Anda di halaman 1dari 9

Dokumen Final

Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Kalimantan Barat

BAB I c. Memperkuat peran serta masyarakat dan lembaga pemerintah serta mendorong inisiasif
masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil agar tercapai
PENDAHULUAN
keadilan, keseimbangan, dan keberlanjutan; dan
d. Meningkatkan nilai sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat melalui peran serta masyarakat
1.1. LATAR BELAKANG
dalam pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dikenal pula sebagai negara maritim dengan
Potensi sumberdaya ikan terdapat di wilayah perairan Kalimantan Barat meliputi WPP 711 dan WPP
luas lautan mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari perairan territorial 3,1 juta km 2 dan ZEE Indonesia
712. Potensi ikan pelagis kecil dan ikan demersal pada bagian timur Kalimantan Barat sangat tinggi
2,7 km2. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia terdiri dari 17.504 buah pulau dan
mencapai 395.451 ton untuk ikan pelagis kecil dan 400.517 ton untuk ikan demersal sedangkan
panjang pantai mencapai 95.181 km (KKP, 2011). Kondisi ini merupakan anugrah yang sangat besar
untuk selatan Kalimantan Barat potensi yang melimpah adalah ikan pelagis kecil dan ikan demersal
bagi pembangunan perikanan dan kelautan. Disamping itu, sumberdaya ikan yang hidup di wilayah
dengan potensi 303.886 ton/tahun untuk pelagis Kecil dan 320.432.ton/tahun untuk ikan
perairan Indonesia memiliki tingkat keragaman hayati (bio-diversity) sangat tinggi, dan bahkan laut
demersal.Pada tahun 2016 produksi perikanan tangkap laut di provinsi Kalimantan barat mencapai
Indonesia merupakan wilayah Marine Mega-Biodiversity terbesar di dunia, yang memiliki sekitar
114.003 ton, sedangkan potensi perikanan tangkap laut berdasarkan WPP mencapai 2.125.021
8.500 species ikan, 555 species rumput laut dan 950 species biota terumbu karang. Sumberdaya
ton/tahun, sehingga potensi penangkapan ikan masih sangat mungkin untuk di tingkatkan.
ikan tersebut meliputi 37 persen dari species ikan di dunia. Disamping sumberdaya dapat pulih
perkembangan wilayah pesisir dua tahun terakhir sangat tinggi terutama terkait kebijakan strategis
sebagaimana dikemukakan di atas, perairan laut Indonesia juga memiliki sumberdaya tidak pulih
nasional seperti pembangunan pelabuhan internasional, peningkatan infrastruktur wilayah
seperti mineral (minyak, gas dan lain sebagainya) serta jasa-jasa lingkungan seperti sumber energi
perbatasan Indonesia dengan Malaiysia di Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas, pembangunan
yang berasal dari arus pasang surut, gelombang, perbedaan salinitas, angin dan perbedaan suhu air
industri pertambangan dari PT.WHW dan beberapa PLTU yang masih dilakukan pembangunannya
laut di lapisan permukaan dan lapisan dalam perairan yang dikenal dengan ocean thermal energy
serta perkembangan minat wisata bahari sangat tinggi sehingga perlu di atur perkembangannya
convertion (OTEC). Kondisi ini selanjutnya menjadikan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil sangat
agar berbasis ekowisata dalam menjaga kelestarian lingkungan. perkembangan wilayah pesisir
potensial untuk dikembangkan berbagai kegiatan. Potensi sumberdaya kelautan, seperti minyak dan
yang tinggi ini dapat mengakibatkan degradasi lingkungan dan di perlukan kepastian hukum dalam
gas, meneral dan energi, perhubungan laut, industry maritim, dan industri jasa seperti pariwisata
penataan wilayah pesisir agar tidak menjadi konflik pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
serta perikanan yang terdiri dari perikanan tangkap dan budidaya sangat potensial untuk
Berdasarkan kondisi tersebut, maka Provinsi Kalimantan Barat pada Tahun Anggaran 2017
pembangunan ekonomi nasional.
melaksanakan “Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi
Akan tetapi, dalam pemanfaatan dan pengolahan sumber daya alam tersebut masih belum optimal
Kalimantan Barat”.
dan kurang tepat sasaran. Disamping wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang rentan terhadap
perubahan lingkungan, bencana alam, dan perubahan iklim, juga banyaknya konflik pemanfaatan
1.2. DASAR HUKUM
ruang dan kerusakan habitat yang diakibatkan oleh ulah manusia.
Revisi UU No. 32 Tahun 2004 menjadi UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah,
Untuk itu, wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil perlu dikelola secara terpadu dalam rangka
memberikan amanat untuk dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan daerah, maka perlu ditelaah
mewujudkan tata ruang wilayah yang aman, nyaman dan produktif, agar diperoleh manfaat baik dari
kembali peraturan perundang-undangan pada lingkup tugas kelautan, pesisir dan pulau-pulau kecil
segi lingkungan, ekonomi, sosial, dan budaya.
Provinsi sebagaimana tercantum dalam UU No 23 Tahun 2014 Bab V pasal 27 yang menjelaskan
Pengelolaan WP3K dilaksanakan dengan tujuan :
wilayah kewenangan daerah provinsi di laut dan 28 yang menjelaskan wilayah kewenangan daerah
a. Melindungi, mengonservasi, merehabilitasi, memanfaatkan, dan memperkaya Sumber Daya
provinsi yang berciri kepulauan. Berdasarkan pasal 27 daerah provinsi dilaut memiliki kewenangan
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta sistem ekologisnya secara berkelanjutan;
untuk mengelola sumberdaya alam di laut yang ada di wilayahnya,
b. Menciptakan keharmonisan dan sinergi antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam
Kewenangan Daerah provinsi untuk mengelola sumber daya alam di laut paling jauh 12 (dua belas)
pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan, apabila

