Anda di halaman 1dari 4

TP4D KEJAKSAAN SIAP DUKUNG PEMBANGUNAN DAERAH

Blitar – Tim Pengawalan, Pengamanan Pemerintahan, Pembangunan dan Daerah


(TP4D) yang dibentuk oleh Kejaksaan mulai melakukan sosialisasi bahkan melakukan
Kesepakatan Bersama ( MoU) dengan sejumlah daerah, termasuk dengan
Pemerintah Kabupaten Blitar. Pembentukan tim ini sebagai jawaban atas
kekhawatiran para pejabat pusat dan daerah akan dipidanakan terkait sejumlah
program atau proyek pembangunan. Karena kekhawatiran tersebut, penyerapan
anggaran pemerintah di pusat dan daerah sulit terserap. Akibatnya pembangunan
tersendat atau bahkan tidak tergarap. Sehingga dengan adanya tim pendampingan
ini, para pejabat daerah disarankan tidak takut lagi melakukan eksekusi dana dari
pemerintah. Hal ini mengemuka dalam acara Kesepakatan antara Pemerintah
Kabupaten Blitar dengan Kejaksaan Negeri Blitar Tentang Pengawalan dan
Kerjasama Pengamanan Pemerintahan dan Pembangunan di Kabupaten Blitar,
Kamis, 12 Mei 2016 di Pendopo Agung Ronggo Hadinegoro.

Kepala Kejaksaan Negeri Blitar, Dede Ruskandar SH, MH dalam sambutannya


mengungkapkan, kerjasama ini merupakan langkah untuk mempercepat proyek
pembangunan yang strategis di Kabupaten Blitar. Tugas kejaksaan mengawal
pembangunan daerah. Orang nomor satu di Kejari Blitar ini berpesan, pejabat SKPD
dipersilahkan untuk mengunjungi kejaksaan negeri, melakukan klarifikasi dan
konsultasi tentang pembangunan yang rencananya akan dilaksanakan karena
kejaksaan adalah mitra pemerintah. Dia juga berharap, kesan kejaksaan tidak lagi
menyeramkan seperti persepsi orang selama ini. Diharapkan pula tidak ada lagi
kesalahan administrasi dalam pengelolaan dana, kendati pekerjaan sudah
dianggap benar namun jika terdapat kesalahan sekecil apapun terhadap
administrasi tetap dianggap salah. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Mendagri,
Tjahjo Kumolo. Mendagri menyarankan pembangunan yang diutamakan adalah
infrastruktur yang dilengkapi dengan dokumen sebagai pertanggungjawaban.
Administrasi harus benar dan tertata.

Dede Ruskandar juga berpesan, apabila ada pegawai kejaksaan yang melakukan hal-
hal diluar aturan, pihaknya siap untuk menindak. Selain itu orang nomor satu di Kejari
ini juga mengingatkan, setelah penandatangan MoU ini bagi SKPD tidak perlu ragu
lagi untuk melaksanakan pembangunan.

1
Menanggapi hal itu, Bupati Blitar, H.Rijanto yang didampingi oleh Wakil Bupati Blitar,
Marhaenis menyampaikan terima kasih kepada Kejaksaan Negeri Blitar yang
berkenan melakukan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Blitar dalam hal
pengawalan, pengamanan pemerintahan dan pembangunan. Ini dalam rangka
mewujudkan kebutuhan masyarakat. Harapannya, dengan kesepakatan ini pula,
tindak pidana korupsi (extraordinary crime) di Kabupaten Blitar tidak lagi terjadi.
Sehingga Kabupaten Blitar lebih maju, sejahtera dan berdaya saing. Orang nomor
satu di Kabupaten Blitar ini juga berpesan kepada para kepala desa untuk bekrja lurus,
jujur. Mengingat mereka sebagai garda terdepan dalam pembangunan .Diharapkan
pula untuk kades tidak segan berkonsultasi dengan kejaksaan, Polres, Kodim
mengingat semua serba terbuka dalam bekrjasama yang notabene bertujuan untuk
menyejahterakan masyarakat. Karena sudah menjadi prinsip, pelayanan harus lebih
berkualitas.

