Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengupahan merupakan hal yang sewajarnya sebagai bentuk

kompensasi atas kontribusi yang diberikan pekerja atau buruh kepada

perusahaan.
Upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha kepada pekerja

untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilakukan dan dinyatakan

atau dinilai dalam bentuk uang yang ditetapkan atas dasar suatu persetujuan

atau peraturan perundang-undangan serta dibayarkan atas dasar suatu

perjanjian kerja antara pengusaha dengan pekerja termasuk tunjangan, baik

untuk pekerja itu sendiri maupun untuk keluarganya. (Sonny Sumarsono :

2009)
Dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 pasal 1 ayat 30 tentang Ketenagakerjaan “

Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk

uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh

yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan,

atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh

dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan

dilakukan”.
Upah pada dasarnya merupakan sumber utama penghasilan seseorang,

sebab itu upah harus cukup untuk memenuhi kebutuhan pekerja dan

keluarganya dengan wajar. Kewajaran dapat dinilai dan diukur dengan

kebutuhan Hidup Minimum atau sering disebut Kebutuhan Fisik Minimum

(KFM). Yang merupakan tanggung jawab semua yaitu masyarakat-

1
pemerintah, untuk menjamin bahwa kebutuhan hidup minimum setiap pekerja

dapat terpenuhi melalui pekerjaan dari mana dia memperoleh penghasilan.

Jaminan penghasilan yang lebih baik dari sekedar memenuhi KMF sangat

penting bukan saja dalam rangka kemanusiaan, akan tetapi juga untuk

meningkatkn produktivitas tenaga kerja. Produktivitas merupakan

perbandingan antara hasil yang dapat dicapai dengan keseluruhan sumber daya

yang dipergunakan per satuan waktu. Peningkatan produktivitas tenaga kerja

merupakam sasaran yang strategis karena peningkatan produktivitas faktor-

faktor lain sangat tergantung pada kemampuan tenaga manusia yang

memanfaatkannya. (Sonny Sumarsono :2009). Kelangsungan suatu usaha

hanya dapat dijamin dengan produktivitas pekerja yang tinggi. Produktivitas

tenaga kerja pekerja yang tinggi memungkinkan pengusaha untuk

mengembangkan usahanya dan memberikan upah yang tinggi bagi pekerjanya.


Namun kenyataan yang terjadi menunjukkan bahwa masih banyak

pekerja Indonesia berpenghasilan sangat kecil, bahkan lebih kecil dari

kebutuhan hidup minimum. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas,

pemerintah telah mengembangkan penerapan upah minimum pekerja dan

keluarganya. Upah minimum sebagaimana telah diatur dalam PP No. 8/1981

merupakan upah yang ditetapkan secara Minimum Regional, Sektoral

Regional maupun Subsektoral. Dalam hal ini upah minimum itu adalah Upah

Pokok atau Tunjangan. Upah minimum adalah upah pokok yang diatur secara

minimal baik Regional, Sektoral, maupun Subsektoral. Dalam peraturan

pemerintah yang diatur secara jelas hanya upah pokoknya saja dan tidak

termasuk tunjangan. Banyaknya penyelewemgan yang terjadi kepada para

buruh/pekerja dalam hal pengupahan yang tidak layak mendorong Pemerintah

2
untuk memberikan perlindungan melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.

105/Men/1989 Tanggal 29 Mei 1989 tentang Upah Minimum, Pada dasarnya

upah minimum untuk melindungi upah yang diterima oleh pekerja yang

berpendidikan rendah, pekerja yang tidak memiliki ketrampilan/skill, dan

pekerja yang masa kerjanya kurang dari satu tahun. Penetapan Upah

Minimum Kota ini mengundang perdebatan di kalangan ekonom. Satu

kelompok ekonom melihat, upah minimum akan menghambat penciptaan

lapangan kerja dan menambah persoalan pemulihan ekonomi. Sementara

sekelompok lain dengan bukti empirik menunjukkan, penerapan Upah

Minimum Kota tidak selalu identik dengan pengurangan kesempatan kerja,

bahkan akan mampu mendorong proses pemulihan ekonomi.


Kementerian Ketenagakerjaan telah menetapkan persentase kenaikan

UMR, yang mana pada tahun 2017 ini UMR mengalami kenaikan sebesar

8,25 persen (http://bisnis.liputan6.com). Hal ini sesuai dengan ketentuan dari

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan yang

menggunakan angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam menetapkan

besaran kenaikan UMR. Kenaikan UMR ini juga di harapkan dapat

meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Yang merupakan perbandingan

antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang

digunakan (input). Konsep produktivitas dikembangkan untuk mengukur

besarnya kemampuan menghasilkan nilai tambah atas komponen masukan

yang digunakan (Cahyono, 1996: 281). Secara sederhana produktivitas yang

dimaksud disini adalah perbandingan ilmu hitung antara jumlah yang

dihasilkan dan jumlah setiap sumber yang digunakan selama kegiatan

berlangsung.

