Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anjing dipelihara sebagai peliharaan kesayangan yang sudah dianggap


sebagai bagian dari anggota keluarga. Memiliki satu atau dua ekor anjing
tentu sangat menyenangkan, tapi akan sangat merepotkan apabila populasi
mereka meningkat secara tidak terkontrol akibat perkawinan yang tidak
diinginkan. Beberapa tahun terakhir pemeliharaan hewan kesayangan anjing
meningkat dengan pesat. Sehingga populasinya meningkat. Namun dengan
peningkatan populasi hewan yang sangat pesat terutama hewan kecil yaitu
anjing dan anjing menimbulkan masalah kesehatan bagi manusia. Hal
tersebut disebabkan hewan kecil dapat menularkan berbagai penyakit ke
manusia maupun dapat menjadi agen penyakit.
Salah satu solusi untuk memecahkan permasalahan di atas adalah
melakukan tindakan sterilisasi pada anjing, yang dapat dilakukan pada anjing
jantan maupun betina. Sterilisasi pada hewan betina dapat dilakukan dengan
operasi pengambilan atau pemotongan organ ovarium, uterus, atau ovarium
dan uterus dari rongga abdomen (ovariohisterektomi). Ovariohisterektomi
biasanya dilakukan pada hewan domestikasi atau hewan peliharaan dan bukan
pada hewan ternak. Pada umumnya operasi ini bertujuan untuk strerilisasi
anjing betina, ditujukan untuk penekanan jumlah populasi, peningkatan
kesejahteraan hewan, dan peningkatan kualitas perawatan terhadap hewan
untuk memenuhi animal welfare terhadap hewan peliharaan. OH juga
dilakukan untuk tujuan terapi, diantaranya adalah tumor ovary, pyometra, kista
ovari. Selain tu OH dilakukan untuk memberikan perubahan efek tingkah laku
agar hewan tersebut lebih jinak.

Operasi ovariohisterektomi dilakukan dengan terlebih dahulu memeriksa


keadaan hewan. Hewan harus dalam keadaan yang benar-benar sehat,
sehingga kemungkinan untuk kematian pasca operasi dapat diminimalisir.
Kemudian persiapan hewan (preparasi), pemeriksaan kardiorespirasi, suhu,
dan berat badan yang digunakan sebagai indicator selama operasi dan sesudah

1
operasi, untuk pemeriksaan terakhir digunakan untuk menentukan dosis obat
bius yang akan diberikan terhadap hewan. perhitungan dosis untuk
maintenance ketika hewan mulai tersadar juga harus diperhatikan untuk
kelancaran dalam proses operasi.

1.2 Rumusan masalah


1. Bagaimana prosedur pre-operasi ovariohisterektomi?
2. Bagaimana tindakan prosedur operasi ovariohisterektomi?
3. Bagaimana cara penanganan post-operasi ovariohisterektomi?
1.3 Tujuan Manfaat
1. Untuk mengetahui prosedur pre-operasi ovariohisterektomi yang baik dan
benar.
2. Untuk mengetahui prosedur ovariohisterektomi yang baik dan benar.
3. Untuk mengetahui prosedur post operasi yang baik dan benar.
1.4 Manfaat
Manfaat dari kegiatan PPDH ini adalah dapat memahami prosedur bedah
ovariohisterektomi meliputi persiapan operasi, pelaksanaan operasi dan
pengobatan post-operasi.

2
BAB II
TINJUAN PUSTAKA

2.1 Organ Reproduksi Anjing Betina


Sistem reproduksi pada betina terdiri atas ovarium, saluran kelamin terdiri
dari tuba fallopi, kornua uteri, korpus uteri, servik , vagina, vulva, serta
penggantung-penggantungnya. Saluran reproduksi betina berfungsi menerima
sel-sel telur yang diovulasikan oleh ovarium, kemudian menerima sperma dan
membawanya ke tempat fertilisasi yaitu tuba fallopii, serta membawa sel telur
ke tempat implantasi.

