Anda di halaman 1dari 6

Penyakit Bakteri pada Saluran Penernaan Unggas

Penyakit yang sering menyerang ternak ayam secara umum berdasarkan


penyebabnya dapat dikelompokkan menjadi cekaman (stres), defisiensi zat
makanan, parasit, penyakit karena protozoa, penyakit karena bakteri, penyakit
karena virus, dan penyakit karena cendawan. Penyakit bakteri yang sering
menyerang saluran pencernaan unggas yaitu necrotic enteritis, colibacillosis, kolera
dan pullorum. Pada tahun 2010 di peternakan ayam diketahui bahwa masih banyak
yang terjangkit penyakit colibacillosis, kolera dan pullorum. Sebagian kasus
penyakit pencernaan tersebut bersifat oportunis. Artinya bahwa secara normal
mikroorganisme penyebab penyakit ada di dalam usus dalam jumlah yang
terkendali, akan tetapi saat kondisi ayam menurun akibat stres ataupun
ketidakstabilan kondisi kandang, mikroorganisme tersebut mulai berkembang
menjadi patogen.
Kerugian akibat penyakit bakteri di saluran pencernaan yaitu adanya
gangguan berupa terganggunya penyerapan nutrisi yang berdampak pada
pertumbuhan yang terhambat dan penurunan produksi telur. Mortalitas dan
morbiditas unggas juga akan meningkat. Gangguan pencernaan akibat infeksi
bakterial misalnya akan menyebabkan saluran pencernaan tidak dapat bekerja
dengan baik. Hal lain berakibat pada terjadinya immunosuppresif. Beberapa
mekanisme terjadinya immunosuppresif ini ialah :
a) Kerusakan jaringan mukosa usus menyebabkan proses pencernaan dan
penyerapan zat nutrisi tidak optimal. Akibatnya terjadi defisiensi nutrisi
sehingga pembentukan antibodi terganggu,
b) Mukosa usus dan seka tonsil merupakan bagian dari sistem kekebalan lokal di
saluran pencernaan. Kerusakan kedua organ ini mengakibatkan unggas lebih
rentan terinfeksi penyakit lainnya,
c) Pada jaringan mukosa usus terdapat jaringan limfoid penghasil antibodi (IgA),
dimana IgA tersebut akan terakumulasi di dalam darah. Kerusakan mukosa usus
akan mengakibatkan keluarnya plasma dan sel darah merah sehingga kadar IgA,
sebagai benteng pertahananan di lapisan permukaan usus pun menurun.

Berikut penjelasan beberapa penyakit bakterial yang berdampak pada


gangguan pencernaan :
1. Infeksi Bakteri Clostridium sp.
Necrotic enteritis (NE) merupakan penyakit yang disebabkan oleh
Clostridium perfringens tipe A atau C dan menyebabkan kerusakan di saluran
percernaan, terutama di usus. Berbagai bakteri Clostridium sp. secara luas
banyak terdapat di tanah dan air. Banyak pula spesies Clostridium yang hidup
normal dalam saluran pencernaan ayam. Semua jenis ayam pada semua umur
dapat terinfeksi NE namun paling sering menyerang umur 2-6 minggu pada
ayam petelur dan umur 2-5 minggu pada ayam pedaging. Secara normal, di
dalam usus ayam sehat terdapat bakteri C. perfringens dalam jumlah yang aman.
Saat kondisi ayam buruk dan didukung dengan kondisi lingkungan yang tidak
nyaman, outbreak NE dapat terjadi.
Munculnya kasus NE biasanya dipicu oleh serangan koksidosis.
Koksidiosis merupakan penyakit parasit yang disebabkan oleh protozoa (bersel
tunggal) dari genus Eimeria sp. Dari hasil bedah bangkai akan ditemukan
adanya nekrosa pada mukosa usus halus dan terjadi perubahan dimana usus
menjadi rapuh dan mengalami distensi (penggelembungan) akibat pembentukan
gas dan kadang dijumpai perdarahan.

2. Infeksi Escherichia coli

Infeksi Escherichia coli (E. coli) pada ayam dikenal dengan istilah
colibacillosis. Bakteri E.coli merupakan bakteri yang normal hidup pada saluran
pencernaan ayam dan dari jumlah tersebut 10-15% merupakan E. coli yang
berpotensi menjadi patogen. Jika dilihat dari umur serangan, maka pada ayam
pedaging, colibacillosis lebih sering menyerang di umur 22-28 hari, sedangkan
pada ayam petelur di umur > 3 minggu. Bakteri E. coli dapat menyebar dan
mengkontaminasi debu, litter dan air minum.

