Anda di halaman 1dari 14

SUB ARAKHNOID HEMORAGIC (SAH)

I. Konsep Penyakit Sub abarakhnoid hemoragic (SAH)


1.1 Definisi
Sub arakhnoid hemoragic (SAH) adalah perdarahan tiba – tiba ke
dalam rongga diantara otak dan selaput otak. (Satyanegara, dkk. 2010)
Sub arakhnoid hemoragic (SAH) merupakan penemuan yang sering
pada trauma kepala akibat dari yang paling sering adalah robeknya
pembuluh darah leptomeningeal pada vertex dimana terjadi pergerakan
otak yang besar sebagai dampak , atau pada sedikit kasus, akibat
rupturnya pembuluh darah serebral major. ( Muttaqin A. 2014)
Berdasarkan uraian diatas maka Sub Arakhnoid Hemoragik secara
umum yaitu pendarahan di daerah antara otak dan jaringan tipis yang
menutupi otak yag sering di temukan pada trauma kepala akibat dari
yang paling sering adalah robeknya pembuluh darah leptomeningeal
pada vertex dimana terjadi pergerakan otak yang besar sebagai dampak ,
atau pada sedikit kasus, akibat rupturnya pembuluh darah serebral major.

1.2 Etiologi
Trauma, Kelemahan pembuluh darah akibat infeksi, misalnya emboli
septik dari endokarditis infektif ( aneurisma mikotik ), Koagulapati,
Gangguan lain yang mempengaruhi vessels, Gangguan pembuluh darah
pada sum-sum tulang belakang dan berbagai jenis tumor.

1.3 Patofisiologi
Aneurisma merupakan luka yang disebabkan oleh karena tekanan
hemodinamik pada dinding arteri percabangan dan perlekukan. Saccular
atau biji aneurisma dispesifikasikan untuk arteri intracranial kaarena
dindingnya kehilangan suatu selaput tipis bagian luar dan mengandung
faktor adventitia yang membantu pembentukan aneurisma. Suatu bagian
tambahan yang tidak didukung dalam ruang subarachnoid. Aneurisma
kebanyakan dihasilkan dari terminal pembagi dalam arteri karotid
bagian dalam dan dari cabang utama bagian anterior.
1.4 Tanda gejala
1. Gejala prodromal: nyeri kepala hebat dan perakut, hanya 10 %
sementara 90% lainnya tanpa keluhan sakit kepala.
2. Kesadaran sering terganggu, dan sangat bervariasi dari tak sadar
sebentar, sedikit delirium sampai koma.
3. Fundus okuli 10% penderita mengalami edema pupil, beberapaa
jam setelah perdarahan. Sering terdapat perdarahan subhialoid
karena pecahnya aneurisma pada arteri komunikans anterior atau
arteri karortis interna.
4. Gejala – gejala neurologi fokal: bergantung pada lokasi lesi.
5. Gangguan saraf otonom: demam setelah 24 jam, demam ringan
karena rangsangan mening, dan demam tinggi bila dilihatkan
hipotalamus. Bila berat, maka terjadi ulkus peptikum disertai
hematemesis dan melena (stress ulcer), dan seringkali disertai
peninggian kadar gula darah, glukosuria, albuminuria, dan
perubahan pada EKG.

1.5 Pemeriksaan Penunjang


1. CT Scan
Pemeriksaan CT Scan berfungsi untuk mengetahui adanya massa
intracranial pada pembesaran ventrikel yang berhubungan dengan
darah (densitas tinggi) dalam ventrikel atau dalam ruang
subarachnoid.
2. MRI
Hasil tahapan control perdarahan subarachnoid kadang – kadang
tampak MRI lapisan tipis pada sinyal rendah.
3. Pungsi lumbal
Untuk konfirmasi diagnosis. Tidak ada kontraindikasi pungsi
lumbal selama diyakini tidak ada lesi massa dari pemeriksaan
pencitraan dan tidak kelainan perdarahan.

4. EKG dan Foto Thorax


Edema paru dan aritmia jantung dapat terlihat dari rontgen dada.
Kadang terjadi glikosuria.

