Anda di halaman 1dari 20

Makalah

Kegawatdaruratan tentang retensi urine

Kelpmpok 4:

Ayattulloh M. (2014.02.005)
Dita Ayu (2014.02.011)
Hakim Tanjung P (2014.02.018)
Khori D. (2014.02.027)
Komang Desi K. (2014.02.028)
Wira Puspita (2014.02.041)
Anis Syahro W. (2014.02.088)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI
BANYUWANGI
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sehat adalah suatu keadaan yang masih termasuk dalam variasi normal
dalam standar yang diterima untuk kriteria tertentu berdasarkan jenis kelamin,
kelompok penduduk dan wilayah (WHO, 1957). Dalam era globalisasi segala
upaya ditujukan untuk dapat meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
Peningkatan kesehatan masyarakat harus dimulai dari peningkatan kesehatan
keluarga. Hal ini tidak mungkin dapat terwujud tanpa perbaikan dan
peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia, maka dibutuhkan petugas
kesehatan yang memiliki keterampilan ketelitian dan kecakapan dalam
merawat klien dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Dalam
kesempatan ini, penulis membahas tentang perawatan pasien dengan retensio
urine,karena pasien dengan retensio urine merupakan hal penting yang harus
ditangani dan dibutuhkan keterampilan, ketelitian serta kecakapan dalam
merespon keluhan-keluhan yang dialami oleh pasien.

1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum
Mengetahui Asuhan Keperawatan Gawat darurat Pada pasien dengan
retensi urin
b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mengetahui dan memahami definisi dari penyakit Retensi
Urin
2. Mahasiswa mengetahui dan memahami etiologi dari penyakit Retensi
Urin
3. Mahasiswa mengetahui dan memahami tanda dan gejala dari penyakit
Retensi Urin
4. Mahasiswa mengetahui dan memahami pathofisiologi dan pathways
dari penyakit Retensi Urin
5. Mahasiswa mengetahui dan memahami stadium keparahan dari
penyakit Retensi Urin
6. Mahasiswa mengetahui dan memahami penatalaksanaan dari penyakit
Retensi Urin
7. Mahasiswa mengetahui dan memahami konsep dasar asuhan
keperawatan gawat darurat dari penyakit Retensi Urin
BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN

2.1 Anatomi Fisiologi


Saluran perkemihan terdiri dari ginjal, ureter, vesika urinaria dan urethra.
Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang dan terletak di kedua sisi
kolumna vertebralis. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibanding ginjal kiri
karena tertekan ke bawah oleh hati katup terletak di kosta ke-12, sedangkan ginjal
kiri terletak setinggi kosta ke-11. Berat Ginjal + 125 gram.
Ureter merupakan saluran yang menghubungkan ginjal dengan vesika
urinaria, panjang ureter 10 – 12 inci, berfungsi sebagai penyalur urine ke vesika
urinaria. Kandung kemih adalah suatu organ yang berongga yang terletak di
sebelah anterior tepat di belakang os pubis, yang tersusun dari otot polos, yang
berkontraksi dan berfungsi sebagai tempat penampungan urine sementara dan
menyalurkan urine ke uretra. Uretra merupakan saluran kecil yang dapat
mengembang dan berjalan dari kandung kemih keluar tubuh. Panjang uretra pada
wanita 1,5 inci dan pada pria 8 inci.
Fungsi- fungsi utama dari ginjal adalah :
1. Ultra filtrasi : Menyaring darah dan bahan-bahan yang terlarut
serta membuang cairan yang sudah tidak dibutuhkan oleh tubuh.
2. Pengendalian cairan : Mempertahankan keseimbangan cairan dan
elektrolit
3. Keseimbangan asam basa : Mempertahankan derajat asam dan basa
dengan mensekresi ion H dan pembentukan Bicarbonat sebagai Buffer.
4. Mengatur tekanan darah dengan mengendalikan volume sirkulasi
dan sekresi urine.
5. Mengatur metabolisme dengan mengaktifkan vitamin D yang
diatur oleh kalsium fosfat ginjal.
6. Memproduksi eritrosit : eritropoetin yang disekresikan oleh ginjal
dan merangsang sumsum tulang agar membuat sel-sel eritrosit.
7. Ekskresi produk sisa : Membuang langsung produk metabolisme
yang terdapat pada filtrasi glomerulus.
2.2 Pembentukan Urine
Nefron merupakan unit fungsional dari ginjal, yang merupakan
awal pembentuk urine. Ginjal ini tersusun + 1 juta nefron yang terdiri dari
sebuah glomerulus dan sebuah tubulus. Dinding kapiler glomerulus
tersusun oleh sel-sel endotel dan membran basalis, Glomerulus
membentang dan membentuk tubulus yang terdiri atas 3 bagian yaitu :
1 Tubulus proximal :
Dalam keadaan normal, + 20 % dari plasma melewati
glomerulus akan disaring ke dalam nefron dengan jumlah 80 liter
per hari yang terdiri dari filtrat yaitu : air, elektrolit dan molekul
kecil lainnya masuk ke dalam tubulus proximal di proses hingga
60 % dan filtrat tersebut di serap kembali ke dalam darah, kecuali
glukosa 100 % di serap yang disebut dengan “Reabsorbsi Obligat”
(mutlak).
2 Ansa Henle
Cairan dari tubulus proximal masuk ke Ansa henle. Ketika
cairan turun ke ansa henle desenden, ada transportasi aktif ureum
yang menyebabkan kepekatan meningkat, ketika naik lewat ansa
henle asenden ada transportasi aktif H2O (dikeluarkan)
3 Tubulus Distal
Di dalam tubulus ini terjadi 3 proses yaitu :
1) Reabsorbsi air oleh Anti Diuretik Hormon
Bila tubuh kekurangan air maka otak akan membuat
banyak anti diuretic hormon sehingga penyerapan di distal
banyak juga dan urine menjadi sedikit. Begitu sebaliknya
bila air berlebih jumlah anti diuretik hormon sedikit dan
filtrat dapat lolos yang akhirnya jadi urine banyak.
2) Bekerjanya anti diuretik hormon
Anti diuretik hormon dapat juga dikeluarkan oleh
korteks anak ginjal untuk melakukan transportasi aktif yaitu
mengeluarkan kalsium dan menarik natrium.
3) Sekresi zat-zat sisa metabolime dan zat racun tubuh.
Ductus Kolligentes merupakan tubulus penampung
setelah tubulus distal. Di sini masih terjadi proses
reabsorbsi air oleh anti diuretik hormon. Bila cairan sudah
melewati ductus kolligentes maka disebut dengan “urine”
yang dilanjutkan ke kalix minor menuju kalix mayor dan
melewati pelvis ginjal mengalirkan urine ke ureter menuju
ke vesika urinaria dengan gerakan peristaltik yang
membuka sfingter ureter, kemudian urine masuk ke dalam
vesika urinaria, sebagai tempat penampungan sementara.
4 Vesika Urinaria
Suatu kantong berotot yang disebut musculus Detrusor, yang terisi
sedikit demi sedikit urine, mulai dari volume 0 – 100 cc, tekanan kandung
kemih sedikit bertambah. Dari volume 100 – 400 cc tekanan kandung
kemih tidak berubah, karena Musculus Detrusor mengembang mengikuti
jumlah air kemih lewat 400 cc ke atas tekanan meningkat dan
meregangkan Musculus Detrusor.
Regangan ini mengirim impuls afferent ke medula spinalis lumbal
dan sacral dengan susunan saraf pusat. Dari lumbal sacral keluar impuls
efferent ke Musculus Detrusor (mengerut). Merangsang pembukaan
sfingter urethra internal untuk membuka sehingga timbul keinginan untuk
BAK, dengan mengalirkan urine keluar tubuh melalui sfingter urethra
eksterna.
2.3 Komposisi Urine
Urine yang normal biasanya berwarna jernih sampai dengan
kuning muda, tidak terdapat glukosa, eritrosit, leukosit dan trombosit serta
protein. Bau sedikit pesing, berat jenis 1010 – 1030.
Urine terdiri dari :
1. Air
2. Elektrolit
3. Zat asam sisa metabolism
BAB III
KONSEP DASAR

