Anda di halaman 1dari 17
SEKRETARIAT P3MD KABUPATEN KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT Jl. Kopral Rahman Hilir Kantor, Kec. Putussibau Utara

SEKRETARIAT P3MD KABUPATEN KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT Jl. Kopral Rahman Hilir Kantor, Kec. Putussibau Utara Kab. Kapuas Hulu Kalimantan Barat

HP/WA. 081280503764 E-Mail: stephanus_mulyadi@yahoo.de

twitter: @S1966M

Pengantar

Analisa berikut ini bertujuan untuk memotret implementasi pengarusutamaan Pelayanan So- sial Dasar melalui kegiatan PSD pada beberapa bidang terpilih, yaitu kegiatan terkait PAUD, TPA, Perpustakaan, Sanggar, Kursus Computer, Kursus Keterampilan, Peningkatan Akses Pada PSD, POSYANDU, PUSKESDES, POLINDES, Penyandang Cacat, Alat Kesehatan, Air Bersih (Sumur), Air Bersih (Pipanisasi), Mck Dan Penampung Air Hujan (PAH).

Analisa akan dilakukan dengan mengikuti beberapa pertanyaan pemandu berikut :

1.

Apakah bidang PSD masuk dalam APBDes?

2.

apakah kegiatan PSD di APBDes direalisasikan sesuai rencana?

3.

persentase kegiatan pada masing-masing bidang terpilih?

4.

kegiatan bidang PSD apa saja yang paling banyak dilaksanakan di desa?

5.

Berapa banyak jumlh penerima manfaat dari kegiatan tersebut (L/P) dan ARTM

Hasil analisa ini diharapkan dapat:

1. Memberikan gambaran tentang implementasi pengarusutamaan Pelayanan Sosial Dasar melalui kegiatan bidang PSD di Kapuas Hulu.

2. Menjadi referensi bagi desa dan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu dan pihak-pihak terkait lainnya, dalam rangka meningkatkan kuantitas dan kualitas PSD dan pengembangan SDM di desa.

Bahan analisa bersumber dari Data SIPEDE KABUPATEN KAPUAS HULU 2017 yang diinput oleh Pendamping Desa dan sudah divalidasi oleh Tenaga Ahli terkait. Sehingga data ini dapat dijadikan referensi yang memadai oleh semua pihak yang membutuhkan, dan bisa dipakai sebagai bahan riset ilmiah.

Stephanus Mulyadi, S.S., M.Sc TA`PSD P3MD Kapuas Hulu

Pendahuluan

Pendahuluan

Gambaran Umum Wilayah

Kabupaten Kapuas Hulu, secara astronomis berada pada 0,5º Lintang Utara sampai 1,4º Lintang Selatan dan 111,40º sampai 114,10º Bujur Timur dengan ibukota Putussibau. Kabupaten Kapuas Hulu merupakan kabupaten paling timur di Kalimantan Barat dengan luas wilayah 29.842 kilometer persegi.

1.1 Gambaran wilayah

Kabupaten Kapuas Hulu memiliki wilayah admin- istratif seluas 31.162 kilometer persegi, dengan pem- bagian wilayah administratif sebanyak 278 desa dan 4 kelurahan. Tahun 2017 penduduk kabupaten yang terletak di uncak sungai Kapaus dan di perbatasan Malaysia ini berjumlah 237.599 jiwa. Delapan puluh persen penduduk memiliki matapencaharian sebagai petani, berkebun karet dan nelayan, dan tinggal di pedesaan. Cukup memprihatinkan, bahwa kabupaten yang memiliki 2 Taman Nasional dan dijuluki pau- paru dunia ini, sampai tahun 2017 masih masuk kate- gori sebagai Kabupaten Tertinggal. Status tersebut tergambar dari keadaan 278 desa yang dimiliki kabu- paten ini, di mana 152 desanya masuk kategori IDM sebagai desa sangat tertinggal, 109 desa masuk kate- gori tertinggal dan hanya 17 desa yang masuk katgori Desa berkembang, tanpa Desa Maju dan desa Man- diri. Pada tahun 2017 terdapat 25.145 jiwa (10,58 persen) penduduk miskin di Kabupaten KapuasHulu.

