Anda di halaman 1dari 1

Indonesia adalah Negara yang kaya akan suku dan budaya.

Kebudayaannya

Sampai pada saat ini, ulos masih digunakan sebagian besar masyarakat Batak Toba, terutama dalam
kegiatan adat dan budaya.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh seorang penulis ???? terhadap partonun di Desa Simaung-maung
Harambir pada bulan Agustus 2015 disimpulkan bahwa jumlah partonun semakin banyak dan motif serta
warna Kain Ulos semakin kaya dan beragam. Namun demikian, walaupun permintaan kain ulos meningkat
partonun tidak mampu memenuhi permintaan pasar karena keterbatasan dana. Pemda Tapanuli Utara
perlu membuat strategi promosi dan pemasaran seperti menyediakan tempat representatif menjual Kain
Ulos dan cindera mata berbahan Kain Ulos. Di tempat ini juga perlu disediakan sejarah kain Ulos,
demonstrasi cara menenun dan belajar menenun Kain Ulos. Pada umumnya partonun dibiayai oleh
pedagang besar Ulos karena mereka belum punya akses sendiri terhadap institusi keuangan.

Kabupaten Tapanuli Utara yang berpenduduk tiga ratus sembilan puluh delapan ribu jiwa,
adalah salah satu, penghasil ulos terbesar di Sumatera Utara. Tarutung, yang dikenal sebagai kota
tenun merupakan ibukota kabupaten. Jaraknya lebih kurang dua ratus delapan puluh tiga kilometer
dari kota Medan.
Lebih dari tiga ribu penduduknya, adalah penenun ulos dan songket Tarutung. Pasalnya,
ulos memang bukan sekadar warisan budaya. Menenun ulos membutuhkan keahlian, yang
diwariskan turun-temurun. Keahlian ini diwariskan pada remaja perempuan, saat menginjak masa
akil baliqnya. Mereka hidup, menggantungkan harapan pada jumlah ulos yang mereka tenun setiap
bulannya.

http://mardimpusihombing.blogspot.co.id/2012/06/industri-kerajinan-tangan.html

http://www.medanbisnisdaily.com/news/online/read/2017/09/12/5265/revitalisasi_seni_tenun_ulos/

http://www.tubasmedia.com/saatnya-pariwisata-berbasis-industri-kreatif/#.WcnDGXROfIV

http://harian.analisadaily.com/rebana/news/makna-ulos-bagi-orang-batak/338963/2017/04/09

https://www.jelasberita.com/2015/01/23/rektor-nommensen-jadikan-budaya-batak-sebagai-aset-
bangsa-dan-dunia/