Anda di halaman 1dari 20

1.

Pendahuluan

1.1.Latar Belakang

Jurnalisme saat ini menghadapi era globalisasi dimana pola komunikasi dan

penyampaian informasi bisa dilakukan tanpa terhalang jarak maupun waktu. Hal

ini merupakan dampak dari perkembangan teknologi informasi. Smartphone dan

internet merupakan hasil dari perkembangan teknologi informasi yang

memudahkan setiap orang untuk memperoleh berita secara cepat dan

berkomunikasi tanpa terhalang jarak. Pola penyampaian berita melalui media

massa (cetak maupun elektronik) mulai tergeser dengan media online yang

memanfaatkan fasilitas internet sebagai sarana publikasi seiring perkembangan

jumlah pemakai internet di Indonesia, dimana saat ini sudah mencapai 25% dari

total penduduk Indonesia (Tempo, edisi 5 April 2009).

Hasil riset AC Nielsen menunjukkan penggunaan internet baik di dalam dan

luar Jawa meningkat sejak 2010 hingga 2014. Di Jawa meningkat sebanyak dua

kali lipat mencapai 17% dan di luar Jawa meningkat sebanyak 12%. Berdasarkan

data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJI) Indonesia menunjukkan

sebanyak 88,1 juta dari 252 juta penduduk Indonesia mengonsumsi internet pada

tahun 2014. Sebanyak 57% dari jumlah tersebut menggunakan internet untuk

mengakses berita-berita terkini dari media online.

Multimedia capability (multiplatform) merupakan salah satu kelebihan media

online yang bisa menampilkan informasi dalam bentuk teks, video dan audio

secara bersamaan. Kemunculan media online memberikan peluang bagi non

1
wartawan (citizen journalist) untuk mempublish artikel mereka. Inilah perubahan

besar sepanjang sejarah jurnalisme dimana internet telah menggeser posisi

wartawan sejajar dengan audience yang menjadi reporter.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) wartawan adalah orang

yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat dalam surat kabar,

majalah, radio, dan televisi; juru warta; jurnalis. Skeptisisme muncul dari para

wartawan profesional yang mempertanyakan profesionalisme warga (citizen

journalist) dalam melaporkan berita, namun tak sedikit para pengamat media yang

tanpa ragu memberikan dukungan pada citizen journalist. Media online sering

mengabaikan kepentingan publik dengan menampilkan berita-berita secara cepat

namun minus verifikasi dan akurasi yang pada tahap selanjutnya bisa

menyesatkan opini publik. Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki media online

tersebut menuntut wartawan untuk meningkatkan kompetensinya dengan

berpedoman pada etika jurnalistik yang menekankan pada verifikasi dan akurasi

berita.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penulis mengangkat rumusan

masalah bagaimana tantangan dan tuntutan seorang wartawan dalam

perkembangan teknologi informasi saat ini dan bagaimana sudut pandang islam

tentang tuntutan profesi wartawan.

2
1.2.Rumusan Masalah

1) Bagaimana tantangan dan tuntutan profesi wartawan dalam perkembangan

teknologi informasi saat ini ?

2) Bagaimana profesi wartawan dalam sudut pandang islam?

1.3.Tujuan Penelitian

1) Menjelaskan masalah dan tuntutan yang dihadapi profesi wartawan dalam

perkembangan teknologi informasi saat ini.

2) Menjelaskan profesi wartawan dalam sudut pandang islam.

1.4.Manfaat Penelitian

1) Bagi wartawan

Menambah pengetahuan tentang masalah-masalah yang dihadapi

wartawan lain dalam perkembangan teknologi informasi saat ini dan sudut

pandang islam tentang profesi wartawan.

2) Bagi pembaca dan penulis

Memperoleh pengetahuan tentang masalah-masalah dan tuntutan yang

dihadapi seorang wartawan dalam perkembangan teknologi informasi saat ini

dan sudut pandang islam tentang profesi wartawan.

