Anda di halaman 1dari 15

PENYULUHAN DENGAN KASUS BATU GINJAL DI RUANG KASUARI

RS BHAYANGKARA TINGKAT III KOTARAJA JAYAPURA

Nama : Bangkit Fandana S.Kep

NIM :A032817001

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) JAYAPURA
2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN
(SAP)

Topik : Batu Ginjal


Sasaran : Keluarga & pasien Tn. H
Tempat : Ruang Kasuari 3

Hari/ Tanggal : Selasa, 16 Januari 2017

Waktu : 25 Menit
Penyuluh : Mahasiswa

I. Latar Belakang

Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal


sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada
kandung kemih mummi. Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang
saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal, pielum, ureter, buli-buli dan uretra.
Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian
bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena adanya
stasis urine seperti pada batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra
yang terbentu di dalam divertikel uretra.
Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan
di negara berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara
maju lebih banyak dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter),
perbedaan ini dipengaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka
prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 1-12 % penduduk menderita batu
saluran kemih.
Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan
gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan
keadaan-keadaan lainyang masih belum terungkap (idiopatik).
II. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan keluarga & pasien dapat
mengerti dan memahami tentang batu ginjal.

III. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan keluarga & pasien mampu :
 Mengerti tentang urinary calculi (Batu Ginjal)
 Mengerti tentang etiologi dari Urinary calculi (Batu Ginjal)
 Mengerti tentang manifestasi klinis dari Urinary calculi (Batu Ginjal)
 Mengerti tentang patofisiologi Urinary calculi (Batu Ginjal)
 Menjelaskan kembali apa yang telah disampaikan oleh pemateri tentang
batu ginjal.

IV. Sasaran
Sasaran dari penyuluhan ini adalah keluarga & pasien yang berada di ruang
Kasuari.

V. Materi
Terlampir
VI. Metode
a) Ceramah
b) Tanya Jawab

VII.Media
Leaflet
VIII. Kegiatan Penyuluhan

NO WAKTU KEGIATAN PENYULUHAN KEGIATAN PESERTA


1. 5 menit Pembukaan :
1. - Mengucapkan salam. · Menjawab salam
2. - Memperkenalkan nama dan· Mendengarkan
akademi · Memperhatikan
3. - Menjelaskan tujuan dari Memperhatikan
penyuluhan Memperhatikan
4. - Menyebutkan materi yang
diberikan.
5. - Menanyakan kesiapan peserta
2. 15 menit Pelaksanaan :
1. Penyampaian materi · Mendengarkan
 Menjelaskan tentang Urinary
calculi (Batu Ginjal)
 Menjelaskan tentang etiologi
dari Urinary calculi (Batu
Ginjal)
 Menjelaskan tentang
manifestasi klinis dari Urinary ·
calculi (Batu Ginjal)
 Menjelaskan tentang
patofisiologi Urinary calculi
(Batu Ginjal)
 Menjelaskan tentang
komplikasi dari Urinary calculi Bertanya dan menjawab
(Batu Ginjal) pertanyaan yang diajukan

2. Tanya jawab
Memberikan kesempatan kepada
peserta untuk bertanya
3. 5 menit Evaluasi:
Menanyakan kepada peserta tentang· Menjawab pertanyaan
materi yang telah diberikan, dan·
reinforcement kepada peserta yang
dapat menjawab pertanyaan
IX. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi struktur
- Keluarga & pasien ikut dalam kegiatan penyuluhan.
- Penyelenggaraan penyuluhan yang dilakukan aula ruang Kasuari 3.
2. Evaluasi proses
 Keluarga & pasien antusias terhadap materi penyuluhan.
 Keluarga & pasien tidak meninggalkan tempat sebelum kegiatan selesai.
 Keluarga & pasien terlibat aktif dalam kegiatan penyuluhan
3. Evaluasi hasil
Keluarga & pasien dapat menjelaskan kembali dengan bahasa
sederhana tentang apa pengertian batu ginjal dan faktor-faktor
penyebabnya.
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI

Batu ginjal merupakan batu saluran kemih bagian atas (urolithiasis). Batu
ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks,
infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks
ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi (Purnomo,
2000, hal. 68-69).
Batu ginjal atau kalkulus renal ( Nefrolitiasis) dapat terbentuk dimana
saja di dalam traktus urinarius kendati paling sering ditemukan pada piala ginjal
(pelvis renis) atau kalises. Batu ginjal memiliki ukuran yang beragam dan bisa
soliter atau multiple.
Batu Ginjal merupakan keadaan tidak normal dalam ginjal, yang
mengandung komponen kristal dan matriks organik.(Suyono, 2001)
Batu ginjal sering terjadi pada laki-laki dibandingkan pada wanita dan
jarang ditemukan pada anak-anak. Batu kalsium umumnya terdapat pada laki-
laki usia pertengahan dengan riwayat pembentukan batu didalam keluarga.
Batu ginjal jarang terjadi pada masyarakat kulit hitam di amerika.
Keadaan ini pravalen dikawasan dikawasan geografik tertentu seperti amerika
sebelah tenggara (yang dinamakan “stone belt”), dan keadaan ini mungkin
disebabkan oleh hawa panas yang meningkatkan dehidrasi serta memekatkan
substansi yang membentuk batu atau terjadi karena kebiasaan pada makanan
pada masyarakat setempat (Kowalak. 2002)
B. ETIOLOGI

Dalam banyak hal penyebab terjadinya batu ginjal secara pasti belum dapat
diketahui. Pada banyak kasus ditemukan kemungkinan karena adanya
hiperparatirodisme yang dapat meyebabkan terjadinya hiperkalsiuria. Kadang–
kadang dapat pula disebabkan oleh infeksi bakteri yang menguraikan ureum
(seperti proteus, beberapa pseudoenonas, staphylococcosa albus dan beberapa jenis
coli) yang mengakibatkan pembentukan batu.
Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan
gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan
keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah
terjadinya batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor
ekstrinsik.
Faktor intrinsik, meliputi:
a. Herediter; diduga dapat diturunkan dari generasi ke generasi.
b. Umur; paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun.
c. Jenis kelamin; jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien
wanita.

Faktor ekstrinsik, meliputi:


a. Geografi; pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang lebih
tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk
batu).
b. Iklim dan temperatur.
c. Asupan air; kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium dapat
meningkatkan insiden batu saluran kemih.
d. Diet; diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu
saluran kemih.
e. Pekerjaan; penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak
duduk atau kurang aktivitas fisik (sedentary life).
Teori Terbentuknya Batu Saluran Kemih
Beberapa teori terbentuknya batu saluran kemih adalah:
Teori nukleasi: Batu terbentuk di dalam urine karena adanya inti batu atau
sabuk batu (nukleus). Partikel-partikel yang berada dalam larutan kelewat jenuh
akan mengendap di dalam nukleus itu sehingga akhirnya membentuk batu. Inti
bantu dapat berupa kristal atau benda asing saluran kemih.
Teori matriks: Matriks organik terdiri atas serum/protein urine (albumin,
globulin dan mukoprotein) sebagai kerangka tempat mengendapnya kristal-
kristal batu.
Penghambat kristalisasi: Urine orang normal mengandung zat
penghambat pembentuk kristal yakni magnesium, sitrat, pirofosfat, mukoprotein
dan beberapa peptida. Jika kadar salah satu atau beberapa zat ini berkurang akan
memudahkan terbentuknya batu dalam saluran kemih.
Komposisi Batu
Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur: kalsium oksalat,
kalsium fosfat, asam urat, magnesium-amonium-fosfat (MAP), xanthyn dan
sistin. Pengetahuan tentang komposisi batu yang ditemukan penting dalam usaha
pencegahan kemungkinan timbulnya batu residif.
Batu Kalsium
Batu kalsium (kalsium oksalat dan atau kalsium fosfat) paling banyak ditemukan
yaitu sekitar 75-80% dari seluh batu saluran kemih. Faktor tejadinya batu
kalsium adalah:
Hiperkasiuria: Kadar kasium urine lebih dari 250-300 mg/24 jam, dapat terjadi
karena peningkatan absorbsi kalsium pada usus (hiperkalsiuria absorbtif),
gangguan kemampuan reabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal (hiperkalsiuria
renal) dan adanya peningkatan resorpsi tulang (hiperkalsiuria resoptif) seperti
pada hiperparatiridisme primer atau tumor paratiroid.
Hiperoksaluria: Ekskresi oksalat urien melebihi 45 gram/24 jam, banyak
dijumpai pada pasien pasca pembedahan usus dan kadar konsumsi makanan kaya
oksalat seperti the, kopi instan, soft drink, kakao, arbei, jeruk sitrun dan sayuran
hijau terutama bayam.
Hiperurikosuria: Kadar asam urat urine melebihi 850 mg/24 jam. Asam urat
dalam urine dapat bertindak sebagai inti batu yang mempermudah terbentuknya
batu kalsium oksalat. Asam urat dalam urine dapat bersumber dari konsumsi
makanan kaya purin atau berasal dari metabolisme endogen.
Hipositraturia: Dalam urine, sitrat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium
sitrat sehingga menghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau fosfat. Keadaan
hipositraturia dapat terjadi pada penyakit asidosis tubuli ginjal, sindrom
malabsorbsi atau pemakaian diuretik golongan thiazide dalam jangka waktu
lama.
Hipomagnesiuria: Seperti halnya dengan sitrat, magnesium bertindak sebagai
penghambat timbulnya batu kalsium karena dalam urine magnesium akan
bereaksi dengan oksalat menjadi magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan
dengan kalsium ddengan oksalat.
Batu Struvit
Batu struvit disebut juga batu sebagai batu infeksi karena terbentuknya batu ini
dipicu oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah
golongan pemecah urea (uera splitter seperti: Proteus spp., Klebsiella, Serratia,
Enterobakter, Pseudomonas dan Stafilokokus) yang dapat menghasilkan enzim
urease dan mengubah urine menjadi basa melalui hidrolisis urea menjadi
amoniak. Suasana basa ini memudahkan garam-garam magnesium, amonium,
fosfat dan karbonat membentuk batu magnesium amonium fosfat (MAP) dan
karbonat apatit.
Batu Urat
Batu asam urat meliputi 5-10% dari seluruh batu saluran kemih, banyak dialami
oleh penderita gout, penyakit mieloproliferatif, pasein dengan obat sitostatika dan
urikosurik (sulfinpirazone, thiazide dan salisilat). Kegemukan, alkoholik dan diet
tinggi protein mempunyai peluang besar untuk mengalami penyakit ini. Faktor
yang mempengaruhi terbentuknya batu asam urat adalah: urine terlalu asam (pH
< 6, volume urine < 2 liter/hari atau dehidrasi dan hiperurikosuria.

C. MANIFESTASI KLINIS
a. Nyeri pinggang
b. Retensi urine menurun
c. Jika terjadi infeksi bisa terjadi demam / menggigil.
d. Nausea dan vomiting
e. Hematuria kalau batu tersebut menimbulkan abrasi ureter
f. Distensi abdoment
g. Anuria akibat obstruksi bilateral atau obstruksi pada ginjal yang tinggal satu-
satunya dimilki oleh pasien (Kowalak. 2002)

Menurut Smeltzer (2000) menjelaskan Keluhan yang disampaikan pasien


tergantung pada letak batu, besar batu dan penyulit yang telah terjadi. Pada
pemeriksaan fisik mungkin didapatkan nyeri ketok di daerah kosto-vertebra, teraba
ginjal pada sisi yang sakit akibat hidronefrosis, ditemukan tanda-tanda gagal
ginjal, retensi urine dan jika disertai infeksi didaptkan demam/menggigil.
Beberapa gambaran klinis nefrolitiasis :
Batu, terutama yang kecil (ureter), bisa tidak menimbulkan gejala. Batu di
dalam kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Batu yang
menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri
punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat). Kolik renalis ditandai
dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara tulang rusuk dan
tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah
dalam.
Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam,
menggigil dan darah di dalam air kemih. Penderita mungkin menjadi sering
berkemih, terutama ketika batu melewati ureter.
Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran
kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas
penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung lama,
air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan
yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa
terjadi kerusakan ginjal. (Corwin, 2001)

D. KOMPLIKASI BATU GINJAL


a. Nekrosis tekanan
b. Obstruksi oleh batu
c. Hidronefrosis
d. Perdarahan
e. Rasa nyeri
f. Infeksi (Kowalak. 2002)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG BATU GINJAL


a. Pemeriksaan faal ginjal
b. Foto IVU
c. Pemeriksaan sedimen urine
d. Foto rontgen BNO untuk memperlihatkan sebagian besar batu ginjal
e. Urografi ekskretori untuk membantu memastikan diagnosis dan menentukan
ukuran serta lokasi batu
f. Pemeriksaan USG ginjal untuk mendeteksi perubahan obatruksi, seperti
hidronefrosis unilateral atau bilateral dan melihat batu radiorusen yang tidak
tampak pada foto (Kowalak. 2002)
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin meliputi:
a. Sedimen urin / tes dipstik untuk mengetahui sel eritrosit, lekosit, bakteri
(nitrit), dan pH urin.
b. Kreatinin serum untuk mengetahui fungsi ginjal.
c. C-reactive protein, hitung leukosit sel B, dan kultur urin biasanya
dilakukan pada keadaan demam.
d. Natrium dan kalium darah dilakukan pada keadaan muntah.
e. Kadar kalsium dan asam urat darah dilakukan untuk mencari faktor risiko
metabolik.
F. PENATALAKSANAAN BATU GINJAL

Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih harus segera
dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Indikasi untuk
melakukan tindakan pada batu saluran kemih adalah telah terjadinya obstruksi,
infeksi atau indikasi sosial. Batu dapat dikeluarkan melalui prosedur
medikamentosa, dipecahkan dengan ESWL, melalui tindakan endo-urologi,
bedah laparoskopi atau pembedahan terbuka.
a. ESWL/ Lithotripsi
Adalah prosedur non-invasif yang digunakan untuk menghancurkan batu di
khalik ginjal. Setelah batu tersebut pecah menjadi bagian yang kecil seperti
pasir sisa-sisa batu tersebut dikeluarkan secara spontan.

Metode Endourologi Pengangkatan Batu Ini merupakan gabungan antara


radiology dan urologi untuk mengangkat batu renal tanpa pembedahan mayor.
Nefrostomi Perkutan adalah pemasangan sebuah selang melalui kulit ke dalam
pelvis ginjal. Tindakan ini dilakukan untuk drainase eksternal urin dari kateter
yang tersumbat, menghancurkan batu ginjal, melebarkan striktur.
Ureteruskopi mencakup visualisasi dan akses ureter denganv memasukkan suatu
alat Ureteroskop melalui sistoskop. Batu dapat dihancurkan dengan
menggunakan laser, lithotripsy elektrohidraulik, atau ultrasound lalu diangkat.
Larutan Batu. Nefrostomi Perkutanv dilakukan, dan cairan pengirigasi yang
hangat dialirkan secara terus-menerus ke batu. Cairan pengirigasi memasuki
duktus kolekdiktus ginjal melalui ureter atau selang nefrostomi.
Pengangkatan Bedah
Nefrolitotomi. Insisi pada ginjal untuk mengangkat batu. Dilakukan jika batu
terletak di dalam ginjal.
Pielolitotomi. Dilakukan jika batu terletak di dalam piala ginjal.
b. Medikamentosa

Tindakan-tindakan khusus pada berbagai jenis batu yang berbentuk meliputi :


Batu Kalsium : Paratirodektomi untuk hiperparatiroidisme, menghilangkan
susu dan keju dari diit, kalium fosfat asam ( 3 – 6 gram tiap hari) mengurangi
kandungan kalsium di dalam urine, suatu dueretik ( misalnya 50 mg
hidroklorotiazid 2 kali sehari) atau sari buah cranberry ( 200ml, 4 kali sehari )
mengasamkan urin dan membuat kalsium lebih mudah larut dalam urin.
Batu Oksalat diet rendah oksalat dan rendah kalsium fosfat ( 3 – 5 gram
kalium fosfat asam setiap hari), piridoksin ( 100 mg, 3 kali sehari).
Batu metabolic : sistin dan asam urat mengendap di dalam urin asam (pH urine
harus dianikan menjadi lebih besar dari 7,5 dengan memberikan 4 – 8 ml asam
nitrat 50%, 4 kali sehari) dan menyuruh pasien untuk diet mineral basa, batasi
purin dalam dit penderita batu asam urat ( berikan pulka 300mg alopurinal (
zyloprin ) sekali atau dua kali sehari). Pada penderita sistinura, diet rendah
metionin dan penisilamin ( 4 gram tiap hari ).
Penatalaksanaan yang harus dilakukan pada pasien dengan post praise batu ginjal
menurut Barbara C Long, 1985 meliputi : penempatan pasien dalam ruang
dengan ventilasi yang cukup, perhatikan terhadap urine out put, pencegahan
terhadap distensi dan pendarahan dan perhatian terhadap lokasi pemasangan
drainase dan perawatannya.
G. PENCEGAHAN BATU GINJAL

Setelah batu dikelurkan, tindak lanjut yang tidak kalah pentingnya adalah upaya
mencegah timbulnya kekambuhan. Angka kekambuhan batu saluran kemih rata-
rata 7%/tahun atau kambuh >50% dalam 10 tahun.
Prinsip pencegahan didasarkan pada kandungan unsur penyusun batu yang telah
diangkat. Secara umum, tindakan pencegahan yang perlu dilakukan adalah:
a. Menghindari dehidrasi dengan minum cukup, upayakan produksi urine 2-3
liter per hari
b. Diet rendah zat/komponen pembentuk batu
c. Aktivitas harian yang cukup
d. Medikamentosa

Beberapa diet yang dianjurkan untuk untuk mengurangi kekambuhan adalah:


a. Rendah protein, karena protein akan memacu ekskresi kalsium urine dan
menyebabkan suasana urine menjadi lebih asam.
b. Rendah oksalat.
c. Rendah garam karena natiuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuria.
d. Rendah purin.
e. Diet ini diberikan pada pasien yang menderita penyakit ginjal asam urat dan
gout.
f. Rendah kalsium tidak dianjurkan kecuali pada hiperkalsiuria absorbtif type
II
DAFTAR PUSTAKA

Kowalak-welsh-Mayer. 2002. Buku ajar patofisiologi. Jakarta : EGC.

B Basuki. 2008. Dasar-dasar urologi. Malang: Sagung seto

Price, Sylvia A. (2006). Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Smeltzer & Bare. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah.

Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4,

EGC, Jakarta

Purnomo, BB ( 2000), Dasar-dasar Urologi, Sagung Seto, Jakarta

Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jld.II, BP FKUI, Jakarta.