Anda di halaman 1dari 10

LATIHAN UJIAN MATERI PERANCANGAN PENJAMINAN MUTU LABORATORIUM

ANGGIH ALFIANTARA

SIKLUS 7 PPG PARAJABATAN 2017

1. Tipologi sumber-sumber bahaya di laboratorium.


Pada dasarnya, sumber-sumber bahaya dalam laboratorium dapat dikelompokkan jadi tiga, yaitu :
1. Bahan-bahan kimia yang berbahaya yang perlu kita kenal jenis, sifat, cara penanganan, dan cara
penyimpanannya. Misalnya : bahan kimia beracun, mudah terbakar, eksplosif, dll.
2. Teknik percobaan yang meliputi pencampuran bahan distilasi, ekstraksi, reaksi kimia,
dansebagainya.
3.Fasilitas laboratorium yaitu gas, listrik, air, dll.
Ketiga sumber tersebut diatas saling berkaitan, tetapi praktis potensi bahaya terdapat pada kekhasan
sifat bahan kimia yang dipakai. Semasing sumber beserta keterkaitannya perlu dipahami lebih detail
agar dapat memperkirakan setiap kemungkinan bahaya yang mungkin berlangsung hingga dapat
mencegah atau menghindarinya. Selain itu, perlu juga dipahami tentang alat pelindung diri dan cara
penanggulangannya jika terjadi kecelakaan.
2. Perlengkapan K3 di laboratorium.
1. Jas Laboratorium
Jas laboratorium (lab coat) berperan melindungi tubuh dari percikan bahan kimia beresiko. Jenisnya
ada dua yakni jas lab sekali gunakan dan jas lab berulang-kali gunakan.
2. Kaca mata Keselamatan
Percikan larutan kimia atau panas dapat membahayakan mata orang yang bekerja di laboratorium.
Oleh karenanya, mereka harus memakai kaca mata spesial yang tahan pada potensi bahaya kimia dan
panas. Kaca mata itu terdiri jadi 2 type, yakni clear safety glasses dan clear safety goggles.
3. Sepatu Keselamatan
Sepatu biasa biasanya sudah cukup untuk dipakai menjadi pelindung. Tetapi, di laboratorium
perusahaan besar, sepatu yang dipakai yaitu sepatu keselamatan yang tahan api dan tekanan tertentu.
4. Pelindung Muka
Seperti namanya, pelindung muka (face shield) dipakai untuk melindungi muka Anda dari panas, api,
dan percikan material panas.
Alat ini biasa dipakai saat ambil alat laboratorium yang dipanaskan di tanur suhu tinggi, melebur
sampel tanah di alat peleburan skala lab, dan ambil perlengkapan yang dipanaskan dengan autoclave.
5. Masker Gas
Bahan kimia atau reaksi kimia yang dibuat bisa keluarkan gas beresiko. Oleh karenanya, masker gas
begitu pas dipakai oleh Anda hingga gas beresiko itu tidak terhirup.
6. Kaos Tangan
Kaos tangan (glove) melindungi tangan Anda dari ceceran larutan kimia yang bisa buat kulit Anda
gatal atau melepuh.
7. Pelindung Telinga
Alat pelindung diri yang paling akhir yaitu pelindung telinga (hear protector). Alat ini lazim dipakai
untuk melindungi teringa dari bising yang di keluarkan perlatatan spesifik.
Umpamanya autoclave, penghalus sample tanah (crusher), sonikator, dan pencuci alat-alat gelas yang
8. Pembasuh Mata
Pembasuh mata (eye wash) berperan membersihkan mata yang terserang cairan kimia.
Langkah kerjanya, bersihkan mata Anda dengan air yang mengalir dari alat itu untuk sebagian saat.
Saat membersihkan, yakinkan tangan Anda bersih hingga tidak mengganggu mata Anda.
9. Fire Blanket
Cairan kimia yang tumpah mungkin menghasilkan api. Untuk memadamkannya, Anda bisa memakai
selimut api (fire blanket).
10. Safety Shower
Apa yang perlu dikerjakan jika tubuh Anda terserang tumpahan cairan kimia dengan jumlah relatif
banyak? Cepatlah menuju safety shower dan guyur tubuh Anda dengan air dari alat itu.
11. Spill Neutralizers
Walau sudah berkerja dengan hati-hati, kadang-kadang larutan kimia tumpah ke lantai. Jika ini
berlangsung, spill neutralizers dipakai untuk menetralisir cairan kimia tumpah itu.
12. First Aid Kits
Kotak obat untuk pertolongan pertama (first aid kits) bermanfaat apabila berlangsung kecelakaan
enteng, umpamanya tangan tergesek oleh satu benda tajam.
Kotak ini umumnya diisi obat luka, gunting, perban, dan alkohol.
13. Alat Pemadam Api
Alat pemadam api ringan (fire extinguishers) bermanfaat untuk memadamkan api ringan yang
berlangsung karena kecelakaan kerja atau sumber beda.
.
14. Pintu Keluar Darurat
Laboratorium baiknya diperlengkapi dengan juga pintu keluar untuk menghadapi kondisi darurat,
umpamanya gempa bumi dan kebakaran.
15. Area Asam
Area asam (fume hood) dipakai untuk ambil larutan kimia yang mempunyai gas beresiko (aseton,
asam sulfat, asam klorida, dsb) atau mereaksikan larutan-larutan itu.
3. Prinsip terjadinya api di laboratorium.
Laboratorium merupakan sebuah ruangan yang menyimpan ratusan bahan kimia dengan berbagai
karakteristik. Bagi penghuni atau pengguna laboratorium, perlu adanya pelatihan untuk mengetahui
karakteristik bahan kimia yang digunakan agar dapat mengetahui cara penggunaannya secara aman.
Karakteristik dari bahan kimia pun dapat dipelajari dari MSDS (Material safety data sheet). Hal ini
bertujuan untuk meminimalisir kecelakaan kerja salah satunya adalah ledakan atau kebakaran. Bahan
kimia dapat dibagi menjadi beberapa karakteristik seperti toxic (beracun), explosive (mudah
meledak), flammable (mudah terbakar), oxidative (mudah beroksidasi), irritan (menyebabkan iritasi)
dan lain-lain. Dengan mengetahui hal ini, pengguna laboratorium akan lebih berhati-hati, misalnya
menggunakan bahan kimia yang mudah terbakar atau meledak sebaiknya dijauhkan dari sumber
panas karena akan berakibat sangat fatal. Penggunaan kurang teliti dalam membaca prosedur
pekerjaan, sehingga terjadi overheating saat melakukan pemanasan pada percobaan distilasi
(penyulingan) misalnya. Kebakaran yang terjadi di laboratorium berpotensi sangat kompleks karena
ada banyak jenis bahan kimia seperti uap, cairan dan bahan bakar lain sebagainya yang
menyebabkan potensi kematian atau korban jiwa yang tinggi bukan hanya karena kebakaran yang
terjadi namun efek setelah kebakaran. seperti bahan radioaktif yang sangat berbahaya karena dapat
mengakibatkan kecacatan mental dan kanker, uap zat kimia berbahaya yang terbakar pun dapat
membunuh karena beracun begitupun produk pembakaran seperti gas karbondioksida dan karbon
monoksida. Apabila kebakaran tak secepatnya ditangani maka kebakaran di laboratorium akan
sangat berbahaya.
4. Penanganan apabila tangan terkena cairan asam.

