Anda di halaman 1dari 13

Strategi pemerintah dalam menghadapi mea

MEA atau Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 (bahasa Inggris: ASEAN Economic
Community (AEC)) adalah sebuah integrasi ekonomi ASEAN dalam menghadapi
perdagangan bebas antarnegara-negara ASEAN.Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015
merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara yang telah dilakukan secara bertahap mulai
KTT ASEAN di Singapura pada tahun 1992.MasyarakatEkonomi ASEAN ini ditargetkan
akan tercapai pada tahun 2015.
Tujuan dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) untuk meningkatkan stabilitas
perekonomian di kawasan ASEAN, serta diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah di
bidang ekonomi antar negara ASEAN
Dampak terciptanya MEA adalah terciptanya pasar bebas di bidang permodalan, barang dan
jasa, serta tenaga kerja. Konsekuensi atas kesepakatan MEA yakni dampak aliran bebas
barang bagi negara-negara ASEAN, dampak arus bebas jasa, dampak arus bebas investasi,
dampak arus tenaga kerja terampil, dampak arus bebas modal.
Dalammenghadapi MEA, pemerintah diharapkan mampu mempersiapkan segala sesuatunya.
Pemerintah Indonesia sudah mempersiapkan tiga langkah strategis dalam menghadapi MEA
yaitu dalam sektor tenaga kerja, sektor industri dan sektor perdagangan.

Dalam sector tenaga kerja ini menyangkut tentang masalah pendidikan yang akan
menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pemerintah melakukan pengembangan
kurikulum pendidikan yang sesuai dengan MEA.Pendidikan sebagai pencetak sumber daya
manusia (SDM) berkualitas menjadi jawaban terhadap kebutuhan sumber daya manusia. Oleh
karena itu meningkatkan standar mutu sekolah menjadi keharusan agar lulusannya siap
menghadapi persaingan.Mendikbud AniesBaswedan mengatakan, meningkatkan standar
mutu pendidikan salah satunya dengan menguatkan faktor pendidikan, yaitu kepala sekolah,
guru, dan orang tua. Menurutnya, kepemimpinan kepala sekolah menjadi kunci tumbuhnya
ekosistem pendidikan yang baik. Guru juga perlu dilatih dengan metode yang tepat, yaitu
mengubah pola pikir guru.Kegiatan sosialisasi pada masyarakat juga harus ditingkatkan
misalnya dengan Iklan Layanan Masyarakat tentang MEA yang berusaha menambah
kesiapan masyarakat menghadapinya.

Dalam bidang Perindustrian, Menteri Perindustrian Saleh Husin juga memaparkan strategi
Kementrian Perindustrian menghadapi MEA yaitu dengan strategi ofensif dan defensif.
Strategi ofensif yang dimaksud meliputi penyiapan produk-produk unggulan. Dari pemetaan
Kemenperin, produk unggulan dimaksud adalah industri agro seperti kakao, karet, minyak
sawit, tekstil dan produk tekstil, alas kaki kulit, mebel, makanan dan minimum, pupuk dan
petrokimia, otomotif, mesin dan peralatan, serta produk logam, besi, dan baja. Adapun
strategi defensive dilakukan melalui penyusunan Standar Nasional Indonesia untuk produk-
produk manufaktur.(www.kemenperin.go.id)

Dijelaskan Menteri Perindustrian, Saleh Husin, strategi ofensif dilakukan dengan


membangun pusat pendidikan dan pelatihan industri.
“Implementasi dilakukan berkaitan dengan penguatan sektor Industri Kecil Menengah antara
lain pemberian insentif bagi IKM melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan,” kata
Saleh di Jakarta, Senin (6/7/2015).
Selainitu, kata Saleh, pihaknya juga sedang fokus mengembangkan wirausaha industri
melalui pelatihan wirausaha baru dan bantuan start up capital. Sementara untuk strategi
defensif, dilakukan dengan konsentrasi pada penyusunan Standar Nasional Indonesia untuk
produk-produk manufaktur. Saat ini sudah tersusun 50 Standar Kompetensi Kerja Nasional
Indonesia (SKKNI) sektor industri serta 25 Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) danTempat Uji
Kompetensi (TUK).
Secara progresif diupayakan penambahan 15 SKKNI dan 10 LSP sektor industri tiap
tahunnya, diutamakan bidang industri prioritas.
Menperin juga menekankan pengembangan industri kecil dan menengah yang termasuk
dalam program ofensif. Di antaranya dilakukan dengan memberifasilitas akses permodalan
bagi IKM melalui Kredit Usaha Rakyat, Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL),
Modal Ventura dan Corporate Service of Responsibility (CSR).
“Menurut data BPS, hinggatahun 2013, jumlah unit usaha IKM mencapai 3,4juta unit
danmenyerap 9,7 juta orang tenaga kerja. Angka itu bakal ditingkatkan lagi melalui
percepatan pertumbuhan wirausaha,” kata Saleh.

Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel punya langkah-langkah yang akan dilakukan untuk
menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2019. Salah satunya adalah
mencanangkan Nawa Cita Kementerian Perdagangan, dengan menetapkan target ekspor
sebesar tiga kali lipat selama lima tahun kedepan. Cara tersebut bisa dilakukan dengan
membangun 5.000 pasar, pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta
peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Adapun target ekspor pada 2015 dibidik
sebesar US$192,5miliar. Selanjutnya pemerintah juga menyiapkan strategi subsititusi impor
untuk meningkatkan ekspor, dan memberi nilai tambah produk dalam negeri. Pada saat ini 65
persen ekspor produk Indonesia masih mengandalkan komoditas mentah.Pemerintahberusaha
membalik struktur ekspor ini yaitu dari komoditi primer kemanufaktur, dengan komposisi 35
persen komoditas dan 65 persen manufaktur. Oleh karena itu, industri manufaktur diharapkan
tumbuh dan fokus pada peningkatan kapasitas produksi, untuk meningkatkan ekspor sampai
2019.

Pemerintah juga mendekati industri yang berpotensi menyumbang peningkatan ekspor,


misalnya industri otomotif. Diketahui, industri otomotif berencana mengekspor 50 ribusepeda
motor ke Filipina. Kementerian Perdagangan juga mendorong sektor mebeluntuk semakin
menggenjot ekspornya. Selain itu, sektor perikanan juga memberikan optimisme terhadap
peningkatan ekspor Indonesia.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan memperkuat produk UKM dengan membina melalui
kemasan, sertifikasi halal, pendaftaran merek, dan meningkatkan daya saing produk dalam
negeri. Lalu, mereka juga memfasilitasi pelaku UKM dalam pameran berskala internasional.
Melalui fasilitas itu, Kementerian Perdagangan berharap, produk serta merek yang dibangun
oleh pelaku UKM di Indonesia dapat dikenal secara global.

Sumber :
http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/150-artikel-keuangan-umum/20545-
masyarakat-ekonomi-asean-mea-dan-perekonomian-indonesia
https://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat_Ekonomi_ASEAN
http://www.tribunnews.com/bisnis/2015/07/06/indonesia-pakai-strategi-ganda-hadapi-mea
http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010/edef-konten-view.asp?id=20150121190607015674933
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan Perekonomian
Indonesia
Dibuat: Kamis, 12 Februari 2015 08:23
Ditulis oleh G.T. Suroso

Oleh

G.T. Suroso

Widyaiswara BPPK

Abstrak

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 merupakan realisasi pasar bebas di Asia
Tenggara yang telah dilakukan secara bertahap mulai KTT ASEAN di Singapura pada tahun
1992. Tujuan dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) untuk meningkatkan
stabilitas perekonomian di kawasan ASEAN, serta diharapkan mampu mengatasi masalah-
masalah di bidang ekonomi antar negara ASEAN. Konsekuensi atas kesepakatan MEA
tersebut berupa aliran bebas barang bagi negara-negara ASEAN, dampak arus bebas jasa,
dampak arus bebas investasi, dampak arus tenaga kerja terampil, dan dampak arus bebas
modal. Hal-hal tersebut tentunya dapat berakibat positif atau negative bagi perekonomian
Indonesia. Oleh karena itu dari sisi pemerintah juga dilakukan strategi dan langkah-langkah
agar Indonesia siap dan dapat memanfaatkan momentum MEA.

Kata kunci : MEA, dampak positif, dampak negatif, perekonomian, strategi


pemerintah

Dari AFTA menuju MEA

Indonesia termasuk salah satu negara dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
atau ASEAN Economic Community (AEC) yang akan bergulir mulai akhir tahun 2015 ini.
MEA merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara yang sebelumnya telah disebut
dalam Framework Agreement on Enhancing ASEAN Economic Cooperation pada tahun
1992. Pada pertemuan tingkat Kepala Negara ASEAN (ASEAN Summit) ke-5 di Singapura
pada tahun 1992 tersebut para Kepala Negara mengumumkan pembentukan suatu kawasan
perdagangan bebas di ASEAN (AFTA) dalam jangka waktu 15 tahun. Kemudian dalam
perkembangannya dipercepat menjadi tahun 2003, dan terakhir dipercepat lagi menjadi tahun
2002. (www.tarif.depkeu.go.id)

Pembentukan MEA berawal dari kesepakatan para pemimpin ASEAN dalam


Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pada Desember 1997 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Kesepakatan ini bertujuan meningkatkan daya saing ASEAN serta bisa menyaingi Tiongkok
dan India untuk menarik investasi asing. Modal asing dibutuhkan untuk meningkatkan
lapangan pekerjaan dan kesejahteraan warga ASEAN. Saat itu, ASEAN meluncurkan inisiatif
pembentukan integrasi kawasan ASEAN atau komunitas masyarakat ASEAN melalui
ASEAN Vision 2020 saat berlangsungnya ASEAN Second Informal Summit. Inisiatif ini
kemudian diwujudkan dalam bentuk roadmap jangka panjang yang bernama Hanoi Plan of
Action yang disepakati pada 1998.

