Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam tubuh manusia terdapat banyak organ-organ dimana organ-
organ tersebut membentuk suatu sistem yang mengatur fungsi-fungsi
tertentu, seperti sistem pencernaan, sistem endokrin, sistem sirkulasi, sistem
pernapasan, dan sitem lainnya. Sistem Pernafasan atau Respirasi adalah
Sistem pada manusia yang berfungsi untuk mengambil oksigen dari udara
luar dan mengeluarkan karbondioksida melalui paru-paru. Pernapasan
adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam keadaan
tertidur sekalipun karena sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf
otonom.
Organ-organ yang termasuk dalam sistem pernapasan antara lain
hidung, faring, laring, esofagus, trakhea, bronkus, bronkeolus, dan alveolus.
Apabila salah satu organ terganggu, maka sistem pernapasannya pun akan
terganggu, karena organ-organ tersebut merupakan satu kesatuan dalam
sistem pernapasan.
Banyak faktor yang dapat mengganggu sistem pernapasan pada
manusia, seperti faktor keturunan/genetik maupun faktor lingkungan. Faktor
keturunan merupakan faktor yang diturunkan dari keluarga itu sendiri, misal
sepasang suami istri melahirkan seorang anak yang memiliki penyakit asma,
ternyata ayahnya memiliki riwayat penyakit asma dan itu diturunkan kepada
anaknya.
Sedangkan faktor lingkungan bisa dari mana saja, seperti lingkungan
kantor, sekolah, jalan raya, rumah, dan lain-lain. Contoh di lingkungan jalan
raya, jalan raya identik dengan banyaknya kendaran bermotor yang asap
knalpotya mengandung gas karbon monoksida dan asap tersebut jika
terhirup setiap harinya dapat menyebabkan gangguan pada paru-paru.
Debu-debu yang bertebaran juga dapat mengganggu pernapasan
seseorang, khususnya bagi orang yang mempunyai alergi terhadap debu.
Selain itu, asap rokok juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan, baik
bagi perokok aktif maupun perokok pasif.

1
2

Kesadaran manusia akan pentingnya menjaga kesehatan tubuh


mereka masih kurang. Buktinya masih banyak masyarakat terutama kaum
pria yang masih saja merokok, meskipun sebenarnya mereka sudah tahu
bahwa dampaknya bagi tubuh, terutama pada pernapasan akan buruk,
bahkan dapat menyebabkan kematian. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia menyatakan “berdasarkan data Riskesdas 2007, prevalensi
merokok di Indonesia naik dari tahun ke tahun. Persentase pada penduduk
berumur >15 tahun adalah 35,4 persen aktif merokok (65,3 persen laki-laki
dan 5,6 persen wanita), artinya 2 diantara 3 laki-laki adalah perokok aktif”.
Anwar (detikHealth, 2016) melansir alasan kenapa orang masih tak percaya
bahwa rokok itu berbahaya, “pakar kesehatan masyarakat dari Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Profesor Hasbullah Thabrany
mengatakan ini karena masyarakat masih banyak melihat penyebab
kematian perokok dari penyebab terdekatnya saja seperti sakit jantung atau
kanker yang dianggap dipicu karena faktor lain”.
Kurangnya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan bisa
menjadi faktor terbesar masyarakat menderita berbagai penyakit, termasuk
gangguan pernapasan. Masyarakat bisa memulainya dengan selalu menjaga
kebersihan lingkungannya dan memeriksakan kesehatan tubuhnya secara
rutin kepada lembaga kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit untuk
mengetahui apakah ada penyakit atau gangguan pada sistem
pernapasannya, dengan begitu masyarakat dapat mengantisipasi sebelum
benar-benar menderita gangguan sistem pernapasan. Seperti yang
dikatakan oleh banyak orang, lebih baik mencegah daripada mengobati.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan sistem pernapasan?
2. Apa saja gangguan pada sistem pernapasan manusia?
3. Apa saja faktor-faktor yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem
pernapasan manusia?
4. Apa saja alat-alat pernapasan?
5. Apa saja penyakit yang sering timbul pada sistem pernapasan?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui tentang sistem pernapasan.
2. Untuk mengetahui gangguan pada sistem pernapasan manusia.
3

3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan gangguan pada


sistem pernapasan manusia.
4. Untuk mengetahui apa saja alat-alat pernapasan
5. Untuk mengetahui apa saja penyakit yang sering timbul pada sistem
pernapasan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistem Pernapasan
“Sistem pernapasan atau sistem respirasi adalah sistem organ yang
digunakan untuk pertukaran gas” (Wikipedia, 2016). Rab (2010:29)
menyatakan bahwa fungsi pernapasan dapat dibagi menjadi 2, yaitu
pertukaran gas dan pengaturan keseimbangan asam basa. Menurut Sloane
(dalam Widyastuti, 1994:266) memberikan penjelasan tentang fungsi
pernapasan sebagai berikut.
Fungsi pernapasan adalah untuk mengambil oksigen (O2) dari
atmosfer ke dalam sel-sel tubuh dan untuk mentranspor karbon dioksida
(CO2) yang dihasilkan sel-sel tubuh kembali ke atmosfer. Organ-organ
respiratorik juga berfungsi dalam produksi wicara dan berperan dalam
keseimbangan asam basa, pertahanan tubuh melawan benda asing, dan
pengaturan hormonal tekanan darah.
Manurung, Suratun, Krisanty, dan Ekarini (2009:13) meyebutkan
bahwa sistem pernapasan bagian atas terdiri dari hidung, faring, laring, dan
trakhea. Sedangkan untuk sistem pernapasan bagian bawah, menurut
Marunung, Suratun, Krisanty, dan Ekarini (2009:21) terdiri dari bronkhus,
bronkhiolus, dan alveolus.
Macam pernapasan menurut Putri (2009) dibagi menjadi 2 jenis, yaitu
pernapasan dada dan pernapasan perut.
1. Pernapasan dada

Gambar 2.1 Pernapasan dada


Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang
rusuk. Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut.

4
5

a. Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk


sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga
dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar
yang kaya oksigen masuk.
b. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya
otot antara tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya
tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya,
tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan
luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida
keluar.
2. Pernapasan Perut

Gambar 2.2 Pernapasan perut


Pernapasan perut adalah pernapasan yang melibatkan otot diafragma.
Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut.
a. Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot diafragma
sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga
dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar
yang kaya oksigen masuk.
b. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya
otot diaframa ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk
sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di
dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar,
sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida
keluar.