Pada tahun yang sama kabupaten ini juga dihadapkan pada masalah kurang gizi pada anak, yang berakibat pada rendahnya daya tahan anak terhadap berbagai penyakit dan terhambatnya pertumbuhan anak. Peta wilayah terdampak akibat kekurangan gizi menurut kecamatan dapat dilihat pada grafik berikut ini.

pertumbuhan anak. Peta wilayah terdampak akibat kekurangan gizi menurut kecamatan dapat dilihat pada grafik berikut ini.
pertumbuhan anak. Peta wilayah terdampak akibat kekurangan gizi menurut kecamatan dapat dilihat pada grafik berikut ini.
pertumbuhan anak. Peta wilayah terdampak akibat kekurangan gizi menurut kecamatan dapat dilihat pada grafik berikut ini.
pertumbuhan anak. Peta wilayah terdampak akibat kekurangan gizi menurut kecamatan dapat dilihat pada grafik berikut ini.

1.2 Dana Desa

Sesuai dengan substansi dari Undang-Undang No

6 tahun 2014 tentang Desa, yaitu untuk

memberikan otonomi yang lebih besar kepada

desa, agar dapat leluasa berkreasi guna

mewujudkan desa sejahtera dan mandiri,

Pemerintahan Presiden Jokowidodo

memberikan Dana Desa (DD) langsung kepada

Desa.

Tujuan dari DD adalah sebagai wujud dari

pengakuan negara atas otonomi desa, untuk

meningkatkan pelayanan publik di desa,

mengentaskan kemiskinan, memajukan

perekonomian desa, mengatasi kesenjangan

pembangunan antardesa, serta memperkuat

masyarakat desa sebagai subjek pembangunan.

Pada tahun 2017 Kabupaten Kapuas Hulu

menerima DD sebesar Rp. 228,933,717,000 (data

DPMD KH 2018). Dana tersebut digunakan untuk

pembangunan fisik sebesar 84.85%, untuk

pemberdyaan sebesar 10.89% dan untuk

penyelenggaraan pemerintahan desa dan

pembinaan kemasyarakatn sebesar 4.25%.

Bagian 2: Bidang Pelayanan Sosial Dasar

Bidang Pelayanan Sosial Dasar (PSD) merupakan salah satu bidang yang menjadi prioritas dari penggunaan Dana Desa. Menjadi prioritas karena bidang PSD langsung menyentuh hak-hak dasar masyarakat, terutama masyarakat yang terkait erat dengan masalah sosial – kemiskinan.

Penggunaan Dana Desa di bidang PSD dapat dilihat dari data SIPEDE Kabupaten Kapuas Hulu tahun 2017 yang diinput oleh Tenaga Pendamping Profesional (Pendamping Desa) P3MD Kapuas Hulu. Data SIPEDE tersebut memberikan gambaran yang cukup memadai tentang implementasi pembangunan bidang PSD di desa- desa di Kabupaten Kapuas Hulu tahun 2017.

Data SIPEDE tersebut juga memperlihatkan

komitment politik pembangunan desa. Berapa

banyak kegiatan bidang PSD dilaksanakan dan

berapa besar porsi anggaran untuk itu, menjadi

indikator keseriusan Pemerintah Desa terhadap

pengarusutamaan PSD dalam pembangunan desa.

Analisa berikut encoba membedah satu-persatu

implementasi pengarusutamaan PSD dalam

pembangunan desa di kabupaten Kapuas Hulu

2017.