1. Segera bilas luka bakar dg air keran yg mengalir selama 10-20 menit atau bisa juga lebih dari itu.
Membilas luka bertujuan mengurangi sakit dan mengurangi kontak paparan dengan zat kimia yg
bisa membuat luka semakin dalam menembus kulit.
2. Lepaskan pakaian atau perhiasan yg menempel dekat dengan luka terutama jika terkena zat
kimia tersebut.
3. Oleskan gel khusus anti luka bakar seperti bioplacenton dllnya untuk mempercepat
penyembuhan dan mencegah infeksi
4. Bungkus area luka dg perlahan, jangan membebatnya terlalu kuat, gunakanlah perban / kassa
steril atau jika tidak ada anda bisa menggunakan kain yg bersih.
5. Jika luka bakar terasa sakit kembali atau seperti terasa terbakar kembali, segera bilas ulang luka
selama beberapa menit lagi.

6. Jika masih terasa nyeri juga, anda bisa minum pereda sakit seperti asetaminofen, ibuprofen atau
NSAID (dengan resep dokter). Hati-hati menggunakan obat2an terutama pada anak-anak dan
remaja. Bacalah aturan pakainya.
7. Jika memungkinkan, anda perlu meminta suntikan anti tetanus, sebab semua luka bakar rentan
terkena infeksi tetanus. Pada dasarnya suntikan anti tetanus dianjurkan dilakukan 10 tahun sekali
pada orang dewasa meskipun tidak sedang mengalami luka bakar.
Pada luka bakar akibat zat kimia yg ringan/kecil, biasnaya akan menyembuh dg sendirinya. Namun
jika anda mengalami hal seperti dibawah ini, maka segeralah meminta pertolongan medis :
a. Jika ada tanda2 syok seperti pingsan, pucat di hampir seluruh wajah dan tangan kaki, sulit
bernafas/ sesak atau nafas melambat
b. Jika zat kimia menembus lapisan pertama kulit sehingga menyebabkan luka bakar derajat 2 dan
lebar terpanjangnya melebihi 7.6 cm
c. Jika luka bakar terjadi di area mata, tangan, kaki, wajah, selangkangan, bokong atau di sendi-
sendi utama
d. Jika sakit akibat luka bakar tidak bisa diredakan dg obat-obat pereda sakit biasa

