Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

ILMU SOSIAL DAN BUDAHA


“ Cara Pendekatan Sosial Budaya
dalam Praktik Kebidanan“

Disusun Oleh :
“ Agusma Hestia Wati “

NIM 17.01.580

AKADEMI KEBIDANAN BUDI MULIA


TAHUN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah ini
dapat diselesaikan. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah umum Ilmu Sosial
dan Budaya. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi
penulis pada khususnya dan bagi semua kalangan pada umumnya. Penulis membuat makalah
ini dari kumpulan buku, dan internet sebagai pedoman membuat makalah.
Ilmu Sosial dan budaya masih sangat diperlukan untuk menumbuhkan rasa kecintaan
terhadap masyarakat yang berbudaya, khususnya terhadap masyarakat dalam perkawinan,
kehamilan, persalinan nifas, dan bayi yang baru lahir.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dosen Mata Kuliah Ilmu Sosial dan Budaya
,teman mahasiswa yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan motivasi dalam
pengembangan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan
dan perlu ditingkatkan lagi mutunya. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak
yang membangun sangat diharapkan.

Jambi, 2018
Penulis,

ii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................................................... ii

Daftar Isi ............................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1


B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Pendekatan Melalui agama ..................................................................................... 2


a. Upaya Pemeliharaan Kesehatan ........................................................................ 2
b. Upaya Pencegahan Penyakit ............................................................................. 2
c. Upaya Pengobatan Penyakit ............................................................................. 3
B. Pendekatan Melalui Kesenian Tradisional.............................................................. 4
a. Apresiasi Seni .................................................................................................. 8
b. Peranan Seni ..................................................................................................... 8
c. Kesneian Sebagai Media Penyuluhan Kesehatan ............................................ 9
d. Kesneian Sebagai Seni Terapi.......................................................................... 9
C. Pendekatan Dalam Sistem Pesantren ...................................................................... 12
a. Pengertian......................................................................................................... 12
b. Tujuan Dan Sarana Pondok Pesantren ............................................................. 12

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ............................................................................................................. 13
B. Saran ....................................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aspek sosial dan budaya sangat mempengaruhi pola kehidupan manusia. Di era
globalisasi sekarang ini dengan berbagai perubahan yang begitu ekstrim menuntut semua
manusia harus memperhatikan aspek sosial budaya. Salah satu masalah yang kini banyak
merebak di kalangan masyarakat adalah kematian ataupun kesakitan pada ibu dan anak yang
sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam
masyarakat dimana mereka berada.
Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-
konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara makanan dan kondisi
sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali membawa dampak baik positif maupun
negatif terhadap kesehatan ibu dan anak.
Menjadi seorang bidan bukanlah hal yang mudah. Seorang bidan harus siap fisik maupun
mental, karena tugas seorang bidan sangatlah berat. Bidan yang siap mengabdi di kawasan
pedesaan mempunyai tantangan yang besar dalam mengubah pola kehidupan masyarakat
yang mempunyai dampak negatif tehadap kesehatan masyarakat. Tidak mudah mengubah
pola pikir ataupun sosial budaya masyarakat. Apalagi masalah proses persalinan yang umum
masih banyak menggunakan dukun beranak.
Ditambah lagi tantangan konkret yang dihadapi bidan di pedesaan adalah kemiskinan,
pendidikan rendah, dan budaya. Karena itu, kemampuan mengenali masalah dan mencari
solusi bersama masyarakat menjadi kemampuan dasar yang harus dimiliki bidan.
Untuk itu seorang bidan agar dapat melakukan pendekatan terhadap masyarakat perlu
mempelajari sosial-budaya masyarakat tersebut, yang meliputi tingkat pengetahuan
penduduk, struktur pemerintahan, adat istiadat dan kebiasaan sehari-hari, pandangan norma
dan nilai, agama, bahasa, kesenian, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan wilayah tersebut.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari pendekatan social budaya dalam praktik kebidanan ?
2. Bagaimana cara bidan melaksanakan pendekatan social budaya dalam lingkupan agama,
kesenian tradisional, dan dalam lingkungan pondok pesantren?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendekatan Melalui Agama


