Anda di halaman 1dari 33

UPT LPKD

PROVINSI JAWA TIMUR


TAHUN 2014

PENTINGNYA
ANALISIS STANDAR BELANJA

0 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


SEKAPUR SIRIH

Puji syukur tak henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan
karunia-Nya Tulisan “Pentingnya ASB” ini dapat diselesaikan dengan baik.
Pembuatan Tulisan ini patut diapresiasi karena merupakan salah satu upaya
Laboratorium Pengelolaan Keuangan Daerah (LPKD) Provinsi Jawa Timur untuk
memberikan sumbangsih dalam pengambilan kebijakan Provinsi Jawa Timur dalam
Bidang Keuangan Daerah.

Seperti diketahui, ASB merupakan salah satu instrumen anggaran berbasis kinerja
yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada Tahun 2016,
penyiapan infrastruktur Anggaran Berbasis Kinerja oleh Pemerintah Provinsi Jawa
Timur terus dikebut seperti SKP, Uraian Jabatan, Analisis Beban Kerja serta
penyesuaian absensi menggunakan finger print. ASB atau Analisis Standar Belanja
adalah salah satu instrumen anggaran kinerja untuk menilai kewajaran besaran
anggaran suatu kegiatan dengan beban kerjanya. Sampai dengan saat ini Pemerintah
Provinsi Jawa Timur masih belum menyusun ASB.

Berangkat dari kondisi di atas maka tulisan ini dibuat. Tulisan ini berisi point point penting
adanya ASB, Permasalahan jika tidak ada ASB, Manfaat menggunakan ASB, serta
langkah-langkah yang harus dipersiapkan untuk menyusun ASB.

Tentunya kami selaku Kepala UPT mengucapkan terima kasih atas partisipasi seluruh
Pimpinan dan Karyawan yang telah bersusah payah dalam penyusunan Tulisan ini
dan mudah-mudahan menjadi suatu awal yang baik bagi generasi yang akan
datang.

Akhirnya tak ada gading yang tak retak, kami atas seluruh Keluarga Besar UPT LPKD
Provinsi Jawa Timur mengucapkan terima kasih dan mohon maaf atas segala
kekurangan, kami terbuka untuk menerima kritik dan saran serta masukan yang
konstruktif.

Surabaya, 29 Desember 2014

Kepala UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

1 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


DAFTAR ISI

SEKAPUR SIRIH 1
DAFTAR ISI 2
BAB I PENDAHULUAN 3
1.1 Latar Belakang 3
1.2 Permasalahan 5
1.3 Tujuan 6
BAB II LANDASAN TEORI DAN HUKUM ASB 7
2.1 Anggaran Berbasis Kinerja 7
2.2 Pengertian ASB 8
2.3 Landasan Hukum 8
BAB III KONDISI KEUANGAN PROVINSI JAWA TIMUR 12
3.1 Umum 12
3.2 Kondisi Saat Ini 14
3.2.1 Pendapatan Daerah 14
3.2.2 Belanja Daerah 16
3.2.3 Pembiayaan Daerah 18
BAB IV PENTINGYA ASB 19
4.1 Pentingnya ASB 19
4.2 Posisi ASB Pada Pengelolaan Keuangan Daerah 20
4.3 Tahapan Penyusunan ASB 20
4.4 Prinsip Penyusunan ASB 21
4.4 Penerapan ASB 21
4.5 Manfaat ASB 22
BAB V REKOMENDASI 23
5 Rekomendasi 23
Lampiran 25
Daftar Pustaka 28

2 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Dukungan teknologi informasi dalam peningkatan dan pengawasan dalam


sebuah program dan kegiatan pemerintah merupakan sebuah kebutuhan yang
sangat penting untuk meningkatkan suatu kualitas dari program dan kegiatan yang
dilakukan oleh pemerintah daerah. Anggaran pemerintah daerah sebagai suatu hal
yang perlu untuk mendapatkan pengawasan dalam rangka peningkatan mutu
penyusunan dan efektifitas anggaran daerah. Salah satu konsep yang dikenalkan
terkait dengan pengawasan anggaran pemerintah daerah yaitu Standar Analisis
Belanja (SAB) yang mulai dikenalkan kepada Pemerintah Daerah dalam Peraturan
Pemerintah No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban
Keuangan Daerah. Dalam PP tersebut isitilah yang digunakan masih Standar
Analisa Belanja atau SAB yang mempunyai makna penilaian kewajaran atas
beban kerja dan biaya terhadap suatu kegiatan. Kemudian Departemen Dalam
Negeri pada saat itu mengeluarkan Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 tentang
Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban Dan Pengawasan Keuangan Daerah
Serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah,
Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah Dan Penyusunan Perhitungan Anggaran
Pendapatan Dan Belanja Daerah.
Tahun 2004 diterbtikanlah Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah yang merupakan pengganti dari Undang-Undang No. 22
Tahun 1999. Dalam UU No. 32 tersebut dikenalkan istilah baru yaitu Analisis
Standar Belanja (ASB) yang mempunyai maksud dan istilah yang sama dengan
Standar Analisa Belanja (SAB) yaitu penilaian kewajaran atas beban kerja dan
biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan. Selanjutnya, terbitlah
PP No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, dan kemudian
dijabarkan lagi dalam Permendagri No. 13 tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah. Namun dengan banyaknya regulasi tersebut belum
ada yang menunjukkan secara riil dan operasional tentang ASB. Akibatnya, ASB

