Anda di halaman 1dari 26

BAHAN TEKNIK

Pendahuluan
Secara umum bahan teknik dalam bidang rekayasa dapat dikelompokkan menjadi dua
yaitu bahan Logam dan non Logam. Logam dikelompokkan lagi menjadi logam Ferro ( Baja
Karbon, Besi Tuang dan Baja Paduan) dan logam non Ferro ( Aluminium, Tembaga, Nikel,
Chrome, Zinc dll) sedangkan bahan non Logam terdiri dari Polymeer ( plastic, karet ), keramik
dan komposit.
Logam Ferro dan paduan logam berbasis Ferro (Fe) atau besi adalah salah satu jenis
bahan yang paling banyak dan luas aplikasinya di bidang rekayasa yaitu mencapai lebih dari
60%. Besi atau Fe terdapat di alam sebagai bijih besi. Kandungan utama bijih besi adalah oksida
besi yang telah bercampur dengan pengotor atau unsusr lain dan air. Logam Ferro sebagian
besar diperoleh melalui serangkaian proses pemurnian dan reduksi bijih besi. Melalui proses ini
diperoleh lelehan besi mentah atau pig iron yang masih mengandung pengotor,terutama karbon,
silkon, mangan, sulfur, dan fosfor. Namun, logam Ferro hampir tidak pernah digunakan untuk
aplikasi rekayasa dalam keadaan murni karena keterbatasan sifat-sifat mekaniknya serta
mahalnya proses untuk memurnikan logam Ferro. Paduan berbasis besi (ferrous alloy) yang
paling banyak digunakan untuk aplikasi rekayasa adalah paduan besi-karbon dengan kandungan
karbon tertentu beserta unsur-unsur paduan lainya. Keberadaan unsur karbon di dalam larutan
padat Fe memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan sifat-sifat mekanik logam
besi.
Baja karbon (carbon steel) adalah salah satu jenis logam paduan besi karbon terpenting
dengan prosentase berat karbon hingga 2,11%. Baja karbon diklasifikasikan menjadi baja karbon
(1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi berdasarkan kadar karbon-nya. Jika penambahan elemen-
elemen lain selain karbon untuk tujuan-tujuan tertentu cukup signifikan, maka baja
diklasifikasikan sebagai baja paduan (alloy steel) atau baja paduan rendah (low alloy steel).
Jenis baja lainnya yang cukup penting adalah baja perkakas (tool steel) dan baja tahan karat
(stainless steel). Selain baja, paduan berbasis besi karbon lain yang juga penting adalah besi
tuang atau besi cor (cast iron), yaitu besi dengan kadar karbon lebih dari 2,11% hingga 4-6%.
Besi tuang diklasifikasikan lebih lanjut berdasarkan struktur mikro dan sifat-sifatnya ke dalam
besi tuang kelabu (grey cast iron), besi tuang ulet atau nodular (ductile or nodular cast iron),
besi tuang putih (white cast iron), besi tuang mampu tempa (malleable cast iron).

Proses Pembuatan Baja


Proses pembuatan baja dimulai dengan proses ekstraksi bijih besi. Proses reduksi
umumnya terjadi di dalam tanur tiup (blast furnace) di mana di dalamnya bijih besi (iron ore)
dan batu gamping (limestone) yang telah mengalami pemanggangan (sintering) diproses
bersama-sama dengan kokas (cokes) yang berasal dari batubara. Serangkaian reaksi terjadi di
dalam tanur pada waktu dan lokasi yang berbeda-beda, tetapi reaksi penting yang mereduksi
bijih besi menjadi logam besi adalah sebagai berikut:
Fe2O3 + 3CO --> 2Fe + 3CO2

Gambar 1. Dapur Tinggi

Hasil utama dari proses ini


adalah lelehan besi mentah (molten
pig iron) dengan kandungan karbon
yang cukup tinggi (4%C) beserta
pengotor- pengotor lain seperti
silkon, mangan, sulfur, dan fosfor .
Besi mentah ini belum dapat
dimanfaatkan secara langsung
untuk aplikasi rekayasa karena
sifat-sifat (mekanis)-nya belum
sesuai dengan yang dibutuhkan
karena pengotor tersebut. Besi
mentah berupa lelehan atau coran
selanjutnya dikirim menuju
converter yang akan
mengkonversinya menjadi baja.
Gambar 2. Skema Proses Dapur Tinggi