5. Penyimpanan bahan kimia di laboratorium.


Ditempatkan sesuai sifat dan karakteristiknya sesuai MSDS dan disimpan pada loker/almari dengan
identitas yang jelas serta tanda bahaya di pintu loker/almarinya. Bahan yang sudah dipakai dan
byang belum dipakai harus dipisahkan tempat penyimpanannya. Bahan yang sudah dipakai
dibuatkan kartu kendali untuk mengetahui berapa yang diambil beserta sisa bahan tersebut, untuk
memudahkan pengelolaannya.
6. Apa yang dimaksud dengan:
a. Koagulasi
Koagulasi adalah proses terjadinya penggumpalan dalam pengolahan limbah cair.
b. Flokulasi
Flokulasi adalah proses pembentukan flok pada pengadukan lambat untuk meningkatkan saling
hubung antar partikel yang goyah sehingga meningkatkan penyatuannya (aglomerasi).
c. Sedimentasi
Sedimentasi adalah proses terjadinya pengendapan dalam pengolahan limbah cair.
d. Filtrasi
Filtrasi adalah proses penyaringan dalam pengolahan limbah cair.
7. Pengolahan limbah secara aerob dan anaerob.
Proses pengolahan air limbah secara mikrobiologis aerob adalah pemanfaatan aktivitas mikroba
aerob dalam kondisi aerob untuk menguraikan zat organik yang terdapat dalam air limbah menjadi
zat inorganik yang stabil dan tidak memberikan dampak pencemaran terhadap lingkungan. Mikroba
aerob ini sebenarnya sudah terdapat di alam dalam jumlah yang tidak terbatas dan selalu diperoleh
dengan sangat mudah. Dalam kapasitas yang terbatas, alam sendiri sudah mampu menetralisir zat
organik yang ada dalam limbah. Namun, dalam kuantitas limbah yang sangat banyak diproduksi
sebagai hasil sampingan dari sekian banyak industri, perlu diadakan usaha pengolahan limbah untuk
menjaga kelestarian alam di samping mendapatkan produk baru yang mempunyai nilai yang
ekonomis.
Pengolahan air limbah secara biologi anaerob merupakan pengolahan air limbah dengan
mikroorganisme tanpa injeksi udara/oksigen kedalam proses pengolahan. Pengolahan air limbah
secara biologi anaerob bertujuan untuk merombak bahan organic dalam air limbah menjadi bahan
yang lebih sederhana yang tidak berbahaya. Disamping itu pada proses pengolahan secara biologi
anaerob akan dihasilkan gas-gas seperti gas CH4 dan CO2. Proses ini dapat diaplikasikan untuk air
limbah organic dengan beban bahan organic (COD) yang tinggi.
Pada proses pengolahan secara biologi anaerob terjadi empat (4) tahapan proses yang terlibat
diantaranya :

1. Proses hydrolysis : suatu proses yang memecah molekul organic komplek menjadi molekul
organic yang sederhana
2. Proses Acidogenisis : suatu proses yang merubah molekul organic sederhana menjadi asam
lemak
3. Proses Acetogenisis : suatu proses yang merubah asam lemak menjadi asam asetat dan
terbentuk gas-gas seperti gas H2, CO2, NH4 dan S
4. Proses Methanogenisis : suatu proses yang merubah asam asetat dan gas-gas yang dihasilkan
pada proses acetogenisis menjadi gas methane CH4 dan CO2