3 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


menjadi sesutau hal yang membingungkan di mata Pemerintah Daerah di Seluruh
Indonesia.
Pada saat ini, dimana tuntutan masyarakat semakin besar terhadap
penyelenggaraan pemerintahan, khususnya terkait pertangungjawaban pemerintah
kepada masyarakat. Dengan kata lain, kinerja instansi pemerintah saat ini lebih
banyak mendapatkan sorotan daripada era pemerintahan pada masa orde baru.
Selain kinerja yang menjadi sorotan masyarakat, komponen lain dalam hal good
governance seperti pelayanan publik juga mulai dipertanyakan oleh masyarakat, hal
tersebut dilatar belakangi kebutuhan masyarakat yang semakin beragam,
permasalahan yang semakin kompleks, semakin kritisnya masyrakat ditambah
dengan arus informasi yang mengalir deras kepada masyarakat.
Salah satu bentuk pertangungjawaban pemerintah kepada masyrakat yaitu
dalam bentuk pertangungjawaban keuangan, biasa kita kenal dengan laporan
keuangan. Selain itu juga banyak bentuk pertangungjawaban pemerintah daerah
seperti diantaranya LAKIP, LPPD, dan ILPPD. Semakin banyak pertangungjawaban
tentu juga diimbangi dengan banyaknya lembaga yang bertugas sebagai control
pelaksanaan pertangungjawaban pemerintah akan kinerjanya, seperti BPK, BPKP,
PPTK, KPK, ICW dan masih banyak lagi.
Kinerja sering digunakan untuk menyebut prestasi atau tingkat keberhasilan
individu maupun kelompok, namun kinerja dalam pemerintahan tentunya memiliki
arti tersendiri yaitu sebagai gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan
suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi
organisasi yang tertuang dalam perencanaan strategis suatu organisasi. Kinerja
menjadi lebih jelas dalam menilainya ketika individu atau kelompok tersebut
mempunyai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya. Beberapa
kriteria dimaksud yaitu tujuan-tujuan atau target-target tertentu yang hendak
dicapai. Kinerja Pemerintah dapat diukur melalui evaluasi terhadap pelaksanaan
APBN/APBD.
Penetapan indikator kinerja pada saat penganggaran merupakan tahapan
awal dari manajemen kinerja, dan merupakan tahapan yang paling penting, karena
indikator kinerja pada anggaran merupakan kontrak dan komitmen tentang hasil
yang akan dicapai pada satu tahun ke depan. Kesalahan penentuan indikator kinerja

4 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


pada saat penganggaran akan menyebabkan kesalahan pada saat pengukuran dan
evaluasi.
Pentingnya kinerja tentunya harus terpatri di dalam diri seluruh stakeholder
pemerintah, baik pusat dan daerah. Dalam hal pengelolaan keuangan pendekatan
prestai kerja juga penting agar dapat terlaksana secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan, efisien, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan
memperhatikan asas keadilan dan kepatutan. Dalam sistem anggaran berbasis
prestasi kerja, setiap usulan program dan kegiatan serta anggarannya perlu dinilai
kewajarannya. Dalam kaitan itu, perlu ditetapkan Analisis Standar Belanja (ASB)
sebagai pedoman yang digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja atau
biaya setiap program dan kegiatan yang dilaksanakan dalam satu tahun anggaran.
Sesuai PP 58 Tahun 2005 pasal 39 ayat 2 “Penyusunan anggaran berdasarkan
prestasi kerja dilakukan berdasarkan capaian kinerja, indikator kinerja, analisis
standar belanja (ASB), standar satuan harga dan standar pelayanan minimal”.

1.2 PERMASALAHAN

Permasalahan yang timbul dengan tidak adanya penerapan ASB, yaitu :


a. Plafon anggaran kegiatan pada PPAS ditetapkan menggunakan “intuisi”
(Penetapan anggaran akan menggunakan insting atau felling dari para perencana
anggaran di masing-masing SKPD dengan hanya melihat anggaran tahun
sebelumnya dengan ditambahkan perkiraan biaya untuk tahun berjalan);
b. Sulit menilai kewajaran beban kerja dan biaya suatu kegiatan
(Sulit menilai kewajaran sebuah kegiatan karena tidak ada kepastian atau pagu
dari sebuah kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah, karena masing-
masing SKPD ketika mengadakan kegiatan dengan jumlah peserta yang sama
pasti berbeda beda karena tidak ada standar pagu anggaran dari sebuah
kegiatan);
c. Penyusunan dan penentuan anggaran menjadi subjektif
(Menjadi subjektif dikarenakan tergantung dari SKPD mana yang mengusulkan
atau karena kedekatan dengan perencana anggaran, sehingga bisa bersifat suka-
suka);

5 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


d. Dua atau lebih kegiatan yang sama mendapat alokasi yang berbeda;
(Beberapa SKPD yang berbeda mengadakan kegiatan dengan jumlah peserta
yang sama namun terjadi perbedaan anggaran biaya dikarenaka
e. Tidak memiliki argumen yang kuat jika “dituduh” melakukan pemborosan
(sulit menjawab atau tidak memiliki alasan yang kuat ketika pemeriksaan oleh
BPK dan Inspektorat karena tidak ada standar pagu untuk sebuah kegiatan)

1.3 TUJUAN

Tuntutan pelaksanaan anggaran (penerimaan dan pengeluaran) daerah yang


sesuai dengan kewajaran ekonomi, efisien, dan efektif, semakin besar, hal
tersebut berdampak pada penyusunan Anggaran Daerah yang didasarkan kinerja
yang akan dicapai oleh Daerah tersebut. Dengan menggunakan Anggaran Kinerja
dimaksud, maka Anggaran Daerah akan lebih transparan, adil, dan dapat
dipertanggungjawabkan. Dan dari beberapa instrumen yang ada salah satunya
yaitu instrumen untuk menyusun Anggaran Daerah dengan pendekatan kinerja
adalah ASB.

Tujuan penyusunan pentingnya ASB adalah untuk menghilangkan kesenjangan


antara praktek yang berlangsung selama ini sebelum penerapan Anggaran
Berbasis Kinerja dengan dengan kondisi ideal yang akan diterapkan pada tahun
2016 saat penerapan Anggaran Berbasis Kinerja di Provinsi Jawa Timur.