Bagian 3: Analisia Data Bidang PSD

3.1 Total kegiatan dan penyerapan Dana desa

Tahun 2017 ada 1.387 kegiatan bidang PSD yang

direncanakan dalam APBDES 2017 (23,61% dari

total rencana kegiatan (5.763 kegiatan)).Dari

1.378 kegitan yang direncanakan tersebut,

sebanyak 663 kegiatan (47,8%) bidang PSD

berhasil direalisasikan. Kegiatan PSD tersebut

menyerap Dana Desa sebesar Rp.

32,944,352,630.00, (14,39% dari total DD KH

(Rp. 228,933,717,000.00)), berhasil menyentuh

303.090 penerima manfaat, yang terdiri dari

153.123 laki-laki dan 149.967 perempuan, dan

39.007 ARTM.

3.2. Bidang PSD yang dianalisa

Analisa difokuskan pada 16 (enambelas) kegiatan sarpras dan non-sarpras bidang PSD, yaitu kegiatan 1) PAUD, 2. TPA, 3) perpustakaan, 4) Sanggar, 5) kursus computer, 6) kursus keterampilan, 7) peningkatan akses PSD, 8) posyandu, 9) puskesdes, 10) polindes, 11) penyandang cacat, 12) pengadaan alat kesehatan, 13) air bersih (sumur), 14) air bersih (pipanisasi), 15) MCK dan 16) Penampungan Air Hujan (PAH).

3.3 Data SIPEDE 2017

3.3.1 Analisa Kegiatan

Data SIPEDE 2017 memperlihatkan situasi perencanaan dan realisasi kegiatan PSD sebagai berikut (lihat tabel 1)

dan realisasi kegiatan PSD sebagai berikut ( lihat tabel 1 ) Data di atas memperlihatkan perbandingan

Data di atas memperlihatkan perbandingan antara jumlah kegiatan masing-masing bidang PSD yang dianggarkan di APBDes tahun 2017 (kuning) dan kegiatan yang terrealisasi (hijau) di tahun tersebut. Terdapat total 1.387 kegiatan PSD yang direncanakan di APBDes 2017. Dari perencanaan tersebut terdapat 633 kegiatan yang berhasil direalisasi (47,8%). Kemudian pada bidang- bidang kegiatan terpilih, POSYANDU merupakan bidang yang paling banyak rencana kegiatannya (462 kegiatan).

Dari yang direncanakan tersebut 218 kegiatan berhasil dilaksanakan. Posisi kedua ditempati PAUD dengan 339 rencana kegiatan dan berhasil direalisasi sebanyak 151 kegiatan. Selanjutnya kegiatan di bidang penyediaan air bersih (pipanisasi) dan MCK. Grafik di bawah ini (grafik 2) memberikan gambaran visual tentang perbandingan rencana dan realisasi kegiatan bidang PSD 2017.

di bawah ini (grafik 2) memberikan gambaran visual tentang perbandingan rencana dan realisasi kegiatan bidang PSD

3.3.2 Analisa penyerapan Dana

Dari segi pendanaan, perbandingan rencana dan realisasi penyerapan DD untuk bidang PSD dapat dilihat pada tabel berikut (lihat tabel 2)

PSD dapat dilihat pada tabel berikut ( lihat tabel 2 ) Tabel 2 di atas memperlihatkan

Tabel 2 di atas memperlihatkan bahwa dari total Rp. 53,225,392,403.00 APBD, dalam realisasi yang terserap hanya mencapai Rp. 32,944,352,630.00 atau 61,9 % .

Ilustrasi grafik persentase realisasi di bawah ini (lihat grafik 3) memberikan gambaran situasi tersebut, sekaligus memaparkan perbedaan tendensi realisasi penggunaan DD antara kegiatan fisik dan non fisik.

situasi tersebut, sekaligus memaparkan perbedaan tendensi realisasi penggunaan DD antara kegiatan fisik dan non fisik. 6

Dari grafik di atas telihat bahwa realisasi penggunaan DD untuk kegiatan pembangunan fisik (sarpras)

terkait POLINDES, pengadaan ALAT KESEHATAN, pengadan AIR BERSIH (sumur), pengadaan AIR

BERSIH (PIPANISASI), MCK dan pengadaan Penampungan Air Hujan (PAH) mencapai lebih dari 70%.

