Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di USA dikenal adanya Conceptual Framework yang diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia menjadi Kerangka Acuan Konseptual ata Rerangka Konseptual yang dapat
dijadikan pengarah dalam penyusunan standar akuntansi. Kerangka konseptual di perlukan
keberadaanya dengan fungsi utama adalah sebagai acuan bagi pihak penyusun standar
akuntansi dalam menyusun Standar Akuntansi Keuangan
Dari team Conseptual Framework Project yang dibentuk Financial Accounting Standar Board
(FASB) tahun 1973 dengan tugas utama menyusun Kerangka Konseptual maka baru pada
bulan Desember 1985, USA mempunyai Kerangka Acuan Konseptual. Kerangka Konseptual
tersebut diringkas dalam lima pernyataan yang saling berkaitan yaitu: Statement of Financial
Accounting Concept (SFAC).
Secara sederhana pengertian Kerangka Konseptual adalah hasil suatu proses
penalaran dan pemikiran akuntansui yang diharapkan berlaku dalam lingkungan dan kondisi
tertentu yang merupakan hasil pemilihan factor-faktor dan konsep-konsep yang dianggap
relevan, terpadu dan saling berkaitan. Sedangkan FASB (1978) mendefinisikan Kerangka
Konseptual seperti berikut : “….. suatu system yang koheren tentang tujuan dan konsep dasar
yang saling berkaitan, yang diharapkan dapat menghasilkan standar-standar konsisten dan
member pedoman tentang jenis, fungsi, dan keterbatasan akuntansi keuangan dan pelaporan
keuangan.”

Pada tahun 1994 Indonesia mengadopsi Standar Akuntansi Keuangan dari International
Accounting Standard Committee (IASC). Standar akuntansi keuangan yang berlaku di
Indonesia mulai tahun 1995 terkodifikasi dalam dalam buku Standar Akuntansi Keuangan
(SAK). Di bagian awal buku sebelum dicantumkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) dikemukakan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
(KDPPLK).
KDPPLK disajikan baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris sesuai aslinya
menurut International Accounting Standards Committee. Berdasarkan tujuan dan isi atau ruan
lingkupnya KDPPLK tersebut tidak jauh berbeda dengan tujuan dan is dari Statement of
Financial Accounting Concepts (SFAC) versi FASB.

1
BAB 2
PEMBAHASAN

Perbandingan Kerangka Konseptual yang ada di Indonesia dan Kerangka Konseptual


FASB
2.1. DEFINISI
 Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK)
Di Indonesia , kerangka konseptual dikenal pada bulan September 1994, dalam hal ini
IAI mengambil kebijakan untuk mengadopsi kerangka konseptual yang disusun oleh IASC
sebagai dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan . kebijakan tersebut disetujui oleh
Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan disahkan oleh
pengurus IAI pada tanggal 7 September 1994. IAI menamakan kerangka konseptual
Indonesia dengan istilah “Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan”.
Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan yang akan disingkat
KDPPLK merupakan hasil suatu proses penalaran dan pemikiran akuntansi yang diharapkan
berlaku dalam lingkungan dan kondisi tertentu yang merupakan pemilihan faktor-faktor dan
konsep-konsep yang relevan.

 Kerangka Koneptual FASB


Adanya kebutuhan akan rerangka konseptual mendorong FASB mengeluarkan
Discussion Memorandum berjudul “ Conceptual Rerangka for Financial Accounting and
Reporting : Elements of Financial Statements and Their Measurement “ pada tahun 1976.
Hasil kerja dan tulisan tersebut akhinya pada periode 1978-1985 dihasilkan enam komponen
rerangka konseptual dan diberi nama Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) :
a) SFAC No. 1,”Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises,” yang
menyajikan sasaran dan maksud dari akuntansi.
b) SFAC No. 2,”Qualitative Charateristics of Accounting Information,” yang melihat
karakteristik-karakteristik yang membuat informasi akuntansi berguna
c) SFAC No. 3,”Elements of Financial Statements of Business Enterprises,” yang
memberikan definisi mengenai elemen-elemen dalam laporan keuangan, seperti aktiva,
kewajiban, pendapatan, dan beban.
d) SFAC No. 5,”Recognition and Measurement in Financial Statements of Business
Enterprises,” yang menetapkan pengakuan dan criteria pengukuran fundamental serta
pedoman mengenai bagaimana informasi sebaiknya secara formal dicantumkan dalam
laporan keuangan.
e) SFAC No. 6 : “Elements of Financial Statements: A Replacement of FASB Concepts
Statement No. 3,” dan memperluas ruang lingkupnya untuk ikut mencakup organisasi-
organisasi nirlaba.
f) SFAC No. 7, ”Using Cash Flow Information and Present Value in Accounting
Measurements,” memberikan sebuah kerangka untuk menggunakan arus kas dan
menyajikan nilai-nilai sebagai basis pengukuran.

