Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH

KEPERAWATAN GERONTIK
PEMENUHAN GIZI PADA LANSIA

Dosen Mata Kuliah : Wiwiek Retti.A

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1

Ahmad Kholisun Nawa Mohammad Lukman D.


Anesthasia Marseyolla P. S. Nanda Tri Syah Putra
Danang Kurniawan Nia Pramesty
Doni Purbo Sunarko Quwata Ridho Yuwono
Fivi Nurwatini Romdhoni Frendi Rifai
Istiningrum Hanifah M. Sherin Rosa Linda
Kristanti Aprilia Sari Yoga Sukma Darmawan

PRODI DIPLOMA III KEPERAWATAN


AKADEMI KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO
TAHUN AKADEMIK 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat
dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Keperawatan Gadar yang
berjudul “Triage “ dengan baik. Shalawat serta salam kami sampaikan kepada junjungan kita
Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabat beliau, serta orang-orang mukmin yang tetap
istiqamah di jalan-Nya.

Kami sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidaklah sempurna.
Kami mengharapkan adanya sumbangan pikiran serta masukan yang sifatnya membangun dari
pembaca, sehingga dalam penyusunan makalah yang akan datang menjadi lebih baik.
Terima kasih

Ponorogo, Januari 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul ........................................................................................................... 1


Kata Pengantar .......................................................................................................... 2
Daftar Isi .................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................. 5
1.3 Tujuan ................................................................................................................ 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Triage................................................................................................................. 7
2.2 Klasifikasi Triage............................................................................................... 8
2.3 Tujuan Triage .................................................................................................... 8
2.4 Prinsip Triage..................................................................................................... 9
2.5 Proses Triage...................................................................................................... 11
2.6 Dokumentasi Triage........................................................................................... 12
2.7 Simple Triage and Rapid Treatment .................................................................. 14

2.8 Contoh Kasus..................................................................................................... 15


2.9 Tangging Jawab dan Tugas Komisi Etik Penelitian Kesehatan ........................ 15

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan ........................................................................................................ 17
3.2. Saran ................................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 18
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Status gizi merupakan keadaan kesehatan individu atau kelompok yang ditentukan oleh
derajat keburukan fisik dan energi dan zat-zat gizi yang diperoleh dari ragam makanan yang
berdampak fisiknya diukur secara antropometri dengan mengukur berat badan dan tinggi
badan (Supariasa, 2002).
Menurut ahli gerontologi dan geriatri diperkirakan 30 – 50% faktor gizi berperan
penting dalam mencapai dan mempertahankan kesehatan lansia yang optimal. Kebutuhan
unsur gizi tertentu pada lansia mengalami peningkatan, hal ini disebabkan oleh terjadinya
proses degradasi (perusakan) yang berlangsung sangat cepat. Lansia merupakan salah satu
kelompok yang rawan menderita kekurangan gizi dan kelebihan gizi. Kekurangan gizi
disebabkan oleh penurunan selera makan, penurunan sensitivitas indra perasa dan
penciuman akibat meningkatnya usia. Sedangkan kelebihan gizi disebabkan oleh
perubahan gaya hidup dan lansia mempunyai lemak lebih banyak.
Darmojo & Martono (1995) melaporkan bahwa lansia yang mengalami kurang gizi di
Indonesia sebanyak 3,4%, dan yang mempunyai berat badan kurang sebanyak 28,3%.
Sedangkan menurut Wirakusumah (2000, p. 72) lansia yang mengalami obesitas di
Indonesia sebanyak 3,4% dan berat badan lebih sebanyak 6,7% (HS, 2012).

Indonesia mengalami peningkatan Jumlah penduduk lanjut usia setiap tahunnya. Hal
ini dibuktikan dari peningkatan usia harapan hidup lansia, menurut Badan Pusat Statistik
(2011) peningkatan usia harapan hidup pada Tahun 2000 sebesar 64,5 tahun dengan
populasi lansia sebesar 7,18%. Tahun 2010 meningkat menjadi 69,43 tahun dengan 7,56%
lansia dan pada tahun 2011 menjadi 69,65 tahun dengan populasi lansia sebesar 7,58 %.
Usia harapan hidup menjadi indikator keberhasilan pencapaian pembangunan manusia
secara global maupun Nasional (Kemenkes RI, 2013). Meningkatnya jumlah lansia juga
dapat menyebabkan munculnya berbagai masalah kesehatan dikarenakan proses penuaan
yang terjadi (Dewi & K.W, 2014)

Masalah gizi adalah masalah yang mungkin terjadi pada lansia yang erat kaitannya
dengan masukan makanan dan metabolisme tubuh serta faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Secara umum faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi lansia terdiri
dari aktivitas fisik, depresi dan kondisi mental, pengobatan, penyakit dan kemunduran
biologis

Manusia Lanjut Usia (MANULA) dimasukkan ke dalam kelompok rentan gizi,


meskipun tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan badan , bahkan sebaliknya sudah
terjadi involusi dan degenerasi jaringan dan sel-selnya. Timbulnya kerentanan terhadap
kondisi gizi disebabkan kondisi fisik, baik anatomis maupun fungsionalnya.

Gigi-geligi pada MANULA mungkin sudah banyak yang rusak bahkan copot,
sehingga memberikan kesulitan dalam mengunyah makanan. Maka makanan harus diolah
sehingga makanan tidak perlu digigit atau dikunyah keras-keras. Makanan yang dipotong
kecil-kecil, lunak dan mudah ditelan akan sangat membantu para MANULA dalam
mengkonsumsi makanannya.
Fungsi alat pencernaan dan kelenjar-kelenjarnya juga sudah menurun, sehingga
makanan harus yang mudah dicerna dan tidak memberatkan fungsi kelenjar
pencernaan.makanan yang tidak banyak mengandung lemak, pada umumnya lebih mudah
dicerna, tetapi harus cukup mengandung protein dan karbohidrat. Kadar serat yang tidak
dicerna jangan terlalu banyak, tetapi harus cukup tersedia untuk melancarkan peristalsis
dan dengan demikian melancarkan pula defaecatie, dan menghindarkan obstipasi.
Keadaan gizi individu dipengaruhi juga oleh pola konsumsi dan infeksi. Keadaan
konsumsi pangan dapat dijadikan sebagai indikator pola pangan yang baik/kurang baik dan
bukan merupakan ukuran keadaan gizi yang ditentukan secara langsung. Sedangkan dalam
tubuh seorang lansia terdapat interaksi sinergis antara gizi dan infeksi yang disebabkan
antara lain karena berkurangnya konsumsi pangan karena tidak nafsu makan, menurunnya
penurunan zat gizi, diare dan meningkatnya kebutuhan karena status fisiologis (HS, 2012).