6 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


BAB II
LANDASAN TEORI DAN HUKUM ASB

2.1 ANGGARAN BEBASIS KINERJA

Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu


kegiatan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang
dalam strategic planning suatu organisasi. Sedangkan Pengukuran Kinerja adalah
suatu proses penilaian kemajuan pekerjaan terhadap tujuan dan sasaran yang telah
ditentukan sebelumnya, termasuk informasi atas: efisiensi penggunaan sumber daya
dalam menghasilkan barang dan jasa; kualitas barang dan jasa; hasil kegiatan
dibandingkan dengan maksud yang diinginkan; dan efektivitas tindakan dalam
mencapai tujuan. Pengukuran kinerja digunakan untuk menilai prestasi manajaer
dan unit organisasi yang dipimpinnya.
Pengukuran kinerja sangat penting untuk menilai akuntabilitas organisasi dan
manajer dalam pelayanan publik yang lebih baik. Akuntabilitas disini bukan sekedar
kemampuan menunjukkan uang publik dibelanjakan, akan tetapi juga meliputi
kemampuan menunjukan bahwa uang publik tersebut telah dibelanjakan secara
ekonomies, efisien, dan efektif.
Penganggaran berbasis kinerja (performance-based budgeting) merupakan
suatu pendekatan sistematis dalam penyusunan anggaran yang mengaitkan
pengeluaran yang dilakukan organisasi sektor publik dengan kinerja yang
dihasilkannya dengan menggunakan informasi kinerja. Performance budgeting
mengalokasikan sumber daya pada program, bukan unit organisasi semata, dan
memakai output measurement sebagai indikator kinerja organisasi. Atau dapat
diartikan sebagao sebuah sistem anggaran yang mengutamakan hasil kerja dan
output dari setiap program dan kegiatan yang direncanakan. Setiap dana yang
dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah untuk melaksanakan program dan kegiatan
harus didasarkan atas hasil dan output yang jelas dan terukur. Ini merupakan
pembeda utama antara anggaran kinerja dengan anggaran tradisional yang pernah
diterapkan sebelumnya yang lebih mempertanggungjawabkan input yang
direncanakan dengan input yang dialokasikan.

7 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


Ruang lingkup Anggaran Berbasis Kinerja diperuntukkan untuk, 1)
Menentukan Visi dan Misi (strategi organisasi), tujuan, sasaran dan target yang
hendak dicapai. 2) Menentukan Indikator Kinerja terdiri dari Input (dana, sumber
daya manusia, sarana dan prasarana, data dan informasi lainnya yang diperlukan),
Ouput, outcome, Benefit dan Impact. 3) Bahan Evaluasi dan pengambilan keputusan
terhadap pemilihan dan proritas program, dan 4) ASB.
Analisis Standar Belanja (ASB) merupakan salah satu komponen yang
harus dikembangkan sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan dalam
penyusunan APBD dengan pendekatan kinerja. ASB adalah standar yang
digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja atau biaya setiap program
atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu Satuan Kerja dalam satu tahun
anggaran

2.2 PENGERTIAN ASB

Analisis Standar Belanja (ASB) merupakan penilaian kewajaran atas beban


kerja dan biaya yang digunkan untuk melaksanakan suatu kegiatan. Selain itu, ASB
mendorong penetapan biaya dan pengalokasian anggaran kepada setiap aktivitas
unit kerja menjadi lebih logis dan mendorong dicapainya efisiensi secara terus-
menerus karena adanya perbandingan (benchmarking) biaya per unit setiap output
dan diperoleh praktek-praktek terbaik (best practices) dalam desain aktivitas (Pohan,
2007). Dengan kata lain, Analisis Standar Belanja (ASB) merupakan salah satu
komponen yang harus dikembangkan sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan
dalam penyusunan APBD dengan pendekatan kinerja (lihat Ritonga, 2010). Dalam
formulasi yang lebih pendek, Mardiasmo (2002) menjelaskan, SAB adalah penilaian
kewajaran atas beban kerja dan biaya terhadap suatu kegiatan.

2.3 LANDASAN HUKUM

a. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 167


ayat 3 “Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mempertimbangkan analisis standar belanja, standar harga, tolok ukur
kinerja; dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan”.

8 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


b. Penjelasan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah,
Pasal 167 ayat 3:
- Yang dimaksud dengan Analisa Standar Belanja (ASB) adalah penilaian
kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk
melaksanakan suatu kegiatan.
c. Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 Tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Pasal 20 ayat 2 “Untuk mengukur
kinerja keuangan Pemerintah Daerah, dikembangkan standar analisa belanja,
tolok ukur kinerja dan standar biaya”.
d. Penjelasan Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 Tentang
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Pasal 20 ayat 2:
- Yang dimaksud dengan standar analisa belanja adalah penilaian
kewajaran atas beban kerja dan biaya terhadap suatu kegiatan.
e. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah Pasal 39 ayat 2, “Penyusunan anggaran berdasarkan prestasi kerja
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan capaian kinerja,
indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan standar
pelayanan minimal”.
f. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah Pasal 41 ayat 3, “Pembahasan oleh tim anggaran pemerintah daerah
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan untuk menelaah kesesuaian
antara RKA-SKPD dengan kebijakan umum APBD, prioritas dan plafon
anggaran sementara, prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran
sebelumnya, dan dokumen perencanaan lainnya, serta capaian kinerja,
indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan standar
pelayanan minimal”.
f. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 89 ayat 2 : “Rancangan surat edaran
kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mencakup :
- dokumen sebagai lampiran meliputi KUA, PPA, kode rekening APBD, format
RKA-SKPD, analisis standar belanja dan standar satuan harga”.