2
Kerangka konseptual ini merupakan dasar teoritis bagi FASB dalam mengembangkan
standard akuntansi keuangan (Statement of Financial Accounting Standard) di Amerika
Serikat. Standar-standar tersebut berkenaan dengan pengukuran aktivitas ekonomi, penentuan
waktu kapan pengukuran dan pencatatan harus dilakukan, ketentuan pengungkapan mengenai
aktivitas tersebut, penyiapan dan penyajian ringkasan aktivitas ekonomi tersebut dalam
bentuk laporan keuangan.

2.2. RUANG LINGKUP


Kerangka Dasar Penyusunan dan
Penyajian Laporan Keuangan Kerangka Koneptual FASB
(KDPPLK)
a) Tujuan laporan keuangan;
b) Karakteris kualitatif yang
menentukan manfaat informasi
dalam laporan keuangan;
c) Definisi, pengakuan, dan
pengukuran unsur-unsur yang
membentuk laporan keuangan;
dan
d) Konsep modal dan
pemeliharaan modal.

1) Tingkat pertama
Pada tingkat pertama, tujuan menunjukkan sasaran dan
maksud dari akuntansi.
2) Tingkat kedua
Tingkat kedua terdiri dari hal-hal yang fundamental
meliputi karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi
dan definisi elemen-elemen dalam laporan keuangan.
3) Tingkat ketiga
Pada tingkat ketiga, terdapat pedoman operasional yang
digunakan oleh akuntan dalam menentukan dan
menerapkan standar akuntansi yang meliputi kriteria
pengakuan, laporan keuangan versus pelaporan
keuangan dan pengukuran.
4) Tingkat keempat
Tingkat keempat terdiri dari mekanisme penyajian yang
digunakan oleh akuntansi untuk menyampaikan
informasi akuntansi yang meliputi pelaporan
penghasilan, pelaporan arus dana dan likuiditas, dan
pelaporan posisi keuangan.

3
2.2.1. Tujuan Laporan Keuangan
 Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK)
Tujuan laporan keuangan
KDPPLK menyatakan bahwa tujuan laporan keuangan adalah “menyediakan informasi
mengenai posisi keuangan , kinerja, dan perubahan posisi keuangan satu perusahaan yang
bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi”
(paragraph 12).
Oleh karena itu, menurut KDPPLK, tujuan utama laporan keuangan adalah untuk
menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan yang digunakan
oleh banyak pengguna.

 Kerangka Koneptual FASB


Tujuan Pelaporan Keuangan
Tujuan dari pelaporan keuangan oleh perusahaan bisnis:
 Memberikan informasi yang berguna bagi para calon investor dan kreditor maupun
yang sudah ada dan para pengguna lainnya dalam mebuat investasi, kredit, dan
keputusan lainnya.
 Memberikan informasi untuk membantu para calon investor dan kreditor serta para
pengguna lain yang sudah ada dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian dari
penerimaan kas prospektif untuk deviden atau bunga dan penerimaan dari penjualan,
penebusan, atau jatuh temponya surat berharga atau pinjaman.
 Memberikan informasi mengenai sumber daya ekonomi dari perusahaan, laim untuk
sumber daya tersebut, serta dampak dari transaksi-transaksi, peristiwa, dan kejadian
yang mengubah sumber daya dan klaim atas sumber daya tersebut.
 Memberikan informasi mengenai kinerja perusahaan selam periode tersebut
 Memberikan informasi mengenai kinerja perusahaan yang diperoleh melalui
pengukuran penghasilan dan komponen-komponennya.
 Memberikan informasi mengenai bagaimana perusahaan memperoleh dan
menggunakan kasnya, mengenai pinjaman dan pembayaran kembali pinjaman
tersebut, mengenai transaksi-transaksi modalnya dan mengenai factor-faktor lain yang
memengaruhi likuiditas maupun sovabilitas perusahaan tersebut
 Memberikan informasi bagaimana manajemen dari sebuah perusahaan menggunakan
tanggung jawab pengurusannya kepada pemilik (pemegang saham) untuk penggunaan
sumber daya perusahaan yang dipercayakan kepadanya.
 Memberikan informasi yang berguna bagi manajer dan direktur dalam mengambil
keputusan yang sesuai dengan keinginan dari pemilik