B. Gangguan Sistem Pernapasan Manusia


Penyakit/gangguan pernapasan manusia bermacam-macam.
Manurung, Suratun, Krisanty, dan Ekarini (2009:71—83) menyebutkan,
6

penyakit infeksi pada saluran pernapasan atas yaitu faringitis, laringitis,


sinusitis, rhinitis, dan tonsilitis.

Gambar 2.3 Faringitis

1. Faringitis, faringitis adalah peradangan yang terjadi pada faring.


“Faringitis (bahasa Latin: pharyngitis), adalah suatu penyakit
peradangan yang menyerang tenggorok atau hulu kerongkongan
(pharynx). Kadang juga disebut sebagai radang tenggorok” (Wikipedia,
2016). Menurut wikipedia, terdapat dua jenis radang tenggorokan, yaitu
akut dan kronis yang dijelaskan sebagai berikut:
a. Faringitis akut, radang tenggorok yang masih baru, dengan gejala
nyeri tenggorok dan kadang disertai demam dan batuk.
b. Faringitis kronis, radang tenggorok yang sudah berlangsung dalam
waktu yang lama, biasanya tidak disertai nyeri menelan, cuma
terasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorok.

Gambar 2.4 Laringitis

2. Laringitis, laringitis adalah peradangan membran mukosa yang melapisi


laring dan disertai edema pita suara. “Laringitis adalah inflamasi laring.
7

Hal tersebut merupakan suatu kondisi medis yang ditandai dengan


peradangan pada laring (pita suara), yang menyebabkan suara sesak
dan hilagnya suara” (Wikipedia, 2016). Menurut wikipedia, ada dua
tipe laringitis yaitu laringitis akut dan laringitis kronis yang dijelaskan
sebagai berikut:
a. Laringitis akut hanya berlangsung beberapa hari sedangkan
laringitis kronis dapat bertahan hingga lebih dari 3 minggu.
b. Laringitis akut sering terjadi setelah infeksi saluran napas atas
akut dan hampir semuanya sembuh dengan cepat. Sedangkan
laringitis kronik lebih umum terjadi saat musim dingin dan sering
terjadi setelah flu biasa atau influenza.

Gambar 2.5 Sinusitis

3. Sinusitis, sinusitis adalah peradangan pada membran mukosa sinus.


“Sinusitis adalah peradangan, atau pembengkakan, dari jaringan yang
melapisi sinus. Biasanya sinus berisi udara, tetapi ketika sinus
tersumbat dan berisi cairan, kuman (bakteri, virus, dan jamur) dapat
berkembang dan menyebabkan infeksi” (Wikipedia, 2016). Menurut
wikipedia, sinusitis dibagi atas berbagai jenis sebagai berikut:
a. Sinusitis akut: Sebuah kondisi mendadak seperti gejala seperti
pilek, hidung tersumbat dan nyeri wajah yang tidak hilang setelah
10 sampai 14 hari. Sinusitis akut biasanya berlangsung 4 minggu
atau kurang.
b. Sinusitis subakut: Sebuah peradangan yang berlangsung 4
sampai 8 minggu.
8

c. Sinusitis kronis: Suatu kondisi yang ditandai dengan gejala radang


sinus yang berlangsung 8 minggu atau lebih.
d. Sinusitis berulang: Beberapa serangan dalam setahun.

Gambar 2.6 Rhinitis

4. Rhinitis, rhinitis adalah suatu inflamasi yang timbul pada membran


mukosa hidung. “Rhinitis adalah peradangan dan iritasi yang terjadi di
membran mukosa di dalam hidung” (Alodokter, 2016). Menurut
alodokter, rhinitis secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu
rhinitis alergi dan rhinitis nonalergi yang dijelaskan sebagai berikut:
a. Rhinitis alergi atau yang disebut juga hay fever disebabkan oleh
alergi terhadap unsur seperti debu, kelupasan kulit hewan tertentu,
dan serbuk sari.
b. Rhinitis nonalergi tidak disebabkan oleh alergi tapi kondisi seperti
infeksi virus dan bakteri

5. Tonsilitis dan abses peritonsilar

Gambar 2.7 Radang amandel (Tonsilitis)

a. Tonsilitas adalah peradangan pada tonsil dan kriptanya. “Radang


amandel (bahasa Inggris: tonsillitis) adalah infeksi pada amandel
9

yang kadang mengakibatkan sakit tenggorokan dan demam”


(Wikipedia, 2016).
b. Abses peritonsilar adalah infeksi yang terjadi di atas tonsil dalam
jaringan pilar anterior dan palatum mole. “Abses Peritonsiler
adalah penimbunan nanah di daerah sekitar tonsil (amandel).
Abses peritonsiler merupakan komplikasi dari tonsilitis”
(Doktersehat, 2016).

Untuk penyakit infeksi saluran pernapasan bawah, menurut


Manurung, Suratun, Krisanty, dan Ekarini (2009:93—138) yaitu pneumonia,
tuberkulosis paru, bronkhitis, dan abses paru.

Gambar 2.8 Pneumonia

1. Pneumonia
Pneumonia adalah proses peradangan pada parenkim paru-paru,
yang biasanya dihubungkan dengan meningkatnya cairan pada alveoli.
“Radang paru-paru atau pneumonia adalah kondisi inflamasi pada paru,
utamanya memengaruhi kantung-kantung udara mikroskopik yang dikenal
sebagai alveolus” (Wikipedia, 2016). Menurut alodokter, pada pengidap
pneumonia, sekumpulan kantong-kantong udara kecil di ujung saluran
pernapasan dalam paru-paru akan membengkak dan dipenuhi cairan.
10

Gambar 2.9 Tuberkulosis

2. Tuberkulosis Paru (TBC)


Tuberkulosis (TBC) paru adalah suatu penyakit infeksi yang
menyerang paru-paru. Menurut alodokter, Tuberkulosis (TB) yang juga
dikenal dengan singkatan TBC merupakan penyakit menular yang
menyebabkan masalah kesehatan terbesar kedua di dunia. Indonesia
sendiri termasuk lima besar negara dengan jumlah pengidap TB
terbanyak di Asia Tenggara dengan jumlah pengidap yang mencapai
305.000 jiwa pada tahun 2012.