Agama dapat memberikan petunjuk/pedoman pada umat manusia dalam menjalani hidup
meliputi seluruh aspek kehidupan. Selain itu agama juga dapat membantu umat manusia
dalam memecahkan berbagai masalah hidup yang sedang dihadapi. Adapun aspek-aspek
pendekatan melalui agama dalam memberikan pelayanan kebidanan dan kesehatan
diantaranya :
1. Agama memberikan petunjuk kepada manusia untuk selalu menjaga kesehatannya.
2. Agama memberikan dorongan batin dan moral yang mendasar dan melandasi cita-cita
dan perilaku manusia dalam menjalani kehidupan yang bermanfaat baik bagi dirinya,
keluarga, masyarakat serta bangsa.
3. Agama mengharuskan umat manusia untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa dalam segala aktivitasnya
4. Agama dapat menghindarkan umat manusia dari segala hal-hal/perbuatan yang
bertentangan dengan ajarannya.

Berbagai aspek agama dalam memberikan pelayanan kesehatan terdiri dari upaya-upaya
pelayanan kesehatan yang ditinjau dari segi agama, diantaranya :
a. Upaya pemeliharaan kesehatan
Upaya dini yang dilakukan dalam pemeliharaan kesehatan dimulai sejak ibu hamil yaitu
sejak janin di dalam kandungan. Hal tersebut bertujuan agar bayi yang dilahirkan dalam
dari berbagai penyakit dan kecacatan. Ada beberapa langkah yang dapat memberikan
tuntunan bagi umat manusia untuk memelihara kesehatan yang dianjurkan oleh agama
antara lain :
1. Makan makanan yang bergizi
2. Menjaga kebersihan (Hadist mengatakan : kebersihan sebagian dari iman)
3. Berolah raga
4. Pengobatan diwaktu sakit

b. Upaya pencegahan penyakit


Dalam ajaran agama pencegahan penyakit lebih baik dari pada pengobatan di waktu
sakit. Adapun upaya-upaya pencegahan penyakit antara lain:

2
1. Dengan pemberian imunisasi
Imunisasi dapat diberikan kepada bayi dan balita, ibu hamil, WUS, murid SD kelas 1
sampai kelas 3.
2. Pemberian ASI pada anak sampai berusia 2 tahun (Surah Al-Baqarah ayat 233). Ayat
tersebut pada dasarnya memerintahkan seorang ibu untuk menyusui bayinya dengan
ASI sampai ia berusia 2 tahun.
3. Memberikan penyuluhan kesehatan. Dapat dilakukan pada kelompok pengajian, atau
kelompok-kelompok kegiatan keagamaan lainnya.

c. Upaya pengobatan penyakit


Nabi saw bersabda : ” Bagi setiap penyakit yang diturunkan Allah, ada obat yang
diturunkan-Nya.”Dalam hati ini umat manusia dinjurkan untuk berobat jika sakit.
Pandangan agama (agama Islam) terhadap pelayanan Keluarga Berencana. Ada dua
pendapat mengenai hal tersebui yaitu memperbolehkan dan melarang penggunaan alat
kontrasepsi. Karena ada beberapa ulama yang .mengatakan penggunaan alat kontrasepsi
itu adalah sesuatu/hal yang sangat bertentangan dengan ajaran agama karena berlawanan
dengan takdir/kehendak Allah. Pendapat/pandangan agama (agama Islam) dalam
pemakaian IUD. Ada dua pendapat yaitu memperbolehkan / menghalalkan dan melarang
/ mengharamkan.
Pendapat / pandangan agama yang memperbolehkan/menghalalkan pemakaian
kontrasepsi IUD :
a. Pemakaian IUD bertujuan menjarangkan kehamilan.
Dengan menggunakan kontrasepsi tersebut keluarga dapat merencanakan jarak
kehamilan sehingga ibu tersebut dapat menjaga kesehatan ibu, anak dan keluarga
dengan baik.
b. Pemakaian IUD bertujuan menghentikan kehamilan
Jika didalam suatu keluarga memiliki jumlah anak yang banyak, tentunya sangat
merepotkan dan membebani perekonomian keluarga. Selain itu bertujuan
memberikan rasa aman kepada ibu. Karena persalinan dengan factor resiko/resiko
tinggi dapat mengancam keselamatan jiwa ibu. Agar ibu dapat beristirahat waktu
keseharian ibu tidak hanya digunakan untuk mengurusi anak dan keluarga.