3
2. Tinjauan Pustaka

2.1.Wartawan

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) wartawan adalah orang

yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat dalam surat kabar,

majalah, radio, dan televisi; juru warta; jurnalis. Kegiatan mencari, menulis, dan

menyebarkan informasi melalui sarana media cetak (surat kabar, majalah, buletin,

tabloid) dan media elektronik (televisi, radio, internet) disebut jurnalistik.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers

Pasal 1 ayat 4 mendefinisikan wartawan sebagai orang yang secara teratur

melaksanakan kegiatan jurnalistik. Sementara itu, wartawan menurut

pendefinisian menurut Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), hubungannya

dengan kegiatan tulis menulis yang di antaranya mencari data (riset, liputan,

verifikasi) untuk melengkapi laporannya.

Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan

kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan,

mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara,

gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya

dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran

yang tersedia. Sedangkan perusahaan pers adalah badan hukum Indonesia yang

menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik,

dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus

4
menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi. (Pasal 1 ayat 1-2

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers).

Jurnalistik, wartawan, dan pers memiliki pendefinisian yang saling

melengkapi, jika jurnalistik adalah kegiatan dan wartawan adalah orang yang

melakukan kegiatan, maka pers adalah lembaga/badan penghubung antara

jurnalistik dengan wartawan. Dalam menjalankan tugas kewartawanan, berbagai

organisasi terkait wartawan ini dibentuk, baik berupa persatuan, forum, asosiasi,

dan lainnya, antara lain:

 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)

 Indonesian Tourism Journalist Association (ITJA)

 Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)

 Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

2.2.Citizen Journalist

Citizen journalism adalah praktek jurnalisme yang dilakukan oleh non

profesional jurnalis/wartawan (citizen journalist) dalam hal ini oleh warga atau

pembaca berita. Kemunculan citizen journalist merupakan perubahan besar

sepanjang sejarah jurnalisme dimana internet telah menggeser posisi wartawan

sejajar dengan audience yang menjadi reporter. Jean K. Min, direktur Ohmynews

Internasional berpendapat bahwa audience bukan lagi konsumen pasif, namun

pihak aktif yang membuat dan mengkonsumsi berita yang mereka buat sendiri.

5
2.3.Media Online

Media yang berbasis telekomunikasi dan multimedia, yaitu portal, website

(situs web), radio-online, TV-online, pers-online, e-mail, dan lain-lain dengan

karakteristik masing-masing sesuai dengan fasilitas yang memungkinkan user

memanfaatkannya disebut media online. (Ashadi Siregar dalam Kurniawan,

2005:20). WhatsApp, LINE, Facebook, Instragram, Twitter, Youtube, dan banyak

lainnya merupakan perkembangan media online saat ini.

2.4.Penelitian Terdahulu

Mantan Jaksa Agung, Ali Said dalam Kusumaningrat (2009: 88) menganggap

wartawan adalah wakil rakyat tanpa pemilu, karena pekerjaannya yang memenuhi

kepentingan rakyat. Kekuasaannya lebih tinggi dari penguasa. Wartawan sering

sekali mendapat predikat pendidik informal dan menghibur, sebutan lebih

kompleks dari guru dan jenderal. Sedangkan menurut Assegaf (1991: 142)

menyatakan bahwa wartawan adalah seseorang yang bekerja dan mendapatkan

nafkah sepenuhnya dari media massa berita.

6
3. Metode Penelitian

3.1.Pendekatan Penelitian

Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian deskriptif kualitatif.

Deskriptif berarti menjelaskan tentang masalah-masalah dalam masyarakat,

tatacara masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan

kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang

sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Penelitian

deskriptif menurut Whitney (dalam Nazir, 1988: 63) yaitu penelitian untuk

pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat.

3.2.Kerangka Konseptual

Tantangan
Perkembangan Sudut
Teknologi Wartawan Pandang
Informasi Islam
Tuntutan

3.3.Rancangan Pengumpulan Data

3.3.1. Data yang diperlukan

Data penting yang diperlukan dari penelitian ini adalah tantangan dan

tuntutan yang dihadapi wartawan serta sudut pandang islam mengenai profesi

wartawan.