Bab I Pendahuluan I–1


Dokumen Final
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Kalimantan Barat

wilayah laut antar dua daerah provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil, kewenangan untuk Dilihat dari tekstur tanahnya maka, sebagian besar daerah Kalimantan Barat terdiri dari jenis tanah
mengelola sumber daya alam di laut dibagi sama jarak atau diukur sesuai dengan prinsip garis PMK (podsolet merah kuning), yang meliputi areal sekitar 10,5 juta hektar atau 17,28 persen dari
tengah dari wilayah antar dua daerah provinsi tersebut. luas daerah yang 14,7 juta hektar. Berikutnya, tanah OGH (orgosol, gley dan humus) dan tanah
Undang-Undang No. 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Aluvial sekitar 2,0 juta hektar atau 10,29 persen yang terhampar di seluruh Dati II, namun sebagian
Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil pada Pasal 14 ayat 1 telah besar terdapat di kabupaten daerah pantai.
menyebutkan bahwa Usulan penyusunan RSWP-3-K, RZWP-3-K, RPWP-3-K, dan RAPWP-3-K 2. Iklim dan Cuaca
dilakukan oleh Pemerintah Daerah, Masyarakat, dan dunia usaha. Selanjutnya pada ayat 2 juga Faktor yang merupakan ciri umum bagi suatu daerah dataran rendah di daerah tropis adalah suhu
telah menyebutkan bahwa Mekanisme penyusunan RSWP-3-K, RZWP-3-K, RPWP-3-K, dan udara yang relatif panas atau tinggi, sedangkan khusus daerah Kalimantan Barat suhu yang tinggi
RAPWP-3-K pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dilakukan dengan melibatkan ini diikuti pula dengan kelembapan udara yang tinggi. Berdasarkan ca tatan empiris dari Stasiun
Masyarakat. Meteorologi Supadio Pontianak yang meliputi Stasiun Meteor ologi (SM) Supadio Pontianak, SM
Pangsuma Putussibau, SM Paloh Sambas, SM Susilo Sintang, SM Nanga Pinoh Melawi dan
1.3. PROFIL WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL Stasiun Klimatologi Siantan Kabupaten Mempawah, umumnya suhu udara di daerah Kalbar cukup

1.3.1. Letak Geografis normal namun bervariasi, yaitu rata-rata sekitar 26°C sampai dengan 28°C.
3. Hidrologi
Kalimantan Barat memiliki wilayah seluas 146.807 km2. Perairan laut Kalimantan Barat merupakan
Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki Provinsi Seribu Sungai.
bagian dari Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 711 dan 712 meliputi Laut Natuna Utara, Laut
Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang
Natuna, Selat Karimata, dan Laut Jawa. Secara geografis perairan laut Kalimantan Barat terletak
diantaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat
pada 2⁰08’ LU serta 3⁰02’ LS serta diantara 108⁰30’ BT dan 114⁰10’ BT. Batas adminsitrasi Prov.
nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat
Kalbar :
menjangkau sebagian besar kecamatan.
- Utara : Sarawak (Malaysia)
Sungai besar utama adalah S. Kapuas, yang juga merupakan sungai terpanjang di Indonesia (1.086
- Timur : Kaltim dan Kalteng
km), yang mana sepanjang 942 km dapat dilayari. Sungai-sungai besar lainnya adalah: S. Melawi,
- Selatan : Laut Jawa dan Kalimantan Tengah
(dapat dilayari 471 km), S. Pawan (197 km), S. Kendawangan ( 128 km), S. Jelai (135 km), S.
- Barat : Laut Natuna dan Selat Karimata
Sekadau (117 km), S. Sambas (233 km), S. Landak (178 km).
Kalimantan Barat memiliki 14 Kabupaten/ Kota, 7 (tujuh) diantaranya merupakan Wilayah Pesisir dan
Jika sungai-sungai sangat menonjol jumlahnya di Kalimantan Barat, maka sebaliknya yang terjadi
Pulau-pulau Kecil (WP-3-K). Tujuh Kabupaten/ Kota tersebut antara lain Kab. Sambas, Kota
dengan danau. Dari danau-danau yang ada hanya dua yang cukup berarti. Kedua danau ini adalah
Singkawang, Kab. Bengkayang, Kab. Mempawah, Kab. Kubu Raya, Kab. Kayong Utara, dan Kab.
Danau Sentarum dan Danau Luar I yang berada di Kabupaten Kapuas Hulu.
Ketapang.
Danau Sentarum mempunyai luas 117.500 hektar yang kadang-kadang nyaris kering di musim
kemarau, serta Danau Luar I yang mempunyai luas sekitar 5.400 hektar. Kedua danau ini
1. Kondisi Topografi
mempunyai potensi yang baik sebagai objek wisata.
Secara umum, daratan Kalimantan Barat merupakan dataran rendah dan mempunyai ratusan sungai
yang aman bila dilayari, sedikit berbukit yang menghampar dari Barat ke Timur sepanjang Lembah
Kapuas serta Laut Natuna/Selat Karimata. Sebagian daerah daratan ini berawa-rawa bercampur 1.3.2. Administratif Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Di Provinsi Kalimantan
gambut dan hutan mangrove. Barat
Wilayah daratan ini diapit oleh dua jajaran pegunungan yaitu, Pegunungan Kalingkang/Kapuas Hulu Kalimantan Barat memiliki 14 Kabupaten/ Kota, 7 (tujuh) diantaranya merupakan Wilayah Pesisir dan
di bagian Utara dan Pegunungan Schwaner di Selatan sepanjang perbatasan dengan Provinsi Pulau-pulau Kecil (WP-3-K). Tujuh Kabupaten/ Kota tersebut antara lain Kab. Sambas, Kota
Kalimantan Tengah.. Singkawang, Kab. Bengkayang, Kab. Mempawah, Kab. Kubu Raya, Kab. Kayong Utara, dan Kab.