2.1. TINJAUAN TEORI


2.1.1. Definisi
Retensi urine adalah suatu keadaan dimana pasien tidak dapat kencing
total yang disertai dengan rasa tidak enak di abdomen dengan buli yang
teraba atau dapat diperkusi berisi urine lebih dari 150 ml. (Kalejaiye &
Speakmen, 2009)
Retensi urine adalah suatu keadaan penumpukan urine di kandung
kemih dan tidak mempunyai kemampuan untuk mengosongkan secara
sempurna. (Thomas et al, 2004).
Dari beberapa definisi diatas dapat kita simpulkan bahwa retensi urine
adalah suatu keadaan dimana seseorang individu tidak dapat berkemih secara
sempurna baik terjadi secara akut maupun kronis.
Retensi urine sering dialami oleh pria dengan usia tua yang berusia
lebih dari 60 tahun, sedangkan retensi urine pada wanita cenderung lebih
jarang. (Kalejaiye & Speakmen, 2009) retensi urine pada wanita
menunjukkan dari 3 wanita akan mengalami retensi urine

2.1.2 Klasifikasi
Menurut Newman (2011), retensi urine diklasifikasikan menjadi :
1) Retensi Urine akut ( AUR )
Retensi urine yang terjadi tiba-tiba, ditandai perasaan ingin
berkemih namun ada kemampuan untuk mengkosongkan kandung
kemih walaupun kandung kemih dalam keadaan penuh. Retensi urine
yang bersifat akut juga dapat ditandai dengan pancaran berkemih yang
kurang dan beberapa ada pasien yang mengeluh nyeri abdomen bawah
yang mungkin disebabkan akibat distensi kandung kemih.
Retensi urine yang bersifat akut ini sering dialami pada pasien post
pembedahan yang dikenal dengan istilah POUR (Post Operation
Urinary Retention). Kondisi retensi urine akut merupakan suatu
kegawadaruratan dan harus segera dilakukan bladder dekompresi,
karena apabila tidak segera akan berkembang menjadi ruptur bladder
atau gagal ginjal akut.
2) Retensi Urine Kronis / CUR (Chronic Urinary Retention)
Retensi urine kronik adalah ketidakmampuan dalam mengkosongkan
kandung kemih secara sempurna yang terjadi secara terus menerus.
Pada beberapa kasus, pasien masih dapat berekmih namun
membutuhkan kontraksi otot-otot detrussor bladder sehingga istilahnya
adalah mengejan. Namun ada juga yang sama sekali tidak dapat
mengeluarkan urine. Meskipun dengan residual urine sebanyak 75-100
ml, pasien yang mengalami retensi urine kronis tidak mengeluhkan
gejala. Keluhan baru dirasakan pasien adalah setelah terjadi
komplikasi seperti hidronefrosis akibat refluk urine, pyelonephritis,
infeksi saluran kemih sampai insufiensi ginjal.

2.1.2. Etiologi
Adapun penyebab dari penyakit retensio urine adalah sebagai berikut:
a. Supra vesikal berupa kerusakan pada pusat miksi di medulla spinallis S2
S4 setinggi T12 L1. Kerusakan saraf simpatis dan parasimpatis baik
sebagian ataupun seluruhnya, misalnya pada operasi miles dan mesenterasi
pelvis, kelainan medulla spinalis, misalnya miningokel, tabes doraslis, atau
spasmus sfinkter yang ditandai dengan rasa sakit yang hebat.
b. Vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, atoni pada
pasien DM atau penyakit neurologist, divertikel yang besar.
c. Intravesikal berupa pembesaran prostate, kekakuan leher vesika, striktur,
pat
d. Dapat disebabkan oleh kecemasan, pembesaran porstat, kelainan patologi
urethra (infeksi, tumor, kalkulus), trauma, disfungsi neurogenik kandung
kemih.
e. Beberapa obat mencakup preparat antikolinergik antispasmotik (atropine),
preparat antidepressant antipsikotik (Fenotiazin), preparat antihistamin
(Pseudoefedrin hidroklorida = Sudafed), preparat penyekat β adrenergic
(Propanolol), preparat antihipertensi (hidralasin).

2.1.3. Tanda dan Gejala


Adapun tanda dan gejala atau menifestasi klinis pada penyakit ini adalah
sebagai berikut:
a. Diawali dengan urine mengalir lambat.
b. Kemudian terjadi poliuria yang makin lama menjadi parah karena
pengosongan kandung kemih tidak efisien.
c. Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih.
d. Terasa ada tekanan, kadang terasa nyeri dan merasa ingin Bak
e. Pada retensi berat bisa mencapai 2000 -3000 cc.