Proses pembuatan baja umumnya berlangsung di tungku oksigen-basa


(basic-oxygen furnace-BOF). Di dalam tungku ini besi mentah cair
dicampur dengan hingga 30%
besi tua (scrap) yang terlebih
dahulu dimasukkan ke dalam
tanur. Selanjutnya, oksigen
murni ditiupkan dari bagian
atas ke dalam leburan,
bereaksi dengan Fe
membentuk oksida besi FeO.
Beberapa saat sebelum reaksi
dengan oksigen mulai
berlangsung, fluks
pembentuk slag dimasukkan
dalam jumlah tertentu.
Oksida besi atau FeO selanjutnya
akan bereaksi dengan karbon di dalam besi mentah sehingga diperoleh Fe
dengan kadar karbon lebih rendah dan gas karbon monoksida. Reaksi
penting yang terjadi di dalam tungku adalah sebagai berikut:

Selama proses berlangsung


(sekitar 22 menit), terjadi
Gambar 3. Dapur Konverter penurunan kadar karbon dan
unsur-unsur pengotor lain seperti
P, S, Mn, dalam jumlah yang
FeO + C --> Fe + CO
signifikan.

Gambar 4. Dapur Listrik

Selanjutnya untuk memperoleh


baja paduan dapat dilakukan dalam
dapur listrik baik electric arc
furnace maupun induction
furnace. Untuk mendapatkan
bentuk baja yang siap diproses
digunakan continuous casting. Hasilnya adalah bloom, billet maupun slab.
Selanjutnya bahan setengah jadi itu diproses dalam mesin roll untuk
diproses menjadi profil, pelat atau batangan baja.

Gambar 5. Dapur Induksi


Gambar 6. Proses-proses Pembentukan Baja

Diagram Fe-Fe3C
Diagram Fasa adalah diagram yang menunjukkan hubungan antara
komposisi paduan, temperature serta fasa-fasa yang terjadi ketika
memadu dua atau lebih logam dengan cara mencairkan kemudian
membekuan paduan tersebut secara perlahan-lahan. Kesetimbangan fasa
Fe-Fe3C adalah alat penting untuk memahami struktur mikro dan sifat-
sifat baja karbon, suatu jenis logam paduan besi (Fe) dan karbon (C).
Karbon larut di dalam besi dalam bentuk larutan padat ( solid solution)
hingga 0,05% berat pada temperatur ruang. Baja dengan atom karbon
terlarut hingga jumlah tersebut memiliki fasa alpha ferrite pada
temperatur ruang. Pada kadar karbon lebih dari 0,05% akan terbentuk
endapan karbon dalam bentuk hard intermetallic stoichiometric
compound (Fe3C) yang dikenal sebagai cementite atau ferro-carbide.
Selain larutan padat α-ferrite yang dalam kesetimbangan dapat ditemukan
pada temperatur ruang terdapat fase-fase penting lainnya, yaitu α-ferrite
dan α-austenite.
Logam Fe bersifat polymorphism yaitu memiliki struktur kristal berbeda
pada temperatur berbeda. Pada Fe murni, misalnya, α-ferrite akan berubah
menjadi α-austenite saat dipanaskan melewati temperature 910oC. Pada
temperatur yang lebih tinggi, mendekati 1400 oC α-austenite akan kembali
berubah menjadi α-ferrite. (α dan α) Ferrite dalam hal ini memiliki struktur
kristal BCC sedangkan α-Austenite memiliki struktur kristal FCC.
Gambar 7. Diagram Kesetimbangan Fasa Fe-Fe3C
Ferrite
Ferrite adalah fase larutan padat yang memiliki struktur BCC ( body
centered cubic). Ferrite dalam keadaan setimbang dapat ditemukan pada
temperature ruang, yaitu α-ferrite atau pada temperatur tinggi, yaitu α-
ferrite. Secara umum fase ini bersifat lunak ( soft), ulet (ductile), dan
magnetic (magnetic) hingga temperatur tertentu, yaitu Tcurie. Kelarutan
karbon di dalam fase ini relatif lebih kecil dibandingkan dengan kelarutan
karbon di dalam fase larutan padat lain di dalam baja, yaitu fase
Austenite. Pada temperatur ruang, kelarutan karbon di dalam α-ferrite
hanyalah sekitar 0,05%.
Berbagai jenis baja dan besi tuang dibuat dengan mengeksploitasi sifat-
sifat ferrite. Baja lembaran berkadar karbon rendah dengan fase tunggal
ferrite misalnya, banyak diproduksi untuk proses pembentukan logam
lembaran. Dewasa ini bahkan telah dikembangkan baja berkadar karbon
ultra rendah untuk karakteristik mampu bentuk yang lebih baik. Kenaikan
kadar karbon secara umum akan meningkatkan sifat-sifat mekanik ferrite
sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Untuk paduan baja dengan fase
tunggal ferrite, factor lain yang berpengaruh signifikan terhadap sifat-sifat
mekanik adalah ukuran butir.