Pada KTT selanjutnya Indonesia merupakan salah satu inisiator pembentukan MEA
yaitu dalam Deklarasi ASEAN Concord II di Bali pada 7 Oktober 2003 dimana Para Petinggi
ASEAN mendeklarasikan bahwa pembentukan MEA pada tahun 2015
(nationalgeographic.co.id). Pembentukan Komunitas ASEAN ini merupakan bagian dari
upaya ASEAN untuk lebih mempererat integrasi ASEAN. Selain itu juga merupakan upaya
evolutif ASEAN untuk menyesuaikan cara pandang agar dapat lebih terbuka dalam
membahas permasalahan domestik yang berdampak pada kawasan tanpa meninggalkan
prinsip-prinsip utama ASEAN, yaitu: saling menghormati (Mutual Respect), tidak
mencampuri urusan dalam negeri (Non-Interfence), konsensus, diaog dan konsultasi.
Komunitas ASEAN terdiri dari tiga pilar yang termasuk di dalamnya kerjasama di bidang
ekonomi, yaitu: Komonitas Keamanan ASEAN (ASEAN Security Comunity/ASC), Komunitas
Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC) dan Komunitas Sosial Budaya
ASEAN (ASEAN Sosio-Cultural Community/ASCC).

Tujuan dibentuknya MEA untuk meningkatkan stabilitas perekonomian dikawasan


ASEAN, serta diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah dibidang ekonomi antar
negara ASEAN. Selama hampir dua dekade , ASEAN terdiri dari hanya lima negara -
Indonesia , Malaysia , Filipina , Singapura , dan Thailand - yang pendiriannya pada tahun
1967. Negara-negara Asia Tenggara lainnya yang tergabung dalam waktu yang berbeda
yaitu Brunei Darussalam (1984), Vietnam (1995 ) , Laos dan Myanmar (1997 ) , dan
Kamboja (1999 ).

Dampak MEA

Gambaran karakteristik utama MEA adalah pasar tunggal dan basis produksi;
kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi; kawasan dengan pembangunan ekonomi yang
adil; dan kawasan yang terintegrasi ke dalam ekonomi global. Dampak terciptanya MEA
adalah terciptanya pasar bebas di bidang permodalan, barang dan jasa, serta tenaga kerja.
Konsekuensi atas kesepakatan MEA yakni dampak aliran bebas barang bagi negara-negara
ASEAN, dampak arus bebas jasa, dampak arus bebas investasi, dampak arus tenaga kerja
terampil, dan dampak arus bebas modal.

.Dari karakter dan dampak MEA tersebut di atas sebenarnya ada peluang dari
momentum MEA yang bisa diraih Indonesia. Dengan adanya MEA diharapkan
perekonomian Indonesia menjadi lebih baik. Salah satunya pemasaran barang dan jasa dari
Indonesia dapat memperluas jangkauan ke negara ASEAN lainnya. Pangsa pasar yang ada di
Indonesia adalah 250 juta orang. Pada MEA, pangsa pasar ASEAN sejumlah 625 juta orang
bisa disasar oleh Indonesia. Jadi, Indonesia memiliki kesempatan lebih luas untuk memasuki
pasar yang lebih luas. Ekspor dan impor juga dapat dilakukan dengan biaya yang lebih
murah. Tenaga kerja dari negara-negara lain di ASEAN bisa bebas bekerja di Indonesia.
Sebaliknya, tenaga kerja Indonesia (TKI) juga bisa bebas bekerja di negara-negara lain di
ASEAN.

Dampak Positif lainnya yaitu investor Indonesia dapat memperluas ruang investasinya
tanpa ada batasan ruang antar negara anggota ASEAN. Begitu pula kita dapat menarik
investasi dari para pemodal-pemodal ASEAN. Para pengusaha akan semakin kreatif karena
persaingan yang ketat dan para professional akan semakin meningkatakan tingkat skill,
kompetansi dan profesionalitas yang dimilikinya.