3
Pendapat/pandangan agama yang melarang/mengharamkan pemakaian kontrasepsi IUD :
a. Pemakaian IUD bersifat aborsi, bukan kontrasepsi
b. Mekanisme IUD belum jelas, karena IUD dalam rahim tidak menghalangi pembuahan
sel telur bahkan adanya IUD sel mani masih dapat masuk dan dapat membuahi sel
telur (masih ada kegagalan).
c. Pemakaian IUD dan sejenisnya tidak dibenarkan selama masih ada obat-obatan dan
alat lainnya.

Pelayanan kotrasepsi system operasi yaitu MOP dan MOW juga mempunyai dua
pendapat/pandangan yaitu memperbolehkan dan melarang. Pendapat/pandangan yang
memperbolehkan:
a. Apabila pasangan suami istri dalam keadaan yang sangat terpaksa dalam kaedah
hukum (Islam) mengatakan ” Keadaan darurat memperbolehkan hal-hal yang
dilarang dengan alasan kesehatan/keselamatan jiwa “
b. Begilu. juga halnya mengenai melihat aura orang lain apabila diperlukan untuk
kepentingan pemeriksaan dan tindakan hal tersebut dapat dibenarkan.

Pandangan/pendapat yang melarang :


a. Sterilisasi berakhir dengan kemandulan. Hal ini bertentangan dengan tujuan utama
perkawinan yang mengatakan bahwa perkawinan bertujuan untuk mendapatkan
kebahagiaan dunia dan akhirat juga untuk mendapatkan keturunan.
b. Mengubah ciptaan Tuhan dengan cara memotong atau mengikat sebagian tubuh yang
sehat dan berfungsi (saluran mani/tuba).
c. Dengan melihat aura orang lain.

B. Pendekatan Melalui Kesenian Tradisional


Bidan adalah seorang wanita yang tlah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan. Lulus
dengan persyaratan yang ditelah ditetapkan dan memperoleh kualifikasi untuk registrasi dnn
memperole izin untuk melaksanakan praktik kebidanan.
Praktik Bidan adalah serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh
bidan kepada pasien (individu, keluarga dan masyarakat) sesuai dengan kewenangan dan
kemampuannya.
Rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan saat ini dihadapkan pada masyarakat
yang lebih terdidik,dan mampu memberi pelayanan kesehatan yang di tawarkan atau