Bab I Pendahuluan I–2


Dokumen Final
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Kalimantan Barat

Ketapang. Adapun untuk lebih jelasnya, administrasi wilayah pesisir per Kecamatan di Provinsi Berdasarkan analisis Citra panjang garis pantai Kalimantan Barat diperkirakan sebesar 2.453,504
Kalimantan Barat dapat dilihat sebagai berikut km yang membentang dari sambas (utara) sampai Ketapang (selatan) dengan luas wilayah laut
Provinsi Kalimantan Barat sejauh 12 mil laut dari pantai sebesar 3,3 Juta Ha.
Tabel 1.1. Administrasi Wilayah Pesisir per Kecamatan di Provinsi Kalimantan Barat
Pulau kecil merupakan pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km 2 (dua ribu
No Kabupaten/Kota Kecamatan Pesisir
1 Kab. Sambas Kec. Paloh kilometer persegi) beserta kesatuan ekosistemnya. Suatu daratan dapat dikatakan sebagai pulau
Kec. Tangaran jika pada waktu pasang tertinggi daratan tersebut masih muncul atau tidak terendam air laut.
Kec. Jawai
Kec. Jawai selatan Di wilayah Provinsi Kalimantan Barat, terdapat 205 pulau-pulau kecil yang tersebar di 7
Kec. Pemangkat
Kabupaten/ Kota pesisir dan 8 pulau bermasalah (nasional 3 pulau (Nibung Besar, Nibung Kecil
Kec. Selakau
Kec. Salatiga dan Burung) dan Provinsi 5 pulau (Meresak, Dua Barat, Dua Timur, Mastiga Darat dan Mastiga
2 Kota Singkawang Kec. Singkawang Utara Laut)). Pulau-pulau kecil ini tentunya memiliki berbagai potensi sumberdaya alam yang potensial
Kec. Singkawang Tengah
Kec. Singkawang Barat untuk berbagai pengembangan sekaligus rawan terhadap kerusakan.
Kec. Singkawang Selatan
3 Kab. Bengkayang Kec. Sungai Raya Tabel 1.2. Jumlah Pulau – Pulau Keci Di Prov Kalimantan Barat
Kec. Sungai Raya Kepulauan
Jumlah Pulau-pulau Kecil pada WP-3-K
4 Kab. Mempawah Kec. Sungai Kunyit No Kab/Kota Pesisir
Kec. Mempawah Hilir Jumlah Berpenghuni Tdk Berpenghuni
Kec. Sungai Pinyuh 1 Sambas Pulau
13 1 12
Kec. Segedong 2 Singkawang 1 0 1
Kec. Siantan 3 Bengkayang 12 7 5
Kec. Mempawah Timur 4 Kab.Pontianak 9 3 6
5 Kab. Kubu Raya Kec. Sungai Kakap 5 Kubu Raya 37 14 23
Kec. Teluk Pakedai 6 Kayong Utara 99 15 84
Kec. Kubu
7 Ketapang 50 6 44
Kec. Batu Ampar
8 Sengketa 5 1 4
6 Kab. Kayong Utara Kec. P. Maya
Jumlah 226 47 179
Kec. Tel. Batang
Kec. Tel. Melano Sumber : Biro Pemerintahan Setda Provinsi Kallimantan Barat Tahun 2017
Kec. Sukadana
Kec. Kep. Karimata
7 Kab. Ketapang Kec. Matan Hilir Utara Berbagai potensi sumberdaya alam yang ada di pulau-pulau kecil ini antara lain sumberdaya
Kec Muara Pawan perikanan yang melimpah, ekosistem perairan (terumbu karang, lamun dan mangrove), pantai
Kec. Delta Pawan
Kec. Benua Kayong yang indah, perairan yang jernih, bahan tambang, dll. Dengan berbagai potensi tersebut, maka
Kec. Matan Hilir Selatan pulau-pulau kecil sangat potensial untuk berbagai pengembangan seperti ; pariwisata, budidaya
Kec. Kendawangan
Sumber : Kalimantan Barat Dalam Angka 2016 dan Hasil Analisa pantai dan laut, penangkapan ikan, pemukiman, konservasi, dll.