3
Meskipun dengan adanya kenaikan UMR diharapkan dapat

meningkatkan produktivitas tenaga kerja namun pada kenyataannya meskipun

UMR mengalami kenaikan yang cukup signifikan tetapi produktivitas tenaga

kerjanya tetaplah rendah, sebagai salah satu contoh adalah yang terjadi di Kota

Kendari. UMR Kota Kendari pada tahun 2017 ini sebesar Rp 2.172.578 yaitu

naik sebesar 8,25% atau sebesar Rp 165.578 dibanding tahun 2016

(bosultra.com). Menurut Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Industrial (HI) dan

Pengawasan Ketenagakerjaan (Wasnaker) Jumiati dalam bosultra.com pada

tahun 2016 UMR Kota Kendari sudah cukup tinggi yaitu Rp2.007.000. Dalam

melakukan perhitungan UMR atau sekarang disebut sebagai UMK Kota

Kendari dilakukan dengan rumus jumlah Produk Domestik Bruto (PDB)

sebesar 5,18 persen ditambah dengan inflasi 3,07 persen, sehingga menjadi

8,25 persen, atau Rp 165.578. berdasarkan rumus itulah sehingga UMK Kota

Kendari naik sebesar 8,25% (Jumiati dalam bosultra.com)


Karena hal-hal tersebut di atas, muncul pertanyaan pada benak peneliti

apakah Upah Minimum Kota memengaruhi tingkat produktivitas tenaga kerja

di Kota Kendari. Serta mengapa produktivitas tenaga kerja di Kota Kendari

tetap rendah meskipun Upah Minimum Kota mengalami kenaikan.

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas penulis bermaksud melakukan

penelitian tentang Dampak Kenaikan Upah Minimum Kota Terhadap

Produktivitas Tenaga Kerja di Kota Kendari.

1.2 Rumusan Masalah

4
Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka penulis mengidentifikasi

masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Upah Minimum Kota memengaruhi tingkat produktivitas

tenaga kerja di Kota Kendari.

2. Mengapa produktivitas tenaga kerja di Kota Kendari tetap rendah

meskipun Upah Minimum Kota mengalami kenaikan.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk menjelaskan pengaruh Upah Minimum Kota tehadap tingkat

produktivitas tenaga kerja di Kota Kendari.

2 Untuk mengetahui alasan produktivitas tenaga kerja di Kota Kendari

rendah meskipun Upah Minimum Kota mengalami kenaikan.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian yang penulis lakukan ini diharapkan akan mempunyai manfaat,

antara lain :

a. Kegunaan Akademis

1. Bagi Peneliti

Dapat menambah pengetahuan tentang hubungan antara Upah Minimum

Kota dan Produktivitas Tenaga Kerja.

2. Bagi Peneliti Lain

Dapat dijadikan sumber informasi dan referensi dalam penelitian

sejenis.

5
b. Kegunaan Praktis

Dapat digunakan sebagai pertimbangan oleh Pemerintah Kota Kendari

dalam usaha peningkatan produktivitas tenaga kerja.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini hanya akan dilakukan untuk melihat hubungan Upah Minimum

Kota dan Produktivitas tenaga kerja di Kota Kendari.

6
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Upah

Upah merupakan imbalan jasa yang diterima seseorang di dalam

hubungan kerja yang berupa uang atau barang melalui perjanjian kerja,

imbalan jasa, dan diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan bagi diri, dan

keluarganya (Sadono Sukirno, 2002) Dalam teori ekonomi, upah yaitu

pembayaran yang diperoleh dari berbagai bentuk jasa yang disediakan, dan

diberikan oleh tenaga kerja kepada pengusaha. Perubahan tingkat upah akan

mempengaruhi tinggi rendahnya biaya produksi perusahaan. Apabila

digunakan asumsi bahwa tingkat upah naik, maka akan terjadi hal seperti

berikut :

Apabila upah naik (asumsi harga dari barang-barang modal lainnya tidak

berubah), maka pengusaha ada yang lebih suka menggunakan teknologi padat

modal untuk proses produksinya dan menggantikan kebutuhan akan tenaga

kerja dengan kebutuhan akan barang-barang modal seperti mesin dan lainnya.

Penurunan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan karena adanya penggantian

atau penambahan penggunaan mesin - mesin disebut dengan efek substitusi

tenaga kerja (substitution effect).