Gambar 2.1 Anatomi Organ Reproduksi Anjing Betina (foster & Smith, 2017)
Ovarium memiliki fungsi sebagai alat tubuh yang memproduksi sel ovum
dan hormon-hormon kelamin betina seperti estrogen dan progesteron. ovarium
berjumlah sepasang dan relatif sangat kecil dibandingkan dengan besar
tubuhnya. Jumlah sel ovum yang dihasilkan dalam satu kali periode lebih
dari satu sel telur. Organ ovarium berada di bagian dorsal dari rongga perut, di
sebelah kaudal dari ginjal kurang lebih pada tingkat ketiga atau keempat dari
vertebrae lumbalis (gambar 3.1). Ovarium disokong oleh lapisan peritoneum
(mesovarium) yang berisi saraf dan suplai darah yang berasal dari arteri ovaria
dan arteri uterina.
Tuba fallopii terdiri dari infundibulum dengan fimbre, ampula, dan ismus.
Fimbre aktif membantu masuknya sel telur yang diovulasikan ke dalam tuba
fallopii. Fimbre berada didekat ovarium, namun tidak melingkupi seluruh

3
ovarium. Tuba fallopii digantung oleh alat penggantung yang disebut
mesosalping yang berasal dari mesovarium.
Uterus merupakan bagian caudal tuba fallopii yang terdiri dari sepasang
kornua uteri, korpus uteri dan servik. Rahim kucing bertipe bipartitus yang
ditandai oleh satu leher rahim, korpus uteri satu dengan dua buah kornua. Letak
uterus seluruhnya dalam cavum abdomen kecuali servik yang masih mencapai
bagian peritoneal dari cavum pelvis. Pada bagian dorsal, uterus digantung
dengan ligamentum lata uteri mesometrium yang merupakan otot-otot licin,
berserat pipih yang berasal dari bagian dinding cavum pelvis dari daerah
lumbal mencapai uterus. Uterus memiliki fungsi sebagai alat dan tempat
transport sperma ke dalam tuba fallopii, memberi makan blastosis,
pembentukan plasenta, perkembangan embrio atau foetus dan kelahiran anak.
Vagina terdiri dua bagian, yaitu vagina dan vestibulum. Kedua bagian
tersebut dibatasi oleh orifisium uretra eksterna dan pada batas ini terdapat
suatu lipatan selaput melintang, epitelnya banyak lapis, lipatan selaput tersebut
adalah himen. Vagina berfungsi sebagai tempat penumpahan semen dan juga
untuk jalur keluar fetus dan plasenta pada saat partus. Dindingnya terdiri dari
tiga bagian, yaitu selaput lendir, lapisan otot dan serosa. Vagina terletak di
dalam cavum pelvis di antara colon dan vesika urinaria dengan urtera berada di
bagian ventral (Tanudimadja, 1983).
Vulva merupakan ujung akhir dari alat kopulasi pada hewan betina dan
bersatunya kedua labia vulva membentuk comissura dorsalis dengan bentuk
bulat dan ventral yang bentuknya meruncing. Permukaan luarnya berambut
dan berkelenjar.
2.2 Ovariohisterektomi (OH)
Ovariohisterektomi terdiri dari ovariectomi dan histerectomi. Ovariectomi
adalah tindakan mengamputasi, mengeluarkan dan menghilangkan ovarium
dari rongga abdomen. Sedangkan histerektomi adalah tindakan
mengamputasi, mengeluarkan dan menghilangkan uterus dari rongga
abdomen. Pengertian ovariohisterektomi merupakan gabungan dari pengetian
diatas yaitu tindakan pengambilan ovarium, corpus uteri dan cornua uteri.

