Anda di halaman 1dari 12

Bab II

Arah Pengembangan Sektor Sanitasi Kota

2.1 Gambaran umum sanitasi kota


Kota Solok berbatasan dengan Kota Padang dan dikelilingi oleh nagari-nagari di Wilayah
Kabupaten Solok yang ditunjukkan oleh Tabel berikut :

Tabel Batas Wilayah Kota Solok

Uraian Batas Wilayah


- Sebelah Barat Nagari Selayo, Kota Padang
- Sebelah Timur Nagari Saok Laweh, Guguk Sarai dan Nagari Gaung
- Sebelah Utara Nagari Tanjung Bingkung dan Nagari Kuncir
Nagari Gaung, Panyangkalan, Koto Baru dan Nagari
- Sebelah Selatan
Selayo

Sumber : BPS Kota Solok

Hasil registrasi penduduk Kota Solok tahun 2008 tercatat sebanyak 59.172 jiwa, terdiri atas
28.989 laki-laki dan 30.173 perempuan, dengan sex ratio sebesar 0,96. Ini berarti setiap
1.000 perempuan berbanding 960 laki-laki. Dengan luas wilayah 5.764 Km2, kepadatan
penduduk Kota Solok adalah sebanyak 1.026 jiwa/km2. Kecamatan Tanjung Harapan
merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk tertinggi yaitu sebesar 1.223 jiwa/km 2

Jumlah penduduk Kota Solok tahun 2005 sampai dengan 2009 mengalami pertumbuhan
rata-rata 2,97%, namun jika dilihat dari jumlah penduduk setiap tahun, maka
pertumbuhannya mengalami fluktuasi. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu
4,49% dan pertumbuhan terendah pada tahun 2006 sebesar 0,25%.

Tabel Perkembangan penduduk Kota Solok tahun 2000 – 2009

Jumlah Penduduk (jiwa) Pertumbuhan


Tahun
Laki-laki Perempuan Jumlah (%)
2000 23.702 24.418 48.120 -
2001 24.932 24.869 49.081 2,00
2002 24.701 25.303 50.004 1,88
2003 26.722 27.140 53.862 7,72
2004 26.691 27.687 54.378 0,96
2005 26.753 27.774 54.527 0,27
2006 26.784 27.880 54.664 0,25
2007 27.988 29.132 57.120 4,49
2008 28.989 30.173 59.162 3,57
2009 29.658 30.872 60.530 3,57
Sumber : BPS Kota Solok, 2009

Tabel Jumlah dan Distribusi Kepadatan Penduduk Tahun 2004 – 2009

Kecamatan/ Luas Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk (jiwa/Ha)


Kelurahan (Ha) 2005 2006 2007 2008 2009 2005 2006 2007 2008 2009
I LB. SIKARAH 3.500 29.059 29.074 30.380 31.466 32.194 8 8 9 9 9
1 Tanah Garam 2.436 10.225 10.254 10.715 11.098 11.354 4 4 4 5 5
2 VI Suku 360 5.509 5.523 5.771 5.977 6.116 15 15 16 17 17
3 Sinapa Piliang 64 1.267 1.257 1.313 1.360 1.392 20 20 21 21 22
4 IX Korong 150 1.563 1.591 1.662 1.722 1.762 10 11 11 11 12
5 KTK 135 1.909 1.917 2.003 2.075 2.123 14 14 15 15 16
6 Aro IV Korong 125 2.572 2.574 2.690 2.786 2.850 21 21 22 22 23
7 Simpang Rumbio 230 6.014 5.958 6.226 6.448 6.597 26 26 27 28 29
II TJ. HARAPAN 2.264 25.468 25.590 26.740 7.696 28.336 11 11 12 12 13
1 Koto Panjang 21 2.271 2.281 2.384 2.469 2.526 108 109 114 117 120
2 PPA 69 5.709 5.727 5.984 6.198 6.342 83 83 87 90 92
3 Tanjung Paku 235 5.330 5.407 5.650 5.852 5.987 23 23 24 25 26
4 Nan Balimo 759 5.442 5.413 5.656 5.859 5.994 7 7 7 8 8
5 Kampung Jawa 365 5.752 5.789 6.049 6.265 6.410 16 16 17 17 18
6 Laing 815 964 973 1.017 1.053 1.077 1 1 1 1 1
Jumlah Total 5.764 54.527 54.664 57.120 59.162 60.530 9 10 10 10 11
Persentase Kenaikan 0,27% 0,25% 4,49% 3,57% 3,57%
Sumber : BPS Kota Solok, 2005-2010