4
dibutuhkan oleh masyarakat. Masyarakat mengiginkan pelayanan kesehatan yang murah,
nyaman,sehingga memberi kepuasan ( sembuh dengan cepat dengan pelayanan yang baik ).
Rumah sakit perlu mengembangkan suatu sistem pelayanan yang didasarkan pada pelayanan
yang berkualitas baik, biaya yang dapat dipertanggung jawabkan dan diberikan pada waktu
yang cepat dan tepat. Rumah sakit sebagai suatu institusi pelayanan kesehatan, dalam
memproduksi jasa pelayanan kesehatan ( pelayanan medis dan pelayanan kebidanan), untuk
masyarakat menggunakan berbagai sumber daya seperti ketenanagaan, mesin, bahan,
fasilitas, modal, energi dan waktu.
Pelayanan praktik kebidanan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan
rumah sakit. Oleh karena itu, tenaga bidan bertanggung jawab memberikan pelayanan
kebidanan yang optimal dalam meningkatkan dan mempertahankan mutu pelayanan
kebidanan yang diberikan selama 24 jam secara berkesinambungan. Bidan harus memiliki
keterampilan professional, ataupun global. Agar bidan dapat menjalankan peran fungsinya
dengan baik, maka perlu adanya pendekatan sosial budaya yang dapat menjembatani
pelayanannya kepada pasien.
Program pelayanan kebidanan yang optimal dapat dicapai dengan adanya tenaga bidan
yang professional dan dapat diandalkan dalam memberikan pelayanan kebidanannya
berdasarkan kaidah-kaidah profesi yang telah ditentukan,seperti memiliki berbagai
pengetahuan yang luas mengenai kebidanan, dan diterapkan oleh para bidan dalam
melakukan pendekatan asuhan kebidanan kepada masyarakat.
Bidan dapat menunjukan otonominya dan akuntabilitas profesi, melalui pendekatan
sosial dan budaya yang akurat. Terdapat beberapa bentuk pendekatan yang dapat digunakan
atau diterapkan oleh para bidan dalam melakukan pendekatan asuhan kebidanan kepada
masyarakat misalnya paguyuban, kesenian tradisional, agama dan sistem banjar. Hal tersebut
bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam menerima, bahwa pelayanan atau informasi
yang diberikan oleh petugas, bukanlah sesuatu yang tabu tetapi sesuatu hal yang nyata atau
benar adanya.
Dalam memberikan pelayanan kebidanan, seorang bidan lebih bersifat :

1. Promotif, bidan yang bersifat promotif berarti bidan berupaya menyebarluaskan


informasi melalui berbagai media Metode penyampaian, alat bantu, sasaran, media,
waktu ideal, frekuensi, pelaksana dan bahasa serta keterlibatan instansi terkait
maupun informal leader tidaklah sama di setiap daerah, bergantung kepada dinamika
di masyarakat dan kejelian kita untuk menyiasatinya agar informasi kesehatan bisa

5
diterima dengan benar dan selamat. Penting untuk diingat bahwa upaya promotif tidak
selalu menggunakan dana negara, adakalnya diperlukan adakalanya tidak. Selain itu,
penyebaran informasi hendaknya dilakukan secara berkesinambungan dengan
memanfaatkan media yang ada dan sedapat mungkin dikembangkan agar menarik dan
mudah dicerna. Materi yang disampaikan seyogyanya selalu diupdate seiring dengan
perkembangan ilmu kesehatan terkini.
2. Preventif berarti bidan berupaya pencegahan semisal imunisasi, penimbangan balita di
Posyandu dll. Kadang ada sekelompok masyarakat yang meyakini bahwa bayi berusia
kurang dari 35 hari (jawa: selapan) tidak boleh dibawa keluar rumah.
3. Kuratif berarti bidan tidak dikehendaki untuk mengobati penyakit
terutama penyakit berat.
4. Rehabilitatif berarti bidan melakukan upaya pemulihan kesehatan, terutama bagi
pasien yang memerlukan perawatan atau pengobatan jangka panjang.

Serta seorang bidan juga harus mampu menggerakkan Peran serta Masyarakat khususnya,
berkaitan dengan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, bufas, bayi baru lahir, anak remaja dan
usia lanjut. Seorang bidan juga harus memiliki kompetensi yang cukup berkaitan dengan
tugas, peran serta tanggung jawabnya. Agar bidan dapat menjalankan praktik atau pelayanan
kebidanan dengan baik,hendaknya bidan melakukan beberapa pendekatan misalnya
pendekatan melalui kesenian tradisional.
pengertian dari seni pada mulanya berasal dari kata Ars (latin) atau Art (Inggris) yang artinya
kemahiran.Tetapi beberapa juga ada yang mengatakan bahwa kata seni berasal dari bahasa
belanda yang artinya genius atau jenius. Sementara kata seni sendiri dalam bahasa Indonesia
berasal dari kata sangsekerta yang berarti pemujaan atau persembahan. Namun dalam bahasa
tradisional jawa, seni mempunyai rti Rawit pekerjaan yang rumit – rumit / kecil. Dibawah ini
terdapat beberapa hal tentang seni baik pendapat dari para ahli budaya,maupun arti kesenian
secara umum.
a. Seni menurut para ahli budaya

 Drs. Popo Iskandar

Seni adalah suatu hasil dari ungkapan emosi yang ingin disampaikan oleh seseorang
kepada orang lain dalam kesadaran hidup bermasyarakat / berkelompok.

