Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
Selulitis merupakan inflamasi akut yang melibatkan kulit dan jaringan lunak di
bawahnya, termasuk jaringan subkutan, dermis, dan jaringan ikat 1(tidak termasuk otot) sebagai
akibat dari infeksi bakteri. Terdapat beberapa gejala yang menandai adanya selulitis, gejala yang
paling dominan adalah eritema, pembengkakkan dan perabaan hangat pada daerah local, gejala
sistemik lain mungkin saja menyertai 2. Selulitis biasanya didahului oleh karena adanya kuman
atau bakteri yang masuk melalui kulit yang mengalami disintegrasi, misalnya luka. Selulitis dan
erysipelas merupakan dua istilah yang sebenarnya berbeda namun memiliki hubungan. Beberapa
orang menganggap selulitis dan erisipelas adalah sama, namun sebenarnya erisipelas berbeda.
merupakan infeksi superficial dermis dan jaringan subkutan bagian atas. Infeksi yang terjadi
pada erysipelas lebih superficial dibandingkan dengan selulitis.
Anak kecil penderita selulitis yang memerlukan terapi antibiotik intravena sebaiknya
menjalani rawat inap. Beberapa hal lain yang ikut dipertimbangkan dalam memutuskan anak
agar menjalani rawat inap di antaranya adalah tingkat kecemasan orangtua dan keparahan infeksi
akut yang diderita anak. Namun, jika dibandingkan dengan rawat inap, anak yang menjalani
rawat jalan tentunya akan lebih baik secara fisik dan psikologinya, dan juga tentunya akan
memiliki resiko lebih rendah tertular penyakit nosokomial di rumah sakit.3

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Epidemiologi
Pada tahun 2003 dan 2004, selulitis dapat menyumbang sekitar 49.500 kasus di rumah sakit
Inggris. Tiap tahunnya, terdapat sekitar 30 kasus selulitis dan abses per 2000 orang. Berdasarkan
data yang diperoleh pada tahun 2005 di US, selulitis berada dalam urutan no 27 diagnosis
tersering di rumah sakit di netherland. Pada tahun 2001, sekitar 28000 pasien selulitis menderita
selulitis pada kaki, dan 2200 di antaranya menjalani rawat inap. Tidak terdapat perbedaan yang
bermakna mengenai presentasi selulitis pada perempuan dan pada laki-laki. Beberapa studi
menunjukkan bahwa selulitis lebih sering menyerang orang dewasa yang berumur lebih dari 45
tahun dibandingkan dengan anak-anak4
Selulitis fasial biasanya terjadi pada orang dewasa di atas usia 50 tahun atau pada bayi
dan anak di usia 6 bulan- 3 tahun. Selulitis perianal lebih sering menyerang anak-anak
dibandingkan orang dewasa, dan lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan pada
perempuan. Tidak ditemukan hubungan terkait gender pada selulitis jenis lain. Orang-orang yang
belum divaksinasi Haemophilus influenza dan tetanus lebih beresiko terkena infeksi. Selain itu
kejadian selulits juga dapat meningkat pada populasi yang terlalu ramai, pekerja sawah, ladang
dan nelayan.5
Faktor resiko

Terdapat beberapa faktor resiko yang dapat mencetuskan terjadinya selulitis, beberapa di
antaranya adalah sebagai berikut.1,5

 Diabetes
 Riwayat selulitis sebelumnya
 Lymphedema/ edema kronik
 Gigitan serangga
 Trauma kulit atau ulser
 Blistering disorders – pemphigoid bulosa, impetigo bulosa
 Gigitan binatang
 Ruam kulit – venous stasis eczema
 Tinea pedis

3
 Kulit kering
 kehamilan
 Obesitas
 Luka akibat pembedahan
 Luka bakar
 Riwayat pembedahan dalam jangka waktu dekat
 Immunodefisiensi (kanker, penyakit hati dan ginjal, penyakit pembuluh darah perifer,
HIV)
 Obat yang bersifat immunosuppresif
 Penyalahgunaan obat intravena
 Pengguna alcohol
 Penggunaan steroid jangka panjang

Etiologi

Bakteri yang paling sering menyebabkan selulitis adalah Streptococcus pyogenes dan
Staphilococcus aureus. Streptococcus pneumonia, streptococcus grup B, G atau C, dan E. coli
juga dapat menjadi penyebabnya. Pada pasien dengan diabetes mellitus dan imunokompromise,
maka beragam jenis bakteri dan bahkan jamur dapat menjadi penyebabnya, beberapa contohnya
adalah Pseudomonas aeruginosa, Aeromonas hydrophila, Enterobacteriaceae, Legionella spp.,
Mucorales, Rhizopus spp., Mucor spp., Absidia spp., dan Cryptococcus neoformans. Anak-anak
dengan sindrom nefrotik dapat terkena selulitis karena Escherichia coli. Pada anak dengan usia 3
bulan hingga 3-5 tahun Haemophilus influenzae tipe b seringkali menjadi penyebab selulitis

fasial, namun oleh karena adanya imunisasi, prevalensinya sudah mulai menurun.6

Pada pasien dengan riwayat trauma, seringkali ditemukan Streptococcus β hemotlitikus


grup A sebagai penyebab selulitis atau erysipelas, selain itu juga ditemukan staphylococcus.7

Patogenesis

4
Bakteri masuk ke dalam tubuh melewati banyak cara, misalnya melalui luka di kulit, luka
bakar, gigitan serangga, insisi bedan, kateter intravena, dll. Selulitis yang disebabkan oleh S.
aureus biasanya memulai penyebaran dari suatu fokus infeksi sentral dan kemudian menyebar
melalui fokus infeksi tersebut. Fokus infeksi dapat berasal dari benda asing (korpus alineum),
seperti misalnya alat prostesa, kateter intravena, dll. Pola penyebaran infeksi oleh S. pyogenes
berbeda dengan S. aureus. Pada S. pyogenes, penyebarannya sangat cepat dan bersifat difus dan
seringkali dihubungkan dengan demam dan limfangitis. Streptococcus grup A, C, atau G
seringkali menyebabkan selulitis rekuren pada ekstremitas bawah. Staphylococcal dan
Streptococcal juga merupakan penyebab tersering infeksi pada pengguna narkoba.