Dengan melihat kepadatan penduduk, suatu daerah dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Urban high : Kelurahan yang mempunyai kerapatan penduduk > 250 orang/ha
2. Urban Medium : Kelurahan dengan kerapatan penduduk 176-250 orang/ha
3. Urban Low : Kelurahan dengan kerapatan penduduk 101-175 orang/ha
4. Peri-urban : Kelurahan dengan kerapatan penduduk 25-100 orang/ha
5. Rural : Kelurahan dengan kerapatan penduduk < 25 orang/ha

Kepadatan penduduk tertinggi Tahun 2009 adalah 120 jiwa/Ha yaitu di Kelurahan Koto
panjang dan terendah adalah 1 jiwa/Ha yaitu di Kelurahan Laing.
Tabel 2.11. Proyeksi Jumlah Penduduk Tahun 2010 – 2015

Kecamatan/ Proyeksi Jumlah Penduduk


No
Kelurahan 2010 2011 2012 2013 2014 2015
I LB. SIKARAH 32.795 33.480 34.389 34.895 35.624 36.368
1 Tanah Garam 11.567 11.808 12.055 12.307 12.564 12.827
2 Enam Suku 6.229 6.360 6.701 6.628 6.767 6.908
3 Sinapa Piliang 1.417 1.447 1.477 1.506 1.540 1.572
4 IX Korong 1.795 1.832 1.871 1.910 1.950 1.990
5 KTK 2.163 2.208 2.254 2.301 2.349 2.398
6 Aro IV Korong 2.904 2.964 3.026 3.090 3.154 3.220
7 Sp. Rumbio 6.720 6.861 7.004 7.151 7.300 7.453
II TJ. HARAPAN 28.866 29.469 30.085 30.714 31.356 38.035
1 Koto Panjang 2.573 2.627 2.682 2.738 2.795 2.854
2 PPA 6.460 6.595 6.733 6.873 7.017 7.164
3 Tanjung Paku 6.099 6.227 6.357 6.490 6.625 6.764
4 Nan Balimo 6.106 6.234 6.364 6.497 6.633 6.772
5 Kampung Jawa 6.530 6.666 6.805 6.948 7.093 7.241
6 Laing 1.097 1.120 1.144 1.168 1.192 7.241
JUMLAH 61.661 62.950 64.474 65.608 66.980 74.403
Sumber : hasil analisis

2.1.1 Kondisi Kesehatan Lingkungan


A. Profil kesehatan lingkungan

B. Kesehatan dan pola hidup masyarakat


Kondisi lingkungan yang kurang sehat berdampak pada terjadi beberapa penyakit yang
menjangkiti masyarakat. Infeksi pernafasan mendominasi dalam 3 tahun terakhir
sebagaimana tabel dibawah ini. Hal ini disebabkan karena perubahan cuaca, daya tahan
tubuh, kontak dan sanitasi yang kurang baik. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, berikut
adalah urutan 10 penyakit terbanyak selama tahun 2007 – 2009.
Tabel Penyakit Terbanyak Tahun 2007-2009

