adalah gubernur Mesir, Abdullah
Sa’ad bin Abi Sarah. Gubernur Mesir ini di anggap tidak adil dan berlaku
sewenang-wenang terhadap masyarakat Mesir. Ketidak puasan ini menyebabkan
kemarahan di kalangan masyarakat sehingga mereka menuntut agar Gubernur
Abdullah bin Sa’ad segera di ganti. Kemarahan para pemberontak ini semakin
bertambah setelah tertangkapnya seorang utusan istana yang membawa surat
resmi dari khalifah yang berisi perintah kepada Abdullah bin Sa’ad sebagai
gubernur Mesir untuk membunuh Muhammad bin Abu Bakar. Atas permintaan
masyarakat Mesir, Muhammad bin Abu Bakar diangkat untuk menggantikan
posisi gubernur Abdulah bin Sa’ad yang juga sepupu dari khalifah Utsman bin
Affan.

5
Tertangkapnya utusan pembawa surat resmi ini menyebabkan mereka
menuduh khalifah Utsman bin Affan melakukan kebajikan yang mengancam
nyawa para shahabat. Umat Islam Mesir melakukan protes dan demonstrasi secara
massal menuju rumah khalifah Utsman bin Affan. Mereka juga tidak menyenangi
atas sistem pemerintahan yang sangat sarat dengan kolusi dan nepotisme.
Keadaan ini menyebabkan mereka bertambah marah dan segera menuntut khalifah
Utsman bin Affan untuk segera meletakkan jabatan.
Persoalan-persoalan yang dihadapi oleh khalifah Utsman bin Affan
semakin rumit dan kompleks, sehingga tidak mudah untuk di selesaikan
secepatnya. Massa yang mengamuk saat itu tidak dapat menahan emosi dan
langsung menyerbu masuk kedalam rumah khalifah, sehingga khalifah Utsman
terbunuh dengan sangat mengenaskan.
Ada beberapa gubernur yang diganti semasa kepemimpinan khalifah Ali,
antara lain Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai gubernur Syam yang diganti
dengan Sahal bin Hunaif. Pengiriman gubernur baru ini di tolak Muawiyah bin
Abi Sufyan serta masyarakat Syam. Pendapat khalifah Ali bin Abi Thalib tentang
pergantian dan pemecatan gubernur ini berdasarkan pengamatan bahwa segala
kerusuhan dan kekacauan yang terjadi selama ini di sebabkan karena ulah
Muawiyah dan gubernur-gubernur lainnya yang bertindak sewenang-wenang
dalam menjalankan pemerintahannya. Begitu juga pada saat peristiwa
terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan disebabkan karena kelalaian mereka.

2. Usaha Untuk Memperoleh Kekuasaan


Wafatnya khalifah Ali bin Abi Thalib pada tanggal 21 Ramadhan tahun
40 H/661 M, karena terbunuh oleh tusukan pedang beracun saat sedang beribadah
di masjid Kufah, oleh kelompok khawarij yaitu Abdurrahman bin Muljam,
menimbulkan dampak politis yang cukup berat bagi kekuatan umat Islam
khususnya para pengikut setia Ali (Syi’ah). Oleh karena itu, tidak lama berselang
umat Islam dan para pengikut Ali bin Abi Thalib melakukan sumpah setia (bai’at)
atas diri Hasan bin Ali untuk di angkat menjadi khalifah pengganti Ali bin Abi
Thalib.