7
3.3.2. Teknik pengumpulan data

1) Studi Pustaka

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan buku-buku, jurnal, Al-

Quran, dan hadist sebagai sumber data dan acuan teori yang berhubungan

dengan penelitian yang diambil yaitu, mengenai tantangan dan tuntutan

seorang wartawan serta sudut pandang islam tentang profesi wartawan.

2) Observasi

Melalui observasi pasif, peneliti melakukan pengamatan terhadap kejadian

(fenomena) yang dialami oleh terteliti secara tidak langsung melalui media

perantara yaitu, website-website terkait.

8
4. Pembahasan

Tantangan dan Tuntutan Seorang Wartawan dalam Perkembangan

Teknologi Informasi

Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan pesat dalam bidang

jurnalisme. Pola penyampaian pesan pun berubah bergeser ke media online tidak

lagi monoplatform tetapi multiplatform yang mengintegrasikan teks, video, dan

audio. Jurnalisme online yang ditopang oleh internet menuntut wartawan untuk

cakap dan terampil dalam menulis, memotret, membuat berita video, bahkan

berinteraksi lebih jauh dengan audience sekaligus dalam satu waktu peliputan.

Mereka juga harus paham karakter audience yang akan mengonsumsi produk

jurnalistiknya. Penyajian melalui berbagai platform memudahkan persebaran dan

memperluas keterbacaan.

Perkembangan teknologi informasi juga membuka peluang bagi non wartawan

(citizen journalist) untuk mempublish artikel mereka, artinya posisi wartawan

sejajar dengan audience yang menjadi reporter. Skeptisisme muncul dari para

wartawan yang mempertanyakan profesionalisme warga (citizen journalist) dalam

melaporkan berita. Citizen journalism merupakan ancaman bagi wartawan

profesional karena perkembangannya yang terus menarik perhatian audience.

Praktik jurnalisme pada era perkembangan teknologi informasi membawa

wartawan ke dalam tantangan seperti pengelolaan waktu, keterbatasan alat, dan

adaptasi dengan lingkungan sekitar. Pelham dalam Miller (2009:27)

menggarisbawahi persoalan waktu, untuk memenuhi tantangan kecepatan berita

9
seorang wartawan harus bekerja secara efisien dan berkoordinasi dengan tim

produksi serta tim redaksi. Beberapa pakar mengkritik karakter media online yang

hanya mengedepankan kecepatan informasi dan ketertarikan audience pada judul

tanpa menimbang kualitas informasi yang diperoleh. Media online sering

mengabaikan kepentingan publik dengan menampilkan berita-berita secara cepat

namun minus verifikasi dan akurasi yang pada tahap selanjutnya bisa

menyesatkan opini publik.

Problem etika ini tidak hanya menjadi persoalan seorang wartawan tetapi juga

menjadi tanggungjawab berbagai lembaga yang bersangkutan, misalnya Dewan

Pers, dalam merumuskan aturan atau pedoman yang bisa mengikuti

perkembangan jaman. Peran publik dalam mengawasi wartawan dan media juga

dibutuhkan karena kepentingan publik adalah esensi dari jurnalisme. Wartawan di

era globalisasi informasi dituntut untuk tidak mengabaikan etika jurnalistik dan

prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Dengan demikian, jurnalisme baru benar-benar

bisa bermanfaat bagi kepentingan publik.

Profesionalisme diperlukan untuk menjaga kinerja wartawan dalam memenuhi

tugas jurnalistik. Etika diperlukan dalam menjaga profesionalisme. Etika

berfungsi menjaga agar pelaku profesi tetap terikat (committed) pada tujuan sosial

profesi, sehingga etika profesi dapat berfungsi memelihara agar profesi itu tetap

dijalankan sesuai dengan harapan lingkungan sosialnya, (Siregar, 1998:226).

