Anda di halaman 1dari 9

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengawasan keamanan pangan di Indonesia yang di lakukan oleh

pemerintah, saat ini belum berjalan maksimal. Hal ini di buktikan karena

masih ada makanan yang tidak layak konsumsi oleh masyarakat. Di katakan

tidak layak konsumsi karena makanan tersebut mengandung zat berbahaya

untuk tubuh. Zat berbahaya tersebut berupa bahan tambahan pangan yang

tidak dianjurkan dan terkontaminasi mikroorganisme (Ayuningtyas, 2012).

Salah satu jenis makanan yang belum mendapatkan pengawasan dari

pemerintah adalah jajanan anak sekolah. Hal ini dibuktikan dengan adanya

bahan pewarna berbahaya dan pemanis, ataupun kontaminasi

mikroorganisme. Keadaan ini terjadi karena kurangnya pengetahuan pedagang

jajanan, anak usia sekolah, orang tua dan masyarakat tentang dampak

penggunaan bahan berbahaya seperti pewarna dan pemanis yang tidak

diperbolehkan. Selain itu, kurang memahami kebersihan personal sehingga

dapat terjadi kontaminasi mikroorganisme pada makanan maupun minuman

yang disajikan. Keadaan ini dapat mempengaruhi kesehatan anak sekolah

dasar. Gejala yang dapat muncul dapat berupa mual, muntah kembung, sakit
2

perut, konstipasi cair (mencret) atau gangguan pencernaaan yang terdiagnosa

seperti diare, demam typoid dan lain sebagainya (Ayuningtyas, 2012).

Pangan jajanan anak sekolah (PJAS) merupakan pangan olahan yang

biasa dijual di Sekolah Dasar. Saat ini diketahui banyak Pangan jajanan anak

sekolah (PJAS) mengandung Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang tidak

memenuhi persyaratan (TMS) dan menggunakan bahan berbahaya (formalin,

rhodamin, boraks) (Wariyah, dkk., 2013). Perilaku Hidup Bersih Sehat

(PHBS) disekolah merupakan upaya memberdayakan siswa/siswi, guru, dan

masyarakat yang berada di lingkungan sekolah agar tahu, mau, dan mampu

mempraktikan PHBS dan berperan aktiff dalam mewujudkan sekolah sehat.

Penyakit yang dapat dicegah dengan mencuci tangan pakai sabun diantaranya

diare, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan cacingan (Reza, Saraswati,

& Keperawatan STIKes Muhammadiyah Gombong, 2012).

Menurut World Health Organization (WHO) angka kejadian diare

pada tahun 2010 yaitu 411 penderita per 1000 penduduk. Berdasarkan data

profil kesehatan Indonesia tahun 2010 jumlah kasus diare ditemukan sekitar

213.435 penderita dengan jumlah kematian 1.289 dan sebagian besar (70-

80%) terjadi pada anak-anak. Sering kali 1-2% penderita diare mengalami

dehidrasi dan kalau tidak segera tertolong 50-60% meninggal dunia. Diare

dilaporkan telah membunuh 4 jutaan setiap tahun di negara-negara

berkembang (Kemenkes RI, 2010).


3

Di dunia sebanyak 1,5 juta anak meninggal dunia karena mengalami

diare tiap tahunnya. Kejadian luar biasa ( KLB ) diare juga terjadi di beberapa

Negara seperti, Amerika Serikat, Jepang, Afrika selatan dan Australia.

Penyebab KLB di negara-negara tersebut adalah kontaminasi makanan oleh

Escherichia coli (Harnowo,2012).

Di Indonesia sampai saat ini diare masih menjadi masalah masyarakat.

Berdasarkan data dan Rekapitulasi Kejadian Luar Biasa (KLB) tahun 2016

sebanyak 6.897.463 orang. Berdasarkan data Rekapitulasi Penderita Diare

menurut Golongan Umur per Bulan Provinsi Kalimantan Timur tahun 2017

angka kejadian diare pada anak usia >5 tahun di provinsi Kalimantan Timur

sebanyak 92.518 penderita, 5 anak diantaranya meninggal, sementara itu data

kejadian diare di Kota Samarinda tahun 2017 periode (Januari-September)

pada anak usia 5-9 tahun terdapat 655 penderita dan tidak terdapat anak yang

meninggal, sedangkan pada anak usia 10-14 tahun terdapat 294 penderita dan

tidak terdapat anak yang meninggal (Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan

Timur, 2017).