9 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


g. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 93 :
(1) Penyusunan RKA-SKPD berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 90 ayat (2) berdasarkan pada indikator kinerja, capaian
atau target kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan
standar pelayanan minimal.
(2) Analisis standar belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang
digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan.
h. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 100 ayat 2 “Pembahasan oleh TAPD
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menelaah
kesesuaian antara RKA-SKPD dengan KUA, PPA (Prioritas dan Plafon
Anggaran), prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran
sebelumnya, dan dokumen perencanaan lainnya, serta capaian kinerja,
indikator kinerja, kelompok sasaran kegiatan, standar analisis belanja ,
standar satuan harga, standar pelayanan minimal, serta sinkronisasi
program dan kegiatan antar SKPD”.
i. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 89 ayat 2 : “Rancangan surat edaran kepala
daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) mencakup :
- dokumen sebagai lampiran surat edaran meliputi KUA, PPAS, analisis standar
belanja dan standar satuan harga.
j. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 100 ayat 2 : “Pembahasan oleh TAPD
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menelaah:
- kesesuaian rencana anggaran dengan standar analisis belanja, standar
satuan harga;
k. Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 32 Tahun 2008 Tentang

10 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun
Anggaran 2009, (Romawi III) Teknis Penyusunan APBD No. 4 : ”Substansi
Surat Edaran Kepala Daerah tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD kepada
seluruh SKPD dan Rencana Kerja dan Anggaran Pejabat Pengelola Keuangan
daerah (RKA-PPKD) kepada Satuan kerja pengelola keuangan daerah
(SKPKD)lebih disederhanakan, hanya memuat prioritas pembangunan daerah dan
program/kegiatan yang terkait, alokasi plafon anggaran sementara untuk setiap
program/kegiatan SKPD, batas waktu penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD dan
dokumen sebagai lampiran Surat Edaran dimaksud meliputi KUA, PPAS, Analisis
Standar Belanja, dan Standar Satuan Harga.

11 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


BAB III
KONDISI KEUANGAN PROVINSI JAWA TIMUR

3.1 UMUM

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan suatu


gambaran atau tolok ukur pentingnya keberhasilan suatu pemerintahan daerah
dalam meningkatkan potensi perekonomian daerah. Pertumbuhan ekonomi
daerah akan berdampak positif terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah
(PAD), khususnya penerimaan pajak daerah.
APBD merupakan rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang
disetujui oleh DPRD dan ditetapkan dengan peraturan daerah (UU No.17 tahun
2003). APBD memiliki fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi,
distribusi dan stabilisasi. Fungsi otorisasi mengandung arti bahwa Perda tentang
APBD menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang
bersangkutan. Fungsi perencanaan berarti bahwa APBD menjadi pedoman bagi
manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
Sedangkan fungsi pengawasan terlihat dari digunakannya APBD sebagai
standar dalam penilaian penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Kebijakan desentralisasi fiskal yang ditetapkan dalam Undang-Undang
Republik Indonesia No.25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat Daerah bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas
pengelolaan sumber daya keuangan daerah dalam rangka peningkatan
kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat. Oleh sebab itu, proses
pengelolaan keuangan Pemerintah Daerah dalam pelaksanaannya mengacu kepada
prinsip transparansi dan akuntabilitas.
Perkembangan APBD Provinsi Jawa Timur dari Tahun 2009 s/d 2014, yaitu :

Sumber Data : BPKAD Provinsi Jawa Timur (dalam Trilliun Rupiah)

Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Timur mengalami peningkatan yang


signifikan mulai tahun 2009 sampai dengan 2012, kemudian mengalami penurunan
karena depresiasi fiskal di tahun 2013 dan 2014. Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur
selalu di atas rata-rata pertumbuhan nasional. Data terkahir menunjukkan pada
triwulan III 2014 pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Timur mencapai 6,02% lebih
tinggi dari Pertumbuhan ekonomi Nasioanl yang hanya 5,11%.

12 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


Anggaran Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tahun
anggaran 2014 mencapai Rp 18,99 triliun atau meningkat 15,81% dibandingkan
anggaran tahun 2013. Sebagaimana pola-pola anggaran di daerah, struktur
pendapatan daerah di Jawa Timur didominasi oleh Pendapatan Asli Daerah (PAD)
yang bersumber dari penerimaan pajak daerah seperti Pajak Kendaraan Bermotor,
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Air Bawah Tanah, Pajak Air
Permukaan, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor serta penerimaaan asli daerah
lainnya yang sah.
Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jawa Timur, yaitu :

Sumber Data : BPS Jawa Timur

13 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


3.2 KONDISI SAAT INI

Pemerintah Provinsi Jawa Timur merupakan Provinsi dengan kondisi


keuangan yang begitu besar, APBD Provinsi Jawa Timur yang dikelola oleh PPKD
(Badan Pengelola Keuangan dan Asset Daerah) pada tahun 2014 mencapai 18,993
Triliun. Untuk Kebijakan pengelolaan keuangan daerah, secara garis besar tercermin
pada kebijakan pendapatan, pembelanjaan serta pembiayaan APBD. Pengelolaan
Keuangan daerah yang baik menghasilkan keseimbangan antara optimalisasi
pendapatan daerah, efisiensi dan efektivitas belanja daerah serta ketepatan dalam
memanfaatkan potensi pembiayaan daerah.
Berdasarkan ketentuan Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah mencantumkan bahwa sumber penerimaan daerah Provinsi
terdiri atas: (1) Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terdiri dari kelompok Pajak
Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah yang dipisahkan dan Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah;
(2) Dana Perimbangan yang meliputi Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak
yang terdiri dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak Atas Tanah
dan Bangunan, Pajak Penghasilan (PPh) Perorangan, Sumber Daya Alam (SDA);
Dana Alokasi Umum; dan Dana Alokasi Khusus; dan (3) Kelompok-lain-lain
pendapatan daerah yang sah meliputi Pendapatan Hibah, Dana Darurat, Dana Bagi
Hasil Pajak dari Pemerintah Kab/Kota, Dana Penyesuaian dan Dana Otonomi Khusus,
dan Dana Bantuan Keuangan. Sedangkan peneriman pembiayaan bersumber dari
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Daerah Tahun Sebelumnya (SiLPA), Penerimaan
Pinjaman Daerah, Dana Cadangan Daerah (DCD), dan Hasil Penjualan Kekayaan
Daerah yang dipisahkan.

