Anda di halaman 1dari 27

PENERAPAN MODEL LEARNING CYCLE 5E BERBANTUAN MIND

MAP UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP HUKUM


NEWTON SISWA KELAS X MIA-1 SMAN X MALANG

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS


UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Metodologi Penelitian Pendidikan
Yang dibina oleh Ibu Lia Yuliati

OLEH
Anastasia Dela Wati
150321600265

Mei Budi Astuti


150321600201

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FISIKA
Desember 2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembelajaran kurikulum 2013 menuntut guru untuk bisa menggeser
paradigma pembelajaran yang mulanya berpusat pada guru (teacher-
centered learning) menuju pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-
centered learning) (Permendikbud, 2013). Kurikulum 2013 revisi menuntut
siswa untuk memiliki kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan,
kompetensi keterampilan, serta kemampuan pemahaman konsep fisika untuk
siswa tingkat sekolah menengah. Namun banyak siswa yang tidak menyukai
mata pelajaran fisika dikarenakan fisika itu sulit dan banyak rumus yang
berbeda sehingga pemahaman konsep fisika siswa sangatlah rendah. Hal ini
dapat di lihat dari data Puspendik Kemdikbud, yaitu rata-rata nilai UN SMA
fisika Provinsi Jawa Timur tahun 2015 yang hanya sebesar 72,64. Selain itu
rata-rata nilai UN SMA 2016 lebih rendah 6,51 poin, dari 61,29 pada tahun
2015 menjadi 54,78 pada tahun 2016 (Lestari, 2017).
Selama ini proses pembelajaran fisika masih cenderung bersifat
informatif dan matematis, siswa kurang terlibat aktif dalam proses
membangun konsepnya sendiri melalui aktivitas ilmiah dan proses berpikir
untuk memecahkan masalah, sehingga mengakibatkan rendahnya pemahaman
konsep dan kemampuan pemecahan masalah siswa. Permasalahan tentang
miskonsepsi siswa dalam pembelajaran fisika telah menjadi perhatian penting
bagi penelitian bidang pendidikan fisika dan menjadi tantangan untuk guru
fisika agar mengembangkan solusi untuk mengatasi permasalahan
miskonsepsi (Lederman, 2007). Untuk menghindari miskonsepsi yang
semakin parah maka guru harus berupaya agar siswanya tidak mengalami
miskonsepsi dengan cara melatih siswa untuk memahami konsep yang ada,
karena dengan memahami konsep siswa dapat mengembangkan konsep-
konsep lain yang memiliki tingkatan lebih tinggi (Halim, 2014).
Salah satu tujuan penelitian pendidikan fisika adalah untuk
mengidentifikasi sumber-sumber kesulitan siswa dalam mempelajari fisika
dan untuk merencanakan serta mengakses kurikulum dan pedagogi yang
diharapkan dapat mengurangi kesulitan-kesulitan tersebut.(Abdullah, 2010).
Penelitian yang dapat dilakukan yaitu dengan penelitian tindakan atau action
research yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan metode kerja
yang paling efisien sehingga tujuan pembelajaran tercapai dengan baik
(Neolaka, 2014).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2017) Salah satu
model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika
siswa adalah Siklus Belajar 5E (Learning Cycle 5E). Karena Learning Cycle
merupakan model pembelajaran yang yang dapat memfasilitasi siswa untuk
mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dan belajar berdasarkan pengalaman
langsung melalui kegiatan eksperimen. Penelitian Rahayuningsih (2012)
menyatakan bahwa siklus belajar 5E dapat meningkatkan kualitas proses
belajar siswa di SMAN 1 Kartasura, yaitu meningkatkan keaktifan siswa dan
peningkatan kualitas hasil belajar siswa.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ristiasari (2012),
kemampuan siswa dalam berpikir dapat dilatih melalui penugasan untuk
membuat mind mapping. Mind mapping diterapkan untuk penanaman konsep
dan meningkatkan pemahaman konsep fisika agar siswa lebih mudah dalam
mengingat materi yang telah diajarkan, dengan mind mapping siswa mampu
mengkonstruksi kembali informasi-informasi yang telah diperoleh. Menurut
Puspita (2012) Mind mapping merupakan cara mencatat yang kreatif dan
efektif bagi siswa untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan
mengambil informasi ke luar dari otak. Sedangkan penelitian Naim (2009)
menunjukkan bahwa mind mapping dapat meningkatkan kemampuan siswa
dalam berpikir karena memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak,
sehingga perhatian terpusat pada subjek serta mampu mengembangkan cara
pengaturan pikiran secara terperinci. Menurut Indriani (2008) mind mapping
merupakan strategi pembelajaran yang mengembangkan kemampuan otak kiri
dan otak kanan dengan menggambarkan hal yang bersifat umum kemudian
baru yang bersifat khusus dalam peta.
Selama dua dekade terakhir, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa
siswa memasuki kelas fisika dengan prekonsepsi yang dimilikinya, dan
sebagian besar prekonsepsi ini adalah miskonsepsi dimana siswa belum
memahami bagaimana konsep yang sebenarnya (Demirci, 2005). Penelitian
Eryilmaz (2002) menjelaskan bahwa banyak terdapatt miskonsepsi yang
dialami siswa pada proses pembelajaran fisika. Miskonsepsi yang sering
dialami siswa umumnya terkait dengan (a) konsep kunci seperti massa,
kecepatan, percepatan, gaya, dan sebagainya; dan (b) prinsip dan model
fundamental seperti hukum Newton, Hukum konservasi, dan lain-lain.
Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Panprueksa (2012)
menyatakan bahwa konsep gaya dan gerak merupakan salah satu konsep yang
penting dalam sains khususnya fisika, karena gaya dan gerak merupakan
konsep dasar yang diperlukan untuk memahami sains lebih lanjut.
Untuk mengatasi permasalahan kurangnya pemahaman konsep siswa
pada materi Hukum Newton, maka perlu adanya pemikiran dan penelitian
yang hasilnya diharapkan dapat memberi masukan pada guru, siswa dan
pihak lain yang bersangkutan dalam proses pembelajaran. Penelitian dapat
dilakukan dengan mengkombinasikan model belajar Learning Cycle 5E
dengan bantuan Mind Map. Fase – fase pembelajaran pada model Learning
Cycle 5E dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran sehingga
siswa dapat mengembangkan sendiri fakta dan konsep yang mereka ketahui.
Serta penggunaan mind map pada tahap elaborasi diharapkan dapat
memudahkan siswa dalam memahami materi dikarenakan siswa membuat
sendiri mind map berdasarkan ide yang ada pikirannya sehingga akan
mempermudah siswa dalam memahami konsep Hukum Newton.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka dapat
dibuat permasalahan penelitian sebagai berikut
1. Bagaimana penerapan model Learning Cycle 5E berbantuan Mind Map
untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa materi Hukum Newton
pada siswa kelas X MIA-1 SMAN X ?
2. Bagaimana peningkatan pemahaman konsep siswa materi Hukum Newton
pada kelas X MIA-1 SMAN X melalui model Learning Cycle 5E
Berbantuan Mind Map?

C. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk:
1) Guru
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
proses belajar mengajar Fisika untuk meningkatkan pemahaman konsep
pada materi Hukum Newton sehingga akan memperoleh hasil yang
maksimal,
2) Peneliti Lain
Bagi penelti lain, penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk
meningkatkan penguasaan konsep fisika siswa pada materi Hukum
Newton.

D. Definisi Operasional
Untuk lebih memahami penelitian, maka penulis menyusun definisi
operasional sebagai berikut :
1. Learning Cycle 5E
Learning cycle 5E merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa
secara langsung dalam proses pembelajaran. Model Learning Cycle 5E
digunakan untuk memfasilitasi siswa supaya bisa mengkonstruksi sendiri
pengetahuannya dan belajar berdasarkan pengalaman langsung melalui
kegiatan eksperimen. Sehingga tahapan – tahapan yang ada pada model
Learning Cycle 5E dapat membantu siswa untuk meningkatkan
pemahaman konsepnya. Dalam penelitian ini pemahaman konsep yang
akan ditingkatkan adalah pokok bahasan Hukum Newton.

2. Mind Map
Mind maping adalah cara mengembangkan kegiatan berpikir ke segala
arah, menangkap berbagai pikiran dalam berbagai sudut dengan cara
berfikir divergen dan kreatif. Mind maping merupakan cara termudah
untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi
itu ketika dibutuhkan. Dalam penelitian metode Mind map dimasukkan
dalam tahap elaborasi pada model Learning Cycle 5E dengan tujuan
mempermudah siswa dalam mengingat konsep Hukum Newton yang telah
dipelajari.

3. Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep fisika dalam penelitian ini yaitu suatu kemampuan
berfikir dalam ranah kognitif yang menunjukkan hubungan sederhana
antara fakta dan konsep-konsep fisika yang diberikan. Dengan memahami
konsep maka siswa akan dapat memecahkan permasalahan terkait dengan
materi Hukum Newton. Pemahaman konsep siswa dalam penelitian ini
diukur dengan menggunakan instrumen tes pilihan ganda dengan
indikator siswa mampu menganalisis hubungan antara gaya, massa dan
gerak benda. Siswa dikatakan telah memiliki pemahaman konsep yang
baik apabila mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan oleh guru
dan dapat menyelesaiakan permasalahan terkait dengan materi Hukum
Newton.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Model pembelajaran Learning Cycle 5E


