Anda di halaman 1dari 33
UPT LPKD PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014 PENTINGNYA ANALISIS STANDAR BELANJA 0 UPT LPKD Provinsi
UPT LPKD PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014
UPT LPKD
PROVINSI JAWA TIMUR
TAHUN 2014
UPT LPKD PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014 PENTINGNYA ANALISIS STANDAR BELANJA 0 UPT LPKD Provinsi Jawa
UPT LPKD PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014 PENTINGNYA ANALISIS STANDAR BELANJA 0 UPT LPKD Provinsi Jawa
UPT LPKD PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014 PENTINGNYA ANALISIS STANDAR BELANJA 0 UPT LPKD Provinsi Jawa
UPT LPKD PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014 PENTINGNYA ANALISIS STANDAR BELANJA 0 UPT LPKD Provinsi Jawa
UPT LPKD PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014 PENTINGNYA ANALISIS STANDAR BELANJA 0 UPT LPKD Provinsi Jawa
UPT LPKD PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014 PENTINGNYA ANALISIS STANDAR BELANJA 0 UPT LPKD Provinsi Jawa
PENTINGNYA ANALISIS STANDAR BELANJA
PENTINGNYA
ANALISIS STANDAR BELANJA

0

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

SEKAPUR SIRIH

Puji syukur tak henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya Tulisan “Pentingnya ASB” ini dapat diselesaikan dengan baik. Pembuatan Tulisan ini patut diapresiasi karena merupakan salah satu upaya Laboratorium Pengelolaan Keuangan Daerah (LPKD) Provinsi Jawa Timur untuk memberikan sumbangsih dalam pengambilan kebijakan Provinsi Jawa Timur dalam Bidang Keuangan Daerah.

Seperti diketahui, ASB merupakan salah satu instrumen anggaran berbasis kinerja yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada Tahun 2016, penyiapan infrastruktur Anggaran Berbasis Kinerja oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus dikebut seperti SKP, Uraian Jabatan, Analisis Beban Kerja serta penyesuaian absensi menggunakan finger print. ASB atau Analisis Standar Belanja adalah salah satu instrumen anggaran kinerja untuk menilai kewajaran besaran anggaran suatu kegiatan dengan beban kerjanya. Sampai dengan saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Timur masih belum menyusun ASB.

Berangkat dari kondisi di atas maka tulisan ini dibuat. Tulisan ini berisi point point penting adanya ASB, Permasalahan jika tidak ada ASB, Manfaat menggunakan ASB, serta langkah-langkah yang harus dipersiapkan untuk menyusun ASB.

Tentunya kami selaku Kepala UPT mengucapkan terima kasih atas partisipasi seluruh Pimpinan dan Karyawan yang telah bersusah payah dalam penyusunan Tulisan ini dan mudah-mudahan menjadi suatu awal yang baik bagi generasi yang akan datang.

Akhirnya tak ada gading yang tak retak, kami atas seluruh Keluarga Besar UPT LPKD Provinsi Jawa Timur mengucapkan terima kasih dan mohon maaf atas segala kekurangan, kami terbuka untuk menerima kritik dan saran serta masukan yang konstruktif.

Surabaya, 29 Desember 2014

Kepala UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

1

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

DAFTAR ISI

SEKAPUR SIRIH

1

DAFTAR ISI

2

BAB I PENDAHULUAN

3

1.1 Latar Belakang

3

1.2 Permasalahan

5

 

1.3 Tujuan

6

BAB II LANDASAN TEORI DAN HUKUM ASB

7

2.1 Anggaran Berbasis Kinerja

7

2.2 Pengertian ASB

8

2.3 Landasan Hukum

8

BAB III KONDISI KEUANGAN PROVINSI JAWA TIMUR

12

3.1

Umum

12

3.2

Kondisi Saat Ini

14

3.2.1

Pendapatan Daerah

14

3.2.2

Belanja Daerah

16

3.2.3

Pembiayaan Daerah

18

BAB IV PENTINGYA ASB

19

4.1

Pentingnya ASB

19

4.2

Posisi ASB Pada Pengelolaan Keuangan Daerah

20

4.3

Tahapan Penyusunan ASB

20

4.4

Prinsip Penyusunan ASB

21

4.4

Penerapan ASB

21

4.5

Manfaat ASB

22

BAB V REKOMENDASI

23

5

Rekomendasi

23

Lampiran

25

Daftar Pustaka

28

2

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

1.1 LATAR BELAKANG

BAB I

PENDAHULUAN

Dukungan teknologi informasi dalam peningkatan dan pengawasan dalam sebuah program dan kegiatan pemerintah merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting untuk meningkatkan suatu kualitas dari program dan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Anggaran pemerintah daerah sebagai suatu hal yang perlu untuk mendapatkan pengawasan dalam rangka peningkatan mutu penyusunan dan efektifitas anggaran daerah. Salah satu konsep yang dikenalkan terkait dengan pengawasan anggaran pemerintah daerah yaitu Standar Analisis Belanja (SAB) yang mulai dikenalkan kepada Pemerintah Daerah dalam Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Dalam PP tersebut isitilah yang digunakan masih Standar Analisa Belanja atau SAB yang mempunyai makna penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya terhadap suatu kegiatan. Kemudian Departemen Dalam Negeri pada saat itu mengeluarkan Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban Dan Pengawasan Keuangan Daerah Serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah Dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah. Tahun 2004 diterbtikanlah Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang merupakan pengganti dari Undang-Undang No. 22 Tahun 1999. Dalam UU No. 32 tersebut dikenalkan istilah baru yaitu Analisis Standar Belanja (ASB) yang mempunyai maksud dan istilah yang sama dengan Standar Analisa Belanja (SAB) yaitu penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan. Selanjutnya, terbitlah PP No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, dan kemudian dijabarkan lagi dalam Permendagri No. 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Namun dengan banyaknya regulasi tersebut belum ada yang menunjukkan secara riil dan operasional tentang ASB. Akibatnya, ASB

