Anda di halaman 1dari 5

SIRKULASI RUANG

Bangunan sayembara arsitektur berjudul Tanean Lanjang ini mengadaptasi bentuk bangunan tradisional
Madura dengan nama yang sama. Salah satu konsep utama yang diadaptasi adalah penghadiran suatu
ruang berupa halaman yang luas di antara bangunan-bangunan. Halaman ini menghasilkan kesan lapang
dan terbuka dan menjadi suatu titik mulai bagi user ketika mengunjungi bangunan. Ke ruangan apapun
user akan berkunjung, mereka akan melewati halaman ini sebagai titik sirkulasi awal. Karena bentuknya
yang lapang dan lebar, halaman tengah Tanean Lanjang dapat dikategorikan menjadi non-directional
space.

Di dalam bangunan sendiri, terdapat beberapa directional space yang akan mengarahkan user menuju
tempat-tempat tertentu. Contohnya tangga yang terletak di ketika massa ruang utama yang
mengarahkan user dari lantai bawah ke lantai atas dan sebaliknya. Selain itu, ada pula teras di depan
ruang pertemuan, homestay, ruang gamelan, ruang baca, galeri, kamar mandi, dan toilet. Teras ini
secara tidak langsung juga akan menjadi ruang pembentuk sirkulasi bagi user.

BENTUK RUANG BANGUNAN

Bangunan ini terdiri dari dua massa yang sejajar dan satu massa di ujung tengah yang didirikan secara
diagonal. Penempatan massa di tengah ini agak berbeda dengan bangunan Tradisional Tanean Lanjang
pada umumnya yang memposisikan massa di tengah secara lurus dan tidak miring. Pemilihan posisi yang
‘tidak biasa’ ini kemungkinan dimaksudkan untuk menghadirkan kesan yang lebih dinamis dan
menghilangkan kesan kaku pada bangunan. Meskipun memiliki posisi perletakan yang berbeda, fungsi
dari massa di tengah bangunan sayembara Tanean Lanjang ini sama dengan bangunan tradisional
Tanean Lanjang pada umumnya yaitu sebagai mushola.

Selain penempatan bangunan di ujung, perbedaan bangunan sayembara ini dengan bangunan asli yang
diadaptasi adalah pada jumlah lantai pada bangunan. Bangunan sayembara Tanean Lanjang terdiri dari
dua lantai, bukan satu lantai seperti bangunan aslinya. Dengan menghadirkan lantai kedua di atas lantai
pertama, pemanfaatan fungsi dapat lebih optimal dan beragam tanpa menghabiskan terlalu banyak
luasan tanah.

(atas) denah bangunan Tradisional Madura Tanean Lanjang.


(atas) denah bangunan sayembara Tanean Lanjang

VISUAL BANGUNAN

Secara visual, bangunan ini mengandung unsur repetisi pada bentuk atapnya yang mengadaptasi
bangunan asli Tanean Lanjang. Pada dua massa yang saling berhadapan, bentuk atap terbagi di bagian
tengah, menghadirkan suatu titik yang tampak seperti ‘berlubang’. Meski begitu, penambahan aksen
‘lubang’ ini menambahkan kesan kontinuitas pada bangunan. Meskipun elemen fasade ketiga bangunan
ini tidak sama, bentuk utama dari ketiganya terbilang mirip dengan atap trompesan dan lantai
panggung. Penggunaan material lokal yang senada juga menghadirkan kesan unity pada tiap-tiap
kenampakan bangunan, meskipun penempatannya berbeda. (ilustrasi di bawah)
ORNAMEN-ORNAMEN PADA BANGUNAN

Untuk memperkuat kesan lokal, bangunan sayembara Tanean Lanjang ini menghadirkan ornamen
berupa kain batik Madura berwarna merah cerah yang membungkus kolom-kolom di serambi lantai
dasar. Warna merah pada kain batik ini merupakan lambang ‘pembawa keberuntungan’ sebagaimana
yang dipercaya oleh masyarakat Tionghoa. Selain itu, dihadirkan pula nuansa Kejawen dengan
penggunaan ukiran Jawa pada bagian pintu, jendela, dan gebyok. Motif ukiran dimodifikasi sedemikian
rupa sehingga dihasilkan bentuk ornamen yang lebih sederhana dan tidak serumit aslinya. (ilustrasi di
bawah)
Motif batik Klasik Madura