3.2.1 Pendapatan Daerah

Pengelolaan pendapatan daerah diarahkan pada peningkatan penerimaan


daerah melalui: (1) Optimalisasi pendapatan daerah sesuai peraturan yang berlaku
dan kondisi daerah; (2) Peningkatan kemampuan dan keterampilan SDM Pengelola
Pendapatan Daerah; (3) Peningkatan intensitas hubungan perimbangan keuangan
pusat dan daerah secara adil dan proporsional berdasarkan potensi dan pemerataan;
dan (4) Peningkatan kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajibannya. Untuk
14 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur
itu, digariskan sejumlah kebijakan yang terkait dengan pengelolaan pendapatan
daerah sebagai berikut.
a. Mengembangkan manajemen pendapatan daerah dengan prinsip prefosionalitas,
efisiensi, transparan, dan bertanggungjawab.
b. Meningkatkan kualitas pelayanan dengan mengembangkan konsep pelayanan
yang berbasis Teknologi Informasi (TI) melalui menyederhanakan sistem dan
prosedure pelayanan serta memberikan lebih banyak alternative pilihan model
layanan kepada masyarakat.
c. Mengembangkan Teknologi Informasi di lingkungan Kantor Bersama Samsat
antara lain SMS Info Samsat, SMS JT, dan SMS Komplain serta layanan inovatif
(E-Samsat) yaitu layanan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) melalui
internet banking.
d. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan struktural dan fungsional, pelatihan
etika pelayanan, pelatihan peningkatan pemahaman peraturan perundang-
undangan yang berkaitan dengan pemungutan pendapatan asli daerah.
e. Mengoptimalkan peran dan kontribusi serta mengelola Badan Usaha Milik
Daerah (BUMD) agar dapat berperan aktif baik dalam menjalankan fungsi dan
tugasnya maupun sebagai kekuatan perekonomian daerah.
f. Mengoptimalkan penerimaan Dana Alokasi Umum (DAU) melalui dukungan
analisa data baik melalui Asumsi Dasar (AD) maupun Celah Fiskal (CF).
g. Mengoptimalkan penerimaan Dana Alokasi Khusus (DAK) melalui dukungan
analisa data yang diperlukan Pemerintah baik instrument umum Indeks Fiskal
Netto (IFN) maupun instrument khusus berupa karateristik wilayah.
h. Mengoptimalkan penerimaan Dana Bagi Hasil (DBH) baik pajak maupun bukan
pajak untuk mencapai keseimbangan fiscal secara vertikal yang proporsional.
i. Meningkatkan hubungan/kerjasama antar instansi di lingkungan Pemerintah
Provinsi Jawa Timur dan dengan Pemerintah/BUMN dalam rangka peningkatan
penerimaan Dana Bagi Hasil (DBH).
j. Mengembangkan fasilitas kerjasama dengan kabupaten/kota di bidang pajak dan
retribusi daerah serta lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.

15 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


3.2.2 Belanja Daerah

Belanja daerah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Dalam


Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa belanja daerah dipergunakan dalam rangka
mendanai pelaksanaan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan provinsi atau
kabupeten/kota yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan yang
penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan
bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah
yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Belanja daerah
dikelompokkan ke dalam belanja tidak langsung dan belanja langsung. Belanja tidak
langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan
pelaksanaan program dan kegiatan. Sementara belanja langsung merupakan belanja
yang dianggarkan yang terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan
kegiatan. Dalam rangka mengatur penggunaan anggaran belanja daerah agar tetap
terarah, efisien dan efektif, maka kebijakan belanja daerah selama tahun anggaran
2009-2014 sebagai berikut:
a. Pemanfaatan belanja sesuai dengan anggaran berbasis kinerja (performance
based) untuk mendukung capaian target kinerja utama sebagaimana ditetapkan
dalam RPJMD Provinsi Jawa Timur Tahun 2009-2014;
b. Pemanfaatan belanja menganut prinsip akuntabilitas, efektif dan efisien dalam
rangka mendukung penerapan anggaran berbasis kinerja;
c. Pemanfaatan belanja yang bersifat reguler/rutin diutamakan untuk memenuhi
belanja yang bersifat mengikat antara lain pembayaran gaji PNS, belanja bagi
hasil kepada kabupaten/kota, dan belanja operasional kantor dengan prinsip
mengedepankan prinsip efisien dan efektif;
d. Pemanfaatan belanja program khusus dan penanganan isus-isu strategis yang
difokuskan pada fungsi-fungsi pelayanan dasar, stimulasi ekonomi, pelayanan
publik dan dukungan penyelenggaraan pemerintahan lainya dalam rangka
mendukung capaian target kinerja untama sebagaimana yang ditetapkan dalam
RPJMD Provinsi Jawa Timur Tahun 2009-2014;
e. Mengoptimalkan pemanfaatan belanja untuk penyelenggaraan urusan
kewenangan Pemerintah Provinsi dan fasilitas bantuan keuangan, belanja

16 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


bantuan hibah maupun belanja bantuan sosial untuk urusan non kewengan
Pemerintah Provinsi;
f. Memenuhi ketentuan kebijakan pendampingan terhadap program-program
Pemerintah Pusat sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku;
g. Mengakomodasi aspirasi masyarakat melalui belanja tidak langsung sesuai
dengan kemampuan keuangan daerah untuk mendukung stimulasi capaian
target kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan;
h. Mengoptimalkan pemanfaatan belanja yang bersumber dari sumber-sumber
pendapatan khusus (DAK, Cukai Hasil Tembakan dan BLUD) untuk menstimulasi
capaian target kinerja utama Pemerintah Provinsi Jawa Timur sesuai dengan
ketentuan perundangan yang berlaku.
Dari kedelapan kebijakan Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur sebagain besar
diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat Jawa Timur sesuai Visi dan Misi Provinsi
Jawa Timur yaitu “Makmur Bersama Wong Cilik”, berikut merupakan strategi belanja
Provinsi Jawa Timur :

17 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


3.2.3 Pembiayaan Daerah

Kebijakan pembiayaan daerah selama tahun anggaran 2009-2014 adalah


sebagi berikut :
a. Kebijakan umum penerimaan pembiayaan diarahkan pada perhitungan perkiraan
sisa lebih (SiLPA) baik berupa pelampauan pendapatan atas dasar peningkatan
kinerja maupun sisa belanja atas asumsi terjadinya efisiensi belanja;
b. Kebijakan umum pengeluaran pembiayaan diarahkan pada optimalisasi
pemanfaatan pengeluaran pembiayaan dalam rangka tambahan modal BUMD;
c. Defisit APBD direncanakan akan diatasi melalui selisih antara proyeksi
penerimaan pembiayaan dengan rencana pengeluaran pembiayaan.