Sementara realisasi kegiatan PSD bidang PAUD, PERPUSTAKAAN dan POSYANDU yang lebih banyak

bebentuk non-sarpras, hanya berkisar antara 50-60% . Dan kegiatan yang bersifat pemberdayaan bidang

TPA, SANGGAR, KURSUS COMPUTER, AKSES PADA PSD LAIN (contohny seni budaya), dan

bantuan untuk PENYANDANG CACAT yang seharusnya mendapat prioritas, tingkat realisasinya di

bawah 43%. Kursus keterampilan (pemberdyaan) bahkan sama sekali tidak dilaksanakan (0 %). Situsi

tersebut memperlihatkan kecenderungan bahwa kegiatan yang bersifat fisik mendapat perhatian yang lebih

besar dibanding non-fisik.

3.3.3 Analisa Penerima Manfaat

Penerima manfaat adalah bagian utama atau bagian yang HARUS mendapat perhatian dari setiap kegiatan pembangunan, termasuk pembangunan di desa.

Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa tujuan dari Dana Desa (DD) adalah “sebagai wujud dari pengakuan negara atas otonomi desa, untuk meningkatkan pelayanan publik di desa, mengentaskan kemiskinan, memajukan perekonomian desa, mengatasi kesenjangan pembangunan antardesa, serta memperkuat masyarakat desa sebagai subjek pembangunan”. Intinya tujuan DD adalah mensejahterakan masyarakat desa. Masyarakat desa yang dimaksud tersebut disebut sebagai “penerima manfaat” (beneficiaries) DD.

Oleh karena itu, baik dalam perencanaan maupun monitoring/evaluasi hasil pembangunan, berapa banyak penerima manfaat (berapa banyak orang yang terdampak) dari setiap kegiatan pembangunan itu harus dijadikan target terukur artinya dapat dihitung, baik penerima manfaat langsung maupun tidak langsung. Sebuah kegiatan pembangunan dinilai berhasil apabila dapat dinikmati oleh sebanyak mungkin orang, dan sebaliknya dinilai sia-sia (pemborosan) apabila hanya dinikmati oleh atau berdampak positif pada sedikit orang.

Jumlah penerima manfaat (beneficiaries) kegiatan pembangunan bidang PSD di Kabupaten Kapuas Hulu dapat dilihat pada tabel berikut ini (lihat tabel 3)

kegiatan pembangunan bidang PSD di Kabupaten Kapuas Hulu dapat dilihat pada tabel berikut ini (lihat tabel

3.3.4 Kecenderungan Implementasi pengarusutamaan PSD di masing-masing desa di Kapuas Hulu

Desa mana saja di Kapuas Hulu yang lebih banyak memberikan perhatian pada bidang PSD dapat dilihat dari berapa banyak kegiatan yang direalisasikan untuk bidang PSD di desa tersebut. Berikut adalah daftar 10 desa yang paling banyak melaksanakan kegiatan bidang PSD, jumlah dana terserap, penerima manfaat dan jumlah ARTM terdampak oleh kegiatan PSD (lihat tabel 4).

jumlah ARTM terdampak oleh kegiatan PSD (lihat tabel 4). 3.3.5 Gambaran porsi kegiatan fisik dan non

3.3.5 Gambaran porsi kegiatan fisik dan non fisik bidang PSD di 10 Desa

Dari data di atas (tabel 4) dianalisa lebih dalam lagi untuk melihat berapa porsi kegiatan fisik dan non -

fisik bidang PSD di masing-masing desa tersebut (lihat tabel 5-15 di bawah).

