Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat – Nya maka
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Abses Mandibula”.

Penulisan makalah adalah merupakan salah satu persyaratan untuk Kenaikan Pangkat.

Dalam Penulisan makalah penulis merasa masih banyak kekurangan – kekurangan


baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki
penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tidak
terhingga kepada pihak – pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini,
khususnya kepada :

1. Kepala Puskesmas Batu Aji yang telah memberikan kemudahan – kemudahan baik
berupa moril maupun materil, Bapak dr. H. Harri Fajri Zisoni, selaku Kepala
Puskesmas Batu Aji Kota Batam
2. Rekan – rekan kerja di Puskesmas Batu Aji Kota Batam
3. Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada suami dan anak tercinta
yang telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada
penulis, dalam menyelesaikan makalah ini
4. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan
bantuan dalam penulisan makalah ini

i
Akhirnya penulis berharap semoga Tuhan memberikan imbalan yang setimpal pada
mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai
ibadah, Amin.

Batam, 17 Oktober 2013

Penulis

drg. Fitry

NIP 19810816 201101 2 001

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ i

DAFTAR ISI............................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1

1.2 Tujuan Penulisan .......................................................................... 2

1.3 Manfaat Penulisan ........................................................................ 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Abses ......................................................................... 3

2.2 Etiologi ........................................................................................ 4

2.3 patofisiologi ................................................................................. 6

2.4 Anatomi Dan Fisiologi ................................................................ 7

2.5 Pencegahan .................................................................................. 12

2.6 Manifestasi Klinik………………………………………………. 13

2.7 Pemeriksaan Penunjang…………………………………………. 14

iii
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan................................................................................. 15

3.2 Saran ............................................................................................ 15

DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Abses adalah kumpulan pus yang terletak dalam satu kantung yang terbentuk

dalam jaringan yang disebabkan oleh suatu proses infeksi oleh bakteri, parasit atau benda

asing lainnya. Abses merupakan reaksi pertahanan yang bertujuan mencegah agen-agen

infeksi menyebar ke bagian tubuh lainnya. Pus itu sendiri merupakan suatu kumpulan sel-sel

jaringan lokal yang mati, sel-sel darah putih, organisme penyebab infeksi atau benda-benda

asing dan racun yang dihasilkan oleh organisme dan sel-sel darah.

Abses submandibula adalah suatu peradangan yang disertai pembentukan pus pada

daerah submandibula. Keadaan ini merupakan salah satu infeksi pada leher bagian dalam

(deep neck infection). Pada umumnya sumber infeksi pada ruang submandibula berasal dari

proses infeksi dari gigi, dasar mulut, faring, kelenjar limfe submandibula. Mungkin juga

kelanjutan infeksi dari ruang leher dalam lain. 1,2,3

1
Angka kejadian Abses submandibula berada di bawah abses peritonsil dan retrofaring.

Namun dewasa ini, angka kejadiannya menduduki urutan tertinggi dari seluruh abses leher

dalam. 70 – 85% dari kasus disebabkan oleh infeksi dari gigi, selebihnya karena sialadenitis,

limfadenitis, laserasi dinding mulut atau fraktur mandibula. Selain itu, angka kejadian juga

ditemukan lebih tinggi pada daerah dengan fasilitas kesehatan yang kurang lengkap. 1

Pada kasus infeksi leher dalam rentang usia dari umur 1-81 tahun, laki-laki sebanyak

78% dan perempuan 22% 3 7 . Infeksi peritonsil paling banyak ditemukan, yaitu 72 kasus,

diikuti oleh parafaring 8 kasus, submandibula, sublingual dan submaksila masing-masing 7

kasus dan retrofaring 1 kasus. kasus infeksi leher dalam sebanyak 185 kasus. Abses

submandibula (15,7%) merupakan kasus terbanyak ke dua setelah abses parafaring (38,4),

diikuti oleh Ludwig’s angina (12,4%), parotis (7%) dan retrofaring (5,9%). kasus abses leher

dalam yang diteliti April 2001 sampai Oktober 2006 mendapatkan perbandingan antara

lakilaki dan perempuan 3:2. Lokasi abses lebih dari satu ruang potensial 29%. Abses

submandibula 35%, parafaring 20%, mastikator 13%, peritonsil 9%, sublingual 7%, parotis

3%, infra hyoid 26%, retrofaring 13%, ruang karotis 11%. 6

2
Abses submandibula sudah semakin jarang dijumpai1,4 Hal ini disebabkan penggunaan

antibiotik yang luas dan kesehatan mulut yang meningkat. Disamping insisi drainase abses

yang optimal, pemberian antibiotik diperlukan untuk terapi yang adekuat. Walaupun

demikian, angka morbiditas dari komplikasi yang timbul akibat Abses Submandibula masih

cukup tinggi sehingga diagnosis dan penanganan yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan

1.2 TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pengertian,

penyebab, dan pencegahan Abses Mandibula.