NO NAMA PENYAKIT 2007 2008 2009


1 Infeksi akut lain pada saluran pernafasan bagian atas 16.524 18.741 10.613
2 Penyakit lain pada saluran pernafasan bagian atas 18.234 19.359 8.068
3 Penyakit Kulit infeksi 3.401 3.291 2.945
4 Penyakit pada sistem otot dan jaringan pengikat 5.361 5.696 2.339
5 Penyakit kulit alergi 2.043 2.699 1.901
6 Diare (termasuk tersangka kolera) 2.365 2.236 1.827
7 Penyakit pulpa dan jaringan periapikal 3.587 4.143 1.689
8 Penyakit tekanan darah tinggi 3.933 3.547 1.622
9 Gangguan neorotik 2.648 2.842 1.175
10 Kecelakaan dan ruda paksa 1.291 1.402 1.125
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Solok

Sedangkan penyakit karena masalah sanitasi yang masih buruk didominasi oleh diare. Pada
tahun 2009 malah terjadi peningkatan diare yang cukup besar sebagaimana tabel dibawah
ini:
Tabel Insiden Rate (IR ) Penyakit Akibat Sanitasi Buruk

NO PENYAKIT 2007 2008 2009


1. Diare 2.439 2.078 3.058
2. ISPA 17.148 14.800
3. Tersangka DBD 17 11 28
4. TB.Paru 48 43 39
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Solok

C. Kualitas dan kuantitas air


Tabel Kualitas Air Sumur Gali (SGL) Tahun 2007-2009

Sampel yang ber e-coli > 50


No Tahun Jumlah sampel
mpn
1 2007 18 7
2 2008 187 175
3 2009 65 53
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Solok
D. Limbah padat (sampah)

E. Drainase lingkungan
Drainase yang ada di Kota Solok banyak yang telah rusak dan tidak tersistem dengan baik
akibat tercampur antara limpasan air hujan, rembesan air tanah dan buangan air limbah
yang menyatu, sehingga perlu ditata kembali dan perlu pembangunan drainase. Sistem
drainase dan pembuangan air limbah hanya terdapat di sebagian kawasan pusat kota dan
bermuara ke sungai Batang Lembang.

Saluran drainase primer dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3.16. Saluran Drainase Primer

No Lokasi Panjang (m) Kondisi


Terjadi penyempitan karena debit
air tidak sesuai dengan saluran
1 Kawasan Tembok 1.600 yang ada

2 Kawasan Sihorok 800 Baik

3 Kawasan By Pass Jl. Pamuncak 2.000 Baik

4 Kawasan Mesjid Pulai 1.600

5 Kawasan Jalan Rajin 900 Baik

6 Kawasan Biruhun 1.200 Baik

7 Kawasan Jalan Ahmad Dahlan 1.000 Baik

8 Drainase Primer Pandan Air Mati 1.334 Baik

9 Drainase Skunder Aro IV Korong 425 Baik

10 Box Culvert 10 Baik

11 Drainase Jl. Syekh Kukut 1.200 Terjadi pengendapan sedimen

12 Belakang Bioskop Karya 510 Terdapat pengendapan sedimen

13 Drainase Bandar Payo 3.500 Baik


Sumber : Dinas PU Kota Solok
F. Pencemaran udara
Kontributor pencemar udara di Kota Solok dominan berasal dari kegiatan transportasi yang
terutama mengemisikan CO, NO2 dan PM10. Selain itu segala aktivitas pembakaran seperti
pembakaran sampah jerami pasca panen oleh petani, pembakaran sampah rumah tangga
oleh sebagian kecil masyarakat serta operasional Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah
yang kurang tepat juga turut menyumbangkan zat pencemar ke udara, baik berupa CO, NO 2,
Particulate Matter (PM), CH4 dan TSP (debu). Namun demikian, sejauh ini beban pencemar
yang diterima oleh media udara, masih dapat ditampung dan belum melebihi daya
dukunganya. Itu berarti kemampuan alam (udara) dalam melakukan self purification masih
berjalan normal.

Dari hasil hasil pengukuran kualitas udara ambien terhadap parameter NO, SO2, CO, O3 dan
PM10 pada Tahun 2009 dengan titik pengambilan sampel di Terminal Bareh Solok dan
daerah Simpang Rumbio (jalur padat lalu lintas) dapat disimpulkan bahwa kualitas udara
ambien Kota Solok masih bagus. Karena dari hasil pengujian seluruh parameter uji masih
memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan. Khusus untuk parameter PM 10 perlu
dimonitoring lebih lanjut karena nilainya hampir mendekati baku mutu. Hasil pengujian
selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.19.