Austenite
Fase Austenite memiliki struktur atom FCC (Face Centered Cubic).
Dalam keadaan setimbang fase Austenite ditemukan pada temperatur
tinggi. Fase ini bersifat non magnetik dan ulet pada temperatur tinggi.
Kelarutan atom karbon di dalam larutan padat Austenite lebih besar jika
dibandingkan dengan kelarutan atom karbon pada fase Ferrite. Secara
geometri, dapat dihitung perbandingan besarnya ruang intertisi di dalam
fase Austenite (atau kristal FCC) dan fase Ferrite (atau kristal BCC).
Perbedaan ini dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena transformasi
fase pada saat pendinginan Austenite yang berlangsung secara cepat.
Selain pada temperatur tinggi, Austenite pada sistem Ferrous dapat pula
direkayasa agar stabil pada temperatur ruang. Elemen-elemen seperti
Mangan dan Nickel misalnya dapat menurunkan laju transformasi dari
gamma-austenite menjadi alpha-ferrite. Dalam jumlah tertentu elemen-
elemen tersebut akan menyebabkan Austenite stabil pada temperatur
ruang. Contoh baja paduan dengan fase Austenite pada temperatur ruang
misalnya adalah Baja Hadfield (12%Mangan) dan Baja Stainless 18-8
(8%Ni).

Cementite
Cementite atau ferro-carbide dalam sistem paduan berbasis besi
adalah stoichiometric inter-metallic compund Fe3C yang keras (hard)
dan getas (brittle). Nama cementite berasal dari kata caementum yang
berarti stone chip atau lempengan batu. Cementite sebenarnya dapat
terurai menjadi bentuk yang lebih stabil yaitu Fe dan C sehingga sering
disebut sebagai fase metastabil. Namun, untuk keperluan praktis, fase ini
dapat dianggap sebagai fase stabil. Cementite sangat penting perannya
di dalam membentuk sifat-sifat mekanik akhir baja. Cementite dapat
berada di dalam sistem besi baja dalam berbagai bentuk seperti: bentuk
bola (sphere), bentuk lembaran (berselang seling dengan alpha-ferrite),
atau partikel-partikel carbide kecil. Bentuk, ukuran, dan distribusi karbon
dapat
direkayasa
melalui
siklus

pemanasan dan pendinginan. Jarak rata-rata antar karbida, dikenal


sebagai lintasan Ferrite rata-rata (Ferrite Mean Path), adalah parameter
penting yang dapat menjelaskan variasi sifat-sifat besi baja. Variasi sifat
luluh baja diketahui berbanding lurus dengan logaritmik lintasan ferrite
rata-rata.
Reaksi-reaksi Invarian dan Konstituen Mikro Penting
Secara keseluruhan ada tiga reaksi penting di dalam diagram
Kesetimbangan Fase Fe-Fe3C, yaitu: Reaksi Peritectic, Reaksi Eutectic,
dan Reaksi Eutectoid sebagaimana terlihat di dalam diagram
kesetimbangan. Untuk sistem Besi Baja, reaksi Eutectoid adalah reaksi
yang sangat penting karena dengan mengontrol Reaksi Eutectoid kita
dapat memperoleh berbagai konstituen mikro atau micro constituent
yang diinginkan untuk mendapatkan sifat-sifat tertentu. Berdasarkan
kadar karbonnya, baja dapat pula diklasifikasikan menjadi (1) baja
eutectoid, (2) baja hypoeutectoid, dan (3) baja hypereutectoid.

Gambar 8. Reaksi-reaksi penting dalam Diagram Fasa


- Lamellar eutectoid product
alternates plates of α + Fe3C
- Two phases grow simultaneously

Lever Rule

Microstructure: pearlite
Gambar 9 Menghitung jumlah fasa dalam Sistem Fe-Fe3C

Sistem penamaan yang telah dikenal luas adalah sistem AISI-SAE


yang menggunakan 4-5 Angka. Dua angka pertama menunjukkan elemen-
elemen paduan utama (Major Alloying Elements) dan Dua atau Tiga
angka sisanya menunjukkan prosentase karbon dalam per seratus persen.
Baja dengan nama AISI-SAE 1080 misalnya, adalah jenis baja karbon
(plain carbon steel) dengan kadar karbon 0.8%. Contoh dari baja jenis ini
adalah baja kawat piano. Kawat piano memiliki struktur pearlite
seluruhnya dan kekuatannya yang tinggi terutama diperoleh dari proses
pengerjaan dingin pada proses produksinya.