8. a. Fungsi Trickling Filter adalah untuk mengolah air limbah dengan dengan mekanisme air yang
jatuh mengalir perlahan-lahan melalui melalui lapisan batu untuk kemudian tersaring.
b. Fungsi Rotating Biological Contactor adalah dengan cara seperti ini mikro-organisme miaslanya
bakteri, alga, protozoa, fungi, dan lainnya tumbuh melekat pada permukaan media yang berputar
tersebut membentuk suatu lapisan yang terdiri dari mikro-organisme yang disebut biofilm (lapisan
biologis). Mikro-organisme akan menguraikan atau mengambil senyawa organik yang ada dalam air
serta mengambil oksigen yang larut dalam air atau dari udara untuk proses metabolismenya,
sehingga kandungan senyawa organik dalam air limbah berkurang.
9. Metode pengolahan limbah cair mengandung logam berat.
a. Elektrolisis: Perlakuan elektrolisis prinsip air limbah logam berat adalah: di bawah aksi DC,
air limbah dalam ion logam berat bermuatan positif bermigrasi ke katoda, dan di katoda
untuk mendapatkan elektron dan dikurangi, unsur logam yang dihasilkan diendapkan. ke
reaktor Bagian bawah atau teradsorpsi ke permukaan elektroda, untuk mencapai desalinasi air
limbah dan pemulihan logam berat.
b. Metode presipitasi kimia: metode presipitasi kimia, yaitu sulfida, hidroksida, garam barium
dan endapan lainnya ke dalam air limbah logam berat di antaranya, sehingga bereaksi dengan
ion logam berat dalam air limbah dan pembentukan presipitasi, untuk menghilangkan ion
logam berat bebas dalam keperluan air limbah Kelas teknologi. Analisis presipitasi kimia
menunjukkan bahwa metode ini memiliki kelebihan pengoperasian yang mudah dan proses
yang sederhana, namun akan menghasilkan sejumlah besar residu limbah dalam proses
pengolahan logam berat. Jika tidak diproses ulang, kemungkinan akan menghasilkan polusi
sekunder.
c. Metode Biosorption: Metode Biosorpsi adalah metoda pengolahan air limbah logam yang
baru muncul dalam beberapa tahun terakhir, analisis adsorpsi biologis menunjukkan bahwa
ini adalah fenomena adsorpsi biologis oleh kekuatan elektrostatik, kovalen atau molekuler
pada permukaan organisme, sedangkan perlakuan dari air limbah logam berat berdasarkan
metode ini terutama mencakup dua tahap: pertama, kombinasi ion logam berat dan
makromolekul permukaan sel dengan kelompok fungsional; Kedua, sel biologis secara aktif
mengangkut dan menyerap ion logam berat di air limbah.
d. Metode pertukaran ion: metode pertukaran ion untuk menghilangkan ion logam berat dalam
prinsip air limbah adalah kelompok fungsional penukar ion dengan ion logam berat dalam
pertukaran air limbah, yang akan mengeluarkan ion logam berat dalam air limbah, khususnya
bila air limbah logam berat Setelah melewati penukar ion, perbedaan konsentrasi antara ion
logam berat dan gugus fungsi penukar membentuk afinitas ionik yang kuat, sehingga
mendorong pertukaran ion antara keduanya sehingga untuk mencapai tujuan mengeluarkan
ion logam berat di air limbah.
10. Fungsi kalibrasi, Alat yang perlu dikalibrasi dan Mengapa.
Fungsi kalibrasi alat laboratorium adalah untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan di
berbagai industri pada peralatanlaboratorium dan produksi yang dimiliki. Dengan melakukan
kalibrasi, bisa diketahui seberapa jauh perbedaan (penyimpangan)antara harga benar dengan harga
yang ditunjukkan oleh alat ukur
Alat yang perlu dikalibrasi:
Pada dasarnya kalibrasi alat ukur dalam laboratorium kimia terdiri dari tiga yaitu:
a. Kalibrasi Massa, seperti pada: neraca dan anak timbang
b. Kalibrasi Volume, seperti pada: labu ukur, pipet volume, pipet ukur, buret.
c. Kalibrasi Suhu, seperti pada: thermometer, oven, furnace.
Kemudian instrumen-instrumen seperti AAS, GC-MS, dll juga perlu dikalibrasi
Tujuannya untuk mengembalikan alat pada kondisi awal maupun kondsisi terbaik dari alat tersebut.
11. a. 5 contoh pemeliharaan AAS.
Berikut adalah perlakukan secara umum yang dapat dilakukan dalam pemeliharaan instrumen AAS.
1. Sumber arus yang digunakan dalam pemakaian AAS ialah 220 volt sehingga arus listrik yang
disediakan harus 220 volt dan jangan sampai kurang dari 220 volt.
2. Meja yang digunakan untuk meletakkan AAS harus datar, kuat dan permanen.
3. Sumber cahaya harus polikromatis yang nantinya akan diubah menjadi monokromatis.
4. Lampu katoda dijaga jagan sampai pecah.
5. Intensitas pemakaian alat jangan melebihi aturan yang telah ditentukan.
6. Setelah alat digunakan, cuci dengan air deionisasi selama 10 menit.
7. Setelah digunakan, burner dibersihkan dan dikeringkan dengan lap bersih untuk
menghilangkan karbonnya.
8. Alat harus disimpan dalam ruangan yang kelembaban dan suhunya terjaga seperti pada
ruanga berAC.
9. Stabilizer digunakan untuk menstabilkan apabila terjadi fluktuasi.

b. Masalah yang menimbulkan kerusakan AAS.