Salah satu model pembelajaran yang berbasis konstruktivis adalah
model pembelajaran Learning Cycle. Menurut Iskandar (2011: 47),
Learning Cycle merupakan model pembelajaran sains yang efektif dan
sangat dikenal oleh para pengajar sains. Model ini memiliki beberapa
tipe.pada penelitian ini digunakan Learning Cycle 5 fase (LC 5E).
Learning Cycle 5E dikembangkkan oleh Bybee, dkk menjadi 5 fase, yaitu:
engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation.
1. Fase Engagement
Kegiatan pada fase engagement bertujuan untuk mendapatkan
perhatian siswa, mendorong kemampuan berpikirnya dan membantu
mereka mengakses pengetahuan awal yang telah dimiliki (Abdulkadir
& Ahmed, 2013: 74). Hal penting yang perlu dicapai oleh pengajar
pada fase ini adalah timbulnya rasa ingin tahu siswa tentang topik yang
akan dipelajari. Keadaan tersebut dapat dicapai dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan pada siswa tentang fakta atau fenomena yang
berhubungan dengan materi yang akan dipelajari.
2. Fase Exploration
Kegiatan pada fase exploration bertujuan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk melakukan beberapa kegiatan penelitian yang
terdiri dari pengumpulan data, observasi, melakukan percobaan (secara
ilmiah), melakukan pengamatan dan mengorganisasikan informasi
yang dikumpulkan (abdulkadir & Ahmed, 2013: 75). Siswa diharapkan
aktif dalam mengkonstruk pengetahuannya melalui belajar secara
mandiri maupun berkelompok tanpa instruksi atau pengarahan secara
langsung dari guru. Guru berperan sebagai fasilitator untuk membantu
siswa agar bekerja dalam lingkup permasalahan (Loorsbach, 2008: 1).
Siswa diberi kesempatan untuk menguji dugaan dan hipotesis yang
telah mereka tetapkan. Mereka dapat mencoba beberapa alternatif
pemecahan, mendiskusikannya dengan teman sekelompoknya,
mengemukakan ide dan mengambil keputusan untuk memecahkannya
(Loorsbach, 2008: 1).
3. Fase Explanation
Kegiatan pada fase penjelasan (Explanation) bertujuan untuk
melengkapi, menyempurnakan dan mengembangkan konsep yang
diperoleh siswa pada fase eksplorasi (Dasna & Sutrisno. 2008:82).
Siswa di dorong untuk menjelaskan konsep yang dipahaminya dengan
menggunakan kata-katanya sendiri, menunjukkan contoh-contoh yang
berhubungan dengan konsep untuk melengkapi penjelasannya
(Lorsbach, 2008: 1). Melalui tahap ini akan melatih siswa
mengkonstruk materi dan membantu guru untuk mengetahui sejauh
mana pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap materi yang telah
dipelajari. Pada kegiatan ini sangat penting adanya diskusi antar
anggota kelompok untuk mengkritisi penjelasan konsep dari siswa
yang satu dengan yang lainnya (Lorsbach, 2008: 1). Selanjutnya guru
menjelaskan konsep dan difinisi yang lebih formal untuk menghindari
perbedaan konsep yang dipahami siswa (Abdulkadir & Ahmed,
2013:75). Guru juga dapat menanyakan kepada siswa sejumlah
pertanyaan yang dapat mengarahkan siswa untuk mengkonstruksi
suatu diskripsi materi yang dipelajari (Dasna & Sutrisno, 2008:83).
4. Fase Elaboration
Kegiatan pada fase elaborasi (Elaboration) bertujuan untuk
mengarahkan siswa menerapkan konsep yang telah dipahami dan
keterampilan yang dimiliki pada situasi baru (Lorsbach, 2008:1). Pada
tahap ini guru melatih siswa untuk mengaplikasikan konsep yang
dimiliki, selain itu membantu guru untuk mengecek apakah siswa
masih kesulitan memahami materi yang dipelajari. Pada dasarnya
kegiatan pembelajaran pada fase ini bertujuan untuk meningkatkan
pemahaman siswa tentang apa yang mereka ketahui. Dengan
menerapkan konsep yang telah diketahui pada situasi baru, siswa dapat
melakukan akomodasi melalui hubungan antar konsep sehingga
pemahaman siswa menjadi lebih mantap. Kegiatan yang dapat
dilakukan pada fase ini adalah praktikum lanjutan, problem solving,
menjawab soal-soal latihan berupa pemecahan masalah yang
mencakup ranah analisis, aplikasi, sintesis dan evaluasi (Abdulkadir &
Ahmed, 2013:75).
5. Fase Evaluation
Kegiatan pada fase ini adalah guru melakukan evaluasi untuk
mengetahui tingkat pemahaman siswa selama proses pembelajaran
berlangsung. Bentuk evaluasi dapat berupa lembar pengamatan untuk
melakukan penilaian kinerja, penilaian sikap dan mengadakan tes
(Abdulkadir & Ahmed, 2013:76). Tes dapat digunakan untuk
mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari.
Tes yang dimaksud dapat mengembangkan daya pikir siswa melalui
suatu pemecahan masalah. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan dasar
untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran (Lorsbach, 2008:1).

B. Mind Map
Mind map adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke
dalam otak dan mengambil informasi ke luar dari otak. Mind map adalah
cara mencatat yang kreatif, efektif dan sederhana (Buzan, 2007:4). Mind
map dapat dibuat seperti peta kota, dimana pusat mind map mirip dengan
pusat kota. Pusat Mind Map ini mewakili ide terpenting sedangkan jalan –
jalan utama yang menyebar dari pusat mewakili pikiran – pikiran utama
dalam proses pemikiran kita. Dapat juga ditambahkan gambar atau bentuk
khusus yang mewakili ide- ide menarik tertentu.
Mind map juga merupakan peta rute yang hebat untuk ingatan,
memungkinkan kita mnyusun fakta dan pikiran sedemikian rupa sehingga
cara kerja alami otak dilibatkan sejak awal. Ini berarti mengingat
informasi akan lebih mudah dan lebih bisa diandalkan daripada
menggunakan teknik pencatatan tradisional (Buzan, 2007:5).
Dengan membuat Mind Map maka seluruh otak akan bekerja dan
mampu mengelompokkan suatu permasalahan yang ada. Mind map
memungkinkan kita berfokus oada pokok bahasan tertentu, membantu
menunjukkan hubungan natara bagian – bagian informasi yang saling
terpisah dan membantu mengelompokkan serta membandingkan konsep.
Dalam membuat mind map, diperlukan beberapa langkah sebagai berikut
(DePorter & Hernacki, 2002: 156): menuliskan gagasan utama di tengah –
tengah kertas dan menambahkan cabang untuk setiap gagasan uatama,
menuliskan kata kunci pada tiap cabang secara detail, dan menambahkan
simbol atau gambar – gambar yang dapat mempermudah ingatan.
Contoh Mind Map pada pokok bahasan Hukum Newton

Hk. Newton I Kelembaman ෍𝐹 = 0

HUKUM
Hk. Newton II
NEWTON Hukum ෍𝐹 = 𝑚 𝑎
Gerak

Hk. Newton 𝐹 = −𝐹
Aksi Reaksi
III

C. Model Pembelajaran Learning Cycle 5E-Mind Mapping


Pada penelitian ini, pembuatan mind map akan dipadukan dengan
model pembelajaran Learning Cycle 5E, agar pemahaman siswa dalam
mempelajari materi Hukum Newton menjadi lebih terorganisasi. Teknik
pencatatan mind mapping dilakukan pada tahap elaborasi dimana siswa
diberi tugas untuk membuat mind map dari materi yang sudah dipelajari
kemudian siswa diberi kuis untuk melihat hasil belajar kognitifnya.
Dengan model pembelajaran Learning Cycle 5E yang dipadukan dengan
teknik pencatatan mind mapping, diharapkan pengetahuan yang diterima
oleh siswa menjadi lebih bermakna dan melekat lebih lama dalam
pikirannya. Sehingga dari kegiatan tersebut diharapkan dapat
meningkatkan pemahaman konsep siswa dalam mempelajari materi
Hukum Newton.
Pada tahap elaborasi siswa dapat mengembangkan mind map
sekreatif mungkin dalam artian tidak ada aturan khusus dalam pembuatan
mind map. Hal ini dikarenakan siswa akan lebh mudah mengingat apa
yang ditulis dengan pikirannya sendiri. Dan dengan bantuan gambar –
gambar serta warna yang digunakan pada mind map maka siswa akan
lebih mudah dalam mengingat materi yang telah dipelajarinya.