Tujuan dari pelaporan keuangan oleh perusahaan nonbisnis:


 Informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan mengenai alokasi sumber
daya.
 Informasi yang bermanfaat dalam menilai jasa dan kemampuan untuk memberikan
jasa

4
 Informasi yang bermanfaat dalam menilai kepengurusan dan kinerja manajemen
 Informasi mengenai sumber daya ekonomi, kewajiban, sumber daya bersih, dan
pembebanan-pembebanannya
 Informasi mengenai kinerja organisasi dalam periode tertentu
 Informasi mengenai bagaimana organisasi nonbisnis memperoleh dan menggunakan
dana kasnya, mengenai pinjaman dan pembayaran kembali tersebut, serta mengenai
factor-faktor lain yang dapat mempengaruhi likuiditas organisasi
 Mencakup penjelasan dan interpretasi untuk membantu penyedia sumber daya dan
pengguna- pengguna lain memahami informasi keuangan yang mereka terima

2.2.2 Karakteristik Kualitatif


 Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK)
Karakteris kualitatif yang menentukan manfaat informasi dalam laporan keuangan
Agar laporan keuangan dapat menyediakan informasi yang berguna bagi pembuatan
keputusan oleh banyak pengguna, KDPPLK mengharuskan informasi yang dimuat di
dalamnya agar memiliki 4 karakteristik kualitatif, yaitu dapat dipahami, relevan,
keandalan, dan dapat diperbandingkan (paragraph 24).
KDPPLK mengharuskan semua informasi yang diberikan dalam laporan keuangan
dapat dipahami oleh banyak pengguna, Namun demikian, informasi kompleks yang
seharusnya dimasukkan dalam laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas dasar
pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dapat dipahami oleh pengguna
tertentu.
Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pengguna
dalam proses pengambilan keputusan dan harus dapat diandalkan. Keandalan laporan
keuangan meliputi ciri-ciri, yaitu :
a) Penyajian jujur;
b) Netralitas;
c) Substansi mengungguli bentuk;
d) Pertimbangan sehat; dan
e) Kelengkapan.

 Kerangka Konseptual FASB


Karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi:
Kualitas Primer
Relevansi (relevance) dan keandalan (reliability) harus melekat pada informasi akuntansi.
1. Relevansi
Agar relevan informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam sebuah
keputusan. Informasi itu mampu mempengaruhi pengambilan keputusan dan berkaitan
erat dengan keputusan yang akan diambil, jika tidak berarti informasi tersebut dikatakan
tidak relevan. Informasi yang relevan harus memiliki nilai umpan balik (feed-back
value), yakni mampu membantu menjustifikasi dan mengoreksi harapan masa lalu.
Informasi juga harus memiliki nilai prediktif (predictive value) yakni dapat digunakan
untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

5
Selain itu kualitas relevan juga harus mempunyai substansi tepat waktu (timeliness).
Informasi harus disajikan kepada para pemakai sebelum informasi itu kehilangan
kapasitasnya untuk mempengaruhi pengambilan keputusan.