Gambar 2.10 Bronkitis

3. Bronkitis
Bronkitis adalah suatu peradangan yang terjadi pada bronkus.
“Bronkitis adalah suatu peradangan pada cabang tenggorok (bronkus)
(saluran udara di dalam paru-paru)” (Wikipedia, 2016). Selain itu,
wikipedia juga menyebutkan bahwa bronkitis biasanya bersifat ringan dan
pada akhirnya akan sembuh sempurna. Tetapi pada penderita yang
memiliki penyakit menahun (misalnya penyakit jantung atau penyakit
paru-paru) dan pada usia lanjut, bronkitis bisa bersifat serius.
11

Gambar 2.11 Abses paru

4. Abses paru
Abses paru adalah suatu lesi nekrotik setempat pada parenkim paru
yang berisi pus (nanah). Menurut Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, abses merupakan kumpulan pus (nanah) yang terletak dalam
satu kantung yang terbentuk dalam jaringan yang disebabkan oleh suatu
proses infeksi oleh bakteri, parasit atau benda asing lainnya. Jadi, abses
paru merupakan keadaan dimana terdapat pus (nanah) di dalam paru-
paru.

C. Faktor Penyebab Terjadinya Gangguan Pernapasan Manusia


Marunung, Suratun, Krisanty, dan Ekarini (2009:71—83) menjelaskan
tentang penyebab suatu penyakit/gangguan saluran pernapasan atas
sebagai berikut :
1. Faringitis
Faringitis disebabkan oleh streptokokus hemolitik, stafilokokus,
bakteri, dan virus.

2. Laringitis
Etiologi laringitis antara lain : virus, bakteri, perluasan infeksi
rhinitis. Selain itu, laringitis dapat juga disebabkan oleh:
a. Suhu udara yang dingin
b. Perubahan temperatur tiba-tiba.
c. Pemajanan terhadap debu.
d. Bahan kimia
e. Asap/uap
f. Penggunaan pita suara berlebihan
g. Merokok berlebihan

3. Sinusitis
Etiologi sinusitis antara lain : streptokokus pneumoniae,
stapilokokus aureus, haemofilus influenza, infeksi gigi, dan komplikasi
rhinitis.
12

4. Rinitis
Etiologi rinitis :
a. Infeksi saluran pernapasan atas
b. Penggunaan dekongestan secara terus menerus, oral kontrasepso,
kokain, dan anti hipertensi.
c. Benda asing yang masuk ke dalam hidung.
d. Deformitas struktural
e. Neoplasma dan massa

5. Tonsilitis dan Abses Peritonsilar


Etiologi tonsilitis : tonsilitis disebabkan oleh streptokokus grup A.
Etiologi abses peritonsilar : terjadi setelah infeksi tonsilitis.

Marunung, Suratun, Krisanty, dan Ekarini (2009:94—138)


menjelaskan tentang penyebab suatu penyakit/gangguan saluran pernapasan
atas sebagai berikut :
1. Pneumonia
Penyebab pneumonia adalah bakteri, virus, mikroplasma, jamur,
dan protozoa.
2. Tuberkulosis Paru (TBC)
TB Paru disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis, sejenis
kuman berbentuk batang. Kuman terdiri dari asam lemak, sehingga
kuman lebih tahan asam dan tahan terhadap gangguan kimia dan fisis.
3. Bronkitis
Terdapat 3 faktor utama yang mempengaruhi timbulnya bronkitis,
yaitu: rokok, infeksi, dan polusi. Selain itu terdapat pula hubungannya
dengan faktor keturunan dan status sosial.
4. Abses Paru
Timbulnya abses paru sering disebabkan oleh radang paru-paru
akibat nekrosi bakteri, seperti kuman stapilokokus aureus dan klebsiela
oneumoniae. Bakteri juga dapat timbul sebagai hasil pembususkan
emboli.
13

D. Alat-Alat Sistem Pernapasan


Alat pernapasan adalah alat atau bagian tubuh tempat O2 dapat
berdifusi masuk dan sebaliknya CO2 dapat berdifusi keluar pada respirasi
aerob. Alat pernapasan pada manusia terdiri atas rongga hidung, faring
( tekak), laring (pangkal tenggorokan), bronkus (cabang batang tenggorokan),
dan pulmo (paru-paru).
1. Rongga hidung ( cavum nasalis)
Udara dari luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum
nasalis). Rongga hidung berlapis selaput lendir. Selaput lendir berfungsi
menangkap benda asing yang masuk lewat saluran pernapasan. Selain
itu, terdapat juga rambut pendek dan tebal yang berfungsi menyaring
partikel kotoran yang masuk bersama udara. Juga terdapat konka yang
mempunyai banyak kapiler darah yang berfungsi menghangatkan udara
yang masuk. Jadi, rongga hidung berfungsi untuk: menyaring udara,
melembapkan udara, dan memanaskan udara. diperoleh dari lingkungan
sekitar. Oksigen diperlukan untuk oksidasi (pembakaran) zat makanan,
yaitu gula (glukosa). Proses oksidasi makanan bertujuan untuk
menghasilkan energi. Energi yang dihasilkan digunakan untuk aktivitas
hidup, misalnya pertumbuhan, mempertahankan suhu tubuh,
pembakaran sel-sel tubuh, dan kontraksi otot. Selain menghasilkan
energi,pernapasan juga menghasilkan karbon dioksida, dan uap air.

2. Faring ( tekak)
Udara dari rongga hidung masuk ke faring. Faring berbentuk
seperti tabung corong, terletak di belakang rongga hidung dan mulut,
dan tersusun dari otot rangka. Faring berfungsi sebagai jalannya udara
dan makanan. Faring merupakan percabangan 2 saluran, yaitu saluran
pernapasan ( nasofaring) pada bagian depan dan saluran pencernaan
( orofaring)pada bagian belakang.

3. Laring (pangkal tenggorokan)


Laring terletak antara faring dan trakea. Laring tersusun atas
Sembilan buah tulang rawan. Bagian dalam dindingnya digerakkan oleh
otot untuk menutup serta membuka glotis. Glotis adalah lubang mirip
celah yang menghubungkan trakea dengan faring. Laring memiliki katup
yang disebut epiglotis. Pada saat menelan makanan, epiglotis tertutup
sehingga makanan tidak masuk ke tenggorokan tetapi menuju
14

kerongkongan. Makan sambil berbicara dapat mengakibatkan makanan


masuk ke saluran pernapasan karena saluran pernapasan pada saat
tersebut sedang terbuka. Walaupun demikian, saraf kita akan mengatur
agar peristiwa menelan, bernapas, dan berbicara tidak terjadi
bersamaan sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan. Di dalam
laring, selain terdapat epiglotis juga ditemukan adanya pita suara.
Masuknya udara melalui faring akan menyebabkan pita suara bergetar
dan terdengar sebagai suara.

4. Tenggorokan ( trakea)
Tenggorokan berupa pipa yang panjangnya ± 10 cm, terletak
sebagian di leher dan sebagian di rongga dada. Dinding tenggorokan
tipis dan kaku, dikelilingi oleh cincin tulang rawan, dan pada bagian
dalam rongga bersilia. Silia silia ini berfungsi menyaring benda-benda
asing yang masuk ke saluran pernapasan.