1. Sensitivitas (Kepekaan)
Kepekaan adalah konsentrasi analit minimum yang memberikan %T = 1% atau nilai A =
0,0044, atau dengan kata lain kepekaan adalah respon alat per-unit konsentrasi. Apabila AAS
emiliki gangguan sensitivitas, maka akan mengganggu hasil absorbansi yang dihasilkan dari
pengujian sampel. Kepekaan instrumen AAS dapat dilihat dari slope kurva kalibrasi.
2. Akurasi
Akurasi adalah ketepatan suatu hasil pengukuran atau seberapa dekat suatu pengukuran yang
dihasilkan dengan nilai yang sebenarnya.
3. Presisi
Presisi (ketelitian) adalah pengukuran berulang kali yang memberi sejumlah rangkaian hasil,
atau seberapa dekat hasilnya satu sama lain.
c. Bagian AAS dan pemeliharaannya.
GAS SUPPLY MAINTENANCE
1. Tabung Gas
Pengujian untuk pendeteksian bocor atau tidaknya tabung gas tersebut, yaitu dengan
mendekatkan telinga ke dekat regulator gas dan diberi sedikit air. Apabila terdengar suara
atau udara maka menandakan bahwa tabug tersebut bocor dan ada gas yang keluar. Hal
lainnya yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan sedikit air sabu pada bagian atas
regulator dan dilihat apakah ada gelembung udara yang terbentuk atau tidak. Bila ada, maka
tabung gas tersebut bocor.
Sebaiknya pengecekan kebocoran jangan menggunakan minyak karena minyak dapat
menyebabka saluran gas tersumbat. Gas di dalam tabung dapat keluar disebabkan di bagian
dasar tabung pda bagian dalam berisi aseton yang dapat membuat gas akan mudah keluar,
selain gas juga memilki tekanan.
2. Kompresor
Bagian pada belakang kompresor digunakan sebagai tempat penyimpanan udara
setelah selesai penggunaan AAS. Alat tersebut berfungsi untuk menyaring udara dari luar.
Posisi ke kanan adalah posisi terbuka dan posisi ke kiri merupakan posisi tertutup. Uap air
yang dikeluarkan akan memercik kencang dan dapat mengakibatkan lantai sekitar menjadi
basah. Oleh karena itu sebaiknya pada saat menekan ke kanan bagian tersebut, sebaiknya
ditampung dengan lap agar lantai tidak basah dan uap air akan terserap pada lap

RADIATION COMPONENT MAINTENANCE


1. Lampu Katoda
Umur lampu katoda dapat ditentukan oleh beberapa hal. Umur lampu pendek apabila
logam yang terdapat pada katoda hilang, intensitas pemakaian yang berlebih sehingga akan
ada percikan logam di kacanya atau terkikis maka akan membuat hasil pengukuran menjadi
tidak akurat. Selain itu umur katoda juga bisa pendek apabila kaca pada lapu katoda pecah
maka tekanan udara lebih rendah di dalam daripada di luar karena udara masuk ke dalam
lampu katoda dan akan menimbulkan proses oksidasi yang mengakibatkan gas argon hilang.
Cara pemeliharaan lapu katoda ialah bila setelah selesai digunakan, maka lampu
dilepas dari soket pada main unit AAS dan lampu diletakkan pada tempat busanya di dalam
kotaknya, serta di penyimpanannya ditutu kembali. Sebaiknya setelah penggunaan, lamanya
waktu pemakaian dicatat.