4
Ovariohisterektomi merupakan tindakan operasi yang bertujuan untuk
menghilangkan kemampuan hewan dalam melakukan reproduksi. Hilangnya
kemampuan reproduksi hewan dapat bermanfaat dalam upaya menekan
jumlah populasi. Ovariohisterektomi merupakan tindakan sterilisai yang
bermanfaat meminimalisir resiko hewan terkena penyakit yang berkaitan
dengan organ reproduksi. Ovariohisterektomi juga dapat dilakukan pada
kasus tumor pada uterus, pyometra maupun metritis sebagai salah satu
tindakan terapi (Nelson, 2003).
Ovariohisterektomi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu teknik
laparotomi dan teknik flank. Teknik laparotomi dilakukan dengan penyayatan
pada caudal umbilikal. Teknik laparotomi merupakan teknik OH yang sering
dilakukan karena waktu yang diperlukan lebih singkat, proses kesembuhan
yang lebih cepat, dan saat pembedahan lebih mudah menemukan uterus
dibandingkan dengan teknik OH flank (Kiani et al., 2014). Teknik flank
merupakan teknik OH yang dilakukan dengan penyayatan pada bagian flank.
Teknik flank sering digunakan pada hewan yang berada pada periode laktasi
puncak maupun pada hewan yang mengalami hiperplasia kelenjar mamae
(Fossum, 2012). Adapun indikasi dari ovariohisterectomy (OH) yaitu :
a. Sterilisasi, penyembuhan penyakit saluran reproduksi (pyometra, tumor
ovary, cysteovary) tumor uterus (leiomyoma, fibroma, fibroleiomyoma).
b. Tumor mammae, veneric sarcoma, prolapsus uterus dan vagina
c. Hernia inguinalis, modifikasi tingkah laku agar mudah dikendalikan.
d. Penggemukan
e. Modifikasi tingkah laku yaitu, lebih mudah dikendalikan, lebih jinak,
membatasi jumlah populasi.

5
BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN

3.1 Metode Kegiatan


Metode yang digunakan dalam kegiatan koasistensi Bedah ini adalah
1. Melaksanakan kegiatan bedah kelompok ovariohisterektomi pada anjing.
2. Melaksanakan diskusi pre-operadi dan post-operasi dengan dokter hewan
pembimbing koasistensi.
3.2 Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan pada operasi ovariohisterektomi ini terdiri dari
gunting (tumpul runcing, bengkok, gunting benang), pinset anatomis dan
chirurgis, scalpel handle, blade, towel clamp, needle holder, needle (cutting
dan taper point), alice clamps, kocher clamp (arterial clamp lurus dan
bengkok), benang (vicryl 2-0), cutgut chromic 2-0, silk 2-0, kateter intravena,
kain drape, tampon steril, endotracheal tube, perlengkapan alat bedah steril
(surgical dress, cap, gloves, masker), syringe, hypafix.
Bahan- bahan yang diperlukan untuk operasi ovariohisterektomi ini
meliputi Larutan desinfektan (alkohol 70% dan iodine), cairan infus NS,
amoksisilin, Asam tolfenamic, Atropin sulfat, xylazine, ketamine.
3.3 Perhitungan Dosis

Diberikan premedikasi atropine sulfat, kemudian induksi anastesi


menggunakan kombinasi xylazine dan ketamine injeksi intravena dengan
perhitungan dosis sebagai berikut:

Atropin sulfat = Berat Badan (kg) x Dosis (mg/kg)


Sediaan (mg/ml)
= 8 kg x 0,04 mg/kg
0,25 mg/ml
= 1,28 ml
Xylazine = Berat Badan (kg) x Dosis (mg/kg)
Sediaan (mg/ml)
= 8 kg x 2 mg/kg
20 mg/ml
= 0,8 ml
Ketamine = Berat Badan (kg) x Dosis (mg/kg)
Sediaan (mg/ml)

6
= 8 kg x 10 mg/kg
100 mg/ml
= 0,8 ml

Antibiotik amoxsisilin diberikan secara injeksi intravena dengan


perhitungan dosis sebagai berikut:
Amoksisilin = Berat Badan (kg) x Dosis (mg/kg)
Sediaan (mg/ml)
= 8 kg x 10 mg/kg
100 mg/ml
= 0.8 ml
Antiinflamasi Tolfenamic acid diberikan secara injeksi subkutan dengan
perhitungan dosis sebagai berikut :

Tolfen = Berat Badan (kg) x Dosis (mg/kg)


Sediaan (mg/ml)
= 8 kg x 4 mg/kg
80 mg/ml
= 0,4 ml

7
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pemeriksaan : Kondisi normal (SEHAT)


Tindakan :Ovariohisterektomi.

4.2 Pembahasan
Ovariohistrektomi yaitu tindakan pembedahan untuk melakukan
pengangkatan ovarium, tuba falopii dan uterus pada hewan betina agar hewan
tersebut menjadi steril. Umunya OH dilakukan pada kasus penyakit yang
menyerang ovarium dan uterus seperti: kista ovarium, pyometra, torsio uterus,
prolaps uterus/vagina, tumor uterus, tumor mammae dan ruptura uterus
(pencegahan agar tidak terjadi hiperplasia vagina) (Komang, 2011).
4.2.1Persiapan Operasi
Sebelum melakukan ovariohisterektomi dilakukan sejumlah persiapan
yang meliputi pre operasi, atau persiapan pasien, persiapan alat dan bahan
yang akan digunakan, persiapan ruang operasi, persiapan operator dan co
operator. Persiapan hewan meliputi pemeriksaan fisik kondisi umum, berat
badan, temperatur, pulsus, respirasi, kondisi rambut, membram mukosa,
muskulosketal (otot dan pertulangan), sistem sirkulasi, sistem respirasi,
sistem digesti, sistem urogenital, sistem syaraf, dan sistem panca indera.
Pemeriksaan fisik ini dilakukan untuk mengetahui status kesehatan hewan.
Setelah anjing dinyatakan sehat dan mampu untuk di operasi, selanjutnya
anjing dipuasakan selama 6-8 jam sebelum operasi untuk menghindari
refleks muntah dan regurgitasi yang merupakan efek samping dari
pemberian anasthesi. Anjing dibersihkan tubuhnya untuk meminimalisir
risiko kontaminasi saat operasi.
Persiapan alat dan bahan dilakukan sebelum pelaksanaan operasi
dilakukan. Alat-alat operasi (kecuali gunting dan pisau bedah), serta bahan-
bahan operasi seperti drape dan tampon disterilkan menggunakan autoclave
selama 1 jam dengan suhu 121˚C dan bahan-bahan operasi dipersiapkan di
daerah sekitar ruang operasi untuk mempermudah pelaksanaan operasi. Hal

8
tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri atau
organisme lain yang dapat menghambat proses kesembuhan luka. Berikut
merupakan bahan obat-obatan yang digunakan selama operasi OH :
Tabel 4.1 Jenis Obat-Obatan yang Digunakan saat Operasi OH
Obat Jenis Dosis Konsentrasi Jumlah Rute
(mg)
(mg/ml) (ml)
Amoxisilin Antibiotik 10 100 0,8 IV
Atropin Premedikasi 0,04 0,25 1,28 SC
Ketamin Anastesi 10 100 0,8 IV
Xylazin Anastesi 2 20 0,8 IV
Tolfenamic Analgesik 4 80 0,4 SC

Sebelum di operasi anjing diinfus menggunakan RL, kemudian


diberikan antibiotik amoksisilin 0,8 ml. Infus RL tersebut digunakan sebagai
maintenance dan replacement saat dilakukan pembedahan dan post operasi.
Tujuan utama dari terapi cairan ini yaitu untuk mengatasi dehidrasi,
memulihkan volume sirkulasi darah pada keadaan hipovolemia atau shock,
mengembalikan dan mempertahankan elektrolit (Na+ dan K+), dan asam
basa dalam tubuh ke arah batas normal (Suartha, 2010). Sedangkan,
pemberian antibiotik yang diinjeksikan sebelum proses operasi tersebut
bertujuan sebagai upaya pencegahan infeksi dari tindakan bedah
(pencegahan awal infeksi). Amoksilin termasuk antibiotik golongan
penisilin, yang pada umumnya digunakan untuk mengobati berbagai
penyakit akibat infeksi bakteri. Amoksisilin dapat mencegah pembentukan
dinding luar bakteri dan juga menghambat perkembangan bakteri.
Sebelum dianestesi, anjing diberikan premedikasi atropin sulfat secara
SC sebanyak 1,28 ml. Setelah 15 menit pemberian premedikasi, anastesi
yang diberikan adalah kombinasi xylazine sebanyak 0,8 ml dan ketamine
sebanyak 0,8 ml ml secara IV. Pemberian premedikasi bertujuan untuk
mengurangi sekresi kelenjar saliva, memperlancar induksi anastesi,
mencegah efek bradikardi dan vomit setelah ataupun selama anastesi,
mendepres reflek vasovagal, mengurangi rasa sakit dan mengurangi gerakan
yang tidak terkendali selama recovery. Sedangkan pemberian anestesi
umum ini dilakukan untuk menghilangkan kesadaran hewan, menghilangkan
rasa sakit, memudahkan pelaksanaan operasi dan menjaga keselamatan