5. Cabang-cabang Tenggorokan (Bronki)


Tenggorokan (trakea) bercabang menjadi dua bagian, yaitu
bronkus kanan dan bronkuskiri. Struktur lapisan mukosa bronkus sama
dengan trakea, hanya tulang rawan bronkus bentuknya tidak teratur dan
pada bagian bronkus yang lebih besar cincin tulang rawannyamelingkari
lumen dengan sempurna. Bronkus bercabang-cabang lagi menjadi
bronkiolus.

6. Bronkiolus
Bronkiolus adalah anak cabang dari batang tenggorok yang
terdapat dalam rongga tenggorokan dan akan memanjang sampai ke
paru-paru. Jumlah cabang bronkiolus yang menuju paru-paru kanan dan
kiri tidak sama. Bronkiolus yang menuju paru-paru kanan mempunyai 3
cabang, sedangkan bronkiolus yang menuju paru-paru sebelah kiri
hanya bercabang 2. Bronkiolus adalah cabang dari bronkus dan
memiliki dinding yang lebih tipis, pada ujung bronkiolus terdapat banyak
sekali gelembung-gelembung kecil yang dinamakan alveolus. Ciri khas
bronkiolus adalah tidak adanya tulang rawan dan kelenjar pada
mukosanya, pada bagian awal dari cabang bronkiolus hanya memiliki
15

sebaran sel globet dan epitel. fungsi dari bronkiolus adalah sebagai
media yang menghubungkan oksigen yang dihirup agar mencapai paru-
paru.

7. Paru-paru (Pulmo)
Paru-paru terletak di dalam rongga dada bagian atas, di bagian
samping dibatasi oleh otot dan rusuk dan di bagian bawah dibatasi oleh
diafragma yang berotot kuat. Paru-paru ada dua bagian yaitu paru-paru
kanan (pulmo dekster) yang terdiri atas 3 lobus dan paru-paru kiri
(pulmosinister) yang terdiri atas 2 lobus. Paru-paru dibungkus oleh dua
selaput yang tipis, disebut pleura. Selaput bagian dalam yang langsung
menyelaputi paru-paru disebut pleura dalam (pleuravisceralis) dan
selaput yang menyelaputi rongga dada yang bersebelahan dengan
tulang rusuk disebut pleura luar (pleura parietalis).

Antara selaput luar dan selaput dalam terdapat rongga berisi


cairan pleura yang berfungsi sebagai pelumas paru-paru. Cairan pleura
berasal dari plasma darah yang masuk secara eksudasi. Dinding rongga
pleura bersifat permeabel terhadap air dan zat-zat lain. Paru-paru
tersusun oleh bronkiolus, alveolus, jaringan elastik, dan pembuluh
darah. Paru-paru berstruktur seperti spon yang elastis dengan daerah
permukaan dalam yang sangat lebar untuk pertukaran gas.

E. Penyakit yang sering timbul pada Sistem Pernapasan


1. Penyakit Kanker Paru-paru

Penyakit Kanker Paru-paru tergolong dalam penyakit kanker


yang mematikan, baik bagi pria maupun wanita. Dibandingkan dengan
jenis penyakit kanker lainnya, seperti kanker prostat, kanker usus, dan
kanker payudara, penyakit kanker paru-paru dewasa ini cenderung lebih
cepat meningkat perkembangannya.

Penyakit kanker paru-paru adalah sebuah bentuk perkembangan


sell yang sangat cepat (abnormal) didalam jaringan paru yang disebabkan
oleh perubahan bentuk jaringan sell atau ekspansi dari sell itu sendiri.
16

Jika dibiarkan pertumbuhan yang abnormal ini dapat menyebar ke organ


lain, baik yang dekat dengan paru maupun yang jauh misalnya tulang,
hati, atau otak.

Penyakit kanker paru-paru lebih banyak disebabkan oleh


merokok (87%), sedangkan sisanya disebabkan oleh zat asbes, radiasi,
arsen, kromat, nikel, klorometil eter, gas mustard dan pancaran oven
arang bisa menyebabkan kanker paru-paru, meskipun biasanya hanya
terjadi pada pekerja yang juga merokok.

Klasifikasi Penyakit Kanker Paru-Paru


Ada pengklasifikasian dari penyakit kanker paru-paru, Ini dilihat dari
tingkat penyebarannya baik dijaringan paru itu sendiri maupun terhadap
organ tubuh lainnya. Namun pada dasarnya penyakit kanker paru-paru
terbagi dalam dua kriteria berdasarkan level penyebarannya:
a. Kanker paru-paru primer
Memiliki 2 type utama, yaitu Small cell lung cancer (SCLC)
dan Non-small cell lung cancer (NSCLC). SCLC adalah jenis sell
yang kecil-kecil (banyak) dimana memiliki daya pertumbuhan yang
sangat cepat hingga membesar. Biasanya disebut “oat cell
carcinomas” (karsinoma sel gandum). Type ini sangat erat
kaitannya dengan perokok, Penanganan cukup berespon baik
melalui tindakan chemotherapy and radiation therapy.
Sedangkan NSCLC adalah merupakan pertumbuhan sell
tunggal, tetapi seringkali menyerang lebih dari satu daerah di paru-
paru. Misalnya Adenoma, Hamartoma kondromatous dan
Sarkoma.

b. Kanker paru sekunder


Merupakan penyakit kanker paru yang timbul sebagai
dampak penyebaran kanker dari bagian organ tubuh lainnya, yang
paling sering adalah kanker payudara dan kanker usus (perut).
Kanker menyebar melalui darah, sistem limpa atau karena
kedekatan organ.
Tanda dan Gejala Penyakit Kanker Paru-paru
17