2. Keandalan
Informasi dianggap andal jika dapat diverifikasi, netral, disajikan secara tepat serta bebas
dari kesalahan dan bias (penyimpangan). Keandalan sangat diperlukan bagi individu-
individu pemakai yang tidak memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi faktual
dari informasi.
Realibilitas sangat diperlukan oleh individu-individu yang tidak memiliki waktu atau
keahlian untuk mengevaluasi isi faktual dari informasi.
· Daya Uji (verifiability): ditunjukkan ketika pengukur-pengukur independen, dengan
menggunakan metode pengukuran yang sama, mendapatkan hasil yang serupa.
· Ketepatan penyajian (representational faithfulness): angka-angka dan penjelasan
dalam laporan keuangan mewakili apa yang benar-benar ada dan terjadi.
· Netralitas(neutrality): informasi tidak dapat dipilih untuk kepentingan sekelompok
pemakai tertentu. Info yang disajikan harus faktual, benar dan tidak bias
3. Keberdayaujian (verifiability)
Informasi harus dapat diuji kebenarannya. Dapat diujinya kebenaran informasi akuntansi
berdasar pada keobyektifan dan konsensus. Contoh, keandalan informasi harga perolehan
fixed assets harus diuji berdasar data masa lalu yang terekam pada faktur (keobyektifan).
Tetapi keandalan informasi tentang depresiasi aktiva tetap itu adalah berdasarkan
konsensusa mengenai metode depresiasi yang digunakan, taksiran nilai residu, dan
taksiran umur ekonomis.
4. Kenetralan (neutrality).
Informasi akuntansi dimaksudkan untuk memenuhi tujuan berbagai kelompok pemakai.
Oleh karena itu harus bebas dari usaha-usaha untuk memberikan keuntungan lebih kepada
kelompok tertentu.
5. Kejujuran penyajian (representational faithfulness). Penyajian yang jujur berarti adanya
kesesuaian antara fakta dan informasi yang disampaikan.

Kualitas Sekunder
Kualitas sekunder yang harus dimiliki informasi akuntansi adalah keberdayabandingan
(comparability) dan konsistensi (consistency).
1. Keberdayabandingan.
Informasi akuntansi akan lebih bermanfaat jika dapat dibandingkan antara satu
perusahaan dengan perusahaan yang lain dalam satu industri (perbandingan horizontal)
atau membandingkan perusahaan yang sama untuk periode yang berbeda
(perbandingan vertikal). Jadi diperlukan standar dan ukuran tertentu.
2. Konsistensi.
Sebuah entitas dikatakan konsisten dalam menggunakan standar akuntansi apabila
mengaplikasikan perlakuan akuntansi (metode akuntansi) yang sama untuk kejadian-
kejadian serupa, dari periode ke periode.

6
2.2.3 Elemen Laporan Keuangan
 Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK)
Definisi, pengakuan, dan pengukuran unsur-unsur yang membentuk laporan keuangan
KDPPLK mengidentifikasi unsure-unsur :
a) Aset;
b) Liabilitas;
c) Ekuitas;
d) Kinerja; dan
e) Beban;

Asset didefinisikan sebagai “ sumber daya yang dikuasai oleh sebuah perusahaan
sebagai hasil dan peristiwa lampau dan diharapkan mengalirkan keuntungan di masa
mendatang bagi perusahaan tersebut”. Kata kunci yang harus digaris bawahi dari definisi
di atas adalah “ penguasaan “. Oleh karenanya, suatu sumber daya yang dikuasai,
meskipun tidak dimiliki, harus dianggap sebagi asset. Contohnya, sebuah perusahaan
harus menyatakan kendaraan bermotor yang diperoleh lewat perjanjian sewa beli atau
mesin yang disewakan lewat perjanjuan sewa (dapat diberlakukan dengan ketetapan
PSAK 30) sebagai asset.
Liabilitas didefinisikan sebagai “kewajiban yang dimiliki sebuah perusahaan di masa
kini sebagai hasil dari peristiwa lampau, yang penyelesainnya diharapkan dihasilkan dari
aliran keluar sumber daya yang merupakan keuntungan ekonomi dari perusahaan
tersebut”. Kata kunci yang harus digarisbawahi dari defnisi diatas adalah “kewajiban”.
Suatu kewajiban dapat berupa kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif.
Ekuitas didefinisikan sebagai “laba sisa pada asset sebuah perusahaan setelah
dikurangi semua liabilitasnya”. Dapat dilihat bahwa ekuitas tidak didefinisikan jenisnya.
Ekuitas hanya diungkapkan sebagai sebuah rumus matematis:
(Aset – Liabilitas = Ekuitas)
Penghasilan neto (laba) sering kali digunakan sebagai ukuran kinerja. Definisi
penghasilan (income) meliputi pendapatan (revenue) maupun keuntungan (gains).
Pendapatan timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal
dengan sebutan yang berbeda, seperti penjualan, penghasilan jasa, bunga, dividen,
royalty, dan sewa. Keuntungan mencerminkan pos lainnya, misalnya keuntungan atas
penjualan asset tetap.
Definisi beban mencakup baik kerugian maupun beban yang timbul dalam
pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa.
Pos yang memenuhi definisi suatu unsur harus diakui, jika :
a) Ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan pos tersebut akan
mengalir dari atau ke dalam perusahaan ; dan
b) Pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal

 Kerangka Konseptual FASB


Elemen-elemen yang berkaitan langsung dengan pengukuran kinerja daan status dari
perusahaan:

7
1. Aktiva : Kemungkinan manfaat ekonomi di masa depan yang diperoleh atau dikendalikan
oleh suatu entitas tertentu sebagai akibat transaksi atau peristiwa dimasa lalu.
2. Kewajiban : Kemungkinan pengorbanan manfaat ekonomi di masa depan yang timbul
dari utang saat ini. Suatu entitas untuk mengalihkan aktiva atau memberikan jasa kepada
entitas lain di masa depan sebagai akibat dari transaksi atau peristiwa dimasa lalu .
3. Ekuitas : Kepentingan residual dari aktiva suatu entitas yang tersisa setelah mengurangi
dengan kewajibannya
4. Investasi oleh pemilik : Peningkatan aktiva bersih dari perusahaan yan diakibatkan
pengalihan sesuatu yang bernilai kepada perusahaan dari entitas lain untuk mendapatkan
atau meningkatkan kepemilikan dari perusahaan.
5. Distribusi kepada pemilik : Penurunan aktiva bersih dari perusahaan yang diakibatkan
oleh pengahlian aktiva, pemberian jasa, atau timbulnya kewajiban oleh perusahaan
kepada pemilik
6. Laba komprehensif : Perubahan ekuitas (aktiva Bersih) perusahaan selama periode
tertentu yang diakibatkan dari transaksi dan peristiwa serta kejadian- kejadian lain dari
sumber non pemilik
7. Pendapatan : Arus masuk atau peningkatan lain dari aktiva atau sebuah entitas pelunasan
kewajiban sebuah entitas (atau kombinasi dari keduanya) selama satu periode tertentu
8. Beban : Arus keluar atau penggunaan lain dari aktiva dari sebuah entitas atau timbulnya
kewajiban suatu entitas (atau kombinas dari keduanya) selama satu periode tertentu yang
dihasilkan oleh penyampaian atau produksi barang
9. Keuntungan : Peningkatan ekuitas (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi entitas yang
insidental atau sampingan dan dari semua transaksi dan peristiwa serta kejadian lainnya
yang mempengaruhi entitas selama satu periode tertentu yang timbul dari pendapatan atau
investasi pemilik
10. Kerugian : penurunan ekuitas (aktiva bersih) dari transaksi entitas yang insidental atau
sampingan dan dari semua transaksi dan peristiwa serta kejadian lainnya yang
mempengaruhi entitas selama satu periode tertentu kecuali yang timbul dari beban atau
distribusi kepada pemilik

2.2.4 Konsep modal dan pemeliharaan modal.


 Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK)
Konsep pemeliharaan modal sangat penting bagi pengukuran laba. Menurut Hicks, seorang
ekonom, laba adalah jumlah maksimum yang dapat dikonsumsi oleh sebuah perusahaan
dalam suatu periode, namun kekayaan di akhir periode sama dengan di awal periode. Oleh
karenanya, laba adalah kelebihan setelah posisi awal dipelihara.
KDPPLK menyebut dua cara mengukur dan memelihara posisi awal, yaitu :
a) Modal keuangan; dan
b) Modal fisik

2.2.5 Pengakuan dan Pengukuran


 Kerangka Konseptual FASB
Kriteria pengakuan meliputi:

8
 Definisi: hal tersebut memenuhi definisi dari sebuah elemen laporan keuangan.
 Dapat diukur: hal ini memiliki atribut yang relevan dan dapat diukur dengan cukup
andal.
 Relevansi: informasi yang berkenaan membuat perbedaan pada keputusan
penggunanya.
 Keandalan: informasi tersebut representasional, tepat, dapat diverifikasi, dan netral.