1.2 Tujuan
Setelah membaca makalah ini di harapkan mahasiswa mampu melakukan Asuhan
Keperawatan Dengan Gangguan Nutrisi Pada Lansia

1.3 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian nutrisi


2. Apa saja kebutuhan nutrisi pada lansia
3. Faktor apa saja yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi pada lansia
4. Apa saja gangguan nutrisi pada lansia
5. Factor apa saja yang mempengaruhi status gizi pada lansia
6. Bagaimana konsep asuhan keperawatan gizi pada lansia

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Nutrisi adalah zat-zat gizi atau zat-zat lain yang berhubungan dengan kesehatan dan
penyakit, termasuk keseluruhan proses dalam tubuh manusia untuk menerima makanan
atau bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan-bahan tersebut
untuk aktivitas penting dalam tubuh serta mengeluarkan sisanya. Nutrisi juga dapat
dikatakan sebagai ilmu tentang makanan, zat-zat gizi dan zat-zat lain yang terkandung,
aksi, reaksi, dan keseimbangan yang berhubungan dengan kesehatan dan penyakit.

Nutrisi merupakan suatu asupan yang berisi nutrien yang dibutuhkan tubuh untuk
metabolisme. Nutrisi pada lansia memiliki peran penting untuk meningkatkan promosi
kesehatan, pencegahan penyakit serta managemen penyakit kronik (Watson, 2009). Nutrisi
pada lansia sangat penting untuk mempertahankan status kesehatan serta meningkatkan
kualitas kehidupan lansia (Dewi & K.W, 2014).

Status gizi merupakan keadaan kesehatan individu atau kelompok yang ditentukan oleh
derajat keburukan fisik dan energi dan zat-zat gizi yang diperoleh dari ragam makanan
yang berdampak fisiknya diukur secara antropometri dengan mengukur berat badan dan
tinggi badan (HS, 2012).

2.2 Kebutuhan Nutrisi Pada Lansia

o Kalori

Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal pada orang-


orang berusia lanjut menurun sekitar 15-20%, disebabkan berkurangnya massa otot dan
aktivitas. Kalori (energi) diperoleh dari lemak 9,4 kal, karbohidrat 4 kal, dan protein 4 kal
per gramnya. Bagi lansia komposisi energi sebaiknya 20-25% berasal dari protein, 20%
dari lemak, dan sisanya dari karbohidrat. Kebutuhan kalori untuk lansia laki-laki sebanyak
1960 kal, sedangkan untuk lansia wanita 1700 kal. Bila jumlah kalori yang dikonsumsi
berlebihan, maka sebagian energi akan disimpan berupa lemak, sehingga akan timbul
obesitas. Sebaliknya, bila terlalu sedikit, maka cadangan energi tubuh akan digunakan,
sehingga tubuh akan menjadi kurus.

o Protein

Untuk lebih aman, secara umum kebutuhan protein bagi orang dewasa per hari adalah
1 gram per kg berat badan. Pada lansia, masa ototnya berkurang. Tetapi ternyata kebutuhan
tubuhnya akan protein tidak berkurang, bahkan harus lebih tinggi dari orang dewasa,
karena pada lansia efisiensi penggunaan senyawa nitrogen (protein) oleh tubuh telah
berkurang (disebabkan pencernaan dan penyerapannya kurang efisien). Beberapa
penelitian merekomendasikan, untuk lansia sebaiknya konsumsi proteinnya ditingkatkan
sebesar 12-14% dari porsi untuk orang dewasa. Sumber protein yang baik diantaranya
adalah pangan hewani dan kacang-kacangan.

o Lemak
Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30% atau kurang dari total kalori yang
dibutuhkan. Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi (lebih dari 40% dari konsumsi
energi) dapat menimbulkan penyakit atherosclerosis (penyumbatan pembuluh darah ke
jantung). Juga dianjurkan 20% dari konsumsi lemak tersebut adalah asam lemak tidak
jenuh (PUFA = poly unsaturated faty acid). Minyak nabati merupakan sumber asam lemak
tidak jenuh yang baik, sedangkan lemak hewan banyak mengandung asam lemak jenuh.

o Karbohidrat dan serat makanan

Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit atau konstipasi
(susah BAB) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus. Serat makanan telah terbukti
dapat menyembuhkan kesulitan tersebut. Sumber serat yang baik bagi lansia adalah
sayuran, buah-buahan segar dan biji-bijian utuh. Manula tidak dianjurkan mengkonsumsi
suplemen serat (yang dijual secara komersial), karena dikuatirkan konsumsi seratnya
terlalu banyak, yang dapat menyebabkan mineral dan zat gizi lain terserap oleh serat
sehingga tidak dapat diserap tubuh. Lansia dianjurkan untuk mengurangi konsumsi gula-
gula sederhana dan menggantinya dengan karbohidrat kompleks, yang berasal dari
kacang-kacangan dan biji-bijian yang berfungsi sebagai sumber energi dan sumber serat.

o Vitamin dan mineral

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya lansia kurang mengkonsumsi vitamin


A, B1, B2, B6, niasin, asam folat, vitamin C, D, dan E umumnya kekurangan ini terutama
disebabkan dibatasinya konsumsi makanan, khususnya buah-buahan dan sayuran,
kekurangan mineral yang paling banyak diderita lansia adalah kurang mineral kalsium
yang menyebabkan kerapuhan tulang dan kekurangan zat besi menyebabkan anemia.
Kebutuhan vitamin dan mineral bagi lansia menjadi penting untuk membantu metabolisme
zat-zat gizi yang lain. Sayuran dan buah hendaknya dikonsumsi secara teratur sebagai
sumber vitamin, mineral dan serat.