Tanda dan gejala kanker paru ini hanya akan muncul saat
perkembangan abnormal sell ini semakin parah kearah stadium
yang lebih lanjut, dan ini memerlukan waktu bertahun-tahun sejak
awal perkembangannya. Bahkan ada kemungkinan tidak
menampakkan adanya tanda dan gejala khusus, melainkan hanya
tampak jika dilakukan X-ray. Namun jika beberapa tanda dan
gejala dibawah ini apabila dirasakan, sebaiknya segeralah periksa
ke dokter :
a. Batuk-batuk yang lama pada orang merokok
b. Kesulitan bernafas (nafas pendek)
c. Batuk mengeluarkan darah (meskipun jumlah sedikit)
d. Sering mengalami infeksi paru (pneumonia atau
bronchitis)
e. Adanya nyeri dada, bahu dan bagian punggung
f. Suara yang berubah dari biasanya
g. Batuk lebih dari 2 minggu pada orang yang tidak merokok
h. Lainnya seperti susah menelan, leher dan wajah tampak
membengkak, nafsu makan berkurang, hilangnya berat
badan, cepat lelah atau lemah.
Penyebab Penyakit Kanker Paru-paru
Penyebab terbesar adalah merokok, Sedangkan lainnya
adalah disebabkan adanya kontaminasi udara sekitar oleh zat
asbes, polusi udara oleh asap kendaraan ataupun pembakaran
termasuk asap rokok. Ada beberapa kasus penyakit yang memicu
terjadinya penyakit kanker paru-paru ini, yaitu penyakit TBC dan
Pneumonia. Kedua penyakit ini dapat menimbulkan perlukaan pada
jaringan sell organ paru sehingga mensupport terjadinya
pertumbuhan sell abnormal didalam rongga tersebut. Biasanya
kanker paru yang berkembang dari kasus ini adalah jenis
adenocarcinoma (adenoma).
Penanganan dan Treatment Penyakit Kanker Paru
Penanganan dan treatment atau pengobatan yang dilakukan
pada orang yang terdiagnosa mengalami penyakit kanker paru akan
tergantung dari tingkat stadiumnya, kemungkinan dilakukannya
operasi, serta kondisi umum si Penderita. Hal ini tidak terlepas dari
riwayat serta penyebab dari adanya kanker paru tersebut tentunya.
18

Beberapa langkah yang biasa dilakukan adalah:

a. Tindakan operasi pembedahan mengangkat sell kanker


b. Tindakan Therapy Radiasi
c. Tindakan Therapy Kemotherapy
d. Tindakan penyuntikan {Photodynamic (PTD)}
Pemberian Nutrisi dan supplement dapat mengurang gejala
yang disebabkan oleh kanker paru. Vitamin D dan Fe sangat baik
untuk diberikan oleh penderita penyakit kanker paru, Begitu pula
dengan makanan antioxidant seperti blueberri, cherri, dan buah
tomat.

2. Empisema Paru
Emfisema Paru-paru adalah penyakit saluran pernafasan yang
berciri sesak napas terus menerus yang menghebat pada waktu
mengeluarkan tenaga dan sering kali dengan perasaan letih dan tidak
bergairah atau kalau bahasa awamnya disebut “Paru-Paru Basah”
Emfisema Paru-paru adalah penyakit paru obstruktif kronik.
Emfisema paru-paru merupakan penyakit yang gejala utamanya adalah
penyempitan (obstruksi) saluran napas, karena kantung udara di paru
menggelembung secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang luas.
Gejala Emfisema Paru-paru
Adapun gejala dari penyakit emfisema paru-paru diantaranya adalah:
a. Pada awal gejalanya serupa dengan bronkhitis Kronis
b. Napas terengah-engah disertai dengan suara seperti peluit
c. Dada berbentuk seperti tong, otot leher tampak menonjol,
penderita sampai membungkuk
d. Bibir tampak kebiruan
e. Berat badan menurun akibat nafsu makan menurun
f. Batuk menahun
Penyebab Emfisema Paru-paru
a. Bronkhitis Kronis yang berkaitan dengan merokok
b. Mengisap asap rokok/debu
c. Pengaruh usia
19

Komplikasi yang terjadi pada penderita Emfisema Paru-paru,


diantaranya adalah:
a. Sering mengalami infeksi ulang pada saluran pernapasan
b. Daya tahan tubuh kurang sempurna
c. Proses peradangan yang kronis di saluran napas
d. Tingkat kerusakan paru makin parah

Jika seseorang telah memiliki penyakit emfisema paru-paru,


pengobatan yang dapat diambil untuk menghentikan perkembangan dan
untuk melindungi diri dari komplikasi:
a. Berhenti merokok. Berhenti merokok merupakan paling penting
yang dapat diambil untuk kesehatan penderita secara
keseluruhan untuk menghentikan perkembangan emfisema.
Jika perlu, Bergabunglah dengan program berhenti merokok
agar anda benar benar bisa menghentikan kebiasan
mengkonsumsi rokok.
b. Hindari iritasi pernapasan termasuk asap dari knalpot cat dan
mobil, beberapa bau masakan, parfum tertentu, bahkan
membakar lilin dan kemenyanpun juga perlu dihindari.
c. Berolahraga secara teratur. Penderita bisa mengurangi
penyakit emfisema dengan cara berolah raga secara teratur,
dengan melakukan hal ini penderita dapat meningkatkan
kapasitas paru paru yang tentunya akan membuat pernafasan
lebih lega.
d. Melindungi diri dari udara dingin. Udara dingin dapat
menyebabkan kejang pada saluran bronkial yang membuat
lebih sulit untuk bernapas. Sehingga penyakit Emfisema Paru-
paru bisa bertambah parah.

3. Tuberkulosis atau TBC


Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit yang sangat mudah
sekali dalam penularannya. Seperti halnya penyakit flu biasa, dalam
penyebaranya TBC juga melalui udara. Penyakit tuberkolosis sangat
mematikan apabila tidak segera dilakukan penanganan. Di Indonesia,
20

penanganan sejak dini sudah dilakukan dengan memberikan paket


imunisasi BCG pada balita. Namun demikian, belum sepenuhnya
Indonesia 100% terbebas dari penyakit ini.
Kebanyakan masyarakat Indonesia masih banyak yang belum
mengerti dan mengenal penyakit ini. Dengan gejala awal batuk yang
kemudian disertai dengan demam, kadang-kadang masyarakat masih
mengangap itu hanya penyakit biasa dan tidak mau melakukan
pemeriksaan secara lebih intensif untuk mengetahui lebih dalam lagi
tentang gejala yang dirasakannya. Dan ketika batuk tidak berhenti selama
2 minggu dan keadaan semakin parah yang kadang-kadang batuk yang
disertai dengan darah, yang menandakan penyakit sudah parah barulah
melakukan pemeriksaan dan pengobatan.
Mycobacterium Tuberculosis adalah bakteri penyebab dari
penyakit TBC, kuman ini berbentuk batang yang mengelompok atau
disebut berkoloni. Kuman ini paling sering menyerang organ pernafasan
atau paru-paru, walaupun masih bisa menyerang organ tubuh yang lain.
Infeksi primer dapat terjadi pada indifidu yang belum memiliki kekebalan
terhadap basil ini. Nama lain dari TBC adalah TB yaitu adalah singkatan
dari tubercles bacillus. Jadi antara TBC dan TB adalah penyakit yang
sama.
Dengan penyebaran melalui udara, TBC dapat menyerang siapa
saja. Dari organ pernafasan, penderita dapat menularkan melalui bersin,
batuk, atau hembusan udara yang melalui hidung ataupun mulut. Kuman
yang bertebaran di udara akan terhisap oleh orang yang ada disekitar
melalui pernafasan dan masuk kedalam paru-paru, kemudian masuk ke
saluran limfe paru. Dari limfe inilah menyebar ke seluruh tubuh melalui
aliran darah.
Selain menyerang organ paru, bakteria ini dapat menyerang
organ-organ tubuh yang lainnya seperti sendi, otot, tulang, saluran
kencing, sistem syaraf pusat, sumsum tulang, dan sistem limfa. Tidak
semua organ yang terserang menimbulkan gejala yang secara langsung
dapat kita rasakan, tergantung dari bagian mana yang diserang. Sebagai
contoh apabila yang terserang bagian tulang belakang maka gejala yang
dirasakan adalah rasa sakit pada bagian tulang belakang. Dan apabila
21