Baja Karbon
Baja karbon adalah paduan besi baja dengan elemen utama Fe dan
C. Baja karbon memiliki kadar C hingga 1.2% dengan Mn 0.30%-0.95%.
Baja dengan kadar karbon sangat rendah memiliki kekuatan yang relatif
rendah tetapi memiliki keuletan yang relatif tinggi. Baja jenis ini umumnya
digunakan untuk proses pembentukan logam lembaran. Dengan
meningkatnya kadar karbon maka baja karbon menjadi semakin kuat
tetapi berkurang keuletannya. Beberapa jenis baja karbon, klasifikasi dan
aplikasinya berdasarkan AISI-SAE
dapat dilihat pada Tabel 1-1.

Umumnya baja karbon (Plain Carbon Steel) diklasifikasikan menjadi


(1) Baja karbon rendah (Low Carbon Steel), (2) Baja karbon menengah
(Medium Carbon Steel), dan (3) Baja Karbon Tinggi (High Carbon Steel)
berdasarkan prosentase karbonnya. Baja AISI-SAE 1020-1040, dengan
kadar karbon 0,2%-0,4%, diklasifikasikan sebagai baja karbon menengah.
Baja jenis ini digunakan secara luas sebagai bahan poros (shaft) dan roda
gigi (gear). Baja dengan kadar karbon di atas 0,60% umumnya
dikategorikan sebagai baja karbon tinggi. Aplikasi dari baja karbon tinggi
misalnya untuk pembuatan cetakan-cetakan logam (dies, punch, block),
kawat-kawat baja (kawat pegas, kawat musik, kawat kekuatan tinggi), dan
alat-alat potong (cutter, shear blade).
Baja karbon rendah atau sangat rendah, seperti telah dijelaskan
sebelumnya, banyak digunakan untuk proses pembentukan logam
lembaran, misalnya untuk badan dan rangka kendaraan serta komponen-
komponen otomotif lainnya. Baja jenis ini dibuat dan diaplikasikan dengan
mengeksploitasi sifat-sifat ferrite. Ferrite adalah salah satu fasa penting
di dalam baja yang bersifat lunak dan ulet. Baja karbon rendah umumnya
memiliki kadar karbon di bawah komposisi eutectoid dan memiliki
struktur mikro hampir seluruhnya ferrite. Pada lembaran baja kadar
karbon sangat rendah atau ultra rendah, jumlah atom karbon-nya bahkan
masih berada dalam batas kelarutannya pada larutan padat sehingga
struktur mikronya adalah ferrite seluruhnya (Gambar 3-5). Hingga batas
kelarutannya di dalam larutan ferrite, penambahan karbon
padat
berpengaruh terhadap sifat-sifat mekanik lembaran (lihat Gambar 10).

Gambar 10. Grafik hubungan prosentase karbon dan kekuatan baja .

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa sifat cementite atau carbide


yang keras dan getas berperan penting di dalam meningkatkan sifat-sifat
mekanik baja. Salah satu parameter penting yang menunjukkan hal
tersebut, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya adalah a mean
ferrite path. A mean ferrite path menunjukkan jarak antar cementite,
baik pada pearlite maupun sphreodite. Jarak antar carbide di dalam
pearlite secara khusus dikenal sebagai interlamellar spacing atau spasi
antar lamel atau lembaran.
Selain kadar karbon, sifat-sifat mekanik baja karbon rendah dengan
fase tunggal ferrite (ferritic low carbon steel) ditentukan pula oleh
dimensi atau ukuran butir-butir ferrite. Secara umum diketahui bahwa
baja dengan ukuran butir lebih kecil akan memiliki kekuatan yang lebih
tinggi pada suhu kamar. Hubungan tersebut secara kuantitatif dikenal
sebagai Persamaan Hall-Petch.

Persamaan Hall-Petch ini sangat penting dalam menjelaskan


hubungan antara struktur mikro dan sifat-sifat baja. Hubungan ini
dimanfaatkan di dalam pemrosesan baja, yaitu dengan mengatur atau
mengendalikan ukuran butir untuk meningkatkan kekuatan baja.
Penguatan baja dengan cara ini dilakukan melalui proses
thermomekanika (thermomechanical process), proses perlakuan panas
(heat treatment), dan pemberian paduan mikro (micro alloying).