3

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

menjadi sesutau hal yang membingungkan di mata Pemerintah Daerah di Seluruh Indonesia. Pada saat ini, dimana tuntutan masyarakat semakin besar terhadap penyelenggaraan pemerintahan, khususnya terkait pertangungjawaban pemerintah kepada masyarakat. Dengan kata lain, kinerja instansi pemerintah saat ini lebih banyak mendapatkan sorotan daripada era pemerintahan pada masa orde baru. Selain kinerja yang menjadi sorotan masyarakat, komponen lain dalam hal good governance seperti pelayanan publik juga mulai dipertanyakan oleh masyarakat, hal tersebut dilatar belakangi kebutuhan masyarakat yang semakin beragam, permasalahan yang semakin kompleks, semakin kritisnya masyrakat ditambah dengan arus informasi yang mengalir deras kepada masyarakat. Salah satu bentuk pertangungjawaban pemerintah kepada masyrakat yaitu dalam bentuk pertangungjawaban keuangan, biasa kita kenal dengan laporan keuangan. Selain itu juga banyak bentuk pertangungjawaban pemerintah daerah seperti diantaranya LAKIP, LPPD, dan ILPPD. Semakin banyak pertangungjawaban tentu juga diimbangi dengan banyaknya lembaga yang bertugas sebagai control pelaksanaan pertangungjawaban pemerintah akan kinerjanya, seperti BPK, BPKP, PPTK, KPK, ICW dan masih banyak lagi. Kinerja sering digunakan untuk menyebut prestasi atau tingkat keberhasilan individu maupun kelompok, namun kinerja dalam pemerintahan tentunya memiliki arti tersendiri yaitu sebagai gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam perencanaan strategis suatu organisasi. Kinerja menjadi lebih jelas dalam menilainya ketika individu atau kelompok tersebut mempunyai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya. Beberapa kriteria dimaksud yaitu tujuan-tujuan atau target-target tertentu yang hendak dicapai. Kinerja Pemerintah dapat diukur melalui evaluasi terhadap pelaksanaan APBN/APBD. Penetapan indikator kinerja pada saat penganggaran merupakan tahapan awal dari manajemen kinerja, dan merupakan tahapan yang paling penting, karena indikator kinerja pada anggaran merupakan kontrak dan komitmen tentang hasil yang akan dicapai pada satu tahun ke depan. Kesalahan penentuan indikator kinerja

4

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

pada saat penganggaran akan menyebabkan kesalahan pada saat pengukuran dan

evaluasi.

Pentingnya kinerja tentunya harus terpatri di dalam diri seluruh stakeholder pemerintah, baik pusat dan daerah. Dalam hal pengelolaan keuangan pendekatan prestai kerja juga penting agar dapat terlaksana secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan dan kepatutan. Dalam sistem anggaran berbasis prestasi kerja, setiap usulan program dan kegiatan serta anggarannya perlu dinilai

kewajarannya. Dalam kaitan itu, perlu ditetapkan Analisis Standar Belanja (ASB) sebagai pedoman yang digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja atau biaya setiap program dan kegiatan yang dilaksanakan dalam satu tahun anggaran. Sesuai PP 58 Tahun 2005 pasal 39 ayat 2 “Penyusunan anggaran berdasarkan prestasi kerja dilakukan berdasarkan capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja (ASB), standar satuan harga dan standar pelayanan minimal”.

1.2 PERMASALAHAN

Permasalahan yang timbul dengan tidak adanya penerapan ASB, yaitu :

a. Plafon anggaran kegiatan pada PPAS ditetapkan menggunakan “intuisi” (Penetapan anggaran akan menggunakan insting atau felling dari para perencana anggaran di masing-masing SKPD dengan hanya melihat anggaran tahun sebelumnya dengan ditambahkan perkiraan biaya untuk tahun berjalan);

b. Sulit menilai kewajaran beban kerja dan biaya suatu kegiatan (Sulit menilai kewajaran sebuah kegiatan karena tidak ada kepastian atau pagu dari sebuah kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah, karena masing- masing SKPD ketika mengadakan kegiatan dengan jumlah peserta yang sama pasti berbeda beda karena tidak ada standar pagu anggaran dari sebuah kegiatan);

c. Penyusunan dan penentuan anggaran menjadi subjektif (Menjadi subjektif dikarenakan tergantung dari SKPD mana yang mengusulkan atau karena kedekatan dengan perencana anggaran, sehingga bisa bersifat suka- suka);

5

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

d.

Dua atau lebih kegiatan yang sama mendapat alokasi yang berbeda; (Beberapa SKPD yang berbeda mengadakan kegiatan dengan jumlah peserta yang sama namun terjadi perbedaan anggaran biaya dikarenaka

e. Tidak memiliki argumen yang kuat jika “dituduh” melakukan pemborosan (sulit menjawab atau tidak memiliki alasan yang kuat ketika pemeriksaan oleh BPK dan Inspektorat karena tidak ada standar pagu untuk sebuah kegiatan)

1.3 TUJUAN

Tuntutan pelaksanaan anggaran (penerimaan dan pengeluaran) daerah yang sesuai dengan kewajaran ekonomi, efisien, dan efektif, semakin besar, hal tersebut berdampak pada penyusunan Anggaran Daerah yang didasarkan kinerja yang akan dicapai oleh Daerah tersebut. Dengan menggunakan Anggaran Kinerja dimaksud, maka Anggaran Daerah akan lebih transparan, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dan dari beberapa instrumen yang ada salah satunya yaitu instrumen untuk menyusun Anggaran Daerah dengan pendekatan kinerja adalah ASB.

Tujuan penyusunan pentingnya ASB adalah untuk menghilangkan kesenjangan antara praktek yang berlangsung selama ini sebelum penerapan Anggaran Berbasis Kinerja dengan dengan kondisi ideal yang akan diterapkan pada tahun 2016 saat penerapan Anggaran Berbasis Kinerja di Provinsi Jawa Timur.