bakteria menyerang bagian organ ginjal maka, penderita mungkin akan


mengalami masalah kencing darah.
Manusia mempunyai sistem imun yang akan menjaga dari
serangan bakteria ini, sistem imunitas akan menyerang bakteria TBC
selepas 2-8 minggu dari mulai terjangkit Tuberculosis. Sel darah putih
disebut makrofak, akan dihasilkan untuk melawan bakteria dan “
membungkusnya”. Jika bakteri ini mati, berarti kita akan terbebas
sepenuhnya dari masalah TBC. Tetapi jika tidak, maka ia akan menjadi
tidak aktif dan akan berada dalam tubuh selama beberapa tahun. Dalam
hal ini anda dikategorikan terjangkit TBC tetapi tidak mengalami masalah
dan tidak menulari orang lain.
Penularan TBC dan gejalanya
Penderita TBC biasanya mengalami batuk yang berkepanjangan
sebagai gejala utama selama beberapa minggu yang diikuti dengan
demam tinggi. Biasanya demam menyerang pada malam hari, namun
ketika siang demam akan berkurang bahkan cenderung turun dan
akan datang lagi bila mulai menjelang malam. Orang yang terkena
TBC, daya tahan tubuhnya akan menurun secara drastis, nafsu makan
berkurang, dan berat badan juga menurun dengan sangat cepat, rasa
lelah dan batuk-batuk. Ini terjadi jika infeksi awal telah berkembang
menjadi progressive tuberculosis yang menjangkiti organ paru dan
organ tubuh lainnya.
Dalam kasus reactivation tuberculosis, infeksi awal tubercilosis
(primary tuberculosis) mungkin telah lenyap tetapi bakterinya tidak mati
melainkan hanya tiduran untuk sementara waktu. Bakteri ini akan aktif
apabila kondisi tubuh sedang tidak fit dan dalam imunitas yang rendah.
Bila penyakit ini semakin progresif maka bakteri yang aktif akan
merusak jaringan paru-paru dan berbentuk rongga-rongga (lubang)
pada paru-paru penderita, maka si penderita akan batuk-batuk dan
memproduksi sputum (dahak) yang bercampur darah. Bila tidak segera
dilakukan tindakan penanganan maka akan dapat menimbulkan
kematian pada si penderita. Penderita yang tidak berobat dapat
menularkan penyakitnya kepada orang disekitarnya.
22

Pada umumnya penularan TBC terjadi secara langsung ketika


sedang berhadap-hadapan dengan si penderita, yaitu melalui ludah
dan dahak yang keluar dari batuk dan hembusan nafas penderita.
Secara tidak langsung dapat juga melalui debu, alat makanan dan
minuman yang mengandung kuman TBC. Melalui medium air, TBC
juga bisa bertahan dan menyebar. Lamanya dari terkumpulnya kuman
sampai timbulnya gejala penyakit dari yang berbulan-bulan sampi
tahunan membuat penyakit ini digolongkan penyakit kronis.
Gejala umum yang sering dirasakan adalah :
a. Batuk lama lebih dari 30 hari yang disertai ataupun tidak dengan
dahak bahkan bisa disertai juga dengan batuk darah.
b. Demam lama dan berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifoid,
malaria, atau infeksi saluran nafas akut), dan terkadang disertai
dengan badan yang berkeringat di malam hari.
c. Nafsu makan menurun dan bila terjadi pada anak maka terlihat
gagal tumbuh serta penambahan berat badan tidak memadai
sesuai dengan usia anak tersebut.
d. Berat badan menurun dengan drastis tanpa sebab yang jelas
disamping karna nafsu makan yang menurun, pada anak berat
badan tidak naik dalam satu bulan walaupun sudah dilakukan
penanganan gizi.
e. Adanya pembesaran kelenjar seperti di leher atau ketiak.
f. Pada anak yang primary pulmonary tuberculosis (infeksi pertama
yang disebabkan oleh tuberculosis) tidak menampakan gejalanya
meskipun dilakukan pemeriksaan dengan sinar X-ray. Kadang-
kadang pada anak jarang terlihat gejala adanya pembesaran
kelenjar getah bening atau batuk-batuk. Dalam banyak kasus jika
tuberculin skin testnya menunjukan hasil positif maka si
penderita diindikasikan menderita penyakit TBC, meskipun tidak
menunjukan gejala tetapp harus mendapatkan perawatan serius.

Penentuan tentang terjangkit atau tidaknya penyakit ini untuk


secara pasti perlu dari pengkajian secara klinis, pemerikasaan fisik,
gambaran radiologi atau rontgen paru dan pemerisaan laboratorium
23