Gambar 11. Pengaruh Ukuran Butir terhadap Tegangan Luluh

Untuk aplikasi proses pembentukan logam lembaran, sifat-sifat


ferrite yang ulet sangat penting. Perlu diketahui bahwa keuletan adalah
salah satu sifat intrinsik yang sangat berpengaruh. Namun, di samping %
elongasi maksimum yang menggambarkan keuletan baja karbon, terdapat
parameter penting lain yang lebih menggambarkan karakteristik mampu
bentuk logam lembaran yaitu nilai n (koefisien pengerasan regangan) dan
nilai r (rasio regangan plastis). Nilai n secara umum menggambarkan
kemampuan lembaran baja untuk mendistribusikan regangan secara
merata. Pada pengujian tarik dapat dilihat dari besarnya regangan
uniform yang mampu dicapai oleh logam. Nilai r secara umum
menggambarkan ketahanan logam lembaran terhadap penipisan. Dalam
hal ini, terhadap hubungan yang cukup kuat antara nilai r dan LDR atau
batas rasio penarikan logam lembaran. Nilai r terutama berhubungan
dengan tekstur kristalografi pada baja, yaitu adanya orientasi kristal yang
lebih disukai (preferred orientation). Di samping itu, dilaporkan pula
terdapat hubungan antara Lankford Value atau nilai r dengan ukuran
besar butir.

Proses Perlakuan Panas Baja Karbon


Telah dijelaskan sebelumnya bahwa reaksi eutectoid sangat penting
di dalam mengendalikan struktur mikro baja. Dengan mengendalikan
reaksi eutectoid, dapat diperoleh 3 konstituen mikro penting yaitu: (1)
pearlite, (2) bainite, dan (3) (tempered) martensite.

Gambar 14. Tiga Konstituen Mikro Penting dari Baja Karbon.

Pearlite adalah suatu campuran lamellar dari ferrite dan


cementite. Konstituen ini terbentuk dari dekomposisi Austenite melalui
reaksi eutectoid pada keadaan setimbang, di mana lapisan ferrite dan
cementite terbentuk secara bergantian untuk menjaga keadaan
kesetimbangan komposisi eutectoid. Pearlite memiliki struktur yang lebih
keras daripada ferrite, yang terutama disebabkan oleh adanya fase
cementite atau carbide dalam bentuk lamel-lamel.
Gambar 12. Struktur Mikro dari Pearlite.

Gambar di atas menunjukkan struktur mikro pearlite dalam


perbesaran lebih tinggi. Daerah yang lebih terang pada gambar adalah
ferrite sedangkan daerah yang lebih gelap pada gambar adalah carbide
atau cementite. Salah satu contoh baja karbon yang memiliki struktur ini
adalah kawat piano atau baja AISI 1080 menurut standar SAE-AISI. Baja
kawat piano dengan kadar karbon 0,8% dengan struktur pearlite
seluruhnya memiliki kekuatan tarik (Tensile Strength) sekitar 4,2 GPa.
Bandingkan dengan kekuatan tarik Baja Karbon Rendah (0,05%C) dengan
struktur mikro Ferrite seluruhnya yang kekuatan tariknya hanya 0,2 GPa.
Konstituen mikro lain yang dapat diperoleh dengan mengendalikan reaksi
eutectoid adalah Bainite. Bainite adalah suatu campuran non-lamellar
dari ferrite dan cementite yang terbentuk pada dekomposisi Austenite
melalui reaksi eutectoid. Berbeda dengan pearlite yang terbentuk pada
laju transformasi atau pendinginan sedang strukturnya adalah acicular,
terdiri atas ferrite lewat jenuh dengan partikel-partikel carbide
terdispersi secara diskontinu. Dispersi dari bainite tergantung pada
temperatur pembentukannya.
Martensite adalah mikro konstituen yang terbentuk tanpa melalui proses
difusi. Konstituen ini terbentuk saat Austenite didinginkan secara sangat
cepat, misalnya melalui proses quenching pada medium air. Transformasi
berlangsung pada kecepatan sangat cepat, mendekati orde kecepatan
suara, sehingga tidak memungkinkan terjadi proses difusi karbon.
Transformasi martensite diklasifikasikan sebagai proses transformasi
tanpa difusi yang tidak tergantung waktu (diffusionless time-
independent transformation). Martensite
yang terbentuk berbentuk seperti jarum yang bersifat sangat keras (hard)
dan getas (brittle). Fase martensite adalah fase metastabil yang akan
membentuk fase yang lebih stabil apabila diberikan perlakuan panas.
Martensite yang keras dan getas diduga terjadi karena proses
transformasi secara mekanik (geser) akibat adanya atom karbon yang
terperangkap pada struktur kristal pada saat terjadi transformasi
polimorf dari FCC ke BCC. Hal ini dapat dipahami dengan membandingkan
batas kelarutan atom karbon di dalam FCC dan BCC serta ruang intertisi
maksimum pada kedua struktur kristal tersebut. Akibatnya terjadi distorsi
kisi kristal BCC menjadi BCT atau body centered tetragonal. Distorsi kisi
akibat transformasi pada proses pendinginan secara cepat tersebut
berbanding lurus dengan jumlah atom karbon terlarut sebagaimana