6

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HUKUM ASB

2.1 ANGGARAN BEBASIS KINERJA

Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi. Sedangkan Pengukuran Kinerja adalah suatu proses penilaian kemajuan pekerjaan terhadap tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya, termasuk informasi atas: efisiensi penggunaan sumber daya dalam menghasilkan barang dan jasa; kualitas barang dan jasa; hasil kegiatan dibandingkan dengan maksud yang diinginkan; dan efektivitas tindakan dalam mencapai tujuan. Pengukuran kinerja digunakan untuk menilai prestasi manajaer dan unit organisasi yang dipimpinnya. Pengukuran kinerja sangat penting untuk menilai akuntabilitas organisasi dan manajer dalam pelayanan publik yang lebih baik. Akuntabilitas disini bukan sekedar kemampuan menunjukkan uang publik dibelanjakan, akan tetapi juga meliputi kemampuan menunjukan bahwa uang publik tersebut telah dibelanjakan secara ekonomies, efisien, dan efektif. Penganggaran berbasis kinerja (performance-based budgeting) merupakan suatu pendekatan sistematis dalam penyusunan anggaran yang mengaitkan pengeluaran yang dilakukan organisasi sektor publik dengan kinerja yang dihasilkannya dengan menggunakan informasi kinerja. Performance budgeting mengalokasikan sumber daya pada program, bukan unit organisasi semata, dan memakai output measurement sebagai indikator kinerja organisasi. Atau dapat diartikan sebagao sebuah sistem anggaran yang mengutamakan hasil kerja dan output dari setiap program dan kegiatan yang direncanakan. Setiap dana yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah untuk melaksanakan program dan kegiatan harus didasarkan atas hasil dan output yang jelas dan terukur. Ini merupakan pembeda utama antara anggaran kinerja dengan anggaran tradisional yang pernah diterapkan sebelumnya yang lebih mempertanggungjawabkan input yang direncanakan dengan input yang dialokasikan.

7

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

Ruang lingkup Anggaran Berbasis Kinerja diperuntukkan untuk, 1) Menentukan Visi dan Misi (strategi organisasi), tujuan, sasaran dan target yang hendak dicapai. 2) Menentukan Indikator Kinerja terdiri dari Input (dana, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, data dan informasi lainnya yang diperlukan), Ouput, outcome, Benefit dan Impact. 3) Bahan Evaluasi dan pengambilan keputusan terhadap pemilihan dan proritas program, dan 4) ASB. Analisis Standar Belanja (ASB) merupakan salah satu komponen yang harus dikembangkan sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan dalam penyusunan APBD dengan pendekatan kinerja. ASB adalah standar yang digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja atau biaya setiap program atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu Satuan Kerja dalam satu tahun anggaran

2.2 PENGERTIAN ASB

Analisis Standar Belanja (ASB) merupakan penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunkan untuk melaksanakan suatu kegiatan. Selain itu, ASB mendorong penetapan biaya dan pengalokasian anggaran kepada setiap aktivitas unit kerja menjadi lebih logis dan mendorong dicapainya efisiensi secara terus- menerus karena adanya perbandingan (benchmarking) biaya per unit setiap output dan diperoleh praktek-praktek terbaik (best practices) dalam desain aktivitas (Pohan, 2007). Dengan kata lain, Analisis Standar Belanja (ASB) merupakan salah satu komponen yang harus dikembangkan sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan dalam penyusunan APBD dengan pendekatan kinerja (lihat Ritonga, 2010). Dalam formulasi yang lebih pendek, Mardiasmo (2002) menjelaskan, SAB adalah penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya terhadap suatu kegiatan.

2.3 LANDASAN HUKUM

a. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 167 ayat 3 “Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempertimbangkan analisis standar belanja, standar harga, tolok ukur kinerja; dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.

8

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

b.

Penjelasan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 167 ayat 3:

-

Yang dimaksud dengan Analisa Standar Belanja (ASB) adalah penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan.

c.

Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 Tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Pasal 20 ayat 2 “Untuk mengukur kinerja keuangan Pemerintah Daerah, dikembangkan standar analisa belanja, tolok ukur kinerja dan standar biaya”.

d.

Penjelasan Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 Tentang

Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Pasal 20 ayat 2:

-

Yang dimaksud dengan standar analisa belanja adalah penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya terhadap suatu kegiatan.

e.

Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 39 ayat 2, “Penyusunan anggaran berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan standar pelayanan minimal”.

f.

Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 41 ayat 3, “Pembahasan oleh tim anggaran pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dengan kebijakan umum APBD, prioritas dan plafon anggaran sementara, prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya, dan dokumen perencanaan lainnya, serta capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan standar pelayanan minimal”.

f.

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 89 ayat 2 : “Rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup :

- dokumen sebagai lampiran meliputi KUA, PPA, kode rekening APBD, format RKA-SKPD, analisis standar belanja dan standar satuan harga”.

9

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

g. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 93 :

(1)

dalam Pasal 90 ayat (2) berdasarkan pada indikator kinerja, capaian atau target kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan standar pelayanan minimal. (2) Analisis standar belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang

Penyusunan RKA-SKPD berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud

digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan.

h. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman

Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 100 ayat 2 “Pembahasan oleh TAPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dengan KUA, PPA (Prioritas dan Plafon Anggaran), prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya, dan dokumen perencanaan lainnya, serta capaian kinerja, indikator kinerja, kelompok sasaran kegiatan, standar analisis belanja, standar satuan harga, standar pelayanan minimal, serta sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD”.

i. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas

No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman

Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 89 ayat 2 : “Rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup :

Peraturan Menteri Dalam Negeri

- dokumen sebagai lampiran surat edaran meliputi KUA, PPAS, analisis standar belanja dan standar satuan harga.

j. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 100 ayat 2 : “Pembahasan oleh TAPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menelaah:

