Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pengertian
Post partum adalah masa sesudah persalinan dapat juga disebut masa nifas
(puerperium) yaitu masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya
kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. Post partum adalah masa 6
minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi sampai kembali ke
keadaan normal sebelum hamil (Nugroho taufan,2011).
Masa nifas atau masa purpenium adalah masa setelah partus selesai dan
berakhir setelah kira-kira 6-8 minggu (Manjoer, A dkk, 2001). Akan tetapi
seluruh alat genetal baruh pulih kembali seperti sebelumnya ada kehamilan
dalam waktu 3 bulan. (Nugroho taufan,2011).
B. Klasifikasi
Masa nifas dibagi dalam 3 periode yaitu :
1. Post partum dini yaitu keputihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri,
berjalan-jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja
setelah 40 hari.
2. Post partum intermedial yaitu keputihan menyeluruh alat-alat genetalia
yang lamanya 6-8 minggu.
3. Post partum terlambat yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai
komplikasi untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau
tahunan.
C. Etiologi
Penyebab timbulnya persalinan sampai sekarang belum diketahui secara
pasti atau jelas terdapat beberapa teori antara lain :
1. Penurunan kadar progesterone
Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya estrogen
meninggikan ketentraman otot rahim.
2. Penurunan kadar progesterone
Pada akhir kehamilan kadar oxytocinbertambah, oleh karena itu timbul
kontraksi otot rahim.
3. Keregangan otot-otot
Dengan majunya kehamilan makin regang otot-otot dan otot-otot rahim
makin rentan.
4. Pengaruh janin
Hypofisis dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya juga memegang
peranan oleh karena itu pada enencephalus kehamilan sering lebih lama
dan biasa.
5. Teori prostaglandin
Teori prostaglandin yang dihasilkan dan decidua, disangka menjadi salah
satu sebab permulaan persalinan.
D. Patofisiologi
Dalam masa post partum atau masa nifas, alat-alat genetalia interna
maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum
hamil. Perubahan-perubahan alat genetal ini dalam keseluruhannya disebut
“involusi”. Disamping involusi terjadi perubahan-perubahan penting lain yakni
memokonsentrasi dan timbulnya laktasi yang terakhir ini karena pengaruh
lactogenik hormon dari kelenjar hipofisis terhadap kelenjar-kelenjar mama.
Otot-otot uterus berkontraksi segera post psrtum, pembuluh-pembuluh
darah yang ada antara nyaman otot-otot uretus akan terjepit. Proses ini akan
menghentikan pendarahan setelah plasenta lahir. Perubahan-perubahan yang
terdapat pada serviks ialah segera post partum bentuk serviks agak menganga
seperticorong, bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri terbentuk semacam
cincin. Peruabahan-perubahan yang terdapat pada endometrium ialah
timbulnya trombosis, degenerasi dan nekrosis ditempat implantasi plasenta