Definisi upah pada UU No 13 tahun 2003 pada pasal 1 ayat 30 tentang

ketenagakerjaan yang berbunyi upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima

dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau

7
pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut

suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan,

termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan

dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.

Jadi secara umum upah merupakan pembayaran yang diberikan kepada tenaga

kerja buruh atas jasa-jasa fisik maupun mental sebagai imbalan dari para

pengusaha dan jumlah keseluruhan yang ditetapkan sebagai pengganti jasa

yang telah dikeluarkan oleh tenaga kerja meliputi masa atau syarat-syarat

tertentu yang di dalamnya berupa perjanjian kerja atau kesepakatan kedua

belah pihak termasuk tunjangan bagi pekerja, dan keluarganya atas suatu

pekerjaan atau jasa yang telah dilakukan.

2.1.2 Teori Upah Efisiensi

Menurut teori upah efisiensi, perusahaan akan beroperasi lebih efisien

jika upah berada di atas ekuilibrium, jadi akan lebih menguntungkan jika

perusahaan tetap mempertahankan upah tetap tinggi meskipun penawaran

tenaga kerja berlebih. Menurut teori upah efisiensi membayar upah yang tinggi

mungkin akan menguntungkan perusahaan karena bisa menaikkan efisiensi

para pekerja.

Teori upah efisiensi meramalkan bahwa apabila pekerja dengan mendapatkan

upah yang tinggi maka dia dapat memenuhi kebutuhan fisik minimum

hidupnya, sehingga dengan demikian apabila kebutuhan fisiknya sudah

terpenuhi maka pekerja akan berangkat ketempat pekerjaannya dengan tenang,

dan bagi pekerja sendiri dia akan memberikan konsentrasi yang penuh dan

8
akan mencurahkan pemikiran dan tenaganya secara maksimal selama dia

berada di tempat pekerjaannya (Cafferty dalam Febrika Nurtiyas). Dampak

secara ekonomi yang dimunculkan bagi perusahaan adalah tingginya tingkat

produktivitas tenaga kerja yang pada akhirnya akan memacu tingkat

pertumbuhan ekonomi, dengan upah yang tinggi maka pekerja pun akan selalu

berusaha untuk meningkatkan kemampuan dengan hasil yang lebih memuaskan

sehingga dengan demikian pekerja akan merasa lebih puas dengan hasil

pekerjaannya sedangkan bagi perusahaan merasa tidak mengalami kerugian

dengan mempekerjakan tenaga kerja yang terampil dan selalu giat dalam

meningkatkan hasil produktivitas tenaga kerjanya.

2.1.3 Upah Minimum

Menurut UU No. 13 Tahun 2003 Upah Minimum adalah suatu standar

minimum yang digunakan oleh para pengusaha atau pelaku industri untuk

memberikan upah kepada pekerja di dalam lingkungan usaha atau kerjanya.

Pemenuhan kebutuhan yang layak di setiap propinsi berbeda-beda, maka

disebut Upah Minimum Propinsi. Upah Minimum adalah suatu penerimaan

bulanan minimum (terendah) sebagai imbalan dari pengusaha kepada pekerja

untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilakukan dan dinyatakan

atau dinilai dalam bentuk uang yang ditetapkan atas dasar suatu persetujuan

atau peraturan perundang-undangan serta dibayarkan atas dasar suatu

perjanjian kerja antara pengusaha dengan pekerja termasuk tunjangan, baik

pekerja itu sendiri maupun untuk keluarganya. Sebagaimana yang telah diatur

9
dalam PP No. 8/1981 upah minimum dapat ditetapkan secara minimum

regional, sektoral regional maupun subsektoral.

Berdasarkan Undang Undang No. 13 tahun 2003 disebutkan bahwa upah

minimum hanya ditujukan bagi pekerja dengan masa kerja 0 (nol) sampai

dengan 1 (satu) tahun. Definisi tersebut terdapat dua unsur penting dari upah

minimum yaitu:

1. Upah permulaan adalah upah terendah yang harus diterima oleh buruh pada

waktu pertama kali dia diterima bekerja.

2. Jumlah upah minimum haruslah dapat memenuhi kebutuhan hidup buruh

secara minimal yaitu kebutuhan untuk sandang, pangan dan keperluan

rumah tangga.

Upah minimum diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pekerja agar

sampai pada tingkat pendapatan "living wage", yang berarti bahwa orang yang

bekerja akan mendapatkan pendapatan yang layak untuk hidupnya. Upah

minimum dapat mencegah pekerja dari eksploitasi tenaga kerja terutama yang

low skilled. Upah minimum dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan

mengurangi konsekuensi pengangguran seperti yang diperkirakan teori

ekonomi konvensional.