klinis ataupun bakteriologi. Sebagian kasus menunjukan bahwa


makrofak (sel kekebalan tubuh) tidak dapat melawan bakteria.
Bakteria akan bertindak aktif dan akan mulai menyerang organ,
terutama paru-paru, sehingga menyebabkan anda mengalami batuk
kering. Wanita yang mengidap batuk kering dapat menularkan penyakit
ini jika mengandung. Kondisi ini dapat terjadi sebelum atau sesudah
bayi di lahirkan. Di tahun pertama setelah kelahiran, bayi akan
menunjukan gejalanya jika memang tertular TBC dari ibunya. Bukan
karna faktor penurunan gen penyakit ini ditularkan, namun karena
disebabkan oleh sirkulasi darah dalam tubuh ibu yang mengandung
tuberculosis sehingga berpengaruh terhadap anak yang dikandungnya.
Pencegahan dan Penanganan Pengobatan TBC
TBC bisa diobati, asalkan benar-benar mempunyai keinginan
dan semangat yang besar untuk sembuh. Dorongan dari keluarga
dan orang disekitar anda sangatlah diperlukan. Pemeriksaan yang
intensif dan teliti serta disiplin minum obat yang diberikan dokter
harus dilakukan penderita agar penyakit yang dideritanya segera
sembuh. Pengobatan yang dilakukan dapat bertujuan untuk
menyembuhkan, mencegah kematian, dan kekambuhan.
Adapun obat TBC yang utama adalah Isoniazid, Rifampisin,
Pirazinamid, Streptomisin dan Etambutol. Sedangkan jenis obat
tambahan yang sering digunakan adalah Kanamisin, Kuinolon,
Makroloid, dan Amoksilin dikombinasikan dengan Klavulanat.
Pengobatan ini dilakukan selama 12 bulan untuk keseluruhan.
Faktor utama dari pada kesembuhan adalah prilaku dan lingkungan
dimana sipenderita itu tinggal, kedisiplinan dalam minum obat dan
dan dukungan orang-orang disekitar si penderita.
Dalam proses penyembuhan, sipenderita harus minum obat
sesuai dengan petunjuk dan waktu yang telah ditentukan (6-12
bulan) berturut-turut tanpa putus serta mengkonsumsi makanan-
makanan yang bergizi. Selain petugas kesehatan yang memantau
dan mengawasi, keluarga juga di ajak turut serta dalam mengawasi
dan memastikan si penderita TBC meminum obat yang telah
diberikan. Jika si penderita tidak disiplin dan teratur dalam
24

meminum obat, dapat mengakibatkan kuman-kuman yang ada


didalam tubuh akan menjadi kebal terhadap obat tersebut. Dan
apabila si penderita berhenti minum obat sebelum waktunya maka,
batuk yang sudah hilang akan timbul kembali dan kemungkinan
kuman akan kebal dan TBC akan sulit untuk disembuhkan.
Dilakukannya pengobatan selama 6-9 bulan karena, bakteri-
bakteri tuberkulosis memiliki daya tahan yang sangat kuat hingga
berbulan-bulan walaupun sudah terkena antibiotik. Kombinasi
beberapa obat sangat diperlukan karena untuk menghadapi kuman
TBC yang berada dalam berbagai stadium dan fase pertumbuhan
yang cepat. Walaupun gejala-gejala sudah hilang, namun
pengobatan tidak boleh berhenti sampai batas waktu yang telah
ditentukan.

4. Penyakit Pneumonia
Infeksi paru-paru atau yang sering dikenal dengan istilah
Pneumonia merupakan infeksi pada paru-paru yang disebabkan oleh
bakteri atau virus. Penyakit Pneumonia ini dapat menyerang siapa saja
mulai dari bayi, anak-anak, remaja hingga orang tua dapat terkena
Pneumonia. Pada kasus penderita Pneumonia, bakteri atau virus yang
menyerang dapat menginfeksi salah satu organ paru-paru atau bahkan
kedua organ paru-paru. Ketika seseorang terkena flu, bisa saja itu
merupakan penyebab awal terinfeksi bakteri atau virus penyebab
Pneumonia akibat adanya iritasi pada paru-paru yang ditimbulkan oleh flu.

Sebagai organ penting, paru-paru berperan dalam system


pernapasan sebagai penyaring oksigen yang dihirup. Setelah disaring,
oksigen tersebut diedarkan ke seluruh bagian tubuh bersama dengan
aliran darah melalui alveolus. Pada penderita Pneumonia, kadar oksigen
yang diedarkan ke seluruh tubuh akan rendah dibandingkan orang normal
karena fungsi dari alveolus mereka mengalami gangguan akibat terkena
virus atau bakteri sehingga oksigen kesulitan menembus paru-paru.
25

Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh Penyakit Pneumonia ini


tergantung dari kesehatan penderitanya. Apabila disebabkan oleh bakteri,
maka penderita akan merasakan demam dengan suhu tubuh tinggi
disertai dengan menggigil. Berbeda halnya dengan penderita Pneumonia
yang disebabkan oleh infeksi virus, pada kasus ini virus akan berkembang
secara lambat dan butuh waktu lama untuk mengusir virus tersebut dari
tubuh penderita. Apabila disebabkan oleh virus, penderita akan
mengalami sakit kepala, sakit pada bagian dada, batuk dan sakit pada
otot. Dengan demikian, penderita akan kesulitan bernapas, bernapas
dengan frekuensi cepat yang menyebabkan penderita batuk dan
mengeluarkan lendir.
Gejala Pneumonia
Ketika seseorang mengalami flu kemudian merasakan gejala-
gejala seperti yang telah diutarakan di atas, maka segeralah
memeriksakan diri ke dokter. Apabila pada waktu diperiksa doter
menggunakan stetoskop terdengar suara seperti berderak atau
gelembung pada bagian paru-paru, maka dapat diindikasikan
bahwa orang tersebut terkena Gejala Pneumonia. Selain
menggunakan stetoskop, hasil rontgen pada bagian dada juga
memberikan kontribusi penting dalam mendeteksi penyakit tersebut.
Dari hasil rontgen tersebut, dokter dapat mengetahui apakah
penderita terkena Pneumonia disebabkan oleh bakteri atau virus
dengan melihat daerah putih yang merata pada paru-paru sebagai
tanda adanya penumpukan cairan.
Mengobati Penyakit Pneumonia
Penderita Pneumonia dapat sembuh total apabila
mendapatkan penanganan dan pengobatan yang tepat. Apabila
infeksi disebabkan oleh bakteri, maka penderita akan diberikan
resep antibiotik. Sedangkan cara mengobati penyakit pneumonia
pada penderita Pneumonia yang disebabkan oleh virus, maka
dokter akan memberikan obat penurun demam dan batuk karena
antibiotik tidak bekerja pada kasus ini.
Bagi seseorang yang sudah terlanjur terserang Pneumonia
hendaknya senantiasa mencuci tangan secara teratur untuk
26

mencegah masuknya kuman berbahaya agar tidak memperparah


keadaan. Selain itu, penderita juga harus beristirahat dengan cukup
untuk menguatkan system kekebalan tubuh.
Demikianlah yang dapat Kami sampaikan mengenai Cara
Mengetahui dan Mengobati Gejala Penyakit Pneumonia ini, semoga
artikel yang masih penuh dengan kekurangan ini bisa bermanfaat
bagi Anda yang membaca, khususnya bagi Anda yang sedang
mencari referensi terkait penyakit Pneumonia.