1.3 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

Dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai manifestasi klinis, anatomi dan

pencegahan dari abses mandibula.

Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan

baik bagi masyarakat dan terutama bagi dokter gigi sendiri serta memberi khasanah ilmu

pengetahuan itu sendiri.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Abses Mandibula

Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat atau infeksi bakteri.

(www.,medicastore.com,2004)

Abses adalah kumpulan tertutup jaringan cair, yang dikenal sebagai nanah, di suatu

tempat di dalam tubuh. Ini adalah hasil dari reaksi pertahanan tubuh terhadap benda asing

(Mansjoer A, 2005)

Abses adalah tahap terakhir dari suatu infeksi jaringan yang diawali dengan proses

yang disebut peradangan (Bambang, 2005)

Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah.

(Siregar, 2004). Sedangkan abses mandibula adalah abses yang terjadi di mandibula. Abses

dapat terbentuk di ruang submandibula atau salah satu komponennya sebagai kelanjutan

infeksi dari daerah leher. (Smeltzer dan Bare, 2001)

4
2.2 Etiologi

Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui beberapa cara

antara lain:

1. Bakteri masuk kebawah kulit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang tidak

steril

2. Bakteri menyebar dari suatu infeksi dibagian tubuh yang lain

3. Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan

tidak menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.

Lebih lanjut Siregar (2004) menjelaskan peluang terbentuknya suatu abses akan

meningkat jika :

1. Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi

2. Darah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang

3. Terdapat gangguan sisitem kekebalan.

Menurut Hardjatmo Tjokro Negoro, PHD dan Hendra Utama, (2001), abses mandibula

sering disebabkan oleh infeksi didaerah rongga mulut atau gigi. Peradangan ini menyebabkan

adanya pembengkakan didaerah submandibula yang pada perabaan sangat keras biasanya

tidak teraba adanya fluktuasi. Sering mendorong lidah keatas dan kebelakang dapat

menyebabkan trismus. Hal ini sering menyebabkan sumbatan jalan napas.

5
Bila ada tanda-tanda sumbatan jalan napas maka jalan napas hasur segera dilakukan

trakceostomi yang dilanjutkan dengan insisi digaris tengah dan eksplorasi dilakukan secara

tumpul untuk mengeluarkan nanah. Bila tidak ada tanda- tanda sumbatan jalan napas dapat

segera dilakukan eksplorasi tidak ditemukan nanah, kelainan ini disebutkan Angina ludoviva

(Selulitis submandibula). Setelah dilakukan eksplorasi diberikan antibiotika dsis tinggi untuk

kuman aerob dan anaerob.

Abses bisa terbentuk diseluruh bagian tubuh, termasuk paru-paru, mulut, rektum, dan

otot. Abses yang sering ditemukan didalam kulit atau tepat dibawah kulit terutama jika timbul

diwajah.

2.3 Patofisiologi

Jika bakteri menusup kedalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeks. Sebgian sel

mati dan hancur, menigglakan rongga yang berisi jaringan dan se-sel yang terinfeksi. Sel-sel

darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalalm melawan infeksi, bergerak kedalam

rongga tersebut, dan setelah menelan bakteri.sel darah putih kakan mati, sel darah putih yang

mati inilah yang memebentuk nanah yang mengisis rongga tersebut.

6
Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan disekitarnya akan terdorong jaringan

pada akhirnya tumbuh di sekliling abses dan menjadi dinding pembatas. Abses hal ini

merupakan mekanisme tubuh mencefah penyebaran infeksi lebih lanjut jka suat abses pecah

di dalam tubuh maka infeksi bisa menyebar kedalam tubuh maupun dibawah permukaan

kulit, tergantung kepada lokasi abses.(www.medicastre.com.2004).

2.4 Anatomi dan fisiologi

A). Mulut (oris)

Proses pencernaan pertama kali terjadi di dalam rongga mulut. Rongga mulut dibatasi

oleh beberapa bagian, yaitu sebelah atas oleh tulang rahang dan langit-langit (palatum),

sebelah kiri dan kanan oleh otot-otot pipi, serta sebelah bawah oleh rahang bawah.

1) Rongga Mulut(Cavum Oris)

Rongga mulut merupakan awal dari saluran pencernaan makanan. Pada rongga mulut,

dilengkapi alat pencernaan dan kelenjar pencernaan untuk membantu pencernaan makanan,

yaitu:

Gigi(dentis)

Memiliki fungsi memotong, mengoyak dan menggiling makanan menjadi partikel yang kecil-

kecil. Gigi tertanam pada rahang dan diperkuat oleh gusi.

7
Bagian-bagian gigi adalah sebagai berikut:

Mahkota Gigi

Bagian ini dilapisi oleh email dan di dalamnya terdapat dentin (tulang gigi). Lapisan

email mengandung zat yang sangat keras, berwarna putih kekuningan, dan mengilap. Email

mengandung banyak garam kalsium.

Tulang Gigi

Tulang gigi terletak di bawah lapisan email. Tulang gigi meliputi dua bagian, yaitu
leher gigi dan akar gigi. Bagian tulang gigi yang dikelilingi gusi disebut leher gigi, sedangkan
tulang gigi yang tertanam dalam tulang rahang disebut akar gigi. Akar gigi melekat pada
dinding tulang rahang dengan perantara semen.

Rongga gigi

Rongga gigi berada di bagian dalam gigi. Di dalam rongga gigi terdapat pembuluh
darah, jaringan ikat, dan jaringan saraf.oleh karena itu, rongga gigi sangat peka terhadap
rangsangan panas dan dingin.

menurut bentuknya, gigi dibedakan menjadi empat macam, yaitu:

(a) Gigi seri (incisivus/I), berfungsi untuk memotong-motong makanan.

(b) Gigi taring (caninus/ C), berfungsi untuk merobek-robek makanan.

(c) Gigi geraham depan (Premolare/ P), berfungsi untuk menghaluskan makanan.

(d) Gigi geraham belakang (Molare/ M), berfungsi untuk menghaluskan makanan.

8
Pada manusia, ada dua generasi gigi sehingga dinamakan bersifat diphydont. Generasi

gigi tersebut adalah gigi susu dan gigi permanen. Gigi susu adalah gigi yang dimiliki oleh

anak berusia 1-6 tahun. Jumlahnya 20 buah. Sedangkan gigi permanen dimiliki oleh anak di

atas 6 tahun, jumlahnya 32 buah.

B) Lidah (lingua)

Lidah membentuk lantai dari rongga mulut. Bagian belakang otot-otot lidah melekat pada

tulang hyoid. Lidah tersiri dari 2 jenis otot, yaiyu:

(1) Otot ekstrinsik yang berorigo di luar lidah, insersi di lidah.

(2) Otot instrinsik yang berorigo dan insersi di dalam lidah.

Kerja otot lidah ini dapat digerakkan atas 3 bagian, yaitu: radiks lingua (pangkal

lidah), dorsum lingua (punggung lidah), apeks lingua (ujung lidah). Lidah berfungsi untuk

membantu mengunyah makanan yakni dalam hal membolak-balikkan makanan dalam rongga

mulut, membantu dalam menelan makanan, sebagai indera pengecap, dan membantu dalam

berbicara.

9
Sebagai indera pengecap,pada permukaan lidah terdapat badan sel saraf perasa (papila).

ada tiga bentuk papila, yaitu:

(1) Papila fungiformis, berbentuk seperti jamur, terletak di bagian sisi lidah dan ujung lidah.

(2) Papila filiformis, berbentuk benang-benang halus, terletak di 2/3 bagian depan lidah.

(3) Papila serkumvalata, berbentuk bundar, terletak menyusun seperti huruf V terbalik di bagian

belakang lidah.

Lidah memiliki 10.000 saraf perasa, tapi hanya dapat mendeteksi 4 sensasi rasa: manis, asam,

pahit, dan asin.

C) Kelenjar Ludah

Makanan dicerna secara mekanis dengan bantuan gigi, secara kimiawi dengan bantuan enzim

yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar ludah. Kelenjar ludah mengandung menghasilkan

saliva. Saliva mengandung enzim ptyalin atu amylase yang berfungsi mengubah zat tepung

atau amilum menjadi zat gula atau maltosa.