2.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Upah Minimum

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Nomor 07

Tahun 2013, faktor-faktor yang mempengaruhi upah minimum adalah

Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dengan memperhatikan produktivitas, dan

pertumbuhan ekonomi. Upah minimum diarahkan pada pencapaian KHL yaitu

10
dengan membandingkan besarnya upah minimum disesuaikan dengan nilai

KHL pada periode yang sama. Komponen Kebutuhan hidup layak digunakan

sebagai dasar penentuan Upah Minimum, dimana dihitung berdasarkan

kebutuhan hidup pekerja dalam memenuhi kebutuhan mendasar yang meliputi

kebutuhan akan pangan, perumahan, pakaian, pendidikan dan sebagainya.

Awalnya penghitungan upah minimum dihitung didasarkan pada Kebutuhan

Fisik Minimum (KFM), Kemudian terjadi perubahan penghitungan didasarkan

pada Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Perubahan itu disebabkan tidak

sesuainya lagi penetapan upah berdasarkan kebutuhan fisik minimum, sehingga

timbul perubahan yang disebut dengan KHM. Namun, penetapan upah

minumum berdasarkan KHM mendapat koreksi cukup besar dari pekerja yang

beranggapan, terjadi implikasi pada rendahnya daya beli dan kesejahteraan

masyarakat terutama pada pekerja tingkat level bawah. Melalui beberapa

pendekatan dan penjelasan langsung terhadap pekerja, penetapan upah

minimum berdasarkan KHM dapat berjalan dan diterima pihak pekerja dan

pengusaha.

Perkembangan teknologi dan sosial ekonomi yang cukup pesat

menimbulkan pemikiran, kebutuhan hidup pekerja bedasarkan kondisi

"minimum" perlu diubah menjadi kebutuhan hidup layak. Kebutuhan hidup

layak dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja, dan produktivitas

perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas nasional.

Faktor-faktor penetapan upah minimum antara lain (Bersales dalam Febrika

Nurtiyas):

1. Indeks Harga Konsumen

11
Indeks Harga Konsumen (IHK) adalah ukuran biaya keseluruhan barang,

dan jasa yang dibeli oleh konsumen. Ahli statistik pemerintah secara rutin

menghitung, dan melaporkan IHK. Ketika menghitung IHK, Departemen

Statistik menggunakan data tentang harga-harga barang, dan jasa(Gregory

Mankiw dalam Febrika Nurtiyas). Langkah-langkah perhitungan IHK

yaitu sebagai berikut :

1) Tentukan isi keranjangnya

Menentukan harga-harga yang paling penting bagi konsumen dengan

pemberian bobot tertentu.

2) Temukan harga-harganya

Menemukan harga setiap barang, dan jasa dalam keranjang untuk

setiap masa waktu.

3) Menghitung harga seluruh isi keranjang

Menggunakan data harga-harga untuk menghitung jumlah harga

keseluruhan isi keranjang barang, dan jasa dari waktu ke waktu.

4) Memilih tahun basis, dan menghitung indeksnya

Memilih satu tahun dari tahun basis yang merupakan tolak ukur yang

menjadi bandingan tahun-tahun yang lainnya. Untuk menghitung

indeksnya, harga barang, dan jasa untuk setiap tahun dibagi dengan

harga keranjang pada tahun basis. Perbandingan ini kemudian

dikalikan dengan 100. Angka hasilnya adalah indeks harga konsumen.

Target Indeks Harga Konsumen (IHK) adalah mengukur

perubahan-perubahan pada biaya hidup. Dengan kata lain, IHK mencoba

untuk mengukur berapa banyak penghasilan yang harus dinaikkan guna

12
memelihara standar hidup yang konstan. Menurut Bersales (2014) Indeks

Harga Konsumen (IHK) merupakan komponen penting dalam

menggunakan penetapan nilai upah minimum. Ketika biaya hidup

masyarakat tinggi, maka tingkat upah selayaknya ditingkatkan.

2. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja

Menurut Gregory Mankiw (2013: 111) Angkatan kerja (labor

force) didefinisikan sebagai jumlah orang yang bekerja dan orang yang

menganggur, sedangkan tingkat pengangguran (unemployment rate)

didefinisikan sebagai persentase dari angkatan kerja yang tidak bekerja.