1.6 Penatalaksanaan
1) Penderita segera dirawat dan tidak boleh melakukan aktivitas berat.
2) Obat pereda nyeri diberikan untuk mengatasi sakit kepala hebat.
3) Kadang dipasang selang drainase di dalam otak untuk mengurangi
tekanan.
4) Pembedahan untuk memperbaiki dinding arteri yang lemah, bisa
mengurangi resiko perdarahan fatal di kemudian hari.
5) Sebagian besar ahli bedah menganjurkan untuk melakukan
pembedahan dalam waktu 3 hari setelah timbulnya gejala.
Menunda pembedahan sampai 10 hari atau lebih dapat
memungkinkan terjadinya perdarahan hebat.
6) Pasien dengan SAH memerlukan observasi neurologik ketat dalam
ruang perawatan intensif, kontrol tekanan darah dan tatalaksana
nyeri sementara menunggu perbaaikan aneurisma defisit.
7) Pasien pasien harus menerima profilaksis serangan kejang dan
bloker kanal kalsium untuk vasospasme.
8) Tatalaksana ditujukan pada resusitasi segera dan pencegahan
perdarahan ulang.
9) Tirah baring dan analgesik diberikan pada awal tatalaksana.
10) Antagonis kalsium nimodipin dapat menurunkan mor komplikasi
dini perdarahan subarachnoid meliputi hidrosefalus sebagai akibat
obstruksi aliran cairan serebrospinal oleh bekuaan darah.
11) Jika pasien sadar atau hanya terlihat mengantuk, maka pemeriksaan
sumber perdarahan dilakukan angiografi serebral.
12) Identifikasi aneurisma memunkinkan dilakukan sedini mungkin,
dilakukannya intervensi jepitan ( clipping ) leher aneurisma, atau
jika mungkin membungkus ( wropping ) aneurisma tersebut.

13) Malformasi arteriovenosa yang terjadi tanpa adanya perdarahan,


misalnya epilepsi biasanya tidak ditangani dengan pembedahan.

1.7 Komplikasi
Pada beberapa keadaan, gejala awal adalah katastrofik.Pada kasus
lain, terutama dengan penundaan diagnosis, pasien mungkin mengalami
perjalanan penyakit yang dipersulit oleh perdarahan ulang ( 4 % ),
hidrosefalus, serangan kejang atau vasospasme. Perdarahan ulang
dihubungkan dengan tingkat mortalitas sebesar 70% dan merupakan
komplikasi segera yang paling memprihatinkan
II. Rencana asuhan klien dengan penyakit Sub abarakhnoid hemoragic
(SAH)

A. PENGKAJIAN
1. Anamnesis
1) Identitas klien mencakup nama, usia, jenis kelamin, pendidikan,
alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor
register, dan diagnosa medis.
2) Keluhan utama pada umumnya akan terlihat bila sudah terjadi
disfungsi neurologis. Keluhan yang sering didapatkan meliputi: Nyeri
kepala mendadak, adanya tanda rangsang meningeal (mual, muntah,
fotofobia/intoleransi cahaya, kaku kuduk), penurunan kesadaran,
serangan epileptik, defisit neurologis fokal (disfasia, hemiparesis,
hemihipestesia (berkurangnya ketajaman sensasi pada satu sisi tubuh).
3) Riwayat penyakit sekarang yang mungkin didapatkan meliputi adanya
riwayat trauma, riwayat jatuh, keluhan mendadak lumpuh pada saat
klien melakukan aktivitas, keluhan pada gastrointestinal seperti mual,
muntah, bahkan kejang sampai tidak sadar, di samping gejala
kelumpuhan separuh badan atau ganggguan fungsi otak yang lain,
selisah, letargi, lelah, apatis, perubahan pupil.
4) Riwayat penyakit dahulu meliputi penggunaan obat-obatan (analgesik,
sedatif, antidepresan, atau perangsang syaraf), keluhan sakit kepala
terdahulu, riwayat trauma kepala, kelainan kongenital, peningkatan
kadar gula darah dan hipertensi.
5) Riwayat penyakit keluarga perlu ditanyakan tentang adanya keluarga
yang menderita hipertensi atau diabetes.
6) Pengkajian psikososial meliputi status emosi, kognitif, dan perilaku
klien.
7) Kemampuan koping normal meliputi pengkajian mengenai dampak
yang timbul pada klien seperti ketakutan akan kecacatan, rasa cemas,
rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan
pandangan terhadap dirinya yang salah.
8) Pengkajian sosioekonomispiritual mencakup pengkajian terhadap
fungsi neurologis dengan dampak gangguan neurologis yang akan
terjadi pada gaya hidup individu.