o Air

Cairan dalam bentuk air dalam minuman dan makanan sangat diperlukan tubuh untuk
mengganti yang hilang (dalam bentuk keringat dan urine), membantu pencernaan makanan
dan membersihkan ginjal (membantu fungsi kerja ginjal). Pada lansia dianjurkan minum
lebih dari 6-8 gelas per hari.
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Gizi Pada Lansia

a. Tinggal sendiri: seseorang yang tinggal sendiri sering tidak memperdulikan tugas
memasak untuk menyediakan makanan
b. Kelemahan fisik: akibat kelemahan fisik sehinga menyebabkan kesulitan untuk
berbelanja atau memasak, mereka tidak mampu merencanakan dan menyediakan
makanannya sendiri.
c. Kehilangan: terutama terlihat pada pria lansia yang tidak pernah memasak untuk
mereka sendiri, mereka biasanya tidak memahami nilai suatu makananyang gizinya
seimbang..
d. Depresi: menyebabkan kehilangan nafsu makan, mereka tidak mau bersusah payah
berbelanja, memasak atau memakan makanannya.
e. Pendapatan yang rendah: ketidak mampuan untuk membeli makanan yang cermat
untuk meningkatkan pengonsumsian makanan yang bergizi.
f. Penyakit saluran cerna: termasuk sakit gigi dan ulkus.Berkurangnya kemampuan
mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong, Esophagus/kerongkongan
mengalami pelebaran Rasa lapar menurun, asam lambung menurun,Berkurangnya
indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin, asam,
dan pahit., Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan
konstipasi,Penyerapan makanan di usus menurun
g. penyalahgunaan alcohol: penyalah gunaan alcohol mengurangi asupan kalori atau
nonkalori seperti asupan energy dengan sedikit factor nutrisi lain.
h. Obat-obatan : lansia yang mendapatkan banyak obat dibandingkan kelompok usia
lain yang lebih muda ini berakibat buruk terhadap nutrisi lansia. Pengobatan akan
mengakibatkan kemunduran nutrisi yang semakin jauh.
2.4 Gangguan Nutrisi Pada Lansia
1. Malnutrisi
Malnutrisi adalah suatu keadaan gizi buruk yang terjadi karena tidak cukupnya
asupan satu atau lebih nutrisi yang membahyakan status kesehatan (Watson, Roger.
2003. Perawatan Pada Lansia.Jakarta:EGC).
2. Obesitas
Keadaan badan yang amat gemuk dan berat akibat timbunan lemak yang
berlebihan, dimana kelebihan lemak tubuh melebihi dari 20% dari jumlah yang di
anjurkan untuk tinggi dan usia seseorang. Pola konsumsi yang berlebihan terutama
yang mengandung lemak, protein dan karbohidrat yang tidak sesuai dengan kebutuhan
tubuh. Pencetus berbagai seperti Hipertensi, Penyakit jantung koroner, Strok, seta
Diabetes Melitus.
3. Osteoporosis
Kondisi dimana sering disebut tulang kropos yang disebabkan oleh penurunan
densitas tulang akibat kurangnya konsumsi kalsium dalam jangka waktu yang lama.
Mencapai maksimum pada usia 35 tahun pada wanita dan 45 tahun pada pria.
4. Anemia
Kondisi dimana sel-sel darah mengandung tingkat haemoglobil yang tidak
normal, kimia yang bertugas membawa oksigen di seluruh tubuh yang disebabkan
kurang Fe, asam folat, B12 dan protein. Akibatnya akan cepat lelah, lesu, otot lemah,
letih, pucat, kesemutan, sering pusing, mata berkunang-kunang, mengantuk, HB <8
gr/dL.
5. Kekurangan vitamin
Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan di tambah dengan
kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makn berkurang, penglihatan
menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.
6. Kekurangan anti oksidan
(Banyak dijumpai dalam buah-buahan dan sayuran) mampu menangkal efek
merusak radikal bebas terhadap tubuh, sehingga konsumsi yang kurang dapat
meningkatkan resiko berbagai penyakit akibat radikal bebas, seperti serangan jantung
dan stroke, katarak, persendian hingga menurunnya penampilan fisik seperti kulit
menjadi keriput.
7. Sulit buang air besar
Karena pergerakan usus besar semakin lambat, makanan lambat diolah dalam
tubuh.Akibatnya, buang air besar jadi jarang.
8. Kelebihan gula dan garam
 Garam (natrium) dapat meningkatkan tekanan darah, terutama pada orangtua
 Makanan tinggi gula membuat tubuh mudah gemuk, meningkatkan kolesterol
dan gula darah. Karena itu, sebaiknya kurangi konsumsi gula dan garam

2.5 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SELERA MAKAN LANSIA

Beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan selera makan lansia diuraikan berikut ini:
1. Kehilangan gigi.
Usia tua merusak gigi dan gusi sehingga menimbulkan kurangnya kenyamanan
atau munculnya rasa sakit saat mengunyah makanan.
2. Kehilangan indera perasa dan penciuman.
Hilangnya indera perasa dan penciuman akan menurunkan nafsu makan. Selain
itu, sensitivitas rasa manis dan asin berkurang.
3. Berkurangnya cairan saluran cerna (sekresi pepsin), dan enzim-enzim
pencernaan proteolitik.
Pengurangan ini mengakibatkan penyerapan protein tidak berjalan efisien.
4. Berkurangnya sekresi saliva.
Kurangnya saliva dapat menimbulkan kesulitan dalam menelan dan dapat
mempercepat terjadinya proses kerusakan pada gigi.
5. Penurunan motilitas usus.
Terjadinya penurunan motilitas usus yang memperpanjang singgah (transit
time) dalam saluran gastrointestinal waktu mengakibatkan pembesaran perut
dan konstipasi (Fatmah , 2010).

2.5 Status Gizi Pada Usia Lanjut

A. Status Gizi

1. Metabolisme basal menurun, kebutuhan kalori menurun, status gizi lansia cenderung
mengalami kegemukan/obesitas
2. Aktivitas/kegiatan fisik berkurang, kalori yang dipakai sedikit, akibatnya cenderung
kegemukan/obesitas
3. Ekonomi meningkat, konsumsi makanan menjadi berlebihan, akibatnya cenderung
kegemukan/obesitas
4. Fungsi pengecap/penciuman menurun/hilang, makan menjadi tidak enak dan nafsu
makan menurun, akibatnya lansia menjadikurang gizi (kurang energi protein yang
kronis
5. Penyakit periodontal (gigi tanggal), akibatnya kesulitan makan yang berserat (sayur,
daging) dan cenderung makan makanan yang lunak (tinggi klaori), hal ini menyebabkan
lansia cenderung kegemukan/obesitas
6. Penurunan sekresi asam lambung dan enzim pencerna makanan, hal ini mengganggu
penyerapan vitamin dan mineral, akibatnya lansia menjadi defisiensi zat-zat gizi mikro
7. Mobilitas usus menurun, mengakibatkan susah buang air besar, sehingga lansia
menderita wasir yang bisa menimbulkan perdarahan dan memicu terjadinya anemia
8. Sering menggunakan obat-obatan atau alkohol, hal ini dapat menurunkan nafsu makan
yang menyebabkan kurang gizi dan hepatitis atau kanker hati
9. Gangguan kemampuan motorik, akibatnya lansia kesulitan untuk menyiapkan makanan
sendiri dan menjadi kurang gizi
10. Kurang bersosialisasi, kesepian (perubahan psikologis), akibatnya nafsu makan
menurun dan menjadi kurang gizi
11. Pendapatan menurun (pensiun), konsumsi makanan menjadi menurun akibatnya
menjadi kurang gizi
12. Dimensia (pikun), akibatnya sering makan atau malah jadi lupa makan, yang dapat
menyebabkan kegemukan atau pun kurang gizi.