2.1.4. Patofisiologi
Pada retensio urine, penderita tidak dapat miksi, buli-buli penuh disertai
rasa sakit yang hebat di daerah suprapubik dan hasrat ingin miksi yang hebat
disertai mengejan. Retensio urine dapat terjadi menurut lokasi, factor obat
dan factor lainnya seperti ansietas, kelainan patologi urethra, trauma dan lain
sebagainya. Berdasarkan lokasi bisa dibagi menjadi supra vesikal berupa
kerusakan pusat miksi di medulla spinalsi menyebabkan kerusaan simpatis
dan parasimpatis sebagian atau seluruhnya sehingga tidak terjadi koneksi
dengan otot detrusor yang mengakibatkan tidak adanya atau menurunnya
relaksasi otot spinkter internal, vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena
lama teregang, intravesikal berupa hipertrofi prostate, tumor atau kekakuan
leher vesika, striktur, batu kecil menyebabk an obstruksi urethra sehingga
urine sisa meningkat dan terjadi dilatasi bladder kemudian distensi abdomen.
Faktor obat dapat mempengaruhi proses BAK, menurunkan tekanan darah,
menurunkan filtrasi glumerolus sehingga menyebabkan produksi urine
menurun. Faktor lain berupa kecemasan, kelainan patologi urethra, trauma
dan lain sebagainya yang dapat meningkatkan tensi otot perut, peri anal,
spinkter anal eksterna tidak dapat relaksasi dengan baik. Dari semua faktor di
atas menyebabkan urine mengalir labat kemudian terjadi poliuria karena
pengosongan kandung kemih tidak efisien. Selanjutnya terjadi distensi
bladder dan distensi abdomen sehingga memerlukan tindakan, salah satunya
berupa kateterisasi urethra

2.1.5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada retensio urine adalah
sebagai berikut:
a. Kateterisasi urethra.
b. Pungsi Suprapubic
c. Sistostomy (open cystostomi/troichat)
d. Dilatasi urethra dengan boudy.
e. Drainage suprapubik

2.1.6. Diagnosa Keperawatan


a. Retensi urine berhubungan dengan ketidakmampuan kemih untuk
berkontraksi dengan adekuat
b. Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera biologis
c. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional
BAB III
ASKEP TEORI
3.1 PENGKAJIAN
a. Identitas klien
b. Riwayat kesehatan umum - Riwayat kesehatan keluarga - Riwayat
kesehatan klien
c. Riwayat kesehatan sekarang
 Bagaimana frekuensi miksinya
 Adakah kelainan waktu miksi
 Apakah rasa sakit terdapat pada daerah setempat atau secara umum
Apakah penyakit timbul setelah adanya penyakit lain
 Apakah terdapat mual muntah atau oedema
 bagaimana keadaan urinya
 Adakah secret atau darah yang keluar
 Adakah hambatan seksual
 Bagaimana riwayat menstruasi
 Bagaimana riwayat kehamilan
 Rasa nyeri
d. Data fisik Inpeksi : seluruh tubuh dan daerah genital
 Palpasi : pada daerah abdomen
 Auskultasi : kuadran atas abdomen dilakukan untuk mendeteksi bruit
 Tingkat kesadaran
 TB, BB
 TTV
e. Data psikologis
 Keluhan dan reaksi pasien terhadap penyakit
 Tingkat adaptasi pasien terhadap penyakit
 Persepsi pasien terhadap penyakit
f. Data social, budaya, spiritual
 Umum : hubungan dengan orang lain, kepercayaan yang dianut dan
keaktifanya dalam kegiatan.

3.2 DIAGNOSA
1. Retensi urin b.d ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi
dengan adekuat.
2. Gangguan rasa nyaman nyeri
3. Intoleransi aktivitas
4. Ansietas b.d krisis situasi

3. PERENCANAAN
1. Retensi urin b.d ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan
adekuat.
Kriteria evaluasi :
1. Berkemih dengan jumlah yang cuk
2. Tidak teraba distensi kandung kemih

Intervensi Rasional
1. Dorong pasien utnuk berkemih tiap 2- 1. Meminimalkan retensi urin
4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan. distensi berlebihan pada kandung
2. Tanyakan pasien tentang kemih.
inkontinensia stres. 2. Tekanan ureteral tinggi
3. Observasi aliran urin, perhatikan menghambat pengosongan kandung
ukuran dan ketakutan. kemih.
4. Awasi dan catat waktu dan jumlah 3. Berguna untuk mengevaluasi
tiap berkemih.. obsrtuksi dan pilihan intervensi.
5. Perkusi/palpasi area suprapubik 4. Retensi urin meningkatkan
tekanan dalam saluran perkemihan
atas.
5. Distensi kandung kemih dapat
dirasakan diarea suprapubik.