Berikut Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang disepakati Dewan Pers dan Komisi

Penyiaran Indonesia sidang pleno I lokakarya V pada tanggal 13 Agustus 2003:

10
a) Pasal 1: Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang

akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

b) Pasal 2: Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam

melaksanakan tugas jurnalistik.

c) Pasal 3: Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara

berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta

menerapkan asas praduga tak bersalah.

d) Pasal 4: Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan

cabul.

e) Pasal 5: Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas

korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi

pelaku kejahatan.

f) Pasal 6: Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak

menerima suap.

g) Pasal 7: Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi

narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya,

menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record”

sesuai dengan kesepakatan.

h) Pasal 8: Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita

berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar

perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak

merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat

jasmani.

11
i) Pasal 9: Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan

pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

Pasal 10: Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki

berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada

pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

j) Pasal 11: Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara

proporsional.

Stuart Allan dalam Nieman Report (2005:11) menawarkan beberapa point

penting tentang keberadaan media online sehingga media tradisional (cetak

maupun elektronik) bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan globalisasi

informasi, yaitu:

1) Situs berita online akan membantu wartawan untuk mengintegrasikan isi

informasi mereka dengan informasi yang dibuat warga (citizen journalist).

Wartawan yang meliput suatu kejadian bisa menggabungkan fakta yang

didapatnya dengan informasi di blog milik warga.

2) Munculnya internet mobile akan membawa perubahan tentang bagaimana

berita dibuat dan disebarkan. Wartawan bisa melaporkan berita melalui media

online, tidak hanya melalui koran, televisi, maupun radio.

3) Citizen media akan mendorong transparasi yang semakin terbuka dalam

pelaporan berita. Hal ini menyebabkan para wartawan mulai membuat blog

untuk mencari feedback informatif dari audience.

4) Perkembangan media online telah merubah pendidikan jurnalisme, termasuk

yang dilakukan oleh institusi media. Dalam hal ini wartawan bisa memperoleh

12
pendidikan dan pelatihan yang berhubungan dengan perkembangan media

online, misalnya pendidikan broadcast dan pelatihan media online gratis

untuk mendekatkan diri pada audience dengan cara menjadikan audience

mereka sebagai kontributor.

Profesi Wartawan dalam Sudut Pandang Islam

Wartawan dalam sudut pandang islam berkedudukan sebagai seorang dai.

Yakni orang yang melakukan kegiatan dakwah dengan pena yang bisa menjadi

kekuatan Islam untuk meningkatkan pengetahuan dan pengamalan umat tentang

kompleksitas ajaran. Sehingga wartawan sebagai produser pesan dakwah yaitu

orang yang mencari, mengolah dan menulis berita untuk menyebarkan pesan yang

ma’ruf.

Jurnalistik dalam bahasa Arab populer dengan sihafah. Namun ini bukan

berarti istilah jurnalistik dalam Al-Quran hanya berpatokan pada kata sihafah.

Ada banyak kata dalam Al-Quran yang menunjuk pada istilah jurnalistik, salah

satunya yaitu kata-kata yang berkaitan dengan aktifitas jurnalistik seperti al-

sahifah (lembaran), al-kitabah (penulisan), al-jam’u (mengumpulkan), naba’a

(memberitakan), khabara (mengabarkan), nashara (menyebarkan dengan seluas

luasnya) dan yang lainnya.

Terkait dengan pewartaan, ada satu surat dalam Al-Quran yang dinamai

dengan al-Naba’ (berita), sehingga Al-Quran merupakan sebuah berita. Tidak

hanya itu, penafsiran ini kemudian berkonsekuensi menjadikan Al-Quran sebagai

“media pemberitaan” Tuhan kepada hamba-hambaNya, karena di dalamnya

13
mengandung banyak berita. Al-Quran sejak awal diwahyukannya sudah

mencerminkan jurnalisme namun bukan awal dari sejarah jurnalistik. Kegiatan

jurnalistik dimulai bersamaan dengan adanya manusia, karena pada saat itu terjadi

komunikasi antara mereka.

Al-Quran merupakan kitab yang memuat tentang berbagai informasi (QS. Hud

[11]: 1), seperti ketauhidan, hukum, beberapa nasehat, kisah dan yang lainnya.

