Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PEDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN HEPATOMA

1. TEORI DASAR PENYAKIT

A. PENGERTIAN
Karsinoma Hepato seluler atau hepatoma adalah tumor ganas hati primer dan paling
sering ditemukan daripada tumor ganas hati primer lainnya seperti limfoma maligna,
Fibrosarkoma dan Hemangioen dotelioma

B. PENYEBAB
Hubungan antara infeksi kronik HBV dengan timbulnya hepatoma terbukti kuat, baik
secara epidermiologis kunis maupun eksperimental, sebagian besar wilayah yang
hiperdermik, HBU menunjukkan angka kekerapan dalam hati pada sekitar separuh dari
seluruh kasus kanker stadium lanjut. Tumor maligna pada akhirnya cenderung mencapai
hati melalui system protal atau saluran limfatik, atau melalui perluasan langsung dari
tumor abdominal.

Virus Hepatitis B dan Virus Hepatitis C


Bahan-bahan Hepatokarsinogenik :
 Aflatoksin
 Alkohol
 Penggunaan steroid anabolic
 Penggunaan androgen yang berlebihan
 Bahan kontrasepsi oral
 Penimbunan zat besi yang berlebihan dalam hati (Hemochromatosis)

C. EPIDEMOLOGI
Hepatoma (Karsinoma Hepatoseluler) merupakan salah satu tumor yang paling sering
ditemukan didunia. Tumor ini sangat prevalen di daerah tertentu di Asia dan Afrika. Sut –
Sahara, tempat Insindensi tahunan mencapai 500 kasus per 100.000 populasi di Amerika
Serikat dan Eropa Barat. Tumor ini jauh lebih jarang menyebabkan hanya sekitar 1 sampai
3 persen tumor ganas pada autopsi insidensi puncak terjadi pada dekade kelima sampai ke
enam di negara barat tapi satu atau dua dekade lebih dini yang tinggi.
Alasan utama tingginya insedensi karsinoma hepatoseluler di daerah tertentu di Asia dan
Afrika adalah seringnya infeksi kronik virus hepatitis B (HBV) dan virus hepatitis C
(HCV) (tsselbacher, 2000-1678)
Hati merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia, kerusakan atau terganggunya fungsi
hati tak hanya mengganggu metabolisme tubuh, juga bisa memicu kanker hati.

D. PATHOFISIOLOGI
Hepatoma 75 % berasal dari sirosis hati yang lama/ menahun khususnya yang disebabkan
oleh alkholik dan postnekrotik. Pedoman diagnostik yang paling penting adalah terjadnya
keruasakan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Pada penderita sirosis hati yang disertai
pembesaran hati mendadak.
Tumor hati yang sering adalah metastase tumor ganas dari tempat lain metastase ke hati
dapat terdeteksi pada lebih dari 50 % kematian akibat kanker. Hal ini benar, khususnya
untuk keganasan pada saluran pencernaan tetapi banyak juga memperlihatkan
kecenderungan untuk bermestatase ke hati.
E. GEJALA KLINIS
Pada tahap awal hepatoma tidak memberi gejala dan tanda kunik pada stadium lanjut
mungkin bisa di dapatkan gejalan dan tanda-tanda seperti :
a. Penurunan nafsu makan
b. Mual dan muntah
c. Mudah capek dan merasa lelah
d. Hatinya membesar
e. Abomen (perutnya) membesar
f. Kulit dan matanya kelihatan kuning
g. Kotorannya berwarna putih.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah Lengkap : SGOT, SGPT, LDH, CPK, Alpa Fetoprotein, 500mg/a1, LibSAg
positif dalam serum/ kalium, kalsium
Radiologi : ultrasonografi (USE)/ C-7 Scan (sidik Tomografi Angiografi) hepatik,
skinhgrafi hepatik Biopsi Jaringan hati dilakukan dengan tuntutan USG atau
laparoskopi.

G. PENATALAKSANAAN
a) Terapi umum
1. Istirahat
Istirahat yang cukup
2. Diet
Tinggi kalori dari protein
3. Medikamentosa

Obat pertama

Obat alternative

Hepatoprotektor

a. 5 Fu dan adriamisin
b. 5 Fiuora → deoksirubin (FUDR) dengan memasang pompa
subkutan.
c. Injeksi alkohol perkulan bila diameter < 3 cm
b) Terapi komplikasi
Kemotrapi bila sudah ada metastasis

2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

A. PENGKAJIAN
1. Biodata
Pengkajian ini penting dilakukan untuk mengetahui latar belakang, status sosial
ekonomi, adat / kebudayaan, dan keyakinan spiritual, sehingga mudah dalam
komunikasi dan menentukan tindakan keperawatan yang sesuai.