Penelitian yang dilakukan oleh Retno Purwandari dkk, yang berjudul

“Hubungan antara perilaku mencuci tangan dengan insiden diare pada anak

usia sekolah di kabupaten jember tahun 2013” menunjukkan bahwa perilaku

cuci tangan pada anak sekolah di kabupaten jember pada kategori baik

(53,7%), cukup (41,7%), dan kurang baik (4,6%). Sedangkan kejadian diare

pada anak sekolah di kabupaten jember dalam kategori rendah (59,3%),


4

sedang (37,7%), dan tinggi (3%). Dengan hasil ada hubungan yang signifikan

antara perilaku cuci tangan dan kejadian diare.

Diare dapat terjadi karena infeksi bakteri. Salah satu bakteri yang

menyebabkan diare adalah Escherichia coli (Kemenkes, 2011). Bakteri

Escherichia coli di temukan telah mengkontaminasi beberapa jenis makanan

dan minuman yang beredar dimasyarakat. Kontaminasi mikroorganisme juga

dapat terjadi pada jajanan anak sekolah. Menurut survey Badan POM

Nasional tahun 2006-2010 menunjukan bahwa 40-40% jajanan anak sekolah

tidak memenuhi syarat keamanan pangan (Candra, 2011).

B. Rumusan Masalah

Bedasarkan masalah yang dihadapi, rumusan masalah pada penelitian

ini adalah : “Apakah ada hubungan cuci tangan pakai sabun dan sanitasi

jajanan dengan kejadian diare pada anak SD Negeri 015 di Samarinda?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan tentang cuci tangan pakai sabun dan sanitasi

jajanan terhadap diare pada anak SD Negeri 015 Samarinda

2. Tujuan Khusus

a. Teridentifikasinya cuci tangan pakai sabun pada kejadian diare pada

anak SD Negeri 015 Samarinda


5

b. Teridentifikasinya sanitasi jajanan pada kejadian diare pada anak SD

Negeri 015 samarinda

c. Teridentifikasinya kejadian diare pada anak di SD Negeri 015

Samarinda

d. Menganalisis hubungan tentang cuci tangan pakai sabun dan sanitasi

jajanan dengan kejadian diare pada anak SD Negeri 015 Samarinda.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian yang dilakukan, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi

1. Teoritis

Secara teoritis manfaat penelitian ini adalah untuk menambah wawasan

dalam bidang keperawatan terkait dengan cuci tangan pakai sabun dan

sanitasi jajanan.

2. Praktisi

Sebagai informasi dan upaya meningkatkan cuci tangan pakai sabun dan

sanitasi jajanan di lingkungan sekolah dan memberikan informasi kepada

institusi mengenai hubungan cuci tangan pakai sabun dan sanitasi jajanan

dan diare, guna untuk meningkatkan pengetahuan bagi tenaga kesehatan

seperti dokter, perawat dan peneliti.


6

E. Keaslian Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan sebagai prasyarat menyelesaikan

program studi Sarjana Terapan Keperawatan pada Poltekkes Kemenkes

Kaltim berjudul “hubungan cuci tangan pakai sabun dan sanitasi jajanan

dengan kejadian diare pada anak SD Negeri 015 Samarinda“. Sesuai

penelusuran penulis judul tersebut, tidak pernah dilakukan oleh peneliti lain

pada lokasi tersebut, namun terdapat beberapa judul peneliti yang hampiir

sama atau variabel yang hampir sama, antara lain sebagai berikut :