Tabel Hasil Pengujian Kualitas Udara Ambien Tahun 2009

Terminal
Waktu Simpang
Parameter Baku Mutu Satuan Bareh
Pengukuran Rumbio
Solok
1 jam 900 µg/Nm3 32,8
SO2
1 jam 30.000 µg/Nm3 1340
CO
1 jam 400 µg/Nm3 10,5
NO2
1 jam 235 µg/Nm3 19,8
O3
24 jam 150 µg/Nm3 122,51
PM10
Sumber : Laporan SLHD Kota Solok Tahun 2009

G. Limbah industri
Mayoritas industri yang ada di Kota Solok tergolong industri kecil skala rumah tangga,
dengan jenis kegiatan industri yang cukup bervariasi mulai dari industri makanan dan
minuman, perbengkelan, perabotan hingga usaha percetakan dan sablon. Namun tidak
ditemui adanya industri spesifik yang aktifitasnya berpotensi besar merusak dan mencemari
lingkungan. Dengan demikian secara umum, limbah dari aktivitas industri yang dihasilkan
industri Kota Solok masih dapat diklasifikasikan sebagai limbah domestik rumah tangga.
Hanya saja debit limbah, berikut nilai beban pencemaran akan sedikit lebih besar serta
karakteristik dan komposisi limbah cairnya mungkin sedikit berbeda tergantung bahan baku
yang digunakan serta proses pembuatan produk industri.

Adapun usaha yang berpengaruh terhadap pencemaran lingkungan adalah bengkel dan
tempat pencucian motor. Di Kota Solok ada 133 usaha tersebut dan yang telah mendapat
izin ada 14 buah yang terdiri dari 4 bengkel mobil dan 10 bengkel motor.

Dari industri yang ada di Kota Solok, yang perlu mendapat perhatian lebih adalah limbah cair
dari industri tahu. Walaupun karakteristik dan komposisi, limbah cair industri tahu hampir
sama dengan limbah cair rumah tangga, namun debit dan beban pencemaranya lebih besar,
sehingga diperkirakan limbah cair dari industri tahu berpengaruh terhadap lingkungan.
Dampak yang diberikan limbah cair industri tahu terhadap lingkungan adalah berkurangnya
ketersediaan oksigen terlarut (DO) pada badan air penerima limbah cair industri tahu,
karena besarnya senyawa organic yang terkandung dalam limbah cair industri tahu.

H. Limbah medis
Prakiraan timbulan limbah medis dapat dilihat pada tabel berikut :

TABEL Prakiraan Timbulan Sampah Medis

NO Sarana Perkiraan timbulan sampah/hari/kg


1 RSU SOLOK 3 - 4 Kg/hari
2 Puskesmas 0.25 Kg/hari/Puskesmas
3 Laboratorium Kesehatan 0.25 Kg/hari
4 Poliklinik/Rumah Bersalin 15/Kg/3 bulan

2.1.2. Kondisi sanitasi kota


A. Kondisi umum sub sektor persampahan
Saat ini jumlah TPS permanen sebanyak 30 buah, TPS non permanen 420 buah, yang
didukung oleh sarana/alat pendukung pengelolaan persampahan dengan jumlah armada
persampahan sebanyak 5 (lima) unit truk sampah, 5 (lima) unit arm roll truk dengan 10
(sepuluh) unit gerobak arm roll, 1 (satu) unit truk tinja, 1 (satu) unit truk penyiram, 4
(empat) unit becak sampah dan 5 (lima) unit becak motor. Sarana pengumpul/pengangkut
sampah di Kota Solok terdiri dari gerobak/becak, pick up, truk, arm rol truk, serta petugas
pengumpul sampah.
Tabel Sarana dan Volume Pengumpul/Pengangkut Sampah yang Beroperasi
di Kota Solok Tahun 2010