1.3.3. Bathimetri
Pada awal mulanya, 7 (tujuh) Kabupaten Kota tersebut tergabung ke dalam 3 (tiga) Kabupaten.
Perairan laut Kalimantan Barat merupakan daerah yang memiliki batimetri laut yang relatif dangkal
Namun, seiring dengan perubahan kebijakan di tingkat Pemerintah Pusat seiring dengan
dan datar. Gradient kemiringan dasar perairan kurang dari 30% dengan karakteristik perairan yang
dikeluarkannya Kebijakan tentang Otonomi Daerah serta inisiasi daerah, maka ke-3 Kabupaten
agak keruh. Dengan karakteristik wilayah daratan yang banyak memiliki muara sungai, maka wilayah
tersebut memekarkan diri menjadi 7 Kabupaten/ Kota. Kondisi Kabupaten/Kota Pesisir pra pasca UU
perairan laut ini dangkal dan memiliki kekeruhan yang tinggi, kadar garam yang rendah, dan bahan
No 32 tahun 2004 dan UU No 22 tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel berikut.
organic yang cukup tinggi. Bentuk garis kontur kedalaman mengikuti bentuk garis pantai. Semakin

Bab I Pendahuluan I–3


Dokumen Final
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Kalimantan Barat

jauh dari garis pantai, nilai kontur kedalaman semakin besar (semakin dalam). Rentang kedalaman Verifikasi Data Pasang Surut di perairan Pantai Sinam dan Muara Sungai Pawan Dengan Data
wilayah studi rata-rata berkisar dari kedalaman 1 m – 50 m. Kedalaman tersebut bertambah kearah Ramalan
barat dan barat daya yaitu bekisar antara 10 hingga 45 meter. Morfologi dasar laut bervariasi dari Berdasarkan hasil verifikasi data pasang surut peramalan dengan data pengukuran pasang surut
kemiringan relative landai hingga bergelombang lemah. lapangan di dapatkan bahwa tinggi pasang surut peramalan hampir sama dengan tinggi pasang
morfologi dasar laut memperlihatkan kontur yang menutup membentuk morfologi negative dengan surut saat pengukuran, bahkan pola pasang surutnya pun sama yaitu tipe pasang surut campuran
kedalaman sekitar 15 meter yang terdapat di bagian timur laut Pulau Karimata yang memanjang condong ke harian ganda. Di mana, dalam 1 hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang
dengan arah barat laut tenggara dan di barat daya Pulau Serutu yang memanjang kearah utara terjadi secara kontinu. Tipe pasang surut ini memiliki tinggi muka air yang berbeda antara yang
selatan. pertama dengan yang keduanya.
Kedalaman Laut maksimum di wilayah Kabupaten/Kota Pesisir Provinsi Kalimantan Barat berkisar 2. Arus
antara 34 meter sampai dengan 60 meter. Kedalaman maksimum 34 sampai 41 meter terdapat Raw data Kecepatan Arus pada setiap kedalaman di Perairan Mempawah
kabupaten sambas dan bengkayang, 40 meter sampai 48 meter (kabupaten keteapang dan kayong
Berdasarkan hasil pengolahan data arus stasiun ADCP dapat disimpulkan beberapa hal diantaranya
utara) dan 50 meter sampai 60 meter (Kabupaten Mempawah).Pada beberapa wilayah pantai, juga
adalah :
banyak dijumpai gundukan pasir (beting pasir) yang mana ketika surut terendah gundukan pasir
a. Kecepatan arus bervariasi dengan kecepatan rata-rata pada seluruh kolom air berkisar antara
tersebut timbul menjadi daratan.
12,2 cm/s – 15,6 cm/s, kecepatan arus minimum 0,2 cm/s – 0,6 cm/s, dan kecepatan arus
maksimum 27,5 cm/s – 37,7 cm/s, dengan kecepatan arus terkecil terjadi pada kedalaman 9-10
meter dan kecepatan arus terbesar pada kedalaman 3-4 meter.
1.3.4. OSEANOGRAFI
b. Kondisi arus menunjukkan adanya hubungan antara kecepatan arus dengan pola pasang surut
1. Pasang Surut
yang terjadi. Hubungan ini dapat dilihat dengan adanya penurunan kecepatan arus pada saat
Berdasarkan hasil analisa pasang surut menggunakan metode leas square diperoleh kesamaan tipe
muka air mulai menuju pasang (surut terendah) ataupun mulai menuju surut (pasang tertinggi)
pasang surut di lokasi Muara Sungai Pawan, Kabupaten Ketapang dengan tipe pasang surut di
dan sebaliknya kecepatan arus meningkat pada saat pasang menuju surut ataupun surut
Perairan Pantai Sinam, Kecamatan Pemangkat yaitu tipe pasang surut campuran condong ke harian
menuju pasang.
ganda.