Menurut Badan Pusat Statistik (2014) Tingkat partisipasi angkatan kerja

(labor-force participation rate) adalah persentase jumlah angkatan kerja

terhadap penduduk usia kerja.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) adalah suatu indikator

ketenagakerjaan yang memberikan gambaran tentang penduduk yang aktif

secara ekonomi dalam kegiatan sehari-hari merujuk pada suatu waktu

dalam periode survei. TPAK adalah indikator yang biasa digunakan untuk

menganalisa partisipasi angkatan kerja. Menurut Badan Pusat Statistik

(2014) Rumus Perhitungan:

Jumlah Angkatan Kerja


TPAK = × 100
Jumlah Penduduk Usia Kerja

Dalam pandangan klasik upah akan selalu menyesuaikan diri untuk

menormalkan kelebihan penawaran di pasar tenaga kerja. Terjadinya

13
penurunan permintaan tenaga kerja akan mula-mula menciptakan

penawaran tenaga kerja berlebih, akibatnya upah akan turun.

14
2.1.5 Produktivitas

Baik organisasi pemerintah maupun swasta, akan selalu berupaya agar

anggota atau tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan organisasi dapat

memberikan prestasi dalam bentuk produktivitas yang setinggi mungkin untuk

mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Produktivitas

merupakan sikap dan perilaku tenaga kerja dalam perusahaan terhadap

peraturan-peraturan dan standar-standar yang telah ditentukan oleh perusahaan

yang telah diwujudkan baik dalam bentuk tingkah laku maupun perbuatan (Yin

Kimsean dalam Maratin Nafiah Al-amin). Produktivitas merupakan hubungan

antara keluaran (barang-barang/jasa) dengan masukan (tenaga kerja, bahan dan

uang). (Edy Sutrisno dalam Maratin Nafiah Al-amin).

Produktivitas pada umumnya dipahami hanya sebatas rasio antara input

dengan output saja. Konsep tersebut dirasa sangat sempit yang kemudian oleh

General Accounting Office (GAO) dikembangkan satu ukuran produktivitas

yang lebih luas dengan memasukkan seberapa besar pelayanan publik itu

memiliki hasil yang diharapkan sebagai salah satu indikator kinerja yang

penting.

Produktivitas merupakan kemampuan menghasilkan barang dan jasa dari suatu

tenaga kerja, mesin, atau faktor-faktor produksi lainnya yang dihitung

berdasarkan waktu rata-rata dari tenaga kerja tersebut dalam proses produksi.

(Sony Sumarso dalam Maratin Nafiah Al-amin).

Produktivitas perusahaan terdiri atas produktivitas mesin/peralatan dan

produktivitas tenaga kerja. Produktivitas tenaga kerja merupakan ukuran

keberhasilan tenaga kerja yang menghasilkan suatu produk dalam waktu

15
tertentu, sedangkan produktivitas mesin merupakan perbandingan antara output

dengan kapital input tersebut meliputi tanah, mesin dan peralatan, sedangkan

kapital outputnya berbeda-beda sesuai dengan unsur kapitalnya dan unsur

inputnya

Berdasarkan pengertian-pengertian produktivitas di atas, maka dapat

disimpulkan pengertian produktivitas yaitu rasio antara produksi yang dapat

dihasilkan dengan keseluruhan kepuasan yang dapat diperoleh dengan

pengorbanan yang diberikan, namun tidak hanya mencakup perbandingan

output dan inputnya saja tetapi juga pada sikap dan tingkah laku tenaga

kerjanya, karena tidak semua produktivitas dapat diukur dengan output dan

inputnya.

2.1.6 Pengukuran Produktivitas Tenaga Kerja

Kesehatan ekonomi suatu negara atau kota paling sering ditentukan oleh

produktivitas tenaga kerja di negara/kota tersebut. Produktivitas tenaga kerja

yaitu pengukuran PDB (Produk Domestik Bruto) per jam yang dihasilkan oleh

setiap pekerja. Atau dalam istilah awam, nilai pekerjaan yang diselesaikan oleh

seorang pekerja per jam. Semakin banyak pekerjaan yang dihasilkan dalam

satu jam, maka tingkat produktivitas secara keseluruhan juga meningkat. Ini

menandakan ekonomi yang sehat dan berkembang di suatu negara.

(http://id.wikihow.com).

Pengukuran produktivitas juga merupakan salah satu cara untuk

meningkatkan produktivitas, dimana hasil pengukuran akan digunakan sebagai

acuan melihat produktivitas tenaga kerja pada masa yang lalu diperbaiki untuk

masa yang akan datang dengan melihat dari acuan pada masa yang lalu

16
sehingga produktivitas tenaga kerja dapat meningkat dimasa yang akan datang.

Untuk memilih acuan atau tolok ukur yang akan digunakan tergantung pada

jenis atau faktor-faktor yang mempengaruhi masukan dan keluaran dari

perusahaan atau organisasi yang bersangkutan.