2. Pemeriksaan Fisik
a) Tingkat kesadaran
Tingkat Klinis
Responsivitas
Terjaga Normal
Sadar Dapat tidur lebih dari biasanya, sedikit bingung saat
pertama kali terjaga, tetapi berorientasi sempurna ketika
Letargi terbangun.
Mengantuk tetapi dapat mengikuti perintah sederhana
Stupor ketika dirangsang.
Sangat sulit untuk dibangunkan, tidak konsisten dalam
Semikomatosa mengikuti perintah sederhana atau berbicara satu kata
atau frase pendek.
koma Gerak bertujuan ketika dirangsang tidak mengikuti
perintah, atau berbicara koheren.
Dapat berespon dengan postur secara refleks ketika
distimulasi atau dapat tidak beresepon pada setiap
stimulus.

Respon motorik Respon verbal Membuka mata


Menurut 6 Orientasi 5 Spontan 4
Terlokalisasi 5 Bingung 4 Terhadap 3
Menghindar 4 Kata tidak 3 panggilan 2
Fleksi 3 dimengerti 2 Terhadap nyeri 1
abnormal 2 Hanya suara 1 Tidak dapat
Ekstensi 1 Tidak ada
abnormal
Tidak ada

b) Keadaan umum
Pasien dalam kesadaran menurun atau terganggu postur tubuh mengalami
ganguan akibat adanya kelemahan pada sisi tubuh sebelah atau
keseluruhan lemah adanya gangguan dalam berbicara kebersihan diri
kurang serta tanda-tanda vital (hiprtensi)
1) Sistem Integumen
Kulit tergantung pada keadaan penderita apabila kekurangan O2 kulit
akan kebiruan kekurangan cairan turgor jelek berbaring terlalu lama
atau ada penekanan pada kulit yang lama akan timbul dekubitus.
Kuku jika penderita kekurangan O2 akan tampak kebiruan
2) Pemeriksaan Kepala atau Leher
Bentuk normal simetris
Bentuk kadang tidak simetris karena adanya kelumpuhan otot daerah
muka tampak gangguan pada mata kadaan onga mulut kotor karena
kuang perawatan diri .
Bentuk normal pembesaran kelenjar thyroid tidak ada.
3) Sistem pernafasan
Adanya pernafasan dispnoe, apnoe atau normal serta obstrusi jalan
nafas, kelumpuhan otot pernafasan penggunaan otot-otot bantu
pernafasan, terdapat suara nafas ronchi dan whezing.
4) Sistem kardio vaskuler
Bila penderita tidak sadar dapat terjadi hipertensi atau hipotensi,
tekanan intrakranial meningkat serta tromboflebitis, nadi bradikardi,
takikardi atau normal .
5) Sistem pencernaan
Adanya distensi perut, pengerasan feses, penurunan peristaltik usus,
gangguan BAB baik konstipasi atau diare .
6) Ekstrimitas
Adanya kelemahan otot, kontraktur sendi dengan nilai ROM : 2, serta
kelumpuhan.
7) Pemeriksaan urologis
Pada penderita dapat terjadi retensi urine, incontinensia infeksi
kandung kencing, serta didapatkannya nyeri tekan kandung kencing.