18 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


BAB IV
PENTINGNYA ASB

4.1 PENTINGNYA ASB

Akuntabilitas merupakan salah satu dari delapan agenda reformasi birokrasi


yang telah dicanangkan sejak tahun 2010 melalui Peraturan Presiden Nomor 81
Tahun 2010 tentang Grand Design Reformsi Birokrasi 2010 – 2025, dengan tujuan
utama yaitu mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik. Terkait dengan
akuntabilitas khususnya akuntabilitas pengelolaan anggaran, dimana terdapat 2 fase
krusial yang menentukan derajat akuntabilitas, yakni fase perencanaan dan fase
pelaksanaan.
Ketika fase perencanaan dimana perencanaan program/kegiatan disusun
berdasarkan kebutuhan para masyarakat dan pemangku kepentingan, kemudian
didentifikasi program apa, bagaimana, untuk apa, seberapa banyak kapan dan
dimana. ASB mengambil peran penting pada perencanaan yaitu ketika disusun
Rencana Kerja dan Anggaran yang memuat nama program, nama kegiatan,
indikator, tolok ukur kinerja, target kinerja, besaran anggaran yang diperlukan
berikut rincian belanja dan kode rekening. Agar estimasi anggaran wajar sesuai
kebutuhan maka diperlukan analisis standar belanja. Analisis standar belanja
setidaknya memuat proses/subproses kegiatan, kebutuhan belanja pada setiap
proses/subprosesnya lalu batasan maksimal belanja di setiap proses/subprosesnya.
Sebetulnya Analisis Standar Belanja sudah lama dikenalkan yaitu pada
Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 yang pada saat itu namanya baru SAB
(Standar Analisa Belanja), namun setelah munculnya UU No. 32 Tahun 2004 istilah
Standar Analisa Belanja (SAB) diganti dengan Analisis Standar Belanja (ASB),
sebagaimana dijelaskan dalam Undang-undang No. 32 Tahun 2004 pasal 167 ayat 3,
bahwa ASB adalah penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan
untuk melaksanakan suatu kegiatan. ASB merupakan salah satu instrumen pokok
dalam penganggaran berbasis kinerja. Dengan demikian, setiap Pemerintah Daerah
wajib menyusun ASB untuk mewujudkan penganggaran berbasis kinerja serta
pengelolaan keuangan daerah yang ekonomis, efisien dan efektif.

19 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


4.2 POSISI ASB PADA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Dalam pengelolaan keuangan daerah posisi Analisis Standar Belanja yaitu :


1. Tahap Perencanaan (Pada saat perencanaan yaitu musrenbang, Renja, KUA-
PPAS dimana fungsi ASB yaitu untuk menentukan pagu indikatif dari kegiatan-
kegiatan yang diusulkan masyarakat);
2. Tahap Penganggaran (Pada saat penyusunan RKA, sehingga memudahkan
TAPD untuk mengevaluasi usulan program/kegiatan dengan cara menganalisis
beban kerja dan biaya dari usulan yang bersangkutan sehingga bisa
dikuantitatifkan menjadi RKA);
3. Tahap Pengawasan/Pemeriksaan (Dapat dijadikan pedoman untuk
mengetahui apakah suatu kegiatan tersebut boros atau tidak dengan cara melihat
batas biaya sebuah program/kegiatan).

4.3 TAHAPAN PENYUSUNAN ASB

Untuk menyusun ASB maka perlu untuk diketahui tahapan dari penyusunan
ASB yang dimulai dari tahap pengumpulan data, penyetaraan kegiatan serta
pembentukan model. Dari ketiga tahap tersebut tahap yang rumit dan memakan
waktu lama yaitu tahap pengumpulan data karena harus mengumpulan stakeholder
SKPD untuk menggali data terkait data yang dibutuhkan untuk ASB. Jenis data yang
digunakan untuk menyusun ASB yaitu Data Primer (Hasil dari Kuesioner dan FGD
dengan SKPD-SKPD) yang kedua yaitu Data Sekunder (berasal dari DPA masing-
masing SKPD) jika sudah barulah kemudian melakukan penyetaraan kegiatan dan
pembentukan model.
Dalam Tahap Pembentukan model, penyusun ASB harus menentukan Cost
Driver (melihat dari tahun anggaran sebelumnya dan semakin banyak data tahun
sebelumnya maka penetuan cost driver akan semakin baik) yang akan digunakan
untuk dasar perhitungan, kemudian menentukan Belanja Tetap dan variabel yang
nantinya berguna untuk menentukan metode yang dipakai antara High-Low Method,
Scatterplot Method atau bisa menggunakan Least Square Method.

20 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


4.4 PRINSIP PENYUSUNAN ASB

Beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam penyusuanan analisis


standar belanja (ASB) yaitu :
1. Penyederhanaan (Penyusunan analaisis standar belanja bertujuan membuat
model belanja untuk objek-objek kegiatan yang menghasilkan output yang sama);
2. Mudah diaplikasikan (Model yang dibuat mudah diaplikasi atau tidak membuat
susah yang menggunakan model tersebut);
3. Mudah di-update (Model yang dibuat mudah untuk diperbaharui, dalam arti jika
ditambahkan data-data baru tidak merubah formula model tersebut secara
keseluruhan);
4. Fleksibel (Model yang dibuat menggunakan konsep belanja rata-rata dan memiliki
batas minimum belanja dan batas maksimum belanja).