6
Proses penggugatan itu dilakukan dihadapan banyak orang. Mereka yang
melakukan sumpah setia ini (bai’at) ada sekitar 40.000 orang jumlah yang tidak
sedikit untuk ukuran pada saat itu. Orang yang pertama kali mengangkat sumpah
setia adalah Qays bin Sa’ad, kemudian diikuti oleh umat Islam pendukung setia
Ali bin Abi Thalib.
Pengangkatan Hasan bin Ali di hadapan orang banyak tersebut ternyata
tetap saja tidak mendapat pengangkatan dari Muawiyah bin Abi Sufyan dan para
pendukungnya. Dimana pada saat itu Muawiyyah yang menjabat sebagai gubernur
Damaskus juga menobatkan dirinya sebagai khalifah. Hal ini disebabkan karena
Muawiyah sendiri sudah sejak lama mempunyai ambisi untuk menduduki jabatan
tertinggi dalam dunia Islam.
Namun Al-Hasan sosok yang jujur dan lemah secara politik. Ia sama
sekali tidak ambisius untuk menjadi pemimpin negara. Ia lebih memilih
mementingkan persatuan umat. Hal ini dimanfaatkan oleh muawiyah untuk
mempengaruhi massa untuk tidak melakukan bai’at terhadap hasan Bin ali.
Sehingga banyak terjadi permasalahan politik, termasuk pemberontakan-
pemberontakan yang didalangi oleh Muawiyah bin Abi Sufyan. Oleh karena itu,
ia melakukan kesepakatan damai dengan kelompok Muawiyah dan menyerahkan
kekuasaannya kepada Muawiyah pada bulan Rabiul Awwal tahun 41 H/661.
Tahun kesepakatan damai antara Hasan dan Muawiyah disebut Aam Jama’ah
karena kaum muslimn sepakat untuk memilih satu pemimpin saja, yaitu
Muawiyah ibn Abu Sufyan.
Menghadapi situasi yang demikian kacau dan untuk menyelesaikan
persoalan tersebut, khalifah Hasan bin Ali tidak mempunyai pilihan lain kecuali
perundingan dengan pihak Muawiyah. Untuk itu maka di kirimkan surat melalui
Amr bin Salmah Al-Arhabi yang berisi pesan perdamaian.
Dalam perundingan ini Hasan bin Ali mengajukan syarat bahwa dia
bersedia menyerahkan kekuasaan pada Muawiyah dengan syarat antaralain:
a) Muawiyah menyerahkan harat Baitulmal kepadanya untuk melunasi hutang-
hutangnya kepada pihak lain.

7
b) Muawiyah tak lagi melakukan cacian dan hinaan terhadap khalifah Ali bin Abi
Thalib beserta keluarganya.
c) Muawiyah menyerahkan pajak bumi dari Persia dan daerah dari Bijinad kepada
Hasan setiap tahun.
d) Setelah Muawiyah berkuasa nanti, maka masalah kepemimpinan
(kekhalifahan) harus diserahkan kepada umat Islam untuk melakukan
pemilihan kembali pemimpin umat Islam.
e) Muawiyah tidak boleh menarik sesuatupun dari penduduk Madinah, Hijaz, dan
Irak. Karena hal itu telah menjadi kebijakan khalifah Ali bin Abi Thalib
sebelumnya.
Untuk memenuhi semua persyaratan, Hasan bin Ali mengutus seorang
shahabatnya bernama Abdullah bin Al-Harits bin Nauval untuk menyampaikan isi
tuntutannya kepada Muawiyah. Sementara Muawiyah sendiri untuk menjawab
dan mengabulkan semua syarat yang di ajukan oleh Hasan mengutus orang-orang
kepercayaannya seperti Abdullah bin Amir bin Habib bin Abdi Syama.
Setelah kesepakatan damai ini, Muawiyah mengirmkan sebuah surat dan
kertas kosong yang dibubuhi tanda tanggannya untuk diisi oleh Hasan. Dalam
surat itu ia menulis “Aku mengakui bahwa karena hubungan darah, Anda lebih
berhak menduduki jabatan kholifah. Dan sekiranya aku yakin kemampuan Anda
lebih besar untuk melaksanakan tugas-tugas kekhalifahan, aku tidak akan ragu
berikrar setia kepadamu.”
Itulah salah satu kehebatan Muawiyah dalam berdiplomasi. Tutur katanya
begitu halus, hegemonik dan seolah-olah bijak. Surat ini salah satu bentuk
diplomasinya untuk melegitimasi kekuasaanya dari tangan pemimpin sebelumnya.
Penyerahan kekuasaan pemerintahan Islam dari Hasan ke Muawiyah ini
menjadi tonggak formal berdirinya kelahiran Dinasti Umayyah di bawah
pimpinan khalifah pertama, Muawiyah ibn Abu Sufyan.