B. Kecukupan Gizi Lansia

Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat membantu
dalam proses beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang
dialaminya selain itu dapat menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat
memperpanjang usia. Kebutuhan kalori pada lansia berkurang karena berkurangnya kalori
dasar dari kebutuhan fisik. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk malakukan
kegiatan tubuh dalam keadaan istirahat, misalnya: untuk jantung, usus, pernafasan dan ginjal.

Kebutuhan tersebut harus dipenuhi olehlansia untuk mendapatkan kehidupan yang


adekuat. Namun tidak biasa dihindarkan proses penuaan yang terjadi di mana terjadi penurunan
fungsi. Lansia memerlukan tambahan protein yaitu 1 1,25 kg perhari. Kebutuhan zat besi pada
lansia sangat rendah atau bahkan mengalami penurunan sehubunngan dengan proses penuaan.
Rekomendasi diet yang dianjurkan untuk zat besi ada wanita turun 15 mg pada usia 23-50 tahun
sampai 10 mg pada umur 51 tahun atau lebih Selain itu lansia juga memilki resiko terkena
defisiensi kalsium karena penurunan asupan dan absorsinya. Untuk kebutuhan magnesiumnya
lansia mengalami penuruanan absorbsi dan meningkatkan eksresi magnesium lewat
perkemihan (Proverawati & Wati, 2010).

2.6 A. Rincian Anjuran Kecukupan Zat Gizi bagi Lansia:


1. Kebutuhan energi akan mulai menurun pada usia 40-49 tahun sekitar 5%, dan pada usia
50-69 tahun menurun 10%, sehingga jumlah makanan yang dikonsumsi berkurang.
Oleh karena itu, sebaiknya lansia mengkonsumsi jenis karbohidrat kompleks 60-65%
karena banyak mengandung vitamin, mineral, dan serat.
2. Sebaiknya lansia mengkonsumsi lemak nabati daripada lemak hewani, untuk mencegah
penumpukan lemak tubuh
3. Tingkatkan asupan makanan sumber vitamin A, D, dan E untuk mencegah penyakit
degeneratif, serta vitamin B12, asam folat, vitamin Bu, dan vitamin C untuk mencegah
penyakit jantung
4. Tingkalkan konsumsi makanan sumber besi (Fe), zinc (Zn), selenium (Se), dan kalsium
(Ca) untuk mencegah anemia dan osteoporosis, serta meningkatkan daya tahan tubuh.
5. Tingkatkan asupan zat gizi mikro: fosfor (P), kalium (K), natrium (Na), dan magnesium
(Mg) untuk metabolisme dalam tubuh.
6. Perbanyak minum air putih minimal 8 gelas per hari untuk melancarkan proses
metabolisme tubuh, dan mengelurkan sisa pembakaran energi dalam tubuh, serta
tingkatkan konsumsi serat agar buang air besar lancar, mencegah penyerapan
kolesterol, dan menghindari penumpukan kolesterol total dalam tubuh (Fatmah , 2010)

B. Pemantauan Kebutuhan Gizi


bagi Lansia Kebutuhan gizi lansia bisa dipantau secara seksama melalui cara-cara berikut
yaitu:
1. Penimbangan Berat Badan
Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai
peningkatan atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu Peningkatan BB lebih dari
0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan penurunan berat
badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan berat badan.
2. Kekurangan kalori protein
Waspadai lansia dengan riwayat pendapatan yang kurang, kurang bersosialisasi, hidup
sendirian, kehilangan pasangan hidup atau teman, kesulitan mengunyah, pemasangan
gigi palsu yang kurang tepat, sulit untuk menyiapkan makanan, sering mangkonsumsi
obat-obatan yang mangganggu nafsu makan, nafsu makan berkurang, makanan yang
ditawarkan tidak mengundang selera. Karena hal ini dapat menurunkan asupan protein
bagi lansia, akibatnya lansia menjadi lebih mudah sakit dan tidak bersemangat.
3. Kekurangan vitamin D
Biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari, jarang
atau tidak pernah minum susu, dan kurang mengkonsumsi vitamin D yang banyak
terkandung pada ikan, hati, susu dan produk olahannya (Proverawati & Wati, 2010)

2.7 METODE PENENTUAN KOMPOSISI TUBUH

Seleksi variabel antropometri untuk mengukur status gizi lansia harus didasarkan pada :

1. Validitas (ketepatan pengukuran).

2. Memiliki teknik standar pengukuran dan data referensi.

3. Praktis dan mudah digunakan.

Pengukuran antropometri lansia pada dasarnya sama dengan usia lainnya, hanya saja
karena kondisi lansia, terkadang harus dilakukan cara berbeda untuk memberikan hasil yang
lebih tepat.

Teknik- teknik yang digunakan untuk pengukuran antropometri :

1. pengukuran panjang depa


2. pengukuran tinggi lutut
3. tinggi duduk
Menurut Gibson, tinggi lutut memiliki korelasi yang erat dengan tinggi badan, sehingga
dibagi tinggi badan lansia pria dan wanita dapat dirumuskan dari data tinggi lutut berikut
(Chumlea,1998).

TB pria = 64,19 - ( 0,04 x usia dalam tahun) + (2,02 x tinggi lutut dalam cm )

TB wanita = 84,88 - (0,24 x usia dalam tahun) + (1,83 x tinggi lutut dalam cm )

Pemilihan jenis pengukuran (panjang depa, tinggi lutut. tinggi duduk) untuk
memperkirakan tinggi badan lansia yang tidak dapat berdiri tegak harus memperhatikan syarat-
syarat berikut ini:

a. Bila mampu berdiri dengan kedua buah pergelangan tangan diluruskan


mendatar sepanjang mungkin, maka pilihlah pengukuran panjang depa.
b. Hanya mampu duduk saja gunakan tinggi duduk atau tinggi lutut
c. Hanya dapat berbaring, maka lakukan pengukuran tinggi lutut.
Teknik pengukuran tinggi badan dan berat badan

1. Tinggi badan tegak

Alat : Mikrotoa 2 meter

Cara Pengukuron :

 Lansia berdiri tegak pada permukaan tanah/lantas yang rata tonpamemakai atoskoki
(sondal sepatu).