pada hari pertama endometrium yang kira-kira setebal 2-5 mm itu mempunyai
permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin regenerasi
endometrium terjadi dari sisa-sisa sel desidua basalis yang memakai waktu 2
sampai 3 minggu. Ligamen-ligamen dan diafragma palvis serta fasia yang
merenggang sewaktu kehamilan dan pertu setelah janin lahir berangsur-angsur
kembali seperti sedia kala.
E. Manifestasi Klinis
Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita
memasuki “bulannya atau minggunya atau harinya” yang disebut kala
pendahuluan (preparatory stage of labor) ini memberikan tanda-tanda sebagai
berikut :
1. Lightening atau setting atau droping yaitu kepala turun memasuki pintu atas
panggul terutama pada primigravida pada multipara tidak begitu kentara.
2. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
3. Perasaan sering atau susah kencing (potakisurla) karena kandung kemih
tertekan oleh bagian terbawa janin.
4. Perasaan sakit perut dan dipinggang oleh adanya kontraksi lemah dari
uterus, kadang disebut “false labor pains”.
5. Serviks menjadi lembek, mulai melebar dan sekresinya bertambah dan bisa
bercampur darah (bloody shoe).
F. Komplikasi
1. Perdarahan
Perdarahan post partum adalah perdarahan dalam kala IV lebih dari 500-
600 cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir.
2. Infeksi
Infeksi ini terjadi setelah persalinan, kuman masuk dalam tubuh pada saat
berlangsungnya proses persalinan. Diantaranya, saat ketuban pecah
sebelum maupun saat persalinan berlangsung sehingga menjadi jembatan
masuknya kuman dalam tubuh lewat rahim. Jalan masuk lainnya adalah
dari penolong persalinan sendiri, seperti alat-alat yang tidak steril
digunakan pada saat proses persalinan.
3. Penyakit blues
Post-partum blues (PPB) atau sering juga disebut maternity blues atau baby
blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan afek ringan yang sering
tampak dalam minggu pertama setelah persalinan atau pada saat fase taking
in, cenderung akan memburuk pada hari ketiga sampai kelima dan
berlangsung dalam rentang waktu 14 hari atau dua minggu pasca
persalinan.
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemerikasaan umum: tensi,nadi,keluhan dan sebagainya
2. Keadaan umum: TTV, selera makan dll
3. Payudara: air susu, putting
4. Dinding perut, perineum, kandung kemih, rectum
5. Sekres yang keluar atau lochea
6. Keadaan alat kandungan
H. Penatalaksanaan
1.Penatalaksanaan Medis
a) Observasi ketat 2 jam post partum (adanya komplikasi perdarahan)
b) 6-8 jam pasca persalinan : istirahat dan tidur tenang, usahakan miring
kanan kiri
c) Hari ke- 1-2 : memberikan KIE kebersihan diri, cara menyusui yang
benar dan perawatan payudara, perubahan-perubahan yang terjadi pada
masa nifas, pemberian informasi tentang senam nifas.
d) Hari ke-2 : mulai latihan duduk
e) Hari ke-3 : diperkenankan latihan berdiri dan berjalan6-8 jam pasca
persalinan : istirahat dan tidur tenang, usahakan miring kanan kiri
I. Pathway
POST PARTUM