5. Penyakit asma
Asma adalah satu penyakit penyempitan saluran pernafasan yang
ditandai dengan inflamasi (peradangan) di saluran napas dan spasme
(kejang) akut otot polos bronkiolus. Penyakit ini menyebabkan produksi
mukus yang berlebihan dan menumpuk, penyumbatan aliran udara, dan
penurunan pertukaran udara di alveolus. Asma terjadi pada individu
tertentu yang merespon secara agresif berbagai jenis iritan (penyabab
iritasi) di saluran nafas.
Penyebab Penyakit Asma
Ada beberapa faktor resiko yang penyebab penyakit ini, diantaranya
yaitu:
a. Faktor Genetik/keturunan
Adanya riwayat asma atau alergi dalam keluarga,
mengisyaratkan adanya kecederungan genetik/keturunan.
b. Terpapar beberapa rangsangan/iritan berulang atau terus
menerus, terutama pada masa perkembangan.
Meskipun kebanyakan penderita yang didiagnosis adalah
anak-anak, orang dewasa juga dapat terkena penyakit ini tanpa
ada riwayat penyakit sebelumnya, Mungkin penyebabnya :
c. Alergi yang memburuk atau Infeksi Pernafasan Atas yang
berulang, seperti yang dapat terjadi akibat pajanan debu
dilingkungan kerja.
Gejala Klinis Penyakit Asma:
a. Dispnea (sesak nafas) yang bermakna
b. Batuk, terutama dimalam hari
27

c. Pernafasan yang dangkal dan cepat


d. Mengi (bunyi) yang dapat terjadi pada akultasi paru. Biasanya
terjadi pada saat ekspirasi, kecuali pada kondisi yang telah parah.
e. Peningkatan usaha pernafasan, ditandai dengan retraksi dada,
disertai perburukan kondisi nafas cuping hidung.
f. Kecemasan yang berhubungan dengan ketidak mampuan
mendapat udara yang cukup
g. Udara terperangkap karena obstruksi aliran darah, terutama
terlihat selama ekspirasi.
Diagnosis Penyakit Asma
a. Penyakit asma didiagnosis menggunakan Spirometer yaitu alat
yang mengukur dan mengidentifikasi penurunan kapasitas dan
penurunan aliran ekspirasi (puncak maksimum)
b. Untuk mengevaluasi gejala asma dirumah, tersedia Peak
Flowmeter. Dengan alat ini FEV(Force Flow rate) maksimum yang
juga disebut juga peak flow diukur selama serangan dan waktu
diantara episode asmatik (Catatan: Karena alat pribadi jangan
hanya mengukur selama 1 detik,karena akan memberikan nilai yg
berbeda dari FEV yang lebih akurat)
c. Saturasi hemoglobin dengan oksigen (Saturasi Oksigen) diukur
untuk mengetahui bagaimanan darak teroksigenasi dengan baik
pada individu yang memiliki gejala asmatik. Teknik ini
menempatkan sensor dijari untuk mendapat informasi dengan
menilai warna darah yang mengalir didalamnya. Hemoglobin yang
tidak bersaturasi lebih gelap dibandingkan dengan yang
tersaturasi.
d. Analisis Gas Darah mungkin memperlihatkan penurunan
konsentrasi oksigen diarteri dan alkalosis respiratoris.
Penanganan Penderita Asma
a. Langkah pertama dalam pengobatan adalah mengevaluasi derajat
/ stadium asma penderita. Asma terbagi menjadi 4 stadium yaitu
ringan dan intermiten ; ringan dan persisten ; moderat/sedang ;
dan berat. Terapi yang diberikan harus sesuai stadium
b. Untuk keempat stadium asma, menghindari terpajan allergen
(bahan penyebab alergi) yang telah diketahui adalah tindakan yg
28

penting. Alergen contohnya: asap rokok,asap kayu,debu, dan bulu


binatang.
c. Pemantauan laju Peak Flow yang sering terutama selama insiden
meningkat, seperti pada musim dingin dan musim semi(banyak
serbuk sari bunga beterbangan),hal ini sanagat diperlukan bahkan
pada asma ringan sekalipun. Jika diketahui penurunan peak flow
signifikan,pengobatan harus segera dilakukan bukan ditunggu
sampai bertambah parah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah :
1. Sistem pernapasan adalah sistem di dalam tubuh manusia
yang mengatur masuknya gas oksigen (O2) dari atmosfer dan
keluarnya gas karbo dioksida (CO2) dari dalam tubuh.
2. Penyakit/gangguan pernapasan manusia bermacam-
macam. Manurung, Suratun, Krisanty, dan Ekarini (2009:71—83)
menyebutkan, penyakit infeksi pada saluran pernapasan atas yaitu
29

faringitis, laringitis, sinusitis, dan tonsilitis. Untuk penyakit infeksi


saluran pernapasan bawah, menurut Manurung, Suratun, Krisanty,
dan Ekarini (2009:93—138) yaitu pneumonia, tuberkulosis paru,
bronkhitis, dan abses paru.
3. Faktor penyebab gangguan sistem pernapasan bisa dari
bakteri, virus, jamur, kuman, kebiasaan hidup, maupun lingkungan.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat diperoleh saran-saran berikut ini:
1. Bagi orang tua atau dewasa, terutama laki-laki, mulai dibiasakan
untuk mengurangi mengonsumsi rokok, lebih baik lagi jika berhenti
merokok. Dengan begitu dapat mengurangi resiko terkena
penyakit/gangguan pernapasan.
2. Bagi orang tua yang sudah mempunyai anak, diharapkan dapat
menjaga anak dari lingkungan sekitar. Misalnya, di ruangan yang
berdebu dan di jalanan yang dominan dengan asap kendaraan
bermotor dengan memakai masker.
3. Bagi setiap individu, dibiasakan selalu menjaga kebersihan di
lingkungannya agar tetap bersih dan nyaman.

DAFTAR PUSTAKA

Alodokter. Pneumonia, (Daring), (http://www.alodokter.com/pneumonia),


diakses pada 7 desember 2017 jam 02.51 AM

Alodokter. Rhinitis, (Daring), (http://www.alodokter.com/rhinitis), diakses


pada 7 desember 2017 jam 02.51 AM

Alodokter. Tuberkulosis, (Daring),(http://www.alodokter.com/tuberkulosis),


diakses pada 7 desember 2017 jam 02.51 AM
30

http://blackhazel.blogspot.com/2013/03/makalah-biologi-sistem-
pernafasan-pada.html diakses pada 7 desember 2017 jam 02.51
AM

http://yuniherawati.wordpress.com/2012/11/27/makalah-sistem-
pernapasan/ diakses pada 7 desember 2017 jam 02.51 AM

http://hamsahpk4.blogspot.co.id/2013/11/makalah-sistem-pernafasan.html
diakses pada 7 desember 2017 jam 02.51 AM