PDRB
Produktivitas Kerja=
Jumlah Tenaga Kerja

Cara pengukuran produktivitas dengan cara lain yaitu: (Malayu S.P Hasibuan

dalam Maratin Nafiah Al-amin) :

Output
Produktivitas tenaga kerja=
Input

Output
Produktivitas Perkapita=
N ×H

Keterangan:

N= Jam/hari kerja nyata

H= Jumlah tenaga kerja

2.1.7 Hubungan Upah Minimum dan Produktivitas Tenaga Kerja

Model neo-klasik standar pasar tenaga kerja menyatakan bahwa upah

setiap individu harus sama dengan produk marjinal tenaga kerjanya, upah

merupakan imbalan individu atas kontribusi pribadi mereka untuk output dari

perusahaan. Pengenalan upah minimum menyebabkan kenaikan upah pekerja

yang sebelumnya dibayar di bawah minimum. Jadi diharapkan, setelah

pengenalan upah minimum, upah pekerja yang sebelumnya dibayar di bawah

minimum akan meningkatkan produk marjinal mereka, setelah upah minimum

dinaikan. Perusahaan memaksimalkan laba secara natural dan akan berusaha

17
untuk mengatasi situasi ini dalam satu atau lain cara.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Low Pay Komisi pada bulan

September-Oktober 1999 di London, menyatakan bahwa sekitar sepertiga dari

perusahaan dipengaruhi oleh NMW( National Minimum Wage) yang

mengharuskan perusahaan atau pengusaha membuat upaya yang signifikan

untuk memperketat kontrol atas biaya tenaga kerja; seperempat telah membuat

perubahan yang signifikan terhadap organisasi kerja; dan sekitar sepersepuluh

telah meningkatkan penggunaan teknologi secara signifikan. Kenaikan upah

minimum memang dianggap meresahkan bagi pengusaha namun tidak dengan

para buruh. Banyak pengusaha akan lebih memilih menggunakan teknologi

(perti mesin) dibandingkan dengan menggunakan tenaga kerja manusia,

karena para pengusaha menganggap itu lebih efektif dan efisien. Adapun

maksud dari peningkatan upah minimum adalah dapat meningkatkan

produktivitas di suatu daerah, karena pendapatan yang tinggi akan

meningkatkan kesejahteraan baik kesejahteraan jasmani maupun rohani para

pekerja yang mana akan berujung pada penciptaan ide-ide dan semangat kerja.

18
2.2 Penelitian Terdahulu

No Penulis Metode
Judul Vriabel Hasil
. (Tahun) Analisis
The impact of Upah descriptive Kenaikan upah
the national Minimum analysis, dan minimum nasional
minimum wage Nasional. statistical memiliki beberapa
on Produktivitas analysis efek pada sektor-
John Forth & Labour Tenaga Kerja, sektor tertentu tetapi
Mary productivity Biaya Tenaga secara statistik tidak
O’Mahony and unit labour Kerja ditemukan
1.
(2003) costs hubungan yang kuat
antara upah
minimum nasional
dengan
pertumbuhan
produktivitas
diberbagai sektor.
Hubungan Tingkat upah Uji korelasi Tingkat upah
tingkat upah tenaga memiliki
dengan kerja bagian hubungan yang
produktivitas produksi, positif dengan
tenaga kerja produktivitas produktivitas
Ketut Alit
Pada tenaga kerja
2. Wiantara
perusahaan bagian
(2014)
kecap sumber produksi
rasa di desa
temukus
Tahun 2014

Pengaruh upah, Upah, disiplin, Uji Validitas Secara simultan,


disiplin kerja insentif kerja. Instrumen, upah, disiplin kerja
Maratin dan insentif produktivitas Uji Reliabilitas dan insentif
Nafiah Al- terhadap tenaga kerja Instrumen, berpengaruh erhadap
amin (2015) produktivitas produktivitas tenaga
3. kerja Minimrket
tenaga kerja
minmarket Rizky di Kabupaten
rizky di Sragen.
kabupaten
sragen
4. Pajar (2008) Analisis faktor- pendidikan, Analisis Variabel tingkat
faktor yang motivasi dan Regresi Linier pendidikan,
mempengaruhi usia, serta Berganda, Uji motivasi, usia dan
Produktivitas pengalaman t, Uji F, pengalaman kerja
tenaga kerja kerja. Koefisien secara

19
karyawan produktivitas Determinasi bersama-sama
bagian tenaga memberikan
Keperawatan kerja pengaruh yang
pada rumah signifikan terhadap
sakit pku variabel
Muhammadiya produktivitas tenaga
h surakarta kerja perawat di RS.
Pengaruh upah Upah, Jaminan Uji Validitas, Hubungan upah
dan jaminan Sosial. Uji dengan produktivitas
sosial Produktivitas Reliabilitas, tenaga kerja
Terhadap tenaga kerja Uji Analisis memiliki hubungan
produktivitas Karyawan (Korelasi Rank yang rendah
tenaga kerja Spearman) dan negatif,
5. Setiadi (2009) Hubungan jaminan
karyawan
sosial dengan
di PT Semarang
produktivitas tenaga
Makmur kerja memiliki
semarang hubungan yang
sangat rendah dan
negatif.