Sejak awal kenabian dan kerasulannya, Muhammad SAW sudah diperintahkan

untuk menyampaikan berbagai ‘informasi’ tersebut, maka sejak saat itu juga

kegiatan pemberitaan sudah dimulai, meski dengan cara sembunyi-sembunyi dan

sangat terbatas (QS. al-Syu’ara’ [26]: 214). Berita-berita dalam Al-Quran tersebut

disampaikan secara variatif, mulai dari model penyampaian yang santai dan halus

seperti cara orang bercerita (Qasas Al-Quran), mengumpamakan satu hal dengan

hal yang lain (Amthal Al-Quran) hingga model penyampaian yang tegas dan lugas

seperti cara orang berdebat (Jadal Al-Quran) dan pemakaian sumpah (Aqsam Al-

Quran).

Aminuddin Basir dkk. menyatakan bahwa jurnalistik yang beretika itu dapat

ditelusuri melalui dua hal; pesan atau informasi yang dibawa dan kesan yang

ditimbulkan oleh kabar atau informasi yang diberitakan.42 Lebih lanjut ia

menjelaskan bahwa sudah semestinya pesan disampaikan dalam kegiatan

jurnalistik ini adalah nilai luhur yang di dalamnya terkandung unsur-unsur al-bir

(kebajikan) dan taqwa sebagaimana disinggung dalam penggalan surat al-Maidah

[05]: 02,

14
‫ان اإلثْ ِم َعلَى تَعَ َاونُوا َوال َوالت َّ ْق َوى ْالبِ ِر َعلَى َوتَعَ َاونُوا‬
ِ ‫اتقُُ وا َو ْالعُد َْو‬
َّ ‫ّللا َو‬
َّ ‫ّللاَ ِإ َّن‬
َّ ُ ‫شدِيد‬
َ

ِ ‫ْال ِعقَا‬
‫ب‬

“(Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,

dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah

kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya).”

Berdasar pada ayat ini, maka sudah seharusnya informasi yang

disebarluaskan melalui berbagai media berorientasi pada knowledge society yang

dapat mendukung terciptanya kebaikan seperti pengembangan kepribadian

menjadi lebih baik, peningkatan ilmu pengetahuan, persatuan umat dan

sebagainya, bukan malah menjadi profokator menuju kemunduran dan

perpecahan. Oleh karena itu penting bagi wartawan dan pihak lain yang terlibat

dalam kegiatan jurnalistik untuk memperhatikan beberapa hal berikut:

1) Kejujuran. Pemberitaan yang jujur adalah pemberitaan yang mengabarkan apa

adanya, sesuai dengan fakta dan realita tanpa mempengaruhi dan memihak.

Mengenai kejujuran ini Allah berfirman dalam surat al-Hajj [22]: 30,

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa

yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi

Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali

yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-

berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.”

15
2) Tidak menyebarkan kabar yang masih dugaan dan menyebarkan keburukan

serta aib seseorang tanpa suatu manfaat atau kepentingan yang jelas. Firman

Allah surat al-Hujurat [49]: 12,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,

sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu

mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu

menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu

memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa

jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha

Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”

3) Tidak menyiarkan berita fitnah dalam berbagai bentuk. Poin ini berkaitan erat

dengan dua hal sebelumnya, karena fitnah ini berawal dari prasangka

ditambah dengan kebohongan, hingga akhirnya menjadi fitnah. Oleh karena

itu, pemberitaan harus seselektif mungkin dalam menentukan informasi yang

akan disampaikan, jangan sampai hal itu adalah fitnah, karena akan berakibat

fatal, terutama untuk orang yang terkena tuduhan. Firman Allah surat an-Nur

[24]: 19,

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang

amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka

azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang,

kamu tidak mengetahui.”