- kesesuaian rencana anggaran dengan standar analisis belanja, standar satuan harga;

k. Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 32 Tahun 2008 Tentang

10

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2009, (Romawi III) Teknis Penyusunan APBD No. 4 : ”Substansi Surat Edaran Kepala Daerah tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD kepada seluruh SKPD dan Rencana Kerja dan Anggaran Pejabat Pengelola Keuangan daerah (RKA-PPKD) kepada Satuan kerja pengelola keuangan daerah (SKPKD)lebih disederhanakan, hanya memuat prioritas pembangunan daerah dan program/kegiatan yang terkait, alokasi plafon anggaran sementara untuk setiap program/kegiatan SKPD, batas waktu penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD dan dokumen sebagai lampiran Surat Edaran dimaksud meliputi KUA, PPAS, Analisis Standar Belanja, dan Standar Satuan Harga.

11

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

BAB III KONDISI KEUANGAN PROVINSI JAWA TIMUR

3.1 UMUM

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan suatu

gambaran atau tolok ukur pentingnya keberhasilan suatu pemerintahan daerah

dalam meningkatkan potensi perekonomian daerah. Pertumbuhan ekonomi

daerah akan berdampak positif terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah

(PAD), khususnya penerimaan pajak daerah.

APBD merupakan rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang

disetujui oleh DPRD dan ditetapkan dengan peraturan daerah (UU No.17 tahun

2003). APBD memiliki fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi,

distribusi dan stabilisasi. Fungsi otorisasi mengandung arti bahwa Perda tentang

APBD menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang

bersangkutan. Fungsi perencanaan berarti bahwa APBD menjadi pedoman bagi

manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.

Sedangkan fungsi pengawasan terlihat dari digunakannya APBD sebagai

standar dalam penilaian penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Kebijakan desentralisasi fiskal yang ditetapkan dalam Undang-Undang

Republik Indonesia No.25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara

Pemerintah Pusat Daerah bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas

pengelolaan sumber daya keuangan daerah dalam rangka peningkatan

kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat. Oleh sebab itu, proses

pengelolaan keuangan Pemerintah Daerah dalam pelaksanaannya mengacu kepada

prinsip transparansi dan akuntabilitas. Perkembangan APBD Provinsi Jawa Timur dari Tahun 2009 s/d 2014, yaitu :

APBD Provinsi Jawa Timur dari Tahun 2009 s/d 2014, yaitu : Sumber Data : BPKAD Provinsi

Sumber Data : BPKAD Provinsi Jawa Timur (dalam Trilliun Rupiah)

Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Timur mengalami peningkatan yang

signifikan mulai tahun 2009 sampai dengan 2012, kemudian mengalami penurunan

karena depresiasi fiskal di tahun 2013 dan 2014. Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur

selalu di atas rata-rata pertumbuhan nasional. Data terkahir menunjukkan pada

triwulan III 2014 pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Timur mencapai 6,02% lebih

tinggi dari Pertumbuhan ekonomi Nasioanl yang hanya 5,11%.

12

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

Anggaran Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tahun anggaran 2014 mencapai Rp 18,99 triliun

Anggaran Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tahun anggaran 2014 mencapai Rp 18,99 triliun atau meningkat 15,81% dibandingkan anggaran tahun 2013. Sebagaimana pola-pola anggaran di daerah, struktur pendapatan daerah di Jawa Timur didominasi oleh Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari penerimaan pajak daerah seperti Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Air Bawah Tanah, Pajak Air Permukaan, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor serta penerimaaan asli daerah lainnya yang sah. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jawa Timur, yaitu :

Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jawa Timur, yaitu : Sumber Data : BPS Jawa Timur 13

Sumber Data : BPS Jawa Timur

13

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

3.2

KONDISI SAAT INI

Pemerintah Provinsi Jawa Timur merupakan Provinsi dengan kondisi keuangan yang begitu besar, APBD Provinsi Jawa Timur yang dikelola oleh PPKD (Badan Pengelola Keuangan dan Asset Daerah) pada tahun 2014 mencapai 18,993 Triliun. Untuk Kebijakan pengelolaan keuangan daerah, secara garis besar tercermin pada kebijakan pendapatan, pembelanjaan serta pembiayaan APBD. Pengelolaan Keuangan daerah yang baik menghasilkan keseimbangan antara optimalisasi pendapatan daerah, efisiensi dan efektivitas belanja daerah serta ketepatan dalam memanfaatkan potensi pembiayaan daerah. Berdasarkan ketentuan Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mencantumkan bahwa sumber penerimaan daerah Provinsi terdiri atas: (1) Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terdiri dari kelompok Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan dan Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah; (2) Dana Perimbangan yang meliputi Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak yang terdiri dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, Pajak Penghasilan (PPh) Perorangan, Sumber Daya Alam (SDA); Dana Alokasi Umum; dan Dana Alokasi Khusus; dan (3) Kelompok-lain-lain pendapatan daerah yang sah meliputi Pendapatan Hibah, Dana Darurat, Dana Bagi Hasil Pajak dari Pemerintah Kab/Kota, Dana Penyesuaian dan Dana Otonomi Khusus, dan Dana Bantuan Keuangan. Sedangkan peneriman pembiayaan bersumber dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Daerah Tahun Sebelumnya (SiLPA), Penerimaan Pinjaman Daerah, Dana Cadangan Daerah (DCD), dan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang dipisahkan.