diilustrasikan pada Gambar 3-13.

Gambar 3-12 Atom Karbon di dalam Austenite, Ferrite, dan Martensite

Distorsi Kisi pada Transformasi Martensite Meskipun memiliki kekerasan


yang sangat tinggi, Martensite tidak memiliki arti penting di dalam
aplikasi rekayasa. Untuk kebanyakan aplikasi rekayasa martensite perlu
di-temper atau dipanaskan kembali pada temperature tertentu untuk
mengurangi kegetasan (brittleness) dan meningkatkan ketangguhannya
(toughness) ke tingkat yang dapat diterima tanpa terlalu banyak
menurunkan kekerasannya.
Baja tahan karat (stainless steel)
Baja tahan karat atau stainless steel telah sering kita dengar atau
pergunakan sehari-hari. Sifat stainless yang tahan karat pun telah banyak
yang mengetahuinya. Tetapi mungkin tidak semua tahu bahwa stainless
steel adalah hasil dari ’kesalahan’ yang membawa ’berkah’. Penulis
mendengar ’cerita’ ini dari salah seorang Professor di Sheffield. Sheffield
adalah tempat pertama kali ditemukannya logam Stainless. Saat itu Harry
(1913), salah seorang peneliti di Sheffield, sedang berkutat dengan
penelitiannya untuk mengatasi masalah erosi pada senapan laras
panjang. Kesalahannya ’mencampur’ dan ’mengolah’ paduan ternyata
kemudian membawa ’berkah’. Suatu hari ia merasa heran karena di bak
sampahnya terdapat logam yang tetap bersih dan berkilap, sementara
logam-logam lainnya telah mulai berkarat. Kemudian diketahuinya bahwa
logam itu adalah salah satu paduan yang pernah ’dibuangnya’ saat
melakukan penelitian. Kelak diketahui bahwa besi dengan kadar
Chromium 13% akan membentuk lapisan film oksida krom yang bersifat
protektif yang akan melindungi logam dari korosi.
Paduan Fe-Cr adalah jenis baja tahan karat paling sederhana yang
berstruktur dasar ferrite. Hal ini dapat kita pahami dengan mempelajari
diagram kesetimbangan fase Fe-Cr yang diperlihatkan pada Gambar 15.
Figure 15. Fe-Cr phase diagram shows which phases are to be expected at equilibrium for different
combinations of chromium content and temperature. The Fe-Cr phase diagram was calculated withThermo-Calc,
coupled with PBIN thermodynamic database. The melting point of iron and chromium at the pressure of 101325 Pa
is 1538 °C and 1907 °C, respectively.