3.3.5.1 Desa Bati, Kecamatan Seberuang melaksanakan 17 kegiatan bidang PSD. Enam (35,3%) kegiatan

di antaranya merupakan kegiatan fisik dan 11 (64,7 %) kegiatan non – fisik. Seluruh kegiatan tersebut

menyerap DD sebesar Rp. 270,322,900.00 dan mampu menyentuh 832 warga serta 133 ARTM.

fisik. Seluruh kegiatan tersebut menyerap DD sebesar Rp. 270,322,900.00 dan mampu menyentuh 832 warga serta 133

3.3.5.2 Cempaka Baru, Kecamatan Putussibau Selatan melaksanakan 17 kegiatan PSD. Lima kegiatan (29,4%) merpuakan kegiatan fisik dan 12 (70,6%) kegiatan non-fisik. Kegiatan tersebut menyerap dana sebesar Rp. 303,877,000.00 dan mampu menyentuh 3280 penerima manfaat serta 97 ARTM.

Kegiatan tersebut menyerap dana sebesar Rp. 303,877,000.00 dan mampu menyentuh 3280 penerima manfaat serta 97 ARTM.

3.3.5.3

Desa Belikai, Kecamatan Seberuang melaksanakan 15 kegiatan PSD. Lima kegiatan (33,3%) di

antaranya adalah kegiatan fisik dan 10 (66,7%) lainnya adalah kegiatan non-fisik. Kegiatan tersebut

menyerap dana sebesar Rp. 454,218,000,00 dan mampu menyentuh 664 penerima manfaat serta 117 ARTM.

dan mampu menyentuh 664 penerima manfaat serta 117 ARTM. 3.3.5.4 Desa Prejuk , Kecamatan Silat Hulu

3.3.5.4 Desa Prejuk, Kecamatan Silat Hulu melaksanakan 15 kegiatan PSD. Satu kegiatan (6,7%) adalah

kegiatan fisik dan 14 (93,3%) lainnya adalah kegiatan non-fisik. Kegiatan tersebut menyerap DD sebesar Rp. 295,136,050.00. dan mampu menyentuh 5.359 penerima manfaat serta 116 ARTM.

Kegiatan tersebut menyerap DD sebesar Rp. 295,136,050.00. dan mampu menyentuh 5.359 penerima manfaat serta 116 ARTM.
10
10

3.3.5.5

Desa Emperiang, Kecamatan Seberuang melaksanakan 13 kegiatan PSD. Tujuh kegiatan (53,9%)

adalah kegiatan fisik dan 6 kegiatan (46,1%) bersifat non-fisik. Kegiatan tersebut menyerap dana sebesar

Rp. 266,330,250.00 dan mampu menyentuh 821 penerima manfaat serta 20 ARTM.

dan mampu menyentuh 821 penerima manfaat serta 20 ARTM. 3.3.5.6 Desa Nanga Lot , Kecamatan Seberuang

3.3.5.6 Desa Nanga Lot, Kecamatan Seberuang melaksanakan 12 kegiatan PSD. Empat kegiatan (33,3%)

adalah kegiatan fisik dan 8 kegiatan (6,7%) lainnya bersifat non-fisik. Kegiatan tersebut menyerap dana sebesar Rp. 697,738,000.00 dan mampu menyentuh 486 penerima manfaat serta 86 ARTM.

tersebut menyerap dana sebesar Rp. 697,738,000.00 dan mampu menyentuh 486 penerima manfaat serta 86 ARTM. 11

3.3.5.7 Desa Sungai Abau, Kecamatan Batang Lupar melaksanakan 12 kegiatan PSD. Lima kegiatan (41,7%) bersifat fisik dan 7 (58,3%) adalah kegiatan non-fisik. Kegiatan tersebut menyerap dana sebesar Rp. 153,224,800.00 dan mampu menyentuh 1078 serta 14 ARTM.