9
operator maupun hewan itu sendiri. Xylazine berkerja sebagai hipnotikum,
anoksia, analgesia, muscle relaxan berpengaruh terhadap sistem
kardiovascular. Sedangkan ketamin merupakan larutan yang tidak berwarna,
stabil pada suhu kamar dan relatif aman dengan kerja singkat. Sifat
analgesiknya sangat kuat untuk sistem somatik tetapi lemah untuk sistem
visceral, tidak menyebabkan relaksasi otot lurik bahkan kadang-kadang
tonusnya sedikit meninggi. Maka dari itu biasanya digunakan kombinasi
antara xylazine dan ketamine untuk saling mengurangi efek sampinya.
Daerah yang akan diinsisi dilakukan pencukuran rambut dan
penyemprotan alkohol 70% untuk mencegah rambut anjing yang
berterbangan saat operasi serta dilanjut pemberian povidon iodine dengan
arah sirkuler dimulai dari bagian tengah menuju tepi (gambar 4.1).
Selanjutnya dilakukan pemasangan drape dan dikaitkan dengan towel clamp.
Pemasangan ini berfungsi untuk mempersempit lapangan pandang operator
supaya dapat fokus dalam menjalani operasi serta menjaga daerah insisi dari
kontaminasi disekitarnya.

Gambar 4.1 Persiapan operasi dengan melakukan pemasangan drape dan


towel clamp pada daerah yang akan di operasi.
Langkah selanjutnya yaitu persiapan operator dan asisten untuk
menggunakan tutup kepala dan masker, mencuci kedua tangan dengan sabun
dan menyikatnya dengan sikat pada air yang mengalir. Pencucian dimulai
dari ujung jari yang paling steril kemudian dibilas dengan arah dari ujung
jari ke lengan. Setelah itu, operator dan asisten memakai gloves. Setelah
semua siap, operasi siap dilakukan.
4.2.2 Proses Operasi
Teknik operasi yang digunakan yaitu metode laparatomi medianus
posterior. insisi dilakukan pada linea alba dengan titik orientasi umbilicus
dan puting terakhir Insisi kulit sepanjang 4 cm. setelah insisi kulit selesai,
dilanjutkan insisi dan preparir menggunakan gunting tajam tumpul pada
subkutan hingga ditemukannya linea alba. Pada saat terlihat linea alba,
dilakukan insisi yang diteruskan dengan menggunakan pinset anatomis dan
gunting tajam tumpul dengan bagian tajam di dalam. Setelah terbuka rongga
peritonium, bagian insisi dikuakkan kearah dexter dan sinister menggunakan

10
retractor agar mempermudah mengekspose organ didalam rongga
peritonium.
Cornua uteri dicari menggunakan jari atau spay hook. Umumnya kornua
uteri terletak pada dorsal vesica urinaria. Dipisahkan uterus dan ovarium
dari penggantungnya dan diangkat kea rah luar abdomen untuk dibendung.
Pembendungan vaskularisasi pada arteri ovarica menggunakan 2 buah
hemostatic forcep. Ligasi dilakukan diantara 2 hemostatic forcep
menggunakan cat gut chromic dengan simpul square knot 2-1-2 (gambar
4.2). Teknik yang sama dilakukan pada cornua lain. Ligasi diperiksa, jika
tidak ada kebocoran, maka dipotong jaringan pada bagian caudal dengan
hemostatic forcep. Bifurcatio uteri dicari dan vaskularisasi dibendung pada
bagian caudal dengan hemostatic forcep. Ligasi arteri uterina dan bifurcatio
uteri secara kuat dengan benang cat gut chromic dengan menembuskan
jarum dan benang pada bagian tengah lalu diikat bagian kiri dengan simpul
square knot 2-1-2. Dilanjutkan dengan bagian kanan corpus uteri. Untuk
ligasi terakhir, corpus uteri diikat secara melingkar dengan simpul square
knot 2-1-2. Corpus uteri dipotong di bagian anterior ligasi dan dipastikan
tidak ada kebocoran.

(a) (b)

(c) (d)
Gambar 4.2 Prosedur operasi ovariohisterektomi (a) pengangkatan uterus keluar
ventral (b) ligasi saluran reproduksi mulai dari ovarium hingga ke
caudal uteri, (c) penjahitan muskulus, (d) penutupan luka dengan
jahitan lock and stitch.
Setelah pengangkatan ovari dan uterus, dilakukan penutupan muskulus
dengan penjahitan. Jahitan dilakukan dengan tipe jahitan terputus sederhana
dengan menggunakan jarum round dan benang cat gut chromic 2-0 (gambar
4.2). Menurut Dupre (2009), penggunaan tipe jahitan sederhana pada
muskulus menurunkan resiko terjadinya hernia bila dikerjakan dengan benar
serta memiliki waktu persembuhan yang relatif lebih cepat. Jahitan pada
lapisan subkutan dilakukan dengan tipe jahitan intradermal dengan
menggunakan jarum round dan benang cat gut chromic 2-0. Jahitan pada

11
lapisan kulit dilakukan dengan tipe jahitan terputus seerhana dengan
menggunakan jarum tapped dan benang silk. Luka insisi diberi antibiotic
salep dan di balut.

4.2.3 Perawatan Post Operasi


Pada perawatan paska operasi diperlukan pemeriksaan status kesehatan
kucing untuk mengetahui tingkat dehidrasi, urin, dan feses setelah dioperasi.
Penyinaran menggunakan infrared dan pemberian lampu di kandang
dilakukan untuk menciptakan kondisi hangat pada anjing.
Pengobatan paska operasi dilakukan pemberian tolfenamic acid sebagai
antiinflamasi secara SC dan antibiotik amoksisilin secara oral serta
multivitamin biodin secara IM. Berikut ini adalah tabel hasil pemeriksaan
anjing paska operasi :
Tabel 4.2 Hasil Observasi Kucing Paska Operasi
Tanggal Suhu Pulsus Respirasi Keterangan Urin feses
(oC) (x/menit) (x/menit) (makan-
minum)
8-8-2017 38,3 124 36 1/4  -
9-8-2017 39,6 136 40 1/5  
10-8-2017 38,6 140 32   
11-8-2017 38,2 140 36   
12-8-2017 39,2 136 36   
13-8-2017 38,6o 116 28   
14-8-2017 38,9 140 36   
15-8-2017 38,7 156 40   
16-8-2017 38,3 136 36   

Kondisi perubahan fisiologis hewan pasca operasi secara umum


normal dengan suhu tubuh 38,3°C, kondisi jahitan baik, nafsu makan
menurun dan tidak aktif dikarenakan anjing kemungkinan masih merasa
sakit dibagian daerah operasi. Terapi yang diberikan yakni Injeksi
amoksisilin sebagai antibiotik spectrum luas untuk mencegah infeksi, tolfen
sebagai anti-inflamasi serta pemberian anibiotik topickal pada luka dan
dilakukan pembalutan. Luka operasi menutup sempurna dan anjing dapat
pulang setelah 8 hari paska operasi (gambar 4.3).
(a) (b)
Gambar 4.3 Proses Penyembuhan Luka (a) masih terdapat inflamasi pada luka
penjahitan, (b) luka sudah kering dan menutup.

12
Proses penyembuhan luka akibat sayatan operasi ovariohisterektomi
ini memerlukan waktu untuk penyembuhan. Fase kesembuhan luka terdiri
dari 4 Fase yaitu fase koagulasi,fase inflamasi, fase poliferatif dan fase
remodeling. Fase koagulasi yaitu fase yang terjadi setelah timbulnya luka,
terjadi perdarahan pada daerah luka yang diikuti dengab aktifasi cascade
pembekuan darah sehingga terbentuk klot hematoma. Proses ini diikuti oleh
proses selanjutnya yaitu fase Inflamasi. Fase Inflamasi merupakan fase yang
mempunyai prioritas fungsional yaitu mengadakan hemostasis,
menghilangkan jaringan mati dan mencegah infeksi oleh bakteri patogen.
Pada fase ini platelet yang membentuk klot hematom mengalami
degranulasi. Leukosit juga bermigrasi ke daerah luka dan terjadi deposit
matriks fibrin yang mengawali proses penutupan luka. Proses ini terjadi
pada hari ke 2 sampai ke 4. Fase selanjutnya yaitu proliperatif yakni fase
yang terjadi pada hari ke 5 sampai dengan 21 setelah mengalami trauma atau
luka. Pada fase ini terdapat faktor proangiogenik yang dilepaskan oleh
makrofag, vascular endothelial growth factor (VEGF) sehingga terjadi
neovaskularisasi dan pembetukan jaringan granulasi. Fase remodeling yaitu
fase yang paling lama pada proses penyembuhan luka terjadi mulai hari ke
21 hingga 1 tahun. Terjadi pembentukan akitin myofibroblast dengan aktin
mikrofilamen yang memberikan kekuatan kontraksi pada proses
penyembuhan luka. Pada fase ini juga ada remodeling kolagen. Setelah 3
minggu masa penyembuhan, luka telah mendapatkan kembali 20% kekuatan
pada jaringan normal (Marcio et al., 2008).
Fase penyembuhan luka dapat berjalan denga cepat jika operasi dan
penanganan luka dilakukan dengan benar. Prosedur operasi yang baik
dikemukakan oleh Hastled yang dikenal sebagai Hastled Principle yang
meliputi: 1) Memperlakukan atau menangani jaringan secara lembut yakni
dengan menggunakan forceps yang sesuai, 2) memperlakukan atau
menangani jaringan secara aseptic sehingga menghindari infeksi oleh
mikroorganisme pada luka bedah, 3) Mengetahui anatomi hewan dengan
baik sehingga dapat menghindari daerah persyarafan atau pembuluh darah,
4) mengontrol perdarahan yang terjadi pada saat operasi berlangsung, 5)
menghindari ruang kosong pada jaringan saat operasi sehingga tidak

13
menimbulkan seroma, 6) menghinndari tensi jaringan dan 7) tidak
menautkan jarigan secara tumpeng tindih. Tujuh dasar dari Hastled principle
dapat mempengaruhi lama proses penyembuhan luka bedah.

14
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat setelah melakukan tindakan operasi


Ovariohisterektomi pada anjing ini yakni:
1. Prosedur operasi ovariohisterektomi telah dilakukan sesuai dengan
standart prosedur operasional (SOP) operasi OH baik pada saat pre
operasi, operasi dan post operasi.
2. Berdasarkan pengamatan post operasi, penyembuhan jahitan berlangsung
dengan baik. Jahitan pada kulit dilepas setelah luka mongering. Luka
sayatan dapat menutup sempurna setelah hari ke delapan paska operasi.
5.2 Saran

Saran yang dapat diberikan yakni: Pemeriksaan darah sebaiknya


dilakukan sebelum operasi untuk mengetahui gambaran kondisi darah pasien
agar tidak menimbulkan resiko kematian pada pasien.

15
DAFTAR PUSTAKA

Anderson JM, Rodriguez A, Chang DT. 2010. Foreign body reaction to


biomaterials. Semin Immunol. 20(2): 86–100.

Dupre G. 2009. Soft Tissue Surgery. Veterinary University of Viena.

Foster & Smith. 2017. Anatomy and Function of the Reproductive System in
Dogs.

Seymour C, Gleed R. 1999. BSAVA Small Animal Anasthesia and Analgesia.


England: Stephens & George.

Silvestre, Wilson AJ, Hare J. 2002. A comparison of different suture patterns


for skin closure of canine ovariohysterectomy. Can. Vet. J. 43: 699–
702.

Tobias KM. 2010. Manual of Small Animal Soft Tissue Surgery. USA: Wiley
and Blackwell.

Ganisma SG. 1995. Farmakologi dan Terapi. FKUI. Jakarta

Madiba T.E, 2005. Surgical Management of Rectal prolapse. Arc Surg; 140;
63 – 73

Myers, James. O, Rothenberger, David A. 1991. Sugar In the Reduction of


Incarcerated Prolapsed Bowel : Report of Two Cases. Dis Colon
Rectum Vol 34 : 416-418.

Tobias, M. K. 2010. Manual of Small Animal Soft Tissue Surgery. 2010.


Singapore. 347

16