3.2.1 Pendapatan Daerah

Pengelolaan pendapatan daerah diarahkan pada peningkatan penerimaan daerah melalui: (1) Optimalisasi pendapatan daerah sesuai peraturan yang berlaku dan kondisi daerah; (2) Peningkatan kemampuan dan keterampilan SDM Pengelola Pendapatan Daerah; (3) Peningkatan intensitas hubungan perimbangan keuangan pusat dan daerah secara adil dan proporsional berdasarkan potensi dan pemerataan; dan (4) Peningkatan kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajibannya. Untuk

14

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

itu, digariskan sejumlah kebijakan yang terkait dengan pengelolaan pendapatan daerah sebagai berikut.

a. Mengembangkan manajemen pendapatan daerah dengan prinsip prefosionalitas, efisiensi, transparan, dan bertanggungjawab.

b. Meningkatkan kualitas pelayanan dengan mengembangkan konsep pelayanan yang berbasis Teknologi Informasi (TI) melalui menyederhanakan sistem dan prosedure pelayanan serta memberikan lebih banyak alternative pilihan model layanan kepada masyarakat.

c. Mengembangkan Teknologi Informasi di lingkungan Kantor Bersama Samsat antara lain SMS Info Samsat, SMS JT, dan SMS Komplain serta layanan inovatif (E-Samsat) yaitu layanan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) melalui internet banking.

d. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan struktural dan fungsional, pelatihan etika pelayanan, pelatihan peningkatan pemahaman peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan pemungutan pendapatan asli daerah.

e. Mengoptimalkan peran dan kontribusi serta mengelola Badan Usaha Milik

Daerah (BUMD) agar dapat berperan aktif baik dalam menjalankan fungsi dan tugasnya maupun sebagai kekuatan perekonomian daerah.

f. Mengoptimalkan penerimaan Dana Alokasi Umum (DAU) melalui dukungan analisa data baik melalui Asumsi Dasar (AD) maupun Celah Fiskal (CF).

g. Mengoptimalkan penerimaan Dana Alokasi Khusus (DAK) melalui dukungan analisa data yang diperlukan Pemerintah baik instrument umum Indeks Fiskal Netto (IFN) maupun instrument khusus berupa karateristik wilayah.

h. Mengoptimalkan penerimaan Dana Bagi Hasil (DBH) baik pajak maupun bukan pajak untuk mencapai keseimbangan fiscal secara vertikal yang proporsional.

i. Meningkatkan hubungan/kerjasama antar instansi di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan dengan Pemerintah/BUMN dalam rangka peningkatan penerimaan Dana Bagi Hasil (DBH).

j. Mengembangkan fasilitas kerjasama dengan kabupaten/kota di bidang pajak dan retribusi daerah serta lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.

15

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

3.2.2 Belanja Daerah

Belanja daerah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa belanja daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupeten/kota yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Belanja daerah dikelompokkan ke dalam belanja tidak langsung dan belanja langsung. Belanja tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Sementara belanja langsung merupakan belanja yang dianggarkan yang terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Dalam rangka mengatur penggunaan anggaran belanja daerah agar tetap terarah, efisien dan efektif, maka kebijakan belanja daerah selama tahun anggaran 2009-2014 sebagai berikut:

a. Pemanfaatan belanja sesuai dengan anggaran berbasis kinerja (performance based) untuk mendukung capaian target kinerja utama sebagaimana ditetapkan dalam RPJMD Provinsi Jawa Timur Tahun 2009-2014;

b. Pemanfaatan belanja menganut prinsip akuntabilitas, efektif dan efisien dalam rangka mendukung penerapan anggaran berbasis kinerja;

c. Pemanfaatan belanja yang bersifat reguler/rutin diutamakan untuk memenuhi belanja yang bersifat mengikat antara lain pembayaran gaji PNS, belanja bagi hasil kepada kabupaten/kota, dan belanja operasional kantor dengan prinsip mengedepankan prinsip efisien dan efektif;

d. Pemanfaatan belanja program khusus dan penanganan isus-isu strategis yang difokuskan pada fungsi-fungsi pelayanan dasar, stimulasi ekonomi, pelayanan publik dan dukungan penyelenggaraan pemerintahan lainya dalam rangka mendukung capaian target kinerja untama sebagaimana yang ditetapkan dalam RPJMD Provinsi Jawa Timur Tahun 2009-2014;

e. Mengoptimalkan pemanfaatan belanja untuk penyelenggaraan urusan kewenangan Pemerintah Provinsi dan fasilitas bantuan keuangan, belanja

16

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

bantuan hibah maupun belanja bantuan sosial untuk urusan non kewengan Pemerintah Provinsi;

f. Memenuhi ketentuan kebijakan pendampingan terhadap program-program Pemerintah Pusat sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku;

g. Mengakomodasi aspirasi masyarakat melalui belanja tidak langsung sesuai dengan kemampuan keuangan daerah untuk mendukung stimulasi capaian target kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan;

h. Mengoptimalkan pemanfaatan belanja yang bersumber dari sumber-sumber

pendapatan khusus (DAK, Cukai Hasil Tembakan dan BLUD) untuk menstimulasi capaian target kinerja utama Pemerintah Provinsi Jawa Timur sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Dari kedelapan kebijakan Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur sebagain besar diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat Jawa Timur sesuai Visi dan Misi Provinsi Jawa Timur yaitu “Makmur Bersama Wong Cilik”, berikut merupakan strategi belanja Provinsi Jawa Timur :

Bersama Wong Cilik”, berikut merupakan strategi belanja Provinsi Jawa Timur : 17 UPT LPKD Provinsi Jawa

17

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

3.2.3 Pembiayaan Daerah

Kebijakan pembiayaan daerah selama tahun anggaran 2009-2014 adalah sebagi berikut :

a. Kebijakan umum penerimaan pembiayaan diarahkan pada perhitungan perkiraan sisa lebih (SiLPA) baik berupa pelampauan pendapatan atas dasar peningkatan kinerja maupun sisa belanja atas asumsi terjadinya efisiensi belanja;

b. Kebijakan umum pengeluaran pembiayaan diarahkan pada optimalisasi pemanfaatan pengeluaran pembiayaan dalam rangka tambahan modal BUMD;

c. Defisit APBD direncanakan akan diatasi melalui selisih antara proyeksi penerimaan pembiayaan dengan rencana pengeluaran pembiayaan.

