Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

Sampai dengan saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehaan masyarakat di
dunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi DOTS telah diterapkan di
banyak Negara sejak tahun 1995. Dalam laporan WHO tahun 2013, pada tahun 2012
diperkirakan terdapat 450.000 orang yang menderita TBMDR dan 170.000 orang
diantaranya meninggal dunia. Meskipun jumlah kasus, TB dan jumlah kematian TB
tetap tinggi untuk penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dan disembuhkan tetap
fakta juga menunjukkan keberhasilan dalam pengendalian TB. Peningkatan angka
insidensi TB secara global telah berhasil dihentikan dan telah menunjukkan tren
penurunan (turun 2% per tahun pada tahun 2012), angka kematian juga sudah berhasil
diturunkan 45% bila dibandingkan tahun 1990.
Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak
zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Setelah perang
kemerdekaan, TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP-
4). Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas.
Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan
menggunakan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). Kegiatan
penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek, diagnosis, penentuan klasifikasi
penyakit dan tipe pasien. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam
kegiatan program penanggulangan TB. Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif
dengan promosi aktif. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan
kesehatan. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular, secara bermakna akan
dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB, penularan TB di masyarakat
dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di
masyarakat
Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara
ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan
rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan
pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB,
maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara
ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial, seperti stigma
bahkan dikucilkan oleh masyarakat.
Penyebab utama meningkatnya beban permasalahan TB antara adalah:
 Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat, seperti pada Negara-negara
yang sedang berkembang termasuk Indonesia.
 Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi dengan disparitas yang terlalu lebar,
sehingga masyarakat masih mengalami masalah dengan kondisi sanitasi, papan,
sandang dan pangan yang buruk.
 Beban determinan social yang masih berat seperti angka pengangguran, tingkat
pendidikan yang masih rendah, pendapatan per kapita yang masih rendah yang
berakibat pada kerentanan masyarakat terhadap TB.
 Besarkanya masalah kesehatan lain yang bisa mempengaruhi tetap tingginya
beban TB seperti gizi buruk, merokok, diabetes.
 Pada saat ini, kekebalan ganda atau Multi Drug Resistance (MDR) semakin
menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi dan Etiologi


Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium
tuberculosis. Sebagian besar basil tuberkulosis menyerang paru, tetapi dapat juga
menyerang organ tubuh lainnya. Terdapat beberapa spesies Mycobacterium, antara
lain: M. tuberculosis, M. africanum, M. bovis, M. leprae dsb. Yang juga dikenal
sebgai bakteri tahan asam (BTA).

2.2. Faktor Resiko


Beberapa faktor risiko untuk menderita TB adalah:
1. Jenis kelamin. Penyakit TB dapat menyerang laki-laki dan perempuan.
Hampir tidak ada perbedaan di antara anak laki dan perempuan sampai
pada umur pubertas .
2. Status gizi. Telah terbukti bahwa malnutrisi akan mengurangi daya tahan
tubuh sehingga akan menurunkan resistensi terhadap berbagai penyakit
termasuk TB. Faktor ini sangat berperan pada negara-negara miskin dan
tidak mengira usia
3. Sosioekonomi. Penyakit TB lebih banyak menyerang masyarakat yang
berasal dari kalangan sosioekonomi rendah. Lingkungan yang buruk dan
permukiman yang terlampau padat sangat potensial dalam penyebaran
penyakit TB
4. Pendidikan. Rendahnya pendidikan seseorang penderita TB dapat
mempengaruhi seseorang untuk mencari pelayanan kesehatan. Terdapat
beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa seseorang yang mempunyai
pendidikan rendah akan berpeluang untuk mengalami ketidaksembuhan 5,5
kali lebih besar berbanding dengan orang yang mempunyai tingkat
pendidikan yang lebih tinggi
5. Faktor-faktor Toksis. Merokok, minuman keras, dan tembakau merupakan
faktor penting dapat menurunkan daya tahan tubuh.

Diagnosa
Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik,
pemeriksaan fisik/jasmani, pemeriksaan bakteriologik, radiologik dan
pemeriksaan penunjang lainnya
Gejala klinik
Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala
respiratorik (atau gejala organ yang terlibat) dan gejala sistemik.
1. Gejala respiratorik
- batuk ≥ 3 minggu
- batuk darah
- sesak napas
- nyeri dada
Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada
gejala sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas
lesi. Kadang penderita terdiagnosis pada saat medical check
up. Bila bronkus belum terlibat dalam proses penyakit, maka
penderita mungkin tidak ada gejala batuk. Batuk yang
pertama terjadi karena iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk
diperlukan untuk membuang dahak ke luar.
Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang
terlibat, misalnya pada limfadenitis tuberkulosa akan terjadi
pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah
bening, pada meningitis tuberkulosa akan terlihat gejala
meningitis, sementara pada pleuritis tuberkulosa terdapat
__________________________________________________________
16 Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan
Tuberkulosis di Indonesia
gejala sesak napas & kadang nyeri dada pada sisi yang
rongga pleuranya terdapat cairan.
b. Gejala sistemik
• Demam
• gejala sistemik lain: malaise, keringat malam,
anoreksia, berat badan menurun