2. Gangguan rasa nyaman: nyeri


Kriteria evaluasi :
1. Menyatakan nyeri hilang/ terkontrol
2. Menunjukkan rileks, istirahat dan peningkatan aktivitas dengan tepat

Intervensi Rasional
1. Kaji nyeri, perhatikan lokasi, 1. Memberikan informasi untuk
intensitas nyeri. membantu dalam menetukan
2. Plester selang drainase pada paha intervensi.
dan kateter pada abdomen. 2. Mencegah penarikan kandung
3. Pertahankan tirah baring bila kemih dan erosi pertemuan penis-
diindikasikan. skrotal.
4. Berikan tindakan kenyamanan 3. Tirah baring mungkin diperlukan
pada awal selama fase retensi akut.
5. Dorong menggunakan rendam 4. Meningktakan relaksasi dan
duduk, sabun hangat untuk perineum. mekanisme koping.
5. Meningkatkan relaksasi otot.

3.Intoleransi aktivitas
Kriteria evaluasi:
1. Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur
dengan tidak adanya dispnea, kelemahan, tanda vital dalam rentang normal.

Intervensi Rasional
1. Evaluasi respon klien terhadap 1. Menetapkan kemampuan/kebutuhan
aktivitas. pasien dan memudahkan pilihan
intervensi.
2. Berikan lingkungan tenang dan 2. Menurunkan stres dan rangsangan
batasi pengunjung selama fase akut berlebihan, meningkatkan istirahat.
sesuai indikasi.
3. Jelaskna pentingnya istirahat dalam 3. Tirah baring dapat menurunkan
rencana pengobatan dan perlunya kebutuhan metabolik, menghemat
keseimbangan aktivitas dan istirahat. energi untuk penyembuhan. Pembatasan
aktivitas ditentukan dengan respons
individual pasien terhadap aktivitas dan
perbaikan kegagalan pernapasan.

4. Bantu aktivitas perawatan diri yang 4. Meminimalkan kelelahan dan


diperlukan. Berikan kemajuan membantu keseimbangan suplai dan
peningkatan aktivitas selama fase kebutuhan oksigen.
penyembuhan.

4. Ansietas b.d krisis situasi


Kriteria evaluasi :
1. Mengakui dan mendiskusikan takut/masalah
2. Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan wajah tampak
rileks/istirahat.

Intervensi Rasional
1. Identifikasi persepsi pasien tentang 1. Mendefinisikan lingkup masalah
ancaman yang ada dari situasi. individu dan mempengaruhi pilihan
intervensi.
2. Observasi respon fisik,seperti 2. Berguna dalam evaluasi derajat
gelisah, tanda vital, gerakan berulang. masalah khususnya bila dibandingkan
dengan pernyataan verbal.
3. Dorong pasien/orang terdekat untuk 3. Memberikan kesempatan untuk
mengakui dan menyatakan rasa takut. menerima masalah, memperjelas
kenyataan takut dan menurunkan
ansietas.
4. Identifikasi pencegahan keamanan 4. Memberikan kayakinan untuk
yang diambil, seperti marah dan suplai membantu ansietas yang tak perlu.
oksigen. Diskusikan.

2.2. TINJAUAN KASUS

Tn Majid 55 tahun datag ke UGD RS PKU Muhammadiyah dengan keluhan


sudah 2 hari tidak bisa miksi. Perut tampak bengkak, pasien tampak kurang
nyaman dan kesakitan dengan sering memegangi perut bagian bawah.
TD: 130/95 mmHg
N: 80x/ menit
RR: 23x/ menit
S: 360 C

FORMAT PENGKAJIAN GAWAT DARURAT


2.2.1. Data Umum
a. Nama inisial klien : Tn. M
b. Umur : 55 tahun
c. Alamat : Temanggung
d. Agama : Islam
e. Tgl masuk RS : 13 Januari 2018
f. No. RM : 13.0956
2.2.2. Keluhan Utama
Klien mengatakan sudah 2 hari tidak bisa miksi. Perut tampak bengkak,
pasien tampak kurang nyaman dan kesakitan dengan sering memegangi perut
bagian bawah.

2.2.3. Pengkajian Primer


a. Airway (Jalan Nafas)
Tidak ada obstruksi jalan nafas.
b. Breathing
1. Inspeksi
Bentuk dada simetris, ekspansi paru kanan dan kiri sama, klien tidak
menggunakan alat bantu pernafasan.
2. Palpasi
Vokal fremitus kanan dan kiri sama, tidak terdapat krepitasi
3. Perkusi
Tidak terdapat pembesaran paru, kedua paru sonor.
4. Auskultasi
Suara nafas vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan.
c. Circulation
1. Vital Sign
 TD : 130/95 mmHg
 Nadi : 80x/menit
 Suhu : 360 C
 Respirasi : 23x/menit
2. Capilarry Refill : 2 detik
3. Akral : akral teraba dingin
d. Disability
1. GCS : 15
E: 4, M: 6, V: 5
2. Pupil : pupil isokor, reflek terhdap cahaya (+/+)
3. Gangguan Motorik: klien menahan pergerakan terutama pada
ekstremitas bagian bawah karena klien kesakitan dengan sering
memegagi perut bagian bawah.
4. Gangguan Sensorik: klien tidak mengalami gangguan sensorik.
e. Exposure
Tidak terdapat luka pada tubuh dan ditemukan bengkak pada perut.

2.2.4. Analisa Data


No. Tgl & Jam Data Subyektif Data Obyektif
1. 13 Januari Klien mengatakan sudah 2 Perut tampak bengkak
2018 hari tidak bisa miksi Pasien tampak kurng
18.00 Klien mengatakan terasa nyaman dan kesakitan
tidak nyaman dengan sering memegangi
perut bagian bawah

2.2.5. Diagnosa Keperawatan


Tanggal : 13 Januari 2018
Waktu : 18.00 WIB
No. Symptom Etiologi Problem
1. DS: Klien mengatakan Ktidakmampuan Retensi Urin
sudah 2 hari tidak bisa kemih untuk
miksi, Klien mengatakan berkontraksi
terasa tidak nyaman dengan kuat
DO: Perut tampak
bengkak, Pasien tampak
kurng nyaman dan
kesakitan dengan sering
memegangi perut bagian
bawah
2.2.6. Rencana Keperawatan
Tanggal : 13 Januari 2018
Waktu : 18.00 WIB
Diagnosa
No. NOC NIC Rasional
Keperawatan
1. Retensi urin Setelah dilakukan tindakan Lakukan pemasangan kateter Untuk mempercepat pengeluaran
berhubungan dengan keperawatan selama 1x urin
ketidakmampuan 15menit diharapkan tidak Observai aliran dan karakteristik Untuk mengevaluasi obstruksi
kemih untuk terjadi retensi urin dengan urine dan pilihan intervensi
berkontraksi dengan kriteria hasil: Anjurkan pada klien untuk Untuk meminimalkan retensi
kuat.  Urin dapat keluar berkemih tiap 2-4 jam dan bila urin dan distensi berlebihan pada
 Klien merasa nyaman tiba-tiba dirasakan kandung kemih
 Perut tidak bengkak Kolaborasi dengan dokter Untuk mengeluarkan urine yang
 Klien tidak merasa pemberian obat diuretik tertahan
nyeri Kolaborasi dengan ahli Untuk mengetahui penyebab
laboratorium dan ahli radiologi utama retensi urin
dalam pemeriksaan sekunder
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian dapat disimpulkan bahwa retensio urine adalah
ketidakmampuan melakukan urinasi meskipun terdapat keinginan atau
dorongan terhadap hal tersebut atau tertahanya urine didalam kandung kemih.
Tindakan utama pada klien dengan retensio urine dalam keperawatan
gawat darurat adalah dengan melakukan pemasangan kateter.
DAFTAR PUSTAKA

 Brunner & Suddarth. (2002). Keperawatan medikal bedah. Jakarta: EGC.


 Arif. M dkk. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III, jilid 2. Jakarta:
Media Aesculapius
 Sjamsuhidajat, R., & de Jong, W., 2005, Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC
 International,NANDA. 2010. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasfikasi
2009-2011. Alih bahasa Made Sumarwati, Dwi Widiarti, Estu Tiar. Jakarta:
EGC
 International,NANDA. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasfikasi
2012-2014. Alih bahasa Made Sumarwati, Dwi Widiarti, Estu Tiar. Jakarta:
EGC
 Taylor,Cynthia M. 2010. Diagnosis Keperawatan: dengan rencana asuhan
keperawatan. Alih bahasa:Eny Meiliya. Jakarta: EGC