18

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

4.1 PENTINGNYA ASB

BAB IV PENTINGNYA ASB

Akuntabilitas merupakan salah satu dari delapan agenda reformasi birokrasi

yang telah dicanangkan sejak tahun 2010 melalui Peraturan Presiden Nomor 81

Tahun 2010 tentang Grand Design Reformsi Birokrasi 2010 2025, dengan tujuan

utama yaitu mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik. Terkait dengan

akuntabilitas khususnya akuntabilitas pengelolaan anggaran, dimana terdapat 2 fase

krusial yang menentukan derajat akuntabilitas, yakni fase perencanaan dan fase

pelaksanaan.

Ketika fase perencanaan dimana perencanaan program/kegiatan disusun

berdasarkan kebutuhan para masyarakat dan pemangku kepentingan, kemudian

didentifikasi program apa, bagaimana, untuk apa, seberapa banyak kapan dan

dimana. ASB mengambil peran penting pada perencanaan yaitu ketika disusun

Rencana Kerja dan Anggaran yang memuat nama program, nama kegiatan,

indikator, tolok ukur kinerja, target kinerja, besaran anggaran yang diperlukan

berikut rincian belanja dan kode rekening. Agar estimasi anggaran wajar sesuai

kebutuhan maka diperlukan analisis standar belanja. Analisis standar belanja

setidaknya memuat proses/subproses kegiatan, kebutuhan belanja pada setiap

proses/subprosesnya lalu batasan maksimal belanja di setiap proses/subprosesnya.

Sebetulnya Analisis Standar Belanja sudah lama dikenalkan yaitu pada

Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 yang pada saat itu namanya baru SAB

(Standar Analisa Belanja), namun setelah munculnya UU No. 32 Tahun 2004 istilah

Standar Analisa Belanja (SAB) diganti dengan Analisis Standar Belanja (ASB),

sebagaimana dijelaskan dalam Undang-undang No. 32 Tahun 2004 pasal 167 ayat 3,

bahwa ASB adalah penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan

untuk melaksanakan suatu kegiatan. ASB merupakan salah satu instrumen pokok

dalam penganggaran berbasis kinerja. Dengan demikian, setiap Pemerintah Daerah

wajib menyusun ASB untuk mewujudkan penganggaran berbasis kinerja serta

pengelolaan keuangan daerah yang ekonomis, efisien dan efektif.

19

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

4.2

POSISI ASB PADA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Dalam pengelolaan keuangan daerah posisi Analisis Standar Belanja yaitu :

1. Tahap Perencanaan (Pada saat perencanaan yaitu musrenbang, Renja, KUA- PPAS dimana fungsi ASB yaitu untuk menentukan pagu indikatif dari kegiatan- kegiatan yang diusulkan masyarakat); 2. Tahap Penganggaran (Pada saat penyusunan RKA, sehingga memudahkan TAPD untuk mengevaluasi usulan program/kegiatan dengan cara menganalisis beban kerja dan biaya dari usulan yang bersangkutan sehingga bisa dikuantitatifkan menjadi RKA); 3. Tahap Pengawasan/Pemeriksaan (Dapat dijadikan pedoman untuk mengetahui apakah suatu kegiatan tersebut boros atau tidak dengan cara melihat batas biaya sebuah program/kegiatan).

4.3 TAHAPAN PENYUSUNAN ASB

Untuk menyusun ASB maka perlu untuk diketahui tahapan dari penyusunan ASB yang dimulai dari tahap pengumpulan data, penyetaraan kegiatan serta pembentukan model. Dari ketiga tahap tersebut tahap yang rumit dan memakan waktu lama yaitu tahap pengumpulan data karena harus mengumpulan stakeholder SKPD untuk menggali data terkait data yang dibutuhkan untuk ASB. Jenis data yang digunakan untuk menyusun ASB yaitu Data Primer (Hasil dari Kuesioner dan FGD dengan SKPD-SKPD) yang kedua yaitu Data Sekunder (berasal dari DPA masing- masing SKPD) jika sudah barulah kemudian melakukan penyetaraan kegiatan dan pembentukan model. Dalam Tahap Pembentukan model, penyusun ASB harus menentukan Cost Driver (melihat dari tahun anggaran sebelumnya dan semakin banyak data tahun sebelumnya maka penetuan cost driver akan semakin baik) yang akan digunakan untuk dasar perhitungan, kemudian menentukan Belanja Tetap dan variabel yang nantinya berguna untuk menentukan metode yang dipakai antara High-Low Method, Scatterplot Method atau bisa menggunakan Least Square Method.

20

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

4.4

PRINSIP PENYUSUNAN ASB

Beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam penyusuanan analisis standar belanja (ASB) yaitu :

1. Penyederhanaan (Penyusunan analaisis standar belanja bertujuan membuat model belanja untuk objek-objek kegiatan yang menghasilkan output yang sama);

2. Mudah diaplikasikan (Model yang dibuat mudah diaplikasi atau tidak membuat susah yang menggunakan model tersebut);

3. Mudah di-update (Model yang dibuat mudah untuk diperbaharui, dalam arti jika ditambahkan data-data baru tidak merubah formula model tersebut secara keseluruhan);

4. Fleksibel (Model yang dibuat menggunakan konsep belanja rata-rata dan memiliki batas minimum belanja dan batas maksimum belanja).

4.5 PENERAPAN ASB

ASB ini digunakan oleh setiap satuan kerja pada tahap penyusunan anggaran. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penggunaan SAB adalah sebagai berikut :

1. Satuan kerja harus mengetahui kegiatan yang akan dilaksanakan tergolong dalam jenis SAB yang mana dari daftar SAB yang tersedia ;

2. Satuan kerja harus mengetahui apa yang menjadi pengendali belanja (cost driver) untuk kegiatan yang akan dilaksanakan sehingga mereka mampu membedakan antara belanja tetap (fixed cost) dan belanja variable (variable cost);

3. Menentukan target kinerja dari masing-masing kegiatan yang akan dilaksanakan;

4. Menghitung besarnya total belanja untuk kegiatan dengan menggunakan formula yaitu penjumlahan belanja tetap dan belanja variable. Belanja tetap telah ditetapkan untuk masing-masing kegiatan sedangkan belanja variable harus dihitung oleh penyusun anggaran dengan menggunakan rumus yang disediakan menyesuaikan dengan target kinerja yang direncanakan.