Tiap bakteri menunjukkan kecenderungan dan pola yang berbeda-beda. Haemophilus


influenza merupakan bakteri tersering yang bertanggung jawab atas kejadian selulitis fasial pada
anak kecil, namun kejadian ini sekarang mulai menurun akibat mulai adanya vaksinasi. Selulitis
yang disebabkan oleh karena gigitan binatang (terutama kucing) seringkali disebabkan oleh
Pasteurella multocida. Sementara itu, selulitis akibat Aeromonas hydrophila biasanya terjadi
akibat luka yang dihubungkan dengan kontaminasi kuman pada air tawar. Pseudomonas
aeruginosa merupakan bakteri terbanyak yang bertanggung jawab atas kejadian hot tub
folliculitis, ecthyma gangrenosum pada pasien dengan neutropenia, dan juga merupakan
penyebab infeksi tersering pada luka akibat tusukan paku. Bakteri gram negatif merupakan
bakteri umum yang menyerang pasien dengan immunocompromise dan seringkali resisten
terhadap pengobatan sehingga diperlukan kultur dan uji sensitivitas.5

Derajat selulitis

Selulitis dapat diklasifikasikan menjadi beberapa derajat menurut klasifikasi eron tahun 2000.
Berikut pembagian derajat selulitis.5, 12

 Kelas 1
Pada pasien tidak terdapat gejala toksisitas sistemik, tidak memiliki faktor penyulit,
biasanya dapat ditangani dengan antibiotik oral dan dapat dilakukan rawat jalan.
 Kelas 2
Terdapat gejala sistemik atau tidak terdapat gejala toksisitas sistemik namun terdapat
penyulit seperti penyakit vascular perifer, insufisiensi vena kronis, atau obesitas berat.

5
 Kelas 3
Pasien mengalai toksisitas sistemik berat, seperti misalnya konfusi akut, takikardi,
takipneu, atau memiliki penyulit yang tidak stabil yang dapat mengganggu respon terapi,
atau memiliki infeksi yang mengancam tungkai (limb-treatening infection) karena
gangguan vascular.
 Kelas 4
Pasien mengalami sepsis atau infeksi yang mengancam jiwa, seperti misalnya fasitis
nekrotikan.

Gambar 2.1 Selulitis ringan dengan eritema yang membentuk pola halus. Lesi jenis ini hanya
mengakibatkan nyeri minimal dan rasa hangat minimal5

Gambar 2.2
Selulitis berat pada kaki. Nyeri berat dan perabaan hangat. Terdapat juga eritema yang nyata5

6
Penampakan klinis :

Selulitis biasanya akan menampakkan gambaran area yang kemerahan dengan batas yang
jelas (eritema) disertai dengan adanya pembengkakkan,lunak, dan teraba hangat. Gambaran ini
sudah cukup mendukung untuk mengarahkan kita ke diagnosis selulitis. Jika tidak terdapat
perabaan yang hangat atau tidak terdapat peningkatan suhu pada daerah lokal yang
membengkak, maka mungkin dapat dipikirkan diagnosis yang lain. Pada beberapa kasus dapat
muncul bula atau pendarahan superficial, bahkan nekrosis. Dapat pula terjadi pembesaran
limfonodi setempat. Bagian yang paling sering terkena adalah kaki, dan pada kebanyakan kasus
bersifat unilateral. Selulitis bilateral sangat jarang ditemui.

Anamnesis

Pada anamnesis harus benar-benar digali mengenai riwayat penyakit pasien. Selain itu,
pada anamnesis juga harus dicari faktor resiko dan penyulit yang mungkin ada pada pasien.
Onset gejala dan dari mana awal mula gejala juga perlu ditanyakan. Riwayat trauma, bahkan
trauma minor, dapat membantu menentukan jenis antibiotik yang akan diberikan dan dapat pula
membantu menentukan faktor resiko pada pasien. Luka dan goresan yang didapatkan pada saat
berada di danau, sungai, kolam, ataupun laut mungkin saja telah terkontaminasi dengan bakteri.
Infeksi bakteri dari air dapat dipikirkan bila pasien tidak merespon terhadap antibiotik
konvensional.

Gejala sistemik mungkin saja menyertai kelainan pada kulit. Gejala sistemik yang dapat
ditemukan berupa demam, malaise, mual muntah, menggigil ataupun kekakuan. Adanya
takikardi disertai dengan peningkatan laju pernapasan dapat menandakan adanya sepsis dan
membutuhkan pengawasan yang tepat. Pada infeksi yang berat bahkan dapat ditandai oleh
limfangitis. Penampakan limfangitis dapat berupa garis merah yang mengarah dari area selulitis
ke area drainase limfonodi terdekat dari area selulitis tersebut (misalnya limfonodi di inguinal).
Progresifitas penyakit juga penting ditanyakan. Jika onset sangat cepat, maka kita perlu waspada
karena hal ini dapat mengarahkan kita ke bentuk infeksi yang lebih dalam, misalnya fasitis
nekrotikan. Jika selulitis telah menyebar ke struktur sekitar (misalnya osteomielitis) atau jika
telah terjadi bakterimia, maka pasien harus segera dirawat di rumah sakit. 1

7
Pemeriksaan penunjang
Terdapat beberapa pilihan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu
penegakkan maupun penanganan selulitis. Jika pada pasien terdapat pustule, krusta, ataupun
erosi, maka dapat dilakukan swab untuk kultur. Hal ini dapat dilakukan terutama jika pemberian
antibiotik lini pertama gagal atau jika terdapat kecurigaan pasien mengalami resistensi terhadap
antibiotik lini pertama. Pemeriksaan darah lengkap dapat dilakukan untuk membuktikan adanya
leukositosis. Kultur darah dapat dilakukan pada pasien dengan demam tinggi ataupun pada
pasien dengan keadaan umum yang buruk. Laju endap darah dan CRP juga dapat diperiksa dan
biasanya akan meningkat pada pasien dengan selulitis1.

Indikasi rawat inap

Jika gejala memburuk dan terdapat tanda keterlibatan sistemik, maka pasien perlu rawat inap.
Berikut adalah beberapa indikasi rawat inap pada pasien selulitis1:

 Demam yang tidak kunjung sembuh


 Mual dan muntah
 Adanya penyulit yang dapat memperlama proses penyembuhan
 Pasien yang masih berusia sangat muda (bayi berusia kurang dari 1 tahun), orang tua,
ataupun pasien yang mengalami kelemahan tubuh
 Limfoedema
 Selulitis di wajah
 Selulitis periorbital

Tatalaksana
Tatalaksana selulitis juga dipengaruhi oleh penyebab dari selulitis tersebut. Ketika
diagnosis telah ditegakkan, maka tatalaksana bergantung pada jenis selulitis, apakah selulitis
tersebut selulitis kering (dry cellulitis) atau selulitis basah (wet cellulitis). Kedua jenis selulitis ini
tetap membutuhkan terapi antibiotik sistemik. Terapi umum untuk selulitis, baik itu selulitis
kering maupun basah adalah kombinasi antibiotik benzylpenisilin dengan antibiotik spektrum
luas seperti misalnya flucloxicillin. Antibiotik jenis ini efektif dalam melawan bakteri jenis
streptococcus maupun staphylococcus. Untuk terapi inisial, antibiotik dapat diberikan secara

8
intravena, kemudian barulah ketika efek terapi sudah mulai muncul, antibiotik dapat digantikan
menjadi oral. Efek terapi yang dimaksud misalnya adalah penurunan kadar leukosit jika pasien
awalnya mengalami leukositosis. Swab luka sebaiknya dilakukan untuk mengetahui bakteri
penyebab dan juga untuk mengetahui sensitivitas terhadap terapi antibiotik.7