 Ujung tumit kedua telapak kaki dirapatkan dan menempel di dinding dalam posisi agak
terbuka di bagian depan jari-jari kaki.

 Pandangan mata lurus kedepan.

 Kedua lengan menggantung santai menempel di dinding/tembok.

 Bahu, tulang belakang dan bokong menempel di dinding dalam posisi santai.

 Tinggi badan diukur dengan mikrotoa yang pembacaannya dilakukan dengan ketelitian
01 cm. Sebelumnya mikrotoa harus dinol-kan dulu sempai kelantai.

2. Berat badan
Alat : Timbangan badan injak

Cara Pengukuran :

 Lansia berdiri tegak dengan memakai pakaian seminimal mungkin, tidak membawa
beban atau benda apapun, dan tanpa alas kaki (sandal, sepatu)

 Mata menutup lurus ke depan, dan tubuh tidak membungkuk

 Pembacaan dilakukan pada alat secara langsung

3. Panjang depa

Kondisi syarat Pengukuran

 Lansia yang diukur harus memiliki kedua tangan yang dapat direntangkan sepanjang
mungkin dalam posisi lurus mendatar/ horizontal dan tidak dikepal
 Jika salah satu kedua tangan tidak dapat diluruskan karena sakit atau sebab lainnya,
maka pengukuran ini tidak dapat dilakukan.

 Panjang depa tidak dianjurkan diukur dalam telentang karena dapat mengurangi tingkat
ketelitian hasil pengukuran sehingga hasilnya kurang akurat (WHO 1995)

Alat pengukuran : Mistar kayu sepanjang 2meter.

Cara Pengukuran :

 Lansia berdiri dengan kaki dan bahu menempel membelakangi tembok sepanjang pita
pengukuran yang ditempel di tembok.

 Bagian atas kedua lengan hingga ujung telapak tangan menempel erat di dinding
sepanjang mungkin,

 Pembacaan dilakukan dengan kerelitian 0,1 cm mulai dari bagian ujung jari tengah
tangan kanan hingga ujung jari tengah tangan kiri.

4. Tinggi lutut
Tinggi lutut sangat erat hubungannya dengan tinggi badan sehingga sering digunakan
untuk memperkirakan tinggi badan seseorang yang memiliki gangguan lekukan tulang
belakang atau tidak dapat berdiri karena lumpuh atau sebab lainnya.

Alat Pengukuran : Penggaris kayu/stainless steel dengan mata pisau menempel pada sudut
90° dan segitiga kayu untuk membentuk sudut 90 pada kaki kiri.

Cara Pengukuran :

 Lansia diukur dalam posisi duduk atau berbaring/tiduran di atas lantai atau kasur
dengan permukaan rata/flat tanpa menggunakan bantal atau alas kepala (topi) apapun.

 Segitiga kayu diletakkan pada kaki kiri antara tulang kering dengan tulang paha
membentuk sudut 90°.

 Penggaris kayu/stainless steel ditempatkan di antara tumit sampai bagian tertinggi dari
tulang lutut. Pembacaan dilakukan pada alat ukur dengan ketelitian 0,1 cm

5. Tinggi duduk
 Bila lansia tidak dapat berdiri tegak dan atau merentangknn kedua tangannya sepanjang
mungkin dalam posisi lurus lateral dan tidak dikepal.

 Jika salah satu atau kedua buah pergelangan tangan tidak dapat diluruskan karena sakit
atau sebab lainnya.

Alat Pengukuran :

 Alat ukur antropometer terdiri dari bangku duduk dari kayu dengan panjang, lebar, dan
tinggi masing- masing 40 cm bagi lansia laki-laki, dan 35 cm bagi lansia perempuan

 Mikrotoo sepdNang 2 m yang ditempelkan di tembok/dinding

Cara Pengukuran

 Mukrotoa yang menempel erat di dinding tembok harus dinol-kan dulu sampai lantai.
Lansia duduk dengan posisi tubuh tegak, kepala dan tulang belakang/punggung
menempel rapat ke dinding

 Tangan diletakkan dengan santai diatas paha

 Lansia tidak menggunakan alas kepala (topi).

 Kedua kaki tanpa atau dengan alas kaki dirapatkan ke dinding bangku &mata menatap
lurus ke depan

 Pembacaan dilakukan pada mikrotoa yang ditempelkan di dinding tepat di atas kepala,
setelah dikurargi tinggi bangku.

Untuk mngukur Indeks Massa Tubuh :


IMT : berat badan (kg) : tinggi badan (m)²

Kategori status gizi lansia berdasarkan indeks masa tubuh (WHO, 1999)
IMT Status Gizi
<20 kg/m² Gizi kurang
20-25 kg/m² Normal
25-30 kg/m² Gizi lebih
>30 kg/m² Obesitas

Kategori status gizi lansia berdasarkan indeks masa tubuh (Depkes, 2005).
IMT Status Gizi
<18,5kg/m² Gizi kurang
18,5-25 kg/m² Normal
>25kg/m² Gizi lebih

(Fatmah , 2010)
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

a. Pengkajian Data
1. Identitas Klien
Meliputi Nama, Umur, Jenis kelamin, Status perkawinan, Alamat, Suku, Agama,
Pekerjaan/penghasilan, Pendidikan terakhir.