Infeksi colibacillosis bisa bersifat lokal atau sistemik dengan. Bentuk


infeksi lokal colibacillosis terdiri dari omphalitis, cellulitis, diare dan salpingitis.
Sedangkan bentuk infeksi sistemik colibacillosis terdiri dari colisepticemia,
panopthalmitis, meningitis dan coligranuloma. Dari semua bentuk colibacillosis
tersebut yang lebih spesifik menyerang saluran pencernaan ialah bentuk diare
dan coligranuloma. Gejala klinis infeksi E. coli pada ayam yang dapat diamati
adalah adanya diare berwarna kuning. Gejala klinis diikuti pula oleh perubahan
patologi anatomi, dimana pada colibacillosis bentuk diare ditemukan usus yang
mengalami peradangan (enteritis), sedangkan pada coligranuloma ditemukan
adanya granuloma (bungkul-bungkul) pada hati, sekum, duodenum dan
penggantung usus.

3. Infeksi Pasteurella multocida

Infeksi Pasteurella multocida pada ayam sering dikenal dengan penyakit


kolera (fowl cholera). Kejadian kolera unggas di Indonesia lebih bersifat
sporadik. Ledakan penyakit ini sangat erat hubungannya dengan berbagai faktor
pemicu stres seperti fluktuasi suhu, kelembaban, pindah kandang, potong paruh,
perlakuan vaksinasi yang tidak benar, transportasi, pergantian ransum yang
mendadak serta penyakit immunosuppressive. Gejala klinis kolera terlihat dari
penurunan nafsu makan, lesu, bulu mengalami kerontokan, diare yang awalnya
encer kekuningan, lama-kelamaan akan berwarna kehijauan disertai mucus
(lendir), peningkatan frekuensi pernapasan, daerah muka, jengger dan pial
membesar.

4. Infeksi Salmonella sp.


Infeksi ayam oleh Salmonella sp. bisa mengakibatkan timbulnya
beberapa penyakit yaitu avian paratyphoid, fowl typhoid dan pullorum. Diantara
ketiga jenis penyakit tersebut, pullorum merupakan penyakit yang lebih sering
menginfeksi, terutama pada ayam. Penyakit pullorum ini identik dengan berak
kapur dan sering menyerang pada anak ayam. Kematian bisa mencapai 80% dan
puncak kematian pada umur 2-3 minggu setelah menetas. Dari gejala klinis,
ayam akan terlihat ngantuk, lemah, kehilangan nafsu makan dan diikuti dengan
kematian mendadak. Kotoran tersebut berwarna putih menyerupai kapur (pasta)
dan terkadang menempel pada dubur ayam. Perubahan saat nekropsi akan
terlihat adanya nekrosis (kematian jaringan) pada hati serta terkadang hati
mengalami pembengkakan. Pada saluran pencernaan tampak bintik-bintik putih
terutama pada mesenterium (penggantung usus,red) dan otot ventrikulus.
2.1 IDENTIFIKASI BAKTERI PADA SALURAN PENCERNAAN
Terdapat beberapa cara untuk identifikasi bakteri antara lain :
a) Pemeriksaan Mikroskopis
Pemeriksaan langsung digunakan untuk mengamati morfologi bentuk
dan ukuran sel bakteri, serta warna setelah mengalami fiksasi panas dan proses
pewarnaan (Koes Irianto, 2006).
b) Pembiakan Bakteri
Pembiakan diperlukan untuk mempelajari sifat bakteri untuk dapat
identifikasi atau differensiasi jenis-jenis yang ditemukan. Medium pembiakan
selektif digunakan untuk menyeleksi bakteri yang diperlukan dari campuran
dengan bakteri-bakteri lain yang terdapat dalam bahan pemeriksaan. Dengan
penambahan bahan tertentu bakteri yang dicari dapat dipisahkan dengan mudah.
c) Uji Biokimia
Sifat metabolisme bakteri dalam uji biokimia biasanya dilihat dari
interaksi metabolit-metabolit yang dihasilkan dengan reagen-reagen kimia.
Selain itu dilihat kemampuannyamenggunakan senyawa tertentu sebagai sumber
karbon dan sumber energy. Uji biokimia ini digunakan untuk mengidentifikasi
bakteri berdasarkan sifat biokimianya.
Berdasarkan identifikasi bakteri gram negatif dengan famili
Enterobacteriaceae memiliki morfologi berbentuk batang, gram-negatif, aerob
fakultatif, tidak memiliki cytochrome oxidase sehingga reaksi oksidase negatif.
Umumnya dapat diisolasi dari feses ataupun scrapping saluran pencernaan,
kemudian dibiakan pada agar mengandung laktosa dan indikator pH. Koloni yang
memfermentasi laktosa akan bersifart asam. E. coli memfermentasi laktosa,
Shigella, Salmonella dan Yersinia adalah non-fermenter. Non-pathogenic E. coli dan
bakteri enterik laktosa-positif lainnya lazim ditemukan dalam feses dan saluran
pencernaan. Karena sulit dibedakan dengan pathogenic E. coli, maka koloni laktosa-
negatif sering merupakan satu-satunya cara identifikasi dari feses. Semua
Enterobacteriaceae dapat diidentifikasi dengan uji biokimia.
Salah satu media uji biokimia yang digunakan adalah medium triple sugar
iron agar (TSIA), yang sering kali digunakan untuk embantu membedakan
Salmonella dn Shigella dari bakteri enterik batang gram negatif dari saluran
pencernaan. Untuk membedakan jenis bakteri enterik atau koliform juga
menggunkan uji pembentukan indol, pembentkan aam yang ditandai dengan adanya
indikator metil merah (MR), uji Voges-Proskauekars (VP) yaitu uji pembentukan
asetilmetilkarbinol (asetoin) dan uji sirat (C) yang menunjukkan penggunaan sitrat
sebagai sumber karbon (Sjoekoer, 2003)
2.2 MEDIA BIAKAN BAKTERI KOLIFORM
Bakteri koliform meliputi semua jenis aerobik, anaerobik fakultatif dan
bateri berbentuk batang yang dapat memfermentasikan laktosa dan glukosa.
Beberapa media selektif dan differensial digunakan dalam pengujian bakteri
koliform yang patogen, berikut ini adalah tabel pertumbuhan bakteri pada media
selektif :
Tabel 2.1 Karakteristik Pertumbuhan Bakteri Koliform (Indriani, 2008)