Selulitis kering
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, untuk kepentingan terapi, selulitis dibedakan
menjadi selulitis basah dan selulitis kering. Penanganan keduanya berbeda. Pada selulitis kering,
luka sebaiknya dibiarkan dan jangan dibersihkan. Area atau tungkai yang terkena akan bereaksi
sama seperti luka bakar dengan eritema. Selain itu juga terdapat edema, nyeri akut, dan
inflamasi. Area selulitis sebaiknya ditandai dengan marker atau mungkin spidol untuk
mengetahui perkembangan selulitis tersebut, apakah semakin membaik atau justru malah
semakin meluas. Terapi juga harus berdasarkan gejala pasien. Manajemen nyeri merupakan
prioritas. Analgesik harus tetap diminum secara regular untuk mengontrol nyeri. Elevasi tungkai
merupakan kunci penanganan edema tungkai. Pasien harus berisitirahat sambil mengelevasikan
area yang mengalami edema. Jika perlu, pasien diminta untuk bed rest sambil menaikkan kaki. 7
Dengan elevasi tungkai, nyeri juga dapat berkurang, hal ini disebabkan karena
pengurangan edema juga akan membantu mengurangi nyeri. Ketika edema sudah membaik, kulit
dapat menjadi keriput, dan tampak sebagai gambaran kertas, gambaran ini akan tampak seperti
gambaran sunburn. Pada saat ini, dapat dilakukan pemberian pelembab atau emolien, seperti
misalnya pemberian paraffin liquid dalam white soft paraffin dengan perbandingan 50:50.
Pemberian pelembab ini bertujuan untuk melembabkan sehingga juga membantu proses
pemulihan.

9
Gambar 2.3. Selulitis kering7 Gambar 2.4. selulitis basah7

Selulitis basah
Penanganan selulitis basah lebih rumit dibandingkan selulitis kering. Penanganan nyeri
tetap merupakan penanganan yang sangat penting bagi pasien. Area yang mengalami selulitis
juga perlu dielevasikan. Penanganan yang juga sangat penting pada selulitis basah adalah
penanganan eksudat dan pencegahan maserasi. Tindakan ini terkadang memerlukan absorbent
dressings, seperti misalnya foams, hydrofibres, atau alginates. Diperlukan pembersihan luka dan
penggantian penutup luka secara regular.

10
Pasien Pikirkan Rawat Perawatan demam
tampak DD lain, jalan kulit yang mereda ,
sehat ex: DVT, dengan baik eritema
dan YES iipoderm antibioti memudar,
apireksia atoskler k oral Jika kulit penurunan
? osis jika ada kering tapi luas
selulitis masih eritema,
utuh, ganti
NO berikan antibiotik
pelembab oral dan
kembalikan
Pasien Rawat 24- Kontrol Konsul ahli Untuk ke faskes
demam 48 jam nyeri mikrobiolo eksudat primer jika
dan terlihat untuk gi atau basah stabil
sakit, tanpa YES terapi Observasi spesialis tutup luka
komorbid antibiotik rutin kulit jika dengan
yg tidak intravena tidak bandage
Swab
stabil berespon dan
bakteri Edukasi
dalam 48 absorbent
atau pasien
NO jam
aspirasi Jika untuk
cairan bula eksudat mengura
Pasien untuk tetap tidak ngi
terlihat kultur dan terkontrol resiko
sakit, ada Antibiotik uji dalam 24 rekurensi
Observasi
komorbid intravena sensitivitas jam,
tanda
tidak stabli, YES sesuai fasitis tambahkan
Kultur
atau ada kebijakan nekrotikan, absorbent
darah jika
infeksi rumah missal : lagi
sepsis
yang sakit area kulit
menganca Istirahatka menjadi
m tungkai n dan bewarna
elevasi ungu dan
NO tungkai mengindika
yang sikan
Tanda terkena gangrene.
Antibiotik
sepsis atau selulitis Konsul
intavena.
infeksi bedah dan
Konsul
menganca Tandai ahli
bedah dan
m jiwa, batas atas mikrobiolo
YES ahli
missal: eritema gi jiga
mikrobiolo
fasitis dengan terdapat
gi untuk
nekrotikan marker kecurigaan
penangana
atau
n segera
bulpen

Gambar 2.5. algoritma penanganan selulitis7

11
Tatalaksana jangka panjang selulitis

Walaupun infeksi telah disingkirkan, kulit pada area yang terkena selulitis masih
memerlukan perawatan dengan pelembab selama beberapa minggu dengan tujuan untuk
mengembalikan elastisitas dan integritas kulit. Tidak jarang dapat terjadi skar dan bekas
permanen pada kulit, beberapa di antaranya dapat memudar seiring waktu. Hindari trauma atau
sinar matahari berlebihan oleh karena kulit yang masih dalam proses penyembuhan masih sangat
rapuh. Edukasi pasien sangat penting untuk mengurangi kejadian rekurensi dan untuk
meningkatkan pengetahuan serta kesadaran pasien mengenai selulitis.
Menurut best practice journal of new zealend, anak-anak yang menderita selulitis tahap
awal dan selulitis ringan dapat dicoba untuk diberikan antibiotik oral selama 5 hari, namun
haruslah dilakukan evaluasi pada 24-48 jam pertama setelah pemakaian antibiotik tersebut.
Flucloxacillin tetap merupakan lini pertama yang direkomendasikan. Dosis flucloxacillin yang
dianjurkan adalah 10-25 mg/kg/dosis secara oral dengan pemakaian tiga kali sehari selama 5 hari
(dosis maksimum 500 mg/dosis). Flucloxacillin sirup memiliki rasa yang tidak enak sehingga
terkadang tidak disukai anak, sehingga sediaan kapsul lebih dipilih untuk anak yang mampu
menelan kapsul.
Jika terdapat alergi pada lini pertama, dapat digunakan eritromisin sebagai lini kedua.
Dosis eritromisin yang dianjurkan adalah 20 mg/kg/dosis oral, dengan pemakaian 2 kali sehari,
atau 10 mg/kg/dosis dengan pemakaian 4 kali sehari (maksimum 500 mg/dosis). Jika eritomisin
juga tidak dapat digunakan, pilihan lain adalah cefalexin 20 mg/kg/dosis dengan pemakaian 2
kali sehari selama 5 hari (maksimum 500 mg/dosis), atau bisa juga diberikan dengan dosis 12.5
mg/kg/dosis dengan pemakaian 4 kali sehari.8
Terapi juga dapat didasarkan pada kelas selulitis dan jenis bakteri penyebab infeksinya.
Selulitis kelas 1 dapat ditangani dengan antibiotik oral dan dapat dilakukan rawat jalan. Selulitis
kelas 2 harus mendapatkan penanganan antibiotik intravena dan dilakukan rawat inap dalam
rentang waktu 48 jam. Selulitis kelas 3dan kelas 4 juga diterapi dengan antibiotik intravena dan
merupakan indikasi rawat inap. Pada selulitis kelas 4 dapat dilakukan debridement luka. Selain
berdasarkan derajat selulitis, penanganan juga dapat berdasarkan jenis bakteri yang diketahui
setelah dilakukan kultur. Antibiotik yang dapat digunakan dapat dilihat pada tabel di bawah:

12
Tabel 2.1 tatalaksana berdasarkan derajat selulitis 9

Tabel 2.2 pemilihan antibiotik berdasarkan bakteri penyebab9

13
Selain tatalaksana di atas, terdapat juga pemilihan antibiotik berdasarkan derajat selulitis. Lihat
tabel di bawah ini

Tabel 2.3. tatalaksana berdasarkan bakteri penyebab10


Diagnosis banding
Berikut adalah beberapa diagnosis banding atau penyakit yang menyerupai selulitis, terutama
selulitis pada tungkai:
 Venous stasis eczema (biasanya bilateral dengan krusta, scaling, dan gatal)
 Deep vein thrombosis (biasanya tidak menyebabkan eritema yang signifikan)

Terdapat juga beberapa penyakit yang memiliki gejala awal yang mirip dengan selulitis, yaitu:

 Necrotising fasciitis
 Gangrene
 Gout akut
 Efek samping obat
 Metastais kanker (carcinoma erysipeloides)

14
 Dermatitis kontak
 Eritema nodosum
 Pannikulitis
 Lipodermatosclerosis
 Vaskulitis
 Thrombophlebitis
Investigasi lebih lanjut perlu dilakukan ketika mencurigai diagnosis banding tertentu, misalnya
ketika mencurigai dengan venous stasis eczema. Dalam membedakan selulitis dengan venous
stasis eczema, dapat digunakan perbandingan pada manifestasi klinisnya. Berikut adalah tabel
yang menunjukkan perbandingan antara selulitis dengan venous stasis eczema1:

Venous stasis eczema Selulitis


Gejala Apireksia Bisa terjadi demam
Gatal Nyeri
Riwayat varises atau DVT Tidak ada riwayat varises atau DVT
Tanda Eritema, membengkak Eritema, membengkak
Tidak tegang Tegang
Vesikel Satu atau lebih bula
Krusta Tidak ada krusta
Beberapa jenis lesi lain Tidak ada lesi lain
Jalur masuk Tidak ada Biasanya tidak diketahui namun
kuman mungkin terdapat ulserasi atau
penyakit kulit yang terkait,
misalnya eksema atau tinea pedis
Penunjang WBC normal WBC tinggi
Kultur darah negative Kultur darah biasanya negative
Swab kulit: paling sering S. Swab biasanya negative, kecuali
aureus pada jaringan nekrotik

Tabel 2.4. perbedaan selulitis dan venous statis eczema1

15
Venous stasis eczema
Dermatosis jenis ini biasanya mengenai tungkai bawah dan sering berbarengan dengan
varises. Tanda tanda klinis yang menyertai adalah kulit memerah dan membengkak , gatal,
terkelupas, krusta, adanya pigmentasi (deposit hemosiderin), kulit mengeras, kulit merah
kecoklatan (lipodermatosklerosis (rentan ulserasi), dan kulit menjadi pucat. Tatalaksana yang
diberikan biasanya adalah kortikosteroid topikal dan emolien. Dapat terjadi infeksi sekunder
pada venous stasis eczema. Pertanda terjadinya infeksi sekunder adalah adanya eksema, gatal,
eritema, dan adanya krusta kekuningan. Jika terjadi infeksi sekunder, maka dibutuhkan antibiotik
sistemik.

Tinea pedis (athlete’s foot)


Tinea pedis merupakan penyakit dermatologi yang seringkali merupakan penyebab
primer terjadinya selulitis rekuren. Gejala yang menyertai adalah kulit tampak bersisik, maserasi,
tampak fisura dan eritema pada area interdigital. Dengan menangani tinea pedis dengan baik,
maka resiko selulitis rekuren dapat dikurangi. Pengobatannya adalah dengan memberikan
antijamur topikal, misalnya dengan memberikan terbinafine selama 2 minggu.1

Selain diagnosis banding di atas, terdapat juga beberapa diagnosis banding lain yang perlu
dipikirkan. Beberapa contoh diagnosis banding yang lain adalah7:
1. DVT (Deep Vein Thrombosis)
Sering dihubungkan dengan adanya periode pasien yang kurang bergerak atau sehabis
operasi besar. DVT ditandai dengan adanya eritema dan ketegangan yang terbatas pada
vena yang terkena. DVT disertai thrombosis luas pada tungkai dan biasanya berwarna
keunguan.

2. Reaksi hipersensitivitas
gejala yang menyertai terutama adalah rasa gatal tanpa disertai rasa sakit atau
demam. Didapatkan riwayat terpapar alergen atau meminum obat tertentu.
3. Fasitis nekrotikan
Merupakan kejadian yang jarang terjadi, namun merupakan diagnosis banding
selulitis yang penting. Fasitis nekrotikan ditandai dengan adanya nyeri yang berat,

16
pembengkakkan, dan demam yang berprogres cepat. Selain itu juga ditemukan adanya
tanda toksisitas sistemik, krepitus pada kulit, serta ekimosis. Fasitis nekrotikan adalah
infeksi jaringan lunak yang berprogresivitas cepat yang ditandai dengan adanya nekrosis
jaringan subkutan dan fasia. Penyakit ini memiliki angka mortalitas yang tinggi.
Adanya tanda seperti hipotensi, takikardi, dan demam tinggi terkadang membantu
membedakan fasitis nekrotikan dengan selulitis. Jika tidak dilakukan penanganan, maka
setelah 36 jam, kulit pasien akan berubah warna menjadi biru keabuan, setelah 3-5 hari,
akan mucul bula dan terjadi nekrosis pada jaringan yang terkena. Pasien terduga fasitis
nekrotikan harus segera dirawat di rumah sakit dan dilakukan eksisi jaringan nekrotik
disertai dengan pemberian antibiotik intravena.
4. Pioderma gangrenosum
Ditandai oleh adanya ulserasi pada kaki dan adanya riwayat inflammatory bowel disease
(IBD)
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, erisipelas merupakan suatu jenis selulitis
superfisial. Terdapat beberapa gejala yang membedakan erisipelas dan selulitis, namun dalam
beberapa kasus terkadang sulit untuk membedakan keduanya11. Erisipelas merupakan suatu
proses pada kulit bagian superfisial dan biasanya hanya terbatas pada dermis, namun disertai
dengan keterlibatan sistem limfatik. Ciri khas dari erisipelas adalah lesi yang lebih tinggi dari
batas kulit sekitarnya, ada batas yang jelas antara kulit yang terlibat dan yang tidak, serta warna
kulit yang merah terang atau disebut juga brilliant salmon-red color. Erisipelas tidak jarang
ditemui pada bayi, anak kecil, atau orang dewasa, dan seringkali disebabkan oleh β-hemolytic
streptococci. Perbedaan erisipelas dengan selulitis adalah bahwa warna kulit pada selulitis lebih
mengacu ke warna merah muda dan bukan merah terang, dan juga tidak terdapat batas yang jelas
antara kulit yang terlibat dengan yang tidak terlibat. 11

17
Gambar 2.5. perbandingan area kulit yang terkena pada erisipelas, fasitis nekrotikan, dan
selulitis11
Komplikasi

Terdapat beberapa komplikasi dalam selulitis. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi adalah
sepsis, abses, dan meningitis. Beberapa kasus selulitis dapat menyebabkan pembentukan abses di
sisi dekat infeksi. Abses merupakan permukaan kulit yang membengkak yang terisi pus
dibawahnya. Isi dari abses adalah bakteri dan sel darah putih yang telah mati. Pada beberapa
kasus, antibiotik dapat digunakan untuk mengatasi selulitis beserta absesnya, namun terkadang
abses harus dikeluarkan secara langsung melalui insisi kecil di kulit.1
Selulitis fasialis merupakan bentuk selulitis yang agak jarang yang mengenai muka.
Selulitis jenis ini lebih banyak menyerang anak di bawah 3 tahun atau orang dewasa di atas 50
tahun. Jika selulitis fasial dibiarkan tidak terawat, maka bakteri dapat menyebar ke otak dan
meningens dan dapat menyebabkan meningitis. Gejala meningitis pada dewasa dapat bervariasi,
namun gejala meningitis pada bayi dan anak di bawah 3 tahun meliputi: lemas dan tidak
responsive atau justru kaku dengan adanya gerakan involunter, menjadi iritabel dan tidak mau
dipegang, menangis yang tidak biasa, muntah dan tidak mau makan, pucat, tatapan seakan
memandang sesuatu, kehilangan nafsu makan, serta terlihat sangat mengantuk dan susah untuk
dibangunkan. Meningitis bacterial merupakan kasus yang sangat serius dan harus segera
ditangani sebagai kasus emergensi, jika tidak ditangani, meningitis dapat menyebabkan
kerusakan otak dan dapat menyebar melalui darah.
Komplikasi lain yang dapat timbul berupa sepsis. Sepsis dapat terjadi ketika bakteri
masuk ke dalam peredaran darah. Beberapa tanda dan gejala sepsis meliputi: suhu lebih dari
38.4o C atau kurang dari 36oC, takikardi ( laju jantung di atas 2 SD di atas normal tanpa adanya
stimulus eksternal, tanpa penggunaan obat, ataupun stimulus nyeri; atau adanya peningkatan laju
jantung yang tidak bisa dijelaskan selama lebih dari 0.5- 4 jam; atau jika pada anak kurang dari 1
tahun terdapat persisten bradikardi selama lebih dari 0.5 jam), laju pernapasan di atas 2 SD dari
nilai normal atau adanya kebutuhan mendesak pada penggunaan ventilasi mekanik yang tidak
memiliki hubungan dengan penyakit neuromuscular atau anestesi general, serta adanya

18
peningkatan atau penurunan jumlah hitung leukosit atau terdapat lebih dari 10% neutrofil
imatur.6
Edukasi pasien

Pasien perlu diedukasi untuk membatasi aktivitas pada area yang mengalami selulitis.
Misalnya jika terjadi selulitis tungkai bawah, maka aktivitas tungkai dibatasi dan jika
memungkinkan maka dapat dilakukan elevasi pada ekstremitas yang terkena. Pasien
diperbolehkan untuk meminum obat pereda nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen jika
memang tidak terdapat kotraindikasi.

Ketika pasien menggunakan antibiotik oral atau ketika pasien diputuskan untuk rawat
jalan, maka pasien harus diedukasi agar kembali ke dokter atau konsultasi ke dokter jika terjadi
tanda-tanda seperti peningkatan suhu (terutama jika disertai kekakuan daerah selulitis), area
selulitis menjadi fluktuatif atau melunak (pertanda abses), adanya garis kemerahan yang berasal
dari area selulitis, area kemerahan yang bertambah luas dengan cepat, nyeri berat yang tidak
mereda dengan antinyeri, terjadi ketidakmampuan menggerakan ektremitas atau sendi dari area
yang terkena selulitis, dan mual muntah. Pasen yang memiliki diabetes, kanker, atau pasien
imunokompromise harus diberikan penjelasan dan edukasi bahwa selulitis yang mereka derita
dampak mengakibatkan dampak yang lebih serius dibandingkan dengan yang lainnya. 5

Pencegahan selulitis

Tidak semua selulitis dapat dicegah, namun beberapa tindakan dapat mengurangi resiko
terjadinya selulitis. Beberapa tindakan tersebut meliputi pencegahan luka di kulit dan perawatan
luka yang baik. Jika terdapat luka, goresan, ataupun gigitan serangga atau binatang, maka
langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa bekas luka ataupun gigitan
tersebut tetap bersih. Kulit yang terluka harus dicuci di bawah air yang mengalir, dan bila perlu
diberikan krim antiseptik. Langkah selanjutnya adalah menutup luka, bisa dengan plester
ataupun kasa. Kasa dan plester harus diganti secara rutin, terutama jika telah kotor. Plester dan
luka ini akan membantu mencegah luka menjadi lebih parah dan membantu menghalangi bakteri
masuk ke kulit yang luka. Langkah lain yang dapat dilakukan untuk mencegah selulitis adalah
menjaga agar kulit tetap lembab. Jika kulit kering dan pecah-pecah, maka dapat diberikan
pelembab. Kulit yang pecah dapat menjadi tempat masuk bakteri.5

19
BAB III
LAPORAN KASUS
IDENTITAS

a. Identitas Pasien
Nama Lengkap : R.A.M
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 2.5 tahun
Tanggal Lahir : 22 Mei 2014
Alamat : Bunklotok
Tanggal MRS : 22 Oktober 2014
TanggalPemeriksaan : 24 Oktober 2016
No. RM : 548051

b. Identitas Keluarga

Identitas Ibu Ayah

Nama Ny. S Tn. HR

Umur 27 tahun 30 tahun

Pendidikan S1 SMA

Pekerjaan Perawat PNS

Alamat Bunklotok Bunklotok

SUBJEKTIF (Heteroanamnesis dari Ibu dan Tante pasien)


Keluhan Utama : Bengkak dan kemerahan pada kaki

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke RSU Praya sebagai dengan keluhan kaki kanan membengkak dan merah
sejak 3 hari lalu. Kaki kanan juga sempat teraba panas. Semenjak tadi malam, kaki kanan
pasien teraba gatal. Dari heteroanamnesis didapatkan informasi bahwa awalnya terdapat

20
penampakan seperti bekas gigitan nyamuk yang telah digaruk, kemudian tampak kemerahan,
dan dalam waktu sekitar 1 hari, kemerahan dan bengkak menyebar hingga ke keseluruhan
tungkai bawah kaki kanan. Kaki yang membengkak dirasakan sangat nyeri oleh pasien,
sehingga pasien menolak untuk dipegang kakinya. Semenjak kaki pasien membengkak,
pasien menjadi sulit berjalan. Didapatkan juga adanya riwayat demam pada pasien, yaitu
sekitar 4 hari lalu. Suhu pada saat demam dapat mencapai hingga 39o C. Saat ini pasien juga
mengalami batuk pilek. Dahak pasien berwarna putih kental. Demam muncul bersamaan
dengan batuk pilek. Tidak didapatkan riwayat mual muntah ataupun diare. BAB dan BAK
pasien normal. Tidak didapatkan adanya riwayat trauma ataupun luka pada kaki kanan
pasien. Semenjak kemarin, mulai muncul tampakan seperti bula dan luka sebanyak kurang
lebih 4 buah pada kaki pasien yang membengkak. Menurut keluarga pasien, bengkak pada
kaki pasien saat ini sudah berkurang jika dibandingkan dengan saat sebelum ke rumah sakit.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Tidak didapatkan adanya riwayat kaki membengkak dengan kemerahan dan nyeri
sebelumnya. Didapatkan adanya riwayat batuk pilek sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan kaki membengkak, kemerahan dan nyeri
sebelumnya. Terdapat keluarga yang memiliki riwayat batuk pilek sebelumnya.

Riwayat pengobatan:

Sebelum dibawa ke rumah sakit, pasien tidak diberikan obat apapun. Pasien sempat
dibawa ke dukun untuk disembur kakinya.

Riwayat Kehamilan dan Persalinan :

Pasien dilahirkan secara normal. Pasien langsung menangis saat lahir. Tiddak didapatkan
adanya riwayat kebiruan sejak lahir. Selama hamil, ibu pasien tidak meminum obat apapun
dan tidak pernah menderita sakit.

Riwayat Nutrisi :

21
Pasien mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan. Saat ini, pasien tidak mendapatkan
ASI lagi. Pasien saat ini meminum susu formula atau susu kemasan. Pasien sudah dapat
makan makanan keras seperti orang dewasa pada umumnya.

Riwayat Perkembangan :

Pasien saat ini sudah mulai dapat memberikan nama pada temannya dan sudah dapat
mengenal nama-nama benda. Saat ini pasien juga dapat berjalan tanpa dipegang dan dapat
melompat. Pasien sudah mampu untuk berbicara dan pembicaraannya dapat dimengerti.
Pasien sudah mulai mampu untuk menggosok gigi sendiri dan mulai mampu untuk
mengenakan pakaian yang sederhana. Pasien sudah mampu juga untuk mengenal benda dan
menamai gambar serta warna. Pasien sudah mengenal beberapa tindakan.

Riwayat Sosial Ekonomi :

Pasien sering bermain bersama kakeknnya di dalam rumah sehingga pasien jarang keluar
rumah. Pasien selalu mengenakan alas kaki saat keluar rumah sehingga jarang didapatkan
luka pada kaki pasien. Di sekitar pasien terdapat keluarga yang menderita batuk pilek.

Riwayat Imunisasi (Vaksinasi) :

Pasien sudah sudah diimunisasi secara lengkap. Imunisasi BCG pada usia 0 bulan
sebanyak 1 kali. Imunisasi DPT 3 kali pada usia 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan. Imunisasi HB
pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan. Imunisasi polio 4 kali pada usia 0 bulan, 2 bulan, 4
bulan, 6 bulan. Imunisasi campak 1 kali pada usia 9 bulan.

OBJEKTIF

Status Generalis

 Keadaan umum : sedang


 Kesadaran : compos mentis

Tanda Vital
 Nadi : 120 x/menit
 RR : 24 x/menit

22
 Temp : 36.4o c

Status Gizi

BB : 12 kg
PB : 91 cm
LK : 50 cm
Z-score (Grafik WHO)

 BMI/U = 0 – (-1) SD = gizi cukup


 BB/U = 0 – (-2) SD = cukup
 PB/U = 0-2 SD
 LK/U = 0 – (2) SD
Pemeriksaan Fisik Umum

Kepala : bentuk kepala: normochepali, warna rambut hitam, ubun-ubun besar dan ubun-
ubun kecil tertutup

Wajah : warna kulit normal, tidak ikterik

 Mata : konjungtiva anemis(-/-), sklera ikterus (-/-)


: pupil bulat isokor dengan diameter 2 mm ODS
 Telinga : bentuk normal, deformitas (-), sekret (-)
 Hidung : bentuk normal, deformitas (-),napas cuping hidung (-), sekret (-),
perdarahan (-), deviasi septum (-), mukosa normal, hiperemis (-).
 Mulut : sianosis sentral (-)

Leher : pembesaran kelenjar tiroid (-), massa (-), pembesaran KGB (-)

Thoraks

 Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris, retraksi (-), ictus cordis tidak tampak.
 Palpasi : pengembangan dinding dada simetris, krepitasi (-), massa (-)
 Perkusi : tidak dievaluasi karena anak tidak kooperatif
 Auskultasi
~ Cor : S1S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop (-)

23
~ Pulmo : vesikuler (+/+), rhonki(-/-), wheezing(-/-), stridor (-/-)

Abdomen

 Inspeksi : distensi (-), warnakulit kuning (-), massa (-)


 Auskultasi : bising usus (+) normal
 Perkusi : timpani (+)
 Palpasi : massa (-), organomegali (-), Hepar/Lien/Renal tidak teraba, turgor kulit
normal

Ekstremitas

 Atas : akral hangat (+/+), ikterik (-/-), sianosis (-/-), bengkak (-/-), kemerahan (-
/-), nyeri tekan (-/-)
 Bawah : akral hangat (+/+), ikterik (-/-), sianosis (-/-), bengkak (+/-), kemerahan
(+/-), nyeri tekan (+/-)
Status lokalis
Tampak kemerahan dan bengkak pada region cruris dextra hingga ke regio femoral inferior.
Teraba agak panas saat dipegang dan terdapat nyeri tekan saat dipegang. Tampak adanya
luka dan gambaran bula di regio yang mengalami pembengkakkan.
DIAGNOSIS

 Selulitis tungkai bawah kanan


PLANNING
Diagnostik
- Darah lengkap
- Kultur
Hasil Pemeriksaan Penunjang

Darah Lengkap (22 Oktober 2016)

 HGB : 13.1 g/dl


 HCT : 40 %
 RBC : 5.09 x 106/µL
 MCV : 78.6 fl

24
 MCH : 25,8 pg
 MCHC : 32.8 g/dl
 WBC : 26,9 x 103/µL
 Neutrofil: 18.8 (69.7 %)
 Limfosit: 5.15 (19.1%)
 Monosit: 2.58 (9.58%)
 Eosinofil: 0.008 (0.3 %)
 Basofil: 0.429 (1.59%)
 PLT : 336 x 103/µL

Terapi di IGD
- IVFD NaCl 0.9% 30 tpm mikro
- Injeksi ampisilin 3 x 360 mg
- Injeksi gentamisin 1 x 60 mg
- Paracetamol sirup 3 x100 mg
Terapi di ruangan
- IVFD NaCl 0.9% 30 tpm mikro
- Ambroxol 2 x 1 cth
- Injeksi cefotaxim 2 x 600 mg
- Rawat luka
- Kompres rivanol 2 x 1
- Dextamin sirup 2 x ½ cth
Monitoring
- Tanda vital
- Keluhan
- Progresivitas selulitis
DIAGNOSIS

♣ Selulitis tungkai bawah kanan

25
Follow up pasien

Sabtu, 22 Oktober 2016


Subyektif Obyektif Assessment Planning
 Kaki kanan  Ku: sedang  Selulitis tungkai - IVFD NaCl 0.9%
bengkak,  Nadi: 97x / bawah kanan 30 tpm mikro
kemerahan, menit - Ambroxol 2 x 1
nyeri, gatal,  RR: 25 x/menit cth
teraba  Tax: 36,6 °C - Injeksi cefotaxim
hangat  Kaki kanan 2 x 600 mg
 Demam (-) bengkak dan - Rawat luka
 Batuk pilek merah, teraba - Kompres rivanol 2
(+) agak hangat, x1

tampak bula - Dextamin sirup 2

 Rh-/-, wh -/- x ½ cth

Senin, 24 oktober 2016


Subyektif Obyektif Assessment Planning
 Kaki kanan  Ku : sedang  Selulitis tungkai - IVFD NaCl 0.9%
bengkak,  Nadi : 82 x / bawah kanan 30 tpm mikro
kemerahan, menit - Ambroxol 2 x 1
nyeri, gatal,  RR : 26 x/menit cth
teraba  Tax : 36,5 °C - Injeksi cefotaxim
hangat  Kaki kanan 2 x 600 mg
 Demam (-) bengkak dan - Rawat luka
 Batuk pilek merah, teraba - Kompres rivanol 2
(+) agak hangat, x1

bula sudah - Dextamin sirup 2

pecah x ½ cth

 Rh-/-, wh -/-
Selasa, 25 oktober 2016

26
Subyektif Obyektif Assessment Planning
 Kaki kanan  Ku : sedang  Selulitis tungkai - IVFD NaCl 0.9%
bengkak,  Nadi : 85 x / bawah kanan 30 tpm mikro
kemerahan, menit - Ambroxol 2 x 1
nyeri, gatal,  RR : 27 x/menit cth
teraba  Tax : 36,8 °C - Injeksi cefotaxim
hangat  Kaki kanan 2 x 600 mg
 Demam (-) bengkak dan - Rawat luka
 Batuk pilek merah, teraba - Kompres rivanol 2
(+) agak hangat x1

 Rh-/-, wh -/- - Dextamin sirup 2


x ½ cth

Rabu, 26 Oktober 2016


Subyektif Obyektif Assessment Planning
 Bengkak  Ku : sedang  Selulitis tungkai - IVFD NaCl 0.9%
berkurang,  Nadi : 80 x / bawah kanan 30 tpm mikro
kemerahan menit - Ambroxol 2 x 1
memudar ,  RR : 25 x/menit cth
nyeri  Tax : 37 °C - Injeksi cefotaxim
berkurang,  Kaki kanan 2 x 600 mg
gatal masih bengkak dan - Rawat luka
terasa, merah, teraba - Kompres rivanol 2
teraba agak hangat x1
hangat  Rh-/-, wh -/- - Dextamin sirup 2
 Demam (-) x ½ cth
 Batuk pilek
(+)

27
Foto kaki pasien:

Foto kaki pasien sebelum masuk ke rumah sakit (didapatkan dari ibu pasien)

Foto saat pasien di rumah sakit (22 Oktober 2016)

28
Foto saat pasien di rumah sakit (24 oktober 2016)

kaki kiri pasien yang tidak mengalami selulitis

29
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada pasien terdapat beberapa poin penting yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Kaki kanan pasien membengkak, merah, nyeri, dan gatal


2. Awal mula terdapat pembengkakkan pada punggung kaki dan hanya dalam waktu 1 hari,
bengkak menyebar ke seluruh tungkai
3. Terdapat riwayat demam
4. Terdapat batuk pilek pada pasien
5. Riwayat trauma atau luka pada kaki disangkal
6. Hasil lab menunjukkan peningkatan leukosit

Pembahasan kasus

Kaki kanan yang bengkak, merah, nyeri, dan gatal merupakan suatu pertanda adanya
inflamasi. Kemerahan terjadi akibat adanya vasodilatasi pembuluh darah. Nyeri dan gatal terjadi
sebagai hasil dari mediator-mediator inflamasi. Bengkak terjadi akibat dari peningkatan
permeabilitas pembuluh darah sehingga cairan intravaskular keluar ke interstisial. Proses
inflamasi ini terjadi sebagai suatu respon melawan kuman atau bakteri. Bakteri dapat masuk ke
dalam masuk melalui suatu port de entry.
Pada pasien tidak ditemukan adanya jalur masuk bakteri secara langsung dari luar, seperti
misalnya luka. Ketika ditanyakan, keluarga pasien mengatakan tidak terdapat riwayat luka
sebelumnya, sehingga tidak diketahui jalur masuk kuman. Diketahui pasien menderita batuk
pilek. Seperti yang sudah dijelaskan dalam bab sebelumnya, Haemophilus influenzae dapat
menjadi salah satu penyebab selulitis. Haemophilus influenzae juga dapat menyebabkan infeksi
saluran napas pada anak. Oleh sebab itu, mungkin saja pasien saat ini menderita batuk pilek yang
disebabkan oleh Haemophilus influenzae, kemudian terjadi penyebaran hematogen yang
akhirnya mengarah ke selulitis. Namun hal seperti ini bukan hal yang sering terjadi dan belum
tentu terjadi pada pasien oleh karena tidak dilakukan kultur dahak ataupun swab tenggorok yang
dapat membuktikan bahwa pasien sedang terinfeksi Haemophilus influenzae.

30
Kemungkinan lain yang dapat terjadi bahwa mungkin saja kuman masuk melalui adanya
gigitan serangga yang tidak disadari, mengingat bahwa gigitan serangga dapat menjadi salah satu
penyebab masuknya bakteri ke tubuh. Beberapa sumber memang menyatakan bahwa sebagian
pasien memang tidak mengingat adanya riwayat luka pada kulit.7

Penegakkan diagnosis selulitis pada pasien dilihat dari gejala klinis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang. Menurut teori, gambaran atau penampakan klinis selulitis berupa
area yang kemerahan dengan batas yang jelas (eritema) disertai dengan adanya pembengkakkan,
tegang, dan teraba hangat. Hal ini sangat sesuai dengan yang terjadi pada pasien. Pada pasien
ditemukan pembengkakan, eritema, nyeri, dan perabaan yang hangat. Pada pemeriksaan
laboratorium juga ditunjukkan adanya leukositosis yang mengindikasikan bahwa pasien sedang
mengalami suatu proses infeksi.

Telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa selulitis dibagi menjadi 4 derajat, yaitu
kelas 1 (tidak terdapat gejala toksisitas sistemik, tidak memiliki faktor penyulit, biasanya dapat
ditangani dengan antibiotik oral dan dapat dilakukan rawat jalan), kelas 2 (terdapat gejala
sistemik atau tidak terdapat gejala toksisitas sistemik namun terdapat penyulit seperti penyakit
vascular perifer, insufisiensi vena kronis, atau obesitas berat), kelas 3 (pasien mengalai toksisitas
sistemik berat, seperti misalnya konfusi akut, takikardi, takipneu, atau memiliki penyulit yang
tidak stabil yang dapat mengganggu respon terapi, atau memiliki infeksi yang mengancam
tungkai (limb-treatening infection) karena gangguan vaskular.), dan kelas 4 (pasien mengalami
sepsis atau infeksi yang mengancam jiwa, seperti misalnya fasitis nekrotikan). Pada pasien, tidak
didapatkan adanya gejala sistemik dan tidak ditemukan adanya faktor penyulit, sehingga pasien
dapat digolongkan menderita selulitis kelas 1.