Namun, selain peluang yang terlihat di depan mata, ada pula hambatan menghadapi
MEA yang harus kita perhatikan. Hambatan tersebut di antaranya : pertama, mutu pendidikan
tenaga kerja masih rendah, di mana hingga Febuari 2014 jumlah pekerja berpendidikan SMP
atau dibawahnya tercatat sebanyak 76,4 juta orang atau sekitar 64 persen dari total 118 juta
pekerja di Indonesia. Kedua, ketersediaan dan kualitas infrastuktur masih kurang sehingga
mempengaruhi kelancaran arus barang dan jasa. Menurut Global Competitiveness Index
(GCI) 2014, kualitas infrastruktur kita masih tertinggal dibandingkan negara Singapura,
Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand. .Ketiga, sektor industri yang rapuh karena
ketergantungan impor bahan baku dan setengah jadi. Keempat, keterbatasan pasokan energi.
Kelima, lemahnya Indonesia menghadapi serbuan impor, dan sekarang produk impor
Tiongkok sudah membanjiri Indonesia. Apabila hambatan-hambatan tadi tidak diatasi maka
dikhawatirkan MEA justru akan menjadi ancaman bagi Indonesia.

MEA dan kebijakan pemerintah

Menjelang MEA yang sudah di depan mata, pemerintah Indonesia diharapkan dapat
mempersiapkan langkah strategis dalam sektor tenaga kerja, sektor infrastuktur, dan sektor
industri. Dalam menghadapi MEA, Pemerintah Indonesia menyiapkan respon kebijakan yang
berkaitan dengan Pengembangan Industri Nasional, Pengembangan Infrastruktur,
Pengembangan Logistik, Pengembangan Investasi, dan Pengembangan Perdagangan
(www.fiskal.depkeu.go.id). Selain hal tersebut masing-masing Kementrian dan Lembaga
berusaha mengantisipasi MEA dengan langkah-langkah strategis.

Pemerintah berusaha mengubah paradigma kebijakan yang lebih mengarah ke


kewirausahaan dengan mengedepankan kepentingan nasional. Untuk bisa menghadapi
persaingan MEA, tidak hanya swasta (pelaku usaha) yang dituntut harus siap namun juga
pemerintah dalam bentuk kebijakan yang pro pengusaha.

Negara lain sudah berpikir secara entrepreneurial (wirausaha), bagaimana agar


pemerintah berjalan dan berfungsi laksana seubah organisasi entrepreneurship yang
berorientasi pada hasil. Maka dengan momentum MEA ini sudah tiba saatnya pemerintah
Indonesia mengubah pola pikir lama yang cenderung birokratis dengan pola pikir
entrepreneurship yang lebih taktis, efektif dan efisien. Sebagai contohnya adalah kebijakan
subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp 300 triliun (US$ 30 miliar) yang kurang
produktif diarahkan kepada pembiayayaan yang lebih produktif misalnya investasi
infrastruktur.

Dalam bidang pendidikan, Pemerintah juga dapat melakukan pengembangan


kurikulum pendidikan yang sesuai dengan MEA. Pendidikan sebagai pencetak sumber daya
manusia (SDM) berkualitas menjadi jawaban terhadap kebutuhan sumber daya manusia. Oleh
karena itu meningkatkan standar mutu sekolah menjadi keharusan agar lulusannya siap
menghadapi persaingan.
Kegiatan sosialisasi pada masyarakat juga harus ditingkatkan misalnya dengan Iklan Layanan
Masyarakat tentang MEA yang berusaha menambah kesiapan masyarakat menghadapinya.

Mendikbud Anies Baswedan mengatakan, meningkatkan standar mutu pendidikan


salah satunya dengan menguatkan aktor pendidikan, yaitu kepala sekolah, guru, dan orang
tua. Menurutnya, kepemimpinan kepala sekolah menjadi kunci tumbuhnya ekosistem
pendidikan yang baik. Guru juga perlu dilatih dengan metode yang tepat, yaitu mengubah
pola pikir guru.

Dalam bidang Perindustrian, Menteri Perindustrian Saleh Husin juga memaparkan


strategi Kementrian Perindustrian menghadapi MEA yaitu dengan strategi ofensif dan
defensif. Strategi ofensif yang dimaksud meliputi penyiapan produk-produk unggulan. Dari
pemetaan Kemenperin, produk unggulan dimaksud adalah industri agro seperti kakao, karet,
minyak sawit, tekstil dan produk tekstil, alas kaki kulit, mebel, makanan dan minimum,
pupuk dan petrokimia, otomotif, mesin dan peralatan, serta produk logam, besi, dan baja.
Adapun strategi defensive dilakukan melalui penyusunan Standar Nasional Indonesia untuk
produk-produk manufaktur.(www.kemenperin.go.id)

Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel punya langkah-langkah yang akan dilakukan


untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2019. Salah satunya adalah
mencanangkan Nawa Cita Kementerian Perdagangan, dengan menetapkan target ekspor
sebesar tiga kali lipat selama lima tahun ke depan. Cara tersebut bisa dilakukan dengan
membangun 5.000 pasar, pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta
peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Adapun target ekspor pada 2015 dibidik
sebesar US$192,5 miliar. Selanjutnya pemerintah juga menyiapkan strategi subsititusi impor
untuk meningkatkan ekspor, dan memberi nilai tambah produk dalam negeri. Pada saat ini 65
persen ekspor produk Indonesia masih mengandalkan komoditas mentah.Pemerintah
berusaha membalik struktur ekspor ini yaitu dari komoditi primer ke manufaktur, dengan
komposisi 35 persen komoditas dan 65 persen manufaktur. Oleh karena itu, industri
manufaktur diharapkan tumbuh dan fokus pada peningkatan kapasitas produksi, untuk
meningkatkan ekspor sampai 2019.

Pemerintah juga mendekati industri yang berpotensi menyumbang peningkatan


ekspor, misalnya industri otomotif. Diketahui, industri otomotif berencana mengekspor 50
ribu sepeda motor ke Filipina. Kementerian Perdagangan juga mendorong sektor mebel untuk
semakin menggenjot ekspornya. Selain itu, sektor perikanan juga memberikan optimisme
terhadap peningkatan ekspor Indonesia.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan memperkuat produk UKM dengan membina
melalui kemasan, sertifikasi halal, pendaftaran merek, dan meningkatkan daya saing produk
dalam negeri. Lalu, mereka juga memfasilitasi pelaku UKM dalam pameran berskala
internasional. Melalui fasilitas itu, Kementerian Perdagangan berharap, produk serta merek
yang dibangun oleh pelaku UKM di Indonesia dapat dikenal secara global.

Daftar Pustaka
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/585426-jurus-kementerian-perdagangan-hadapi-mea-
2019

http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010/edef-konten-view.asp?id=20150121190607015674933

http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/12/pahami-masyarakat-ekonomi-asean-mea-
2015#

http://www.asean.org/component/itpgooglesearch/search?gsquery=asean+economic+commu
nity

http://apindo.or.id/id/fta/asean-economic-community/latar-belakang

http://www.kemangmedicalcare.com/kmc-tips/tips-dewasa/2883-pengaruh-era-mea-
masyarakat-ekonomi-asean-2015-terhadap-tenaga-kesehatan-profesional-di-indonesia.html