No Sarana Jumlah Jadwal Volume rata-


Pengambilan rata

1 Gerobak/Becak 17 2 kali 0.5 m3


2 Pick Up 2 3 kali 1.5 m3
3 Truk 7 2 Kali 6 m3
4 Arm Rool Truck 3 4 kali 6 m3
Sumber : Buku Putih Sanitasi Kota Solok

Sedangkan sarana tempat penampungan sementara terdiri dari kontainer, bak kayu,
bin/drum galvanis, dan bak pasangan dari bata.

Tabel Sarana Tempat Penampungan Sementara (TPS) di Kota Solok Tahun 2010

No Jenis Jumlah
1 Kontainer 6 – 10 m3 9
2 Bak Kayu 50
3 Bin/drum Galvanis 90
4 Bak dari bata 45
5 Lain-lain 15
Sumber : Buku Putih Sanitasi Kota Solok

Beberapa permasalahan yang ditemui dalam pengelolaan sampah antara lain :


1. Terbatasnya prasarana dan sarana pengelolaan persampahan
2. Belum adanya masterplan persampahan sehingga pengelolaan sampah masih
dilakukan secara parsial.
3. Masih kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam pemilahan sampah
dan pengelolaan sampah pola 3R. Sampah rumah tangga umumnya masih tercampur
antara sampah organik dan anorganik, dan masih dilakukan bentuk pembakaran
sampah.
4. Masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah

B. Kondisi umum sub sektor drainase lingkungan


Beberapa permasalahan dalam pengelolaan drainase adalah :
1. Belum adanya master plan drainase yang komprehensif sebagai acuan dalam
perencanaan pembangunan drainase
2. Masih rendahnya kesadaran dan peran serta masyarakat dalam pemeliharaan dan
pengelolaan saluran drainase di lingkungannya seperti membuang sampah di saluran
drainase dan mendirikan bangunan di atas saluran drainase, sehingga saluran
drainase berubah menjadi saluran tertutup yang mengakibatkan terkendala dalam
pembuangan sedimentasi
3. Terjadi penyempitan saluran akibat tertutup sedimentasi sehingga banyak saluran
yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya untuk mengalirkan air permukaan ke
badan air terdekat sehingga mengakibatkan genangan
4. Terdapat kabel Telkom dan Pipa PDAM yang melintang di penampang bawah
saluran, sehingga menghambat aliran drainase dan bahkan ada yang menutup
saluran drainase.
5. Sistem drainase yang digunakan saat ini sebahagian masih tercampur dengan air
Iimbah, air limpasan hujan, air irigasi dan air tanah;
6. Pertumbuhan kawasan pemukiman secara sporadis dan kawasan permukiman padat
yang memiliki keterbatasan lahan untuk pembangunan saluran drainase1.

C. Kondisi umum sub sektor air limbah


1. Penanganan air limbah masih belum terkoordinasi dan terintegrasi
2. Masih terbatasnya regulasi dan kurangnya penegakan aturan terhadap
pembuangan air limbah yang mencemari lingkungan.
3. Masih kurangnya pemahaman masyarakat tentang septic tank yang sesuai
dengan ketentuan teknis.
4. Saluran air limbah sebahagian masih menyatu dengan saluran drainase.

D. Kondisi umum sub sektor air minum

E. Aspek Higiene/PHBS

2.2 Visi dan misi kota

VISI MISI KOTA VISI MISI SANITASI

VISI VISI
Terwujudnya Masyarakat Yang Terwujudnya pengelolaan sanitasi yang
Beriman, Bertaqwa, Sehat, Edukatif, partisipatif dan berkualitas tahun 2015
Dan Sejahtera Dengan Pemerintahan
Yang Baik Dan Bersih Menuju Kota
Perdagangan Dan Jasa Yang Maju Dan
Modern.

