Anda di halaman 1dari 4

Nama : Femilia Saraswati (11150461)

Hendro Irawan (11150474)***


Maria Yovita Meghan Rosalyn (11150501)

STUDI KASUS I
Implikasi Perilaku dari Pilihan Akuntansi Depresiasi Perusahaan Penerbangan

ANALISIS MASALAH
Untuk menentukan apakah perusahaan penerbangan cendrung menggunakan kebijakan
konservatif atau kebijakan liberal dalam pemilihan kebijakan akuntansi, salah satu area yang
dapat ditinjau adalah area akuntansi asset tetap (property, plant and equipment- PP&E). Aset
tetap umumnya mencakup lebih dari 50% dari total asset suatu perusahaan penerbangan.
Menariknya, kebijakan akuntansi asset tetap perusahaan penerbangan sangat bervariasi.

IDENTIFIKASI MASALAH
 Pemilihan kebijakan konservatif dan kebijakan liberal yang sangat bervariatif yang
dilakukan oleh manajer dari beberapa perusahaan penerbangan.

DATA DARI MASALAH


No. NAMA MASKAPAI METODE MASA MANFAAT NILAI
DEPRESIASI RESIDUAL
1. DELTA AIRLINES GARIS LURUS 20 TAHUN 5% DARI
BIAYA
PEROLEHAN
2. AMR CORPORATION GARIS LURUS 25 TAHUN (35 10% DARI
TAHUN UNTUK BIAYA
BOEING 777S) PEROLEHAN
3. SINGAPORE AIRLINES GARIS LURUS 15 TAHUN 10% DARI
BIAYA
PEROLEHAN
4. LUFTHANSA GARIS LURUS 12 TAHUN 15% DARI
BIAYA
PEROLEHAN

SOLUSI YANG DIPERLUKAN


Kebijakan akuntansi terdiri dari 2 macam yaitu kebijakan yang relative konservatif dan
kebijakan yang relative liberal. Di buku telah dijelaskan bahwa kebijakan konservatif
menyebabkan tertundanya pengakuan laba namun mempercepat pengakuan beban atau kerugian
tertentu. Kebijakan ini berkaitan dengan laba akuntansi karena laba akuntansi diturunkan dari
aturan pengukuran yang sering kali memiliki bias konservatif. Sebaliknya dengan kebijakan
liberal, pengakuan laba lebih diutamakan dibandingkan pengakuan beban atau kerugian.
Dari data keempat maskapai, dijelaskan bahwa perkiraan masa pemanfaat seluruh
maskapai penerbangan menggunakan metode garis lurus. Yang membedakannya yaitu dari masa
pemanfaat dan nilai residualnya.
Penetapan masa manfaat yang lebih panjang akan membuat alokasi beban depresiasi tiap
tahunnya menjadi lebih kecil, hal ini disebabkan jumlah bilangan pembagi –yaitu tahun- yang
lebih besar dan sebaliknya. Sehingga untuk penetapan masa manfaat ini dapat disimpulkan
bahwa masa manfaat lebih panjang maka kebijakan perusahaan tersebut menggunakan kebijakan
relative liberal karena perusahaan tersebut lebih mengutamakan pengakuan laba dibandingkan
pengakuan beban atau kerugian. Sebaliknya penetapan masa manfaat lebih pendek maka
perusahaan tersebut menggunakan kebijakan relative konservatif yang berarti perusahaan
tersebut lebih mengutamakan pengakuan beban daripada pengakuan laba. Begitu pula dengan
nilai residual pengaruhnya hampir sama dengan penetapan masa manfaat diatas.
Jadi, secara otomatis, semua perusahaan penerbangan tersebut akan menerapkan laba
akuntansi karena semua perusahaan penerbangan tersebut menggunakan metode garis lurus
dalam memperkirakan masa manfaatnya, terlepas dari kebijakan akuntansi depresiasi apa yang
perusahaan tersebut gunakan.. Karena laba akuntansi sangat tergantung dengan pilihan metode
pengukuran. Metode garis lurus sering kali membutuhkan penilaian seperti dalam contoh ini,
mengenai jangka waktu penyusutan asset. Lama umur biaya beberapa tahun akan berpengaruh
dalam pencatatan laba akuntansi selama tahun tersebut. Sehingga, perusahaan harus
memperhitungkan dengan cermat dan teliti agar mendapatkan keuntungan yang maksimal karena
bila kita baca dibuku, laba akuntansi memiliki kekurangan yang lebih banyak dibandingkan
dengan keunggulannya.