6
 Ahdian karta miharja

Seni adalah kegiatan rohani yang merefleksikan suatu realitas dalam suatu karya
seni yang bentuk dan isinya, mempunyai kemampuan untuk membangkitkan
pengalaman tertentu dalam rohani penerimanya.Dan menurut beliau Kesenian
Merupakan produk dari manusia sebagai homeostetiskus. Setelah manusia merasa
cukup atau dapat mencukupi kebutuhan fisiknya, maka manusia tersebut perlu dan
akan selalu mencari pemuas untuk memenuhi kebutuhan psikisnya. Manusia semata-
mata tidak hanya memenuhi isi perut, tetapi perlu juga memenuhi pandangan indah
serta suara merdu, semua kebutuhan manusia tersebut dapat dipenuhi melalui kesenian.

b. Kesenian secara umum


Secara umum kesenian dikenal dengan suatu rasa keindahan karena diperuntukkan guna
melengkapi kesejahteraan hidup manusia. Rasa keindahan yang dirasakan oleh seseorang
tersebut, dapat dimiliki dan disalurkan oleh setiap orang ke orang lain lagi.
c. Kesenian tradisional
Kesenian tradisional adalah kesenian yang dipegang teguh pada norma dan adat
kebiasaan,yang ada secara turun menurun atau kesenian baru,hasil dari pengembangan
kebudayaannya.

Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang di anugerahi pikiran, perasaan dan
kemauan secara naluriah. Memerlukan prantara budaya, untuk menyatakan rasa seninya, baik
secara aktif dalam kegiatan kreatif, maupun secara pasif dalam kegiatan apresiatif. Maksud
dari menyatakan rasa seni secara aktif adalah seseorang jika memiliki suatu rasa seni, harus
dikembangkan atau diapresikan kepada orang lain agar bermanfaat bagi orang lain. Agar rasa
seni tersebut dapat disalurkan atau diberikan kepada orang lain supaya rasa seni yang dimiliki
dapat bermanfaat bagi orang lain.
Dalam kegiatan apresiatif, maksudnya yaitu mengadakan suatu pendekatan terhadap
kesenian seolah – olah kita memasuki suatu alam rasa yang kasat mata. Kesenian sebagai
karya kasat mata, perwujudannya itu adalah merupakan wadah seseorang dalam pembabaran
ide yang bersifat batiniah dalam mengadakan pendekatan terhadap kesenian seluruh panca
indera kita, khususnya penglihatan, perabaan dan perimbangan kita terlibat dengan asiknya
terhadap bentuk kesenian itu yang terdiri dari aneka warna, garis, bidang, tekstur dan

7
sebagainya, yang bersifat lahiriah untuk lebih jauh menghayati isi yang terbabar dalam karya
kesenian itu, serta ide yang melatar belakangi kehadirannya.
Maka itu dalam mengadakan pendekatan terhadap kesenian, kita tidak cukup hanya
bersimpati terhadap kesenian itu, tetapi lebih dari itu yaitu secara empati. Empati berasal dari
kata yunani berarti merasa sama. Jadi dalam menghayati suatu karya seni secara empati
berarti kita menempatkan diri kita ke dalam karya seni itu.