16
4) Adanya crosschek terhadap sebuah berita. Wartawan harus memastikan

validitas sumber berita yang diperoleh sehingga informasi yang dihasilkan

bisa dipertanggung jawabkan. Al-Quran surat al-Hujurat [49]: 6,

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik

membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak

menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui

keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

17
4. Simpulan dan Saran

4.2.Simpulan

Perkembangan teknologi informasi membuat cara memproduksi berita

berubah secara drastis. Hal ini mensyaratkan kesiagaan wartawan untuk mengikuti

perkembangan jaman. Dengan kata lain, tuntutan seorang wartawan juga berubah.

wartawan dituntut untuk cakap dan terampil dalam menulis, memotret, membuat

berita video, bahkan berinteraksi lebih jauh dengan audience sekaligus dalam satu

waktu peliputan.

Jurnalisme memiliki tujuan untuk melayani kepentingan bersama. Meskipun

cara memproduksi berubah, medium yang digunakan berubah, yang tidak boleh

diabaikan adalah kepentingan bersama. Media online sering dianggap

mengabaikan kepentingan publik dengan menampilkan berita-berita secara cepat

namun minus verifikasi dan akurasi yang pada tahap selanjutnya bisa

menyesatkan opini publik. Wartawan di era globalisasi informasi dan

multiplatform, tentu tidak boleh mengabaikan etika jurnalistik dan prinsip-prinsip

dasar jurnalistik. Dengan demikian, jurnalisme baru benar-benar bisa bermanfaat

bagi kepentingan publik.

18
Salah satu unsur jurnalistik yang ditekankan dalam Al-Quran adalah mengenai

etika jurnalistik dan sopan santun penyiaran, dimana tidak hanya ditujukan bagi

informan saja yang dalam hal ini adalah para wartawan, akan tetapi juga tertuju

pada penerima informasi (audience). Jurnalistik Qurani ini berorientasi pada

tersebarnya kebaikan dan taqwa. Etika jurnalistik yang disinggung dalam Al-

Quran antara lain; kejujuran, informasi yang dibawa harus valid, bukan dugaan

apalagi fitnah, tidak bertujuan untuk menyebarkan keburukan serta aib seseorang

tanpa suatu manfaat atau kepentingan yang jelas dan hendaknya ada crosschek

dan sikap kritis terhadap sebuah berita.

4.3.Saran

Dalam memenuhi tantangan dan tuntutan perkembangan teknologi informasi,

seorang wartawan bisa bekerja secara efisien dengan adanya kolaborasi antara tim

produksi, tim redaksi, dan para audience sekalipun. Al-Quran dalam berbagai hal

ternyata sudah mempraktekkan aktivitas jurnalistik. Sehingga sangat tepat untuk

dijadikan pedoman dalam urusan jurnalisme. Al-Quran bukan sembarang media

pemberitaan, melainkan “media pemberitaan” Tuhan Yang Agung.

19
DAFTAR PUSTAKA

Kurniawan, Moch. “Jurnalisme Warga: Prospek dan Tantangannya”. Sosial


Humoniora. Vol. 11, No. 2, 2006, hlm 71-78.
Adzkia, Aghnia R.S.“Praktik Multimedia dalam Jurnalisme Online di Indonesia”.
Jurnal Komunikasi, Vol. 10, No. 1, Oktober 2015.
Daulay, Hamdan. Kode Etik Jurnalistik Dan Kebebasan Pers Di Indonesia
Ditinjau Dari Perspektif Islam, Makalah. Yogayakarta: UIN Sunan Kalijaga,
2009.
Sauda’, Limmatus. “Etika Jurnalistik Perspektif Al-Qur’an”. Jurnal Dakwah
Dakwah & Komunikasi, Vol. 7, No. 1, Januari-Juni 2013.
Nurudin. 2009. Jurnalisme Masa Kini. PT Raja Grafindo Persada.
Jim Hall. 2001. Online Journalism: A Critical Primer. London: Pluto Press.
UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
Al-Quran surat al-Maidah [05]: 02, Al-Hajj [22]: 30, Al-Hujurat [49]: 12, An-Nur
[24]: 19, Al-Hujurat [49]: 6
Hasanudin Abdurakhman. (2017). Kolom Kang Hasan: Para Wartawan,
Belajarlah!. Diakses di https://news.detik.com/kolom/d-3733985/para-wartawan-
belajarlah pada 8 Desember 2017.

20