Chromium adalah unsur penstabil ferrrite. Chromium dengan


struktur BCC (sama dengan Ferrite) akan memperluas daerah fase alpha
dan mempersempit daerah fase gamma. Akibatnya terbentuk loop
Austenite yang membatasi daerah FCC dan BCC. Dari Gambar 3-15 dapat
dilihat bahwa pada paduan Fe-Cr dengan kandungan Cr di atas 12% tidak
terjadi transformasi fase Austenite ke Ferrite. Dari temperatur ruang
hingga ke titik leburnya ferrite. Akibatnya, tidak
Fasenya adalah
dimungkinkan pula terjadi transformasi martensitik. Sementara ini dapat
ditarik kesimpulan bahwa besi (tanpa karbon) stainless dengan kadar di
atas Cr 12% selalu berstruktur ferrite. Ferritic Stainless Steel dapat
memiliki kadar Cr hingga 30%.
Jika pada kadar karbon rendah (Gambar 3-17) Ferrrite stabil di
semua rentang temperatur maka pada kadar karbon yang lebih tinggi
dapat ditemukan daerah fase Austenite. Penambahan kadar karbon
sebesar 0,6% misalnya, akan memodifikasi diagram fasa sehingga paduan
akan memiliki fase Austenite pada temperatur tinggi. Pada kondisi ini,
baja dapat di-quench untuk menghasilkan Martensite.
Secara umum, semakin tinggi kadar Cr semakin tahan besi terhadap
korosi. Hal ini disebabkan karena terbentuknya lapisan film oksida Chrom
pada permukaan. Di sisi lain kekurangan kadar Chromium akan
menyebabkan berkurangnya jumlah lapisan film oksida protektif. Dalam
hal ini, kadar karbon di dalam stainless perlu dijaga dalam keadaan
rendah. Jika tidak, maka akan terbentuk karbida Chrom sehingga Chrom
tidak dapat ke permukaan membentuk oksida film protektif. Penambahan
Ni sangat penting karena Ni memiliki struktur FCC yang memiliki batas
kelarutan karbon yang lebih besar sehingga mengurangi peluang terjadi
pembentukan karbida Chromium yang akan mengurangi kadar Chromium
dan oleh karenanya jumlah lapisan film oksida protektif pada permukaan.
Gambar 3-16 menunjukkan pengaruh penambahan karbon terhadap luas
daerah Fase Austenite pada Paduan Stainless Fe-Cr. Contoh paduan
Stainless Steel dengan penambahan Ni adalah Stainless Steel 18-8. Telah
dijelaskan pula sebelumnya bahwa Ni yang memiliki struktur FCC adalah
elemen penstabil FCC atau Austenite pada paduan besi. Keberadaan Ni
akan mengurangi kecenderungan besi FCC untuk bertransformasi menjadi
BCC. Pada kadar karbon tertentu (< 0,03%C) fase Austenite bahkan akan
stabil pada temperatur ruang.
Gambar 3-17 menunjukkan
pengaruh Penambahan
Kadar Karbon terhadap
Daerah Fase Austenite pada
Paduan Baja Stainless Fe-Cr-
Ni Sejauh ini telah kita kenal
dua jenis paduan
Stainless Steel yang penting,
yaitu paduan Stainless Steel dengan kandungan Ni rendah dan paduan
Stainless Steel dengan kandungan Ni tinggi. Telah kita kenal pula tiga
jenis paduan Stainless berdasarkan struktur kristalnya, yaitu: logam
Stainless Feritik (Ferritic Stainless Steel), logam Stainless Martensitik
(Martensitic Stainless Steel), dan logam Stainless Steel Austenitik
(Austenitic Stainless Steel). Selain berdasarkan kedua hal di atas,
paduan stainless dapat pula dikelompokkan berdasarkan mekanisme
penguatannya. Termasuk ke dalam golongan ini adalah PH Stainless Steel,
yaitu paduan Stainless Steel yang dikuatkan melalui mekanisme
Precipitation Hardening yang meliputi Solutionizing, Quenching, dan
Aging.
Besi Tuang
Besi tuang adalah paduan berbasis besi dengan kadar karbon tinggi,
yaitu 2%-4%C dengan kadar Si 0,5%-3%. Besi tuang memiliki aplikasi di
bidang rekayasa yang cukup luas terutama karena kemampuannya untuk
langsung dibentuk menjadi bentuk akhir (net shape) atau mendekati
bentuk akhir (near net shape) melalui proses solidifikasi (solidification)
atau pengecoran (casting). Besi tuang mudah untuk dicor karena
beberapa hal. Pertama, besi tuang mudah dilebur dan memiliki fluiditas
yang sangat baik pada keadaan cairnya. Kedua, ketika dituang besi tidak
membentuk lapisan film pada permukaannya. Selain itu, besi tuang tidak
mengalami penyusutan volume (shrinkage) yang terlalu tinggi pada saat
solidifikasi.
Gambar 3-18 Diagram Fase Fe-Fe3C menunjukkan Daerah Besi Tuang
Kemampuan besi tuang untuk dapat dicetak menjadi bentuk yang
diinginkan terutama berhubungan dengan adanya reaksi Eutectic pada
diagram kesetimbangan Fe-Fe3C pada rentang kandungan karbon
tersebut. Pada reaksi tersebut titik lebur paduan besi turun hingga sekitar
1130oC dengan rentang temperatur liquidus dan solidus yang sangat kecil,
atau membeku seperti logam murni dengan satu titik beku.
Di samping itu, reaksi eutectic penting pula di dalam merekayasa
dan mengendalikan sifat-sifat besi tuang yang sangat tergantung pada
karakteristik konstituen-konstituennya. Dekomposisi Autenite, seperti
halnya pada baja, dapat dikendalikan sehingga dihasilkan matriks Ferrite,
Pearlite, Bainite, atau Martensite. Solidifikasi dan dekomposisi Austenite
dapat diatur agar menghasilkan grafit (C) atau karbida (Cementite).
Dengan menambahkan modifier dan innoculant bentuk grafit dapat pula
direkayasa menjadi berbentuk bola (sphereoidal graphite), kompak
(compacted graphite), dan serpihan (flake). Selanjutnya, karbida dapat
diberi perlakuan panas lebih lanjut untuk mendekomposisi cementite,
menghasilkan struktur yang mampu ditempa.
Besi tuang dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis
berdasarkan karakteristik struktur mikro menjadi besi tuang kelabu (gray
cast iron), besi tuang nodular (nodular cast iron), besi tuang grafit
kompak (compacted graphite cast iron), besi tuang putih (white cast
iron), dan besi tuang mampu tempa (malleable cast iron). Gambar
skematis jenis-jenis besi tuang tersebut diperlihatkan tabel berikut ini.