D. Pemahaman Konsep
Pemahaman adalah kemampuan untuk menjelaskan suatu situasi
atau suatu tindakan. Sedangkan konsep adalah suatu kelas stimulus yang
memiliki sifat-sifat (atribut-atribut) umum. Stimulus adalah objek-objek
untuk orang (person) (Hamalik, 2002 :16). Jadi pemahaman konsep fisika
adalah kemampuan menangkap makna atau arti suatu ide atau fenomena-
fenomena pokok dalam fisika. Agar konsep-konsep dan teorema-teorema
dapat diaplikasikan ke situasi yang lain,perlu adanya
keterampilanmenggunakan konsep-konsep dan teorema-teorema tersebut.
Oleh karena itu, pembelajaran fisika harus ditekankan kearah pemehaman
konsep.
Adapun indikator yang menunjukkan pemahaman konsep antara
lain (Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), 2006:59):
1)Menyatakan ulang setiap konsep, 2)Mengklasifikasikan objek-objek
menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya), 3)Memberikan
contoh dan non contoh dari konsep, 4)Menyajikan konsep dalam berbagai
bentuk representasi matematis, 5)Mengembangkan syarat perlu atau syarat
cukup suatu konsep, 6)Menggunakan, memanfaatkan dan memilih
prosedur atau operasi tertentu, 7)Mengaplikasikan konsep atau algoritma
pemecahan masalah

E. Garis Besar Materi Hukum Newton


1. Hukum I Newton
Hukum I Newton menyatakan “Setiap benda tetap berada dalam
keadaan diam atau bergerak dengan laju tetap sepanjang garis lurus,
kecuali jika diberi gaya total yang tidak nol”( Giancoli , 2001:93).
Jika gaya resultan pada benda nol, maka vektor kecepatan benda tidak
berubah. Benda yang mula-mula diam akan tetap diam, dan benda
yang mula-mula bergerak akan tetap bergerak dengan kecepatan yang
sama, dan akan mengalami suatu percepatan jika padanya bekerja
suatu gaya resultan yang bukan nol.
Hukum I Newton melibatkan sifat benda yang cenderung
mempertahankan keadaan terhadap perubahan gerak yang terjadi
padanya, dan sifat benda ini adalah sifat kelembaman (inersia)
(Istiyono,2006:95). Oleh karena itu hukum I Newton juga sering
disebut hukum kelembaman (inersia). Secara matematis, hukum I
Newton dapat ditulis sebagai berikut:
⃗ = 0 dengan v
ΣF ⃗ = 0 atau v
⃗ = konstan
⃗ = resultan gaya (N)
ΣF
m
⃗ = kecepatan ( )
v
s
Contoh penerapan hukum I Newton dalam kehidupan sehari-hari
adalah pada saat seseorang naik sepeda motor yang diam, kemudian
motor digas dengan cepat maka tubuh orang tersebut akan terdorong
ke belakang. Dan sebaliknya apabila motor tersebut berjalan dengan
kecepatan konstan, kemudian direm maka tubuh orang tersebut akan
terdorong ke depan.
2. Hukum II Newton
Hukum II Newton menyatakan ”Percepatan sebuah benda
berbanding lurus dengan gaya total yang bekerja padanya dan
berbanding terbalik dengan massanya. Arah percepatan sama dengan
arah gaya total yang bekerja padanya” Giancoli , 2001:95). Jika gaya
resultan (total) yang bekerja pada suatu benda dengan massa m
adalah bukan nol, maka benda tersebut akan mengalami percepatan
dengan arah sama dengan gaya. Percepatan adalah berbanding lurus
dengan gaya dan berbanding terbalik dengan massa benda
(Bueche,2006:19). Pernyataan tersebut secara matematis dapat ditulis
sebagai berikut:

ΣF
a⃗ =
m
m
a⃗ = percepatan benda ( 2 )
s
⃗ = gaya total (N)
ΣF
m = massa benda (kg)
Contoh hukum II Newton dalam kehidupan sehari-hari adalah
pemakaian bensin pada mobil kecil lebih irit dari pada mobil besar.
Hal ini dikarenakan lebih banyak bensin yang perlu dibakar dalam
mesin mobil yang besar untuk menghasilkan gaya tambahan.

3. Hukum III Newton


Newton menyatakan bahwa gaya tunggal hanya oleh satu benda itu
sendiri mungkin tidak ada. Gaya yang hadir jika sedikitnya ada dua
benda berinteraksi. Pada interaksi ini gaya-gaya selalu berpasangan,
yaitu: jika A mengerjakan gaya B, maka B akan mengerjakan gaya
pada A yang besarnya sama tetapi arahnya berlawanan
(Kanginan,2007:109). Zat berinteraksi dengan zat dan gaya timbul
antara kedua benda, dan untuk setiap gaya yang bekerja pada suatu
benda terdapat gaya yang setara tetapi berlawanan arah pada benda
lain yang mengalami interaksi dengan benda yang pertama. Sehingga
hukum III Newton sering disebut juga gaya aksi reaksi.
Hukum III newton menyatakan”Ketika suatu benda memberikan
gaya pada kedua benda, benda kedua tersebut memberikan gaya yang
sama besar tetapi berlawanan arah terhadap benda yang pertama” (
Giancoli , 2001:97). Gaya benda pada pertama disebut sebagai aksi
dan gaya pada benda kedua disebut reaksi. Secara matematis hukum
III Newton dapat dinyatakan sebagai berikut:
𝐹𝑎𝑘𝑠𝑖 = −𝐹𝑟𝑒𝑎𝑘𝑠𝑖
Contoh penerapan hukum III Newton dalam kehidupan sehari-hari
adalah ketika senapan menembakkan peluru, senapan akan mendorong
peluru ke depan (aksi). Dan sebagai reaksinya peluru akan mendorong
senapan ke belakang, sehingga senapan akan terdorong ke belakang.
Dan jika senapan ditahan oleh penembak maka penembak akan
merasakan dorongan senapan.