8
Proses penyerahan dari Hasan bin Ali kepada Muawiyah bin Abi Sufyan
dilakukan di suatu tempat yang bernama Maskin dengan ditandai pengangkatan
sumpah setia. Dengan demikian, ia telah berhasil meraih cita-cita untuk menjadi
seorang pemimpin umat Islam menggantikan posisi dari Hasan bin Ali sebagai
khalifah.
Meskipun Muawiyah tidak mendapatkan pengakuan secara resmi dari
warga kota Bashrah, usaha ini tidak henti-hentinya dilakukan oleh Muawiyah
sampai akhirnya secara defacto dan dejure jabatan tertinggi umat Islam berada di
tangan Muawiyah bin Abi Sufyan.
Dengan demikian berdirilah dinasti baru yaitu Dinasti Bani Umayyah
(661-750 M) yang mengubah gaya kepemimpinannya dengan cara meniru gaya
kepemimpinan raja-raja Persia dan Romawi berupa peralihan kekuasaan kepada
anak-anaknya secara turun temurun. Keadaan ini yang menandai berakhirnya
sistem pemerintahan khalifah yang didasari asas “demokrasi” untuk menentukan
pemimpin umat Islam yang menjadi pilihan mereka. Pada masa kekuasaan Bani
umayyah ibukota Negara dipindahkan muawiyah dari Madinah ke Damaskus,
tempat Ia berkuasa Sebagai gubernur Sebelumnya.
Namun perlawanan terhadap bani Umayyah tetap terjadi, perlawanan ini
dimulai oleh Husein ibn Ali, Putra kedua Khalifah Ali bin Abi Thalib. Husein
menolak melakukan bai’at kepada Yazid bin Muawiyah sebagai khalifah ketika
yazid naik tahta. Pada tahun 680 M, ia pindah dari Mekah ke Kufah atas
permintaan golongan syi’ahyang ada di Irak. Umat islam Di daerah ini tidak
mrngakui Yazid. Mereka Mengangkat Husein sebagai Khalifah. Dalam
pertempuran yang tidak seimbang di Karbela, sebuah daerah di dekat Kufah,
tentara Husein kalah dan Husein sendiri mati terbunuh. Kepalanya dipengal dan
dikirim ke damaskus, sedang tubuhnya dikubur di Karbela.

B. Pola Pemerintahan Dinasti Bani Umayyah


Aku tidak akan menggunakan pedang ketika cukup mengunakan cambuk,
dan tidak akan mengunakan cambuk jika cukup dengan lisan. Sekiranya ada
ikatan setipis rambut sekalipun antara aku dan sahabatku, maka aku tidak akan

9
membiarkannya lepas. Saat mereka menariknya dengan keras, aku akan
melonggarkannya, dan ketika mereka mengendorkannya, aku akan menariknya
dengan keras. (Muawiyah ibn Abi Sufyan).
Pernyataan di atas cukup mewakili sosok Muawiyah ibn Abi Sufyan. Ia
cerdas dan cerdik. Ia seorang politisi ulung dan seorang negarawan yang mampu
membangun peradaban besar melalui politik kekuasaannya. Ia pendiri sebuah
dinasti besar yang mampu bertahan selama hampir satu abad. Dia lah pendiri
Dinasti Umayyah, seorang pemimpin yang paling berpengaruh pada abad ke 7 H.
Di tangannya, seni berpolitik mengalami kemajuan luar biasa melebihi
tokoh-tokoh muslim lainnya. Baginya, politik adalah senjata maha dahsyat untuk
mencapai ambisi kekuasaaanya. Ia wujudkan seni berpolitiknya dengan
membangun Dinasti Umayyah.
Gaya dan corak kepemimpinan pemerintahan Bani Umayyah (41 H/
661 M) berbeda dengan kepemimpinan masa-masa sebelumnya yaitu masa
pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin
dipilih secara demokratis dengan kepemimpinan kharismatik yang demokratis
sementara para penguasa Bani Umayyah diangkat secara langsung oleh penguasa
sebelumnya dengan menggunakan sistem Monarchi Heredities, yaitu
kepemimpinan yang di wariskan secara turun temurun. Kekhalifahan Muawiyyah
diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan
atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun temurun dimulai ketika
Muawiyyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap
anaknya, Yazid. Muawiyah bermaksud mencontoh Monarchi di Persia dan
Binzantium. Dia memang tetap menggunakan istilah Khalifah, namun dia
memberikan interprestasi baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan
tersebut. Dia menyebutnya “Khalifah Allah” dalam pengertian “Penguasa” yang
diangkat oleh Allah.
Karena proses berdirinya pemerintahan Bani Umayyah tidak dilakukan
secara demokratis dimana pemimpinnya dipilih melalui musyawarah, melainkan
dengan cara-cara yang tidak baik dengan mengambil alih kekuasaan dari tangan
Hasan bin Ali (41 H/661M) akibatnya, terjadi beberapa perubahan prinsip dan