10
Kelenjar ludah terdiri atas tiga pasang sebagai berikut:

(1) Kelenjar parotis, terletak di bawah telinga. Kelenjar ini menghasilkan saliva berbentuk cair
yang disebut serosa. Kelenjar paotis merupakan kelenjar terbesar bermuara di pipi sebelah
dalam berhadapan dengan geraham kedua.

(2) Kelenjar submandibularis / submaksilaris, terletak di bawah rahang bawah.

(3) Kelenjar sublingualis, terletak di bawah lidah.


Kelenjar submandibularis dan sublingualis menghasilkan air dan lender yang disebut
Iseromucus. Kedua kelenjar tersebut bermuara di tepi lidah.

2.5 Pencegahan
Menurut FKUI (1990), antibiotika dosis tinggi terhadap kuman aerob dan anaerob harus
diberikan secara parentral. Evaluasi abses dapat dilakukan dalam anasksi lokalal untuk abses
yang dangkal dan teriokalisasi atau eksplorasi dalam narkosis bila letak abses dalam dan luas.
Insisi dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau setinggi 05 tiroid, tergantung letak
dan luas abses. Pasien dirawat inap sampai 1-2 hari gejala dan tanda infeksi reda.

Suatu abses seringkali membaik tanpa pengobatan, abses akan pecah dengna sendirinya
dan mengeluarkan isinya.kadang abses menghilang secara perlahan karena tubuh
menghancurkan. infeksi yang terjadi dan menyerap sisa-sisa infeksi, abses pecah dan bisa
meninggalkan benjolan yang keras.

11
Untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan, suatu abses bisa ditusuk
dan dikeluarkan isinya. Suatu abses tidak memiliki aliran darah, sehingga pemberian
antibiotik biasanya sia-sia Antibiotik biasanya diberikan setelah abses mengering dan hal ini
dilakukan untuk mencegah kekambuhan. Antibiotik juga diberikan jika abses menyebarkan
infeksi kebagian tubuh lainnya.

2.6 Manifestasi Klinik


Menurut Smeltzer dan Bare (2001), gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan
pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa berupa :

1. Nyeri

2. Nyeri tekan

3. Teraba hangat

4. Pembengakakan

5. Kemerahan

6. Demam

12
Suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagi benjolan.

Adapun lokasi abses antar lain ketiak, telinga, dan tungkai bawah. Jika abses akan pecah,

maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis. Suatu abses di

dalam tubuh, sebelum menimbulkan gejala seringkali terlebih tumbuh lebih besar. Abses

dalam lebih mungkin menyebarkan infeksi keseluruh tubuh.

Adapun tanda dan gejala abses mandibula adalah nyeri leher disertai pembengkakan di

bawah mandibula dan di bawah lidah, mungkin berfluktuasi.

2.7 Pemeriksaan Penunjang

Menurut Siregar (2004), abses dikulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali.

Sedangkan abses dalam sering kali sulit ditemukan. Pada penderita abses, biasanya

pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. Untuk menetukan

ukuran dan lokasi abses dalam bisa dilkukan pemeriksaan rontgen,USG, CT, Scan, atau MR.

13
Bab III

Kesimpulan dan Saran

3.1 Kesimpulan

Gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan pengaruhnya terhadap fungsi suatu

organ saraf. Gejalanya dapat berupa nyeri, nyeri tekan, teraba hangat, pembengkakan,

kemerahan, demam.

Untuk menentukan ukuran dan lokasi Abses biasa dilakukan pemeriksaan

rontgen,USG, CT, Scan, atau MR.

3.2 Saran

1. Sebagai dokter gigi hendaknya mengetahui pengertian abses dan pencegahan dari abses.

2. Mengetahui manifestasi klinik dari abses mandibula.

14
DAFTAR PUSTAKA

Harrison. Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Editor dalam bahasa Inggris : kurt J. Lessebacher. Et. Al
: editor bahasa Indnesia Ahmad H. Asdie. Edisi 13. jakarta : EGC. 1999.

NANDA, 2005

NIC, 2005

NOC2005
Siregar, R,S. Atlas Berwarna Saripati Kulit. Editor Huriawati Hartanta. Edisi 2. Jakarta:EGC,2004.

Suzanne, C, Smeltzer, Brenda G Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal-BedahBruner and Suddarth.
Ali Bahasa Agung Waluyo. ( et,al) Editor bahasa Indonesia :Monica Ester. Edisi 8 jakarta :
EGC,2001.