Table 1.1 Keaslian Penelitian

No Nama Judul Tahun Hasil Penelitian Sumber Jurnal


Peneliti Penelitian

1 Ali Rosidi, Hubungan 2010 Metode Rosidi, A.,


dkk. kebiasaan penelitian Handarsari,
cuci tangan explanatory E., &
dan sanitasi research dengan Mahmudah,
makanan pendekatan M. (2010).
dengan cross sectional. Hubungan
kejadian Teknik sample kebiasaan cuci
diare pada random tangan dan
anak sd sampling sanitasi
negeri podo sebanyak 50 makanan
2 orang. dengan
kecamatan Berdasarkan kejadian diare
kedungwuni hasil penelitian pada anak sd
kabupaten didapatkan ada negeri podo 2
pekalongan hubungan kecamatan
kebiasaan cuci kedungwuni.
tangan dengan Jurnal
kejadian diare Kesehatan
dan tidak ada Masyarakat
hubungan saitasi Indonesia,
makanan dengan 6(1), 76–84.
kejadian diare.
7

No Nama Judul Tahun Hasil Penelitian Sumber Jurnal


Peneliti Penelitian

2 Devania Hubungan 2015 Metode analitik Devania Purwati


Purwati sanitasi korelasional Rosyidi.
Rosyidi makanan dengan (2015).
dengan pendekatan case Description :H
kejadian control. ubungan
diare pada Teknik sample Sanitasi
balita di random Makanan
desa sampling Dengan
gayaman sebanyak 163 Kejadian
kecamatan orang. Diare Pada
mojoanyar Sanitasi Balita Di Desa
kabupaten makanan tidak Gayaman
mojokerto berhubungan Kecamatan
tahun 2010 dengan kejadian Mojoanyar
diare pada Kabupaten
balita. Mojokerto,
(June), 1–7.

3 Ilham Hubungan 2014 Desain Ilham Habib


Habib perilaku penelitian yang Djarkoni.
Djarkoni, cuci tangan digunakan (2014).
dkk. pakai sabun adalah survey Hubungan
dengan cross sectional. perilaku cuci
kejadian Teknik random tangan pakai
diare di sd sampling sabun dengan
advent sario sebanyak 31 kejadian diare
kota orang. di sd advent
manado Berdasarkan sario kota
tahun 2014 hasil penelitian manado.
didapatkan Jurnal
adanya Kedokteran
hubungan antara Komunitas
perilaku cuci Dan Tropik,
tangan pakai Volume 2 N,
sabun dengan 95–98.
kejadian diare
pada anak di SD
Advent Sario.
8

No Nama Judul Tahun Hasil Penelitian Sumber Jurnal


Peneliti Penelitian

4 Retno Hubungan 2013 Metode analisis Purwandari, R.,


Purwandari, antara hubungan Ardiana, A.,
dkk. perilaku dengan & Wantiyah.
mencuci pendekatan (2013).
tangan cross sectional. Hubungan
dengan Teknik sampling antara
insiden cluster sampling Perilaku
diare pada sebanyak 30 Mencuci
anak usia orang. Tangan
sekolah di Hasil penelitian dengan
kabupaten menunjukkan Insiden Diare
jember ada hubungan pada Anak
antara perilaku Usia Sekolah
cuci tangan di Kabupaten
dengan insiden Jember.
diare. Keperawatan
Universitas
Jember, 4(2),
122–130.

5 Warni Hubungan 2012 Metode Listiyorinij, W.


Listiyorinij antara deskriptif (2012).
kebiasaan korelasi dengan Hubungan
mencuci pendekatan antara
tangan cross sectional. kebiasaan
anak pra Teknik sample mencuci
sekolah random tangan anak
dengan sampling pra sekolah
kejadian sebanyak 81 dengan
diare di orang. kejadian diare
wilayah Hasil uji di wilayah
kerja tersebut adalah kerja
puskesmas ada hubungan puskesmas
pajang antara pajang
Surakarta kebiasaan surakarta.
tahun 2012. mencuci tangan
anak pra sekolah
dengan kejadian
diare.
9

Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu terletak

pada variabel dependen yaitu kejadian diare pada anak, metode penelitian

yang menggunakan Metode descriptive dengan pendekatan cross sectional

dan sampel yang menggunakan random sampling sedangkan perbedaan dalam

penelitian sebelumnya adalah jumlah sampel yang digunakan ….. orang.

Perbedaan lainnya terletak pada variabel independen yaitu hubungan cuci

tangan pakai sabun dan sanitasi jajanan dan variabel dependen dengan

kejadian diare.