F. Penerapan Materi Hukum Newton dengan Model Pembelajaran


Learning Cycle 5E-mind mapping
Pembelajaran materi Hukum Newton dengan model pembelajaran
Learning Cycle 5E-mind mapping diawali dengan fase engagement. Pada
fase ini siswa diberikan pertanyaan untuk mengetahui kemampuan awal
dan membangun minat serta rasa ingin tahu terkait materi Hukum Newton
. Selanjutnya siswa dibagi kedalam kelompok heterogen yang terdiri dari
3-4 orang. Langkah kedua yakni fase exploration, siswa bersama
kelompok diminta mengeksplorasi pengetahuannya dengan membaca
buku, atau sumber pengetahuan yang lain. Pada kegiatan ini siswa mencari
jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh guru.
Selanjutnya fase explanation dimana setelah siswa menemukan
jawabannya, mereka diminta untuk menjelaskan didepan kelas terkait hasil
diskusi yang didapat. Apabila terdapat perbedaan jawaban antar kelompok,
maka siswa diminta untuk menjelaskan dan siswa yang lain menanggapi.
Apabila masih terdapat keraguan pada siswa, maka guru bertindak sebagai
fasilitator dan memberikan pengarahan untuk memperdalam pengetahuan.
Kemudian siswa berlatih membuat mind map dari materi yang telah
dipelajari.
Selanjutnya pada fase elaboration, siswa mengerjakan soal materi
Hukum Newton dengan model soal mengisi bagian yang rumpang pada
mind map yang disediakan guru. Pada akhir dalam Learning Cycle 5E-
mind mapping adalah fase evaluation, pada fase ini masing-masing siswa
diminta menyimpulkan pembelajaran. Selanjutnya dilakukan penilaian
terhadap pemahaman konsep siswa melalui kuis. Pada penelitian ini
diharapkan siswa mampu meningkatkan pemahaman konsep materi
Hukum Newton melalui model pembelajaran Learning Cycle 5e-Mind
mapping

G. Kerangka Berfikir
Penelitian tentang Penerapan Model Learning Cycle 5E Berbantuan
Mind Map Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Fisika Siswa Pada
Materi Hukum Newton ini terdiri dari satu varibel bebas dan satu variabel
terikat. Variabel bebas yang digunakan adalah Model pembelajaran, yaitu
model Learning Cycle 5E berbantuan Mind Map, sedangkan variabel
terikat dari penelitian ini adalah pemahaman konsep fisika siswa.
Pemahaman konsep fisika siswa sangat dipengaruhi oleh pengalaman
siswa itu sendiri saat belajar di kelas sehingga tingkat pemahaman konsep
fisika siswa dapat ditingkatkan dengan memilih metode pembelajaran yang
tepat. Untuk itu perlu dikembangkan inovasi baru dalam pembelajaran
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, salah satunya adalah dengan
menerapkan Model Learning Cycle 5E yang dikombinasikan dengan
penggunaan Mind Map pada tahap elaborasi.
Pada model Learning Cycle 5E siswa didorong untuk meningkatkan
kemampuan berfikirnya dan mengakses pengetahuan awal yang dimiliki
dengan melakukan eksperimen atau diskusi kelas. Kemudian siswa
didorong untuk mengungkapkan konsep – konsep yang dipahami dengan
menggunakan kata – katanya sendiri dan mengaitkan konsep dengan
situasi baru ditemuinya. Selain itu siswa juga ditugaskan untuk membuat
Mind Map agar mudah mengingat konsep – konsep yang sudah dipelajari.
Dengan penerapan model Learning Cycle 5E berbantuan Mind Map ini
diharapkan pemahaman konsep siswa tentang Hukum Newton semakin
baik.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif dengan analisis data bersifat kuantitatif. Jenis penelitian ini
termasuk penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dengan tujuan
untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Pada penelitian
ini perlakuan yang diberikan adalah menerapkan model pembelajaran
Learning Cycle 5E dengan berbantuan Mind Map untuk meningkatkan
pemahaman konsep siswa pada materi Hukum Newton.
Prosedur atau langkah – langkah dalam penelitian ini mengikuti model
Kemmis & Mc. Taggart. Model Kemmis dan Mc Taggart pada hakekatnya
berupa siklus yang terdiri dari empat komponen yaitu : rencana tindakan
(planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi
(reflecting) (Neolaka, 2014). Berikut adalah siklus dalam Penelitian Tindakan
Kelas :

Planing (rencana
tindakan)

Reflecting (evaluasi
Acting (implementasi
dan refleksi
rencana tindakan)
keseluruhan proses

Observing (mengamati
dan menjelaskan pengaruh
tindakan)

B. Kehadiran dan Peran Peneliti di Lapangan


Pada penelitian ini, peneliti selalu hadir di setiap proses penelitian.
Peran peneliti sebagai pengamat penuh yang berarti bahwa peneliti bertindak
sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, penganalisis, penafsir data
dan akhirnya pelaporan hasil penelitian.
C. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri X Malang. Penelitian
dilaksanakan di kelas X MIA-1 di semester ganjil tahun ajaran 2018/2019.

D. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas X MIA-1 SMA Negeri X Malang
dengan jumlah total 30 siswa, yang teridiri dari 12 siswa laki – laki dan 18
siswa perempuan.