c) Saraf Kranial
- Saraf Kranial I (olfaktorius/ penciuman) : Biasanya pada klien
stroke tidak ada kelainan pada fungsi penciuman.
- Saraf Kranial II (optikus/ penglihatan) : Disfungsi persepsi
visual karena gangguan jaras sensorik primer di antara mata dan korteks
visual.
- Saraf Kranial III, IV, dan VI (okulomotorius/ mengangkat kelopak
mata, troklearis, dan abdusens) : Apabila akibat
stroke mengakibatkan paralisis seisi otot-otot okularis didapatkan
penurunan kemampuan gerakan konjugat unilateral di sisi yang sakit.
- Saraf Kranial V (trigeminus) : Paralisis saraf
trigeminus, didapatkan penurunan kemampuan koodinasi gerakan
mengunyah. Penyimpangan rahang bawah ke sisi ipsilateral dan
kelumpuhan seisi otot-otot pterigoideus internus dan eksternus.
- Saraf Kranial VII (fasialis) : Persepsi pengecapan
dalam batas normal, wajah asimetris, otot wajah tertarik ke bagian sisi
yang sehat.
- Saraf Kranial VIII (vestibulokoklearis) : Tidak dietmukan tuli
konduktif dan tuli perseptif.
- Saraf Kranial IX dan X (glosofaringeus dan vagus) : Kemampuan
menelan kurang baik, kesukaran membuka mulut.
- Saraf Kranial XI (aksesoris) : Tidak ada atrofi otot
sternokleidomastoideus dan trapesius.
- Saraf Kranial XII (hipoglosus) : Tidah simetris,
terdapat deviasi pada satu sisi dan fasikulasi. Indra pengecap normal.

d) Sistem Motorik
Refleks : pada fase akut refleks fisiologis sisi yang lumpuh
akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul
kembali didahului dengan refleks patologis.
Gerakan involunter : pada umumnya kejang.
e) Sistem sensorik
Dapat terjadi hemihipestesi

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Risiko peningkatan TIK yang berhubungan dengan peningkatan volume
intrakranial, penekanan jaringan otak, dan edema serebri.
2. Perubahan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan
intraserebri, oklusi otak, vasospasme, dan edema otak.
3. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan
akumulasi sekret, penurunan mobilitas fisik, dan penurunan tingkat
kesadaran.
4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/ hemiplegia,
kelemahan neuromuskular pada ekstremitas.
5. Risiko tinggi cidera berhubungan dengan penurunan sensari, luas lapang
pandang.
6. Defisit perawatan diri : mandi dan eliminasi berhubungan dengan
kelemahan neuromuskular, menurunnya kekuatan dan kesadaran,
kehilangan koordinasi otot.
7. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan efek dari kerusakan
pada area bicara pada hemisfer otak, kehilangan kontrol tonus otot fasial
atau oral, dan kelemahan secara umum.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Risiko peningkatan TIK yang berhubungan dengan peningkatan volume
intrakranial, penekanan jaringan otak, dan edema serebri.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam tidak
terjadi peningkatan TIK.

Kriteria hasil:
- Tidak gelisah
- Keluhan nyeri kepala tidak ada
- Mual dan muntah tidak ada
- GCS 456
- Tidak ada papiledema
- TTV dalam batas normal
Intervensi Rasional
Kaji keadaan klien, penyebab Memperioritaskan intervensi, status
koma/ penurnan perfusi jaringan neurologis/ tanda-tanda kegagalan
dan kemungkinan penyebab untuk menentukan kegawatan atau
peningkatan TIK tindakan pembedahan.
Memonitor TTV tiap 4 jam. Suatu keadaan normal bila sirkulasi
serebri terpelihara dengan baik.
Peningkatan TD, bradikardi,
disritmia, dispnea merupakan tanda
peningkatan TIK. Peningkatan
kebutuhan metabolisme dan O2
akan meningkatkan TIK.
Evaluasi pupil. Reaksi pupil dan pergerakan
kembali bola mata merupakan tanda
dari gangguan saraf jika batang otak
terkoyak. Keseimbangansaraf antara
simpatis dan parasimpatis
merupakan respons refleks saraf
kranial.
Kaji peningkatan istirahat dan Tingkah laku non verbal merupakan
tingkah laku pada pgi hari. indikasi peningkatan TIK atau
memberikan refleks nyeri dimana
klien tidak mampu mengungkapkan
keluha secara verbal.
Palpasi pembesaran bladder dan Dapat meningkatkan respon
monitor adanya konstipasi. otomatis yang potensial menaikkan
TIK.
Obaservasi kesadaran dengan GCS Perubahan kesadaran menunjukkan
peningkatan TIK dan berguna untuk
menentukan lokasi dan
perkembangan penyakit.
Kolaborasi:
O2 sesuai indikasi Mengurangi hipoksemia.
Diuretik osmosis Mengurangi edema.
Steroid (deksametason) Menurunkan inflamasi dan edema.
Analgesik Mengurangi nyeri
Antihipertensi Mengurangi kerusakan jaringan.
2. Perubahan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan
intraserebri, oklusi otak, vasospasme, dan edema otak.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam perfusi
jaringan otak dapat tercapai secara optimal.
Kriteria hasil:
- Tidak gelisah
- Keluhan nyeri kepala , mual, kejang tidak ada
- GCS 456
- Pupil isokor
- Refleks cahaya +
- TTV dalam rentang normal (TD: 110-120/80-90 mmHg; nadi: 60-100
x/menit; suhu: 36,5-37,50C; RR: 16-20 x/menit)