BESI TUANG STRUKTUR MIKRO CARA PEMBUATAN SIFAT MEKANIK

Biasanya memiliki Grafit berbentuk


kadar karbon 2,5- serpihan-serpihan
4%. Jumlah silikon panjang (flakes)
yang relatif tinggi (1- Memiliki kekuatan
3%) diperlukan dan keuletan
untuk rendah. Memiliki
mempromosikan mampu mesin yang
pembentukan grafit. baik pada
Kecepatan kekerasannya.
pembekuan sangat Memiliki ketahanan
penting untuk aus (wear
mengatur jumlah resistance) yang
grafit yang terbentuk baik, tahan
(biasanya lambat terhadap galling
Besi Tuang hingga sedang). pada pelumasan
Kelabu Laju solidfikasi terbatas serta
(Grey Cast berperan pula di memiliki
Iron) dalam menentukan kemampuan untuk
*diberi matriks yang menahan getaran
nama terbentuk. (damping capacity)
kelabu sangat baik.
(grey)
karena
patahannya
berwarna
kelabu.

Struktur karbida Memiiki struktur


diperoleh dengan karbida (cementite)
menjaga kandungan di dalam matriks
Besi Tuang karbon (2,5-3,0%) pearlite.
Putih (White dan silikon (0,5- Keras, getas, dan
Cast Iron) 1,5%) pada kadar tidak dapat dimesin.
*diberi rendah dan Memiliki
nama putih kecepatan ketahanan
karena pembekuan yang terhadap keausan
patahannya tinggi pada proses (wear resistance)
berwarna solidifikasi. dan abrasi sangat
putih. baik.
Bahan baku yang
digunakan adalah
besi tuang putih.
Perlakuan panas
untuk menghasilkan
besi tuang mampu
tempa terdiri atas:
grafitisasi dan
pendinginan.
Pembentukan grafit
dilakukan pada
temperature di atas
temperature
eutectoid. Karbida
akan berubah Koloni grafit
menjadi gafit berbentuk bulat
Besi Tuang (tempered carbon) tidak teratur.
Mampu dan austenite. Memiliki kekuatan,
Tempa Selanjutnya asutenite keuletan, dan
(Malleable dapat didekomposisi ketangguhan lebih
Cast Iron). menjadi ferrite, baik. Memiliki
pearlite, atau struktur uniform.
martensite.

Kandungan karbon
(3,0-4,0%) dan
silikonnya (1,8-
2,8%) sama dengan
besi tuang.
Kandungan sulfur (S) dan
fosfor (P) sangat rendah
kira-kira 10 kali lebih
rendah dari besi tuangPartikel-partikel
kelabu. Nodule berbentukgrafit berbentuk
bola terbentuk padabola (speroid).
proses solidikasi karenaMemiliki sifat-sifat
kandungan belerangyang hampir sama
Besi Tuang (Sulfur) dan oksigendengan malleable
Ulet atau ditekan ke tingkat yangcast iron. Memiliki
Nodular sangat rendah denganmampu mesin
(Ductile menambahkan sangat baik dan
Iron, Magnesium (Mg) ketahanan aus
Nodular beberapa saat sebelum baik. Memiliki
Cast Iron). penuangan. sifat-sifat yang
* nama mirip dengan baja
mengacu (kekuatan,
pada sifat ketangguhan,
dan bentuk keuletan, mampu
grafit-nya bentuk panas, dan
kemampukerasan).

Tabel 3-2 Jenis-jenis Besi Tuang, Struktur Mikro, Proses Pembuatan, dan Karakteristik Umumnya.