Rp. 153,224,800.00 dan mampu menyentuh 1078 serta 14 ARTM. 3.3.5.8 Desa Ingko‘ Tambe , Kecamatan Putussibau

3.3.5.8 Desa Ingko‘ Tambe, Kecamatan Putussibau Selatan melaksanakan 11 kegiatan PSD. Enam kegiatan (41,7%) adalah kegiatan fisik dan 5 (58,3%) kegiatan lainnya adalah non-fisik. Kegiatan tersebut menyerap dana sebesar Rp. 550.939.680,00 dan mampu menyentuh 2.595 penerima manfaat serta 245.

Kegiatan tersebut menyerap dana sebesar Rp. 550.939.680,00 dan mampu menyentuh 2.595 penerima manfaat serta 245. 12

3.3.5.9 Desa Saujung Giling Manuk,

kegiatan (30 %) adalah kegiatan fisik dan 7 (70%) lainnya adalah kegiatan non-fisik. Kegiatan tersebut

menyerap dana sebesar Rp. 140,545,000.00 dan mampu menyentuh 579 serta 250 ARTM.

Kecamatan Embaloh Hulu melaksanakan 10 kegiatan PSD. Tiga

Kecamatan Embaloh Hulu melaksanakan 10 kegiatan PSD. Tiga 10 3.3.5 (40 %) adalah kegiatan fisik dan

10 3.3.5

(40 %) adalah kegiatan fisik dan 6 (60%) adalah kegiatan non-fisik. Kegiatan tersebut menyerap dana

Desa Pantas Bersatu, Kecamatan Bunut Hulu melaksanakan 10 kegiatan PSD. Empat kegiatan

sebesar Rp. 132,634,000.00 dan mampu menyentuh 410 serta ARTM.

Bunut Hulu melaksanakan 10 kegiatan PSD. Empat kegiatan sebesar Rp. 132,634,000.00 dan mampu menyentuh 410 serta

Dari tabel-tabel di atas terlihat bahwa 7 (tujuh) atau 70% dari 10 desa melaksanakan lebih banyak kegiatan PSD non – fisik dari pada kegiatan fisik. Hal ini menunjukkan tendensi yang bagus, di mana perhatian pada aspek non – fisik di bidang PSD cukup tinggi.

Sementara Desa Emperiang dan desa Ingko„ Tambe melaksanakan lebih banyak kegiatan bersifat fisik dibanding kegiatan non-fisik. Dengan mengamaptikegitanyang dilaksanakan bisa dimengerti alasan kebijakan tersebut diambil, karena kedua desa ini belum memiliki fasilitas dasar penunjang PSD, seperti gedung PAUD dan gedung POSYANDU serta sarana air bersih yang merupakan kebutuhan vital masyarakat desa tersebut.

Kegiatan PSD di 10 desa di atas berhasil menyerap Dana Desa total sebesar Rp. 2,714,026,000.00 (1,18% dari total DD KH 2017) dan menyentuh 16.104 penerima manfaat atau 6,7% dari total penduduk Kapuas Hulu, termasuk 1.373 ARTM.

3.3.6 Ranking Kegiatan Bidang PSD di desa -desa di Kapuas Hulu 2017

Tabel 16 (di bawah) memperlihatkan ranking kegiatan PSD di desa – desa di Kabupaten Kapuas Hulu

tahun 2017. Kegiatan di bidang POSYANDU menempati posisi teratas diikuti PAUD, air bersih

(pipnisasi), MCK dan penampungan air hujan (PAH) dan seterusnya. Perankingan tersebut memperlihatkan

bahwa 5 (lima) kegiatan PSD yang sangat vital (kesehatan dan pendidikan) sudah menjadi prioritas

kegiatan pembangunan di desa.artinya sejalan dengan kebijakan atau arahan pemrintah.