5. Setelah diperoleh besarnya total belanja untuk suatu kegiatan,selanjutnya total belanja dialokasikan menurut proporsi belanja yang telah ditentukan pada masing-masing SAB.Perhitungan alokasi proporsi belanja dapat menggunakan proporsi rata-rata atau angka diantara batas bawah dan batas atas.

21

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

4.6 MANFAAT ASB

Beberapa manfaat Analisis Standar Belanja yaitu :

1. Penetapan plafon anggaran pada saat PPAS menjadi objektif tidak lagi berdasarkan intuisi, Feeling atau Like or Dislike;

2. Dapat menentukan kewajaran biaya untuk melaksanakan suatu program/kegiatan;

3. Penentuan anggaran berdasarkan tolak ukur kinerja yang jelas;

4. Penentuan besaran alokasi setiap kegiatan menjadi objektif tidak asal menulis biaya/beban di RKA ataupun potong biaya/beban RKA;

5. Memiliki argument yang kuat jika “dituduh” melakukan pemborosan;

6. Akhirnya meminimalisir terjadinya pengeluaran yang tidak jelas dan menyebabkan inefisiensi dalam penganggaran;

7. Penyusunan Anggaran Menjadi tepat waktu;

8. Unit Kerja mendapat keleluasaan yang lebih besar untuk menentukan anggarannya sendiri.

22

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

5. REKOMENDASI

BAB V REKOMENDASI

Konsep Analisis Standar Belanja hingga saat ini masih sangat jarang

diterapkan di pemerintahan, selain dikarenakan masih kuatnya paradigma lama

dimana tanpa menggunakan ASB Pemerintah masih dapat menyajikan Laporan

Keuangan secara akuntabel, tranparan dan proporsional. Namun penyajian laporan

yang akuntabel, tranparan dan proporsional tentunya tidak terlepas dari

perencanaan anggaran, kita mengetahui bahwa dalam perencanaan anggaran

Pemerintah masih dirasa cukup lemah, contohnya masih banyak kegiatan yang

terduplikasi, tidak sinkron antara Pemerintah Pusat dan Daerah selain itu juga tidak

ada standar dalam pelaksanaan sebuah kegiatan Pemerintah.

Lemahnya perencanaan anggaran juga diikuti dengan ketidakmampuan

Pemerintah Daerah dalam meningkatkan penerimaan Daerah secara

berkesinambungan yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat, sementara di

sisi lain pengeluaran pemerintah terus mengalami peningkatan, itu semua tidak

diikuti dengan penentuan skala prioritas dan besarnya plafon anggaran. Keadaan

tersebut akhirnya akan menimbulkan kemungkinan terjadi underfinancing atau

overfinancing, yang kesemuanya akan berdampak pada tingkat efisiensi dan

efektivitas Satuan Kerja Pemerintah Daerah.

Kondisi saat ini semakin lama kebutuhan akan tersajinya laporan keuangan

yang bersih harus segera terwujud, akuntabilitas keuangan juga semakin terusik

oleh masyarakat yang kritis. Selain itu juga masih sangat sedikit referensi yang

mengacu pada konsep ASB, sehingga banyak Pemerintah Daerah di Indonesia yang

belum menerapkan ASB. Ditambah juga dengan Penelitian tentang ASB masih jarang

dilakukan oleh para praktisi dan akademisi, atau sosialisasi ASB dari masing-masing

pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota juga masih kurang dan jarang.

Namun jika kita bercermin akan banyaknya produk hukum yang

mensyaratkan kepada Pemerintah Daerah untuk segera menyusun ASB sebagai

dasar untuk penyusunan APBD agar tercipta penganggaran berbasis kinerja serta

pengelolaan keuangan daerah yang ekonomis, efisien dan efektif, serta melihat

manfaat yang akan di dapatkan ketika menerapkan ASB sebagai dasar

23

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

penganggaran pada APBD maka diharapkan perlu segera membuat Analisis Standar Belanja. Melihat Kondisi Pemerintah Provinsi Jawa Timur saat ini sebagai salah satu Provinsi dengan kekuatan APBD Tahun 2014 sebesar 18,993 Triliun Nomer 2 (dua) dibawah Provinsi DKI Jakarta, dan sebagai Provinsi yang banyak menerima penghargaan dari Pemerintah Pusat karena Inovasinya dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah serta Laporan Keuangan dari BPK yang mendapatkan Predikat WTP 4 (empat) kali berturut-turut dari mulai tahun 2010,2011,2012 dan 2013, itu semua sudah barang tentu mengerucut dan berdampak kepada Provinsi Jawa Timur sebagai barometer pemerintahan nasional. Disamping itu juga pada tahun 2016 Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan menerapan anggaran berbasis kinerja kepada seluruh pegawai negeri sipil Pemerintah Provinsi Jawa Timur maka sudah sewajarnya jika salah satu prasyarat utama harus ada ASB. Selain itu juga kaitannya dengan adanya moratorium oleh MENPAN RI untuk 5 tahun kedepan yaitu tahun 2014-2019 akan berdampak semakin sedikitnya jumlah pegawai di Pemerintah Daerah, untuk Pemerintah Provinsi Jawa Timur sendiri diperkirakan jika tidak ada penambahan pegawai 5 tahun kedepan maka akan berkurang sebanyak 17.000 (tujuh belas ribu) orang pegawai. Dengan semakin sedikitnya jumlah pegawai tersebut, maka dahulu pekerjaan yang dapat dikerjakan beramai-ramai akan terpaksa dilakukan oleh segelintir orang saja, dan pekerjaan tersebut perlu didukung dengan payung yang dapat menjembatani hasil kerja dari pegawai tersebut dengan menetapkan kriteria keberhasilan kinerjanya. Sebagai salah satu hal yang urgent dan penting dalam menilai kinerja maka Analisis Standar Belanja WAJIB untuk segera dilaksanakan.