4.5 PENERAPAN ASB

ASB ini digunakan oleh setiap satuan kerja pada tahap penyusunan anggaran.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penggunaan SAB adalah sebagai berikut :
1. Satuan kerja harus mengetahui kegiatan yang akan dilaksanakan tergolong dalam
jenis SAB yang mana dari daftar SAB yang tersedia ;
2. Satuan kerja harus mengetahui apa yang menjadi pengendali belanja (cost driver)
untuk kegiatan yang akan dilaksanakan sehingga mereka mampu membedakan
antara belanja tetap (fixed cost) dan belanja variable (variable cost);
3. Menentukan target kinerja dari masing-masing kegiatan yang akan dilaksanakan;
4. Menghitung besarnya total belanja untuk kegiatan dengan menggunakan formula
yaitu penjumlahan belanja tetap dan belanja variable. Belanja tetap telah
ditetapkan untuk masing-masing kegiatan sedangkan belanja variable harus
dihitung oleh penyusun anggaran dengan menggunakan rumus yang disediakan
menyesuaikan dengan target kinerja yang direncanakan.
5. Setelah diperoleh besarnya total belanja untuk suatu kegiatan,selanjutnya total
belanja dialokasikan menurut proporsi belanja yang telah ditentukan pada
masing-masing SAB.Perhitungan alokasi proporsi belanja dapat menggunakan
proporsi rata-rata atau angka diantara batas bawah dan batas atas.

21 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


4.6 MANFAAT ASB

Beberapa manfaat Analisis Standar Belanja yaitu :


1. Penetapan plafon anggaran pada saat PPAS menjadi objektif tidak lagi
berdasarkan intuisi, Feeling atau Like or Dislike;
2. Dapat menentukan kewajaran biaya untuk melaksanakan suatu
program/kegiatan;
3. Penentuan anggaran berdasarkan tolak ukur kinerja yang jelas;
4. Penentuan besaran alokasi setiap kegiatan menjadi objektif tidak asal menulis
biaya/beban di RKA ataupun potong biaya/beban RKA;
5. Memiliki argument yang kuat jika “dituduh” melakukan pemborosan;
6. Akhirnya meminimalisir terjadinya pengeluaran yang tidak jelas dan
menyebabkan inefisiensi dalam penganggaran;
7. Penyusunan Anggaran Menjadi tepat waktu;
8. Unit Kerja mendapat keleluasaan yang lebih besar untuk menentukan
anggarannya sendiri.

22 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


BAB V
REKOMENDASI

5. REKOMENDASI

Konsep Analisis Standar Belanja hingga saat ini masih sangat jarang
diterapkan di pemerintahan, selain dikarenakan masih kuatnya paradigma lama
dimana tanpa menggunakan ASB Pemerintah masih dapat menyajikan Laporan
Keuangan secara akuntabel, tranparan dan proporsional. Namun penyajian laporan
yang akuntabel, tranparan dan proporsional tentunya tidak terlepas dari
perencanaan anggaran, kita mengetahui bahwa dalam perencanaan anggaran
Pemerintah masih dirasa cukup lemah, contohnya masih banyak kegiatan yang
terduplikasi, tidak sinkron antara Pemerintah Pusat dan Daerah selain itu juga tidak
ada standar dalam pelaksanaan sebuah kegiatan Pemerintah.
Lemahnya perencanaan anggaran juga diikuti dengan ketidakmampuan
Pemerintah Daerah dalam meningkatkan penerimaan Daerah secara
berkesinambungan yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat, sementara di
sisi lain pengeluaran pemerintah terus mengalami peningkatan, itu semua tidak
diikuti dengan penentuan skala prioritas dan besarnya plafon anggaran. Keadaan
tersebut akhirnya akan menimbulkan kemungkinan terjadi underfinancing atau
overfinancing, yang kesemuanya akan berdampak pada tingkat efisiensi dan
efektivitas Satuan Kerja Pemerintah Daerah.
Kondisi saat ini semakin lama kebutuhan akan tersajinya laporan keuangan
yang bersih harus segera terwujud, akuntabilitas keuangan juga semakin terusik
oleh masyarakat yang kritis. Selain itu juga masih sangat sedikit referensi yang
mengacu pada konsep ASB, sehingga banyak Pemerintah Daerah di Indonesia yang
belum menerapkan ASB. Ditambah juga dengan Penelitian tentang ASB masih jarang
dilakukan oleh para praktisi dan akademisi, atau sosialisasi ASB dari masing-masing
pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota juga masih kurang dan jarang.
Namun jika kita bercermin akan banyaknya produk hukum yang
mensyaratkan kepada Pemerintah Daerah untuk segera menyusun ASB sebagai
dasar untuk penyusunan APBD agar tercipta penganggaran berbasis kinerja serta
pengelolaan keuangan daerah yang ekonomis, efisien dan efektif, serta melihat
manfaat yang akan di dapatkan ketika menerapkan ASB sebagai dasar

23 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


penganggaran pada APBD maka diharapkan perlu segera membuat Analisis Standar
Belanja.
Melihat Kondisi Pemerintah Provinsi Jawa Timur saat ini sebagai salah satu
Provinsi dengan kekuatan APBD Tahun 2014 sebesar 18,993 Triliun Nomer 2 (dua)
dibawah Provinsi DKI Jakarta, dan sebagai Provinsi yang banyak menerima
penghargaan dari Pemerintah Pusat karena Inovasinya dalam penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah serta Laporan Keuangan dari BPK yang mendapatkan Predikat
WTP 4 (empat) kali berturut-turut dari mulai tahun 2010,2011,2012 dan 2013, itu
semua sudah barang tentu mengerucut dan berdampak kepada Provinsi Jawa Timur
sebagai barometer pemerintahan nasional. Disamping itu juga pada tahun 2016
Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan menerapan anggaran berbasis kinerja kepada
seluruh pegawai negeri sipil Pemerintah Provinsi Jawa Timur maka sudah
sewajarnya jika salah satu prasyarat utama harus ada ASB.
Selain itu juga kaitannya dengan adanya moratorium oleh MENPAN RI untuk
5 tahun kedepan yaitu tahun 2014-2019 akan berdampak semakin sedikitnya jumlah
pegawai di Pemerintah Daerah, untuk Pemerintah Provinsi Jawa Timur sendiri
diperkirakan jika tidak ada penambahan pegawai 5 tahun kedepan maka akan
berkurang sebanyak 17.000 (tujuh belas ribu) orang pegawai. Dengan semakin
sedikitnya jumlah pegawai tersebut, maka dahulu pekerjaan yang dapat dikerjakan
beramai-ramai akan terpaksa dilakukan oleh segelintir orang saja, dan pekerjaan
tersebut perlu didukung dengan payung yang dapat menjembatani hasil kerja dari
pegawai tersebut dengan menetapkan kriteria keberhasilan kinerjanya. Sebagai
salah satu hal yang urgent dan penting dalam menilai kinerja maka Analisis Standar
Belanja WAJIB untuk segera dilaksanakan.