Bakteri Media Selektif Pengamatan Koloni

E. coli Mac Conkey Agar Koloni warna merah muda


terang.
EMB Agar
Koloni warna kehijauan dengan
bintik hitam ditengan koloni dan
warna kilap logam

Salmonella Mac Conkey Agar Koloni tidak berwarna.


SS Agar Koloni translucent (cerah)
denganbintik hitam ditengahnya,
dan dikelilingi zona transparan.

Shigella sp Mac Conkey Aga Koloni tidak berwarna.


SS agar Koloni warna merah muda
terang, translusent, dengan atau
tanpa pinggir koloni bergerigi
atau kasar.

Enterobacter sp Mac Conkey Agar Koloni warna merah muda


terang.
Chromocult
Koloni hijau toska, atau biru
kehijauan

2.3 PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN


Tindakan pengobatan yang dapat dilakukan jika ayam sudah terlanjur terserang
penyakit infeksi saluran pencernaan di atas, antara lain :
1. Segera pisahkan ayam yang positif terinfeksi NE, colibacillosis, kolera dan
pullorum tersebut,
2. Pengobatan NE dapat dilakukan dengan pemberian Ampicol, Doxytin,
Koleridin atau Neo Meditril. Sedangkan saat terjadi komplikasi antara NE dan
koksidiosis, obat yang dapat diberikan antara lain Therapy atau Duoko
3. Untuk menangani colibacillosis, obat yang dapat digunakan diantaranya
Ampicol, Amoxitin, Coliquin, Neo Meditril, Proxan-S, Tycotil, Therapy atau
Trimezyn.
4. Pada kasus serangan pullorum, dapat dilakukan pengobatan dengan
memberikan Proxan-S, Koleridin, Therapy, Trimezyn-S atau Vita Tetra Chlor
yang diberikan sesuai dosis dan aturan pakai
5. Untuk kasus infeksi kolera dapat diberikan antibiotik yang dapat diaplikasikan
melalui air minum seperti Amoxitin, Proxan-S atau Coliquin. Sedangkan jika
kejadian kolera sudah parah maka pilihlah antibiotik yang diberikan secara
suntikan seperti Gentamin, Medoxy LA, Medoxy-L atau Vet Strep.
6. Untuk semua kasus penyakit, setelah dilakukan pengobatan, berikan vitamin
seperti Vita Stress, Fortevit atau Vita Strong untuk membantu mempercepat
proses kesembuhan (recovery) (Medion, 2011).

Daftar Pustaka

Indriani. 208. Pengujian Mikrobiologi Pangan. BPOM RI. Jakarta.

Sjoekoer, M., Sari, I dan Zen, A. 2003. Bakteriologi medis. Tim mikrobiologi fakultas
kedokteran universitas brawijaya. Bayu media publishing. Malang.

Suprijatna, E. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Medion. 2011. Gangguan Pencernaan akibat infeksi bakteri. Info medion.


(Http://info.medion.co.id).