E. Data dan Sumber Data


Data keterlaksanaan model Learning Cycle 5E berbantuan Mind Map
diperoleh dari hasil observasi pada setiap pertemuan di saat proses penelitian
berlangsung. Berikut adalah data, sumber data dan instrument yang
digunakan dalam penelitian ini

No Data Sumber Data Instrumen


1 Data keterlaksanaan proses Guru Lembar observasi
pembelajaran Siswa keterlaksanaan model
pembelajaran
2 Data pemahaman konsep siswa Soal pemahaman konsep
siswa tentang Hukum Newton dan
rubric penilaian pemahaman
konsep

F. Instrumen Penelitian
Instrument penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
keterlaksanaan model pembelajaran learning cycle 5E berbantuan Mind Map,
dan pemahaman konsep Hukum Newton siswa. Keterlaksanaan model
pembelajaran learning Cycle 5E diukur menggunakan lembar observasi
keterlaksaan model pembelajaran. Sedangkan pemahaman konsep tentang
Hukum Newton diukur menggunakan soal pemahaman konsep yang
dilengkapi dengan rubric penilainnya.
1. Instrumen Perlakuan
Instrumen perlakuan merupakan instrumen yang digunakan untuk
memberi perlakuan kepada siswa selama pembelajaran. Instrumen yang
digunakan adalah silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran dan Lembar
Kerja Siswa.
a. Silabus
Silabus merupakan rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran
yang mencakup Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, Materi
Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, Penilaian, Alokasi waktu, dan
Sumber belajar. Silabus yang digunakan dalam penelitian ini
merupakan silabus mata pelajaran fisika peminatan MIA yang telah
ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan pada kurikulum 2013 revisi.
Silabus tersebut dikembangkan lagi oleh peneliti sesuai dengan proses
pembelajaran yang direncanakan.
b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP merupakan rencana pembelajaran yang dikembangkan secara
rinci mengacu pada silabus, buku teks pelajaran, dan buku panduan
guru. Sebelum digunakan RPP dikonsultasikan kepada dosen
pembimbing I dan dosen pembimbing II serta guru fisika yang
bersangkutan yakni guru fisika SMAN X Malang. RPP yang dibuat
menggunakan tahap-tahap model pembelajaran Learning Cycle 5E-
mind mapping yang digunakan pada kelas yang dijadikan subjek
penelitian.
c. Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar Kerja Siswa (LKS) digunakan untuk mengarahkan siswa
dalam memahami tujuan dan mempermudah dalam mempelajari materi
Hukum Newton. Sebelum LKS digunakan, terlebih dahulu
dikonsultasikan kepada dosen pembimbing dan guru fisika di sekolah
tempat penelitian.
2. Instrumen Pengukuran
Instrumen pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari
lembar observasi dan soal tes pemahaman konsep. Lembar observasi
digunakan untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran
menggunakan model Learning Cycle 5E-mind mapping selama proses
belajar mengajar berlangsung, dan soal tes pemahaman konsep digunakan
untuk mengetahui sejauh mana penguasaan konsep siswa. Keterlaksanaan
dapat dilihat dari ketercapian langkah pembelajaran dan ketepatan waktu
yang tertera dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
a. Lembar Observasi untuk mengetahui keterlaksanaan proses
pembelajaran menggunakan model Learning Cycle 5E-mind
mapping
Lembar obsevasi ini diisi oleh observer yang digunakan untuk
mengetahui keterlaksanaan model pembelajaran Learning Cycle 5E-
mind mapping meliputi ketercapaian langkah pembelajaran dan
ketepatan waktu. Lembar observasi disusun oleh peneliti sesuai dengan
tahap pembelajaran yang direncanakan. Tahap pembelajaran yang
dilakukan meliputi fase engagement, exploration, explanation,
elaboration dan evaluation.Pada penelitian ini, terdapat 2 observer
yang mengamati kegiatan pembelajaran setiap pertemuan.
b. Soal Tes Pemahaman Konsep Hukum Newton
Soal tes pemahaman konsep digunakan untuk mengukur ketercapaian
pemahaman konsep siswa berdasarkan taksonomi Bloom revisi, pada
dimensi proses kognitif C1 (mengingat), C2 (memahami), C3
(menerapkan), C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), C6
(mensintesis). Instrument tes yang digunakan mengacu pada indicator
pembelajaran Hukum Newton yang terdapat pada silabus. Tes yang
digunakan dalam penelitian ini berupa soal tes objektif dengan lima
alternatif jawaban disertai alasan. Instrumen dibuat sebanyak 20 butir
soal. Soal-soal ini harus diuji validitas, tingkat kesukaran, daya beda,
dan reliabilitas soal supaya dikatakan layak sebagai instrumen
pengukuran ketercapaian pemahaman konsep siswa.
Soal yang akan dijadikan instrumen penelitian harus diuji validitas dan
reliabilitas nya terlebih dahulu dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
1. Validitas butir soal
Butir soal dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang
besar terhadap skor total (Arikunto, 2015: 90). Analisis validitas
butir soal penguasaan konsep siswa ini sesuai dengan penggunaan
rumus korelasi product moment pada angka kasar (Arikunto, 2015:
90) sebagai berikut
𝑁Σ𝑋𝑌 − (Σ𝑋)(Σ𝑌)
𝑟𝑥𝑦 =
√(𝑁Σ𝑋 2 − (Σ𝑋)2 (𝑁Σ𝑌 2 − (Σ𝑌)2 )
Keterangan

𝑟𝑥𝑦 = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua variabel yang
dikorelasikan

N = jumlah responden

X = skor pada butir soal yang dipilih

Y = skor total pada semua butir

2. Reliabilitas Tes
Suatu instrumen memiliki reliabilitas tinggi jika hasil pengukuran
berkali-kali terhadap subjek yang sama selalu menunjukkan hasil
atau skor yang sama. Analisis reliabilitas soal penguasaan konsep
siswa ini sesuai dengan penggunaan rumus koefisien Alpha
(Arikunto, 2009: 109) adalah sebagai berikut
𝑛 Σ𝜎𝑖 2
𝑟11 =( ) (1 − 2 )
(𝑛 − 1) 𝜎𝑡