 Hasil Pengukuran Pasang Surut di Perairan Pantai Sinam, Kecamatan Pemangkat Current rose Kecepatan Arus pada setiap kedalaman di Perairan Mempawah .
Berdasarkan hasil pengolahan data pasang surut dengan menggunakan metode least square
Dari hasil analisa data pengamatan arus di Perairan Mempawah menggunakan current rose dapat
diperoleh gambaran bahwa nilai muka laut rerata (MSL) adalah 0,76 m, muka laut rendah (LWL)
disimpulkan beberapa hal diantaranya adalah :
adalah 0,15 m dan nilai muka laut tinggi (HWL) adalah 1,50 m. Dari nilai bilangan Formzahl (Nilai F
a. Arah arus dominan untuk kedalaman rata-rata arahnya menuju ke Tenggara dengan distribusi
= 0,64).
frekuensi kejadian berkisar 53,82 %. Untuk kedalaman 9-10 meter, 8-9 meter, 7-8 meter, 6-7
 Hasil Pengukuran Pasang Surut di Muara Sungai Pawan, Kabupaten Ketapang meter, 5-6 meter, 4-5 meter, 3-4 meter dan 2-3 meter arah dominan arusnya menuju ke
Berdasarkan hasil pengolahan data pasang surut dengan menggunakan metode least square
Tenggara dengan distribusi antara 13,68 % - 50,94 %. Untuk kedalaman 1-2 meter dan 0-1
diperoleh gambaran bahwa nilai muka laut rerata (MSL) adalah 1,78 m, muka laut rendah (LWL)
meter arah arus dominan menuju ke Tenggara dan Barat Laut dengan distribusi 26,96 – 32,01%.
adalah 0,96 m dan nilai muka laut tinggi (HWL) adalah 2,81 m. Dari perhitungan dengan
b. Kecepatan arus dominan pada kedalaman rata-rata, Untuk kedalaman 9-10 meter, 8-9 meter, 7-
menggunakan persamaan bilangan Formzahl didapatkan nilai Nilai F = 0,64. Nilai tersebut jika
8 meter, 6-7 meter, 5-6 meter, 4-5 meter, 3-4 meter dan 2-3 meter berkisar antara 10 cm/s – 15
dimasukkan dalam aturan persamaan bilangan Formzahl . cm/s dengan distribusi frekuensi kejadian antara 23,89 – 36,27 %. Untuk kedalaman 1-2 meter
dan 0-1 meter arus dominan berkisar antara 5 cm/s – 10 cm/s dengan distribusi antara 28,34 –
28,44 %.

Bab I Pendahuluan I–4


Dokumen Final
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Kalimantan Barat

c. Arah arus dominan pada kedalaman rata-rata adalah ke arah Tenggara dengan frekuensi bahari maupun pelabuhan. Suhu terendah 28,3 0C. Secara umum hasil pengukuran suhu sangat
kejadian sebesar 53,82 % dan kecepatan arus dominan berkisar 10 cm/s – 15 cm/s dengan dipengaruhi oleh waktu, kondisi cuaca maupun kedalaman perairan yang mempengaruhi sebaran
frekuensi kejadian sebesar 32,51 %. suhu di perairan.
Dari hasil pengukuran lapangan dilakukan verifikasi dengan data satelite guna memastikan hasil
pengukuran dilapangan memiliki tingkat perbandingan sekitar 0,210829 % dengan data satelite
Scatter plot Kecepatan Arus pada setiap kedalaman di Perairan Mempawah Tanggal 9 – 16
(lebih mendiskripsikan terkait peta)
Agustus 2017
b). Kecerahan
Berdasarkan hasil pengolahan data arus pada Tanggal 9 - 16 Agustus 2017 di perairan Mempawah,
Kecerahan di Perairan Kalimantan Barat berdasarkan hasil pengamatan adalah berkisar antara 1 - 8
untuk semua kedalaman dalam bentuk Scatter plot yang tersaji pada Gambar di bawah ini.
meter. Secara umum kisaran tingkat kecerahan di lokasi pengamatan ini masih berada pada kisaran
Pergerakan arah arus adalah dominan ke arah Tenggara saat pasang dan ke arah Barat Laut saat
baku mutu air laut bagi peruntukan Biota Laut, wisata bahari maupun pelabuhan.. Lokasi
terjadi surut, pergerakan arus tersebut terjadi pada semua kedalaman. Hal ini dapat disimpulkan
pengamatan yang dekat dengan muara sungai akan mempengaruhi kecerahan perairan. Hal ini
bahwa kecepatan dan arah arus yang terjadi didominasi oleh faktor pasang surut. Pada kedalaman
dikarenakan aliran sungai membawa partikel sedimen dari hulu menuju ke laut, sehingga perairan
cell 10 (0-1 meter) kecepatan arus permukaan dipengaruhi oleh angin dengan pergerakan arusnya
akan cenderung keruh dan kecerahannya rendah. Selain itu faktor cuaca dan waktu pengukuran
menuju ke arah Timur, Tenggara, Barat Daya, Barat Laut dan Utara. Akan tetapi, pergerakan arus
kecerahan juga mempengaruhi hasil pengukuran kecerahan ini.
dominannya tetap menuju ke arah Tenggara dan Barat Laut. Hal ini menunjukkan, bahwa
c). pH
pergerakan arus permukaan (kedalaman Cell 10) di pengaruhi oleh angin darat dan angin laut, yaitu
Persebaran pH di Perairan Kalimantan Barat berkisar antara 7 - 8. Kisaran pH tersebut masih
pengaruh hembusan angin dari darat dan angin dari laut. Pada saat terjadi angin laut, arus akan
memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. Kondisi pH baik di dekat muara sungai maupun di
bergerak sesuai dengan pergerakan angin yaitu ke arah Tenggara atau menuju ke darat, Begitupun
perairan lepas memiliki nilai pH yang hampir sama.
sebaliknya saat terjadi angin darat, arus akan bergerak searah dengan pergerakan angin yaitu
d). Salinitas
menuju ke Barat Laut (ke arah laut).
Kondisi salinitas di Perairan Kalimantan Barat masih dalam kondisi normal/alami. Salinitas di
3. Gelombang
Perairan Kalimantan Barat memiliki kisaran 28,3 – 32,1‰. Salinitas paling rendah yaitu 28,3 ‰.
Hasil Plotting Raw Data Gelombang di Perairan Mempawah. Kisaran salinitas ini masih sesuai bagi peruntukan Biota Laut, wisata bahari maupun pelabuhan.
Hasil Plotting Raw Data Gelombang pada Perairan Mempawah tinggi gelombang berkisar antara 3,6 e). DO
cm – 24 cm dengan periode gelombang berkisar pada nilai 3,1 detik – 6,3 detik. Tinggi dan periode Kondisi DO di Perairan Kalimantan Barat masih dalam kondisi normal/alami. DO di Perairan Pantai
gelombang yang didapatkan pada saat pengamatan relatif kecil. Gelombang tertinggi sebesar 24 cm Utara memiliki kisaran 6,4 – 8,3 mg/l. DO paling rendah yaitu 6,4 mg/L. Kisaran DO ini masih sesuai
dengan periode 4,5 detik dan periode terbesar adalah 6,3 detik dengan tinggi gelombang 13,9 cm.. bagi peruntukan Biota Laut, wisata bahari maupun pelabuhan.
4. Kondisi Fisika, Kimia dan Biologi Perairan f). klorofil
secara umum dapat diketahui bahwa kualitas air perairan Kalimantan Barat masih memenuhi baku Berdasarkan analisa citra satelit aqua modis klorofil tertinggi 18 mg/l berada di perairan Kabuaten
mutu berdasarkan Kep MENLH Nomor 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut, Ketapang. Pada perairan selatan Kabupaten Mempawah klorofil relatip tinggi antara 3-18 mg/l
wisata bahari maupun pelabuhan. sedangkan untuk bagian utara Kabupaten Mempawah klorofil berkisar antara 2-16 mg/l, ada kabupaten
sambas klorofil sangat rendah yaitu berkisar antara 05 - 4 mg/l.
1.3.5. Geomorfologi dan Geologi Laut (Subtrat Dasar Laut)
a). Suhu Wilayah Kalimantan Barat berdasarkan hasil studi RePPProT (1987) terdiri dari 9 unit wilayah fisiografis,
0
Kisaran temperatur di Perairan Kalimantan Barat yaitu antara 28,3 – 31,4 C. Suhu di perairan ini yaitu suatu wilayah yang memiliki ciri fisik dan geografis yang hampir sama. BerdasAarkan pembagian
masih memenuhi baku mutu kisaran suhu yang diperbolehkan untuk peruntukkan Biota Laut, wisata tersebut, maka wilayah pesisir Kalimantan Barat dapat dibagi menjadi 2 unit wilayah fisiografis yaitu:

Bab I Pendahuluan I–5


Dokumen Final
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Kalimantan Barat

a) Dataran Rawa Pantai Dokumen perencanaan lain adalah Rencana Induk Pelabuhan Pontianak yang tercantum dalam
Dataran ini membentang dari Tanjung Datu di sebelah Utara (Kabupaten Sambas) sampai Sungai Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor KP 787 Tahun 2016 tentang Rencana Induk
Kendawangan di sebela:h selatan (Kabupaten Ketapang) sepanjang lebih kurang 500 kin dan Pelabuhan Pontianak yang wilayah perencanaannya hingga Pulau Temajo Kabupaten Mempawah.
mencakup areal seluas 20.780 km2. Wilayah ini mempunyai ketinggian berkisar antara 0-100 m
dengan kemiringan lahannya berkisar antara 0-2 % serta terbagi menjadi tiga sub-wilayah, yaitu 1.3.7. Kondisi Sosial Ekonomi Budaya
Dataran Rawa Pantai Sambas, Dataran Rawa Pantai Kapuas, dan Dataran Rawa Pantai Pawan. A. Kependudukan
Dari segi klimatologi wilayah ini mempunyai curah hujan berkisar antara 2.500 - 3000 mm/tahun, Jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Barat tahun 2016 berdasarkan hasil Proyeksi Penduduk
O O
suhu maksimum berkisar antara 29-33 C dan minimum 22-26 C, serta bulan basah tiap tahun berjumlah sekitar 2,499 juta jiwa, dimana sekitar 1,268 juta jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 1,230
antara 5-8 bulan. Dalam sistem hidrologi, wilayah ini tercakup dalam daerah aliran sungai (DAS) juta jiwa adalah perempuan. Luas wilayah kabupaten pesisir di Provinsi Kalimantan Barat sebesar
Palch, Sambas, Sebangkau, Selakau, Sungai Raya, Duri, Mempawah, Landak, Kapuas, Mendawak, 56.564,99 Km2, kepadatan penduduk wilayah pesisir Kalimantan Barat baru sekitar 44 Jiwa per
Lida, Simpang, Tulak dan Pawan. kilometer persegi. Kondisi ini tentunya kurang menguntungkan dalam rangka percepatan
Berrnacam-macam formasi pengendapan terdapat di wilayah ini, seperti rawa bergambut, batuan pembangunan wilayah khususnya menyangkut pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dengan
komplek dasar Kalimantan, rawa bakau, dan batuan intrusi dari jaman mesozoikum. Jenis tanahnya segala potensi dan keragamannya. (Sumber : BPS, 2017).
terdiri dari Aluvial, Organosol dan Podsol.
b) Dataran Rendah Pantai Selatan B. Budaya
Wilayah ini terletak di belahan ujung selatan Kalimantan Barat (Kabupaterln Ketapang) mencakup Kegiatan "Robo-Robo" salah satu pagelaran budaya masyarakat pesisir Provinsi Kalimantan Barat
areal seluas 7.180 km2 dengan ciri fisik utama adanya teras-teras berpasir yang rendah dan rawa- pada setiap Rabu terakhir pada bulan Safar (dalam Kalender Hijriah). Tradisi Robo-robo
rawa gambut yang luas dengan potensi pengembangan rendah. Wilayah ini dibedakan atas dua sebagaimana yang ditulis dalam situs resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalbar, sebagai
2
sub-wilayah, yaitu Dataran Rawa Jelai disebelah timur seluas 1.710 km (termasuk Pulau Gelam napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon sebagai pendiri Kota Mempawah.
yang kecil dan berawa) dan teras-teras Kendawangan seluas 5.470 km2 disebelah barat yang Tujuan digelarnya kegiatan Robo-Robo saat ini, salah satunya untuk melestarikan Budaya suku
meliputi Putau Bawal yang berbukit kecil dekat pantai. Karena letaknya di dataran rendah, wilayah Bugis dan Melayu (akulturasi) yang ada di Mempawah. Robo-robo juga bukan hanya dirayakan di
ini mempunyai ketinggian berkisar antara 0 sampai 100 m dan mempunyai kemiringan sangat landai Mempawah, tetapi di kabupaten/kota daerah lain di Kalbar terutama oleh suku Bugis.
yaitu 0-2 %. Robo-robo di yakini sarat dengan pesan persatuan dari semua etnis dan agama yang ada di Provinsi
Kalimantan Barat. Pesan itu merupakan warisan yang ditinggalkan Opu Daeng Manambon ketika
1.3.6. Dokumen Perencanaan Pemanfaatan Perairan mendirikan Kota Mempawah.
Dokumen perencanaan pemanfaatan perairan didapatkan dari berbagai kajian diantarnya kajian Bukti lain dari adanya keharmonisan antar etnis bisa dilihat di kompleks pemakaman Opu Daeng
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kalimantan Barat dan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Manambon. Di makam tersebut juga terdapat makam Panglima Hitam orang Dayak, Patih Humantir
dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten/Kota yang telah di susun sebelumnya yaitu : dan Damarwulan orang Jawa, Lo Tai Pak orang Tionghoa, dan beberapa makam etnis lainnya
1. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Sambas Tahun 2013-2033 Selain budaya Robo-Robo di Provinsi Kalimantan Barat pada 1 Muharram terdapat pantangan pada
2. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kota Singkawang Tahun 2011-2031 masyarakat pesisir untuk ke laut menangkap ikan karena akan timbul kesialan.
3. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Bengkayang Tahun 2015-2035 Di Kabupaten Bengkayang terdapat kebiasaan apabila ingin mendirikan bagan tancap harus
4. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Mempawah Tahun 2012-2032 melakukan ritual tolak bala dengan melakukan doa bersama dan melarung sesajen (buang-buang)
5. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Kubu Raya Tahun 2012-2032 Di Kabupaten Sambas memiliki budaya Antar Ajung yang dilakukan setiap tahun oleh warga,
6. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Kayong Utara Tahun 2014-2034 terutama di Kecamatan Paloh. Ritual ini dilakukan pada saat musim tanam (padi). Hal ini dilakukan
7. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Ketapang Tahun 2014-2034