FLAME COMPONENT MAINTENACE


1. Burner
Perawatan burner yaitu setelah pengukuran dilakukan, selang aspirator dimasukkan ke
dalam botol yng berisi aquabides selama kurang lebih 15 menit. Hal tersebut merupakan
proses pencucian pada aspirator dan burner setelah pemakaian selesai. Selang aspirator
digunakan untuk menghisap atau menyedot larutan sample dan standar yang akan diuji.
Selang aspirator berada pada bagian selang yang berwarna orange di bagian kanan burner.
Sedangkan selang bagian kiri merupakan selang untuk mengalirkan gas asetilen. Logam yang
akan diuji merupakan logam yang berupa larutan dan harus dilarutkan terlebih dahulu dengan
menggunakan larutan asam nitrat pekat. Logam yang berada di dalam larutan akan
mengalami eksitasi dari energy rendah ke tinggi. Nilai eksitasi dari setiap logam memiliki
nilai yang berbeda. Warna api yang dihasilkan berbeda bergantung pada tingkat konsentrasi
logam yang diukur. Bila warna api merah, maka menandakan bahwa terlalu banyak gas. Dan
warna api paling biru, merupakan warna api yang paling banyak dan paling panas.
PEMELIHARAAN KOMPONEN LAINNYA
1. Ducting
Cara pemeliharaan ducting yaitu dengan menutup bagian ducting secara horizontal,
agar bagian atas dapat tertutup rapat, sehingga tidak aka nada serangga atau binatang lain
yang dapat masuk ke dalam ducting. Karena bila ada serangga atau binatang lainnya yang
masuk ke dalam ducting, maka dapat menyebabkan ducting tersumbat. Penggunaan ducting
yaitu menekan bagian kecil pada ducting ke arah miring, karena bila lurus secara horizontal,
menandakan ducting tertutup. Ducting berfungsi untuk menghisap hasil pembakaran yang
terjadi pada AAS dan mengeluarkannya melalui cerobong asap yang terjadi pada AAS dan
mengeluarkannya melalui cerobong asap yang terhubung dalam ducting.
2. Buangan pada AAS
Buangan pada AAS disimpan didalam dirigen dan diletakkan terpisah pada AAS.
Buangan dihubungkan dengan selang buangan yang dibuat melingkar sedemikian rupa agar
sisa buangan sebelumnya tidak naik lagi ke atas. Karena bila hal tersebut terjadi dapat
mematikan proses pengatomisasian nyala api pada saat pengukuran sampel sehingga kurva
yang dihasilkan akan terlihat buruk.
Tempat wadah buangan (derigen) ditempatkan pada papan yang juga dilengkapi
dengan lampu indicator. Bila lampu indicator tidak menyala, menandakan bahwa lat AAS
atau api pada proses pengatomisasian menyala, dan sedang berlangsungnya proses
pengatomisasian nyala api. Selain itu, papan tersebut juga berfungsi agar tempat atau wadah
buangan tidak tersenggol kaki. Bila buangan sudah penuh, isi dalam wadah jagan dibuat
kosong tetapi disisakan sedikit agar tidak kering.