2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Penyakit Atau Masalah Kesehatan Sekarang
Pada lansia mengalami masalah pada pola makan, nafsu makan berkurang, sulit
mengunyah makanan sehinngga terjadi penurunan BB pada beberapa kasus. Selain
itu klien juga sering pusing ketika ia terlalu banyak melakukan aktifitas dan
badannya terasa letih dan lemah.
b. Riwayat Penyakit Atau Masalah Kesehatan Dahulu
Meliputi penyakit yang pernah diderita oleh klien tetapi masih berhubungan
dengan penyakit sekarang, misalnya : gastritis, dispepsia, DM, obesitas dll.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Berisi tentang penyakit yang pernah diderita oleh keluarga klien, baik
berhubungan dengan panyakit yang diderita oleh klien maupun penyakit keturunan
dan menular lainnya.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Pengkajian kebutuhan dasar
 Kaji bagaimana pemenuhan kebutuhan dasar klien meliputi : makan, pola tidur,
BAB, BAK dan personal hygine.
 Kemandirian dalam melakuakan aktifitas
 Kaji kemandirian klien dalam melakukan aktifitas apakah mandiri, membutuhkan
bantuan sebagian atau membutuhkan bantuan sepenuhnya. Pada beberapa lansia
biasanya mengalami intoleransi aktifitas atau kegiatan fisik yang dilakukan
kurang.
b. Pengkajian keseimbangan
Menurut Tinenti dan Ginter (1998) ada beberapa pengkajian keseimbangan untuk
klien lansia yaitu :

1) Perubahan posisi atau gerakan keseimbangan


Instruksi : Dudukkan klien pada kursi beralas keras dan tanpa penahan tangan,
ujilah hal-hal dibawah ini :

 Keseimbangan saat duduk


Bersandar atau bertumpu pada kursi =0

Mantap, aman =1

Bangkit berdiri

Tidak stabil bila tanpa bantuan =1

Mampu berdiri menggunakan kedua tangan untuk sokongan =1

Mampu berdiri tanpa dibantu sokongan lengan sendiri =2

 Upaya untuk bangkit berdiri


Tidak mampu tahan lama =0

Mampu untuk melakukan tetapi membutuhkan upaya lebih satu kali =1

Mampu bangkit berdiri dengan satu kali upaya =2

 Keseimbangan setelah tiba-tiba berdiri (5 detik pertama)


Tidak tetap (bergoyang, menggerakkan kaki) =0

Tetap stabil namun menggunakan tongkat atau penyokong lainnya =1

Tetap stabil tanpa menggunakan tongkat atau penyokong lainnya=2

 Keseimbangan saat berdiri


Tidak stabil =0

Tetap stabil namun dengan kedudukan kaki yang lebar atau menggunakan
alat bantu =1

Kedudukan kaki yang sempit dan tidak memerlukan alat penyokong =2

 Pertahankan akan keseimbangan diri (kaki pasien berposisi serapat mungkin


dan dorong lembut area sternum sebanyak 3 kali)
Mulai terjatuh =0

Bergoyang dan menggapai-gapai namun akhirnya mendapat keseimbangan


=1
Tetap stabil =2

 Mata tertutup (dengan posisi sama dengan nomor 6)


Tidak stabil =0

Stabil =1

 Upaya untuk duduk


Tidak aman (salah pikiran mengenai jauhnya jarak atau terjatuh ke atas
kursi) =0

Mempergunakan tangan =1

Gerakan yang halus serta aman =2

2) Komponen gaya jalan atau gerakan


Instruksi :

Pasien berdiri bersama dengan pasien kemudian berjalan dalam lorong atau
menyebrangi ruangan, pertama dengan irama yang perlahan kemudian pada saat
balik dengan irama yang cepat. Dapat digunakan tongkat bila pasien biasanya
menggunakannya.

Ayunan kaki kanan

 Permulaan gaya berjalan


Terdapat keraguan atau beberapa gaya untuk memulainya =0
Tidak ada keraguan =1
 Panjangnya langkah dan tinggi tubuh pasien
Tidak dapat melewati kaki kiri saat melangkah =0
Ayunan langkah melewati kaki kiri =1
Tidak mampu menjejakkan kaki seluruhnya =0
Dapat menjejakkan kaki seluruhnya =1
 Ayunan kaki kiri
Tidak dapat melewati kaki kanan saat melangkah =0
Ayunan langkah melewati kaki kanan =1
Tidak mampu menjejakkan kaki seluruhnya =0
Dapat menjejakkan kaki seluruhnya =1
 Kesimetrisan langkah
Langkah kaki kiri dan kanan tidak sebanding =0
Langkah kaki kiri dan kanan seimbang =1
 Keberlanjutan langkah
Berhenti atau tidak dapat melanjutkan langkah berikutnya =0
Langkah-langkah yang diayunkan tampak berkesimbungan =1
 Jalur berjalan
Ada penyimpangan =0
Penyimpangan langkah ringan atau menengah atau klien menggunakan
tongkat penyokong =1
Berjalan lurus tanpa adanya alat bantu =2
 Bagian torso tubuh
Adanya gerakan mengayun atau klien menggunakan alat penyokong =0
Tidak terjadi gerakan mengayun namun terjadi fleksi lutut atau perentangan
saat berjalan =0
Tidak terjadi gerakan mengayun, penggunaan lengan atau alat sokong =2
 Pertahankan keseimbangan saat berjalan
Tumit-tumit terpisah =0
Tumit-tumit hampir bersentuhan saat berjalan =1
Total Skor : 19

Interprestasi hasil :

0-8 = Resiko jatuh tinggi

9-18 = Resiko jatuh sedang

19-22 = Resiko jatuh rendah

3) Tanda-tanda Vital
TD, Nadi, Suhu, RR , TB, pada klien lansia BB : Biasanya terjadi perubahan berat
badan. Difokuskan pada kehilangan atau pertambahan berat badan saat ini

4) Sistem Pernafasan
Anamnesa : pada beberapa lansia biasanya ada yang memiliki gangguan pada
sistem pernafasan seperti asma, batuk, dll.

5) Hidung
Inspeksi : ada/tidak ada pernafasan cuping hidung, ada/tidak ada secret/ingus,
ada/tidak ada pemberian O2 melalui nasal/masker.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan dan tidak ada fraktur tulang nasal

6) Mulut
Inspeksi : mukosa bibir pucat dan kering/lembab, ada/tidak menggunakan alat bantu
nafas ETT

7) Leher
Inspeksi : bentuk leher normal dan simetris

Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa, tidak ada pembesaran kalenjer tiroid

8) Faring
Inspeksi : tidak ada kemerahan dan tanda-tanda infeksi/oedem

9) Area Dada
Inspeksi :ada/ tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan, pergerakan dada
simetris, bentuk dada normal.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan dan tidak ada kelainan pada dinding thorax.

Perkusi : bunyi paru sonor pada seluruh lapang paru.

Auskultasi : suara nafas vesikuler

10) Kardiovaskuler Dan Limfe


Anamnesa :

 Wajah
Inspeksi : pucat dan konjungtiva anemis

 Leher
Inspeksi : tidak ada bendungan vena jugularis

Palpasi : tidak ada nyeri tekan

 Dada
Inspeksi : bentuk dada normal dan simetris

Palpasi : tidak ada pembesaran ictus cordis


Perkusi : adanya bunyi redup pada batas jantung dan tidak terjadi pelebaran
atau pengecilan

Auskultasi : bunyi jantung normal

 Ekstermitas atas
Inspeksi : perfusi merah, tidak ada sianosis dan clubbing finger

Palpasi : suhu akral hangat

 Ekstermitas bawah
Inspeksi : perfusi merah, tidak ada sianosis dan clubbing finger

Palpasi : suhu akral hangat

11) Persyarafan
Anamnesa : pada beberapa lansia biasanya mengalami gangguan pada uji nervus
olfakturius, akustikus dan vagus.