Bab I Pendahuluan I–6


Dokumen Final
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Kalimantan Barat

sebagai tradisi yang dilakukan masyarakat, dan diyakini dapat meningkatkan hasil panen di musim Pada Kabupaten Kubu Raya terdapat hukum adat apabila menangkap kepiting yang bertelur akan di
tanam yang baru. sidang oleh masyarakat dan di hukum untuk membuat ketupat 1000 buah dan di makan bersama
Kepercayaan orang Paloh, tradisi ini dimulai dengan kisah Raden Sandhi yang diangkat sebagai pada malamnya
menantu raja oleh "orang kebanaran" atau “orang halus”. Menurut masyarakat Paloh, Raden Sandhi C. Perekonomian
bukannya mati, tapi dibawa orang kebenaran. Masyarakat Paloh sampai saat ini masih percaya 1) Struktur Ekonomi
dengan hal-hal berbau mistik. lapangan usaha sebagian masyarakat Kalimantan Barat masih didominasi lapangan usaha
Prosesi Antar Ajong dilakukan dengan mengantarkan perahu-perahu kecil ke tengah laut yang di Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Meskipun peranannya cukup besar, namun selama lima
atas perahu tersebut dibentangi layar untuk bisa berlayar jauh ke tengah laut. Pembuatan ajung tahun terakhir terus mengalami penurunan. Selain Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan,
(perahu) ini di lakukan secara bergotong royong, mulai memotong, membelah bahkan hingga sumbangan terbesar pada tahun 2016 dihasilkan oleh lapangan usaha Industri Pengolahan,
mengecat serta memberi bentuk layar ajung tersebut. Apabila ajung sudah seiap, maka dilakukan kemudian lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Motor, lapangan
penurunan ajung di pantai (pantai tanah hitam) untuk mengarungi lautan luas. usaha Konstruksi, dan lapangan usaha Administrasi Pemerintahan. Sementara peranan lapangan
Sebelum ajung dilepas, terlebih dahulu diantar dengan tradisi joget dan diiringi dengan bunyi- usaha lainnya masih di bawah enam persen. (Sumber : BPS, 2017).
bunyian gendang (music) tradisional masyarakat setempat. Pelepasan ajung harus di lakukan 2) Pertumbuhan Perekonomian
secara serentak oleh pemilik ajung yg merupakan wakil dari masing-masing desa. Antar ajung Perekonomian Kalimantan Barat pada tahun 2016 mengalami peningkatan dibandingkan
dimaksudkan agar roh-roh jahat agar tidak mengganggu tanaman petani. Setelah dikumpulkan di pertumbuhan tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan PDRB Kalimantan Barat tahun 2016 mencapai
dalam satu ajung, roh-roh jahat tersebut kemudian dikirim kelautan lepas. 5,22 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 sebesar 4,86 persen. Seluruh lapangan usaha
Di Kabupaten Sambas selain budaya Antar Ajong terdapat juga tradisi Lempar Telur Penyu yang ekonomi PDRB pada tahun 2016 mencatat pertumbuhan yang positif. Pertumbuhan ekonomi
dilaksanakan pada setiap musim puncak peneluran yang merupakan pesta rakyat untuk mensyukuri tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 21,94 persen dan
atas telur penyu yang melimpah. Namun, seiring berjalannya waktu, Festival Lempar Telur Penyu lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 21,56 persen. Pertumbuhan ekonomi
sudah tidak lagi dilaksanakan karena populasi penyu menurun dan tidak sesuai dengan aturan terendah terjadi pada lapangan usaha Jasa Pendidikan sebesar 1,55 persen.
hukum yang berlaku di Indonesia dan digantikan dengan Festival Pesisir Paloh (FESPA). Lapangan usaha-lapangan usaha lainnya berturut-turut mencatat pertumbuhan positif, seperti
Festival Pesisir Paloh bertujuan untuk memberikan motivasi dan merangsang peran serta lapangan usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 10,28 persen, lapangan usaha Jasa Keuangan
pemerintah dan masyarakat pesisir untuk terlibat dan berpartisipasi secara sukarela dalam kegiatan sebesar 9,57 persen, lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial
konservasi. Selain itu juga, untuk menciptakan komunikasi yang optimal antara seluruh komponen Wajib sebesar 7,31 persen, lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 6,52 persen,
yang terkait terutama dalam pengawasan dan penegakan hukum bidang perikanan dan pesisir, serta lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 4,46 persen, lapangan usaha Industri
memberikan informasi dan pemahaman mengenai program konservasi pesisir dan spesies Pengolahan sebesar 4,45 persen, lapangan usaha Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah
khususnya penyu di Kecamatan Paloh. dan Daur Ulang sebesar 4,44 persen, lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
“FESPA juga bertujuan merangsang peran serta masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sebesar 4,37 persen, lapangan usaha Jasa Lainnya sebesar 4,09 persen, Perdagangan Besar dan
khususnya kawasan perairan dan pantai yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan habitat Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 3,83 persen, lapangan usaha Jasa Perusahaan
penyu, serta melestarikan dan mempromosikan budaya lokal yang ada di Paloh itu sendiri,” 3,13 persen, lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 2,76 persen, lapangan
Festival Pesisir Paloh diharapkan bisa memberikan informasi, pengetahuan masyarakat dan usaha Real Estat 2,35 persen, dan lapangan usaha Konstruksi sebesar 1,81 persen. (Sumber : BPS,
kampanye bangga akan potensi pesisir Paloh yang harus dijaga kelestariannya, serta 2017).
mempromosikan potensi ekowisata pesisir Paloh, wisata perbatasan, wisata sungai maupun wisata 3) PDRB Perkapita
penyu dengan pantai peneluran penyu terpanjang di Indonesia. Bila PDRB suatu daerah dibagi dengan jumlah penduduk yang tinggal di daerah itu, maka akan
dihasilkan PDRB Per kapita. PDRB per kapita atas dasar harga berlaku menunjukkan nilai PDRB per

Bab I Pendahuluan I–7


Dokumen Final
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Kalimantan Barat

kepala atau per satu orang penduduk. PDRB per kapita sering digunakan untuk mengukur tingkat
kesejahteraan penduduk disuatu wilayah pada kurun waktu tertentu.
Selama lima tahun terakhir PDRB per kapita Kalimantan Barat mengalami peningkatan. Pada tahun
2016, PDRB per kapita Kalimantan Barat mencapai Rp33,72 juta meningkat 10,08 persen atau naik
sebesar Rp3,09 juta dibandingkan tahun 2015. Tahun 2012 PDRB per kapita Kalimantan Barat baru
mencapai Rp23,43 juta, tahun 2013 Rp25,56 juta, dan tahun 2014 Rp28,06 juta. (Sumber : BPS,
2017).

1.3.8. Wilayah Rawan Bencana


Peningkatan pengendalian bencana banjir dan abrasi pantai; Pada tahun 2011 dan awal tahun 2012
hampir sebagian besar kecamatan di kabupaten/kota mengalami bencana banjir dengan ketinggian
air di atas 30 cm sampai 150 cm di atas permukaan tanah. Selain terjadi banjir, juga rawan akan
terjadinya abrasi pantai terutama untuk daerah pesisir yang meliputi Kabupaten Mempawah,
Bengkayang, Singkawang, Sambas, Kubu Raya, Ketapang dan Kayong Utara (Sumber : DKP, 2017).

1.4. PETA DAN RUANG LINGKUP WILAYAH PERENCANAAN


Wilayah perencanaan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Kalimantan
Barat meliputi ke arah darat mencakup wilayah adminitrasi kecamatan pesisir dan ke arah laut
sejauh 12 mil diukur dari garis pantai. Garis pantai dimaksud diukur saat pasang tertinggi.

Bab I Pendahuluan I–8


Dokumen Final
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Kalimantan Barat

Gambar 1.1. Peta Wilayah Perencanaan

Bab I Pendahuluan I–9