Intervensi Rasional
Tirah baring tanpa bantal. Menurunkan resiko terjadinya
herniasi otak.
Monitor asupan dan keluaran. Mencegah terjadinya dehidrasi.
Batasi pengunjung. Rangsangan aktivitas dapat
meningkatkan tekanan intrakranial.
Kolaborasi:
Cairan perinfus dengan ketat. Meminimalkan fluktuasi pada
beban vaskuler dan TIK, restriksi
cairan dan cairan dapat menurunkan
Monitor AGD bila perlu O2 edema.
tambahan. Adanya asidosis disertai pelepasan
O2 pada tingkat sel dapat
menyebabkan iskemia serebri.
Steroid Menurunkan permeabilitas kapiler
Aminofel. Menurunkan edema serebri
Antibiotik Menurunkan konsumsi sel/
metabolik dan kejang.

3. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan


akumulasi sekret, penurunan mobilitas fisik, dan penurunan tingkat
kesadaran.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan selama 2x24 jam klien mampu
meningkatkan dan mempertahankan jalan nafas tetap bersih dan
mencegah aspirasi.

Kriteriahasil:
- Bunyi nafas bersih
- Tidak ada penumpukan sekrest di saluran nafas
- Dapat melakukan batuk efektif
- RR 16-20 x/menit

Intervensi Rasional
Kaji keadaan jalan nafas Obstuksi dapat terjadi karena akumulasi
sekret ata sisa cairan mukus, perdarahan.
Evaluasi pergerakan dada Pergerakan dada simetris dengan suara nafas
dan auskultasi kedua dari paru-paru mengindikasikan tidak ada
lapang paru. sumbatan.
Ubah posisi setap 2 jam Mengurangi risiko atelektasis.
dengan teratur.
Kolaborasikan: Mengatur venstilasi dan melepaskan sekret
Aminofisil, alupen, dan karena relaksasi otot.
bronkosol.

D. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi
kestatus kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria hasil yang
diharapkan.

E. Evaluasi
Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistemik dan
terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan,
dilakukan dengan cara bersinambungan dengan mlibatkan klien dan tenaga
kesehatan lainnya. Menurut Craven dan Himle, evaluasi didefinisikan sebagai
keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan antara dasar tujuan keperawatan
klien yang telah ditetapkan dengan respon perilaku klien yang tampil.
DAFTAR PUSTAKA

Batticaca, Fransisca B. 2013. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan


Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika. Hal: 58.
Dewanto G, et al. 2013. Panduan Praktis Diagnosis Dan Tata Laksana Penyakit
Saraf. Jakarta: EGC.
Muttaqin A. 2014. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Price, Wilson. 2014. Patofisiologi. Jakarta:EGC

Satyanegara, dkk. 2010. Ilmu Bedah Saraf Satyanegara. Ed. 4. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Weiner, Howard L. 2013. Buku Saku Neurologi. Jakarta: EGC.
DAFTAR PUSTAKA

Batticaca, Fransisca B. 2013. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan


Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika. Hal: 58.
Dewanto G, et al. 2013. Panduan Praktis Diagnosis Dan Tata Laksana Penyakit
Saraf. Jakarta: EGC.
Https://www.scribd.com/mobile/document/257377507/LP-SUBARACHNOID-
HEMORRHAGE-doc tanggal 20 November 2017 jam 15.42 WIB

Muttaqin A. 2014. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan


Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Price, Wilson. 2014. Patofisiologi. Jakarta:EGC

Satyanegara, dkk. 2010. Ilmu Bedah Saraf Satyanegara. Ed. 4. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Weiner, Howard L. 2013. Buku Saku Neurologi. Jakarta: EGC.