sudah menjadi prioritas kegiatan pembangunan di desa.artinya sejalan dengan kebijakan atau arahan pemrintah. 14

3.3.7 Desa di Kabupaten Kapuas Hulu yang (tidak) melaksanakan kegiatan PSD tahun 2017

Sebanyak 273 (98,2%) dari 278 Desa di Kabupaten Kapuas Hulu melakukan kegiatan PSD pada tahun 2017, sementara 5 desa (1,8%) tidak ditemukan data bahwa desa tersebut melakukan kegiatan PSD. Kelima desa tersebut adalah Desa Nanga Serian, Kecamatan Jongkong, Desa Kalis Raya, Kecamatan Ka- lis, Desa Tembang, Empangau dan Empangau Hilir, Kecamatan Bunut Hilir (lihat table 17).

Desa Kalis Raya, Kecamatan Ka- lis, Desa Tembang, Empangau dan Empangau Hilir, Kecamatan Bunut Hilir (lihat
Desa Kalis Raya, Kecamatan Ka- lis, Desa Tembang, Empangau dan Empangau Hilir, Kecamatan Bunut Hilir (lihat
Desa Kalis Raya, Kecamatan Ka- lis, Desa Tembang, Empangau dan Empangau Hilir, Kecamatan Bunut Hilir (lihat

4. Kesimpulan, Catatan dan Rekomendasi

4.1 Kesimpulan

Dari analisa di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan PSD dilksanakan hampir di seluruh desa di Kabu- paten Kapuas Hulu. Kuantitas (jumlah kegiatan dan alokasi dana) beragam sesuai dengan kebutuhan mas- ing-masing desa.

Dari analisa penyerapan Dana Desa terlihat bahwa porsi Dana Desa (DD) untuk melaksanakan kegiatan PSD masih sangat rendah, yaitu hanya 1,18% dari total Dana Desa yang diterima Kabupaten Kapuas Hulu tahun 2017. Dengan jumlah demikian dapat dipastikan bahwa pelayanan di bidang PSD di desa-desa di Ka- bupaten Kapuas Hulu masih jauh dari memadai, mengingat:

1.

kabupaten Kapuas Hulu masih masuk kategori sebagai kebupaten tertinggal.

2.

152 desa masuk kategori IDM sebagai desa sangat tertinggal, 109 desa masuk kategori tertinggal, dan

3.

pada tahun 2017, terdapat 25.145 jiwa (10,58 persen) penduduk miskin dari total 237.599 jiwa penduduk Kapuas Hulu.

Kebanyakan penduduk miskin dan desa sangat tertinggal tersebut dipastikan berada di daerah desa dan untuk memberikan Pelyanan Sosial Dasar yang memadai bagi mereka itu diperlukan lebih banyak dana dan kegiatan bidang PSD.

Secara keseluruhan jumlah kegiatan PSD yang terralisasi masih sangat minim, yaitu hanya 633 kegiatan dari 1.387 kegitan yang direncanakan (APBDES). Upaya mendorong pengarusutamaan PSD dalam pembangunan desa yang sudah dilakukan belum membuahkan hasil yang maksimal. Bebrapa kendala implementasi pengaurutamaan PSD dalam pembangunan desa antara lain:

1.

pembangunan di desa masih terfokus pada pembangunan fisik infrstruktur

2.

pemahaman pemangku kepentingan tentang PSD dalam proses perencanaan pembangunan masih relatif rendah.

3.

Belum adanya regulasi yang mengawlatau pendukung pengarusutamaan PSD di desa yaitu PERBUP tentang PSD.

4.

Kegiatan pendampingan oleh Tenaga Pendamping Profesional (PD/PLD) terkait PSD masih belum me- madai. Hal itu antara lain disebabkan TPP masih sangat sibuk dengan pengumpulan data sehingga kegiatan sosialisasi, pembinaan, masih minim dilakukan.