Dalam kaitannya dengan pengukuran, laporan melihat lima atribut yang berbeda dari aktiva
dan kewajiban, yaitu:
· Biaya historis
· Biaya penggantian saat ini
· Nilai pasar saat ini
· Nilai bersih yang dapat direalisasi
· Nilai arus kas masa depan saat ini

2.2.6 Laporan Lain-Lain


 Kerangka Konseptual FASB
1. Laporan Perusahaan
Laporan perusahaan merupakan laporan yang berhubungan dengan akuntabilitas
publik dari segala bentuk entitas ekonomi, terutama pada perusahaan bisnis. Laporan
ini mencoba untuk menyusun sekumpulan konsep-konsep yang sedang dikembangkan
sebagai dasar bagi pelaporan keuangan.
Tujuan dari studi ini adalah untuk memeriksa kembali ruang lingkup dan sasaran dari
laporan keuangan yang telah diterbitkan dilihat dari kebutuhan-kebutuhan dan kondisi
modern.
Setelah mendokumentasikan keterbatasan dari praktik-praktik pelaporan yang ada saat
ini, maka di usulkan perlunya laporan-laporan tambahan berikut ini:
a) Laporan nilai tambah, yang menunjukkan bagaimana keuntungan yang
diperoleh dari usaha perusahaan dibagi antar karyawan, penyandang modal, negara,
dan investasi kembali.
b) Laporan ketenagakerjaan, yang menunjukkan jumlah dan komposisi dari
tenagan kerja yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan, kontribusi pekerjaan
dari para karyawan dan manfaat-manfaat yang diterima.
c) Laporan pertukaran uang dengan pemerintah, yang menunjukkan hubungan
keuangan antara perusahaan dengan negara.
d) Laporan transaksi dalam mata uang asing, yang menunjukkan transaksi-transaksi
kas langsung antara inggris dengan negara negara lain.
e) Laporan prospek-prospek di masa depan, yang menunujukkan kemungkinan
laba di masa depan, tingkat penempatan kerja dan investasi.
f) Laporan tujuan perusahaan, yang menunjukkan kebijakan manajemen dan
sasaran-sasaran strategis jangka menengah.

9
2. “Laporan Stamp”
Pendekatan yang di usulkan oleh “Laporan Stamp” ini bersifat evolusioner. Hal ini
mengidentifikasikan masalah dan permasalahan konseptual dan memberikan solusi
dari segi identifikasi tujuan-tujuan laporan keuangan perusahaan, pengguna laporan
perusahaan, sifat dari kebutuhan para pengguna, dan kriteria untuk penilaian mutu
standar dan akuntabilitas korporat sebagai kemungkinan komponen-komponen bagi
kerangka konseptual Kanada.

10
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kerangka konseptual merupakan suatu format yang koheren tentang tujuan dan
konsep dasar yang saling berkaitan, yang diharapkan dapat menghasilkan standar-standar
yang konsisten dan memberi pedoman tentang jenis, fungsi serta keterbatasan akuntansi
keuangan dan pelaporan keuangan. Indonesia melalui IAI mengambil kebijakan untuk
mengadopsi rerangka konseptual yang disusun oleh IASC sebagai dasar penyusunan dan
penyajian laporan keuangan. Tujuan rerangka konseptual akuntansi di Indonesia pada intinya
sejalan dengan tujuan rerangka konseptual milik US, yaitu untuk membantu berbagai pihak
dalam mencapai tujuan berkaitan dengan masalah akuntansi yang muncul.

11
DAFTAR PUSTAKA

Juan, Eng, dan Wahyuni Ersa Tri.2013.Panduan Praktis Standar Akuntansi


Keuangan.Jakarta:Salemba Empat

Yulianto, Ali Akbar, dan Risnawati Dermauli (Penterjermah).2011.Accounting Theory.


Jakarta:Salemba Empat

Muqodim.2005.Teori Akuntansi.Yogyakarta:EKONISIA

http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting

12