STUDI KASUS II
BERKSHIRE INDUSTRIES PLC

ANALISIS MASALAH
Ketika harapan para anggota dewan direksi dan manajer Berkshire tinggi setelah
dikenalkannya sistem laba ekonomis yang baru pada tahun 2000, pengalaman-pengalaman awal
dengan sistem baru tersebut mengecewakan. Sistem baru tersebut telah menyebabkan beberapa
masalah dan kekhawatiran. Tim dewan direksi dan manajemen puncak sedang
mempertimbangkan apakah sistem tersebut perlu diperbaiki. Beberapa orang bahkan
mempertanyakan apakah sistem tersebut harus dilanjutkan.

IDENTIFIKASI MASALAH
1. Implementasi dari proposal CLA memiliki berbagai masalah terhadap kinerja perusahaan

SOLUSI YANG DIPERLUKAN


Perusahaan telah membuat sistem laba ekonomis yang baru untuk mengganti sistem laba
ekonomis yang lama. Sistem yang baru tersebut yaitu :
1. Beban iklan pelanggan harus dikapitalisasi dan diamortisasi secara garis lurus selama 3
tahun. Beban tahun berjalan ditambahkan kembali dengan laba operasi dan jumlah yang
dikapitalisasi ditambahkan ke asset operasional bersih.
2. Goodwil yang muncul dari akuisisi perusahaan tidak diamortisasi.
3. Merekomendasikan untuk tidak menggunakan insentif berbasis saham.
Implementasi dari sistem baaru yang digunkan ini mengalami berbagai masalah yaitu:
1. Manajer yang mengalami kebingungan terhadap sistem laba ekonomis yang baru
2. Keengganan dan hambatan motivasi dari Divisi Spirit
3. Luasnya persepsi akan kegagalan dasar dari ukuran laba profit itu sendiri.
Masalah-masalah yang dialami oleh perusahaan terhadap sistem baru yang
diimplementasikan ini menyebabkan para pemegang saham merasa tidak diuntungkan. Maka,
perusahaan harus bisa mengatasi masalah-masalah yang terjadi ini yang diakibatkan dari sistem
baru yang telah dibuat.
Perusahaan bisa menerapkan ukuran investasi baru yaitu ROI. Penerapan ROI ini akan
memperhitungkan setiap investasi yang dilakukan oleh masing-masing divisi. Berkshire dapat
membandingkan ROI dengan biaya modal tiap divisi. Para manajer juga dapat mengendalikan
keberhasilan mereka sendiri dan cenderung akan termotivasi serta bisa membuat keputusan yang
lebih tepat.
Perusahaan juga bisa menerapkan rencana opsi saham sebagai pilihan dalam
menyelesaikan masalahnya. Telah dijelaskan di bab 9 bahwa rencana opsi saham memberikan
karyawan hak untuk membeli sejumlah saham perusahaan pada harga yang diterapkan selama
periode waktu tertentu. Rencana opsi saham ini akan memotivasi karyawan untuk bekerja lebih
ekstra lagi supaya nilai saham perusahaan bisa naik sehingga para pemegang saham tidak merasa
dirugikan lagi.
Tetapi, dengan adanya penerapan dari 2 cara tersebut, pasti mengalami kelemahan dari
tiap cara. Dengan penggunaan ROI, pasti akan terjadi suboptimasi, myopia serta sinyal kinerja
yang menyesatkan. Suboptimasi masih bisa diatasi dengan tinjauan tentang penganggaran modal
dan perencanaan strategis. Hal ini dilakukan supaya tidak terjadi penilaian siapa yang terbaik
antar divisi. Myopia juga masih bisa diatasi dengan focus jangka panjang terhadap rencana opsi
saham. Sedangkan sinyal kinerja yang menyesatkan bisa diatasi dengan pengukuran variable
investasi untuk ROI. Pengukuran ini dilakukan untuk mengurangi sinyal yang menyesatkan.
Variabel keuntungan juga harus mencakup biaya seperti biaya iklan supaya tidak terjadi game-
playing.
Masalah yang dihadapi dengan rencana opsi saham yaitu tidak efektif untuk memotivasi
manajer divisi. Memang rencana opsi saham tidak efektif untuk manajer divisi. Namun, rencana
opsi saham sangat efektif terhadap manajer senior. Dengan manajer senior membuat kebijakan
insentif yang diterapkan untuk para manajer divisi, maka para manajer divisi akan termotivasi
kembali untuk bekerja lebih keras lagi.