24 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


LAMPIRAN

1. PENERAPAN ASB DI PEMERINTAH KOTA BATU

ASB-01 PENYEDIAAN JASA SURAT MENYURAT


Deskripsi :
Penyediaan Jasa Surat Menyurat merupakan kegiatan untuk memenuhi
kebutuhan dalam pengiriman surat oleh pegawai di lingkungan satuan kerja
perangkat daerah.
Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah Lembar dan Jumlah Tahun.
Satuan Pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp 3.417.822,00 per kegiatan
Satuan pengendali belanja variabel (variable cost) :
= Rp 1.654,00 per jumlah lembar
Formula Perhitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp 3.417.822,00 + (Rp 1.654,00 x jumlah lembar x jumlah tahun)
Rentang Relevan :
Jumlah lembar surat antara 350 lembar sampai 6600 lembar
Jumlah tahun pengiriman 1 tahun
Alokasi Objek Belanja ASB-01 :
Batas Rata- Batas
No. Keterangan
Bawah Rata Atas
1. Belanja Jasa Habis Pakai 41% 83% 100%
2. Belanja Jasa Kantor 11% 17% 23%

25 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


2. PENERAPAN ASB DI PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

ASB -05 KAJIAN BERSAMA/DISKUSI/SARASEHAN

Deskripsi:
Kajian bersama/diskusi/sarasehan merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk
membahas masalah atau topik memperoleh masukan dengan melibatkan
orang/pihak lain yang dipandang memiliki kemampuan untuk ikut memecahkan
masalah atau meningkatkan kualitas topik yang dibahas. Pemilihan peserta
harus mempertimbangkan relevansi (kesesuaian) dan kapabilitas (kemampuan)
peserta dengan masalah atau topik tersebut dan bukan asal menghadirkan
orang agar hasil kajian yang diperoleh memiliki kualitas yang cukup baik.
Satuan kerja perangkat daerah harus mendeskripsikan secara singkat setiap
peserta sesuai dengan relevansi dan kapabilitasnya.
Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah lembaga/peserta yang terlibat
Satuan Pengendali Belanja Tetap (Fixed Cost)
= Rp 5.400.000,00 per kegiatan
Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp. 700.000,00 per Jumlah Lembaga/Peserta
Rumus Penghitungan Belanja Total:
Tarif Belanja Variabel x Jumlah Lembaga Peserta
= Rp. 5.400.000,00 + (700.000,00 x Jumlah Lembaga Peserta)i.
Alokasi Obyek Belanja ASB 05

No Obyek Belanja Batas Rata-rata Batas Atas


Bawah (%) (%)
1. Belanja Honorarium (%)
3,79% 12,29% 17,76%
2. Belanja Bahan Material 0,22% 1,43% 4,02%
3. Belanja Honorarium Non PNS 2,06% 69,56% 100,00%
4. Belanja Cetak dan 0,39% 1,59% 3,92%
Penggandaan
5. Belanja Sewa 2,82% 2,82% 2,82%
6. Belanja Makan dan Minum 0,98% 3,10% 6,56%
7. Belanja Perjalanan Dinas 2,47% 9,20% 15,08%

26 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


3. PENERAPAN ASB DI PEMERINTAH KABUPATEN PATI JAWA TENGAH

ASB - 02 PENANGANAN KASUS


Deskripsi:
Penanganan kasus merupakan kegiatan yang dilakukan oleh satuan
kerja perangkat daerah yang berwenang untuk melaksanakan/menyelesaikan
kasuskasus hukum/pengaduan yang terjadi.
Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah kasus yang
ditangani.
Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 837.400,00 Per kegiatan.
Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp. 2.715.200,00 per Jumlah kasus yang ditangani
Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 837.400,00 + (Rp. 2.715.200,00 x kasus yang ditangani).

Alokasi Obyek Belanja ASB-02:


No Obyek Belanja Batas Rata-rata Batas Atas
Bawah (%) (%)
1. Honorarium (%)
8,82% 22,55% 42,77%
2. Belanja Bahan Pakai 0,89% 2,77% 6,11%
Habis
3. Belanja Cetak dan 0,30% 1,43% 4,19%
Penggandaan
4. Belanja Sewa 5,23% 32,53% 59,82%
5. Belanja Makan Minum 1,15% 7,16% 26,92%
6. Belanja Perjalanan 5,63% 33,55% 129,22%
Dinas

27 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


DAFTAR PUSTAKA

Fatikhah R, Dewi Noor, “Kajian Analisis Standar Belanja Pemerintah Kota Batu”, Universitas
Brawijaya Malang.
Pusat Studi Eknomi dan Kebijakan Publik, 2009, “Penyusunan Standar Analisis Standar Belanja,
pengalaman praktis di Pemerintah Daerah”, UGM, Yogyakarta.

28 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur


29 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur
30 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur
31 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur
32 UPT LPKD Provinsi Jawa Timur
Saran dan Informasi :
LABORATORIUM PENGELOLAAN KEUANGAN
DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR