Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pengangkutan tambang bawah tanah sangat penting dalam suatu operasi
penambangan untuk mengangkut bahan galian yang telah di gali.
Transportasi dan komunikasi melalui sinyal/rambu merupakan sebagai
faktor penunjang untuk kelancaran operasi penambangan,. Keterkaitan tersebut
dimungkinkan dapat dipergunakan mengingat beragamnya peralatan transportasi
yang beroperasi pada waktu bersamaan timbul akan bahaya sehubungan dengan
sistem transportasi tersebut. Untuk kelancarannya diperlukan pula adanya
komunikasi yang baik antara operator alat angkut dengan unit kerja yang lain agar
transportasi dalam lubang tambang dapat berjalan dengan lancar.
1.2. Rumusan masalah
1. Bagaiman Sejarah dan pentingnya transportasi tambang batuba bawah
tanah
2. Metode apa saja yang digunakan pada transportasi tambang batubara
bawah tanah
3. Berapa Unit transportasi tambang batubara bawah tanah
4. Bagaiman bentuk Manajemen dan perlindungan keselamatan transportasi
tambang bawah tanah
1.3. Tujuan makalah
1. Untuk mengetahui sejarah dan pentingnya transportasi tambang batubara
bawah tanah
2. Menetukan metode transportasi tambang batubara bawah tanah
3. Menjelaskan unit transportasi tambang batubara bawah tanah
4. Menjelaskan manajemen dan perlindungan keselamatan Menjelaskan
metode transportasi tambang batubara bawah tanah

1
BAB II

SEJARAH DAN PENTINGNYA TRANSPORTASI TAMBANG


BATUBARA BAWAH TANAH

2.1. Sejarah Transportasi Tambang Batubara Bawah Tanah


Sejarah perkembangan sistem pengangkutan tambang batubara bawah tanah
sama tuanya dengan umur dari tambang batubara itu sendiri. Pengangkutan
tambang bawah tanah pada tahun 1700 masih menggunakan tenaga manusia.
Yaitu dengan mengangkutnya di punggung seperti terlihat dalam ilustrasi gambar
Lokomotif dengan rel, baru pertama diperkenalkan pada tahun 1870 di
tambang antrasit batubara. Dan sekarang ini sudah menggunakan tenaga listrik
sebagai penggeraknya. Dalam perkembangannya saat ini ada berbagai macam
jenis sistem pengangkutan tambang bawah tanah, yang dalam pemilihannya nanti
disesuaikan dengan situasi, kondisi dan metode penambangan yang diterapkan.

Gambar
Pengangkutan dengan tenaga manusia
Dalam pengembangan baik pertambangan maupun pemanfaatan ditemui
banyak kendala-kendala yang tertentunya perlu diatasi agar rencana
pengembangan batubara dapat berjalan lancar sehingga dapat mencapai sasaran
sudah ditetapkan . Salah satu kendala yang penting dalam pengembangan
sumberdaya batubara adalah masalah infrastruktur. Masalah ini meliputi
transportasi batubara dari dalam tambang bawah tanah atau dari dalam
terowongan dengan menggunakan berbagai perlatan seperti Chain conveyor , Belt
Conveyor, Rope Haulage, dan Lokomotif untuk mengangkut Batubara, material
dan manusia. Dengan fasilitas pengangkutan dengan menggunakan bermacam-

2
macam peralatan seperti lokomotif dan Belt Conveyor sampai stock pile.
Keperluan transportasi batubara hanya dapat dipenuhi dengan suatu sistem yang
meliputi penggunaan peralatan dalam tambang dalam maupun pengangkutan
lainnya. Perubahan transportasi akan memerlukan suatu investasi yang besar
untuk peralatan dalam memenuhi permintaan. Mengembangkan suatu sistem
dengan keterpaduan dengan sistem transportasi dan komunikasi tambang batubara
diharapkan penggunaan trasportasi dalam tambang bawah tanah akan
memerlukan suatu pekerjaan yang besar dan banyak, peralatan untuk mengangkut
batubara dan material dengan peralatan yang akan digunakan akan memberikan
banyak kesulitan dalam transportasi, khususnya dalam pemuatan, penuangan
(discharge) dan penyimpanan (storage) dapat tercapai dengan baik dan aman.
2.2. Pentingnya Trasnportasi Tambang Batubara Bawah Tanah.
Pentingnya angkutan di tambang batubara adalah pekerja bawah tanah,
batubara, material, limbah, bahan dan peralatan berat, mesin-mesin serta
Kelistrikan. Setelah dimulai pembangunan tambang batubara, seiring dengan
proses pendalaman dan penjauhan daerah penambangan di dalam terowongan,
jarak transportasi menjadi panjang, sehingga sistem ransportasi dari mulut
terowongan hingga ke permuka kerja menjadi bertingkat-tingkat dan kompleks.
Oleh karena itu, tidaklah mudah untuk menempatkan pekerja, menyuplai bahan,
mesin-mesin, peralatan berat serta mengangkut keluar batubara dan limbah dngan
cepat ke dalam dan dari dalam terowongan yang begitu luas. Apabila perencanaan
transportasi tidak rasional, seberapapun telah dilakukan mekanisasi lokasi
penambangan, tidak dapat di harapkan efektifitasnya.
Sangat penting untuk menetapkan struktur kerangka terowongan bawah
tanah secara rasional dengan memandang jauh ke depan, kemudian
mengkombinasikan metode transportasi yang tepat untuk membuat rencana
transportasi menyeluruh yang rasional dan efektif. Tidaklah berlebihan kalau
dikatakan, bahwa keberadaan tambang batubara ditentukan oleh pekerjaan
transportasi.

3
BAB III

METODE TRANSPORTASI TAMBANG BATUBARA


BAWAH TANAH

3.1. Jenis Transportasi Tambang Batubara Bawah Tanah


Transportasi di dalam Tambang bawah tanah sudah barang tentu
dipengaruhi oleh cadangan batubara, kondisi lapisan batubara, kondisi geologi,
sistem pengembangan, jauh dekatnya jarak transportasi, lokasi penggunaan bahan
dan mesin, banyaknya barang yang diangkut, serta kondisi alam lainya.
Penggolongan transportasi berdasarkan lokasi adalah :
- transportasi permuka kerja,
- transportasi butt level,
- transportasi level,
- transportasi inclined shaft dan
- transportasi vertikal shaft.
Kemudian berdasarkan kemiringan jalur transportasi, terdapat 3 jenis
transportasi, yaitu
- datar,
- miring dan
- tegak.
Selain itu, masih banyak pengolongan lain tergantung dari sudut
pandangnya. Sedangkan obyek-obyek yang ditransportasikan adalah :
- pekerja tambang
- batubara dan batuan
- alat dan material
- listrik
- udara atau gas (ventilasi)
- air
Dahulu, dalam pembukaan tambang terowongan bawah tanah terdapat
transportasi melalui pekerja tambang di mana digunakan metode yang tidak

4
efisien yang memanfaatkan tenaga manusia dan kuda, namun saat ini metode
transportasi yang digunakan semuanya memanfaatkan tenaga mesin. Transportasi
dengan tenaga mesin ini terdiri dari transportasi bolak-balik dan transportasi
kontinu. Transportasi bolak- balik terutama adalah melalui rel, di mana pada
transportasi rel, untuk memindahkan lori tambang terdapat transpotasi rope dan
transportasi lokomotif. Sebagai transportasi kontinu terdapat berbagai jenis
conveyor yang digunakan secara luas dalam transportasi di berbagai jenis
terowongan.
Untuk menentukan metode transportasi di dalam tambang, bukan saja
harus dapat mengangkut sejumlah tertentu barang dengan cara yang paling
ekonomis, aman dan pasti, tetapi aspek ventilasi, drainase air, trasportasi pekerja,
pengangkutan bahan/mesin dan pekerja, level teknologi serta modalpun harus
dipertimbangkan dengan baik.
Perencanaan transportasi disini terutama akan membahas transportasi di
terowongan utama. Sedangkan, mengenai metode transportasi di sekitar
pelaksanaan kerja akan dijelaskan pada kesempatan berikut.
3.2. Faktor Penentuan Metode Transportasi
Yang pertama adalah harus memperhitungkan kondisi alam, rencana
penambangan, penyediaan modal, dan teknologi.
1. Kondisi Alam
- jumlah cadangan batubara
- kondisi lapisan batubara
- kondisi geologis
2. Rencana Penambangan
- metode penambangan
- metode penggalian
- jarak pentransportasian
- jenis alat transportasi
- tempat penggunaan material
- jumlah yang ditransportasikan
- skala produksi

5
- rencana jangka panjang
3. Penyediaan Modal
- penganggaran biaya
- modal tahunan
- besar total investasi
4. Teknologi
- teknologi baru
- teknologi yang telah diaktualisasikan
- resiko

6
BAB IV

UNIT TRANSPORTASI TAMBANG BATUBARA


BAWAH TANAH

Ada banyak jenis transportasi dalam tambang batubara bawah tanah. Di


sini akan disajikan beberapa alat transportasi yang biasa digunakan dalam
pengangkutan tambang batubara bawah tanah.
4.1. Conveyor
Conveyor adalah jenis unit mesin yang dipergunakan sebagai alat angklut
material/batubara didalam tambang, dimana jenis coveyor dapat dibagi dalam dua
bagian besar yaitu :
 Chain Conveyor;
 Belt Conveyor.
1. Chain Conveyor.
Chain conveyor adalah jenis alat angkut yang mempergunakan sistem
rantai, dimana jenis ini biasanya dipergunakan pada lokasi penambangan
2. Belt Conveyor
Di antara berbagai jenis alat pengangkutan kontinu, belt conveyor adalah
yang paling mewakilinya. Ia digunakan bukan saja di tambang batu bara dan
tambang lain, tetapi digunakan di berbagai pabrik. Lingkup penggunaan belt
conveyor biasanya datar atau sampai kemiringan 18~20o,
4.2. Lokomotif
Berdasarkan cara memperoleh sumber tenaganya, maka lokomotif dapat
dibagi menjadi :
 Lokomotif Uap
 Lokomotif motor bakar
 Lokomotif listrik
 Lokomotif udara bertekanan tinggi
4.3. Rope Haulag

7
Rope Haulage merupakan sistem pengangkutan rel dengan menggunakan
wire rope dan suatu drum hoist yang diperlengkapi motor penggerak untuk
menarik rangkaian lori dan muatannya.
Rope Haulage dibagi menjadi empat macam, yaitu :
1. endless rope haulage
2. main-and-tail rope system
3. main or direct rope system
4. balance main-rope haulage
1. Endless-Rope Haulage
Konstruksi endless-rope haulage terdiri dari :
- sebuah motor penggerak
- sebuah surge wheel
- sebuah return wheel (dilengkapi dengan tension)
- sebuah spreader wheel (dilengkapi dengan tension)
- sebuah rope
- dua buah track
- rangkaian kereta (tub) kosong
- rangkaian kereta (tub) isi
2. Main-and-Tail Rope Haulage
Konstruksi main-and-tail rope haulage terdiri dari :
- sebuah drum untuk menggulung rope
- sebuah motor penggerak
- sebuah return wheel
- sebuah main rope
- sebuah tail rope
- sebuah track
- sebuah rangkaian kereta
3. Main or Direct Rope Haulage
Konstruksi main or direct rope haulage terdiri dari :
- sebuah track
- sebuah rope

8
- sebuah rope untuk menggulung rope
- sebuah motor penggerak
- rangkaian kereta (tub)
4. Balance Main-Rope Haulage
Konstruksi balance main-rope haulage tersusun dari :
- dua track
- dua drum
- dua rope, masing-masing rope dilekatkan pada drum
- sebuah motor penggerak
4.4. Scraper
Dengan menjalankan scraper hoist, scraper dipindahkan ke depan dan ke
belakang secara bergantian untuk menggaruk dan mengumpulkan ampas batuan
atau batu bara dari permuka kerja yang dimuat ke lori tambang dan dijatuhkan ke
chute. Selain itu, dahulu scraper digunakan secara luas pada pengisian ampas
batuan di gob, pekerjaan perataan lantai dan penggalian di sumuran miring yang
landai.
4.5. Cage dan Skip Hoisting
Cage hoisting di Jepang selama ini terutama dilakukan dengan
menggunakan cage berdek 2-4 tingkat, di mana setiap dek ditempati oleh 1 atau 2
lori batubara, yang kemudian dikerek keluar. Cage hoisting mempunyai
keuntungan, yaitu bersama pengerekan batubara, dapat digunakan untuk menaik-
turunkan pekerja, trasportasi bahan dan pengerekan limbah. Namun, karena
lorinya juga turut dikerek bersama batubara, bobot matinya menjadi besar,
sehingga diperlukan pekerja lebih dari 3 orang per shift di mulut tambang dan
dasar vertikal shaft untuk pengendalian lori batubara serta sinyal.
Pada Skip hoisting diperlukan pocket berkapasitas tertentu di dasar
vertikal shaft dan mulut terowongan, tetapi karena bobot matinya lebih kecil dari
pada cage hoisting dan karena pemuatan serta pembongkarannya dilakukan
dengan alat otomatik, maka diantara fasilitas yang digunakan akhir-akhir ini, ia
termasuk fasilitas yang pekerja di dasar shaft dan mulut tambang dalam cukup 1-
2 orang, sehingga biaya operasinya lebih rendah dari pada cage hoisting.

9
BAB V

MANAJEMEN DAN PELINDUNGAN KESELAMATAN


TRANSPORTASI

5.1 Manajemen Transportasi.


Manjalankan transportasi di dalam terowongan secara ideal adalah
pekerjaan yang sulit bagi tambang batubara bawah tanah. Hal ini akan membawa
pengaruh yang besar kepada efisiensi. Tujuan utama dari manajemen transportasi
adalah meneliti secara ilmiah penyebab terjadinya keburukan transportasi akibat
kesulitan tadi, untuk selanjutnya diselesaikan dengan metode yang paling rasional.
Disini akan diuraikan mengenai manajemen transportasi tambang batubara
bawah tanah yang sudah ada.
1) Manajemen fasilitas
Untuk meningkatkan efisiensi transportas, harus menggunakan fasilitas
transportasi yang paling tepat secara rasional, dan merawat agar menjadi
kondisi terbaik, untuk mengupayakan pencegahan kecelakaan dan
kerusakan. Pada umumnya, manajemen fasilitas dilakukan dengan
menggolongkan fasilitas transportasi menjadi mesin transportasi, jalur
kereta, lori tambahan, serta fasilitas yang berhubungan dengan transporatsi
seperti sinyal dan fasilitas komonikasi.
2) Manajemen operasi
Melakukan operasi yang membuat fasilitas tranportasi dapat
menunjukan efisiensi maksimum. Untuk itu, secara periodik atau setiap
terjadi perubahan kondisi, perlu dilakukan analisa dan penelitian yang
cermat.
a. Penelitian aspek waktu dari kondisi penambangan batubara.
Meneliti kondisi penambangan setiap waktu terhadap setiap permuka
kerja dan shift, untuk operasi normal dan untuk kasus distribusi lori yang
dilakukan secara ideal. Hasilnya ditunjukan pada grafik dengan mengambil
waktu sebagai sumbu datar dan produksi batubara sebagai sumbu tegak.