24

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

LAMPIRAN

1. PENERAPAN ASB DI PEMERINTAH KOTA BATU

ASB-01 PENYEDIAAN JASA SURAT MENYURAT

Deskripsi :

Penyediaan Jasa Surat Menyurat merupakan kegiatan untuk memenuhi

kebutuhan dalam pengiriman surat oleh pegawai di lingkungan satuan kerja

perangkat daerah.

Pengendali belanja (cost driver):

Jumlah Lembar dan Jumlah Tahun.

Satuan Pengendali belanja tetap (fixed cost):

= Rp 3.417.822,00 per kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost) :

= Rp 1.654,00 per jumlah lembar

Formula Perhitungan Belanja Total:

Belanja Tetap + Belanja Variabel

= Rp 3.417.822,00 + (Rp 1.654,00 x jumlah lembar x jumlah tahun)

Rentang Relevan :

Jumlah lembar surat antara 350 lembar sampai 6600 lembar

Jumlah tahun pengiriman 1 tahun

Alokasi Objek Belanja ASB-01 :

   

Batas

Rata-

Batas

No.

Keterangan

Bawah

Rata

Atas

1.

Belanja Jasa Habis Pakai

41%

83%

100%

2.

Belanja Jasa Kantor

11%

17%

23%

25

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

2.

PENERAPAN ASB DI PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

ASB -05 KAJIAN BERSAMA/DISKUSI/SARASEHAN

Deskripsi:

Kajian bersama/diskusi/sarasehan merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk

membahas masalah atau topik memperoleh masukan dengan melibatkan

orang/pihak lain yang dipandang memiliki kemampuan untuk ikut memecahkan

masalah atau meningkatkan kualitas topik yang dibahas. Pemilihan peserta

harus mempertimbangkan relevansi (kesesuaian) dan kapabilitas (kemampuan)

peserta dengan masalah atau topik tersebut dan bukan asal menghadirkan

orang agar hasil kajian yang diperoleh memiliki kualitas yang cukup baik.

Satuan kerja perangkat daerah harus mendeskripsikan secara singkat setiap

peserta sesuai dengan relevansi dan kapabilitasnya.

Pengendali belanja (cost driver):

Jumlah lembaga/peserta yang terlibat

Satuan Pengendali Belanja Tetap (Fixed Cost)

= Rp 5.400.000,00 per kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):

= Rp. 700.000,00 per Jumlah Lembaga/Peserta

Rumus Penghitungan Belanja Total:

Tarif Belanja Variabel x Jumlah Lembaga Peserta

= Rp. 5.400.000,00 + (700.000,00 x Jumlah Lembaga Peserta)i.

Alokasi Obyek Belanja ASB 05

No

Obyek Belanja

Batas

Rata-rata

Batas Atas

Bawah

(%)

(%)

1.

Belanja Honorarium

3,79%

12,29%

17,76%

2.

Belanja Bahan Material

0,22%

1,43%

4,02%

3.

Belanja Honorarium Non PNS

2,06%

69,56%

100,00%

4.

Belanja Cetak dan Penggandaan

0,39%

1,59%

3,92%

5.

Belanja Sewa

2,82%

2,82%

2,82%

6.

Belanja Makan dan Minum

0,98%

3,10%

6,56%

7.

Belanja Perjalanan Dinas

2,47%

9,20%

15,08%

26

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

3.

PENERAPAN ASB DI PEMERINTAH KABUPATEN PATI JAWA TENGAH

ASB - 02 PENANGANAN KASUS

Deskripsi:

Penanganan kasus merupakan kegiatan yang dilakukan oleh satuan

kerja perangkat daerah yang berwenang untuk melaksanakan/menyelesaikan

kasuskasus hukum/pengaduan yang terjadi.

Pengendali belanja (cost driver):

Jumlah kasus yang

ditangani.

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):

= Rp. 837.400,00 Per kegiatan.

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):

= Rp. 2.715.200,00 per Jumlah kasus yang ditangani

Rumus Penghitungan Belanja Total:

Belanja Tetap + Belanja Variabel

= Rp. 837.400,00 + (Rp. 2.715.200,00 x kasus yang ditangani).

Alokasi Obyek Belanja ASB-02:

No

Obyek Belanja

Batas

Rata-rata

Batas Atas

Bawah

(%)

(%)

1.

Honorarium

8,82%

22,55%

42,77%

2.

Belanja Bahan Pakai Habis

0,89%

2,77%

6,11%

3.

Belanja Cetak dan Penggandaan

0,30%

1,43%

4,19%

4.

Belanja Sewa

5,23%

32,53%

59,82%

5.

Belanja Makan Minum

1,15%

7,16%

26,92%

6.

Belanja Perjalanan Dinas

5,63%

33,55%

129,22%

27

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

DAFTAR PUSTAKA

Fatikhah R, Dewi Noor, “Kajian Analisis Standar Belanja Pemerintah Kota Batu”, Universitas Brawijaya Malang. Pusat Studi Eknomi dan Kebijakan Publik, 2009, Penyusunan Standar Analisis Standar Belanja, pengalaman praktis di Pemerintah Daerah”, UGM, Yogyakarta.

28

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

29

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

30

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

31

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

32

UPT LPKD Provinsi Jawa Timur

LABORATORIUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR Jl Sikatan No 10 Suraba a

Saran dan Informasi :
Saran dan Informasi :
Jawa Timur LABORATORIUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR Jl Sikatan No 10 Suraba a Saran
Jawa Timur LABORATORIUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR Jl Sikatan No 10 Suraba a Saran