Perubahan fisiologis Sistem endokrin Perubahan Psikologis

Ruptur perineum Produksi Hormon Taking hold


Taking in
(Ketergantungan) (Ketergantungan
kemandirian)
Terputusnya Media Prolactin
kontinuitas Butuh
berkembangnya
jaringan perlindungan dan Belajar
kuman
Produksi Asi pelayanan perawatan diri
Pelepasan mediator dan bayi
Personal
kimia(bradikidin,his Berfokus pd diri
hygiene kurang Ketidakcukupan air
tamin,prostaglandin) sendiri dan lemas Butuh informasi
baik susu ibu

Korteks serebri
Risiko Infeksi Gangguan Pola Kurang
Nyeri dipersepsikan Tidur pengetahuan

Nyeri Akut
Ansietas
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas Pasien
2. Keluhan Utama
Sakit perut, perdarahan, nyeri pada luka jahitan, takut bergerak
3. Riwayat Kehamilan
Umur kehamilan serta riwayat penyakit menyetai
4. Riwayat Persalinan
a) Tempat persalinan
b) Normal atau terdapat komplikasi
c) Keadaan bayi
d) Keadaan ibu
5. Riwayat nifas yang lalu
a) Pengeluaran ASI lancar / tidak
b) BB bayi
c) Riwayat ber KB / tidak
6. Pemeriksaan Fisik
7. Keadaan umum pasien
a) Abdomen
b) Saluran cerna
c) Alat kemih
d) Lochea
e) Vagina
f) Perinium dan rectum
g) Ekstremitas
h) Kemampuan perawatan diri
8. Pemeriksaan Psikologis
a) Respon dan persepsi keluarga
b) Status psikologis ayah, respon keluarga terhadap bayi
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b/d agen injuri fisik (peregangan perineum; luka episiotomi;
involusi uteri; hemoroid; pembengkakan payudara).
2. Ketidakcukupan ASI b/d produksi hormone menurun
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ansietas
4. Defisiensi pengetahuan b/d kurang informasi, kurang pengetahuan
5. Risiko Infeksi b/d trauma jalan lahir
C. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan Intervensi
Keperawatan
1 Nyeri akut NOC NIC
1. Pain level Pain Management
2. Pain control 1. Lakukan pengkajian
3. Comfort level nyeri secara
Kriteria Hasil: komprehensif
1. Mampu termasuk lokasi
mengontrol nyeri karakteristik, durasi,
(tahu penyebab frekuensi, kualitas,
nyeri, mampu dan faktor
menggunakan presipitasi
teknik 2. Observasi reaksi
nonfarmakologi nonverbal dari
untuk mengurangi ketidaknyamanan
nyeri, mencari 3. Gunakan teknik
bantuan) komunikasi
terapeutik untuk
2. Melaporkan mengetahui
bahwa nyeri pengalaman nyeri
berkurang dengan pasien
menggunakan 4. Kaji kultur yang
manajemen nyeri mempengaruhi
respon nyeri
3. Mampu mengenali 5. Evaluasi
nyeri (skala, pengalaman nyeri
intensitas, masa lampau
frekuensi, dan 6. Evaluasi bersama
tanda nyeri) pasien dan tim
kesehatan lain
4. Mampu tentang
menyatakan rasa ketidakefekstifan
nyaman setelah kontrol nyeri masa
nyeri berkurang lampau
7. Bantu pasien dan
keluarga untuk
mencari dan
menemukan
dukungan
8. Kontrol lingkungan
yang dapat
mempengaruhi
nyeri seperti suhu
ruangan,
pencahayaan, dan
kebisingan
9. Kurangi faktor
presipitasi nyeri
10. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi,
nonfarmakologi,
dan interpersonal)
11. Kaji tipe dan
sumber nyeri untuk
menentukan
intervensi
12. Ajarkan tentang
teknik
nonfarmakologi
13. Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
14. Evaluasi keefektifak
kontrol nyeri
15. Tingkatkan istirahat
16. Kolaborasikan
dengan dokter jika
ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak
berhasil
17. Monitor penerimaan
pasien tentang
manajemen nyeri
Analgesic
Administration
1. Tentukan lokasi,
karakteristik,
kualitas, dan
derajta nyeri
sebelum pemberian
obat
2. Cek intruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis, dan
frekuensi
3. Cek riwayat alergi
4. Pilih analgesik
yang diperlukan
atau kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih
dari satu
5. Tentukan pilihan
analgesik
tergantung tipe dan
beratnya nyeri
6. Tentukan analgesik
pilihan, rute
pemberian, dan
dosis optimal
7. Pilih rute
pemberian secara
IV, IM, untuk
pengobatan nyeri
secara teratur
8. Monitor vital
signsebekum dna
sesudah pemberian
analgesik pertama
kali
9. Berikan analgesik
tepat waktu
terutama saat nyeri
hebat
10. Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda
dan gejala