Tatalaksana terutama yang diberikan pada pasien adalah antibiotik untuk mengatasi selulitis
pasien. Oleh karena pada pasien juga dikeluhkan batuk, maka pasien juga diberikan pengencer
dahak seperti ambroksol. Pengobatan yang diberikan kepada pasien di bangsal adalah injeksi
antibiotik ampisilin dan gentamisin, kemudian antibiotik tersebut dihentikan dan digantikan
dengan sefotaxim. Jika mengacu dengan teori, oleh karena pasien menderita selulitis kelas 1,
maka seharusnya antibiotik yang diberikan adalah antibiotik oral, dan pasien dapat rawat jalan.
Namun, dalam kenyataannya, terdapat beberapa kendala dalam melakukan hal tersebut. Kendala
tersebut misalnya seperti kekhawatiran ibu pasien jika anaknya rawat jalan dan mungkin juga

31
oleh karena keputusan dari rumah sakit yang akan memberikan antibiotik intravena pada pasien
sehingga pasien harus dirawat inap.

Pada pasien juga tidak terdapat indikasi rawat inap seperti demam yang tidak kunjung
sembuh, mual dan muntah, adanya penyulit yang dapat memperlama proses penyembuhan,
pasien yang masih berusia sangat muda (bayi berusia kurang dari 1 tahun), orang tua, ataupun
pasien yang mengalami kelemahan tubuh, limfoedema, selulitis di wajah, atau selulitis
periorbital. Masih belum diketahui pasti mengapa antibiotik yang diberikan adalah antibiotik
intravena, mungkin hal ini terkait dengan perbedaan penanganan tiap dokter.

Menurut teori, antibiotik lini pertama yang seharusmya diberikan adalah flucloxacillin
dengan dosis 10-25 mg/kg/dosis secara oral dengan pemakaian tiga kali sehari selama 5 hari
(dosis maksimum 500 mg/dosis), atau lini kedua adalah eritromisin ataupun cefalexin. Namun,
flucloxacillin bukanlah obat yang ditanggung bpjs sehingga sebaiknya dicari obat lain, misalnya
sefalexin atau eritromisin. Pada pasien juga diberikan antiinflamasi. Menurut beberapa sumber,
tidak disebutkan mengenai pemberian antiinflamasi apakah diperlukan atau tidak. Namun,
antiinflamasi mungkin dapat membantu mempercepat proses penyembuhan pasien mengingat
pada selulitis terdapat proses inflamasi.

32
BAB V

KESIMPULAN

Selulitis merupakan inflamasi akut yang melibatkan kulit dan jaringan lunak di
bawahnya, termasuk jaringan subkutan, dermis, dan jaringan ikat (tidak termasuk otot) sebagai
akibat dari infeksi bakteri. Terdapat beberapa gejala yang menandai adanya selulitis, gejala yang
paling dominan adalah eritema, pembengkakkan dan perabaan hangat pada daerah lokal, gejala
sistemik lain mungkin saja menyertai. Terdapat beberapa faktor resiko yang dapat mencetuskan
terjadinya selulitis. Faktor resiko terutama berhubungan dengan luka pada kulit yang
memungkinkan bakteri untuk masuk.

Bakteri yang paling sering menyebabkan selulitis adalah Streptococcus pyogenes dan
Staphilococcus aureus. Terdapat beberapa pilihan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan
untuk membantu penegakkan maupun penanganan selulitis, misalnya adalah kultur dari swab
luka ataupun kultur darah. Tatalaksana selulitis juga dipengaruhi oleh penyebab dari selulitis
tersebut. Ketika diagnosis telah ditegakkan, maka tatalaksana bergantung pada jenis selulitis,
apakah selulitis tersebut selulitis kering (dry cellulitis) atau selulitis basah (wet cellulitis). Terapi
umum untuk selulitis, baik itu selulitis kering maupun basah adalah kombinasi antibiotik
benzylpenisilin dengan antibiotik spektrum luas seperti misalnya flucloxicillin. Lini kedua yang
dapat digunakan adalah eritromisin ataupun cefalexin.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Wingfield, C. Diagnosing and managing lower limb cellulitis. Nursing times. 2012.
108(27): 18-21. Avaible at: https://www.nursingtimes.net/download?ac=1249409
2. Campbell, S., Macleod, dan Howlett, T. A cellulitis guideline at a community hospital –
we can reduce costs by standardizing care. Journal of Emergency Primary Health Care.
2009. 7(1): 1-12. Avaible at:
http://ajp.paramedics.org/index.php/ajp/article/viewFile/155/167
3. Ibrahim, L. et al. Cellulitis: Home Or Inpatient in Children from the Emergency
Department (CHOICE): protocol for a randomised controlled trial. BMJ. 2016. 6(1): 1-8.
Avaible at: http://bmjopen.bmj.com/content/6/1/e009606.full.pdf
4. BMJ. Epidemiology of cellulitis [internet]. USA: BMJ. [ last update in 28th January 2016
]. Avaible at : http://bestpractice.bmj.com/best-
practice/monograph/63/basics/epidemiology.html
5. Joseph, J. et al. Cellulitis: A Bacterial Skin Infection, Their Causes, Diagnosis And
Treatment. World Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. 2014. 7(3): 308-
326. Avaible at: http://www.wjpps.com/download/article/1404193746.pdf
6. Morelli, J. Nelson Texbook of Pediatrics: Cutaneous Bacterial Infections. 18th Edition,
Chapter 664. USA: Elsevier Saunders. 2011
7. Beldon, P. dan Burton, F. Management guidelines for lower limb cellulities. 2006.
Avaible at: http://www.wounds-uk.com/pdf/content_9025.pdf
8. BPJ. skin deep and spreading across New Zealand Cellulitis. BPJ. 2015. Avaible at:
http://www.bpac.org.nz/BPJ/2015/June/docs/BPJ68-cellulitis.pdf
9. Phoenix, G., Das, S., dan Jooshi, M. Diagnosis and management of cellulitis. BMJ. 2012.
345(1): 1-8. Avaible at:
http://www.epocrates.com/dacc/1208/DxmanagementCellulitisBMJ1208.pdf
10. Hedley, L. dan Netto, M. Cellulitis: what you ought to know. The Pharmaceutical
Journal. 2013. 291(1): 193-196. Avaible at: http://www.pharmaceutical-
journal.com/files/rps-pjonline/pdf/PJ240813_193-196.pdf
11. Steven, D. dan Briant, A. Impetigo, Erysipelas and Cellulitis. NCBI. 2016. 1-18. Avaible
at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK333408/

34