10
Dalam hal ini, kondisi permuka kerja, pekerja yang dikerahkan dan faktor-
faktor lain harus dalam kondisi normal.
b. Penelitian kondisi aktual mengenai lokomotif atau transportasi rope di butt
level
Petugas peneliti menaiki lokomotif atau transportasi rope menempati
berbagai posisi, untuk mencatat waktu tunggu lori tambang, jumlah
distribusi lori, waktu lewat, kecelakaan dan lain-lain. Kemudian di atas
garis waktu pada sumbu datar dituliskan kondisi aktual dan alasannya,
yang dibuat untuk setiap daerah dan setiap shift.
c. Penelitian kondisi aktual hoist di inclined shaft dan vertikal shaft
Mencatat kondisi aktual hoisting untuk setiap shift dan waktu,
kemudian dinyatakan dalam grafik.
d. Penelitian kondisi aktual fasiitas lain yang berhubungan dengan
transportasi.
Misalnya, di pocket meneliti dan mencatat kondisi aktual seperti
jumlah lori yang dimuat untuk setiap waktu dan jumlah batubara yang
tersisa di dalam pocket.
e. Penelitian jumlah lori tambang serta lori yang berhenti di setiap titik
hubung dan tempat lain.
Meneliti lori tambang di setiap tempat untuk setiap waktu secara
serentak.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, dilakukan manajemen transportasi
sebagai berikut :
 Cara untuk menghasilkan efisiensi transportasi yang maksimum.
 Distribusi lori tambang terhadap setiap permuka kerja.
 Pemanfaatan sistem yang menurunkan puncak (peak) produksi batubara,
serta perubahan waktu operasi lokomotif, hoist utama, fasilitas operasi
batubara dan lain-lain.
 metode untuk mengetahui kondisi operasi dari waktu ke waktu.
 tindakan pencegahan kecelakaan transportasi
 Operasi terjadwal untuk fasilitas transportasi utama, dan lain-lain.

11
5.2. Pokok Perlindungan Keselamatan Dalam Perencanaan Transportasi
Pelaksanaan transporasi dalam tambang bawah tanah cenderung
mengandung penyebab terjadinya kecelakaan besar. Dahulu, di tambang batubara
kecelakaan transportasi mengambil posisi yang besar diantara semua kecelakaan
maka diperlukan sefety yang lebih baik. Oleh karena itu penting untuk
memperkuat manajemen fasilitas transportasi untuk mencegah kecelakaan
transportasi, dan bersamaan dengan pelaksanaan manajemen operasi yang tepat,
dibuat buku pedoman kerja, agar pekerja yang berhubungan dengan transportasi
dapat bekerja secara aman, kemudian juga melaksanakan pendidikan keselamatan
dan meningkatkan bimbingan dalam tambang batubara bawah tanah.
Mengenai pokok-pokok keselamatan dan meningkatkan bimbingan
tersebut, pada peraturan keselamatan tambang batubara seperti di Jepang, yaitu di
dalam ketentuan keselamatan masing-masing tambang batubara, diwajibkan untuk
menetapkan rincian mengenai hal-hal yang tertulis di bawah ini.
 Mengenai manajemen alat gulung (hoist) serta belt conveyor.
 Mengenai kecepatan operasi kereta manusia, cage atau bucket untuk
menarik-turunkan manusia, serta belt conveyor untuk mengangkut
manusia
 Mengenai sinyal kereta manusia, cage atau bucket untuk menaik-
turunkan manusia, serta belt conveyor untuk mengangkut manusia.
 Mengenai manajemen kereta manusia dan jalur kereta
 Mengenai naik-turun kereta (termasuk belt conveyor untuk manusia)
 Mengenai pengoperasian lokomotif
 mengenai pengoperasian belt conveyor
 Mengenai transportasi di lokasi penambangan
 Mengenai manajemen kereta (lori)
 Mengenai pembatasan jumlah lori yang dikerek
 Mengenai transportasi dorong tangan
 Mengenai manajemen fasilitas pencegah jalan sendiri
 Mengenai alat pelindung keselamatan yang umum.

12
BAB VI
PENUTUP

Masih banyak macam – macam alat transportasi di tambang bawah yang


tidak sempat di tulis dalam makalah ini, tetapi agar kiaranya apa yang tercantum
dalam makalah ini dapat menambah pengetahuan khusunya untuk belajar
mengenai alat transportasi tambang batubara bawah tanah
Seperti yang telah disampaikan di depan, betapa sangat pentingnya
transportasi di dalam tambang bawah tanah. Apakah itu material, bijih tambang,
manusia ataupun yang lain-lainnya. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa
transportasi sangat menentukan produksi suatu tambang. Oleh sebab itu keahlian
atau pengetahuan tentang transportasi tambang bawah tanah harus dimiliki oleh
seorang ahli tambang. Dalam perguruan tinggi pun transportasi tambang bawah
tanah telah menjadi satu mata kuliah tersendiri.

13
14