2 Ketidakcukupan ASI Setelah diberikan NIC


asuhan keperawatan Breastfeeding
selama …x24 jam Assistance
diharapkan produksi 1. Evaluasi pola
asi lancer/mencukupi menghisap/menelan
dengan kriteria hasil: bayi
1. Kemantapan 2. Tentukan keinginan
pemberian ASI: dan motivasi ibu
Bayi: perlekatan untuk menyusui
bayi dan proses 3. Evaluasi
menghisap pemahaman ibu
payudara ibu tentang isyarat
untuk memperoleh menyusui dari bayi
nutrisi selama 3 (misalnya reflex
minggu pertama rooting, menghisap
pemberian ASI dan terjaga)
2. Kemantapan 4. Kaji kemampuan
pemberian ASI: bayi untuk latch-on
Ibu: kemantapan dan menghisap
ibu untuk secara efektif
membuat bayi 5. Pantau keterampilan
melekat dengan ibu dlaam
tepat dan menyusu menempelkan bayi
dari payudara ibu ke putting
untuk memperoleh 6. Pantau integritas
nutrisi selama 3 kulit putting ibu
minggu pertama 7. Evaluasi
pemberian ASI pemahaman tentang
3. Pemeliharaan sumbatan kelenjar
pemberian ASI : susudan mastitis
keberlangsungan 8. Pantau kemampuan
pemberian ASI untuk mengurangi
untuk kongesti payudara
menyediakan dengan benar
nutrisi bagi 9. Pantau berat badan
bayo/toddler dan pola eliminasi
4. Penyapihan bayi
pemberian ASI Breast examination
5. Diskontinuitas Lactation Supression
progresif 1. Fasilitasi proses
pemberian ASI bantuan interaktif
6. Pengetahuan untuk membantu
pemberian ASI: mempertahankan
tingkat keberhasilan proses
pemahaman yang pemberian ASI
ditunjukka 2. Sediakan informasi
mengenai laktasi tentang laktasi dan
dan pemberian teknik memompa
makanan bayi ASI (secara manual
melalui proses atau dengan pompa
pemberian ASI elektrik), cara
7. Ibu mengenali mengumpulkan dan
isyarat lapar dari menyimpan ASI
bayi dengan 3. Ajarkan pengasuh
segera bayi mengenai
8. Ibu topik-topik seperti
mengindikasikan penyimpanan dan
kepuasan terhadap pencairan ASI dan
pemberian ASI penghindaran
9. Ibu tidak memberi susu botol
mengalami nyeri pada dua jam
tekan pada putting sebelum ibu pulang
10. Mengenali tanda- 4. Ajarkan orang tua
tanda penurunan mempersiapkan,
suplai ASI menyimpan,
menghangatkan dan
kemungkinan
pemberian
tambahan susu
formula
5. Apabila penyapihan
dipelukan,
informasikan ibu
mengenai
kembalinya proses
ovulasi dan seputar
alat kontrasepsi
yang sesuai.
Lactation Counseling
1. Sediakan informasi
tentang keuntungan
dan kerugian
pemberian ASI
2. Demonstrasikan
latihan menghisap,
jika perlu
3. Diskusikan metode
alternative
pemberian makan
bayi

3 Gangguan Pola Tidur Setelah dilakukan NIC


asuhan keperawatan Sleep
selama... x 24 jam Echancement
diharapkan px tidak 1. Determinasi efek-
terganggu saat tidur efek medikasi
dengan kriteria hasil : terhadap pola
1. Jumlah jam tidur tidur.
dalam batas 2. Jelaskan
normal 6-8 pentingnya tidur
jam/hari. yang adekuat.
2. Pola tidur, 3. Fasilitas untuk
kualitas dalam mempertahankan
batas normal. aktivitas sebelum
3. Perasaan segar tidur (membaca).
sesudah tidur atau 4. Ciptakan
istirahat. lingkungan yang
4. Mampu nyaman.
mengidentifikasi 5. Kolaborasi
hal-hal yang pemberian obat
meningkatkan tidur.
tidur. 6. Diskusikan
dengan pasien dan
keluarga tentang
teknik tidur
pasien.
7. Instruksikan untuk
memonitor tidur
pasien.
8. Monitor waktu
makan dan minum
dengan waktu
tidur.
9. Monitor/catat
kebutuhan tidur
pasien setiap hari
dan jam.