4.2

Catatan

Persoalan utama yang dihadapi dalam melakukan analisa kegiatan PSD ini adalah masalah kelengkapan data. Data yang terrekam di SIPEDE belum lengkap, terutama pada bagian penerima manfaat. Jumlah pen- erima manfaat yang sesungguhnya dipastikan masih lebih banyak dari jumlah penerima manfaat yang ter- data. Hal itu terlihat dari masih banyak kolom penerima manfaat yang kosong.

Mengapa jumlah riil penerima manfaat penting adalah karena dari data tersebut keberhasilan pembangunan dapat diukur. Artinya jumlah penerima manfaat adalah tolok ukur utama dari setiap kegiatan pembangunan. Sebanyak dan sebaik apapun pembangunan di desa tidak memiliki arti, jika tidak ada penerima pemanfaatnya. Demikian juga kriteria dasar pengukuran manfaat Dana Desa. Berapa banyak Dana Desa yang sudah dikeluarkan harus sebanding dengan jumlah penerima manfaat yang terdampak oleh kegiatan pembangunan yang didanai dari DD. Keberhasilan kegiatan pembangunan bidang PSD di Kapuas Hulu juga menjadi sulit diukur, karena pada data SIPEDE banyak data pada bagian penerima manfaat tidak terisi.

Tidak diketahui dengan pasti, apakah kekosongan pada kolom penerima manfaat ini merupakan suatu kesengajaan (karena menganggap jumlah penerima manfaat tidak penting), atau karena faktor ketidaktahuan atau kelalaian sejak perencanaan, seperti misalnya tidak tertibnya administrasi kegiatan, sehingga tidak semua data penerima manfaat dicatat dalam laporan realisasi. Dalam realisasi yang dilaporkan hanya jumlah penyerapan DD dan pembangunan fisik. Hal lain yang bisa menjadi penyebab adalah minimnya data yang terkumpul oleh Pendamping Desa karena Pendamping desa yang lalai atau karena jumlah PD/PLD yang sedikit, sementara wilayah jangkauan terlalu luas dan memiliki medan sulit (contohnya kecamatan Selimbau, PD hanya satu, dengan medan daerah danau yang luas dan biaya transportasi mahal).

4.3 REKOMENDASI Untuk meningkatkan Pelayanan Sosial Dasar di desa, beberapa hal berikut direkomendasikan untuk ditindaklanjuti:

1. Kerjasama dalam kegiatan sosialisasi dan pembinaan masyarakat terkait PSD perlu dilaksanakan secara sinergis dan komprehensif oleh semua stakeholder (Pemkab/Desa/TPP/GSC).

2. Pemerintah perlu mengeluarkan regulasi (PERBUP) terkait PSD, antara lain terkait kebijakan penganggaran di desa.

3. Kegiatan pemberdayaan, antara lain berbentuk pelatihan Kader (seperti peningkatan kapasitas Kader Posyandu, Guru PAUD, PKK), perlu ditingkatkan.

4. Kegiatan pengumpulan data dan pengimputan SIPEDE perlu ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya (kebenaran dan kelengkapan dalam pengimputan data SIPEDE)

5. Pembinaan / peningkatan kapasitas TPP (TA/PD/PLD) oleh pihak-pihak terkait sangat perlu ditingkatkan, dan untuk itu perlu kerjasama antara SATKER Provinsi, TA Provinsi dan Pemkab Kapuas Hulu.

6. TA Provinsi perlu lebih intens melakukan pembinaan guna pengembangan SDM dan kompenetsi TPP di tingkat Kabupaten dan seterusnya, jadi tidak hanya sebatas meminta data.

Demikian analisa kegiatan PSD tahun2017 yang dapat kami lakukan. Semoga hasil analisa ini dapat bermanfaat demi perbaikan dan kemajuan Kabupaten Kapuas Hulu, Kalbar, Indonesia (sm).

Beri Nilai