12) Perkemihan-Eliminasi Uri


Anamnesa : Pada lansia dengan DM biasanya akan mengalami poliuria

13) Sistem Pencernaan-Eliminasi Alvi


Anamnesa : pada lansia biasanya nafsu makan menurun, pola makan tidak teratur,
porsi makan dan minum tidak sesuai, mual muntah, distensi, disfagia, gangguan
defekasi (konstipasi), pola BAB tidak teratur dan perubahan berat badan
(penurunan/pertambahan)

14) Mulut
Inspeksi : Mukosa bibir pucat dan kering/lembab, jumlah gigi sudah tidak lengkap

(ompong), kerusakan pada gigi, karises dan radang pada gusi.

Palpasi : ada/Tidak ada nyeri tekan pada rongga mulut,

15) Lidah
Inspeksi : Bentuk simetris, ada/tidak stomatitis

Palpasi : ada/Tidak ada nyeri tekan dan edema.

16) Abdomen
Inspeksi : ada/tidak terdapat pembesaran abdomen (distensi abdomen).
Auakultasi : peristaltic usus

Perkusi : hipertympani/timpani

Palpasi :

Kuadran I : Hepar ada/tidak terdapat hepatomegali dan nyeri tekan

Kuadran II : Gaster ada/tidak ada nyeri tekan abdomen dan ada/ tidak terdapat
distensi abdomen

Kuadran III : Tidak ada massa dan nyeri tekan

Kuadran IV : Tidak ada nyeri tekan pada titik Mc Burney

17) Sistem Muskuloskeletal Dan Integumen


Anamnesa : intoleransi aktifitas, pada beberapa lansi biasanya bentuk tulang
belakang lordosis/skoliosis

Warna Kulit : Tidak elastis dan turgor kulit menurun (kering)

18) Sistem Endokrin dan Eksokrin


Anamnesa : Pada lansia dengan DM terdapat riwayat (3P: poliuri, polifagia,
polidipsia), lemah, kesulitan menelan, perubahan BB.

19) Kepala
Inspeksi : Bentuk kepala normal, tampak pada rambut sudah mengalami penurunan
fungsi pigmentasi (rambut beruban), rambut kepala mulai jarang (mengalami
kerontokan).

20) Leher
Inspeksi : bentuk leher simetris.

Palpasi : tidak ada pembesaran kalenjar tyyroid, dan tidak ada nyeri tekan.

21) Persepsi Sensori


Anamnesa : pada lansia biasanya mengalami gangguan penglihatan, penurunan
pendengaran, mata berkunang-ku nang.

22) Mata
Inspeksi : kekeruhan pada lensa

Palpasi : ada/tidak ada nyeri dan ada/ tidak ada pembengkakan kelopak mata
Penciuman-(hidung)

Palpasi :ada/tidak ada pembengkakan dan tidak ada nyeri tekan

c. Pengkajian Psikososial
d. Pengkajian Status Mental Lansia
Identifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan Short Portable
Mental Status Questioner (SPMSQ)

Instruksi :

1. Ajukan pertanyaan 1-10 pada daftar ini dan catat semua jawaban.
2. Catat jumlah kesalahan total berdasarkan 10 pertanyaan
3. Benar Salah No Pertanyaan

√ 01 Tanggal berapa hari ini ?

√ 02 Hari apa sekarang ini ?

√ 03 Apa nama tempat ini ?

√ 04 Dimana alamat anda ?

√ 05 Berapa umur anda ?

√ 06 Kapan anda lahir ? (Minimal tahun lahir)

√ 07 Siapa presiden Indonesia sekarang ?

√ 08 Siapa presiden Indonesia sebelumnya ?

√ 09 Siapa nama ibu anda ?

√ 10 Kurang 3 dari 20 dan tetap dikurangi 3 dari setiap angka baru, semua secara
menurun

Score total : 7

Interprestasi hasil :

1. Salah 0-3 = Frekuensi intelektual utuh

2. Salah 4-5 = Frekuensi intelektual ringan

3. Salah 6-8 = Frekuensi intelektual sedang


4. Salah 9-10 = Frekuensi intelektual berat

B. Diagnosa Keperawatan

1. Ketidaseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d tidak mampu dalam
memasukkan, mencerna, mengabsorbsi makanan

2. Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh b/d intake berlebih

3. Kurang perawatan diri makan b/d kelemahan atau kelelahan

4. Konstipasi b/d kebiasaan makan yang buruk.

C. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa NOC NIC


Keperawatan
1. Ketidaseimbangan Setelah dilakukan asuhan Nutrition management
nutrisi kurang dari keperawatan selama 3×24
 Kaji status nutrisi
kebutuhan tubuh b/d jam diharapkan
pasien
tidak mampu dalam pemenuhan kebutuhan
 Jaga kebersihan
memasukkan, pasien tercukupi dengan
mulut, anjurkan
mencerna, kriteria hasil :
untuk selalu
mengabsorbsi makanan Nutritionl status
melalukan oral
 Intake nutrisi hygiene.
tercukupi.  Delegatif pemberian
 Asupan makanan nutrisi yang sesuai
dan cairan dengan kebutuhan
tercukupi pasien : diet pasien
diabetes mellitus.
Nausea dan vomiting
 Berian informasi
severity
yang tepat terhadap
pasien tentang
 Penurunan
kebutuhan nutrisi
intensitas
yang tepat dan
terjadinya mual
sesuai.
muntah
 Penurunan  Anjurkan pasien
frekuensi untuk
terjadinya mual mengkonsumsi
muntah. makanan tinggi zat
besi seperti sayuran
Weight : Body mass
hijau

 Pasien mengalami
Nausea management
peningkatan berat
badan  Kaji frekuensi mual,
durasi, tingkat
keparahan, faktor
frekuensi, presipitasi
yang menyebabkan
mual.
 Anjurkan pasien
makan sedikit demi
sedikit tapi sering.
 Anjurkan pasien
untuk makan selagi
hangat
 Delegatif pemberian
terapi antiemetik :

 Ondansentron 2×4
(k/p)
 Sucralfat 3×1 CI

Weight management

 Diskusikan dengan
keluarga dan pasien
pentingnya intake
nutrisi dan hal-hal
yang menyebabkan
penurunan berat
badan.
 Timbang berat
badan pasien jika
memungkinan
dengan teratur.

2. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan Weight Management


nutrisi lebih dari tindakan keperawatan  Diskusikan bersama
kebutuhan tubuh b/d selama 3 x 24 jam pasien mengenai
intake berlebih Ketidak seimbangan hubungan antara
nutrisi lebih teratasi intake makanan,
dengan kriteria hasil: latihan, peningkatan
 Nutritional Status BB dan penurunan
food and Fluid BB
Intake  Diskusikan bersama
 Nutritional Status : pasien mengani
nutrient Intake kondisi medis yang
 Weight control dapat
1. Mengerti factor mempengaruhi BB
yang meningkatkan  Diskusikan bersama
berat badan pasien mengenai
2. Mengidentfifikasi kebiasaan, gaya
tingkah laku hidup dan factor
dibawah kontrol herediter yang dapat
klien mempengaruhi BB
3. Memodifikasi diet  Diskusikan bersama
dalam waktu yang pasien mengenai
lama untuk risiko yang
mengontrol berat berhubungan
badan dengan BB berlebih
dan penurunan BB
4. Penurunan berat  Dorong pasien untuk
badan 1-2 merubah kebiasaan
pounds/mgg makan
5. Menggunakan  Perkirakan BB
energy untuk badan ideal pasien
aktivitas sehari hari Nutrition Management
 Kaji adanya alergi
makanan
 Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk
menentukan jumlah
kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan
pasien.
 Anjurkan pasien
untuk meningkatkan
intake Fe
 Anjurkan pasien
untuk meningkatkan
protein dan vitamin
C
 Berikan substansi
gula
 Yakinkan diet yang
dimakan mengandung
tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
 Berikan makanan yang
terpilih ( sudah
dikonsultasikan
dengan ahli gizi)
 Ajarkan pasien
bagaimana membuat
catatan makanan
harian.
 Monitor jumlah nutrisi
dan kandungan kalori
 Berikan informasi
tentang kebutuhan
nutrisi
 Kaji kemampuan
pasien untuk
mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan
Weight reduction
Assistance
 Fasilitasi keinginan
pasien untuk
menurunkan BB
 Perkirakan bersama
pasien mengenai
penurunan BB
 Tentukan tujuan
penurunan BB
 Beri pujian/reward
saat pasien berhasil
mencapai tujuan
 Ajarkan pemilihan
makanan
3. Kurang perawatan diri Setelah dilakukan Self Care assistane
makan b/d kelemahan tindakan keperawatan  Monitor kemempuan
atau kelelahan selama 3 x 24 jam klien untuk perawatan
perawatan diri makan diri yang mandiri.
lebih teratasi dengan  Monitor kebutuhan
kriteria hasil : klien untuk alat-alat
Self care bantu untuk kebersihan
 Klien terbebas dari diri, berpakaian,
bau badan berhias, toileting dan
 Menyatakan makan.
kenyamanan  Sediakan bantuan
terhadap sampai klien mampu
kemampuan untuk secara utuh untuk
melakukan melakukan self-care.
perawatan diri  Dorong klien untuk
 Dapat melakukan melakukan aktivitas
perawatan diri sehari-hari yang
dengan bantuan normal sesuai
kemampuan yang
dimiliki.
 Dorong untuk
melakukan secara
mandiri, tapi beri
bantuan ketika klien
tidak mampu
melakukannya.
 Ajarkan klien/
keluarga untuk
mendorong
kemandirian, untuk
memberikan bantuan
hanya jika pasien tidak
mampu untuk
melakukannya.
 Berikan aktivitas rutin
sehari- hari sesuai
kemampuan.
 Pertimbangkan usia
klien jika mendorong
pelaksanaan aktivitas
sehari-hari.
4. Konstipasi b/d Setelah dilakukan Manajemen konstipasi
kebiasaan makan yang tindakan keperawatan  Identifikasi faktor-
buruk selama 3 x 24 jam faktor yang
konstipasi pasien teratasi menyebabkan
dengan kriteria hasil : konstipasi
Bowl Elimination  Monitor tanda-tanda
 Pola BAB dalam ruptur
batas normal bowel/peritonitis
 Feses lunak  Jelaskan penyebab dan
 Cairan dan serat rasionalisasi tindakan
adekuat pada pasien
 Aktivitas adekuat  Konsultasikan dengan
dokter tentang
peningkatan dan
penurunan bising usus
 Kolaborasi jika ada
tanda dan gejala
konstipasi yang
menetap
 Jelaskan pada pasien
manfaat diet (cairan
dan serat) terhadap
eliminasi
 Jelaskan pada klien
konsekuensi
menggunakan laxative
dalam waktu yang
lama
 Kolaborasi dengan ahli
gizi diet tinggi serat
dan cairan
 Dorong peningkatan
aktivitas yang optimal
 Sediakan privacy dan
keamanan selama
BAB
DAFTAR PUSTAKA

NANDA International. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi, Dan Klasifikasi 2012-


2014/Editor, T. Heather Herdman; Alih Bahasa, Made Sumarwati, Dan Nike Budhi Subekti ;
Editor Edisi Bahasa Indonesia, Barrah Bariid, Monica Ester, Dan Wuri Praptiani. Jakarta;
EGC.

Moorhed, (et al). 2013. Nursing Outcomes Classifications (NOC) 5th Edition. Missouri:
Mosby Elsevier

Gloria M. Bulechek, (et al).2013. Nursing Interventions Classifications (NIC) 6th Edition.
Missouri: Mosby Elsevier

Dewi, F. K., & K.W, D. N. (2014). Status Nutrisi Lanjut Usia Di Panti Sosial Di Pengaruhi
Oleh Status Oral Health. Hubungan kemampuan..., Fitria Kusuma Dewi, FIK UI.

Fatmah . (2010). Gizi Usia Lanjut. Jakarta: Erlangga.

HS, I. (2012). HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


KEBUTUHAN GIZI DENGAN STATUS GIZI LANJUT USIA DI UPTD RUMOH
SEUJAHTERA GEUNASEH SAYANG BANDA ACEH. Idea Nursing Journal Vol.
III No. 2 2012 ISSN: 2087-2879.

Proverawati, A., & Wati, E. K. (2010). Ilmu Gizi Keperawatan dan Gizi Kesehatan.
Yogyakarta : Muha Medika.