4 Difisiensi Setelah diberikan NIC


Pengetahuan asuhan keperawatan Teaching : disease
diharapkan defisiensi proces
pengetahuan pasien 1. Berikan penilaian
teratasi dengan tentang tingkat
kriteria hasil: pengetahuan pasien
1. Pasien dan tentang proses
keluarga penyakit yang
menyatakan spesifik
tentang penyakit, 2. Jelaskan
kondisi, prognosis patofisiologi dari
dan program penyakit dan
pengobatan bagaimana hal ini
2. Pasien dan berhungan dengan
keluarga mampu anatomi dan
melaksanakan fisiologi ,dengan
prosedur yang cara yang tepat.
dijelaskan secara 3. Gambarkan tanda
benar. dan gejala yang
3. Pasien dan biasa pada penyakit,
keluarga mampu dengan tanda yang
menjelaskan tepat
kembali apa yang 4. Identifikasi
dijelaskan kemungkinan
perawat/tim penyebab, dengan
kesehatan lainnya. cara yang tepat
5. Sediakan informasi
pada pasien tentang
kondisi, dengan
cara yang tepat
6. Hindari jaminan
yang kosong
7. Sediakan bagi
keluarga atau SO
informasi tentang
kemajuan pasien
dengan cara yang
tepat
8. Diskusikan
perubahan gaya
hidup yang
mungkin diperlukan
untuk mencegah
komplikasi yang
akan datang dan
atau proses
pengontrolan
penyakit.
9. Diskusikan pilihan
terapi atau
penanganan.
10. Dukung pasien
untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan
second informasi
atau opinion dengan
cara yang tepat atau
diindikasikan.
11. Rujuk pasien pada
grup atau agensi di
komunitas lokal,
dengan cara yang
tepat.
Instruksikan pasien
mengenai tanda dan
gejala untuk
melaporkan pada
pemberi perawatan
kesehatan, dengan cara
yang tepat.
5 Risiko Infeksi Setelah dilakukan NIC
asuhan keperawatan Kontrol Infeksi
selama …. X 24 jam 1. Bersihkan
diharapkan status lingkungan setelah
kekebalan px dipakai px lain
meningkat dengan 2. Pertahankan teknik
KH : isolasi
1. Klien bebas dari 3. Batasi pengunjung
tanda dan gejala bila perlu
infeksi 4. Instruksikan pada
2. Mendeskripsikan pengunjung untuk
proses penularan mencuci tangan saat
penyakit , faktor berkunjung dan
yang setelah berkunjun
memengaruhi meninggalkan px
penularan serta 5. Gunakan sabun
penatalaksanaanny antimikroba untuk
a cuci tangan
3. Menunjukkn 6. Cuci tangan setiap
kemampuan untuk sebelum dan
mencegahtimbuny sesudah tindakan
a infeksi kolaboratif
4. Jumlah leukosit 7. Gunakan
dalam batas baju,sarung tangan
normal sebagai alat
5. Menunjukkan pelindung
perilaku hidup 8. Pertahankan
sehat lingkungan aseptik
selama pemasangan
alat
9. Ganti letak IV
perifer dan line
central dan dressing
sesuai dg petunjuk
10. Gunakan kateter
intermiten utk
menurunkan infeksi
kandung kemih
11. Tingkatkan intake
nutrisi
12. Berikan terapi
antibiotik bila perlu
infection protection
(proteksi terhadap
infeksi)
13. Monitor tanda dan
gejala infeksi
sistemik dan lokal
14. Monitor hitung
granulosit, WBC
15. Monitor kerentanan
terhadap infeksi
16. Pertahankan teknik
aseptik pd px yg
beresiko
17. Pertahankan teknik
isolasi k/p
18. Berikan perawatan
kulit pada area
epidema
19. Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap
kemerahan, panas
dan drainase
20. Inspeksi kondisi
luka/insisi bedah
21. Dorong masukan
nutrisi yg cukup
22. Dorong masukan
cairan
23. Dorong istirahat
24. Instruksikan px utk
minum antibiotik
sesuai resep
25. Ajarkan px dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi
26. Ajarkan cara
menghindari infeksi
27. Laporkan
kecurigaan infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Ismadi, Ahmad. 2017. Laporan Pendahuluan Post Natal Care.

www.scribd.com. Diakses tanggal 17 Januari 2018

Nugroho, Taufan. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah, dan

Penyakit Dalam. Yogyakarta: Nuha Medika

Wikinson, Judith M 2017. Diagnosa Keperawatan: Diagnosa Nanda-I,

Intervensi NIC, Hasil NOC, Ed10. EGC