http://www.tarif.depkeu.go.id/Others/?hi=AFTA

http://www.kemenperin.go.id/artikel/10920/Strategi-Kementerian-Perindustrian-Hadapi-
MEA
The government's strategy in the face of mea
MEA or the 2015 ASEAN Economic Community (English: the ASEAN Economic
Community (AEC)) is an ASEAN economic integration in the face of free trade between
countries-country Asean Economic ASEAN.Masyarakat (AEC) in 2015 was the realization
of a free market in Southeast Asia that has been done gradually began the ASEAN Summit in
Singapore in ASEAN 1992.MasyarakatEkonomi is targeted to be achieved by 2015.
The purpose of the establishment of the ASEAN Economic Community (AEC) to enhance
economic stability in the ASEAN region, and is expected to overcome the problems in the
economic field between ASEAN countries
The impact of the creation of MEA is the creation of a free market in the field of capital,
goods and services, and labor. The consequences of the agreement MEA that impact the free
flow of goods to the ASEAN countries, the impact of the free flow of services, the impact of
the free flow of investment, the impact of the flow of skilled labor, the impact of the free flow
of capital.
Dalammenghadapi MEA, the government is expected to prepare everything. Indonesian
government has prepared three strategic steps in the face of MEA that is in the labor sector,
industry and trade sectors.
In the labor sector is concerned about the problem of education that will produce quality
human resources. The government made the development of educational curricula in
accordance with the printer MEA.Pendidikan as human resources (HR) quality of the answer
to the needs of human resources. Therefore, improving the standard of school quality is a
must in order to graduate ready for persaingan.Mendikbud AniesBaswedan say, improve the
quality standards of education either by reinforcing education factor, which is the principal,
teachers, and parents. According to him, the leadership of the principal to be the key growth
ecosystem good education. Teachers also need to be trained in proper methods, is to change
the mindset guru.Kegiatan socialization in the community must also be improved for instance
by public service announcements about the MEA are trying to increase the readiness of
people to deal with.
In the field of Industry, the Minister of Industry Saleh Husin also explained the strategy that
the Ministry of Industry facing MEA with offensive and defensive strategies. Offensive
strategy which shall include the preparation of superior products. From mapping the Ministry
of Industry, superior product in question is the agro industry such as cocoa, rubber, palm oil,
textiles and textile products, leather footwear, furniture, food and minimum, fertilizers and
petrochemicals, automotive, machinery and equipment, as well as metal products, iron, and
steel. The defensive strategy is done through the preparation of Indonesian National Standard
for manufacturing products. (Www.kemenperin.go.id)
Explained the Minister of Industry, Saleh Husin, offensive strategy by building a center of
education and training industry.
"Implementation is done with regard to the strengthening of Small and Medium Industries
sector include incentives for SMEs through restructuring program, machinery and
equipment," Saleh said in Jakarta, Monday (06/07/2015).
Selainitu, said Saleh, the company is also focusing on developing industrial entrepreneurship
through training new entrepreneurs and help start-up capital. As for the defensive strategy,
carried out with a concentration in the preparation of Indonesian National Standard for
manufacturing products. There is now composed of 50 National Competence Indonesia
(SKKNI) and the industrial sector 25 Professional Certification Institute (LSP) danTempat
Competency Test (TUK).
Progressively pursued additions 15 10 LSP SKKNI and industrial sectors each year,
preferably in the field of industrial priority.
The minister also stressed the development of small and medium industries which are
included in the program offensive. Which was commissioned by memberifasilitas access to
capital for SMEs through business credit, Community Development Partnership Program
(CSR), Venture Capital and Corporate Service of Responsibility (CSR).
"According to BPS data, hinggatahun 2013, the number of business units reaching 3,4juta
HPI unit danmenyerap 9.7 million workers. That number will be increased again through the
acceleration of the growth of entrepreneurship, "said Saleh.
Trade Minister, Rachmat Gobel has measures to be undertaken for the ASEAN Economic
Community (AEC), 2019. One of them was launched Nawa Cita Ministry of Commerce, by
setting export target of tripling over the next five years. The way it could be done by building
5,000 market, the development of Micro, Small and Medium Enterprises (SMEs) as well as
increased use of domestic products. The export target by 2015 target of US $ 192,5miliar.
Furthermore, the government is also preparing a strategy subsititusi imports to increase
exports, and provide value-added products in the country. At the moment 65 per cent of
exports Indonesia still relies on reverse mentah.Pemerintahberusaha commodity export
structure is that of primary commodities kemanufaktur, with a composition of 35 percent and
65 percent of manufacturing commodities. Therefore, the manufacturing industry is expected
to grow and focus on increasing production capacity, to increase exports until 2019.
The government also approached the industry that has the potential to contribute to increased
exports, for example the automotive industry. In mind, the auto industry plans to export 50
ribusepeda motor to the Philippines. The Ministry of Trade also encourages mebeluntuk
further boost the export sector. In addition, the fisheries sector is also providing optimism for
increased exports of Indonesia.
Not only that, the government will also strengthen SMEs by fostering product through
packaging, halal certification, registration of the mark, and improve the competitiveness of
domestic products. Then, they also facilitate SMEs in international exhibitions. Through the
facilities of the Ministry of Commerce hopes, products and brands built by SMEs in
Indonesia can be known globally.
Source:
http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/150-artikel-keuangan-umum/20545-
masyarakat-ekonomi-asean-mea-dan-perekonomian-indonesia
https://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat_Ekonomi_ASEAN
http://www.tribunnews.com/bisnis/2015/07/06/indonesia-pakai-strategi-ganda-hadapi-mea
http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010/edef-konten-view.asp?id=20150121190607015674933
Asean Economic Community (AEC) and the Indonesian Economy
Created: Thursday, February 12, 2015 08:23
Written by G.T. Suroso
By
G.T. Suroso
Widyaiswara IRB

Abstract
Asean Economic Community (AEC) in 2015 was the realization of a free market in Southeast
Asia that has been done gradually began ASEAN Summit in Singapore in 1992. The purpose of the
establishment of the ASEAN Economic Community (AEC) to enhance economic stability in the ASEAN
region, and is expected to address the problem- problems in the economic field between ASEAN
countries. MEA consequences of the agreement in the form of free flow of goods to the ASEAN
countries, the impact of the free flow of services, the impact of the free flow of investment, the
impact of the flow of skilled labor, and the impact of the free flow of capital. These things can
certainly result in positive or negative for the Indonesian economy. Therefore, from the government
side also performed the strategies and measures that Indonesia is ready and able to take advantage
of the momentum of the MEA.
Keywords: MEA, positive effects, negative effects, the economy, the government's strategy

Of AFTA towards MEA


Indonesia is one country in the ASEAN Economic Community (AEC) or the ASEAN Economic
Community (AEC), which will unfold starting in late 2015. MEA is the realization of a free market in
Southeast Asia that has previously been referred to in the Framework Agreement on Enhancing
ASEAN Economic Cooperation in 1992. At the meeting of the Heads of State of ASEAN (ASEAN
Summit) 5th in Singapore in 1992, is the Head of State announced the establishment of an area free
trade in the ASEAN (AFTA) within a period of 15 years. Later in development, accelerated to 2003,
and accelerated again last into 2002. (www.tarif.depkeu.go.id)
MEA formation originated from an agreement ASEAN leaders in the Summit (Summit) in December
1997 in Kuala Lumpur, Malaysia. This agreement aims to improve the competitiveness of ASEAN as
well as China and India could compete to attract foreign investment. Foreign capital needed to boost
employment and welfare of the citizens of ASEAN. At that time, ASEAN launched the initiative of the
establishment of regional integration of ASEAN or the ASEAN community through ASEAN Vision
2020 during the Second ASEAN Informal Summit. This initiative was later embodied in the form of
long-term roadmap called the Hanoi Plan of Action that was agreed in 1998.
At the next summit Indonesia is one of the initiators of the establishment of the AEC is in the
Declaration of ASEAN Concord II in Bali on October 7, 2003 by which the ASEAN officials declared
that the establishment of the AEC in 2015 (nationalgeographic.co.id). The establishment of the
ASEAN Community is part of ASEAN's efforts to further strengthen ASEAN integration. There was
also an attempt evolutif ASEAN to adjust perspective in order to be more open in discussing
domestic problems that affect the region without leaving the main principles of ASEAN, namely:
mutual respect (Mutual Respect), no interference in domestic affairs (Non-interfence) , consensus,
dialog lists and consultation. ASEAN Community consists of three pillars, including cooperation in the
economic field, namely: komonitas Security ASEAN (ASEAN Security Comunity / ASC), the ASEAN
Economic Community (ASEAN Economic Community / AEC) and the Socio-Cultural Community
ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community / ASCC).
Purpose of establishing the MEA to increase economic stability in the ASEAN region, and is expected
to overcome the problems in the economy among ASEAN countries. For nearly two decades, ASEAN
consists of only five countries - Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore and Thailand - whose
establishment in 1967. The countries of Southeast Asia are incorporated in different times, namely
Brunei Darussalam (1984), Vietnam ( 1995), Laos and Myanmar (1997), and Cambodia (1999).

Impact MEA
The main characteristic feature of MEA is a single market and production base; economic regions
with high competitiveness; region with equitable economic development; and a region fully
integrated into the global economy. The impact of the creation of MEA is the creation of a free
market in the field of capital, goods and services, and labor. The consequences of the agreement
MEA that impact the free flow of goods to the ASEAN countries, the impact of the free flow of
services, the impact of the free flow of investment, the impact of the flow of skilled labor, and the
impact of the free flow of capital.
.of The character and impact of MEA mentioned above is actually no chance of momentum that can
be achieved MEA Indonesia. With the MEA Indonesia's economy is expected to be better. One of
them is the marketing of goods and services from Indonesia can expand its reach to other ASEAN
countries. Market share in Indonesia is 250 million people. In the MEA, the ASEAN market share of
some 625 million people could be targeted by Indonesia. Thus, Indonesia has a greater opportunity
to tap into a wider market. Exports and imports can also be done with a cheaper cost. Labor from
other countries in ASEAN can be free to work in Indonesia. In contrast, Indonesian workers (TKI) also
can be free to work in other countries in the ASEAN.
Other positive impacts that can expand the investor Indonesia investment without any limitation of
space among ASEAN member countries. Similarly, we can attract investment from ASEAN investors-
investors. The entrepreneurs will be more creative because of the intense competition and the
professionals will further increase the level of skill, and professionalism of its kompetansi.
However, besides the opportunity to look at the front of the eye, there are obstacles facing the MEA
that need our attention. Among the obstacles: first, the quality of education remains low labor, in
which up to February 2014 the number of workers junior high school education or below, there were
76.4 million people or about 64 percent of the total 118 million workers in Indonesia. Second, the
availability and quality of infrastructure is still lacking thus affecting the smooth flow of goods and
services. According to the Global Competitiveness Index (GCI) in 2014, the quality of our
infrastructure is still lagging behind compared to countries of Singapore, Malaysia, Brunei
Darussalam and Thailand. These three, the industrial sector which is vulnerable because of
dependence on imported raw materials and semi-finished. Fourth, the limited supply of energy.
Fifth, the weakness of Indonesia facing import surges, and now imported Chinese products have
flooded Indonesia. If the barriers had not addressed the MEA feared it would be a threat to
Indonesia.