10
berkembangnya corak baru yang sangat mempengaruhi kekuasaan dan
perkembangan umat Islam. Diantaranya pemilihan khalifah dilakukan berdasarkan
menunjuk langsung oleh khalifah sebelumnya dengan cara mengangkat seorang
putra mahkota yang menjadi khalifah berikutnya.
Orang yang pertama kali menunjuk putra mahkota adalah Muawiyah bin
Abi Sufyan dengan mengangkat Yazib bin Muawiyah. Sejak Muawiyah bin Abi
Sufyan berkuasa (661 M-681 M), para penguasa Bani Umayyah menunjuk
penggantinya yang akan menggantikan kedudukannya kelak, hal ini terjadi karena
Muawiyah sendiri yang mempelopori proses dan sistem kerajaan dengan
menunjuk Yazid sebagai putra mahkota yang akan menggantikan kedudukannya
kelak. Penunjukan ini dilakukan Muawiyah atas saran Al-Mukhiran bin Sukan,
agar terhindar dari pergolakan dan konflik politik intern umat Islam seperti yang
pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya.
Sejak saat itu, sistem pemerintahan Dinasti Bani Umayyah telah
meninggalkan tradisi musyawarah untuk memilih pemimpin umat Islam. Untuk
mendapatkan pengesahan, para penguasa Dinasti Bani Umayyah kemudian
memerintahkan para pemuka agama untuk melakukan sumpah setia (bai’at)
dihadapan sang khalifah. Padahal, sistem pengangkatan para penguasa seperti ini
bertentangan dengan prinsip dasar demokrasi dan ajaran permusyawaratan Islam
yang dilakukan Khulafaur Rasyidin.
Selain terjadi perubahan dalm sistem pemerintahan, pada masa
pemerintahan Bani Umayyah juga terdapat perubahan lain misalnya masalah
Baitulmal. Pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin, Baitulmal berfungsi
sebagai harta kekayaan rakyat, dimana setiap warga Negara memiliki hak yang
sama terhadap harta tersebut. Akan tetapi sejak pemerintahan Muawiyah bin Abi
Sufyan, Baitulmal beralih kedudukannya menjadi harta kekayaan keluarga raja
seluruh penguasa Dinasti Bani Umayyah kecuali Umar bin Abdul Aziz (717-729
M).
Berikut nama-nama ke 14 khalifah Dinasti Bani Umayyah yang berkuasa:
1. Muawiyah bin Abi Sufyan (41-60 H/661-680 M)
2. Yazid bin Muawiyah (60-64 M/680-683 M)

11
3. Muawiyah bin Yazid (64-64 H/683-683 M)
4. Marwan bin Hakam (64-65 H/683-685 M)
5. Abdul Malik bin Marwan (65-86 H/685-705 M)
6. Walid bin Abdul Malik (86-96 H/705-715 M)
7. Sulaiman bin Abdul Malik (96-99 H/715-717 M)
8. Umar bin Abdul Aziz (99-101 H/717-720 M)
9. Yazid bin Abdul Malik (101-105 H/720-724)
10. Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H/724-743 M)
11. Walid bin Yazid (125-126 H/743-744 M)
12. Yazid bin Walid (126-127 H/744-745 M)
13. Ibrahim bin Walid (127-127 H/745-745 M)
14. Marwan bin Muhammad (127-132 H/745-750 M)