a. Apresiasi Seni

Apresiasi Seni adalah kesadaran akan nilai seni yang meliputi pemahaman dan
kemampuan untuk menghargai karya seni, seseorang yang memiliki rasa apresiasi seni berarti
orang tersebut memiliki kesadaran akan nilai dari sebuah karya seni sehingga orang tersebut
mampu menghargai karya seni tersebut.
Yang menjadi sumber apresiasi seni adalah :
a. Kepekaan eksistensi yang berkembang pada diri masing-masing, yang tidak disadari
sesuai dengan lingkungan yang membinanya.
b. Pengetahuan kesenian yang meliputi pengetahuan mengenai karya seni, sejarah seni,
perkembangan kesenian dan estetika manusia. Hakikat karya seni adalah wujud dari hasil
dan usaha untuk mengungkapkan gagasan persepsi citreu pemecahan bentuk dan
penemuan-penemuan baru. Hakekat karya seni adalah wujud dari hasil dan usaha.

b. Peranan Seni
Seni memliki beberapa peranan, diantaranya :

a. Seni sebagai kebutuhan.

Seni sebagai kebutuhan berarti seni merupakan salah satu dari beberapa kebutuhan bagi
manusia yang perlu dipenuhi. Dalam memenuhi kebutuhan hidup maka manusia melengkapi
dirinya dengan berbagai perlengkapan dan peralatan sebagai penunjang atau pelengkap untuk
penyempurnaan pekerjaannya.

b. Seni sebagai ungkapan gagasan dan alat komunikasi


Sejarah telah mencatat akan prestasi-prestasi kesenian dalam peranannya membentuk
sikap budi manusia. Karya-karya seni pada zaman primitif merupakan alat-alat yamg mampu
menimbulkan suasana magis dan misterius dalam pemujaan serta kehidupan pada waktu itu.

8
Juga karya-karya kesenian klasik yang puitik heroik maupun karya-karya modern,
kesemuanya memberi pengaruh yang besar dalam peradaban manusia.
Secara keseluruhan kesenian hanyalah ditujukan untuk kebahagiaan manusia, baik
kebahagiaan manusia secara materi maupun spirituil. Kesenian diciptakan oleh manusia
untuk melengkapi kebahagiaan manusia seluruhnya. Ternyata seni mempunyai peranan
dalam kehidupan manusia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hasrat mengungkapkan
atau menyatakan perasaan pribadi mengenai aspek-aspek pokok kehidupan sehari-hari
tentang kelahiran, cinta, perkawinan, iri hati, kematian dan lain-lainnya.
Disamping memenuhi kebutuhan dalam hubungan kegiatan sosial kita mengenai situasi
politik, ekonomi, kepercayaan, menyatakan keinginan atau tujuan bersama, menyusun
komunikasi antar individu, mempengaruhi situasi masyarakat dan lain-lainnya. Juga
memenuhi kebutuhan fisik seperti gedung, alat pengangkutan, alat penyimpanan, bahan
pembungkus. Jadi peranan seni dalam kehidupan manusia merupakan suatu cara atau usaha
hasil budi manusia untuk mencapai tujuan, kebahagiaan atau kesejahteraan. Inilah kenyataan
tentang suatu gejala aktivitas manusia yang dinamakan SENI.

b. Kesenian sebagai media penyuluhan kesehatan


Dalam penyuluhan kesehatan maupun dalam praktik kebidanan, seni dapat digunakan
sebagai media dalm melakukan pendekatan kepada masyarakat, Seorang petugas bisa
menyelipkan pesan-pesan kesehatan didalamnya, misalnya:
 Dengan Kesenian wayang kulit
Melalui pertunjukan ini diselipkan pesan-pesan kesehatan yang ditampilkan di awal
pertunjukan dan pada akhir pertunjukan, dapat diisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang
berkaitan dengan pesan-pesan yang telah disampaikan di awal pertunjukan atau
pertanyaan – prtanyaan yang diberikan oleh penonton.
 Menciptakan lagu-lagu berisikan tentang permasalahan kesehatan dalam bahasa daerah
setempat.