Keterangan

𝑟11 = reliabilitas yang dicari

n = jumlah responden

Σ𝜎𝑖 2 = jumlah varians skor tiap – tiap butir soal


𝜎𝑡 2 = varians total

Tabel Kriteria Reliabilitas Tes


Nilai Reliabilitas Kriteria Reliabilitas
0,800 < r ≤ 1,000 Sangat tinggi
0,600 < r ≤ 0,800 Tinggi
0,400 < r ≤ 0,600 Cukup
0,200 < r ≤ 0,400 Rendah
0,000 < r ≤ 0,200 Sangat rendah

G. Pengumpulan Data
1. Observasi
Observasi merupakan suatu teknik, cara dan tindakan mengumpulkan
data dalam sebuah pengamatan dengan menggunakan seluruh alat indra
yaitu alai indra penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan
pengecap. Observasi ini digunakan untuk mengumpulkan data peningkatan
pemahaman konsep siswa selama pembelajaran berlangsung dengan
menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan Mind
Map.
2. Tes
Tes dilakukan pada awal dan akhir siklus. Peneliti menggunakan metode
tes untuk mengukur pemahaman konsep siswa kelas X MIA-1 SMA
Negeri X Malang.
3. Catatan Lapangan
Catatan lapangan digunakan untuk meneliti kegiatan pembelajaran dari
awal hingga akhir pembelajaran. Catatan lapangan dibuat oleh peneliti
agar aktivitas yang tidak terekam melalui lembar observasi maupun
dokumentasi dapat diketahui dan dianalisis sehingga ditemukan
pemecahan masalah yang sesuai dengan kondisi kelas yang ada.

H. Analisis Data
Data ini bersifa kualitatif (uraian aktivitas siswa dan guru) dan
kuantitatif (berupa angka). Untuk menganalisis data dilakukan teknik reduksi
data dan mempresentase data untuk melihat keberhasilan penelitian yang
dilakukan. Mereduksi data adalah suatukegiatan penyeleksian, pemfokusan,
dan penyederhanaan data yang dimulai sejak pengumpulan data (Sugiyono,
2012:92).
Analisis kualitatif pada penelitian ini menggunakan model Miles and
Huberman. Langkah – langkah dalam model Miles and Huberman yaitu data
reduction, data display, dan conclusion drawing / verification (Sugiyono,
2012 : 337).
Tahapan Penjabaran
Data reduction Merangkum, memilih, dan memfokuskan pada hal-hal yang
penting, dicari teman dan polanya serta membuang yang tidak
perlu. Tahap ini memberikan gambaran yang lebih jelas dan
memudahkan peneliti untuk melakukan pengumpulan data di
tahap selanjutnya.
Data display Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat,
bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sebagainya.
Umumnya data disajikan dalam bentuk teks narasi.
Conclusion Penarikan kesimpulan didasarkan pada reduksi data dan sajian
data yang berasal dari observasi, tes, dan wawancara.
Sebelum data disajikan, terlebih dulu dilakukan Coding untuk
mengkalsifikasi data berdasarkan kriterianya. Setelah itu data harus di
crosscheck dengan minimal 3 pihak (validator) yang disebut dengan
triangulasi.

1. Teknik Analisis Data Keterlaksanaan Model Pembelajaran Learning


Cycle 5E berbantuan Mind Map
Untuk menentukan persentase keterlaksanaan model pembelajaran
Learning Cycle 5E dengan bantuan Mind Map analisisnya menggunakan
rumus
𝐹
𝑃= × 100%
𝑁
Keterangan :
F = jumlah nilai aspek yang dinilai
N = jumlah nila aspek maksimal
P = persentase tingkat aspek
No Persentase (%) Keterangan
1 90 - 100 Sangat baik
2 66 - 89 Baik
3 51 - 65 Cukup baik
4 25 - 50 Kurang baik
5 0 - 24 Tidak baik

2. Teknik Analisis Data Pemahaman Konsep tentang Hukum Newton


Untuk menentukan persentase skor pemahaman konsep siswa
analisisnya menggunakan rumus
𝐹
𝑃= × 100%
𝑁

Keterangan :

F = jumlah nilai aspek yang dinilai

N = jumlah nila aspek maksimal

P = persentase tingkat aspek

No Persentase (%) Keterangan

1 90 - 100 Sangat baik

2 66 - 89 Baik

3 51 - 65 Cukup baik

4 25 - 50 Kurang baik

5 0 - 24 Tidak baik

I. Prosedur Penelitian
Prosedur Penelitian yang dilakukan mengikuti siklus yang diadaptasi dari
Kemmis & Mc Taggart. Satu siklus teridiri dari empat tahap, yaitu tahap
perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi dan tahap refleksi.

Siklus I
1. Tahap Perencanaan
a. Menetapkan materi dan alokasi waktu
b. Menyusun RPP sesuai dengan pokok materi yang ditentukan
c. Menyusun instrumen penelitian
d. Melakukan koordinasi dengan pihak sekolah yang akan diteliti
e. Menentukan sampel penelitian

2. Tahap Pelaksanaan Tindakan


a. Melaksanaan pembelajaran yang terdiri dari :
1) Kegiatan pendahuluan
2) Kegiatan inti
3) Kegiatan penutup

Ketiga kegiatan tersebut dikemas sesuai dengan langkah-langkah


pembelajaran LC 5E-Mind mapping. Rincian kegiatan dijabarkan sebagai
berikut :