C. Masa Pemerintahan Umar ibn Abdul Aziz


Umar ibn Abdul Aziz adalah putra saudara Sulayman, yaitu Abdul Aziz.
Umar pantas diberi gelar khalifah kelima khulafaur rasyidin karena kesholihan
dan kemulyaannya. Sebelum ia diangkat menjadi khalifah Dinasti Umayyah
kedelapan, ia seorang yang kaya raya dan hidup dalam kemegahan. Ia suka
berpoya-poya dan menghambur-hamburkan uang. Namun setelah diangkat
menjadi khalifah, ia berubah total menjadi seorang raja yang sangat sederhana,
adil dan jujur. Karena kesholihannya, ia dianggap sebagai seorang sufistik pada
jamannya. Ia juga disebut sebagai pembaharu islam abad kedua hijriyah.
Walaupun masa pemerintahnnya relatif singkat, yaitu sekitar tiga
tahunan, namun banyak perubahan yang ia lakukan. Diantaranya, ia melakukan
komunikasi politik dengan semua kalangan, termasuk kaum Syiah sekalipun. Ini
tidak dilakukan oleh saudara-saudaranya sesama raja dinasti Umayyah. Ia banyak
menghidupkan tanah-tanah yang tidak produktif, membangun sumur-sumur dan
masjid-masjid. Yang tidak kalah pentingnya, ia juga melakukan reformasi sistem
zakat dan sodaqoh, sehingga pada jamannya tidak ada lagi kemiskinan.

12
Pada masa pemerintahnnya, tidak ada perluasan daerah yang berarti.
Menurutnya, ekspansi islam tidak harus dilakukan dengan cara imprealisme
militer, tapi dengan cara dakwah. Dia juga memberi kebebasan kepada penganut
agama lain sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya. Pajak
diperingan,kedudukan mawali disejajarkan dengan muslim Arab.
Umar mangkat dari jabatannya pada tahun 101 H/719 M dengan
meninggalkan karakter pemerintahan yang adil dan bijaksana terhadap semua
golongan dan agama. Penerusnya nanti justru berbanding terbalik dengan karakter
kepemimpinannya.

D. Ekspansi Wilayah Dinasti Bani Umayyah


Ekspansi yang terhenti pada masa khalifah Usman dan Ali, dilanjutkan
kembali oleh dinasti ini. Di zaman Muawiyah,Tuniasia dapat ditaklukan.
Disebelah timur, Muawiyah dapat menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai
oxus dan Afghanistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan serangan-
serangan ke Ibukota Binzantium, Konstantinopel.ekspansi ke timur yang
dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abd al-Malik. Ia
mengirim tentara menyebrangi sungai Oxus dan dapat berhasil menundukkan
Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Markhand. Tentaranya bahkan sampai
ke India dan dapat menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke
Maltan.
Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan di zaman Walid ibn
Abdul Malik. Masa pemerintahan Walid adalah masa ketentraman, kemakmuran,
dan ketertiban. Umat Islam mersa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya
yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari
Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M.
setelah al-Jajair dan Marokko dapat ditaklukan, Tariq bin ziyad, pemimpin
pasukan Islam,menyeberangi selat yang memisahkan antara Marokko dengan
benua Eropa, dan mendapat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama
Gibraltar (Jabal Tariq). Tentara Spanyol dapat ditaklukkan. Dengan demikian
Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Kordova,

13
dengan cepat dikuasai. Menyusul kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan Toledo
yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Kordova. Pada saat
itu, pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat
dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman
penguasa.
Di zaman Umar bin Abdul Aziz, serangan dilakukan ke Prancis melalui
pegunungan Piranee. Serangan ini dipimpin oleh Abdurahman ibn Abdullah al-
Ghafiqi. Ia mulai menyerang Bordeau, Poitiers. Dari sana ia menyerang Tours.
Namun dalam peperangan di luar kota Tours, al-Qhafii terbunuh, dan tentaranya
mundur kembali ke Spanyol. Disamping daerah-daerah tersebut pulau-pulau yang
terdapat di Laut Tengah juga jatuh ke tangan Islam di zaman Bani Umayyah.
Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah baik di Timur maupun
Barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah sangat luas. Daerah-daerah
tersrebut meliputi: Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, jazirah Arabia, Irak,
sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan,
Purkmenia, Uzbek dan Kirgis di Asia Tengah (Nasution, 1985:62).

E. Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Bani Umayyah


Dinasti Umayyah telah mampu membentuk perdaban yang kontemporer
dimasanya, baik dalam tatanan sosial, politik, ekonomi dan teknologi. Berikut
Prestasi bagi peradaban Islam dimasa kekuasaan Bani Umayah didalam
pembangunan berbagai bidang antara lain:
1. Masa kepemimpinan Muawiyah telah mendirikan dinas pos dan tempat-
tempat dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di
sepanjang jalan.
2. Menertibkan angkatan bersenjata.
3. Pencetakan mata uang oleh Abdul Malik, mengubah mata uang Byzantium
dengan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Mencetak
mata uang sendiri tahun 659 M dengan memakai kata dan tulisan Arab.
4. Jabatan khusus bagi seorang Hakim ( Qodli) menjadi profesi sendiri .

14
5. Keberhasilan kholifah Abdul Malik melakukan pembenahan-pembenahan
administrasi pemerintahan Islam dan memberlakukan bahasa Arab sebagai
bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Keberhasilannya diikuti oleh
putranya Al-Walid Ibnu Abdul Malik (705 – 719 M) yang berkemauan keras
dan berkemampuan melaksanakan pembangunan.
6. Membangun panti-panti untuk orang cacat. Dan semua personil yang terlibat
dalam kegiatan humanis di gaji tetap oleh Negara.
7. Membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan
daerah lainnya.
8. Membangun pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan, dan masjid-masjid
yang megah.
9. Hadirnya Ilmu Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Balaghah, bayan, badi’, Isti’arah
dan sebagainya. Kelahiran ilmu tersebut karena adanya kepentingan orang-
orang Luar Arab (Ajam) dalam rangka memahami sumber-sumber Islam (Al-
qur’an dan Al-sunnah).
10. Pengembangan di ilmu-ilmu agama, karena dirasa penting bagi penduduk luar
jazirah Arab yang sangat memerlukan berbagai penjelasan secara sistematis
ataupun secara kronologis tentang Islam. Diantara ilmu-ilmu yang
berkembang yakni tafsir, hadis, fiqih, Ushul fiqih, Ilmu Kalam dan
Sirah/Tarikh.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dinasti Bani Umayah berasal dari nama Umayah bin Abdi Syams bin
Abdul Manaf, seorang pemimpin suku Quraisy di zaman Jahiliyah. Khalifah
pertama yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan. Beliau masuk Islam ketika fahtul
Makkah. Dia menjadi khalifah secara total setelah Hasan bin Abi Bin Abi Thalib
menyerahkan khilafahnya. Beliau memindahkan ibukota Bani Umayah dari
Madinah ke Syiria.
Masa Pemerintahnya, Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan
memberlakukan sistem Monarki yaitu sistem kekuasaan turun menurun. Sistem
ini mengadopsi dari sistem monarki di Persia dan Bizantium. Sistem ini
menghapus sistem Demokrasi. Muawiyah mengangkat anaknya, Yazid bin
Muawiyah sebagai putra mahkotanya.
B. Saran
Sering kali kita lupa bahwa “meskipun” berkisah mengenai masa lampau,
tapi sejarah begitu penting bagi perjalanan suatu bangsa. Melalui sejarah, kita
belajar untuk menghargai perjuangan para pendahulu kita, belajar menghargai
tetes darah dan keringat mereka untuk apa yang kita nikmati saat ini. Lewat
sejarah kita juga belajar dari pengalaman masa lalu, dan menjadikannya sebagai
modal berharga untuk melangkah di masa depan.
Islam merupakan agama yang besar dengan perjalanan sejarah yang
panjang. maka dari itu, marilah kita menggali lebih jauh lagi ilmu-ilmu yang
berkaitan dengan sejarah Islamiah. Demi menguatkan keteguhan dan rasa
kebanggaan hati kita terhadap agama Islam.

16
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Amzah, 2009.


Harun, Maidir, Firdaus, Sejarah Peradaban Islam jilid II, Padang : IAIN-IB
Press, 2001
Wahid, N. Abbas dan Suratno, Khazanah Sejarah Kebudaan Islam, Solo :
PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II), Jakarta :
PT. Raja Grafindo Persada, 1993.

17