c. Kesenian sebagai seni terapi


Kesenian sebagai terapi pada kejiwaan,sebagai pelipur rala. Kita ketahui kehidupan
zaman sekarang ini permasalahan semakin kompleks, tubuh dan jiwa manusia mempunyai
batas untuk dapat mengatasinya. Untuk itu dengan seni diharapkan akan memberikan dampak

9
positif dalam mengatasi stress tersebut baik stres fisik maupun batin. Misalnya dengan
menyanyi, menciptakan lagu, seni memahat patung, dll.

d. Pendekatan melalui Paguyuban dan sistem Banjar


a. Pendekatan dalam sistem Banjar
Bentuk kesatuan sosial yang berdasarkan kesatuan wilayah ialah,desa .
Kesatuan - kesatuan sosial yang diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara - upacara
keagamaan yang keramat. Pada umum nya tampak beberapa perbedaan antara desa
dipegunungan dan desa adat ditanah datar . menjadi warga desa adat dan mendapat tempat
duduk yang khas dibalai desa yang disebut Bale Agung, dan berhak mengikuti rapat - rapat
desa yang diadakan secara teratur pada hari tetap.

Cara Cara Pendekatan Bidan dalam wilayah Banjar Bali


Para bidan mempunyai berbagai cara untuk pendekatan diantara nya :

1. menggerakan dan membina peran serta masyarat dalam bidang kesehatan dengan
melakukan penyuluhan kesehatan sesuai kebutuhan dan masalah kesehatan setempat .
2. Pemerintah memberikan ,menerapkan dan menjalalnkan PosKesDes (pos kesehatan
Desa) yang ditujukan kepada seluruh masyarakat setempat sampai kedaerah
pedalaman.
3. Penyuluhan kesehatan masyarakat ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat.
4. Membina dan memberikan bimbingan (peran bidan sebagai pendidik).Bersama
sampai Kelas 3.

b. Pendekatan dalam sistem Paguyuban


Paguyuban adalah suatu kelompok atau masyarakat yang diantara para warganya di
warnai dengan hubungan sosial yang penuh rasa kekeluargaan , bersifat batiniah dan kekal
serta jauh dan pamri- pamri ekonomi.

Pelayanan Kebidanan dengan pendekatan paguyuban


Dalam rangka peningkatan kualitas dan mutu pelayanan kebidanan diperlukan
pendekatan - pendekatan khususnya paguyuban. untuk itu kita sebagai tenaga kesehatan
khusisnya calon bidan agar mengetahui dan mampu melaksanakan berbagai upaya untuk

10
meningkatan peran aktif masyarakakt agar masyarakat sadar pentingnya kesehatan. misalnya
saja denagn mengadakan kegiatan posyandu di puskesmas .

Ciri - ciri Paguyuban

 Intimate : hubungan menyeluruh yang mesra


 Private : hubungan bersifat pribadi .
 Exclusive : bahwa hubungan tersebut hanyalah untuk "kita" saja dan tidak untuk
orang lain diluar kita.

Ciri - Ciri umum

1. adanya hubungan perasaan kasih sayang


2. adanya kenginan untuk meningkatkan kebersamaan
3. Hubungan kekeluargaan masih kental
4. sifat gotong royong masih kuat

Tipe Paguyuban
Memiliki tiga tipe di masyarakat yaitu :

1. Paguyuban karena ikatan darah Yaitu paguyuban berdasarkan keturunan. contoh


kelompok kekeluargaan,keluarga besar.
2. Paguyuban karena tempat Yaitu paguyuban yang terdiri dari orang yang berdekatan
tempat tinggal.Contoh arisan RT,RW,dan karang taruna.
3. Paguyuban karena jiwa pikiran Yaitu paguyuban yang terdiri dari orang - orang yang
tidak punya hubungan darah atau tempat tinggalnya tidak berdelatan tetapi mereka
mempunyai jiwa dan pikiran yang sama. contohnya organisasi.