1
RPIJM Revisi
MISI MISI
1. Meningkatkan kualitas tatanan 1. Menyelenggarakan pengelolaan sanitasi
kehidupan masyarakat yang yang berkualitas
beriman dan bertaqwa. 2. Meningkatkan kualitas dan kuantitas
2. Menyelenggarakan tata prasarana dan sarana sanitasi
pemerintahan daerah yang baik 3. Meningkatkan partisipasi masyarakat dan
dan bersih (Good Local Governance
peran serta swasta dalam penyediaan dan
and Clean Government)
3. Mengembangkan nilai-nilai adat pengelolaan sanitasi
dan budaya ditengah masyarakat 4. Meningkatkan kapasitas kelembagaan
berlandaskan adat basandi syara’, pemerintah, swasta dan masyarakat dalam
syara’ basandi kitabullah. pengelolaan sanitasi
4. Meningkatkan kualitas pelayanan 5. Meningkatkan regulasi untuk pengelolaan
bidang pendidikan dan kesehatan. sanitasi
5. Meningkatkan pelayanan
6. Meningkatkan kesadaran masyarakat
kesejahteraan sosial dan
penanggulangan kemiskinan. terhadap budaya hidup bersih dan sehat
6. Meningkatkan pembinaan
kepemudaan dan olah raga
7. Meningkatkan aktivitas
perdagangan, jasa, agrobisnis dan
pariwisata
8. Meningkatkan pembangunan
prasarana dan sarana fasilitas
pelayanan umum.
9. Meningkatkan pemberdayaan dan
pendapatan masyarakat.
10. Menegakkan peraturan daerah
yang berkeadilan.

2.3 Kebijakan Umum Strategi Sektor Sanitasi Kota Tahun 2011-2015


Penentuan kebijakan umum dan strategi sektor sanitasi kota dilakukan berdasarkan
hasil penentuan zona dan sistem sanitasi di Kota Solok. Penentuan zona dan sistem sanitasi
ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
- Millenium Development Goals (MDGs)
Dengan diratifikasinya MDGs, maka Pemerintah Indonesia juga terikat untuk
mengurangi setengahnya penduduk yang tidak memiliki akses sanitasi dasar pada tahun
2015.
- Kebijakan dan peraturan nasional mengenai sanitasi
Terdapat beberapa kebijakan dan peraturan/standar nasional yang dijadikan
pertimbangan dasar dalam penyusunan zona dan sistem sanitasi, diantaranya:
a. Kebijakan nasional AMPL berbasis masyarakat
b. SNI mengenai tangki septik
- Kebijakan provinsi dan kota mengenai sanitasi
- Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Solok
- Dalam penyusunan zona dan sistem sanitasi ini, perencanaan RTRW yang digunakan
terutama mengenai tata guna lahan saat ini serta rencananya ke depan.
- Tingkat resiko kesehatan
Hal ini mengacu pada hasil studi EHRA yang telah dilakukan serta penentuan wilayah
prioritas (priority setting) yang tersedia dalam Buku Putih Sanitasi Kota Solok.
Dari pertimbangan di atas maka zona dan sistem sanitasi untuk setiap sub sektor
diilustrasikan pada gambar dibawah ini

2.4 Tujuan dan Sasaran Sanitasi dan Arah Pentahapan Pencapaian


A. Tujuan
- Meningkatkan Kualitas dan kuantitas Pelayanan sanitasi secara partisipatif dan berkelanjutan
- Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat

B. Sasaran
1. Sasaran jangka panjang (2011-2020)

2. Sasaran jangka menengah (2011-2015)

3. Sasaran jangka pendek (2011-2013)


C. Arahan
1. Sub Sektor Persampahan
Pengembangan prasarana persampahan diarahkan melalui :

2. Sub Sektor Air lImbah


Pengembangan prasarana air limbah diarahkan melalui :

3. Sub Sektor drainase lingkungan


Pengembangan prasarana drainase lingkungan diarahkan melalui :

4. Sub sektor air minum/air bersih


Pengembangan prasarana air minum/air bersih diarahkan melalui :