12. a. Pemeliharaan rutin terhadap spektrofotometer UV/Vis adalah untuk menjaga instrument tersebut
supaya bisa digunakan dengan baik, awet, dan tetap dalam kondisi terbaiknya untuk keperluan
analisis.
b. Pemeliharaan rutin terhadap spektrofotometer UV/Vis
Dalam perangkat Spektrofotometer UV - VIS, beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat
mengguakannya adalah:
a. Gunakan stabilizer
b. Sebelum digunakan untuk pengukuran, nyalakan komputer dan biarkan lampu
Spektrofotometer dalam kondisi ON 15 menit terlebih dahulu.
c. Spektrofotometer sebisa mungkin tidak terpapar sinar matahari langsung, karena cahaya
dari matahari akan dapat mengganggu pengukuran.
d. Posisikan kuvet/penampang sampel sejajar garis lurus dengan lampu
e. Posisikan Kabel optik dalam keadaan lurus.
f. Bersihkan kuvet/penampang tempat sampel dengan aquades/tisu.
g. Pegang kuvet pada bagian yang kasar/buram
h. Lakukan kalibrasi panjang gelombang dan absorban secara teratur.
Pembersihan Instrumen
a. Bersihkan kuvet setiap setelah dilakukan analisis, cuci kuvet beberapa kali dengan air
yang murni lalu bilas dengan methanol dan aseton dan usap menggunakan kertas tisu,
keringkan dan simpan di dalam kotak penyimpanan
b. Bersihkan permukaan luar instrumen dengan isopropil alkohol/ air hangat lalu keringkan
dengan kain bebas serat (clint free cloth)
c. Cara Penyimpanan Alat
1. Simpan spektrofotometer di dalam ruangan yang suhunya stabil dan diatas meja yang
permanen.
2. Pastikan kompartemen sampel bersih dari bekas sampel.
3. Saat memasukkan kuvet, pastikan kuvet kering.
4. Suhu penyimpanan stabil
5. Selama dalam penyimpanan, pastikan alat dalam kondisi mati/ “off”dan Power dalam
kondisi dilepas
6. Letakkan penghalang debu diatas instrumen
13. a. Pemeliharaan rutin terhadap GC-MS adalah untuk menjaga instrument tersebut supaya bisa
digunakan dengan baik, awet, dan tetap dalam kondisi terbaiknya untuk keperluan analisis.
b. Perawatan atau pemeliharaan sebuah instrumen laboratorium memang menjadi sesuatu yang
sangat penting mengingat nilai ekonomisnya yang terbilang cukup mahal. Untuk itu perlu
pemeliharaan yang benar-benar optimal. Berikut beberapa langkah yang mungkin bisa
diterapkan dalam proses pemeliharaan terhadap instrumen GCMS :
a. Instrumen diperiksa, terutama jika tidak dipakai terus-menerus. Ini dilakukan untuk mengecek
apakah telah dipasang kolom yang tepat, apakah septum injector tidak rusak (apakah ada
lubang besar atau bocor karena sering dipakai), apakah sambungan saluran gas kedap, apakah
tutup tanur tertutup rapat, apakah semua bagian listrik bekerja dengan baik, dan apakah
detector yang terpasang sesuai.
b. Aliran gas ke kolom dimulai atau disesuaikan. Ini dilakukan dengan membuka katup utama
pada tangki gas dan kemudian memutar katup (diafragma) sekunder ke sekitar 15psi dan
membuka katup jarum sedikit. Ini memungkinkan aliran gas yang lambat (2-5 ml)/menit untuk
kolom kemas dan sekitar 0,5ml/menit untuk kolom kapiler melewati system dan melindungi
kolom dan detektor terhadap perusakan secara oksidasi. Dalam banyak instrument modern,
aliran gas dapat diatur dengan rotameter atau aliran otomatis atau pengendali tekanan, atau
dapat dimasukkan melalui modul pengendali berlandas mikroprosesor. Apapun jenisnya,
sambungan system (terutama sambungan kolom) harus dicek dengan larutan sabun untuk
mengetahui apakah ada yang bocor, atau dengan larutan khusus untuk mendeteksi kebocoran
(SNOOP), atau dapat juga dengan larutan pendeteksi kebocoran niaga.
c. Kolom dipanaskan sampai suhu awal yang dikehendaki. Ini dilakukan, pada instrument buatan
lama, dengan memutar transformator tegangan perubah yang mengendalikan gulungan
pemanas dalam tanur kesekitar 90 V.
14. Verifikasi adalah proses dimana ditentukan persesuaian antara suatu peralatan laboratorium dengan
spesifikasi yang tertera untuk peralatan tersebut, termasuk penentuan kesalahan (error) pada suatu
titik atau lebih. (Sumardi, 2003). Verifikasi dilakukan untuk memastikan alat bisa digunakan atau
tidak dan sesuai standar atau tidak. Presisi dan akurasi, linearitas dan daerah kerja, limit deteksi dan
limit kuantisasi, ketahanan, ketangguhan metode uji, estimasi ketidakpastian pengukuran, metode
verifikasi tersebut supaya verifikasi yang dilakukan kredibel dan dapat dipercaya.
15. Metode verifikasi timbangan adalah perbandingan, yaitu membandingkan hasil penimbangan neraca
verifikasi dengan neraca standar atau terkalibrasi.
16. Langkah kalibrasi PH meter
a. Rendam sebentar elektroda dalam aquades, bilas berkali-kali dengan menggunakan botol
semprot.
b. Keringkan dengan menggunakan kertas tisue.
c. Rendam dalam larutan buffer pH 7 (dalam gelas kimia 100mL atau langsung dalam botol
kecil) beberapa saat (untuk mencapai keseimbangan). “On” kan pH meter. Tunggu beberapa
saat, bacalah skala pH, bila pH terbaca tidak sama dengan 7 putarlah tombol penyesuaian pH
agar pH menjadi terbaca 7.
d. Cuci elektroda dengan aquades lalu keringkan.
e. Celupkan elektroda ke dalam larutan buffer ph 4, biarkan beberapa saat. Bacalah pH pada
skala pH alat. Pembacaan harus menunjukan pH 4+0,02.
f. Lakukan pekerjaan seperti di atas, tetapi menggunakan buffer pH 7, pembacaan harus
menunjukkan pH 7+0,02.
g. Apabila hasil pembacaan di luar range yang telah ditetapkan artinya pH meter tidak
terkalibrasi.
17. Apa yang dimaksud dengan:
a. Parameter linieritas
Merupakan kemampuan suatu metode analisa untuk menunjukkan hubungan secara langsung
atau proporsional antara respons detektor dengan perubahan konsentrasi analitDiuji secara
statistik, yaitu Linear Regression (y = a + bx); dimana b adalah kemiringan slope garis regresi
dan a adalah perpotongan dengan sumbu y.
b. Parameter ripitabilitas
dinilai dengan menggunakan minimum 9 penentuan dalam rentang penggunaan metode
analisis tersebut (misalnya 3 konsentrasi/3 replikasi).
c. Parameter presisis antara
yaitu perbedaan antar operator/analis dengan sumber reagensia dan hari yang berbeda.
d. Parameter akurasi
Merupakan kemampuan suatu metode analisa untuk memperoleh nilai yang sebenarnya
(ketepatan pengukuran).
18. Pengertian Penyakit Akibat Kerja (PAK)
Penyakit Akibat Kerja (PAK) (Occupational Diseases) adalah penyakit yang disebabkan
oleh pekerjaan atau lingkungan kerja (Permennaker No. Per. 01/Men/1981) yang akan berakibat
cacat sebagian maupun cacat total.Cacat Sebagian adalah hilangnya atau tidak fungsinya sebagian
anggota tubuh tenaga kerja untuk selama-lamanya. Sedangkan Cacat Total adalah keadaan tenaga
kerja tiadak mampu bekerja sama sekali untuk selama-lamanya. Penyakit Akibat Hubungan Kerja
(Work Related Diseases) yaitu penyakit yang dicetuskan, dipermudah atau diperberat oleh pekerjaan.
Penyakit ini disebabkan secara tidak langsung oleh pekerjaan dan biasanya penyebabnya adalah
berbagai jenis faktor.