Dalam rangka peningkatan kualitas dan mutu pelayanan kebidanan diperlukan


pendekatan-pendekatan khususnya paguyuban.untuk itu kita sebagai tenaga kesehatan
khususnya calon bidan agar mengetahui dan mampu melaksanakan berbagai upaya untuk
meningkatkan peran aktif masyarakat agar masyarakat sadar pentingnya
kesehatan.misalnya saja dengan mengadakan kegiatan posyandu di puskesmas
puskesmas

11
C. Pendekatan Dalam Sistem Pesantren
a. Pengertian
Pondok pesantren adalah lembaga Pendidikan Islam yang menggembangkan fungsi
pedalaman agama, kemasyarakatan dan penyiapan sumber daya manusia.
b. Tujuan Dan Sasaran Pondok Pesantren
Bidan harus memiliki keterampilan professional agar dapat memberikan pelayanan
kebidanan yang bermutu untuk memenuhi tuntutan kebutuhan rasional, agar bidan dapat
menjalankan peran fungsiya dengan baik maka perlu adanya pendekatan social budaya
yang dapat menjembati pelayanan pasien. Tercapainya pelayanan kebidanan yang
optimal, perlu adanya tenaga bidan yang professional dan dapat diandalkan dalam
memberikan pelayanan kebidanan berdasarkan kaidah-kaidah profesi, antara lain
memiliki pengetahuan yang kuat, menggunakan pendekatan asuhan kebidanan. Bidan
dapat menunjukan otonominya dan akuntabilitas profesi melalui pendekatan sosial dan
budaya yang kuat. Bentuk-bentuk pendekatan yang dapat digunakan oleh bidan dalam
pelayanan kesehatan sebagai berikut
a. pendekatam social
b. survai mawas diri
c. musyawarah masyarakat pondok pesantren
d. pelatihan
e. pelaksanaan kegiatan
f. pembinaan

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan islam yang mengembangkan fungsi


pendalaman agama, kemasyarakatan dan penyiapan sumber daya manusia. Melalui
pedidikan agama, pendidikan formal, pendidikan kesenian.
 Tujuan umum : tercapainya pengembangan dan pemantapan kemandirian pondok
pesantren dan masyrakat sekitar dalam bidang kesehatan.
 Tujuan khusus : tercapainya pengertian positif pondok pesantren dan masyarakat
sekitarnya tentang norma hidup sehat, meningkatkan peran serta pondok pesantren
dalam menyelenggarakan upaya kesehatan, terwujudnya keteladanan hidup sehat di
lingkungan pondok pesantren.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bidan sebagai salah seorang anggota tim kesehatan yang terdekat dengan masyarakat,
mempunyai peran yang sangat menentukan dalam meningkatkan status kesehatan
masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak di wilayah kerjanya.
Seorang bidan harus mampu menggerakkan peran serta masyarakat khususnya, berkaitan
dengan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, bufas, bayi baru lahir, anak remaja dan usia lanjut.
Seorang bidan juga harus memiliki kompetensi yang cukup berkaitan dengan tugas, peran
serta tanggung jawabnya. Agar bidan dapat menjalankan praktik atau pelayanan kebidanan
dengan baik, hendaknya bidan melakukan beberapa pendekatan misalnya pendekatan melalui
kesenian tradisional.

B. Saran
Bidan perlu mempelajari sosial-budaya masyarakat wilayah kerjanya, yang meliputi
tingkat pengetahuan penduduk, struktur pemerintahan, adat istiadat dan kebiasaan sehari-hari,
pandangan norma dan nilai, agama, bahasa, kesenian, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan
wilayah tersebut.

13
DAFTAR PUSTAKA

George M. Foster dan Barbara Galatin Anderson. Antropologi Kesehatan. UI Press. Jakarta
1986
Depkes RI, MA 103, Ilmu Sosial Budaya Dasar. Untuk Prog Bidan Pusdiknakes. Jakarta
1996.
Nasrul Effendi. Drs. Perawatan Kesehatan Masyarakat, EGC. Jakarta 19
Sosial budaya dasar, Syafrudin, SKM,M.Kes
www.google.com

14