2.3 Kerangka Pikir

Tinggi rendahnya kualitas seorang tenaga kerja akan mempengaruhi

kinerjanya untuk meningkatkan hasil output dalam pekerjaan yang akan

mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. Upah minimum merupakan penerimaan

bulanan minimum (terendah) sebagai imbalan dari pengusaha kepada pekerja

untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilakukan dan dinyatakan

atau dinilai dalam bentuk uang yang ditetapkan atas dasar suatu persetujuan atau

peraturan perundang-undangan serta dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja

antara pengusaha dengan pekerja termasuk tunjangan, baik pekerja itu sendiri

maupun untuk keluarganya. Upah minimum merupakan faktor yang sangat

dominan pengaruhnya dalam produktivitas tenaga kerja. Pemberian upah yang

benar, sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati antara pimpinan dengan

tenaga kerja akan memberikan motivasi kepada tenaga kerja untuk bekerja dengan

20
baik, akibatnya produktivitas tenaga kerjanya dapat dipertahankan atau justru

lebih ditingkatkan.

Setiap pengusaha menginginkan hasil produksi yang optimal, hal ini menyangkut

kesiapan tenaga kerja yang didukung oleh peralatan yang memadai juga dengan

pemberian upah yang sudah ditetapkan minimumnya (upah minimum). Besar

kecilnya upah yang diberikan perusahaan kepada karyawannya jelas sangat

berpengaruh pada produktivitas tenaga kerja karyawan, karena dapat mendorong

pekerja untuk berproduksi lebih optimal atau dengan kata lain produktivitasnya

tinggi.

Peningkatan produktivitas merupakan faktor kunci bagi perkembangan

suatu perusahaan atau industri untuk maju. Pengertian dari produktivitas itu

sendiri

adalah suatu output total yang dihasilkan dari penggunaan kuantitas tenaga kerja

tertentu atau kuantitas output total dibandingkan dengan kuantitas tenaga kerja.

Untuk memperjelas hubungan antar variabel tersebut di atas, maka kerangka

pemikiran itu dapat digambarkan dalam suatu model sebagai berikut :

GAMBAR 1 : MODEL KERANGKA PEMIKIRAN

Produktivitas (Y) Upah Minimum (X)

2.4 Hipotesis

21
Hipotesis tidak lain dari jawaban sementara terhadap masalah penelitian,

yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis menyatakan hubungan

apa yang kita cari atau yang ingin kita pelajari. Hipotesis adalah pernyataan yang

diterima secara sementara sebagai suatu kebenaran sebagaimana adanya, pada saat

fenomena dikenal dan merupakan dasar kerja serta panduan dalam verifikasi.

Hipotesis adalah keterangan sementara dari hubungan fenomena-fenomena yang

kompleks. Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

Diduga dengan semakin tingginya upah minimum kota, semakin tinggi pula

produktivitas tenaga kerja di kota tersebut.

22
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Objek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota Kendari, yang merupakan kota di

Provinsi Sulawesi Tenggara. Tenaga kerja di Kota Kendari dijadikan objek

penelitian karena dilihat dari letak geografis, luas wilayah dan populasi

penduduk, menjadikan kota Kendari ini memiliki peranan penting dalam

kegiatan ekonomi di Provinsi Sulawesi Tenggara.

3.2 Populasi dan Sampel

Pada penelitian ini penulis akan melakukan sensus pada produktivitas tenaga

kerja di kota Kendari.

3.3 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.

Data sekunder dilakukan dengan riset kepustakaan melalui dokumen/catatan-

catatan, literatur-literatur, jurnal-jurnal yang mendukung penelitian ini. Dalam

penelitian ini sumber data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kota

Kendari.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data ini dimaksudkan untuk mempermudah

peneliti dalam mengumpulkan data atau mencari informasi yang ada. Adapun

23
metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Dokumentasi. Dokumentasi merupakan pengumpulan data dari catatan-catatan

yang ada pada suatu badan atau lembaga yang bersangkutan yang dalam

penelitian ini adalah Badan Pusat Statistik Kota Kendari.