Dalam kesempatan tersebut, dihadapan sekitar 200 tamu undangan yang terdiri dari
Kodim 0808, Polres Blitar, Kepala SKPD, Camat, Anggota APD dan Koordinator
Kepala Desa Kecamatan serta Muspika, Kasi Intel Kejaksaan Negeri Blitar, Hargo
Bawono memaparkan tentang TP4D. Dasar pembentukan dari TP4D ini antara lain
UU RI Tahun 1945, Nawa Cita Presiden RI 2014 – 2019, Keputusan Jaksa Agung
Republik Indnesia Nomor: KEP-152/1/JA/10/2015 tentang Pembentukan Tim
Pengawal dan Pengaman Pemerintahan dan Pembangunan Kejaksaan Republik
Indonesia dan Instruksi Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor: INS-
001/A/JA/10/2015 tentang Pembentukan dan Pelaksanaan Tugas Tim Pengawal dan
Pengaman Pemerintahan dan Pembagunan Pusat dan Daerah Kejaksaan Republik
Indonesia. Ini juga sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun
2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Presiden Joko
Widodo pada tanggal 8 Januari 2016 telah menandatangani Inpres Nomor 1 Tahun
2016 tersebut ditujukan kepada:

Para Menteri Kabinet Kerja, Jaksa Agung Republik Indonesia, Kepala Kepolisian
Negara Republik Indonesia (Kapolri), Sekretaris Kabinet, Kepala Staf Kepresiden,
Para Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian, Para Gubernur, dan Para
Bupati/Wali kota. Melalui Inpres Nomor 1 Tahun 2016 itu, Presiden menginstruksikan
kepada para pejabat tersebut di atas untuk mengambil langkah-langkah yang
diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing untuk melakukan

2
percepatan pelaksanaan Proyek Strategis Nasional dan atau memberikan dukungan
dalam percepatan pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Presiden juga
menginstruksikan kepada para Pejabat tersebut di atas melakukan penyelesaian
masalah dan hambatan dalam pelaksanaan Proyek Strategis Nasional atau untuk
memberikan dukungan dalam percepatan. Jaksa Agung juga diinstruksikan
mendahulukan proses administrasi pemerintahan sebelum menyidik laporan
masyarakat yang terkait penyalahgunaan wewenang dalam proyek strategis nasional.
Laporan yang diterima masyarakat oleh kejaksaan dan kepolisian disampaikan
kepada pimpinan kementerian/lembaga terkait, atau pemerintah daerah untuk
pemeriksaan dan tindak lanjut penyelesaian.

Dijelaskan pula, TP4D memiliki tugas dan fungsi untuk mengawal mengamankan dan
mendukung keberhasilan pemerintahan dan pembangunan melalui upaya-upaya
pencegahan preventif dan persuasif. TP4D juga memberikan penerangan hukum di
lingkungan instansi pemerintah, BUMN, BUMD. Terkait materi tentang perencanaan,
pelelangan, pelaksanaan pekerjaan, pengawasan pelaksanaan pekerjaan, perizinan,
pengadaan barang dan jasa, tertib administrasi dan tertib pengelolaan keuangan
negara. Selain itu TP4D juga akan menjalin koordiansi dengan Inspektorat dalam
memonitor pekerjaan. Hargo Bawono juga menjelaskan, supremasi hukum tidak ada
kesewenangan terhadap pejabat pemerintah daerah. Ditegaskan pula, aksi
pencegahan korupsi perlu dilaksanakan untuk percepatan pembangunan guna
memenuhi kebutuhan dasar dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kejaksaan
RI sebagai lembaga penegak hukum berperan mendukung pembangunan pemerintah
pusat maupun daerah.

Acara yang dimulai sekitar pukul 19.00 WIB tersebut juga diisi dengan sesi tanya
jawab antara Kejaksaan Negeri Blitar dengan tamu undangan. Misalnya, Kepala
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Blitar menyampaikan, ada beberapa
lembaga seperti Kepolisian dan KPK yang mempunyai tupoksi sama dengan
Kejaksaaan. Terkait hal ini penanganan laporan masyarakat seperti apa, Harga
Bawono menjelaskan bahwa jika Satker sudah melaksanakan MoU dengan
kejaksaan sesuai Inpres No.1 Tahun 2016 dan UU Nomor 3 Tahun 2014, maka
harus mendahulukan administrasi sebelum menyidik laporan masyarakat yang
terkait penyalahgunaan wewenang dalam proyek strategis nasional dan
meneruskan laporan tersebut kepada pimpiann atau pemerintah daerah. Selain

3
itu, Kabag Organisasi, Joni Setiawan, S.Sos, M.Si juga menyampaikan beberapa
pertanyaan antara lain, apakah proyek yang tidak strategis mendapat pendampingan,
Hargo Bawono menjelaskan, tetap akan mendapat pendampingan jika Kades
mengajukan ke kejaksaan. Untuk itu disarankan, kades melakukan konsultasi ke
kejaksaan. Sementara itu pertanyaan dari Nur Khamim selaku Ketua Asosiasi
Perangkat Desa (APD) meminta baik kepolisan maupun kejaksaan bisa melakukan
pendampingan, sosialisasi dan penyuluhan kepada para Kades. Terkait hal itu, pihak
kejaksaan bersedia melakukan MoU dengan masing-masing Desa sekaligus
melakukan sosialisasi.(Humas)