MEA and government policies


Towards the MEA which is in sight, the Indonesian government is expected to prepare a
strategic step in the labor sector, infrastructure sector, and industrial sectors. In the face of the MEA,
the Indonesian government prepared a policy response that is associated with the National
Industrial Development, Infrastructure Development, Logistics Development, Investment
Development and Trade Development (www.fiskal.depkeu.go.id). In addition to the respective
Ministry and the Institute strives to anticipate the MEA with strategic measures.
The government is trying to change the policy paradigm that leads to entrepreneurship by
promoting national interests. For MEA could face competition, not only the private sector
(businesses) that are required to be prepared, but also the government in the form of pro-
entrepreneur policies.
Other countries already think in entrepreneurial (self-employment), how to keep the government
running and functioning like seubah organizational results-oriented entrepreneurship. Then the
momentum of this MEA Indonesian government has come to change the old mindset that tends
bureaucratic entrepreneurship mindset which is more tactical, effective and efficient. An example is
the subsidy policy Fuel (BBM) of Rp 300 trillion (US $ 30 billion) were less productive directed to
more productive pembiayayaan eg infrastructure investment.
In education, the Government can also undertake the development of educational curricula in
accordance with the MEA. Education as a printer human resources (HR) quality of the answer to the
needs of human resources. Therefore, improving the standard of school quality is a must so that
graduates are ready to face competition.
Socialization activities in the community must also be improved for instance by public service
announcements about the MEA are trying to increase the readiness of people to deal with.
Education Minister said Anies Baswedan, improve quality standards of education either by
reinforcing education actors, ie principals, teachers, and parents. According to him, the leadership of
the principal to be the key growth ecosystem good education. Teachers also need to be trained in
proper methods, is to change the mindset of teachers.
In the field of Industry, the Minister of Industry Saleh Husin also explained the strategy that the
Ministry of Industry facing MEA with offensive and defensive strategies. Offensive strategy which
shall include the preparation of superior products. From mapping the Ministry of Industry, superior
product in question is the agro industry such as cocoa, rubber, palm oil, textiles and textile products,
leather footwear, furniture, food and minimum, fertilizers and petrochemicals, automotive,
machinery and equipment, as well as metal products, iron, and steel. The defensive strategy is done
through the preparation of Indonesian National Standard for manufacturing products.
(Www.kemenperin.go.id)
Trade Minister, Rachmat Gobel has measures to be undertaken for the ASEAN Economic Community
(AEC), 2019. One of them was launched Nawa Cita Ministry of Trade, the export target set for the
three-fold over the next five years. The way it could be done by building 5,000 market, the
development of Micro, Small and Medium Enterprises (SMEs) as well as increased use of domestic
products. The export target by 2015 target of US $ 192.5 billion. Furthermore, the government is
also preparing a strategy subsititusi imports to increase exports, and provide value-added products
in the country. At the moment 65 per cent of exports Indonesia still relies on commodities
mentah.Pemerintah trying to reverse this export structure that is of primary commodities to
manufacturing, with a composition of 35 percent and 65 percent of manufacturing commodities.
Therefore, the manufacturing industry is expected to grow and focus on increasing production
capacity, to increase exports until 2019.
The government also approached the industry that has the potential to contribute to increased
exports, for example the automotive industry. In mind, the auto industry plans to export 50
thousand motorcycles to the Philippines. The Ministry of Trade also encourages the furniture sector
to further boost exports. In addition, the fisheries sector is also providing optimism for increased
exports of Indonesia.
Not only that, the government will also strengthen SMEs by fostering product through packaging,
halal certification, registration of the mark, and improve the competitiveness of domestic products.
Then, they also facilitate SMEs in international exhibitions. Through the facilities of the Ministry of
Commerce hopes, products and brands built by SMEs in Indonesia can be known globally.

Bibliography
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/585426-jurus-kementerian-perdagangan-hadapi-mea-2019
http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010/edef-konten-view.asp?id=20150121190607015674933
http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/12/pahami-masyarakat-ekonomi-asean-mea-2015#
http://www.asean.org/component/itpgooglesearch/search?gsquery=asean+economic+community
http://apindo.or.id/id/fta/asean-economic-community/latar-belakang
http://www.kemangmedicalcare.com/kmc-tips/tips-dewasa/2883-pengaruh-era-mea-masyarakat-
ekonomi-asean-2015-terhadap-tenaga-kesehatan-profesional-di-indonesia.html
http://www.tarif.depkeu.go.id/Others/?hi=AFTA
http://www.kemenperin.go.id/artikel/10920/Strategi-Kementerian-Perindustrian-Hadapi-MEA