3.5 Metode Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

3.5.1 Analisis Regresi

Analisis untuk mengetahui pengaruh kenaikkan Upah Minimum

terhadap Produktivitas tenaga kerja adalah Analisis Regresi Linier Sederhana,

Analisis ini untuk mengetahui pengaruh suatu variabel produktivitas

dihubungkan dengan variabel upah minimum.

Y= a + bX

Dimana :

Y = Produktivitas tenaga kerja

a = Konstanta

X = Upah Minimum Kota

B = Koefisien regresi (kemiringan)

3.5.2 Metode Analisis Deskriptif

Menurut Sugiyono (dalam idtesis.com) menyatakan bahwa metode

deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan

atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk

membuat kesimpulan yang lebih luas.

24
Metode Analisis Deskriptif merupakan cara merumuskan dan

menafsirkan data yang ada sehingga memberikan gambaran yang jelas

mengenai perusahaan secara umum.

3.5.3 Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis bagi parameter A dan B menggunakan uji t, dengan

langkah-langkah pengujian sebagai berikut:

1. Menentukan formula hipotesis

Untuk parameter A:

H0:A = A0

H1:A > A0

A < A0

A ≠ A0

Untuk parameter B:

H0:B = B0, B0 mewakili nilai B tertentu, sesuai hipotesisnya

H1:B > B0, jika B0 > 0, berarti pengaruh X terhadap Y adalah positif

B < B0, jika B0 < 0, berarti pengaruh X terhadap Y adalah negatif

B ≠ B0, jika B0 ≠ 0, berarti X mempengaruhi Y

2. Membuat kesimpulan

Menyimpulkan apakah diterima atau ditolak.

Catatan:

Dari kedua koefisien regresi A dan B, koefisien regresi B, yaitu koefisien

regresi sebenanya adalah yang lebih penting, karena dari koefisien ini, ada

atau tidak adanya pengaruh X terhadap Y dapat diketahui.

25
3.6 Definisi Operasional

Untuk memperjelas dan memudahkan pemahaman terhadap variabel- variabel

yang akan dianalisis dalam penelitian ini, maka perlu dirumuskan definisi

operasional sebagai berikut:

1. Upah minimum kabupaten/kota (UMK) adalah upah minimum yang

berlaku di daerah kabupaten/kota, yang diterima oleh pekerja per bulan

(BPS, 2008) yang mana diukur menggunakan satuan rupiah (Rp). UMK

yang digunakan dalam penelitian ini adalah upah minimum yang berlaku di

Kota Kendari, dengan data yang diambil dari BPS.

2. Produktivitas tenaga kerja adalah jumlah yang dihasilkan tiap pekerja

dalam jangka waktu tertentu dan diukur menggunakan satuan unit.

Produktivitas tenaga kerja diukur dari banyaknya pekerjaan yang

terselesaikan berdasarkan waktu yang telah ditetapkan dan dari hasil

pekerjaan sesuai dengan mutu pekerjaan. Produktivitas adalah ukuran

efisiensi atau perbandingan secara keseluruhan antara pengeluaran yang

dihasilkan dengan pemasukan yang dipergunakan dalam waktu tertentu.

26
DAFTAR PUSTAKA

Asik Belajar. 2014. Teori Produktivitas tenaga kerja.

http://www.asikbelajar.com/2014/04/teori-produktivitas-kerja.html.

Diakses 27 Februari 2017.

Bosultra. 2016. 2017 UMK Kota Kendari Naik 8,25 Persen.

https://bosultra.com/2017-umk-kota-kendari-naik-825-persen/. Diakses 7

Maret 2017.

Easy accounting system. 2016. UMR, Produktivitas, Dan Etika Bisnis.

http://easyaccountingsystem.co.id/artikel/umr-produktivitas-dan-etika

bisnis. Diakses 27 Februari 2017.

HR Centro. 2010. Upah Minimum.

http://www.hrcentro.com/artikel/Upah_Minimum_100319.html. Diakses

27 Februari 2017.

Idtesis. 2007. Definisi Metode Deskriptif. https://idtesis.com/metode-deskriptif/.

Diakses 19 Maret 2017

Sumarsono,Tomi. 2009. Teori Dan Kebijakan Publik Ekonomi Sumber Daya

Manusia. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Universitas Bung Hatta. 2015. Produktivitas Tenaga Kerja Dari Perspektif Sosial.

http://bunghatta.ac.id/artikel-202-produktivitas-tenaga-kerja-dari

perspektif-sosial.html. Diakses 27 Februari 2017.

27
Wikipedia. 2015. Upah Minimum Provinsi.

https://id.wikipedia.org/wiki/Upah_minimum_provinsi. Diakses 27 Februari 2017

28