2. Riwayat Kesehatan

a. Keluhan utama
Keluhan utama : Adanya pembesaran hepar yang dirasakan semakin mengganggu
sehingga bisa menimbulkan keluhan sesak napas yang dirasakan semakin berat
disamping itu disertai nyeri abdomen.

a. Riwayat Penyakit sekarang


Riwayat Penyakit Sekarang dapat diperoleh melalui orang lain atau dengan klien itu
sendiri.
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Penyakit Dahulu dikaji untuk mendapatkan data mengenai penyakit yang
pernah diderita oleh klien.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Penyakit Keluarga dikaji untuk mengetahui data mengenai penyakit yang
pernah dialami ol eh anggota keluarga.

3. Pemeriksaan Fisik

1) Gejala klinik
Fase dini : Asimtomatik.
Fase lanjut :Tidak dikenal simtom yang patognomonik.
Keluhan berupa nyeri abdomen, kelemahan dan penurunan berat badan, anoreksia, rasa
penuh setelah makan terkadang disertai muntah dan mual. Bila ada metastasis ke tulang
penderita mengeluh nyeri tulang.
Pada pemeriksaan fisik bisa didapatkan :
1) Ascites
2) Ikterus
3) Splenomegali, Spider nevi, Eritema palmaris, Edema.
Secara umum pengkajian Keperawatan pada klien dengan kasus Hepatoma, meliputi :
1) Gangguan metabolisme
2) Perdarahan
3) Asites
4) Edema
5) Hipoalbuminemia
6) Jaundice/icterus
7) Komplikasi endokrin
8) Aktivitas terganggu akibat pengobatan
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan adanya penurunan ekspansi
paru (ascites dan penekanan diapragma)
2. Gangguan rasa nyaman nyeri abdomen berhubungan dengan adanya penumpukan
cairan dalam rongga abdomen (ascites).
3. Gangguan nutrisi : Kurang dari kebutuhan berhubungan dengan tidak adekuatnya
asupan nutrisi.
4. Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan sesak dan nyeri.
5. Gangguan aktifitas berhubungan dengan sesak dan nyeri
6. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit yang
diderita.

C. INTERVENSI
NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
1 Ketidakefektifan Tujuan : 1. Pertahankan 1. Posisi ini
pola pernapasan Setelah Posisi semi memungkinkan
berhubungan dilakukan fowler. tidak terjadinya
dengan adanya tindakan 2. Observasi gejala penekanan isi perut
penurunan keperawatan kardinal dan terhadap diafragma
ekspansi paru diharapakan monitor tanda – sehingga
(ascites dan pernapasan tanda meningkatkan
penekanan efektif kembali ketidakefektifan ruangan untuk
diapragma) Kriteria : Tidak jalan napas ekspansi paru yang
mengeluh 3. Berikan maksimal.
sesak napas, penjelasan Disamping itu
RR 20 – 24 tentang penyebab posisi ini juga
X/menit. Hasil sesak dan mengurangi
Lab BGA motivasi utuk peningkatan volume
Normal membatasi darah paru sehingga
aktivitas. memperluas
4. Kolaborasi ruangan yang dapat
dengan tim medis diisi oleh udara.
(dokter) dalam
pemberian 2. Pemantau lebih dini
Oksigen dan terhadap perubahan
pemeriksaan Gas yang terjadi
darah. sehingga dapat
diambil tindakan
penanganan segera
3. Pengertian klien
akan mengundang
partispasi klien
dalam mengatasi
permasalahan yang
terjadi.
4. Pemberian oksigen
akan membantu
pernapasan
sehingga eskpasi
paru dapat
maksimal.
Pemeriksaan gas
darah untuk
mengetahui
kemampuan
bernapas.

2 Gangguan rasa Setelah 1. Lakukan 1. Analgesik bekerja


nyaman nyeri dilakukan kolaborasi mengurangi reseptor
abdomen tindakkan dengan dokter nyeri dalam
berhubungan keperawatan dalam pemberian mencapai sistim
denganadanya diharapakn analgesik. saraf sentral
penumpukan nyeri dapat 2. Atur posisi klien 2. Dengan posisi
cairan dalam berkurang atau yang enak sesuai miring ke sisi yang
dengan keadaan sehat disesuaikan
rongga abdomen Pasien bebas 3. Awasi respon dengan gaya
(ascites). dari nyeri. emosional klien gravitasi,maka
Kriteria : Tidak terhadap proses dengan miring
mengeluh nyeri nyeri kesisi yang sehat
abdomen, tidak 4. Ajarkan teknik maka terjadi
meringis, Nadi pengurangan pengurangan
70 – 80 nyeri dengan penekanan sisi yang
x/menit. teknik distraksi sakit.
5. Observasi tanda- 3. Keadaan emosional
tanda vital. mempunyai dampak
pada kemampuan
klien untuk
menangani nyeri.
4. Teknik distraksi
merupakan teknik
pengalihan
perhatian sehingga
mengurangi
emosional dan
kognitif
5. Deteksi dini adanya
kelainan

3 Gangguan nutrisi :
Kurang dari
kebutuhan
berhubungan
dengan tidak
adekuatnya asupan
nutrisi.