Faktor-Fakor Penyebab Penyakit Akibat Kerja


Faktor Fisik
1. Suara tinggi/bising : menyebabkan ketulian
2. Temperatur/suhu tinggi : menyebabkan Hyperpireksi, Milliaria, heat Cramp, Heat Exhaustion,
Heat Stroke.
3. Radiasi sinar elektromagnetik : infra merah menyebabkan katarak, ultraviolet menyebabkan
konjungtivitis, radioaktrif/alfa/beta/gama/X menyebabkan gangguan terhadap sel tubuh manusia.
4. Tekanan udara tinggi : menyebabkan Coison Disease
5. Getaran :menyebabkan Reynaud’s Disease, Gangguan proses metabolisme, Polineurutis.
Golongan Kimia
1. Asal : bahan baku, bahan tambahan, hasil antara, hasil samping, hasil (produk), sisa produksi atau
bahan buangan.
2. Bentuk : zat padat, cair, gas, uap maupun partikel.
3. Cara masuk tubuh dapat melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan, kulit dan mukosa
4. Masuknya dapat secara akut dan secara kronis
5. Efek terhadap tubuh : iritasi, alergi, korosif, Asphyxia, keracunan sistemik, kanker,
kerusakan/kelainan janin, pneumoconiosis, efek bius (narkose), Pengaruh genetic.
Golongan Biologi
Berasal dari : virus, bakteri, parasit, jamur, serangga, binatang buas, dll
Golongan Ergonomi/fisiologi
1. Akibat : cara kerja, posisi kerja, alat kerja, lingkungan kerja yang salah, Kontruksi salah.
2. Efek terhadap tubuh : kelelahan fisik, nyeri otot, deformitas tulang, perubahan bentuk,
dislokasi.
Golongan mental Psikologi
1. Akibat : suasana kerja monoton dan tidak nyaman, hubungan kerja kurang baik, upah kerja
kurang, terpencil, tak sesuai bakat.
2. Manifestasinya berupa stress
19. Sumber-sumber kecelakaan kerja:
a. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang bahan kimia dan proses-proses serta
perlengkapan atau peralatan yang digunakan dalam melakukan kegiatan
b. Kurangnya kejelasan petunjuk kegiatan labolatorium dan juga kurangnya pengawasan yang
dilakukan selama melakukan kegiatan labolatorium.
c. Kurangnya bimbingan terhadap siswa atau mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan
labolatorium.
d. Kurangnya atau tidak tersedianya perlengkapan keamanan dan perlengkapan perlindungan
kegiatan labolatorium.
e. Kurang atau tidak mengikuti petunjuk atau aturan-aturan yang semestinya harus ditaati.
f. Tidak menggunakan perlengkapan pelindung yang seharusnya digunakan atau menggunakan
peralatan atau bahan yang tidak sesuai.
g. Tidak bersikap hati-hati di dalam melakukan kegiatan.

20. Kasus Minamata yang terjadi di Seletan Jepang, limbah cair logam berat tersusun oleh Metyl-Hg
dibuang di teluk Minamata ber-ton ton jumlahnya, sehingga air, ikan, dan biota laut terpapar limbah
tersebut, dan ikan yang terpapar limbah tersebut di konsumsi secara terus menerus oleh masyarakat
sekitar, sehingga masyarakat yang mengkonsumsi ikan itu terjangkit penyakit yang menyerang otak
dan syaraf motorik, serta berdampak pada genetiknya juga yang mengancam keturunan mereka.