LC 5E-mind mapping
Pendahuluan
 Guru memberikan salam dan menanyakan kabar siswa
Kegiatan inti
Engagement
 Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri
dari 3-4 orang
 Guru melakukan tanya jawab untuk mengetahui pengetahuan awal siswa dan
membangun rasa ingin tahu siswa terhadap materi hukum newton yang akan
dipelajari
Exploration
 Guru membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagia bahan diskusi
 Siswa dengan kelompoknya berdiskusi dalam mengumpulkan informasi dengan
membaca buku, internet, atau sumber informasi lainnya
Explanation
 Guru meminta kepada siswa untuk mempresentasikan hasil diskusinya
 Guru berperan sebagai fasilitator dan membenarkan jika siswa mengalami
kesalahan konsep dan memperkuat konsep yang sudah benar
 Siswa membuat mind map dari materi yang telah dipelajari
Elaboration
 Siswa diminta mengerjakan soal pada LKS yaitu mengisi bagian yang rumpang
pada mind map yang disediakan
 Siswa mengkomunikasikan hasil pengerjaannya
 Guru bertindak sebagai fasilitator dan membimbing siswa jika terjadi kesalahan
konsep
Evaluation
 Siswa menyimpulkan hasil pembelajaran yang diperoleh
 Guru memberikan kuis yang dikerjakan secara individu oleh siswa
Kegiatan penutup
 Guru memberikan tugas siswa untuk mempelajari materi selanjutnya

3. Tahap Observasi
a. Mengamati dan menjelaskan pengaruh tindakan yang diberikan di
dalam kelas

4. Tahap Refleksi
a. Mengolah dan menganalisis data hasil penelitian
b. Merefleksi keseluruhan proses dan menyimpulkan untuk tindak lanjut
penelitian

Siklus II
Siklus II merupakan kelanjutan dari siklus I yang tahapan – tahapannya
sama. Siklus II digunakan untuk memperbaiki kekurangan yang terjadi pada
siklus I dan untuk mengetahui apakah hasil tindakan sudah mencapai
indicator keberhasilan atau belum.
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Y . 2010 . Pemahaman Mahasiswa Terhadap Konsep Medan Listrik.


Prosiding Seminar Nasional Pendidikan 2010. ISSN 978-979-8510-11-3.

Lederman, N. G. & Abell, S. K. (2007). Handbook Of Research On Science


Education. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates. Dari
https://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:5dv50nuyhkoj:htt
ps://www.routledgehandbooks.com/pdf/doi/10.4324/9780203097267.ch3+
&cd=5&hl=id&ct=clnk&gl=id.

Demirci, N. 2005. A Study About Students’ Misconceptions In Force And Motion


Concepts By Incorporating A Web-Assisted Physics Program. The Turkish
Online Journal Of Educational Technology – TOJET July 2005 ISSN: 1303-
6521 Volume 4 Issue 3 Article 7 40 Dari https://files.eric.ed.gov/fulltext/ej
1102399.pdf.

Eryilmaz, A. 2002 . Effect Of Conceptual Assigment And Conceptual Change


Discussions On Students` Misconceptions And Achievement Regarding
Force And Motion. Journal Of Research In Science Teaching. Vol. 39, No.
10,PP.1001-1015(2002).Dari http://onlinelibrary.wiley. com/ doi/10.1002
/tea.10054.
Indriani, N. 2008. Meningkatkan Kreativitas Belajar Siswa Dalam Mata
Pelajaran IPS Dengan Menggunakan Mind Mapping Pada Kelas XI -I
SMP N Padang Panjang. Jurnal Guru5 (1): 7- 16.
Lestari, R. D. 2017. Pengaruh Model Siklus Belajar Hipotetikal Deduktif 5E
Terhadap Penguasaan Konsep Fisika Peserta Didik. Seminar Nasional
Fisika Dan Pembelajarannya.

Halim, L., Tan Kia Yong, Tamby, S. M. M. . 2014. Overcoming Students’


Misconceptions On Forces In Equilibrium: An Action Research Study.
Creative Education Vol.5 No.11(2014), Article ID:47210
DOI:10.4236/Ce.2014.511117 .
Naim. 2009. Penerapan Metode Quantum Learning Dengan Teknik Peta
Pikiran (Mind Mapping) Dalam Pembelajaran Fisika. Jurnal Ilmiah
“Kreatif” 6 (1) 82 - 100.
Neolaka, A. 2014. Metode Penelitian dan Statistik. Bndung: PT Remaja
Rosdakarya Offset.
Panprueksa, K., N. Phonphok., M. Boonprakob, & C. Dahsah . 2012. Thai
Students Conceptual Understanding on force and Motion. 2012
International Conference on Education and management Innovation
IPEDR, 30(1): 275-279. Dari http://www.ipedr.com/vol30/54-
ICEMI%202012-M10050.pdf.

Permendikbud. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik


Indonesia Nomor 81a Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum. Dari
https://luk.staff.ugm.ac.id/atur/bsnp/Permendikbud81A-2013Implementasi
K13 Lengkap .pdf .

Puspita R . 2012. Penerapan Metode Eksperimen Dan Alat Bantu Peta Pikiran (
Mind Mapping) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Dan Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa Dalam Pembelajaran IPA. Dari
http://repository.upi.edu/operator/upload/t_mat_ 070733.pdf .
Rahayuningsih, R. 2012. Penerapan Siklus Belajar 5e (Learning Cycle 5E)
Disertai Peta Konsep Untuk Meningkatkan Kualitas Proses Dan Hasil
Belajar Kimia Pada Materi Kelarutan Dan Hasil Kali Kelarutan Kelas XI
Ipa Sma Negeri 1 Kartasura Tahun Pelajaran 2011/2012. Jurnal Pendidikan
Kimia, Vol. 1 No. 1 Tahun 2012.
Ristiasari, T., Bambang P, Sri Sukaesih. 2012. Model Pembelajaran Problem
Solving Dengan Mind Map Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa.
Unnes Journal Of Biology Education 1(3)(2012). Dari
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujeb.

Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Pendidikan (Metode Kuantitaif, Kualitatif,


dan R & D). Bandung: Penerbit Alfabeta.